Anda di halaman 1dari 13

KETENTUAN JAMA' DAN QASHAR SHALAT

DALAM PERSPEKTIF TARJIH MUHAMMADIYAH


Oleh: Ghoffar Isa!l
A" Def!#!s! Jaa' $a# Qashar
Shalat Jama adalah melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu, yakni melakukan
shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu Dzuhur dan itu dinamakan Jama Taqdim, atau
melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib
dan shalat Isya bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya. Jadi shalat
yang boleh dijama adalah semua shalat Fardhu keuali shalat Shubuh. Shalat shubuh harus
dilakukan !ada waktunya, tidak boleh dijama dengan shalat Isya atau shalat Dhuhur.
Sedangkan shalat "ashar maksudnya meringkas shalat yang em!at rakaat menjadi dua rakaat.
Se!erti shalat Dhuhur, Ashar dan Isya. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Shubuh tidak bisa
di#ashar.
%" S&a&'s Jaa' $a# Qashar
Shalat jama dan "ashar meru!akan keringanan yang diberikan Alloh, sebagaimana
$irman%&ya, yang artinya'



(Dan a!abila kamu be!ergian di muka bumi, maka tidaklah menga!a kamu meng#ashar shalatmu
)*., +"S' An%nisa' ,-,.,
Dan /adits &abi'

!" #$ ! %$&
'()* +,- * . /0 * ,1*
* '()* ' * (2 3 ! 4(! 5 12)
67) +) 8 (* 90 % :;< 3 =>:) %
?@$ % ?@ A) @ B C D EF) G & G H IJI K
;L 3 M) ;L 4N* 13 4N* '3 4)OFL ,
'() P(Q '() '(* ( * R)S ;L !Q :< '()
T (* (!L '?!Q
*Dan itu meru!akan shada#ah +!emberian. dari Allah swt., maka terimalah shada#ahnya.( +/0'
Muslim..
,
A(a)ah Qashar !&' *a+!, -a.!ah/ a&a' )er!#0a#a# -r')hshah/1
Mengenai !osisi #ashar ini, !ara ulama saling berbeda !enda!at, a!akah itu wajib ataukah
rukhshah yang disunnatkan !elaksanaannya 1
2iga Imam3 Malik, Asy%Sya$ii dan Ahmad membolehkan !enyem!urnaan shalat, namun
yang lebih baik adalah meng#asharnya. Sedangkan Abu /ani$ah mewajibkan #ashar, yang juga
didukung Ibnu /azm. Dia berkata, 4Fardhunya musa$ir ialah shalat dua rakaat(.
Dalil orang yang mewajibkan #ashar ialah tindakan 0asulullah Shallallahu alaihi wa
sallam yang senantiasa meng#ashar dalam !erjalanan. /al ini ditangga!i kelom!ok !ertama
bahwa !erbuatan tersebut tidak menunjukkan kewajiban. 5egitulah !enda!at jumhur. Mereka
juga berhujjah dengan hadits Aisyah Radhiyallahu anha di dalam Ash-Shahihaian, 4Shalat
diwajibakan dua rakaat, lalu diteta!kan shalat dalam !erjalanan dan shalat orang yang meneta!
disem!urnakan.
/ujjah ini ditangga!i Jumhur juga dengan bebera!a jawaban. Ini meru!akan !erkataan
Aisyah yang tidak dimar$ukan ke!ada &abi Shallallahu alaihi wa sallam. Sementara Aisyah
juga tidak mengikuti masa di$ardhulkannya shalat.
Ada!un dalil%dalil jumhur tentang tidak wajibnya #ashar ialah $irman Allah. 4Artinya'
Maka tidaklah menga!a kalian meng#ashar shalat kalian( 6An%&isa ' ,-,7
8ena$ian ++9:;< = di dalam ayat ini menunjukkan bahwa #ashar itu meru!akan
rukhshah dan bukan sesuatu yang di!astikan. Di sam!ing itu, dasarnya adalah
!enyem!urnaannya. Adanya #ashar karena dirasa shalat itu terlalu !anjang. Dalil lainnya adalah
hadits Aisyah,

U
U
V

U
P
W
( X3
X

U
1
U
)
Y

U
U
V

Z
2 X
U

X
1
V

U
3
Z

U
U
U
U
V

[
Q
X
* U
U
U
V

Z
1
U
* Z
Z

[
2 X
U

Y
* U EX6
U
* U
X

Y
P
X

U
9
[

U
,
U

Y
* U
U \U ] X* U P^, '() T* %
V

U
P
V

V
) P(QH '() '(* %
U

U
H(

Z
:
Z
;Y
U
PL
X

X
@UF
V
)
W
? X
Z

Z
6
X
@Y
Z

U
U !
U
_`
Z
:
Z

U
aZ
Y
\V ) A U U -
b

X
_c
b
X Q
U
*5ahwa 0asulullah Shallallahu alaihi wa sallam !ernah meng##ashar dalam !erjalanan dan
menyem!urnakannya, !ernah !uasa dan tidak !uasa 6Diriwayatkan Ad%Daru#uthni, yang
menurutnya, ini hadits /asan7
Dalil%dalil jumhur ditangga!i sebagai berikut' Ayat ini disebutkan tentang #ashar si$at
dalam shalat khau$ dan hadits tentang hal ini di!ermasalahkan. Sam!ai%sam!ai Ibnu 2aimiyah
>
berkata' 4Ini meru!akan hadits yang didustakan terhada! 0asulullah Shallallahu alaihi wa
sallam(.
A)h!r#2a $a(a& $!)a&a)a#, bahwa sebaiknya musa$ir tidak meninggalkan #ashar,
karena mengikuti 0asulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sebagai ara untuk keluar dari
!erbedaan !enda!at dengan orang yang mewajibkannya, dan memang #ashar inilah yang lebih
baik menurut mayoritas ulama.
Dikuti! dari Ibnu 2aimiyah di dalam Al-Ikhtiyarat, tentang kemakruhan
menyem!urnakannya. Dia menyebutkan nukilan dari Al%Imam Ahmad, yang tidak mengomentari
sahnya shalat orang yang menyem!urnakan shalat dalam !erjalanan, Ibnu 2aimiyah juga berkata'
42elah diketahui seara mutawatir, bahwa 0asulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa
shalat dua rakaat dalam !erjalanan, begitu !ula yang dilakukan Abu 5akar dan ?mar setelah
beliau. /al ini menunjukkan bahwa dua rakaat adalah lebih baik. 5egitulah !enda!at mayoritas
ulama.
3" Ko#$!s! D!,oleh)a##2a Jaa'
Shalat Jama lebih umum dari shalat "ashar, karena meng#ashar shalat hanya boleh
dilakukan oleh orang yang sedang be!ergian +musa$ir.. as Sedangkan menjama shalat bukan saja
hanya untuk orang musa$ir, teta!i boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena
hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak%balik ke masjid, atau
bahkan tan!a alasan. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh 5ukhari dan
Muslim,

U
U
V

Y
* U
X

V
) d
U
U
V

U
%
Z

U
@Y
Z
d
Y
* U
X

U
e
W
) d
Y
* U
X
2 X
U

U
0
Z
d
X
* U
X

Y
M
[

V
* U d U !
U
f
U
1
U
0
U
5
W

V
) P(
V
Q
U
'
Z
(
V
) '
X

Y
(
U
* U

U
(
V

U
d
U

X
T
Y
g
W
)
X
:
Y
2
U
)
Y

X
1
U
)
Y

X
d L
X

Y
h
U

[
@U
U
i
U
j
[

Y
$U
d U !
U
4
Z
(
Y
!
Z
5
U

U
M
X

V
2
U
)
Y

U
) X
U
5 kU 2
U
L
U
R
U
) XS U l U !
U
-
U
,
U

U
5 %
Y

U
i
U
m
U

Y
3
X
_'
X
? X3
V

Z
51" I 5 opq .
*Ibnu Abbas berkata' 0asulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjama antara shalat Dhuhur
dan Ashar di Madinah bukan karena be!ergian juga bukan takut. Saya bertannya3 @ahai Ibnu
Abbas, kena!a bisa demikian1 Dia menjawab' Dia tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya*.
Imam &awawi dalam kitabnya Syarah Muslim,AB>,C, dalam mengomentari hadits ini
mengatakan, 4Mayoritas ulama membolehkan menjama shalat bagi mereka yang tidak musa$ir
bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan atatan tidak menjadikan yang demikian
sebagai tradisi +kebiasaan.. 8enda!at demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga
D
Isha# Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan !erkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan
hadist &abi di atas, 45eliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan
alasan menjama shalatnya, a!akah karena sakit atau musa$ir(.
Dari sini !ara sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur untuk
seseorang boleh menjama shalatnya, se!erti seorang yang sedang musa$ir. Dan menjama shalat
karena sebab hujan adalah terkenal di zaman &abi. Itulah sebabnya dalam hadist di atas hujan
dijadikan sebab yang membolehkan untuk menjama, +Al Albaniy, Irwa, IIIBE-..
D" Pela)sa#aa# Jaa'
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa menjamaF shalat meru!akan keringanan yang
diberikan Allah swt, baik karena takut, hujan, be!ergian atau tidak ada sebab a!a!un. /al ini
dikuatkan lagi oleh bebera!a hadits berikut'
*0asulullah SA@ menjamak sholat magrib dan isya !ada malam yang hujan. Dalil lainnya yaitu
salah satu !erbuatan sahabat, dari &a$i' bahwa Abdullah Ibnu ?mar sholat bersama !ara umara
+!emim!in. a!abila !ara umara tersebut menjamak shalat magrib dan isya !ada waktu hujan*.
(HR Bukhori)
*0asulullah SA@ menjamak antara sholat zuhur dan ashar dan antara sholat magrib dan Isya
bukan karena rasa takut dan hujan*. (HR Muslim)
Kes!('la##2a' Dalam kondisi normal, shalat harus dilaksanakan seara ter!isah%!isah
antara dhuhur dan ashar, dan antara maghrib dan isyaF, maka keringanan menjamaF diberikan
karena adanya sebab tertentu. Meski!un dalam bebera!a hadits tidak disebutkan sebab &abi
menjamaF shalat, namun sebagian ulama teta! meyakini &abi memiliki sebab yang tidak
diketahui oleh sahabat. Garena itulah, sebaiknya shalat dikerjakan seara ter!isah ketika dalam
kondisi normal. /anya saja sebagaian ulama membolehkan jamaF shalat tan!a sebab dengan
syarat sekali%kali saja dan tidak menjadi kebiasaan.

/adits%hadits ara menjamaF shalat
# X
U

U
$Y
U

Z
1
Y
* U
Z

Y
-
X

Y
-
X

Y
r
Y
U

X

[
1
Y
* U U !
U
#
U
O
U

U
#
Y

[
Y
U
U !
U

U
U
V

X
0
U

Y
kU 2 X1
U

Y
* U k
[

Y
;U* Z
Y
* U
X

Y

[
T
U

Y
* U +#
U

Y
* U
X

Z
,
U
'
X
(
V
) P(
V
Q
U
'
Z
(
V
) '
X

Y
(
U
* U
U
(
V

U
'
Z
#
V

U
%
U

U
S U
X
kU N
X
* U '
X

Y
F
V
)
Z
$s t U
Z

U
T
Y
g
W
) P)
U

X
4
X
!
Y

X
:
Y
2
U
)
Y
f
Z
1
U
N
Y

U
L
U
1
U
T
Z

U
E

Z
$s t U
Z

X
u Y1
U
)
Y
P?
V

U
f
U
1
U
N
Y

U
T
U

U
EX\U 2 X)
Y
P?
V

U
u X
U
v@U\V )
#$ " 5 . * F
Z

X
* U '(
V
)
X
*
'(
V
) M* *
[

Z
* M* ^, '(
V
) 1T* '#
! i
U
H 5 $
Z
* =
X
>Q , '(
V
) P(Q '(
V
) '(*
( L
X
@F) l % S 4
X
) +
Z
1\) L ')e3
f10 Tg) :2) L e) SwL L kU ! % e<
+
Z
1\)
U
$x
U
T
Y
g
W
) P? f
U
1
U
N
Y

U
1T
U
:2) L 4
X
!
Y

:
Y
2)
,. Dari Muadz bin Jabal bahwa 0asululloh SA@ a!abila beliau melakukan !erjalanan
sebelum matahari ondong +masuk waktu sholat zuhur., maka beliau mengakhirkan shalat
zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar !ada waktu ashar, dan a!abila beliau
melakukan !erjalanan sesudah matahari ondong, beliau menjamak sholat zuhur dan
ashar +!ada waktu zuhur. baru kemudian beliau berangkat. Dan a!abila beliau melakukan
!erjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya
dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib, maka beliau
menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits Riwayat
Ahmad A!u "aud dan Tirmid#i)$

U
U
V

Y
F
U

Z
)
Y

Z

Y
kU *X 1
U

U
U
V

Z
F
U

U
)
Y

Z

X
1
V

U
3
Z

Y
9
X

V
:
V
)
U
U
V

U
Z
U

U
U
U
U
V

U
yZ
Y
(
V
)
Y
* U k
[

Y
;U* Z
X
* U
X

Y

[
T
U

Y
* U +
[
#
U

U
U !
U
%
U

U
Z
Z
,
U
'
X
(
V
) P(QH '() '(* S U
X
H(
-
U
,
U

U
%
Y

U
f
U
1
U
N
Y

X
T
Y
g
W
)
X
:
Y
2
U
)
Y

U
PL
X

X
@UF
V
)
U
$V
U

U
T
Y
g
W
) P?
V

U
kU $Z
Y

U
Z
V

U
4
X
!
Y

U
_
X
:
Y
2
U
)
Y
IGqzJ
>. Adalah 0asulullah SA@ dalam !e!erangan 2abuk, a!abila hendak berangkat sebelum
tergelinir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengum!ulkannya
dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan a!abila beliau hendak
berangkat setelah tergelinir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur
dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Gemudian beliau berjalan. Dan a!abila
beliau hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga
mengerjakan bersama Isya, dan a!abila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau
menyegerakan Isya dan melakukan shalat Isya bersama Maghrib4. (HR Tirmid#i)
C
D. Dari Abdullah bin Abbas 0adhiyallahu Hanhuma, dia berkata, H0asulullah Shallallahu
alaihi wa sallam !ernah menjama antara Ihuhur dan Ashar jika berada dalam !erjalanan,
juga menjama antara Maghrib dan Isya. (HR Bukhari)
Me#$ah'l')a# shala& Ashar $a# Is2a' (a$a Jaa' Ta')h!r
Jumhur ulamaF se!akat mengenai urutan shalat yang dilakukan ketika %ama& taqdim3 yaitu
dhuhur lalu ashar, dan maghrib lalu isyaF. Mereka berbeda !enda!at mengenai urutan tersebut
ketika dilakukan ketika melaksanakan %ama& ta&khir3 a!akah shalat dhuhur terlebih dahulu
ataukah ashar, maghrib ataukah IsyaF dulu1
Memang tidak ada dalil khusus mengenai urutan shalat yang dilakukan ketika %ama&
ta&khir. 5erbagai hadits tidak menyebutkan urutan tersebut, keuali hanya !erse!si dan
inter!retasi yang terlalu jauh. Garena itu, yang benar adalah kembali ke!ada urutan shalat dalam
kondisi normal, yaitu shalat dhuhur dulu baru ashar, maghrib dahulu baru isyaF.
E" Safar Se,a0a! S2ara& Qashar
Gebolehan atau kesunnahan shalat #ashar selalu dikaitkan dengan sa$ar. Garena itu
berbagai !erbedaan !enda!at mengenai shalat #ashar berawal dari !engertian sa$ar. Garena itu
!erlu ditegaskan di sini !engertian sa$ar.

{2< @F) 3 |1 M) }
n
@ i -? R)S LF1
i }23 =3 23 R)S '#r ) - * ) (Q '()
'(* ( L R)S 1L }< `- %F#~
n
!,@3 k1)
'?3! } * M) LF3 TL L @
De$inisi sa$ar adalah a!a kondisi yang biasa diangga! orang itu sa$ar, tidak bisa dibatasi
oleh jarak tertentu atau waktu tertentu. /al itu karena tidak ditemukan adanya batasan dari &abi.
Selama seseorang itu ter!isah dari tem!at tinggalnya dan menurut ukuran orang itu sudah
dingga! sa$ar, maka berarti dia dalam kondisi sa$ar.
?ntuk mem!ertegas !engertian sa$ar, !erlu di!erhatikan dua istilah yang terkait3 yaitu
muqim dan muwathin. Isitilah mu#im telah disebut dalam de$inisi di atas yang berarti kebalikan
dari musa$ir. Jrang yang bertem!at tinggal !ada daerah tertentu dan dia bukan dari !enduduk
asli maka dia disebut mu#im, namun bila dia adalah !enduduk asli maka disebut muwathin.
Sementara yang berada !ada tem!at bukan tem!at tinggalnya, bukan mu#im dan bukan !ula
muwathin, maka disebut musa$ir.
Dengan demikian, a!abila sa$ar adalah syarat dibolehkannya #ashar, maka selama
seseorang itu be!ergian !ada jarak yang menurut kebiasaan masyarakat sudah diangga! sa$ar dan
tidak bermaksud mu#im meski!un dalam waktu yang lama, maka dia berhak melakukan #ashar.
K
Itulah !enda!at !ertama dari !ara ulama yang lebih ondong bahwa sa$ar itu mutla# tidak
terbatas oleh jrak dan waktu. /al ini karena batas jarak dan waktu yang disebutkan dalam
bebera!a hadits tidak menunjukkan batas boleh dan tidak bolehnya men#ashar, karena hadits itu
hanya meneritakan bahwa &abi !ernah melaksanakan dalam batas sekian atau !ada waktu
sekian, dan tidak ada sedikit!un ketegasan bahwa jarak dan waktu tersebut adalah ketentuan.
5ahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua !uluh !enda!at dan yang !aling kuat adalah
tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musa$ir menurut kebiasaan maka ia boleh
meng#ashar shalatnya. Garena kalau ada ketentuan jarak yang !asti, 0asulullah Shallallahu
alaihi wa sallam mesti menjelaskannya ke!ada kita, +AlMuhalla, >,BC..
Sedangkan !enda!at kedua adalah !enda!at yang mengakui adanya batas minimal dan
waktu maksimal dibolehkannya #ashar bagi seorang musa$ir.
a" Ras'l'llah sa* (er#ah e#045ashar shala& )e&!)a (er+ala#a##2a )!ra4)!ra &!0a
!l a&a' &!0a farsa)h $a# e#a !l Ara," Da# !#! er'(a)a# ,a&as !#!al +ara)
Na,! ela)')a# 5ashar

U
U
V

Z
2 X
U

Y
,
[
:
Z

Y
3
U

U
U
V

U
%
Z

U
@Y
Z

U
U
V

Z
1
V

U
3
Z

Y
,
X

Y
1
Z
)
Y

Z

Y
= U
U
F
U

Y
3
U
2
U
1
X

U
+
U
#
U

Y
R
[
) X3
U

"

$%

$&
'
%

&

&

*+

&

'Saya ()rnah shalat dhuhur !)rsama Rasulullah saw di Madinah )m(at rakaat t)ta(i saya
shalat ashar !)rsamanya di "#il Hulai*ah dua rakaat+$ (HR Bukhari Muslim)
Jarak dari Madinah ke Dzil /ulai$ah kira%kira enam mil Arab.
|
U
U
V

U
U
U

Y
U
Z
1
V

U
3
Z

Y
,
[
\V
U
1
U
Z >
U

Y
* U
,
[

Y
h
Z
U !
U

U
U
V

Z
1
V

U
3
Z

[
@U2
Y
0
U
,
b

Y
h
Z

Y
* U U
U
2
Y
Z

Y
* U P
U

U
e
X

s
] X
U
T
Z
)
Y
U !
U
4
Z
)
Y
O
U

U
+
U
#
U

Y
R
[
) X3
U

Y
* U

X
:
Y
!
U
=
X
>
U
:
V
) U ;UL
U
%
U

U
Z
Z
,
U
'
X
(
V
) P(
V
Q
U
'
Z
(
V
) '
X

Y
(
U
* U
U
(
V

U
L
1 2

4 5


9
$

<

&

=
>

$?

&

4A!abila 0asulullah saw keluar dalam !erjalanan tiga mil +atau tiga $arsakh., beliau sembahyang
dua rakaat(. +/0 Muslim.
," Ras'l'llah sa* (er#ah e#045ashar shala& selaa se,!la# ,elas har!" Da# !#!
,!sa $!)a$!)a# $al!l ,a&as *a)&' a)s!al #a,! ela)')a# 5ashar"

U
U
V

U
-
Z

U
U
V

U
R
b

X
U
X
* U
X

Y

s
# XT
U

U
Q
Y
r
Y
U

Y
* U U 3
U

Y
*X

X
* U
X

Y
M
[

V
* U $@

<

$@

<

? B
E
)

&

Tatkala Rasulullah saw m)nakhlukkan kota Makkah !)liau !)rada disana s)m!ilan !)las hari
d)n,an shalat (qashar) dua rakaat$ (HR Ahmad)
Kes!('la##2a6 tidak ada keteta!an yang meyakinkan mengenai batas jarak dan batas
waktu dibolehkannya #ashar bagi seorang musa$ir. Garena itu, ketika seseorang telah keluar dari
rumahnya !ergi ke tem!at lain dan tidak bermaksud untuk bermukim di sana, bera!a!un jarak
dan waktunya, maka dia diberi keringanan untuk meng#ashar shalat. ?ntuk meyakinkan hal itu,
da!at dlihat !ada bebera!a !ernyataan berikut'
i 54(! c: '(1 P(* % -1) ' LF1) ?)
E? T3 :;) i h @F) %r +# R)3 ^,
'() '* 0 ' 3 ')O * '0$ 3 =:) P)
L) :; d=>:)
n
;L k;# L c?@) *
,A1) 10 k (2) P(* % 1) @F) % :; S
m$ * f10 d'?! 2 % ) N? > 3
_aL
! `! ) P(Q '() '(* ( ? \*
n
3
:; =>:) ) R)S
n
< d'3 1(L ) - R)S
'?3r (* '# +) 'L d< % LF1) `-3 ) `e2
P(* 3!~ ;(61) %wL @F) L '; _
M
! ? L R)S 0 F3 =:?73 (r =-2?3
#?$ % y2# ) =,Q 3 ?1) T3 OF# '() %
f@ _T
Dengan demikian, !enda!at yang menyatakan bahwa seorang musa$ir yang sudah
menentukan lama musa$irnya lebih dari em!at hari maka ia tidak boleh meng#ashar shalatnya
adalah !enda!at lemah dan tidak berdasar sama sekali. Dalil bahwa 0asululloh Shallallahu
alaihi wa sallam ketika haji @ada. tinggal selama E hari di Mekkah dengan menjama dan
meng#ashar shalatnya bukanlah dalil batas waktu &abi melakukan #ashar, a!alagi ada dalil lain
bahwa dalam waktu >- hari &abi men#ashar shalat.
F" A*al M'saf!r %oleh Mela)')a# Qashar
Seorang musa$ir sudah boleh memulai melaksanakan shalat "ashar a!abila ia telah keluar
dari kam!ung atau kota tem!at tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan, 4Saya tidak mengetahui
&abi menjama dan meng#ashar shalatnya dalam musa$ir keuali setelah keluar dari Madinah(.
2# ! %@ * 13 ,1)
=F3 * +# ^, '() '* ! 4(Q
Tg) f3 ) ) P(Q '() '(* ( 1) 2,
:2) A @() ?2, B IDI H IDq d ID d
Io d Iop d ozI d opoD K
B '0$ (F3 L =>Q LF1) :!
=>Q LF1) :;! !, zJ :2) " A
@() . P(Q :2) A @() =,:;3 k)-
P(* % :;) 9 2 =,-u3 %) K
Dan Anas menambahkan, Saya shalat Dhuhur bersama 0asulullah Shallallahu alaihi wa
sallam di Madinah em!at rakaat dan di Dzulhulai$ah +sekarang 5ir Ali berada di luar Madinah.
dua rakaat, +/0' 5ukhari Muslim..
G" Pe#2a&'a# Jaa' $a# Qashar
Seorang yang men#ashar shalatnya karena musa$ir tidak mesti harus menjamaF shalatnya
begitu juga sebaliknya. Garena boleh saja ia meng#ashar shalatnya dengan tidak menjamanya,
se!erti melakukan shalat Dzuhur > rakaat diwaktunya dan shalat Ashar > rakaat di waktu Ashar.
Atau menjamaF shalat tan!a #ashar, se!erti shalat dhuhur dan ashar masing%masing E rekaat baik
djamaF ta#dim mau!un taFkhir. Atau menjamaF dan men#ashar sekaligus. /anya saja menurut
Jumhur ?lama, #ashar bagi musa$ir adalah lebih a$dhal.
N
Ada !enda!at ulama mengenai seorang musa$ir teta!i dalam keadaan meneta! tidak
dalam !erjalanan, se!erti seorang yang berasal dari Surabaya be!ergian ke Sulawesi, selama ia di
sana ia boleh meng#ashar shalatnya dengan tidak menjamanya sebagaimana yang dilakukan oleh
&abi ketika berada di Mina. @alau!un demikian boleh%boleh saja dia menjama dan meng#ashar
shalatnya ketika ia musa$ir se!erti yang dilakukan oleh &abi Shallallahu alaihi wa sallam ketika
berada di 2abuk. 8ada kasus ini, ketika dia dalam !erjalanan lebih a$dhal menjama dan
meng#ashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan se!erti yang dilakukan oleh
0asululloh Shallallahu alaihi wa sallam. &amun ketika telah meneta! di sulewesi lebih a$dhal
men#ashar saja tan!a menjamaFnya. @allahu aFlam.
H" Jaa'ah a#&ara M'saf!r $a# M'5!
Seorang musa$ir boleh berjamaah dengan Imam yang mu#im +tidak musa$ir.. 5egitu juga
ia boleh menjadi imam bagi makmum yang mu#im, dengan ketentuan'
7" Galau dia menjadi makmum !ada imam yang mu#im, maka ia
harus mengikuti imam dengan melakukan shalat Itmam +tidak meng#ashar., ketika dia
mengikuti dari awal. &amun bila dia mengikuti di !ertengahan maka dia boleh melakukan
#ashar. 8rinsi!nya makmum tidak boleh mendahului imam, maka makmum tidak boleh
salam ketika imam belum salam, namun bila imam sudah salam maka makmum boleh
salam, meski!un dia shalat dua rekaat +#ashar. !ada imam yang em!at rekaat +itmam..
/al in berdasarkan !engertian hadits berikut'
#
U

U
$Y
U

Z
1
V

U
3
Z

Y
kU 2 X1
U

W
A
X
3
X

Y
?
s
) U !
U

U
U
V

Y
%
U
1
U

Y
(
U

Z
U !
U

U
U
V

Y
* U %
U
1
U

Y
(
U

[
>
U

Y
* U +
U
#
Z

Y
* U
X

Y

[
T
U

Y
* U
[
) X
U
%
V

U
U
Z
,
U
'
X
(
V
) P(
V
Q
U
'
Z
(
V
) '
X

Y
(
U
* U

U
(
V

U
U !
U

Y
3
U

U
,
U
-
Y

U
n 2
U

Y
,
U

Y
3
X
=
[
>
U
Q
U

Y
3
X

U
(
U
:
V
)
Y
;UL
U
T
U

U
,
U
-
Y

U
i
V

X
'
Z
#
V

X
;Y
U
3
U
'<
U
L
U
]F)" 5 I 5 oz .
Juga berdasarkan !ada keumuman hadits nabi'

U
U
V

Z
1
V

U
3
Z

Y
* U
X
X
V
) U !
U

U
U
V

Z
e
X

Y
%
U
,
Z
U U !
U
#
U

U
$Y
U

Y
1
U

Z
kZ
X
6
V
)
Y
* U +
X
#
U

Y
R
[
) X3
U
%
V

U
U
Z
,
U
'
X
(
V
)
P(
V
Q
U
'
Z
(
V
) '
X

Y
(
U
* U
U
(
V

U
;U
U

Y
* U '
X

U
L
U
4
Y
\U X N
Z
L
U
'
Z
!
Z

U
'
Z
@Z? X
U
P)
U

Y
3
X
'
X
] XF
U
# X
n
T
Y
U +
U
(
U
N
U
L
U
L
X

Z
\Y 3
U
'
Z
)
U
T
U
?
Z
0
U
,
U
-
U

Y
3
X

[
A Z 0
Z
|
Z
<
U
O
U
L
U
'
Z

U
Q
Y

U
'
Z
#
U
-
Z
2
Z

U
P(
V
:
U
L
U

Y
T
X

X
F
n
) X0
U

Y
Z
U
`
b

U
!
X
1
V
(
U
L
U

U
(
V

U
U !
U
$#

G & H

1 L

<

<
E
C

1 2

&

$;

1 2

"

"

$;

,-
%
Y

U
P(
V
Q
U
1
n
] X!
U
(
W
:
U
L
U
3
n

U
!
X
U e
U
#
U

U
f
[
F
Y
? X) X
U

X
\Y *X
U
)
Z
;UL
U

U
U
Z
,
U
'
X
(
V
) R
U
#
V

X
4
U

Y
)
U

n
T
Y
U U ;UL
U
%
V

U
T
Y
\V ) f
b
F
Y
< X %
U

Z
\Y *X
U
4)Sesungguhnya seorang imam ditunjuk untuk diikuti, maka janganlah kamu sekalian
menyelisihinya. A!abila ia +imam. takbir maka takbirlah, a!abila ia ruku maka rukulah dan
a!abila mereka sujud maka sujudlah)( +/0 5ukhari.
8" Getika seorang musa$ir menjadi Imam maka boleh saja
meng#ashar shalatnya, dan makmum menyem!urnakan rakaat shalatnya setelah
imammya salam. 5erdasarkan hadits berikut'
X U
V

U
P
U

Y
* U R) X3
U

Y
* U
X

Y

[
T
U

Y
* U
X
) X
U

Y
* U
'
X
(
V
)
Y
* U '
X

U
%
V

U
1
U
* Z
U

X
6
V
7U )
Y
%
U

U
S U
X
`
U

X
!
U
U
V
3
U
P(
V
Q
U

Y
T
X

Y
?
U
2
U

Y
,
U

V
Z Z ;Z
U
$

G N (

J (

$F

D
O


O
,

4@ahai !enduduk Makkah, sem!urnakanlah sholatmu, karena sesungguhnya kami adalah


sekelom!ok musa$ir( +/0 Malik.
I" Shala& S'##ah ,a0! M'saf!r
Dianjurkan bagi musa$ir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib +shalat sunah
sesudah dan sebelum shalat wajib., karena &abi tidak !ernah melaukan itu ketika sa$ar, Geuali
shalat witir dan 2ahajjud, karena 0asululloh Shallallahu alaihi wa sallam selalu melakukannya
baik dalam keadaan musa$ir atau mu#im. Dan begitu juga dibolehkan melakukan shalat%shalat
sunah yang ada !enyebabnya se!erti shalat 2ahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah.
@allahu alam bis Shawaab. /al ini berdasarkan hadits'
k*1 ! R)3 * 1*
* 1) * '() 1* 67) * 2
,F '# ! 4 5 f3 * '() 1* v6 3
;L 2 1(L 4\$ c:) 4)e# <O L '?;)
;L * '() 1* 4 l 4(;L 4\$ c:)
4)eL <OL ;L * '() +) R) L , '()
,,
P(Q '() '(* ( = F l 4(;L P( '() !
%wL , '() P(Q '() '(* ( % < P(* 2)
B z d IJDD d IJD d IJD d IJJ d IJD K
B '0$ (F3 L =>Q LF1) :!
0 =>Q (L) P(* ) L @F) !, JJ
P %1( ! !
1* 13 % @ Q* ' ! L 5
1* ^, '() 1T* ;L 4Q ) P(Q '() '(*
( (L |, cF L @F) ! '() k0 |S ;) 8
% ) L , '() = F M,7)" C 5
IGqo .
-F3 ! P 2* PF* @
Q* ! '# f1 1* ; 4Q 5
, '() P(Q '() '(* ( %L i e L @F)
P(* ?2, 1* %1* R)A ^, '() T* B
IJqo 5,7)" K IGqo .
KESIMPULAN
7" 8ensyaratan #ashar adalah adanya sa*ar dan shalat em!at rakaat
menjadi dua rakaat saja.
8" "ashar meru!akan sunnah 0asulullah Shallallahu alaihi wa
sallam dan sunnah Al%Ghula$a Ar%0asyidun dalam !erjalanan mereka.
9" "ashar bersi$at umum dalam !erjalanan haji, jihad dan segala
!erjalanan untuk ketaatan. 8ara ulama juga memasukkan !erjalanan yang mubah.
Menurut An%&awawy, jumhur ber!enda!at bahwa dalam semua !erjalanan yang mubah
boleh dilakukan #ashar. Sebagian ulama tidak membolehkan #ashar dalam !erjalanan
kedurhakaan. Oang benar, rukhshah ini bersi$at umum dan sama untuk semua orang.
:" Gasih sayang Allah terhada! makhluk&ya dan keluwesan syariat
ini, yang memberi kemudahan dalam beribadah ke!ada makhluk. Garena !erjalanan lebih
sering mendatangkan kesulitan, maka dibuat keringanan untuk sebagian shalat, dengan
mengurangi bilangan rakaat shalat. Jika tingkat kesulitan semakin tinggi se!erti karena
memerangi musuh, maka sebagian shalat juga diringankan.
;" 8erjalanan di dalam hal ini tidak terbatas, tidak dibatasi dengan
jarak jauh. Oang lebih baik ialah dibiarkan menurut kemutlakannya, lalu rukhshah
,>
diberikan ke!ada a!a!un yang disebut !erjalanan. 8embatasanya dengan tem!o tertentu
atau jarak $arsakh tertetntu, tidak !ernah disebutkan di dalam nash. Syaihul Islam Ibnu
2aimiyah berkata ' 48erjalanan tidak !ernah dibatasi oleh syariat, tidak ada !embatasan
menurut bahasa. /al ini dikembalikan ke!ada tradisi manusia. A!a yang mereka sebut
dengan !erjalanan, maka itulah !erjalanan(
,D