Anda di halaman 1dari 23

Pembangunan Pulau Sebatik sebagai Pulau

Kecil Terluar Berbasis Regionisme



ABSTRAK
Pulau Sebatik di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu dari 92 pulau kecil terluar yang
merupakan beranda depan NKRI, menjadi fokus pembangunan nasional secara politik, hukum dan
sosial budaya, namun lingkungan pesisirnya sebagai potensi sekaligus permasalahan dalam upaya
pembangunan Pulau Sebatik yang terintegrasi. Regionisme merupakan upaya mengatur atau menata
suatu region (wilayah), yang tidak hanya bersifat pasif namun juga memelihara yang mengada
(becoming) didalamnya. Konsep regionisme sangat cocok diterapkan pada pulau kecil terluar seperti
Pulau Sebatik ini, karena pandangan regionisme ini dapat didasarkan kepada kepentingan atau
kriteria tertentu.
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) dalam Konvensi PBB atas Hukum
Kelautan[1] 1982 Artikel 121 mendefinisikan pualu-pulau kecil,An island is a naturally formed
land, surrounded by water, which is above water at high tide. Artinya, pulau adalah area lahan
(daratan) yang terbentuk secara alami, dikelilingi air yang berada di atas muka air pada pasut
tinggiartinya, tak boleh tenggelam jika air pasang tinggi. Definisi ini mengisyaratkan ada empat
syarat untuk disebut sebagai suatu pulau, yaitu ada daratan, terbentuk secara alami bukan reklamasi,
dikelilingi air (tawar atau asin), dan selalu berada di atas pasut tinggi.
Berdasarkan luas dan kepadatan, beberapa lembaga terkait mendefiniskan pulau kecil, (1) pulau kecil
adalah pulau dengan luas area kurang dari 5.000 meter persegi (CSC, 1984), (2) pulau kecil adalah
pulau dengan luas area kurang dari 2.000 meter persegi (DKP, 2007)[2].
Sedangkan pulau-pulau terluar yang menjadi daerah perbatasan adalah definisi di atas yang
ditambah dengan kondisi-kondisi khusus, yaitu adanya elemen kedaulatan dan elemen campuran
kehidupan yang merupakan hal-hal khusus yan dimiliki oleh suatu kawasan perbatasan. Jadi, pulau-
pulau terluar daerah perbatatasan terkait Pulau Sebatik adalah pulau kecil adalah pulau yang luas
wilayahnya kurang dari 10.000 meter persegi dan berpenduduk kurang dari 200.000 orang yang
berlokasi pada batas administrasi dua/beberapa negara yang memiliki kehidupan ekonomiu, sosial
dan budaya yang terpengaruh oleh lokasi perbatasan tersebut
Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar telah
mengamanatkan bahwa pengelolaan pulau-pulau kecil terluar harus dilakukan secara terpadu untuk
memanfaatkan dan mengembangkan potensi sumber dayanya dalam rangka untuk menjaga keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pulau Sebatik di Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu dari 92 pulau kecil terluar yang
merupakan beranda depan NKRI. Keberadaannya disalah satu kawasan pesisir paling strategis di
jalur Internasional, menjadikan Pulau Sebatik tidak hanya menjadi fokus pembangunan nasional
secara politik, hukum dan sosial budaya, namun lingkungan pesisirnya sebagai potensi sekaligus
permasalahan dalam upaya pembangunan Pulau Sebatik yang terintegrasi.
1.2. Isu dan Permasalahan
Pulau-pulau kecil memiliki karakteristik yang merupakan sumber masalah dari pulau-pulau
Kusumastanto menyebutkan bahwa masalah ini bersumber dari karakteristik pulau kecil
(Kusumastanto, 2004) :
1. Ukuran yang kecil dan terisolasi (keterasingan) menyebabkan penyediaan prasarana dan
sarana menjadi sangat mahal. Luas pulau kecil itu bukan suatu kelemahan jika barang dan
jasa yang diproduksi dan dikonsumsi oleh penghuninya tersedia di pulau yang dimaksud.
Akan tetapi, begitu jumlah penduduk meningkat secara drastic, diperlukan barang dan jasa
dari pasar yang jauh dari pulau itu. Itu berarti mahal.
2. Kesukaran atau ketidakmampuan mencapai skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan
dalam hal administrasi, usaha produksi dan transportasi. Hal ini turut menghambat
pembangunan hamper semua pulau kecil di dunia.
3. Keterseidiaan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar, vegetasi, tanah,
ekosistem pesisir dan satwa liar yang pada akhirnya menentukan daya dukung (carriying
capacity) sistem pulau kecil dan menopang kehidupan manusia, penghuni serta segenap
kegiatan pembangunan.
4. Produktivitas sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (seperti pengendalian erosi) yang
terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan terdapat di sekitar pulau (seperti
ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) saling terkait satu sama lain secara erat. Oleh
karena itu, keberhasilan usaha pertanian, perkebunan dan kehutanan di lahan darat suatu
pulau, jika tidak dikelola menurut prinsip-prinsip ekologis, dapat merusak/mematikan
industri perikanan panatai dan pariwisata bahari di sekitar pulau.
5. Budaya local kepulauan kadangkala bertentangan dengan kegiatan pembangunan.
Contohnya, di beberapa pulau kecil budaya yang dibawa wisatawan (asing) dianggap tidak
sesuai dengan adat atau agama setempat. Ini menjadi kendala tersendiri.
Selama ini, masalah pulau-pulau terluar yang bearda di perbatasan seringkali diselesaikan melalui
pendekatan keamanan.. Bahkan pendekatan kemanan ini juga bersifat reaktif karena memang ada
potensi atau sudah terjadi gangguan keamanan di daerah-daerah perbatasan. Padahal masalah-
masalah utama yang dihadapi pulau-pulau terluar bukanlah ancaman pendudukan dari negara lain
tetapi ancaman sosial, ekonomi dan ekologi yang menyebabkan penduduk di perbatasan mencari
bantuan kepada pihak/tempat yang menyediakan bantuan untuk bisa bertahan.
Sebagai salah satu pulau terluar di NKRI, pulau Sebatik layaknya pulau-pulau terluar lainnya di
Indonesia juga mengalami isu ketimpangan pembangunan. Paradigma pembangunan yang masih
bersperpektif daratan cenderung mengabaikan pembagunan pulau-pulau kecil. Apalagi lokasinya
jauh berada di daerah perbatasan. Tidaklah mengherankan bahwa jatuhnya kedaulatan pada Pulau
Sipadan dan Ligitan kepada pihak Malaysia adalah bukti nyata bagaimana pendekatan terhadap
wilayah perbatasan di pulau-pulau terluar, yang merupakan contoh kuat bagaimana ketidaksesuaian
paradigma pembangunan dengan pulau-pulau terluar menjadi ancaman bagi kedaulatan NKRI.
2. GAMBARAN UMUM PULAU SEBATIK
2.1. Kondisi Fisik Umum
Secara administratif Pulau Sebatik terletak di Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Propinsi
Kalimantan Timur, dan secara astronomi terletak pada kedudukan: 4
0
2 LU 4
0
10 LU dan 117
0
40
BT 117
0
54BT, dengan batas wilayah :
Sebelah Utara : Sabah (Malaysia)
Sebelah Timur : Laut Sulawesi
Sebelah Selatan : Selat Makasar
Sebelah Barat : Kabupaten Nunukan (Indonesia)
Pulau Sebatik mempunyai luas 247.47 km
2
, dan berdasarkan UU No. 47 tahun 1999 merupakan suatu
Kecamatan yang terdiri dari 5 (lima) desa yaitu : Desa Pancang dengan luas 69.88 km
2
, desa Sungai
Sei NYamuk dengan luas 26 km
2
, desa Tanjung Aru dengan luas 32 km
2
, desa Tanjung Karang
dengan luas 39 km
2
, dan desa Setabu dengan luas 132.19 km
2
, dan sebagai pusat pemerintahan
Kecamatan Sebatik adalah Tanjung Karang.
Pulau Sebatik memiliki topografi pantai yang datar dan ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Wilayah
tengah merupakan daerah pegunungan, disamping merupakan hutan sekunder juga telah diusahakan
oleh penduduk untuk perkebunan kelapa dan kakao, sedangkan wilayah dataran rendah dibagian
tengah telah diusahakan oleh penduduk sebagai sawah tadah hujan.
Tabel 1
Data Iklim Pulau Sebatik
Unsur Iklim
Bulan
Tahunan Jan Feb Mar Aprl Mei Jun Jul Agus Sept Okt Nov Des
Curah hujan
(mm) 126 122 169 129 276 269 134 191 160 303 173 230 2.280
Hari hujan
(hari) 17 13 15 13 22 21 16 20 16 22 16 17 208
Suhu udara (
o
C) 27.1 27.3 27.4 27.9 27.8 27.3 27.1 27.0 27.1 27.3 27.6 27.4 27.4
Penyin. Mht
(%) 54 57 57 59 55 45 48 43 53 37 43 43 50
Kelembaban
(%) 74 75 74 75 76 77 79 78 78 77 76 80 77
Tek Udara (mb) 1008 1008 1008 1008 1009 1009 1008 1008 1009 1008 1007 1008 1008
Sumber: RPJM Kabupaten Nunukan tahun 2006-2010
2.2. Kondisi Sosial Budaya Kemasyarakatan
Pada dasarnya etnik yang menetap diwilayah perbatasan Indonesia Malaysia adalah sama. Wilayah
pulau-pulau kecil perbatasan di Selat Malaka dihuni oleh etnik Melayu, sedangkan di daerah Pulau
Sebatik dihuni oleh etnik Tidung. Disintegrasi antar etnis dapat terjadi karena berbagai sebab antara
lain karena terbentuknya negara baru dengan ideologi dan dasar negara yang berbeda.
Masyarakat Pulau Sebatik berasal dari nelayan Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Pada saat itu
Pulau Sebatik masih berupa hutan, sehingga disamping sebagai nelayan juga membuka lahan untuk
bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara umum masyarakat Pulau
Sebatik memiliki stratifikasi sosial meskipun tidak didasarkan pada superioritas suatu kelompok atas
etnis tertentu. Pranata sosial yang terbentuk berasal dari hasil integrasi berbagai kepentingan
kelompok terutama masyarakat Sulawesi dari berbagai etnis dan masyarakat suku Tidung. Status
sosial suku Tidung didalam eksploitasi sumberdaya alam hanya sebagai buruh saja.
Dekatnya jarak dan mudahnya akses menyebabkan mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan
seperti Nunukan maupun masyarakat Tawau Malaysia keluar masuk di wilayah negara tetangga.
Untuk menyeberang ke Tawau-Malaysia dari Nunukan dan sebaliknya hanya memerlukan waktu
tempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan kapal penyeberangan yang ada setiap hari. Bagi
masyarakat kepulauan yang memang kehidupannya di sekitar laut dan biasanya melakukan
perjalanan dengan kapal, waktu perjalanan merupakan waktu yang sangat singkat.
Mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan ke wilayah negara tetangga tersebut didorong oleh
adanya hubungan sosial dan ekonomi. Hubungan sosial terutama terutama antara masyarakat
Nunukan dengan masyarakat Tawau yang sudah lama terjalin. Warga Nunukan dan Tawau bahkan
memiliki hubungan kekerabatan karena banyak warga negara Indonesia yang sudah lama tinggal di
Tawau dan menjadi warga negara Malaysia. Hal yang paling mudah adalah warga Pulau Sebatik
yang halaman depan dan belakang rumahnya berada pada dua negara yang berbeda yaitu Indonesia
dan Malaysia. Hubungan ekonomi selain terjalin di antara mereka yang sudah mempunyai hubungan
kekerabatan juga oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan termasuk
dengan warga Malaysia keturunan Cina.
Interaksi penduduk di wilayah perbatasan dapat berdampak positif maupun negatif. Interaksi positif
bila interaksi yang saling menguntungkan antar etnis yang sama di dua negara karena adanya saling
ketergantungan baik subsitusi maupun komplemen sehingga pemerintah masing-masing memberikan
kemudahan bagi masyarakatnya dengan memberikan cross border pass (pass lintas batas) untuk
melakukan kunjungan dagang, kunjungan keluarga dan kunjungan sosial lainnya. Sedangkan
interaksi negatif merupakan interaksi yang merugikan kepentingan negara lain pemerintah (terutama
negara Indonesia), sehingga perlu adanya kebijakan dalam menangani masyarakat pulau-pulau kecil
perbatasan untuk menghindari intervensi ideologi asing.
2.3. Kondisi Ekonomi dan Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk di Pulau Sebatik pada tahun 2002 sebesar 25.000 jiwa, yang sebagian besar
merupakan masyarakat pendatang dari Sulawesi Selatan, sedangkan masyarakat asli Pulau Sebatik
adalah suku Tidung. Sebagian besar masyarakat Pulau Sebatik bekerja di sektor pertanian yaitu pada
tanaman perkebunan (44%), sedangkan yang bekerja di sektor pertanian tanaman pangan hanya
berkisar 16%, dan yang bekerja di sektor perikanan hanya berkisar 20.96%. Peran sektor
perdagangan dan jasa dalam perekonomian ternyata cukup memberi kontribusi yang signifikan
sebagai sumber mata pencaharian masyarakat Sebatik. Struktur ekonomi Kabupaten Nunukan
didukung oleh sembilan sektor ekonomi, yaitu :
1. Sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi tertinggi terhadap APBD
Kabupaten Nunukan yaitu sebesar 48.69%, hal ini disebabkan oleh karena adanya kegiatan
penambangan minyak bumi yang berlokasi di Kecamatan Sembakung oleh PT. Perkasa
Equatorial Sembakung Ltd. Disamping itu, juga terdapat penambangan batubara.
2. Sektor pertanian, memberikan kontribusi terhadap APBD sekitar 29.0% yang didominasi
oleh sektor perkebunan
3. Sektor perdagangan berkontribusi terhadap APBD sebesar 9%,
4. Sektor bangunan kontribusinya sebesar 8.37%
5. Sektor jasa berkontribusi sekitar 3%
6. Sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 2%
7. Sektor Listrik, Gas dan air bersih kontribsinya terhadap APBD sebesar 0.71%,
8. Sektor indstri pengolahan hanya sebesar 0.05%, dan
9. Sektor keuangan hanya berkontribusi sebesar 0%.
2.4. Kondisi Sektor Unggulan Non Hayati
Sumberdaya alam non hayati Kabupaten Nunukan terdiri dari minyak bumi dan gas alam serta galian
C. Potensi sumberdaya mineral diperkirakan cukup besar, namun sampai saat ini dugaan cadangan
mineral tersebut belum diketahui. Cadangan pasir kwarsa diperkirakan mencapai 500 juta ton dan
potensi lainnya seperti gypsum sekitar 75 ribu ton. Sumberdaya alam lainnya seperti minyak bumi
potensinya cukup besar, pada tahun 2002 mencapai 2.100.000 juta BBL, atau meningkat sebesar 81%
dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 1.200.000 juta BBL. Secara rinci sumberdaya
non hayati Kabupaten Nunukan disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2
Sumberdaya Alam Non hayati Kabupaten Nunukan
No. Potensi Luas Areal (ha) Cadangan (ton)
1. Minyak bumi TAD TAD
2. Gas Alam TAD TAD
3. Pasir kwarsa 2.6357 500.412.000
4. Pelspar (NK) 2 100
5 Gypsum (CH) 50 75.000
Sumber: Menata Pulau-pulau Kecil Perbatasan, 2006.
2.5. Kondisi Potensi Kelautan dan Perikanan
Potensi sumberdaya perikanan tangkap di Perairan Nunukan diperkirakan cukup besar meliputi
potensi ikan demersal, udang dan ikan pelagis kecil yang tersebar di sekitar Pulau Bukat, Pulau
Sebatik, Pulau Nunukan dan Pulau Sekapal.
Perairan Sebatik termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) IV Selat Makassar dan Laut
Arafura serta WPP VII Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Perairan Laut Sulawesi diperkirakan
mempunyai potensi udang sekitar 2.500 ton/tahun, sedangkan potensi ikan demersal dan pelagis
mencapai 54.860 ton/tahun. Sampai saat ini, pemanfaatan sumberdaya udang telah mencapai batas
MSY, sedangkan tingkat pemanfaatan ikan pelagis dan demersal sekitar 61% (DKP dan LIPI,2001).
Di WPP IV, Peluang pengembangan untuk pemanfaatan sumberdaya ikan masih terbuka untuk ikan
pelagis besar dan pelagis kecil, sementara WPP VII masih terbuka peluang untuk pemanfaatan ikan
pelagis kecil, ikan demersal, ikan karang dan lobster.
Tabel 3
Jenis Ikan, Daerah Penangkapan dan Alat yang Digunakan oleh Nelayan
No. Nama Ikan Spesies Daerah Penangkapan Alat Tangkap
1. Ikan Sebelah Psetodes sp
Sepanjang pantai berlumpur
(tanjung aus, pantai timur
P.Nunukan dst.
Gill net,kelong, jaring
kantong (dogol, tugu),
trawl
2. Kerot-kerot Therapon sp.
Sepanjang pantai
sampaikedalaman 40 meter
Gill net, jaring klitik,
dogol,tugu, kelong,
pancing & hampang
3. Gulamah Otolithoides sp.
Sepanjang pantai Kab.
Nunukan
Jaring klitik,
dogol,tugu, kelong,
pancing & hampang
4. Bawal putih Pampus sp.
Perairan kab.Nunukan pada
kedalaman 10-60 meter Trawl dan Gill net
5. Bawal hitam Formioniger
Perairan kab.Nunukan pada
kedalaman 10-60 meter Trawl dan Gill net
6. Alu-alu Sphyraena sp Lepas pantai Kab. Nunukan
Trawl dan Gill net, dan
pancing
7. Senangin/Menangin
Eleunthronema
sp
Sepanjang pantai
Kab.Nunukan sampai
kedalaman 30 meter
Gill net, pancing,
dogol, kelong, jaring
kelitik trawl dan tugu
8. Kurau/kuro
Eleunthronema
sp
Sepanjang pantai
Kab.Nunukan pada
kedalaman 10-60 meter Trawl dan Gill net
9. Selar Selarodes sp
Sepanjang pantai
Kab.Nunukan sampai
kedalaman 30 meter
Gill net,pancing dan
trawl
10. Kerapu lumpur Epinephelus sp Di muara-muara Pancing & gillnet
11. Puput/lelampa Pellona sp
Sepanjang pantai Kab.
Nunukan
Jaring klitik, gill net,
dogol,tugu, kelong,
pancing & hampang
12. Kakap Lates carcaripes Lepas pantai Nunukan Dogo,gillnet & pancing
13. Bambangan Lutjanus sp Lepas pantai Nunukan Gill net & pancing
14. Pari Dasyntis sp Sepanjang pantai Kab. Dogol,kelong &
No. Nama Ikan Spesies Daerah Penangkapan Alat Tangkap
Nunukan pancing
15. Sembilang Plotosus sp Muara-muara sungai kecil Pancing & gill net
16. Otek Macrones sp
Sepanjang pantai Kab.
Nunukan
Pancing, tugu, kelong,
dogol, gill net,jaring
klitik & hampang
17. Pepija/ikan lembek Nomei sp
Perairan pantai selatan Kab.
Nunukan Dogol, tugu & trawl
18. Cucut/hiu Elasmobrachea
Sepanjang pantai sampai
lepas pantai Trawl, tugu dan dogol
19. Udang windu P. Monodon
Sepanjang pantai sampai
kedalaman 30 meter
Dogol, jaring
klitik,tugu dan trawl
20. Udang putih P. Merquensis
Sepanjang pantai sampai
kedalaman 30 meter
Dogol, jaring
klitik,tugu dan trawl
21. Udang bintik Metapeneaus sp
Sepanjang pantai Kab.
Nunukan
Dogol, jaring
klitik,tugu dan trawl
22. Udang batu Metapeneaus sp
Sepanjang pantai Kab.
Nunukan
Dogol, jaring
klitik,tugu, trawl
23. Cumi-cumi/sotong Sepia sp
Sepanjang pantai sampai
lepas pantai Trawl, tugu & dogol
24. Tiram Crasostea sp Sebelah selatan P.Tinabasan Dg tangan (nyelam)
25. Tuda/anadara Anadara sp
Pantai timur p.Nunukan,
Tanjung cantik, & pantai
timur p.Tinabasan
Dogol, secara
tradisional dg
digaruk/tangan
26. Kepiting bakau Scylla sp
Sepanjang pantai yg
berbakau
Ambau (rankang),
kelong & dogol
27. Kepiting rajungan Portonus sp Sepanjang pantai
Jaring
klitik,dogol,kelong &
trawl
28. Tenggiri Scomber sp
Sepanjang pantai sampai
lepas pantai Gill net & pancing
29. Teri Stelopterus sp Sepanjang pantai Julu, Kelong, dogol
Sumber: RTR Pesisir & pulau-pulau Kecil KAPET Perbatasan, 2003.
Potensi budidaya perikanan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan budidaya tambak,
sedangkan perikan budidaya yang ada di Kecamatan Sebatik adalah pemanfaatan hutan bakau
menjadi tambak. Konversi hutan bakau menjadi tambak di Pulau Sebatik seluas 114 hektar untuk
udang windu dan ikan bandeng. Potensi budidaya ini masih dapat berkembang apabila potensi hutan
mangrove dapat dipertahankan.
2.6. Prasarana Transportasi Perairan
Kabupaten Nunukan sebagian wilayahnya berada di daratan Kalimantan, dan sebagian lain berupa
pulau-pulau, sehingga modal transportasi yang dibutuhkan untuk menghubungkan wilayah-wilayah
tersebut adalah dengan transportasi air yang berupa :
(a) transportasi sungai; Jenis transportasi ini untuk menghubungkan daerah-daerah pedalaman
yang tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat.
(b) transportasi penyeberangan antar pulau; Jenis transportasi ini memegang peran sangat
penting di Kabupaten Nunukan dan Pulau Sebatik karena masih terbatasnya angkutan darat,
mengingat Kabupaten Nunukan wilayahnya lebih besar laut dibandingkan darat, disamping itu,
banyak pulau-pulau baik besar maupun kecil, sehingga moda transportasi yang paling cocok adalah
transportasi penyeberangan antar pulau. Selama ini moda transportasi ini diusahakan oleh masyarakat
yaitu untuk menghubungkan antara ibukota kabupaten dengan kota kecamatan, antar kota kecamatan,
serta hubungan ke luar daerah dan bahkan ke kota-kota pantai di Malaysia Timur.
(c) transportasi laut; Moda transportasi laut ini adalah untuk menghubungkan antar daerah, dan
di Kabupaten Nunukan sudah terdapat satu pelabuhan laut yang dapat disinggahi oleh kapal dengan
kapasaitas 4000 DWT. Secara rutin pelabuhan Nunukan disinggahi dan merapat kapal penumpang
PELNI ukuran besar seperti: KM Kerinci, Tidar, Awu dan Aga Mas, yang sebagian penumpangnya
merupakan penumpang transit menuju Tawau Sabah Malaysia Timur.
3. PENDEKATAN DAN METODE
3.1. Pendekatan Pengembangan Pulau Kecil Terluar berbasis Regionalisme
Dalam sistem pembangunan wilayah (regional) pulau kecil terluar [3] terdapat tiga komponen, yaitu :
1) sumberdaya penduduk, 2) kegiatan ekonomi dan pembangunan, dan 3) sistem transportasi. Saling
ketergantungan antar kegiatan ekonomi dan pembangunan ditinjau dari aspek produksi dan konsumsi
memainkan peranan yang fundamental dalam upaya menata struktur wilayah. Dalam perencanaan
sistem kewilayahan yang komprehensif, efektif dan lancar harus memahami dimensi pengembangan
wilayah pulau kecil terluar. Pulau kecil terluar memiliki hambatan-hambatan yang bersifat geografis,
demografis dan transportasi laut, sehingga cenderung tidak menguntungkan, mengakibatkan
ketertinggalan, keterisolasian atau keterpencilan dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya yang
memiliki kemudahan transportasi yang lebih tersedia dan lancar.
Terhadap pulau kecil terluar yang termasuk kawasan tertinggal atau terisolir, penanganannya tidak
dapat berdiri sendiri, tetapi dilakukan secara menyeluruh dalam arti harus dilakukan secara integral
dengan pengembangan wilayah-wilayah sekitarnya. Pada prinsipnya pengembangan wilayahnya
didasarkan pada pengembangan meliputi laut atau perairan dengan kondisi sistem di darat dan laut
sebagai satuan wilayah pengembangan.
Pengembangan wilayah pulau kecil terluar disini diartikan sebagai upaya pembangunan pada suatu
wilayah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya
seperti alam, manusia, kelembagaan, teknologi dan prasarana secara efektif, optimal dan
berkelanjutan dengan cara menggerakkan berbagai kegiatan produktif (sektor primer, sekunder dan
tersier), penyediaan fasilitas pelayanan (ekonomi dan sosial), penyediaan prasaranadan sarana serta
perbandingan lingkungan. Pengembangan wilayah dilakukan dengan menggunakan pendekatan
regionisme dimana masing-masing kawasan diidentifikasikan berbagai sektor unggulan yang
potensial untuk dikembangkan. Pengembangan wilayah pada berbagai pemanfaatan dan penggalian
berbagai sumberdaya unggulan kawasan yang dimiliki dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Peraturan Presiden No.78 Tahun 2005 merupakan payung hukum dalam rencana pengelolaan pulau-
pulau kecil secara terkoordinasi dan terintegrasi. Terintegrasi disini dimaksudkan bahwa dalam
pelaksanaannya penataan pulau-pulau terluar harus terintegrasi dengan kawasan-kawasan lainnya
yang masih terkait sebagai suatu regionisme.
Alamsyah (2006)[4] menyebutkan bahwa regionisme merupakan upaya mengatur atau menata
suatu region (wilayah), yang tidak hanya bersifat pasif namun juga memelihara yang mengada
(becoming) didalamnya. Konsep regionisme sangat cocok diterapkan pada pulau kecil terluar seperti
Pulau Sebatik ini, karena pandangan regionimse ini dapat didasarkan kepada kepentingan atau
kriteria tertentu. Sebagaimana Glasson[5] sampaikan dalamAn Introduction to Regional Planning,
bahwa pandangan objektif dalam mengkaji suatu region yang berdasarkan aspek alam atau geografis
serta aspek fisik lainnya akan berpengaruh kepada lingkungan manusianya.
3.2. Metodologi
Dalam rangka menyusun suatu konsep pengembangan Pulau Sebatik sebagai Pulau Kecil Terluar,
pendekatan Regionisme dapat diterapkan. Hal ini diputuskan karena sebagai suatu suatu region yang
memiliki sifat-sifat kewilayahan yang khusus, regionisme dalam Pulau Sebatik juga dikembangkan
sebagai upaya mendorong kesejahteraan masyarakatnya. Isard[6] dalamIntroduction to Regional
Science menyebutkan bahwa terdapat empat region dalam ilmu regionalisme, yaitu :
1. Region administratif (administrative region), yaitu region yang diidentifikasi berdasarkan
kepentingan administrasi pemerintahan atau politik,
2. Region homogen (homogenous region), yaitu region yang diidentifikasi berdasrkan
homogenitas unsur setempat,
3. Region berpusat (nodal region), yaitu region yang diidentifikasi berdasarkan hubungan
ketergantungan antara pusat pertumbuhan dengan daerah sekitarnya,
4. Region perencanaan (planning region atau programming region) yang diidentifikasi
berdasarkan kepentingan perencanaan kebutuhan fungsionalnya, sesuai dengan kebutuhan
yang cenderung bersifat sektoral dan spasial.
Dengan menganalisis keempat region tersebut diatas terhadap keberadaan Pulau Sebatik itu sendiri,
kita akan mendapatkan masukan dalam menyusun konsep pengembangan Pulau Sebatik sebagai
pulau kecil terluar yang terintegrasi dan berkelanjutan.
3.3. Data Pendukung
Data yang digunakan terdiri atas data sekunder yang diperoleh dari hasil-hasil studi yang berkaitan
dengan Pulau Sebatik dan wilayah sekitarnya. Data sekunder yang digunakan dalam studi ini antara
lain :
Kebijaksanaan pembangunan daerah,
Rencana Pemanfaatan ruang, baik regional maupun sektoral,
Pelaporan statistik tahunan Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan,
Data ekosistem pesisir,
Data Oseanografi, baik fisik maupun ekologi,
Sistem prasarana transportasi (rencana pengembangan pelabuhan udara dan laut), dan
Rencana pengembangan infrastruktur lainnya (energi, telkom dan air minum),
4. ANALISIS REGION PULAU SEBATIK
4.1. Isu dan Permasalahan
Secara umum permasalahan pengembangan kawasan perbatasan Pulau Sebatik disajikan seperti tabel
berikut;
Tabel 4
Potensi dan Permasalahan Kawasan Perbatasan Pulau Sebatik
No. Sektor/Aspek Potensi Masalah
1.
Kedudukan dalam
sistem ruang
(Kondisi &
kebijakan)
Dalam lingkup wilayah nasional
merupakan kawasan andalan laut
Terpencil dari sistem ruang daratan &
pelayanan transportasi rendah
Dalam lingkup P. Kalimantan &
Propinsi merupakan andalan laut
Terpencil dari sistem ruang daratan &
pelayanan transportasi rendah
Dalam lingkup Kabupaten
merupakan pusat produksi
pertanian & perikanan Peran yang belum terpenuhi
2. Transportasi
Terdapat jalur pelayaran pertintis
dan tradisional Pelabuhan dan dermaga kurang memadai
Berdekatan dengan Jalur ALKI
II
Belum banyak kapal-kapal niaga yang
singgah di Nunukan apalagi Sebatik
3. Pergerakan Barang Tujuan pergerakan barang
Barang keluar kurang, namun barang
masu kjustru banyak dari Tawau
4. Sumberdaya lahan
Terdapat potensi galian C
Tingginya biaya eksplorasi tambang yang
ada
Lahan pertanian belum optimal
dieksploitasi Kurangnya prasarana pertanian
5. Sumberdaya air Terdapat mata air & sungai Debit kecil
6.
Sumberdaya
Kelautan Daerah penangkapan ikan
Penangkapan ikan masih semi tradisional
Rendahnya dukungan dan keberadaan
No. Sektor/Aspek Potensi Masalah
pelabuhan perikanan
7. Pariwisata
Terdapat taman Nasional, pantai
bapsir,hutan mangrove
Prasarana & sarana tidak ada
Obyek wisata bahari belum dipasarkan
dan dikembangkan secara terpadu
8.
Sumberdaya
manusia
Jumlah & kepadatan penduduk
rendah, banyak yang keluar pulau
Kualitas SDM rendah & cenderung
menurun serta budaya yang cenderung
konflik
9.
Sistem
permukiman
Terdapat pusat permukiman &
pelayanan
Akses antar pusat rendah &
sarana/prasarana permukiman rendah
10. Transpportasi
Terdapat prasarana transportasi
darat & laut
Frekuensi pelayaran rendah & kondisi
jalan buruk
11.
Pembiayaan
pembangunan

PAD Rendah
12. Kelembagaan Potensi lembaga kecamatan
SDM & sistem kelembagaan kecamatan
kurang memadai
Sumber: Identifikasi Isu dan Permasalan, 2009
4.2. Arahan Kebijakan Pulau Sebatik
Secara garis besar, keberadaan Pulau Sebatik sebagai pulau kecil terluar di Indonesia diarahkan
kedalam tatanan kebijakan regional dan kebijakan sektoral. Dasar-dasar hukum yang menjadi
landasan dalam pengembangan regionisme Pulau Sebatik terdiri dari :
Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Undang-undang No. 47 tahun 1999, tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan.
Undang-undang No. 26 tahun 2007, tentang Penataan Ruang.
Undang-undang No. 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.
Undang-undang No. 23 tahun 1997, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Undang-undang No. 9 tahun 1985, tentang Perikanan.
Undang-undang No.9 tahun 1990, tentang Pariwisata.
Undang-undang No. 43 tahun 1999, tentang Kehutanan.
Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden yang berkaitan yaitu;
Peraturan Pemerintah No. 78 tahun 2005, tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar.
Keputusan Presiden No. 57 tahun 1982, tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan
Pengendalian didaerah.
Keputusan Presiden No.25 tahun 2000, tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
Keputusan Presiden No. 28 tahun 1990, tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Peraturan Pemerintah No.10 tahun 2000, tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan
Ruang Wilayah.
Permendagri No. 09 tahun 1982, tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan
Pengendalian di Daerah.
Permendagri No. 1 tahun 2006 Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah.
Keputusan Presiden No.62 tahun 2000, tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999, tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Sementara produk-produk hukum di daerah yang berkaitan dan menjadi landasan hukum
pembangunan daerah;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 20062010 Pemerintah Kabupaten
Nunukan.
Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KAPET Perbatasan Kabupaten Nunukan.
Rencana Tata Ruang Wilayah baik Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur, maupun
Pemerintah Kabupaten Nunukan.
4.2.1. Analisis Kebijakan Regional
Dalam kebijakan regional, sesuai dengan payung hukum Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Perikanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau
Kecil Terluar, maka pengelolaan pulau-pulau kecil terluar pada hakekatnya diarahkan melalui
tatanan ruang Nasional yang bersifat struktural. Oleh karenanya pengelolaan Pulau Sebatik sebagai
sebuah pulau kecil di kawasan terluar Indonesia harus disiapkan berada dalam struktur ruang
kelautan nasional, dimana distribusi dan alokasi ruang pesisir dan laut akan bersifat indikatif sesuai
dengan kewenangan pengelolaan dan kriteria pemanfaatannya.
Tata ruang kelautan nasional pada dasarnya meliputi ruang kelautan, yakni ruang yang terkait dengan
fungsi-fungsi pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa lingkungan kebaharian; perlindungan
ekosistem pesisir dan laut; pusat-pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa kebaharian; serta
pertahananan dan keamanan wilayah nasional. Dalam melangsungkan fungsinya, maka pesisir dan
laut Pulau Sebatik dapat berperan sebagai kawasan budidaya, kawasan lindung, atau kawasan
tertentu.
RTRW Nasional juga menyebutkan bahwa kawasan pesisir dan laut dapat ditetapkan sebagai
kawasan tertentu laut jika memiliki satu atau lebih ciri-ciri yaitu kawasan tertentu cepat tumbuh;
kawasan tertentu potensial berkembang; kawasan tertentu sangat tertinggal; kawasan tertentu kritis
lingkungan; kawasan tertentu perbatasan; dan kawasan tertentu pertahanan keamanan negara.
Khusus untuk ruang laut yang berfungsi sebagai kawasan tertentu cepat tumbuh; kawasan tertentu
potensial berkembang; dan kawasan tertentu sangat tertinggal, maka ruang laut akan selalu terkait
dengan ruang darat di sekitarnya yang dapat menghasilkan tingkat kinerja mengenai kondisi sosial-
ekonomi masyarakat; produktifitas sektor; serta indikator kemasyarakatan lainnya. Sedang untuk
ruang laut yang berfungsi sebagai kawasan tertentu kritis lingkungan; kawasan tertentu perbatasan;
dan kawasan tertentu pertahanan keamanan negara dapat mencakup kawasan laut semata. Secara
konseptual, ruang kelautan bagi perencanaan Pulau Sebatik dapat digambarkan sebagai seperti
terlihat pada Peta dihalaman berikut.
4.2.2. Analisis Kebijakan Sektoral
Dengan berlangsungnya otonomi daerah melalui Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, maka penataan ruang wilayah pesisir dan laut di Pulau Sebatik akan didasarkan
kepada hirarki kewenangan menurut berbagai tingkatan, baik pada skala nasional, Propinsi
Kalimantan Timur, maupun Kabupaten Nunukan. Karena itu wilayah pesisir dan laut di Pulau
Sebatik harus dikembangkan sebagai satu kesatuan ekosistem yang dinamis dan peka terhadap suatu
perubahan. Konsep pengelolaan Pulau Sebatik yang direncanakan harus memperhatikan dampak
terhadap lingkungan pesisir dan lautnya, yang sebaliknya akan mempengaruhi aktifitas manusia di
Pulau Sebatik tersebut.
Sedangkan dalam arahan yang terkait dengan konsepsi pengelolaan Pulau Sebatik, RPJM 2006
2010 Pemerintah Kabupaten Nunukan, Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KAPET
Perbatasan Kabupaten Nunukan dan RTRW baik Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur, maupun
Pemerintah Kabupaten Nunukan, mengisyaratkan akan tidak hanya memandang wilayah pesisir dan
laut sebagai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan, namun fungsi perlindungannya bagi
ekosistem yang lebih luas.
Ekosistem mangrove memiliki fungsi sebagai peredam gelombang dan angin, penahan lumpur dan
sedimen, penghasil detritus, nursery ground, feeding ground, spawning ground, dan penghasil bahan
organik bagi biota lain. Demikian juga terumbu karang yang memiliki fungsi lindung yang sejenis
dengan ekosistem mangrove serta memiliki produktifitas organik dan keanekaragaman hayati lebih
tinggi dibandingkan ekosistem lainnya. Selain itu, beberapa bagian wilayah pesisir dan laut telah
menunjukkan kualitas lingkungan yang menurun akibat pencemaran, peralihan penggunaan lahan,
pemanfaatan sumberdaya alam kelautan secara berlebih, sedimentasi dan abrasi, maupun bencana
alam.
Dalam konteks tersebut, maka konsep pengelolaan Pulau Sebatik akan mencakup juga kawasan
lindung yang merupakan perwujudan ruang bagi kegiatan yang menunjang fungsi lindung kawasan
kelautan tertentu Pulau Sebatik yang memiliki kepentingan skala internasional dan nasional dari segi
regionisme.
4.3. Analisis Pengembangan Multiple Nucley
Pola pengembangan pusat-pusat pelayanan yang tersebar merata ke seluruh Pulau Sebatik akan
membentuk pola multiple nucley. Dengan demikian diharapkan orientasi kegiatan penduduk tidak
terpusat (terkonsentrasi) di pusat pulau (Kecamatan Tanjung Karang) saja, akan tetapi menyebar ke
pusat-pusat pelayanan yang dikembangkan di masing-masing lingkungan atau pada setiap pulau.
Pengembangan pusat-pusat kegiatan yang dengan konsep multiple nucley akan dihubungkan oleh
sistem jaringan transportasi laut, sehingga membentuk suatu kesatuan yang saling terintegrasi dan
mudah dijangkau dari seluruh bagian wilayah pulau.
Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka rencana pengembangan struktur pusat-pusat
pelayanan di Pulau Sebatik dibuat secara hirarki dan ditempatkan secara berjenjang dan terpadu
sesuai skala pelayanannya, yang masing-masing mempunyai keterkaitan fungsional. Dengan
demikian hirarki pusat-pusat pelayanan yang perlu dikembangkan di Pulau Sebatik dapat dibagi atas:
1. Pusat Pengembangan Primer atau Pusat Pelayanan Utama, dengan skala pelayanan
Kabupaten dan regional yang akan ditempatkan pada wilayah yang staregis dan mempunyai
aksesibilitas baik dan perkembangannya disesuaikan dengan daya dukung sektor perikanan
dan kelautan, wilayahnya adalah kecamatan Sebatik Timur dengan pusat pengembangannya
adalah Sungai Sei Nyamuk, dan pengembangan di sektor: pemerintahan, perikanan tangkap,
industri perikanan, pusat pemasaran produk-produk perikanan, sektor jasa kelautan
(pelabuhan penumpang, pelabuhan pendaratan ikan), dan pariwisata, serta sektor pertahanan
2. Pusat Pengembangan sekunder atau Sub Pusat Pelayanan Utama, merupakan pusat pelayanan
atau pengembangan sekunder yang dialokasikan tersebar merata ke setiap desa dengan skala
pelayanan sekunder, yang pengembangannya disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan
prasarana perikanan dan daya dukung sumberdaya pesisir dan laut. Wilayahnya adalah
Sungai Panjang, Tanjung Aru, Tanjung Karang, dan Bambangan, dengan pengembangan di
sektor: perikanan tangkap, industri perikanan, pemasaran produk perikanan, jasa kelautan
(pelabuhan penumpang) dan pariwisata.
3. Pusat Pengembangan Lokal atau Pusat Pelayanan Lingkungan Pemukiman, yaitu merupakan
suatu pusat orientasi pelayanan kebutuhan penduduk yang berada di setiap desa di Pulau
Sebatik mempunyai 18 Kampung, yang wilayah pengembangannya meliputi kampung:
Sungai Lembo, Mospul, Sinjai, Kampung Baru, Tanjung Kecil, Balansiku, Setabu, Lapio,
Mantikas, Binalawan, Londes, dengan pengembangannya disektor: perikanan tangkap,
perikanan budidaya, industri perikanan, jasa kelautan (tambatan perahu), wisata bahari.
Dengan pembagian pengembangan struktur ruang Pulau Sebatik berdasarkan multiple nuclei
tersebut, diharapkan pembangunan Pulau Sebatik sebagai pulau terluar akan dapat :
1. Memiliki kesesuaian dengan rencana struktur tata ruang yang lebih makro,
2. Memacu pertumbuhan dan mewujudkan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Pulau
Sebatik melalui penyebaran pusat dan sub pusat pelayanan atau pengembangan pulau secara
berjenjang dengan pola multiple nucley, sehingga seluruh bagian pulau dapat terlayani.
3. Mendayagunakan sarana pelayanan atau pengembangan pulau yang penyebarannya
dilakukan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pelayanan.
Menciptakan interaksi yang kuat antara pusat dan sub pusat pengembangan atau pelayanan pulau
melalui pengaturan sistem jaringan transportasi.
4.4. Analisis Regionisme Pulau Sebatik
Sebagai suatu region yang memiliki sifat-sifat kewilayahan yang khusus, pengembangan regionisme
Pulau Sebatik dilakukan melalui 4 pendekatan sebagai berikut yaitu :
4.4.1. Region administratif
Konsep pengembangan region administratif ini, secara umum lebih menitikberatkan pada pandangan
bahwa pengembangan Pulau Sebatik kedepan akan diarahkan sebagai satu kesatuan ekonomi dengan
wilayah lain di luar wilayah pulau terutama wilayah yang berbatasan dengan Pulau Sebatik. Secara
region administratif dapat dilihat bahwa salah satu fungsi Pulau Sebatik merupakan fungsi
pemerintahan. Dengan menggunakan konsep pengembangan Pulau Sebatik sebagai pulau kecil
terluar ini, pengembangan Pulau Sebatik tidak hanya akan berasal dari dalam wilayah administrasi
Pulau Sebatik saja (pusat pemerintahan), tetapi juga diharapkan adanya pengaruh (dampak) dari
perkembangan pusat-pusat pertumbuhan di luar Pulau Sebatik (simpul pertumbuhan).
Berdasarkan orientasi dan hubungan ekonomi yang telah lama terjalin (melalui pelayaran/pola
penangkapan ikan tradisional), maka di Pulau Sebatik terdapat 1 (satu) kawasan laut-pulau, yaitu :
Kawasan Laut-Pulau Sulawesi, termasuk didalamnya Selat Sebatik, laut Sulawesi.
Dengan adanya hubungan tersebut, diharapkan dapat memacu pertumbuhan pusat-pusat pertumbuhan
di Pulau Sebatik. Pusat-pusat pertumbuhan yang telah berkembang di luar wilayah administrasi
Pulau Sebatik, dapat dijadikan pasar bagi produksi Pulau Sebatik (pengembangan Pulau Sebatik
tidak hanya tergantung pada satu kolektor saja).
4.4.2. Region homogen
Pulau-pulau perbatasan NKRI termasuk Pulau Sebatik yang sebagian pulaunya berbatasan dengan
Malaysia, umunya berpenghuni. Masyarakat pulau perbatasan biasanya memiliki polarisasi yang
majemuk yang umumnya terdiri dari masyarakat penduduk asli dan pendatang. Penduduk asli di
Pulau Sebatik adalah etnis Tidung. Penduduk pendatang di Pulau Sebatik adalah nelayan yang
berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Masyarakat penduduk asli memiliki pola hidup dan karakteristik budaya dan pola nafkah yang unik.
Demikian pula masyarakat pendatang mempertahankan nilai-nilai leluhurnya sekalipun telah
mengalami proses akulturasi dengan masyarakat penduduk asli. Namun demikian, antara masyarakat
pendatang dan penduduk asli seringkali menimbulkan konflik baik secara sosial maupun budaya.
Apalagi penduduk asli di pulau-pulau perbatasan juga seringkali berinteraksi dengan masyarakat di
negara tetangga terdekat maupun para pegiat dari lembaga-lembaga internasional yang melakukan
aktivitas pemberdayaan maupun rehabilitasi sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan demikian
kondisi ini akan berimplikasi terhadap budaya masyarakat lokal di pulau-pulau kecil dan
pengetahuan masyarakat lokal itu sendiri.
Peluang terjadinya hibridisasi budaya (Culture Hybridization) meminjam teori Escobar[7] sangat
mungkin terjadi di pulau-pulau kecil perbatasan. Hal dapat terjadi karena saat ini pulau-pulau kecil di
perbatasan seperti Pulau Sebatik banyak faktor-faktor lingkungan maupun ekonomi yang berbeda
karakter dan basis budaya hidup dan berdampingan di pulau kecil khususnya di pulau perbatasan.
Persoalan ini harus dicarikan solusinya, sehingga problem masyarakat di pulau-pulau perbatasan
seperti masyarakat Sebatik dapat diselesaikan.
Masyarakat Sebatik saat ini dihadapkan pada problem kemiskinan, kesenjangan ekonomi,
keterisolasian dan kesenjangan dengan negara tetangga yang berbatasan. Problem ini membutuhkan
upaya penanggulangan yang komprehensif, sehingga berbeda dengan pulau-pulau kecil lainnya.
Penanggulangan komprehensif yang dimaksud mencakup semua aspek kehidupan dan sumberdaya
alam yang ada di wilayah tersebut.
4.4.3. Region berpusat
Selama ini, penentuan pusat pengembangan suatu kawasan atau wilayah lebih berorientasi kepada
kriteria atau indikator pusat pengembangan yang berorientasi di wilayah daratan. Penentuan pusat
pengembangan di Pulau Sebatik akan mempunyai kriteria atau indikator yang berbeda dengan
wilayah daratan karena adanya perbedaan karakteristik antara wilayah daratan dengan wilayah pesisir
dan laut.
Penentuan pusat-pusat pengembangan di Pulau Sebatik, khususnya di wilayah laut dan pesisir ini
merupakan bagian dari proses perencanaan ruang (region planning). Penentuan pusat-pusat
pengembangan ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam memformulasikan konsep pengembangan
Pulau Sebatik yang terpadu, sehingga lokasi yang ditetapkan sebagai pusat pengembangan
merupakan penggerak kegiatan bagi kawasan-kawasan lain disekitarnya atau bahkan berpengaruh
pada wilayah yang lebih luas. Selain itu, karakteristik khusus dari Pulau Sebatik sebagai kawasan
perbatasan juga akan mempengaruhi dasar pertimbangan dalam memformulasi konsep
pengembangan Pulau Sebatik berbasis regionisme.
Konsep pengembangan Pulau Sebatik ini juga bertujuan untuk menyusun suatu kebijakan dalam
rangka pengambilan keputusan guna menetapkan wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sehingga dapat memberikan trickling down effect kepada wilayah di sekitarnya,
serta secara makro dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional
serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Sebatik.
4.4.4. Region perencanaan
Konsep perencanaan pengembangan Pulau Sebatik disusun berdasarkan karakteristik letak geografis
terhadap wilayah sekitar dan adanya keterkaitan fungsional di bidang ekonomi, sosial, dan
pemerintahan dengan wilayah di luarnya. Beberapa pertimbangan dalam pengembangan yang
mendasari pembentukan konsep tersebut dalam konteks antar pulau adalah :
1) Kondisi fisik geografis wilayah perbatasan pulau Sebatik dan wilayah sekitarnya yang
merupakan wilayah pulau-pulau mencakup pulau besar (Nunukan) dan pulau-pulau kecil di
sekitarnya,
2) Letak dan posisi kawasan perbatasan Pulau Sebatik yang secara regional berada di bagian Utara
Kabupaten Nunukan dan sebelah selatan dari wilyah Sabah (Malaysia) merupakan posisi yang
menguntungkan dan strategis bagi pengembangan wilayah. Kedudukan ini dapat menciptakan
peranan dan fungsi wilayah di lingkup eksternal,
3) Penyediaan sistem transportasi wilayah secara keseluruhan yang memegang peranan penting
dalam melayani pergerakan eksternal baik transportasi laut maupun udara.
Regionisme perencanaan pada Pulau Sebatik secara umum memiliki karakteristik sebagai berikut:
Desentralisasi pembangunan sektor kelautan dan perikanan disetiap Region dengan
mempertimbangkan potensi sumberdaya alam kelautan, sumberdaya binaan, dan sumberdaya
manusia setempat, serta upaya pelestarian lingkungan di setiap region,
Menciptakan hirarki fungsional secara vertikal untuk mencapai efisiensi kinerja investasi,
pemanfaatan peluang pasar yang kompetitif, serta peluang untuk membangun kerjasama
horisontal secara regional dan internasional yang saling menguntungkan.
Menciptakan kerjasama antar wilayah dalam upaya mengoptimalkan eksploitasi sumberdaya
kelautan dan perikanan.
Selain itu, pusat-pusat pengembangan di kawasan perbatasan pulau dapat diindikasikan oleh
berkembangnya suatu kawasan atau wilayah yang menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi, pusat-pusat
pelayanan jasa dan pusat-pusat transportasi laut.
5. KONSEP PEMBANGUNAN PULAU SEBATIK BERBASIS REGIONISME
Banyak negara menetapkan balanced development (pembangunan seimbang) sebagai strategi
pembangunannya. Ditinjau dari hasil analisis region, strategi pengembangan seimbang tepat untuk
diterapkan pada wilayah-wilayah terluar yang tertinggal sehingga dapat berkembang lebih cepat.
Dalam konteks ini, seimbang berarti keserasian dalam laju pertumbuhan antar wilayah.
Pembangunan Pulau Sebatik dalam rangka memeratakan pembangunan diwilayah perbatasan
diharapkan dapat mendorong partisipasi dan keterlibatan masyarakat di Pulau Sebatik dalam proses
pembangunan.
Pembangunan berbasis regionisme antar pulau akan dapat mengembangkan daya tumbuh yang kuat
yang terdapat dalam kawasan tersebut dan dapat pula mendorong perkembangan kawasan-kawasan
lainnya yang masih tertinggal, dalam hal ini adalah Pulau Sebatik. Dalam linkages ini perlu
digairahkan kerjasama antar wilayah secara menguntungkan (mutual benefit). Hal ini berarti bahwa
produksi dan usaha-usaha pembangunan wilayah dikaitkan dengan keuntungan komparatif.
Keterkaitan (interelationship) dan ketergantungan (interdependancy) antar region dapat diperlihatkan
dari jaringan arus antar regin (termasuk didalamnya arus perdagangan. Sedangkan untuk hubungan
perdagangan antar negara, arus perdagangan tidak dapat berlangsung berdasarkan keuntungan
ekonomi secara mutlak (absolute advantage) saja, namun juga berdasarkan keuntungan politis dan
sosial juga.
Konsep pembangunan Pulau Sebatik berbasis regionisme ini juga termasuk kerangka kebijakan
pembangunan ekonomi yang mengelompokkan lingkungan teritorial menjadi sub-sub wilayah yang
homogen.
6. USULAN REKOMENDASI
Dalam upaya mencapai pengembangan Pulau Sebatik yang terintegrasi dan berkelanjutan,
dirumuskan usulan rekomendasi sebagai berikut :
1. Peningkatan hubungan keterkaitan ekonomi dan ruang antara Pulau Sebatik dengan pulau-
pulau di Kabupaten Nunukan serta dengan daerah luarnya antara lain dengan Tawau
(Malaysia) dan Tarakan, bahkan dengan Pulau Sulawesi.
2. Pengembangan prasarana wilayah untuk mendukung pesatnya pertumbuhan penduduk serta
potensi kedudukan yang cukup strategis sehingga dapat berperan sebagai pintu masuk-keluar
Indonesia-Malaysia serta dalam menciptakan hubungan/keterkaitan ekonomi dan spasial
dengan daerah luarnya.
3. Pengembangan transportasi yang diprioritaskan untuk membentuk transportasi laut yang
dapat menghubungkan transportasi antar pulau dalam mendukung hubungan antar region.