Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara
(termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika
Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur
dinamakan gedang.
Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan berbentuk pohon
yang tersusun atas batang semu. Batang semu ini merupakan tumpukan pelepah daun yang
tersusun secara rapat teratur. Percabangan tanaman bertipe simpodial dengan meristem ujung
memanjang dan membentuk bunga lalu buah. Bagian bawah batang pisang menggembung
berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup pada bonggol
yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang. Buah pisang umumnya tidak berbiji atau
bersifat partenokarpi.
Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai macam topografi
tanah, baik tanah datar atau pun tanah miring. Produktivitas pisang yang optimum akan
dihasilkan pisang yang ditanam pada tanah datar pada ketinggian di bawah 500 m di atas
permukaan laut (dpl) dan keasaman tanah pada pH 4,5-7,5. Suhu harian berkisar antara 250C-
280C dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Pisang merupakan tanaman yang berbuah hanya
sekali, kemudian mati. Tingginya antara 2-9 m, berakar serabut dengan batang bawah tanah
(bongol) yang pendek. Dari mata tunas yang ada pada bonggol inilah bisa tumbuh tanaman baru.
Pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas tumpukan pelepah daun yang tumbuh
dari batang bawah tanah sehingga mencapai ketebalan 20-50 cm. Daun yang paling muda
terbentuk dibagian tengah tanaman, keluarnya menggulung dan terus tumbuh memanjang,
kemudian secara progresif membuka. Helaian daun bentuknya lanset memanjang, mudah koyak,
panjang 1,5-3 m, lebar 30-70 cm, permukaan bawah berlilin, tulang tengah penopang jelas
disertai tulang daun yang nyata, tersusun sejajar dan menyirip, warnanya hijau.
Pisang mempunyai bunga majemuk, yang tiap kuncup bunga dibungkus oleh seludang
berwarna merah kecoklatan. Seludang akan lepas dan jatuh ke tanah jika bunga telah membuka.
Bunga betina akan berkembang secara normal, sedang bunga jantan yang berada di ujung tandan
tidak berkembang dan tetap tertutup oleh seludang dan disebut sebagai jantung pisang. Tiap
kelompok bunga disebut sisir, yang tersusun dalam tandan. Jumlah sisir betina antara 5-15 buah.
Buah pisang tersusun dalam tandan. Tiap tandan terdiri atas beberapa sisir, dan tiap sisir terdiri
dari 6-22 buah pisang atau tergantung pada varietasnya. Buah pisang pada umumnya tidak
berbiji atau disebut 3n (triploid), kecuali pada pisang batu (klutuk) bersifat diploid (2n). Proses
pembuahan tanpa menghasilkan biji disebut partenokarpi.
Ukuran buah pisang bervariasi, panjangnya berkisar antara 10-18 cm dengan diameter
sekitar 2,5-4,5 cm. Buah berlingir 3-5 alur, bengkok dengan ujung meruncing atau membentuk
leher botol. Daging buah (mesokarpa) tebal dan lunak. Kulit buah (epikarpa) yang masih muda
berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi kuning dan strukturnya tebal
sampai tipis.
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan
juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit
pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam
cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah
dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing)
pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia. Secara tradisional, air umbi
batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan
air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.


Rismunandar.1990. Bertanam Pisang. CV. Sinar Baru. Bandung
Hendro Soenarjono.1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar Berkualitas Baik. Trubus No. 341
Rukmana, Rahmat.2006. Usaha Tani Pisang. Kanisius. Yogyakarta
http://warasfarm.wordpress.com/2013/04/07/manfaat-gedebog-pisang-sebagai-media-tanam/
http://repository.unand.ac.id/15003/ Zulka Hendri 12 juli 2011
(Sumber : Rukmana, R. 2005.
Aneka Olahan Limbah : Tanaman Pisang, Jambu Mete, Rosella. Penerbit Kanisius,
Cetakan ke-5, Yogyakarta)







BAB II
ISI

Batang pisang dibedakan menjadi dua macam yaitu batang asli yang disebut bongo dan
batang semu atau juga batang palsu. Bongol berada di pangkal batang semu dan berada di bawah
permukaan tanah serta memiliki banyak mata tunas yang merupakan calon anakan tanaman
pisang dan merupakan tempat tumbuhnya akar. Batang semu tersusun atas pelepah-pelapah daun
yang saling menutupi, tumbuh tegak dan kokoh, serta berada di atas permukaan tanah.
Berbagai alternatif penyediaan pakan dilakukan sebagian peternak unggas untuk
menyiasati fluktuasi harga pakan dan harga jual ternak kaitannya dengan FCR (Feed Convertion
Ratio). Peternak yang profesional tentu saja benar-benar memperhatikan persoalan FCR ini
karena di situlah letak keberhasilan usaha budidaya ternaknya.
Pisang adalah kata yang begitu akrab di telinga kita dengan segudang manfaat. Seluruh
bagian dari pisang mulai dari daun, jantung (ontong), buah, bonggol, kulit sampai dengan batang
pohonnya bisa dimanfaatkan. Khusus untuk batang pisang, pemanfaatannya telah lumayan
dikenal di kalangan peternak ruminansia (sapi, kambing dsb). Batang pisang ternyata kaya akan
kandungan glukosa dan selulosa namun rendah kadar ligninnya.
Ini menarik karena glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah
satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan.
Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Sementara itu,
lignin adalah suatu bentuk serat yang dalam jumlah kecil dibutuhkan ternak untuk membantu
pencernaan. Kandungan lignin pada pakan ternak sangat berpengaruh pada kemudahan pakan itu
untuk dicerna. Pakan yang rendah kandungan ligninnya mudah dicerna oleh binatang. Tapi,
kalau pakan yang diberikan terlalu banyak kandungan ligninnya, ternak bisa terkena penyakit.
Fakta ilmiah sedemikian sudah cukup sebagai dalil atas kenyataan praktek yang
dilakukan pada ternak unggas meskipun dulu hanya berdasar katanya. Cacahan batang pisang
dapat diberikan pada ternak ayam . Atau dengan kata lain dapat dijadikan bahan pakan ternak.
Batang pisang dicacah halus lalu diberikan kea yam saat ayam berumur 23 hari; 27 hari; 30 hari,
dan 33 hari di tempat pakan bagian luar saja. Sore harinya diminumi air yang dicampur Viterpan
unggas seperti biasanya.










Di dalam batang pisang terkandung getah yang menyimpan banyak maanfaat, yang salah
satunya digunakan di dalam dunia medis. Getah pisang mengandung saponin, antrakuinon, dan
kuinon yang dapat berfungsi sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit.
Selain itu, terdapat pula kandungan lektin yang berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan
sel kulit. Kandungan-kandungan tersebut dapat membunuh bakteri agar tidak dapat masuk pada
bagian tubuh kita yang sedang mengalami luka. Getah batang pisang bersifat mendinginkan. Zat
tanin pada getah batang pisang bersifat antiseptik, sedangkan zat saponin berkhasiat
mengencerkan dahak.
Batang pisang banyak dimanfaatkan masyarakat, terutama bagian yang mengandung serat.
Setelah dikelupas tiap lembar sering dimanfaatkan sebagai pembungkus untuk bibit tanaman
sayuran, dan setelah dikeringkan digunakan untuk tali pada pengolahan tembakau, dan dapat
pula digunakan untuk kompos.
Batang pisang biasanya dibuang begitu saja setelah diambil buahnya, atau hanya dibutuhkan
saat ada pertunjukkan wayang kulit untuk menancapkan wayang, padahal batang pisang banyak
manfaatnya yang bisa diolah. Buah dari surga ini dari buah, bunga, daun, batang dan
bonggolnya semuanya bermanfaat, bahkan bonggolnya membusuk tanpa meninggalkan bau loh.
bila diaplikasikan ke pembuatan MOL bisa tanpa bau mantap tuh.
Media tanam yang diperlukan untuk menumbuhkan tanaman sudah bervariasi hingga saat ini.
Penanaman di atas tanah yang telah dilakukan sejak nenek moyang dahulu kala, dianggap sudah
tidak relevan untuk beberapa komoditas. Pencarian media tanam tidak lepas dari keingintahuan
akan kebutuhan nutrisi yang sesuai oleh tanaman dan menghindari patogen tular tanah yang
menurunkan hasil tanaman.
Hidroponik diusung sebagai cara tanam baru yang tidak menggunakan tanah. Tanaman diberi
media lain seperti kerikil, pasir, sabut kelapa atau bahkan hanya styrofoam sebagai penyangga
tanaman di atas larutan hara. Permainan formula nutrisi tanaman pun dimainkan hingga
ditemukan dua larutan stok (A dan B) yang tidak dicampur sebelum disuapkan ke tanaman.











Batang pisang bisa menggantikan bambu dan talang air untuk berkebun sayuran, menanam
jamur merang dll. Bahkan batang pisang memiliki kelebihan yakni banyak mengandung pati
sebagai sumber nutrisi tanaman dan mikroorganisme di dalam batang pisang bisa menjadikan
media tanam yang ditaruh pada saat menanam lama-kelamaan menjadi kompos.
Batang pisang biasanya dibuang setelah buahnya diambil , atau ketika ada hanya diperlukan
untuk pasang wayang kulit, dengan sedikit kreatifitas batang pisang banyak dimanfaatkan untuk
bisa diolah . Buah ini adalah buah surga , baik bunga , daun , batang dan tongkol semua berharga
, Selain itu juga batang dapat digunakan sebagai bahan untuk pupuk organik cair atau yang
disebut MOL (mikro-organisme lokal) atau EM (effective microorganism).
Pengembangan media tanam yang mempertahankan kesuburan tanah sudah sangat jarang.
Teknik pencangkulan yang berlebihan, termasuk pembajakan, telah mengurangi kesuburan
tanah. Apalagi aplikasi roundup telah membunuh banyak mikroba penting dalam tanah. Pupuk
kimia telah merusak dan menjadikan tanah mengalami ketergantungan pupuk.
Media tanam yang dibutuhkan untuk tumbuh tanaman telah berkembang dan beragam variasi
sampai saat ini. Hal ini menjadi alternatif di tengah degradasi tanah akibat eksploitasi dan
intensifikasi. Media tanam di era sekarang ini tidak dapat dipisahkan dari rasa ingin tahu dari
kebutuhan nutrisi yang tepat bagi tanaman di kala tanah telah terdegradasi dan mengembalikan
kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Hidroponik, sebagai contoh, telah dipromosikan sebagai cara baru tanam yang tidak
menggunakan tanah. Tanaman juga diberikan media lain yang dikembangkan seperti kerikil,
pasir, sabut kelapa atau bahkan tanaman penyangga dalam larutan nutrisi.
Kulit pohon pisang dan batang bambu bisa menggantikan talang air untuk berkebun sayur,
menanam jamur dll. Bahkan batang pisang memiliki keuntungan yang mengandung banyak pati
sebagai sumber nutrisi tanaman dan berkembangnya mikroorganisme di dalamnya, sehingga
batang pisang dapat menjadi media tanam yang pada akhirnya bisa menjadi kompos.
Pohon pisang juga memiliki senyawa penting seperti antrakuinon, saponin, dan flavonoid.
Antrakuinon pada manusia bermanfaat untuk menyuburkan rambut. Peran senyawa dalam
tanaman juga dapat mendorong pertumbuhan rambut akar yang berguna untuk membantu
tanaman dalam menyerap nutrisi.
Batang pisang itu sendiri diketahui mengandung hingga 80% air . Selama batang pisang ini
telah dipelajari untuk digunakan sebagai pakan ternak karena hasil kadar selulosa lignin rendah.
Penggunaan batang pisang tetap menjanjikan untuk kadar glukosa tanaman pisang bisa
mensuplai sendiri.
Sebagai media tanam, batang pohon pisang dapat digunakan untuk berkebun sayuran.
Caranya pun cukup mudah :
1. Buat penyangga kayu untuk menahan batang pisang yang akan ditempatkan horizontal
sehingga tidak menggelinding dan stabil.
2. Selanjutnya buatlah lubang-lubang ke dalam batang pisang dan buat dengan bentuk
mineral piala dengan ukuran besar kira lebar sekitar 15 cm dan 10 cm dengan
menggunakan pisau. Jarak antara lubang antara 15-20 cm. Satu batang pisang dapat
dibuat 2 jalur lubang.
3. Setelah lubang tersebut siap, isi lubang tersebut dengan tanah dan kompos (sampah
organik), tambahkan sedikit pasir dan kascing jika ada, ke dalam lubang batang pisang
sebagai media tanam.
4. Diamkan selama 2-3 hari sebelum ditanami benih sayuran. Setelah itu tanam sayuran ke
dalam lubang tersebut sesuai dengan kehendak Anda.
Model pengolahan seperti ini sama dengan langkah-langkah berkebun dengan menggunakan
media bambu atau pipa atau botol plastik. Satu batang pohon pisang dapat digunakan 2-3 kali
panen tananaman sayuran, tergantung pada kondisi batang pisang dan jenis tanaman sayurannya
tersebut.
Batang pisang bisa menggantikan bambu dan talang air untuk berkebun sayuran. Bahkan
batang pisang memiliki kelebihan yakni banyak mengandung pati sebagai sumber nutrisi
tanaman dan mikroorganisme di dalam batang pisang bisa menjadikan media tanam yang ditaruh
pada saat menanam lama-kelamaan menjadi kompos. Batang pisang juga memiliki senyawa
penting seperti antrakuinon, saponin, dan flavanoid. Nah, pada manusia antrakuinon bermanfaat
untuk menyuburkan rambut. Peran senyawa itu pada tanaman juga bisa menyuburkan
pertumbuhan bulu-bulu akar yang berguna membantu tanaman menyerap unsur-unsur hara.
Pemakaian batang pisang untuk berkebun sayuran cukup mudah. Buatlah penyangga dari
kayu untuk menahan batang pisang yang akan diletakkan secara horizontal. Berikutnya lubangi
batang pisang seukuran gelas minuman mineral dengan lebar sekitar 15 cm dan dalam 10 cm
dengan memakai pisau. Jarak antarlubang antara 1520 cm. Sebatang pisang dapat dibuat 2 lajur
lubang. Setelah lubang jadi masukkan media tanam berupa tanah atau sampah organik ke dalam
lubang tanam tersebut. Diamkan terlebih dahulu selama 23 hari untuk kemudian baru ditanam
benih sayuran sesuai kehendak Anda. Perawatan tanaman yang dilakukan sama seperti berkebun
memakai bambu atau talang. Sebuah batang pisang bisa dipakai 23 kali tanam, tergantung
kepada kondisi batang.

Batang pisang juga memiliki senyawa penting seperti antrakuinon, saponin, dan flavanoid.
Nah, pada manusia antrakuinon bermanfaat untuk menyuburkan rambut. Peran senyawa itu pada
tanaman juga bisa menyuburkan pertumbuhan bulu-bulu akar yang berguna membantu tanaman
menyerap unsur-unsur hara. Batang pisang sendiri diketahui mengandung hingga 80% air.
Selama ini batang pisang telah banyak diteliti untuk digunakan sebagai pakan ternak karena
kandungan selulosanya yang berkadar lignin rendah. Penggunaan batang pisang tetap
menjanjikan karena kandungan glukosa batang pisang dapat menyuplai kebutuhan tanaman, baik
pisang itu sendiri maupun tanaman yang ditanam di batang pisang.

Pemakaian batang pisang untuk berkebun sayuran cukup mudah. Buatlah penyangga dari
kayu untuk menahan batang pisang yang akan diletakkan secara horizontal. Berikutnya lubangi
batang pisang seukuran gelas minuman mineral dengan lebar sekitar 15 cm dan dalam 10 cm
dengan memakai pisau. Jarak antarlubang antara 1520 cm. Sebatang pisang dapat dibuat 2 lajur
lubang. Setelah lubang jadi masukkan media tanam berupa tanah atau sampah organik ke dalam
lubang tanam tersebut.
Diamkan terlebih dahulu selama 23 hari untuk kemudian baru ditanam benih sayuran sesuai
kehendak Anda. Perawatan tanaman yang dilakukan sama seperti berkebun memakai bambu atau
talang. Sebuah batang pisang bisa dipakai 23 kali tanam, tergantung kepada kondisi batang.
Batang pisang banyak dimanfaatkan untuk pembuatan tali dalam pengolahan pascapanen
tembakau. Selain itu manfaat batang pisang juga sering ditemui pada pembuatan pupuk kompos
oleh para petani organik. Selain memiliki manfaat besar di dunia pertanian, batang tanaman
pisang juga bermanfaat di sektor peternakan. Para peternak kini sudah banyak yang
memanfaatkannya untuk diolah menjadi pakan ternak ruminansia terutama pada musim kemarau
saat persediaan pakan terbatas. Manfaat lain dari batang pisang adalah pada bagian air atau
getahnya. Air atau getah pisang juga bisa dijadikan sebagai penawar racun maupun bahan baku
dalam industri obat tradisional. Selain itu, batang pisang dari jenis abaca dapat diolah menjadi
serat untuk bahan dasar pembuatan pakaian atau kertas.
Ekstrak batang pohon pisang mengandung beberapa jenis fitokimia yaitu saponin dengan
kandungan yang paling banyak, kemudian flavonoid dan tanin dan tidak mengandung alkaloid,
steroid dan triterpenoid. Ekstrak batang pohon pisang dengan dosis C memberikan hasil yang
paling baik dalam proses persembuhan luka dan dosis C merupakan dosis efektif yang digunakan
dalam preparasi sediaan ekstrak getah batang pohon pisang dalam bentuk sediaan sel. Sediaan
ekstrak getah batang pohon pisang dalam bentuk gel masih stabil hingga minggu ke-8 pada suhu
15C dan 27oC. Homogenitas sediaan gel pada suhu 15oC masih stabil hingga minggu ke-8
walaupun pH mulai turun pada minggu ke-6 sedangkan pada suhu 27oC penurunan pH lebih
cepat terjadi yaitu pada minggu ke-4. Diatas suhu 27oC (37oC dan 45oC) sediaan gel semakin
tidak stabil. Viskositas dari sediaan gel tampak lebih baik pada suhu 15oC dibandingkan pada
suhu 27oC. Pengujian iritasi kulit dari sediaan sel memperlihatkan bahwa hingga minggu ke 5
tidak terjadi reaksi eritema pada responden yang diuji sedangkan mulai minggu ke-6 mulai
terjadi sedikit reaksi eritma, namun hal ini karena mulai berubahnya sediaaan gel yaitu mulai
mencair dan pH yang mulai menurun serta adanya pertumubuan jamur. Pada pengujian
persembuhan luka kulit pada mancit dari sediaan gel, tampak bahwa secara makroskoipk luka
lebih cepat kering lebih cepat menutup pada hari ke-7 dibanding control negative, sedangkan
pada hari ke-14 bekas luka sudah mulai menghilang lebih cepat disbanding control negative dan
hal ini mengindikasikan bahwa adanya efek kosmetika dari sediaan gel getah batang pohon
pisang, demikian pula pertumbuhan rambut pada hari ke-21 terjadi lebih cepat pada mancit yang
diberi sediaan gel gateh pohon pisang dibandingkan dengan control negative. Pengamatan secara
mikroskopik memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak getah pohon pisang mempercepat
keringnya luka, terlepasnya keropeng dan fibrosis sehingga secara umum pemberian sediaan
ekstrak getah batng pohon pisang memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan
control negative. Hasil pengamatan diatas mengindikasikan bahwa pemberian sediaan gel dari
ekstrak batang pohon pisang dengan dosis C tampaknya memberikan harapan untuk dapat
digunakan sebagai salah satu obat persebuhan luka.
Dalam sektor peternakan semakin kecilnya lahan akan memberikan dampak terhadap
ketersediaan bahan pakan yang dibutuhkan ternak, terutama ternak ruminansia yang bahan
makanan utamanya adalah berupa hijauan atau rumput. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu
dicari suatu pakan alternatif yang dapat menggantikan rumput sebagai pakan ternak. Salah
satunya adalah batang pisang yang merupakan limbah pertanian yang berasal dari tanaman
pisang yang biasanya hanya dibiarkan atau dibuang setelah pisang dipanen. Selain penahan laju
air, batang pisang ternyata juga bisa digunakan untuk pakan ternak karena kandungan zat
makanan yang terkandung di dalam batang pisang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan guzi pada ternak ruminansia sehingga dapat menopang kebutuhan ternak ruminansia.
Akan tetapi dalam pemanfaatannya ternyata batang pisang memiliki kandungan lignin yang
cukup tinggi, sehingga dapat mengganggu kecernaan za-zat makanan lainnya. Kita tahu bahwa
kandungan lignin pada bahan pakan akan berpengaruh terhadap kerja enzim mikroba dalam
mencerna zat-z.at makanan di dalam rumen. Lignin berperan memperkuat struktur dinding sel
dengan mengikat selulosa dan hemiselulosa yang sulit dicerna oleh mikroorganisme. Sehingga
menyebabkan kandungan zat-zat makanan dan daya cerna batang pisang ini menjadi rendah.
Serat batang pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan
papan serat dengan perlakuan termo-mekanis melalui pembentukan mat dengan cara basah (wet
process). Kualitas papan serat terbaik didapatkan pada perlakuan suhu perebusan serpih 100C
tanpa menggunakan perekat sintetik. Sifat fisis dan mekanis papan serat yang dihasilkan
memenuhi standar FAO dan JIS kecuali nilai penyerapan airnya yang sangat tinggi.
Kelangkaan pupuk yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir seperti pupuk
Urea,NPK,KCl,TSP,Poska dan pupuk organik lainnya, pupuk tersebut tidak ada lagi dijual di
toko pertanian maupun pedagang pengecer.Akibatnya, petani dan pemilik perkebunan sawit
menjerit, akibat sulitnya mendapatkan pupuk jenis itu. Mereka terpaksa hanya mengandalkan
pupuk KCL dan NPK yang jelas berbeda manfaatnya. Selain itu, harga dua jenis pupuk tersebut
juga cukup mahal dan berdampak buruk karena banyak sawit milik masyarakat yang daunnya
menjadi kuning akibat tidak pernah lagi dipupuk dengan urea.
Seperti diwilayah Riau Kenaikan harga pupuk mencapai 100%, tentu saja membuat para
petani di daerah ini menjadi menjerit untuk mendapatkan komoditi penyubur tanaman tersebut.
Bagaimanapun mereka terpaksa membatasi pembelian pupuk dan menggunakannya seirit
mungkin. Kenaikan mulai dari pupuk NPK, TSP dan KCL. Untuk NPK dijual seharga Rp 340
ribu persak untuk ukuran 50 kg padahal dalam kondisi kondisi stabil pupuk NPK hanya dijual
Rp180 ribu,pupuk TSP yang dijual seharga Rp 315 ribu untuk ukuran 50 kg kondisi normal,
pupuk TSP hanya dijual Rp160 ribu, pupuk KCL dijual Rp300 ribu untuk ukuran 50 kg,
biasanya hanya dijual Rp140 ribu,pupuk Urea dijual dengan Harga Rp 300 ribu biasanya hanya
dijual Rp150 ribu.
Budidaya tanaman pisang sesuai dengan iklim Indonesia baik dataran rendah maupun tinggi
sampai dengan 1300 dpl, dan optimal pada suhu 18 27oC, dan secara teknis mudah
dibudidayakan.Produksi pisang adalah produksi buah terbesar di Indonesia yaitu 40% dari
produksi buah nasional.Di Indonesia ada 14 kultivar pisang yang dikembangkan di Indonesia,
selain itu Indonesia memiliki keragaman plasma nutfah yang besar.Secara usahatani budidaya
pisang memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat (1-2th)
dengan BEP 1,76 akan tetapi budidaya di Indonesia yang sekarang belum dikelola secara optimal
oleh warga.
Produktifitas Budidaya tanaman Pisang di Indonesia (dalam Ku/Ha) pada tahun
2000,2001,2002,2003 semakin besar tingkat pembudidayaannya.Secara Nasional pada tahun
2000 budidaya tanaman pisang sebanyak 509,52 Ku/Ha,meningkat pada tahun 2001 yaitu 559,06
Ku/Ha,terus meningkat pada tahun 2002 sebanyak 586,53 dan pada tahun 2003 menurun tingkat
pembudidayaannya yaitu sebanyak 478,50 Ku/Ha.hal ini terjadi karena pengaruh suhu yang
panas. Pada dasarnya tanaman pisang merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati
yang artinya setelah buah pisang diambil batangnya tidak bisa digunakan lagi untuk produksi
buah pisang berikutnya,Sehingga akan berdampak sebagai menjadi Limbah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak batang pohon pisang mengandung tannin,
saponin dan flavonoid. Saponin merupakan glikosida yang terdistribusi secara luas pada
tumbuhan dan biasanya bersifat sangat iritan terhadap mukosa tubuh. Saponin mempunyai
aktivitas antiseptik serta meningkatkan kekebalan tubuh (Anonim, 2005). Bambu yang jenisnya
Gigantolochloa apus Kurz Pohon, berumpun, tinggi 10-15 m. Berkayu, bulat, berlubang, beruas-
ruas, tunas atau rebung berbulu, putih kehitaman, hijau. Tunggal, berseling, berpelepah, lanset,
ujung runcing, tepi rata, pangkal membulat, panjang 20-30 cm, lebar 4-6 cm, pertulangan sejajar,
hijau.Kandungan kimia Rebung dan daun Gigantolochloa apus mengandung saponin, di samping
itu daunnya mengandung flavonoida dan polifenol. Selain serat senyawa utama di dalam rebung
mentah adalah air, yaitu sekitar 91%. Disamping itu, rebung mengandung protein, karbohidrat,
lemak, vitamin A, thiamin, riboflavin, vitamin C, serta mineral lain seperti kalsium, fosfor, besi,
dan kalium. Bila dibandingkan dengan sayuran lainnya, kandungan protein, lemak, dan
karbohidrat pada rebung, tidak berbeda jauh.Rebung mempunyai kandungan kalium cukup
tinggi. Kadar kalium per 100 gram rebung adalah 533 mg.
Batang pisang yang dicampur dengan rebung bambu yang telah direbus dengan NaCl yang
berfungsi untuk mengeluarkan bau pesing yang mengandung ammonia yang berasal dari
protein.Kandungan Batang pisang berupa tannin,saponin dan flavanoid.dimana tannin yang
merupakan astringen ,yang baik mengikat dan endapan atau mengecilkan protein dan berbagai
senyawa organik lainnya termasuk asam amino dan alkaloid yang terkandung dalam rebung.
(Olivia et al., 2004). Dimana unit Flavonoida terikat pada suatu gula,glioksida merupakan
kombinasi suatu gula suatu alkohol yang saling berikatan dengan ikatan glioksida.Pada
prinsipnya ikatan glioksida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi dengan gugus
pada karbonil dari gula.Pada hidrolisis oleh asam,suatu glioksida terurai kembali.
Pada proses campuran ini asam amino murni yang telah diikat oleh tannin akan diikat dengan
gugus karboni yang berasal dari flavanoid.Sedangkan saponin juga memiliki kemiripan dengan
flavanoid yaitu Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan . Berarti
saponin berfungsi sebagai sumber adanya karbonil saat proses percampuran dengan rebung
bambu.Glioksida akan melepaskan gugus ROH dan akan menghasilkan glukosa dan membentuk
glukosa dengan rantai terbuka.Asam amino yang memiliki Atom N (Nitrogen) yang bersifat
nukleofil karena memiliki sepasang elektron bebas akan menyerang atom C (Karbon) dan akan
menghasilkan piruvat dengan bantuan enazim Piruvat Dehidrogenase akan menghasilkan alanin
dan akan melepaskan Glukosa dan -Ketoglutarat dengan bantuan enzim alanin Trankarbamoilase
akan menghasilkan air dan Urea dan asam Pirivat yang dihasilkan akan mengalami reaksi
berkelanjutan dengan senyawa glukosa lainnya. Produk pupuk urea CO(NH2)2 yang dihasilkan
dalam bentuk cairan.
Bila seseorang mengalami luka akan terjadi kerusakan kulit, jaringan otot, bahkan sampai
tulang. Luka baru yang tidak segera diobati dan dibiarkan terbuka, luka tersebut akan menjadi
bernanah (lesi). Hal ini disebabkan adanya bakteri yang menginfeksi pada luka tersebut. Bakteri
yang sering menginfeksi luka diantaranya adalah Staphylococcus aureus.
Banyak orang yang mencari alternatif lain yang lebih murah dengan beralih ke obat
tradisional yang berasal dari alam sekitar. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki
efek samping yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan obat modern. Bahkan alam yang
dipercaya berkhasiat untuk mengobati luka salah satunya adalah getah batang pisang (Musa
paradisiaca L.) yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan luka. Zat
kimia yang terkandung dalam getah pohon pisang diantaranya adalah zat tanin pada pisang
bersifat antiseptik.
Sedangkan pada batang pohon pisang diketahui memiliki bahan aktif di antaranya saponin,
antrakuinon, kuinon yang dapat menghilangkan rasa sakit, merangsang pembentukan selsel baru
pada kulit. Kandungan lignin pada batang pisang membantu peresapan senyawa pada kulit
sehingga dapat digunakan untuk mengobati luka memar, luka bakar, bekas gigitan serangga, dan
sebagai antiradang.
Batang semu tanaman pisang adalah batang yang tumbuh tegak yang menghubungkan
bonggol dengan daun tanaman pisang. Batang semu bersifat tidak keras dan banyak mengandung
air. Air yang terdapat di dalam batang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kencing panas
dan juga menawarkan racun. Air dari batang semu beberapa jenis pisang juga dapat diguakan
untuk menawarkan racun akibat terkena gigitan ular.
Batang semu tanaman pisang dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan lain misalnya
membungkus bibit tanaman dan tali tembakau. Kompos juga dapat dibuat dari batang semu
tanaman pisang. Tidak jarang pula batang semu tanaman pisang digunakan untk campuran dalam
media untuk budidaya belut.
Khusus pisang abaca yang diambil batang luarnya, batang luar dapat digunakan untuk
diambil serat batangnya. Serat ini digunakan untuk bahan industri seperti kertas, tekstil, bahan
baku uang yen dan dollar, pembungkus kabel, kertas the celup, popok bayi, pembalut wanita, dan
bahan peredam suara pesawat terbang.
Selain banyak sekali guna dari buah tersebut, yang memiliki banyak kandungan glukosa yang
sering kali dipakai untuk makanan akhir setelah makan setiap hari. Namun saat ini yang kita
bahas adalah guna dari batang buah itu, pasti juga banyak orang yang belum tahu betul guna
batang pisang ini. Dan ini beberapa guna dari batang pisang :

Batang Pisang Sebagai Bahan Masakan
Maksud dari untuk bahan makanan ini hanya untuk batang yang masih sangat muda,
biasanya masih ditemukan di masakan daerah pedesaan. Masakannya berupa tumis,
lodeh, dll.
Batang Pisang Sebagai Pakan Ternak
Ternyata ternak Sapi, kerbau, sangat doyan dengan tanaman satu ini. Banyak sekali di
pedesaan yang menjaga tanaman ini agar tidak dimakan saat ada yang mengembala. Jadi
batang ini, bisa dijadikan pakan untuk ternak.
Batang Pisang Sebagai Obat Kesehatan
Mungkin banyak sekali guna dari batang pisang ini. Mungkin kalian juga tau klo batang
ini memiliki kandungan air/cairan.Berikut adalah guna batang pisang untuk kesehatan
yaitu:
Berak darah karena panas dalam
Disentri, diare:Panaskan buah pisang batu (satu buah) pada abu dapur, potong-potong,
lalu giling halus. Tambahkan setengah cangkir air masak sambil diaduk merata, lalu peras
dan saring. Minum air perasannya. Lakukan tiga kali sehari.Kunyah beberapa lembar
daun bunga pisang kapok, lalu telan cairannya.
Wasir berdarah,Perdarahan setelah melahirkan (perdarahan nifas),Pembersih sehabis
melahirkan: Setelah batang semuanya ditebang, buat lubagng besar bonggol pisang yang
tersisa didalam tanah. Kumpulkan cairan lubang tersebut, lalu minum. Lakukan tiga kali
sehari, masing-masing setengah cangkir. Akan lebih berkhasiat jika cairannya berasal
dari bonggol pisang klutuk atau pisang kepok. Untuk mencegah perdarahan pada masa
nifas, juga perlu makan pisang ambon secara teratur.
Batang Pisang untuk rambut
Rambut rontok dan beruban: Untuk rambut yang halus dan kemerahan, keramaslah
dengan sampo yang dibuat sendiri. Caranya, jemur kulit pisang mas (lima buah) sampai
kering, lalu buat serbuk. Tambahkan satu butir telur ayam yang diambil merahnya saja
dan satu cangkir air bersih, aduk merata. Gunakan untuk keramas. Setelah selesai, bilas
dengan air bersih.
Manfaat untuk obat
Radang ginjal, sifilis: Tambahkan air gula secukupnya pada satu cangkir cairan yang
diperoleh dari batang semu, lalu minum.
Digigit ular berbisa: Cuci bonggol pisang raja sebesar kepalan tangan, lalu parut.
Tambahkan satu sendok makan madu murni sambil diremas sampai merata. Peras dan
saring, lalu minum cairan yang terkumpul sekaligus. Lakukan dua kali sehari.
Bonggol (corm) pisang atau batang pisang bagian bawah merupakan limbah tanaman pisang
yang belum termanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan bonggol pisang selama ini adalah untuk
pembuatan pupuk K dan sabun dengan cara dibakar sampai menjadi abu. Air bonggol pisang
dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti disentri,
pendarahan usus, amandel serta dapat memperbaiki pertumbuhan dan menghitamkan rambut.
Namun, di balik cap-nya sebagai limbah, batang pisang bagian bawah ini ternyata mengandung
gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap.Dalam 100 gram bonggol pisang basah
terkandung 43,0 kalori, 0,36 g protein, 11,60 g karbohidrat, 86,0 g air, beberapa mineral seperti
Ca, P dan Fe, vitamin B1 dan C, serta bebas kandungan lemak (Rukmana, 2005). Secara
lengkap, kandungan gizi dalam bonggol pisang basah dan kering dapat dilihat pada tabel di
bawah ini: Sebagai olahan pangan, selama ini bonggol pisang telah dimanfaatkan sebagai bahan
sayuran, seperti urap dan lalapan. Di Bali, secara tradisional bonggol pisang telah diolah menjadi
makanan bernama tum atau pepes. Pengolahan menjadi kerupuk merupakan alternatif dalam
pemanfaatan bonggol pisang ini menjadi bahan makanan. Bahan dalam pembuatan kerupuk
bonggol pisang adalah: bonggol pisang yang telah dihaluskan dan tepung tapioka dengan
perbandingan 1:1, bumbu-bumbu seperti bawang putih, ketumbar dan bawang merah, garam dan
penyedap rasa secukupnya, serta minyak goreng.
Cara pembuatan kerupuk bonggol pisang adalah: (1) Bonggol pisang bagian tengah yang
berwarna putih dipotong-potong agak kecil, kemudian direndam dalam air garam selama semalam
untuk menghilangkan rasa sepatnya; (2) Selanjutnya bonggol direbus selama tiga jam, kemudian
dicuci dengan air bersih; (3) Bonggol rebus dihaluskan dengan cara ditumbuk atau diparut; (4)
Bonggol halus diperas dengan menggunakan kain sampai airnya habis; (5) Bonggol halus diseduh
dengan air panas sampai terendam, didiamkan sebentar, lalu diperas lagi sampai airnya habis; (6)
Bumbu-bumbu dihaluskan, dicampur dengan bonggol pisang yang telah dihaluskan tersebut, diaduk-
aduk sampai tercampur rata; (7) Tepung tapioka dimasukkan lalu diuleni sampai adonan berwarna
agak putih dan terasa liat; (8) Adonan dipipihkan di atas selembar daun pisang hingga tipis; (9)
Adonan dikukus sampai matang (berubah warna) sekitar 10 menit; (11) Adonan tipis kerupuk
dijemur di bawah sinar matahari beserta daunnya; (12) Bila sudah setengah kering, adonan
dilepaskan dari daun pisang dan dijemur lagi hingga kering; (13) Kerupuk mentah digoreng dalam
minyak panas dengan api sedang, lalu ditiriskan; dan (14) Kerupuk dapat dikonsumsi atau dikemas
dalam kantung plastik.
Pakan merupakan salah satu faktor utama dalam keberhasilan usaha agribisnis peternakan
domba dan kambing. Pakan domba kambing yang berupa rumput dan hijauan sangat terbatas
ketersediaannya terutama pada musim kemarau. Inovasi sumber pakan alternatif pengelolaan
pakan salah satu solusi untuk ketersediaan pakan setiap tahun,tentunya dengan tetap
memperhatikan kualitas nutrisi pakan sebagai sumber energy dan sumber protein.
Domba dan kambing termasuk ternak ruminansia kecil, ternak ruminansia memiliki kemampuan
untuk mengkonversi bahan pakan yang berkualitas rendah menjadi produk hasil ternak yang
berkualitas tinggi, kemampuan ini karena adanya mikroorganisme yang mampu memanfaatkan
bahan pakan yang berserat tinggi menjadi sumber energy, perombakan ini dilakukan oleh bakteri
sellulotik dengan bantuan enzyme sellulase yang dihasilkannya.kelebihan inilah yang dapat
dimaksimalkan dalam pemeliharaan domba untuk memanfaatkan limbah pertanian.
Batang pisang merupakan salah satu limbah pertanian yang belum banyak termanfaatkan,
gedebog pisang berasal dari pohon pisang (musa paradisiaca) yang telah di panen buah
pisangnya, hampir semua daerah di indonesia pohon pisang ini tumbuh dengan subur dengan
varietas jenis yang sangat beragam.
Batang pisang sebagai sumber pakan alternatife mempunyai kandungan nutrisi : 1) BK(bahan
Kering) 87,7 %. 2) Abu 25,12 %. 3) LK (Lemak Kasar) 14.23%. 4). SK (Serat Kasar) 29.40%
5).PK (Protein Kasar) 3%. 6.) BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Protein) 28.24%. Guna
meningkatkan kualitas pakan dari gedebog maka sebelum di sajikan pada ternak gedebog perlu
difermentasikan dan di tambah sumber pakan lain untuk melengkapinnya.