Anda di halaman 1dari 29

PERDEBATAN SEPUTAR TEORI HUKUM RESPONSIF

DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA


A. Pendahuluan
Hukum lahir dari suatu dimensi sosial yang bertujuan untuk menciptakan
ketertiban, keamanan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Untuk
merumuskan hukum yang bersumber dari nilai masyarakat Indonesia adalah
bagaimana menciptakan hukum yang responsif yang mampu
mengimplementasikan keinginan dari bangsa Indonesia. Bahwa pilar utama
lainnya dalam membentuk hukum yang responsif adalah bagaimana membentuk
pemahaman yang baik dan menyeluruh kepada aparat penegak hukum dalam
memahami dan menjalankan aturan yang berlandaskan pada prinsip nilai-nilai
kemanusiaan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, bukan hanya
sekedar menjadi boneka Undang-undang. Hukum responsif selaras dengan
nilai-nilai yang terkandung dalam jiwa bangsa Indonesia yakni !ancasila, yaitu
pencerminan nilai kemanusiaan dan nilai keadilan.
"engenai lahirnya teori hukum ini dilatararbelakangi dengan munculnya
masalah-masalah sosial seperti protes massal, kemiskinan, kejahatan,
pencemaran lingkungan, kerusuhan kaum urban, dan penyagunaan kekuasaan
yang melanda #merika $erikat pada tahun %&'(-an. Hukum yang ada pada saat
itu ternyata tidak cukup untuk mengatasi keadaan tersebut. )i tengah rangkaian
kritik atas realitas krisis otooritas hukum itulah, *onet-+elnick mengajukan
model hukum responsif. !erubahan sosial dan keadilan sosial membutuhkan
tatanan hukum yang responsif. kebutuhan ini sesungguhnya telah menjadi tema
utama dari semua ahli yang sepaham dengan semangat fungsional, pragmatis,
dan semangat purposif ,berorientasikan tujuan-, sepertinya .oscou !ound, para
penganut paham realisme hukum dan kritikus-kritikus kontemporer.
%
$ebelum melangkah ke pemikiran hukum responsif, *onet dan +elnick
membedakan tiga klasi/kasi dasar dari hukum dalam masyarakat, yaitu hukum
sebagai pelayan kekuasaan represif (hukum rere!"#$, hukum sebagai institusi
tersendiri yang mampu menjinakan represif dan melindungi integritas dirinya
(hukum %&%n%m$, dan hukum sebagai fasilitator dari berbagai respon terhadap
kebutuhan dan aspirasi sosial (hukum re!%n!"#$. diantara ketiga tipe tersebut,
*onet dan +elnick berargumen bahwa hanya hukum responsif yang menjanjikan
tertib kelembagaan yang langgeng dan stabil. *onet dan +elnick lewat hukum
.esponsif, menempatkan hukum sebagai sarana respons terhadap ketentuan-
%
http011id.scribd.com1doc1%2332(34%15eori-$istem-Hukum-6riedman
%
ketentuan sosial dan aspirasi publik. $esuai dengan sifatnya yang terbuka, maka
tipe hukum ini mengedepankan akomodasi untuk menerima perubahan-
perubahan sosial demi mencapai keadilan dan emansipasi publik. 7epedulian
pada akomodasi sosial. "enyebabkan teori ini tergolong dalam wilayah
sosiological juurisprudence dan realist jurisprudence. )ua aliran tersebut pada
intinya menyatakan kajian hukum yang lebih empirik melampaui batas-batas
formalisme, perluasaan pengetahuan hukum, dan peran kebijakan dalam
putusan hukum.
)alam diskripsi buku Law and Society in Transition: Toward Responsive Law,
karangan !hilippe *onet dan !hilip $el8nick, diperkenalkan ,introduction- oleh
.obert 7agan, dinyatakan bahwa0
Year by year, law seems to penetrate ever larger realms of social,
political, and economic life, generating both praise and blame. Nonet
and Selnic!"s Law and Society in Transition e#plains in accessible
language the primary forms of law as a social, political, and normative
phenomenon. They illustrate with great clarity the fundamental
di$erence between repressive law, riddled with raw con%ict and the
accommodation of special interests, and responsive law, the reasoned
e$ort to realie an ideal of polity.
To ma!e &urisprudence relevant, legal, political, and social theory
must be reintegrated. 's a step in this direction, Nonet and Selnic!
attempt to recast &urisprudential issues in a social science perspective.
They construct a valuable framewor! for analying and assessing the
worth of alternative modes of legal ordering. The volume"s most
enduring contribution is the authors" typology(repressive, autonomous,
and responsive law. This typology of law is original and especially
useful because it incorporates both political and &urisprudential aspects
of law and spea!s directly to contemporary struggles over the proper
place of law in democratic governance.
)n his new introduction, Robert '. *agan recasts this classic te#t for
the contemporary world. +e sees a world of responsive law in which
legal institutions(courts, regulatory agencies, alternative dispute
resolution bodies, police departments(are periodically studied and
redesigned to improve their ability to ful,ll public e#pectations.
Schools, business corporations, and governmental bureaucracies are
more fully pervaded by legal values. Law and Society in Transition
describes ways in which law changes and develops. )t is an inspiring
vision of a politically responsive form of governance, of special interest
to those in sociology, law, philosophy, and politics
-
.

)alam bahasa Indonesia, pengertian artinya, yaitu0
$eiring berjalannya waktu, peran hukum lebih besar untuk
menembus atas kehidupan sosial, politik, dan ekonomi, yang
menghasilkan persetujuan dan pertentangan. )an $el8nick dan *onet9s
menjelaskan transisi hukum di masyarakat dalam akses pembentukan
3
http011www.ama8on.com1:aw-$ociety-5ransition-5oward-.esponsi;e1dp1(<='4(=>34,
dipublikasi 3> #pril 3((%.
3
hukum sebagai sebuah fenomena normatif sosial, dan politik. "ereka
menggambarkan dengan susah kejelasan perbedaan yang mendasar
antara hukum represif, penuh dengan kon?ik baku dan akomodasi
kepentingan khusus, dan responsif hukum, beralasan tersebut upaya
untuk menyadari sebuah pemerintahan ideal.
Untuk membuat yurisprudensi yang rele;an, hukum, politik, dan
sosial teori harus reintegrasi. $ebagai langkah dalam arah ini, *onet
dan $el8nick mencoba untuk kembali jurisprudential isu-isu dalam
sebuah ilmu sosial perspektif. "ereka membangun sebuah berharga
kerangka kerja untuk menganalisis dan menilai nilai mode alternatif
memesan. hukum @olume 9 kontribusi yang paling abadi adalah penulis
9 typology(repressive, , otonom dan responsif hukum. Ini typology
hukum yang asli dan terutama berguna karena menggabungkan kedua
politik dan jurisprudential aspek hukum dan berbicara langsung ke
tempat yang kontemporer berjuang selama hukum tata kelola
pemerintahan yang demokratis
)alam pengantar baru, .obert #. 7agan recasts teks ini klasik
untuk dunia kontemporer. )ia melihat dunia responsif hukum di mana
lembaga-pengadilan hukum, lembaga regulator, sengketa alternatif
resolusi tubuh, polisi departemen-yang secara berkala belajar dan
didesain ulang untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk
memenuhi ekspektasi masyarakat. $ekolah, bisnis korporasi dan
birokrasi pemerintah lebih lengkap diresapi oleh nilai-nilai hukum.
Hukum dan masyarakat dalam transisi menjelaskan cara di mana
hukum berubah dan berkembang. Itu adalah inspirasi ;isi politik
responsif bentuk pemerintahan, minat khusus dalam $osiologi, hukum,
/lsafat dan politik.
!enjelasan di atas dapat dipahami, bahwa terbentuknya tatanan hukum
dimulai dari suatu dimensi sosial yang bertujuan untuk menciptakan ketertiban,
keamanan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Untuk merumuskan hukum
yang bersumber dari nilai masyarakat Indonesia adalah bagaimana menciptakan
hukum yang responsif yang mampu mengimplementasikan keinginan dari
bangsa Indonesia.
Bahwa pilar utama lainnya dalam membentuk hukum yang responsif adalah
bagaimana membentuk pemahaman yang baik dan menyeluruh kepada aparat
penegak hukum dalam memahami dan menjalankan aturan yang berlandaskan
pada prinsip nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat, bukan hanya sekedar menjadi boneka Undang-undang. Hukum
responsif selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam jiwa bangsa
Indonesia yakni !ancasila, yaitu pencerminan nilai kemanusiaan dan nilai
keadilan. !ermasalahan yang esensial dalam penegakan hukum di Indonesia
bukan hanya semata-mata terhadap produk hukum yang tidak responsif,
melainkan juga berasal dari faktor aparat penegak hukumnya. Untuk meletakkan
pondasi penegakan hukum, maka pilar yang utama adalah penegak hukum yang
2
mampu menjalankan tugasnya dengan integritas dan dedikasi yang baik. 7arena
sepanjang sapu kotor belum dibersihkan, maka setiap pembicaraan tentang
keadilan akan menjadi omong kosong belaka, as long as the dirty broom is not
cleaned, any tal! of &ustice will be empty.,#hmad #li, 3((%-<>-.
B. K%n!e Te%r" Hukum Re!%n!"# dan Pendaa& Ahl"
Istilah hukum yang responsif dipopularkan oleh !hilippe *onet dan !hilip
$el8nick di dalam karya mereka yang berjudul Law and Society in Transition
towards Responsive Law. Istilah tersebut digunakan mereka berdua sebagai
kritik terhadap teori hukum yang lebih mengedepankan sisi formalitas dan
mengesampingkan realitas. )alam pandangan *onet dan $el8nick, sebagaimana
dikemukakan oleh .obert #.7agan di dalam pengantar edisi terbaru karya *onet
dan $el8nick tersebut, hukum seringkali tampil membatasi dan sangat rigid
,constricting and rigid-.
2
$ifat hukum yang demikian itu disebabkan selama ini
teori-teori hukum dibangun secara khas, di atas teori-teori tentang otoritas yang
bersifat implisit. Ide kedaulatan hukum, dalam amatan *onet dan $el8nick,
merupakan contoh dari teori-teori otoritas tersebut. "enurut catatan keduanya,
perhatian dan kontro;ersi sering muncul di dalam kajian hukum yang mengiringi
krisis otoritas yang mengguncang institusi-institusi publik. 7edaulatan hukum
,rule of law-, demikian tegas *onet dan $el8nick, dalam masyarakat moderen
tidak kalah otoriternya dibandingkan dengan kedaulatan orang1penguasa ,rule of
men- di dalam masyarakat pramoderen.
>
*onet dan $el8nick mencatat dua
fenomena hukum yang sangat kontras di #merika $erikat pada dekade tahun
%&=(-an. )i satu sisi beberapa pengadilan dan beberapa bagian dari profesi
hukum menjadi juru bicara bagi kelompok yang tidak beruntung. "ereka
menafsirkan misi mereka sebagai bentuk perluasan hak dan pemenuhan janji
konstitusi yang tersembunyi, di samping juga sebagai gerakan ad;okasi sosial
dan hukum demi kepentingan publik. Upaya kelompok tersebut memperoleh
dukungan publik yang sangat luas. #kan tetapi, di sisi lain pada saat yang
bersamaan, hukum justru bertindak represif terhadap setiap sikap kritis yang
muncul.
'

2
.obert.#.7agan, Introduction to Transaction Edition, dalam !hilippe *onet dan
!hilip $el8nick, Law and Society in Transition Towards Responsive Law, ,*ew
Aersey05ranscation !ublishers,3((%-, hal ;iii.
>
)bid.
'
ibid, hal.<. $ebagaimana dijelaskan oleh .obert #.7agan, *onet dan $el8nick
menggambarkan bagaimana goncangan akibat krisis otoritas itu terjadi di #merika pada
periode %&=(-an ketika lembaga legislatif dan yudikatif memperkenalkan beberapa
kebijakan baru yang memuat ambisi politik dan mempengaruhi sistem hukum #merika
>
7risis itu pada gilirannya melahirkan kritik terhadap hukum yang dipandang
tidak memadai dirinya sebagai sarana perubahan dan sarana mewujudkan
keadilan substantif.43 7ritik tersebutBdengan merujuk kepada pendapat $atjipto
.ahardjoBlebih tepat bila dialamatkan kepada pandangan Hans 7elsen yang
melihat hukum secara murni. 7elsen, seperti dikemukakan oleh $atjipto
.ahardjo, menolak pandangan yang mengintegrasikan hukum dengan bidang-
bidang lainnya. 7elsen berpendapat, alles ausscheiden mochte, was nicht u
dem e#a!t als Recht bestimmten .egenstande gehort ,$emua hal yang tidak
berhubungan dengan hukum harus dikeluarkan-.
=

7ekeliruan besar, jika tidak dikatakan sebagai kegagalan dari doktrin-
doktrin hukum yang lebih berorientasikan ketertiban selama ini ialah
kecenderungan untuk menyederhanakan persoalan dan menolak secara total
perspektif yang berkembang di luar hukum. "enurut *onet dan $el8nick, selama
ini terdapat ketegangan di antara dua pendekatan terhadap hukum, yaitu
kebebasan dan kontrol sosial. *onet dan $el8nick menamakan pendekatan
kebebasan sebagai pandangan yang risiko rendah tentang hukum dan
ketertiban.
!andangan ini menekankan betapa besarnya sumbangan stabilitas hukum
terhadap suatu masyarakat yang bebas dan betapa berisikonya sistem yang
berdasarkan otoritas dan kewajiban sipil.
<
!erspektif ini, menurut *onet dan
$el8nick, melihat hukum sebagai unsur yang sangat penting dari tertib sosial
dengan tidak mengesampingkan sumber-sumber kontrol lainnya, tapi sumber-
sumber itu tidak dapat diandalkan untuk menyelamatkan masyarakat dari
kesewenang-wenangan.
4
!erspektif ini berpandangan bahwa perubahan akan
datang melalui proses politik bukan dari pelaksanaan atau kebebasan agen-agen
hukum ,seperti hakim, jaksa, pengacara, dan polisi- yang merespon tuntutan-
tuntutan hukum yang bersifat partisan. $ingkatnya, perspektif ini menghendaki
pemisahan yang tegas antara politik dan hukum. $ementara itu, pendekatan
kontrol sosial menekankan pada potensi kelenturan dan keterbukaan institusi-
$erikat. Contoh yang diambil oleh keduanya adalah di negara-negara bagian $elatan.
!emerintah negara bagian dan pengadilan setempat mengubah undang-undang yang
mengharuskan penggunaan teknologi yang dapat mengurangi tingkat pencemaran dan
kecelakaan kerja. !ada saat yang lain, pengadilan juga menolak permohonan hak kaum
wanita untuk melakukan aborsi. 7agan mencatat peningkatan jumlah permohonan uji
materi terhadap undang-undang negara bagian dalam kurun waktu %&=( sampai dengan
%&4( dari 34( permohonan per tahun menjadi 3<.((( permohonan per tahun. !erubahan
angka tersebut menurutnya, mengindikasikan adanya ketidakpuasan masyarakat
terhadap penerapan hukum oleh pemerintah. :ihat .obert # 7agan, op.cit, hal.D;ii-D;iii.
=
$atjipto .ahardjo, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, cetakan
kedua ,Eogyakarta0 Fenta !ublishing, 3((&-, hal.<.
<
!hilippe *onet dan !hilip $el8nick, loc.cit, hal.<
4
)bid
'
institusi. !andangan ini, menurut *onet dan $el8nick, tidak peduli terhadap
otoritas. !endekatan kontrol sosial menolak untuk menyamakan hukum dengan
ketertiban. 7onsep GketertibanH dipahami sebagai sesuatu yang bersifat
problematik. 7etertiban tercipta berdasarkan harapan-harapan yang secara
historis berubah, beriring dengan kontro;ersi dan tingkah laku yang ekspresif.
!erspektif kontrol sosial menilai hukum sebagai sumber bagi kritik dan sebagai
instrumen dari perubahan. !erspektif ini meyakini sistem otoritas akan dapat
melestarikan dirinya jika terbuka terhadap rekonstruksi dalam konteks
bagaimana pihak yang diperintah mampu memaknai hak-hak mereka dan
meninjau kembali komitmen moral mereka. $ebagaimana dicatat oleh *onet dan
$el8nick, untuk menjadi responsif sistem itu perlu terbuka dalam banyak hal dan
perlu mendorong partisipasi.
"enurut perspektif ini, pembangkangan politik perlu dihadapi dengan sikap
toleran dan dengan kesediaan untuk merundingkan landasan baru bagi otoritas.
)engan sikap keterbukaan tersebut, garis pemisah antara politik dan hukum
tidaklah tegas. $etidaknya akan terjadi persentuhan antara ad;okasi dan
keputusan hukum dengan kebijakan publik yang kontradiktif. *onet dan $el8nick
mengkuali/kasi perspektif itu sebagai pandangan berisiko tinggi tentang hukum
dan ketertiban.
&
$ebagai jalan keluar mengatasi carut marut hukum yang
demikian, *onet dan $el8nick mengajukan sebuah tawaran yang
mengintegrasikan pemahaman hukum dengan perspektif sosial untuk0 ,%-
mempertegas pentingnya hukum dan ,3- mencari alternatif lain selain dari
pemaksaan dan penindasan.
%(
Berangkat dari fakta di atas, *onet dan $el8nick mengklasi/kasi hukum ke
dalam tiga jenis0 hukum represif, hukum otonom, dan hukum responsif. Hukum
represif, dalam amatan kedua guru besar itu, berpandangan bahwa keberadaan
hukum semata tidak akan menjamin tegaknya keadilan, apalagi keadilan
substantif. $ebaliknya setiap tertib hukum memiliki potensi represif sebab hingga
tingkat tertentu ia akan selalu terikat pada status Iuo dan membuat kekuasaan
menjadi efektif.
%%
$ecara sederhana, *onet dan $el8nick
mengkategorikan hukum represif sebagai produk kekuasaan pemerintahan yang
represif. "engenai kekuasaan pemerintahan itu pun, kedua guru besar itu
mende/nisikannya sebagai kekuasaan yang tidak memperhatikan orang-orang
yang diperintah atau kekuasaan yang dilaksanakan tidak untuk kepentingan
&
!hilippe *onet dan !hilip $el8nick, op.cit, hal.<-4
%(
ibid, hal.%(
%%
ibid, hal.33
=
orang yang diperintah. #kibatnya, posisi mereka yang diperintah menjadi rentan
dan lemah.
%3
7lasi/kasi hukum yang selanjutnya adalah hukum otonom. )engan
munculnya hukum otonom ini, tertib hukum menjadi sumber daya untuk
menjinakkan perilaku represif kekuasaan. "unculnya konsep rule of law menjadi
milestone keberadaan hukum otonom tersebut. Rule of law menggambarkan
kon;ergensi antara hukum dan politik. "engenai masalah ini, "ahfud ".). di
bagian yang telah lalu, telah menjelaskan tipologi hubungan hukum dan politik.
)i le;el tertentu, begitu pendapat "ahfud, hukum merupakan produk kompromi
politik yang kemudian ditaati atau mengikat politik itu sendiri.
%2
*onet dan
$el8nick menegaskan bahwa independensi institusi-institusi hukum menjadi
syarat mutlak rule of law tersebut. )engan kondisi seperti itu, hukum otonom
dapat disimpulkan sebagai hukum yang menjembatani ,mediator- kepentingan
kekuasaan dan kepentingan publik.
7lasi/kasi yang terakhir adalah hukum responsif. .aison dHetre dari tipikal
hukum ini adalah bagaimana hukum mampu merespon kebutuhan-kebutuhan
sosial. Hukum responsif, dengan menggunakan analisis .oscoe !ound berangkat
dari logika yang berlawanan dari hukum represif atau otonom. 5eori !ound,
sebagaimana dikutip oleh *onet dan $el8nick, mengenai kepentingan-
kepentingan sosial merupakan sebuah usaha yang lebih eksplisit untuk
mengembangkan suatu model hukum yang responsif.
%>
!enjelasan :loyd of
Hamstead berikut kiranya dapat membantu kita memahami
apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh !ound dan para
pendukungnya dari aliran sociological &urisprudence mengenai hukum0
6urther, sociological jurist tend to be skeptical of the rules presented in the
teDtbooks and concerned to see what really happens, the law in action.
$ociological jurist also tend to espouse relati;ism. 5hey reject the belief of
naturalism that an ultimate theory of ;alues can be foundJ they see reality as
socially constructed with no natural guide to the solution of many con?icts.
$ociological jurist also belie;e in the importance of harnessing the
techniIues of the social sciences, as well as the knowledge called from
sociological research, towards the erection of a more eKecti;e science of law.
:astly, there is an abiding concern with social justiceL
%'
:ebih lanjut, *onet dan $el8nick mengemukakan bahwa lembaga responsif
menganggap tekanan-tekanan sosial sebagai sumber pengetahuan dan
kesempatan untuk memperbaiki diri. Untuk bisa memperoleh sosok seperti itu,
%3
ibid.
%2
"ahfud ".), op.cit, hal.%=
%>
!hilippe *onet dan !hilip $el8nick, op.cit, hal.42.
%'
:ihat :ord :loyd of Hamstead, Introduction to Aurisprudence, ,:ondon0$te;en and
$ons,%&4'-, hal.'>4-'>&
<
tegas keduanya, sebuah institusi memerlukan sebuah panduan ke arah tujuan.
5ujuan tersebut menetapkan standar untuk mengkritisi praktik yang sudah
mapan dan oleh sebab itu dapat membuka jalan untuk melakukan perubahan.
%=
Untuk memperjelas uraiannya tentang tiga tipikal hukum tersebut *onet
dan $el8nick membuat tabel sebagai berikut
%<
0
HUKUM REPRESIF HUKUM OTONOM HUKUM RESPONSIF
5ujuan
hukum
ketertiban legitimasi kompetensi
:egitimasi 7etahanan sosial
dan tujuan negara
7eadilan prosedur
al
7eadilan substantif
!eraturan 7eras dan rinci namu
n berlaku lemah
terhadap pembuat
hukum
:uas dan rinciJ
mengikat penguasa
maupun yang
dikuasai.
$ubordinat dari prinsip
dan kebijakan
!ertimbang
an
#d hoc, memudahka
n
mencapai tujuan d
an
bersifat partikular.
$angat melekat
paa
otoritas legalJ
rentan terhadap
formalisme
dan legalisme.
!urposif ,berorienta
si
tujuan-J perluas
an
kompetensi kognitif.
)iskresi $angat lu
as,
oportunistik.
)ibatasi oleh
peraturanJ delegasi
yang sempit
:uas, tetapi tetap ses
uai
dengan tujuan.
!aksaan Mkstensif, dibata
si
secara lemah
)ikontrol oleh
batasan-batasan
hukum.
!encarian positif ba
gi
berbagai alternatif
seperti
insentif sistem
kewajiban yang mam
pu bertahan.
"oralitas "oralitas komunal
,
moralisme huku
m,
moralitas pembatasa
n
"oralitas
kelembagaan,
yakni
dipenuhi dengan
integritas proses
hukum.
"oralitas sipil,
moralitas kerja sama.
!olitik Hukum subo
dinat terhadap politik
kekuasaan.
Hukum independen
dari politik,
pemisahan kekuasa
an
5erintegrasinya aspira
si
hukum dan politi
k,
keberpaduan kekuasaa
n.
Harapan
akan
7etaatan
5anpa syarat,
ketidaktaatan per
se dihukum sebagai
pembangkangan.
!enyimpangan
peraturan yang
dibenarkan,
misalnya
untuk menguji
;aliditas undang-
!embangkangan dilih
at
dari aspek bahaya
substantif, dipandang
sebagai gugatan
terhadap legitimasi.
%=
!hilippe *onet dan !hilip $el8nick, op.cit, hal.4<
%<
ibid, hal.%&
4
undang atau
perintah.
!artisipasi !asif, kritik dilihat
sebagai
ketidaksetiaan.
#kses dibatasi
oleh
prosedur baku,
munculnya kritik
atas
hukum
#kses diperbesar
dengan integrasi
ad;okasi hukum dan
sosial
)i Indonesia, sebagaimana dicatat oleh :.". Fandhi di dalam pidato
pengukuhannya sebagai guru besar ilmu hukum Uni;ersitas Indonesia, gagasan
untuk mengembangkan hukum responsif muncul sebagai kesimpulan seminar
yang diadakan dalam rangka '( tahun Badan !embinaan Hukum *asional
,B!H*- pada tahun %&&'.
%4
Ide pengembangan hukum yang responsif itu
dimaksudkan untuk mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di
masyarakat. )engan merujuk kepada pendapat *onet dan $el8nick, :.".Fandhi
berpendapat bahwa agar hukum menjadi responsif, sistem hukum dalam banyak
hal hendaknya terbuka terhadap tantangan, mendorong partisipasi, dan selalu
sigap menghadapi masalah-masalah yang timbul karena munculnya
kepentingan-kepentingan baru di dalam masyarakat.
%&
Hasil pertemuan B!H*
pada bulan Aanuari %&&'Bsebagaimana dikutip oleh FandhiBberkesimpulan
bahwa salah satu pola pikir yang melandasi $istem Hukum *asional adalah
keterbukaan sistem tersebut ,open-, tapi dengan batasan tidak sedemikian
terbuka. $istem Hukum yang terlalu terbuka berpotensi tidak mampu
menegakkan nilai-nilai /lsafat, budaya dan hukum yang menunjukkan jati diri
bangsa Indonesia. 7arena itu, B!H* berpendapat bahwa yang dimaksudkan
dengan keterbukaan itu adalah keterbukaan yang terikat oleh paradigma dan
nilai-nilai yang disepakati bersama.
3(
Untuk itu, $istem Hukum *asionalB
demikian tegas kesimpulan
B!H*Bharus menggambarkan interaksi dengan lingkungannya baik
nasional maupun internasional. B!H* berpendapat bahwa yang menjadi masalah
di dalam pembangunan hukum itu, terlebih dalam pembentukan hukum, adalah
menentukan batas keterbukaan. )engan mengutip pendapat *onet dan
$el8nick, menurut :.".Fandhi, ketegangan antara keterbukaan dan integritas
merupakan masalah sentral dalam pembangunan hukum. Fandhi berkesimpulan
%4
:.".Fandhi, Harmonisasi Hukum "enuju Hukum .esponsif, !idato !engukuhan Aabatan
Furu Besar 5etap pada 6akultas Hukum Uni;ersitas Indonesia %> Nktober %&&', hal.2.
)iunduh dari Ohttp011www.digilib.ui.ac.idP
%&
ibid, hal.%=
3(
ibid
&
bahwa hukum yang berusaha mengatasi ketegangan itu disebut responsif, yaitu
hukum yang mampu menunjukkan kesanggupannya beradaptasi secara
bertanggung jawab. )alam kaitan itu, Fandhi membedakan hukum responsif
dengan hukum yang terbuka dan adaptif.
3%
Fandhi berpendapat bahwa
pencaharian materi hukum responsif dilakukan dengan menggunakan tiga asas,
yaitu harmonisasi, keadilan dan sesuai tujuan, serta kepastian hukum.
33

"eskipun hukum responsif terlihat ideal, bukan berarti ia tidak lepas dari
kekurangan. Fandhi berpendapat bahwa hukum responsif
berpretensi menimbulkan bertumpuknya berbagai lembaga hukum dengan
tujuan yang saling berbenturan. 7uat kemungkinan masing-masing akan
mementingkan diri sendiri apalagiBtegas FandhiBdengan sikap yang picik dan
kaku sehingga sulit mengikuti upaya harmonisasi. 7ondisi itu akan berimplikasi
pada tidak berdayanya pemerintah di dalam menghadapi kon?ik kepentingan,
disorientasi pembangunan, dan pengabaian kepentingan umum.
32
Untuk
menutupi kekurangan tersebut, Fandhi merekomendasikan bahwa lembaga-
lembaga hukum memerlukan pengawasan dalam penggunaan kewenangan-
kewenangannya. "enurutnya, hukum responsif mendalilkan bahwa bahaya
kesewenang-wenangan dan ketidakadilan bukan terletak pada keterpaduan
kekuasaan, tapi pada kekuasaan sekecil apapun tanpa pengawasan efektif.
3>

Nleh karena itu, politik pembangunan hukum nasional antara 3((>-3((&,
sebagaimana dikemukakan oleh $atya #rinanto, diarahkan pada kebijakan untuk
memperbaiki, di antaranya substansi ,materi- hukum dan struktur
,kelembagaan- hukum, melalui upaya-upaya sebagai berikut0
3'
%. "enata kembali substansi hukum melalui peninjauan dan penataan kembali
peraturan perundang-undangan untuk memperhatikan tertib perundang-
undangan dengan memperhatikan asas umum dan hierarki perundang-
undangan, dan menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum
adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan
yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasionalJ
3. "elakukan pembenahan struktur hukum melalui penguatan kelembagaan
dengan meningkatkan profesionalisme hakim dan staf peradilan serta
kualitas sistem peradilan yang terbuka dan transparanJ menyederhanakan
3%
)bid.
33
)bid, hal. /0.
32
)bid.
3>
)bid
3'
$atya #rinanto, !olitik !embangunan Hukum *asional dalam Mra !asca .eformasi,
hal.3'. !idato !engukuhan Aabatan Furu Besar tetap !ada 6akultas Hukum Uni;ersitas
Indonesia, %4 "aret 3((=. Copy naskah atas sei8in penulis pada perkuliahan !olitik
Hukum di !rogram !ascasarjana Ilmu Hukum Uni;ersitas Indonesia Nktober 3((4.
%(
sistem peradilan, meningkatkan transparansi agar peradilan dapat diakses
oleh masyarakat dan memastikan bahwa hukum diterapkan dengan adil dan
memihak kepada kebenaranJ memperkuat kearifan lokal dan hukum adat
untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan
yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan hukum nasional.
$edangkan menurut pendapat $abian Utsman, :ektor $osiologi Hukum
$5#I* !alangkaraya, hukum responsif berorientasi pada hasil, pada tujuan-tujuan
yang akan dicapai di luar hukum. )alam tipe hukum ini, tatanan hukum
dinegosiasikan, bukan dimenangkan melalui subordinasi. Ciri khas hukum
responsif adalah mencari nilai-nilai tersirat dalam peraturan dan kebijakan,
karena pada dasarnya teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat
pandangan kritis. 5eori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara
mencapai tujuan.
3=
Hukum responsif tidak hanya berorientasi pada rules, tapi juga logika-logika
yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tapi
penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. )an ini merupakan
tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,
mulai dari polisi, jaksa, hakim, dan ad;okat untuk bisa membebaskan diri dari
kungkungan hukum murni yang kaku dan analitis.
!roduk hukum yang berkarakter responsif, proses pembuatannya bersifat
partisipasif, yakni mengundang sebanyak-banyaknya partisipasi semua elemen
masyarakat, baik dari segi indi;idu ataupun kelompok masyarakat, dan juga
harus bersifat aspiratif yang bersumber dari keinginan atau kehendak dari
masyarakat. #rtinya, produk hukum itu bukan kehendak dari penguasa untuk
melegitimasikan kekuasaannya.
)alam model pengembangannya ,de;elopmental model-, hukum responsif
berupaya memecahkan persoalan mendasar dalam membangun sistem politik-
hukum, di mana tanpa adanya sistem politik-hukum ini mustahil bagi
perkembangan hukum dan politik untuk bergerak ke arah yang lebih baik.
!enerapan hukum responsif tidak terlepas dari integrasi yang dekat antara
hukum dan politik. Qujud dari integrasi yang sangat dekat ini adalah adanya
subordinasi langsung dari institusi-institusi hukum terhadap elite-elite yang
berkuasa, baik di sektor publik maupun swasta.
3=
http011www.ruangbaca.com1ruangbaca1R
dokyS"j#wN#SSTdokmS")gSTdokdS"8MSTdigSEUAjaFl3+U"STonS@UD5TuniIS*8I
',
Lihat $abian Utsman, Menuju enegakan Hukum Responsi!, Cetakan I ,Eogyakarta 0
!ustaka !elajar, Auli 3((4-
%%
7arena selama ini, disadari atau tidak, selain tidak memenuhi rasa keadilan
masyarakat, keberadaan hukum juga menjadi ancaman bagi masyarakat. !ada
kondisi inilah hukum responsif mengisyaratkan bahwa penegakan hukum tidak
dapat dilakukan setengah-setengah. "enjalankan hukum tidak hanya
menjalankan undang-undang, tetapi harus memiliki kepekaan sosial. $udah
waktunya para aparat penegak hukum responsif sebagai landasan
diberlakukannya keadilan sejati dari kenyataan-kenyataan sosial yang terjadi di
masyarakat.
'. Te%r" Imlemen&a!" d" Ind%ne!"a( Per"%de Pa!)a Kemerdekaan
!ama" Per"%de Orde Baru
7eberadaan hukum responsif dalam atmosfer wacana hukum di Indonesia
tidak terlepas dari tahapan-tahapan perkembangan pemikiran hukum di
Indonesia yang berkorelasi erat kondisi sosial politik yang melingkupinya.
7hud8aifah )imyati membagi tahapan perkembangan pemikiran hukum di
Indonesia menjadi tiga periode ,78ud8aifah )imyati, 3((>0 %%<-0
*. Per"%de Pa!)a Kemerdekaan (*+,-.*+/0$
!asca proklamasi kemerdekaan Indonesia pada dasarnya para pemuka--
pemuka Indonesia bersemangat untuk melepaskan diri dari pengaruh dan ide-ide
kaum kolonial, dengan keyakinan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk
membawa subtansi hukum rakyat yang selama ini terjajah, kearah hukum yang
bersumber pada hati nurani bangsa Indonesia. $egala upaya dilakukan demi
terwujudnya peraturan yang terlepas sama sekali dari pengaruh hukum kolonial
salah satunya adalah dengan menggali dari sumber hukum adat.
5ipologi pemikiran pada periode ini mengarahkan pemikiran pada hukum
adat. Hal ini tersirat dalam pemikiran-pemikiran $oepomo tentang konsep hukum
yang mengandung semangat memperjuangkan hukum adat dan cenderung
resisten terhadap hukum Barat yang dianggap melemahkan hukum nasional.
$ebagai akibatnya, terjadilah peneguhan ideologi hukum yang bermuara pada
hukum adat sebagai embrio hukum nasional merupakan langkah untuk
menggantikan hukum kolonial ,7hud8aifah )imyati, 3((>0 %2&-.
)alam banyak pemikirannya $oepomo berkeyakinan bahwa dengan
melepaskan diri dari pengaruh hukum Barat Indonesia akan mampu melakukan
perbaikan internal melalui peneguhan budaya hukum yang tentunya hal itu
hanya dapat dijumpai dalam hukum adat sebagai identitas bangsa Indonesia.
!emikir hukum lain yang banyak menyumbangkan konsep-konsep hukum
pada periode ini adalah $oekanto. "enurut beliau hukum adat harus dikaji dan
harus ditemukan, oleh karena itu tidak perlu untuk menonjolkan baik buruknya
hukum adat. Beliau mengakui bahwa eksistensi dan artikulasi nilai-nilai hukum
adat yang digali dari khasanah budaya Indonesia yang intrinsik, lebih penting
%3
dan sangat memadai untuk mengembangkan pemikiran hukum agar
mendapatkan perlakuan yang sama dengan hukum modern yang dikembangkan
negara-negara lain ,7hud8aifah )imyati,3((>0%>=-.
Usaha untuk menjadikan hukum adat sebagai sumber pembentukan
hukum nasional terus dilakukan, walaupun akhirnya usaha ini terbilang belum
cukup berhasil, sebab pada kenyataannya memang sulit melepaskan diri secara
utuh dari hukum peninggalan kolonial Belanda.
$oetandyo Qignyosoebroto berpendapat bahwa kesulitan ini antara lain
disebabkan faktor proses realisasi ide hukum adat sebagai jiwa hukum nasional
tidak sesederhana model-model strategiknya dalam doktrin. 7esulitan timbul
bukan hanya karena keragaman hukum rakyat yang umumnya tak terumus
secara eksplisit itu saja, akan tetapi juga karena sistem pengelolaan hukum yang
modern meliputi tata organisasi, prosedur-prosedur dan asas-asas doktrin
pengadaan dan penegakannya telah terlanjur tercipta sepenuhnya sebagai
warisan kolonial yamg tidak mudah dirombak atau digantikan begitu saja dalam
waktu singkat. "embangun hukum nasional dengan bermula dari titik nol,
apalagi dari suatu kon/gurasi baru yang masih harus ditemukan terlebih dahulu,
jelaslah kalau tidak mungkin ,$oetandyo Qignyosoebroto, %&&'0 %44-.
)emikianlah tipologi hukum Indonesia pada periode awal kemerdekaan,
semangat nasionalisme yang kental sangat mempengaruhi pemikiran hukum
yang tercipta pada saat itu. Qalaupun akhirnya cita-cita untuk menjadikan
hukum adat sebagai budaya hukum nasional yang bersumber pada budaya
bangsa belum dapat terealisasi disebabkan beberapa faktor sebagaimana
disampaikan oleh beberapa pakar hukum terutama mereka yang sangat konsen
terhadap hukum adat.
1. Per"%de Tran!"!" (*+/0.*+20$
$etelah pasca kemerdekaan yang kental dengan semangat menghidupkan
hukum adat sebagai sumber hukum nasional yang ternyata juga tidak mudah
sampai pada cita-cita itu karena alasan keragaman hukum rakyat yang
umumnya tak terumus secara eksplisit dan sistem pengelolaan hukum yang
modern meliputi tata organisasi, prosedurprosedur dan asas-asas doktrin
pengadaan dan penegakannya telah terlanjur tercipta sepenuhnya sebagai
warisan kolonial yang tidak mudah dirombak atau digantikan begitu saja dalam
waktu singkat.
"uncul arah pemikiran hukum yang cenderung formalistik yang
mengutamakan peneguhan pada asas-asas yang ketat pada format-format
postulat hukum ,7hud8aifah )imyati, 3((>0 %'3-.
Hal ini dapat terlihat pada pemikiran hukum yang disampaikan "r.
)jokosoetono yang berpendapat perlunya dibentuk suatu biro konstitusi yang
%2
memiliki tugas untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dari partai
politik sebagai bentuk keinginan dan cita-cita mereka, selain itu beliau juga
mengusulkan penyempurnaan Undang-Undang )asar $ementara.
5okoh lain yang juga ikut menyumbangkan pemikirannya yaitu "r. Ha8airin
yang banyak menyampaikan pemukiran formalistiknya dengan jargon hukum
baru, beliau beranggapan bahwa kesatuan hukum pada hakikatnya sejalan
dengan cita-cita dan semangat bangsa Indonesia dengan cara mengambilnya
dari khasanah budaya bangsa dengan menyadari watak dan realitas
kemajemukan masyarakat Indonesia yang tercermin dalam hukum adat yang
beragam di tiap-tiap daerah, pemikiran lain dari beliau juga agar pembinaan
hukum nasional berlandaskan hukum adat yang sesuai dengan perkembangan
kesadaran rakyat Indonesia dan tidak menghambat terciptanya masyarakat adil
dan makmur ,7hud8aifah )imyati, 3((>0 %'3-.
)ari pemikiran para tokoh periode transisi atau pasca kemerdekaan ini
dapat dilihat arah pemikiran hukum yang relatif lebih formalistik dengan
mengedepankan kepentingan bangsa Indonesia dalam konteks negara yang
diakui kedaulatannya, sehingga diperlukan konstitusi yang secara legal diakui
oleh negara-negara di dunia.
3. Per"%de Era Orde Baru (*+20.*++0an$
7arakteristik pemikiran hukum pada periode ini sama halnya dengan
periode-periode lain yang tidak terlepas dari kondisi yang melingkupinya.
7ecenderungan pemikiran-pemikiran hukum pada periode ini lebih dipandang
sebagai pemikiran yang bersifat transformatif, artinya pemikiran yang bukan
hanya menyentuh aspek-aspek normatif dan doktrinal semata melainkan
berusaha mentransformasikan fenomenafenomena hukum dari aras empirik
tentang keharusan untuk membicarakan hukum dalam konteks masyarakat yang
dikontruksikan kedalam tataran teoritik /loso/s. ,7hud8aifah )imyati, 3((>0%=%-.
5okoh yang menyampaikan pemikirannya tentang hukum pada periode ini
adalah "ochtar 7usumaatmadja, beliau berpandangan bahwa dalam beberapa
dasawarsa terakhir telah banyak berubah sebagai akibat perubahan besar dalam
masyarakat dan tekanan-tekanan yang disebabkan pertambahan penduduk.
:ebih lanjut disampaikan bahwa hukum merupakan salah satu alat pembaharuan
masyarakat, pemikiran ini setidaknya diilhami oleh pemikiran-pemikiran .oscoe
!ound yang mengintroduksikan bahwa law as a tool of sosial engineering yang di
*egara Barat pertama kali dipopulerkan oleh apa yang dikenal sebagai aliran
1ragmatic Legal Realism. Bagi beliau hukum itu harus peka terhadap
perkembangan masyarakat dan bahwa hukum itu harus disesuaikan atau
menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah berubah ,"ochtar
7usumaatmadja, %&<=0 3-.
!emikiran "ochtar 7usumaatmadja yang berpendapat bahwa hukum
merupakan salah satu alat pembaharuan masyarakat, pemikiran ini setidaknya
%>
diilhami oleh pemikiran-pemikiran .oscoe !ound yang mengintroduksikan bahwa
law as a tool of sosial engineering yang di *egara Barat pertama kali
dipopulerkan oleh apa yang dikenal sebagai aliran !ragmatic :egal .ealism. Bagi
beliau hukum itu harus peka terhadap perkembangan masyarakat dan bahwa
hukum itu harus disesuaikan atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah
berubah ,"ochtar 7usumaatmadja, %&<=0 3-.
5okoh lain yang banyak menyampaikan pemikirannya pada periode ini
adalah $atjipto .ahardjo, dalam banyak pemikirannya $atjipto .ahardjo
mencoba memberikan konsep-konsep hukum yang berbeda dari apa yang
selama ini dijadikan pandangan umum oleh pakar-pakar hukum. Beliau
berpandangan bahwa hukum di Indonesia belum mampu mengakomodir
perubahan sosial dan pembangunan yang terus berjalan seiring dengan
hubungan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dengan negara-negara di
dunia. Bentuk ketidakberdayaan atau ketidakmampuan hukum Indonesia
tercermin pada pola pengambilan hukum yang berasal dari Barat tanpa
mengkritisinya dan menerimanya seolah-olah sebagai suatu model yang absolut
normatif, serta mempergunakannya sebagai ukuran absolut untuk menilai
kehidupan hukum di Indonesia. 5entunya tindakan seperti ini akan memberikan
efek buruk bagi bangsa Indonesia terutama terkait perkembangan hukum. $ebab
bagaimanapun hukum adat yang pada periode pasca kemerdekaan merupakan
nilai yang diharapkan mampu menjadi sumber hukum nasional, karena disanalah
terkandung hati nurani bangsa.
#dapun gagasan atau pandangan yang beliau sampaikan tentang
perlunya perubahan secara radikal dalam pemikiran hukum yang selama ini
berkembang, menuju ke arah pemikiran yang berorientasi kepada konsep *egara
Berdasar Hukum yang berbasis sosial bukan hanya berbasis yuridis. Beliau
mencoba menggunakan sudut pandang sosiologis dalam mengkontruksi hukum,
suatu hal yang selama ini belum banyak digunakan oleh pemikir-pemikir hukum
di Indonesia.
Fagasan lain yang disampaikan antara lain perlunya Indonesia beralih dari
cara penegakan hukum sebagaimana yang selama ini dijalankan, yaitu model
penegakan hukum yang bersifat formal-positi;is yang dianggap hanya mampu
untuk menjelaskan keadaan serta proses-proses normal seperti di antisipasi oleh
hukum positif, sedangkan untuk menjelaskan suasana kemelut dan keguncangan
yang terjadi di Indonesia hukum positif masih memiliki keterbatasan. Hal ini bisa
dilihat pada kemampuan hukum untuk menangani misalnya masalah korupsi,
sampai saat ini belum ada hasil yang memuaskan.
Nleh karena itu $atjipto .ahardjo memberikan sebuah gagasan baru
model penegakan hukum Indonesia dengan model hukum progresif. !rogresif
berasal dari kata progress yang berarti kemajuan. Fagasan hukum progresif ini
beliau utarakan pertama kali dihadapan publik pada tahun 3((3 lewat tulisan
%'
beliau dalam salah satu harian ibukota. 7ompas, %' Auni 3((3. !ertama kali
disampaikan pada pertemuan alumni program doktor hukum U*)I! tahun 3((>.
Fagasan hukum progresif merupakan kristalisasi pemikiran beliau selama
mengkaji dinamika perkembangan hukum di Indonesia. Fagasan mengenai
hukum progresif diakui memang bukan merupakan hal yang baru, namun lebih
merupakan kristalisasi pemikiran beliau dalam beberapa kurun waktu yang
cukup panjang.
Hukum hendaknya mampu mengikuti perkembangan 8aman, mampu
menjawab perubahan dengan segala dasar didalamnya, serta mampu melayani
masyarakat dengan menyandarkan pada aspek moralitas dari sumber daya
manusia penegak hukum itu sendiri.
Hukum progresif lebih mengunggulkan aliran realisme hukum dan
penggunaan optik sosiologis dalam menjalankan hukum. $ebab cara kerja
analitis yang berkutat dalam ranah hukum positif tidak akan banyak menolong
hukum untuk membawa Indonesia keluar dari keterpurukannya ,$atjipto
.ahardjo,3((>0=-.
$eyogyanya penegak hukum bahkan kita semua harus berani keluar dari
alur tradisi penegakan hukum yang hanya bersandarkan kepada peraturan
perundang-undangan an-sich. $ebab hukum bukanlah sematamata ruang hampa
yang steril dari konsep-konsep non hukum. Hukum harus pula dilihat dari
perspektif sosial, perilaku yang senyatanya dan dapat diterima oleh dan bagi
semua insan yang ada didalamnya. "eski tak jarang penerimaan itu sendiri tak
selalu bermakna sama bagi semua. Hukum bukan hanya urusan ,business of
rules-, tetapi juga perilaku ,matter of behavior-. Hukum adalah untuk manusia
dan bukan sebaliknya, dan hukum itu tidak ada untuk dirinya sendiri, melainkan
untuk sesuatu yang lebih luas, yaitu untuk harga diri manusia, kebahagiaan,
kesejahteraan, dan kemuliaan manusia.
Hukum progresif berbagi paham dengan legal realism dan freirechtslehre
oleh karena hukum tidak dilihat dari kacamata hukum itu sendiri, melainkan
dilihat dan dinilai dari tujuan sosial yang ingin dicapainya serta akibat-akibat
yang timbul dari bekerjanya hukum.
$elain itu juga disampaikan bahwa hukum progresif dekat dengan
sociological jurisprudence dari .oscoe !ound karena kehadiran hukum dikaitkan
pada tujuan sosialnya.
7edekatan hukum progresif dengan interessen&urisprudene, aliran hukum
yang muncul di Aerman sekitar awal abad keduapuluh karena aliran ini
mengatakan bahwa hakim tidak bisa dibiarkan untuk hanya melakukan kontruksi
logis dalam membuat keputusan. $ebab cara demikian akan menjauhkan hukum
dari kebutuhan hidup yang nyata.
7edekatan hukum progresif dengan teori hukum alam terletak pada
kepeduliannya terhadap hal-hal yang oleh Hans 7elsen disebut sebagai meta
&uridical. 5eori hukum alam mengutamakan the search of justice dari pada
%=
lainnya. Hukum progresif mendahulukan kepentingan manusia yang lebih besar
dari pada menafsirkan hukum dari sudut logika dan peraturan.
Hubungan hukum progresif dengan 2ritical Legal Studies ,C:$- yang
muncul di #merika tahun %&<< yang langsung menusuk jantung pikiran hukum
#merika yang dominan, yaitu suatu system hukum liberal yang didasarkan pada
pikiran politik liberal. Hukum progresif juga menggandeng kritik terhadap sistem
hukum yang liberal itu, karena hukum di Indonesia juga turut mewarisi sistem
tersebut. #kan tetapi hukum progresif memiliki basis yang lebih luas dari tujuan
yang lebih luas pula dibandingkan C:$ ,$atjipto .ahardjo,3((>0=-.
:ebih lanjut $atjipto .ahardjo menyampaikan bahwa pemahaman hukum
secara legalistik positi;is dan berbasis peraturan tidak mampu menangkap
kebenaran. )alam ilmu hukum yang legalistis-positi;is, hukum sebagai
pengaturan yang kompleks telah direduksi menjadi sesuatu yang sederhana,
linier, mekanistik, dan deterministik, terutama untuk kepentingan profesi. )alam
konteks hukum Indonesia, doktrin dan ajaran hukum demikian yang masih
dominan ,$atjipto .ahardjo,3((=0D-.
"odel penegakan hukum !rogresif memiliki pekerjaan dengan banyak
dimensi antara lain0 pertama, dimensi dan faktor manusia pelaku dalam
penegakan hukum progresif, idealnya mereka terdiri dari generasi baru
profesional hukum ,hakim, jaksa, ad;okat, dan lain-lain- yang memiliki ;isi dan
/lsafat yang mendasari penegakan hukum progresif. #rtinya, /lsafat yang tidak
bersifat liberal, tetapi lebih cenderung kepada ;isi komunal. 7epentingan dan
kebutuhan bangsa lebih diperhatikan dari pada bermain-main dengan pasal,
doktrin, dan prosedur. 7edua, kebutuhan akan semacam kebangunan dikalangan
akademis, intelektual, dan ilmuwan serta teoretisi hukum Indonesia. Ide utama
hukum progresif adalah membebaskan manusia dari belenggu hukum. Hukum
berfungsi memberi panduan bukan justru membelenggu, manusia-manusialah
yang berperan lebih penting ,$atjipto .ahardjo,3((=0 =4-.
"enurut kesimpulan penulis, ide hukum progresif bermula dari hukum
responsif, hal ini dapat dilihat dalam buku yang ditulis oleh $atjipto .ahardjo
pada tahun %&4(-an yang telah mengadopsi buku yang ditulis oleh !hilippe
*onet dan !hilip $el8nick pada tahun %&<4.
)ari sinilah dapat dikatakan awal mula masuknya konsepsi hukum
responsif yang disampaikan *onet dan $el8nick ke Indonesia dengan berlatar
belakang kondisi #merika saat itu di era %&<(an, yang kemudian mulai
dikembangkan di Indonesia melalui pemikiran yang dibawa oleh $atjipto
.ahardjo lewat gagasan hukum progresifnya.
Beliau memberikan istilah berbeda tentang hukum responsif yaitu hukum
progresif. #kan tetapi secara tegas beliaupun menyampaikan bahwa hukum
progresif memiliki tipe responsif ,$atjipto .ahardjo, 3((>03-.
$ecara implisit $atjipto .ahardjo mencoba menyampaikan bahwa teorisasi
hukum di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan asal-usul sosial sebagai basis
%<
ditemukannya teori hukum yang memiliki nilai, tradisi yang khas ke Indonesiaan.
)engan demikian, teori hukum Indonesia merupakan cermin dari apa,
bagaimana, dan kemana tujuan hukum Indonesia itu. "enurut beliau hukum
tidak pernah beroperasi dalam keadaan hampa lingkungan dan senantiasa akan
terjadi saling memasuki antara hukum dan lingkungannya.
)ari konsepsi hukum yang disampaikan kedua pemikir hukum ini dapatlah
dilihat bahwa konsepsi hukum responsif dikontruksi oleh dua ma8hab hukum
yang belakangan cukup dikenal perkembangannya. !emikiran $atjipto .ahardjo
dengan konsep hukum progresifnya yang menyatakan bahwa hukum hendaknya
mampu mengikuti perkembangan 8aman, mampu menjawab perubahan dengan
segala dasar didalamnya, serta mampu melayani masyarakat dengan
menyandarkan pada aspek moralitas dari sumber daya manusia penegak hukum
itu sendiri. 7eyakinan beliau terhadap sosiologi hukum sebagai alat bantu dalam
mendekontruksi pemikiran hukum semakin mengkristalkan pemikiran bahwa
konsepsi hukum responsif yang digagas !hilippe *onet dan $el8nick memang
didukung oleh mad8hab sociological jurisprudence yang memberi kemampuan
bagi institusi hukum untuk secara lebih menyeluruh dan cerdas
mempertimbangkan fakta-fakta sosial dimana hukum itu berproses dan
diaplikasikan.
7onsep !hilippe *onet dan $el8nick, juga melengkapi konsep yang
dikemukakan :awrence 6riedman, jika dikaji permasalahan penegakan hukum di
Indonesia, terletak pada 2 faktor, Integritas aparat penegak hukum, produk
hukum, dan tidak dilaksanakannya nilai-nilai !ancasila oleh aparat penegak
hukum dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. :ebih lanjut :awrence 6riedman
mengemukakan 2 aspek yang menjadi dasar keterpurukan hukum suatu negara
adalah struktur, substansi dan kultur. 7etiga pisau analisis 6riedman tersebut,
apabila dikombinasikan dengan keterpurukan penegakan hukum yang ada di
Indonesia, maka sangatlah tepat bilamana teori :awrence 6riedmann, menjadi
kajian teori analisis penulis, mengingat berbicara mengenai sistem hukum, maka
kita tidak akan terlepas dari 2 ,tiga- komponen sistem hukum tersebut yakni 0
$truktur, yaitu keseluruhan institusi-institusi hukum yang ada
beserta aparatnya, mencakupi antara lain 7epolisian dengan para
!olisinya, 7ejaksaan dengan para Aaksanya, !engadilan dengan
para HakimnyaJ $ubstansi, yaitu keseluruhan aturan hukum, norma
hukum dan asas hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak
tertulis, termasuk putusan pengadilan. 7ultur Hukum yaitu opini-
opini, kepercayaan-kepercayaan ,keyakinan-keyakinan-,
kebiasaankebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak, baik dari
para penegak hukum maupun warga masyarakat, tentang hukum
dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum. ,:awrence
". 6riedman, %&<' 0 %%-%=-.
"engenai struktur hukum, terhadap aparat penegak hukum, seharusnya
berusaha mendapatkan tingkat ketidakpercayaan masyarakat, hal ini bisa
%4
didapat dari kinerja penegakan hukum tersebut, menunjukkan kinerja yang baik
serta mengaplikasikan nilai-nilai !ancasila dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
*edua, adalah keterpurukan hukum dalam hal $ubstansi hukum, yaitu
keseluruhan aturan hukum, norma hukum dan asas hukum, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis sudah ketinggalan 8aman dan merupakan produk
peninggalan penjajah Belanda, sehingga dirasakan kurang aspiratif dalam
menyerap keinginan masyarakat Indonesia, dan tidak selaras dengan nilai-nilai
!ancasila, seperti kebiasaan-kebiasaan atau praktek suap-menyuap merupakan
kebiasan dalam penegakan hukum di Indonesia.
!roblematika penegakan hukum diartikan sebagai permasalahan yang
timbul dari penegakan supremasi hukum di Indonesia yang memerlukan jawaban
atas permasalahan tersebut. !ermasalahan penegakan hukum di Indonesia
bukan hanya merupakan fenomena yang ada di permukaan saja, melainkan
telah merasuki sum-sum sistem hukum itu sendiri. !enegakan hukum di
Indonesia seringkali tidak seiring sejalan dengan apa yang diinginkan. Hukum di
Indonesia tidak menjadi panglima melainkan menjadi alat politik maupun alat
kekuasaan. 7arena sebagai panglima, hukum harus mampu menjawab,
memutuskan, ataupun menyelesaikan suatu kasus atau perkara tanpa
terpengaruh oleh tendensi atau kepentingan apapun yang melekat di dalamnya.
1roblemati!a penegakan hukum di Indonesia sangat sulit untuk dirunut,
bagaikan mencari sampul pangkal atau ujung dari suatu lingkaran, sehingga
membuat kejahatan semakin berdaulat di dalam dunia hukum maupun dunia
!eradilan di Indonesia. !ermasalahan penegakan hukum di Indonesia sering kali
diawali dalam dunia peradilan, ma/a peradilan sering kali menjadi faktor utama
dalam permasalahan penegakan hukum tersebut, karena ma/a peradilan
bersifat sistemik dan merasuki sum-sum penegakan hukum. 7etua "ahkama
7onstitusi, "ahfud ") dalam !olitik Hukum di Indonesia, mengatakan bahwa 0
L"ereka heran ketika melihat bahwa hukum tidak selalu dapat
dilihat sebagai penjamin kepastian hukum, penegak hak-hak
masyarakat, atau penjamin keadilan. Banyak sekali peraturan
hukum yang tumpul, tidak mempan memotong kesewenang-
wenangan, tidak mampu menegakkan keadilan dan tidak dapat
menampilkan dirinya sebagai pedoman yang harus diikuti
dalam menyelesaikan berbagai kasus yang seharusnya bisa
dijawab oleh hukum. Bahkan banyak produk hukm yang lebih
banyak diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politik
pemegang kekuasaan dominan.,"ahfud "), 3((% 0%-.
7eterpurukan penegak hukum yang ada saat ini diawali oleh terpuruknya
dekadensi moral aparat penegak hukum, konsep atau metode berpikir 34oney
%&
5riented6 sedianya dapat diubah menjadi mindset Service 5riented without
4oney6. $ehingga dibutuhkan reformasi hukum tidak hanya dalam hal
pembaruan Undang-Undang atau substansi hukumnya ,legal substance reform7,
tetapi juga pembaruan struktur hukum ,legal structure reform7 dan pembaruan
budaya hukum ,legal ethic and legal science8education reform7, bahkan dalam
situasi saat ini, pembaruan aspek immateriil dalam hukum yaitu pembaruan
budaya hukum, etika 1 moral hukum, aparatur penagak hukum, serta ilmu 1
pendidikan hukum dapat dilakukan pembaruan untuk mewujudkan hukum yang
dicita-citakan 9ius constituendum7. ,Barda nawawi arief, 3(%(-=-.
Hakikat !embaruan 1 pembangunan hukum bukan terletak pada aspek
formal dan lahiriah ,seperti terbentuknya Undang-Undang baru, struktur
kelembagaan baru, bertambahnya bangunan 1 sarana peradilan, mekanisme 1
prosedur baru- melainkan justru terletak pada aspek immateriil, yaitu bagaimana
membangun budaya dan nilai-nilai kejiwaan dalam hukum sehingga melahirkan
penegak keadilan yang berintegritas baik dan memiliki sifat kemanusiaan dan
rasa keadilan dalam dirinya, yang akan mendorong terciptanya penegakan
hukum yang lebih baik menuju ke arah hukum responsif yang bersendikan nilai
nilai !ancasila.
!embaharuan sistem hukum atau yang menurut penulis merupakan sistem
hukum berbasis Indonesia :uriprudence tersebut, diharapkan mampu menyerap
aspirasi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Hukum tersebut harus
sejalan dengan perkembangan yang hidup dalam masyarakat, tidak semata-
mata mengedepankan penjatuhan hukuman sebagai solusi atas permasalahan
hukum yang ada, melainkan berupaya menyelesaikan masalah melalui jalan
musyawarah, bukankah penyelesaian masalah melalui peradilan untuk kasus-
kasus kecil akan lebih membuat cost recovery negara membengkak dan
menambah pekerjaan baru bagi aparat penegak hukum itu sendiri.
$trategi pembangunan hukum responsif dimulai dengan membangun
supremasi hukum sebagai pintu utama sebuah bangsa dalam melahirkan suatu
!onsesi, bahwa hukum menjadi garda depan dalam menciptakan keamanan dan
stabilitas suatu bangsa. *amun hukum yang ada saat ini hanya dipahami
sebagai suatu aturan yang bersifat kaku, dan menekankan pada aspek the legal
system, tanpa melihat kaitan antara hukum dengan persoalan-persoalan yang
hidup dalam suatu masyarakat.
5eori pemikiran hukum responsif dihadirkan oleh !hilippe *onet dan !hilip
$el8nick yang secara garis besar mengupas tiga klasi/kasi dasar dari hukum
3(
dalam masyarakat, yaitu hukum sebagai pelayan kekuasaan represif ,hukum
represif-, hukum sebagai institusi tersendiri yang mampu menjinakkan represif
dan melindungi integritas dirinya ,hukum otonom-, dan hukum sebagai fasilitator
dari berbagai respons terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat ,hukum responsif-. )ari ketiga klasi/kasi tipe
hukum tersebut di atas, maka tipe hukum responsif adalah tipe hukum yang
paling tepat dalam membangun sistem hukum di Indonesia yang tipikal
masyarakatnya cenderung mengedepankan permusyawaratan sebagai jalan
dalam menyelesaikan suatu permasalahan. ,!hilip *onet dan !hilip $el8nick,
%&<4 0'>-.
*amun menurut penulis makalah ini, pada masa Nrba, hukum responsif
belum mampu menjawab1merespon terhadap kebutuhan dan aspirasi sosial yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat, karena, pertama, !ancasila hanya
digunakan sebagai alat untuk menjalankan kekuasaan melalui apa yang disebut
dengan !enataran !> ,pedoman, penghayatan, dan pengamalan !ancasila- yang
implementasinya didorong, terikat secara kelembagaan masyarakat dan diawasi
oleh eksekutif. $edangkan lembaga-lembaga negara, memang telah ditata
sesuai dengan format UU) %&>', tetapi fungsi dan peranannya belum maksimal
karena sangat dominannya eksekutif. eksekutif inil mempunyai peran yang
dominan pengaruhnya terhadap legislatif dan eksekutif, sampai pada penguatan
posisi !residen $oeharto yang memerinah terus-menerus selama 2( tahun dan
menjadi /gur sentral dalam pengendalian kehidupan politik Indonesia. *edua,
tersumbatnya partisipasi berpendapat dalam konteks yang lebih luas ikut andil
dalam partai politik, tetapi pemerintah menyerdahanakan parpol menjadi tiga
saja ,menurut pemerintah Folkar bukan partai, padahal hakekatnya adalah
partai- dengan tidak dimungkinkan atau ditolerir partai baru, dan peranan
pengendalian oleh pemerintah melalui konsep pembinaan yang dalam praktek
mejurus ke campur tangan. $trategi eksekutif untuk menang perpolitikan adalah
membesarkan Folkar sebagai perpanjangan tangan #B.I dan birokrasi ,#B.I
melalui konsep dwi fungsi, baik dalam kehidupan pemerintah, maupun dalam
kehidupan politik masyarakat-, sebaliknya pengecilan parpol sehingga tercipta
suatu sistem kepartaian yang hegemonik.
D. Te%r" Imlemen&a!" d" Ind%ne!"a Per"%de Re#%rma!"
$eiring berjalannya waktu, perundang-undangan mengalami
perkembangan, karena setiap perundang-undangan yang disahkan, yaitu dalam
tingkatan hierarki mulai undang-undang sampai peraturan daerah, tentu tidak
3%
luput dari responsif masyarakat. )alam responsif masyarakat mulai
pembentukan, re;isi, sampai dengan harmonisasi perundang-undangan harus
didasarkan pada pondasi hukum yang dinamakan konstitusi.
Implementasi hukum responsif yang sangat fundamental pada masa
periode reformasi ini adalah dibentuknya "ahkamah 7onstitusi, karena
perkembangan demokrasi di Indonesia agar tidak kebablasan adalah
demokrasi yang menghormati dan berpijak pada konstitusi.
!embentukan lembaga ini didasarkan pada UU) %&>' yang menegaskan
bahwa kedaulatan ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang- Undang
)asar. )itegaskan pula bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. $ejalan
dengan prinsip ketatanegaraan diatas, maka salah satu substansi penting
perubahan UU) %&>' adalah keberadaan "ahkamah 7onstitusi sebagai lembaga
negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraaan,
dalam rangka menjaga konstitusi agar dilakasanakan secara bertanggungjawab
sesuai dengan kehendak rakyat dan cita- cita demokrasi. 7eberadaan "7 juga
sekaligus untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil,
dan juga merupakan koreksi terhadap pengalaman ketatanegaraan dimasa lalu
yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi.
$ebenarnya harus dimengerti alasan /loso/ pembentukan "ahkamah
7onstitusi berbeda dengan terbentuknya "ahkamah 7onstitusi di negara lain,
misalnya di !erancis, yang secara /loso/ historis dasar pembentukannya karena
ketidakpercayaan masyarakat !erancis terhadap lembaga peradilan yang
disebabkan kinerja masa lalu lembaga peradilan yang tidak lebih sebagai tangan
kanan pemerintah.Auga pertimbangan bahwa uji materi undang- undang
terhadap undang- undang dasar bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan
politik sehingga jika memberi kewenangan uji materiil kepada lembaga peradilan
yang ada sama halnya memberi ruang inter;esi lembaga peradilan pada
lembaga legislatif.
)alam perspektif Qimar dikatakan bahwa ide pembentukan "ahkamah
7onstitusi sebenarnya berkaca pada kasus impeachment mantan !residen
#bdurahman Qahid. !roses pencopotan tersebut dimunculkan dan diputuskan
oleh kompromi politik belaka, tanpa ada pembuktian pelanggaran terhadap
konstitusi secara jelas. "aka dibuatlah "ahkamah 7onstitusi untuk mengadili hal
tersebut, sehingga pemberhentian presiden tidak hanya diputuskan oleh aspek
politis semata.
33
:ahirnya "ahkamah 7onstitusi dapat dikatakan sebagai salah satu
keberhasilan kaum reformis dalam mereformasi hukum di Indonesia. #danya
"ahkamah 7onstitusi merupakan konsekuansi untuk menjamin tegaknya prinsip
negara hukum modern dan memperkuat sistem demokrasi negara modern.
)engan terbentuknya "ahkamah 7onstitusi ini diharapkan dapat terwujudnya
penyelenggaraan kekuasaan dan ketatanegaraan yang lebih baik.
"engutip #/uka Hadjar dkk, ada empat hal yang melatarbelakangi
pembentukan "ahkamah 7onstitusi, yaitu 0
*. Paham k%n!&"&u!"%nal"!me
Eaitu suatu paham yang menganut adanya pembatasan kekuasaan.
!aham ini memiliki dua esensi, yaitu0 pertama sebagai konsep negara hukum ,
bahwa hukum mengatasi kekuasaan negara, hukum akan melakukan kontrol
terhadap politik, bukan sebaliknya. 7edua adalah konsep hak- hak sipil warga
negara menyatakan bahwa kebebasan warga negara dan kekuasaan negara
dibatasi oleh konstitusi.
1. Se4a5a" Mekan"!me check and ba"ances
$ebuah sistem pemerintahan yang baik, antara lain ditandai adanya
mekanisme check and balances dalam penyelenggaraan kekuasaan. Check and
balances memungkinkan adanya saling kontrol antar cabang kekuasaan yang
ada dan menghindarkan tindakan- tindakan hegemoni, tirani dan sentralisasi
kekuasaan untuk menjaga agar tidak terjadi tumpang tindi antar kewenangan
yang ada. )engan berdasarkan pada prinsip negarahukum, maka sistem kontrol
yang rele;an adalah sistem kontrol judicial.
3. Pen6elen55araan ne5ara 6an5 4er!"h
$istem pemerintahan yang baik meniscayakan adanya penyelengaraan
yang bersih, transparan dan partisipatif.
,. Perl"ndun5an &erhada Hak A!a!" Manu!"a
7ekuasaan yang tidak terkontrol seringkali melakukan tindakan semena-
mena dalam penyelenggaraan negara dan tidak segan- segan melakukan
pelanggaran terhadap H#".
)isamping keempat alasan tersebut, keberadaan "ahkamah 7onstitusi
sejalan dengan 7etetapan "!. tentang Faris- Faris Besar Haluan *egara ,FBH*-
5ahun %&&&-3((>, bersifat integrated, rule of law, accountability, dan
transparancy. 7eberadaan "ahkamah 7onstitusi merupakan konsekuensi logis
dari negara yang menjamin tegaknya prinsip negara hukum dan sistem
demokrasi modern. 7eberadaan "ahkamah 7onstitusi merupakan jawaban dari
32
keinginan rakyat untuk memiliki aturan undang- undang yang berpihak pada
rakyat kecail atau berpihak pada keadilan, karena selama ini banyak sekali
produk perundang- undangan yang dibentuk hanya berdasarkan kepentingan
politik jangka pendek, tidak mempunyai ;isi dan misi kedepan sehingga
masyarakat tidak berdaya. "ahkamah 7onstitusi mengakomodasi kepentingan
rakyat yang diperlakukan tidak adil dengan dibuatnya undang- undang yang
bertentangan dengan UU) %&>' sehingga rakyat dapat mengajukan judicial
re;iew.
Men5ena" Ke7enan5an Mahkamah K%n!&"&u!"
)i Indonesia pengaturan hukum tentang &udicial review menjadi suatu
hal yang diperdebatkan secara serius sejak founding fathers membicarakan
tentang undang- undang dasar yang akan diberlakukan apabila Indonesia
merdeka. #pakah akan memasukkan &udicial review atau tidak dalam
konstitusinya. $epanjang sejarah kekuasaan kehakiman di Indonesia,
kebebasan kekuasaan kehakiman selalu mengalami pasang surut, artinya
selalu menjadi perdebatan tergantung kondisi sosial politik yang melingkupi
sistem peradilan dan kekuasaan kehakiman.
"ahkamah 7onstitusi merupakan hal yang baru, namun mengenai
sistem negara hukum, sudah sejak berdiri Indonesia menganut negara
hukum. Hal ini tercantum dengan jelas dalam penjelasan UU) %&>' yang
menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berlandaskan atas hukum
,rechstaat-, tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka ,machstaat-.
3<
$ebelum amandemen UU) %&>', kewenangan kekuasaan kehakiman
,peradilan- berada pada "ahkamah agung, sebagaimana diatur dalam pasal
3> UU) %&>'. 7ewenangan ini diatur dalam peraturan perundangan yang lain
yaitu pasal %% ayat ,>- 7etetapan "!. .I *o. III1"!.1%&<4 tentang 7edudukan
dan Hubungan 5ata 7erja :embaga 5ertinggi *egara dan1atau #ntar :embaga
5inggi *egara yang berbunyi 0 "ahkamah #gung mempunyai wewenang
menguji secara materiil hanya terhadap peraturan perundang- undangan
dibawah undang- undang. $elain itu diatur juga dalam pasal 2% UU *N. %>
5ahun %&4' tentang "ahkamah #gung dan pasal 3= UU *o. %> 5ahun %&<( Ao
27
Republik Indonesia, Penjelasan Undang- Undang Dasar 194.
3>
Undang- Undang *o. 2% 5ahun %&&& tentang 7etentuan !okok- !okok
7ekuasaan 7ehakiman.
34

Hak menguji secara materi terhadap undang- undang merupakan suatu
kewenangan yang diberikan kepada badan peradilan untuk menguji apakah
suatu peraturan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
7ewenangan ini diberikan kepada "ahkamah #gung agar peraturan yang
dibuat oleh lembaga legislatif dan eksekutif dapat diuji apakah sesuai atau
tidak dengan peraturan yang lebih tinggi. 7ewenangan "ahkamah #gung
dalam hak menguji materiil terhadap peraturan perundang- undangan
dibatasi hanya terhadap peraturan- peraturan dibawah undng- undang.
!elaksanaan hak menguji undang- undang ,judicial re;iew-dalam
prakteknya belum optimal karena masih menggandung kelemahan-
kelemahan. Hak menguji yang menjadi wewenang "ahkamah #gung
terbatas kepada peraturan perundang- undangan dibawah undang- undang,
yang artinya tidak sepenuhnya berada dibawah kendali "ahkamah #gung,
tetapi masih dibawah kendali birokrasi politik. .umusan seperti ini cermin
kondisi yang terjadi saat itu, yaitu terjadinya tarik menarik antara dua
kekuatan yang berlawanan dalam pembahasan pada saat menyusun undang-
undang yang pertama memuat masalah judicial re;ciew yakni undang-
undang *o. %> 5ahun %&<( tentang !okok- !okok 7ekuasan 7ehakiman yaitu,
antara pihak yang menghendaki "ahkamah #gung mandiri dengan kelompok
yang menentang "ahkamah #gung mandiri.
$alah satu pasal yang diamandemen adalah pasal 3> UU) %&>' yang
mengatur kewenangan lembaga peradilan atau kekuasaan kehakiman.
7ewenangan lembaga peradilan atau kekuasaan kehakiman ditambah dengan
memuat aturan tentang "ahkamah 7onstitusi yaitu pasal 3>C yang antara
lain mengatur wewenang untuk melakukan pengujian undang- undang
terhadap UU), memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh UU), memutus pembubaran partai politik,
dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
3&

2!
"urip#o, $e%enang &ahka'ah (ons#i#usi &enguji Undang- Undang, h##p)**%%%.se#neg.go.id
29
Republik Indonesia, Undang- Undang Dasar 194.
3'
$ehubungan dengan pemberian kewenangan pada "ahkamah
7onstitusi tersebut, )!. dan pemerintah membuat UU *o. 3> 5ahun 3((2
tentang "ahkamah 7onstitusi pasal %( yang berbunyi 0
2(
%. "ahkamah 7onstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat /nal untuk0
a. menguji undang- undang terhadap UU) *egara .epublik Indonesia
5ahun %&>'.
b. "emutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh UU) *egara .epublik Indonesia 5ahun %&>'.
c. "emutus pembubaran partai politik.
d. "emutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
3. "ahkamah 7onstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat )!.
bahwa presiden dan1 atau wakil presiden diduga telah melakukan
pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan1 atau
tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan1 atau wakil presiden
sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang )asar *egara .epublik
Indonesia 5ahun %&>'.
2. 7etentuan sebagaimana dimaksud pada ayat ,3- berupa 0
a. !engkhianatan terhadap negara adalah tindak pidana terhadap
keamanan negara sebagaimana diatur dalam undang- undang.
b. 7orupsi dan penyuapan adalah tindak pidana korupsi atau penyuapan
sebagaimana diatur dalam undang- undang.
c. 5indak pidana berat lainnya adalah tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara ' ,lima- tahun atau lebih.
d. !erbuatan tercela adalah perbuatan yang dapat merendahkan
martabat presiden dan1 atau wakil presiden
e. 5idak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan1atau wakil presiden
adalah syarat sebagaimana ditentukan dalam pasal = Undang- Undang
)asar *egara .epublik Indonesia5ahun %&>'.
3+
Republik Indonesia, Undang- Undang #en#ang &ahka'ah (ons#i#usi, UU ,o. 24 -ahun 2++3.
3=
!asal %% berbunyi 0 Untuk kepentingan pelaksanaan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam pasal %(, "ahkamah 7onstitusi berwenang
memanggil pejabat negara, pejabat pemerintah, atau warga masyarakat
untuk memberikan keterangan.
2%
5erkait dengan kewenangannya, Aimly #sshiddiIie menyatakan bahwa
sepanjang dalam praktek bernegara, putusan "ahkamah 7onstitusi harus
dikonstruksi selalu benar. "ahkamah 7onstitusi adalah institusi dengan ciri
khusus, yaitu sebagai lembaga peradilan tingkat pertama dan terakhir yang
mengadili atau menguji undang- undang. 7eberadaan "ahkamah 7onstitusi
sebagai lembaga peradilan tingkat pertama dan terakhir dengan putusan
yang bersifat /nal dan mengikat tidak memberi kesempatan kepada warga
untuk mengajukan keberatan pada lembaga peradilan lebih tinggi. 7ontribusi
warga negara yang bisa mempengaruhi putusan "ahkamah 7onstitusi dapat
diberikan pada saat proses pengujian undang- undang dilaksanakan. !ada
saat itu semua pihak dapat berargumen sesuai dengan keyakinan dan
pemikirannya terkait dengan produk hukum yang sedang diuji. !ara pihak juga
berhak mengajukan ahli untuk mendukung dalil mereka. 5erkait mekanisme
kontrol terhadap "ahkamah 7onstitusi, pada dasarnya hakim konstitusi bisa
diberhentikan jika telah melanggar kode etik, pemberhentian itu diatur dalam
undang- undang *o. 3> 5ahun 3((2 tentang "ahkamah 7onstitusi, yaitu
dengan membentuk dewan kehormatan yang berwenang menangani
pelanggaran kode etik oleh hakim konstitusi.
23
Kedudukan K%n!&"&u!" dalam S"!&em Perad"lan d" Ind%ne!"a
"engenai kedudukan "ahkamah 7onstitusi disebutkan dalam Undang-
Undang *o. 3> 5ahun 3((2 pasal 3 yang berbunyi 0
22
"ahkamah 7onstitusi
merupakan salah satu lembaga negara yang melakukan kekuasaan
kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan.
31
Ibid.
32
.i'l/ 0sshiddi1ie, Pu#usan &ahka'ah (ons##i#usi "elalu 2enar, h##p)**%%%.an#ara.3o.id
33
Republik Indonesia, Undang- Undang -en#ang &ahka'ah (ons#i#usi, UU ,o. 24 -ahun 2++3.
3<
!erubahan pasal 3> UU) %&>' mengakibatkan lahirnya lembaga baru
yang sebelumnya tidak dikenal oleh UU) %&>' yaitu "ahkamah 7onstitusi
dan 7omisi Eudisial. 7edua lembaga baru tersebut diatur dalam Bab IU
tentang 7ekuasaan 7ehakiman, namun demikian tidaklah dapat disimpulkan
bahwa dengan adanya perubahan tersebut pelaksana kekuasaan kehakiman
menurut UU) %&>' setelah perubahan dilakukan oleh tiga lembaga, Eaitu0
"ahkamah #gung, "ahkamah 7onstitusi dan 7omisi Eudisial.
!engaturan 7omisi Eudisial terdapat dalam pasal 3>B yang termasuk
dalam Bab IU 7ekuasaan 7ehakiman, namun demikian pasal 3> hasil
perubahan telah memberi batasan apa yang dimaksud dengan kekuasaan
kehakiman sebagimana dirumuskan dalam ayat ,%- yang menyatakan 0
7ekuasaan kehakiman merupakan kekuasan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. !asal
3>B UU) perubahan menyatakan bahwa 7omisi Eudisial berwenang
mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain
dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.
2>
)ari rumusan tersebut jelas bahwa 7omisi Eudisial
tidak menjalankan peradialan sehingga tidak termasuk sebagai kekuasaan
kehakiman sebagaimana dimaksud oleh pasal 3> ayat ,%- tersebut diatas.
)engan demikian UU) setelah perubahan mengenal dua pelaksana
kekuasaan kehakiman yaitu "ahkamah #gung yang termasuk didalamnya
badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan
agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara,
dan sebuah "ahkamah 7onstitusi."ahkamah #gung dan "ahkamah
7onstitusi merupakan lembaga negara yang diperlukan untuk melaksanakan
prinsip negara hukum, sedangkan 7omisi Eudisial meripakan lembaga negara
yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas good corporate go;ernance.
2'
Untuk susunan keanggotaan "ahkamah 7onstitusi, disebutkan dalam
pasal > Undang- Undang "ahkamah 7onstitusi yang berbunyi 0
2=
34
Republik Indonesia, Undang- Undang Dasar 194.
3
Dr. 4arjono, "4., &56., &ahka'ah (ons#i#usi Dala' "is#e' (e#a#anegaraan Republik Indonesia,
h##p)**%%%.legali#as.org
37
Republik Indonesia, Undang- Undang #en#ang &ahka'ah (ons#i#usi, UU ,o. 24 -ahun 2++3.
34
%. "ahkamah 7onstitusi mempunyai & ,sembilan- orang anggota hakim
konstitusi yang ditetapkan dengan 7eputusan !residen.
3. $usunan "ahkamah 7onstitusi terdiri atas seorang ketua merangkap
anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, dan < ,tujuh- orang
anggota hakim konstitusi.
2. 7etua dan wakil ketua dipilih dari dan oleh hakim konstitusi untuk masa
jabatan selama 2 ,tiga- tahun.
>. $ebelum ketua dan wakil ketua "ahkamah 7onstitusi terpilih sebagimana
dimaksud pada ayat ,2-, rapat pemilihan ketua dan wakil ketua "ahkamah
7onstitusi dipimpin oleh hakim konstitusi yang tertua usianya.
'. 7etentuan mengenai tata cara pemilihan ketua dan wakil ketua
sebagaimana dimaksud pada ayat ,2- diatur lebih lanjut oleh "ahkamah
konstitusi.
$ebagai salah satu lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman,
"ahkamah konstitusi memiliki ;isi yaitu menegakkan konstitusi dalam rangka
mewujudkan cita negara hukum dan demokrasi demi kehidupan kebangsaan
dan kenegaraan yang bermartabat. $edangkan misinya antara lain,
menegakkan "ahkamah 7onstitusi sebagai salah satu kekuasaan kehakiman
yang terpercaya serta membangun konstitusionalitas Indonesia dan budaya
sadar berkonstitusi.
2<
E. Ke!"mulan
Bahwa hukum responsif sebagai fasilitator dari berbagai respon terhadap
kebutuhan dan aspirasi sosial, dimana respon tersebut dinilai baik, bila
didasarkan1sesuai dengan semangat konstitusi yang di dalamnya terdapat nilai-
nilai !ancasila sebagai dasar /lsafat1ideologi bangsa.

37
8isi dan &isi &ahka'ah (ons#i#usi, h##p)**%%%.'ahka'ahkons#i#usi.go.id
3&