Anda di halaman 1dari 109

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)


DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN HIMPUNAN
PADA SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 4 JUWANA PATI
TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011

SKRIPSI
Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan


Disusun Oleh :
Dessy Puspita Sari
07310101

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2011



LEMBAR PERSETUJUAN


Kami selaku pembimbing I dan pembimbing II dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang:
Nama : Dessy Puspita Sari
NPM : 07310101
Jurusan : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan
Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasail
Belajar Pokok Bahasan Himpunan Pada Siswa Kelas VII B SMP
Negeri 4 Juwana Pati Tahun Pelajaran 2010/2011.
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang telah dibuat oleh mahasiswa tersebut di atas telah
selesai dan siap untuk diujikan.


Semarang, Mei 2011
Pembimbing I, Pembimbing II


Dra. Intan Indiati, M. Pd. Drs. Sudargo, M. Si.
NIP. 19610429 198603 2 002 NIP. 19601113 199203 1 001






HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi berjudul Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan Pendekatan
Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Pokok Bahasan
Himpunan Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Juwana Pati Tahun Pelajaran
2010/2011, yang ditulis oleh Dessy Puspita Sari telah dipertahankan di hadapan Sidang
Panitia Ujian Skripsi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP
PGRI Semarang, pada
hari : Jumat
tanggal : 17 Juni 2011
Panitia Ujian,
Ketua, Sekretaris,

Drs. Nizaruddin,M.Si Drs. Rasiman,M.Pd
NIP. 196803251994031004 NIP. 195602181986031001
Anggota Penguji,
1. Dra. Intan Indiati, M. Pd ( )
NIP. 196104291986032002
2. Drs. Sudargo, M. Si ( )
NIP. 196011131992031001
3. Achmad Buchori, S. Pd., M. Pd ( )
NPP. 098101246

ABSTRAK

Dessy Puspita Sari, 2011. Penelitian Tindakan Kelas ini berjudul Penerapan Model
Pembelajaran Cooperative Learning Tipe CIRC dengan Pendekatan Kontekstual Untuk
Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Pokok Bahasan Himpunan Pada Siswa Kelas VII
B SMP Negeri 4 Juwana Pati Tahun Pelajaran 2010/2011.
Latar belakang dari penelitian ini adalah persepsi sebagian besar siswa yang
menganggap matematika sebagai hal yang menakutkan. Hal ini perlu dirubah untuk
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Untuk merubah persepsi tersebut, peneliti
mencoba menerapkan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran
CIRC dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar bagi
siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Juwana Pati pada materi pokok himpunan. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa di kelas VII B
SMP Negeri 4 Juwana Pati melalui penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan
kontekstual saat proses belajar mengajar di kelas.
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 4
Juwana Pati dengan jumlah siswa 40 yang terdiri dari 16 siswa putri dan 24 siswa putra.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tipe
CIRC dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditandai
dengan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I prestasi siswa menunjukkan rata-
rata kelas sebesar 65,2 dengan ketuntasan belajar 70% sedangkan pada siklus II prestasi siswa
menunjukkan rata-rata kelas sebesar 80,15 dengan ketuntasan belajar 87,5%. Pelaksanaan
pembelajaran kooperatif tipe CIRC juga dapat meningkatkan kemampuan aktivitas dan
kerjasama siswa:
a. Meningkatnya rata-rata aktivitas siswa dari siklus I yaitu 73,82% yang menunjukkan
masih di bawah indikator keberhasilan menjadi 84,75% di siklus II yang sudah memenuhi
indikator keberhasilan.
b. Meningkatnya rata-rata tingkat kerjasama siswa dari 74,7% yang masih di bawah
indikator keberhasilan pada siklus I menjadi 83,45% yang sudah memenuhi indikator
keberhasilan pada siklus II.
Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran cooperative
learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar dan
keaktifan pokok bahasan himpunan siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Juwana Pati tahun
pelajaran 2010/2011.
Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan kesimpulan tersebut adalah sebaiknya
model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual
diterapkan dalam pembelajaran karena terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar siswa.
Kata kunci : penerapan, pembelajaran, keaktifan, hasil belajar.








MOTTO DAN PERSEMBAHAN



MOTTO
Apa yang kita kerjakan dengan tekun menjadi lebih mudah bukan karena sifat tersebut berubah,
tetapi karena kemampuan kita untuk bekerja telah meningkat.
Semangat dan ketekunan dapat membuat orang yang biasa-biasa menjadi lebih unggul, tetapi
ketidakacuhan dan kelesuan dapat membuat orang yang lebih unggul menjadi biasa-biasa saja.
Selalu berharap pada Tuhan tidak akan pernah mengecewakan karena Allah senantiasa turut bekerja
dalam segala hal yang kita lakukan untuk mendatangkan yang terbaik dari segala yang baik.
PERSEMBAHAN
Skripsi ini spesial ku persembahkan untuk :
Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberi yang terbaik buatku.
Bapak dan ibuku tersayang, Bari dan Rini yang telah membimbingku dan memberikan kasih sayang,
dukungan moril dan materiil serta doa yang tulus untukku.
Adikku tercinta, Berlina yang selalu membuatku tersenyum dengan sikap-sikapnya yang lucu.
Mbak Paris yang telah memberi motivasi dan membimbingku dengan sabar dalam penyelesaian
skripsi ini.
My best friend yaitu Natalia, Yeni, Bekti yang menghiburku di saat aku sedang sedih dan saatku
membutuhkan dukungan, semoga kita semua tetap menjadi sahabat selamanya.
Teman-temanku Dewi, Endra, Nia, Sonah, Farida, Zulfiana serta semuanya yang tergabung dalam
kelas C angkatan 2007 yang selalu bahagia dan kompak dalam kondisi bagaimanapun, semoga sukses
selalu.
Teman-teman satu angkatan IKIP PGRI SEMARANG.
Teman-temanku kost Trie_D yang selalu ceria dan membuatku tersenyum.
Teman-teman PPL di SMP Kristen Gergaji Semarang dan teman-teman KKN di Kecamatan
Banyumanik Kelurahan Pudak Payung..





KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan
karunia yang diberikan pada penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang
berjudul Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dengan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan
Keaktifan dan Hasil Belajar Pokok Bahasan Himpunan pada Siswa Kelas VII B SMP N 4
Juwana Pati Tahun Pelajaran 2010/2011. Penulis menyadari bahwa skripsi ini terwujud
bukan semata-mata hasil kerja penulis sendiri, melainkan atas bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat:
1. Muhdi, S.H, M.Hum. selaku Rektor IKIP PGRI Semarang yang telah berkenan
memberikan kesempatan penulis dalam menyelesaikan Program Sarjana.
2. Drs. Nizaruddin, M.Si. selaku Dekan FPMIPA IKIP PGRI Semarang.
3. Drs. Rasiman, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika IKIP PGRI
Semarang.
4. Dra. Intan Indiati, M.Pd. Selaku Pembimbing I pada penulisan skripsi ini dan juga
sebagai seseorang yang telah memberikan ide, bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
5. Drs. Sudargo, M.Si selaku Pembimbing II pada penulisan skripsi ini yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
6. Susanto, S.Pd selaku kepala sekolah SMP Negeri 4 Juwana Pati yang telah memberikan
ijin melaksanakan penelitian ini.
7. Ruswanti, S.Pd selaku guru bidang studi matematika yang telah membantu pelaksanaan
penelitian ini.

8. Teman-teman jurusan pendidikan matematika khususnya kelas C angkatan 2007, sahabat-


sahabat orang tua dan keluarga penulis yang telah banyak memberikan bantuan materiil
maupun spiritual sehingga penulis dapat melakukan penelitian ini.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam
penyusunan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dpaat bermanfaat dan dapat memperluas wawasan pembaca
terutama dalam bidang pendidikan.

Semarang, Mei 2011


Penulis
























DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
ABSTRAKSI.. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN... v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI.viii
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang. 1
B. Penegasan Istilah.. 4
C. Permasalahan... 7
D. Strategi Pemecahan Masalah.7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian.................... 8
F. Sistematika Penulisan Skripsi.....10
BAB II LANDASAN TEORI.12
A. Pengertian Belajar...... 12
B. Prinsip-Prinsip Belajar... 14
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar... 16
D. Pembelajaran Matematika.. 23
E. Hasil Belajar...25
F. Keaktifan Siswa. 31
G. Model Pembelajaran Kooperatif.... 33
H. Model Cooperative Learning Tipe CIRC.. 36
I. Pembelajaran Kontekstual..41
J. Uraian Materi Tentang Himpunan..45
K. Kerangka Berpikir...56
L. Hipotesis Tindakan.58
BAB III METODE PENELITIAN.. 59
A. Lokasi dan Subyek Penelitian.... 59

B. Faktor Penelitian 59
C. Rancangan Penelitian..... 60
D. Data dan Cara Pengambilan Data...68
E. Uji Instrumen..68
F. Analisis Data.. 74
G. Indikator Keberhasilan... 77
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 79
A. Persiapan penelitian... 79
B. Uji Coba Instrumen 80
C. Pelaksanaan Penelitian... 91
D. Pembahasan...106
BAB V PENUTUP... 110
A. Kesimpulan.. 110
B. Saran.111
DAFTAR PUSTAKA





















DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Nama Kelas Uji Coba
Lampiran 2 Daftar Nama Kelas Penelitian
Lampiran 3 Kisi-Kisi Soal Uji Coba Siklus I
Lampiran 4 Soal Uji Coba Siklus I
Lampiran 5 Kunci Jawaban Soal Uji Coba Siklus I
Lampiran 6 Tabel Uji Instrumen Siklus I
Lampiran 7 Tabel Bantu Siklus I
Lampiran 8 Tabel Bantu 2 Siklus I
Lampiran 9 Perhitungan Validitas Siklus I
Lampiran 10 Perhitungan Reliabilitas Siklus I
Lampiran 11 Perhitungan Daya Pembeda Soal Siklus I
Lampiran 12 Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal Uji Coba Siklus I
Lampiran 13 Penentuan Butir Soal Yang Digunakan Kelas Penelitian Siklus I
Lampiran 14 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I
Lampiran 15 Soal Tes Evaluasi Siklus I
Lampiran 16 Kunci Jawaban Tes Evaluasi Siklus I
Lampiran 17 Lembar Observasi Keaktifan Siswa Siklus I
Lampiran 18 Hasil Tes Siklus I
Lampiran 19 Soal Diskusi Kelompok Siklus I
Lampiran 20 Kunci Jawaban Soal Diskusi Siklus I
Lampiran 21 Daftar Nama Kelompok Siklus I
Lampiran 22 Lembar Observasi Kerja Sama Siswa Siklus I
Lampiran 23 Lembar Observasi Kelompok Siklus I
Lampiran 24 Nilai Hasil Diskusi Siklus I

Lampiran 25 Daftar Angket Penilaian Sikap Siswa Siklus I


Lampiran 26 Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I
Lampiran 27 Kisi-Kisi Soal Uji Coba Siklus II
Lampiran 28 Soal Uji Coba Siklus II
Lampiran 29 Kunci Jawaban Soal Uji Coba Siklus II
Lampiran 30 Tabel Uji Instrumen Siklus II
Lampiran 31 Tabel Bantu Siklus II
Lampiran 32 Tabel Bantu 2 Siklus II
Lampiran 33 Perhitungan Validitas Siklus II
Lampiran 34 Perhitungan Reliabilitas Siklus II
Lampiran 35 Perhitungan Daya Pembeda Soal Siklus II
Lampiran 36 Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal Uji Coba Siklus II
Lampiran 37 Penentuan Butir Soal Yang Digunakan Kelas Penelitian Siklus II
Lampiran 38 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II
Lampiran 39 Soal Tes Evaluasi Siklus II
Lampiran 40 Kunci Jawaban Tes Evaluasi Siklus II
Lampiran 41 Lembar Observasi Keaktifan Siswa Siklus II
Lampiran 42 Hasil Tes Siklus II
Lampiran 43 Soal Diskusi Kelompok Siklus II
Lampiran 44 Kunci Jawaban Soal Diskusi Siklus II
Lampiran 45 Daftar Nama Kelompok Siklus II
Lampiran 46 Lembar Observasi Kerja Sama Siswa Siklus II
Lampiran 47 Lembar Observasi Kelompok Siklus II
Lampiran 48 Nilai Hasil Diskusi Siklus II
Lampiran 49 Daftar Angket Penilaian Sikap Siswa Siklus II

Lampiran 50 Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus II


Lampiran 51 Tabel r Product Moment
Lampiran 52 Tabel distribusi t






































BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat didukung oleh
arus globalisasi yang hebat memunculkan adanya persaingan dalam berbagai bidang
kehidupan, salah satu diantaranya bidang pendidikan. Pendidikan sebagai suatu upaya
untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdedikasi tinggi
memerlukan suatu pendukung yaitu kiat dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang komplek. Peristiwa
tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antara manusia, sehingga manusia itu
tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Manusia tumbuh melalui belajar dan proses
kegiatannya tidak terlepas dari kegiatan belajar. Dalam proses kegiatan belajar mengajar
yang perlu mendapat perhatian adalah berusaha mengacu pada ketiga ranah, yaitu: ranah
pengetahuan (kognitif), ranah nilai atau sikap (afektif), dan ranah keterampilan
(psikomotorik).
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting
dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih lanjut matematika dapat
memberi bekal kepada siswa untuk menerapkan matematika dalam berbagai keperluan.
Akan tetapi persepsi negatif siswa terhadap matematika tidak dapat diacuhkan begitu
saja. Umumnya pelajaran matematika di sekolah menjadi momok bagi siswa. Sifat
abstrak dari objek matematika menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam
memahami konsep-konsep matematika. Di samping itu penyebab lainnya adalah cara
mengajar guru yang tidak cocok bagi siswa, guru hanya mengajar dengan satu metode

yang kebetulan tidak cocok dan sukar dimengerti oleh siswa, dan sebagai akibatnya
prestasi matematika yang dicapai siswa rendah.
Keberhasilan belajar matematika, salah satunya ditentukan oleh minat siswa, dan
untuk membangkitkan minat siswa tersebut ditentukan oleh kemampuan guru dalam
menggunakan pendekatan mengajarnya yang dapat mengakibatkan siswa lebih tertarik,
mengerti, berperan serta aktif, mencari dan menemukan sendiri. Karena itu guru harus
mampu mengadakan komunikasi dengan siswa dan dapat memilih metode yang tepat.
Pada saat proses belajar nampak gejala-gejala antara lain: kemampuan
menganalisis dan menyelesaikan soal rendah, siswa pasif dan cenderung suka
mencontoh, sehingga jika diberikan soal-soal yang berbeda dengan contoh yang
diberikan, mereka tidak mampu menyelesaikan. Mungkin rendahnya hasil belajar siswa
dikarenakan kurangnya pendekatan pembelajaran yang sesuai, metode kurang bervariasi,
pemanfaatan lingkungan/alat peraga juga kurang dan dukungan orang tua dan masyarakat
rendah.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa umumnya siswa mengerti dengan
penjelasan serta contoh soal yang diberikan guru, namun ketika kembali ke rumah dan
ingin menyelesaikan soal-soal yang sedikit berbeda dengan contoh sebelumnya, siswa
kembali bingung bahkan lupa dengan penjelasan gurunya. Apa yang dialami siswa ini
menunjukkan bahwa siswa belum mempunyai pengetahuan konseptual.
Setelah diadakan studi pendahuluan melalui wawancara dengan guru matematika
kelas VIIB SMPN 4 Juwana Pati tahun pelajaran 2010/2011, terdapat fakta di lapangan
bahwa pembelajaran matematika yang terjadi di SMPN 4 Juwana belum mencapai hasil
yang memuaskan. Hal Ini dapat dilihat dari hasil ulangan matematika yang diperoleh
masih banyak yang di bawah nilai KKM. Selain itu juga, dalam berlangsungnya kegiatan
pembelajaran, keaktifan siswa-siswanya juga kurang,karena hanya mencapai 60%.

Berarti hal ini menunjukkan bahwa guru hanya mentransfer pengetahuan, sehingga siswa
tidak mengalami sendiri dan ini dapat mengakibatkan siswa sulit memahami materi
pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Semua itu memang tidak terlepas dari pandangan siswa pada umumnya terhadap
pelajaran matematika yang menganggap sebagai momok yang menakutkan,
mengakibatkan siswa kurang aktif pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Pembelajaran yang selama ini diterapkan hanya sekedar ceramah dan latihan soal,
membuat suasana belajar di kelas sangat monoton, kurang menarik apalagi ditambah
konsentrasi siswa yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan
diterapkan suatu pembelajaran matematika yang tidak hanya mentransfer pengetahuan
guru kepada siswa. Pembelajaran ini hendaknya juga mengaitkan pengalaman kehidupan
nyata siswa dengan materi dan konsep matematika. Model pembelajaran yang kiranya
tepat adalah model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated
Reading and Compoisition (CIRC) dengan kombinasi model pembelajaran kontekstual
yang merupakan model pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi
pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan
matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu materi matematika yang diajarkan di SMP Kelas VII adalah Himpunan.
Materi ini sering muncul dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, dengan
menerapkan model pembelajaran CIRC melalui pendekatan kontekstual dalam
pembelajaran matematika pada materi pokok himpunan diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul
Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dengan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan

Keaktifan dan Hasil Belajar Pokok Bahasan Himpunan Pada Siswa Kelas VIIB SMPN 4
Juwana Pati Tahun Pelajaran 2010/2011.

B. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi perbedaan penafsiran maka dalam memahami judul penelitian ini
perlu adanya penjelasan istilah-istilah dalam judul tersebut. Adapun istilah-istilah yang
mendapat penegasan adalah:
1. Penerapan
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,2005:560), penerapan
berarti pemasangan, pengenaan, perihal, mempraktekkan. Yang dimaksud penerapan
di sini adalah mempraktekan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
2. Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil
penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan
analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional
di kelas. (Suprijono,2009:45).
3. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan suatu model
pembelajaran yang mempunyai konsep lebih luas meliputi semua jenis kerja
kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh
guru. (Suprijono,2009:54).
4. Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated Reading and Compoisition (CIRC)
Suatu model pembelajaran dengan mengembangkan kemampuan peserta didik
dalam proses pembelajarannya membangun kemampuan peserta didik untuk

membaca dan menyusun rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya


(Suyitno,2007:12).

5. CTL
CTL merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Suprijono,2009:79)
6. Meningkatkan
Meningkatkan artinya menaikkan (derajat, taraf, dan sebagainya);
mempertinggi; memperhebat (produk, dan sebagainya); mengangkat diri. (KBBI,
2005: 574).
7. Keaktifan
Keaktifan artinya kegiatan atau kesibukan, tangkas, giat bekerja, dinamis dan
bertenaga (KBBI, 2005: 24).
8. Hasil Belajar
Hasil adalah sesuatu yang diadakan(dibuat, dijadikan, dan sebaginya)oleh
usaha. (KBBI, 2005: 166)
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Slameto,
2003:2).
Jadi, hasil belajar adalah sesuatu yang dilakukan dengan usaha untuk
memperoleh suatu perubahan. Dalam penelitian ini diharapkan agar memperoleh
hasil belajar yang meningkat atau perubahan yang lebih baik.

9. Materi Pokok Himpunan


Himpunan merupakan salah satu materi sub pokok bahasan pelajaran
matematika siswa SMP kelas VII semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 yang
digunakan dalam penelitian ini.
Berdasarkan penegasan istilah di atas, secara keseluruhan maksud dari judul
penelitian ini adalah keberhasilan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
dengan pendekatan kontekstual pada sub pokok bahasan himpunan ditandai dengan
peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 4 Juwana tahun
pelajaran 2010/2011.

C. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang diajukan dalam
penelitian ini adalah: Apakah penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar bagi siswa kelas VII B SMP
Negeri 4 Juwana Pati tahun pelajaran 2010/1011 pada materi pokok Himpunan?"

D. Strategi Pemecahan Masalah
Agar hasil belajar, keaktifan, dan minat belajar siswa serta kemampuan mengajar
guru kelas VII B SMP Negeri 4 Juwana Pati dalam pembelajaran matematika khususnya
dalam pokok bahasan himpunan dapat meningkat, maka strategi pemecahan masalah
dalam penelitian ini dirancang melalui penelitian tindakan kelas menggunakan model
pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan
pendekatan kontekstual. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua siklus yaitu
siklus I dan siklus II, masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap. Siklus II dilakukan
apabila pada siklus I belum terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa kelas

VII B SMP Negeri 4 Juwana Pati. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari test siswa
sedangkan peningkatkan keaktifan siswa dapat dilihat pada lembar observasi.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban atas
masalah yang telah dirumuskan di atas. Tujuan tersebut adalah untuk mengetahui
peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa di kelas VII B SMP N 4 Juwana Pati
melalui penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual saat
proses belajar mengajar di kelas.
2. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan hasil yang bermanfaat bagi semua pihak
diantaranya sebagai berikut:
a. Bagi siswa
1)Menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa terhadap pelajaran matematika
2)Meningkatkan keaktifan siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan
3) Menumbuhkan rasa ingin tahu dan motivasi dalam diri siswa
4) Meningkatkan hasil belajar.
5) Membangkitkan rasa percaya diri.
6) Membimbing temannya yang memerlukan bantuan
b. Bagi guru
1) Diharapkan dapat membuka cakrawala berpikir guru.
2) Dapat meningkatkan kreativitas guru.

3) Meringankan beban guru dalam membimbing siswa di kelas,


khususnya ketika menyelesaikan soal-soal.
c. Bagi sekolah
1) Bertambahnya siswa yang berhasil pada setiap kelulusan.
2) Meningkatnya hasil belajar siswa.
3) Menciptakan sekolah sebagai pusatnya ilmu pengetahuan.
4) Meningkatkan kualitas mutu hasil pendidikan.
d. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan disiplin ilmu pendidikan khususnya dalam
mengajar matematika bagi peneliti sebagai seorang calon guru matematika.
F. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mempermudah dalam memahami urutan-urutan serta memberikan
gambaran secara keseluruhan dalam skripsi ini, maka perlu diberikan sistematika yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini. Dalam skripsi ini secara garis besar dibagi menjadi
tiga bagian yaitu bagian pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir skripsi.
Bagian awal atau pendahuluan skripsi ini secara berturut-turut berupa halaman
judul, halaman pengesahan, abstrak, halaman motto dan persembahan, kata pengantar,
daftar isi dan daftar lampiran.
Bagian isi dari skripsi ini di bagi menjadi lima bab, yaitu pendahuluan,landasan
teori dan hipotesis, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan dan penutup.
Bab I Pendahuluan, dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, penegasan
istilah,perumusan masalah dan strategi pemecahan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian serta sistematika penulisan skripsi.

Bab II Landasan teori dan hipotesis, berisi pembahasan tentang pengertian belajar,
prinsip-prinsip belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar,
pengertian pembelajaran matematika, hasil belajar, keaktifan siswa, model Cooperative
Learning tipe CIRC, pembelajaran kontekstual, uraian materi himpunan, kerangka
berfikir dan hipotesis tindakan.
Bab III Metode penelitian, berisi pembahasan tentang lokasi penelitian dan subjek
penelitian, faktor penelitian, rancangan penelitian, data dan cara pengambilan data, uji
istrumen, analisis data dan indikator keberhasilan.
Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan, berisi pembahasan tentang pelaksanaan
penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran.
Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka yang memberikan informasi tentang
sumber-sumber referensi sebagai literature yang digunakan serta lampiran-lampiran.











BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan-kegiatan bagi setiap orang, pengetahuan
keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan
berkembang disebabkan belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dapat
diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan
suatu perubahan tingkah laku. (Hudoyo, 1990: 10).
Pendapat itu menunjukan bahwa belajar adalah proses perubahan. Perubahan-
perubahan itu tidak hanya perubahan lahir tetapi juga perubahan batin, tidak hanya
perubahan tingkah laku yang tampak, tetapi dapat juga perubahan-perubahan yang tidak
dapat diamati. Perubahan-perubahan yang dimaksud bukan perubahan negatif tetapi
perubahan yang positif, yaitu perubahan yang menuju ke arah kemajuan atau perbaikan.
Belajar di sekolah mempunyai maksud dan tujuan untuk menguasai ilmu
pengetahuan, pengertian belajar dari berbagai ahli berbeda-beda, perbedaan arti belajar
antara lain karena adanya dasar-dasar percobaan yang berbeda. Selanjutnya akan
dikemukakan beberapa dari sekian banyak ahli yang mendefinisikan belajar sebagai suatu
perubahan, (Darsono,2001:3-4), antara lain:
1. Marle J.Moskowitz dan Arthur R.Ogel
Pada dasarnya belajar adalah perubahan prilaku sebagai hasil langsung dari
pengalaman dan bukan akibat hubungan-hubungan dalam sistem saraf yang dibawa
sejak lahir.


12

2. Morris L. Bigge
Belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak
diwariskan secara genetis.
3. James O. Whittaker
Belajar dapat didefinisikan sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku
melalui latihan atau pengalaman.
4. Aaron Quinn Sartain dkk
Belajar adalah suatu perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman.
5. W.S Winkel
Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pemahaman,
ketrampilan, dan nilai-sikap.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar di atas maka dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah terjadinya perubahan pada diri seseorang yang belajar
karena pengalaman. Perbuatan belajar adalah perbuatan yang disengaja untuk mencapai
hasil.
Menurut Herman Hudoyo (1990:2), terdapat tiga masalah pokok dalam belajar,
yaitu:
1. Masalah mengenai bagaimana belajar itu berlangsung dan prinsip mana yang
dilaksanakan
2. Masalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya belajar
3. Masalah mengenai hasil belajar.

B. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono terdapat tujuh prinsip dalam belajar yaitu:
1. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Perhatian
terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Motivasi adalah tenaga yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas
seseorang.
2. Keaktifan
Siswa mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan
aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa
dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalami sendiri. John dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah
menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif
harus datang dari siswa sendiri.
3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun
lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan
kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan
dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat
mengadakan latihan-latihan.
4. Pengulangan
Dalam kegiatan belajar diperlukan pengulangan hal ini dikarenakan dengan
mengadakan pengulangan maka daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas
daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir dan
sebagainya akan berkembang.

5. Tantangan
Dalam mencapai tujuan belajar, siswa mengalami hambatan yaitu mempelajari bahan
belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan
mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan tersebut telah diatasi maka
tujuan belajar telah tercapai.
6. Balikan atau Penguatan
Balikan (feedback) adalah masukan yang sangat penting baik bagi siswa maupun bagi
guru. Penguatan (reinforcement) adalah suatu tindakan yang menyenangkan dari guru
terhadap siswa yang telah berhasil melakukan suatu perbuatan belajar.
7. Perbedaan Individual
Perbedaaan individual berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya,
perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat
digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor internal
a. Faktor Jasmaniah
Faktor dalam terdiri dari:
1) Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau
bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan
seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.

2) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang
sempurna mengenai tubuh atau badan.
b. Faktor psikologis
1) Intelegensi
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk
menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan
efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara
efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2) Perhatian
Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun
semata-mata tertuju kepada suatu obyek atau sekumpulan obyek.
3) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk mempertahankan dan mengenang
beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperlihatkan terus-
menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian,
karena perhatian sifatnya sementara dan belum tentu diikuti dengan perasaan
senang, sedangkan minat selalu diikuti perasaan senang dan dari situ diperoleh
kepuasan.
4) Bakat
Menurut Hilgard bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru
akan teralisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
5) Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam
menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai

tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif
itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
6) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di
mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
7) Kesiapan
Kesiapan atau readiness menurut Jamies Drever adalah: kesediaan untuk
memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang
dan juga berhubungan dengan kematangan.
c. Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelemahan rohani.
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul
kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat
dilihat adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk
menghasilkan sesuatu hilang.
2. Faktor eksternal
a. Keluarga
1) Cara Orang Tua Mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Hal
ini dipertegas oleh Sutjipto Wirodidjojo bahwa keluarga adalah lembaga
pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk
pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan
ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.

2) Relasi Antaranggota Keluarga


Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengan
anaknya. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga
yang lain pun turut mempengaruhi belajar anak.
3) Suasana Rumah
Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian-kejasian yang sering
terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar. Suasana rumah juga
merupakan faktor yang penting yang tidak merupakan faktor yang disengaja.
4) Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang
sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhannya pokoknya juga
membutuhkan fasilitas belajar yang memadai.
5) Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Kadang-kadang anak
mengalami lemah semangat, maka orang tua wajib memberi dorongan dan
semangat.
6) Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak
dalam belajar. Menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak.
b. Sekolah
1) Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam
mengajar.

2) Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa.
Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa
menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
3) Relasi Guru dengan Siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga
dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar juga
dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya.
4) Relasi Siswa dengan Siswa
Guru yang kurang mendekati siswa dan kurang bijaksana tidak akan melihat
bahwa di dalam kelas ada grup yang saling bersaing secara tidak sehat. Jiwa
kelas tidak terbina, bahkan hubungan masing-masing siswa tidak tampak.
5) Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah
dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalm
mengajar dengan melaksanankan tata tertib, kedisiplinan pegawai atau karyawan
dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan atau keteraturan kelas, gedung
sekolah, halaman dan lain-lain, kedisiplinan kepala sekolah dalam mengelola
seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim BP dalam
pelayanannya kepada siswa.
6) Alat pelajaran
Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran
yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk
menerima bahan yang diajarkan itu.

7) Waktu Sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar di sekolah, jika siswa
bersekolah pada waktu kondisi badannya sudah lelah, akan mengalami kesulitan
di dalam menerima pelajaran. Kesulitan itu disebabkan karena siswa sukar
konsentrasi dan berpikir pada kondisi badannya yang lemah.
8) Standar Pelajaran di Atas ukuran
Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran
di atas ukuran standar. Akibatnya merasa kurang mampu dan takut kepada guru.
9) Keadaan Gedung
Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka masing-
masing menuntut keadaan gedung yang memadai di dalam setiap kelas.
10) Metode Belajar
Dengan cara belajar siswa yang tepat akan efektif pula hasil belajar siswa. Juga
dalam pembagian waktu dalam pelajaran.
11) Tugas Rumah
Waktu belajar terutama adalah di sekolah, di samping untuk belajar waktu di
rumah biarlah digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain.
c. Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap
belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaanya siswa dalam masyarakat.
1) Kegiatan Siswa dalam Masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap
perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan
masyarakat yang terlalu banyak jika tidak dapat mengatur waktunya maka akan
terganggu belajarnya.

2) Mass Media
Mass media yang baik memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga
terhadap belajarnya. Sebaliknya mass media yang jelek juga berpengaruh jelek
terhaadap siswa.
3) Teman Bergaul
Pengaruh dari teman-teman bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya
daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik begitu
juga sebaliknya.
4) Bentuk Kehidupan Masyarakat
Kehidupan masyarakat di sekitar kita juga berpengaruh terhadap belajar siswa.
Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang terpelajar atau yang berjudi
semuanya akan memberi pengaruh terhadap belajar siswa.

D. Pembelajaran matematika
1. Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa
sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono, 2001: 24).
Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai
pengalaman sehingga tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas.
2. Matematika
Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran,
dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yamg lainnya dengan jumlah
banyak yang terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. Secara

singkat dikatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep


abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Hudoyo,1990:4).
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman pelajaran matematika identik
dengan mata pelajaran yang paling sulit dan menegangkan, sehingga kurang diminati
oleh siswa. Sebenarnya matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang
menyenangkan, hal ini dapat dibuktikan jika kita pandai dalam mata pelajaran
matematika berarti kita telah berlatih untuk teliti, berfikir kritis dan praktis. Hal ini
tidak disadari oleh sebagian siswa sehingga mereka merasa matematika sebagai ilmu
yang sukar, ruwet dan membingungkan dan pada akhirnya menolak untuk belajar
matematika. Belajar matematika akan terasa indah jika kita mengetahui cara
mempelajarinya. Ada beberapa kiat belajar matematika,diantaranya :
a. Menanamkan kepada anak bahwa matematika itu penting
b. Mengajak anak untuk mempelajari hal menarik dan menggelitik rasa ingin tahu
tentang matematika
c. Melatih daya tahan anak menyelesaikan soal matematika
d. Mengajari anak mengotak-atik soal
e. Mencanangkan dua wajib yaitu wajib mempelajari yang sudah dijelaskan dan
wajib mempelajari yang hendak dijelaskan
f. Melibatkan anak dalam proses belajar mengajar di sekolah
g. Mengarahkan anak untuk membuat cacatan lengkap dan rapi, ringkasan konsep
dan rumus penting.
E. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah
mengalami aktivitas belajar (Catharina,2006:5).

Menurut Benyamin S.Bloom dalam Catharina (2006:7) mengusulkan tiga


taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan
ranah psikomotorik.
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan
kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori berikut:
a. Pengetahuan
Pengetahuan ini meliputi pengingatan kembali tentang rentangan materi yang
luas. Pengetahuan mencerminkan tingkat hasil belajar paling rendah pada ranah
kognitif.
b. Pemahaman
Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan memperoleh makna dari materi
pembelajaran. Hasil belajar ini berada pada satu tahap di atas pengingatan materi
sederhana dan mencerminkan tingkat pemahaman paling rendah.
c. Penerapan
Penerapan mengacu pada kemampuan menggunakan materi pembelajaran yang
telah dipelajari di dalam situasi baru dan kongkrit. Hal ini mencakup penerapan
hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip-prinsip, dalil, dan teori. Hasil
belajar di bidang ini memerlukan tingkat pemahaman yang lebih tinggi daripada
tingkat pemahaman sebelumnya.
d. Analisis
Analisis mengacu pada kemampuan memecahkan material ke dalam bagian-
bagian sehingga dapat dipahami struktur organisasinya. Hal ini mencakup
identifikasi bagian-bagian, analisis hubungan antar bagian dan mengenai prinsip-
prinsip pengorganisasian. Hasil belaja ini mencerminkan tingkat intelektual libih

tinggi daripada pemahaman dan penerapan, karena memerlukan pemahaman isi


dan bentuk struktural materi pembelajaran yang telah dipelajari.
e. Sintesis
Sintesis mengacu pada kemampuan menggabungkan bagian-bagian dalam
rangka membentuk struktur yang baru. Hasil belajar bidang ini menekankan
perilaku kognitif dengan penekanan dasar pada pembentukan struktur atau pola-
pola baru.
f. Penilaian
Penilaian mengacu pada kemampuan membuat keputusan tentang nilai materi
pembelajaran untuk tujuan tertentu. Hasil belajar di bidang ini adalah paling
tinggi di dalam hirarkhi kognitif karena berisi unsur-unsur seluruh kategori
tersebut dan ditambah dengan keputusan tentang nilai yang didasarkan pada
kriteria yang telah ditetapkan secara jelas.

2. Ranah afektif
Tujuan pembelajaran ini berhubungan dengan perasaan, sikap, minat, dan nilai.
Kategori tujuan pembelajaran ini mencerminkan hirarkhi yang berentangan dari
keinginan untuk menerima sampai dengan pembentukan pola hidup. Kategori tujuan
pembelajaran afektif adalah sebagai berikut:
a. Penerimaan, mengacu pada keinginan siswa untuk menghadirkan rangsangan
atau fenomena tertentu. Dari sudut pandang pembelajaran, ia berkaitan dengan
memperoleh, menangani, dan mengarahkan perhatian siswa. Penerimaan ini
mencerminkan tingkat hasil belajar paling rendah di dalam ranah afektif.
b. Penanggapan, mengacu pada partisipasi aktif pada diri siswa. Hasil belajar di
bidang ini adalah penekanan pada kemahiran merespon, keinginan merespon,

atau kepuasan dalam merespon. Tingkat yang lebih tinggi dari kateori ini adalah
mencakup tujuan pembelajaran yang umumnya diklasifikasikan ke dalam minat
siswa, yakni: minat yang menekankan pencarian dan penikmatan kegiatan
tertentu.
c. Penilaian, berkaitan dengan harga atau nilai yang melekat pada objek, fenomena
atau perilaku tertentu pada siswa. Penilaian didasarkan pada internalisasi
seperangkat nilai tertentu, namun menunjukkan nilai-nilai yang diungkapkan di
dalam perilaku yang ditampakkan oleh siswa. Hasil belajar di bidang ini
dikaitkan dengan perilaku yang konsisten dan cukup stabil di dalam membuat
nilai yang dapat dikenali secara jelas. Tujuan pembelajaran yang diklasifikasi ke
dalam sikap dan apresiasi akan masuk ke dalam kategori ini.
d. Pengorganisasian, berkaitan dengan perangkaian nilai-nilai yang berbeda,
memecahkan kembali konflik-konflik antar nilai, dan mulai menciptakan sistem
nilai yang konsisten secara internal. Hasil belajar ini dapat berkaitan dengan
konseptualisasi nilai atau pengorganisasian sistem nilai. Tujuan pembelajaran
yang berkaitan dengan pengembangan pandangan hidup dapat dimasukkan
dalam kategori ini.
e. Karakeristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu keterpaduan semua sistem nilai
yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya. Perilaku pada tingkat ini adalah bersifat persuasif, konsisten dan dapat
diramalkan. Hasil belajar pada tingkat ini mencakup berbagai aktivitas yang luas,
namun penekatan dasarnya adalah pada kekhasan perilaku siswa atau siswa
memiliki karakteristik yang khas.

3. Ranah Psikomotorik
Tujuan pembelajaran ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan
fisik seperti ketrampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf.
Penjabaran ranah psikomotorik ini sangat sukar karena seringkali tumpang tindih
dengan ranah kognitif dan afektif.
Menurut Elizabeth Simpson dalam Catharina (2006:10), kategori jenis
perilaku untuk ranah psikomotorik yaitu:
a. Persepsi, berkaitan dengan penggunaan organ penginderaan untuk memperoleh
petunjuk yang memandu kegiatan motorik.
b. Kesiapan, mengacu pada pengambilan tipe kegiatan tertentu. Kategori ini
mencakup kesiapan mental, kesiapan jasmani, dan kesiapan mental.
c. Gerakan terbimbing, berkaitan dengan tahap-tahap awal di dalam belajar
keterampilan kompleks. Ia meliputi peniruan mengulangi tindakan yang
didemonstrasikan oleh guru dan mencoba-coba.
d. Gerakan terbiasa, hasil belajar pada tingkat ini berkaitan dengan keterampilan
unjuk kerja dari berbagai tipe, namun pola-pola gerakannya kurang kompleks
dibandingkan dengan tingkatan berikutnya yang lebih tinggi.
e. Gerakan kompleks, berkaitan dengan kemahiran unjuk kerja dari tindakan
motorik yang mencakup pola-pola gerakan yang kompleks. Kecakapan
ditunjukkan melalui kecepatan, kehalusan, keakuratan, dan yang memerlukan
energi minimum.
f. Penyesuaian, berkaitan dengan keterampilan yang dikembangkan sangat baik
sehingga individu siswa dapat memodifikasi pola-pola gerakan sesuai dengan
persyaratan-persyaratan baru atau ketika menemui situasi masalah baru.

g. Kreativitas, mengacu pada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk disesuaikan


dengan situasi tertentu atau masalah-masalah tertentu. Hasil belajar pada tingkat
ini menekankan aktivitas yang didasarkan pada keterampilan yang benar-benar
telah dikembangkan.
Beberapa fungsi hasil belajar, adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar sebagai indikator kuantitas dan kualitas pengetahuan yang telah
dikuasai oleh siswa.
2. Hasil belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu.
3. Hasil belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan, asumsinya
bahwa hasil belajar dapat dijadikan pendorong bagi siswa dalam meningkatkan
mutu pendidikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar (Herman Hudoyo,1990:8)
Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor:
1. Faktor dalam diri individu atau faktor dari dalam peserta didik
Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari
individu, aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan jasmani dari individu,
sedangkan aspek psikis menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-
kemampuan intelektual, sosial, psikomotorik serta kondisi afektif dan konatif dari
individu.
2. Faktor lingkungan
Keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri
siswa, baik faktor fisik maupun sosial psikologis yang berada pada lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan sekolah memegang peranan
penting bagi perkembangan belajar para siswanya. Lingkungan ini meliputi

sarana dan prasarana belajar yang ada, sumber-sumber belajar, media belajar,
suasana, dan pelaksanaan kegunaan belajar mengajar.
Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa
diantaranya adalah faktor guru. Dalam hal ini guru hendaknya dapat
menggunakan teknik penyajian materi pelajaran secara sistematif yang dapat
menunjang proses belajar, sehingga dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh adanya variasi
model pembelajaran yang dipakai oleh guru.

F. Keaktifan Siswa
Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk
yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan
dan aspirasinya sendiri. Maka belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak
bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalami sendiri.
Dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk
selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan
mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pebelajar dituntut untuk aktif secara fisik,
intelektual, dan emosional. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan
fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik
bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan
sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang
dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep
dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.

Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa bisa berwujud perilaku-perilaku/aktivitas-


aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya
mendengarkan dan mencatat. Paul B. Diedrich membuat suatu daftar macam kegiatan
siswa antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Visual activities,
2. Oral activities,
3. Listening activities,
4. Writing activities,
5. Drawing activities,
6. Motor activities,
7. Mental activities,
8. Emotional activities.
(Sardiman,2010:101).
Jadi dengan klasifikasi aktivitas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah
cukup kompleks dan bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran.
Di samping siswa yang berperan utama, peran guru juga berpengaruh penting
terhadap terciptanya keaktifan dalam pembelajaran. Maka untuk dapat menimbulkan
keaktifan belajar pada diri siswa, guru di antaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku
berikut:
1. menggunakan multimetode dan multimedia,
2. memberikan tugas secara individual dan kelompok,
3. memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok
kecil,

4. memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas,
serta
5. mengadakan tanya jawab dan diskusi.

G. Model Pembelajaran Kooperatif(Cooperative Learning)
Model pembelajaran kooperatif adalah model yang terfokus pada penggunaan
kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk
mencapai tujuan belajar (Nurhadi : 2004 :112). Dalam pembelajaran ini, siswa belajar di
dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pembelajaran
kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan
memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa
secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-
masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi
aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis
kelamin, suku / ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok
tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat
secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok,
tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru,
dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Selama belajar secara kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya selama
beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat
bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang aktif,
memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, berdiskusi, dan

sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi
pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama bekerja dalam
kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan
guru dan saling membantu diantara teman sekelompok untuk mencapai ketuntasan
materi. Belajar belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum
menguasai materi pembelajaran.
Pembelajaran yang menggunakan metode kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran yang
menggunakan pembelajaran kooperatif yaitu :
Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi belajar siswa.
Fase 2 : Menyampaikan informasi
Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau
lewat bahan bacaan.
Fase 3 : Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok
belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar.


Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas.
Fase 5 : Evaluasi
Guru mengevaluasi cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar
individu dan kelompok.
Fase 6 : Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar
individu dan kelompok.
(Trianto,2007:48-49).
Para ahli telah menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan
kinerja siswa dalam tugastugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami
konsepkonsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir
kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok
bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugastugas
akademik.
Ketrampilan sosial atau kooperatif berkembang secara signifikan dalam
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif sangat tepat digunakan untuk
melatihkan ketrampilan ketrampilan kerjasama dan kolaborasi, ketrampilkan
ketrampilan tanya jawab, serta belajar untuk dapat menghargai satu sama lain.

H. Model Cooperative Learning Tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and
Composition)
Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
ditempatkan dalam kelompok kecil yang heterogen, terdiri dari 4-5 tidak dibedakan atas

jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini
sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah dan masing-masing siswa merasa
cocok satu sama lain.
Menurut Amin Suyitno (2005 : 12) kegiatan pokok dalam CIRC untuk
memecahkan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yakni :
1. Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca
2. Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa yang
diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu
variabel tertentu
3. Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita
4. Menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut(menuliskan urutan komposisi
penyelesaiannya)
5. Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi)
Dengan mengadopsi model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC untuk
melatih siswa meningkatkan keterampilannya dalam menyelesaikan soal cerita, maka
langkah yang ditempuh seorang guru mata pelajaran adalah sebagai berikut:
1. Guru menerangkan suatu materi pokok tertentu kepada peserta didiknya (misalnya
dengan metode ceramah).
2. Guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita.
3. Guru siap melatih peserta didik untuk meningkatkan keterampilan peserta didiknya
dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan Cooperative Learning tipe CIRC.
4. Guru membentuk kelompokkelompok belajar peserta didik (Learning Society) yang
heterogen. Setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 orang
5. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita dan membagikannya kepada setiap peserta
didik dalam kelompok yang sudah terbentuk.

6. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan


spesifik, sebagai berikut
a. Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca
soal cerita tersebut.
b. Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menuliskan apa
yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan apa yang ditanyakan dengan
suatu variabel tertentu.
c. Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
d. Menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi
penyelesaiannya).
e. Saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (jika ada yang perlu
direvisi).
f. Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.
7. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (Team Study).
Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok.
8. Ketua kelompok melaporkan kepada guru tentang keberhasilan atau hambatan yang
dialami anggota kelompoknya. Jika diperlukan guru dapat memberikan bantuan
kepada kelompok secara proporsional.
9. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan
dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru.
10.Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di
depan kelas.
11.Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator jika diperlukan.
12.Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah dipresentasikan
oleh siswa secara singkat (Teaching Group).

13.Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria
penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang
dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas (Teams Scores and Teams
Recognition).
14.Guru memberikan tugas atau PR soal cerita secara individual kepada para siswa
tentang materi pokok yang akan dipelajari.
15.Guru membubarkan kelompok yang dibentuk dan siswa kembali ke tempat duduk
masing-masing.
16.Menjelang akhir waktu pembelajaran guru mengulang secara klasikal tentang
strategi pemecahan soal cerita.
17.Siswa bersama guru merangkum pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah
(Whole Class Unit).
18.Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan
(Suyitno, 2005 : 12-13).
Model CIRC untuk Penerapan konsep Himpunan
Mata pelajaran matematika kelas VII semester 2 terdiri dari beberapa bab
dan sub bab, salah satunya adalah pokok bahasan himpunan. Pokok bahasan ini dapat
diajarkan pada siswa dengan model pembelajaran CIRC. Materi pembelajaran yang
diajarkan pada siswa dalam penelitian ini adalah himpunan. Tahapan pada model
CIRC adalah sebagai berikut:
1. Guru menentukan suatu pokok bahasan yang akan disajikan kepada para siswanya.
2. Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang model pembelajaran CIRC .
3. Guru menyiapkan materi bahan ajar yang harus dikerjakan kelompok
4. Guru menjelaskan materi yang akan diajarkan.

5. Guru membentuk kelompok-kelompok kecil dengan anggota 4-5 siswa pada setiap
kelompoknya. Kelompok dibuat heterogen tingkat kecerdasan dengan
mempertimbangkan keharmonisan kerja kelompok.
6. Guru menugasi kelompok dengan bahan yang sudah disiapkan.
7. Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya/melaporkan kepada guru
tentang hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Guru dapat memberikan
bantuan secara individual.
8. Guru memberikan latihan pendalaman secara klasikal dengan menekankan strategi
pemecahan masalah.
Menurut penjelasan-penjelasan di atas,
kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, yaitu:
1. Sangat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita.
2. Dominasi guru dalam proses pembelajaran kurang
3. Pelaksanaan program sederhana
4. Siswa termotivasi pada hasil secara teliti karena bekerja dalam kelompok
5. Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya
6. Mengurangi perilaku siswa yang mengganggu
7. Membantu siswa yang lemah
8. Meningkatkan hasil belajar.
Kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, yaitu pada saat presentasi
hanya siswa yang aktif saja yang tampil.



I. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan
membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan
cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual terdapat asumsi, antara lain:
1. Belajar yang baik adalah jika peserta didik terlibat secara pribadi dalam pengalaman
belajarnya.
2. Pengetahuan harus ditemukan peserta didik sendiri agar mereka memiliki arti atau
dapat membuat distingsi berbagai perilaku yang mereka pelajari.
3. Peserta didik harus memiliki komitmen terhadap belajar dalam keadaan paling tinggi
dan berusaha secara aktif untuk mencapainya dalam kerangka kerja tertentu.
(Suprijono,2009:80).
Prinsip pembelajaran kontekstual, antara lain:
1. Adanya ketergantungan
Ketergantungan merupakan sistem yang mengintegrasikan berbagai komponen
pembelajaran dan komponen tersebut saling mempengaruhi secara fungsional.
2. Adanya keanekaragaman
Keanekaragaman mendorong berpikir kritis pesera didik untuk menemukan hubungan
diantara entitas-entitas yang beraneka ragam itu.
3. Pengaturan diri
Prinsip ini mendorong pentingnya peserta didik mengeluarkan seluruh potensi yang
dimilikinya.
(Suprijono,2009:80-81).

Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD)


penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut:
1. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
2. Experiencing, belajar adalah kegiatan mengalami, peserta didik berproses secara
aktif dengan hal yang dipelajari, berupaya melakukan eksplorasi, mengkaji dan
berusaha menemukan dan menciptakan hal baru yang dipelajarinya.
3. Applying, belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang
dimiliki dalam konteks dan pemanfaatannya.
4. Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui belajar
kelompok, komunikasi interpersonal atau hubungan intersubjektif.
5. Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan
pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.
(Suprijono,2009:83-84).
Ada tujuh komponen pembelajaran kontekstual, yaitu:
1. Kontruktivisme
Pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi. Belajar berbasis
kontruktivisme menekankan pemahaman pada pola dari pengetahuan.
2. Inkuiri
Kata kunci pembelajaran kontekstual salah satunya adalah penemuan. Belajar
penemuan menunjuk pada proses dan hasil belajar.
3. Bertanya
Melalui berbagai pertanyaan peserta didik dapat melakukan probing, sehingga
informasi yang diperolehnya lebih dalam.

4. Masyarakat Belajar
Melalui interaksi dalam komunitas belajar proses dan hasil belajar menjadi lebih
bermakna.
5. Pemodelan
Melalui pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang dimodelkan.
6. Refleksi
Refleksi adalah bagian penting dalam pembelajaran kontekstual.
7. Penilaian Autentik
Penilaian autentik adalah upaya pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar peserta didik.
(Suprijono,2009:85-88).
Alasan pendekatan kontekstual menjadi pilihan:
1. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan peserta didik menghafal fakta-fakta,
tetapi sebuah strategi yang mendorong peserta didik mengkonstruksi pengetahuan di
benak mereka sendiri.
2. Melalui landasan filosofi konstruktivisme, pendekatan ini menjadi alternative strategi
belajar yang baru, dimana peserta didik diharapkan belajar melalui mengalami bukan
menghafal.
J. Uraian Materi Tentang Himpunan
1. Diagram Venn
Himpunan dapat dinyatakan dalam bentuk gambar yang dikenal sebagai diagran
Venn. Dalam membuat diagram Venn yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Himpunan semesta (S) digambarkan sebagai persegi panjang dan huruf S
diletakkan di sudut kiri atas persegi panjang.

b. Setiap himpunan yang dibicarakan (selain himpunan kosong) ditunjukkan oleh


kurva tertutup.
c. Setiap anggota ditunjukkan dengan noktah (titik).
d. Bila anggota suatu himpunan banyak sekali, maka anggota-anggotanya tidak perlu
dituliskan.
Contoh Soal:
Kelompok PKK di Desa Mustika Jaya, mendata ibu-ibu yang pandai dalam suatu
pekerjaan seperti terlihat pada diagram Venn di bawah ini:

S = {ibu PKK Desa Mustika Jaya}
R = {ibu yang pandai memasak}
I = {ibu yang pandai menjahit}
a. Berapa orang yang pandai memasak?
b. Berapa orang yang pandai memasak dan menjahit?
c. Berapa orang yang belum pandai keduanya?
d. Berapa orang yang hanya pandai menjahit?
S
B A
Himpunanbiasa
Himpunan
Semesta
S
S
I R
Tuti
Misnu Ati Tati
Ade
Kokom
Nani
Jenab
Munar
Siti
Sri
Yati

e. Berapa orang yang hanya pandai memasak?


Jawab:
a. ada 6 orang yang pandai memasak
b. ada 2 orang yang pandai memasak dan menjahit
c. ada 3 orang yang belum pandai keduanya
d. ada 3 orang yang hanya pandai menjahit
e. ada 4 orang yang hanya pandai memasak
2. Hubungan Antar Himpunan
Berikut ini akan dipelajari macam-macam hubungan antara himpunan yang satu
dengan himpunan lainnya.
a. Himpunan Saling Lepas
Dua buah himpunan disebut saling lepas atau saling asing bila kedua himpunan itu
tidak mempunyai anggota persekutuan.
Himpunan saling lepas dinotasikan dengan // atau
b. Himpunan tidak saling lepas
Dua himpunan tidak saling lepas dapat ditinjau dari dua keadaan, yaitu:
1) Himpunan yang satu bukan merupakan himpunan bagian yang lain



Dari dua himpunan itu terlihat bahwa:
RT, karena 1R tetapi 1T
TR, karena 2T tetapi 2R


S
T
R
1
2
9
3
5
7
12
10

2) Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian dari himpunan yang lain
Dua himpunan dikatakan tidak saling lepas bila kedua himpunan itu
mempunyai anggota persekutuan.
c. Himpunan yang Sama (=)
Dua himpunan dikatakan sama apabila keduanya mempunyai anggota yang sama.
Dengan kata lain A = B, apabila AB dan BA.
d. Himpunan yang Ekuivalen (~)
Dua himpunan A dan B yang berhingga dikatakan ekuivalen apabila n(A) = n(B)
dan dituliskan sebagai A ~ B.
Contoh Soal:
Diberikan: B = {bilangan prima antara 10 dan 15}, dan
K = {bilangan ganjil antara 4 da 9}.
Dari himpunan-himpunan di atas, apakah pasangan himpunan itu:
a. sama, b. ekuivalen, c. saling lepas?
Jawab:
B = {11, 13} dan K = {5, 7}
Hal ini berarti n(B)= 2 dan n(K) = 2.
a. B K, karena BK dan KB.
b. Ya, B~K, karena n(B) = n(K) = 2
S
K
T
1
7
6
5
4
3
2

c. Ya, B // K, karena semua anggota B tidak ada persekutuan dengan semua anggota
K.
3. Irisan ( )
a. Pengertian Irisan Dua Himpunan
Perhatikan dua himpunan di bawah ini:
P = {a, b, c, d, e, f, g}, Q = {a, c, e, g, h}.
Terlihat bahwa anggota persekutuan P dan Q adalah a, c, e, dan g. Hal ini berarti P
dan Q beririsan dan ditulis PQ = {a, c, e, g}. Irisan P dan Q adalah himpunan
yang anggotanya merupakan anggota P sekaligus anggota Q, ditulis dengan notasi
pembentuk himpunan sebagai: PQ = {x | x P dan x Q}.
b. Menentukan Irisan Dua Himpunan
Irisan dua himpunan dapat ditinjau dari persekutuan dua himpunan itu atau dari
hubungan antar himpunannya.
1) Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian yang lain

S
Q P
a
b
d
f
c
e
g
h
P Q
S
Q
P
1
4
3
2
P Q=P

Misalkan P = {1, 2, 3} dan Q = {1, 2, 3, 4}, maka hubungan antara P dan Q


adalah PQ dan irisan kedua himpunan itu adalah PQ = {1, 2, 3} = P (lihat
gambar di atas).
2) Kedua himpunan sama



Misalkan P = {r, a, m, t, i} dan Q = {t, i, r, a, m}. Hubungan antara himpunan P
dan Q adalah P = Q, maka PQ = {t, i, r, a, m} = {r, a, m, t, i} = P = Q (lihat
gambar). Diagram Venn untuk PQ dapat dilihat pada gambar di atas. Pada
gambar terlihat n(P) = n(Q) = n(PQ) = 5
3) Kedua himpunan saling lepas

Misalkan P = {1, 3, 5, 7} dan Q = {a, b, c, d}. Keterhubungan antara P dan Q
adalah P // Q (saling lepas) dan P ~ Q (ekuivalen), maka PQ = atau PQ
= { }(lihat gambar di atas). Diagram Venn untuk PQ, ditunjukkan pada
gambar di atas. Pada gambar terlihat bahwa: n(P) = 4, n(Q) = 4, dan n(PQ) =
0.
4) Kedua himpunan tidak saling lepas, tetapi juga bukan merupakan himpunan
bagian yang lain
S
Q P
i
m
t
r
a
P Q = P = Q
S
Q
P
1
3
7
5
a b
d c
P Q=


Misalkan: P = {1, 2, 3, 4, 5} dan Q = {2, 3, 6, 7}.
Keterhubungan antara P dan Q adalah berpotongan atau tidak saling lepas ,
maka P dan Q = P Q = {2, 3}.
Contoh Soal:
Perhatikan gambar di bawah ini:

S = {penghuni Hotel Indonesia}
A = {penghuni yang menyukai teh}
B = {penghuni yang menyukai kopi}
Tentukan:
a. Berapa banyak penghuni yang menyukai teh?
b. Berapa banyak penghuni yang tidak menyukai kopi tetapi menyukai teh?
c. Berapa banyak penghuni yang menyukai teh dan kopi?
d. Berapa banyak penghuni yang tidak menyukai keduanya?
Jawab:
a. n(A) = 4
b. tidak menyukai kopi tetapi menyukai teh = 2
S
A B
c
d
e
f
g
h
b a
S
Q P
3
2
1
4
5
7
6

c. n(AB) = 2
d. tidak menyukai keduanya = 2

4. Gabungan ( )
Operasi gabungan pada himpunan disimbolkan dengan .
Misalkan, P = {2, 3, 4, 5} dan Q = {1, 2, 4, 7}, maka P Q = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7}.

Gabungan dua himpunan dapat ditentukan dari keterhubungan antar himpunan
tersebut. Yaitu:
a. Himpunan yang satu merupakan himpunan bagian yang lain
b. Kedua himpunan sama
c. Kedua himpunan saling lepas
d. Kedua himpunan tidak saling lepas, tetapi juga bukan merupakan himpunan bagian
yang lain.

5. Komplemen
Perhatikan Q yang merupakan subset dari S berikut ini.
S = {Mozart, Bach, Beethoven, Bizett, Strauss, Haydn, Schubert}
Q = {Bach, Beethoven, Bizett}
Himpunan S yang anggotanya selain anggota himpunan Q adalah:
Q P
S
1
2
4
3
5
7
P Q

{Mozart, Strauss, Haydn, Schubert}. Himpunan bagian dari S ini disebut komplemen
Q dan ditulis Q (atau Q
c
) Q dibaca komplemen Q atau bukan Q.
6. Banyaknya Anggota Irisan, Gabungan, Komplemen dan Selisih
Untuk menentukan banyaknya anggota dari irisan, gabungan, komplemen, dan selisih
dari dua himpunan atau lebih, dapat digunakan diagram Venn atau rumusan dari
operasi himpunan tersebut.
Contoh:

Dari diagram venn di atas diperoleh:
Banyaknya anggota himpunan A adalah n(A) = p
Banyaknya anggota himpunan B adalah n(B) = q
Banyaknya anggota himpunan AB adalah n(AB) = r
Banyaknya anggota himpunan AB adalah
n(AB) = (p r) + r + (q r)
= p r + r + q r
= p + q r
n(AB) = n(A) + n(B) n(AB)
Jadi, rumus banyaknya anggota himpunan AB dan AB ditentukan oleh:
n(AB) = n(A) + n(B) n(AB)
n(AB) = n(A) + n(B) n(AB)
n(AB) = n(S) n(AB)
A
B
r
pr
qr
n(AB)
n(AB)
S

Contoh Soal:
Di kelas 1A terdapat 37 siswa di mana 7 orang gemar IPA, 4 orang gemar matematika
tetapi tidak gemar IPA, dan 5 orang gemar keduanya.
Tentukan banyaknya siswa yang:
a. gemar IPA tapi tidak gemar matematka,
b. gemar matematika,
c. tidak gemar matematika,
d. gemar matematika atau IPA,
e. tidak gemar keduanya
Jawab:
Misalkan:
S = himpunan siswa kelas 1A.
P = himpunan siswa yang gemar IPA.
M = himpunan siswa yang gemar matematika.
n(S) = 37, n(P) = 7, n(M P) = 4, dan n(PM) = 5
a. Banyaknya siswa yang gemar IPA tetapi
tidak gemar matematika:
n(P M) = n(P) n(PM) = 2 orang
b. Banyaknya siswa yang gemar matematika
n(M) = n(M P) + n(PM)
= 4 + 5 = 9 orang.


c. Banyaknya siswa yang tidak gemar matematika
n(M) = n(S) n(M)
M
P
S
7 5=2
4
5 2
5+4=9
4 5
2
M P
S

= 37 9 = 28 orang.
d. Banyaknya siswa yang gemar matematika atau IPA
n(PM) = n(P) + n(M) n(PM)
= 7 + 9 5
= 11 orang.
e. Banyaknya siswa yang gemar keduanya
n(PM) = n(S) n(PM)
= 37 11
= 26 orang.

K. Kerangka Berfikir
Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang telah dikemukakan, maka
dapat diambil suatu kerangka pemikiran sebagai berikut.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses atau kegiatan guru mata
pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang
didalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap
kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat
beragam agar tejadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan
siswa dalam mempelajari matematika tersebut (Suyitno, 2004:2).
Keberhasilan sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor,
terutama siswa, fasilitas, guru, metode, system evaluasi. Faktor-faktor itu saling berkaitan
langsung dan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Efektifitas
dan efisiensi proses pembelajaran itu juga harus dilakukan melalui pemaduan seluruh
faktor.

Salah satu faktor yang berpengaruh kuat terhadap ketercapaian keberhasilan itu
adalah faktor pilihan metode. Pilihan metode yang tepat atau mampu memberikan
motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini berarti akan sangat
membantu siswa dalam meningkatkan daya serap terhadap sebuah materi pokok yang
disampaikan guru.
Mengingat kemampuan siswa dalam menyerap informasi berbeda-beda maka
pemilihan metode harus disesuaikan dengan kondisi siswa dan pokok bahasan yang
menjadi materi ajar, apalagi dalam pembelajaran matematika, proses pembelajaran tidak
cukup hanya melalui tranfer ilmu atau informasi saja. Proses pembelajaran matematika
harus lebih diarahkan kepada latihan-latihan soal, agar siswa terbiasa menghadapi
persoalan atau kasus. Semakin sering siswa berhadapan dengan persoalan, akan semakin
membantu siswa dalam memecahkan persoalan dan mengintegrasikan suatu persoalan
terhadap persoalan lain.
Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat, yang diharapkan
dapat membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan secara aktif. Dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual
dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk saling bekerjasama dalam mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu, melatih siswa untuk lebih bertanggung jawab
dan lebih aktif.
Dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe CIRC dengan
pendekatan kontekstual ini awalnya guru memberikan materi tentang Himpunan dan
indikator pencapaian konsep yang ingin dicapai. Selanjutnya guru membagi kelas
menjadi beberapa kelompok. Setelah itu, guru membagi tugas berupa soal cerita yang
berkaitan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata kepada setiap kelompok. Guru
berkeliling mengawasi, membimbing dan membantu kelompok dalam mengerjakan

tugas. Setiap ketua kelompok melaporkan kepada guru tentang keberhasilan atau
hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Setelah selesai guru meminta kepada
perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikannya di depan kelas. Dengan
langkah-langkah tersebut diharapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan
pendekatan kontekstual ini dapat:
1. Meningkatkan daya serap siswa terhadap mata pelajaran matematika.
2. Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
3. Memupuk keberanian siswa untuk berinisiatif dan mengembangkan rasa tanggung
jawab.
4. Siswa terbiasa menghadapi kasus, sehingga membantu siswa dalam memecahkan
kasus dan mengintegrasikan suatu kasus terhadap kasus yang lain.

L. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka berpikir di atas, maka dapat diambil suatu hipotesis
tindakan dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
(Cooperative Integrated Reading and Composition) dengan pendekatan kontekstual pada
materi pokok himpunan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas
VIIB semester 2 SMP Negeri 4 Juwana Pati.








BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP N 4 Juwana Pati
dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII B semester 2 SMP N 4 Juwana Pati
tahun pelajaran 2010/2011, yang berjumlah 40 siswa.

B. Faktor Penelitian
Agar mampu menyelesaikan permasalahan dalam penelitian ini, maka faktor
yang akan diteliti yaitu:
1. Faktor siswa
Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah materi pokok himpunan,
keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan kerjasama antara siswa dalam suatu
kelompok tersebut.
2. Faktor guru
Melihat cara guru dalam mengembangkan penerapan model pembelajaran CIRC
dengan pendekatan kontekstual, penguasaan materi, kemampuan membimbing dan

berkomunikasi dengan siswa, menarik kesimpulan dan kesesuaian pelaksanaan


pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran.

C. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian berupa penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat
komponen pokok yaitu: perencanaan (Planning), tindakan (acting), pengamatan
(observing), dan refleksi (reflektion). Hubungan antara keempat komponen tersebut
menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berkelanjutan berulang. Siklus inilah yang
sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari penelitian tindakan. Ada dua siklus yang
dirancang dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu siklus I dan siklus II. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui peningkatan model kooperatif tipe Cooperative Integrated
Reading and Composition dengan pendekatan Kontekstual dan hasil belajar siswa pada
kompetensi dasar Himpunan. Setiap siklus terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat untuk masing-masing siklus:
1. Siklus I
a. Perencanaan
1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dalam hal ini peneliti memilih pokok
bahasan himpunan.
2) Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan
implementasi pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual
pada materi himpunan.
3) Merancang pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa
dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa.
59

4) Membuat soal evaluasi yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan.


5) Menyusun lembar kerja, angket, dan lembar observasi. Lembar kerja akan
diberikan kepada siswa yang digunakan untuk menyelesaikan soal yang sesuai
dengan tahapan pemecahan soal dan lembar observasi yang akan digunakan oleh
peneliti adalah lembar pengamatan dan lembar observasi keaktifan siswa.


b. Pelaksanaan Tindakan
1) Guru memberikan motivasi mengenai pentingnya materi himpunan untuk
kehidupan sehari-hari.
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi.
3) Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual sebagai
suatu variasi model pembelajaran.
4) Guru melakukan tanya jawab untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa
tentang materi himpunan.
5) Guru menyajikan materi himpunan secara garis besar (komponen teaching
group).
6) Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang telah di
dapatnya.
7) Guru memberikan contoh latihan soal dan meminta siswa untuk menemukan dan
menyelesaikannya sendiri.
8) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang.

9) Guru membagikan soal-soal materi himpunan yang berkaitan dengan masalah


kontekstual
10) Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan
spesifik sebagai berikut :
a) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling
membaca soal.
b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita.
c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
d) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan
komposisi penyelesaiannya).
e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (jika ada yang
perlu direvisi).
11) Guru berkeliling memberi motivasi, membimbing dengan instruksi seminimal
mungkin serta mengawasi kegiatan kelompok dalam mengkonstruksi dan
menyelesaikan pengetahuan baru yang didapat.
12) Setelah selesai diskusi, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk
menyajikan temuannya di depan kelas.
13) Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah
dipresentasikan oleh siswa secara singkat (Teaching Group).
14) Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan
kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dapat menyelesaikan soal.
15) Guru memberikan latihan soal (evaluasi) secara individu.
16) Setelah siswa selesai mengerjakan, maka pekerjaan masing-masing siswa
dikumpulkan. Kemudian siswa bersama guru menyimpulkan materi yang
telah dipelajari.

c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti sebagai observator sebagai berikut:
1) Observasi terhadap siswa
a) Peneliti mengamati keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
b) Peneliti mengamati komunikasi guru dan siswa
c) Peneliti mengamati kemampuan siswa dalam mengemukakan ide jawaban
selama proses pengajaran selain itu juga pengamatan berdasarkan tugas yang
dikerjakan kelompok.
2) Observasi terhadap guru
Pengamatan kinerja guru berdasarkan atas kemampuan guru dalam
mengajar seperti memotivasi siswa, menciptakan suasana aktif belajar,
penguasaan materi, membimbing dan menanggapi siswa dalam tanya jawab,
membimbing siswa dalam diskusi, penekanan pada materi penting, pengamatan
terhadap kegiatan siswa, membimbing siswa dalam menarik kesimpulan.

d. Refleksi
Mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan pada pelaksanaan siklus II.
Adapun perlu yang diperbaiki pada siklus II adalah berdasarkan data hasil
pengamatan dan tes pada siklus I baik keaktifan siswa dalam diskusi, bertanya dan
mengemukakan pendapat, menulis pada papan tulis, kemampuan siswa dalam
menyegah pendapat siswa lain ataupun kemampuan siswa dalam menarik
kesimpulan.


2. Siklus II
a. Perencanaan
1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dalam hal ini peneliti memilih
pokok bahasan himpunan.
2)Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan
implementasi pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual pada materi himpunan.
3) Merancang pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa
dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa.
4) Membuat soal evaluasi yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
5) Menyusun lembar kerja, angket, dan lembar observasi. Lembar kerja akan
diberikan kepada siswa yang digunakan untuk menyelesaikan soal yang sesuai
dengan tahapan pemecahan soal dan lembar observasi yang akan digunakan
oleh peneliti adalah lembar pengamatan dan lembar observasi keaktifan siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
1) Guru memberikan motivasi mengenai pentingnya materi himpunan untuk
kehidupan sehari-hari.
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi.
3) Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual sebagai
suatu variasi model pembelajaran.
4) Guru melakukan tanya jawab untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa
tentang materi himpunan.

5) Guru menyajikan materi himpunan secara garis besar (komponen teaching


group).
6) Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang telah di
dapatnya.
7) Guru memberikan contoh latihan soal dan meminta siswa untuk menemukan
dan menyelesaikannya sendiri.
8) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang.
9) Guru membagikan soal-soal materi himpunan yang berkaitan dengan masalah
kontekstual
10) Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian
kegiatan spesifik sebagai berikut :
a) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling
membaca soal.
b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita.
c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
d)Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan
komposisi penyelesaiannya).
e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (jika ada yang
perlu direvisi).
11)Guru berkeliling memberi motivasi, membimbing dengan instruksi seminimal
mungkin serta mengawasi kegiatan kelompok dalam mengkonstruksi dan
menyelesaikan pengetahuan baru yang didapat.
12) Setelah selesai diskusi, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk
menyajikan temuannya di depan kelas

13)Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah
dipresentasikan oleh siswa secara singkat (Teaching Group).
14) Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan
kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dapat menyelesaikan soal.
15) Guru memberikan latihan soal (evaluasi) secara individu.
16) Setelah siswa selesai mengerjakan, maka pekerjaan masing-masing siswa
dikumpulkan, kemudian siswa bersama guru menyimpulkan materi yang
telah dipelajari.
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti sebagai observator sebagai berikut:
1) Observasi terhadap siswa
a) Peneliti mengamati keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
b) Peneliti mengamati komunikasi guru dan siswa
c) Peneliti mengamati kemampuan siswa dalam mengemukakan ide jawaban
selama proses pengajaran selain itu juga pengamatan berdasarkan tugas yang
dikerjakan kelompok.
2) Observasi terhadap guru
Pengamatan kinerja guru berdasarkan atas kemampuan guru dalam
mengajar seperti memotivasi siswa, menciptakan suasana aktif belajar,
penguasaan materi, membimbing dan menanggapi siswa dalam tanya jawab,
membimbing siswa dalam diskusi, penekanan pada materi penting, pengamatan
terhadap kegiatan siswa, membimbing siswa dalam menarik kesimpulan.

d. Refleksi
Pada siklus II peneliti bersama-sama dengan guru belajar mendiskusikan hasil
pengamatan dan hasil evaluasi yang telah diberikan siswa setelah berakhirnya siklus
II, peneliti bersama-sama guru pengajar melakukan analisis data yang diperoleh
selama proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan penelitian kelas yang telah dilaksanakan.

D. Data dan Cara Pengambilan Data
1. Sumber data
Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru kelas VII B SMP N 4 Juwana Pati
tahun pelajaran 2010/2011.
2. Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif yang terdiri
dari:
a. Data kualitatif
Data tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru dan data tentang keaktifan siswa.
b. Data Kuantitatif
Data hasil belajar siswa atau hasil evaluasi siswa.
3. Cara pengambilan data
a. Data tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru diambil dengan lembar observasi
guru.
b. Data tentang keaktifan siswa diambil dengan lembar observasi siswa.
c. Data hasil belajar siswa diambil dari hasil evaluasi siswa.

E. Uji Instrumen
1. Penyusunan instrumen
Untuk memperoleh data digunakan metode tertentu yang tepat dan juga diperlukan
alat bantu untuk memperoleh data tersebut yaitu instrumen pengumpulan data.
Prosedur yang digunakan dalam penyusunan instrumen yang baik adalah ;
a. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan, menentukan variabel, kategori variabel.
b. Penulisan butir soal, atau item questioner, penyusunan skala penyusun pedoman
wawancara.
c. Penyuntingan, yaitu melengkapi instrumen dengan pedoman mengerjakan, surat
pengantar, kunci jawaban dan lain-lain yang perlu.
d. Uji coba, baik dalam skala kecil maupun besar.
e. Penganalisisan hasil, analisis item-item yang dirasa kurang baik, denagan
mendasarkan diri pada data yang diperoleh sewaktu uji coba.
(Arikunto, 2002:142-143)
2. Pelaksanaan uji instrumen
Sebelum penelitian dilakukan,instrumen berupa tes yang akan di uji cobakan
pada kelas VII B, agar instrumen memiliki syarat-syarat hasil belajar yang baik maka
harus memenuhi validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran yang
menjadi syarat itu baik atau tidak.
a. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat validitas tinggi.
Sebaliknya instrument yang kurang valid berarti mempunyai validitas rendah.
Validitas berkenaan dengan ketepatan dengan alat penilai (instrumen) terhadap
aspek yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai.

Validitas empiris dari tes ini dicari validitas butir soal dengan skor total.
Rumus yang digunakan adalah korelasi produk moment sebagai berikut :



Keterangan :
r
xy
: korelasi antara x dan y
X : skor tiap butir soal
Y : skor total
N : banyaknya siswa yang mengerjakan soal
Harga r
xy
yang diperoleh dari tiap-tiap butir soal jika r
xy
> r
tabel
dengan taraf
signifikan 5% maka soal tersebut dikatakan valid (Suharsimi Arikunto, 2007:72)
Kriteria validitas :
0,80 r
11
1,00 : kategori sangat tinggi

0,60 r
11
< 0,80 : kategori tinggi

0,40 r
11
< 0,60 : kategori cukup
0,20 r
11
< 0,40 : kategori rendah
0,00 r
11
< 0,20 : kategori sangat rendah
(Suharsimi Arikunto,2007:75)
b. Reliabilitas tes
Reliabilitas suatu alat ukur atau alat evaluasi dimaksudkan sebagai suatu alat
yang memberikan hasil tetap sama. Suatu instrument dikatakan reabel jika hasil
evaluasi tersebut relatife tetap jika digunakan untuk subjek yang sama dalam
waktu yang berlainan. Atau dapat berubah tetapi tidak mengalami perubahan yang
berarti signifikan.
( ) ( ) [ ] ( ) ( ) [ ]
2
2
2
2




=
Y Y N X X N
Y X XY N
r
xy

Untuk keperluan mencari reliabilitas butir soal tes uraian, maka rumus yang
digunakan adalah rumus alpa. Rumus sebagai berikut :
2
11 2

n
r = 1-
n-1
i
t







r
11
: reliabilitas yang di cari
n : banyaknya butir soal
2
i

: jumlah varians skor tiap-tiap item


2
t
: varian total
(Suharsimi Arikunto, 2007:109)
dengan mengunakan rumus varians yang digunakan adalah :
( )
N
N
X
X
i

2
2
2

( )

N
N
Y
Y
2
2
2


: Jumlah skor tiap item
N : Jumlah siswa

2
: Jumlah kuadrat skor tiap item
Y : Jumlah skor semua item
Y
2
: Jumlah kuadrat skor semua item
(Arikunto, 2007:97)
Klasifikasi reliabilitas test
0,80 r
11
< 1,00 : kategori sangat tinggi
0,60 r
11
< 0,80 : kategori tinggi
0,40 r
11
< 0,60 : kategori cukup
0,20 r
11
< 0,40 : kategori rendah

0,00 r
11
< 0,20 : kategori sangat rendah
(Arikunto, 2007:75)
c. Taraf kesukaran test
Suatu soal dikatakan baik apabila soal tersebut tidak terlalu sukar dan tidak
terlalu mudah. Para ahli tes menentukan tingkat kesukaran berdasarkan seberapa
banyak peserta tes dapat menjawab benar pada soal yang diberikan.
Menentukan taraf kesukaran soal dimaksudkan untuk mengetahui apakah
butir soal sesuai dengan yang telah direncanakan dalam spesifikasi instrumen.
Taraf kesukaran dilambangkan dengan hurur P dan dihitung dengan rumus :
100%
N
F
P =
Keterangan :
P = taraf kesukaran
F = jumlah siswa yang gagal
N = jumlah seluruh siswa
Taraf kesukaran diklasifikasikan sebagai berikut :
Jika diperoleh prosentase < 27%, maka dikategorikan soal mudah
Jika diperoleh prosentase 27 % - 72%, maka dikategorikan soal sedang
Jika diperoleh prosentase > 72, maka dikategorikan soal sukar
Butir soal yang baik adalah butir soal yang mempunyai proporsi antara 27%
sampai dengan 72% atau butir soal dengan kategori sedang. (Zaenal Arifin, 1991 :
135).
d. Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara
siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh

(berkemampuan rendah). Adapun langkah-langkah untuk menghitung daya


pembeda sebagai berikut:
1) Skor hasil tes uji coba diranking yaitu dengan mengurutkan skor atas dari skor
tertinggi sampai terendah.
2) Mengelompokkan skor tes uji coba menjadi dua kelompok, yaitu kelompok atas
50% dan kelompok bawah 50%, rumus yang digunakan adalah:
1) ni(ni
) M (M
t
2
2
2
1
L

=

x x
H

Keterangan:
M
H
= rata-rata kelompok atas
M
L
= rata-rata kelompok bawah

2
1
x = Jumlah kuadrat deviasi individu kelompok atas

2
2
x = Jumlah kuadrat deviasi individu kelompok bawah
ni = 27% x N, dengan N = jumlah peserta tes
Jika t
hitung
> t
tabel
, maka daya pembeda soal signifikan.
Jika t
hitung
< t
tabel
, maka daya pembeda soal tidak signifikan.
Dengan dk = (n
1
1) + (n
2
1) dan = 5% (Zainal Arifin, 1991 : 141).

F. Analisis Data
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini penulis memperoleh data
berdasarkan :


1. Data aktivitas Siswa


Untuk mengetahui seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar matematika, maka analisis ini dilakukan pada instrumen lembar observasi
dengan menggunakan teknik deskriptif melalui prosentase.
Adapun perhitungan prosentase keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar
sebagai berikut :
Prosentase (%) =
N
n
x 100%
Keterangan :
n : Skor yang diperoleh tiap siswa
N : Jumlah seluruh skor
% : Tingkat prosentase yang ingin dicapai
Kriteria penafsiran variable penelitian ini ditentukan :
> 75% : keaktifan tinggi
65% - 75% : keaktifan sedang
< 65% : keaktifan rendah
(Ali, 1984:184).
2. Data mengenai hasil belajar
Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan kognitif siswa dalam
memecahkan masalah dianalisis dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan
belajar secara klasikal. Adapun rumus yang digunakan:
a. Menghitung rata-rata nilai (mean)
Untuk menghitung rata-rata secara klasikal, digunakan rumus rata-rata nilai.
N
x
x

=


Keterangan :

x : rata-rata nilai

x : jumlah seluruh nilai


N : jumlah siswa (Arikunto 2007:264)
b. Menghitung ketuntasan belajar
Hasil belajar berupa kemampuan kognitif siswa dalam memecahkan masalah
dianalisis dengan cara menghitung ketuntasan belajar yaitu:
1) Ketuntasan belajar individu
Ketuntasan belajar individu dapat dihitung dengan menggunakan analisis
deskriptif prosentase yaitu:
Prosentase( %) = 100% x
nilai seluruh Jumlah
siswa tiap diperoleh yang nilai Jumlah

2) Ketuntasan belajar klasikal
Ketuntasan belajar klasikal dapat dihitung dengan menggunakan analisis
deskriptif prosentase yaitu:
Prosentase (%) = % 100
siswa seluruh Jumlah
individu belajar tuntas yang siswa jumlah
X
(Arikunto,2006 :120)
Keberhasilan kelas dilihat dari jumlah siswa yang mampu menyelesaikan atau
mencapai minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik
yang ada di kelas tersebut (Mulyasa, 2004:99).
3. Tingkat kinerja guru
Untuk mengetahui seberapa kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran
matematika, digunakan rumus:
Prosentase (%) = % 100
N
n

Keterangan:
n = skor yang diperoleh guru
N = jumlah seluruh skor maksimal
% = tingkat prosentase yang ingin dicapai
Kriteria :
86% - 100% = kinerja guru sangat tinggi
76% - 85% = kinerja guru baik
66% - 75% = kinerja guru cukup
< 65% = kinerja guru kurang.

G. Indikator keberhasilan
Penelitian ini dikatakan berhasil jika :
Untuk mengetahui meningkatnya penerapan pembelajaran matematika dengan
model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual, maka ditetapkan indikator
keberhasilan sebagai berikut:
1. Jika kelas memperoleh nilai rata-rata 65 dengan ketuntasan klasikal 80% dari seluruh
siswa setelah diterapkan model pembelajaran CIRC.
2. Kerjasama siswa mencapai maksimal untuk setiap kelompok dengan presentase rata-
rata 80 % (skala penilaian B).
3. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran melalui model pembelajaran CIRC rata-
rata 80 % (skala penilaian B).
4. Guru dapat mengelola pembelajaran dengan baik dalam upaya meningkatkan
kinerjanya dalam proses belajar mengajar, dengan nilai pengamatan mencapai > 75%

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengadakan persiapan penelitian sebagai
berikut:
1. Melakukan observasi untuk mengidentifikasi masalah melalui wawancara dengan
guru bidang studi matematika yang dilaksanakan pada bulan Desember 2010.
2. Peneliti meminta persetujuan Kepala Sekolah SMPN 4 Juwana Pati untuk
mengadakan penelitian.
3. Menentukan kelas VII B yang dipilih sebagai subyek penelitian berdasarkan
pertimbangan dari guru matematika di kelas VII SMPN 4 Juwana Pati Ibu Ruswanti,
S. Pd, bahwa kelas VII B hasil belajarnya masih rendah.
4. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dalam hal ini peneliti memilih pokok
bahasan himpunan.
5. Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan implementasi
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual sebagai pedoman
dalam proses pembelajaran.
6. Merancang pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 siswa dengan
memperhatikan penyebaran kemampuan siswa.
7. Membuat soal diskusi siklus I dan II beserta kunci jawabannya.
8. Membuat soal tes evaluasi siklus I dan II yang disesuaikan dengan materi yang
diajarkan beserta kunci jawabannya.
9. Menyusun lembar observasi keaktifan dan kerjasama siswa.

10. Menyusun lembar observasi kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model
CIRC dengan pendekatan kontekstual.

B. Uji Coba Instrumen
Pelaksanaan uji coba instrumen ini dilakukan pada siswa kelas VII A semester II SMPN 4
Juwana pati tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 siswa dengan pertimbangan
kelas tersebut mempunyai pengajar yang sama dengan kelas yang akan digunakan
sebagai subjek penelitian yaitu kelas VII B. Uji coba instrumen dilaksanakan pada hari
Selasa tanggal 1 dan Rabu tanggal 2 Februari 2011 terhadap kelompok uji coba yaitu
kelas VII A dengan jumlah soal sebanyak 5 soal uraian Siklus I dan 5 soal uraian siklus II
dengan alokasi waktu masing-masing 40 menit. Berikut adalah hasil analisis uji coba
instrumen penelitian :
1. Siklus I
a. Validitas Soal
Validitas item dihitung menggunakan rumus korelasi produk momen angka
kasar. Nilai r
xy
yang dihasilkan pada perhitungan dikonsultasikan dengan tabel
harga kritik r product moment. Soal dikatakan valid apabila mempunyai koefisien
korelasi lebih besar atau sama dengan nilai r
tabel
. Jika r
xy
< r
tabel
, maka butir item
tidak valid.
Berikut contoh perhitungan validitas soal untuk butir soal no 1 pada siklus I
dan butir soal yang lain juga dihitung dengan cara yang sama.
X = 136 XY = 4693 N = 40
Y
2
= 44662 X
2
= 520 ( X)
2
= 18496
Y = 1286 ( Y)
2
= 1653796
Data di atas dimasukkan ke dalam rumus korelasi product moment

r
xy
=
[ ][ ] 1653796 ) 44662 )( 40 ( 18496 ) 520 )( 40 (
) 1286 )( 136 ( ) 4693 )( 40 (



=
) 132684 )( 2304 (
12824
) 1653796 1786480 )( 18496 20800 (
174896 187720
=



=
305703936
12824

=
3912104 , 17484
12824
= 0,73345
Pada tabel % 5 = dengan N = 40, diperoleh r
tabel
= 0,312
Karena r
xy
> r
tabel
atau 0,73345 > 0,312 maka soal no.1 valid.
Dari 5 soal uraian uji coba instrumen siklus I semuanya mempunyai koefisien
korelasi yang memenuhi kriteria r
hitung
> r
tabel
sehingga semua soal uji coba siklus I
dikatakan valid. Untuk hasil perhitungan validitas soal uji coba instrumen siklus I
secara keseluruhannya dapat dilihat pada (lampiran 9).
b. Reliabilitas
Dari hasil perhitungan dengan rumus alpha, untuk uji coba instrumen siklus
I diperoleh koefisien korelasi r
11
= 0,7211. Karena r
hitung
= 0,7211 terletak pada
interval 0,60 r
11
< 0,80 maka instrumen yang digunakan reliabel dengan kategori
reliabilitas tinggi.
Berikut ini perhitungan reliabilitas siklus I :
Rumus yang digunakan:

=

2
2
11
1
1 n
n
r
t
i

Cara menghitung varians butir soal digunakan rumus:


( )
44 , 1
40
40
18496
520

40
40
) 136 (
520

2
2
2
2
1
=

N
N
X
X


Sehingga

2
i
=
2
1
+
2
2
+
2
3
+
2
4
+
2
5

= 1,44 + 7,51938 + 2,51 + 7,77438 + 15,8475
= 35,09125
Untuk varian total:
( )
9275 , 82
40
40
1653796
- 44662

40
40
(1286)
44662

N
N
Y
Y
2
2
2
2
=
=


Dimasukkan ke dalam rumus alpha, sehingga koefisien reliabilitasnya :
0,72106
82,9275
35,09125
1
1 5
5

1
1 n
n
r
2
t
2
i
11
=

Karena r
11
berada pada interval 0,60 r
11
< 0,80 maka termasuk dalam kategori
reliabilitas tinggi. Hasil perhitungan keseluruhannya dapat dilihat pada (Lampiran
10).
c. Taraf Kesukaran
Dari contoh hasil perhitungan pada silus I soal nomor 1 diperoleh P = 57,5%
untuk uji coba instrumen ini berarti P berada pada kisaran prosentase 27% - 72%,
sehingga untuk siklus I soal nomor 1 dikategorikan sebagai soal yang mempunyai
taraf kesukaran sedang.
Berikut perhitungan taraf kesukaran untuk siklus I soal no.1, untuk butir soal yang
lain dihitung dengan cara yang sama.
Rumus yang digunakan:
100%
N
F
P =
F = 23
N = 40
100%
N
F
P =
100%
40
23
=
= 57,5%

Dari 5 soal yang diuji coba siklus I semuanya mempunyai harga P pada kisaran
prosentase 27% - 72%, sehingga semua soal termasuk kategori tingkat kesukaran
soal sedang. Secara keseluruhan hasil perhitungan tingkat kesukaran uji coba
instrumen siklus I dapat dilihat pada (lampiran 12).
d. Daya Pembeda
Daya pembeda hitung dengan uji-t. Butir soal dikatakan signifikan apabila
t
hitung
> t
tabel
, dengan dk = (n
1
1)+(n
2
1) dengan taraf signifikan 5%.

Untuik menghitung daya pembeda soal digunakan rumus sebagai berikut.


1) ni(ni
) M (M
t
2
2
2
1
L H

=

x x

Berikut ini contoh perhitungan daya pembeda siklus I soal no.1
Kelompok atas Kelompok bawah
No Nilai (X
i
- M
H
)
2
No Nilai (X
i
M
L
)
2
1 5 0,25 1 3 0,64
2 5 0,25 2 3 0,64
3 5 0,25 3 2 0,04
4 3 2,25 4 2 0,04
5 5 0,25 5 3 0,64
6 4 0,25 6 2 0,04
7 5 0,25 7 2 0,04
8 4 0,25 8 1 1,44
9 4 0,25 9 2 0,04
10 5 0,25 10 2 0,04
45 4,5 22 3,6
M
H
= 4,5 M
L
= 2,2

M
H
= 4,5
2
1
x = 4,5 ni = 10
M
L
= 2,2
2
2
x

= 3,6 t
tabel
= 1,73
1) ni(ni
) M (M
t
2
2
2
1
L H

=

x x

66 , 7
3 , 0
3 , 2
09 , 0
3 , 2
9 x 10
6 , 3 5 , 4
) 2 , 2 5 , 4 (
= =
+

=
Dari tabel distribusi t, untuk = 5% dan dk = (10 1) + (10 1) = 18, t
tabel
= 1,73.
Dari hasil perhitungan uji coba instrumen untuk contoh item soal nomor 1 diperoleh
t
hitung
= 7,66. Karena t
hitung
> t
tabel
, yaitu 7,66 > 1,73 maka daya pembeda soal nomor
1 signifikan. Secara keseluruhan hasil perhitungan daya pembeda soal uji coba
instrumen dapat dilihat pada (lampiran 11). Dari semua perhitungan daya pembeda

siklus I soal nomor 1 sampai 5 didapat t


hitung
> dari t
tabel
, maka daya beda soal uji
coba instrumen yang digunakan signifikan.
Berdasarkan hasil analisis uji instrumen (uji validitas, reliabilitas, daya
pembeda, dan taraf kesukaran) dari siklus I di atas, soal-soal yang diberikan semua
memenuhi kriteria instrumen yang baik, dapat dilihat pada (Lampiran 13), sehingga
soal yang diujicobakan dapat digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini.

2. Siklus II
a. Validitas Soal
Validitas item dihitung menggunakan rumus korelasi produk momen angka
kasar. Nilai r
xy
yang dihasilkan pada perhitungan dikonsultasikan dengan tabel
harga kritik r product moment. Soal dikatakan valid apabila mempunyai koefisien
korelasi lebih besar atau sama dengan nilai r
tabel
. Jika r
xy
< r
tabel
, maka butir item
tidak valid.
Berikut contoh perhitungan validitas soal untuk butir soal no 1 pada siklus II
dan butir soal yang lain juga dihitung dengan cara yang sama.
X = 273 XY = 9198 N = 40
Y
2
= 43295 X
2
= 2031 ( X)
2
= 74529
Y = 1275 ( Y)
2
= 1625625
Data di atas dimasukkan ke dalam rumus korelasi product moment
r
xy
=
[ ][ ] 1625625 ) 43295 )( 40 ( 74529 ) 2031 )( 40 (
) 1275 )( 273 ( ) 9198 )( 40 (



=
) 106175 )( 6711 (
19845
) 1625625 1731800 )( 74529 81240 (
348075 367920
=



=
712540425
19845

=
4528489 , 26693
19845
= 0,74344
Pada tabel % 5 = dengan N = 40, diperoleh r
tabel
= 0,312
Karena r
xy
> r
tabel
atau 0,74344 > 0,312 maka soal no.1 valid.
Dari 5 soal uraian uji coba instrumen siklus II semuanya mempunyai koefisien
korelasi yang memenuhi kriteria r
hitung
> r
tabel
sehingga semua soal uji coba siklus II
dikatakan valid. Untuk hasil perhitungan validitas soal uji coba instrumen siklus II
secara keseluruhannya dapat dilihat pada (lampiran 33).
b. Reliabilitas
Dari hasil perhitungan dengan rumus alpha, untuk uji coba instrumen siklus
II diperoleh koefisien korelasi r
11
= 0,6903. Karena r
hitung
= 0,6903 terletak pada
interval 0,60 r
11
< 0,80 maka instrumen yang digunakan reliabel dengan kategori
reliabilitas tinggi.
Berikut ini perhitungan reliabilitas siklus II :
Rumus yang digunakan:

=

2
2
11
1
1 n
n
r
t
i


Cara menghitung varians butir soal digunakan rumus:
( )
19438 , 4
40
40
74529
2031

40
40
) 273 (
2031

2
2
2
2
1
=

N
N
X
X

Sehingga

2
i
=
2
1
+
2
2
+
2
3
+
2
4
+
2
5

= 4,19438 + 3,87438 + 12,9244 + 6,4375 + 2,2775
= 29,70816
Untuk varian total:
( )
3594 , 66
40
40
1625625
- 43295

40
40
(1275)
43295

N
N
Y
Y
2
2
2
2
=
=


Dimasukkan ke dalam rumus alpha, sehingga koefisien reliabilitasnya :
0,690393
66,3594
29,70813
1
1 5
5

1
1 n
n
r
2
t
2
i
11
=

=


Karena r
11
berada pada interval 0,60 r
11
< 0,80 maka termasuk dalam kategori
reliabilitas tinggi. Hasil perhitungan keseluruhannya dapat dilihat pada (Lampiran
34).
c. Taraf Kesukaran
Dari contoh hasil perhitungan pada siklus II soal nomor 1 diperoleh P = 55%
untuk uji coba instrumen ini berarti P berada pada kisaran prosentase 27% - 72%,
sehingga untuk siklus II soal nomor 1 dikategorikan sebagai soal yang mempunyai
tingkat kesukaran sedang.

Berikut perhitungan tingkat kesukaran untuk siklus I soal no.1, untuk butir soal
yang lain dihitung dengan cara yang sama.
Rumus yang digunakan:
100%
N
F
P =
F = 22
N = 40
100%
N
F
P =
100%
40
22
=
= 55%
Dari 5 soal yang diuji coba siklus II nomor 1, 3, 4, 5 mempunyai harga P pada
kisaran prosentase 27% - 72%, sehingga soal-soal tersebut termasuk kategori taraf
kesukaran soal sedang. Sedangkan nomor 2 mempunyai harga P pada kisaran
prosentase >72%, sehingga soal tersebut termasuk kategori taraf kesukaran soal
sukar. Secara keseluruhan hasil perhitungan taraf kesukaran uji coba instrumen
siklus II dapat dilihat pada (lampiran 36).
d. Daya Pembeda
Berikut ini contoh perhitungan daya pembeda siklus II soal no.1
Kelompok atas Kelompok bawah
No Nilai (X
i
- M
H
)
2
No Nilai (X
i
M
L
)
2

1 10 0,81 1 5 0,01
2 8 1,21 2 6 0,81
3 10 0,81 3 4 1,21
4 10 0,81 4 6 0,81
5 10 0,81 5 6 0,81
6 10 0,81 6 5 0,01
7 10 0,81 7 4 1,21
8 10 0,81 8 5 0,01
9 5 16,81 9 5 0,01
10 8 1,21 10 5 0,01

91 24,9 51 4,9
M
H
= 9,1 M
L
= 5,1

M
H
= 9,1
2
1
x

= 24,9 ni = 10
M
L
= 5,1
2
2
x

= 4,9 t
tabel
= 1,73
1) ni(ni
) M (M
t
2
2
2
1
L H

=

x x

951 , 6
575 , 0
4
331 , 0
4
9 x 10
9 , 4 9 , 24
) 1 , 5 1 , 9 (
= =
+

=
Dari tabel distribusi t, untuk = 5% dan dk = (10 1) + (10 1) = 18, t
tabel
= 1,73.
Dari hasil perhitungan uji coba instrumen untuk contoh item soal nomor 1 diperoleh
t
hitung
= 6,951. Karena t
hitung
> t
tabel
, yaitu 6,951 > 1,73 maka daya pembeda soal
nomor 1 signifikan. Secara keseluruhan hasil perhitungan daya pembeda siklus II
soal uji coba instrumen dapat dilihat pada (lampiran 35). Dari semua perhitungan
daya pembeda siklus II soal nomor 1 sampai 5 didapat t
hitung
> dari t
tabel
, maka daya
beda soal uji coba instrumen yang digunakan signifikan.
Berdasarkan hasil analisis uji instrumen (uji validitas, reliabilitas, daya
pembeda, dan taraf kesukaran) dari siklus II di atas, soal-soal yang diberikan semua
memenuhi kriteria instrumen yang baik, dapat dilihat pada (Lampiran 37), sehingga
soal yang diujicobakan dapat digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini.

C. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VII B SMPN 4 Juwana Pati
tahun pelajaran 2010/2011 pada tanggal 4 Februari 2011 sampai dengan 14 Februari
2011. Setelah segala persiapan dilakukan maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan
penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan tiap siklus terdiri atas
tahapan perencanaan, tindakan pengamatan dan refleksi. Adapun tahapan tiap siklus
adalah sebagai berikut:

1. Siklus I
a. Perencanaan
Penelitian ini direncanakan pada tanggal 4 sampai 7 Februari, pada siswa kelas VII
B SMPN 4 Juwana Pati. Pada perencanaan dipersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dalam hal ini peneliti memilih
pokok bahasan himpunan.
2) Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan
implementasi pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual pada materi himpunan yang akan dikerjakan pada siklus I
(Lampiran 14).
3) Merancang pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 siswa
dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa (Lampiran 21).
4) Membuat soal diskusi siklus I (Lampiran 19) beserta kunci jawabannya
(Lampiran 20).
5) Membuat soal tes evaluasi siklus I yang disesuaikan dengan materi yang
diajarkan (Lampiran 15) beserta kunci jawabannya (Lampiran 16).
6) Menyusun lembar observasi keaktifan dan kerjasama siswa (Lampiran 17 dan
lampiran 22).
7) Menyusun lembar observasi kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan
model CIRC dengan pendekatan kontekstual (Lampiran 26 ).
b. Pelaksanaan tindakan
Siklus I meliputi pembelajaran matematika pokok bahasan himpunan
yaitu, menyajikan irisan dua himpunan dan komplemen suatu himpunan dengan
diagram venn. Siklus I dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan (5 x 40 menit),
pada hari Jumat tanggal 4 Februari 2011 diadakan pertemuan pertama (2 x 40)

menit untuk menjelaskan materi tentang penyajian irisan atau gabungan dua
himpunan dengan diagram venn, dilanjutkan pada hari Sabtu tanggal 5 Februari
2011, diadakan pertemuan kedua (2 x 40) menit untuk menjelaskan materi tentang
penyajian komplemen suatu himpunan dengan diagram venn disertai diskusi
kelompok, pada hari Senin tanggal 7 Februari 2011 selama 40 menit diadakan
pertemuan ketiga untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dengan mengadakan tes
evaluasi siklus I. Pelaksanaan tindakan meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru memberikan motivasi mengenai pentingnya materi himpunan untuk
kehidupan sehari-hari.
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi.
3) Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual sebagai
suatu variasi model pembelajaran.
4) Guru melakukan tanya jawab untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa
tentang materi himpunan.
5) Guru menyajikan materi himpunan secara garis besar (komponen teaching
group).
6) Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang telah di
dapatnya.
7) Guru memberikan contoh latihan soal dan meminta siswa untuk menemukan dan
menyelesaikannya sendiri.
8) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang (Lampiran 21).
9) Guru membagikan soal diskusi siklus I yaitu materi himpunan yang berkaitan
dengan masalah kontekstual (Lampiran 19).

10) Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian


kegiatan spesifik sebagai berikut :
a) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling
membaca soal.
b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita.
c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
d) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan
komposisi penyelesaiannya).
e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (jika ada yang
perlu direvisi).
11) Guru berkeliling memberi motivasi, membimbing dengan instruksi seminimal
mungkin serta mengawasi kegiatan kelompok dalam mengkonstruksi dan
menyelesaikan pengetahuan baru yang didapat.
12) Setelah selesai diskusi, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk
menyajikan temuannya di depan kelas.
13) Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah
dipresentasikan oleh siswa secara singkat (Teaching Group).
14) Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria
penghargaan terhadap kelompok yang dapat menyelesaikan soal.
15) Guru memberikan soal evaluasi secara individu (Lampiran 15).
16) Setelah siswa selesai mengerjakan, maka pekerjaan masing-masing siswa
dikumpulkan. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

c. Pengamatan

1) Hasil pengamatan tentang keaktifan dan kerjasama siswa pada siklus I adalah
sebagai berikut :
a) Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran matematika secara klasikal
cukup baik / sedang namun prosentasenya belum menunjukan hasil yang
diharapkan peneliti (Lampiran 17).
b) Kerjasama siswa dalam kelompok cukup baik, namun prosentasenya belum
menunjukan hasil yang maksimal (Lampiran 22).
2) Hasil penilaian uji kompetensi I
Setelah siklus I selesai dilaksanakan maka diberikan tes kepada siswa
sebagai tolak ukur apakah model pembelajaran yang digunakan sudah dikuasai
dan dipahami. Adapun hasil tes siklus I sebagai berikut:
Secara klasikal diperoleh prosentase ketuntasan belajar siswa 70% dengan nilai
rata-rata 65,2. Namun hal ini belum menunjukan hasil yang diharapkan
peneliti, dikarenakan mungkin siswa belum terbiasa menggunakan model
pembelajaran cooperative learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual.
Selain itu juga guru kurang memberikan bimbingan dan motivasi kepada siswa
sehingga siswa kurang berani mengeluarkan pendapat atau bertukar pikiran,
sehingga siswa terlihat kurang aktif.
3) Hasil pengamatan terhadap kinerja guru menggunakan model pembelajaran
cooperative learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual adalah sebagai
berikut :
Dari hasil penilaian kinerja guru, maka dapat dikatakan kinerja guru cukup
baik dengan prosentase 72,5% (Lampiran 26). Hal ini belum maksimal,
walaupun guru sudah baik dalam penguasaan materi, namun pelaksanaan

pembelajaran cooperative tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual masih


tergolong cukup.
d. Refleksi
Setelah mengadakan pengamatan pada proses pembelajaran, selanjutnya diadakan
refleksi terhadap segala kegiatan yang telah dilakukan. Dari pelaksanaan siklus I
didapat hasil refleksi sebagai berikut:
1) Peneliti dan guru saling bertukar pikiran, agar pada siklus II dapat lebih baik
dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa dibandingkan dengan siklus
I.
2) Guru dituntut untuk memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan dalam
belajar, bimbingan yang diberikan guru pada siswa belum merata, sehingga
ada kelompok yang belum dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik.
3) Penguasaan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual lebih
ditingkatkan dalam pembelajaran dengan menciptakan kelompok belajar untuk
lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang
behubungan dengan kehidupan sehari-hari.
4) Guru hendaknya memberikan perhatian agar siswa yang lebih pandai tidak
mendominasi kelompoknya, dan berusaha memberikan pengertian agar siswa
dapat bekerjasama dan saling membantu antar temannya yang belum jelas.
Dari siklus I diperoleh bahwa keaktifan siswa memperoleh rata-rata prosentase
73,82% yang dikategorikan cukup baik (Lampiran 17). Sedangkan untuk
kemampuan siswa dalam bekerjasama dengan kelompoknya diperoleh rata-rata
prosentase 74,7% yang dikategorikan cukup baik (Lampiran 22). Sehingga masih
terdapat beberapa catatan dari peneliti bahwa guru kurang memberikan motivasi

belajar kepada siswa, yaitu buktinya masih terdapat siswa yang belum terlibat
dalam diskusi. Disamping itu siswa belum terbiasa menggunakan model
pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual sehingga kerjasama antara
siswa satu dengan siswa yang lainnya belum maksimal.
Untuk penilaian hasil diskusi tiap kelompok diperoleh rata-rata prosentase
78,54% yang dikategorikan baik. Sedangkan untuk keaktifan setiap kelompok
dalam berdiskusi memperoleh rata-rata prosentase 72,65% yang dikategorikan
cukup baik.
Berdasarkan analisis hasil belajar siswa pada siklus I (Lampiran 18) dalam
proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan
kontekstual diperoleh siswa yang tidak tuntas belajar berjumlah 12 siswa dengan
prosentase ketuntasan belajar klasikal 70%. Dan nilai rata-rata kelas yang dicapai
adalah 65,2.
Untuk penilaian kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model
pembelajaran cooperative learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual
diperoleh prosentase 72,5% dan tergolong kinerja guru cukup baik.
Dari semua hasil siklus I di atas dapat disimpulkan bahwa agar siswa
memahami penjelasan dari guru pada waktu membahas materi ajar, maka
sebaiknya guru dapat mengarahkannya dengan baik. Guru juga disarankan untuk
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa , mengingat daya
tangkap siswa yang beragam. Bimbingan yang diberikan guru pada siswa belum
merata sehingga ada kelompok yang belum dapat menyelesaikan soal-soal dengan
baik. Guru hendaknya memberikan perhatian agar tidak siswa yang lebih pandai
saja yang mendominasi kelompoknya dan guru sebaiknya berusaha memberikan

pengertian agar siswa dapat bekerjasama dan membagi kemampuan yang dimiliki
kepada temannya yang belum paham. Sehingga perlu dilakukan siklus II untuk
memperbaikinya.

2. Siklus II
a. Perencanaan
Penelitian ini direncanakan pada tanggal 11 sampai 14 Februari, pada siswa kelas
VII B SMP N 4 Juwana Pati. Pada perencanaan dipersiapkan hal-hal sebagai
berikut :
1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dalam hal ini peneliti memilih
pokok bahasan himpunan.
2) Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan
implementasi pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual pada materi himpunan yang akan dikerjakan pada siklus II
(Lampiran 38).
3) Merancang pembentukan kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 siswa
dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa (Lampiran 45).
4) Membuat soal diskusi siklus II (Lampiran 43) beserta kunci jawabannya
(Lampiran 44).
5) Membuat soal tes evaluasi siklus II yang disesuaikan dengan materi yang
diajarkan (Lampiran 39) beserta kunci jawabannya (Lampiran 29).
6) Menyusun lembar observasi keaktifan dan kerjasama siswa (Lampiran 41 dan
lampiran 46).
7) Menyusun lembar observasi kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan
model CIRC dengan pendekatan kontekstual (Lampiran 50).

b. Pelaksanaan tindakan
Siklus II meliputi pembelajaran matematika pokok bahasan himpunan
yaitu menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan masalah sehari-hari dengan
menggunakan diagram venn. Siklus II dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan (5 x
40 menit), pada hari Jumat tanggal 11 Februari 2011 diadakan pertemuan pertama
(2 x 40) menit untuk menjelaskan cara menyelesaikan masalah sehari-hari dengan
menggunakan diagram venn dan konsep himpunan, dilanjutkan pada hari Sabtu
tanggal 12 Februari 2011, diadakan pertemuan yang kedua (2 x 40) menit untuk
menjelaskan pengerjaan dengan baik soal-soal yang berkaitan dengan materi
himpunan. Pada hari Senin tanggal 14 Februari 2011 selama 40 menit diadakan
pertemuan ketiga untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dengan mengadakan tes
evaluasi siklus II. Pelaksanaan tindakan meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru memberikan motivasi mengenai pentingnya materi himpunan untuk
kehidupan sehari-hari.
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan apersepsi.
3) Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual sebagai
suatu variasi model pembelajaran.
4) Guru melakukan tanya jawab untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa
tentang materi himpunan.
5) Guru menyajikan materi himpunan secara garis besar (komponen teaching
group).
6) Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang telah di
dapatnya.

7) Guru memberikan contoh latihan soal dan meminta siswa untuk menemukan
dan menyelesaikannya sendiri.
8) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang (Lampiran 45).
9) Guru membagikan soal diskusi siklus II yaitu materi himpunan yang berkaitan
dengan masalah kontekstual (Lampiran 43).
10) Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian
kegiatan spesifik sebagai berikut :
a) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling
membaca soal.
b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita.
c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita.
d) Menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan urutan
komposisi penyelesaiannya).
e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (jika ada yang
perlu direvisi).
11) Guru berkeliling memberi motivasi, membimbing dengan instruksi seminimal
mungkin serta mengawasi kegiatan kelompok dalam mengkonstruksi dan
menyelesaikan pengetahuan baru yang didapat.
12) Setelah selesai diskusi, guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk
menyajikan temuannya di depan kelas.
13) Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah
dipresentasikan oleh siswa secara singkat (Teaching Group).
14) Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan
kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dapat menyelesaikan soal.

15) Guru memberikan latihan soal (evaluasi) secara individu (Lampiran 39).
16) Setelah siswa selesai mengerjakan, maka pekerjaan masing-masing siswa
dikumpulkan.Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
c. Pengamatan
1) Hasil pengamatan tentang keaktifan dan kerjasama siswa pada siklus II adalah
sebagai berikut :
a) Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran matematika secara klasikal
sudah baik dan sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang sudah
menunjukkan terjadinya peningkatan yang diharapkan peneliti (Lampiran
41).
b) Kerjasama siswa dalam kelompok juga menunjukkan hasil yang baik, dan
menunjukkan adanya peningkatan seperti yang diharapkan oleh peneliti.
(Lampiran 46).
2) Hasil penilaian uji kompetensi I
Secara klasikal prosentase ketuntasan belajar siswa 87,5% dengan nilai
rata-rata 80,15. Dari hasil tersebut tampak bahwa terjadi peningkatan
ketuntasan belajar dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus II ini ada lima
siswa yang tidak tuntas sehingga telah sesuai dengan harapan. Rata-rata nilai
juga sudah mengalami kenaikan.
3) Hasil pengamatan terhadap kinerja guru menggunakan model pembelajaran
cooperative learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual adalah sebagai
berikut :
Dari hasil penilaian kinerja guru, maka dapat dikatakan kinerja guru baik
dengan prosentase 85 % (Lampiran 50). Guru sudah baik dalam pelaksanaan

pembelajaran menggunakan metode pembelajaran cooperative learning tipe


CIRC dengan pendekatan kontekstual. Disamping itu, guru juga lebih bisa
membimbing dan memotivasi siswa serta menumbuhkan interaksi antara siswa
dengan siswa maupun interaksi antara siswa dengan guru.
d. Refleksi
Setelah mengadakan pengamatan atas tindakan di kelas selanjutnya diadakan
refleksi terhadap segala kegiatan yang telah dilakukan. Hasil refleksi siklus II
yaitu:
1) Siswa memanfaatkan waktu yang diberikan guru untuk bertanya tentang
materi yang belum jelas.
2) Siswa dengan cepat dapat merespon pertanyaan guru dengan jawaban yang
benar, tanpa guru harus menunjuk kepada seorang siswa.
3) Siswa bertambah aktif terlibat dalam kegiatan kelompok untuk ikut
menjelaskan pada teman satu kelompoknya yang belum bisa menyelesaikan
soal.
4) Tiap siswa telah beradaptasi dengan teman satu kelompoknya sehingga tidak
canggung lagi untuk saling bertukar pikiran dan mengeluarkan pendapat.
5) Kerjasama dalam satu kelompok telah menunjukkan pemerataan siswa yang
pandai tidak lagi mendominasi dalam mengerjakan tugas kelompok.
6) Setiap siswa dalam kelompok terlibat tampak sungguh-sungguh dan percaya
diri dalam kegiatan menyelesaikan soal serta siap menjelaskan pada kelompok
yang lain.
7) Suasana kelas tertib dan kondusif, dengan demikian proses pembelajaran
berjalan lancar.

Pada siklus II telah dilakukan perbaikan siklus I yaitu meningkatkan keaktifan


siswa, kerjasama siswa dalam kelompok dan kinerja guru sehingga kekurangan
proses pembelajaran dapat dikurangi seminimal mungkin yang menjadikan hasil
belajar siswa dapat meningkat.
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa siswa dapat memahami
penjelasan dari guru pada waktu membahas materi ajar. Hal itu disebabkan guru
sudah menerangkan materi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
oleh siswa, mengingat daya tagkap siswa yang beragam. Bimbingan yang
diberikan guru pada siswa sudah merata sehingga semua kelompok dapat
menyelesaikan soal-soal dengan baik. Siswa yang pandai tidak lagi mendominasi
kelompoknya dan antar siswa dapat bekerjasama dengan baik serta membagi
kemampuan yang dimiliki kepada temannya.

D. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh penerapan model pembelajaran
cooperative learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VII B SMP N 4 Juwana Pati pada pokok bahasan
himpunan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes akhir yang semula dengan rata-rata
mencapai 65,2 dengan ketuntasan belajar klasikal 70% meningkat menjadi 80,15 dengan
ketuntasan belajar klasikal 87,5%. Begitu pula dengan nilai hasil diskusi yang semula
rata-rata 78,54 naik menjadi 83,54. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya motivasi dan
minat siswa dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru,
siswa lebih aktif dan kreatif serta lebih mudah menerima dan memahami materi yang
diajarkan. Untuk keaktifan siswa selama proses belajar mengajar mengalami peningkatan
dari rata-rata prosentase 73,82% menjadi 84,75% sehingga sudah memenuhi indikator

keberhasilan, demikian halnya dengan aktivitas kerjasama siswa mengalami peningkatan


dari rata-rata prosentase 74,7% menjadi 83,45%. Hal ini disebabkan karena siswa lebih
berani bertanya, terlibat aktif antara siswa dengan guru, menghargai pendapat orang lain,
berani dan mampu menjelaskan pada teman yang belum jelas serta berani berpresentasi.
Untuk sikap siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan kombinasi model
pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual juga mengalami
peningkatan yaitu semula rata-rata prosentase mencapai 72% meningkat menjadi 81%.
Hal ini karena siswa merasa lebih mudah memahami materi yang diajarkan dan bisa
saling membantu dengan teman yang lainnya yang mengalami kesulitan, sehingga dapat
saling melengkapi.
Penampilan kinerja guru dalam pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC dengan
pendekatan kontekstual memperoleh skor 58 meningkat menjadi skor 68 dengan
prosentase 72,5% menjadi 85% dan sudah memenuhi indikator keberhasilan, hal ini
disebabkan karena guru dapat menguasai kelas dengan baik, membimbing siswa
mengkonstruksi pengetahuan baru yang didapat siswa dalam KBM, lebih menumbuhkan
interaksi kepada siswa agar lebih aktif dalam KBM dan membimbing siswa dalam
kelompok.
Peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar
tersebut disebabkan siswa sudah mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan
model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual yang diterapkan oleh guru.
Selain itu proses diskusi dalam kelompok telah memunculkan keberanian bertanya baik
antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru tentang hal yang dianggap
sulit, sehingga mereka dapat lebih aktif belajar dan aktif berkomunikasi dalam
menyelesaikan soal-soal.

Pembelajaran CIRC ternyata mampu meningkatkan semangat bersaing untuk


mendapatkan nilai baik dalam tes uji kompetensi. Hal ini terlihat dari motivasi siswa
untuk bersungguh-sungguh dalam mengikuti dan mengerjakan soal dengan kondusif.
Bimbingan guru dalam mengkonstruksi pengetahuan baru yang didapat siswa menambah
nilai positif dari pembelajaran CIRC ini. Peran aktif siswa pada setiap kegiatan
pembelajaran seperti belajar kelompok, berdiskusi, berpikir dan berinteraksi baik dengan
temannya maupun dengan guru meningkat. Melalui penggunaan pembelajaran CIRC
dengan pendekatan kontekstual ini dapat meningkatkan keaktifan dan sikap siswa dalam
pembelajaran serta meningkatkan ketuntasan siswa dalam belajar. Karena model
pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual ini menjadikan guru lebih kreatif
dan siswa tidak jenuh serta lebih termotivasi untuk terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran. Siswa lebih diberikan kesempatan memecahkan masalah dalam
pembelajaran. Pembagian siswa menjadi beberapa kelompok kecil, memberikan
kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dan mengemukakan pendapatnya sendiri.
Berdasarkan dari pembahasan di atas maka penelitian tindakan kelas dengan
menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan kemampuan mengajar guru sehingga hasil belajar dan
keaktifan siswa juga ikut meningkat.
Hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Dwi Antari Wijayanti tahun
2002 dan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Wiwik Fitri Sholikah tahun
2005 memperkuat hasil penelitian yang telah diperoleh di atas.
Hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Dwi Antari Wijayanti tahun
2002 menyimpulkan bahwa model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan hasil belajar
matematika khususnya dalam materi SPLDV bagi siswa kelas II-C SLTP N 4 Semarang.
Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil evaluasi 60% pada siklus I dan 84% pada

siklus II, selain itu juga dapat meningkatkan aktivitas siswa dari 56% pada siklus I dan
81% pada siklus II serta dapat meningkatkan kinerja guru dari 56% pada siklus I dan
81% pada siklus II.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH3c47.dir/doc.pdf
Disamping itu hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Wiwik Fitri
Sholikhah 2005 menyimpulkan bahwa pembelajaran CIRC dapat meningkatkan hasil
belajar matematika khususnya dalam materi bangun segiempat bagi siswa kelas VII A
SMP N II Balarejo Kab. Madiun tahun pelajaran 2004/2005 dengan 3 siklus. Pada siklus
ketiga sudah mencapai keberhasilan dengan nilai rata-rata mencapai 7,25 dengan
ketuntasan belajar 68,42%.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0193/7b9ca7cb.dir/doc.pdf

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan
menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa, keaktifan dan kerjasama siswa dalam
kelompok pada siswa Kelas VII B SMPN 4 Juwana Pati tahun pelajaran 2010/2011
dalam pokok bahasan himpunan. Hal ini ditunjukkan oleh:
1. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Nilai rata-rata siklus I yaitu 65,2 dan
pada siklus II nilai rata-ratanya meningkat menjadi 80,15. Pada siklus I siswa yang
tuntas belajar 28 siswa dan yang tidak tuntas 12 siswa. Sedangkan pada siklus II
siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 5 siswa.
Ketuntasan belajar klasikal pada siklus I yaitu 70% dapat disimpulkan bahwa hasil
tes akhir pada siklus II lebih baik bila dibandingkan dengan siklus I yaitu mencapai
ketuntasan belajar klasikal 87,5%.
2. Meningkatnya keaktifan siswa selama proses belajar mengajar mengalami
peningkatan dari rata-rata prosentase yang diperoleh semula hanya 73,82% menjadi
84,75%, begitu pula dengan aktivitas kerjasama siswa mengalami peningkatan dari
rata-rata prosentase 74,7% menjadi 83,45%, Untuk sikap siswa terhadap
pembelajaran matematika menggunakan kombinasi model pembelajaran kooperatif
tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual juga mengalami peningkatan yaitu semula
rata-rata prosentase mencapai 72% meningkat menjadi 81%, jadi semuanya sudah
memenuhi indikator keberhasilan.
3. Penampilan guru dalam mengajar juga mengalami peningkatan dari skor yang
diperoleh siklus I yaitu 58 meningkat menjadi 68 dengan prosentase 72,5% menjadi
85%. Hal ini sesuai dengan indikator keberhasilan.


B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas VII B SMPN 4 Juwana Pati tahun
pelajaran 2010/2011, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan pendekatan kontekstual
sebaiknya diterapkan oleh guru matematika karena dapat digunakan sebagai
pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa baik
dalam individu maupun berkelompok.
2. Sebaiknya guru menggunakan pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan
pendekatan kontekstual ini karena dapat melatih siswa agar mampu menganalisa
masalah matematika yang dihadapi, sehingga memotivasi siswa terbiasa berfikir kritis
dan kreatif dalam memecahkan masalah matematika yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari dalam kelompok maupun individu.
3. Dalam strategi pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC dengan pendekatan
kontekstual, guru sebagai fasilitator hendaknya mengawasi dan membimbing siswa
dengan instruksi seminimal mungkin, hal ini mendorong siswa agar lebih aktif
interaktif dalam pembelajaran.









DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT
Rineka Cipta.

_______________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

_______________. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.

Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Dimyati. dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dwi Antari Wijayanti. 2002. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II C SLTP N 4
Semarang Tahun Pelajaran 2001/2002 Pada Pokok Bahasan SPLDV dengan Model
CIRC.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH3c47.dir/doc.pdf

Hudoyo, Herman. 1990. Srategi Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Malang: PT Grasindo.

Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Simangunsong, Wilson. 2006. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka
Cipta.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suyitno, Amin. 2005. Pemilihan Model-Model Pembelajaran dan Penerapannya di Sekolah.
Semarang: FPMIPA UNNES.

Tim Penyusun. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta:
Erlangga.

Wiwik Fitri Sholikhah. 2005. Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Bangun Segi
Empat Siswa Kelas VII A SMP N II Balarejo Kab. Madiun Tahun Pelajaran

2004/2005 Melalui Model Pembelajaran CIRC.


http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0193/7b9ca7cb.dir/doc.p
df