Anda di halaman 1dari 24

Periodisasi Sejarah di Indonesia

Periodisasi Sejarah di Indonesia | Sejarah memang tentang peristiwa yang telah terjadi.
Supaya sesuatu bisa terjadi, dia membutuhkan dua hal, yaitu waktu dan ruang. Itulah kedua
dimensi sejarah. Waktu dimensi temporal, dan ruang dimensi spasial. Indonesia sebagai
bangsa dan negara mempunyai sejarah yang panjang. Berbagai peristiwa yang terjadi tercatat
sebagai sejarah. Nah, saking banyak, panjang, dan kompleks itu, maka diperlukan periodisasi
sejarah Indonesia.
Terus, apa fungsi atau manfaat periodisasi sejarah bagi kita? Yang jelas bukan hanya supaya
kita menjawab pertanyaan pada waktu ulangan sejarah saja. Yang jelas, sejarah adalah milik
penguasa. Meskipun pelakunya dan yang terlibat di dalamnya tidak sempat mempunyai
wewenang. Periodisasi dibuat oleh banyak peneliti. Dalam penelitiannya, bisa jadi terdapat
banyak perbedaan yang mempengaruhi
hasilnya. Belum lagi pandangan subjektif
peneliti. Kalau mau lebih ekstrim, tentu saja
pada waktu pembuatan periodisasi dan
penulisan sejarah itu sendiri, tidak jarang
penguasa melakukan intervensi dengan sensor,
penghapusan, bahkan penolakan terhadap hasil
penelitian sejarah itu. Sejarah dia lentur dan
mulur mungsret. hehe.
Periodisasi sejarah diartikan sebagai
pembabakan atau pengurutan peristiwa
berdasarkan waktu terjadinya. Ini bentuk
paling objektif dari bentuk-bentuk pengkategorian peristiwa di dalam sejarah. Objektif?
Semoga.
Berikut ini adalah periodisasi sejarah bangsa Indonesia dari masa prasejarah hingga era
reformasi yang diambil dari berbagai sumber:
Prasejarah
Pleistosen: Bentuk geologis modern Indonesia muncul, namun masih terpaut pada
daratan benua Asia.
2 juta sampai 500.000 tahun yang lalu: Indonesia dihuni oleh Homo erectus yang
sering disebut sebagai "Manusia Jawa".
40.000 SM: Indonesia dikolonisasi oleh bangsa-bangsa Melanesia dan Australoid.
3.000 SM: Bangsa Austronesia mulai mengkolonisasi Asia Tenggara.
200 SM Kerajaan Hindu Dwipa Jawa diperkirakan eksis di Jawa dan Sumatera
Sejarah Awal
Abad ke-4: Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.
Abad ke-5: Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
682: Prasasti Kedukan Bukit ditulis di Sriwijaya (Palembang, Sumatra Selatan).
732: Dinasti Sanjaya didirikan menurut Prasasti Canggal.
824: Candi Borobudur dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra.
850: Candi Prambanan atau Rara Jonggrang dibangun.
1200-an
1200-an: Islam mulai muncul di daerah Aceh.
1222 Ken Arok menyerang kerajaan Kediri dan berhasil membunuh Kertajaya,
kemudian mendirikan kerajaan Singhasari.
1257 Baab Mashur Malamo mendirikan Kerajaan Ternate di Maluku
1275-1290: Kertanegara melancarkan ekspedisi Pamalayu melawan Kerajaan Melayu
di Sumatra.
1292: Jayakatwang membunuh Kertanegara dan kerajaan Singhasari berakhir.
1293: Mongolia menginvasi Jawa, Kublai Khan dari Dinasti Yuan mengirim serangan
hukuman terhadap Kertanegara; dan pasukan Mongol berhasil dipukul mundur.
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya di Jawa Timur.
1300-an
1309: Raja Jayanegara menggantikan Raden Wijaya sebagai penguasa Majapahit
1328: Tribhuwana Wijayatunggadewi menggantikan Jayanegara sebagai raja
Majapahit
1350: Hayam Wuruk, yang bergelar Maharaja Sri Rajasanagara menggantikan
Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai penguasa Majapahit; pemerintahannya
dianggap sebagai 'Era keemasan'. Di bawah perintah militer Gajah Mada, Majapahit
membentang lebih luas dari Indonesia di masa modern.
1365: Kakawin Jawa kuna Nagarakertagama ditulis.
1377: Majapahit mengirimkan ekspedisi hukuman terhadap Palembang di Sumatra.
Pangeran Palembang, Parameswara (kemudian dikenal Iskandar Syah) melarikan diri,
dan menemukan jalan ke Malaka dan membangunnya sebagai pelabuhan
internasional.
1389: Wikramawardhana menggantikan Sri Rajasanagara sebagai penguasa
Majapahit.
1400-an
1404-1406: Perang Paregreg antara Bhre Wirabhumi melawan Wikramawardhana
1415: Armada Laksamana Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon.
1429: Ratu Suhita menggantikan Wikramawardhana sebagai penguasa Majapahit.
1447: Kertawijaya, bergelar Brawijaya I menggantikan Suhita sebagai penguasa
Majapahit.
1451: Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II menggantikan Kertawijaya sebagai
penguasa Majapahit.
1453: Pemerintahan Rajasawardhana berakhir.
1456: Girindrawardhana (atau Purwawisesa) menjadi penguasa Majapahit.
1466: Singhawikramawardhana (atau Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa),
menggantikan Purwawisesa sebagai penguasa Majapahit.
1468: Bhre Kertabhumi (Prabu Brawijaya) atau dikenal dengan Brawijaya V menjadi
penguasa Majapahit.
1500-an
1511: Bangsa Portugis menaklukkan kota Melaka.
1596: Bangsa Belanda pertama kali tiba di wilayah Nusantara ketika sebuah armada
yang dipimpin oleh Cornelius de Houtman berlabuh di Banten.
1600-an
1641: Pembantaian penduduk Kepulauan Banda oleh VOC untuk mendapatkan
monopoli pala.
18 November 1667: Perjanjian Bungaya ditandatangani di Bungaya, Gowa antara
pihak Kesultanan Gowa dengan pihak Hindia Belanda.
1700-an
9 Oktober 1740: Pembantaian warga Tionghoa di Batavia.
13 Februari 1755: Perjanjian Giyanti di mana Kerajaan Mataram dibagi menjadi
Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.
31 Desember 1799: Vereenigde Oost-Indische Compaigne (VOC) dibubarkan.
1800-an
1803 - 1838 : Perang Padri
1825-1830 : Perang Diponegoro
26 Maret 1873 : Dimulainya Perang Aceh
1894 : Perang Lombok
1900-an
Perang Dunia II
11 Januari 1942 - Tentara Jepang tiba di wilayah Nusantara, tepatnya di daerah Kota
Tarakan, Kalimantan Timur.
1 Juni 1945 - Hari lahirnya Pancasila
17 Agustus 1945 - Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
18 Agustus 1945 - Sidang pertama PPKI menghasilkan tiga keputusan. Pertama,
mengesahkan UUD 1945. Kedua, mengangkat Soekarno sebagai Presiden RI dan
Hatta sebagai wakilnya. Ketiga, membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
untuk membantu kerja presiden.
23 Agustus-2 November 1949 - Konferensi Meja Bundar dilangsungkan di Den
Haag, Belanda antara Indonesia dan Belanda sebagai cara untuk meredam
kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan.
Perang Kemerdekaan
21 Juli-5 Agustus 1947: Belanda melancarkan agresi militer pertamanya.
19 Desember 1948-5 Januari 1949: Belanda melancarkan agresi militer keduanya.
1950-an
17 Januari 1948: Perjanjian Renville
29 Januari 1950: Jenderal Sudirman meninggal pada usia 34.
27 September 1950: Indonesia menjadi anggota ke-60 dari Perserikatan Bangsa-
Bangsa
1953: Borneo digantinama menjadi Provinsi Kalimantan, kemudian pada 1956 dibagi
menjadi Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
25 April 1950: Republik Maluku Selatan diproklamirkan di Ambon.
18 April-24 April 1955: Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika dilaksanakan di
Bandung.
1960-an
24 Agustus-4 September 1962: Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV
1963-1965: Konfrontasi dengan Malaysia
27 Agustus 1964: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora
7 Januari 1965: Indonesia keluar dari keanggotaan PBB
30 September 1965: Gerakan 30 September
13 Desember 1965 Devaluasi Rupiah untuk mengendalikan inflasi
Oktober 1965-Maret 1966: Penumpasan PKI, mengakibatkan kira-kira setengah juta
jiwa terbunuh.
24 Februari 1966: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan
atau Kabinet Dwikora II
11 Maret 1966: Penandatanganan Supersemar
28 Maret 1966: Soekarno membentuk Kabinet Dwikora III
11 Agustus 1966: Indonesia dan Malaysia sepakat memulihkan hubungan diplomatik
28 September 1966: Indonesia kembali bergabung dalam PBB
12 Maret 1967: Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden Indonesia. Sukarno
menjadi tahanan rumah
27 Maret 1968: Soeharto resmi menjadi Presiden Indonesia.
1969: Papua bergabung dengan Indonesia, setelah dilakukan Penentuan Pendapat
Rakyat (Pepera)
1970-an
21 Juni 1970: Soekarno meninggal dunia dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur
1970: Nurcholish Madjid (Cak Nur) mulai menyusun gagasan kontroversionalnya
"Islam, Yes; Partai Islam, No"
3 Juli 1971: Pemilihan Legislatif Indonesia yang kedua kali (pertama kali dibawah
Orde Baru) dilaksanakan. Golkar menang.
1973: Pemerintah menciutkan jumlah partai politik menjadi tiga. PDI (dari partai
nasionalis dan Kristen). PPP (dari partai Islam). Sistem tiga partai didominasi oleh
Golkar.
April 1975: Terjadinya perang sipil di Timor Leste
7 Desember 1975: Indonesia melancarkan invasi ke Timor Leste
17 Juli 1976: Timor Leste menyatu dengan Indonesia, menjadi Provinsi Timor Timur
1976: Dimulainya Gerakan Aceh Merdeka
1980-an
Mei 1980: Petisi 50 yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto diterbitkan
1982-1983: Terjadinya penembakan misterius (Petrus) yang menewaskan ribuan
orang tersangka kriminal
1983: Prabowo Subianto menikah dengan Titiek, putri Presiden Soeharto
Desember 1984: Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Ketua Nahdlatul
Ulama
1985: Pemerintah mewajibkan semua organisasi untuk mengadopsi Pancasila sebagai
asas tunggal
1987: Megawati Sukarnoputri menjadi anggota parlemen
1988: Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk kelima kalinya
1989: Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai aktif kembali setelah sempat diredam
1990-an
1992-1993 Pemimpin perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao ditangkap oleh
Prabowo Subianto dan diadili serta dihukum
1993: Soeharto terpilih kembali untuk yang kelima kalinya
April 1996: Ibu Tien Soeharto meninggal dunia
27 Juli 1996: Peristiwa penyerangan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
(Peristiwa 27 Juli)
11 Maret 1998: Soeharto terpilih kembali untuk yang keenam kalinya
12 Mei 1998: empat mahasiswa terbunuh dalam demonstrasi terhadap rezim Soeharto
di Universitas Trisakti
13 Mei-15 Mei 1998: Kerusuhan besar terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lainnya
yang mengakibatkan ribuan orang tewas, sejumlah wanita Tionghoa diperkosa, dan
terjadinya penjarahan di pusat-pusat perbelanjaan
21 Mei 1998, pukul 09.00 wib: Soeharto mundur, dan Habibie mengambil alih
jabatan Presiden
7 Juni 1999: Pemilu pertama dilaksanakan pada era Reformasi.
September 1999: Referendum di Provinsi Timor Timur di bawah naungan PBB
dengan hasil empat per lima memilih berpisah dari Indonesia dibandingkan bersatu
dengan Indonesia.
20 Oktober 1999: Gus Dur resmi diangkat menjadi Presiden RI
2000-an
Februari 2001: Kerusuhan etnis terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, antara Dayak
dan Madura.
23 Juli 2001: Megawati secara resmi menjadi Presiden Indonesia ke-5, menggantikan
Gus Dur, yang diberhentikan MPR.
23 September 2001: sebuah bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta.
20 Mei 2002: Timor Timur resmi merdeka dengan nama Timor Leste.
12 Oktober 2002: Bom Bali
Desember 2002: Pemerintah dan GAM menandatangani kesepakatan damai di
Jenewa, Swiss
19 Mei 2003: Pembicaraan damai antara Pemerintah dan GAM gagal, militer
Indonesia melancarkan operasi militer di Aceh.
5 Agustus 2003: Sebuah bom mobil meledak di depan Hotel Mariott di Jakarta
April 2004: Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004
Juli 2004: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004.
Dimenangkan oleh pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla.
9 September 2004: Bom Kedubes Australia.
26 November 2004: Gempa bumi Nabire
30 November 2004: Terjadi kecelakan pesawat terbang Lion Air Penerbangan 538 di
Solo yang menewaskan 26 orang. Keamanan penerbangan-penerbangan murah di
Indonesia mulai disorot.
26 Desember 2004: Tsunami menghantam Aceh dan menewaskan 160.000 jiwa.
28 Mei 2005: Dua ledakan bom mengguncang Pasar Sentral Tentena, Tentena, Poso,
Sulawesi Tengah, menewaskan sedikitnya 20 orang.
17 Juli 2005: Pemerintah Indonesia mengadakan kesepakatan damai dengan Gerakan
Aceh Merdeka.
15 Agustus 2005: Pemerintah Indonesia dan GAM kembali berunding. GAM
akhirnya setuju untuk menyerahkan seluruh senjatanya dan pemerintah Indonesia
setuju untuk menarik seluruh tentara Indonesia, memberikan otonomi, dan pemilihan
langsung boleh diselenggarakan. Perjanjian damai berhasil ditandatangani dan secara
resmi mengakhiri gerakan separatis GAM.
31 Agustus 2005: Pemerintah Indonesia membebaskan 200 tahanan GAM, atas
ditandatanganinya persetujuan perdamaian.
5 September 2005: Mandala Airlines Penerbangan 91 mengalami kecelakaan di
Medan, Sumatera Utara, menewaskan sedikitnya 100 orang.
1 Oktober 2005: Bom Bali II
29 Oktober 2005: Tiga siswi SMU di Poso yang sedang berjalan ke sekolah Kristen
dipenggal oleh sekelompok orang tak dikenal.
9 November 2005: Penyergapan Polri di sebuah vila di Kota Batu; menewaskan Dr.
Azahari, buronan teroris dari Malaysia
31 Desember 2005: Bom di Palu menewaskan enam orang.
1 Januari 2006: Banjir bandang menewaskan 63 orang di Jember, Jawa Timur.
6 Januari 2006: Terjadinya Insiden perbatasan Timor-Timur yang kedua kali.
13-15 Februari 2006 : tujuh anggota Bali Nine divonis hukuman seumur hidup dan
dua dijatuhi hukuman mati. Setelah melalui banding dan kasasi akhirnya tujuh
dijatuhi hukuman mati dan dua seumur hidup
27 Mei 2006: Gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya mengakibatkan
sedikitnya enam ribu orang meninggal dunia.
Sejak 27 Mei 2006: Bencana Banjir lumpur panas Lapindo melanda Sidoarjo.
31 Mei - 4 Juni 2006: Indonesia Terbuka 2006 diselenggarakan di Surabaya
30 September 2009: Gempa bumi 7,6 SR mengguncang Sumatera Barat menewaskan
sedikitnya 1.117 orang.
14 April 2010: Kerusuhan Koja mengakibatkan sedikitnya tiga tewas dan ratusan
luka-luka.
20 Oktober 2009: Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kembali sebagai Presiden RI
periode 2009-2014. Didampingi oleh Prof. Dr. Boediono, M.Ec., sebagai wakil
Presiden.
22 Oktober 2009: Pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II
1 Mei - 15 Juni 2010: Sensus Penduduk Indonesia 2010, yang merupakan sensus
penduduk Indonesia ke-6 setelah Indonesia merdeka.
26 September - 29 September 2010: Kerusuhan Tarakan, merupakan kerusuhan
antar suku yaitu Suku Tidung sebagai suku asli dan suku pendatang yaitu Suku Bugis
25 Oktober 2010: Gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR yang disertai Tsunami
melanda Mentawai mengakibatkan 286 meninggal dan 252 hilang.
26 Oktober 2010: Gunung Merapi meletus mengakibatkan 28 tewas, termasuk juru
kuncinya, yakni Mbah Maridjan.
6 Februari 2011: Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyyah di Cikeusik
menewaskan sedikitnya 3 orang.
18 Oktober 2011: Perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II
- See more at: http://www.dee-nesia.com/2012/12/periodisasi-sejarah-di-
indonesia.html#sthash.qSpuFK11.dpuf



pemerintahan masa orde lama, orde baru,
reformasi, dan otonomi daerah
June 30, 2013 by ariando
1. A. Masa pemerintahan orde lama
Orde Lama adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia.Orde
Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut,
Indonesiamenggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando.Di
saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan
parlementer. Presiaden Soekarno di gulingkan waktu Indonesia menggunakan sistem
ekonomi komando.
Pada 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik Soekarno
sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan menggunakan
konstitusi yang dirancang beberapa hari sebelumnya. Kemudian dibentuk Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) sebagai parlemen sementara hingga pemilu dapat dilaksanakan.
Kelompok ini mendeklarasikan pemerintahan baru pada 31 Agustus dan menghendaki
Republik Indonesia yang terdiri dari 8 provinsi: Sumatra, Kalimantan (tidak termasuk
wilayah Sabah, Sarawak dan Brunei), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi,
Maluku (termasuk Papua) dan Nusa Tenggara.
Pada masa sesudah kemerdekaan, Indonesia menganut sistem multi partai yang ditandai
dengan hadirnya 25 partai politik. Hal ini ditandai dengan Maklumat Wakil Presiden No. X
tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Menjelang
Pemilihan Umum 1955 yang berdasarkan demokrasi liberal bahwa jumlah parpol meningkat
hingga 29 parpol dan juga terdapat peserta perorangan. Pada masa diberlakukannya Dekrit
Presiden 5 Juli 1959, sistem kepartaian Indonesia dilakukan penyederhanaan dengan Penpres
No. 7 Tahun 1959 dan Perpres No. 13 Tahun 1960 yang mengatur tentang pengakuan,
pengawasan dan pembubaran partai-partai. Kemudian pada tanggal 14 April 1961
diumumkan hanya 10 partai yang mendapat pengakuan dari pemerintah, antara lain adalah
sebagai berikut: PNI, NU, PKI, PSII, PARKINDO, Partai Katholik, PERTI MURBA dan
PARTINDO. Namun, setahun sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1960, PSI dan Masyumi
dibubarkan.
Dengan berkurangnya jumlah parpol dari 29 parpol menjadi 10 parpol tersebut, hal ini tidak
berarti bahwa konflik ideologi dalam masyarakat umum dan dalam kehidupan politik dapat
terkurangi. Untuk mengatasi hal ini maka diselenggarakan pertemuan parpol di Bogor pada
tanggal 12 Desember 1964 yang menghasilkan Deklarasi Bogor.
Secara umum, hubungan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan Soekarno sebagai
Presiden, sangat dinamis, bahkan kadang-kadang terjadi gejolak. Hatta adalah pengkritik
paling tajam sekaligus sahabat hingga akhir hayat Soekarno. Dinamika hubungan Soekarno
dengan Mohammad Hatta sangat dipengaruhi oleh konfigurasi politik yang berlaku pada saat
itu. Moh. Mahfudz, (1998:373-375) dalam Politik Hukum di Indonesia, secara lebih spesifik
menguraikan perkembangan konfigurasi politik Indonesia ketika itu sebagai berikut:
Pertama, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, terjadi pembalikan arah dalam
penampilan konfigurasi politik. Pada periode ini konfigurasi politik menjadi cenderung
demokratis dan dapat diidentifikasi sebagai demokrasi liberal. Keadaan ini berlangsung
sampai tahun 1959, dimana Presiden Soekarno menghentikannya melalui Dekrit Presiden 5
Juli 1959. Pada periode ini pernah berlaku tiga konstitusi, yaitu UUD 1945, Konstitusi RIS
1949, dan UUDS 1950. Konfigurasi politiknya dapat diberi satu kualifikasi yang sama, yaitu
konfigurasi politik yang demokratis. Indikatornya adalah begitu dominannya partai-partai
politik;
Kedua, konfigurasi politik yang demokratis pada periode 1945-1959, mulai ditarik lagi ke
arah yang berlawanan menjadi otoriter sejak tanggal 21 Februari 1957, ketika Presiden
Soekarno melontarkan konsepnya tentang demokrasi terpimpin. Demokrasi Terpimpin
merupakan pembalikan total terhadap sistem demokrasi liberal yang sangat ditentukan oleh
partai-partai politik melalui free fight (Yahya Muhaimin, 1991:42, Bisnis dan Politik,
Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980. Jakarta : LP3ES).
Sejak zaman pergerakan nasional, hubungan Soekarno dengan Mohammad Hatta yang
seringkali disebut Dwitunggal, terjalin dengan baik. Sejak tahun 1930-an, keduanya telah
beberapa kali ditahan dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, karena dianggap
berbahaya bagi pemerintahan kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, kedua tokoh ini
mendapatkan pengakuan sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia. Pada saat penyusunan naskah
Proklamasi, keduanya terlibat dalam proses penyusunan naskah teks proklamasi
kemerdekaan. Pada detik-detik menjelang pembacaan naskah proklamasi, Soekarno menolak
desakan para pemuda untuk membacakan teks proklamasi lebih awal karena Mohammad
Hatta belum datang. Ketika itu, Bung Karno berkata: Saya tidak akan membacakan
Proklamasi kemerdekaan jika Bung Hatta tidak ada. Jika mas Muwardi tidak mau menunggu
Bung Hatta, silahkan baca sendiri, jawab Bung Karno kepada dr. Muwardi salah satu tokoh
pemuda pada waktu itu yang mendesak segera dibacakan teks Proklamasi. Begitu percayanya
Soekarno kepada Mohammad Hatta, pada tahun 1949, ia meminta agar Mohammad Hatta
selain menjadi Wakil Presiden, sekaligus juga menjadi Perdana Menteri.
Mohammad Hatta selalu menekankan perlunya dasar hukum dan pemerintahan yang
bertanggung jawab, karena itu Hatta tidak setuju ketika Presiden Soekarno mengangkat
dirinya sendiri sebagai formatur kabinet yang tidak perlu bertanggung jawab, tidak dapat
diganggu gugat, serta menggalang kekuatan-kekuatan revolusioner guna membersihkan
lawan-lawan politik yang tidak setuju dengan gagasannya. Konflik ini mencapai puncaknya.
Setelah pemilihan umum 1955, Presiden Soekarno mengajukan konsep Demokrasi Terpimpin
pada tanggal 21 Februari 1957 di hadapan para pemimpin partai dan tokoh masyarakat di
Istana Merdeka. Presiden Soekarno mengemukakan Konsepsi Presiden, yang pada pokoknya
berisi:
1. Sistem Demokrasi Parlementer secara Barat, tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia,
oleh karena itu harus diganti dengan Demokrasi Terpimpin.
2. Untuk pelaksanaan Demokrasi Terpimpin perlu dibentuk suatu kabinet gotong royong yang
angotanya terdiri dari semua partai dan organisasi berdasarkan perimbangan kekuatan yang
ada dalam masyarakat. Konsepsi Presiden ini, mengetengahkan pula perlunya pembentukan
Kabinet Kaki Empat yang mengandung arti bahwa keempat partai besar, yakni PNI,
Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI), turut serta di
dalamnya untuk menciptakan kegotongroyongan nasional.
3. Pembentukan Dewan Nasional yang terdiri dari golongan-golongan fungsional dalam
masyarakat. Dewan Nasional ini, tugas utamanya adalah memberi nasihat kepada Kabinet,
baik diminta maupun tidak diminta.
Dengan konsep yang diajukan Soekarno itu, Hatta menganggap Bung Karno sudah mulai
meninggalkan demokrasi dan ingin memimpin segalanya. Sebagai pejuang demokrasi, ia
tidak dapat menerima perilaku Bung Karno. Padahal, rakyat telah memilih sistem demokrasi
yang mensyaratkan persamaan hak dan kewajiban bagi semua warga negara dan
dihormatinya supremasi hukum. Bung Karno mencoba berdiri di atas semua itu, dengan
alasan rakyat perlu dipimpin dalam memahami demokrasi yang benar. Jelas, bagi Bung
Hatta, ini adalah sebuah contradictio in terminis. Di satu sisi ingin mewujudkan demokrasi,
sedangkan di sisi lain duduk di atas demokrasi. Pembicaraan, teguran, dan peringatan
terhadap Soekarno, sahabat seperjuangannya, telah dilakukan. Tetapi Soekarno tidak berubah
sikap. Sebaliknya, Hatta pun tidak menyesuaikan dirinya dengan pandangan sikap dan
pendapat Soekarno.
Mohammad Hatta telah mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden, sebelum Soekarno
menyampaikan konsep Demokrasi Terpimpin secara resmi. Pada tanggal 1 Desember 1956,
Mohammad Hatta mengirimkan surat pengunduran dirinya sebagai Wakil Presiden kepada
DPR hasil Pemilihan Umum 1955. Pada tanggal 5 Februari 1957 berdasarkan Keputusan
Presiden No. 13 Tahun 1957, Presiden Soekarno memberhentikan Mohammad Hatta sebagai
Wakil Presiden. Namun, pengunduran diri Mohammad Hatta dari posisi Wakil Presiden tidak
mengakibatkan hubungan pribadi keduanya menjadi putus. Bung Karno dan Bung Hatta tetap
menjaga persahabatan yang telah mereka jalin sejak lama.
Pengunduran diri ini lebih disebabkan oleh karena perbedaan pendapat dengan Presiden.
Pengunduran diri Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden, tidak diikuti dengan gejolak
politik. Juga tidak ada tekanan-tekanan dari pihak luar. Perbedaan pendapat antara
Mohammad Hatta dengan Soekarno, lebih kepada visi dan pendekatan Mohammad
Hatta yang berbeda dengan Soekarno dalam mengelola Negara. Perbedaan itu,
sesungguhnya telah terjadi sejak awal. Namun, perbedaan itu makin memuncak pada
pertengahan tahun 1950-an. Soekarno menganggap revolusi belum selesai, sementara Hatta
menganggap sudah selesai sehingga pembangunan ekonomi harus diprioritaskan (Adnan
Buyung Nasution, Refleksi Pemikiran Hatta Tentang Hukum dan HAM, Jakarta: CIDES, 20
Juni 2002).
Meskipun telah mengundurkan diri, banyak orang yang menghendaki agar Bung Hatta aktif
kembali. Di dalam Musyawarah Nasional tanggal 10 September 1957, dibahas Masalah
Dwitunggal Soekarno-Hatta Demikian pula di DPR, beberapa anggota DPR mengajukan
mosi mengenai Pemulihan Kerjasama Dwitunggal Soekarno-Hatta. DPR kemudian
menerima mosi mengenai Pembentukan Panitia Ad Hoc untuk mencari bentuk kerjasama
Soekarno-Hatta. Panitia itu dibentuk pada tanggal 29 November 1957 dan dikenal sebagai
Panitia Sembilan?, yang diketuai oleh Ahem Erningpraja. Namun, Panitia Sembilan ini
dibubarkan pada Bulan Maret 1958 tanpa menghasilkan sesuatu yang nyata (Sekretariat
Negara RI, 1981: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964).
Pada sisi lain, Mohammad Hatta adalah Wakil Presiden yang mampu menjadi satu kesatuan
dengan Presiden Soekarno, sehingga seringkali disebut Dwitunggal. Pelaksanaan konsep
Dwitunggal Soekarno-Hatta telah menempatkan kedudukan dan fungsi Wakil Presiden
menjadi sama dengan Presiden, padahal menurut UUD 1945 kedudukan Wakil Presiden
adalah sebagai Pembantu Presiden? serta dapat menggantikan Presiden jika Presiden
berhalangan. Fenomena ini menjadi semakin jelas apabila diperhatikan praktik
ketatanegaraan yang berlangsung antara tahun 1945 sampai tahun 1956. Pada masa ini,
Wakil Presiden banyak melakukan tindakan mengumumkan/ mengeluarkan peraturan
perundang-undangan antara lain, Maklumat Wakil Presiden No.X tanggal 16 Oktober 1945;
Maklumat Pemerintah tanggal 17 Oktober 1945 tentang Permakluman Perang; Maklumat
Pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang pendirian partai politik; dan Undang-undang
Nomor 16 Tahun 1946 tentang Keadaan Bahaya.
Pada saat berlaku UUD RIS 1949 dan UU Nomor 7 Tahun 1949 tentang Penunjukkan
Pemangku Sementara Jabatan Presiden Republik Indonesia, Indonesia menganut sistem
parlementer. Jika keadaan ini dihubungkan dengan persoalan Presiden berhalangan serta
pengisian jabatannya untuk sementara oleh Wakil Presiden, maka tindakan yang dilakukan
oleh Wakil Presiden di bidang ketatanegaraan dapat ditafsirkan sebagai suatu pengisian
jabatan Presiden untuk sementara oleh Wakil Presiden. Dari sudut konsep Dwitunggal, maka
tindakan Wakil Presiden merupakan perwujudan dari konsep itu.
Demokrasi parlementer
Tidak lama setelah itu, Indonesia mengadopsi undang-undang baru yang terdiri dari sistem
parlemen di mana dewan eksekutifnya dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada parlemen
atau MPR. MPR terbagi kepada partai-partai politik sebelum dan sesudah pemilu pertama
pada tahun 1955, sehingga koalisi pemerintah yang stabil susah dicapai.
Peran Islam di Indonesia menjadi hal yang rumit. Soekarno lebih memilih negara sekuler
yang berdasarkan Pancasila sementara beberapa kelompok Muslim lebih menginginkan
negara Islam atau undang-undang yang berisi sebuah bagian yang menyaratkan umat Islam
takluk kepada hukum Islam.
Demokrasi Terpimpin
Pemberontakan yang gagal di Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat dan pulau-pulau lainnya yang
dimulai sejak 1958, ditambah kegagalan MPR untuk mengembangkan konstitusi baru,
melemahkan sistem parlemen Indonesia. Akibatnya pada 1959 ketika Presiden Soekarno
secara unilateral membangkitkan kembali konstitusi 1945 yang bersifat sementara, yang
memberikan kekuatan presidensil yang besar, dia tidak menemui banyak hambatan.
Dari 1959 hingga 1965, Presiden Soekarno berkuasa dalam rezim yang otoriter di bawah
label Demokrasi Terpimpin. Dia juga menggeser kebijakan luar negeri Indonesia menuju
non-blok, kebijakan yang didukung para pemimpin penting negara-negara bekas jajahan yang
menolak aliansi resmi dengan Blok Barat maupun Blok Uni Soviet. Para pemimpin tersebut
berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1955 dalam KTT Asia-Afrika untuk
mendirikan fondasi yang kelak menjadi Gerakan Non-Blok.
Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Soekarno bergerak lebih dekat kepada negara-negara
komunis Asia dan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam negeri. Meski PKI
merupakan partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan China, dukungan
massanya tak pernah menunjukkan penurutan ideologis kepada partai komunis seperti di
negara-negara lainnya.
Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Soekarno menentang pembentukan Federasi Malaysia dan menyebut bahwa hal tersebut
adalah sebuah rencana neo-kolonial untuk mempermudah rencana komersial Inggris di
wilayah tersebut. Selain itu dengan pembentukan Federasi Malaysia, hal ini dianggap akan
memperluas pengaruh imperialisme negara-negara Barat di kawasan Asia dan memberikan
celah kepada negara Inggris dan Australia untuk mempengaruhi perpolitikan regional Asia.
Menanggapi keputusan PBB untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, presiden Soekarno mengumumkan pengunduran
diri negara Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mendirikan
Konferensi Kekuatan Baru (CONEFO) sebagai tandingan PBB dan GANEFO sebagai
tandingan Olimpiade. Pada tahun itu juga konfrontasi ini kemudian mengakibatkan
pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia (yang dibantu oleh Inggris).
Nasib I rian Barat
Pada saat kemerdekaan, pemerintah Belanda mempertahankan kekuasaan terhadap belahan
barat pulau Nugini (Papua), dan mengizinkan langkah-langkah menuju pemerintahan-sendiri
dan pendeklarasian kemerdekaan pada 1 Desember 1961.
Negosiasi dengan Belanda mengenai penggabungan wilayah tersebut dengan Indonesia gagal,
dan pasukan penerjun payung Indonesia mendarat di Irian pada 18 Desember sebelum
kemudian terjadi pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda pada 1961 dan 1962.
Pada 1962 Amerika Serikat menekan Belanda agar setuju melakukan perbincangan rahasia
dengan Indonesia yang menghasilkan Perjanjian New York pada Agustus 1962, dan
Indonesia mengambil alih kekuasaan terhadap Irian Jaya pada 1 Mei 1963.
Gerakan 30 September
Hingga 1965, PKI telah menguasai banyak dari organisasi massa yang dibentuk Soekarno
untuk memperkuat dukungan untuk rezimnya dan, dengan persetujuan dari Soekarno,
memulai kampanye untuk membentuk Angkatan Kelima dengan mempersenjatai
pendukungnya. Para petinggi militer menentang hal ini.
Pada 30 September 1965, enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam
upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana yang loyal kepada PKI. Panglima
Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto, menumpas kudeta tersebut dan
berbalik melawan PKI. Soeharto lalu menggunakan situasi ini untuk mengambil alih
kekuasaan. Lebih dari puluhan ribu orang-orang yang dituduh komunis kemudian dibunuh.
Jumlah korban jiwa pada 1966 mencapai setidaknya 500.000; yang paling parah terjadi di
Jawa dan Bali.
1. B. Masa pemerintahan orde baru
Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang berlangsung pada Juni-Juli 1966.
diantara ketetapan yang dihasilkan sidang tersebut adalah mengukuhkan Supersemar dan
melarang PKI berikut ideologinya tubuh dan berkembang di Indonesia. Menyusul PKI
sebagai partai terlarang, setiap orang yang pernah terlibat dalam aktivitas PKI ditahan.
Sebagian diadili dan dieksekusi, sebagian besar lainnya diasingkan ke pulau Buru.[8] Pada
masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program politiknya
dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang disebut
dengan konsensus nasional. Ada dua macam konsensus nasional, yaitu :
1. Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Konsensus pertama ini disebut juga
dengan konsensus utama.
2. Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara melaksanakan
konsensus utama. Artinya, konsensus kedua lahir sebagai lanjutan dari konsensus utama dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan
partai-partai politik dan masyarakat.
Setelah Kabinet Ampera terbentuk (25 Juli 1966). Menyusul tekad membangun dicanangkan
UU Penanaman Modal Asing (10 Januari 1967), kemudian Penyerahan Kekuasaan
Pemerintah RI dari Soekarno kepada Mandataris MPRS (12 Februari 1967), lalu disusul
pelantikan Soeharto (12 Maret 1967) sebagai Pejabat Presiden sungguh merupakan
kebahagiaan tersendiri bagi Gerakan Pemuda Ansor.
Luapan kegembiraan itu tercermin dalam Kongres VII GP Ansor di Jakarta. Ribuan utusan
yang hadir seolah tak kuat membendung kegembiraan atas runtuhnya pemerintahan Orde
Lama, dibubarkannya PKI dan diharamkanya komunisme, Marxisme dan Leninisme di bumi
Indonesia. Bukan berarti tak ada kekecewaan, justru dalam kongres VII itulah, rasa tak puas
dan kecewa terhadap perkembangan politik pasca Orla ramai diungkapkan. Seperti
diungkapkan Ketua Umum GP Ansor Jahja Ubaid SH, bahwa setelah mulai rampungnya
perjuangan Orde Baru, diantara partner sesama Orba telah mulai melancarkan siasat untuk
mengecilkan peranan GP Ansor dalam penumpasan G-30 S/PKI dan penumbangan rezim
Orde Lama. Bahwa suasana Kongres VII, dengan demikian, diliputi dengan rasa kegembiraan
dan kekecewaan yang cukup mendalam.
Kongres VII GP Ansor berlangsung di Jakarta, 23-28 Oktober 1967. hadir dalam kongres
tersebut sejumlah utusan dari 26 wilayah (Propinsi) dan 252 Cabang (Kabupaten) se-
Indonesia. Hadir pula menyampaikan amanat; Ketua MPRS Jenderal A.H.Nasution; Pejabat
Presiden Jenderal Soeharto; KH. Dr Idham Chalid (Ketua PBNU); H.M.Subchan ZE (Wakil
Ketua MPRS); H. Imron Rosyadi, SH (mantan Ketua Umum PP.GP Ansor) dan KH.Moh.
Dachlan (Ketua Dewan Partai NU dan Menteri Agama RI)
Kongres kali ini merupakan moment paling tepat untuk menjawab segala persoalan yang
timbul di kalangan Ansor. Karena itu, pembahasan dalam kongres akhirnya dikelompokan
menjadi tiga tema pokok: (1) penyempurnaan organisasi; (2) program perjuangan gerakan;
dan (3) penegasan politik gerakan. Penegasan Politik GerakanDalam kongres ini juga
merumuskan Penegasan Politik Gerakan sbb:
(1) Menengaskan Orde Baru dengan beberapa persyaratan: (a). membasmi komunisme,
marxisme, dan leninisme. (b) menolak kembalinya kekuasaan totaliter/Orde Lama, segala
bentuk dalam manifestasinya. (c) mempertahankan kehidupan demokrasi yang murni dan (d)
mempertahankan eksistensi Partijwezen;
(2) Toleransi Agama dijamin oleh UUD 1945. Dalam pelaksanaannya harus memperhatikan
kondisi daerah serta perasaan penganut-penganut agama lain;
(3) Mempertahankan politik luar negeri yang bebas aktif, anti penjajahan dan penindasaan
dalam menuju perdamaian dunia.
Rumusan penegasan politik tersebut tentu dilatarbelakangi kajian mendalam mengenai situasi
politik yang berkembang saat itu. Kajian atau analisis itu, juga mengantisipasi perkembangan
berikutnya. Memang begitulah yang dilakukan kongres. Perkara politik itu pula-lah yang
paling menonjol dalam kongres VII tersebut.
Itulah sebabnya, dalam kongres itu diputuskan: Bahwa GP Ansor memutuskan untuk ikut di
dalamnya dalam penumpasan sisa-sisa PKI yang bermotif ideologis dan strategis. Kepada
yang bermotif Politis. Ansor menghadapinya secara kritis dan korektif. Sedangkan yang
bermotif terror, GP.Ansor harus menentang dan berusaha menunjukkan kepalsuannya.
Atas dasar itulah, GP Ansor mendukung dan ikut di dalamnya dalam operasi penumpasan
sisa-sisa PKI di Blitar dan Malang yang dikenal dengan operasi Trisula. Bahkan GP Ansor
waktu itu sempat mengirim telegram ucapan selamat kepada Pangdam VIII/Brawijaya atas
suksenya operasi tersebut. Ansor ikut operasi itu karena, operasi di kedua daerah tersebut
bermotif ideologis dan strategis.
Sesungguhnya kongres juga telah memperediksi sesuatu bentuk kekuasaan yang bakal
timbul. Karena itu, sejak awal Ansor telah menegaskan sikapnya: menolak kembalinya
pemerintahan tiran. Orde Baru ditafsirkan sebagai Orde Demokrasi yang bukan hanya
memberi kebebasan menyatakan pendapat melalui media pers atau mimbar-mimbar ilmiah.
Tapi, demokrasi diartikan sebagai suatu Doktrin Pemerintahan yang tidak mentolerir
pengendapan kekuasaan totaliter di suatu tempat. Seperti kata Michael Edwards dalam buku
Asian in the Balance, bahwa kecenderungan di Asia, akan masuk liang kubur dan muncul
authoritarianism.
Pendeknya, demokrasi pada mulanya di salah gunakan oleh pemegang kekuasaan yang korup
hingga mendorong Negara ke arah Kebangkrutan. Lalu, sebelum meledak bentrokan-
bentrokan sosial, kaum militer mengambil alih kekuasaan, dan dengan kekuasaan darurat
itulah ditegakkan pemerintahan otoriter. Begitulah kira-kira Michael Edwards. Masalah
Toleransi Agama, Selain masalah politik, kongres juga merumuskan pola kerukunan antar
umat beragama. Rumusan tersebut mengacu pada UUD 1945 yang menjamin toleransi itu
sendiri, dan dalam pelaksanaannya harus memperhatikan kondisi daerah serta perasaan
penganut agama lain.
Masalah toleransi agama di bahas serius karena, pada waktu itu pertentangan agama sudah
mulai memburuk. Bahkan bentrokan fisik telah terjadi di mana-mana. Akibatnya timbul isu
yang mendiskreditkan Partai Islam dan Umat Islam. Isu yang paling keras pada waktu itu
adalah mendirikan Negara Islam. Sehingga, di berbagai daerah ormas Islam maupun Partai
Islam selalu dicurigai aparat keamanan. Dakwah-dakwah semakin di batasi bahkan ada pula
yang terpaksa di larang. Terakhir, malah dikeluarkan garis kebijaksanaan di kalangan ABRI
yang sangat merugikan partai Islam dan Umat Islam. Dalam Kongres VII juga
menyampaikan memorandum kepada pemerintah mengenai masalah politik dan ekonomi.
Dan isi dari memorandum tak lain adalah manifestasi dari komitmen terhadap ideology
Pancasila.
1. C. Masa Reformasi
Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai tanda
akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan Era Reformasi.Masih adanya tokoh-tokoh
penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini sering
membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih belum berakhir. Oleh karena
itu Era Reformasi atau Orde Reformasi sering disebut sebagai Era Pasca Orde Baru.
Berakhirnya rezim Orde Baru, telah membuka peluang guna menata kehidupan demokrasi.
Reformasi politik, ekonomi dan hukum merupakan agenda yang tidak bisa ditunda.
Demokrasi menuntut lebih dari sekedar pemilu. Demokrasi yang mumpuni harus dibangun
melalui struktur politik dan kelembagaan demokrasi yang sehat. Namun nampaknya tuntutan
reformasi politik, telah menempatkan pelaksanan pemilu menjadi agenda pertama. Pemilu
pertama di masa reformasi hampir sama dengan pemilu pertama tahun 1955 diwarnai dengan
kejutan dan keprihatinan. Pertama, kegagalan partai-partai Islam meraih suara siginifikan.
Kedua, menurunnya perolehan suara Golkar. Ketiga, kenaikan perolehan suara PDI P.
Keempat, kegagalan PAN, yang dianggap paling reformis, ternyata hanya menduduki urutan
kelima. Kekalahan PAN, mengingatkan pada kekalahan yang dialami Partai Sosialis, pada
pemilu 1955, diprediksi akan memperoleh suara signifikan namun lain nyatanya.
Pemerintahan B.J Habibie
Sidang Istimewa MPR yang mengukuhkan Habibie sebagai Presiden, ditentang oleh
gelombang demonstrasi dari puluhan ribu mahasiswa dan rakyat di Jakarta dan di kota-kota
lain. Gelombang demonstrasi ini memuncak dalam peristiwa Tragedi Semanggi, yang
menewaskan 18 orang. Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama
dengan Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi.
Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan
berekspresi.
Presiden BJ Habibie mengambil prakarsa untuk melakukan koreksi. Sejumlah tahanan politik
dilepaskan. Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan dibebaskan, tiga hari setelah
Habibie menjabat. Tahanan politik dibebaskan secara bergelombang. Tetapi, Budiman
Sudjatmiko dan beberapa petinggi Partai Rakyat Demokratik baru dibebaskan pada era
Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah Habibie membebaskan tahanan politik, tahanan
politik baru muncul. Sejumlah aktivis mahasiswa diadili atas tuduhan menghina pemerintah
atau menghina kepala negara. Desakan meminta pertanggungjawaban militer yang terjerat
pelanggaran HAM tak bisa dilangsungkan karena kuatnya proteksi politik. Bahkan, sejumlah
perwira militer yang oleh Mahkamah Militer Jakarta telah dihukum dan dipecat karena
terlibat penculikan, kini telah kembali duduk dalam jabatan struktural.
Beberapa langkah perubahan diambil oleh Habibie, seperti liberalisasi parpol, pemberian
kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan pencabutan UU Subversi. Walaupun begitu
Habibie juga sempat tergoda meloloskan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya, namun
urung dilakukan karena besarnya tekanan politik dan kejadian Tragedi Semanggi II yang
menewaskan mahasiswa UI, Yun Hap. Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie
adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum yang
berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia pada Oktober 1999. Keputusan
tersebut terbukti tidak populer di mata masyarakat sehingga hingga kini pun masa
pemerintahan Habibie sering dianggap sebagai salah satu masa kelam dalam sejarah
Indonesia. Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya
adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas
negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para
tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.
Walaupun pengesahan hasil Pemilu 1999 sempat tertunda, secara umum proses pemilu multi
partai pertama di era reformasi jauh lebih Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luber) serta
adil dan jujur dibanding masa Orde Baru. Hampir tidak ada indikator siginifikan yang
menunjukkan bahwa rakyat menolak hasil pemilu yang berlangsung dengan aman. Realitas
ini menunjukkan, bahwa yang tidak mau menerima kekalahan, hanyalah mereka yang tidak
siap berdemokrasi, dan ini hanya diungkapkan oleh sebagian elite politik, bukan rakyat.
Pemeintahan Abdurahman Wahid.
Pemilu untuk MPR, DPR, dan DPRD diadakan pada 7 Juni 1999. PDI Perjuangan pimpinan
putri Soekarno, Megawati Sukarnoputri keluar menjadi pemenang pada pemilu parlemen
dengan mendapatkan 34% dari seluruh suara; Golkar (partai Soeharto sebelumnya selalu
menjadi pemenang pemilu-pemilu sebelumnya) memperoleh 22%; Partai Persatuan
Pembangunan pimpinan Hamzah Haz 12%; Partai Kebangkitan Bangsa pimpinan
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 10%. Pada Oktober 1999, MPR melantik Abdurrahman
Wahid sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden untuk masa bakti 5 tahun.
Wahid membentuk kabinet pertamanya, Kabinet Persatuan Nasional pada awal November
1999 dan melakukan reshuffle kabinetnya pada Agustus 2000.
Pemerintahan Presiden Wahid meneruskan proses demokratisasi dan perkembangan ekonomi
di bawah situasi yang menantang. Di samping ketidakpastian ekonomi yang terus berlanjut,
pemerintahannya juga menghadapi konflik antar etnis dan antar agama, terutama di Aceh,
Maluku, dan Papua. Di Timor Barat, masalah yang ditimbulkan rakyat Timor Timur yang
tidak mempunyai tempat tinggal dan kekacauan yang dilakukan para militan Timor Timur
pro-Indonesia mengakibatkan masalah-masalah kemanusiaan dan sosial yang besar. MPR
yang semakin memberikan tekanan menantang kebijakan-kebijakan Presiden Wahid,
menyebabkan perdebatan politik yang meluap-luap.
Pemerintahan Megawati soekarno putri
Pada Sidang Umum MPR pertama pada Agustus 2000, Presiden Wahid memberikan laporan
pertanggung jawabannya. Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran menyerbu MPR dan
meminta Presiden agar mengundurkan diri dengan alasan keterlibatannya dalam skandal
korupsi. Di bawah tekanan dari MPR untuk memperbaiki manajemen dan koordinasi di
dalam pemerintahannya, dia mengedarkan keputusan presiden yang memberikan kekuasaan
negara sehari-hari kepada wakil presiden Megawati. Megawati mengambil alih jabatan
presiden tak lama kemudian.
Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono
Pemilu 2004, merupakan pemilu kedua dengan dua agenda, pertama memilih anggota
legislatif dan kedua memilih presiden. Untuk agenda pertama terjadi kejutan, yakni naiknya
kembali suara Golkar, turunan perolehan suara PDI-P, tidak beranjaknya perolehan yang
signifikan partai Islam dan munculnya Partai Demokrat yang melewati PAN. Dalam
pemilihan presiden yang diikuti lima kandidat (Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati
Soekarno Putri, Wiranto, Amin Rais dan Hamzah Haz), berlangsung dalam dua putaran, telah
menempatkan pasangan SBY dan JK, dengan meraih 60,95 persen. Susilo Bambang
Yudhoyono tampil sebagai presiden baru Indonesia. Pemerintah baru ini pada awal masa
kerjanya telah menerima berbagai cobaan dan tantangan besar, seperti gempa bumi besar di
Aceh dan Nias pada Desember 2004 yang meluluh lantakkan sebagian dari Aceh serta gempa
bumi lain pada awal 2005 yang mengguncang Sumatra.
Pada 17 Juli 2005, sebuah kesepakatan bersejarah berhasil dicapai antara pemerintah
Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan
selama 30 tahun di wilayah Aceh. Atas prestasi SBY yang di tanam sejak tahun 2004 telah
mengantar beliau naik kembali duduk di kursi presiden dengan pasanganya pak Budiono pada
pemilu tahun 2009, kinerja mereka pun belum dapat dirasakan dengan maksimal.

Otonomi daerah di Indonesia
Otonomi daerah di Indonesia adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan
pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu:
1. Nilai Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai
kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara (Eenheidstaat), yang berarti
kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan
terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan
2. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945
beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah
diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang
ketatanegaraan
3. Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di
Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan
sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk
mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun
titik berat pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II) dengan
beberapa dasar pertimbangan:
1. Dimensi Politik, Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehingga risiko
gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim;
2. Dimensi Administratif, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat
relatif dapat lebih efektif;
3. Dati II adalah daerah ujung tombak pelaksanaan pembangunan sehingga Dati II-lah yang
lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya.
Atas dasar itulah, prinsip otonomi yang dianut adalah:
1. Nyata, otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di
daerah;
2. Bertanggung jawab, pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar
pembangunan di seluruh pelosok tanah air; dan
3. Dinamis, pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan
maju
Aturan Perundang-undangan
Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi
Daerah:
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah
2. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
3. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Daerah
4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
5. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah
6. Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah
7. Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru
Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional
yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat
pembangunan ekonomi Indonesia. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama
dijadikan panglima, digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya, dan mobilisasi massa
atas dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Banyak
prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru, terutama keberhasilan di
bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program
pembangunan dari pusat. Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas
administrasi inilah, dibentuklah Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Pemerintahan Daerah. Mengacu pada UU ini, Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlak. Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom,
selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas
wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Undang-undang No. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusat-
daerah yang dirangkum dalam tiga prinsip:
1. Desentralisasi, penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya
kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya;
2. Dekonsentrasi, pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala
Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabat di daerah, dan
3. Tugas Pembantuan (medebewind), tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan
pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh
Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban
mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.
Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II
(Kabupaten/Kotamadya), dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari
sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah
dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri, untuk masa jabatan 5 (lima)
tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya, dengan hak,
wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban
memberikan keterangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
sekurang-kurangnya sekali setahun, atau jika dipandang perlu olehnya, atau apabila diminta
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar
Pengadilan. Berkaitan dengan susunan, fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah, diatur dalam Pasal 27, 28, dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (hak anggaran; mengajukan pertanyaan bagi masing-
masing Anggota; meminta keterangan; mengadakan perubahan; mengajukan pernyataan
pendapat; prakarsa; dan penyelidikan) dan kewajiban seperti a) mempertahankan,
mengamankan serta mengamalkan PANCASILA dan UUD 1945; b)menjunjung tinggi dan
melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara, Ketetapan-ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang
berlaku; c) bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja
daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batas-batas
wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan
perundangundangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah; dan d) memperhatikan
aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang pada program
pembangunan Pemerintah.
Dari dua bagian tersebut di atas, nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. 5
Tahun 1974 adalah suatu komitmen politik, namun dalam prakteknya yang terjadi adalah
sentralisasi (baca: kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun
implementasi pembangunan Indonesia. Salah satu fenomena paling menonjol dari
pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974 ini adalah ketergantungan Pemda yang relatif tinggi
terhadap pemerintah pusat.
Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru
Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di
tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari
rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis). Pemerintahan Habibie yang memerintah
setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan
integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan yaitu:
1. melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah, yang berarti mengurangi
peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah;
2. pembentukan negara federal; atau
3. membuat pemerintah provinsi sebagai agen murni pemerintah pusat.
Pada masa ini, pemerintahan Habibie memberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru
untuk menggantikan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974, yaitu dengan memberlakukan
Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No.
25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undang-
undang sebelumnya antara lain :
1. Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih
mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak, sedang dalam Undang-
undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri.
2. Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas
dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974
tidak dipergunakan lagi, karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas, nyata
dan bertanggung jawab. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan,
pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah. Di samping itu, otonomi daerah juga dilaksanakan dengan
prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah.
3. Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat,
menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif, serta meningkatkan peran dan
fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. Oleh karena itu, dalam Undang-undang ini otonomi
daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat,
yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II, yang dalam Undang-
undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.
4. Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi
yang luas, nyata dan bertanggung jawab, dimana semua kewenangan pemerintah, kecuali
bidang politik luar negeri, hankam, peradilan, moneter dan fiskal serta agama dan bidang-
bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh, bulat dan menyeluruh, yang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
5. Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan
melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Sedang yang selama ini
disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat, diganti menjadi daerah propinsi dengan
kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi, yaitu wilayah kerja
Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan
kepadanya.
6. Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. Dalam
hubungan ini, kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah
administrasi, tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. Mengenai asas tugas
pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi, kabupaten, kota dan desa.
Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada
daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah.
7. Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil dihitung secara lurus dari garis
pangkal pantai, sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut
sebatas 1/3 wilayah laut propinsi.
[15]

8. Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD
bukan unsur pemerintah daerah. DPRD mempunyai fungsi pengawasan, anggaran dan
legislasi daerah. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. Gubernur
selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden.
9. Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman
yang ditetapkan Pemerintah, dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang.
10. Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial
budaya, sosial politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangannya lain yang
memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah, daerah, daerah yang tidak mampu
menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain.
Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah, yang ditetapkan dengan undang-
undang.
11. Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah, dan dipilih bersama
pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD.
12. Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan, pemindahan, pemberhentian,
penetapan pensiun, pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan daerah, berdasarkan nama, standar, prosedur yang ditetapkan pemerintah.
13. Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas, sedang pada propinsi otonomi
yang terbatas. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas
Kabupaten dan Kota, yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau
diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Misalnya kewenangan
di bidang perhubungan, pekerjaan umum, kehutanan dan perkebunan dan kewenangan
bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan
yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota.
14. Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara
membentuk badan pengelola tersendiri, baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten
sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga. Selain DPRD,
daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah, yang terdiri dari Kepala
Daerah, Sekretariat Daerah, Dinas-Dinas Teknis Daerah, Lembaga Staf Teknis Daerah, seperti
yang menangani perencanaan, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan,
pengawasan dan badan usaha milik daerah. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu
sepenuhnya diserahkan pada daerah. Lembaga pembantu Gubernur, Pembantu
Bupati/Walikota, Asisten Sekwilda, Kantor Wilayah dan Kandep dihapus.
15. Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD, dan DPRD dapat meminta
Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali
tidak dapat diterima oleh DPRD.
1. 2.2 Keuntungan dan Kekurangan Otonomi Daerah
2. Pada prinsipnya, kebijakan otonomi daerah dilakukan dengan mendesentralisasikan
kewenangan-kewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Dalam
proses desentralisasi ini, kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke
pemerintahan daerah sebagaimana mestinya sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari
pusat ke daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Jika dalam kondisi semula arus
kekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah tingkat pusat maka diidealkan bahwa sejak
diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu, arus dinamika kekuasaan akan bergerak
sebaliknya, yaitu dari pusat ke daerah.
3. Kebijakan otonomi dan desentralisasi kewenangan ini di lihat sangat penting, terutama
untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Karena dalam sistem yang belaku sebelumnya sangat dirasakan oleh daerah-daerah
besarnya jurang ketidakadilan struktural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan
daerah-daerah. Untuk menjamin perasaan diberlakukan tidak adil yang muncul di berbagai
daerah Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat pada gilirannya akan sangat
membahayakan integrasi nasional, maka kebijakan otonomi daerah ini dinilah mutlak harus
diterapkan dalam waktu yang secepat-cepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan da- erah
sendiri.
4. Dengan demikian, kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya
menyangkut pengalihan kewenangan dari atas ke bawah, tetapi perlu juga diwujudkan atas
dasar prakarsa dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandiriaan pemerintahan
daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu.
Dalam kultur masyarakat Indonesia yang paternalistik, kebijakan desentralisasi dan otonomi
daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi dengan upaya sadar untuk
membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri.
5. Beberapa keuntungan dengan menerapkan otonomi daerah dapat dikemukakan sebagai
berikut ini.
6. a. Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat pemerintahan.
7. b. Dalam menghadapi masalah yang amat mendesak yang membutuhkan tindakan yang
cepat, sehingga daerah tidak perlu menunggu intruksi dari Pemerintah pusat.
8. c. Dalam sistem desentralisasi, dpat diadakan pembedaan (diferensial) dan
pengkhususan (spesialisasi) yang berguna bagi kepentingan tertentu. Khususnya
desentralisasi teretorial, dapat lebih muda menyesuaikan diri pada kebutuhan atau
keperluan khusu daerah.
9. d. Dengan adanya desentralisasi territorial, daerah otonomi dapat merupakan semacam
laboratorium dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan, yang dapat
bermanfaat bagi seluruh negara. Hal-hal yang ternyata baik, dapat diterapkan diseluruh
wilayah negara, sedangkan yang kurang baik dapat dibatasi pada suatu daerah tertentu saja
dan oleh karena itu dapat lebih muda untuk diadakan.
10. e. Mengurangi kemungkinan kesewenang-wenangan dari Pemerintah Pusat.
11. f. Dari segi psikolagis, desentralisasi dapat lebih memberikan kewenangan memutuskan
yang lebuh beser kepada daerah.
12. g. Akan memperbaiki kualitas pelayanan karena dia lebih dekat dengan masyarakat yang
dilayani.
13.
14. Di samping kebaikan tersebut di atas, otonomi daerah juga mengandung kelemahan
sebagaimana pendapat Josef Riwu Kaho (1997) antara lain sebagai berikut ini.
15. a. Karena besarnya organ-organ pemerintahan maka struktur pemerintahan bertambah
kompleks, yang mempersulit koordinasi.
16. b. Keseimbangan dan keserasian antara bermacam-macam kepentingan dan daerah
dapat lebih mudah terganggu.
17. c. Khusus mengenai desentralisasi teritorial, dapat mendorong timbulnya apa yang
disebut daerahisme atau provinsialisme.
18. d. Keputusan yang diambil memerlukan waktu yang lama, karena memerlukan
perundingan yang bertele-tele.
19. e. Dalam penyelenggaraan desentralisasi, diperlukan biaya yang lebih banyak dan sulit
untuk memperoleh keseragaman atau uniformitas dan kesederhanaan.
A. BERAKHIRNYA PEMERINTAHAN ORDE BARU
Keberhasilan Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan ekonomi, harus diakui
sebagai suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Di tambah dengan meningkatnya sarana dan
prasarana fisik infrastruktur yang dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Namun, keberhasilan ekonomi maupun infrastruktur Orde Baru kurang diimbangi dengan
pembangunan mental ( character building ) para pelaksana pemerintahan (birokrat), aparat keamanan
maupun pelaku ekonomi (pengusaha / konglomerat). Kalimaksnya, pada pertengahan tahun 1997,
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya (bagi penguasa, aparat dan
penguasa)
1. Faktor Penyebab Munculnya Reformasi
Banyak hal yang mendorong timbulnya reformasi pada masa pemerintahan Orde Baru, terutama
terletak pada ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan hukum. Tekad Orde Baru pada awal
kemunculannya pada tahun 1966 adalah akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni
dan konsekuen dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Setelah Orde Baru memegang tumpuk kekuasaan dalam mengendalikan pemerintahan, muncul suatu
keinginan untuk terus menerus mempertahankan kekuasaannya atau status quo. Hal ini menimbulkan
akses-akses nagatif, yaitu semakin jauh dari tekad awal Orde Baru tersebut. Akhirnya penyelewengan
dan penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada UUD 1945,
banyak dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.

2. Krisi Politik
Demokrasi yang tidak dilaksanakan dengan semestinya akan menimbulkan permasalahan politik. Ada
kesan kedaulatan rakyat berada di tangan sekelompok tertentu, bahkan lebih banyak di pegang oleh
para penguasa. Dalam UUD 1945 Pasal 2 telah disebutkan bahwa Kedaulatan adalah ditangan rakyat
dan dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR. Pada dasarnya secara de jore (secara hukum) kedaulatan
rakyat tersebut dilakukan oleh MPR sebagai wakil-wakil dari rakyat, tetapi secara de facto (dalam
kenyataannya) anggota MPR sudah diatur dan direkayasa, sehingga sebagian besar anggota MPR itu
diangkat berdasarkan ikatan kekeluargaan (nepotisme).
Keadaan seperti ini mengakibatkan munculnya rasa tidak percaya kepada institusi pemerintah, DPR,
dan MPR. Ketidak percayaan itulah yang menimbulkan munculnya gerakan reformasi. Gerakan
reformasi menuntut untuk dilakukan reformasi total di segala bidang, termasuk keanggotaan DPR dam
MPR yang dipandang sarat dengan nuansa KKN.

Gerakan reformasi juga menuntut agar dilakukan pembaharuan terhadap lima paket undang-undang
politik yang dianggap menjadi sumber ketidakadilan, di antaranya :
UU No. 1 Tahun 1985 tentang Pemilihan Umum
UU No. 2 Tahun 1985 tentang Susunan, Kedudukan, Tugas dan Wewenang DPR / MPR
UU No. 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya.
UU No. 5 Tahun 1985 tentang Referendum
UU No. 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa.
Perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional dianggap telah menimbulkan ketimpangan
ekonomi yang lebih besar. Monopoli sumber ekonomi oleh kelompok tertentu, konglomerasi, tidak
mempu menghapuskan kemiskinan pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Kondisi dan situasi
Politik di tanah air semakin memanas setelah terjadinya peristiwa kelabu pada tanggal 27 Juli 1996.
Peristiwa ini muncul sebagai akibat terjadinya pertikaian di dalam internal Partai Demokrasi Indonesia
(PDI).

Krisis politik sebagai faktor penyebab terjadinya gerakan reformasi itu, bukan hanya menyangkut
masalah sekitar konflik PDI saja, tetapi masyarakat menuntut adanya reformasi baik didalam
kehidupan masyarakat, maupun pemerintahan Indonesia. Di dalam kehidupan politik, masyarakat
beranggapan bahwa tekanan pemerintah pada pihak oposisi sangat besar, terutama terlihat pada
perlakuan keras terhadap setiap orang atau kelompok yang menentang atau memberikan kritik
terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil atau dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, masyarakat
juga menuntut agar di tetapkan tentang pembatasan masa jabatan Presiden.

Terjadinya ketegangan politik menjelang pemilihan umum tahun 1997 telah memicu munculnya
kerusuhan baru yaitu konflik antar agama dan etnik yang berbeda. Menjelang akhir kampanye
pemilihan umum tahun 1997, meletus kerusuhan di Banjarmasin yang banyak memakan korban jiwa.
Pemilihan umum tahun 1997 ditandai dengan kemenangan Golkar secara mutlak. Golkar yang meraih
kemenangan mutlak memberi dukungan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden
dalam Sidang Umum MPR tahun 1998 2003. Sedangkan di kalangan masyarakat yang dimotori oleh
para mahasiswa berkembang arus yang sangat kuat untuk menolak kembali pencalonan Soeharto
sebagai Presiden.
Dalam Sidang Umum MPR bulan Maret 1998 Soeharto terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia
dan BJ. Habibie sebagai Wakil Presiden. Timbul tekanan pada kepemimpinan Presiden Soeharto yang
dating dari para mahasiswa dan kalangan intelektual.

3. Krisi Hukum
Pelaksanaan hukum pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat banyak ketidakadilan. Sejak
munculnya gerakan reformasi yang dimotori oleh kalangan mahasiswa, masalah hukum juga menjadi
salah satu tuntutannya. Masyarakat menghendaki adanya reformasi di bidang hukum agar dapat
mendudukkan masalah-masalah hukum pada kedudukan atau posisi yang sebenarnya.

4. Krisi Ekonomi
Krisi moneter yang melanda Negara-negara di Asia Tenggara sejak bulan Juli 1996, juga mempengaruhi
perkembangan perekonomian Indonesia. Ekonomi Indonesia ternyata belum mampu untuk
menghadapi krisi global tersebut. Krisi ekonomi Indonesia berawal dari melemahnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat.
Ketika nilai tukar rupiah semakin melemah, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0% dan
berakibat pada iklim bisnis yang semakin bertambah lesu. Kondisi moneter Indonesia mengalami
keterpurukan yaitu dengan dilikuidasainya sejumlah bank pada akhir tahun 1997. Sementara itu untuk
membantu bank-bank yang bermasalah, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (KLBI). Ternyata udaha yang dilakukan pemerintah ini tidak dapat memberikan hasil, karena
pinjaman bank-bank bermasalah tersebut semakin bertambah besar dan tidak dapat di kembalikan
begitu saja.
Krisis moneter tidak hanya menimbulkan kesulitan keuangan Negara, tetapi juga telah
menghancurkan keuangan nasional.

Memasuki tahun anggaran 1998 / 1999, krisis moneter telah mempengaruhi aktivitas ekonomi yang
lainnya. Kondisi perekonomian semakin memburuk, karena pada akhir tahun 1997 persedian sembilan
bahan pokok sembako di pasaran mulai menipis. Hal ini menyebabkan harga-harga barang naik tidak
terkendali. Kelaparan dan kekurangan makanan mulai melanda masyarakat. Untuk mengatasi
kesulitan moneter, pemerintah meminta bantuan IMF. Namun, kucuran dana dari IMF yang sangat di
harapkan oleh pemerintah belum terelisasi, walaupun pada 15 januari 1998 Indonesia telah
menandatangani 50 butir kesepakatan (letter of intent atau Lol) dengan IMF.
Faktor lain yang menyebabkan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tidak terlepas dari masalah
utang luar negeri.

Utang Luar Negeri Indonesia Utang luar negeri Indonesia menjadi salah satu faktor penyebab
munculnya krisis ekonomi. Namun, utang luar negeri Indonesia tidak sepenuhnya merupakan utang
Negara, tetapi sebagian lagi merupakan utang swasta. Utang yang menjadi tanggungan Negara hingga
6 februari 1998 mencapai 63,462 miliar dollar Amerika Serikat, utang pihak swasta mencapai 73,962
miliar dollar Amerika Serikat.

Akibat dari utang-utang tersebut maka kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia semakin menipis.
Keadaan seperti ini juga dipengaruhi oleh keadaan perbankan di Indonesia yang di anggap tidak sehat
karena adanya kolusi dan korupsi serta tingginya kredit macet.

Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945 Pemerintah Orde Baru mempunyai tujuan menjadikan Negara
Republik Indonesia sebagai Negara industri, namun tidak mempertimbangkan kondisi riil di
masyarakat. Masyarakat Indonesia merupakan sebuah masyarakat agrasis dan tingkat pendidikan
yang masih rendah.
Sementara itu, pengaturan perekonomian pada masa pemerintahan Orde Baru sudah jauh
menyimpang dari sistem perekonomian Pancasila. Dalam Pasal 33 UUD 1945 tercantum bahwa dasar
demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan
anggota-anggota masyarakat. Sebaliknya, sistem ekonomi yang berkembang pada masa
pemerintahan Orde Baru adalah sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh para konglomerat
dengan berbagai bentuk monopoli, oligopoly, dan diwarnai dengan korupsi dan kolusi.

Pola Pemerintahan Sentralistis Sistem pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Orde Baru
bersifat sentralistis. Di dalam pelaksanaan pola pemerintahan sentralistis ini semua bidang kehidupan
berbangsa dan bernegara diatur secara sentral dari pusat pemerintah yakni di Jakarta.
Pelaksanaan politik sentralisasi yang sangat menyolok terlihat pada bidang ekonomi. Ini terlihat dari
sebagian besar kekayaan dari daerah-daerah diangkut ke pusat. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan
pemerintah dan rakyat di daerah terhadap pemerintah pusat. Politik sentralisasi ini juga dapat dilihat
dari pola pemberitaan pers yang bersifat Jakarta-sentris, karena pemberitaan yang berasala dari
Jakarta selalu menjadi berita utama. Namun peristiwa yang terjadi di daerah yang kurang kaitannya
dengan kepentingan pusat biasanya kalah bersaing dengan berita-barita yang terjadi di Jakarta dalam
merebut ruang, halaman, walaupun yang memberitakan itu pers daerah.

5. Krisi Kepercayaan
Demontrasi di lakukan oleh para mahasiswa bertambah gencar setelah pemerintah mengumumkan
kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Puncak aksi para mahasiswa
terjadi tanggal 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti Jakarta. Aksi mahasiswa yang semula damai itu
berubah menjadi aksi kekerasan setelah tertembaknya empat orang mahasiswa Trisakti yaitu Elang
Mulia Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan.
Tragedi Trisakti itu telah mendorong munculnya solidaritas dari kalangan kampus dan masyarakat
yang menantang kebijakan pemerintahan yang dipandang tidak demokratis dan tidak merakyat.

Soeharto kembali ke Indonesia, namun tuntutan dari masyarakat agar Presiden Soeharto
mengundurkan diri semakin banyak disampaikan. Rencana kunjungan mahasiswa ke Gedung DPR /
MPR untuk melakukan dialog dengan para pimpinan DPR / MPR akhirnya berubah menjadi mimbar
bebas dan mereka memilih untuk tetap tinggal di gedung wakil rakyat tersebut sebelum tuntutan
reformasi total di penuhinya. Tekanan-tekanan para mahasiswa lewat demontrasinya agar presiden
Soeharto mengundurkan diri akhirnya mendapat tanggapan dari Harmoko sebagai pimpinan DPR /
MPR. Maka pada tanggal 18 Mei 1998 pimpinan DPR/MPR mengeluarkan pernyataan agar Presiden
Soeharto mengundurkan diri.
Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat di
Jakarta. Kemudian Presiden mengumumkan tentang pembentukan Dewan Reformasi, melakukan
perubahan kabinet, segera melakukan Pemilihan Umum dan tidak bersedia dicalonkan kembali
sebagai Presiden.
Dalam perkembangannya, upaya pembentukan Dewan Reformasi dan perubahan kabinet tidak dapat
dilakukan. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan
diri/berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia dan menyerahkan Jabatan Presiden kepada Wakil
Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie dan langsung diambil sumpahnya oleh Mahkamah Agung
sebagai Presiden Republik Indonesia yang baru di Istana Negara.