Anda di halaman 1dari 13

KEBUN CAMPURAN

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah Managemen
Agroekosisten



Kelompok 2 :
Kelas P
WILDA AL ALUF 115040200111073
YOSIFA ARINA RAHMA 115040201111120
YULITA KHOIRUN NIMAH 115040201111125
WIDDI PRASETYA 115040201111162
YOANITA FADLILAH IRIANI 115040201111167
WAHYUNITA PRATIWI 115040201111181
YOSI CHARINASARI 115040201111188
YUNITA DIAN N 115040213111042


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam
jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang
berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang,
unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi
menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan
sumber energi berupa us materi, energikayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran
itu menujukan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya
tanaman monokultur.
Kebun campuran dan praktek-praktek agroforesti lainnya telah lama hidup dan
berkembang di pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan di pedesaan yang berbasis
pertanian. Kebun campuran merupakan strategi pertanian yang cocok didaerah atas lahan
kering. Hasil dari kebun campuran merupakan sumber pendapatan bagi rumah tangga.
Selain itu kebun campuran juga tidak dipungkiri mampu berperan dalam konservasi tanah
dan air. Peran ini muncul karena keberadaan unsur pepohonan dan vegetasi lainnya
melalui mekanisme intersepsi air hujan, mengurangi daya pukul air tanah, infiltrasi air dan
serapan air. Peran kebun campuran khususnya dan sistem agroforestri umumnya dalam
konservasi tanah dan air ini akan semakin baik dengan semakin tingginya densitas tutpan
kanopi tanaman.
Kebun campuran sebagai salah satu penggunaan lahan terbentuk melalui proses
interaksi manusia dengan lingkunganya. Oleh karena itu eksistensi kebun campuran tidak
terlepas dari campur tangan manusia. Hubungan tersebut terjalin karena ada arus materi,
energi, dan informasi diantara keduanya. Keragaman hasil dari kebun campuran ini
menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya
tanaman monokultur.

1.2 Tujuan
Mengetahui definisi agroekosistem
Mengetahui Kebun campuran
Mengetahui Komponen kebun campuran
Mengetahui Peranan kebun campuran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Agroekosistem
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu
kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-
mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu
tentang hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan
ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam
proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi). Pengertian Agro = Pertanian dapat
berarti sebagai kegiatan produksi/industri biologis yang dikelola manusia dengan obyek
tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat meninjau sebagai lingkungan buatan untuk
kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat juga dipandang sebagai
pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak langsung melalui pertumbuhan
tanaman dan ternak (Saragih, 2000).

2.2 Kebun Campuran
Kebun campuran (mixed garden) merupakan salah satu sistem agroforestri yang
terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu
konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam
pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu.Kebun campuran biasanya
didominasi dengan tanaman tahunan kebanyakan pepohonan dan dibawahnya ditanami
dengan tanaman semusim.Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan
sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber
energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan
produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman
monokultur.
Kebun campuran dan praktek-praktek agroforestri lainnya telah lama hidup dan
berkembang di pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan di pedesaan yang berbasis
pertanian. Kebun campuran merupakan strategi pertanian yang cocok di daerah atas lahan
kering. Hasil dari kebun campuran merupakan sumber pendapatan bagi rumah tangga.
Selain itu kebun campuran juga tidak dipungkiri mampu berperan dalam konservasi tanah
dan air. Peran ini muncul karena keberadaan unsur pepohonan dan vegetasi lainnya
melalui mekanisme intersepsi air hujan, mengurangi daya pukul air tanah, infiltrasi air dan
serapan air. Peran kebun campuran khususnya dan sistem agroforestri umumnya dalam
konservasi tanah dan air ini akan semakin baik dengan semakin tingginya densitas tutupan
kanopi tanaman. Selain peran agroforestri dalam konservasi tanah dan air, agroforestri
juga diakui berperan dalam konservasi biologi dan iklim mikro.

(Sutanto, 2002)

2.3 Komponen Kebun Campuran
Tanaman pertanian atau tanaman semusim
Jenis tanaman pertanian yang terdapat dalam kebun campuran biasanya seperti
jagung, kacang panjang, bayam, mentimun, ubi kayu, dan sebagainya. Tanaman ini
ada pada tegakan yang masih muda atau pada tegakan yang tidak rapat dimana cahaya
matahari masih masuk ke dalam kebun.
Tanaman tahunan
Tanaman tahunan yang terdapat dalam kebun biasanya berupa pohon-pohon
penghasil buah dan pohon-pohon penghasil kayu. Jenis-jenis pohon penghasil buah
diantaranya manggis, durian, melinjo, cempedak, nangka, rambutan, duku, dan lain-
lain. Sedangkan jenis-jenis pohon penghasil kayu seperi mahoni, jati, puspa, dan lain-
lain (Arga, 2013).

2.4 Peranan Kebun Campuran
Kebun sebagai instrumen gadai
Kebun sebagai alat jaminan dapat digadaikan tatkala pemilik kebun meminjam
uang pada siapapun yang memiliki uang di desa, pegadai. Umumnya dari kebun pada
yang dijadikan sebagai alat jaminan adalah jenis-jenis pohon tertentu saja ataupun
keseluruhan isi kebun sesuai dengan aturan yang telah disepakati.
Kebun sebagai lahan garapan
Khusus bagi kebun-kebun yang tidak terlalu rapat dan tanahnya relatif subur
masih memungkinkan untuk ditanami dengan tanaman palawija. Jika kebun dekat
dengan sumber air maka ada juga yang menanami dengan sayur-sayuran.
Petani penggarap yang tidak memiliki lahan biasanya dapat menggarap lahan
dikebun atas ijin pemilik kebun. Umumnya hak penggarap lahan adalah memetk hasil
tanaman palawija yang dikelolanya. Sementara hasil buah biasanya untuk pemilik
kebun jika pemilik memungkinkan untuk datang ke kebunnya. Ada simbiosis
mutualisme yang terlihat dari hubungan antara petani penggarap dengan pemilik
kebun.
Kebun sebagai sumber pakan ternak
Penduduk mengambil rumput di kebun untuk mencukupi kebutuhan pakan
ternaknya baik di kebun milik sendiri ataupun kebun milik orang lain. Selain rumput
pakan ternak lainnya yang diambil dari kebun dapat berupa daun ketela pohon, daun
manii dan lain-lain.
Kebun sebagai lapangan pekerjaan
Kebun berfungsi sebagai sumber pekerjaan terutama bagi para buruh tani. Jasa
buruh tani diperlukan untuk pekerjaan menyiangi rerumputan, mengikat buah dan
memanen buah-buahan. Kebun menjadi penting bagi petani yang tidak mempunyai
laha garapan dan menggantungkan hidupnya pada pekerjaan buruh tani.
Kebun sebagai sumber kayu bakar
Pepohonan yang terdapat di kebun dapat diperuntukkan sebagai sumber kayu
bakar. Pohon yang mati atau sisa-sisa pohon biasanya ditebang yang dimanfaatkan
sebagai kayu bakar.
Peran konservasi
Peran konservasi dari kebun campuran adalah kemampuannya dalam
mencegah terjadinya erosi terutama pada lahan-lahan yang miring di saat hujan
berlangsung. Selain itu kebun campuran juga berperan dalam menjaga kelestarian air
dan menjaga agar tanah tidak mengalami erosi (Arga, 2013).







BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Agroekosistem Sehat
Suatu agroekosistem dikatakan sehat adalah apabila di dalamnya terdapat
komponen-komponen yang kompleks baik komponen biotik maupun komponen abiotik.
Semakin banyak jumlah komponennya, semakin banyak pula interaksi-interaksi antar
komponen sehingga memberikan keuntungan, terutama bagi komponen pokok dalam
agroekosistem tersebut. Tingkat keanekaragaman yang tinggi mengindikasikan bahwa
suatu agroekosistem lebih stabil dibandingkan dengan agroekosistem yang memiliki
keanekaragaman komponen yang rendah (Hairiah dkk, 2004).
Sebagai contoh pada agroekosistem kebun campuran tanaman kopi (Coffea spp)
dengan tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala). Dalam hal ini tanaman kopi adalah
tanaman utama sedangkan tanaman lamtoro berfungsi sebagai tanaman naungan. Adanya
tanaman lamtoro di sekitar populasi tanaman kopi akan memberikan keuntungan bagi
tanaman kopi (Anonymous
1
, 2013).
Akar tanaman lamtoro mampu menambat nitrogen, tidak kompetitif dalam menyerap
unsur hara dan sistem perakaran yang menyebar dalam tanah dan mampu menahan air
sangat menguntungkan bagi tanaman kopi. Bila ditinjau dari bentuk kanopi yang tidak
terlalu rapat dan ukuran daun lamtoro yang kecil-kecil dan agak jarang, memungkinkan
sinar matahari masih bisa menerobos masuk dan sampai pada tanaman kopi. Selain itu
tanaman lamtoro juga dianggap penting bagi kesuburan tanah karena secara teratur
menggugurkan daun yang kemudian akan terdekomposisi dan melepaskan unsur hara
yang bermanfaat bagi tanaman kopi. Pada musim kemarau, adanya naungan sangat
penting bagi tanaman kopi. Karakteristik tanaman lamtoro yang sedikit merontokkan
daunnya pada saat musim kemarau sangat sesuai dengan perannya sebagai naungan bagi
tanaman kopi (Hairiah dkk, 2004).
3.2 Agroekosistem Tidak Sehat
Suatu agroekosistem disebut tidak sehat adalah jika pengelolaan yang dilakukan
tidak tepat. Berikut beberapa contoh pengelolaan agroekosistem yang kurang tepat:
1. Alih guna lahan
Tindakan alih guna lahan yang umum dilakukan yaitu pembukaan hutan yang
dijadikan untuk lahan pertanian merupakan salah satu penyebab terjadinya pemanasan
global. Perubahan fungsi hutan menjadi agroekosistem baru bagi keperluan pertanian
demi memenuhi kebutuhan hidup manusia telah mengakibatkan terjadinya degradasi
kesuburan lahan.
Pembukaan hutan telah berdampak pada kelangsungan hidup biota di dalamnya.
Bila kondisi ini terus berlangsung, maka akan semakin tinggi jumlah lahan kritis dan
kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat
berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang
tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air
sungai akan menurun.
2. Pertanian monokultur
Pertanian monokultur adalah sistem pertanian dengan menanam satu jenis
tanaman secara terus menerus pada suatu lahan. Penerapan sistem monokultur
biasanya digunakan petani-petani baik lahan tegalan, sawah, maupun perkebunan demi
mendapatkan hasil produksi yang tinggi.
Pertanian monokultur merupakan salah satu penerapan pertanian intensif yang
biasanya menerapkan input-input kimia secara berlebihan untuk menunjang produksi.
Tindakan yang umum dilakukan misalnya aplikasi pupuk anorganik dan penggunaan
pestisida yang dianggap sebagai cara praktis dalam mengatasi masalah hama dan
penyakit. Hal tersebut mengakibatkan ketergantungan petani terhadap pestisida dan
pupuk anorganik serta dapat menyebabkan terjadinya resistensi dan resurjensi hama.
3. Penggunaan alat berat untuk pengolahan lahan
Pengolahan lanah merupakan suatu pendahuluan sebelum memulai suatu
kegiatan pertanian. Pengolahan lahan terutama untuk areal yang luas menuntut pelaku
pertanian untuk mengeluarkan tenaga yang cukup besar terutama apabila pengolahan
lahan dilakukan dengan teknik dan peralatan yang sederhana. Penggunaan alat-alat
berat menjadikan pengolahan lahan lebih cepat dan praktis jika dibandingkan dengan
cara dan peralatan sederhana. Namun penggunaan alat berat berdampak negatif pada
kondisi tanah karena dapat mengakibatkan pemadatan tanah sehingga mempengaruhi
porositas dan bobot isi tanah menjadi lebih tinggi (Sunaryo dan Laxman, 2003).
Indikator Agroekosistem Tidak Sehat dari Aspek Tanah
1. Bahan Organik Tanah
Pada sistem pertanian yang intensif dengan menerapkan sistem monokultur
biasanya jumlah bahan organiknya sedikit karena tidak ada atau minimnya seresah
di permukaan lahan, selain itu input bahan organik yang berasal dari pupuk
organik baik pupuk kandang atau pupuk hijau minim karena lebih menekankan
penggunaan input kimia. Dari hal tersebut dapat diindikasikan pertanian tanpa
penerapan tambahan bahan organic pada lahan pertanain intensif merupakan
pengelolaan agroekosistem yang tidak sehat.
2. pH Tanah dan Adanya Unsur Beracun
pH tanah pada sistem pertanian intensif biasanya agak masam karena
penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus untuk menunjang ketersediaan
unsur hara dalam tanah. Tanah asam dapat pula disebabkan karena berkurangnya
kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa
oleh aliran air ke lapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman.
pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain
bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.
Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan
unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya
juga menjadi racun bagi tanaman.
3. Ketersediaan Unsur Hara
Pada lahan dengan pengolahan secara intensif sumber unsur hara hanya
berasal dari input-input kimiawi berupa pupuk anorganik tanpa tambahan bahan
organik seperti aplikasi pupuk kandang dan seresah dari tanaman budidaya
sehingga petani sangat bergantung pada pupuk kimia yang apabila digunakan
secara berlebihan justru dapat menyebabkan kesuburan tanah menurun.
4. Erosi Tanah
Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat
lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah
dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Di
lahan pertanian dengan pengolahan intensif, khususnya praktek penebangan hutan
untuk pembukaan lahan baru memiliki tingkat kerusakan lingkungan yang tinggi.
Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah,
longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan
jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun. Dengan rendahnya
keanekaragaman vegetasi pada suatu areal lahan menyebabkan tidak adanya
tutupan lahan lain sehingga tidak dapat melindungi tanah dari daya pukul air hujan
secara langsung ke tanah yang mengakibatkan laju erosi cenderung tinggi.
5. Keanekaragaman Fauna Tanah
Cacing yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan
organik di permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah
berperan penting dalam mencampur seresah yang ada di atas tanah dengan tanah
lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah. Kelompok cacing ini
membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing
ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya. Pada
lahan dengan pengolahan intensif, jarang terdapat seresah pada lahan tersebut
sehingga keberadaan fauna tanah seperti cacing tanah sedikit, padahal aktifitas
cacing tanah dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, seperti
meningkatkan kandungan unsur hara, mendekomposisikan bahan organic tanah,
merangsang granulasi tanah dan sebagainya (Anonympus
2
, 2013).

3.3 Kebun Campuran Sehat
Kebun Campuran Sehat adalah kebun yang ditanami beberapa tanaman jenis lain,
berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun yang tumbuh sendiri maupun ditanam,
dibiarkan hidup di kebun campuran selama tidak mengganggu tanaman pokok.
Ciri-ciri Kebun Campuran Sehat :
a. Kerapatan tajuk tidak terlalu rapat
Apabila kerapatan tajuk terlalu rapat, maka cahaya yang masuk tidak bisa
seluruhnya diserap setiap komoditi dalam kebun campuran tersebut. Karena tanaman
membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, semakin renggang kerapatan
tajuk, maka cahaya yang masuk semakin maksimal, sehingga proses fotosintesis
terjadi secara optimal pada setiap komoditi dalam suatu kebun campuran.
b. Keberagaman Tanaman
Semakin beragam tanaman yang terdapat di dalam suatu kebun campuran, semakin
baik, karena pada dasarnya, penerapan kebun campuran dengan pola tanam tumpang
sari adalah sama. Dengan tanaman yang beragam, maka akan mengurangi terjadinya
persaingan dalam hal mendapatkan unsur hara, mengurangi serangan hama secara
serentak/ledakan hama.
c. Keberagaman Organisme lain
Suatu ekosistem yang sehat menunjukkan adanya keseimbangan antara satu
populasi dengan populasi yang lain. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah
keseimbangan antara flora dan fauna.
Misalnya :
- Semakin banyak pohon berkayu, maka terdapat populasi burung yang memilih
daerah tersebut untuk membuat sarang dan meletakkan telurnya, hal itu
mencerminkan bahwa daerah tersebut dianggap aman dan sesuai untuk habitat
hidupnya.
- Semakin banyak cacing, maka tanah di kebun campuran tersebut semakin
subur, dan tingkat kandungan bahan organiknya tinggi.
d. Sistem Irigasi dan Drainasinya teratur
Dengan sistem irigasi yang baik, maka pertumbuhan tanaman budidaya dan
organisme lain (cacing) akan tumbuh dengan optimal, sehingga perebutan unsur hara
(air) lebih diminimalisir.
e. Jarak Tanam
Jarak tanam jangan terlalu rapat, karena luasan pergerakan dari setiap komoditi
berbeda. Sehingga harus diperhitungkan (Saragih,2000).

3.4 Kebun Campuran Tidak Sehat
Kebun Campuran Sehat adalah kebun yang ditanami beberapa tanaman jenis lain,
berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun yang tumbuh sendiri maupun ditanam,
dibiarkan hidup di kebun campuran yang mengganggu tanaman pokok, sehingga
keseimbangan ekosistem di dalamnya terganggu.
Ciri-ciri Kebun Campuran Tidak Sehat :
a. Kerapatan tajuk yang terlalu rapat
Hal ini mengakibatkan tidak semua tanaman bisa mendapatkan cahaya matahari,
terutama untuk tanaman-tanaman yang memiliki ukuran pendek.
b. Ketidakseimbangan Populasi dan Musuh Alami
Jika satu populasi mendominasi tanpa adanya perhitungan dengan komoditi yang
lain, maka akan terjadi ledakan hama. Misal : komoditi kopi mendominasi, kemudian
terjadi ledakan hama penggerek buah kopi, sedangkan musuh alami sedikit.
c. Keberagaman Organisme Lain
Misalnya : populasi cacing sangat sedikit/jarang, maka tanah pada kebun
campuran tersebut akan mengalami kekurangan bahan organik yang dihasilkan dari
kotoran cacing/castcing.
d. Jarak tanam
Semakin rapat jarak tanam, maka pertumbuhan akar semua komoditi akan
terganggu, sehingga persaingan untuk mendapatkan unsur hara semakin besar
(Saragih, 2000).




























BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Agroekosistem adalah ekosistem pertanian yang dikelola manusia berdasarkan ilmu
ekologi, dimana terjadi proses timbal balik atau keterkaitan di dalamnya yaitu antara
organisme dan lingkungan. Sedangkan kebun campuran (mixed garden) merupakan salah
satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang
menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem
yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu.
Agoreokosistem sehat yaitu apabila di dalamnya terdapat komponen-komponen
yang kompleks baik komponen biotik maupun komponen abiotik, karena banyak jumlah
komponennya, semakin banyak pula interaksi-interaksi antar komponen sehingga
memberikan keuntungan. Sedangkan agoekosistem tidak sehat yaitu apabila pengelolaan
yang dilakukan tidak tepat. Misalnya alih fungsi lahan, pertanian monokultur, penggunaan
alat berat untuk pengolahan lahan.
Kebun Campuran dikatakan sebagai agroekosistem sehat apabila kebun yang
ditanami beberapa tanaman jenis lain, berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun
yang tumbuh sendiri maupun ditanam, dibiarkan hidup di kebun campuran tetapi tidak
mengganggu tanaman pokok. Sedangkan Kebun Campuran dikatakan sebagai
agroekosistem yang tidak sehat apabila kebun yang ditanami beberapa tanaman jenis lain,
berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun yang tumbuh sendiri maupun ditanam,
dibiarkan hidup di kebun campuran tetapi mengganggu tanaman pokok, sehingga
keseimbangan ekosistem di dalamnya terganggu.







DAFTAR PUSTAKA

Anonymous
1
, 2013. http://justkie.wordpress.com/2012/04/26/indikator-agroekosistem-tidak-
sehat/. diakses tanggal 11 Maret 2013.

Anonymous
2
, 2013. http://prasarekzambonk.blogspot.com/2012/03/laporan-praktikum-
lapang-dasar.html. diakses tanggal 11 Maret 2013.

Arga, 2013. Tugas Terstruktur Manajemen. http://anggi-arga.blogspot.com/2011/03/tugas-
terstruktur-manajemen.html. diakses tanggal 11 Maret 2013.

Hairiah, Kurniatun, dkk. 2004. Ketebalan Seresah sebagai Indikator Daerah Aliran. Penerbit
Andi. Yogyakarta.

Saragih, B. 2000. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian.
Yayasan Mulia Persada dan PT Surveyor Indonesia. Jakarta.

Sunaryo dan Laxman Joshi. 2003. Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal Dalam Sistem
Agroforestri. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Sutanto, S. 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta.