Anda di halaman 1dari 20

15

BAB II
PRAGMATIK SEBAGAI ANCANGAN ANALISIS

A. Pendahuluan
Pragmatik merupakan salah satu pendekatan dalam ilmu bahasa
(linguistik) yang paling baru. Pragmatik muncul dan berkembang dalam kajian
linguistik modern.
1
Sebagai sebuah ilmu, pragmatik mempunyai objek kajiannya
tersendiri yang berbeda dengan objek kajian ilmu-ilmu lain. Oleh karena itu,
dalam pembahasan ini akan dibahas tentang seluk-beluk pragmatik yang meliputi
sejarah pragmatik, batasan (definisi) pragmatik, perbedaan pragmatik dengan ilmu
maani, tuturan dan situasi tutur, tindak tutur, prinsip kerja sama, dan implikatur.

B. Sejarah Pragmatik
Pragmatik sebagai salah satu cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal
pada masa sekarang ini. Hal ini dilandasai oleh semakin sadarnya para linguis
bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang
diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana
bahasa itu digunakan dalam komunikasi.
2
Pragmatik melangkapi kehadiran
cabang-cabang linguistik yang lain seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan
semantik.
Pada tahun 1930-an, kajian linguistik di Amerika hanya mencakup fonetik,
morfologi, dan fonemik. Era linguistik ini disebut linguistik era Bloomfield.
Dalam era ini, kajian sintaksis dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan
makna dikesampingkan dari kajian linguistik karena dianggap sebagai sesuatu
yang abstrak untuk diteliti dan dilibatkan dalam proses analisis.
3
Kajian sintaksis
juga masih dianggap tidak jelas dan dipandang jauh dari jangkuan pemikiran.

1
Badis Lahwaimil, 2011, dalam Majalah al-Mukhbar: Abhats fi al-Lughah wa al-Adab al-
Jazairi, Universitas Muhammad Khaidhar: Al-Jazair, hlm. 155.
2
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 3-4.
3
R. Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 45.
16

Demikian juga di dalam penulisan-penulisan bahasa, pada masa ini sintaksis
cenderung dikesampingkan.
4

Pada tahun 1950-an, teori linguistik berkembang dan sintaksis mulai
mendapatkan perhatian. Pada tahun ini, Chomsky memasukkan sintaksis ke dalam
kajian linguistik. Chomsky memandang bahwa sintaksis merupakan bagian
linguistik yang sifatnya sentral. Namun, meskipun Chomsky telah menjadikan
sintaksis sebagai sesuatu yang sentral dalam linguistik, ia belum menjadikan
makna sebagai salah satu masalah yang dikaji dalam linguistik. Chomsky
menganggap bahwa masalah makna masih sulit dilibatkan dalam analisis. Pada
tahun 1960-an, Jerry J. Katz menjadikan semantik sebagai salah satu kajian
linguistik.
5
Pada masa ini, Katz berusaha mengintegrasikan makna dalam teori
linguistik. Masalah makna mulai diperhitungkan dan mendapat perhatian dalam
linguistik. Kemudian, pada tahun 1970-an, Lakoff dan Ross menyatakan bahwa
kajian sintaksis tidak dapat dipisahkan dari kajian pemakaian bahasa.
6
Dengan
kata lain bahwa sintaksis harus dikaitkan dengan konteks pemakaian bahasa.
7

Apabila makna telah diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bahasa,
maka konteks pemakaian bahasa juga sangat penting untuk dikaji karena makna
itu selalu berubah-ubah berdasarkan konteks pemakaian bahasa.
8
Dari sinilah lahir
kajian linguistik yang baru di Amerika, yakni pragmatik.
9

Berbeda dengan perkembangan linguistik di Amerika, perkembangan
linguistik di Eropa, khususnya kajian terhadap makna beserta dengan segala
situasi yang mempengaruhinya sudah mulai berkembang sejak tahun 1940-an.
Linguistik pada masa ini banyak dipengaruhi oleh linguistik yang dikembangkan
oleh John Rupert Firth. Selain Firth, pada tahun 1960-an, M.A.K Halliday
melibatkan teori sosial untuk mengkaji bahasa. Bahasa dipandang sebagai sesuatu

4
Kunjana Rahardi, 2009, Sosiopragmatik, (Jakarta: Erlangga), hlm. 14-15.
5
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 45-46.
6
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 4.
7
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 45-46.
8
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 4.
9
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 45-46.
17

yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dengan segala latar belakang
sosiokultural yang mewadahi dan melatarbelakanginya.
10

Firth mengemukakan bahwa kajian bahasa tidak dapat dilakukan tanpa
mempertimbangkan konteks situasi pemakian bahasa yang meliputi partisipasi,
tindakan partisipasi, ciri-ciri situasi lain yang relevan dengan hal yang sedang
berlangsung, dan dampak-dampak tindakan tutur yang diwujudkan partisipan.
Sementara M.A.K Halliday mengemukakan bahwa bahasa yang merupakan objek
kajian linguistik adalah sistem makna yang membentuk budaya manusia. Sitem
makna berkaitan dengan struktur sosial masyarakat. Makna bahasa yang
digunakan oleh manusia diperoleh dari aktifitas-aktifitas yang merupakan
kagiatan sosial dengan perantara-perantara dan tujuan-tujuan yang bersifat sosial
juga.
11

Istilah pragmatik sebenarnya pernah dikemukakan oleh Charles Morris.
Charles Morris memasukkan pragmatik ke dalam ilmu tentang tanda (semiotika).
Menurut Charles Morris, dalam kaitannya dengan ilmu bahasa, semiotika
memiliki tiga cabang, yaitu (1) sintaktika yang mengkaji relasi formal tanda-
tanda, (2) semantika yang mengkaji relasi tanda-tanda dengan objeknya, dan (3)
pragmatika yang mengkaji relasi tanda-tanda dengan penafsirnya.
12
Akan tetapi,
pragmatik yang berkembang saat ini yang mengubah orientasi linguistik di
Amerika pada tahun 1970-an sebenarnya diilhami oleh karya-karya filsuf seperti
John Langsaw Austin, seorang filsuf Inggris, dan John R. Searle, seorang murid
Austin yang berkebangsaan Amerika.
13


C. Definisi Pragmatik
Sebagai cabang linguistik
14
, pragmatik mempunyai hubungan yang erat
dengan cabang-cabang linguistik yang lain, yakni fonologi, morfologi, sintaksis,

10
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia,
(Jakarta:Erlangga), hlm. 46.
11
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 5.
12
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 47.
13
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 5.
14
Menurut Charles Morris merupakan bagian dari semiotik.
18

dan semantik. Cabang-cabang linguistik ini mempunyai batasan kajian masing-
masing. Menurut Verhaar, batasan kajian fonologi adalah masalah bunyi-bunyi
bahasa menurut fungsinya. Ia menyandingkan fonologi dengan fonetik yang
membahas bunyi bahasa menurut cara pelafalan dan sifat artikulasinya.
Menurutnya juga, batasan kajian morfologi adalah masalah struktur internal kata,
sintaksis membahas susunan kata dalam kalimat, dan semantik mengkaji makna
satuan lingual. Pragmatik mempelajari apa saja yang termasuk struktur bahasa
sebagai alat komunikasi antara penutur dan lawan tutur sebagai pengacuan tanda-
tanda bahasa yang sifatnya ekstralinguistik.
15
Dengan ungkapan lain, keempat
cabang linguistik, yakni fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik mempelajari
struktur bahasa secara internal. Berdeda dengan pragmatik yang mempelajari
bahasa secara eksternal, yakni penggunaan satuan bahasa dalam komunikasi.
16

Mengenai batasan kajian (definisi) pragmatik, banyak pakar linguistik
yang mengemukakan pendapat mereka masing-masing sehingga terdapat berbagai
pendapat tentang apa yang dimaksud dengan pragmatik. Berikut beberapa definisi
yang dapat memberikan gambaran tentang pragmatik.
Deborah Schiffrin mengembangkan definisi pragmatik yang diajukan oleh
Charles Morris yang memandang bahwa pragmatik adalah studi tentang hubungan
tanda-tanda dengan interpreter (penafsir). Dari definisi pragmatik Morris tersebut,
Schiffrin menyimpulkan bahwa pragmatik adalah studi tentang bagaimana
interpreter menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda atau penerima
tanda pada saat memaparkan (pengkonstruksian dari interpretan) tanda itu sendiri.
Ia juga mendeskripsikan definisi pragmatik model Grice. Menurutnya, Grice
mendefinisikan pragmatik sebagai studi yang memfokuskan pada makna dalam
konteks dan menekankan pada kedua unsur, yakni tanda dan pemakai, kemudian
pada hubungan antara kedua unsur tersebut.
17


15
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 47.
16
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 1.
17
Deborah Schiffrin, 2007, Ancangan Kajian Wacana, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm.
269-270.
19

Elizabeth Black juga mengemukakan sebuah definisi tentang pragmatik.
Menurutnya pragmatik adalah kajian terhadap bahasa dalam penggunaannya
(dengan memperhitungkan unsur-unsur yang tidak dicakup oleh tata bahasa dan
semantik. Ia menggunakan pragmatik ini dalam stilistika.
18
Selain definisi-definisi
pragmatik yang disampaikan oleh Deborah Schiffrin dan Elizabeth Black, banyak
definisi-definisi lain yang dikumpulkan oleh Levinson, antara lain: (1) pragmatik
merupakan suatu istilah yang menegaskan bahwa sesuatu yang sangat khusus dan
teknis sedang menadi objek pembicaraan, padahal istilah tersebut tidak
mempunyai arti yang jelas, (2) topik pragmatik adalah beberapa aspek yang tidak
dapat dijelaskan dengan acuan langsung pada kondisi sebenarnya dari kalimat
yang dituturkan, (3) pragmatik adalah kajian antara lain mengenai deiksis,
implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana.
19
Menurut
Gillian Brown, pragmatik adalah setiap pendekatan analisis dalam linguistik yang
meliputi pertimbangan konteks.
Henry Guntur Trigan dalam bukunya yang berjudul Pengajaran
Pragmatik juga mencatat berbagai definisi pragmatik yang dikemukakan oleh
beberapa pakar. Definisi yang ia kutif antara lain adalah definisi dari
Heatherington, George, dan Dowty. Menurut Heatherington, pragmatik menelaah
ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan memusatkan perhatian
pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial. Pragmatik
bukan saja menelaah pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, dan
register, tetapi memandang performansi ujaran pertama sebagai suatu kegiatan
sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. George berpendapat bahwa
pragmatik merupakan telaah terhadap keseluruhan perilaku insan, terutama dalam
hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam situasi pemberian
dan penerimaan tanda. Sedangkan Dowty menyebut pragmatik sebagai telaah
mengenai kegiatan ujaran langsung dan tidak langsung, presuposisi, implikatur
konvensional dan konversasional, dan sejenisnya.
20


18
Elizabeth Black, 2011, Stilistika Pragmatik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 1-2.
19
F.X. Nadar, 2013, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu), hlm.
5.
20
Henry Guntur Tarigan, 2009, Pengajaran Pragmatik, (Bandung: Angkasa), hlm. 30-31.
20

Salah satu para pakar bahasa di Indonesia, T. Fatimah Djajasudarma juga
memberikan definisi mengenai pragmatik. Menurutnya, pragmatik adalah studi
interaksi antara pengetahuan kebahasaan dan dasar pengetahuan tentang dunia
yang dimiliki oleh pendengar. Studi ini melibatkan unsur interpretatif yang
mengarah pada studi tentang keseluruhan pengetahuan dan keyakinan akan
konteks.
21

Dari uraian berbagai definisi pragmatik di atas dapat disimpulkan bahwa
pragmatik adalah kajian terhadap penggunaan tanda lingual, yakni bahasa yang
dikaitkan dengan berbagai konteks kehidupan dalam komunikasi dan segala aspek
yang berkaitan dengan pragmatik. Aspek-aspek pragmatik tersebut antara lain
tindak tutur, deiksis, presuposisi (praanggapan), dan implikatur.
Dalam bahasa Arab, pragmatik dikenal dengan istilah At-Tadawuliyyah.
At-Tadawuliyyah diambil dari akar kata yang bermakna (perubahan),
(pergantian), dan (pemindahan) baik dari satu tempat ke tempat lain
ataupun dari satu keadaan kepada keadaan lain. Dalam berbahasa, hal ini berarti
adanya pemindahan informasi yang dimiliki penutur kepada keadaan lain yang
dimiliki lawan tutur dikaitkan dengan konteks.
22
Proses perubahan atau
pemindahan dalam berbahasa disebut komunikasi.
23

Berkaitan dengan proses komunikasi yang dikaitkan dengan konteks,
dalam bahasa Arab dikenal sebuah ilmu yang disebut Balaghah. Menurut Abu
Hilal al-Askary, balaghah adalah menyampaikan suatu makna kepada pendengar
sehingga pendengar tersebut memahaminya.
24
Sedangkan Ali al-Jarim dan
Musthafa Amin menyatakan bahwa balaghah itu mendatangkan makna yang
agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang

21
T. Fatimah Djajasudarma, 2012, Wacana dan Pragmatik, (Bandung: Refika Aditama),
hlm. 48.
22
Badis Lahwaimil, 2011, dalam Majalah al-Mukhbar: Abhats fi al-Lughah wa al-Adab al-
Jazairi, Universitas Muhammad Khaidhar: Al-Jazair, hlm. 156.
23
Badis Lahwaimil, 2011, dalam Majalah al-Mukhbar: Abhats fi al-Lughah wa al-Adab al-
Jazairi, Universitas Muhammad Khaidhar: Al-Jazair, hlm. 157.
24
Badis Lahwaimil, 2011, dalam Majalah al-Mukhbar: Abhats fi al-Lughah wa al-Adab al-
Jazairi, Universitas Muhammad Khaidhar: Al-Jazair, hlm. 165.
21

berkesan di lubuk hati, dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan orang-orang yang
diajak bicara.
25

Balaghah mempunyai tiga cabang ilmu, yakni ilmu bayan, ilmu maani,
dan ilmu badi. Ketiga cabang ilmu balaghah ini mempunyai objek kajiannya
masing-masing. Salah satunya, dalam ilmu maani dibahas tentang kalam khobar
dan kalam insya. Kalam khobar adalah ungkapan yang mengandung benar atau
bohong. Sedangkan kalam insya adalah ungkapan yang tidak mengandung benar
atau bohong. Teori tentang kalam khobar dan kalam insya juga terdapat dalam
pragmatik yang disebut dengan teori tindak tutur. Teori tindak tutur ini
dikemukakan oleh J. Austin. Kalam khobar sepadan dengan tuturan konstatif
dalam teori tindak tutur Austin dan kalam insya sepadan dengan tuturan
performatif.
26

Menurut J. Leitch, balaghah dan pragmatik sama-sama mengkaji
penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan konteks, mengkaji aspek-aspek
kebahasaan yang digunakan penutur dalam kegiatan komunikasi untuk
mengungkapkan maksudnya, seperti hubungan antara tuturan, konteks, dan
situasi, serta penutur dan lawan tutur.
27


D. Tuturan dan Situasi Tutur
Sebagaimana telah disinggung bahwa pragmatik adalah studi terhadap
penggunaan bahasa dalam komunikasi, tentu yang menjadi objek kajian pragmatik
adalah bahasa yang berupa tuturan. Tuturan dapat dikatakan sebagai realisasi dari
bahasa yang bersifat abstrak. Tuturan merupakan bentuk konkret dari bahasa.
28

Namun, sebuah tuturan yang digunakan dalam komunikasi tidak senantiasa
merupakan representasi langsung elemen makna unsur-unsurnya. Makna atau
maksud sebuah tuturan dapat bermacam-macam karena banyak aspek yang
mengambil peran dalam peristiwa yang disebut peristiwa (situasi) tutur. Leech

25
Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, Al-Balaghah al-Wadhihah, hlm. 6.
26
Suud Shahrawy, Al-Tadawuliyah Inda al-Ulama Al-Arab, (Beirut: Dar al-Thaliah), hlm.
48-50.
27
Badis Lahwaimil, 2011, dalam Majalah al-Mukhbar: Abhats fi al-Lughah wa al-Adab al-
Jazairi, Universitas Muhammad Khaidhar: Al-Jazair, hlm. 168.
28
Abdul Chaer, 2010, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 22.
22

mengungkapkan beberapa aspek yang ada dalam situasi tutur. Aspek-aspek
tersebut antara laian:
1. Penutur dan lawan tutur (petutur)
Dalam setiap situasi tutur harus ada pihak penutur dan lawan tutur.
Penutur adalah orang yang menuturkan sebuah tuturan. Sedangkan lawan tutur
adalah orang yang menjadi sasaran tuturan dari penutur.
29
Penutur juga disebut
sebagai orang ke I. Sedikit banyaknya ujaran ditentukan oleh pribadi penutur.
Seorang penutur yang pemalu akan memiliki kebiasaan kebahasaan yang berbeda
dengan seorang pemberani. Latar belakang seorang penutur sangat mempengaruhi
pribadi penutur. Latar belakang ini mencakup jenis kelamin, asal daerah, asal
golongan masyarakat, usia, profesi, kelompok etnik, dan aliran kepercayaan.
Selain itu, juga perlu diperhatikan anggapan penutur tentang seberapa tinggi
tingkatan sosial lawan tutur dan seberapa akrab hubungan antara penutur dan
lawan tutur. Anggapan terhadap keakraban relasi antara penutur dan lawan tutur
akan menentukan corak bahasa yang dituturkannya.
30

2. Konteks tuturan
Konteks dapat diartikan berbagai aspek tuturan yang relevan baik secara
fisik maupun nonfisik atau seting sosial. Konteks yang bersifat fisik lazim disebut
koteks, sedangkan konteks seting sosial disebut konteks.
31
Konteks dapat pula
diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama
dimiliki penutur dan lawan tutur serta yang mendukung interpretasi mitra tutur
atas apa yang dimaksudkan penutur di dalam proses bertutur.
32

Hymes dalam A. Hamid Hasan Lubis menyebutkan beberapa ciri konteks
yang relevan. Ciri konteks tersebut antara lain:
33

a. advesser (penutur)

29
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 51.
30
F.X. Nadar, 2013, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu), hlm.
8
31
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm.11.
32
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm.51.
33
A. Hamid Hasan Lubis, 2011, Analisis Wacana Pragmatik, (Bandung: Angkasa), hlm. 87-
95.
23

Mengetahui siapa penutur dalam suatu konteks pembicaraan sangat
penting karena segala hal yang berhubungan dengan penutur baik latar belakang,
profesi, dan sebagainya akan mempengaruhi apa yang dituturkan oleh penutur
tersebut. Dengan mengetahui siapa penutur akan mudah untuk menginterpretasi
pembicaraannya.
b. advessee (petutur)
Sama halnya dengan penutur, mengetahui siapa petutur juga sangat
penting karena dengan mengetahui terhadap siapa tuturan ditujukan akan
memperjelas makna tuturan yang dituturkan oleh penutur. Berbeda-beda petutur
akan berbeda pula tafsiran terhadap tuturan yang dituturkan.
c. topik pembicaraan
Topik pembicaraan pun sangat penting untuk diketahui. Dengan
mengetahui topik pembicaraan, seseorang petutur akan mudah untuk memahami
pembicaraan. Banyak kata-kata yang akan salah dipahami ketika tidak mengetahui
topik yang sedang dibicarakan.
d. setting (waktu dan tempat)
Setting tidak hanya mencakup soal waktu dan tempat terjadinya
pembicaraan, melainkan juga mencakup hubungan antara penutur dan petutur,
gerak-gerik tubuhnya, gerak-gerik roman mukanya, dan sebagainya. Dengan
mengetahui setting ini juga akan menjadikan peserta tutur untuk mudah
memahami makna pembicaraan.
e. channel (penghubungnya)
Yang dimaksud dengan channel di sini adalah media yang digunakan oleh
penutur kepada petuturnya dalam menyampaikan tuturannya. Channel ini dapat
berupa lisan, tulisan, dan lain-lain.
f. code (dialeknya)
Code adalah dialek bahasa yang dipilih oleh penutur untuk menyampaikan
tuturannya kepada petutur.
g. message form
24

Pesan yang hendak disampaikan haruslah tepat karena bentuk pesan ini
bersifat fundamental dan penting. Banyak pesan yang tidak sampai kepada petutur
karena bentuk pesannya tidak sesuai dengan petutur dan situasinya.
h. event (kejadian)
Peristiwa tutur ini bermacam-macam tergantung tujuan pembicaraan.
Setiap peristiwa akan berbeda cara penuturannya karena setiap peristiwa
mnghendaki tuturan yang tertentu.

3. Tujuan tuturan
Bentuk-bentuk tuturan yang disampaikan oleh penutur dilatarbelakangi
oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hal ini, bentuk tuturan yang bermacam-
macam dapat digunkan untuk menyatakan satu maksud atau tujuan. Sebaliknya,
berbagai macam maksud dapat dinyatakan dengan satu bentuk tuturan. Di dalam
pragmatik, berbicara merupakan aktifitas yang berorientasi pada tujuan.
34
Artinya,
terdapat perbedaan yang mendasar antara pragmatik dengan tata bahasa.
Pragmatik berorientasi fungsional, sedangkan tata bahasa berorientasi formal atau
struktural.
35

4. Tuturan sebagai bentuk tindakan
Pragmatik mempelajari tindak verbal dakam situasi tutur tertentu.
Pragmatik membicarakan bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret karena
jelas keberadaan siapa peserta tuturnya, di mana tempat tuturnya, waktu tuturnya,
dan apa konteks situasi tuturnya secara keseluruhan.
36

5. Tuturan sebagai produk tindak verbal
Pada dasarnya, tuturan yang ada dalam sebuah pertuturan merupakan hasil
dari tindak verbal para peserta tutur dengan segala pertimbangan konteks yang
melingkupi dan mewadahinya.
37


34
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 51.
35
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 51.
36
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 51-52
37
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm.51-52
25


E. Tindakan Tutur
Dalam sebuah situasi tutur yang telah diuraikan di atas, terdapat aspek
tuturan yang dapat berfungsi sebagai bentuk tindakan. Dengan mendasarkan pada
pemikiran Austin, John R. Searle menyatakan bahwa secara pragmatis setidak-
tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur
melalui tuturannya. Ketiga jenis tindakan tersebut meliputi: (1) tindak lokusi
(locutionary act), (2) tindak ilokusi (illocutionary act), dan (3) tindak perlokusi
(perlocutionary act). Tindakan-tindakan tersebut diatur oleh aturan atau norma
penggunaan bahasa dalam situasi percakapan antara dua penutur dan lawan
tutur.
38

1. Tindak Lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu sebagaimana
adanya atau the act of saying something.
39
Dalam tindak lokusi, makna yang
dikandung dalam kata, frasa, dan kalimat yang digunakan dalam tuturan sesuai
dengan makna kata, frasa, dan kalimat itu sendiri. Di dalam tindak lokusi ini sama
sekali tidak mempermasalahkan ihwal maksud dan fungsi tuturan yang
disampaikan oleh penutur.
40


2. Tindak Ilokusi
Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan
fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya atau the act of
doing something.
41
Sebuah tuturan selain berfungsi untuk menyatakan sesuatu,
dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu.
42

Searle mengklasifikasikan ilokusi ke dalam lima macam bentuk tuturan.
Kelima macam bentuk tuturan tersebut adalah:
43


38
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 17.
39
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 17.
40
Kunjana Rahardi, 2009, Sosiopragmatik, (Jakarta: Erlangga), hlm. 17.
41
Kunjana Rahardi, 2009, Sosiopragmatik, (Jakarta: Erlangga), hlm. 17.
42
Abdul Chaer, 2010, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 28.
43
Henry Guntur Tarigan, 2009, Pengajaran Pragmatik, (Bandung: Angkasa), hlm. 42-44.
26

a. Asertif: melibatkan penutur pada kebenaran proposisi yang
diekspresikan, seperti menyatakan, memberitahukan, menyarankan,
membanggakan, mengeluh, menuntut, dan melaporkan.
b. Direktif/impositif: dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek
melalui tindakan lawan tutur, seperti memesan, memerintahkan,
memohon, meminta, menyerankan, menganjurkan, mengundang, dan
menasihati.
c. Komisif: melibatkan penutur pada beberapa tindakan yang akan
datang, seperti menjanjikan, bersumpah, menawarkan, dan
memanjatkan doa.
d. Ekspresif: mempunyai fungsi mengungkapkan atau memberitahukan
sikap psikologis penutur menuju suatu pernyataan keadaan yang
diperkirakan oleh ilokusi, seperti mengucapkan terima kasih,
mengucapkan selamat, memaafkan, mengampuni, menyalahkan,
memuji, dan menyatakan belasungkawa.
e. Deklaratif: adalah ilokusi yang bila performansinya berhasil akan
menyebabkan korespondensi yang baik antara isi proposisional dengan
realitas. Misalnya menyerahkan diri, memecat, membebaskan,
membaptis, member nama, mengucilkan, mengangkat, menunjuk,
menentukan, menjatuhkan hukuman, dan memvonis.
Pengklasifikasian tindak ilokusi yang dilakukan oleh Searle ini
berdasarkan asumsi bahwa satu tindak tutur dapat memiliki maksud dan fungsi
yang bermacam-macam. Berbeda dengan Searle, Leech dan Blum-Kulka
menyatakan bahwa satu maksud atau satu fungsi bahasa dapat dinyatakan dengan
bentuk tuturan yang bermacam-macam.
44

3. Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi tindak menumbuhkan pengaruh kepada lawan tutur atau
the act of affecting someone. Sebuah tuturan yang dituturkan oleh seseorang
seringkali mempunyai daya pengaruh bagi lawan tuturnya, efek atau daya

44
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 37.
27

pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh
penuturnya.
45
Jadi tindak perlokusi ini merupakan tindak tutur yang
pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur.

F. Klasifikasi Tindak Tutur
Berdasarkan pendapat yang dinyatakan oleh Searle bahwa satu tindak tutur
itu dapat memiliki fungsi dan maksud yang bermacam-macam dan pendapat
Leech serta Blum-Kulka yang menyatakan bahwa satu fungsi atau satu maksud
dapat dinayatkan dengan berbagai bentuk tuturan, yang telah dipaparkan pada
teori tindak ilokusi di atas, maka tindak tutur dapat diklasifikasikan berdasarkan
modus (fungsi) atau tujuan tuturan dan maksud makna kata-kata yang terdapat
dalam tuturan.
Berdasarkan modus atau tujuan tuturan, tindak tutur dapat dibedakan
menjadi dua jenis. Kedua jenis tindak tutur tersebut adalah tindak tutur langsung
dan tindak tutur tidak langsung.
46

1. Tindak Tutur Langsung
Berdasarkan fungsinya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita
(deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Kalimat
berita berfungsi untuk memberikan informasi, kalimat tanya berfungsi untuk
menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah berfungsi untuk menyatakan perintah,
ajakan, permintaan, atau permohonan.
Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang sesuai dengan modus
kalimatnya. Dalam tindak tutur langsung, kalimat berita difungsikan untuk
mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk
menyuruh, memohon, dan sebagainya. Dengan kata lain, tindak tutur langsung
terjadi ketika ada hubungan secara langsung antara bentuk tata bahasa dari sebuah
tuturan dengan ilokusinya. Tindak tutur langsung sebenarnya merefleksikan
fungsi konvensional dari sebuah kalimat.
2. Tindak Tutur tidak Langsung

45
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm.19-20.
46
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 30-32.
28

Tindak tutur tidak langsung adalah tindak tutur yang tidak dinyatakan
langsung oleh modus kalimatnya. Dalam tindak tutur tidak langsung, kalimat
berita yang seharusnya difungsikan untuk memberitakan sesuatu dan kalimat
tanya yang seharusnya difungsikan untuk menanyakan sesuatu, digunakan untuk
menyuruh, memohon, mengajak, dan sebagainya. Kalimat deklaratif dan
interogatif difungsikan sebagai kalimat imperatif. Karena tindak tutur langsung
adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak
tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya.
Tingkat kelangsungan sebuah tuturan itu dapat diukur berdasarkan besar
kecilnya jarak tempuh. Yang dimaksud jarak tempuh adalah jarak antara tujuan
ilokusi yang berada dalam diri penutur dengan tujuan ilokusi yang berada dalam
diri lawan tutur. Semakin jauh jarak tempuhnya, semakin tidak langsung tuturan
itu. Sebaliknya, semakin dekat jarak tempuhnya, semakin langsung tuturan itu.
47

Berdasarkan maksud makna kata-kata yang terdapat dalam tuturan, tindak
tutur dapat dibedakan menjadi dua jenis. Kedua jenis tindak tutur tersebut adalah
tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal.
48

1. Tindak Tutur Literal
Tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan kata-
kata yang terdapat dalam tuturan. Maksud makna kata-kata yang menyusun
tuturan sama dengan makna leksikalnya, bukan merupakan lawan dari makna
sebenarnya.
2. Tindak Tutur Tidak Literal
Tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan
kata-kata yang terdapat dalam tuturan. Maksud makna kata-kata yang menyusun
tuturan tidak sama ataupun berlawanan dengan makna sebenarnya.

G. Prinsip Kerja Sama

47
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 37.
48
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 32.
29

Di dalam komunikasi yang wajar, seorang penutur mengutarakan tuturan
dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu pada lawan tuturnya, dan
berharap lawan tuturnya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan.
Oleh karena itu, penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan
konteks, jelas dan mudah dipahami, padat dan ringkas, dan selalu pada persoalan,
sehingga tidak menghabiskan waktu lawan tutur. Supaya maksud dan tujuan
penutur dapat sampai dan dipahami oleh lawan tutur, maka dalam komunikasi
harus ada kerja sama antara penutur dan lawan tutur. Ada prinsip-prinsip dalam
pertuturan yang harus ditaati oleh penutur dan lawan tutur. Ketika prinsip-prinsip
tersebut ditaati oleh penutur dan lawan tutur dalam sebuah proses komunikasi,
maka komunikasi tersebut akan berjalan dengan lancar.
49

Grice mengemukakan prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh penutur
dan lawan tutur yang disebut dengan prinsip kerja sama dalam
pertuturan/percakapan. Prinsip kerja sama ini mengandung empat maksim, yakni
(1) maksim kuantitas (maxim of quantity), (2) maksim kualitas (maxim of quality),
(3) maksim relevansi (maxim of relevance), dan (4) maksim pelaksanaan/cara
(maxim of manner).
50

1. Maksim Kuantitas
Untuk memenuhi maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat
memberikan informasi yang benar-benar cukup, benar-benar memadai, dan
seinformatif serta sejelas mungkin. Informasi yang diberikan oleh penutur tidak
boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh lawan tutur.
Sebaliknya, penutur juga tidak boleh memberikan informasi yang kurang kepada
lawan tuturnya. Artinya, maksim kuantitas akan terpenuhi apabila penutur
menyumbang informasi sebatas yang diperlukan dan tidak menyumbang
informasi lebih dari yang diperlukan. Apabila tuturan yang disampaikan oleh
penutur melebihi atau tidak sesuai dengan yang diperlukan oleh lawan tutur, maka
dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerja sama Grince.

49
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 32
50
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm.23-25.
30

2. Maksim Kualitas
Untuk memenuhi maksim kualitas, seorang penutur diharapkan dapat
menyampaikan informasi yang nyata dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Sebuah tuturan dikatakan memiliki kualitas apabila tuturan itu sesuai dengan
fakta, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak mengada-ngada, tidak
dibuat-buat, tidak direkayasa, sehingga informasi yang demikian itu menjadi tidak
sesuai dengan kenyataannya. Artinya, maksim kualitas akan terpenuhi apabila
penutur menyampaikan informasi yang benar dan informasi yang dapat dibuktikan
secara memadai. Apabila penutur mengatakan sesuatu yang tidak benar dan
sesuatu yang kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara memadai, maka dapat
dikatakan melanggar maksim kualitas dalam prinsip kerja sama Grice.
3. Maksim Relevansi
Untuk memenuhi maksim relevansi, setiap peserta tutur harus dapat
memberikan kontribusi yang benar-benar relevan dengan masalah yang sedang
dibicarakan. Apabila peserta tutur tidak memberikan kontribusi yang sesuai
dengan masalah yang sedang dibicarakan dalam percakan, maka dapat dikatakan
melanggar maksim relevansi.
4. Maksim Pelaksanaan/cara
Dalam maksim pelaksanaan, setiap peserta tutur harus menyampaikan
informasi secara langsung, dengan jelas, tidak dengan kabur, tidak kabur, tidak
taksa, dan tidak berbelit. Untuk memenuhi maksim pelaksanaan ini, setiap peserta
tutur harus menghindari ungkapan yang tidak jelas, menghindari ungkapan yang
membingungkan, menghindari ungkapan yang berkepanjangan, dan ungkapan
yang secara tidak runtut. Apabila peserta tutur memberikan informasi secara tidak
langsung, tidak jelas, kabur, taksa, dan berbelit, maka dapat dikatakan melanggar
maksim pelaksanaan.

H. Implikatur
Dalam praktek komunikasi, peserta tutur tidak selamanya menaati prinsip
kerja sama yang dikemukakan oleh Grice. Peserta tutur kadangkala menyimpang
31

dari maksim-maksim kerja sama dalam percakapan. Penyimpangan dalam
memenuhi prinsip kerja sama bisa memiliki beberapa bentuk, diantaranya:
51

1. Keluar dari percakapan. Ini adalah situasi di mana peserta komunikasi
menyadari aturan prinsip kerja sama, tetapi tidak bisa menjalankannya
karena alasan tertentu.
2. Melanggar aturan prinsip kerja sama. Hal ini seringkali dilakukan dengan
tujuan untuk menyesatkan orang lain dan tidak jarang dilakukan dengan
cara tidak mengatakan apa pun.
3. Bentrok. Ini terjadi ketika peserta tutur harus memenuhi aturan salah satu
maksim prinsip kerja sama dengan melanggar maksim yang lain.
4. Bersikap menantang aturan prinsip kerja sama. Peserta tutur sebenarnya
mnyedari prinsip kerja sama dan aturan-aturan di dalamnya sehingga
lawan tutur menjadi bertanya-tanya mengapa penutur sengaja melanggar
aturan prinsip kerja sama dengan terang-terangan.
Terjadinya penyimpangan terhadap prinsip kerja sama, mengindikasikan
adanya implikasi-implikasi tertentu yang hendak dicapai oleh penuturnya. Apabila
implikasi itu tidak ada, maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan kerja
sama atau tidak bersifat kooperatif.
52
Grice dalam artikelnya yang berjudul Logic
and Conversation mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan
proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan bersangkutan. Proposisi yang
diimplikasikan tersebut disebut implikatur percakapan.
53


A. Definisi Implikatur
Menurut Mey, implikatur (implicature) berasal dari kata kerja to imply
sedangkan kata bendanya adalah implication. Kata kerja ini berasal dari bahasa
latin plicare yang berarti to fold (melipat), sehingga untuk mengerti apa yang
dilipat atau disimpan, haruslah dilakukan dengan cara membukanya.
54
Sedangkan

51
Elizabeth Black, 2011, Stilistika Pragmatik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 52-53.
52
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 46.
53
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 37-38.
54
F.X. Nadar, 2013, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu), hlm.
60.
32

secara terminologi salah satunya dikemukakan oleh Gunspers dalam bukunya
yang berjudul Discourse Strategic. Ia menyebut implikatur dengan istilah
inferensi percakapan. Menurutnya, inferensi percakapan adalah proses interpretasi
yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Dengan itu, lawan tutur dalam
percakapan menduga kemauan penutur, dengan itu pula lawan tutur memberikan
respon.
55
Dalam implikatur ada keterkaitan antara tuturan dari seorang penutur
dan lawan tuturnya. Namun, keterkaitan itu tidak tampak secara literal, melainkan
dapat dipahami secara tersirat.
56

Adanya implikatur dalam peristiwa tutur membuat arus komunikasi antara
penutur dan lawan tutur berjalan dengan lancar. Penutur dan lawan tutur dituntut
untuk memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu
yang dipertuturkan. Di antara penutur dan lawan tutur terdapat semacam kontak
percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan itu saling
dimengerti.
57
Lawan tutur harus mengasumsikan bahwa seorang penutur tetap
mematuhi prinsip kerja sama walaupun tampak melanggarnya. Berdasarkan
asumsi tersebut, lawan tutur akan cenderung untuk mencari maksud sebenarnya
yang ingin disampaikan atau implikatur yang ingin dicapai oleh penutur.
58
Di
dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud
yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak.
59
Artinya, dalam implikatur tidak ada
keterkaitan semantis antara tuturan dengan yang diimplikasikan sehingga dapat
diperkirakan bahwa sebuah tuturan akan memungkinkan menimbulkan implikatur
yang jumlahnya tidak terbatas. Jika keterkaitan antara tuturan dengan yang
diimplikasikannya bersifat semantis dan mutlak maka hal itu disebut entailment.
60

Selain itu, implikatur percakapan terbentuk dari kombinasi antara bahasa dengan

55
A. Hamid Hasan Lubis, 2011, Analisis Wacana Pragmatik, (Bandung: Angkasa), hlm.70.
56
Abdul Chaer, 2010, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 33.
57
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 42-43.
58
Elizabeth Black, 2011, Stilistika Pragmatik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 54.
59
Kunjana Rahardi, 2006, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Erlangga), hlm. 43.
60
I. Dewa Putu Wijaya, Dasar-dasar Pragmatik, (Yogyakarta: Penerbit Andi), hlm. 38-39.
33

situasi. Implikatur sangat tergantung pada situasi di mana ia muncul, dan harus
ditafsirkan dengan memperhitngkan konteksnya.
61


B. Implikatur dan Ilokusi
Implikatur terkadang dikaburkan sebagai ilokusi dalam tindak tutur.
Sebenarnya implikatur dan ilokusi serupa tapi tidak sama. Namun, tidak jarang
pula bahwa implikatur itu juga merupakan ilokusi. Keduanya memang dapat
dikatakan sebagai makna dibalik tuturan. Dalam ilokusi, menurut Searle untuk
sampai pada makna tuturan yang dimaksudkan penutur, ada tuturan yang
memerlukan daya tarik yang kuat terhadap faktor-faktor seperti konteks dan
maksud penutur dari suatu tuturan. Namun, ada juga tuturan yang tidak
memerlukan daya tarik tersebut, karena hubungan antara tindak ilokusi yang
dimaksudkan dan tindak ilokusi yang benar-benar digunakan bersifat
konvensional. Bagi Searle, konvensi bersifat linguistik. Bahkan konvensi
penggunaan tipe tuturan merupakan masalah sarana linguistik tertentu yang secara
konvensional digunakan untuk melakukan tindak lokusi.
62
Dalam ilokusi ada yang
disebut dengan tindak ilokusi dan tujuan/kekuatan ilokusi. Tujuan/kekuatan
ilokusi sebuah tuturan berbeda atau akan berubah tergantung konteks tuturan
tersebut.
63
Penjelasan tentang tindak tutur yang didasarkan pada konvensi
memberi jalan untuk menjelaskan tindak tutur yang didasarkan pada penalaran
dan maksud komunikasi atau yang disebut dengan implikatur.
64


C. Klasifikasi Implikatur
Grice membagi implikatur menjadi implikatur percakapan umum,
implikatur percakapan khusus, dan implikatur konvensional. Implikatur
percakapan khusus adalah implikatur percakapan yang tergantung pada konteks
tertentu sebuah tuturan. Implikatur percakapan umum adalah implikatur
percakapan yang tidak memerlukan konteks khusus untuk menghasilkannya.

61
Elizabeth Black, 2011, Stilistika Pragmatik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 54.
62
Louise Cummings, hlm. 12-13.
63
Henry Guntur Tarigan, hlm. 101-102.
64
Louise Cummings, hlm. 13.
34

Sedangkan implikatur konvensional adalah implikatur yang secara konvensional
terkait dengan butir-butir leksikal tertentu yang menghasilkannya, meskipun
secara kondisional tidak benar.
65

Pembagian implikatur juga dilakukan oleh Sperber dan Wilson. Kedua
pakar ini membedakan implikatur menjadi dua macam, yaitu implicated premises
dan implicated conclusion. Implicated premises diperoleh dari ingatan pendengar.
Dalam hal ini, seorang pendengar menyusun dan mengembangkan ancangan-
ancangan asumsi yang diperolehnya dari ingatannya tentang suatu yang sedang
diperbincangkan. Sedangkan implicated conclusion diperoleh dengan jalan
menarik kesimpulan dari keterangan tuturan dengan konteks pembicaraan.
66
Jadi,
untuk menentukan implikatur yang ingin dicapai oleh penutur, lawan tutur terlebih
dahulu menentukan maksud tuturan yang dituturkan berdasarkan asumsi-asumsi
yang diperoleh dari ingatan-ingatan sebelumnya. Kemudian setelah itu, lawan
tutur menggabungkan asumsi-asumsi dalam ingatannya dengan konteks tuturan
sehingga dihasilkan sebuah kesimpulan.

65
Louise Cummings, 2007, Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidisipliner, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar), hlm. 19-20.
66
F.X. Nadar, 2013, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu), hlm.
62.