Anda di halaman 1dari 14

I.

Pendahuluan
Pada makalah ini, akan dipaparkan tentang shalat qashar dan shalat jama. Shalat
qashar adalah shalat yang disingkatkan. Qashar itu artinya singkat atau pendek yaitu shalat
diantara shalat fardhu yang lima, yang mestinya empat rakaat dijadikan dua rakaat saja.
Shalat yang boleh diqashar hanya shalat zuhur, ashar dan isya. Adapun magrib dan subuh
tetap sebagai biasa.[1]
Sedangkan shalat jama adalah shalat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah
dikumpulkannya dua shalat wajib dalam waktu yang sama, misal: shalat zuhur dengan shalat
ashar, shalat magrib dengan shalat isya. Shalat subuh tidak boleh dikumpulkan dengan shalat
lain.[2]
Shalat qashar dan shalat jama adalah sama-sama dilakukan oleh orang yang sedang
bepergian kesuatu tempat yang jauh (musafir), dan juga dibolehkan untuk mengqashar dan
menjama shalatnya sekaligus (zuhur dengan ashar, masing-masing dua rakaat).
Mengerjakannya boleh dengan jama taqdim (shalat zuhur dengan shalat ashar dikerjakan
pada waktu zuhur dan shalat magrib dengan shalat isya dikerjakan pada waktu magrib) dan
jama takhir (shalat zuhur dengan shalat ashar dikerjakan pada waktu ashar dan shalat magrib
dengan shalat isya dikerjakan pada waktu isya).[3] Berikut ini beberapa contoh niat shalat
jama dan qashar sekaligus, baik secara jama taqdim maupun jama takhir:
Niat shalat zuhur dan ashar dengan qashar sekaligus jama taqdim:
Ushalli fardhadh zuhri rakataini qashran majmuuan bil ashri lillahi taaalaa
Artinya: Aku niat shalat zuhur dua rakaat qashar dan jama dengan ashar karena
Allah taaala.
Niat shalat ashar dengan zuhur sekaligus dengan qashar sekaligus jama takhir:
Ushalli fardhadh zuhri rakataini qashran majmuuan bil ashri lillahi taaalaa
Artinya: Aku niat shalat zuhur dua rakaat qashar dan jama dengan ashar secara
jama takhir karena Allah taaala.
Niat shalat isya dan magrib dengan qashar sekaligus jama takhir:

Ushalli fardhadh isyaa-i rakataini qashran majmuuan bil maghribi lillahi taaalaa
Artinya: Aku niat shalat isya dua rakaat qashar dan jama dengan magrib karena Allah
taaala.[4]
Pelaksanaan shalat dengan cara jama taqdim harus memenuhi syarat:
1. Tartib, yakni melakukan kedua shalat itu sesuai dengan urutan waktunya. Waktu yang
digunakan untuk jama taqdim adalah waktu shalat pertama, sedangkan shalat kedua
merupakan turutan. Jadi, shalat pertama itulah semestinya yang didahulukan.
2. Niat shalat jama ketika takbiratul ihram shalat pertama atau setidaknya sebelum selesai
shalat tersebut.
3. Wala, artinya pelaksanaan secara beruntun, shalat kedua tidak berselang lama dari
shalat pertama.
4. Keadaan sebagai musafir masih berlanjut ketika ia memulai shalat kedua.[5]
Apabila mengerjakan dengan jama takhir maka shalat zuhur dulu yang dikerjakan 2
rakaat baru shalat ashar 2 rakaat, begitu pula halnya dengan shalat magrib dan isya maka
shalat magrib dulu yang dikerjakan 3 rakaat baru shalat isya 2 rakaat. Ini berdasarkan ijtihad
dari para ulama yang berpedoman kepada hadits nabi, yang artinya mulailah olehmu
darimana Allah memulai, maka yang mula datang menurut urutan adalah zuhur sebelum
ashar dan magrib sebelum isya. Walaupun jama takhir, maka mulailah mengerjakan menurut
asal datangnya.
Untuk jama takhir hanya dua syarat, yaitu:
a. Berniat pada waktu shalat pertama, akan menjamakan shalat tersebut ke shalat kedua.
Dengan demikian penundaan shalat tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran atau
kelalaian.
b. Pelaksanaan kedua shalat itu dalam keadaan musafir. Bila safarnya putus sebelum
kedua shalat itu selesai dilaksanakan maka shalat pertama menjadi shalat qadha.[6]

Shalat jama boleh juga dilakukan oleh orang yang tidak bepergian (mukim) pada
waktu hujan atau ada hal-hal yang memaksakan kita untuk melakukan itu, sehingga kalau
tidak dilaksanakan yang demikian, besar kemungkinan bisa menyebabkan tertinggalnya
shalat. Misalnya kita sudah tidak tidur beberapa malam, karena menjaga orang yang sakit.
Maka untuk lebih pulasnya tidur itu dibolehkan untuk menjama shalat. Nabi juga pernah
menjama shalat tanpa ada suatu yang mencemaskan dan bukan pula karena hari hujan.
Memang tidak dijelaskan dalam hadits itu, apa sebabnya nabi menjama tapi besar dugaan
tentu ada yang menjadi penyebanya.[7]
Apabila mengerjakan shalat jama pada waktu mukim (menetap) maka harus
dikerjakan pada waktu pertama dari kedua shalat tersebut (jama taqdim), bila mengerjakan
shalat zuhur dan ashar maka harus diwaktu zuhur dan bila menjama shalat isya harus pada
waktu magrib.
Demikianlah penjelasan singkat tentang shalat qashar dan shalat jama. Pembahasan
lebih lengkap akan dibahas pada bagian selanjutnya dari makalah ini.
II. Sumber Hadits
Adapun hadits yang dipaparkan adalah yang terdapat dalam kitab Luluul Marjan no.
401 dan 410, sebagai berikut:
Artinya:
Hadits Anas, dimana ia berkata: kami keluar dari Madinah menuju ke Mekkah
bersama-sama dengan Nabi saw, lalu beliau mengerjakan shalat dua rakaat sehingga kami
kembali ke Madinah Yahya bin Ishaq ditanya: Berapa lama kamu bermukim (tinggal) di
Mekkah? Ia menjawab: Kami bermukim selama sepuluh hari.[8]
Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam kitab mengqashar shalat bab tentang
menqashar dan berapa lama ia bisa mengqashar .
Artinya:
Hadits Anas bin Malik, dimana ia berkata: Rasulullah saw apabila berangkat sebelum
matahari tergelincir (ke barat), maka beliau mengakhirkan shalat dhuhur sampai waktu ashar,

kemudian beliau turun lalu menjama kedua shalat itu. Apabila matahari sudah tergelincir
sebelum berangkat, maka beliau mengerjakan shalat dhuhur, kemudian beliau naik
kendaraan.[9]
Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam kitab mengqashar shalat bab tentang
apabila seorang berangkat sesudah matahari tergelincir maka ia harus mengerjakan shalat
zuhur kemudian naik kendaraan.
III. Dalil-Dalil Penguat
Adapun dalil-dalil yang dapat dijadikan penguat dari permasalahan shalat qashar dan
shalat jama ini, diantaranya:

Firman Allah dalam Al-quran surah An-Nisa: 101 ( 101: )

Artinya:
Dan apabila kamu di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar
sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang
kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (An-Nisa: 101).[10]
Umar, Aisyah dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah telah mewajibkan shalat
dalam perjalanan, melalui nabinya sebanyak dua rakaat. Allah, Rasulullah, dan ijma kaum
muslimin tidak mengkhususkan perjalanan yang bagaimana, kecuali dengan nash atau ijma
yang diyakini kebenarannya.

Hadits nabi yang menjabarkan tentang firman Allah diatas:

Artinya:
Dari Yala bin Umayah, ia berkata: Aku berkata kepada Umar bin Khattab (yaitu
ayat yang mempunyai arti) tidak ada dosa atasmu, bahwa kamu memendekkan (mengqashar)
shalat, jika kamu khawatir akan bahaya dari orang-orang kafir, maka sesungguhnya sekarang
manusia berada dalam keamanan. Berkata Umar: Memang aku merasa heran diantara hal
yang mengherankan ku. Maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW dari hal yang
demikian lalu beliau menjawab: Itu adalah sedekah yang disedekahkan Allah kepadamu,
maka terimalah sedekahnya itu (HR. Jamaah, kecuali Bukhari).[11]

Deengan keterangan hadits diatas nyatalah bahwa mengqashar shalat dalam


perjalanan adalah sebagai sunnah dan sebagai sedekah yang harus kita terima dengan segala
senang hati dan tangan terbuka. Orang yang tidak mau atau menolak sedekah yang diberikan
orang lain kepadanya, dianggap sebagai orang yang sombong, apalagi sedekah yang
diberikan Allah.
Sebagai alasan bahwa Nabi dan sahabat-sahabatnya tidak pernah melaksanakan shalat
secukupnya menurut shalat yang biasa dalam perjalanan ialah hadits yang tertera dibawah ini:
Artinya:
Terdapat dalam buku shahih Muslim, dari Ibnu Umar: Aku telah menyertai
(menemani) Nabi SAW dalam perjalanan, maka beliau tidak pernah melebihi shalatnya dari
dua rakaat sampai beliau meninggal, aku telah menyertai Abu Bakar dalam perjalanan, maka
tidak pernah ia melebihi shalatnya dari dua rakaat, sampai ia meninggal, aku telah menyertai
Umar dalam perjalanan, maka tidak pernah ia melebihi shalatnya dari dua rakaat, sampai ia
meninggal, aku telah menyertai Utsman dalam perjalanan, maka tidak pernah ia melebihi
shalatnya dari dua rakaat sampai ia meninggal.[12]
Ada pula hadits yang berasal dari Aisyah menurut riwayat yang menyatakan bahwa
orang yang bepergian mengqashar shalatnya.
Artinya:
Hadits Aisyah Ummul Mukminin, dimana ia berkata: Allah mewajibkan shalat
ketika mulai pertama diwajibkannya dua rakaat baik ditempat tinggalnya sendiri maupun
dalam bepergian, kemudian shalat dalam bepergian itu ditetapkan (dua rakaat) dan shalat
dalam tempat tinggalnya sendiri ditambah.[13]
Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam Kitab Shalat bab tentang bagaimana
shalat-shalat itu diwajibkan dalam Isra dan Miraj.
IV. Pendapat-Pendapat Para Ulama
Didalam pelaksanaan shalat Qashar dan shalat Jama ini terdapat berbagai macam
pendapat yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya yaitu:

1. Tentang shalat qashar


a) Ibnul Qaiyim
Pendapat yang beliau kemukakan adalah bahwa:
Jikalau bepergian, Rasulullah SAW selalu mengqashar shalat yang empat rakaat dan
mengerjakannya hanya dua-dua rakaat, sampai beliau kembali ke Madinah, tidak
ditemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap melakukannya empat rakaat. Hal
ini tidak menjadi perselisihan lagi bagi imam-imam walau mereka berlainan pendapat
tentang hukum mengqashar. Umar, Ali, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar,
Jabir menetapkan bahwa hukumnya wajib.[14]
b) Abu Hanifah (Mazhab Hanafi)
Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah wajib, musafir yang
tidak meringkas shalat yang empat rakaat, jika ia duduk pada rakaat kedua setelah
tasyahud, maka shalatnya sah, hanya hukumnya makruh karena ia mengundurkan
salam, sedang dua rakaat selanjutnya dianggap shalat. Tapi bila ia tidak duduk pada
rakaat kedua itu maka shalatnya tidak sah. Dan jika berniat mukim 15 hari maka
boleh mengqashar shalatnya. Pendapat ini juga sama dengan Al-Laits bin Saad,
Umar, Abdullah bin Umar, dan Ibnu Abbas. Ada juga riwayat yang menyatakan
pendapat Said Ibnul Musaiyab juga sama dengan mazhab Hanafi ini.
c) Maliki (Mazhab Maliki)
Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah sunat muakkad dan
lebih takid lagi dari shalat berjamaah, sehingga apabila musafir tidak mendapatkan
kawan sesama musafir untuk berjamaah, hendaklah ia bershalat secara perseorangan
dengan mengqashar, dan makruh baginya mencukupkan empat rakaat dan
bermakmum kepada orang yang mukim. Dan jika seseorang berniat hendak mukim
lebih dari empat hari, harus mencukupkan shalat dan kalau kurang boleh mengqashar.
d) Ahmad bin Hambal (Mazhab Hanbali)

Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah jaiz atau boleh saja,
hanya lebih baik daripada menyempurnakan.
e) Imam Syafii (Mazhab Syafii)
Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah jaiz atau boleh saja,
hanya lebih baik daripada menyempurnakannya. Kalau memang sudah mencapai
jarak boleh mengqashar.[15]
Mengenai jarak bolehnya mengqashar shalat dapat diberi penjelasan oleh
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri, katanya:
Artinya:
Apabila Rasulullah SAW bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau
mengqashar shalat (diriwayatkan oleh Said bin Mashur dan disebutkan oleh Hafizh
dalam At-Takhlis, dan ia mendiamkan hadits ini sebagai tanda pengakuannya.[16]
Satu farsakh itu sama dengan tiga mil atau 5541 meter sedang 1 mil sama
dengan 1748 meter.
Tempat dibolehkannya memulai mengqashar shalat adalah setelah keluar dari
rumah tempat kita tinggal (berdomisili). Dan bila seseorang telah kembali ke tempat
tinggal asalnya atau telah berniat untuk menetap di tempat yang dituju itu, maka
habislah baginya hukum qashar.
2. Tentang shalat jama
Para ulama sependapat bahwa menjama shalat zuhur dan ashar secar taqdim pada
waktu zuhur di Arafah, begitupun antara shalat magrib dan isya secara takhir diwaktu isya
di mudzalifah, hukumnya sunnat, berpedoman kepada apa yang dilakukan oleh
Rasulullah saw.
Artinya: Demi zat yang tiada tuhan selain Dia, Rasulullah tidak pernah mengerjakan satu
shalat pun kecuali pada tepat waktunya selain shalat yang beliau jamak (gabung), yakni
zuhur dengan ashar di Arafah dan magrib dengan Isya di Mudzalifah. (Diriwayatkan oleh
Syaikhan)

Dan menjama dua shalat ketika bepergian, pada salah satu waktu dari kedua
shalat itu, menurut sebagian besar para ahli hukumnya boleh, tanpa ada perbedaan,
apakah dilakukannya itu sewktu berhenti ataukah selagi dalam perjalanan.
Dalam kitab Al-Muwaththa Malik meriwayatkan dari Muadz bahwa:
Artinya:
Pada suatu hari nabi saw mengundurkan shalat diwaktu perang Tabuk dan pergi
keluar, lalu mengerjakan shalat zuhur dan ashar secara jama, setelah itu beliau masuk
dan kemudian beliau pergi lagi dan mengerjakan shalat magrib dan isya secara jama pula.
[17]
Berkata Syafii: Kata-kata pergi dan masuk itu menunjukkan bahwa Nabi saw
sedang berhenti. Lalu Imam Syafii juga berkata: Jika seseorang bershalat magrib
dirumahnya dengan niat menjama, kemudian ia pergi ke mesjid melakukan shalat isya
juga boleh. Dikatakan bahwa Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu.
Ada pula hadits dari Ibnu Umar yang membolehkan menjama dua shalat dalam
bepergian.
Artinya:
Hadits Ibnu Umar ra, dimana ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw, jika
tergesa-gesa dalam berangkat, beliau mengakhirkan shalat magrib sehingga beliau
menjama (mengumpulkan) shalat magrib dan shalat isya.[18]
Kemudian tentang menjama diwaktu hujan. Dalam sunnahnya Al-Atsram
meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman, katanya: Termasuk sunnah Nabi
saw. menjama shalat magrib dengan isya, apabila hari hujan lebat. Dan Bukhari
meriwayatkan pula bahwa.
Artinya:
Nabi saw menjama shalat magrib dan isya disuatu malam yang berhujan lebat.[19]

Kesimpulan pendapat mazhab-mazhab mengenai soal ini ialah sebagai berikut:


Golongan Syafii membolehkan seorang mukmin menjama shalat zuhur dengan ashar
dan magrib dengan isya secara taqdim saja, dengan syarat adanya hujan ketika
membaca takbiratul ihram dalam shalat yang pertama sampai selesai, dan hujan masih
Turun ketika memulai shalat yang kedua.

Menurut Maliki, boleh menjama taqdim dalam mesjid antara magrib dengan isya
disebabkan adanya hujan yang telah akan turun, juga boleh dikerjakan karena banyak
lumpur ditengah jalan dan malam sangat gelap hingga menyukarkan orang untuk
memakai sandal. Menjama shalat zuhur dengan ashar ini, dimakruhkan.

Menurut golongan Hanbali berpendapat bahwa boleh menjama magrib dengan isya
saja, baik secara taqdim atau secara takhir, disebabkan adanya salju, lumpur, dingin
yang amat sangat serta hujan yang membasahkan pakaian, dan khusus bagi orang
yang tempatnya jauh dari mesjid.
Menjama sebab sakit atau uzur, menurut Imam Ahmad.,Imam Malik, Qadhie

Husien, Al-Khaththabi dan Al Mutawali dari golongan Syafii membolehkan menjama


baik taqdim atau taqdim dengan alasan karena kesukaran waktu itu lebih besar daripada
kesukaran diwaktu hujan. Berkata Nawawi: Dari segi alasan pendapat ini adalah kuat.
Akan tetapi Syafii tidak mebenarkan jama karena sakit sebab menurutnya, illat yang
menjadi alasan bolehnya jama itu adalah safar, jadi hanya terdapat dan berlaku bagi
musafir.
Menurut ulama Hanbali boleh pula menjama baik taqdim atau takhir karena
berbagai macam halangan dan juga sedang dalam ketakutan. Mereka membolehkan orang
yang sedang menyusui bila sukar untuknya buat mencuci kain setiap hendak bershalat.
Kemudian menjama sebab ada keperluan tapi tidak karena sakit atau sebab-sebab
lainnya, dan asal saja hal itu tidak dijadikannya kebiasaan, ada beberapa imam yang
membolehkannya antara lain Ibnu Sirin dan Asy-hab dari golongan Maliki, dan menurut
Al-Khaththabi, Qaffal dan Asy-Syasil Kabir dari golongan Syafii, Ishal Marwazi,
jemaah ahli hadits, Ibnul Mundzir, Ibnu Abbas.
V. Analisis Pendapat Sendiri

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan para ulama, maka penulis


mempunyai pendapatnya sendiri, yaitu:
Bagi orang yang sedang bepergian (musafir) boleh mengqashar shalat (menyingkat
shalat fardhu yang empat rakaat menjadi dua rakaat) dengan beberapa syarat:
1. Kepergiannya bukan dalam rangka kemaksiatan
Jadi, qashar hanya dapat dilakukan pada safar yang dibenarkan oleh syariat,
meliputi:
a) Safar yang wajib, seperti safar haji.
b) Safar yang mandub, seperti menziarahi makam Rasulullah.
c) Safar yang mubah seperti perjalanan niaga.
2. jarak kepergiannya harus mencapai 16 farsakh (80 Km, lebih 640 m) atau 48 mil yang
sama dengan 76, 80 Km.
3. Shalat yang diqashar itu harus shalat yang rakaatnya 4, dan bukan shalat qadha.
4. Berniat qashar bersamaan dengan mengucapkan takbiratul ihram.
5. Tidak boleh bermakmum kepada orang yang menetap (mukim).[20]
6. Perjalanan itu dilakukan menuju ke suatu tempat tertentu, orang yang berjalan tanpa
tujuan, sekalipun jarak yang ditempuhnya jauh tidak dibenarkan mengqashar shalat.
7. Shalat itu dilakukan setelah musafir melampaui batas kota atau desa yang menjadi awal
safarnya. Diriwayatkan dari Anas, katanya:
Artinya: Saya shalat zuhur bersama Rasulullah di Madinah empat rakaat dan Zul
Hulaifah dua rakaat (Hadits Jamaah)[21]
8. Shalat tersebut dilakukan sepenuhya dalam keadaan musafir. Bila safarnya putus,
misalnya ditengah pelaksanaan shalat itu ia sampai ketujuan, maka ia harus
menyempurnakannya menjadi empat rakaat.

Artinya: Rasulullah bermukim di Mekkah selama delapan belas hari dan selama itu
pula beliau mengerjakan shalat hanya dua rakaat-dua rakaat, dan sabdanya: wahai
penduduk negeri ini, shalat lah empat rakaat, karena kami adalah musafir. (Hadits Abu
Daud)[22]
9. mengetahui bahwa ia boleh mengqashar shalat tersebut.[23]
Bagi orang musafir boleh menjama antara shalat zuhur dengan ashar diwaktu mana
saja ia kehendaki dengan jama taqdim atau jama takhir, dan begitu pula halnya antara
menjama antara shalat magrib dengan isya.
Orang yang tidak sedang bepergian atau mukim diperbolehkan menjama antara dua
shalat (zuhur dengan ashar, magrib dengan isya), akan tetapi harus dikerjakan pada waktu
pertama dari kedua shalat tersebut dan boleh pula menjama pada waktu hari hujan, karena
sakit karena ada suatu keperluan.
Dari penjelasan diatas, dan berdasarkan pendapat para ulama, maka penulis
menyimpulkan bahwa orang yang sedang bepergian (musafir) diharuskan mengqashar dan
menjama shalatnya. karena itu merupakan sedekah dan keringanan yang diberikan oleh Allah
kepada hamba-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 101.
VI. Penutup
Kesimpulan
Dari Uraian yang telah disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa:
Shalat qashar adalah menyingkat shalat fardhu yang empat rakaat (zuhur, ashar, dan
isya) menjadi dua rakaat, dan ini dikerjakan oleh orang yang sedang dalam perjalanan
(musafir).
Shalat jama adalah mengumpulkan dua shalat wajib dalam waktu yang sama, misal:
shalat zuhur dengan ashar, dan shalat magrib dengan shalat isya bisa dengan jama takhir.
Shalat jama juga boleh dikerjakan oleh orang yang tidak sedang bepergian (mukim),
karena hari hujan, karena sakit, atau karena sebab-sebab atau keperluan lain yang mendesak.

Hukum shalat qashar apabila dalam perjalanan adalah wajib, akan tetapi adapula
ulama yang berpendapat hukumnya sunnat muakkad, jaiz (boleh), sedangkan shalat jama
juga boleh. Dan mengqashar shalat itu merupakan sedekah yang dikaruniakan Allah kepada
mu semua, maka terimalah sedekah-Nya itu.
Jarak bolehnya mengqashar adalah 1 farsakh yang sama dengan 3 mil dan memulai
mengqashar adalah apabila telah keluar dari rumah tempat tinggal.
Demikianlah yang dapat disimpulkan semoga kita dapat mengerjakan shalat qashar
dan shalat jama ini apabila kita bepergian kesuatu tempat (musafir) karena ini merupakan
sebuah keringanan dari Allah bagi hamba-Nya.
Dalam penulisan makalah ini, tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan
ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
- Abdul Baqi, Muhammad. 1993. Al-LuLu wal Marjan. Semarang: Al-Ridha
- Abdussalam, Muhammad. 2006. Bidah-Bidah yang dianggap sunnah. Jakarta: Qisthi Press
- Ahmad, Abu Syuja. 2000. Ringkasan Fiqih Islam. Surabaya: Al-Miftah
- Ahnan, Maftuh. 1998. Kumpulan Hadits Terpilih Shahih Bukhari. Surabaya: Terbit Terang
- Anwar, Muhammad. 1973. Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib. Bandung: Al-Maarif.
- Ar-Rahbawi, Abdul Qadir. 1994. Shalat Empat Mazhab. Jakarta: PT. Intermasa
- Djamaris, Zainal Arifin. 1996. Menyempurnakan shalat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
- Effendi, Mochtar. 2000. Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Palembang: Universitas Sriwijaya
- Nasution, Lahmudin. t. th. Fiqih 1. Jakarta: Logos

- Rifai. t. th. Pedoman Ibadah. Jombang: Lintas Media


- Sabiq, Sayyid. 1976. Fiqih Sunnah 2. Bandung: PT. Al-Maarif

[1] Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang, Universitas


Sriwijaya, 2000) buku 5, h. 31
[2] Ibid, buku 3, h. 17-18
[3] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada, 1996), h. 232
[4] Rifai. Pedoman Ibadah (Jombang ; Lintas Media, t. th) h. 43
[5] Lahmuddin Nasution, Fiqih I (Jakarta, Logos, t. th) h. 126
[6] Ibid, h.127
[7] Ibid, h. 237
[8] M. Fuad Abdul Baqi, Al Lulu Wal Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 397
[9] Ibid, h. 403-404
[10] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al Maarif, 1976) h. 264
[11] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada, 1996) h. 227-228
[12] Ibid, h. 229-230
[13] M. Fuad Abdul Baqi, Al-LULu Wal Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 395
[14] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al Maarif, 1976) h. 266
[15] Ibid, h. 267
[16] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada, 1996) h. 235
[17] Opcit, 279-280
[18] M. Fuad Abdul Baqi, Al-LuLu WAl Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 402403
[19] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al-Maarif, 1976) h. 266

[20] Moch. Anwar, Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib (Bandung, Al-Maarif,
1973)h. 62-63
[21] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al-Maarif, 1976) h. 264
[22] Abdul Qadir Ar-Rahbawi, Shalat Empat Mazhab (Jakarta, Pt. Intermasa, 1994)
[23] Lahmudin Nasution, Fiqih 1 (Jakarta, Logos t. th) h. 125