Anda di halaman 1dari 2

SLE (3A)

SLE (Systemisc Lupus erythematosus) = penyakit


autoimun dimana organ dan sel mengalami kerusakan
yang disebabkan oleh tissue-binding autoantibody dan
kompleks imun, yang menimbulkan peradangan dan
bisa menyerang berbagai sistem organ.

Sampai saat ini penyebab SLE belum diketahui. Diduga
faktor genetik, infeksi dan lingkungan ikut berperan
pada patofisiologi SLE. Sistem imun tubuh kehilangan
kemampuan untuk membedakan antigen dari sel dan
jaringan tubuh sendiri. Penyimpangan reaksi
imunologi ini akan menghasilkan antibodi secara terus
menerus. Antibody ini berperan dalam pembentukan
kompleks imun sehingga mencetuskan penyakit
inflamasi imun sistemik dengan kerusakkan
multiorgan.

Faktor Resiko terjadinya SLE
1. Faktor Genetik
Jenis kelamin, wanita: pria = 8 : 1
Umur, >>> usia 20-40 tahun
Etnik, Faktor keturunan, dengan Frekuensi 20
kali lebih sering dalam keluarga yang terdapat
anggota dengan penyakit tersebut
2. Faktor Resiko Hormon
Hormon estrogen menambah resiko SLE,
sedangkan androgen mengurangi resiko ini.
3. Sinar UV
Sinar Ultra violet mengurangi supresi imun
sehingga terapi menjadi kurang efektif,
sehingga SLE kambuh atau bertambah berat.
Ini disebabkan sel kulit mengeluarkan sitokin
dan prostaglandin sehingga terjadi inflamasi
di tempat tersebut maupun secara sistemik
melalui peredaran pebuluh darah
4. Imunitas
Pada pasien SLE, terdapat hiperaktivitas sel B
atau intoleransi terhadap sel T
5. Obat (Drug Induced Lupus Erythematosus
atau DILE).
Obat yang pasti menyebabkan Lupus :
Kloropromazin, metildopa, hidralasin,
prokainamid, dan isoniazid
Obat yang mungkin menyebabkan Lupus :
dilantin, penisilamin, dan kuinidin
6. Infeksi
Pasien SLE cenderung mudah mendapat
infeksi dan kadang-kadang penyakit ini
kambuh setelah infeksi
7. Stres
Stres berat dapat mencetuskan SLE pada
pasien yang sudah memiliki kecendrungan
akan penyakit ini.


Diagnosis
Kriteria untuk klasifikasi SLE dari American
Rheumatism Association (ARA, 1992).
Diklasifikasikan menderita SLE apabila memenuhi
minimal 4 dari 11 butir kriteria dibawah ini:
1. Artritis, arthritis nonerosif pada dua atau lebih
sendi perifer disertai rasa nyeri, bengkak, atau
efusi dimana tulang di sekitar persendian
tidak mengalami kerusakan. Persendian yang
sering terkena adalah persendian pada jari
tangan, tangan, pergelangan tangan dan lutut.
2. Tes ANA diatas titer normal = Jumlah ANA
yang abnormal ditemukan dengan
immunofluoroscence atau pemeriksaan
serupa jika diketahui tidak ada pemberian
obat yang dapat memicu ANA sebelumnya
3. Bercak Malar / Malar Rash (Butterfly rash) =
Adanya eritema berbatas tegas, datar, atau
berelevasi pada wilayah pipi sekitar hidung
(wilayah malar)
4. Fotosensitif bercak reaksi sinar matahari =
peka terhadap sinar UV / matahari,
menyebabkan pembentukan atau semakin
memburuknya ruam kulit
5. Bercak diskoid = Ruam pada kulit
6. Salah satu Kelainan darah;
a. anemia hemolitik,
b. Leukosit < 4000/mm,
c. Limfosit<1500/mm,
d. Trombosit <100.000/mm
7. Salah satu Kelainan Ginjal;
a. Proteinuria > 0,5 g / 24 jam, - Sedimen
seluler = adanya elemen abnormal
dalam air kemih yang
8. berasal dari sel darah merah/putih maupun
sel tubulus ginjal
9. Salah satu Serositis :
a. Pleuritis,
b. Perikarditis, endo/myocarditis
10. Salah satu kelainan Neurologis;
a. Konvulsi / kejang,
b. Psikosis
Yang paling sering ditemukan adalah disfungsi
mental yang sifatnya ringan, tetapi kelainan
bisa terjadi pada bagian manapun dari otak,
korda spinalis maupun sistem saraf. Kejang,
psikosa, sindroma otak organik dan sakit
kepala merupakan beberapa kelainan sistem
saraf yang bisa terjadi.
11. Ulser Mulut, Termasuk ulkus oral dan
nasofaring yang dapat ditemukan
12. Salah satu Kelainan Imunologi
a. Sel LE+
b. Anti dsDNA diatas titer normal
c. Anti Sm (Smith) diatas titer normal
d. Tes serologi sifilis positif palsu