Anda di halaman 1dari 143

LAMPIRAN I

PERENCANAAN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SISTEM
PENGELOLAAN AIR LIMBAH



Lampiran I ini terdiri dari 3 buku, yaitu :
Buku 1 : Pedoman Rencana Induk
Buku 2 : Pedoman Studi Kelayakan
Buku 3 : Pemberdayaan Masyarakat

BUKU 1
PEDOMAN RENCANA INDUK

A. CAKUPAN DAN JENIS RENCANA INDUK
1. Rencana Induk SPAL Kab/Kota
Rencana Induk SPAL di dalam satu wilayah administrasi kabupaten atau
kota ini mencakup wilayah pelayanan air limbah sistem terpusat dan
sistem setempat yang terdapat di dalam satu wilayah administrasi
kabupaten atau kota. Kabupaten atau kota yang dimaksud dalam
peraturan ini adalah Kota Metropolitan (> 1.000.000 jiwa) dan Kota Besar
(> 500.000), sedangkan untuk Kota Sedang (>100.000) menyusun Rencana
Induk Sederhana (Outline Plan) dan Kota Kecil (>20.000) cukup membuat
SSK (Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota).
2. Rencana Induk SPAL Lintas Kab/Kota
Rencana induk SPAL lintas kabupaten dan/atau kota mencakup wilayah
pelayanan air limbah sistem terpusat dan sistem setempat yang terdapat di
dalam lebih dari satu wilayah administrasi kabupaten dan/atau kota
dalam satu provinsi.

3. Rencana Induk SPAL Lintas Provinsi
Rencana induk SPAL lintas provinsi mencakup wilayah pelayanan air
limbah sistem terpusat dan sistem setempat yang terdapat di dalam lebih
dari satu wilayah administrasi kabupaten dan/atau kota serta di dalam
lebih dari satu provinsi.
4. Rencana Induk SPAL Kawasan Strategis Nasional
Rencana Induk SPAL Kawasan Strategis Nasional mencakup pelayanan air
limbah terpusat dan sistem setempat pada wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting
secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan
negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah
yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.

B. MAKSUD & TUJUAN PENYUSUNAN RENCANA INDUK
1. Maksud
Maksud penyusunan Rencana Induk adalah agar setiap Kabupaten/Kota
memiliki pedoman dalam pengembangan dan operasional
penyelenggaraan SPAL berdasarkan perencanaan yang efektif, efisien,
berkelanjutan, dan terpadu dengan sektor terkait lainnya
2. Tujuan
Tujuan penyusunan Rencana Induk adalah agar setiap Kabupaten/Kota
memiliki Rencana Induk SPAL yang sistematis, terarah, dan tanggap
terhadap kebutuhan sesuai karakteristik lingkungan dan sosial ekonomi
daerah, serta tanggap terhadap kebutuhan stakeholder (pemerintah,
investor, masyarakat).
Kabupaten/Kota yang belum mempunyai rencana induk, rencana
pengembangan SPAL mengacu pada Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota
(SSK) dan Memorandum Program Sanitasi (MPS).


C. KEDUDUKAN RENCANA INDUK
Penyusunan Rencana Induk SPAL mengacu pada prinsip pengembangan
wilayah; RUTRW/K, RPJPN maupun perundang-undangan yang berlaku.
Kedudukan Rencana Induk SPAL berada dibawah kebijakan spasial di
masing-masing daerah baik pada skala Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
Kedudukannya adalah sebagai petunjuk teknis dalam penyusunan strategi
pembangunan per kawasan, serta mempengaruhi rencana program investasi
infrastruktur. Sedangkan untuk kota menengah dan kecil, keberadaan SSK
menjadi alternatif pengganti Rencana Induk SPAL seperti terlihat pada
Gambar I.1.
















Gambar I.1. Kedudukan Rencana Induk SPAL
*)
SSK untuk Kota Sedang dan Kecil dapat digunakan sebagai Rencana Induk
D. PERIODE PERENCANAAN
Rencana induk SPAL harus direncanakan untuk periode perencanaan 20
tahun, dihitung dengan mempertimbangkan penetapan oleh kepala daerah
sesuai dengan kewenangannya.
NASIONAL
PROPINSI
KABUPATEN/KOTA
RTRWN
RTRW PROPINSI
RTRW
KAB/KOTA
RPJMN
RPJM PROPINSI
RPJM
KAB/KOTA
KEBIJAKAN
SPASIAL
KEBIJAKAN
SEKTORAL
PROGRAM

RENCANA
INDUK SPAL
STRATEGI PEMBANGUNAN
KAB/KOTA (SSK)
*)

STRATEGI PEMBANGUNAN
PER KAWASAN

RENCANA PROGRAM
INVESTASI INFRASTRUKTUR
RPIJM
Periode perencanaan dalam penyusunan rencana induk ini dibagi menjadi 3
tahap pembangunan sesuai urutan prioritas, yaitu:
1. Perencanaan Jangka Pendek (Tahap Mendesak)
Perencanaan pembangunan jangka pendek atau tahap mendesak
dilaksanakan dalam satu sampai dua tahun anggaran, dengan
memprioritaskan pada hal yang mendesak.
2. Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan pembangunan jangka menengah mencakup tahapan
pembangunan 5 tahun setelah dilaksanakan program jangka pendek.
3. Perencanaan Jangka Panjang
Perencanaan pembangunan jangka panjang merupakan rangkaian dari
keseluruhan pembangunan di sektor air limbah untuk 20 tahun yang akan
datang.

E. EVALUASI RENCANA INDUK
Rencana Induk SPAL harus dievaluasi setiap 5 tahun untuk disesuaikan
dengan perubahan yang terjadi dan disesuaikan dengan perubahan rencana
induk bidang sanitasi lainnya, tata ruang dan rencana induk SPAM serta
perubahan strategi dalam bidang lingkungan (Local Environment Strategy),
ataupun hasil rekomendasi audit lingkungan kota yang terkait dengan air
limbah permukiman.

F. MUATAN RENCANA INDUK
Rencana Induk Pengembangan SPAL paling sedikit memuat :
1. Rencana Umum, meliputi :
a. Evaluasi Kondisi Kota/Kawasan
Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui karakter, fungsi strategis dan
konteks regional nasional kota/kawasan yang bersangkutan.
b. Evaluasi Kondisi Eksisting SPAL
Evaluasi yang dilakukan dengan menginventarisasi peralatan dan
perlengkapan sistem pengelolaan air limbah eksisting.
c. Program dan Kegiatan Pengembangan
Program dan kegiatan pengembangan dalam penyusunan rencana
induk meliputi identifikasi permasalahan dan kebutuhan
pengembangan unit pengolahan meliputi pengolahan air limbah
permukiman (baik pengolahan fisik, biologis, maupun pengolahan
kimia) dan pengolahan lumpur, perkiraan debit buangan hasil
pengolahan air limbah dan lumpur, serta identifikasi badan air
penerima.
d. Kriteria dan Standar Pelayanan
Kriteria dan standar pelayanan, mencakup kriteria teknis yang dapat
diaplikasikan dalam perencanaan yang sudah umum digunakan,
namun jika ada data hasil survei maka kriteria teknis menjadi bahan
acuan. Standar pelayanan ditentukan sejak awal seperti tingkat
pelayanan yang diinginkan, cakupan pelayanan, dan jenis pelayanan
yang dapat ditawarkan ke pelanggan jika kegiatan ini direalisasikan.
e. Rencana Keterpaduan Program Sanitasi
Rencana keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana (PS) Sanitasi,
adalah bahwa penyelenggaraan SPAL dan prasarana perkotaan yang
terkait (air minum, persampahan, dan drainase) memperhatikan
keterkaitan satu dengan yang lainnya dalam setiap tahapan
penyelenggaraan, terutama dalam upaya perlindungan terhadap baku
mutu sumber air baku air minum. Keterpaduan SPAL dengan PS
sanitasi dilaksanakan berdasarkan prioritas adanya sumber air baku.
Misalnya bila pada suatu daerah terdapat air tanah dangkal dengan
kualitas yang baik, maka sistem sanitasi harus menggunakan sistem
terpusat (off site sistem), atau contoh lainnya adalah peletakan outlet
Instalasi Pengolahan Air Limbah atau Instalasi Pengolahan Lumpur
Terpadu di hilir lokasi pengambilan air baku air minum.
f. Rencana Pembiayaan dan Pola Investasi
Rencana pembiayaan dan pola investasi, berupa indikasi besar biaya
tingkat awal, sumber dan pola pembiayaan. Perhitungan biaya tingkat
awal mencakup seluruh komponen pekerjaan perencanaan, pekerjaan
konstruksi, pajak, pembebasan tanah, dan perizinan.
g. Rencana Pengembangan Kelembagaan dan Peraturan Perundang-
undangan
Rencana Pengembangan Kelembagaan merupakan rencana yang
dilakukan untuk mengembangkan kelembagaan dalam
penyelenggaraan SPAL. Kelembagaan dalam penyelenggaraan SPAL
dimaksudkan untuk melakukan penyusunan rencana, penelaahan
kebijakan, pengkajian, pengelolaan, serta mengkordinasikan kegiatan
bidang perencanaan dan pengembangan SPAL.
h. Rencana Pemberdayaan Masyarakat
Rencana pemberdayaan masyarakat meliputi struktur organisasi dan
penempatan tenaga ahli sesuai dengan latar belakang pendidikannya
mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku.

2. Rencana Sistem Pengelolaan Air Limbah
Rencana sistem pengelolaan air limbah terdiri dari :
a. Unit Pelayanan
b. Unit Pengumpulan
c. Unit Pengolahan
d. Teknologi Pengolahan Lumpur

3. Sistem Pengelolaan Air Limbah Setempat
a. Unit Penampungan Tinja Setempat
b. Sarana Pengangkutan Lumpur Tinja (SPLT)
c. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)


G. PROSES PENYUSUNAN RENCANA INDUK
Tahapan penyusunan Rencana Induk terdiri dari Tahap Pengumpulan Data
dan Tahap Penyusunan Strategi SPAL. Tahapan proses penyusunan Rencana
Induk dapat dilihat pada Gambar I.2. Sedangkan tahapan penyusunan SSK
sesuai dengan pedoman penyusunan SKK yang telah berlaku selama ini.











































Gambar I.2. Proses Penyusunan Rencana Induk

Permasalahan yang Dihadapi
1. Masalah Kelembagaan
2. Masalah Teknis dan
Lingkungan
3. Masalah Pembiayaan
4. Masalah Peraturan
Perundangan
5. Masalah peran serta
masyarakat dan Swasta
Rencana Program Investasi Pengembangan SPAL
Rencana Tahapan Pelaksanaan Kegiatan:
- Jangka Pendek/Tahap Mendesak
- Jangka Menengah
- Jangka Panjang

Kebijakan Pengembangan Sistem PAL
Pengumpulan Data
1. Data sekunder
2. Data Primer
Data Kondisi Daerah Rencana
1. Deskripsi daerah rencana
2. Kondisi fisik
3. Tata Ruang Kota
4. Kependudukan
5. Prasarana kota yang terkait
6. Kondisi sosial ekonomi
masyarakat
7. Tingkat kesehatan penduduk
Data Kondisi Eksisting Sistem
Pengelolaan Air Limbah
Teknis:
1. Kinerja pelayanan
2. Tingkat pelayanan
3. Periode pelayanan
4. Cakupan pelayanan
5. Kinerja instalasi dan jaringan
perpipaan
6. Jumlah dan kinerja
peralatan/perlengkapan
7. Sistem pengolahan
8. Prosedur dan kondisi operasi
dan pemeliharaan
Non Teknis:
1. Kondisi dan kinerja keuangan
2. Kondisi dan kinerja karyawan
3. Kinerja kelembagaan
4. Jumlah pelanggan
- Strategi pengembangan prasarana
- Strategi pengembangan kelembagaan
- Strategi pengembangan peraturan dan perundangan
- Strategi pengembangan edukasi dan peran masyarakat
- Strategi pengembangan ekonomi dan pembiayaan

- Tujuan & Target Penanganan
- Pilihan Arah Pengembangan
- Penetapan Arah Pengembangan
- Strategi Transformasi Sistem
Setempat menjadi Terpusat
Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah
Analisis
SWOT
- Pembagian Zona Perencanaan
- Arah Pengembangan SPAL
pada Daerah Permukiman Baru
G.1. Pengumpulan dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi daerah rencana, data
kondisi eksisting sistem pengelolaan air limbah, dan data permasalahan
yang dihadapi saat ini. Cara pengumpulan dan analisis data untuk
menyusun Rencana Induk SPAL dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder
Merupakan pengumpulan data yang sudah ada, baik berupa data
statistik, data hasil survei dan studi terkait, NSPM serta kebijakan dan
pengaturan. Selanjutnya dilakukan analisis untuk proyeksi kebutuhan
sesuai periode perencanaan induk 20 tahun yang akan datang.
2. Pengumpulan dan Analisis Data Primer
Merupakan pengumpulan data yang dilakukan melalui pekerjaan
survey secara langsung ke lokasi pengelolaan air limbah pengambilan
sampling dan penyelidikan laboratorium yang dipandang perlu untuk
menyusun Rencana Induk SPAL yang mengacu pada studi EHRA
(EHRA = Environment And Health Risks Assessment).
3. Studi EHRA (EHRA = Environment And Health Risks Assessment)
Studi EHRA adalah sebuah survey partisipatif di tingkat
Kabupaten/Kota untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan
higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga.
EHRA adalah studi yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
menerapkan dua teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan
pengamatan.
Adapun tujuan dari studi EHRA adalah untuk mengumpulkan data
primer tentang gambaran situasi sanitasi dan perilaku yang berisiko
terhadap kesehatan lingkungan kabupaten/kota pada saat ini, secara
khusus tujuannya adalah sebagai berikut :
a. Mendapatkan gambar kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang
berisiko terhadap kesehatan lingkungan.
b. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan
sanitasi.
c. Menyediakan dasar informasi yang valid dalam penilaian risiko
kesehatan lingkungan.
Studi ini berfokus pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, yang
masing-masing terdiri dari :
a. Fasilitas sanitasi
Fasilitas sanitasi yang mencakup :
1) Sumber air minum
2) Layanan pembuangan sampah
3) Jamban
4) Saluran pembuangan air limbah
b. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat yang mencakup :
1) Buang air besar
2) Cuci tangan pakai sabun,
3) Pengelolaan air minum rumah tangga,
4) Pengelolaan sampah dengan 3R
5) Pengelolaan air limbah rumah tangga (drainase lingkungan)
c. Tahapan Studi EHRA
Sementara itu, tahapan-tahapan dalam studi EHRA adalah sebagai
berikut :
1) Pembentukan tim studi EHRA
Studi EHRA memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak dan
tidak hanya bisa dilaksanakan oleh Pokja Kabupaten/Kota
semata, agar efektif, Pokja Sanitas Kabupaten/Kaota diharapkan
bisa mengorganisir pelaksanaan secara menyeluruh.
2) Penentuan target area survey
Metoda penentuan target area survei dilakukan secara geografi
dan demografi melalui proses yang dinamakan klastering. Hasil
klastering ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai indikasi
awal lingkungan berisiko. Proses pengambilan sampel
dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah
Probability Sampling dimana semua anggota populasi
memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Sementara
metoda sampling yang digunakan adalah Cluster Random
Sampling. Penentuan target area survey Tim Studi EHRA
melibatkan Camat agar informasi yang di dapatkan lebih akurat.
Adapun kriteria penetapan klaster antara lain :
a) Kepadatan penduduk, yaitu jumlah penduduk per luas
wilayah. Pada umumnya tiap kabupaten/ kota telah
mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan
tingkat kecamatan dan kelurahan/ desa.
b) Angka kemiskinan, dengan indikator yang datanya mudah
diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi
sosial ekonomi setiap kecamatan atau kelurahan/ desa.
Sebagai contoh ukuran angka kemiskinan bisa dihitung
berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan
Keluarga Sejahtera 1 dengan formula sebagai berikut:

( Pra-KS + KS-1)
Angka kemiskinan = ---------------------------------- X 100%
KK

c) Daerah/wilayah yang dialiri sungai/ kali /saluran
drainase/ pesisir saluran irigasi dengan potensi digunakan
sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat
setempat
d) Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman
masyarakat dengan parameter ketinggian air, luas daerah
banjir/ genangan, lamanya surut.

3) Pelatihan Enumerator dan Entri Data
EHRA merupakan sebuah survey partisipatif di tingkat kota
untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higienitas serta
perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang
dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program
sanitasi termasuk advokasi di tingkat kota sampai tingkat
kelurahan. Komponen penting dalam pelaksanaannya adalah
enumerator dan data entri. Berdasarakan hall tersebut perlu
dilaksanakan pelatihan yang bertujuan untuk:
a) Melatih tenaga enumerator dan data entri untuk kegiatan
survey EHRA.
b) Menjelaskan tugas coordinator dan supervisor di lapangan
dalam survey EHRA.
4) Pelaksanaan Survey dan Entri Data
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan survey
adalah sebagai berikut :
a) Persiapan logistik
b) Persiapan E-Numerator
c) Persiapan Supervisor
d) Pelaksanaan survey EHRA
Output dari pelaksanaan survey ini adalah :
a) Terisinya kuisioner dengan lengkap oleh enumerator dan di
cek oleh supervisor dan koordinator wilayah.
b) Terisinya lembar spot check.
c) Terisinya laporan harian dan rekap harian oleh supervisor.
Setelah survey dilakukan, selanjutnya data yang telah
dikumpulkan, dimasukkan dan dikumpulkan menjadi satu
untuk diolah. Kuisioner yang telah dikumpulkan kemudian siap
untuk dientri ke dalam program Epi-info.

5) Analisis Hasil Studi EHRA
Data hasil entri yang siap dianalisa dengan menggunakan SPSS.
Hasil analisa dari studi EHRA menjadi bahan masukan bagi
penyusunan buku putih dan berperan dalam penentuan area
beresiko sanitasi. Di samping itu, analisa studi EHRA juga
menjadi input untuk penyusunan strategi Sanitasi Kota.
Selanjutnya dilakukan analisis untuk proyeksi kebutuhan sesuai
periode perencanaan induk 20 tahun yang akan datang.
Pengumpulan Data, meliputi :
G.1.1. Data kondisi daerah rencana;
Berisi semua data baik primer maupun sekunder yang berhubungan
dengan penyusunan Rencana Induk SPAL, data tersebut adalah :
1. Deskripsi Daerah Rencana
Berupa uraian singkat mengenai daerah rencana. Uraian ini berisi
tentang letak dari daerah rencana secara geografis (berdasarkan
lintang dan bujur) serta batas-batas (Utara, Selatan, Timur dan Barat)
dari daerah rencana.
2. Kondisi Fisik
Data kondisi fisik daerah rencana sangat penting karena ikut
menentukan sistem pengelolaan air limbah. Data-data yang
diperlukan meliputi :
a. Topografi
Kondisi topografi ikut menentukan sistem pengelolaan air
limbah, seperti kondisi lahan yang landai sulit menerapkan
sistem perpipaan bila dibandingkan dengan lahan yang miring
atau curam. Sedangkan kondisi yang berbukit-bukit mungkin
lebih menguntungkan menggunakan sistem inseptor. Data
topografi harus dilengkapi dengan peta daerah rencana yang
dilengkapi dengan kontur.
b. Iklim
Data iklim diperlukan untuk perencanaan sistem instalasi
pengolahan air limbah terutama suhu dan penyinaran matahari.
Curah hujan sangat mempengaruhi kualitas air sungai serta
tingkat infiltrasi terhadap jaringan air limbah. Data iklim ini
meliputi kecepatan angin, penyinaran matahari, kelembaban,
suhu udara, dan curah hujan. Untuk curah hujan diperlukan data
lebih banyak, yaitu data 10 tahun terakhir.
c. Sungai dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air
Analisa pencemaran sungai diperlukan untuk memperkirakan
secara teoritis tingkat pencemaran yang sudah terjadi dan yang
akan terjadi dimasa mendatang karena pengaruh pembuangan
air limbah ke sungai. Analisa pencemaran sungai diperlukan
untuk mengetahui upaya yang perlu dilakukan dalam
meningkatkan pengelolaan air limbah domestic, serta dalam
rangka rencana pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh.
Parameter yang dipakai adalah BOD, karena pencemaran sungai
terjadi akibat pembuangan limbah domestik. Data yang
dibutuhkan yaitu panjang sungai, daerah yang dilewati,
pemekaran daerah yang dilewati, debit sungai serta keadaan
sekitar daerah aliran sungai (DAS) serta rencana pengembangan
pengelolaan sumber daya air. Data ini juga dilengkapi dengan
peta yang menggambarkan sungai yang ada di daerah rencana.
Analisa pencemaran sungai pada tahun yang akan datang dapat
diperoleh dengan mengkorelasikan data proyeksi penduduk
yang akan menjadi beban sungai. Dari analisa tersebut maka
didapatkan proyeksi pencemaran sungai dengan menganalisa
beban sungai dari tiap-tiap daerah alirannya. Hasil analisa ini
juga dapat dilengkapi dengan peta yang menggambarkan hal
tersebut.
d. Laut
Data yang dibutuhkan adalah perkiraan penyebaran polutan di
laut yang dipengaruhi oleh hal-hal berikut, yaitu :
1) Kedalaman dasar laut (kontur)
Kedalaman dasar laut didapat dari peta topografi dasar laut
yang dikeluarkan oleh TNI Angkatan Laut dan Jawatan
Hidro-Oseanografi.
2) Tinggi muka air
Tinggi muka air laut didapat dari data pasang surut yang
dikeluarkan oleh TNI Angkatan Laut dan Jawatan Hidro-
Oseanografi.
3) Arah dan kecepatan arus
Arah dan kecepatan arus didapat dari Jawatan Hidro-
Oseanografi.
4) Prakiraan distribusi dan pencemaran laut
Merupakan gabungan dari data-data diatas sehingga dapat
diketahui arah sebaran dari pencemaran laut.
5) Kualitas air laut
Berdasarkan prakiraan distribusi dan pencemaran laut maka
dapat diketahui titik-titik pengambilan sampel air laut untuk
mengetahui kualitas dan tingkat pencemarannya.
e. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah sangat erat hubungannya dengan sistem
sanitasi setempat seperti tangki septik selalu memerlukan
bidang resapan melalui lapisan tanah. Data permebilitas tanah
ini berdasarkan survei perkolasi dan dilengkapi dengan peta
tingkat permeabilitas tanah di daerah rencana.
f. Air Tanah
Kualitas air tanah sangat erat kaitannya dengan sistem sanitasi
setempat. Data yang dibutuhkan adalah data kualitas air tanah
dan data tinggi muka air tanah. Untuk mengetahui kualitas air
tanah dilakukan uji kualitas air tanah dengan mengambil sampel
dari sumur penduduk, sedangkan untuk data tinggi muka air
tanah dilakukan dengan survei muka air sumur penduduk.
g. Geologi
Data geologi merupakan data tentang struktur tanah yang ada di
daerah rencana. Data geologi ini dapat ditunjukkan melalui peta
geologi.
3. Tata Ruang Kota
Data yang dibutuhkan untuk tata ruang daerah rencana yaitu data
tentang penggunaan lahan daerah rencana (dilengkapi dengan peta),
dan RURTK yang dibuat oleh masing-masing daerah rencana. Data
ini juga dilengkapi dengan data fasilitas-fasilitas pelayanan kota
seperti hotel, rumah makan, kantor pemerintahan dan industri.
Peta penggunaan lahan untuk sarana umum antara lain Sistem
Penyediaan Air Minum, Sistem Pengelolaan Air Limbah, Sistem
Pengelolaan Persampahan, serta Sistem Drainase Perkotaan, sangat
diperlukan dalam penyusunan rencana induk sistem pengelolaan air
limbah baik terpusat maupun setempat.
4. Kependudukan
Informasi kependudukan diharapkan dalam time series minimal 5
tahun antara lain: jumlah penduduk, laju pertumbuhan Penduduk,
struktur umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, ketenagakerjaan,
mata pencaharian, tingkat pendapatan dan lain-lain.
a. Penduduk Saat ini
Data penduduk saat ini yaitu jumlah dan kepadatan penduduk
di suatu daerah sangat menentukan terhadap cara penanganan
sanitasinya terutama pembuangan air limbah dan produksi air
limbah penduduk. Data tentang kepadatan penduduk saat ini
dapat pula dilengkapi dengan peta kepadatan penduduk.
b. Proyeksi Penduduk
Proyeksi penduduk didasarkan pada asumsi dari komponen-
komponen laju pertumbuhan penduduk, yaitu kelahiran,
kematian, dan perpindahan (migrasi). Proyeksi penduduk
penyelenggaraan SPAL dilakukan untuk 20 tahun. Proyeksi
penduduk ini memerlukan data jumlah penduduk pada tahun-
tahun sebelumnya, setidaknya data-data 10-20 tahun sebelum
periode perencanaan. Data kependudukan dapat diperoleh baik
secara primer maupun data sekunder dari BPS. Dari hasil
proyeksi tersebut dapat diketahui pula proyeksi kepadatan
penduduk pada 20 tahun yang akan datang.
5. Prasarana Kota yang Terkait
Dalam rangka perlindungan dan pelestarian air, selain data dan
gambar Pengelolaan Sumber Daya Air, diperlukan juga data dan
gambar Sistem Penyediaan Air Minum, Sistem Pengelolaan Air
Limbah, Sistem Pengelolaan Persampahan, serta Sistem Drainase
Perkotaan yaitu sebagai berikut :
a. Air Minum
Air minum sangat erat kaitannnya dengan Rencana Induk SPAL.
Data tentang air bersih yang dibutuhkan adalah sumber air
minum yang digunakan penduduk, tingkat pemakaian dan
proyeksi kebutuhan air minum untuk 20 tahun yang akan
datang. Debit air limbah yang berasal dari buangan air minum
dapat diketahui pula untuk 20 tahun yang akan datang. Data-
data tersebut dilengkapi dengan peta presentasi pelayanan oleh
PDAM dan peta sumber air di daerah rencana.
b. Persampahan
Persampahan di daerah rencana perlu dicermati, karena
pengelolaan sampah yang kurang baik dapat menimbulkan
pencemaran terhadap lingkungan dan badan air baik langsung
maupun tidak langsung. Data yang dibutuhkan yaitu data
timbulan sampah, jenis-jenis sampah, kondisi pelayanan
persampahan, dan data-data lain tentang persampahan di
daerah rencana. Dari korelasi dengan proyeksi penduduk maka
didapat pula proyeksi timbulan sampah minimal 10 tahun yang
akan datang. Datadata dilengkapi dengan peta sistem
pengelolaan sampah yang ada, antara lain meliputi Lokasi TPA,
TPS, dan Sarana & Prasarana Persampahan lainnya.
c. Drainase Perkotaan
Saluran pematusan air hujan atau drainase sangat erat
hubungannya dengan air limbah, karena pada umumnya
penduduk membuang air limbah rumah tangga ke saluran ini.
Data yang diperlukan adalah data jaringan drainase di daerah
rencana, panjang saluran, keadaan saluran, serta kualitas air
dalam saluran. Dilengkapi dengan peta perkiraan genangan
yang umumnya terjadi apabila musim hujan. Dari korelasi
dengan pertumbuhan penduduk maka didapat pula proyeksi
penggunaan lahan untuk 20 tahun.
6. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
a. Pendapatan dan Sumber Mata Pencaharian
Dalam pemilihan teknologi pengelolaan air limbah, salah satu
faktor penting adalah kemampuan penduduk membiayai
operasi setiap teknologi yang diusulkan. Dimana kemampuan
ini erat hubungannya dengan pendapatan dan sumber mata
pencaharian penduduk. data yang dibutuhkan adalah data
pendapatan penduduk, mata pencaharian, pengeluaran
penduduk, dan pengeluaran penduduk untuk pengelolaan air
minum.
b. Kepemilikan Rumah
Data yang diperlukan adalah kondisi kepemilikan rumah di
daerah rencana, proyeksi perumahan sampai 20 tahun yang
akan datang, luas pekarangan rumah sarta dilengkapi dengan
peta kondisi lahan sisa pekarangan eksisting dan untuk proyeksi
20 tahun yang akan datang. Selain itu, data kondisi kepemilikan
rumah juga diperlukan untuk mengetahui SPAL yang akan
digunakan untuk suatu kawasan perumahan. Apabila suatu
kawasan perumahan real estate dilewati oleh jaringan pipa
SPALT, maka pengembangnya wajib untuk melakukan
penyambungan saluran air limbah setiap rumah ke jaringan pipa
terpusat tersebut, akan tetapi apabila di Kota tersebut tidak
terdapat SPAL, maka pengembang kawasan perumahan tersebut
harus membuat jaringan dan IPAL sendiri dan dikelola oleh
pengembang kawasan perumahan tersebut.
c. Non Permukiman
Yang dimaksud non pemukiman disini adalah daerah komersial
dan daerah non komersial. Yang menjadi perhatian adalah
daerah komersial seperti daerah jasa, perdagangan dan industri.
Data yang diperlukan adalah pendapatan rata-ratanya, kondisi
bangunannya, pengeluarannya untuk pemenuhan air minum,
dan proyeksinya untuk 20 tahun yang akan datang.
7. Tingkat Kesehatan Penduduk
Tingkat kesehatan penduduk sangat erat kaitannya dengan sistem
sanitasinya. Maka diperlukan data-data tentang penyakit yang
sering timbul, khususnya yang berhubungan dengan air limbah.
Selain itu diperlukan data fasilitas kesehatan yang ada di daerah
rencana.

G.1.2. Data Kondisi Eksisting SPAL
Sebelum menetapkan rencana pengembangan di sektor air limbah
permukiman perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana kondisi
pengelolaan eksisting dan upaya pengelolaan dari pemerintah.
Data kondisi sistem Pengelolaan Air Limbah yang ada dikelompokkan
dalam Data Teknis dan Data Non Teknis.
1. Data Teknis
Data teknis yang diperlukan untuk SPALT antara lain meliputi :
a. Kinerja Pelayanan
b. Tingkat Pelayanan
c. Periode Pelayanan
d. Cakupan Pelayanan
e. Kinerja Instalasi dan Jaringan Perpipaan
f. Jumlah dan Kinerja Peralatan/ Perlengkapan
g. Sistem Pengelolaan
h. Prosedur dan Kondisi Operasi dan Pemeliharaan
Sedangkan data teknis yang diperlukan untuk SPALS antara lain
adalah :
a. Pemetaan masyarakat tentang kondisi sumber air dan akses
terhadap sarana sanitasi yang tersedia.
b. Kelayakan Teknis di Lapangan
c. Prediksi Perkembangan Lingkungan Permukiman, dan
d. Prediksi Peningkatan Sosial Ekonomi Masyarakat
Sedangkan untuk IPLT, data teknis yang diperlukan antara lain :
a. Peta Wilayah dengan data Topografi
b. Data Sosial dan Ekonomi
c. Data geografi
d. Data Geologi, dan data lain yang relevan

2. Data Non Teknis
Data non teknis yang diperlukan untuk SPALT antara lain meliputi :
a. Kondisi dan Kinerja Keuangan
b. Kondisi dan Kinerja Karyawan
c. Kinerja Kelembagaan
d. Jumlah Pelayanan
Sedangkan data non teknis yang diperlukan untuk SPALS antara lain
adalah :
a. Kondisi/ Permukiman
b. Kebiasaan/ Perilaku
c. Jumlah Calon Penerima Manfaat untuk 5 tahun ke depan

3. Penyusunan Buku Putih Sanitasi
Proses penyusunan buku putih sanitasi meliputi tahapan-tahapan
berikut ini :
a. Internalisasi dan Penyamaan Persepsi
Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan adanya kesepahaman
dan kesamaan persepsi di antara anggota Pokja tentang adanya
buku putih sanitasi yang menjadi dasar penyusunan dokumen SSK
Kabupaten/Kota. Output dari kegiatan ini adalah adanya
kesepakatan rencana kerja penyusunan Buku Putih Sanitasi
Kabupaten/Kota.

b. Penyiapan Profil Wilayah
Tujuan kegiatan penyiapan profil wilayah dalam Buku Putih
Sanitasi adalah untuk menjelaskan kondisi saat ini dari
Kabupaten/ Kota (termasuk kondisi geografis, geohidrolis,
administratif, aspek demografis, tata ruang wilayah, kondisi sosial
budaya, perekonomian dan keuangan daerah, serta kelembagaan
Pemerintah Daerah. Output yang diharapkan dalam kegiatan ini
adalah terkumpulnya datas sekunder dan dapat menggambarkan
profil wilayah suatu Kabupaten/ Kota yang bersangkutan.

c. Penilaian Profil Sanitasi
Kegiatan ini bertujuan agar menghasilkan data dasar (baseline).
Data dasar yang dimaksud dapat membantu memberikan
gambaran lengkap dan menyeluruh mengenai data teknis/non-
teknis yang mencakup berbagai aspek tentang sanitasi di
Kabupaten/Kota. Output yang diharapkan adalah tersusunnya
peta sistem sanitasi bagi tiap komponen dan lokasinya yang
spesifik, adanya data hasil survei atau kajian yang disyaratkan
untuk penyusunan Buku Putih Sanitasi, serta teridentifikasinya
rencana program dan kegiatan pengembangan sanitasi atau
kegiatan sanitasi yang sedang berlangsung.

d. Penetapan Area Berisiko Sanitasi
Kegiatan ini bertujuan untuk menetapkan prioritas wilayah
pengembangan sanitasi dan pengembangan sanitasi tersebut.
Prioritas yang dimaksud bertujuan untuk menentukan arah
pembangunan sanitasi Kabupaten/Kota di masa mendatang.
Output dari kegiatan ini dapat menghasilkan posisi pengelolaan
sanitasi saat ini di Kabupaten/Kota.

e. Finalisasi Buku Putih
Buku Putih Sanitasi yang telah selesai kemudian disahkan oleh
Bupati/Walikota setempat. Hal terpenting dalam melakukan
finalisasi buku putih adalah membangun pemahaman dan persepsi
yang sama di lingkungan internal SKPD-SKPD mengenai dokumen
putih sanitasi yang telah disusun. Proses ini perlu dilakukan
sebelum Pokja menginformasikan hasil buku putih ke masyarakat
yang lebih luas. Output dari kegiatan ini adalah tersusunnya Draf
Buku Putih Sanitasi Kabupaten/Kota, terselenggaranya kegiatan
Konsultasi Publik Buku Putih Sanitasi, dan Pengesahan Buku Putih
Sanitasi Kabupaten/Kota oleh Kepala Daerah (Bupati/Walikota).

Disamping itu, diperlukan juga data-data yang meliputi :
- Peta Dasar dan Peta Identifikasi
Peta dasar dan peta identifikasi permasalahan yang diperlukan
meliputi:
a. Peta tata guna lahan eksisting;
b. Peta kepadatan penduduk;
c. Peta kualitas air tanah/sumur penduduk dengan parameter E. coli;
d. Peta kualitas air sungai dengan parameter E. coli dan BOD;
e. Peta kualitas air drainase (pembuangan grey water) dengan
parameter E. Coli dan BOD;
f. Peta water borne disease;
g. Peta pelayanan PDAM; dan
h. Peta fasilitas sanitasi dan tingkat pelayanan sanitasi (on-site dan off-
site).
Setelah mengetahui kondisi eksisting daerah perencanaan, kemudian
dilakukan identifikasi permasalahan yang ada di daerah perencanaan
untuk mengetahui besarnya tingkat pelayanan yang telah dilakukan.
- Identifikasi Permasalahan Eksisting
Permasalahan tersebut dapat berupa permasalahan dalam bidang :
a. Teknis, mencakup spesifikasi tangki septic eksisting, yang
berkaitan dengan permeabilitas tanah, lahan yang tersedia dan
tingkat pengetahuan teknis dari masyarakat;
b. Budaya, mencakup kebiasaan penduduk membuang air limbah;
c. Ekonomi, mencakup kemampuan membangun fasilitas sanitasi
agar dapat diketahui mana yang mesti dibantu pemerintah;
d. Lingkungan, mencakup dampak dari keseluruhan permasalahan
tersebut terhadap keadaan sekitarnya agar dapat ditanggulangi
sesuai skala prioritas.
- Data Kondisi Eksisting SPAL yang diperlukan
Berikut adalah data kondisi eksisting SPAL yang perlu dikumpulkan:
a. Tingkat Pelayanan
Data kondisi sistem pengelolaan air limbah dalam hal ini tingkat
pelayanannya adalah sejauh mana pelayanan air limbah yang ada
di area pelayanan. Data dapat berupa jumlah MCK/cubluk, pipa
penyalur air limbah (jika ada), tangki septik, jumlah penduduk
terlayani, kawasan pelayanan, dan data lain yang mencerminkan
pengelolaan air limbah yang ada di lapangan saat ini.
b. Sistem Pengelolaan
Meliputi :
1) Aspek Teknis
Data yang dibutuhkan berupa data teknis meliputi data
mengenai kinerja pelayanan, tingkat pelayanan, periode
perencanaan, cakupan pelayanan, kinerja instalasi dan jaringan
perpipaan, jumlah dan kinerja peralatan/ perlengkapan
(termasuk sarana&prasarana air limbah), sistem pengelolaan
air limbah yang digunakan oleh penduduk di daerah rencana,
serta prosedur dan kondisi operasi dan pemeliharaan.
2) Aspek Kelembagaan
Data yang diperlukan adalah bentuk lembaga pengelola air
limbah yang ada di daerah rencana, struktur organisasi, dan
TUPOKSI lembaga pengelola.
3) Aspek Hukum
Data yang diperlukan adalah peraturan perundang-undangan
yang mengatur tentang institusi pengelola, teknis penanganan
limbah, dan tarif retribusi, maupun peraturan lain yang secara
tidak langsung berkaitan dengan air limbah juga harus
mendapatkan perhatian lebih. Contohnya adalah peraturan
tentang daerah aliran sungai dan lain-lain.
4) Aspek Peran Serta Masyarakat dan Swasta
Data yang diperlukan adalah daerah-daerah yang telah
mendapatkan program-program seperti SANIMAS dan
program lainnya.
5) Aspek Pendanaan
Data yang diperlukan adalah sumber pendanaan, jumlah
pendapatan, biaya OM, dan besaran tarif/retribusi.

G.1.3. Permasalahan yang Dihadapi
Langkah pertama sebelum menentukan arah dan strategi pengembangan
sarana dan prasarana air limbah, terlebih dahulu harus disepakati
mengenai permasalahan pencemaran air limbah, baik pada area skala
kawasan maupun kota.
Permasalahan yang dihadapi dapat berupa masalahmasalah sebagai
berikut :
1. Masalah Kelembagaan
Permasalahan kelembagaan dapat berupa masalah bentuk institusi
yang mengelola, dasar hukum pembentukan institusi yang masih
belum ada, atau masalah sumber daya manusia yang ada dalam
kelembagaan tersebut.
2. Masalah Teknis dan Lingkungan
Permasalahan yang berhubungan dengan aspek teknis dalam
pengelolaan air limbah pada umumnya berhubungan dengan
pengelolaan yang dilakukan penduduk saat ini, baik itu sistem
setempat maupun sistem terpusat. Berdasarkan kondisi tersebut,
permasalahan teknis pencemaran air limbah dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Pencemaran Air Limbah saat ini
Formulasi permasalahan pencemaran air limbah saat ini dilakukan
dengan membandingkan tingkat pencemaran dengan standar
lingkungan atau standar kesehatan yang berlaku.
b. Pencemaran Air Limbah dimasa mendatang
Formulasi permasalahan pencemaran air limbah dimasa
mendatang (20 tahun proyeksi) dilakukan dengan
memproyeksikan pencemaran air limbah yang akan terjadi dengan
skenario tidak melakukan tindakan apapun terhadap pencemaran
air limbah.
Dalam uraian permasalahan teknis ini harus mencerminkan
keadaan sesungguhnya sistem pengelolaan air limbah yang
dilakukan penduduk saat ini yang dilengkapi dengan data-data
yang mendukung.
3. Masalah Pembiayaan
Permasalahan biaya yang telah terjadi berhubungan dengan sumber-
sumber pembiayaan pengelolaan SPAL, besarnya alokasi dana APBD,
tarif retribusi yang ditetapkan, mekanisme penarikan retribusi, dan
realisasi penerimaan retribusi saat ini.
4. Masalah Peraturan Perundangan
Permasalahan peraturan perundangan berupa permasalahan dalam
implementasi dan kekinian peraturan-peraturan terkait dalam
pengelolaan SPAL dan penerapan sanksi yang diberikan apabila ada
yang melanggar peraturan yang telah dibuat selama ini.
5. Masalah Peranserta Masyarakat dan Swasta
Permasalahan peranserta masyarakat dan swasta berupa permasalahan
dalam bidang budaya dan sosial ekonomi. Permasalahan budaya
seperti kebiasaan penduduk untuk membuang air limbah langsung ke
saluran atau ke sungai juga perlu diperhatikan. Dijelaskan pula akibat
dari perilaku atau kebiasaan penduduk setempat dalam perilakunya
membuang air limbah.
6. Masalah Sosial dan Ekonomi
Permasalahan sosial ekonomi hubungannya erat dengan kemampuan
penduduk memiliki fasilitas sanitasi yang sehat. Faktor-faktor yang
mempengaruhinya berupa tingkat pendapatan, kerelaan, dan
kesediaan penduduk untuk memenuhi tingkat sanitasi yang sehat.
Analisis terhadap besar kecilnya dampak yang ditimbulkan dari
permasalahan-permasalahan tersebut, dapat didasarkan pada beberapa
pedoman. Pedoman yang dipakai dalam menganalisa permasalahan
tersebut adalah:
1. Data kasus penyakit yang berhubungan dengan air
2. Kualitas air sungai harus sesuai dengan ketentuan pemerintah
3. Kualitas air laut harus sesuai dengan ketentuan pemerintah.
4. Kualitas air tanah yang digunakan sebagai air bersih tidak
mengandung coli tinja.
Berdasarkan permasalahan yang telah dianalisa, maka dapat diberikan
uraian tentang target penanganan untuk tiap-tiap permasalahan tersebut.
Penanganan tersebut dengan memperhatikan tingkat pencemaran air
sungai, tingkat pencemaran laut dan tingkat pencemaran air tanah.

G.2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan

G.2.1. Umum
Setelah diketahui kondisi permasalahan serta pengelompokkan
pelayanan di sektor air limbah maka perlu disusun upaya penanganan
sesuai dengan tingkat prioritasnya. Namun sebelumnya harus disusun
strategi dan target yang akan dicapai. Strategi tersebut harus sejalan
dengan dan tidak bertentangan dengan yang telah digariskan
pemerintah.
Strategi ini harus sesuai dengan arahan kebijakan nasional dalam
bidang pengelolaan air limbah, kebijakan daerah seperti RURTK,
Millenium Development Goal (MDG), dan Deklarasi Kyoto.
Target yang akan dicanangkan harus realistis dan sesuai dengan
kemampuan membangun dari pemerintah serta tidak terlalu
memberatkan masyarakat. Sedangkan strategi yang akan disusun
mencakup pembiayaan sistem sanitasi, berikut sumber pendanaannya
untuk pembangunan jangka mendesak, jangka menengah dan jangka
panjang termasuk lembaga pengelola dan dampak lingkungan.

G.2.2. Tujuan dan Target Penanganan
1. Jangka Pendek
Tujuan penanganan tahap jangka pendek ini adalah dilaksanakan
dalam satu sampai dua tahun anggaran. Tujuannya adalah memenuhi
kebutuhan dasar sanitasi sebagai dasar pengelolaan air limbah.
Kebutuhan dasar ini didapat setelah menganalisa data eksisting
pengelolaan air limbah saat ini.
2. Jangka Menengah
Program jangka menengah mencakup tahapan pembangunan 5 tahun
setelah dilaksanakan program jangka pendek. Program jangka
menengah ini sesuai dengan permasalahan yang ada dan strategi
yang akan dilaksanakan untuk pemenuhan sistem pengelolaan dan
pembuangan air limbah untuk daerah rencana.
3. Jangka Panjang
Program jangka panjang merupakan rangkaian dari keseluruhan
pembangunan di sektor air limbah untuk -20 tahun yang akan datang.
Tujuan pembangunan ini untuk menekan laju pencemaran terhadap
badan air dan air tanah serta mengurangi tingkat pertambahan kasus
penyakit yang disebabkan air limbah yang pada akhirnya diharapkan
dapat menunjang produktifitas penduduk serta membantu
peningkatan potensi daerah.


G.2.3. Pilihan Arah Pengembangan
Sebelum menetapkan rencana induknya, setiap kabupaten/kota harus
terlebih dahulu menetapkan pilihan arah pengembangan sarana dan
prasarana air limbah untuk masa 20 tahun mendatang. Pilihan arah
pengembangan sarana dan prasarana air limbah yang harus
dipertimbangkan antara lain adalah:
- Mengoptimalkan sistem setempat (on-site) yang sudah berjalan;
- Mengembangkan sistem off-site pada kawasan tertentu;
- Mengembangkan sistem off-site skala kota; dan
- Mengembangkan sistem off-site dengan teknologi maju.
Metode pemilihan arah pengembangan sarana dan prasarana air limbah,
minimal harus dianalisis dengan metode SWOT, yaitu analisis Kekuatan
(Sthrenghts), Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunities), dan Ancaman
(Threats) atau dengan metoda lainnya.


G.2.4. Penetapan Arah Pengembangan
Tahapan dalam penetapan arah pengembangan terdiri dari :
1. Analisis SWOT Arah Pengembangan SPAL
Analisis SWOT (Sthrenghts, Weakness, Opportunities, Threats)
merupakan alat bantu perencanaan strategis yang dapat membantu
perencanaan penetapan arah pengembangan sarana dan prasarana air
limbah dimasa mendatang. Keampuhan analisis SWOT ini terletak
pada kemampuan para penentu strategi pengembangan SPAL dalam
memaksimal peranan faktor internal yaitu kekuatan (S) dan
meminimalkan kelemahan (W), serta memanfaatkan faktor eksternal
yaitu peluang (O) dan mampu menekan dampak tantangan (T) yang
harus dihadapi. Analisis SWOT untuk peningkatan dan
pengembangan sarana dan prasarana air limbah pada zona prioritas
di permukiman terbangun, dilakukan dengan pertimbangan sebagai
berikut:
a. Kondisi sistem pengelolaan air limbah;
b. Kondisi tingkat pencemaran air tanah;
c. Kondisi tingkat pencemaran badan air penerima;
d. Kondisi sosial ekonomi masyarakat;
e. Kondisi kesehatan masyarakat;
f. Tingkat kesediaan membayar retribusi (willingness to pay);
g. Kondisi prasarana lingkungan permukiman lainnya (jalan,
drainase, dan sebagainya); dan
h. Proyeksi kapasitas pendanaan investasi dari APBD.
Aspek-aspek tersebut kemudian dievalusi terhadap faktor internal
(SW) dan faktor eksternal (OT) dengan menggunakan metode
pembobotan dan skoring. Hasil evaluasi ini kemudian diplotkan
dalam matrik SWOT di bawah ini sesuai dengan besaran nilai
perkalian bobot dan nilai untuk setiap faktor SWOT yang dianalisis.













Gambar I.3. Matriks SWOT


Berdasarkan analisis SWOT tersebut, pengembangan sarana dan
prasarana air limbah air limbah dapat digambarkan atas 4 kuadran,
seperti pada contoh Gambar I.4. Masing-masing kuadran menujukkan
strategi pengembangan SPAL yang berbeda, yaitu sebagai berikut :
a. Kuadran I (WT) : strategi yang diambil adalah Strategi Defensif/
Optimalisasi, sebab kondisi SPAL yang masih lemah dan penuh
dengan tantangan.
b. Kuadran II (WO): strategi yang diambil adalah Strategi Selektif
(Turn Arround), sebab kondisi SPAL memiliki banyak peluang
untuk semakin berkembang, akan tetapi kondisinya masih lemah
c. Kuadran III (SO): strategi yang diambil adalah Strategi Agresif,
sebab kondisi SPAL yang kuat dan banyak peluang untuk semakin
berkembang.
d. Kuadaran IV (ST): strategi yang diambil adalah Strategi
Diversifikasi/teknologi lebih maju, sebab kondisi SPAL yang
sangat kuat akan tetapi penuh dengan tantangan.


O
W
S
T
Kuadran II
Kuadran IV
Kuadran III
Kuadran I
WO SO
ST WT

Catatan : A : Posisi Saat ini
B : Posisi Potensi Pengembangan 20 Tahun mendatang

Gambar I.4. Matriks SWOT

Penggambaran koordinat nilai pembobotan dikalikan skor akan
menunjukkan posisi pada saat sekarang (tahun awal perencanaan),
dalam Gambar I.4 dicontohkan sebagai titik A dan pada posisi titik B
pada perkiraan pengembangan 20 tahun mendatang. Dengan
demikian perubahan strategi yang harus digunakan akan terlihat
pada matriks tersebut di atas.

2. Penetapan arah pengembangan
Penetapan arah pengembangan sarana dan prasarana air limbah
dapat ditetapkan berdasarkan posisi kuadran hasil analisis SWOT.
Berdasarkan pengelompokan kuadran tersebut, maka grand strategi
arah pengembangan sarana dan prasarana pada masing-masing
kuadran dapat dijelaskan pada gambar I.5.
4
3
B
2
1
A
-4 -3 -2 -1 1 2 3 4
-1
-2
-3
-4
O
T
W S
Kuadran IV Kuadran I
Kuadran III Kuadran II

Gambar I.5. Grand Strategi Arah Pengembangan

Penjelasan:
a. Grand strategi kuadran I : Optimasi sistem setempat
Arah pengembangan strategi ini meliputi :
1) Pengawasan dan pengendalian sarana prasarana sistem air
limbah setempat (individual dan komunal).
2) Optimalisasi pemanfaatan IPLT terbangun.
3) Peningkatan pelayanan penyedotan lumpur tinja melalui :
a) Peningkatan kapasitas armada dan penyedotan secara
berkala.
b) Peningkatan kapasitas IPLT.
4) Pengembangan prasarana air limbah berbasis masyarakat.
b. Grand strategi kuadran II : Pengembangan selektif sistem terpusat
Arah pengembangan strategi ini meliputi :
1) Pengawasan dan pengendalian sarana prasarana sistem air
limbah setempat (individual dan komunal).
2) Optimalisasi pemanfaatan IPLT terbangun.
3) Peningkatan pelayanan penyedotan lumpur tinja melalui:
a) Peningkatan kapasitas armada.
b) Peningkatan kapasitas IPLT.
4) Pengembangan prasarana air limbah berbasis masyarakat.
5) Pengembangan sistem terpusat skala kawasan (IPAL) pada
daerah-daerah prioritas.
Pada strategi ini transformasi dari sistem setempat menjadi sistem
terpusat akan dimulai secara kawasan demi kawasan.
c. Grand strategi kuadran III : Pengembangan agresif sistem terpusat
Arah pengembangan strategi ini adalah :
Mengembangkan sarana dan prasarana Air Limbah terpusat skala
kota, dengan cara sistem terpusat akan ditingkatkan secara
bertahap.
d. Grand strategi kuadran IV : Pengembangan dengan teknologi maju
Arah pengembangan strategi ini merupakan strategi
pengembangan tingkat advance (lanjutan). Arah pengembangan ini
merupakan gambaran kondisi permasalahan pencemaran air
limbah telah demikian serius, sementara sarana prasarana
konvensional sudah tidak memungkinkan dan tidak efektif lagi.
Hal ini menyebabkan diperlukan teknologi pengolahan limbah
lanjut agar kualitas air limbah yang dihasilkan dapat memenuhi
peraturan pemerintah setempat.

3. Strategi Transformasi Sistem Setempat
Transformasi prasarana sistem setempat menjadi sistem terpusat
memberi dampak adanya kebutuhan lembaga untuk mengelola
prasarana yang akan dibangun (terdapat pada Gambar I.6).

Dengan demikian, penetapan arah pengembangan prasarana sistem
terpusat pada daerah permukiman terbangun memerlukan
perencanaan strategis untuk menciptakan dukungan masyarakat dan
mewujudkan lembaga yang sesuai untuk mengelola prasarana
terbangun. Perencanaan strategis tersebut meliputi:
a. Rencana Kampaye Publik (public campaign);
b. Rencana penyusunan Peraturan Daerah (Perda) dan sosialisasi
Perda; dan
c. Rencana pembentukan lembaga pengelola.

Gambar I.6. Transformasi Prasarana Air Limbah Sistem Setempat ke Sistem
Terpusat
G.2.5. Pembagian Zona Perencanaan
1. Daerah Perencanaan
Daerah perencanaan pengembangan SPAL pada daerah terbangun
dibagi atas zona-zona perencanaan dalam satuan sistem perencanaan
dan pengembangan SPAL.
2. Pembagian Zona Perencanaan
Pembagian zona-zona perencanaan pengembangan sarana dan
prasarana air limbah pada daerah terbangun ditetapkan berdasarkan :
a. Keseragaman tingkat kepadatan penduduk;
b. Keseragaman bentuk topografi dan kemiringan lahan;
c. Keseragaman tingkat kepadatan bangunan;
d. Keseragaman tingkat permasalahan pencemaran air tanah dan
permukaan;
e. Kesamaan badan air penerima; dan
f. Pertimbangan batas administrasi.

G.2.6. Penetapan Zona Prioritas
Zona Prioritas adalah zona perencanaan yang mendapat penilaian utama
untuk diprioritaskan dibangun terlebih dahulu dalam kurun waktu 15-20
tahun mendatang.
Perencanaan sarana dan prasarana air limbah di zona prioritas dapat
dibagi atas cluster - cluster untuk mendukung perencanaan
pembangunan secara bertahap dalam kurun waktu 20 tahun mendatang.
Penetapan zona prioritas ditetapkan berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut:
1. Tingkat permasalahan pencemaran air limbah terhadap air tanah dan
badan air penerima;
2. Tingkat kemudahan pelaksanaan;
3. Tingkat kelayakan ekonomi;
4. Tingkat kelayakan keuangan;
5. Kelayakan lingkungan; dan
6. Kelayakan kelembagaan.

G.2.7. Arah Pengembangan SPAL pd Permukiman Baru
1. Pilihan Arah Pengembangan
Pilihan arah pengembangan sarana dan prasarana air limbah pada
daerah permukiman baru adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan sistem setempat (on-site);
b. Mengembangkan sistem terpusat skala kawasan tersendiri; dan
c. Di integrasikan dengan sistem terpusat yang sudah terbangun.
2. Penetapan Arah Pengembangan
a. Permukiman baru yang akan dan sedang dikembangkan oleh
developer wajib memiliki Rencana Induk air limbah tersendiri.
b. Rencana induk Air Limbah kawasan permukiman baru tersebut
harus mengacu pada Rencana Induk air limbah kota.

G.2.8. Strategi Pengembangan Prasarana
1. Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK)
Di dalam program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
(PPSP), proses perencanaan strategis menghasilkan tiga (3) dokumen,
yaitu Buku Putih Sanitasi, SSK, dan Memorandum Program Sanitasi
(MPS). Ketiga dokumen tersebut perlu disiapkan Kabupaten/kota
sebelum implementasi fisik dapat dilakukan. Buku Putih Sanitasi dan
SSK adalah dokumen yang dihasilkan dari pelaksanaan tahap 3 di
dalam PPSP, yaitu Perencanaan Strategis Sanitasi. Di dalam SSK harus
memuat perumusan strategi yang akan dilakukan dalam rangka
pengembangan sanitasi permukiman.
Sementara itu, proses penyusunan SSK adalah :
a. Penyiapan Kerangka Pengembangan Sanitasi
Output dari kegiatan ini adalah disepakatinya visi dan misi Sanitasi
Kabupaten/Kota yang mendukung RPJMD, disepakatinya
infrastruktur sanitasi jangka panjang, disepakatinya tahapan
pengembangan infrastruktur sanitasi dan sistem pendukungnya,
disepakatinya asumsi pendanaan sanitasi Kabupaten/Kota.

b. Penetapan Strategi Percepatan Pembangunan Sanitasi
Berdasarkan Sasaran yang telah ditetapkan, maka strategi untuk
mencapainya dapat disusun dengan memperhatikan hasil
identifikasi isu-isu strategis di dalam Buku Putih Sanitasi.
Terdapat berbagai metode untuk merumuskan strategi,
diantaranya adalah menggunakan analisis SWOT. Pokja dapat
memilih salah satu metode yang paling dikuasai oleh sebagian
besar anggota Pokja. Output yang diharapkan adalah
disepakatinya tujuan, sasaran, dan strategi, serta disepakatinya
indikator capaian dari sasaran yang ditetapkan.

c. Penyusunan Program dan Kegiatan
Kegiatan yang sudah disusun (sebagai bagian dari pelaksanaan
sebuah Program) selanjutnya dibuat indikasi jadwal
pelaksanaannya, volume kegiatan tersebut, indikasi biaya yang
diperlukan, serta indikasi apakah kegiatan itu dapat didanai oleh
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau tidak.
Hasil dari kegiatan ini akan menjadi dasar dan masukan bagi
proses pemograman maupun penganggaran rutin dan formal
terutama di Pemerintah Kabupaten/Kota. Output yang diharapkan
dalam kegiatan ini adalah disepakatinya daftar program dan
kegiatan percepatan pembangunan sanitasi dan teridentifikasinya
indikasi pendanaan kegiatan dari APBD, APBD Provinsi, dan
APBN.

d. Finalisasi SSK
Hal terpenting adalah membangun pemahaman dan persepsi yang
sama di lingkungan internal SKPD-SKPD tentang dokumen SSK
yang telah disusun, terutama terkait dengan Program dan Kegiatan
yang dirumuskan. Hal ini akan menjamin hasil dari SSK masuk di
dalam proses penganggaran formal di masing-masing SKPD untuk
memastikan implementasi dari strategi yang telah disusun.
Selain pemahaman di lingkungan internal, kegiatan ini juga
mensyaratkan adanya kesamaan pemahaman dan persepsi
terhadap strategi pengembangan sanitasi yang disusun (termasuk
program dan kegiatannya) dari Pemerintah Provinsi dan Pusat,
meskipun proses ini secara lebih rinci akan dilakukan di tahapan
Memorandum Program Sektor Sanitasi (MPSS).

Penetapan sistem dan zona sanitasi dilakukan untuk mengidentifikasi
sistem sanitasi yang paling sesuai untuk suatu wilayah dan membantu
perumusan program dan kegiatan yang paling sesuai dengan kondisi
wilayah berdasarkan sistem yang diusulkan. Dalam menetapkan
sistem sanitasi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah: (i)
faktor pengelolaan (peraturan, pengelolaan kelembagaan, pengaturan
O&M, kepemilikan aset); (ii) faktor fisik wilayah (kepadatan
penduduk, pemanfaatan lahan, dan topografi); (iii) faktor keuangan
dan pendanaan (kapasitas fiskal, dukungan, dan mekanisme
pendanaan). Pilihan sistem yang dapat digunakan umumnya adalah:
a. Subsektor air limbah domestik: sistem setempat (sistem on-site)
dimana air limbah langsung diolah ditempat; dan sistem terpusat
(sistem offsite) dengan mengalirkan air limbah domestik melalui
perpipaan menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
b. Subsektor persampahan: sistem pengangkutan tidak langsung
(melalui tempat penampungan sementara/TPS; sistem
pengangkutan langsung; dan sistem penanganan sampah di
sumbernya.
c. Subsektor drainase: sistem gravitasi dan sistem pemompaan.

Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
teknologi adalah: (i) lingkungan (risiko kesehatan, pemanfaatan air
tanah & air permukaan); (ii) budaya perilaku (tingkat kesadaran,
ketrampilan manajemen masyarakat); dan (iii) biaya investasi dan
berulang (keterjangkauan, ketepatan teknologi).

2. Perkiraan Debit Air Limbah
Berdasarkan data yang telah didapatkan serta peraturan-peraturan
yang terkait dengan air limbah dapat memperkirakan besarnya debit
air limbah di tahun yang akan datang. Besarnya debit air limbah ini
sangat terkait dengan rencana pengembangan untuk masing-masing
kota/kabupaten. Besarnya debit air limbah masa datang didapatkan
dari hasil proyeksi penduduk dikorelasikan dengan penggunaan air
bersih yang sisanya sebagai air limbah.
3. Perkiraan Kondisi Sosial Ekonomi & Lingkungan pada Masa yang
Akan Datang
Rencana pengembangan daerah rencana sangat erat hubungannya
dengan pertumbuhan ekonomi yang akan terjadi di masa datang.
Dimana perkiraan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan dapat
diproyeksi dari data yang telah didapatkan.
4. Sistem Pengembangan Pengelolaan
Skenario pengembangan daerah adalah alternatif dan gambaran dari
pelaksanaan strategi pembangunan dengan melihat lingkungan
strategis yang mempengaruhi. Melalui skenario ini dapat diperoleh
ilustrasi terhadap kondisi awal dan pencapaian serta kondisi pada
akhir pelaksanaan. Sistem pengelolaan yang akan diterapkan di
daerah rencana disesuaikan hasil skenario pengembangan daerah
yang telah dilakukan.
5. Sistem Pelayanan
Sistem pelayanan pengelolaan air limbah dapat dibagi menjadi 2 yaitu
pelayanan individual dan pelayanan komunal (bersama). Pelayanan
individual berupa sistem sanitasi setempat seperti tangki septik yang
dilengkapi sumur resapan yang harus dibiayai dan dirawat oleh
individu masing-masing. Sedangkan pelayanan komunal (bersama)
dapat berupa sistem sanitasi setempat dengan penggunaan tangki
septik bersama ataupun pengolahan secara terpusat yaitu air limbah
disalurkan dari tiap rumah menuju unit pengolahan air limbah
komunal. Sistem pelayanan ini dapat diterapkan bersama-sama,
penerapannya disesuaikan dengan kondisi yang ada di daerah
rencana.
6. Cakupan Pelayanan
Cakupan rencana pelayanan sistem setempat minimal 60%. Daerah
dengan kepadatan penduduk > 300 jiwa/ha diharapkan memiliki
sebuah sistem jaringan dan pengolahan air limbah skala
komunitas/kawasan/kota. Kemudian, untuk sebuah kabupaten/kota
dengan jumlah masyarakat minimal 50.000 jiwa yang telah memiliki
tangki septik sesuai dengan standar teknis, diharapkan memliliki
sebuah IPLT yang memiliki kualitas effluent air limbah domestik
tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah
ditetapkan.
7. Strategi OP Prasarana & Sarana
Strategi operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana air limbah
erat kaitannya dengan lembaga pengelola, stakeholder, dan peraturan
yang mengaturnya. Agar prasarana dan sarana dapat terjaga dengan
baik, maka diperlukan kerjasama antar komponen tersebut. Lembaga
pengelola dan para stakeholder harus bertanggung jawab dan
mempunyai kepedulian tinggi terhadap pembangunan SPAL, selain
itu aturan yang ditetapkan haruslah mendukung terealisasinya SPAL
yang bermutu dan tidak mencemari lingkungan.

G.2.9. Strategi Pengembangan Kelembagaan
Perubahan (Transformasi) prasarana sistem setempat menjadi sistem
terpusat memberi dampak adanya kebutuhan lembaga untuk mengelola
prasarana yang akan dibangun atau membutuhkan peningkatan kapasitas
kelembagaan terhadap lembaga yang ada.
1. Dasar-dasar Penyusunan Kelembagaan
Dasar-dasar penyusunan kelembagaan meliputi hal-hal berikut ini:
a. Menyusun klasifikasi jenis sarana dan prasarana yang harus
dikelola termasuk peralatan yang akan dioperasikan.
b. Menganalisa kapasitas sarana dan prasarana air limbah yang harus
dikelola dalam satuan orang/bulan dengan rincian orang/hari.
c. Mengelompokkan bagian-bagian yang sejenis untuk memudahkan
penyusunan bidang-bidang organisasi kelembagaan.
d. Operator terpisah dari regulator, sehingga jelas fungsi
penyelenggara dengan pelaksana.
e. Menjamin terselenggaranya fungsi-fungsi pengaturan, pembinaan,
pembangunan dan pengawasan (pp 38/2007).
2. Pilihan Bentuk Kelembagaan
Kebutuhan peningkatan kapasitas kelembagaan tersebut umumnya
berkorelasi langsung dengan peningkatan luas wilayah layanan dan
peningkatan teknologi yang dioperasikan. Bentuk lembaga operator
pengelolaan air limbah dapat berbasis masyarakat (swadaya) untuk
skala komunal didalam kawasan dan berbasis lembaga (formil) untuk
berbagai skala pengelolaan (lihat Gambar I.7).
Strategi peningkatan kapasitas kelembagaan dan pilihan bentuk
kelembagaan. Operator harus mempertimbangkan cara pembiayaan
dan sumber dana untuk mengoperasikan prasarana tersebut agar dapat
berkelanjutan. Rencana peningkatan kapasitas kelembagaan tersebut,
harus didukung oleh Perda dan sosialisasi yang memadai.








Gambar I.7. Strategi Pengembangan Kelembagaan

G.2.10. Strategi Pengembangan Pengaturan
Untuk pedoman pelaksanaan pengelolaan prasarana dan sarana air
limbah di daerah, perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan
pada ketentuan-ketentuan dalam Peraturan ini. Apabila daerah belum
mempunyai Peraturan Daerah,. Maka terhadap pengelolaan prasarana
dan sarana air limbah di daerah diberlakukan ketentuan-ketentuan
dalam Peraturan ini.
G.2.11. Strategi Pengembangan Edukasi dan Peran Masyarakat

1. Strategi Pengembangan Pemberdayaan dan Peran Masyarakat
Efektifitas sistem pengelolaan air limbah sangat terkait dengan
perilaku masyarakat dalam bersikap dan bertindak terhadap air
limbah yang dihasilkan. Di bidang air limbah, perubahan perilaku
masyarakat yang diharapkan untuk mendukung sistem pengelolaan
air limbah yang efektif berkaitan dengan perilaku sebagai berikut:
a. Bersedia tidak membuang air limbah secara sembarang pada
lingkungan.
b. Bersedia menyediakan tangki septik sesuai standard pada
masing-masing bangunan.
c. Bersedia mengelola tangki septik secara benar dengan melakukan
pengurasan lumpur tangki septik secara rutin (setiap 3 tahun
sekali).
d. Bersedia membayar retribusi air limbah khususnya bagi
penduduk yang daerahnya telah dilayani oleh jaringan perpipaan
air limbah.
2. Strategi Pengembangan Kampaye Publik (Public Campaign)
Upaya mempengaruhi perilaku masyarakat untuk mendukung sistem
pengolahan sampah, memerlukan suatu perencanaan rekayasa sosial
(Social Engineering). Perangkat rekayasa sosial di bidang air limbah
secara umum terdiri atas:
a. Pelaksanaan kampanye publik (Public Campaign).
b. Pelaksanaan penegakkan hukum dan peraturan (Rule and
Regulation).
Proses pelaksanaan rekayasa sosial secara umum terdiri dari salah
satu atau kombinasi dari rangkaian kegiatan seperti pada Gambar
I.8.



Memberi Informasi
Menumbuhkan Motivasi
Melakukan Persuasi
Penegakan Hukum dan Peraturan
Gambar I.8. Proses Rekayasa Sosial
Perencanaan dan pelaksanaan rekayasa sosial tersebut, pada
dasarnya adalah upaya untuk mempengaruhi (merubah perilaku)
masyarakat agar : Tertarik, Tergerak, Terajak untuk bertindak
kearah yang ditunjukan sesuai dengan sistem pengelolaan air
limbah yang direncanakan. Secara umum proses perubahan
masyarakat yang diharapkan dari suatu kampanye publik adalah
sebagai berikut :
- Meningkatnya kesadaran (Awareness)
- Meningkatnya minat (Interest)
- Tumbuhnya kebutuhan (Demand)
- Adanya partisipasi dan tindakan (Action)
Pelaksanaan kampanye publik tersebut, harus direncanakan secara
berkesinambungan agar proses perubahan masyarakat tersebut
dapat berlangsung hingga terwujudnya partisipasi (Action)
masyarakat secara luas dalam mendukung terwujudnya sistem
pengelolaan air limbah yang efektif dan efisien.
Kerjasama dengan pihak swasta perlu ditingkatkan baik dalam
pelayanan pengumpulan, penyaluran, pengolahan, maupun
pembuangan akhir; jasa konsultansi, kontraktor, maupun
pengadaan barang khususnya kendaraan; dengan
menyeimbangkan prinsip pengusahaan dalam pelayanan umum.
Selain itu swasta dapat dilibatkan secara langsung untuk
membantu masalah pembiayaan, operasional dan pemeliharaan
melalui program community development yang umumnya menjadi
focus utama untuk perusahaan berskala besar.
G.2.12. Strategi Pengemb. Ekonomi & Pembiayaan
Sumber dana rencana investasi sarana dan prasarana air limbah pada
dasarnya berasal dari dana hasil pajak melalui APBD dan APBN atau
dari dana hasil retribusi pelayanan air limbah. Sumber dana investasi
dari pajak dapat digolongkan sebagai sumber dana tidak langsung dan
sumber dana dari retribusi dapat digolongkan sebagai sumber dana
langsung. Sumber dana investasi pengelolaan SPAL untuk tiap daerah
berbeda-beda, tergantung pada cakupan pelayanan SPAL yang akan
dibangun. Sumber pendanaannya adalah :
1. Proyek SPAL Lintas Provinsi, sumber dananya dari APBD.

2. Proyek SPAL Lintas Kab/Kota, sumber dananya dari APBD Provinsi
tempat berlangsungnya proyek.

3. Proyek SPAL Kab/Kota, sumber dananya dari APBD Kota/
Kabupaten tersebut.

Pilihan strategi pendanaan tersebut, sangat tergantung dari kapasitas
fiskal masing-masing daerah dan kemampuan membayar retribusi
masing-masing penduduk yang mendapat pelayanan. Dalam hal
pemerintah daerah tidak mampu melaksanakan SPALT, Pemerintah
dapat memberikan bantuan pendanaan sampai dengan pemenuhan
standard pelayanan minimal yang dibutuhkan secara bertahap, atau
sesuai dengan ketentuan peraturan dan undang-undang yang berlaku.
Sementara itu, sumber pendanaan investasi dari pendapatan retribusi
hanya dimungkinkan, apabila kelayakan keuangan proyek memenuhi
standard (IRR dan NPV).
Selain dana yang berasal dari pemerintah, dapat pula berasal dari
swadaya masyarakat, sektor swasta, maupun dana asing untuk biaya
operasional dan perawatan SPAL.


H. RENCANA PROGRAM DAN TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN
H.1. Rencana Program
Rencana pengembangan di sektor air limbah direncanakan mulai tahun
anggaran di 1 tahun kedepan sampai 15-20 tahun kedepan. Mengingat
jangkauan rencana induk relatif lama maka sampai tahap menengah atau 6
tahun pertama dari rangkaian rencana pembangunan jangka panjang,
diperlukan rekomendasi rencana pembangunan yang lebih terarah melalui
penyusunan studi kelayakan terutama dalam menentukan sistem yang
akan dikembangkan kelak.
Maka dalam rencana program ini disusun jadwal kegiatan-kegiatan
penting sesuai dengan tahapan pembangunan, yaitu mulai dari tahap
mendesak, tahap menengah dan jangka panjang. Kegiatan-kegiatan
tersebut merupakan CSF Critical Success Factor atau kegiatan kunci untuk
tercapainya kesuksesan pada tiap tahapan pembangunan. CSF ini sesuai
dengan program-program apa saja yang akan dijalankan pada masig-
masing tahapan pembangunan. CSF ini harus diuraikan secara detail untuk
tiap tahapan pembangunan.
H.1.1. Rencana Umum
Secara umum, hal-hal yang perlu dilakukan untuk menyusun rencana
induk pengembangan SPALT adalah :
1. Pengumpulan Data Sekunder
Kumpulkan data sekunder sebagai dasar perencanaan dalam
penyusunan evaluasi kondisi kota/kawasan, yang antara lain meliputi:
a. Fungsi strategis kota/kawasan (Rencana Tata Ruang
Wilayah/RTRW).
b. Peta topografi, foto udara citra satelit skala 1:50.000, 1:5.000,
tergantung luas daerah studi/perencanaan.
c. Data dan peta gambaran umum hidrologi sumber air, topografi,
klimatografi, fisiografi dan geologi.
d. Penggunaan lahan dan rencana tata guna lahan.
e. Data demografi saat ini dan 10 tahun terakhir, penyebaran
penduduk dan kepadatan.
f. Data sosial ekonomikarakteristik wilayah dan kependudukan
ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan budaya:
1) Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB);
2) Mata pencaharian dan pendapatan;
3) Adat istiadat, tradisi dan budaya;
4) Perpindahan penduduk dan pengaruhnya terhadap urbanisasi
dan kondisi ekonomi masyarakat.
g. Data kesehatankondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan
1) Statistik kesehatan/kasus penyakit;
2) Angka kelahiran, kematian dan migrasi;
3) Data penyakit akibat yang buruk (water borne disease);
4) Sarana pelayanan kesehatan.
h. Sarana dan prasarana kota yang ada (infrastruktur):
1) Air minum;
2) Drainase;
3) Pembuangan limbah dan sampah;
4) Listrik;
5) Telepon;
6) Jalan dan sarana transportasi
7) Kawasan strategis (pariwisata dan industri)
2. Evaluasi sistem eksisting (jika sudah ada), menyangkut aspek-aspek
sebagai berikut :
a. Teknis;
b. Kinerja pelayanan;
c. Tingkat pelayanan;
d. Periode pelayanan ;
e. Jangkauan pelayanan;
f. Kinerja instalasi;
g. Jumlah dan kinerja peralatan/perlengkapan;
h. Prosedur dan kondisi operasi dan perawatan;
i. Tingkat kebocoran;
j. Non teknis;
k. Kondisi dan kinerja keuangan;
l. Kondisi dan kinerja karyawan.

3. Identifikasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan SPAL. Hal
yang perlu diidentifikasi antara lain:
a. Tingkat dan cakupan pelayanan
b. Kinerja pelayanan
c. Kebutuhan penyambung jaringan distribusi dan/atau kapasitas
pengolahan
d. Kinerja kelembagaan, sumber daya manusia dan keuangan.

4. Kembangkan alternatif
Setiap alternatif harus dikaji aspek teknis dan ekonomis. Alternatif
terpilih adalah yang terbaik ditinjau dari berbagai aspek tersebut.
Pradesain dan alternatif terpilih merupakan dasar dalam prakiraan
biaya investasi dan prakelayakan teknis.

5. Kembangkan kelembagaan dan sumber daya manusia
Dalam operasi dan pemeliharaan suatu sistem air limbah diperlukan
tenaga-tenaga ahli profesional yang berpengalaman, maka diperlukan
penilaian terhadap kemampuan karyawan yang ada untuk menyusun
suatu program pengembangan karyawan yang tercapai melalui
pendidikan dan pelatihan.
6. Pilih alternatif sistem
Setiap alternatif harus dikaji kelayakan:
a. Teknis
b. Ekonomis
c. Lingkungan

7. Rencana pengembangan
Setelah alternatif terbaik ditentukan, maka dapat disimpulkan:
a. Rencana kegiatan utama pentahapan
b. Rencana pengembangan sumber daya manusia
c. Dimensi-dimensi Pokok dari Sistem
d. Rekomendasi pengelolaan air limbah
e. Rencana pentahapan 5 tahun
f. Rencana tingkat lanjut

H.1.2 Rencana Jaringan
Direncanakan sesuai dengan:
1. Rencana pengembangan tata kota
2. Jaringan distribusi utama

Rencana jaringan dibuat untuk perluasan pelayanan dan cakupan dari
SPALT dengan jaringan perpipaan yang telah ada saat ini, maupun untuk
meningkatkan pelayanan dari SPALT bukan jaringan perpipaan menjadi
SPALT dengan jaringan perpipaan.

Untuk SPALT dengan jaringan perpipaan, langkah-langkah pengerjaan
perencanaan jaringan distribusi air limbah dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tentukan daerah pelayanan
2. Kumpulkan data untuk daerah pelayanan
Metoda analisis penentuan daerah pelayanan dengan administratif
kebijaksanaan pemerintah daerah, dan rencana penerapan jaringan
distribusi utama pengolahan air limbah:
a. Jumlah penduduk
b. Peta topografi, situasi lokasi, peta jaringan yang sudah ada di daerah
pelayanan
c. Asumsi konsumsi pemakaian air domestik
d. Asumsi konsumsi pemakaian air nondomestik
e. Daya dukung tanah
f. Hasil pengukuran lapangan
3. Gambarkan sistem jaringan distribusi utama disesuaikan dengan data
pendukung
4. Tentukan diameter pipa dan perhitungan hidrolis sebagai berikut:
a. Tentukan kecepatan aliran dalam, pipa sesuai dengan kriteria
perencanaan antara dua titik simpul.
b. Hitung diameter pipa berdasarkan rumus: Q = AV
5. Gambarkan sistem jaringan distribusi utama yang memuat data sebagai
berikut:
a. Nomor simpul
b. Elevasi setiap simpul


H.1.3 Kriteria dan standar pelayanan
Kriteria dan standar pelayanan diperlukan dalam perencanaan dan
pembangunan SPALT untuk dapat memenuhi tujuan tersedianya air dalam
jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi persyaratan air
limbah, tersedianya air setiap waktu atau kesinambungan, tersedianya air
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat atau pemakai.

Sasaran pelayanan pada tahap awal prioritas harus ditujukan pada daerah
berkepadatan tinggi dan kawasan strategis. Setelah itu prioritas pelayanan
diarahkan pada daerah pengembangan sesuai dengan arahan dalam
perencanaan induk kota.

H.1.4 Rencana keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana (PS) sanitasi
Pertimbangan untuk melakukan keterpaduan antara air limbah dan
sanitasi:
Air limbah yang dihasilkan setiap rumah tangga diperkirakan sebesar 80%
dari kebutuhan air minum tiap rumah tangga. Keterpaduan selayaknya
dilakukan sejak pada tahap Perencanaan, Pembiayaan Pelaksanaan,
Pengelolaan, Peran Serta Masyarakat, dan Pengaturan Bidang Air Limbah
dan Sanitasi, untuk mengurangi beban pengelolaan air limbah yang terlalu
besar di IPAL (Integrated Concept).

H.1.5 Rencana pengembangan kelembagaan.
Rencana pengembangan kelembagaan sistem pengelolaan air limbah
dilakukan melalui:
1. Pengkajian kembali terhadap perundang-undangan terkait terhadap
kelembagaan.
2. Lakukan kajian terhadap batas wilayah administrasi pemerintahan,
tugas dan kewenangan instansi tertentu, mekanisme pendanaan,
kebiasaan atau adat masyarakat.
3. Lakukan kajian terhadap struktur organisasi yang ada.
4. Buat rencana pengembangan kelembagaan yang mampu untuk
mengelola SPALT yang direncanakan.

Dalam pengolahan sistem pengolahan air limbah yang perlu diperhatikan
adalah:
1. Sumber daya manusia (SDM)
2. Struktur organisasi penyelenggara

H.2. Rencana Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
H.2.1. Rencana Jangka Pendek /Tahap Mendesak
Pada tahap mendesak yaitu sampai 1 - 2 tahun kedepan rencana
pembangunan prasarana dan sarana air limbah diprioritaskan pada
pemenuhan kebutuhan dasar sanitasi sebagai dasar pengelolaan air
limbah. Kebutuhan dasar ini didapat setelah menganalisa data eksisting
pengelolaan air limbah saat ini di area studi. Daerah yang perlu menjadi
perhatian adalah daerah kawasan kumuh, daerah rawan endemi dan
daerah kritis.
Daerah yang menjadi prioritas pembangunan prasarana dan sarana air
limbah dijabarkan dengan detail mengenai nama zona atau sub zona, luas
daerahnya, kepadatan penduduk, tingkat pendapatan dan disertai
dengan peta daerah pengembangan tahap mendesak.
1. Sistem yang digunakan
Pada tahap mendesak sistem yang digunakan sesuai dengan hasil
analisa kondisi eksisting di daerah tersebut. Sistem yang digunakan
umumnya menggunakan sistem pengolahan air limbah setempat,
seperti pembuatan MCK di daerah yang menjadi prioritas tahap
mendesak, atau disesuaikan dengan kebutuhan prasarana dan sarana
sanitasi mendesak di daerah tersebut. Penjelasan sistem yang
digunakan ini dilengkapi dengan sumber dana dan gambaran detail
sistem terpilih.
2. Program Pendukung
Program pendukung ini diperlukan agar semua program dalam tahap
mendesak berhasil dilaksanakan. Paket pendukung ini dapat berupa
penyusunan rencana teknis untuk pelaksanaan sistem sanitasi yang
akan dibangun untuk tahap mendesak, mengadakan penyuluhan
kepada masyarakat dan training kepada petugas pengelola, menyusun
bentuk kelembagaan pengelola air limbah dan apabila diperlukan
melakukan pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan prasarana
dan sarana air limbah.
3. Rencana Kebutuhan Biaya
Rencana kebutuhan biaya ini merupakan jabaran tentang biaya yang
diperlukan untuk melaksanakan program tahap mendesak, komponen
biaya dapat berupa biaya konstruksi dan biaya non konstruksi.

H.2.2. Rencana Jangka Menengah
Pada tahap menengah ini yaitu sampai 6 tahun mendatang, rencana
pembangunan prasarana dan sarana air limbah sesuai dengan
permasalahan yang ada dan strategi yang akan dilaksanakan untuk
pemenuhan sistem pengelolaan air limbah untuk area studi. Rencana
pembangunan ini disesuaikan dengan alternatif sistem pengelolaan yang
dipilih dan zona atau sub zona yang telah ditetapkan. Pembangunan ini
merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka panjang (rencana
induk). Daerah pelayanan ini dilengkapi dengan luasan daerah pelayanan,
zona atau sub zona yang dilayani dan dilengkapi dengan peta daerah
pelyanan tahap menengah.
1. Sistem yang digunakan
Sistem yang digunakan pada tahap menengah ini disesuaikan dengan
sistem yang telah dipilih dari beberapa alternatif yang ada. Penjelasan
sistem ini mengenai sistem yang digunakan secara detail mulai dari
kebutuhan unit pengolahan air limbah sampai aksesoris
pendukungnya.
2. Program Pendukung
Program pendukung ini diperlukan agar semua program dalam tahap
menengah berhasil dilaksanakan. Paket pendukung ini dapat berupa
penyusunan rencana teknis detail untuk pelaksanaan sistem sanitasi
yang akan dibangun untuk tahap menengah dan jangka panjang,
mengadakan supervisi tentang pembangunan prasarana dan sarana air
limbah yang telah diprogramkan, mengadakan penyuluhan kepada
masyarakat dan training kepada petugas pengelola, pengadaan truk
tinja, menyusun bentuk kelembagaan pengelola air limbah dan apabila
diperlukan melakukan pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan
prasarana dan sarana air limbah.
3. Rencana Kebutuhan biaya
Rencana kebutuhan biaya ini merupakan jabaran tentang biaya yang
diperlukan untuk melaksanakan program tahap menengah, komponen
biaya dapat berupa biaya konstruksi dan biaya non konstruksi.

H.2.3. Rencana Jangka Panjang
1. Daerah Pelayanan
Rencana pembangunan sampai 20 tahun mendatang dapat juga disebut
rencana jangka panjang atau juga disebut rencana induk. Daerah
pelayanannya tentu saja melingkupi seluruh area studi, dimana
beberapa bagian dari area studi telah dilayani melalui pembangunan
tahap mendesak dan tahap menengah. Daerah pelayanan ini dapat
berupa daerah pelayanan sanitasi terpusat dan daerah pelayanan
sanitasi setempat. Daerah pelayanan ini dilengkapi dengan peta daerah
pengembangan pelayanan jangka panjang.
2. Sistem yang digunakan
Sistem yang digunakan pada jangka panjang ini disesuaikan dengan
sistem yang telah dipilih dari beberapa alternatif yang ada. Penjelasan
sistem ini mengenai sistem yang digunakan secara detail mulai dari
kebutuhan unit pengolahan air limbah sampai aksesoris
pendukungnya.
3. Program Pendukung
Program pendukung ini diperlukan agar semua program dalam jangka
panjang berhasil dilaksanakan. Paket pendukung ini dapat berupa
penyusunan rencana teknis detail untuk pelaksanaan sistem sanitasi
yang akan dibangun untuk jangka panjang, mengadakan supervisi
tentang pembangunan prasarana dan sarana air limbah yang telah
diprogramkan, mengadakan penyuluhan kepada masyarakat dan
training kepada petugas pengelola, menyusun bentuk kelembagaan
pengelola air limbah dan apabila diperlukan melakukan pembebasan
lahan untuk lokasi pembangunan prasarana dan sarana air limbah.
4. Rencana Kebutuhan Biaya
Rencana kebutuhan biaya ini merupakan jabaran tentang biaya yang
diperlukan untuk melaksanakan program jangka panjang, komponen
biaya dapat berupa biaya konstruksi dan biaya non konstruksi. Yang
perlu diperhatikan juga adalah proyeksi tingkat inflasi setiap tahunnya,
sehingga anggaran untuk jangka panjang dapat dilaksanakan dengan
baik.

H.3. Rencana Pembiayaan
Rencana pembangunan prasarana dan sarana air limbah yang dibagi dalam
3 tahap diatas memerlukan pembiayaan yang cukup besar. Agar
memudahkan pemerintah untuk mengalokasikan dana dalam rangka
pembangunan di sektor air limbah maka disusun jadwal pembiayaan
menurut tahapan pembangunan. Dalam rencana pembiayaan ini diuraikan
pembagian jadwal pembiayaan untuk tiap tahapan pembangunan, yang
berisi dana-dana yang dibutuhkan untuk tiap tahapan pembangunan serta
pemenuhannya untuk berapa tahun anggaran.
Indikasi biaya dan pola investasi dihitung dalam bentuk nilai sekarang
(present value) dan harus dikonversikan menjadi nilai masa datang (future
value) berdasarkan metode analisis keuangan, serta sudah menghitung
kebutuhan biaya untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka
panjang. Hal yang perlu diperhatikan dalam rencana keuangan atau
pendanaan:
1. Sumber dana
2. Kemampuan dan kemauan masyarakat
3. Kemampuan keuangan daerah

H.4 Indikasi Rencana Investasi Program
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam rencana investasi program adalah:
1. Seluruh program pengembangan yang tertera dalam rencana induk
harus dikelompokan atas 4 (empat) tahapan pengembangan 5 tahun.
2. Seluruh program 5 tahunan ke 1, 2, 3, dan 4 harus dihitung nilai
investasinya dengan standard harga saat ini (current price).
3. Rencana biaya investasi program dari rencana induk harus
dibandingkan dengan rencana penduduk terlayani sehingga dapat
diketahui nilai biaya investasi perkapita atau nilai biaya investasi per
rumah tangga dari penduduk yang mendapat manfaat langsung.
4. Nilai biaya investasi perkapita tersebut harus dibandingkan dengan
income perkapita pertahun dari kota yang bersangkutan, sebagai
lapisan awal (screening) sebelum dilakukan studi kelayakan ekonomi
dan keuangan proyek.
5. Kelayakan proyek program 5 tahunan ke 1, 2, 3, dan 4 dapat dilakukan
kemudian sesuai tahapan pembangunan.
Program pengembangan sarana dan prasarana 5 tahun ke 1 (pertama)
harus dihitung kelayakan proyeknya dengan mengacu pada pedoman
studi kelayakan.
H.5 Sosialisasi Dokumen Rencana Induk
Rencana Induk SPAL wajib disosialisasikan melalui konsultasi publik
untuk menjaring masukan dan tanggapan dari stakeholder sebelum
difinalkan dan dilegalkan. Ketentuan sosialisasi Rencana Induk SPAL
adalah sebagai berikut:
1. Konsultasi publik harus dilakukan minimal sebanyak 3 (tiga) kali
dalam kurun waktu 12 bulan pada saat penyusunan Rencana Induk.
2. Konsultasi publik harus dilakukan dengan melibatkan stakeholders
sebagai berikut:
a. Stakeholder yang berwenang dalam membuat kebijakan dalam
pengendalian pencemaran air;
b. Stakeholder yang mewakili masyarakat wilayah layanan;
c. Stakeholder yang mewakili masyarakat yang terkena dampak; dan;
d. Stakeholder yang mewakili kelompok interest group seperti LSM,
perguruan tinggi, tokoh masyarakat dsb.

H.6 Cara Pengerjaan
Urutan cara pengerjaan rencana induk sistem pengolahan air limbah
meliputi:
1. Siapkan data yang dibutuhkan untuk memenuhi muatan rencana induk
yang akan disusun sesuai dengan data yang tercantum dalam tata cara
penyusunan RI-SPALT dan ketentuan teknis di atas.
2. Lakukan studi literatur yang terdiri dari:
a. Data dan gambar pelaksanaan (as built drawing) sistem pengolahan
air limbah yang sudah ada;
b. Laporan rencana induk (bila akan dilakukan kaji ulang rencana
induk yang sudah ditetapkan sebelumnya).
3. Lakukan langkah-langkah sesuai dengan langkah-langkah pada tata cara
penyusunan RI-SPALT di atas;
4. Buat kesimpulan berdasarkan langkah-langkah tata cara penyusunan RI-
SPALT di atas dengan membandingkan data lama dan data sekarang
khusus untuk kegiatan pengkajian ulang rencana induk;
5. Buat rekomendasi berdasarkan pengkajian dan kesimpulan, khusus
untuk kegiatan pengkajian ulang rencana induk, yang dapat berupa:
a. Hasil studi yang lama dapat langsung digunakan tanpa ada
perubahan;
b. Hasil studi yang harus diubah pada bagian tertentu disesuaikan
dengan kondisi sekarang;
c. Harus dilakukan studi ulang secara keseluruhan.
6. Tetapkan rencana induk yang telah tersusun oleh yang berwenang.

H.7 Tahap Legalisasi Rencana Induk
Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam penyusunan rencana induk
yaitu penetapan Rencana Induk SPAL oleh Kepala Daerah. Untuk
keterpaduan pengaturan bidang sanitasi tentang rencana induk sistem
pengelolaan air limbah dapat disatukan dengan Peraturan
Bupati/Walikota/Gubernur.

H.8. Survey Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPALT
a. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilayah Pelayanan
a. Ketentuan Umum
Survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah pelayanan harus
memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin
tim (team leader) berpengalaman dalam bidang air limbah
minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku;
2) Mempelajari laporan studi terdahulu tentang sistem pengelolaan
air limbah dan tata ruang kota.
3) Dilakukan pembahasan dengan pihak terkait guna mendapatkan
kesepakatan dan rekomendasi terhadap lingkup wilayah studi
dan wilayah pelayanan.
4) Wilayah studi dan wilayah pelayanan harus memperhatikan
acuan umum dan kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan.
5) Laporan hasil survei dan pergkajian wilayah studi dan wilayah
pelayanan mencakup:
a) Batas wilayah studi, wilayah proyek dan wilayah pelayanan;
b) Foto-foto lokasi alternatif badan air, jalur pipa transmisi air
limbah, instalasi pengolahan air dan alternatif tempat
pembuangan lumpur yang dihasilkan dari pengolahan air
limbah;
c) Data teknis wilayah studi dan wilayah pelayanan;
d) Pertimbangan teknis wilayah studi dan wilayah pelayanan.


b. Ketentuan Teknis
Ketentuan teknis survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah
pelayanan sebagai berikut:
1) Data teknis yang harus dikumpulkan meliputi:
a) Iklim;
b) Geografi;
c) Geologi dan hidrologi yang dilengkapi peta-peta;
d) Rencana Tata Ruang Wilayah;
e) Peta wilayah;
f) Gambar-gambar teknis yang ada;
g) Laporan teknis sistem pengelolaan air limbah jika ada;
h) Data sosial ekonomi;
i) Data kependudukan.
2) Peta-peta wilayah dengan ukuran skala sesuai ketentuan yang
berlaku;
3) Survei antara lain badan air penerima hasil air limbah yang telah
dikelola, sosial, dan ekonomi harus dilakukan sesuai ketentuan
yang berlaku;
4) Pemilihan alternatif jalur transmisi air limbah ditentukan
berdasarkan hasil kunjungan lapangan. Panjang pipa dan kondisi
topografi diketahui berdasarkan pembacaan peta;
5) Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan batasan wilayah studi,
wilayah proyek dan wilayah pelayanan, badan air penerima dan
jalur transmisi air limbah, serta menjelaskan komponen-
komponen yang terdapat di dalam wilayah studi dan wilayah
pelayanan secara terinci baik kondisi pada saat ini maupun
kondisi pada masa mendatang.

c. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan survei lapangan
adalah:
a) Surat pengantar untuk melakukan survei;
b) Peta kota dan topografi;
c) Tata cara survei dan manual peralatan yang dipakai;
d) Jadwal pelaksanaan survei lapangan;

2) Prosedur pelaksanaan survei.
Prosedur pelaksanaan survei adalah sebagai berikut:
a) Serahkan surat izin survei kepada setiap instansi yang dituju
b) Lakukan pengumpulan data berikut:
- Peta dan laporan terdahulu;
- Laporan mengenai rencana tata ruang wilayah;
- Peta jaringan pipa eksisting;
- Data teknis.
c) Lakukan survei lapangan yang berupa kunjungan lapangan
terhadap:
- Badan air penerima;
- Rencana daerah pelayanan;
- Jalur-jalur alternatif sistem transmisi air limbah.

Selanjutnya siapkan peta kota, plot lokasi-lokasi badan air
penerima, jalur pipa transmisi air limbah, batas wilayah studi dan
wilayah pelayanan. Buat foto-foto lokasi yang ada kaitannya
dengan rencana sistem pengelolaan air limbah.

3) Pengkajian
a) Pengkajian badan air penerima
Cantumkan lokasi alternatif badan air penerima pada peta
wilayah studi yang akan dibuat. Apabila tidak terdapat badan
air penerima pada wilayah administrasi dapat diusulkan
sumber lain yang berada di luar batas administrasi.
b) Alternatif jalur transmisi air limbah
Berdasarkan alternatif lokasi badan air penerima dan
kunjungan lapangan, buatlah rencana jalur transmisi air
limbah pada peta wilayah studi yang akan dibuat.
Cantumkan panjang jalur pipa transmisi air limbah yang
dihitung berdasarkan pembacaan skala peta yang berlaku.
c) Penetapan wilayah pelayanan
Pada dasarnya sasaran wilayah pelayanan suatu daerah
tergantung pada fungsi strategis kota atau kawasan, tingkat
kepadatan penduduk dan lokasi badan air penerima. Wilayah
pelayanan tidak terbatas pada wilayah administrasi yang
bersangkutan sesuai hasil kesepakatan dan koordinasi dengan
pihak-pihak yang terkait dalam rangka menunjang
pembangunan sistem pengolahan air limbah. Kondisi wilayah
pelayanan yang menjadi sasaran pelayanan mengacu pada
pertimbangan teknis dalam standar spesifikasi teknis berikut.
Cantumkan hasil pertimbangan teknis dalam bentuk tabel-
tabel dan buatlah dalam bentuk peta.
(1) Bentuk Wilayah Pelayanan
Bentuk wilayah pelayanan mengikuti arah perkembangan
kota dan kawasan di dalamnya.
(2) Luas Wilayah Pelayanan
Luas wilayah pelayanan ditentukan berdasarkan survei
dan pengkajian sehingga memenuhi persyaratan teknis.
(3) Pertimbangan Teknis Wilayah Pelayanan
Pertimbangan teknis dalam menentukan wilayah
pelayanan antara lain namun tidak dibatasi oleh:
- Kepadatan penduduk
- Tingkat perkembangan daerah
- Dana investasi, dan
- Kelayakan operasi
(4) Komponen Wilayah Pelayanan
Komponen wilayah pelayanan adalah:
- Kawasan permukiman
- Kawasan perdagangan
- Kawasan pemerintahan dan pendidikan
- Kawasan industri
- Kawasan pariwisata
- Kawasan khusus: pelabuhan, rumah susun.

d) Penetapan wilayah studi
Apabila terdapat sistem eksisting, maka lakukan penanganan
seperti pada ketentuan umum dan ketentuan teknis di atas,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Uraikan sasaran
wilayah pelayanan dan arah pengembangan kota menurut
tata ruang kota yang sudah disetujui. Uraikan komponen-
komponen yang ada di dalam wilayah pelayanan saat ini dan
proyeksi pada masa mendatang. Plot lokasi badan air
penerima yang telah dikunjungi dan alternative jalur pipa
transmisi air limbah. Kemudian buatlah batas wilayah
meliputi seluruh alternatif sumber dan wilayah yang menjadi
kesepakatan dan koordinasi pihak terkait.

e) Penetapan wilayah proyek
Wilayah proyek merupakan wilayah sistem yang sudah
terpilih yang mencakup semua tahapan pengembangan
sistem pengelolaan air limbah. Cantumkan alternatif terpilih
tersebut pada sebuah peta wilayah proyek, dan lengkapi
dengan keterangan sistem yang mencakup:
a. Lokasi badan air penerima
b. Lokasi instalasi pengolahan dan pengembangannya,
c. Lokasi pembuangan lumpur dan pengembangannya,
d. Wilayah pelayanan dan pengembangannya.

4) Hasil Pengkajian
Hasil pengkajian berupa ketetapan pasti mengenai:
a) Badan air penerima dan alternatif jalur transmisi air limbah;
b) Batas-batas wilayah pelayanan beserta komponen-
komponennya;
c) Batas wilayah studi beserta komponen-komponennya;
d) Batas wilayah proyek.


2. Survei dan Pengkajian Kualitas Air Limbah
Survei kualitas air limbah dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
mengenai berbagai alternatif pengolahan air limbah yang dapat
digunakan untuk mengurangi pencemaran lingkungan masyarakat.
a. Ketentuan Umum
Survei kualitas air limbah harus dilaksanakan sesuai ketentuan-
ketentuan umum sebagai berikut:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin
tim (team leader) berpengalaman dalam bidang air limbah
minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku;
2) Melaksanakan survei lapangan yang seksama dan terkoordinasi
dengan pihak-pihak terkait;
3) Membuat laporan tertulis mengenai hasil survei yang memuat:
a) Foto lokasi;
b) Jenis atau golongan badan air penerima;
c) Perkiraan kapasitas badan air;
d) Kualitas dan kuantitas air limbah;
e) Fungsi saat ini;
f) Kajian geologi, hidrologi, geohodrologi, morfologi
4) Mengirimkan data dan laporan-laporan tersebut di atas kepada
pemberi tugas instansi yang terkait.

b. Ketentuan Teknis
Dalam pelaksanaan survei lapangan kualitas air limbah yang akan
diolah harus dipenuhi ketentuan-ketentuan teknis sebagai berikut:
1) Gambar-gambar sketsa lokasi, peta-peta dengan ukuran gambar
sesuai ketentuan yang berlaku;
2) Badan air penerima harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- Kuantitas badan air penerima harus terjamin kontinuitasnya;
- Kualitas badan air penerima harus memenuhi ketentuan
baku mutu air yang berlaku (sesuai dengan golongannya);

c. Peralatan
Peralatan yang dipergunakan dalam survey kualitas air limbah
disesuaikan dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan
Contoh Uji Kualitas Air.

d. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Dalam persiapan survei kualitas air limbah perlu dilakukan
persiapan sebagai berikut:
a) Siapkan surat-surat pengantar yang diperlukan dalam
pelaksanaan survei lapangan;
b) Siapkan formulir lapangan yang digunakan untuk menyusun
data yang dibutuhkan agar mempermudah pelaksanaan
pengumpulan data di lapangan.
2) Survei dan Pengkajian Air Permukaan

3. Survei dan Pengkajian Demografi dan Ketatakotaan
a. Ketentuan Umum
Ketentuan umum tata cara ini adalah:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim
(team leader) berpengalaman dalam bidang demografi dan
ketatakotaan minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang
berlaku;
2) Tersedia surat-surat yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaaan;
3) Tersedia data statistik sampai dengan 10 tahun terakhir yang
terdiri dari:
a) Statistik penduduk;
b) Kepadatan penduduk;
c) Persebaran penduduk;
d) Migrasi penduduk per tahun;
e) Penduduk usia sekolah.
4) Tersedia peta-peta yang memperlihatkan kondisi fisik daerah
yang di studi;
5) Tersedia studi-studi yang ada mengenai ketatakotaan.

b. Ketentuan Teknis
1) Kependudukan
Ketentuan teknis untuk tata cara survei dan pengkajian demografi
adalah:
a) Wilayah sasaran survei harus dikelompokan ke dalam
kategori wilayah berdasarkan jumlah penduduk sebagai
berikut:
- Kota : Jumlah penduduk > 1.000.000 jiwa atau >
200.000 buah rumah.
- Metropolitan : Jumlah penduduk (500.000-1.000.000) jiwa
atau (100.000 200.000) buah rumah.
- Kota Besar : Jumlah penduduk (100.000 -500.000) jiwa
atau (20.000 100.000) buah rumah.
- Kota Sedang : Jumlah penduduk (10.000-100.000) jiwa
atau (2.000 20.000) buah rumah.
- Kota Kecil Desa: Jumlah penduduk (3.000-10.000) jiwa atau
(600 2.000) buah rumah.
b) Cari data jumlah penduduk awal perencanaan.
c) Tentukan nilai persentase pertambahan penduduk per tahun
(r).
d) Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun
perencanaan dengan menggunakan salah satu metode
arithmatik, geometrik, dan least squre;
Pn Po + Ka (Tn To)
Namun, metode yang biasa digunakan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) adalah Metode Geometrik.
e) Rumus-rumus perhitungan proyeksi jumlah penduduk:
(1) Metoda Arithmatik
Pn Po + Ka (Tn To)

1 2
1
T T
P P
Ka
a

=
Dimana :
Pn : Jumlah penduduk pada tahun ke n
Po : Jumlah penduduk pada tahun dasar
Tn : Tahun ke n
To : Tahun dasar
Ka : Konstanta arithmatik
P1 : Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke 1
P2 :Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun
terakhir
T1 : Tahun ke 1 yang diketahui
T2 : Tahun ke 2 yang diketahui

(2) Metoda Geomentrik
Pn = Po (1 + r)
n

Dimana :
Pn : Jumlah penduduk pada tahun ke n
Po : Jumlah penduduk pada tahun dasar
r : Laju pertumbuhan penduduk
n : Jumlah interval tahun
(3) Metoda Least Square
bX a Y + =
^

Dimana :
^
Y : Nilai variabel berdasarkan garis regresi
X : Variabel independen
a : Konstanta
b : Koefisien arah regresi linear

adapun persamaan a dan b adalah sebagai berikut :
( )

=
2
2
2
. X X n
Y X X Y
a
( )

=
2
2
. X X n
Y X YX
b

Bila koefisien b telah dihitung terlebih dahulu, maka
konstanta a dapat ditentukan dengan persamaan lain,
yaitu :

= X b Y a
Dimana

Y dan

X masing-masing adalah rata-rata untuk


variable Y dan X.

(4) Metoda Trend Logistic
bx a
k
Ka
+

=
10 1

Dimana :
Y : Jumlah penduduk pada tahun ke-X
X : Jumlah interval tahun
k, a&b : Konstanta

f) Untuk menentukan pilihan rumus proyeksi jumlah penduduk
yang akan digunakan dengan hasil perhitungan yang paling
mendekati kebenaran harus dilakukan analisis dengan
menghitung standar deviasi atau koefisien korelasi.
g) Rumus standar deviasi dan koefisien korelasi adalah sebagai
berikut :
(1) Standar Deviasi
1
2

|
.
|

\
|

=


n
X X
s
i
, untuk n > 20
n
X X
s
i
|
.
|

\
|

=

2
, untuk n = 20
Dimana :
s : Standar deviasi
Xi : Variabel independen X (jumlah penduduk)

X : Rata-rata X
n : Jumlah Data
Metode perhitungan proyeksi penduduk yang paling
tepat adalah metoda yang memberikan harga standar
deviasi terkecil.
(2) Koefisien Korelasi
Metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk yang
menghasilkan koefisien paling mendekati 1 adalah
metoda yang terpilih.

BUKU 2
PEDOMAN STUDI KELAYAKAN

A. PENGERTIAN STUDI KELAYAKAN
Studi kelayakan pengembangan SPAL adalah suatu studi untuk
mengetahui tingkat kelayakan usulan pembangunan Sistem Pengelolaan
Air Limbah Permukiman (SPAL) di suatu wilayah pelayanan ditinjau dari
aspek kelayakan teknis, ekonomi, dan keuangan.
Studi kelayakan pengembangan SPAL wajib disusun berdasarkan :
1. Rencana induk pengembangan SPAL yang telah ditetapkan;
2. Kelayakan teknis, ekonomi, dan keuangan; serta
3. Kajian lingkungan, sosial, hukum, dan kelembagaan.
Sementara itu, bagi Kabupaten/Kota yang belum terdapat rencana induk
SPAL, studi kelayakannya disusun berdasarkan Buku Putih Sanitasi (BPS)
dan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK).

B. JENIS JENIS STUDI KELAYAKAN
Studi kelayakan pengembangan SPAL dapat berupa :
1. Studi Kelayakan Lengkap
Studi kelayakan lengkap adalah kajian kelayakan terhadap suatu
kegiatan pengembangan sebagian atau seluruh SPAL yang mempunyai
pengaruh atau dipengaruhi oleh perkembangan keuangan dan
ekonomi, teknis, dan lingkungan pada area kajian. Studi kelayakan ini
berlaku untuk :
a. Pengembangan SPAL-T dan SPAL-S Kota Metropolitan dan Kota
Besar dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu)
jiwa
b. Pengembangan SPAL-T kawasan permukiman dan kawasan
tertentu dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 (seratus ribu)
jiwa.
Studi kelayakan lengkap pada umumnya memuat data atau informasi:
a. Perencanaan sistem pengolahan air limbah yang ada;
b. Perkiraan debit air limbah yang akan diolah
c. Data karakteristik dan kualitas air limbah yang akan diolah
d. Kondisi sosial, budaya, ekonomi (berdasarkan survei kebutuhan
nyata);
e. Kelembagaan;
f. Program pengembangan dan strategi pelaksanaan;
g. Analisis dampak lingkungan;
h. Rencana operasi dan pemeliharaan;
i. Perkiraan biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan;
j. Analisis keuangan dan ekonomi
k. Kajian sumber pembiayaan

2. Studi Kelayakan Sederhana
Studi kelayakan sederhana adalah kajian kelayakan terhadap suatu
kegiatan pengembangan sebagian atau seluruh SPAL yang mempunyai
pengaruh atau dipengaruhi oleh perkembangan keuangan dan
ekonomi, teknis, dan lingkungan pada area kajian, serta perkiraan
besaran cakupan layanan mencapai 500.000 jiwa. Studi kelayakan
sederhana berlaku untuk :
a. Pengembangan SPAL-T dan SPAL-S Kota Sedang dengan jumlah
penduduk sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa dan Kota
Kecil dengan jumlah penduduk sampai dengan 100.000 (seratus
ribu) jiwa.
b. Pengembangan SPAL-T kawasan permukiman dan kawasan
tertentu dengan jumlah penduduk lebih dari 20.000 (dua puluh
ribu) jiwa.
Studi Kelayakan Sederhana pada umumnya memuat data atau
informasi:
a. Sistem pengolahan air limbah yang ada,
b. Perkiraan debit air limbah yang akan diolah
c. Data karakteristik dan kualitas air limbah yang akan diolah
d. Kondisi sosial, budaya, dan ekonomi
e. Kelembagaan
f. Program pengembangan dan strategi pelaksanaan;
g. Rencana kelola lingkungan/rencana pemantauan lingkungan
(RKL/RPL),
h. Rencana operasi dan pemeliharaan,
i. Perkiraan biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan,
j. Analisis keuangan dan ekonomi, serta
k. Kajian sumber pembiayaan.

3. Justifikasi Teknis dan Biaya
Justifikasi teknis dan biaya adalah kajian kelayakan teknis dan biaya
terhadap suatu kegiatan peningkatan sebagian SPAL serta perkiraan
besaran cakupan layanan kurang dari 100.000 jiwa. Studi kelayakan ini
berlaku untuk :
a. Pengembangan SPAL-S Kota Metropolitan, Kota Besar, Kota
Sedang, dan Kota Kecil.
b. Pengembangan SPAL-T kawasan permukiman dan kawasan
tertentu dengan jumlah penduduk sampai dengan 20.000 (dua
puluh ribu) jiwa.
Justifikasi teknis dan biaya pada umumnya memuat data atau
informasi:
a. Sistem pengolahan air limbah yang ada,
b. Perkiraan debit air limbah yang akan diolah
c. Data karakteristik dan kualitas air limbah yang akan diolah
d. Kelembagaan
e. Program pengembangan dan strategi pelaksanaan
f. Rencana operasi dan pemeliharaan,
g. Perkiraan biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan, serta
h. Analisis keuangan dan ekonomi
i. Kajian sumber pembiayaan
4. Memorandum Program Sanitasi (MPS)
MPS merupakan salah satu dokumen yang perlu disiapkan oleh
Kabupaten/Kota sebelum implementasi fisik dapat dilakukan. Di
dalam MPS harus memuat mengenai implementasi dari strategi yang
telah direncanakan dan disusun di dalam Buku Putih Sanitasi dan SSK,
termasuk merangkum masukan yang ada dalam Rencana Program
Investasi Jangka Menengah (RPIJM). Pada tahap penyusunan MPS,
lebih diutamakan agar semua pihak dapat berkomitmen untuk
menjadikan program dan kegiatan sektor sanitasi menjadi prioritas bagi
stakesholder.

MPS adalah terminal seluruh program dan kegiatan pembangunan
sector sanitasi Kabupaten/Kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota, Provinsi, Pusat, dan Masyarakat setempat dalam
kurun waktu 5 tahun. Sumber pendanaannya dapat berasal dari APBN,
APBD Propinsi, APBD Kabupaten/Kota, Bantuan Luar Negeri
(pinjaman/hibah), serta swasta atau masyarakat.

MPS adalah hasil dari pelaksanaan tahap 4 yaitu Memorandum
Program. Memorandum program merupakan justifikasi dan komitmen
pendanaan dari Pemerintah Kabupaten/Kota, Provinsi, Pusat, atau
lembaga lainnya untuk program/kegiatan yang telah teridentifikasi.
Memorandum program adalah landasan bagi Pemerintah
Kabupaten/Kota untuk melaksanakan strategi pembangunan sektor
sanitasi dalam jangka menengah (5 tahun).
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan Memorandum Program
ini adalah sebagai berikut :
a. Tersusunnya dokumen rencana Strategi dan Komitmen Pendanaan
oleh pemerintah Kabupaten dan pihak terkait untuk implementasi
pembangunan sektor sanitasi yang komprehensif Jangka
Menengah. Secara umum MPS ini secara spesifik bersifat sebagai
Expenditure Plan khususnya untuk program pembangunan
sektor sanitasi.
b. Mendorong para stakeholders melaksanakan kebijakan
pengembangan sanitasi yang lebih efektif, partisipatif, dan
berkelanjutan.
c. Dipergunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Operasional
tahapan pembangunan sanitasi.
d. Sebagai dasar dan pedoman bagi semua pihak (instansi,
masyarakat dan pihak swasta) yang akan melibatkan diri untuk
mendukung dan berpartisipasi dalam pembangunan sanitasi
daerah Kabupaten/Kota.
e. Sebagai dasar masukan bagi umpan balik (feed-back) RPJMD pada
periode berikutnya.

C. CAKUPAN STUDI KELAYAKAN
Hasil kajian untuk studi kelayakan sebagaimana telah disebutkan di atas
terdiri dari kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan keuangan, serta hasil
kajian lingkungan, sosial, hukum, dan kelembagaan. Selengkapnya akan
dijelaskan sebagai berikut :
1. Kelayakan Teknis
Studi kelayakan ditinjau dari aspek teknis meliputi aspek kemudahan
dan kehandalan konstruksi, kualitas bahan yang baik, kemudahan
operasi dan pemeliharaan, kemudahan suku cadang, jaminan kinerja
alat/bahan sesuai spesifikasi teknis.
Pengkajian kelayakan teknis bisa dibuat dari beberapa alternatif yang
dikembangkan, yang disajikan secara jelas dan akan dipilih alternatif
yang terbaik oleh tim teknik.
Alternatif pilihan adalah alternatif yang terbaik ditinjau dari beberapa
aspek yang mempengaruhi lokasi daerah perencanaan yang meliputi
potensi, demografi, sosio ekonomi, debit buangan, operasional dan
pelayanan, sistem dan kebutuhan lainnya. Perkiraan nilai
proyek/investasi berdasarkan alternatif yang dipilih, dengan tingkat
akurasinya 90-95%.
2. Kelayakan Ekonomi & Keuangan
Studi kelayakan ditinjau dari aspek ekonomi dan keuangan. Studi
kelayakan dari aspek ekonomi meliputi Economic Internal Rate of Return
(EIRR) dan Economic Benefit Cost Ratio (EBCR).
Analisis biaya dan manfaat proyek mempertimbangkan hal-hal seperti:
a. Manfaat ganda terhadap kegiatan ekonomi secara langsung pada
masyarakat sekitar proyek baik pada saat proyek dilaksanakan,
maupun setelah operasi dan pemeliharaannya.
b. Dengan pengelolaan sistem pengelolaan air limbah yang baik maka
akan meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas daerah
tersebut.
c. Faktor ekonomi lingkungan juga menjadi hal yang perlu
dipertimbangkan.
Sementara itu, studi kelayakan ditinjau dari aspek keuangan atau
keuangan meliputi kelayakan proyek dengan parameter Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), dan
Payback Period serta kelayakan pendanaan dengan parameter Debt
Coverage Ratio (DCR) dan saldo kas akhir.
3. Kajian dari Aspek Lingkungan
Kajian lingkungan meliputi dampak negatif dan positif pada
lingkungan, baik pada saat pelaksanaan pembangunan maupun pada
saat pengoperasian.
Pengkajian kelayakan lingkungan harus dilakukan pada tahap pra-
konstruksi,saat pelaksanaan konstruksi, pasca konstruksi dan terhadap
keterkaitan lainnya.
Pengkajian lingkungan dilakukan dengan menetapkan komponen-
komponen lingkungan atau kegiatan-kegiatan yang diperkirakan akan
terkena dampak langsung atau tidak langsung akibat kegiatan proyek
pengembangan SPAL, serta meninjau dampak lanjutan terhadap
komponen atau kegiatan tersebut.
4. Kajian dari Aspek Sosial, Hukum, dan Kelembagaan
Kajian dari aspek sosial, hukum, dan kelembagaan meliputi rencana
pengembangan organisasi dan sumber daya manusia untuk dapat
meningkatkan efisiensi pengelolaan SPAL.

Penilaian studi kelayakan dapat mencakup seluruh atau sebagian aspek di
atas. Studi kelayakan dilakukan selama umur periode perencanaan proyek
atau sesuai dengan periode perencanaan proyek yang berlangsung. Studi
kelayakan yang dimaksud dalam peraturan ini berlaku untuk semua
proyek.



D. KETENTUAN PERENC. STUDI KELAYAKAN TEKNIS
Dalam menyusun studi kelayakan teknis, setidaknya terdapat beberapa hal
yang perlu dikaji, yaitu :
1. Debit, Karakteristik, dan Kualitas Air Limbah
Pemantauan kualitas dan kuantitas hasil pengolahan air limbah wajib
dilakukan secara rutin dan berkala sesuai dengan standar yang
ditetapkan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di
bidang lingkungan hidup. Kualitas effluent unit IPAL harus memenuhi
standard baku mutu effluent (effluent standard) untuk air limbah yang
diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor
112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.
2. Teknologi dan Sumber Daya Setempat
Teknologi yang dijadikan alternatif pengolahan setidaknya memiliki
efisiensi pengolahan sebesar 90-95%. Kualitas air hasil olahan yang
berbentuk cairan wajib memperhatikan standar baku mutu air buangan
dan baku mutu sumber air baku yang mencakup syarat fisik, kimia,
dan bakteriologi sesuai dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 112 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik atau sesuai peraturan perundang-undangan setempat (bila
ada). Sedangkan hasil pengolahan air limbah yang berbentuk padatan
dan sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, wajib diolah sesuai dengan
peraturan yang berlaku sehingga tidak membahayakan manusia dan
lingkungan.
3. Keterjangkauan Pengoperasian dan Pemeliharaan
Penyelenggaraan SPAL yang dimaksudkan harus mudah dan dapat
dipahami oleh lembaga dan para pemangku kepentingan(stakeholder).
Hal ini dimaksudkan agar ketika proses pengolahan berlangsung
lembaga dan para pemangku kepentingan (stakeholder) mampu
menjalankan alat yang telah dirancang dengan baik, sehingga air
limbah yang diolah menghasilkan kualitas air yang tidak mencemari
lingkungan dan ketika terjadi permasalahan pada alat yang
direncanakan, dapat ditangani dengan segera.
4. Kondisi Fisik Setempat
Lokasi pembuangan akhir hasil pengolahan air limbah yang berbentuk
cairan wajib memperhatikan faktor keamanan dan SPAL yang
direncanakan wajib dilengkapi dengan zona penyangga.
5. Kelayakan Teknis Pengolahan SPAL
Kelayakan teknis pengolahan air limbah harus memenuhi ketentuan-
ketentuan umum sebagai berikut:
a. Tersedia rencana induk pengembangan SPALT meliputi:
1) Daerah pelayanan
2) Proyeksi penduduk
3) Proyeksi kebutuhan air
4) Unit pelayanan
5) Unit pengumpulan
6) Unit pengolahan
7) Unit pengolahan lumpur atau pembuangan akhir
8) Rencana pendanaan
9) Rencana kelembagaan

b. Kelayakan teknis harus memuat :
1) Rencana Teknik Operasional
2) Kebutuhan Lahan
3) Kebutuhan Air dan Energi
4) Kebutuhan Prasarana dan Sarana
5) Gambaran Umum Pengoperasian dan Pemeliharaan
6) Masa Layanan Sistem
7) Kebutuhan Sumber Daya Manusia
c. Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan team leader
berpengalaman dalam bidangnya minimal 5 tahun atau menurut
peraturan yang berlaku.

Pengkajian kelayakan teknis biasa dibuat dari beberapa alternatif yang
dikembangkan, dimana setiap alternatif disajikan secara jelas oleh tim
teknik untuk dipilih kriteria alternatif yang terbaik. Alternatif terpilih
adalah alternatif yang terbaik ditinjau dari beberapa aspek yang
dipengaruhi lokasi daerah perencanaan, meliputi:
a. Demografi (antara lain kelompok umur dan status pendidikan,
agama, mata pencaharian, status perkawinan, dan pendapatan per
kapita);
b. Aspek sosial, ekonomi, dan budaya (antara lain ketersediaan
fasilitas umum, gambaran umum tingkat sosial, ekonomi, dan
budaya wilayah dan masyarakat, analisis proporsi jenis pelanggan,
serta gambaran peran masyarakat);
c. Kebutuhan air (antara lain berdasarkan proyeksi pertumbuhan
penduduk, analisis tingkat konsumsi air minum domestik, analisis
tingkat cakupan pelayanan, dan aspek kesehatan masyarakat);
d. Operasional dan pelayanan;
e. Sistem dan kebutuhan lainnya.

Kelayakan teknis dilakukan dengan membandingkan usulan atau
perencanaan teknik dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria
yang berlaku. Suatu kegiatan dianggap layak secara teknis apabila
telah sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
berlaku, serta terdapat teknologi yang tersedia untuk membangun
SPALT.

E. KETENTUAN PERENCANAAN STUDI KELAYAKAN EKONOMI &
KEUANGAN
Pengkajian kelayakan ekonomi ditentukan dengan cara analisis ekonomi
untuk mengidentifikasi manfaat terbesar yang diterima oleh masyarakat
terutama dalam mendorong peningkatan kesehatan dan produktivitas
masyarakat.
Pengkajian kelayakan keuangan ditentukan untuk mendapatkan
keuntungan keuangan terbaik bagi penyelenggara dalam jangka waktu
tertentu. Sasaran dari analisa keuangan ini untuk mengetahui apakah
kegiatan yang akan dilaksanakan ini dari segi keuangan dinilai layak,
dalam arti mempunyai dana yang cukup untuk membiayai pengoperasian
seluruh fasilitas yang ada, dan dapat membayar kembali seluruh pinjaman
beserta bunganya bila menggunakan dana pinjaman.
Untuk menyusun studi kelayakan ekonomi dan keuangan SPAL, hal yang
harus diperhatikan pertama kali adalah penentuan tahun proyeksi.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menentukan tahun proyeksi
adalah:
- Jumlah atau lamanya tahun proyeksi kelayakan ekonomi dan
keuangan ditetapkan sejak tahun pertama investasi pelaksanaan
proyek dimulai (misal untuk biaya perencanaan atau pembebasan
lahan) sampai tahun berakhirnya manfaat dari investasi.
- Jumlah tahun proyeksi kelayakan ekonomi dan keuangan proyek
SPAL-T adalah 15 - 20 tahun;
- Jumlah tahun proyeksi kelayakan ekonomi dan keuangan proyek IPLT
adalah 15 - 20 tahun.

E.1. Kriteria Kelayakan
E.1.1. Kriteria Kelayakan Ekonomi Proyek
Dalam menyusun studi kelayakan mengacu pada kriteria kelayakan
ekonomi seperti berikut :
1. Kelayakan keuangan diukur berdasarkan :
a. Nisbah hasil biaya ekonomi ( Economic Benefit Cost Ratio /
EBCR)
Proyek dikatakan layak ekonomi apabila manfaat ekonomi
lebih besar dibanding dengan biaya yang ditimbulkan baik
berupa biaya operasional maupun biaya pengembalian
modal;
b. Nilai ekonomi kini bersih (Economic Net Present Value/ ENPV)
c. Laju pengembalian ekonomi internal (Economic Internal Rate of
Return/ EIRR)
Proyek dinyatakan layak ekonomi apabila berdasarkan hasil
perhitungan menghasilkan angka prosentase lebih besar dari
discount factor. Sedangkan apabila prosentasenya lebih kecil,
maka proyek perlu dilakukan revisi skala investasinya agar
biaya investasi tidak terlalu berlebihan.
2. Kelayakan ekonomi dilakukan dengan membandingkan manfaat
yang diterima oleh masyarakat dengan biaya yang ditimbulkan,
baik berupa biaya operasi, pemeliharaan maupun biaya
pengembalian modal.
3. Usulan kegiatan Pengembangan SPAL dinyatakan layak ekonomi,
jika manfaat ekonomi lebih besar dari biaya yang ditimbulkan,
baik berupa biaya operasi, pemeliharaan, maupun biaya
pengembalian modal.

E.1.2. Kriteria Kelayakan Keuangan Proyek
Dalam menyusun studi kelayakan juga mengacu pada kriteria
kelayakan keuangan seperti berikut :
1. Kelayakan keuangan diukur berdasarkan :
a. Periode pengembalian pembayaran (Pay Back Period)
b. Nilai keuangan kini bersih (Financial Net Present Value/ FNPV)
c. Laju pengembalian keuangan internal (Financial Internal Rate
of Return/ EIRR)
2. Kelayakan keuangan memperhitungkan beberapa aspek berikut
ini, yaitu :
a. Tingkat inflasi
b. Jangka waktu proyek
c. Biaya investasi
d. Biaya operasi dan pemeliharaan
e. Biaya umum dan administrasi
f. Biaya penyusutan
g. Tariff retribusi
h. Pendapatan retribusi
3. Kelayakan keuangan dilakukan dengan membandingkan
pendapatan dan tariff atau retribusi dengan biaya yang
ditimbulkan, baik berupa biaya operasional maupun biaya
pengembalian modal.
4. Kegiatan pengembangan SPAL dinyatakan layak keuangan jika
pendapatan dari tariff atau retribusi lebih besar dari biaya operasi
dan pemeliharaan.

E.2. Biaya Investasi Proyek Air Limbah
1. Investasi sarana dan prasarana air limbah meliputi:
a. Investasi untuk pembangunan sistem setempat (on-site).
b. Investasi untuk pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah
Terpusat dalam berbagai skala pengembangan (off-site).
2. Perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan proyek air limbah
harus memperhitungkan perbedaan karakteristik biaya yang
timbul antara proyek-proyek sebagai berikut:
a. Perluasan prasarana yang sudah ada.
b. Rehabilitasi prasarana yang sudah ada.
c. Pengembangan prasarana pada daerah baru.

E.3. Proses Perhitungan Kelayakan Ekon. & Keuangan
Proses perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan proyek air
limbah harus memperkirakan seluruh biaya yang timbul dan manfaat
yang timbul dari kegiatan investasi dan operasi serta memperkirakan
selisih atau membandingkan antara biaya dan manfaat selama tahun
proyeksi.
1. Perhitungan Kelayakan Ekonomi
a. Perhitungan kelayakan ekonomi proyek dihitung dengan
metode Economic Internal Rate of Return (EIRR);
b. Apabila hasil perhitungan EIRR proyek menghasilkan angka
prosentase (%) lebih besar dari discount factor, maka
perhitungan tersebut merekomendasikan bahwa proyek layak
diterima dalam pengertian melaksanakan proyek lebih baik
dibanding tidak melaksanakan proyek. Tidak melaksanakan
proyek berarti membiarkan pencemaran air limbah tetap
berlangsung dengan konsekuensi kerugian yang lebih besar
akibat penurunan kualitas sumber daya air dan penurunan
derajat kesehatan manusia;
c. Apabila hasil perhitungan EIRR proyek menghasilkan angka
prosentase (%) lebih kecil dari discount faktor, maka proyek
ditolak. Proyek ini perlu direvisi skala investasinya agar biaya
investasi tidak terlalu berlebihan (over investment).

2. Perhitungan Kelayakan Keuangan
a. Perhitungan kelayakan keuangan proyek dihitung dengan
metode Keuangan Economic Internal Rate of Return (FIRR) dan
Net Present Value (NPV);
b. Apabila hasil perhitungan FIRR menghasilkan angka
prosentase (%) lebih besar dari discount factor, maka pendanaan
investasi proyek dapat dibiayai dari pinjaman komersial tanpa
membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)
untuk pengembalian cicilan pokok dan bunganya. Bahkan
proyek ini mendapat manfaat keuangan sebesar nilai NPV- nya
(NPV positif);
c. Apabila hasil perhitungan FIRR menghasilkan angka
prosentase (%) sama dengan nol yang berarti lebih kecil dari
discout faktor, maka pendanaan investasi proyek hanya layak
apabila dibiayai dari sumber pendanaan APBD atau sumber
dana lain yang tidak mengandung unsur bunga pinjaman dan
pembayaran cicilan pokok.
d. Apabila kelayakan keuangan proyek tidak dapat menutup
biaya operasional (deficit O/M), maka proyek ditolak. Proyek
ini perlu direvisi perencanaannya dan pilihan teknologinya
agar biaya O/M-nya dapat menjadi lebih rendah.


Skematik biaya dan manfaat yang harus dihitung tersebut dijelaskan
pada Gambar I.9.


Gambar I.9. Skematika Biaya dan Manfaat Proyek


E.4. Perkiraan Biaya Investasi & Pengendalian Modal
1. Seluruh biaya investasi yang diperlukan dalam proyek air limbah
harus diperkirakan baik berupa investasi awal maupun investasi
lanjutan yang diperlukan sesuai tahapan pengembangan proyek
termasuk investasi penggantian (replacement) aset yang sudah
usang;

2. Seluruh biaya pengembalian modal investasi harus diperkirakan
berdasarkan perhitungan depresiasi (penyusutan) terhadap
prasarana terbangun. Perhitungan depresiasi masing-masing
komponen prasarana terbangun dihitung bedasarkan standard
usia/umur manfaat prasarana;

3. Apabila biaya investasi pembangunan sarana dan prasarana
tersebut dibiayai dari dana pinjaman (Loan), maka biaya bunga
pinjaman harus diperhitungkan dalam komponen pengembalian
modal.


E.5. Perkiraan Biaya Operasional
1. Seluruh biaya operasi dan pemeliharaan (O & P) yang diperlukan
untuk mengoperasikan sarana dan prasarana terbangun sesuai
Standard Operating Procedur (SOP) harus diperkirakan dalam
satuan Rp/Thn serta diproyeksikan selama tahun proyeksi dengan
memperhitungkan perkiraan tingkat inflasi;

2. Seluruh biaya umum dan administrasi yang diperlukan untuk
membiayai operasi lembaga pengelola harus diperkirakan dalam
Rp/Thn serta diproyeksikan selama tahun proyeksi dengan
memperhitungkan perkiraan tingkat inflasi dan pengembangan
kapasitas lembaga pengelola.

E.6. Perkiraan Manfaat Ekonomi
1. Seluruh manfaat ekonomi yang timbul dari keberadaan proyek air
limbah harus diperkirakan baik berupa manfaat yang dapat diukur
dengan uang (Tangible) maupun manfaat yang tidak dapat diukur
dengan uang (Intangible);

2. Manfaat ekonomi proyek air limbah yang dapat diukur dengan
nilai uang (Tangible) baik berupa manfaat langsung (Direct)
maupun manfaat tidak langsung (Indirect) harus dikonversikan
dengan standard konversi yang dapat dipertanggung jawabkan
berdasarkan kaidah ekonomi yang dihitung dalam satuan Rp/Thn;
3. Manfaat ekonomi proyek air limbah yang tidak dapat diukur
dengan nilai uang (Intangible) harus dijelaskan dengan
menggunakan data-data statistik yang relevan.

E.7. Perkiraan Manfaat Keuangan (Pendapatan Retribusi)
1. Seluruh potensi retribusi yang dapat diterima oleh lembaga
pengelola sebagai akibat dari pelayanan air limbah harus
diperkirakan berdasarkan perkiraan jumlah pelanggan dan
perkiraan tarif retribusi rata-rata setiap tahun.
2. Proyeksi kenaikan jumlah pelanggan air limbah harus dihitung
berdasarkan skenario peningkatan jumlah pelanggan hingga
tercapainya kapasitas optimum (Full Capacity) sesuai dengan
rencana teknis proyek;
3. Proyeksi kenaikan tarif air limbah yang diperhitungkan dalam
proyeksi pendapatan tarif tidak boleh melampaui tingkat inflasi.

E.8. Komponen Biaya Investasi
E.8.1. Komponen Biaya Investasi SPAL Setempat (IPLT)
1. Komponen Biaya Engineering
Merupakan biaya-biaya survei, investigasi, Feasibility Study (FS),
Detailed Design, studi AMDAL, Public Campaign, Standard
Operational Procedur (SOP) dan biaya supervisi dan sebagainya.
Besarnya komponen biaya Engineering ini berkisar antara 5-10%
dari total biaya investasi (capital cost);

2. Komponen Biaya Pembebasan Lahan
Pembebasan lahan untuk IPLT meliputi:
a. Pembebasan lahan untuk IPLT termasuk lahan untuk buffer
zone.
b. Pembebasan lahan untuk jalan akses IPLT
Biaya pembebasan lahan tersebut meliputi biaya ganti rugi tanah,
bangunan dan biaya administrasi yang berkisar antara 20-30%
dari total biaya investasi.

3. Komponen Biaya Konstruksi
Merupakan biaya konstruksi IPLT termasuk jalan akses yang
meliputi:
a. Biaya perataan tanah IPLT dan buffer zone.
b. Biaya pekerjaan sipil IPLT dan buffer zone.
c. Biaya pekerjaan M/E IPLT.
d. Biaya pekerjaan landscape.
e. Biaya pekerjaan jalan akses.

4. Komponen Biaya Pengadaan truk tinja
Truk tinja dibutuhkan untuk mengangkut tinja dari rumah
penduduk ke IPLT. IPLt hanya menerima dan mengolah lumpur
tinja yang diangkut melalui truk tinja. Banyaknya truk tinja yang
dibutuhkan disesuaikan dengan luasan daerah pelayanan IPLT.

E.8.2. Komponen Biaya Investasi SPAL Terpusat
1. Komponen Biaya Engineering
Merupakan biaya-biaya survei, investigasi, Feasibility Study (FS),
Detailed Design, studi AMDAL, Public Campaign, Standard
Operational Procedur (SOP) dan biaya supervisi dan sebagainya.
Besarnya komponen biaya Engineering ini berkisar antara 5-10%
dari total biaya investasi (capital cost);

2. Komponen Biaya Pembebasan Lahan
Pembebasan lahan untuk sistem terpusat meliputi :
a. Pembebasan lahan untuk IPAL termasuk lahan untuk buffer
zone.
b. Pembebasan lahan untuk jalan akses IPAL
c. Pembebasan lahan untuk pipa induk (Main Trunk).
Biaya pembebasan lahan tersebut meliputi biaya ganti rugi tanah
dan bangunan yang nilai biayanya berkisar antara 20-30% dari
total biaya investasi.

3. Komponen Biaya Konstruksi
Merupakan komponen biaya konstruksi Sistem Pengelolaan Air
Limbah Permukiman Terpusat yang meliputi:
a. Biaya konstruksi jaringan perpipaan
Biaya konstruksi jaringan perpipaan meliputi :
- Pipa persil
- Pipa retikulasi
- Pipa induk
- Bangunan pelengkap pada sistem jaringan
- Perbaikan prasarana eksisting yang terkena dampak
pembangunan perpipaan

b. Biaya konstruksi IPAL
Biaya konstruksi IPAL yang meliputi :
- Biaya peraturan tanah IPAL dan buffer zone
- Biaya pekerjaan civil IPAL dan buffer zone
- Biaya pekerjaan M/E IPAL
- Biaya pekerjaan landscape
- Biaya pekerjaan jalan akses

E.9. Komponen Biaya Operasional Tahunan
Biaya operasional adalah biaya yang timbul untuk mengoperasikan
prasarana terbangun agar mampu memberi manfaat pelayanan sesuai
kapasitasnya secara berkelanjutan dan berdaya guna sesuai umur
rencananya. Biaya operasi dan pemeliharaan dihitung dalam Rp/Thn.

E.9.1. Komponen Biaya Operasi SPAL Setempat
1. Komp. Biaya Operasi&Pemel. Sedot&Angkut
a. Biaya Operasi
- Biaya gaji tenaga operator dan perlengkapan kerja
operator.
- Biaya material habis pakai (BBM, dan sebagainya).
- Biaya peralatan operasi.
b. Biaya Pemeliharaan
- Pemeliharaan rutin truk tinja (ganti olie, dan sebagainya).
- Pemeliharaan berkala (ganti ban, kopling).

2. Komponen Biaya Operasi dan Pemel. IPLT.
a. Biaya Operasi IPLT
- Biaya gaji operator dan perlengkapan kerja operator.
- Biaya material habis pakai (listrik, BBM, dan sebagainya).
- Biaya peralatan operasional.
b. Biaya Pemeliharaan
- Pemeliharaan rutin instalasi.
- Pemeliharaan berkala instalasi.
- Pemeliharaan bangunan penunjang.

3. Komponen Biaya Umum dan Administrasi
Komponen biaya umum dan administrasi meliputi:
- Biaya gaji staf dan manajemen;
- Biaya material habis pakai (ATK, telpon, listrik, dan
sebagainya);
- Biaya peralatan kantor (komputer, printer, kendaraan
operasional, dan sebagainya);

4. Komponen Biaya Penyusutan
Komponen biaya penyusutan meliputi:
- Biaya penyusutan truk tinja.
- Biaya penyusutan IPLT.
- Biaya penyusutan kantor umum dan administrasi.

E.9.2. Komponen Biaya OP SPAL Terpusat
1. Komponen Biaya OP. IPAL
a. Biaya Operasi
- Biaya gaji
- Biaya material
- Biaya peralatan
b. Biaya Pemeliharaan
- Pemeliharaan rutin IPAL
- Pemeliharaan berkala IPAL

2. Komponen Biaya Umum dan Administrasi,
Komponen ini meliputi :
- Biaya gaji staf dan manajemen.
- Biaya material habis pakai (ATK, telkomunikasi, listrik).
- Biaya peralatan kantor (komputer, printer, kendaraan
operasional, dan sebagainya).

3. Komponen Biaya Penyusutan
a. Biaya Penyusutan Jaringan Perpipaan
- Penyusutan pipa persil
- Penyusutan pipa retikulasi
- Penyusutan pipa induk
b. Biaya Penyusutan IPAL
- Penyusutan bangunan instalasi
- Penyusutan M/E
- Penyusutan bangunan penunjang
c. Biaya Penyusutan Kantor Administrasi
- Penyusutan bangunan kantor
- Penyusutan peralatan kantor
- Penyusutan lain-lain.

4. Komponen Manfaat Ekonomi Proyek
Manfaat ekonomi proyek pengembangan sarana dan prasaran air
limbah adalah manfaat proyek yang dapat dikonversi dalam
satuan rupiah (Tangible) dan manfaat proyek yang tidak dapat
dikonversi dalam satuan rupiah (Intangible).

E.10. Jenis Manfaat Ekonomi Proyek Air limbah
Kelayakan ekonomi memperhitungkan 2 aspek dan selengkapnya dijelaskan
sebagai berikut:
E.10.1. Manfaat yang Dapat Diukur dg Nilai Uang
Manfaat Tangible proyek dapat dibedakan sebagai manfaat langsung
(direct) dan manfaat tidak langsung (indirect). Secara umum manfaat
Tangible proyek pengembangan sarana dan prasarana air limbah
adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Langsung
a. Pemanfaatan lumpur tinja sebagai pupuk
b. Pemanfaatan gas bio sebagai sumber energi

2. Manfaat Tidak Langsung
a. Peningkatan nilai harga tanah dan bangunan
b. Pengurangan biaya pengolahan air baku air minum

E.10.2. Jenis Manfaat Proyek yg Tdk dpt diukur dg Uang
Jenis manfaat proyek yang tidak dapat diukur dengan nilai uang
(Intangible) antara lain:
1. Pengurangan tingkat pencemaran
2. Meningkatnya kesehatan masyarakat
3. Terjaganya kelestarian sumber daya air
4. Penurunan derajat konflik yang disebabkan oleh pencemaran air
limbah
E.11. Proyeksi Pendapatan Tarif Retribusi Air Limbah
Mengingat pelanggan air limbah berasal dari berbagai tingkat dan
golongan masyarakat yang berbeda kemampuan keuangan/daya
belinya, maka perkiraan pendapatan tarif retribusi air limbah harus
memperhitungkan:
- Perkiraan tarif per golongan pelanggan dan per jenis pelayanan;
- Perkiraan jumlah pelanggan per golongan pelanggan dan per jenis
pelayanan.
E.11.1. Perhitungan Perkiraan Tarif Pelay. Air Limbah
1. Perkiraan perhitungan tarif pelayanan air limbah harus
memperhitungkan:
a. Biaya operasi dan pemeliharaan.
b. Biaya depresiasi atau amortisasi.
c. Biaya bunga pinjaman.
d. Biaya umum dan administrasi.
2. Perkiraan tarif per golongan pelanggan harus direncanakan
sebagai tarif terdeferensiasi untuk penerapan subsidi silang
kepada pelanggan yang berpenghasilan rendah.
3. Perkiraan tarif per golongan pelanggan untuk proyek yang
bersifat rehabilitasi atau peningkatan kapasitas harus
memperhatikan tingkat tarif yang sudah berlaku.
4. Perkiraan perhitungan tarif per golongan pelanggan, struktur tarif
dan penentuan satuan tarif harus mengacu kepada pedoman
penetapan tarif air limbah yang berlaku.
5. Besaran tarif retribusi untuk pengelolaan SPAL dapat
dimasukkan dalam pajak, biaya rekening air minum, atau sesuai
dengan peraturan yang berlaku di daerah yang bersangkutan.

E.11.2. Komponen Penerimaan Retribusi
Berdasarkan jenis golongan pelanggan dan golongan tarif retribusi
Air Limbah, maka komponen penerimaan retribusi harus dihitung
berdasarkan perkiraan jumlah pelanggan per masing-masing
golongan sebagai berikut:
1. Komponen penerimaan retribusi dari pelanggan permukiman
dalam Rp/Thn.
2. Komponen penerimaan retribusi dari pelanggan daerah komersial
atau institusional dalam Rp/Thn.
3. Komponen penerimaan retribusi dari pelanggan yang tinggal
pada bangunan bertingkat banyak (high rise building) dalam
Rp/Thn.

E.12. Perhitungan Kelayakan Ekonomi & Keuangan
Perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan sekurang- kurangnya
disajikan dalam perhitungan spread sheet, sehingga data-data
perhitungan dan proyeksi perhitungan dapat disajikan secara jelas.
Data-data yang harus disajikan untuk mendukung hasil perhitungan
IRR dan NPV sekurang-kurangnya meliputi:
1. Jadwal konstruksi dan jadwal investasi.
2. Jadwal operasi dan proyeksi kapasitas operasi.
3. Asumsi-asumsi biaya O/M, umum dan administrasi.
4. Asumsi tarif retribusi.
5. Proyeksi Net Cash.
6. Analisis Sensitifitas.
7. Proyeksi rugi/laba.

F. KETENTUAN PERENC. KAJIAN LINGKUNGAN
F.1. Dokumen Kajian Lingkungan
Pada prinsipnya dokumen kajian lingkungan proyek air limbah adalah
studi AMDAL yang terdiri atas 4 dokumen yaitu:
1. Dokumen Kerangka Acuan ANDAL
2. Dokumen Studi ANDAL
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
5. Dokumen Ringkasan Eksekutif (RE)

F.2. Proyek yang Perlu Kajian Lingkungan
Proyek pengembangan sarana dan prasarana air limbah yang wajib
melakukan studi AMDAL adalah:
- Proyek Pembangunan IPLT
- Proyek Pembangunan Sistem Terpusat
Selain itu, berdasarkan jenis-jenis studi kelayakan, proyek yang
melakukan studi kelayakan lengkap wajib melakukan AMDAL,
sedangkan untuk proyek yang melakukan studi kelayakan sederhana
terdapat dua kemungkinan yaitu membuat AMDAL atau cukup
dengan membuat UKL-UPL (hal ini tergantung luas lahan yang
digunakan dalam proyek dan jumlah penduduk yang dilayani, sesuai
dengan PERMEN Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang Jenis
Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL
untuk SPAL yang setara dengan pelayanan minimal 100.000 orang.
yang lebih dijelaskan pada Tabel I.1.). Sementara itu, untuk proyek
yang hanya melakukan justifikasi teknis, cukup membuat UKL-UPL
saja.

Tabel I.1. Jenis Rencana Usaha/Kegiatan yang Wajib AMDAL
No. Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1 Pembangunan
Instalasi
Pengolahan
Lumpur Tinja
(IPLT), termasuk
Luas > 2 ha
Kapasitas> 11 m
3
/hari
- Setara dengan layanan
untuk 100.000 orang
- Dampak kebauan dan
gangguan visual
No. Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
fasilitas
penunjangnya
2 Pembangunan
Instalasi
Pengolahan Air
Limbah (IPAL)
limbah domestik
termasuk fasilitas
penunjangnya
Luas > 3 ha
Kapasitas > 2,4 ton/hari
- Setara dengan layanan
untuk 100.000 orang

3 Pembangunan
sistem perpipaan air
limbah :

- Luas layanan
- Debit Air Limbah
> 500 ha
> 16.000 m
3
/hari
Setara dengan layanan
100.000 orang
Setara dengan 20.000
unit sambungan air
limbah
Dampak gangguan lalu
lintas, kerusakan sarana
prasarana umum, dan
ketidaksesuaian
Sumber: PerMen LH No. 05 Tahun 2012

F.3. Kriteria Kajian Lingkungan Proyek Air Limbah
Proyek dikatakan layak lingkungan apabila seluruh biaya yang timbul
dan kapasitas kelembagaan yang dibutuhkan sesuai rekomendasi RKL
dan RPL dapat dipenuhi oleh lembaga pengelola yang bertanggung
jawab.

Setiap usulan lokasi proyek air limbah, seperti IPLT, IPAL, sebelum
dilaksanakan studi AMDAL, terlebih dahulu harus memenuhi kriteria
pemilihan lokasi sesuai dengan tata cara yang berlaku.
Kapasitas kelembagaan pengelolaan proyek harus memadai untuk
menjalankan rekomendasi RKL dan RPL baik pada masa pra
konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi.

Pilih Calon Lokasi (IPLT, IPAL)
Sesuai Kriteria
Lokasi
Tidak
Ya
Sudah Memiliki
RDTR
Studi AMDAL,
RKL, dan RPL
Tidak
Potensi Masalah Perencanaan
Potensi Masalah Sosial
Kapasitas Biaya Pengembalian
Dampak sesuai RKL & RPL
Dapat Diatasi
Dilakukan
Kajian Ulang
Tidak
Memenuhi
Ketentuan Kajian
Lingkungan
Ya
Sosialisasi
Ya
Dicari Alternatif
Lokasi yang
sesuai

Gambar I.10. Skematika Kajian Lingkungan Proyek Air Limbah



G. KETENTUAN PERENC. KAJIAN SOSIAL
Ketentuan dalam melaksanakan kajian sosial harus mempertimbangkan
aspirasi masyarakat untuk menerima rencana penyelenggaraan
pengembangan SPAL.

H. KETENTUAN PERENC. KAJIAN HUKUM
Ketentuan dalam melakukan kajian hukum, yaitu membahas beberapa
ketentuan berikut :
1. Ketentuan peraturan perundang-undangan
2. Kebijakan
3. Perizinan yang diperlukan

I. KETENTUAN PERENC. KAJIAN KELEMBAGAAN
Ketentuan teknis pengkajian kelembagaan dalam penyusunan studi
kelayakan SPALT dalam pelaksanaannya meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Pembentukan Tim Teknis;
2. Tugas dan tanggung jawab.

Adapun rencana kerja meliputi:
1. Penyiapan data eksisting kelembagaan
2. Studi literatur (RUTR, RTRW, data dan gambar dll)
3. Rencana pengembangan SPALT
4. Kesimpulan
5. Rekomendasi (langsung bisa digunakan, perlu diubah, perlu studi
ulang)
6. Pengesahan

Sementara itu, pengkajian Kelembagaan dilakukan terhadap:
1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang diperlukan dalam mendukung
kelembagaan didasarkan pada tingkat pendidikan dan kualitasnya
(seperti di bawah ini), namun tidak dibatasi pada keahlian tersebut.
Untuk melakukan kegiatan penyelenggaraan kelembagaan SPALT,
maka sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
a. Ahli Kelembagaan/Manajemen
b. Ahli Teknik Penyehatan/Teknik Lingkungan/Ahli Air Limbah
c. Ahli Sosial Ekonomi/Keuangan
d. Ahli Teknik Hukum
e. Ahli Pemberdayaan Masyarakat


2. Struktur dan Tugas Pokok Institusi Penyelenggara
Struktur organisasi dan penempatan kerja sesuai latar belakang
pendidikannya mengacu pada peraturan dan perundangundangan
yang berlaku. Pengkajian Kelembagaan penyelenggara pengembangan
SPALT dibentuk :
a. Sebelum SPALT selesai dibangun keberadaan studi kelayakan
SPALT sangat diperlukan agar SPALT dapat langsung beroperasi.
Kelembagaan pengelolaan air limbah dapat berdiri sendiri atau
bekerjasama antar lembaga-lembaga terkait.
b. Apabila wilayah pelayanan SPALT belum mempunyai studi
kelayakan.
c. Apabila wilayah pelayanan SPALT memiliki studi kelayakan
yang selama 20 tahun belum dikaji ulang.

Struktur organisasi kelembagaan penyelenggara pengembangan SPALT
dapat digambarkan sebagai berikut:











Gambar I.11. Struktur Organisasi Kelembagaan Penyelenggaraan
SPALT

3. Alternatif Kelembagaan Kerjasama Pemerintah dan Swasta
Alternatif kelembagaan kerjasama pemerintah dan swasta


Selain itu, adanya pemantauan dan evaluasi terkait pengkajian
kelembagaan penyelenggara pengembangan SPALT juga sangat
diperlukan sehingga hal ini perlu dilakukan. Hasil monitoring pelaksanaan
yang harus dilaporkan meliputi:
1. Kondisi eksisting kelembagaan penyelenggara pengembangan SPALT
baik dari segi penanggungjawab penyelenggaraan awal maupun
pengelolaannya.
2. Rencana Pengembangan SPALT apakah sudah terkoordinasi dengan
lembaga terkait dalam hal arah perkembangan ekonomi, sosial, budaya
RTRW/RUTRK, Pengkajian kualitas air limbah, Pengkajian
Geoklimatografi dan Topografi, Pengkajian Demografi dan Tata Kota,
Pengkajian derajat kesehatan masyarakat dan Pengkajian kebutuhan
dan pelayanan air limbah.
3. Hasil evaluasi pengkajian kelembagaan studi kelayakan SPALT sudah
merupakan sumbangan pemikiran dan menjadi keputusan bersama
dari lembaga yang terkait dalam penentuan prioritas penanganan,
pembiayaan dan pelaksanaannya.

J. SURVEY PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN
SPALT
1. Survei dan Pengkajian Wilayah Studi dan Wilayah Pelayanan
a. Ketentuan Umum
Survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah pelayanan harus
memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin
tim (team leader) berpengalaman dalam bidang air limbah
minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku;
2) Mempelajari laporan studi terdahulu tentang sistem pengelolaan
air limbah dan tata ruang kota.
3) Dilakukan pembahasan dengan pihak terkait guna mendapatkan
kesepakatan dan rekomendasi terhadap lingkup wilayah studi
dan wilayah pelayanan.
4) Wilayah studi dan wilayah pelayanan harus memperhatikan
acuan umum dan kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan.
5) Laporan hasil survei dan pergkajian wilayah studi dan wilayah
pelayanan mencakup:
a) Batas wilayah studi, wilayah proyek dan wilayah pelayanan;
b) Foto-foto lokasi alternatif badan air, jalur pipa transmisi air
limbah, instalasi pengolahan air dan alternatif tempat
pembuangan lumpur yang dihasilkan dari pengolahan air
limbah;
c) Data teknis wilayah studi dan wilayah pelayanan;
d) Pertimbangan teknis wilayah studi dan wilayah pelayanan.
b. Ketentuan Teknis
Ketentuan teknis survei dan pengkajian wilayah studi dan wilayah
pelayanan sebagai berikut:
1) Data teknis yang harus dikumpulkan meliputi:
a) Iklim;
b) Geografi;
c) Geologi dan hidrologi yang dilengkapi peta-peta;
d) Rencana Tata Ruang Wilayah;
e) Peta wilayah;
f) Gambar-gambar teknis yang ada;
g) Laporan teknis sistem pengelolaan air limbah jika ada;
h) Data sosial ekonomi;
i) Data kependudukan.
2) Peta-peta wilayah dengan ukuran skala sesuai ketentuan yang
berlaku;
3) Survei antara lain badan air penerima hasil air limbah yang telah
dikelola, sosial, dan ekonomi harus dilakukan sesuai ketentuan
yang berlaku;
4) Pemilihan alternatif jalur transmisi air limbah ditentukan
berdasarkan hasil kunjungan lapangan. Panjang pipa dan
kondisi topografi diketahui berdasarkan pembacaan peta;
5) Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan batasan wilayah
studi, wilayah proyek dan wilayah pelayanan, badan air
penerima dan jalur transmisi air limbah, serta menjelaskan
komponen-komponen yang terdapat di dalam wilayah studi dan
wilayah pelayanan secara terinci baik kondisi pada saat ini
maupun kondisi pada masa mendatang.

c. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan survei lapangan
adalah:
a) Surat pengantar untuk melakukan survei;
b) Peta kota dan topografi;
c) Tata cara survei dan manual peralatan yang dipakai;
d) Jadwal pelaksanaan survei lapangan;

2) Prosedur pelaksanaan survei.
Prosedur pelaksanaan survei adalah sebagai berikut:
a) Serahkan surat izin survei kepada setiap instansi yang dituju
b) Lakukan pengumpulan data berikut:
- Peta dan laporan terdahulu;
- Laporan mengenai rencana tata ruang wilayah;
- Peta jaringan pipa eksisting;
- Data teknis.
c) Lakukan survei lapangan yang berupa kunjungan lapangan
terhadap:
- Badan air penerima;
- Rencana daerah pelayanan;
- Jalur-jalur alternatif sistem transmisi air limbah.

Selanjutnya siapkan peta kota, plot lokasi-lokasi badan air
penerima, jalur pipa transmisi air limbah, batas wilayah studi dan
wilayah pelayanan. Buat foto-foto lokasi yang ada kaitannya
dengan rencana sistem pengelolaan air limbah.

3) Pengkajian
a) Pengkajian badan air penerima
Cantumkan lokasi alternatif badan air penerima pada peta
wilayah studi yang akan dibuat. Apabila tidak terdapat badan
air penerima pada wilayah administrasi dapat diusulkan
sumber lain yang berada di luar batas administrasi.
b) Alternatif jalur transmisi air limbah
Berdasarkan alternatif lokasi badan air penerima dan
kunjungan lapangan, buatlah rencana jalur transmisi air
limbah pada peta wilayah studi yang akan dibuat.
Cantumkan panjang jalur pipa transmisi air limbah yang
dihitung berdasarkan pembacaan skala peta yang berlaku.
c) Penetapan wilayah pelayanan
Pada dasarnya sasaran wilayah pelayanan suatu daerah
tergantung pada fungsi strategis kota atau kawasan, tingkat
kepadatan penduduk dan lokasi badan air penerima. Wilayah
pelayanan tidak terbatas pada wilayah administrasi yang
bersangkutan sesuai hasil kesepakatan dan koordinasi dengan
pihak-pihak yang terkait dalam rangka menunjang
pembangunan sistem pengolahan air limbah. Kondisi wilayah
pelayanan yang menjadi sasaran pelayanan mengacu pada
pertimbangan teknis dalam standar spesifikasi teknis berikut.
Cantumkan hasil pertimbangan teknis dalam bentuk tabel-
tabel dan buatlah dalam bentuk peta.
(1) Bentuk Wilayah Pelayanan
Bentuk wilayah pelayanan mengikuti arah perkembangan
kota dan kawasan di dalamnya.
(2) Luas Wilayah Pelayanan
Luas wilayah pelayanan ditentukan berdasarkan survei
dan pengkajian sehingga memenuhi persyaratan teknis.
(3) Pertimbangan Teknis Wilayah Pelayanan
Pertimbangan teknis dalam menentukan wilayah
pelayanan antara lain namun tidak dibatasi oleh:
- Kepadatan penduduk
- Tingkat perkembangan daerah
- Dana investasi, dan
- Kelayakan operasi
(4) Komponen Wilayah Pelayanan
Komponen wilayah pelayanan adalah:
- Kawasan permukiman
- Kawasan perdagangan
- Kawasan pemerintahan dan pendidikan
- Kawasan industri
- Kawasan pariwisata
- Kawasan khusus: pelabuhan, rumah susun.

d) Penetapan wilayah studi
Apabila terdapat sistem eksisting, maka lakukan penanganan
seperti pada ketentuan umum dan ketentuan teknis di atas,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Uraikan sasaran
wilayah pelayanan dan arah pengembangan kota menurut
tata ruang kota yang sudah disetujui. Uraikan komponen-
komponen yang ada di dalam wilayah pelayanan saat ini dan
proyeksi pada masa mendatang. Plot lokasi badan air
penerima yang telah dikunjungi dan alternative jalur pipa
transmisi air limbah. Kemudian buatlah batas wilayah
meliputi seluruh alternatif sumber dan wilayah yang menjadi
kesepakatan dan koordinasi pihak terkait.


e) Penetapan wilayah proyek
Wilayah proyek merupakan wilayah sistem yang sudah
terpilih yang mencakup semua tahapan pengembangan
sistem pengelolaan air limbah. Cantumkan alternatif terpilih
tersebut pada sebuah peta wilayah proyek, dan lengkapi
dengan keterangan sistem yang mencakup:
(1) Lokasi badan air penerima
(2) Lokasi instalasi pengolahan dan pengembangannya,
(3) Lokasi pembuangan lumpur dan pengembangannya,
(4) Wilayah pelayanan dan pengembangannya.

4) Hasil Pengkajian
Hasil pengkajian berupa ketetapan pasti mengenai:
a) Badan air penerima dan alternatif jalur transmisi air limbah;
b) Batas-batas wilayah pelayanan beserta komponen-
komponennya;
c) Batas wilayah studi beserta komponen-komponennya;
d) Batas wilayah proyek.


2. Survei dan Pengkajian Kualitas Air Limbah
Survei kualitas air limbah dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
mengenai berbagai alternatif pengolahan air limbah yang dapat
digunakan untuk mengurangi pencemaran lingkungan masyarakat.
c. Ketentuan Umum
Survei kualitas air limbah harus dilaksanakan sesuai ketentuan-
ketentuan umum sebagai berikut:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin
tim (team leader) berpengalaman dalam bidang air limbah
minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku;
2) Melaksanakan survei lapangan yang seksama dan terkoordinasi
dengan pihak-pihak terkait;
3) Membuat laporan tertulis mengenai hasil survei yang memuat:
a) Foto lokasi;
b) Jenis atau golongan badan air penerima;
c) Perkiraan kapasitas badan air;
d) Kualitas dan kuantitas air limbah;
e) Fungsi saat ini;
f) Kajian geologi, hidrologi, geohodrologi, morfologi
4) Mengirimkan data dan laporan-laporan tersebut di atas kepada
pemberi tugas instansi yang terkait.



d. Ketentuan Teknis
Dalam pelaksanaan survei lapangan kualitas air limbah yang akan
diolah harus dipenuhi ketentuan-ketentuan teknis sebagai berikut:
1) Gambar-gambar sketsa lokasi, peta-peta dengan ukuran gambar
sesuai ketentuan yang berlaku;
2) Badan air penerima harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- Kuantitas badan air penerima harus terjamin kontinuitasnya;
- Kualitas badan air penerima harus memenuhi ketentuan
baku mutu air yang berlaku (sesuai dengan golongannya);

e. Peralatan
Peralatan yang dipergunakan dalam survey kualitas air limbah
disesuaikan dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan
Contoh Uji Kualitas Air.
f. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Dalam persiapan survei kualitas air limbah perlu dilakukan
persiapan sebagai berikut:
a) Siapkan surat-surat pengantar yang diperlukan dalam
pelaksanaan survei lapangan;
b) Siapkan formulir lapangan yang digunakan untuk menyusun
data yang dibutuhkan agar mempermudah pelaksanaan
pengumpulan data di lapangan.
2) Survei dan Pengkajian Air Permukaan

3. Survei dan Pengkajian Demografi dan Ketatakotaan
a. Ketentuan Umum
Ketentuan umum tata cara ini adalah:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim
(team leader) berpengalaman dalam bidang demografi dan
ketatakotaan minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang
berlaku;
2) Tersedia surat-surat yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaaan;
3) Tersedia data statistik sampai dengan 10 tahun terakhir yang
terdiri dari:
a) Statistik penduduk;
b) Kepadatan penduduk;
c) Persebaran penduduk;
d) Migrasi penduduk per tahun;
e) Penduduk usia sekolah.
4) Tersedia peta-peta yang memperlihatkan kondisi fisik daerah
yang di studi;
5) Tersedia studi-studi yang ada mengenai ketatakotaan.

b. Ketentuan Teknis
1) Kependudukan
Ketentuan teknis untuk tata cara survei dan pengkajian demografi
adalah:
a) Wilayah sasaran survei harus dikelompokan ke dalam
kategori wilayah berdasarkan jumlah penduduk sebagai
berikut:
- Kota : Jumlah penduduk > 1.000.000 jiwa atau >
200.000 buah rumah.
- Metropolitan : Jumlah penduduk (500.000-1.000.000) jiwa
atau (100.000 200.000) buah rumah.
- Kota Besar : Jumlah penduduk (100.000 -500.000) jiwa
atau (20.000 100.000) buah rumah.
- Kota Sedang : Jumlah penduduk (10.000-100.000) jiwa
atau (2.000 20.000) buah rumah.
- Kota Kecil Desa: Jumlah penduduk (3.000-10.000) jiwa atau
(600 2.000) buah rumah.
b) Cari data jumlah penduduk awal perencanaan.
c) Tentukan nilai persentase pertambahan penduduk per tahun
(r).
d) Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun
perencanaan dengan menggunakan salah satu metode
arithmatik, geometrik, dan least squre;
Pn Po + Ka (Tn To)
Namun, metode yang biasa digunakan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) adalah Metode Geometrik.
e) Rumus-rumus perhitungan proyeksi jumlah penduduk:
(1) Metoda Arithmatik
Pn Po + Ka (Tn To)

1 2
1
T T
P P
Ka
a

=
Dimana :
Pn : Jumlah penduduk pada tahun ke n
Po : Jumlah penduduk pada tahun dasar
Tn : Tahun ke n
To : Tahun dasar
Ka : Konstanta arithmatik
P1 : Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke 1
P2 :Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun
terakhir
T1 : Tahun ke 1 yang diketahui
T2 : Tahun ke 2 yang diketahui

(2) Metoda Geomentrik
Pn = Po (1 + r)
n

Dimana :
Pn : Jumlah penduduk pada tahun ke n
Po : Jumlah penduduk pada tahun dasar
r : Laju pertumbuhan penduduk
n : Jumlah interval tahun
(3) Metoda Least Square
bX a Y + =
^

Dimana :
^
Y : Nilai variabel berdasarkan garis regresi
X : Variabel independen
a : Konstanta
b : Koefisien arah regresi linear

adapun persamaan a dan b adalah sebagai berikut :
( )

=
2
2
2
. X X n
Y X X Y
a
( )

=
2
2
. X X n
Y X YX
b

Bila koefisien b telah dihitung terlebih dahulu, maka
konstanta a dapat ditentukan dengan persamaan lain,
yaitu :

= X b Y a
Dimana

Y dan

X masing-masing adalah rata-rata untuk


variable Y dan X.

(4) Metoda Trend Logistic
bx a
k
Ka
+

=
10 1

Dimana :
Y : Jumlah penduduk pada tahun ke-X
X : Jumlah interval tahun
k, a&b : Konstanta

f) Untuk menentukan pilihan rumus proyeksi jumlah penduduk
yang akan digunakan dengan hasil perhitungan yang paling
mendekati kebenaran harus dilakukan analisis dengan
menghitung standar deviasi atau koefisien korelasi.
g) Rumus standar deviasi dan koefisien korelasi adalah sebagai
berikut :
(1) Standar Deviasi
1
2

|
.
|

\
|

=


n
X X
s
i
, untuk n > 20
n
X X
s
i
|
.
|

\
|

=

2
, untuk n = 20
Dimana :
s : Standar deviasi
Xi : Variabel independen X (jumlah penduduk)

X : Rata-rata X
n : Jumlah Data
Metode perhitungan proyeksi penduduk yang paling
tepat adalah metoda yang memberikan harga standar
deviasi terkecil.
(2) Koefisien Korelasi
Metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk yang
menghasilkan koefisien paling mendekati 1 adalah
metoda yang terpilih.


Ketentuan teknis untuk survei dan pengkajian ketatakotaan adalah:
1) Ada sumber daya baik alam maupun bukan alam yang dapat
mendukung penghidupan dan kehidupan di kota yang akan
disurvei;
2) Ada prasarana perkotaan yang merupakan titik tolak arah
pengembangan penataan ruang kota.

c. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Pekerjaan persiapan untuk tata cara ini adalah sebagai berikut:
a) Siapkan data sekunder, yaitu:
(1) Data penduduk di wilayah administrasi;
(2) Kepadatan rata-rata penduduk di wilayah administrasi;
(3) Persebaran penduduk dan peta kepadatan penduduk di
wilayah administrasi;
(4) Migrasi penduduk per tahun untuk kategori menetap,
musiman dan pelaju di kota;
(5) Data penduduk usia sekolah;
(6) Jumlah kecamatan dan kelurahan dalam wilayah
administratif kota yang distudi berikut luasnya masing-
masing;
b) Lakukan studi pendahuluan dengan data sekunder yang
telah terkumpul;
c) Buat rencana survei yang diperlukan.

2) Cara Pengerjaan Survei Demografi
a) Siapkan surat izin survei untuk ke kelurahan-kelurahan;
b) Kumpulkan data seperti yang disebutkan di atas
c) Catat jumlah rumah per kelurahan.

3) Cara Pengerjaan Survei Ketatakotaan
a) Lakukan peninjauan lapangan untuk membandingkan tata
guna tanah berdasarkan peta dari Dinas Tata Kota dengan
tata guna tanah sesungguhnya;
b) Gambarkan di atas peta batas-batas daerah urban;
c) Gambarkan di atas peta lokasi daerah perumahan,
perdagangan, perkantoran, industri, fasilitas-fasilitas sosial
dan pendidikan yang ada;
d) Gambarkan diatas peta jalan-jalan baru, yang sedang dan
akan dibuat (bila ada).

4) Pengkajian Demografi
a) Hitung mundur jumlah penduduk per tahun untuk tahun-
tahun sebelumnya dengan menggunakan metoda aritmatik,
geometrik dan least square dengan menggunakan data
jumlah penduduk tahun terakhir;
b) Hitung standar deviasi masing-masing hasil perhitungan
mundur tersebut terhadap data penduduk eksisting, nilai
standar deviasi terkecil dari tiga perhitungan di atas adalah
paling mendekati kebenaran;
c) Gunakan metoda yang memperlihatkan standar deviasi
terkecil untuk menghitung proyeksi jumlah penduduk.

5) Pengkajian Ketatakotaan
a) Pelajari rencana induk kota yang bersangkutan dan rencana
umum tata ruang kota yang diperoleh dari Bappeda
Kabupaten/Kota;
b) Lakukan evaluasi terhadap rencana umum tata ruang kota
dengan membandingkan peta tata guna tanah yang
diperoleh dari Dinas Tata Kota dengan peta yang dibuat
berdasarkan peninjauan lapangan;
c) Lakukan peninjauan kembali terhadap rencana umum tata
ruang kota apabila terjadi penyimpangan tata guna tanah
yang cukup besar. Peninjauan kembali meliputi:
(1) Peruntukan tanah dan luasnya;
(2) Kepemilikan tanah;
(3) Jenis bangunan;
(4) Konsentrasi daerah niaga;
(5) Penyebaran daerah pemukiman;
(6) Peruntukan daerah industri;
(7) Peruntukan daerah perkantoran.
d) Buat pembahasan hasil peninjauan kembali rencana umum
tata ruang kota yang bersangkutan berikut kesimpulan dan
sarannya.

4. Survei dan Pengkajian Kondisi Sosial dan Budaya
a. Ketentuan Umum
Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan data
sekunder.
1) Data Primer (Survei Kebutuhan Nyata/Real Demand Survey)
Data primer yang dikumpulkan didapat dari jawaban formulir
isian hasil pengamatan, pengukuran, dan perhitungan langsung
di lapangan, untuk digunakan sebagai bahan utama dan
evaluasi.
2) Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan berupa:
a) Peta-peta, foto udara;
b) Buku-buku referensi, laporan dan data;
c) Studi-studi terdahulu;
d) Gambar-gambar teknis;
e) Surat keputusan, peraturan dan perundangan;
f) Lampiran-lampiran program;
g) Uraian rencana program;
h) Lembaran dokumen lain yang mendukung.
Data sekunder didapat dari instansi, badan atau tempat-tempat
lain yang menyediakan, untuk digunakan sebagai bahan
tambahan dan pendukung data primer untuk analisis dan
evaluasi.

b. Ketentuan Teknis
1) Penetapan Klasifikasi Wilayah
Wilayah sasaran survei dapat dikelompokkan ke dalam kategori
wilayah berdasarkan jumlah penduduk.
2) Penetapan Wilayah Survei
Perlu dilakukan penetapan wilayah survei data primer
berdasarkan tingkat keperluan dan keterpengaruhan. Kondisi-
kondisi yang harus diperhatikan dalam penetapan wilayah
survei:
a) Daerah yang memiliki potensi ekonomi tinggi;
b) Daerah yang tingkat kesehatan yang buruk;
c) Daerah yang memiliki tingkat hunian tinggi.
Wilayah survei sendiri tidak terikat dengan batas-batas
administrative melainkan ditujukan untuk memenuhi sebaran
aktivitas manusia.
3) Penentuan Wilayah Survei
Jumlah sampel yang akan diambil untuk setiap kategori wilayah
serta kriteria yang digunakan, mengikuti tabel berikut :

Tabel I.2. Penentuan Jumlah Sampel untuk SetiapKategori Wilayah
No.
Ketegori
Wilayah
Jumlah
Sampel
Tingkat
Kepercayaan
Tingkat
Kesalahan
%Sampel
vs Populasi
1 Kota Metro 2.000 95% 2% 1
2 Kota Besar 1.000 95% 3% 1
3 Kota Sedang 400 95% 5% 2
4 Kota Kecil 200 95% 6% 5-10
5 Desa 100 95% 9% 5-20

Jumlah sampel yang diperlukan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
) 1 ( ) 1 (
) 1 (
p p D N
p Np
n
+

=
2
2
t
B
n =
Dimana :
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi rumah
P : Rasio dari unsur dalam sampel yang memiliki sifat yang
diinginkan (=0,5 probabilitas mata untuk uang logam)
B : Bound of Error (tingkat kesalahan tiap sampel)
t : Tingkat kepercayaan yang dikorelasikan dengan derajat
kelebatan (lihat tabel I.2).

4) Metode Penyebaran Sampel
Jumlah sampel yang diambil untuk setiap bagian wilayah
banyaknya harus proporsional dengan jumlah rumahnya.
Apabila bagian wilayah suatu kota merupakan Kecamatan,
maka jumlah sampel setiap kecamatan sebanyak proporsional
dengan jumlah rumahnya.
Penyebaran sampel untuk suatu bagian wilayah harus dapat
mewakili semua golongan dan kondisi. Ada 5 (lima) jenis teknik
penyebaran sampel yang dapat digunakan yaitu tergantung dari
keadaan wilayahnya, sebagai berikut :
a) Secara acak (random sampling)
Digunakan untuk wilayah yang populasinya homogen
(tidak ada perbedaan yang jauh antara tingkat ekonomi,
pendidikan, jenis pekerjaan).
b) Secara acak distratifikasikan (Stratified random sampling)
Digunakan untuk wilayah yang populasinya heterogen.
c) Pembentukan gugus sederhana (simple cluster sample)
Membagi wilayah kedalam kelompok-kelompok, dapat
mengikuti batas administratif (kecamatan, kelurahan) atau
status social (tingkat ekonomi, jenis pekerjaan).
d) Secara gugus bertahap, dua atau lebih (two stage cluster
sampling) digunakan apabila wilayah survei sangat luas
(misalkan satu provinsi). Pengambilan sampel dilakukan
bertahap selanjutnya pengambilan sampel pada kelompok
yang lebih kecil (kecamatan, kelurahan).
e) Pengelompokan wilayah (area sampling)
Apabila suatu wilayah sudah mempunyai peta atau foto
udara yang jelas dan terinci, maka wilayah tersebut dapat
dibagi dalam segmen-segmen terinci, maka wilayah tersebut
dapat dibagi dalam segmen-segmen wilayah dan
pengambilan sampel mengikuti segmen-segmen wilayah
tersebut.

5) Kualifikasi Surveyor
Surveyor yang digunakan diusahakan memenuhi kualifikasi
sebagai berikut:
a) Dapat berbahasa daerah setempat;
b) Minimal berpendidikan akademi;
c) Telah berpengalaman melakukan survei sosial ekonomi dan
budaya;
d) Menguasai sasaran dan tujuan dari pertanyaan formulir
isian.

6) Pemakaian Formulir Isian
Untuk mempermudah pelaksanaannya, survei sosial, ekonomi
dan budaya harus menggunakan formulir isian yang sudah
disusun sedemikian rupa sesuai dengan tujuan data yang ingin
diketahui.

7) Perhitungan Biaya Survei
Untuk menghitung jumlah honor bagi para surveyor maka
dapat mengikuti asumsi-asumsi sebagai berikut:
a) Untuk surveyor (tenaga ahli)
(1) Satu orang surveyor dapat menyebarkan sampel dalam
satu hari rata-rata 10 buah;
(2) Besar honor 1 orang surveyor mengikut standar upah
yang berlaku;
(3) Menggunakan koefisien wilayah: Indonesia Bagian Barat
= 1, Indonesia Bagian Tengah = 1,5 dan Indonesia Bagian
Timur =2.
b) Peralatan pendukung berupa formulir yang disesuaikan
dengan sampel yang diambil +1% jumlah tersebut untuk
cadangan.

c. Cara Pengerjaan
1) Pengolahan Data
Data yang terkumpul dibuatkan tabulasi sesuai dengan
komponenkomponen yang terdapat dalam formulir isian,
selanjutnya lakukan pemeriksaan bila ada penyimpangan data.

2) Pembobotan
Pembobotan diberikan untuk mendapatkan gambaran sifat
dominan dari sebuah komponen.
3) Perhitungan Nilai Rata-Rata yang Mewakili
Berdasarkan bobot dari kelompok dipadukan dengan skala.

4) Analisis Wilayah Administratif
a) Uraikan jumlah kecamatan, kelurahan dan desa yang
termasuk wilayah administrasi lokasi survei, termasuk luas
dan kepadatannya;
b) Uraikan proses pemekaran wilayah sebelumnya dan rencana
pengembangannya dimasa yang akan datang;
c) Cantumkan tabel-tabel dan grafik yang berkaitan;
d) Dapatkan informasi dari data sekunder.

5) Rencana Umum Tata Ruang
Apabila studi berkaitan sudah tersedia, uraian ini hanya
merupakan ringkasan umum kondisi tata ruang saat ini dan
rencana pengembangannya mengenai:
a) Peruntukan tanah dan luasnya;
b) Jenis bangunan;
c) Kepemilikan tanah;
d) Konsentrasi daerah niaga;
e) Penyebaran daerah permukiman;
f) Peruntukan daerah industri;
g) Peruntukan daerah perkantoran.
Uraian dilengkapi dengan peta-peta.

6) Gambaran Umum Tingkat Perekonomian Wilayah
Menguraikan secara umum kondisi perekonomian survei.
Uraian ini mengacu pada data sekunder yang didapat.
Permasalahan yang ditinjau antara lain:
a) Potensi industri dan perdagangan;
b) Pendapatan Asli Daerah (PAD);
c) PBB, pajak-pajak dan retribusi;
d) PDRB;
e) Perkembangan sektor ekonomi lainnya;
f) Produk yang diekspor keluar wilayah;
g) Harga-harga bahan pokok;
h) Jumlah perputaran uang;
i) Lapangan kerja.

Penjelasan dilengkapi dengan tabel-tabel dan grafik-grafik yang
penting. Untuk mendapatkan gambaran tingkat perekonomian
wilayah setempat dapat dilakukan dengan cara membandingkan
dengan wilayah lain di sekitarnya.

7) Gambaran Umum Tingkat Perekonomian Rakyat
Menguraikan secara umum kondisi perekonomian masyarakat
di wilayah survei. Uraian ini mengacu kepada data primer dan
sekunder. Permasalahan yang ditinjau adalah:
a) Penghasilan bulanan keluarga;
b) Pengeluaran bulanan keluarga;
c) Pemilikan barang;
d) Status kepemilikan rumah;
e) Keadaan rumah tinggal.

Bandingkan dengan tingkat perekonomian masyarakat di
wilayah lain yang berdekatan atau secara nasional.

8) Kependudukan
Menguraikan permasalahan mengenai kependudukan, yaitu:
a) Jumlah, kepadatan dan penyebaran penduduk;
b) Laju pertumbuhan penduduk;
c) Migrasi, kelahiran dan kematian;
d) Kelompok umur, jenis kelamin, mata pencaharian,
pendidikan dan agama.
Uraian dilengkapi dengan tabel-tabel dan diagram.

9) Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Perkiraan perkembangan jumlah penduduk diproyeksikan
untuk masa 20 tahun yang akan datang. Proyeksi perkembangan
penduduk menggunakan rumus yang sesuai dengan pola
kecenderungannya, yaitu cara dilakukan pengujian terhadap
data jumlah penduduk terdahulu menggunakan standar deviasi
atau koefisien korelasi.
Asumsi laju pertumbuhan dapat menggunakan data dari studi-
studi yang telah ada, atau hasil evaluasi data perkembangan
jumlah penduduk 10 tahun ke belakang dan mengkonfirmasikan
kepada Bappeda setempat.


10) Analisis Tingkat Konsumsi Air minum Domestik
Analisis ini diperlukan untuk menentukan besarnya air limbah
yang dihasilkan. 80% dari tingkat konsumsi air minum domestic
merupakan debit air limbah rata-rata. Untuk penduduk yang
sudah berlangganan sistem air minum, maka tingkat konsumsi
dapat dihitung dengan menggunakan data rekening
pembayaran.
Bagi penduduk yang belum berlangganan, tingkat konsumsi
dianalisis dari data primer yang didapat. Namun demikian perlu
dipertimbangkan analisis dan data primer, kemungkinan belum
dapat menggambarkan tingkat konsumsi yang sebenarnya atau
hanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja.

11) Analisis Kemauan dan Kemampuan Berlangganan Sistem
Pengolahan Air Limbah Terpusat
a) Kemauan
Kemauan membayar diukur secara positif dan negatif
berdasarkan jawaban yang diberikan, sedangkan besar
nominalnya hanya merupakan pembanding.
Contoh :

Tabel I.3. Kemauan Membayar
TAGIHAN AIR
PER BULAN (Rp)
TOTAL
Jumlah RT Persentase
0 25.000 20 25,00%
25.000 50.000 23 28,75%
50.000 75.000 27 33,75%
75.000 100.000 5 6,25%
100.000150.000 3 3,75%
150.000200.000 2 2,50%

Berdasarkan tabel di atas, dapar dihitung ratarata kemauan
membayar berdasarkan bobot (weighted average) adalah Rp.
49.531/KK/bulan.

b) Kemampuan
Analisis kemampuan membayar pengolahan air limbah
khususnya untuk kategori jenis sambungan rumah.
Kemampuan membayar dihitung dari persentase jumlah
pengeluaran yang wajar dari total penghasilan per bulan per
keluarga menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 23
Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara
Pengaturan Tarif Pengelolaan Air Limbah. Tarif untuk
standar untuk pelayanan pengolahan air limbah harus
terjangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan sama
dengan Upah Minimum Provinsi. Tarif memenuhi prinsip
keterjangkauan apabila pengeluaran rumah tangga untuk
memenuhi standar pembayaran pengolahan air limbah tidak
melampaui 4% dari pendapatan masyarakat pelanggan.
Keadilan dalam pengenaan tarif dicapai melalui penetapan
tariff diferensiasi dengan subsidi silang antar kelompok
pelanggan. Berikut contohnya :

Tabel I.4. Kemampuan Membayar
Interval
Pendapatan (Rp)
Jumlah
Responden
Bobot
(%)
Bobot
Kumulatif
(%)
4%
Pendapatan
(Rp)
500.000-1.000.000 9 14.3 100 20.00040.000
1.000.0011.500.000 15 23.8 85.7 40.00060.000
1.500.0012.000.000 18 28.6 61.9 60.00070.000
2.000.0012.500.000 4 6.3 33.3 80.000100.000
2.500.0013.000.000 3 4.8 27.0
100.000
120.000
3.000.0013.500.000 2 3.2 22.2
120.000
140.000
3.500.0014.000.000 1 1.6 19.0
140.000
160.000
4.000.0014.500.000 4 6.3 17.4
160.000
180.000
4.500.0015.000.000 1 1.6 11.1
180.000
200.000
>5.000.000 65 9.6 9.5 >200.000
Total 100

Apabila tagihan rekening pembayaran air limbah per bulan
per KK rata-rata adalah Rp. 70.000, maka jumlah penduduk
yang mampu membayar air 61,98%.

12) Tingkat Pelayanan Terhadap Wilayah Administratif
Tingkat pelayanan sistem pengolahan air limbah terhadap
jumlah penduduk di wilayah administrasi mempertimbangkan
beberapa hal sebagai berikut:
a) Kelayakan ekonomi dan keuangan
Makin luas wilayah yang dilayani makin tinggi modal
tertanam yang dibutuhkan. Apabila jumlah pendapatan
tidak terpengaruh banyak, maka dapat mempengaruhi
kelayakan ekonomi dan keuangan perusahaan.

b) Kepadatan wilayah
Pelayanan sistem pengolahan air limbah pada wilayah
dengan kepadatan sangat rendah dapat mengakibatkan
tidak seimbangnya biaya penanaman modal dengan
pendapatan.
c) Sebagian penduduk dipertimbangkan terlayani kebutuhan
pengolahan air limbahnya secara lebih layak dibandingkan
sumber pribadi, cakupan pelayanan di wilayah administrasi
diperkirakan meningkat di masa yang akan datang, sesuai
dengan peningkatan kemampuan menanamkan modal dan
kepadatan penduduk.

13) Tingkat Pelayanan terhadap Daerah Pelayanan
Ada beberapa hal yang dipertimbangkan untuk menentukan
tingkat pelayanan terhadap jumlah penduduk di daerah
pelayanan sebagai berikut :
a) Kemampuan penanaman modal;
b) Kemampuan maksimal penambahan jumlah sambungan
tiap tahun sesuai dengan pengalaman;
c) Analisis kemampuan dan kemauan masyarakat membayar
pengolahan air limbah sesuai dengan evaluasi hasil survei
sosial ekonomi dan budaya. Tingkat pelayanan terhadap
daerah pelayanan dipertimbangkan meningkat di masa yang
akan datang sesuai dengan meningkatnya kemampuan dan
kemauan masyarakat.

14) Aspek Kesehatan Masyarakat
Menguraikan perihal data penyakit akibat penggunaan air,
sistem sanitasi penduduk, sistem drainase dan sistem
pengolahan limbah.
15) Fasilitas Umum
Menguraikan kuantitas kota yang ada, antara lain:
a) Pasar;
b) Pertokoan;
c) Perkantoran;
d) Tempat-tempat hiburan;
e) Tempat-tempat ibadah;
f) Industri;
g) Pelabuhan dan terminal;
h) Listrik dan telepon;
i) Jalan;
j) Rumah sakit;
k) MCK.

16) Peran Masyarakat
Ulasan perihal peran masyarakat terhadap sistem pengolahan
air limbah didapat dari pengamatan lapangan mengenai peran
aktif dalam perawatan fasilitas umum dan penyediaan biaya
pembangunan sistem.


5. Tata Cara Pengkajian Kebutuhan Prasarana Air Limbah
a. Ketentuan Umum
Pengkajian kebutuhan prasarana air limbah harus memenuhi
ketentuan umum sebagai berikut:
1) Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan team leader
berpengalaman dalam bidang air limbah minimal 5 tahun atau
menurut peraturan yang berlaku;
2) Melaksanakan pengkajian dengan seksama dan terkoordinasi
dengan pihak-pihak terkait;
3) Membuat laporan tertulis mengenai hasil pengkajian yang
memuat semua kebutuhan prasarana air limbah.

b. Ketentuan Teknis
Pengkajian kebutuhan prasarana air limbah harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
1) Tersedia data hasil survei kualitas air limbah yang akan diolah;
2) Tersedia data hasil survei Topografi:
a) Beda tinggi lokasi pengolahan air limbah dengan daerah
pelayanan;
b) Jarak antara daerah pelayanan dengan unit pengolahan.
3) Tersedia sumber energy
4) Tersedia data hasil survai demografi dan ketatakotaan
a) Daerah pelayanan;
b) kebutuhan air;
c) prasarana kota.
5) Data hasil survei kondisi Sosio Ekonomi dan Budaya.

c. Cara Pengerjaan
1) Persiapan
Siapakan data yang diperlukan seperti pada ketentuan-ketentuan.
2) Tentukan jenis bangunan pengolahan berdasarkan data kualitas
air limbah.
3) Tentukan jenis pengaliran air dari daerah pelayanan ke unit
pengolahan, bila sistem tidak bisa dengan gravitasi tentukan
pompa yang akan dipergunakan;
4) Tentukan kebutuhan pipa dan perlengkapannya sesuai jarak
antara daerah pelayanan dengan unit pengolahan;
5) Tentukan sumber energi yang akan dipakai sesuai dengan
ketersediaan sumber energi pada daerah studi;
6) Tentukan ukuran bangunan pengolahan dan ukuran pipa, baik
pipa transmisi maupun pipa distribusi sesuai kuantitas air limbah
yang akan diolah;
7) Tentukan kebutuhan sambungan pada pelanggan baik
sambungan rumah atau hidran umum maupun keperluan sarana
kota lainnya berdasarkan data sosial ekonomi dan prasarana kota.


d. Pelaporan
Buatlah laporan yang memuat rekomendasi hasil pengkajian yang
memuat:
1) Jenis unit pengolahan air limbah yang akan digunakan sesuai
kualitas air limbahnya;
2) Jenis pompa yang diperlukan bila sistem dengan perpompaan;
3) Sumber energi yang akan dipakai;
4) Kebutuhan ukuran pipa transmisi dan distribusi serta
perlengkapannya;

BUKU 3
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


A. UMUM
Salah satu strategi penangganan masalah air limbah yang telah
dikembangkan hingga saat ini adalah dengan melakukan pendekatan
berbasis tanggap kebutuhan serta mensinergi pemberdayaan masyarakat.
Tujuan strategi penanganan masalah air limbah adalah untuk menciptakan
dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu
maupun kelompok untuk turut berpartisipasi memecahkan berbagai
permasalahan yang terkait pada upaya peningkatan kualitas kehidupan,
kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Akses penduduk ke prasarana
dan sarana air limbah permukiman erat kaitannya dengan aspek kesehatan,
lingkungan hidup, pendidikan, sosial budaya serta kemiskinan.
Menimbang kondisi, aspek yang mempengaruhi serta pengalaman dalam
upaya pembangunan, maka pendekatan program yang berbasis tanggap
kebutuhan dengan mensinergi pemberdayaan masyarakat merupakan
salah satu cara efektif yang patut terus dikembangkan.
Pendekatan tanggap kebutuhan yang selaras dengan pemberdayaan
masyarakat akan meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat
khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, ke akses prasarana dan
sarana air limbah permukiman sehingga meningkatkan taraf hidup.
Salah satu strategi pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan melalui
pendampingan dan pembelajaran kepada masyarakat dalam bentuk
pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok digunakan dengan tujuan
terjadinya proses saling belajar, membangun kebersamaan, saling peduli
dan saling memahami di antara anggota.


A.1. Definisi Pemberdayaan dan Perlunya Pemberdayaan
Akses penduduk ke prasarana dan sarana air limbah permukiman erat
kaitannya dengan aspek kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, sosial
budaya serta kemiskinan. Mempertimbangkan kondisi, aspek yang
mempengaruhi, serta pengalaman empiris pendekatan penanganan
masalah sanitasi yang ada, maka pendekatan tanggap kebutuhan dengan
mensinergi metode promosi dan/atau sosialisasi, pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan (capacity building) ke - lima aspek tersebut
merupakan salah satu metode efektif serta perlu terus dikembangkan
untuk meningkatkan akses prasarana dan sarana air limbah permukiman.
Sinergi dan keselarasan pendekatan tanggap kebutuhan serta metode,
meliputi : promosi dan/atau sosialisasi, pemberdayaan dan peningkatan
kemampuan (capacity building) membutuhkan partisipasi masyarakat secara
langsung, berkesinambungan maupun intens dalam proses identifikasi
permalahan, perencanaan, pembangunan, pengawasan hingga tahap
pengoperasian perawatan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang berkesinambungan
bertujuan meningkatkan kemampuan dan kemandirian sehingga
meningkatkan taraf hidup. Untuk itu dalam pemberdayaan masyarakat
setidaknya memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut :
1. Proses yang berjalan sistematis, alamiah serta seimbang. Artinya di
dalam prosesnya sendiri ada ukuran-ukuran idealisme output dengan
kemampuan realisasinya secara obyektif;
2. Segala aktifitas yang dilakukan haruslah ada dampak dan peran
positifnya bagi subyek pemberdayaan;
3. Adanya tingkat kemandirian dari pihak lainnya, hal ini terkait dengan
faktor : fasilitas, dan daya dukung finansial;
4. Berorinetasi kedepan, meningkatkan kemampuan dalam upaya
mencapai taraf hidup yang lebih baik.

A.2. Pendekatan dan Prinsip

Pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan Sistem
Pengolahan Air Limbah, adalah sebagai berikut :
1. Keberpihakan pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil,
ditujukan kepada MBR yang ada dipermukiman padat dan kumuh
perkotaan.
2. Otonomi dan Desentralisasi
Masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas
dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan,
dan pengelolaan Sistem Pengelolaan Air Limbah.
3. Transparasi
Masyarakat mengidentifikasi permasalahan, merumuskan
kebutuhan, serta pemecahan permasalahan secara demokratis,
transparan, dan berpihak kepada perempuan, anakanak, lanjut usia
dan difabel.
4. Partisipatif.
Masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan, dan pengelolaan.
5. Keswadayaan
Kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam
keberhasilan kegiatan, baik proses perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, pemanfaatan, dan pemeliharaan prasarana dan sarana
sanitasi terbangun

Prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam proses pemberdayaan
masyarakat pada program atau proyek dalam Sistem Pengolahan Air
Limbah, adalah sebagai berikut :
1. Tanggap Kebutuhan
Kota/kabupaten dan masyarakat memiliki komitmen yang kuat,
kesiapannya bersaing untuk mendapatkan program serta
melaksanakan kegiatan sesuai kebutuhan;
2. Seleksi Mandiri Calon Lokasi
Pemilihan lokasi berada sepenuhnya ditangan masyarakat sedang
pemerintah hanya sebagai fasilitator;
3. Pilihan Teknologi
Bentuk bangunan dan teknologi pengolah air limbah domestik di
informasikan dan dipilih oleh masyarakat
4. Partisipasi Masyarakat
Masyarakat berperan aktif dalam merencanakan, memilih kegiatan,
membangun dan mengelola, dengan difasilitasi oleh
TFL/Konsultan/LSM pendamping yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman perencanaan serta pengawasan IPAL domestik;
5. Penguatan Kapasitas Lokal
Peningkatan serta penguatan pengetahuan, ketrampilan dan
pengalaman bagi masyarakat sasaran program khususnya, kelompok
swadaya masyarakat maupun fasilitator;
6. Keberkelanjutan
Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan sarana sanitasi
terbangun dapat dilaksanakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Sesuai dengan keefektifan biaya, keterjangkauan, kesediaan untuk
membayar, dan kesediaan untuk menyambung.
7. Multi Pendanaan
Peran dan fungsi pemerintah daerah dalam sistem pengolahan air
limbah setempat masih sangat penting. Untuk itu perlu
diterapkannya prinsip co-manajemen dalam pengelolaannya.
Masyarakat dalam partisipasinya bertanggungjawab pada
pembangunan, pemeliharaan dan operasional. Pemerintah daerah
dan mitra lainnya bertindak menyediakan bantuan teknis
monitoring dan mendukung operasional dan pemeliharaan pasca
kontruksi.
8. Akuntabel,
Pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan;


A.3. Aspek dan Unsur Pemberdayaan;
Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari lingkup dan obyek pemberdayaan
mencakup beberapa aspek, yaitu:
1. Peningkatan kepemilikan aset (sumberdaya fisik dan finansial) serta
kemampuan (secara individual dan kelompok) untuk memanfaatkan
aset tersebut demi perbaikan kehidupan mereka.
2. Hubungan antar individu dan kelompoknya, kaitannya dengan
pemilikan aset dan kemampuan memanfaatkannya.
3. Pemberdayaan dan reformasi kelembagaan.
4. Pengembangan jejaring dan kemitraan-kerja, baik di tingkat lokal,
regional, maupun global.

Sedangkan Unsur-unsur pemberdayaan, meliputi :
1. Aksesibilitas informasi, karena informasi merupakan kekuasaan baru
kaitannya dengan : peluang, layanan, penegakan hukum, efektivitas
negosiasi, dan akuntabilitas.
2. Keterlibatan atau partisipasi, yang menyangkut siapa yang dilibatkan
dan bagaimana mereka terlibat dalam keseluruhan proses
pembangunan;
3. Akuntabilitas, kaitannya dengan pertanggungjawaban publik atas
segala kegiatan yang dilakukan.
4. Kapasitas organisasi lokal, kaitannya dengan kemampuan bekerja-
sama, mengorganisir warga masyarakat, serta memobilisasi
sumberdaya untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka
hadapi.
A.4. Pentingnya Proses Pemberdayaan Masyarakat SPAL-S;
Pemberdayaan masyarakat dalam Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat
berperan penting dalam meningkatkan kemampuan dan kemandirian
sehingga meningkatkan taraf hidup. Proses pemberdayaan masyarakat
berperan sangat penting dalam penyelenggaraan Sistem Air Limbah
Permukiman Setempat (SPAL-S), dilatar belakangi antara lain :
1. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan dampak
negatif dari kesalahan penanganan dan pengolahan air limbah
perukiman;
2. Kurangnya keterlibatan masyarakat secara aktif, pada masa lalu, dalam
proses penanganan pengolahan air limbah permukiman sehingga tidak
terjadi transfer pengetahuan maupun pengalaman pengolahan air
limbah kepada masyarakat;
3. Kerentanan sosial ekonomi masyarakat serta rendahnya tingkat
pengeluaran atau belanja rumah tangga untuk kebutuhan sanitasi dan
kesehatan;
4. Rendahnya perhatian (concern), peran dan komitmen pemerintah
daerah terhadap penanganan masalah sanitasi dan air limbah masi,
kondisi tersebut terlihat dari masih kurangnya peraturan, kebijakan
dan kegiatan pembangunan dalam pengolahan air limbah permukiman
khususnya yang pro kepada masyarakat berpenghasilan rendah.


B. PROSES PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
AIR LIMBAH

B.1. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pengembangan
Sistem Pengelolaan Air Limbah

Pemberdayaan masyarakat akan tercapai, jika terdapat beberapa syarat
sebagai berikut :
1. Adanya situasi yang memungkinkan potensi masyarakat untuk
berkembang;
2. Memberi motivasi untuk membangkitkan kesadaran akan potensi;
3. Memperkuat potensi masyarakat dalam prakarsa aktif serta peran
masyarakat dalam ruang lingkup penyelenggaraan pengembangan
program pengolahan air limbah domestik.
Selain syarat tersebut, dibutuhkan upaya kuat dari berbagai pihak untuk
menghilangkan kendala yang dapat melemahkan pemberdayaan
masyarakat itu sendiri, seperti dengan :
1. Memperkuat komitmen dan kepedulian dari pemangku kepentingan
untuk berpihak pada masyarakat yang rentan terhadap akses
sanitasi/air limbah dan masyarakat berpenghasilan rendah;
2. Meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan terkait dengan
persepsi tentang karakteristik masyarakat rentan terhadap akses
sanitasi/air limbah dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Salah satu Strategi pemberdayaan masyarakat adalah dengan melalui
pendampingan dan pembelajaran kepada masyarakat berbentuk
pendekatan kelompok. Oleh karena itu pembentukan, pendampingan
dan pembinaan KSM dalam program Penyelenggaraan pengembangan
Sistem Air Limbah sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan operasional
dan pemeliharaan infrastruktur terbangun nantinya.
Dalam pendekatan partisipasi, peran serta masyarakat mengacu pada
perencanaan responsif gender tidak hanya terbatas dalam pengertian
ikut serta secara fisik, tetapi keterlibatan yang memungkinkan mereka
melaksanakan penilaian terhadap masalah maupun potensi yang
terdapat dalam lingkungan sendiri, menentukan kegiatan yang mereka
butuhkan hingga penyelenggaraan pengembangan SPAL. Secara umum
tahapan kegiatan serta metode dalam penyelenggaran pengembangan
SPAL dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat berprespektif
gender dapat di kelompokan sebagai berikut:
1. Sosialisasi dan Diseminasi, contoh :
a. Sosialisasi tingkat Kabupaten/Kota;
Pelaksanaan kegiatan melibatkan satuan kerja pengembangan
penyehatan lingkungan permukiman di provinsi serta dinas di
kabupaten/kota selaku penagung jawab kegiatan dengan
mengundang pemangku kepentingan di kabupaten/kota.

Tujuan kegiatan sosialisasi tingkat Kabupaten/Kota adalah,
menjelaskan detail konsep dan tahap pelaksanaan kegiatan
penyelenggaran pengembangan SPAL, sosialisasi kebijakan dan
strategi pemerintah pusat bidang penyehatan lingkungan
permukiman, membahas permasalahan, penanganan serta
pengenalan teknologi alternatif pengelolaan bidang air limbah
di tiap-tiap kota/kabupaten.

b. Sosialisasi tingkat Desa/Kelurahan.
Sosialisasi tingkat desa/kelurahan dilaksanakan oleh dinas
penangung jawab kegiatan kota/kabupaten bersama dengan
TFL bertempat di dinas penangung jawab kegiatan. Undangan
terdiri dari 3 5 orang wakil dari masing-masing stakeholder
kampung yang masuk dalam shortlist (telah memenuhi syarat
kelayakan).

Tujuan kegiatan adalah penjelasan tentang penyelenggaran
pengembangan SPAL di lingkungan Desa/Kelurahan serta
pengumpulan informasi awal tentang kondisi desa/kelurahan.

2. Rembuk Warga dan Focus Group Discussion (FGD), contoh :
a. Partisipasi penilaian secara cepat/Raid Participatory Assessment
(RPA);
Kegiatan diselenggarakan oleh dinas penanggung jawab kegiatan
di fasilitasi oleh fasilitator lapangan (TFL), dengan mengundang
masing-masing dari calon lokasi yang ikut seleksi, meliputi : Lurah,
ketua Rukun Warga (RW), Rukun Tetangga (RT), tokoh
masyarakat, perwakilan kelompok maupun organisasi masyarakat
setempat.

Tujuan kegiatan mempetakan kondisi sanitasi suatu kampung
secara cepat dan dilakukan secara partisipatif. sehingga
teridentifikasi problem sanitasi dan kesiapan masyarakat untuk
memecahkannya atas dasar kemampuan sendiri secara sistematis
dan efektif. RPA diilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi
oleh fasilitator terhadap kampung yang menyatakan minat

b. Pembentukan KSM;
Kegiatan diselenggarakan oleh dinas penanggung jawab kegiatan
di fasilitasi oleh fasilitator lapangan (TFL) dan disaksikan oleh
kelurahan, dengan mengundang pemangku kepentingan di tingkat
desa/kelurahan dan lingkungan yang terpilih maupun lokasi calon
penerima manfaat penyelenggaran pengembangan SPAL. Meliputi
ketua Rukun Warga (RW), Rukun Tetangga (RT), tokoh
masyarakat, perwakilan kelompok maupun organisasi masyarakat
setempat serta warga calon penerima manfaat maupun calon
pengguna.

Tujuan kegiatan adalah sebagai tempat kumpulan orang yang
menyatukan diri secara sukarela, dibentuk secara swadaya karena
adanya Visi, kepentingan dan kebutuhan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat serta kualitas lingkungan

c. Penyusunan rencana kegiatan masyarakat (RKM);
Penyusunan RKM dilakukan dengan pendekatan partisipatif,
artinya semaksimal mungkin melibatkan masyarakat dalam semua
kegiatan dan penyusunannya, baik manajemen maupun teknis.
Pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis diserahkan kepada
tenaga ahli/TFL, namun tetap melibatkan masyarakat. RKM yang
telah tersusun serta di tanda tangani oleh Ketua KSM diajukan oleh
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk dimintakan
pengesahan dan persetujuan dari TFL dan Kasatker/PPK PPLP
Provinsi.

Tujuan penyusunan RKM adalah teridentifikasinya kebutuhan
masyarakat (baik laki-laki dan perempuan, kelompok rentan
sanitasi, maupun kelompok kaya-miskin) untuk memecahkan
masalah sanitasi yang ada di lingkungan masyarakat berdasarkan
kemampuan masyarakat itu sendiri

d. Penyusunan AD/ART Kelompok, pembagian peran, tanggung
jawab, dan kontribusi.
Penyusunan AD/ART Kelompok, pembagian perran, tanggung
jawab dan konstribusi dilakukan dengan pendekatan partisipatif,
artinya semaksimal mungkin melibatkan masyarakat dalam semua
penyusunannya dengan memasukkan nilai-nilai atau norma
setempat serta perencanaan responsif gender.

e. Pemilihan teknologi sanitasi dan penyusunan detail engineering
design (DED) beserta rencana anggaran biaya (RAB), dengan
pendampingan oleh fasilitator, konsultan atau lembaga swadaya
masyarakat yang memiliki keahlian dan pengalaman di bidang
prasarana air limbah;

f. Pembentukan Tim swakelola (untuk kegiatan yang menggunakan
bantuan sosial);
Berdasarkan peraturan tentang pengelolaan kegiatan yang
menggunakan dana bantuan sosial, pelaksanaan swakelola oleh
Kelompok Swadaya Masyarakat, maka sebelum pekerjaan
dilaksanakan, dilakukan persiapan-persiapan, antara lain tentang
pembentukan tim swakelola dengan ketentuan : Tim Swakelola
diangkat oleh penangung jawab kelompok masyarakat sesuai
dengan struktur orgasnisasi Swakelola. Tim swakelola masyarakat
minimal terdiri dari tim perencana, tim pelaksana dan tim
pengawas serta dapat ditambah dengan panitia/pejabat
pengadaan.

g. Pembentukan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) atau
Kelompok Pengelola (KP);
Untuk kesinambungan prasarana dan sarana Penyehatan
Lingkunngan Permukiman (PLP), perlu dibentuk kelompok
Pemanfaat dan pemelihara atau Kelompok Pengelola yang
bertujuan untuk keberlanjutan pelayanan dan pelestarian aset yang
telah dibangun oleh masyarakat.

Keterlibatan perempuan dalam operasional dan pemeliharaan
sangat penting karena perempuan adalah pengguna seharihari
sarana Sanitasi.

3. Penyusunan masterplan, partisipasi masyarakat berperan pada sikap
individu maupun kelompok pada pemahaman, kecendrungan
pertimbangan dan perbuatan terhadap penyelenggaraan pengembangan
sistem pengelolaan air limbah. Hal ini terkait erat dengan tingkat sosial
ekonomi, budaya, ekonomi dan pemahaman terhadap sanitasi di dalam
keluarga maupun lingkungan.
4. Penyusunan studi kelayakan, partisipasi masyarakat berperan pada
keterbukaan akan informasi, pertukaran informasi yang akuntabilitas,
sikap individu maupun kelompok tentang kesediaan untuk
menyambung, kesediaan untuk membayar serta partisipasi aktif
masyarakat pada tahap-tahapan perencanaan penyelenggaraan SPAL.
5. Partisipasi fisik dan pengawasan, contoh : warga ikut sebagai tukang
atau mandor, pengawasan kontruksi, material serta keuangan;
6. Peningkatan kapasitas warga, contoh: Pelatihan KSM, On Jobs Training
mandor dan tukang, pelatihan KPP serta pelatihan tentang prilaku
hidup bersih dan sehat.


Dampak yang diharapkan dari program pengolahan air limbah melalui
pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Pembelajaran untuk program di masa mendatang, masyarakat dan
pemerintah dapat menerapkan prinsip tanggap kebutuhan (demand
responsif) dan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan
pembangunan secara partisipatif;
2. Jaminan sustainable infrastruktur yang telah dibangun secara
berkelanjutan, guna meningkatkan kualitas hidup dan tingkat
perekonomian masyarakat;
3. Tumbuhnya kemampuan masyarakat dalam pengelolaan sumber-
sumber pembiayaan untuk pemanfaatan dan pemeliharaan;
4. Meningkatnya fungsi kelembagaan masyarakat di desa dan kecamatan
dalam pengelolaan hasil kegiatan;
5. Tumbuhnya rasa memiliki terhadap hasil kegiatan yang telah
dilaksanakan.


B.2. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Sistem Air Limbah
Permukiman Setempat
Pemberdayaan masyarakat pada penyelenggaraan Sistem Air Limbah
Permukiman Setempat akan tercapai jika terdapat beberapa syarat, sebagai
berikut : menciptakan situasi yang memungkinkan potensi masyarakat
untuk berkembang, memberi motivasi untuk membangkitkan kesadaran
akan potensi, dan memperkuat potensi masyarakat dalam prakarsa aktif
serta peran masyarakat dalam ruang lingkup penyelenggaraan
pengembangan SPALP-S, yang mencakup :
1. Perencanaan;
2. Pelaksanaan konstruksi, monitoring dan supervisi;
3. Pengelolaan;
4. Pemeliharaan dan Rehabilitasi.
Selain syarat tercapainya pemberdayaan dibutuhkan pula upaya yang kuat
dari berbagai pihak untuk menghilangkan kendala yang dapat
melemahkan pemberdayaan masyarakat itu sendiri, seperti dengan :
1. Memperkuat komitmen (khususnya) aparat pemerintah untuk
memihak dan membela masyarakat yang rentan terhadap akses
sanitasi/air limbah.
2. Meningkatkan kepedulian dari pemangku kepentingan untuk
memperhatikan masyarakat yang rentan terhadap akses sanitasi/air
limbah.
3. Meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan dalam
memahami (kehidupan) masyarakat berpenghasilan rendah atau
rentan sanitasi/air limbah, terutama yang terkait dengan persepi dan
asumsi-asumsi tentang karakteristik masyarakat miskin (rentan)
atau berpenghasilan rendah.

Salah satu strategi pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan melalui
pendampingan dan pembelajaran kepada masyarakat dalam bentuk
pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok digunakan dengan tujuan
terjadinya proses saling belajar, membangun kebersamaan, saling peduli
dan saling memahami di antara anggota.

B.3. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL)
TFL merupakan tenaga pendamping, berperan membantu kelompok
masyarakat guna memahami tujuan bersama mereka dan membantu
dalam menyusun rencana hingga mencapai tujuan. Untuk itu dalam
proses rekruitment dan penetapan tenaga TFL memerlukan proses yang
selektif dan transparant sehingga TFL terpilih akan memiliki jenjang
pendidikan, ketrampilan, kemampuan, kemauan sebagai pendamping
masyarakat maupun pengalaman yang sesuai dengan syarat dan
kebutuhan program. Secara fungsi TFL dapat dibagi menjadi dua : yaitu
fasilitator teknis dan fasilitator pemberdayaan. Sedang menurut jenjang
koordinasi fasilitator terbagi menjadi dua yaitu TFL dan Senior TFL.

Tugas fasilitator Lapangan adalah sebagai berikut :

1. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait untuk mendapatkan
daftar lokasi yang sesuai kriteria program, dari dinas-dinas terkait;
2. Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal;
3. Mengundang, menyelenggarakan pertemuan maupun sosialisasi ke
Stakeholder masyarakat serta masyarakat;
4. Melakukan seleksi lokasi secara partisipatif dilokasi yang berminat
untuk ikut program;
5. Memfasilitasi masyarakat dan pemangku kepetingan untuk
menyusun surat penetapan penerima manfaat (khususnya untuk
program yang menggunakan dana bantuan sosial);
6. Membuat Berita Acara seleksi kampung serta menyusun laporan
berkala ke SKPD Kota/Kabupaten setempat serta Kepala Satker
Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) Provinsi.
7. Memfasilitasi masyarakat untuk membentuk dan mengembangkan
KSM;
8. Melakukan sosialisasi/kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,
sosialisasi/pendampingan kemasyarakat untuk menumbuhkan
keinginan (kebutuhan) penggunaan MCK sehat maupun keinginan
(kebutuhan) untuk melakukan penyambungan MCK pribadi ke IPAL
Komunal (perpipaan);
9. Mendampingi dan memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif
maupun kontribusi dalam perencanaan, pelaksanaan, pembangunan,
pengawasan dan operasional pemeliharaan infrastruktur air limbah
terbangun;
10. Memfasilitasi dan mendampingi masyarakat KSM dalam menyusun
analias teknis, DED, RAB, Kurva S, perencanaan aspek struktur,
elektrikal dan arsitektural infrastruktur air limbah. Dengan
didampingi konsultan atau lembaga swadaya masyarakat yang
memiliki keahlian dan pengalaman bidang air limbah domestik;
11. Monitoring dan mendampingi KSM dan masyarakat penerima
program pada saat uji comisioning;
12. Memfasilitasi dan mengembangkan kemampuan KSM/masyarakat
dalam menyusun pelaporan dan administrasi keuangan;
13. Mendampingi KSM dalam tiap tahap/proses kegiatan.

Sedangkan tugas senior fasilitator Lapangan (Senior TFL) adalah sebagai
berikut :

1. Membantu Satker PLP Provinsi dalam penyelenggaraan
pembangunan infrastruktur air limbah di provinsi masing-masing;
2. Terlibat langsung atau tidak langsung dalam setiap tahap dalam
penyelenggaraan pembangunan infrastruktur air limbah;
Dalam setiap tugas dan tanggungjawab pada tahap seleksi lokasi,
TFL senior harus terlibat secara langsung maupun tidak langsung;
3. Melakukan koordinasi secara vertikal ke SKPD Kota/Kabupaten dan
Satker PPLP Provinsi;
4. Mengkoordinir pelaksanaan dan kegiatan di lapangan;
5. Memantau secara rutin di lapangan pada setiap tahapan pelaksanaan
kegiatan dan melaporkannya kepada Satker PLP secara berkala
(progress), misal : setiap 2 (dua) mingguan dan ditembuskan ke
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman
Ditjen Cipta Karya melalui konsultan/lembaga swadaya masyarakat
pendamping;
6. Memperbarui dan merekapitulasi data progress fisik dan keuangan
per-Provinsi untuk dilaporkan kepada Satker PLP Provinsi, dan
ditembuskan ke Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan
Permukiman Ditjen Cipta karya melalui konsultan/lembaga
swadaya masyarakat pendamping.
7. Mengindentifikasi permasalahan teknis, non-teknis, melapor ke
Satker PLP Provinsi serta memberi rekomendasi maupun menindak
lanjuti pemecahan masalah.
8. Melakukan koordinasi dengan pihak penyandang dana lain (swasta
melalui CSR/LSM), jika ada;
9. Menciptakan lingkungan kondusif dalam penyelenggaraan Sanitasi
Berbasis Masyarakat.


B.4. Pengertian dan Lingkup Kelompok Swadaya Masyarakat.
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah kumpulan orang yang
menyatukan diri secara sukarela dalam kelompok dikarenakan adanya
ikatan pemersatu, yaitu adanya Visi, kepentingan dan kebutuhan yang
sama, sehingga kelompok tersebut memiliki kesamaan tujuan yang ingin
dicapai bersama. Kelompok masyarakat yang baik lahir dari kebutuhan
dan kesadaran masyarakat sendiri, dikelola dan dikembangkan dengan
menggunakan terutama sumber daya yang ada di masyarakat tersebut.
Maka kegiatan KSM pada penyelenggaraan Sistem Air Limbah
Permukiman Setempat akan berjalan baik dan lancar jika penggurus dan
anggotanya berasal dari pengguna dan pemanfaat system terbangun dari
penyelenggaraan Sistem Air Limbah Permukiman Setempat.

B.5. Pembentukan KSM.
KSM tidak harus selalu dibentuk baru, namun dapat dikembangkan dari
kelompok yang sudah ada dan mengakar di masyarakat. Bekerja dengan
kelompok yang sudah ada di masyarakat membuat program lebih efisien,
penerimaan masyarakat terhadap program berlangsung relatif lebih cepat
dan dukungan sumber daya lokal lebih mungkin digalang. Akan tetapi,
kelompok yang sudah ada telah memiliki nilai-nilai dan aturan main yang
belum tentu sejalan dengan nilai-nilai yang diusung oleh program
Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Pembuangan Air Limbah
Permukiman Setempat. Untuk itu yang lebih utama adalah arah
pendampingan tetap ditujukan kepada penguatan kapasitas kelompok
sehingga KSM dapat membangun kultur kelompok yang terbuka, adil,
bertanggungjawab dan mandiri.
Dalam proses pembentukan KSM baru dan penguatan KSM, dibutuhkan
serangkaian pertemuan yang intens dengan di fasilitasi oleh tenaga
pendamping atau fasilitator yang memiliki kemampuan dan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya oleh program maupun proyek. Rangkaian
pertemuan tersebut bertujuan antara lain :
1. Penyebaran informasi (aksesibilitas informasi) secara merata serta
terselenggaranya unsur-unsur pemberdayaan lain;
2. Tersosialisasi visi, misi dan tujuan program maupun proyek;
3. Ketepatan lingkup kegiatan dan sasaran;
4. Penilaian kelayakan dan ketepatan lokasi sesuai persyaratan teknis;
5. Menjaga keterlibatan dan partisipasi masyarakat sasaran kegiatan,
menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka terlibat
dalam keseluruhan proses pembangunan
6. Serta, keberlanjutan operasional pemeliharan sistem pembuangan air
limbah yang akan terbangun.

KSM dibentuk setelah lokasi terseleksi terpilih. Dibentuk melalui
musyawarah masyarakat secara terbuka/transparat dengan pendampingan
fasilitator, warga memiliki kesamaan hak pilih untuk di pilih maupun
memilih calon penggurus, waktu dan tempat pelaksanaan bersifat netral
serta disepakati bersama, dan pengambilan keputusan seluruhnya di
tangan warga selaku penerima manfaat program.
KSM bertanggung jawab terhadap proses persiapan, perencanaan,
pembangunan atau konstruksi, pengawasan hingga uji coba bangunan.
Bentuk dan susunan pengurus KSM sesuai permufakatan musyawarah,
ditetapkan dalam peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan
Daerah Kota/Kabupaten dan disahkan melalui surat keputusan (SK)
kelurahan. KSM yang terbentuk merupakan mitra bagi pemangku
kepentingan di daerah untuk mengalang kepedulian, pengawasan dan
pembangunan fasilitas pengolahan air limbah di daerah. Secara umum
susunan organisasi KSM dapat dilihat pada gambar 1 dan 2 dibawah ini.


Gambar I.12. Contoh Struktur Organisasi KSM (pertama).


Gambar I.13. Contoh Struktur Organisasi KSM (kedua).
Kelompok masyarakat yang baik lahir dari kebutuhan dan kesadaran
masyarakat sendiri, dikelola dan dikembangkan dengan menggunakan
terutama sumber daya yang ada di masyarakat tersebut.
B.6. Dasar Perudang-Undangan dan Peraturan Pembentukan KSM.
Landasan peraturan yang perlu diperhatikan dalam proses pembentukan
KSM, antara lain adalah :
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Jo. Udang-Undang No. 82 TA
2004 Tentang Pemerintah Daerah;
2. Permendagri No. 7 Tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan
Masyarakat;
3. Permendagri No. 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga
Kemasyarakatan.

B.7. Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)

KSM dalam menjalankan peran dan taggung jawab mengacu pada
Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang telah disusun
dan ditetapkan melalui mekanisme rembug warga pasca pembentukan
KSM.
Anggaran dasar adalah peraturan penting yang menjadi dasar peraturan
lainnya bagi KSM. Sedangkan Anggaran rumah tangga adalah peraturan
pelaksanaan anggaran dasar bagi KSM. Sehingga AD/ART merupakan
ketentuan dasar dan ketentuan operasional bagi suatu KSM yang
mencerminkan aspirasi, visi dan misinya.
Dalam menyusun AD/ART kelompok swadaya masyarakat (KSM) materi
yang perlu diperhatikan dan dimasukkan dalam susunan AD/ART adalah
sebagai berikut :
Anggaran Dasar.
1. Pembukaan, menjelaskan kondisi yang melatar belakangi
pembentukan KSM. Serta pengertian-pengertian istilah umum yang
dimasukkan dalam pembukaan. Pasal-pasal yang menyangkut dalam
pembukaan, antara lain : Maksud dan Tujuan, menjelaskan maksud
dan tujuan dari pembentukan KSM;
2. Nama, Waktu Pendirian dan tempat Kedudukan Kelompok Swadaya
Masyarakat, menjelaskan nama, waktu dan domisili KSM;
3. Prinsip dan Nilai-nilai, menjelaskan unsur-unsur prinsip serta nilai-
nilai yang dijunjung dan ditumbuh kembangkan oleh KSM;
4. Pendirian, Legalitas dan Kepemilikan, menjelaskan mekanisme
pendirian, legalitas serta kepemilikan KSM tersebut;
5. Kedudukan, menjelaskan kedudukan KSM dalam kehidupan
bermasyarakat atau sebagai wadah aspirasi, dan kegiatan;
6. Peran, Tugas Pokok dan Fungsi, menjelaskan peran, tugas dan fungsi
KSM, KPP maupun KP dalam kehidupan di tengah masyarakat;
7. Keanggotaan dan Jumlah anggota, menjelaskan konsep penerimaan
keanggotaan, dimana calon anggota harus memiliki nilai-nilai yang
sama dengan nilai-nilai yang dijunjung KSM. Serta memuat jumlah
anggota KSM yang aktif;
8. Masa Bakti KSM dan KPP, memuat tentang waktu kepengurusan
KSM, KPP atau KP, misal 3 tahun masa kepengurusan serta
mekanisme pergantian pengurus;
9. Imbal jasa, menjelaskan imbal jasa/gaji (jika ada) maupun asas
kerelaan;
10. Prinsip Pendirian KSM, Menjelaskan sistem dan/atau mekanisme
pemilihan penggurus KSM, kriteria penggurus, tata cara pemilihan
pengurus, syarat dan hak pemilih;
11. Tata Cara Pendirian KSM, menjelaskan mekanisme pendirian KSM
serta pemilhan pengurus;
12. Perangkat KSM, menjelaskan unsur/perangkat pembantu pelaksana
tugas dan tanggung jawab di dalam KSM;
13. Pengangkatan dan Pemberhentian unsur/perangkat KSM;
14. Hubungan Kelembagaan, menjelaskan hubungan antara KSM dengan
lembaga-lembaga lain di tingkat desa/kelurahan. Seperti hubungan
KSM dengan perangkat desa, serta lembaga/organisasi masyarakat
desa/kelurahan lainnya;
15. Rapat atau rembug warga, menjelaskan mekanisme rapat KSM
maupun KPP, kedudukan dan wewenang dari rembug masyarakat;
16. Pengambilan keputusan, menjelaskan tata cara pengambilan
keputusan;
17. Keuangan, terkait dengan sumber dana, pemanfaatan dana dan
pengelolaan dana;
18. Prinsip-prinsip pengelolaan dana secara transparat dan akuntabilitas;
19. Perubahan anggaran dasar, menjelaskan tata cara dan mekanisme
perubahan anggaran dasar KSM;
20. Pembubaran, menjelaskan tata cara dan mekanisme pembubaran
KSM;
21. Anggaran rumah tangga dan peraturan lainnya, menjelaskan hal-hal
yang belum ditetapkan dalam anggaran dasar serta kedudukan surat
keputusan KSM dalam operasional (perangkat kerja) KSM.
22. Penutup.
Anggaran Rumah Tangga.
1. Keanggotaan Kelompok Swadaya, mengatur sistem keangggotaan dan
tujuan ikut keanggotaan;
2. Hak dan Kewajiban anggota, mengatur hak dan kewajiban yang
melekat pada anggota khususnya serta masyarakat/partisipan tidak
langsung umumnya;
3. Pemberhentian Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat, mengatur
tentang sebab-sebab di berhentikannya, hak dan kewajiban anggota
saat pemberhentian menjadi anggota, serta tata cara pemberhentian;
4. Kepenggurusan KSM, mengatur tentang struktur dan jumlah
pengurus, mekanisme koordinasi internal eksternal dan pelaporan;
5. Perangkat/Unit KSM, mengatur tentang perangkat/unit apa yang
masuk dalam struktur Kelompok Swadaya Masyarakat beserta peran,
hak dan tanggung jawabnya;
6. Pertanggungjawaban dan Sanksi bagi Penggurus serta Perangkat/Unit,
mengatur tentang pertanggung jawaban dalam menjalankan tugas
serta sanksi bagi penggurus maupun perangkat/unit yang lalai atau
membuat kesalahan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya;
7. Rapat-Rapat, mengatur tentang jenis, fungsi dan frekuensi waktu
penyelenggaraan rapat yang bersifat rutin dan wajib untuk
menjalankan mekanisme kelompok swadaya masyarakat;
8. Pengelolaan Keuangan, mengatur tentang manajemen keuangan,
kategori dan fungsi masing-masing dana/keuangan untuk
menjalankan manajemen, operasional/pemanfaatan dan pemeliharaan;
9. Peraturan peralihan, mengatur tentang pasal-pasal atau aturan tentang
hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga;
10. Penutup.


B.8. Pelatihan (TFL, Pengelola Sarana Sanitasi, Tukang, Mandor, Operator,
Pengguna)
B.8.1. Pelatihan TFL
Dalam program atau kegiatan berbasis pemberdayaan maka proses yang
berjalan sistematis dari transformasi maupun peningkatan pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan (capacity building) berperan penting pada
capaian sasaran pemberdayaan.

Untuk itu TFL yang berperan memfasilitasi kelompok masyarakat
sebelum menjalankan tugas terlebih dulu diberi pembekalan maupun
pelatihan yang diselenggarakan secara berjenjang serta kesinambungan
oleh Kementerian Pekerjaan Umum Cq. Direktorat Pengembangan
Penyehatan Lingkungan Direktorat Jendral Cipta Karya, selaku
penangung jawab kegiatan, beserta Satker PLP Provinsi selaku pelaksana
kegiatan. Dalam melaksanakan pembekalan atau pelatihan Direktorat
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman dapat dibantu oleh
lembaga lainnya maupun tenaga ahli yang memiliki pengetahuan,
ketrampilan dan pengalaman di bidangnya sesuai kriteria yang
disyaratkan serta bekerja secara profesional.

Tujuan pembekalan dan pelatihan adalah memberi pengetahuan
tentang program, tahapan pelaksanaan program, sistem pelaporan,
monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan serta meningkatkan
kemampuan (capacity). Sehingga TFL dapat membantu masyarakat,
Kementerian Pekerjaan umum maupun lembaga donor dalam
mengidentifikasi masalah, merencanakan, melaksanakan, memutuskan
dan mengelola kegiatan maupun menjaga kualitas keluaran program.
Program air limbah yang berbasis masyarakat mencakup 70% kegiatan
pemberdayaan dan 30% kegiatan teknis. Untuk itu, pelaksanaan pelatihan
perlu memasukkan pengetahuan dasar teknologi dan teknis disamping
segi pemberdayaan masyarakat.

Hal-hal yang perlu di masukkan dalam materi pelatihan TFL dan
Senior TFL antara lain :
1. Pengenalan dan pemahaman terhadap program serta sinergy
program ;
2. Pedoman Manajemen Pelaksanaan Project (Project Implementing
Manual), mengatur tentang manajemen pelaksanaan, koordinasi,
tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak yang
berperan,dasar kebijakan pelaksanaan dan pelaporan;
3. Pedoman Umum Pelaksanan program;
4. Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, meliputi :
a. Seleksi lokasi,
b. Peran TFL maupun senior TFL;
c. Penyusunan surat penetapan penerima dana hibah dan
penyusunan surat kerja sama antara KSM dengan satker PPLP
provinsi (jika diperlukan dan/atau jika dana bersumber dari
dana hibah);
d. Pembentukan dan penguatan kelompok swadaya masyarakat;
e. Penyusunan rencana kegiatan masyarakat (RKM);
f. Monitoring dan evalusi, pelaporan serta koordinasi;
5. Komunikasi;
6. Disain Teknis, spesifikasi Teknis, dan penyusunan Rencana
Anggaran Belanja (RAB);
7. Penyusunan laporan monitoring evaluasi, progres kegiatan (Kurva
S) dan laporan penyerapan dana;
8. Peningkatan kemampuan (capacity building)meliputi :
a. Pelatihan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
b. Menumbuhkan kesadaraan dan kebutuhan menggunakan MCK
serta keinginan untuk menyambung (Perpipaan);
c. Pelatihan KSM
d. PelatihanMandor/Tukang
e. Pelatihan Operator dan Pengguna.

Sebagaimana tujuan pemberdayaan adalah membentuk individu dan
masyrakat menjadi mandiri, meliputi kemandirian : berpikir, bertindak
dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian masyarakat
merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai
dengan kemampuan memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu
yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah
yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang
dimiliki. Daya kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan kognitif,
konatif, psikomotorik dan afektif serta sumber daya lainnya yang
bersifat fisik/material.
.
B.8.2. Pelatihan Pengelola Sanitasi (Kelompok Swadaya Masyarakat)
Tujuan pelatihan pengelola sanitasi atau Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM) adalah KSM mampu memahami tugas pokok
masing-masing. KSM sebagai wadah masyarakat penerima manfaat
memahami dan bertanggung jawab dalam menyusun dan menjalankan
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga KSM yang telah mereka
tetapkan. KSM sebagai pengelola kegiatan diharapkan akan berlaku
transparansi dan accountabel dalam mengelola anggaran dan
administrasi. KSM sebagai wadah masyarakat penerima manfaat dapat
menjalankan fungsi sebagai pioneer lapangan/fasilitator ke masyarakat
dalam melakukan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Pelatihan dilakukan pada saat masyarakat/KSM telah selesai menyusun
rencana kegiatan masyarat.
B.8.3. Pelatihan Mandor dan Tukang
Tujuan pelatihan mandor dan tukang adalah KSM, tukang dan mandor
memahami prinsip dasar pengelolaan air limbah domestik, maupun
peraturan pemerintah tentang air limbah domestik. KSM khususnya
seksi pembangunan, mandor dan tukang sebagai pelaksana pekerjaan
fisik mampu memahami spesifikasi teknis, membaca dan
mengaplikasikan pekerjaan fisik dari DED maupun RAB yang dibuat
sendiri atau dari konsultan pendamping.
Pelatihan dilakukan pada saat konstruksi akan dimulai atau pada saat
pembersihan lokasi telah selesai, dilakukan dengan cara on the jobs
training.

B.8.4. Pelatihan Operator dan Pengguna
Pelatihan operator bertujuan Operator teknis dan masyarakat penerima
manfaat mengerti prinsip-prinsip dasar pengolahan limbah domestik,
masyarakat mengetahui peraturan pemerintah tentang air limbah
domestik, operator teknis mengerti cara kerja MCK, IPAL, Bio Digester,
Sistem Perpipaan dan mengerti cara-cara mengoperasikan dan
memeliharaan seluruh sistem yang dibangun.
Pelatihan pengguna bertujuan Masyarakat penerima manfaat kegiatan
Sanitasi Berbasis Masyarakat mengetahui dan memahami hal-hal yang
boleh dan tidak boleh dilakukan agar sistem pengolahan limbah dapat
berfungsi maksimal
Pelatihan operator dan pengguna dilaksanakan pada saat progress fisik
atau konstruksi telah mencapai 80 % - 100%, sehingga calon operator dan
masyarakat mengetahui serta memahami fasilitas sarana air limbah yang
terbangun serta cara pengoperasian dan perawatannya

C. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLA SARANA
SANITASI

C.1. Lingkup Pengelola.
Untuk kesinambungan prasarana dan sarana air limbah, perlu dibentuk
Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) atau Kelompok Pengelola.
Kegiatan pemanfaatan dan pemeliharaan ini secara umum bertujuan untuk
keberlanjutan pelayanan dan pelestarian asset yang telah dibangun oleh
masyarakat. Sedang secara khusus pembentukan KPP, bertujuan :
1. Menjaga Prasarana dan sarana terbangun tetap berfungsi sesuai
dengan kualitas dan umur pelayanan sesuai rencana;
2. Menjamin pemeliharaan yang tepat waktu dan tepat sasaran, serta
penghematan biaya pemeliharaan;
3. Memberikan peluang kepada masyarakat/kelompok masyarakat untuk
mengoperasikan dan mengoptimalkan aset yang ada sebagai sumber
daya serta meningkatkan kapasitas masyarakat dengan penciptaan
peluang pelatihan teknis maupun non teknis.

Dalam Program Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman,
prasarana dan sarana Sistem Pengelolaan Air Limbah yang dibangun dapat
berupa on-site dan off-site. Di kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang
air limbah, keterlibatan Kelompok Masyarakat khususnya pengguna
perempuan lebih diutamakan. Oleh sebab itu, keterlibatan perempuan
(komponen gender) dalam operasional dan pemeliharaan sangat penting.

Secara umum tugas dan tanggung jawab kelompok pemanfaat dan
pemeliharaan adalah sebagai berikut :

1. IuranPengguna:
a. KPP atau KP berkewajiban melakukan rembug warga dalam
menetapkan konstribusi in-kind dan/atau in-cash
(iuran)pemanfaatan sarana;
b. KPP atau KP berkewajiban melakukan rembug warga
menentukan sistem pengumpulan iuran,membuat perencanaan
belanja, melakukan pembukuan dan serta menyusun laporan
secara rutin.

2. Operasional & Pemeliharaan
a. Mengoperasikan dan memelihara sarana air limbah domestik
yang telah terbangun
b. Melakukan kontrol semua saluran perpipaan secara rutin, baik
prasarana air limbah IPAL Komunal maupun MCK;
c. Mengembangkan mutu pelayanan & jumlah sarana pengguna.




3. Penyuluhan Kesehatan
Melakukan kampanye tentang kesehatan rumah tangga dan
lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat kepada anggota KSM
khususnya maupun masyarakat umumnya.

C.2. Pembentukan Pengelola Sarana Sanitasi (Kelompok Pemanfaat dan
Pemelihara (KPP) atau Kelompok Pengelola (KP)).

Tata cara pembentukan kelompok pemanfaat dan pemilihara (KPP) atau
prasarana air limbah mengikuti tata cara pembentukan KSM, yaitu melalui
rembug warga yang diselenggarakan secara terbuka dan transparan
dengan di fasilitasi oleh fasilitator (TFL), diselenggarakan oleh KSM dan
disahkan oleh Kelurahan/Desa. Sedangkan kelompok pengelola adalah
salah satu organik/bagian/unsur dari KSM sehingga posisinya melekat
pada KSM. Seluruh warga/anggota KSM memiliki kesamaan kesempatan
dan kedudukan (adil) sebagai pemilih maupun calon penggurus KPP,
waktu dan tempat pelaksanaan bersifat netral dan disepakati bersama,
pengambilan keputusan seluruhnya di tangan warga selaku penerima
manfaat dari prasarana terbangun, disahkan melalui surat keputusan
kelurahan/desa serta di ketahui oleh KSM.

Waktu pembentukan KPP maupunKP dapat diselenggarakan pada saat
progres konstruksi + 70 % - 75%, diharapkan pada masa progres tersebut
KPP atau KP dapat terlibat pada saat kontruksi serta mendapat informasi
teknis (disain struktur, tata letak sarana bangunan beserta infrastruktur
maupun fasilitas penunjangnya) dari infrastruktur tersebut.

KPP/KP dalam menjalankan peran dan taggung jawab pemanfaatan dan
pemeliharaan prasarana mengacu pada Anggaran Dasar/Anggaran
Rumah Tangga (AD/ART) yang telah disepakati dan ditetapkan melalui
mekanisme rembug warga oleh KSM. Mekanisme dan aturan yang telah
diputuskan bersama-sama secara musyawarah diharapkan semua pihak
dapat mengetahui dan mematuhinya.

KPP/KP selaku badan pengelola prasarana air limbah yang dibentuk oleh
KSM harus mempunyai aturan sesuai dengan kondisi setempat, seperti :
mengatur siapa penerima manfaat, bentuk konstribusi masyarakat in-kind
maupun in-cash atau iuran yang harus dibayar, waktu penarikan iuran,
siapa petugas yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan kalau terjadi
kerusakan dan menentukan besarnya biaya operasi rutin, honor petugas,
biaya listrik, kewajiban tiap pengguna wajib untuk memelihara prasarana
dan sarana yang ada serta wewenang KPP/KP untuk mengambil tindakan
jika terjadi pelanggaran oleh anggota penerima manfaat.
Peningkatan kapasitas KPP/KP tetap dibutuhkan untuk keberlajutan
prasarana dan sarana sistem penyelenggaraan maupun pengembangan air
limbah, sehingga masih diperlukan pelatihan lanjutan untuk memperkuat
kapasitas dan meningkatkan jaringan kerja bagi badan pengelola.


D. KESINAMBUNGAN KINERJA PENGELOLAAN
Untuk mencapai kesinambungan kinerja pengelolaan khususnya pola
pengamanan dampak lingkungan dan sosial yang dapat ditimbulkan
adanya pembangunan SPAL-S maka dibutuhkan standart dan operasional
pada pemberdayaan masyarakat. Pola pengamanan meliputi seluruh
tahapan dari tahap persiapan, pemberdayaan, pembangunan hingga tahap
operasional pemeliharaan infrastruktur SPAL-S, dengan penjelasan sebagai
berikut :
D.1. Organisasi Pengelola
Secara umum kepengurusan dan bagan organisasi KPP minimal seperti
ditunjukkan pada gambar I.14.


Gambar I.14. Bagan Organisasi Minimal KPP

Sedangkan KP kepengurusannya melekat dalam struktur KSM secara
keseluruhan seperti ditunjuk pada Gambar I.15.
KETUA PELINDUNG
SEKRETARIS & BENDAHARA
SEKSI IURAN &
PENGGUNA
SEKSI O & P
SEKSI
KESEHATAN


Gambar I.15. Organisasi Pengelola Air Limbah

Ketua
Tugas dan kewajiban:
1. Bertangung jawab melaksanakan rembug warga atau FGD untuk
menyusun kesepakatan bersama. Baik peraturan dan/atau tata tertib
operasional, pemeliharaan serta konstribusi warga pengguna dan
penerima manfaat (baik secara langsung maupun tidak langsung);
2. Mengkoordinir dan bertanggung jawab operasional dan pemeliharaan
sarana air limbah yang terbangun;
3. Menjaga hubungan kelembagaan baik dengan desa/kelurahan, dinas
Pembina prasarana permukiman/sanitasi di kabupaten/kota setempat,
lembaga masyarakat lainnya maupun dengan pihak ke tiga (NGO atau
CSR) mitra;
4. Menjaga pelayanan dan hubungan dengan masyarakat pengguna;
5. Memimpin kegiatan dan rapat-rapat organisasi KPP maupun dengan
masyarakat pengguna.

Sekretaris
Tugas dan kewajiban:
1. Menyusun rencana kebutuhan dan melaksanakan kegiatan tata usaha
dan dokumentasi;
2. Melaksanakan surat-menyurat;
3. Melaksanakan pelaporan kegiatan operasional dan pemeliharaan.
Bendahara
Tugas dan kewajiban:
1. Menerima dan menyimpan uang serta melakukan pembayaran sesuai
dengan permintaan/pengeluaran untuk operasional dan pemeliharaan
prasarana air limbah yang terbangun;
2. Melakukan pengelolaan administrasi keuangan dan pembukuan
realisasi serta laporan pertanggungjawaban keuangan;
3. Menyusun laporan mingguan dan laporan bulanan (transparent dan
accountability) serta diumumkan secara terbuka (ditempel dipapan
pengumuman/tempat strategis) sehingga dapat dilihat dengan mudah
oleh masyarakat.

Seksi Iuran dan Pengguna
Tugas dan kewajiban:
1. Menjalankan, mengawasi dan mengkoordinir hasil kesepakatan warga
atau penerima manfaat dalam operasional dan perawatan sarana air
limbah maupun konstribusi;
2. Menjaga pelayanan dan hubungan khususnya ke penerima
manfaat/warga;
3. Menjalin hubungan dan kerjasama dengan lembaga di tingkat
desa/kelurahan, lembaga masyarakat lainnya, lembaga swadaya
masyarakat maupun CSR perusahaan, dinas/pemangku kepentingan
di kabupaten/kota untuk menjaga keberlanjutan sarana air limbah
terbangun.

Seksi Operasional dan Pemeliharaan
Tugas dan kewajiban:
1. Menjaga kesinambungan (sustainability) operasional dan perawatan
sarana utama maupun pendukung air limbah serta kinerja prasarana
air limbah;
2. Menjaga serta melaksanakan prosedur operasional dan pemeliharaan
prasarana air limbah yang terbangun;




Seksi Kesehatan
Tugas dan kewajiban:
Melaksanakan promosi kesehatan dan prilaku hidup sehat dan bersih
secara berkala kepada warga penerima manfaat maupun masyarakat
umum;


D.2. Tahapan Pelaksanaan
D.2.1. Tahap Persiapan
Tahap Persiapan meliputi :
1. Untuk kegiatan yang merupakan program pemerintah pusat, maka
perlu dilakukan sosialisasi oleh kementerian pekerjaan umum Cq.
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman ke
pemangku kepentingan tingkat daerah serta penjaringan surat minat
dari kepala daerah kabupaten/kota;
2. Sosialisasi ke pemangku kepentingan kabupaten/Kota yang dihadiri
oleh kepala daerah kabupaten/kota setempat serta SKPD selaku
penangung jawab dan terkait pada kegiatan pengelolan air limbah dan
sanitasi;
3. Adanya peran, komitmen dan dukungan yang pasti dari kepala daerah
maupun pemangku kepentingan dari daerah dari mulai tahap
persiapan program/proyek hingga tahap operasional dan
pemeliharaan;
4. Adanya seleksi, penetapan dan pelatihan tenaga pendamping
masyarakat atau fasilitator selaku pendamping masyarakat yang sesuai
dengan syarat dan kriteria yang ditetapkan oleh program/proyek serta
pelaksanaan kegiatan seleksi, penetapan dan pelatihan dapat terukur
dari keluaran dan outcome dari program/proyek;
5. Tersedianya peraturan, kebijakan, pedoman dan petunjuk pelaksanaan
yang telah ditetapkan untuk mendukung pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi program/proyek;

D.2.2. Tahap Sosialisasi dan Pemberdayaan
Tahap sosilisasi dan pemberdayaan perlu memperhatikan Unsur-unsur
pemberdayaan, meliputi :
1. Aksesibilitas informasi terbuka luas, untuk itu diperlukan ;
a. Sosialiasi dan/atau seleksi lokasi tingkat pemangku kepentingan di
tingkat kampung dan/atau masyarakat di kelurahan yang telah
mengajukan surat minat.
b. Sosialisasi dan focus group discussion (FGD) yang bertujuan
meningkatkan partipasi aktif dari mulainya perencanaan, penetapan
kegiatan, pelaksanaan kegiatan atau konstruksi sampai dengan
operasional dan pemeliharaan.
2. Keterlibatan atau partisipasi dan Kapasitas organisasi lokal, Adanya
pembentukan kelompok swadaya masyarakat (KSM) selaku wadah
penerima manfaat yang sesuai dengan syarat dan ketentuan dari tiap
program/proyek, transparasi dan accountabilitas proses pembentukan
KSM dengan melibatkan seluruh masyarakat penerima program/proyek
khususnya,

D.2.3. Tahap Perencanaan :
Persiapan penyusunan rencana kegiatan masyarakat (RKM) perlu
memperhatikan aspek yang terkait dengan safeguard lingkungan seperti :
1. Fungsi dan lokasi pembangunan memiliki kesesuaian dengan tata
ruang setempat,
2. Memperhatikan kondisi sekitar seperti adanya garis sempadan pantai
dan sungai serta kemungkinan terjadinya longsor. Aspek yang terkait
dengan safeguard sosial seperti:
a. Penyepakatan secara tertulis pola kontribusi lahan milik
masyarakat pada lokasi pembangunan prasarana air limbah untuk
mencegah terjadinya permasalahan.
b. Peran serta kaum rentan dan penduduk asli dalam proses
perencanaan pembangunan infrastruktur.

D.2.4. Tahap Pelaksanaan Konstruksi.
Terutama terkait dengan aspek safeguard lingkungan seperti :
1. Pada pembangunan MCK atau IPAL Komunal perlu memperhatikan
perletakan IPAL Komunal dan pembuangan limbah cair rumah tangga
terhadap sumber-sumber air bersih sekitar seperti sumur perorangan
maupun komunal.
2. Pada pembangunan yang memanfaatkan sumber-sumber air perlu
memperhatikan kemungkinan terdapatnya logam-logam berat seperti
merkuri (sepanjang pantai) atau besi dan mangan.
3. Pengadaan dan penggunaan material kayu ber SKSHH/FAKO untuk
jumlah minimal 3 kubik.



D.2.5. Tahap Pasca Konstruksi.
Terkait dengan pemanfaatan hasil hasil pembangunan maka partisipasi
masyarakat melalui kelompok pengguna dan pemanfaat dengan
dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak ketiga lainnya
diperlukan untuk:
1. Menjaga dan memelihara kualitas air buangan (effluence) hasil olahan
SPAL-S serta air bersih yang dipergunakan sehari hari untuk tidak
tidak terkena sumber pencemaran baru.
2. Menjaga hasil pembangunan SPAL-S yang telah disepakati pola
pemanfaatannya. Serta perlu diperhatikan konsep penggunaan yang
mendukung terpeliharanya prasarana sehingga diperoleh umur
manfaat minimal 15 thn.

D.3. Aspek Pembiayaan (Iuran)

Dana operasional dan pemeliharaan sarana air limbah dapat berasal dari:
1. Masyarakat, berupa iuran yang dihitung berdasarkan kesepakatan
bersama akan kebutuhan operasional dan pemeliharaan serta rencana
pengembangan sarana di masa datang;
2. Bantuan monitoring, pembinaan dan pengembangan dari stakeholder
kabupaten/kota;
3. Pihak ke-tiga, swasta melalui CSR maupun lembaga swadaya
masyarakat yang peduli terhadap sarana air limbah;
4. Hasil dari usaha KSM dari pengembangan usaha.

Pendanaan diperuntukkan bagi operasional dan pemeliharaan ditambah
honorarium pengelola untuk melakukan operasional dan pemeliharaan
serta petugas yang bekerja melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan.
Komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung biaya
pengoperasian dan pemeliharaan meliputi biaya penggantian komponen
yang rusak sesuai dengan sistem sarana yang dibangun, yaitu :
1. Biaya perbaikan sarana;
2. Biaya Operasional (solar, listrik, dll)
3. Honorarium pengelola.
4. Depresiasi alat / sarana

D.4. Pembinaan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota
Guna menjaga kesinambungan kegiatan dan pencapaian keluaran hingga
outcome yang optimal dari kegiatan pembangunan dan pengembangan air
limbah umumnya serta khususnya yang berbasis masyarakat, diperlukan
dukungan dan komitment yang kuat baik dari pimpinan daerah, dewan
perwakilan rakyat daerah, dinas atau pemangku kepentingan di daerah
serta masyarakat.

Dukungan dan komitment yang dibutuhkan dari masing-masing
pemangku di daerah tersebut antara lain;
1. Adanya peraturan daerah dan atau peraturan kepala daerah
dan/atau dewan perwaklian rakyat daerah (DPRD) yang mengacu
pada peraturan yang diatasnya, khususnya tentang rencana
pembangunan air limbah di daerah menyangkut peran, tanggung
jawab, kewajiban daerah serta target pembangunan air limbah di
daerah;
2. Adanya peraturan atau kebijakan menyangkut komitmen,
koordinasi lintas program dan komunikasi, antar lintas Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) selaku pemangku kepentingan di daerah
untuk mendukung kegiatan pembangunan dan/atau
pengembangan air limbah yang terarah serta kuat dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pembinaan dan monitoring
evaluasi pasca pembangunan;
3. Adanya konstribusi dan partisipasi aktif pimpinan daerah, DPRD,
SKPD daerah selaku penangung jawab serta berperan dalam
perencanaan, pengawasan, pembinaan dan montoring dengan
antara lain : menyediakan lokasi atau lahan pembangunan air
limbah yang sesuai dengan tata ruang dan tata kota daerah,
partisipasi dan konstribusi daerah dalam pemberdayaan
masyarakat, perencanaan, konstruksi, pengawasan, pembinaan dan
pengawasan;
4. Adanya sosialisasi dan pengingkatan kapasitas bidang manajemen
dan pelayanan bidang air lembah, bagi staf dari SKPD atau
pemangku kepentingan yang terkait khususnya staf yang
bersingungan secara langsung dengan masyarakat dalam
menjalankan tugas dan pekerjaannya;

D.5. Rehabilitasi
Definisi umum rehabilitasi adalah perbaikan asset tetap yang rusak
sebagian dengan tanpa meningkatkan kualitas dan kapasitas dengan
maksud dapat digunakan sesuai dengan kondisi semula. Dalam progam
pembangunan prasarana air limbah, kepemilikan asset berada pada
pemerintah daerah atau pemangku kepentingan daerah sedang masyarakat
atau KSM penerima bantuan (manfaat) bertindak selaku penerima
operasional dan pemeliharaan.
KSM atau masyarakat penerima program dengan adanya pendekatan
pemberdayaan masyarakat dengan disertai peningkatan kapasitas secara
bertahap yang dilakukan oleh pemangku kepentingan diharapkan KSM
atau masyarakat penerima manfaat memiliki kemampuan untuk
melakukan pengoperasian, pemeliharaan dan pembiayaan rutin harian.
Sedang peran daerah melalui pemangku kepentingan di daerah dalam
kegiatan pasca konstruksi fasilitas umum prasarana air limbah, khususnya
pada kegiatan yang membutuhkan keahlian serta ketrampilan khusus
dan/atau membutuhkan biaya yang tidak dapat ditanggung oleh KSM
atau masyarakat berpenghasilan rendah selaku penerima manfaat. Peran
pemangku kepentingan di daerah antara lain meliputi:
1. Monitoring, evaluasi dan pembinaan secara berkala dan rutin
terhadap kinerja bangunan atas, bangunan bawah (pengolah air
limbah) serta perpipaan, secara berkala dan tiap tahun;
2. Bantuan rehabilitasi, khususnya perbaikan bangunan pengolah air
limbah, jaringan perpipaan, biodigester (jika ada) serta perbaikan
bangunan atas khususnya pada lokasi yang berada di tengah
permukiman masyarakat berpenghasilan rendah;
3. Pelatihan atau peningkatan kapasitas manajemen maupun layanan
bagi pengurus KPP pada KSM yang bersangkutan;


E. PERAN MASYARAKAT

Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk
berperan aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan konstruksi,
pemeliharaan, dan pemantauan penyelenggaran SPAL Peran masyarakat
dapat berupa :
1. Memberi pertimbangan, saran, dan keberatan, kepada penyelenggara;
2. Memberi dukungan materi sesuai dengan potensi kebutuhan di lokasi;
3. Memelihara sarana dan prasarana Air Limbah, seperti tidak membuang
sampah pada jaringan perpipaan dan/atau membuka tutup manhole;
dan
4. Memberikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang
berwenang.


F. MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN
F.1. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi (Monev) bertujuan untuk mengetahui, antara lain:
1. Apakah pelaksanaan sesuai jadwal kegiatan?
2. Apakah program akan selesai sesuai dengan jadwal?
3. Apakah output yang diharapkan akan tercapai?
4. Apakah implementasi sesuai dengan standar yang diharapkan?
5. Apakah kegiatan sesuai dengan anggaran?
6. Apakah kinerja bangunan selama operasional masih baik?
7. Apakah sasaran antara dan outcome dari program dapat tercapai?

Berdasarkan waktu, Monev dapat dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu :
1. Monitoring dan evaluasi di tahun berjalan program, monitoring dan
evaluasi dilakukan dari tahap persiapan, perencanaan, konstruksi
hingga uji coba bangunan (commissioning). Tujuan dilaksanakannya
monitoring dan evaluasi adalah untuk memonitor, supervisi, menilai
tiap tahap kegiatan, serta menilai terhadap target keluaran kegiatan;
2. Monitoring dan evaluasi terhadap kinerja prasarana air limbah yang
telah beroperasi, minimal 2 (dua) tahun masa operasioal. Monitoring
dan evaluasi bertujuan untuk menilai pemanfaatan prasarana
terbangun, kondisi bangunan atas, kinerja pengolahan air limbah,
keberlanjutan dan keberfungsian KPP, perubahan perilaku hidup
bersih dan sehat masyarakat penerima program serta peran serta atau
partisipasi pemangku kepentingan khususnya dari daerah penerima
program.

Metode monitoring dan evaluasi yang digunakan antara lain dengan cara
pengumpulan dan analisa data hasil survey ke lokasi, pengumpulan
laporan kegiatan maupun progress, serta melalui penggumpulan data
menggunakan fasilitas komunikasi, seperti: telephone, email serta facsimile.
Hubungan antara faktor-faktor yang di monitoring pertahap kegiatan,
pada tahun berjalannya program adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan, antara lain terdiri dari :
a. Adanya pemilihan atau seleksi Kota/Kabupaten yang memenuhi
syarat program;
b. Adanya sosialisasi program di tingkat kota/kabupaten di masing-
masing lokasi sasaran kegiatan, untuk menjaring minat di
masing-masing kabupaten/kota;
c. Ketersediaan surat minat, surat kesedian/MoU dari Pimpinan
Daerah dengan pihak kementerian Pekerjaan Umum untuk
bersedia dalam konstribusi serta memenuhi syarat program;
d. Ketersediaan tenaga pendamping (fasilitator) program di masing-
masing kabupaten/kota. Tenaga pendamping atau fasilitator
dipilih melalui seleksi terbuka, transparan dan dapat
dipertanggung jawabkan dengan menilai maupun mengevaluasi
syarat/kriteria calon tenaga pendamping atau fasilitator melalui
faktor pendidikan, pengalaman kerja pada bidang yang sama,
kemampuan serta kemauan dalam pendampingan masyarakat
maupun menyusun rencana teknis;
e. Adanya pelatihan atau peningkatan kapasitas tenaga
pendamping/fasilitator;
f. Adanya surat tugas/pengangkatan tenaga
pendamping/fasilitator oleh pemangku kegiatan di masing-
masing kabupaten/kota penerima program;

2. Perencanaan, antara lain terdiri dari :
a. Adanya sosialisasi, untuk menjaring minat, di tingkat kelurahan
atau kecamatan masing calon lokasi dengan disertai bukti
pelaksanaan kegiatan, seperti surat undangan, surat dan notulen
pelaksanaan, foto-foto kegiatan dan daftar hadir kegiatan;
b. Adanya surat minat dari masing-masing kelurahan atau
kecamatan untuk ikut di seleksi sebagai lokasi yang layak untuk
mendapat bantuan program, dan/atau penetapan lokasi berdasar
data sekunder meliputi tingkat kepadatan penduduk, kepemilikan
prasarana air limbah keluarga mauapun fasilitas umum lainnya,
tingkat sosial dan ekonomi masyarakat, ketersediaan lahan yang
sesuai criteria syarat teknis bagi program;
c. Adanya rembug warga atau focus group discussion (FGD)
pembentukan kelompok swadaya masyarakat (KSM) selaku
wadah organisasi warga dalam pendekatan pemberdayaan
masyarakat, pembentukan dilaksanakan secara terbuka,
transparat, jujur dan adil dalam pemilihan dan penetapan
pengurus. KSM dibentuk oleh warga dengan di fasilitasi oleh
tenaga pendamping/fasilitator dan disahkan oleh kelurahan/desa
setempat sebagai salah satu lembaga formal;
d. Adanya rembug warga atau FGD untuk menyusun AD/ART
KSM, identifikasi permasalahan air limbah ditengah masyarakat,
pendekatan penyelesaian masalah maupun tindak lanjut oleh
masyarakat yang telah dan akan dilaksanakan oleh masyarakat;
e. Adanya rembug warga atau FGD untuk mengidentifikasi dan
mempetakan masalah-masalah air limbah dan sanitasi, menurut
masyarakat, serta tindak lanjut yang telah dilakukan oleh
masyarakat. Rembug warga atau FGD dengan melibatkan
perempuan, anak-anak serta masyarakat dengan keterbatasan fisk
(disable people);
f. Adanya survey dan identifikasi lokasi-lokasi potensial dengan
kriteria utama antara lain: merupakan wilayah rawan/air limbah,
potensi cakupan layanan air limbah bagi masyarakat
berpenghasilan rendah berbasis gender dan (disable people),
ketersediaan air bersih dilokasi dan tinggi muka air tanah 3 m
atau bukan merupakan daerah rawan banjir. Untuk digunakan
sebagai parameter bobot penilaian permasalahan air limbah
(sanitasi);
g. Adanya surat hibah lahan dari individu kepada program, yang
disahkan oleh kecamatan atau notaris setempat, bagi lokasi yang
menggunakan lahan hibah. atau, surat penggunaan lahan untuk
lokasi yang menggunakan lahan pemerintah
daerah/desa/kelurahan;
h. Adanya rembug warga tentang penentuan skala prioritas
penanganan air limbah, kesediaan kontribusi warga calon
penerima program dalam proses perencanaan fisik, konstruksi
dan pasca konstruksi untuk di masukkan dalam AD/ART KSM;
i. Adanya FGD yang dilaksanakan secara terbuka, adil berbasis
gender dan disable people, membahas antara lain :
1) Usulan teknologi pengolahan limbah baik MCK komunal,
perpipaan, kombinasi dari teknologi MCK dengan
perpipaan, dan/atau;
2) Teknologi tepat guna bagi pengolahan influence dan
effluence;
3) Disain maupun fasilitas prasarana yang akan dibangun;
j. Adaanya FGD penyusunan DED dan anggaran biaya, difasilitasi
oleh tenaga pendamping/fasilitator yang memiliki pendidikan,
ketrampilan dan pengalaman yang sesuai;
k. Adanya rencana kegiatan masyarakat tentang kegiatan
pembangunan prasarana air limbah dalam bentuk dokumen,
disertai dengan bukti dari mulai sosialisasi penjaringan minat per
kelurahan atau kecamatan hingga penyusunan DED dan RAB di
sahkan dan di tanda tangani oleh KSM diketahui oleh kelurahan;
l. Untuk program dengan menggunakan dana bantuan sosial, maka
mekanisme pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan berpedoman
pada Perpres No. 70 tahun 2012 perubahan kedua dari Perpres
No. 54 tahun 2010. Mekanisme monitoring dan evaluasi, surat
penetapan penerima manfaat dari PPK atau satker PPLP Provinsi
serta surat kerjasama antara KSM dengan PPK atau Satker PPLP
Provinsi;

3. Konstruksi, antara lain terdiri dari :
a. Pembentukan Tim dari KSM, meliputi : tim perencana, tim
pelaksana, pengawas dan pengadaan untuk kegiatan konstruksi;
b. Monev terhadap progres fisik, spesifikasi dan struktur teknis,
penyerapan tenaga kerja lokal dan gender dan keuangan;
c. Monev, antara konstruksi terbangun dengan detailed engineering
design awal;
d. Monev, pelatihan di tempat atau on job training (Jika ada), untuk :
1) KSM (administrasi dan penguatan kelembagaan),
2) Mandor tukang, tim pelaksana dan tim pengawas
(konstruksi)

4. Commisioning, antara lain terdiri dari :
a. Monev terhadap keberfungsian prasarana dan fasilitas
penunjang;
b. Monev terhadap pelatihan perilaku hidup bersih dan sehat bagi
masyarakat calon pengguna;
c. Monev terhadap pelatihan Operasional dan perawatan bangunan
bagi KPP.

Monitoring dan evaluasi tahap operasional dan pemeliharaan, meliputi
penilaian terhadap :
1. Kinerja fisik bangunan;
2. Kinerja operasional pengolah air limbah;
3. Kinerja KSM.


Hasil keluaran yang di peroleh dari kegiatan monitoring dan evaluasi
adalah :
1. Trasnsparan pengelolaan program;
2. Akuntability atau dapat dinilai;
3. Pembelajaran untuk kegiatan selajutnya atau kegiatan lain di masa
datang

F.2. Pelaporan
Mekanisme pelaporan secara struktur mengikuti organisasi pengelola
program, dimulai dari tingkat dasar (KSM atau masyarakat), Dinas
Kabupaten dan Provinsi hingga pusat. Detail struktur pelaporan, waktu
pelaporan, dan jenis laporan, penanggung jawab pelaporan akan diatur
secara tersendiri berdasarkan petunjuk manual dari masing-masing
program yang telah disiapkan.