Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan, karena atas Hidayah, Karunia serta
limpahan Rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sebagai mana mestinya. Makalah
yang berjudul SHALAT JAMA DAN QASHAR ini disusun untuk disampaikan pada mata
kuliah Tafsir Ahkam I di STAI ALMAWA Kabupaten Way Kanan untuk Mahasiswa Jurusan
Syariah PRODI AAS.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Maksudnya, Islam adalah agama
yang sesuai dengan kondisi dan keterbatasan yang dimiliki oleh manusia. Pada keadaan
normal, berlaku hukum azimah (ketat). Dan pada keadaan tidak normal, maka Islam
mengakomodirnya dengan rukhsah (keringanan/ kemudahan) sehingga syariat tetap dapat
ditunaikan.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS.
al-Baqarah:185)
Islam juga dibangun dengan lima pilar. Salah satu pilarnya adalah shalat. Karenanya shalat
merupakan tiang agama. Ketika seorang meninggalkan shalat ia disebut penghancur agama
tetapi sebalikya ketika ia melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya maka ia disebut
sebagai penegak agama. Bila ada yang memiliki udzur, maka tetap wajib mendirikan shalat
dengan mengambil rukhshah (keringanan dari Allah) agar mereka tetap shalat di saat kondisi
apa pun. Dan sudah seharusnya kita mengetahui bagaimana Allah telah memudahkan hambaNya yang tidak bisa shalat seperti biasanya dengan menggunakan Jama dan Qashar.
Menjama dan mengqasar shalat adalah rukhshah atau keringanan yang diberikan Allah
kepada hambanya karena adanya kondisi yang menyulitkan. Rukhshah ini merupakan
shodakoh dari Allah SWT yang dianjurkan untuk diterima dengan penuh ketawadluan.
Melalui makalah ini penyusun mencoba untuk menguraikan tentang sholat jama dan qashar.
Makalah ini tersusun dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan, oleh karenanya kritik
saran serta masukan yang sifatnya membangun sangat diharapkan sebagai bahan perbaikan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan pencerahan kepada umat Islam dalam
beribadah kepada Allah SWT. Jazakumullahu Khairan Katsiran.
Way Kanan, 26 Desember 2012
Penyusun
*) staf Pengajar di STAI ALMAWA
SHALAT JAMA DAN QASHAR
A. SHALAT JAMA
1. SHALAT YANG BOLEH DIJAMA
Shalat wajib sehari semalam ada lima, terdiri dari 17 rakaat, 17 ruku dan 34 sujud, dari
jumlah masih bisa ditambah lagi dengan shalat sunnah lainnya. Dari lima waktu Shalat wajid
di atas yang boleh dijama hanya shalat Dzuhur dan Ashar, lalu Maghrib dan Isya.
Sedangkan shalat yang tidak boleh dijama adalah Shubuh.
2. JENIS SHALAT JAMA
Pelaksanaan shalat jama dapat dilakukan dengan 2 cara:
a) Jama Taqdim
Jama taqdim adalah mengumpulkan atau menyatukan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu

Dzuhur (shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Dzuhur), dan menyatukan shalat maghrib
dan Isya pada waktu Maghrib (shalat Isya dikerjakan ada waktu shalat Maghrib)
b) Jama Takhir
Jama takhir adalah mengumpulkan atau menyatukan shalat Ashar dan Dzuhur pada waktu
Ashar (shalat Dzuhur dikerjakan pada waktu shalat Ashar), dan menyatukan shalat Isya
dan Maghrib pada waktu Isya (shalat Maghrib dikerjakan ada waktu shalat Isya)
3. SEBAB BOLEHNYA JAMA
Seseorang diperbolehkan menjama shalat wajib pada saat-saat tertentu dan karena sebabsebab tertentu, dan di antara Asbaabut Takhfif (sebab-sebab keringanan). Adapun bentuk
Rukhshah dalam safar yaitu menjama' shalat.
a) Safar (Bepergian)
Bagi orang yang sedang atau akan bepergian, baik masih di rumah (tempat tinggal) atau
dalam perjalanan, dan atau sudah sampai di tujuaan, dibolehkan menjama shalat, baik
dilakukan secara jama taqdim maupun jama takhir sama saja, dan selama berada ditempat
yang dituju tetap boleh menjama shalat dengan syarat tidak berniat untuk menetap di tempat
itu. Seperti yang dilakukan oleh Rasul SAW.



Rasulullah menjamak antara shalat Dhuhur dan Ashar bilamana beliau berada di tengah
perjalanan dan menjamak antara Maghrib dan Isya.(HR. Bukhari)
b) Hujan
Jika seseorang berada di suatu masjid atau mushalla, tiba-tiba turun hujan sangat lebat, maka
dibolehkan menjama shalat Maghrib dengan Isya, Dzuhur dan Ashar,

Nabi saw pernah menjama antara sholat Maghrib dan Isya pada suatu malam yang diguyur
hujan lebat. (HR. Bukhari).
c) Sakit
Sakit merupakan cobaan dan ujian manusia, dan apabila seseorang sabar dalam menghadapi
cobaan dan ujian sakit ini, dan tetap menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, khususnya
perintah shalat, maka akan mengurangi dosa-dosanya, sekalipun shalat itu dikerjakan dengan
cara dijama, karena bagi orang yang sakit diperbolehkan menjama shalat, karena bagi orang
yang sakit rasa kesulitan untuk melakukan shalat, lebih susah dibandingkan dalam keadaan
hujan, kasus lain misalnya wanita yang sedang istihadhah (yang darahnya keluar secara terus
menerus) sehingga kesulitan untuk terus menerus berwudhu, maka bagi mereka dibolehkan
untuk menjama shalat.
Berdasarkan beberapa kasus di atas. Maka imam Ahmad, al-Qadhi Husen, al-Khath-thabi dan
Mutawalli dari golongan Imam Syafiiyah, membolehkan orang yang sedang sakit untuk
menjama shalatnya, baik jama taqdim maupun jama takhir, karena kesulitan sakit lebih
berat dari pada karena hujan.


Jika engkau mampu mengakhirkan shalat dzuhur dan menyegerakan shalat ashar, kemudian
engkau mandi setelah bersuci, dan engkau menggabungkan shalat dzuhur dan shalat ashar,
kemudian engkau mengakhirkan sholat maghrib dan menyegerakan shalat isya, kemudian
engkau mandi dan menggabungkan diantara dua shalat, maka lakukanlah

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:


:
: . .
Menjamak Shalat lantaran sakit atau udzur, menurut Imam Ahmad, Al Qadhi Husein, Al
Khathabi, dan Mutawalli dari golongan Syafiiyyah, adalah boleh baik secara taqdim atau
takhir, sebab kesulitan lantaran sakit adalah lebih berat dibanding hujan. Berkata Imam An
Nawawi: Dan Alasan hal itu kuat. (al-Mughni;2:120, Fiqhus Sunnah;2:230)
d) Takut
Takut dalam masalah ini bukan takut seperti yang biasa dialami oleh setiap orang, akan yang
dimaksud takut disini yaitu takut secara bathin misalnya, hati dan jiwa seseorang merasa
terancam apabila melakukan aktivitas (kegiatan) di luar, atau takut karena sesuatu yang
mengancam seperti kalau akan terkena bencana alam dan lain sebagainya.








.

Diriwayatkan dari Yala Ibn Umayyah, ia berkata: Saya bertanya kepada Umar Ibnul
Khaththab tentang (firman Allah): "Laisa alaikum junahun an taqshuru minashalah in
khiftum an yaftinakumu-lladzina kafaru". Padahal sesungguhnya orang-orang dalam keadaan
aman. Kemudian Umar berkata: Saya juga heran sebagaimana anda heran terhadap hal itu.
Kemudian saya menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda: Itu adalah
pemberian Allah yang diberikan kepada kamu sekalian, maka terimalah pemberianNya.(HR. Muslim)
e) Keperluan (kepentingan) Mendesak
Dalam banyak kejadian di masyarakat, kadang kalanya karena sibuk dengan beberapa
keperluan, kepentingan, mereka melupakan shalat yang telah menjadi kewajiban bagi setiap
muslim beriman. Oleh karena itu Imam Nawawi dalam kitab syarah Muslim mengatakan:
dari beberapa imam membolehkan menjama shalat bagi orang yang tidak dalam safar, jika
ada kepentingan yang mendesak, asal hal itu tidak dijadikan kebiasaan dalam hidupnya.




.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw shalat dhuhur dan ashar di
Madinah secara jama, bukan karena takut dan juga bukan dalam perjalanan. Berkata Abu
Zubair: saya bertanya kepada Said; Mengapa beliau berbuat demikian? Kemudian ia berkata;
Saya bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana engkau bertanya kepadaku: Kemudian Ibnu
Abbas berkata: Beliau menghendaki agar tidak mernyulitkan seorangpun dari umatnya.(HR.
Bukhari Muslim)



Dari Abdullah bin Syaqiq, dia berkata: Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, pada hari
setelah ashar sampai matahari terbenam, hingga nampak bintang-bintang, sehingga manusia
berteriak: shalat .. shalat ..! Lalu datang laki-laki dari Bani Tamim yang tidak hentinya
berteriak: shalat.. shalat!. Maka Ibnu Abbas berkata: Apa-apaan kamu, apakah kamu hendak

mengajari saya sunah?, lalu dia berkata: Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa sallam menjamak antara zhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya. Berkata Abdullah bin
Syaqiq: Masih terngiang dalam dada saya hal itu, maka aku datang kepada Abu Hurairah,
aku tanyakan dia tentang hal itu, dia membenarkan keterangan Ibnu Abbas tersebut.(HR.
Muslim) Ibnu Abbas tidak menjelaskan apakah menyulitkan itu karena sakit, atau sebabsebab lainnya.
Bahkan tanpa udzur-pun kita dibolehkan menjama shalat, kalau hal itu dipandang perlu dan
merasa kesulitan.(Tahdzibul Ahkam;juz 2:19)
B. SHALAT QASHAR
1. PENGERTIAN
Qashar artinya memendekkan atau meringkas. Shalat qashar maksudnya adalah meringkas
jumlah rakaat shalat yang empat menjadi dua; misalnya shalat Dzuhur, Ashar dan Isya. Hal
ini boleh dilakukan berdasarkan firman Allah Swt:
Artinya : dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu menqasharsembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orangorang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu .(QS. An-Nisa:101)
2. SAFAR
Dan diantara Asbaabut Takhfif (sebab-sebab keringan) adapun bentuk Rukhshah dalam safar
yaitu menjama' shalat. Safar adalah keluar dari daerah kediaman ke tempat lain, dan jarak
minimal safar 5 km, dan masih berniat (bermaksud) kembali ke tempat asalnya.
Berdasarkan ayat 101 dan hadits di atas berarti tidak semua keadaan, seseorang dapat
mengqashar shalat, hanya diperbolehkan dan dilakukan bagi orang yang melakukan safar
(perjalanan) yang kemudian orang itu disebut Musafir.
Dalam ayat ini ada istilah jika kamu khawatir diganggu oleh orang kafir, sementara untuk
saat ini gangguan itu sudah tidak ada lagi (aman-aman saja) bagaimana hukum ayat ini apa
masih boleh kita melakukan shalat dengan qashar. Kalau demikian hukum pada ayat ini tetap
berlaku, sekalipun gangguan itu sudah tidak ada lagi,

.
Diriwayatkan dari Yala Ibn Umayyah, ia berkata: Saya bertanya kepada Umar Ibnul
Khaththab tentang (firman Allah): "Laisa alaikum junahun an taqshuru minashalah in
khiftum an yaftinakumu-lladzina kafaru". Padahal sesungguhnya orang-orang dalam keadaan
aman. Kemudian Umar berkata: Saya juga heran sebagaimana anda heran terhadap hal itu.
Kemudian saya menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda: Itu adalah
pemberian Allah yang diberikan kepada kamu sekalian, maka terimalah pemberian-Nya.
(HR. Jamaah)


Rasulullah memerintahkan kami agar shalat dua rakaat dalam safar.(HR. Ahmad, Ibnu
Hibban, Baihaqi dan Khuzaimah dan rawi yang dipercaya)



.

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw jika berangkat dalam

bepergiannya sebelum terdelincir matahari, beliau mengakhirkan shalat dhuhur ke waktu


shalat ashar; kemudian beliau turun dari kendaraan kemudian beliau menjama dua shalat
tersebut. Apabila sudah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau shalat dhuhur
terlebih dahulu kemudian naik kendaraan. (HR. Muttafaqun 'Alaih)
3. JARAK BOLEHNYA QASHAR
Firman Allah dan hadits shahih di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa
setiap pebergian bisa mengqashar shalat. Dan tidak ada hadits shahih dari Nabi Saw yang
menerangkan adanya jarak minimal mengqashar shalat.
Ada riwayat yang mengatakan dari shahabat Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw
mengqashar shalat dalam perjalanan yang berukuran 3 mil atau 1 farsakh.
:


:



Dari Syubah dari Yahya bin Yazid Al-Hanaiy, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Anas
tentang mengqashar shalat, lalu ia menjawab, Adalah Rasulullah SAW apabila bepergian
sejauh tiga mil atau tiga farsakh, maka beliau shalat dua rekaat. (Syubah ragu, tiga mil atau
tiga farsakh (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Baihaqi)




Adapun Rasulullah SAW bila bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau mengqashar
Shalat(HR. Said bin Manshur. Dan disebutkan oleh Hafidz dalam at-Talkhish, ia
mendiamkan adanya hadits ini, sebagai tanda mengakuinya)
Lahiriyah hadits ini, berhubungan dengan qashar, dan setiap orang yang boleh mengqashar
shalat berarti boleh menjamanya, artinya dalil ini adalah dalil shalat jama dan qashar.
Ibnu Hazm dalam al-Mahalla5:20. mengatakan bahwa jarak minimal boleh mengqashar
shalat adalah 1 mil.
Catatan:
Satu mil = 1609 meter
Tiga mil = 4827 meter
Jadi 1 Farskh = 3 mil, 3 mil 5 km
Jama taqdim itu dilakukan ketika safar, sedangkan safar itu batas minimal 3 mil ( 5 km)
artinya jama itu sudah dapat dilakukan pada jarak 3 mil dari batas daerah (luar kota), maka
dari itu pendapat yang mengatakan harus berjarak 80 km itu tidak dapat dijadikan dasar,
karena dasar atau dalil yang ada tidak shahih, jadi kita kembali kepada ketentuan batas
minimal yaitu 3 mil yang sudah jelas ada nash shahih yang mendasarinya.
Memang ada riwayat yang menyatakan tidak bolehnya qashar jika kurang dari 4 barid ( 80
km) yaitu;





Hai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar shalat dalam jarak
kurang dari empat barid, dari Makkah ke Usfan. (HR. Daraquthni)
Menurut riyawat di atas, qashar boleh dilakukan setelah mencapai jarak 80 km, demikian
juga dengan jama taqdim banyak orang yang mengaitkannya dengan qashar, yang boleh
dilakukan.
Setelah dilakukan penelitian dari hadits di atas, ternyata DHAIF, sebab dalam sanadnya ada
ABDUL WAHAB bin MUJAHID, yang oleh al-Hakim dinyatakan bahwa ia biasa
meriwayatkan hadits-hadits maudhu (palsu), sementara Sofyan ats-Tsauri mendustakannya,

dan dalam Nailul Authar dinyatakan Matruk (ditinggalkan), sedangkan al-Azdi menyatakan
tidak halal riwayat darinya, (Tahdzibut Tahdzib VI:453, Talkhishul-habir, Nailul Authar
III:235, Irwaul Ghalil III:13 No. 565 dan juga dalam Ibanatul Ahkam II:63 No.35).
4. BATAS WAKTU MUSAFIR
Perjalanan (safar) ada 2 maksud yaitu safar dengan maksud menetap selamanya, ada juga
safar hanya sebatas keperluan saja, setelah selesai ia kembali ke daerah asalnya. Dari 2
maksud tersebut, musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan) sama-sama boleh
mengqashar shalat, hanya saja berbeda dalam batas waktu (lamanya) boleh mengqashar
shalat bagi musafir tersebut.
Jika seorang musafir berniat (bermaksud) menetap di suatu tempat, maka ia boleh
mengqashar shalat sampai 4 hari, sebagaimana perbuatan Nabi Saw sewaktu ada di Makkah
selama 4 hari, beliau mengqashar shalat, selebihnya ia tidak mengqasharnya.
Jika seseorang tidak berniat (bermaksud) menetap dalam artian masih mau kembali lagi ke
daerahnya, maka selama menyelesaikan keperluannya itu ia boleh mengqashar shalat,



Nabi shallallahu alaihi wasallam tinggal di tepat safarnya selama 19 hari sambil mengqashar
shalat. Karenanya, jika kami safar selama 19 hari kami mengqashar dan jika lebih maka kami
melakukan shalat itmam.(HR. Bukhari:1080) juga ketika berada di Tabuk selama 20 hari,
beliau mengqashar shalat.
5. MUSAFIR - MUQIM BOLEH BERJAMAAH
Bagi musafir boleh menjadi imam bagi orang yang muqim, dan dan juga sebaliknya,
demikian juga orang shalat wajib boleh bermakmum kepada orang yang shalat sunnah
dengan setelah salam wajib melengkapi (menyempurnakan) jumlah raka'atnya. Orang yang
muqim harus melengkapi raka'at kekuarangannya. Dan apabila orang musafir bermakmum
kepada orang yang muqim, maka harus melengkapi jumlah raka'atnya (tidak boleh qashar)
setelah salam baru melanjutkan shalat jama'nya. Contoh: ketika kita mengadakan perjalanan,
maka dibolehkan untuk shalat bersama dengan orang-orang yang shalat, artinya tidak harus
bersama dengan rombongan.

:


:
Dari Imran bin Hushain, ia berkata : Aku pernah berperang bersama Nabi SAW, dan aku
mengikuti penaklukan (Makkah) bersama beliau, lalu beliau tinggal di Makkah selama
delapan belas hari, beliau tidak pernah shalat kecuali dua rekaat, beliau bersabda, Hai
penduduk Makkah, shalatlah empat rekaat, karena kami adalah musafir (HR. Ahmad:4/430)



--.
Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Makkah. Kemudian Musa mengatakan, Mengapa
jika kami (musafir) shalat di belakang kalian (yang bukan musafir) tetap melaksanakan shalat
empat rakaat (tanpa diqoshor). Namun ketika kami bersafar, kami melaksanakan shalat dua
rakaat (dengan diqoshor)? Ibnu Abbas pun menjawab, Inilah yang diajarkan oleh Abul
Qosim (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). (HR. Ahmad:1/216)
Jadi kepada siapa saja kita bermakmum (sesuai ketentuan syari'at Islam), pada hakikatnya
adalah boleh, karena aturan shalat itu sama( nidzamnya sama)

6. KERINGANAN BAGI MUSAFIR


Keringan diberikan kepada musafir (orang yang bepergian) karena sangat dibutuhkan di
antaranya:
a. Mengqashar shalat (Dzuhur dan 'Ashar, dan 'isya')
b. Menjama' shalat (Dzuhur dan 'Ashar, dan 'isya')
c. Tidak puasa siang hari di bulan Ramadhan
d. Mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan, menghadap sesuai melajunya kendaraan
yang tumpanginya
e. Mengerjakan shalat sunnah sambil berjalan, bagi musafir yang berjalan kaki
f. Mengusap sepatu (ketika berwudhu' sepatunya tidak dilepas)
g. Tidak mengapa meninggalkan sunnah rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib)
h. Menetapkan pahala amal, yang biasa dilakukan ketika muqim (tidak dalam bepergian)
7. ALASAN NABI SAW MELAKUKAN JAMA' QASHAR
Shalat jama' dan qashar dalam pelaksanaannya harus di pisah dengan iqamah, artinya setelah
selesai melakukan shalat yang pertama, maka harus iqamah untuk shalat berikutnya.


Ketika beliau sampai ke Muzdalifah, beliau menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan
sekali adzan dan dua kali iqomah. (HR. Muslim)
KESIMPULAN
Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa shalat jama dan qashar merupakan rukhsah dan
dibolehkan dalam bepergian atau keadaan darurat. Prinsipnya selagi manusia mempunyai
kesempatan untuk melakukan shalat dan tidak menjadi darurat, selayaknya manusia tidak
malu untuk segera melaksanakan shalat seperti biasanya. Menjadi suatu kewajiban bagi yang
melaksanakan shalat menjadi suri tauladan bagi yang lain sehingga mengajari yang lainnya.
Karena yang demikian adalah dari syiar Islam yang mesti dimuliakan.
Bagi yang mendapati kesulitan atau kesukaran dalam tiap kali shalat pada waktunya maka
memungkinkan baginya untuk menjama shalat. Pemaparan hal itu sudah dikemukakan di
atas tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan dan rutin dan hal tersebut tidak bermaksud
selain untuk memudahkan dan tidak menyulitkan umat. Demikian, meski sering jalan-jalan,
dan menempuh perjalanan panjang jangan lupa melaksakan sholat 5 waktu.
REFERENSI/MARAJI
1. Agus Hasan Bashari al-Sanuwi, Lc, M.Ag. M. Syuaib al-Faiz al-Sanuwi Lc, 2006.
Riyadus Shalihin Karya Imam Nawawi, takhrij, Syaikh Muhammad Nasirudin al-Albani,
Duta Ilmu.
2. Al-Awaisyah al-Hawasy Husen, 2006. Shalat Khusyu Seperti Nabi SAW. Pustaka elBa.
3. Albani, M. Nasiruddin Syaikh, 2000, Sifat-Sifat Shalat Nabi SAW, Jld I-III, Media
Hidayah/kampoeng Sunnah.
4. As-Sayyid Salim ibnu Abu MAlik Kamal Syaikh 2007. PAnduan Beribadah Khusus
Wanita. Al-MAhira, Jakarta_Timur.

5. Imam al-Mundziri. Mukhtashar Shahih Muslim. Pustaka Amani, Jkt


6. Imam az-Zabidi. Mukhtashar Shahih Bukhari. Pustaka Amini Jkt
7. Muanajjid Muhammad, 2005. Kiat-kiat Khusyu dalam Shalat. Pustaka al-Kautsar
8. Said bin Ali bin Wahf, Syaikh al-Qahthan. Shaltul Mumin, CV. pustaka ibnu katsir
9. Sabiq Sayyid. Fiqh Sunnah
10. Husein Ali, Lc. "Menjama' Shalat Tanpa Halangan" Lentera Jakarta 2005