Anda di halaman 1dari 12

ANALISA PERBANDINGAN PP 27 TAHUN 2014

DENGAN PP 6 TAHUN 2006 DAN PP 38 TAHUN 2008


TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK
NEGARA/DAERAH


2014
Seminar Manajemen
Kekayaan Negara

NOLARISTI
NPM:134060018074
KELAS/ABSEN : 9-A / 18

Program Diploma IV Akuntansi Reguler
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Pengelola Barang Milik Negara tidak hanya melaksanakan tugas sebagai aset
administrator saja, tetapi juga melaksanakan tugas sebagai aset manajer. Dimana aset
administrator melakukan penatausahaan BMN dan aset manajer melakukan Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bersumber dari BMN. Prinsip-prinsip pengelolaan Barang
Milik Negara yang harus dipahami dan dimiliki oleh pengelola BMN, yaitu efisiensi,
akuntanbilitas, fungsional, transparansi, kepastian nilai dan kepastian hukum. Lingkup
kekayaan negara terbagi atas 2 bagian yaitu kekayaan negara yang dimiliki pemerintah dan
kekayaan negara yang dikuasai oleh negara. Kekayaan negara yang dimiliki oleh pemerintah
terdiri atas BMN/D dan investasi pemerintah. Kekayaan negara yang dikuasai oleh negara
terdiri atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya termasuk udara dan
frekuensi.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 tentang Barang Milik
Negara/Daerah sebagai pengganti PP Nomor 6 tahun 2006 yang pernah direvisi sebelumnya
melalui PP Nomor 38 tahun 2008 dipakai untuk memenuhi perkembangan kebutuhan dan
praktik di bidang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) dan mendorong
investasi di bidang infrastuktur. Dalam rangka mendorong investasi di bidang penyediaan
infrastruktur, melalui PP ini pemerintah memberikan dasar pengaturan yang lebih luas untuk
menerapkan kebijakan secara lebih fleksibel dalam pelaksanaan pemanfaatan BMN/D. Selain
itu, pemerintah juga menyediakan skema baru sebagai alternatif dalam rangka pemanfaatan
BMN/D di bidang penyediaan infrastruktur.
Kebijakan tersebut antara lain diwujudkan dengan penyesuaian jangka waktu dan tarif
pemanfaatan BMN/D di bidang infrastruktur. Misalnya untuk penyesuaian jangka waktu
sewa dapat dilakukan selama lebih dari lima tahun, sedangkan kerja sama pemanfaatan dapat
dilakukan sampai dengan 50 tahun, dari sebelumnya hanya sampai 30 tahun. Sementara,
penyesuaian tarif dilakukan antara lain dengan mempertimbangkan nilai keekonomian untuk
infrastruktur tertentu.
Untuk mempercepat implementasi PP Nomor 27 Tahun 2014, Menteri Keuangan
telah menetapkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 78/PMK.06/2014 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Pemanfaatan BMN. PMK ini mengatur secara lebih detail tata cara
pemanfaatan BMN dalam rangka sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, bangun guna
serah, bangun serah guna, dan lain-lain. Dengan terbitnya PMK tersebut, pemerintah
berharap pemanfaatan BMN terkait pengembangan dan penyediaan infrastruktur serta
layanan umum seperti bandar udara, jalan nasional dan lainnya yang selama ini terhambat
karena belum adanya payung hukum dapat segera direalisasikan
Sebuah sistem yang baik juga harus didukung dengan SDM yang baik, karena sebaik-
baiknya sistem dirancang apabila tidak diimplementasikan dengan SDM terbaik maka
hasilnya akan nihil. Berikut ini hubungan relasi empirik kualitas SDM dan strategi
pengelolaan BMN yang diperlukan bagi penguatan pengelolaan BMN, yaitu:
1. Jika strategi pengelolaan BMN yang kuat dengan kualitas SDM yang kuat, maka
akan menghasilkan kesuksesan dan keberhasilan dalam pengelolaan BMN,
2. Jika strategi pengelolaan BMN yang lemah dengan kualitas SDM yang kuat, maka
bisa menghasilkan kesuksesan dalam pengelolaan BMN,
3. Jika strategi pengelolaan BMN yang kuat dengan kualitas SDM yang lemah, maka
akan menghasilkan kegagalan dalam pengelolaan BMN,
4. jika strategi pengelolaan BMN yang lemah dengan kualitas SDM yang lemah,
maka pengelolaan BMN akan gagal total.
Selain dari peningkatan kualitas SDM, pengelolaan BMN juga harus didukung oleh
koodinasi yang baik dari tiap unit. Koordinasi memang seharusnya telah dilaksanakan antara
pengelola barang dan pengguna barang. Namun berdasarkan hasil temuan BPK terkait Sistem
Pengendalian Internal Pemerintah tahun 2012, masih dibutuhkan koordinasi yang lebih baik
terutama guna melaksanakan penertiban dalam rangka pelaksanaan penetapan status
penggunaan, pengalihan status penggunaan, dan/atau penyerahan BMN idle kepada pengelola
barang. Temuan-temuan ini khususnya terkait dengan masalah sertifikasi BMN, BMN dalam
sengketa, BMN hilang atau rusak berat, BMN yang dimanfaatkan oleh pihak lain, dan
penyusutan BMN. Selain itu, terdapat dinamika pengelolaan BMN/D terkait dengan sewa,
kerja sama pemanfaatan, BMN luar negeri yang memerlukan perlakuan khusus, serta adanya
multitafsir terhadap aturan-aturan mengenai Badan Layanan Umum (BLU) dan Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP).
Dalam pelaksanaan pengelolaan barang milik negara/daerah ini, koordinasi yang baik
tetap harus dilaksanakan dan ditingkatkan dengan instansi lainnya seperti:
a. Badan Pertanahan Nasional terkait aset tanah negara
b. Pengelola dhi. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Departemen Keuangan dalam hal
penilaian aset
c. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam hal pengembangan sistem dan
peningkatan kapabilitas aparatur
d. Terkait dengan BMN yang dikuasai oleh pihak lain, pengelola di DJKN hendaknya
berkoordinasi dengan KL terkait agar melakukan upaya untuk dapat menguasai barang
tersebut baik melalui pendekatan persuasif maupun upaya hukum dan segera melakukan
pengamanan atas barang tersebut setelah berhasil menguasai fisik BMN
e. Terkait BMN dalam sengketa, pengelola di DJKN melakukan koordinasi dengan KL

Kepala K/L selaku Chief Operating Officer (CEO) menerima kuasa dari Presiden
untuk mengelola keuangan negara di lingkungan kementerian dan lembaga. Adapun tugas
dari Kepala K/L adalan sebagai pengguna anggaran, pengguna BMN, dan penyusun Laporan
Keuangan. Kekayaan Negara meliputi kekayaan yang dimiliki Pemerintah (BMN/D dan
Investasi Pemerintah) dan kekayaan negara yang dikuasai Negara (Bumi, Air, dan Kekayaan
Alam yang terkandung di dalamnya termasuk udara dan frekuensi). Kekayaan Negara
tidaklah sama dengan Barang Milik Negara, akan tetapi Barang Milik Negara merupakan
bagian dari Kekayaan Negara. Lingkup Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah yang perlu
dipahami dan dilaksanakan oleh pengelola BMN:
No PP Nomor 6 Tahun 2006 PP Nomor 27 Tahun 2014
1
Perencanaan Kebutuhan dan
penganggaran
Perencanaan Kebutuhan dan penganggaran
2 Pengadaan Pengadaan
3 Penggunaan Penggunaan
4 Pemanfaatan Pemanfaatan
5 Pengamanan dan Pemeliharaan Pengamanan dan Pemeliharaan
6 Penilaian Penilaian
7 Penghapusan Pemindahtanganan
8 Pemindahtanganan Pemusnahan
9 Penatausahaan Penghapusan
10
Pembinaan, Pengawasan dan
Pengendalian
Penatausahaan
11 Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian

Beberapa perubahan ataupun peraturan tambahan yang terdapat dalam PP Nomor 27 tahun
2014 adalah sebagai berikut.
1. Terdapat penyesuaian terkait dengan pengelolaan BMN, baik yang bersifat administratif
maupun teknis, mengenai pembangunan infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dan
swasta. Di dalam PP Nomor 27 tahun 2014 telah menampung kebutuhan dari pengelola
infrastuktur, sehingga Pengguna Barang yang bergerak di bidang infrastruktur dapat lebih
dinamis dan agresif di dalam memanfaatkan BMN dalam kaitannya dengan pembangunan
infrastruktur. Sebagai contoh, jangka waktu sewa dapat dilakukan lebih dari 5 (lima) tahun
dan jangka waktu Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) dapat dilakukan sampai dengan 50
tahun, yang pada PP Nomor 36 tahun 2006 hanya dapat dilakukan sampai dengan 30
tahun.
2. Terdapat perubahan aturan terkait penyederhanaan birokrasi pengelolaan BMN. Dengan
PP Nomor 27 tahun 2014, Pengelola Barang dapat mendelegasikan kewenangan ke
Pengguna Barang dan Pengguna Barang dapat mendelegasikan kewenangannya ke Kuasa
Pengguna Barang, sehingga birokrasi akan menjadi semakin singkat dan arus pengelolaan
BMN menjadi semakin cepat. Kewenangan yang dapat didelegasikan tersebut adalah
meliputi penetapan status, pemindahtanganan, dan penghapusan; sedangkan kewenangan
pemanfaatan tidak dapat didelegasikan dan tetap berada di bawah Pengelola Barang
(Kementerian Keuangan). Penyederhanaan birokrasi pengelolaan BMN ini diharapkan
dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan BMN yang pada
akhirnya akan membuat rekonsiliasi lebih tertib dan lebih cepat.
3. Terdapatnya penyempurnaan terkait siklus pengelolaan BMN. Dalam prakteknya, siklus
pemindahtanganan dan penghapusan selalu dicampuradukkan. Siklus ini diperbaiki
dengan mempertegas proses perencanaan, pengadaan, dan pengelolaan. Di dalam
pengelolaan sendiri, pengelolaan dibagi 2 (dua), yaitu dikelola untuk keperluan tugas dan
fungsi (tusi) ataukah dikelola untuk dimanfaatkan. Jika tidak dilakukan keduanya, maka
BMN dapat dipindahtangankan. Namun, jika BMN tidak dikelola untuk kepentingan tugas
dan fungsi, tidak dikelola untuk dimanfaatkan, serta tidak dipindahtangankan, maka BMN
harus dihapuskan. Dengan demikian, penghapusan menjadi ending point dari semua siklus
pengelolaan BMN yang membebaskan Pengguna Barang dan Pengelola Barang dari
kewajiban mengadministrasikan dan mengelola BMN.
4. Terdapat penjelasan lebih lanjut terkait BMN/D yang dikuasai oleh Badan Layanan Umum
serta BMN/D berupa Rumah Negara.
Matriks perbedaan PP Nomor 27 tahun 2014, PP Nomor 38 tahun 2008, serta PP Nomor 6 tahun 2006
No PP Nomor 27 Tahun 2014 PP Nomor 38 Tahun 2008 PP Nomor 6 Tahun 2006
1. Terdapat istilah Penilai, Penilaian, dan Kerja Sama Penyediaan
Infrastruktur. Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur adalah kerja
sama antara Pemerintah dan Badan Usaha untuk kegiatan
penyediaan infrastruktur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Terdapat istilah Penilai dan
Penilaian tetapi belum terdapat
istilah Kerja Sama Penyediaan
Infrastruktur.
Tidak terdapat istilah Penilai, Penilaian,
dan Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur.
2. Terdapat istilah Pemusnahan, yaitu tindakan memusnahkan fisik
dan/atau kegunaan BMN/D.
Tidak terdapat penjelasan istilah
Pemusnahan secara terpisah.
Tidak terdapat penjelasan istilah
Pemusnahan secara terpisah.
3. Siklus Pengelolaan BMN/D meliputi:
a. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran;
b. Pengadaan;
c. Penggunaan;
d. Pemanfaatan;
e. Pengamanan dan pemeliharaan;
f. Penilaian;
g. Pemindahtanganan;
h. Pemusnahan;
i. Penghapusan;
j. Penatausahaan; dan
k. Pembinaan, pengawasan, dan pengendalian.
- Siklus Pengelolaan BMN/D meliputi:
a. Perencanaan kebutuhan dan
penganggaran;
b. Pengadaan;
c. Penggunaan;
d. Pemanfaatan;
e. Pengamanan dan pemeliharaan;
f. Penilaian;
g. Penghapusan;
h. Pemindahtanganan;
i. Penatausahaan; dan
j. Pembinaan, pengawasan, dan
pengendalian.
4. Terdapat tambahan kewenangan dan tanggung jawab Menteri
Keuangan selaku Pengelola BMN, di antaranya:
a. Memberikan persetujuan atas usul Pemanfaatan BMN yang
berada pada pengguna barang;
b. Memberikan persetujuan atas usul Pemusnahan dan Penghapusan
BMN.
Tidak lagi dibedakan antara tanah dan/atau bangunan dengan selain
tanah dan/atau bangunan untuk beberapa poin pasal. Klasifikasi
lebih mengarah kepada penguasa barang apakah terdapat di
Pengelola Barang ataukah Pengguna Barang.
- Tidak terdapat kewenangan tersebut.
Adanya pembedaan BMN tanah dan/atau
bangunan dengan selain tanah dan/atau
bangunan untuk beberapa poin pasal.


5. Pengelola BMN dapat mendelegasikan kewenangan dan tanggung
jawab tertentu kepada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang
sesuai PMK Nomor 50/PMK.06/2014 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penghapusan BMN dan PMK Nomor 78/PMK.06/2014
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan BMN.
- Kewenangan tidak dapat didelegasikan.
6. Terdapat tambahan kewenangan dan tanggung jawab
Gubernur/Bupati/Walikota selaku pemegang kekuasaan pengelolaan
BMD, yaitu:
a. Menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan BMD;
b. Menyetujui usul Pemanfaatan BMD dalam bentuk Kerja Sama
- Kewenangan Menetapkan pejabat yang
mengurus dan menyimpan BMD terdapat
pada Sekretaris Daerah selaku Pengelola
BMD.

Penyediaan Infrastruktur.
7. Sekretaris Daerah berwenang Mengatur pelaksanaan Penggunaan,
Pemanfaatan, Pemusnahan, dan Penghapusan BMD.
- Kewenangan tersebut membutuhkan
persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota
atau DPRD.
8. Terdapat tambahan kewenangan dan tanggung jawab Menteri/
Pimpinan Lembaga selaku Pengguna BMN, di antaranya:
a. Mengajukan usul Pemanfaatan BMN yang berada dalam
penguasaannya kepada Pengelola Barang;
b. Mengajukan usul Pemusnahan dan Penghapusan BMN.
Tidak lagi dibedakan antara tanah dan bangunan dengan selain
tanah dan bangunan untuk beberapa poin pasal.
- Tidak terdapat kewenangan tersebut.
Adanya pembedaan BMN tanah dan
bangunan dengan selain tanah dan
bangunan untuk beberapa poin pasal.


9. Pengguna BMN dapat mendelegasikan kewenangan dan tanggung
jawab tertentu kepada Kuasa Pengguna Barang sesuai peraturan
yang berlaku.
- Kewenangan tidak dapat didelegasikan.
10. Perencanaan Kebutuhan BMN/D disusun dengan memperhatikan
kebutuhan pelaksanaan tugas dan fungsi serta meliputi perencanaan
pengadaan, pemeliharaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, dan
penghapusan BMN/D. Perencanaan kebutuhan merupakan salah satu
dasar dalam menyusun rencana kerja dan anggaran.
- Perencanaan Kebutuhan BMN/D disusun
dalam rencana kerja dan anggaran K/L,
siklus/tahapan Perencanaan Kebutuhan
tidak dirinci.
11. Terdapat pengecualian Penetapan Status Penggunaan yang tidak
dilakukan terhadap:
- Tidak ada pengecualian.
a. BMN/D berupa barang persediaan, KDP, barang untuk hibah,
b. BMN dari dana dekon dan TP,
c. BMN lain yang ditetapkan oleh Pengelola Barang, serta
d. BMD lain yang ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota
12. Pengelola Barang dapat mendelegasikan penetapan status
Penggunaan BMN selain tanah/bangunan kepada Pengguna
Barang/Kuasa Pengguna Barang
- Tidak dapat didelegasikan.
13. BMN/D dapat dialihkan status penggunaannya dari Pengguna
Barang kepada Pengguna Barang lainnya untuk penyelenggaraan
tugas dan fungsi berdasarkan persetujuan Pengelola Barang.
- Tidak dapat dialihkan status
penggunaannya.
14. Terdapat bentuk pemanfaatan baru, yaitu: Kerja Sama Penyediaan
Infrastruktur yang masa sewanya dapat lebih dari 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang.
- Tidak terdapat jenis pemanfaatan tersebut.
15. Terdapat batasan waktu penyetoran uang sewa yang harus dilakukan
sekaligus secara tunai paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum
ditandatanganinya perjanjian sewa.
- Tidak diatur secara rinci.
16. Jangka waktu Pinjam Pakai BMN/D paling lama 5 tahun dan dapat
diperpanjang 1 kali.
- Jangka waktu Pinjam Pakai BMN/D paling
lama 2 tahun dan dapat diperpanjang.
17. Terdapat pembagian kontribusi tetap dan kontribusi pembagian
keuntungan selama masa Kerja Sama Pemanfaatan.
- Tidak diatur secara rinci.
18. Terdapat pengecualian untuk beberapa Kerja Sama Pemanfaatan Terdapat pengecualian untuk Seluruh kerja sama pemanfaatan berjalana
atas BMN/D untuk beberapa penyediaan infrastruktur yang dapat
berjalan dalam jangka waktu paling lama 50 tahun dan dapat
diperpanjang.
beberapa Kerja Sama
Pemanfaatan atas BMN/D untuk
beberapa penyediaan
infrastruktur yang dapat berjalan
dalam jangka waktu paling lama
50 tahun dan dapat diperpanjang.
dalam jangka waktu paling lama 30 tahun
dan dapat diperpanjang.
19. Dalam jangka waktu pengoperasian, hasil BGS/BSG harus
digunakan langsung untuk penyelenggaraan tusi Pemerintah
Pusat/Daerah paling sedikit 10%.
- Tidak terdapat ketentuan persentase
penggunaan.
20. Terdapat beberapa pasal khusus yang membahas kerja sama
penyediaan infrastruktur dan tender.
- Tidak terdapat pasal yang membahas hal
tersebut.
21. Pengelola Barang dapat menetapkan kebijakan asuransi dalam
rangka pengamanan BMN tertentu dengan mempertimbangkan
kemampuan keuangan negara.
- Tidak terdapat kebijakan tersebut.
22. Dalam kondisi tertentu, Pengelola Barang dapat melakukan
penilaian kembali atas nilai BMN/D yang telah ditetapkan dalam
neraca Pemerintah Pusat/Daerah
- Tidak terdapat ketentuan tersebut.
23. Terdapat perubahan ketentuan pemindahtanganan baik untuk
BMN/D berupa tanah dan/atau bangunan maupun selain tanah
dan/atau bangunan karena terdapat penguasaan BMN/D tersebut
yang berada di bawah Pengguna Barang ataupun Pengelola Barang,
- Secara umum semua pemindahtanganan
yang dilakukan oleh pengguna barang
harus melalui persetujuan pengelola
barang.
sehingga terdapat pemindahtanganan yang dapat dilakukan oleh
pengguna barang secara langsung atas persetujuan presiden.
24. Terdapat ketentuan khusus terkait pemusnahan dan penghapusan
(dipisahkan).
- Dijadikan satu.
25. Pengelolaan BMN/D yang digunakan oleh BLU mengikuti
ketentuan PP tersebut, kecuali terhadap barang yang dikelola
dan/atau dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan
kegiatan pelayanan umum sesuai dengan tugas dan fungsi BLU.
- Kecuali terhadap barang-barang tertentu
yang diatur tersendiri (kurang jelas barang
yang dimaksud).
26. Terdapat ketentuan mengenai BMN/D berupa rumah negara. - Tidak terdapat aturan tersebut.
27. Setiap bagian dari siklus pengelolaan BMN/D maupun pasal-pasal
lainnya yang terdapat dalam PP ini diatur lebih lanjut, baik melalui
PMK, Permendagri, dan peraturan teknis lainnya.
- Tidak dijelaskan lebih lanjut.





DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (telah
dicabut).

Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah (telah dicabut).
http://bisnis.liputan6.com/read/2049893/pemerintah-ubah-aturan-pengelolaan-barang-milik-
negara Diakses tanggal 19 Juni 2014
http://economy.okezone.com/read/2014/06/02/20/992838/barang-milik-negara-bisa-digunakan-
sampai-50-tahun Diakses tanggal 19 Juni 2014
http://m.bisnis.com/industri/read/20140603/45/232560/dorong-penyediaan-infrastruktur-
pemerintah-ubah-aturan-pengelolaan-bmnd- Diakses tanggal 19 Juni 2014
http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/index.php?option=com_content&view=article&id=1013:tan
tangan-pengelolaan-barang-milik-negara-pasca-pp-no-27-tahun-2004-tentang-pengelolaan-
bmn-bmd-unit-badan-meteorologi,-klimatologi,-dan-
geofisika&catid=128:umum&Itemid=214 Diakses tanggal 19 Juni 2014
http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/index.php?option=com_content&view=article&id=1010:tan
tangan-yang-kita-hadapi-dalam-upaya-optimalisasi-pengeloloaan-kekayaan-negara-pasca-
pp-nomor-27-tahun-2014-tentang-pengelolaan-barang-milik-negara-
daerah&catid=128:umum&Itemid=214 Diakses tanggal 19 Juni 2014