Anda di halaman 1dari 14

DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI PERTANIAN

TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DESA


BALONGMASIN KABUPATEN MOJOKERTO

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat kita. Hal itu
didukung dengan kondisi geografis negara kita yang merupakan suatu potensi dan
sumber daya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat. Oleh karena
itu, pembangunan pertanian perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Era globalisasi
merupakan perkembangan teknologi yang pesat. Tidak hanya di bidang IT, tapi
juga teknologi pertanian ikut berkembang dari waktu ke waktu. Teknologi yang
diciptakan tidak serta merta bisa langsung digunakan oleh petani-petani kita.
Membutuhkan proses yang panjang dalam sosialisasinya. Dampak positif dan
negatif selalu ada dalam segala hal. Dalam proposal ini akan dibahas lebih lanjut
penemuan teknologi-teknologi pertanian serta dampak-dampak dari penggunaan
teknologi tersebut dalam konteks perubahan sosial masyarakat pertanian. Dalam
kegiatan pertanian tidak pernah lepas dari kegiatan pengolahan tanah, pemilihan
bibit unggul, penyemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman, dan
pemanenan. Di samping itu tidak semua jenis tanaman memerlukan perlakuan
yang sama dalam hal pemilihan bibit unggul, penanaman, pengairan, pemupukan,
dan pemeliharaan tanaman.
Pertanian adalah suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses
pertumbuhan dari tanaman dan hewan. Semua itu merupakan hal yang penting.
Secara garis besar, pengertian pertanian dapat diringkas menjadi proses produksi;
petani atau pengusaha; tanah tempat usaha; usaha pertanian (farm business). Awal
kegiatan pertanian terjadi ketika manusia mulai mengambil peranan dalam proses
kegiatan tanaman dan hewan serta pengaturannya untuk memenuhi kebutuhan.
Tingkat kemajuan pertanian mulai dari pengumpul dan pemburu, pertanian
primitif, pertanian tradisional sampai dengan pertanian modern.
Bertambahnya jumlah penduduk akan mempercepat habisnya pangan yang
ada di alam sekitar mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka berpindahpindah tempat. Selanjutnya perpindahan tersebut tidak lagi dapat memecahkan
masalah karena jumlah manusia sudah tidak seimbang lagi dengan persediaan
pangan secara alami. Akhirnya, mereka mulai berpikir untuk mengetahui mengapa
masalah itu timbul serta berusaha memecahkannya walaupun dengan cara atau
tindakan yang menurut ukuran sekarang sangat sederhana. Pada saat manusia
tidak melakukan apa pun untuk memenuhi kebutuhan pangan dari alam, maka
tumbuhan, hewan, atau ikan akan terus tumbuh dan berkembang sampai dewasa
dan memberikan suatu produk yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan. Jadi,
bahan tumbuhan atau hewan tersebut merupakan suatu masukan

atau input kemudian mengalami suatu proses sampai akhirnya memberikan suatu
produk sebagai keluaran atauoutput (Soetriono, 2006:1-3).
B. Studi Kasus
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut di atas, maka
mendapatkan rumusan studi kasus yang yaitu :
1. Bagaimana keadaan sosial masyarakat Desa Balongmasin sebelum menggunakan
alat-alat pertanian modern?
2. Bagaimana keadaan sosial masyarakat Desa Balongmasin setelah menggunakan
alat-alat pertanian modern?
3. Bagaimana perbedaan keadaan ekologi lahan pertanian sebelum dan sesudah
menggunakan alat-alat pertanian modern?
Tujuan Pembuatan Makalah
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui keadaan sosial masyarakat Desa Balongmasin sebelum menggunakan
alat pertanian modern.
2. Mengetahui keadaan sosial masyarakat Desa Balongmasin setelah menggunakan
alat-alat pertanian modern.
3. Mengetahui perbedaan keadaan ekologi lahan pertanian sebelum dan sesudah
menggunakan alat-alat pertanian modern.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Discovery Pertanian
Penemuan-penemuan baru dari masyarakat atau yang disebut inovasi
terjadi melalui dua tahap yakni discovery daninvention. Discovery adalah
penemuan unsur kebudayaan baru berupa alat, gagasan, yang diciptakan individu
atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery ini baru akan diterima
masyarakat apabila telah menerima, mengakui dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Penemuan baru biasanya berasal dari kesadaran individuindividu akan kekurangan dalam kebudayaannya, kualitas sumberdaya manusia
yang handal dari sistem kebudayaan itu, serta adanya perangsang bagi aktivitasaktivitas penemuan dalam masyarakat. Inovasi berarti pula suatu penemuan baru
yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya.
Perbedaaan antara pertanian primitif dengan pertanian yang lebih maju
tampak pada penggunaan lahan. Pada pertanian primitif penggunaan lahan
dilakukan secara berpindah-pindah. Sebidang tanah ditanami sekali atau dua kali
kemudian tanah tersebut ditinggalkan. Mereka mencari tanah baru berupa belukar
atau hutan untuk dibersihkan lalu ditanami satu atau dua kali kemudian
ditinggalkan kembali. Pada pertanian primitif, kayu-kayu yang telah ditebang
tidak dibuang dan ditanam, melainkan dibakar. Sistem pertanian itu kita kenal
dengan nama huma atau shifting cultivation.
Dalam pertanian modern, manusia menggunakan pikirannya untuk
meningkatkan penguasaan terhadap semua faktor yang memengaruhi
pertumbuhan tanaman dan hewan. Untuk pertanian merupakan usaha efisien.
Masalah pertanian dihadapi secara alamiah. Penelitian irigasi dan drainase dapat
dimanfaatkan untuk mendapatkan hasil maksimum. Pemuliaan tanaman dilakukan
untuk mendapatkan jenis varietas unggul yaitu berproduksi tinggi, respon
terhadap pemupukan, umur genjah, dan tahan terhadap serangan penyakit.
Susunan makanan ternak disiapkan secara ilmiah dikembangkan dengan
metode input(bibit, air, pupuk, dan alat-alat pertanian) secara ilmiah serta
didorong oleh motivasi ekonomi untuk mendapatkan hasil dan pendapatan yang
lebih besar. Hasil pertanian dalam bentuk bulk diolah untuk mendapatkan harga
yang lebih tinggi, sedangkan cara pengawetan hasil pertanian dikembangkan
untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi (Soetriono, 2006: 3-5).Berikut adalah
temuan mesin-mesin pertanian yang membawa dampak bagi kehidupan sosial
masyaratan pertanian:
a) Traktor Roda Dua atau Traktor Tangan (Power Tiller)

Traktor roda dua atau traktor tangan (power tiller/hand tractor) adalah
mesin pertanian yang dapat dipergunakan untuk mengolah tanah dan pekerjaan
pertanian lainnya dengan alat pengolah tanahnya digandengkan/dipasangkan di
belakang mesin. Mesin ini mempunyai efisiensi tinggi, karena pembalikan dan
pemotongan tanah dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Traktor roda
dua merupakan mesin serba guna karena dapat juga sebagai penggerak untuk alatalat lain seperti pompa air, alat prosesing, gandengan (trailer) dan lain-lain.
(Hardjosentono, 79-86:2002).
b) Pompa Pengairan (water pumps)
Kebanyakan petani tidak dapat mempergunakan air dari sumber air. Dan
meskipun sumber air ada, mungkin akan lebih ekonomis bila seseorang
memasang unit pompa untuk menyedotnya, asalkan sumber air itu cukup banyak
mengandung persediaan air. Unit pompa yang dipasang harus disesuaikan dengan
keadaan sumber air. Persediaan air yang ideal adalah sumur artesis atau dari
sungai yang letaknya cukup tinggi, sehingga air dapat dipergunakan tanpa
memakai pompa. Tetapi sumber air seperti itu sangat jarang, sedangkan sumber
air lainnya seperti mata air, danau, sungai, dan sumur yang bermacam-macam dari
mana air dapat dipompa lebih umum didapat.
c) Mesin Penyemprot
Alat penyemprot tangan/penyemprot gendong (hand sprayer) yang
digunakan di kalangan pertanian adalah penyemprot tipe gendong. Dua jenis
mesin penyemprot yang paling populer di Indonesia adalah penyemprot otomatis
dan semi otomatis. Pengabut bermotor tipe gendong (power mist blower and
duster) berdasarkan prinsip kerjanya dibagi menjadi dua, yakni: pengabut
bermotor dengan perlengkapan pompa (mist pump)/agitasi mekanis dan pengabut
bermotor dengan sistem tekanan udara (air pressure)/agitasi udara. Pengabut
bermotor dengan sistem tekanan udara mempunyai konstruksi yang jauh lebih
praktis, bobot yang sangat ringan, dan pelayanan untuk pergantian sebagian kecil
perlengkapan untuk fungsi pengabutan yang sangat sederhana dan memerlukan
waktu yang singkat (Hardjosentono, 104-113:2002).
d) Mesin Prosesing Hasil
Mesin perontok gabah (paddy thresher)
Jenis padi yang ditanam di Indonesia ada dua macam, yaitu padi bulu dan
padi cere (tak berbulu). Padi bulu umumnya tidak mudah rontok, dituai secara
gedengan (buliran), dan dirontok ketika hendak digiling menjadi beras. Padi cere
mudah rontok dan biasanya dipotong dengan tangkai pendek atau pada pangkal
batang; kemudian dirontok. Cara merontok yang paling sederhana adalah
dengan diiles (diinjak-injak dengan kaki). Alat-alat perontok yang sederhana

berupa kayu atau bambu pemukul, tongkat perontok, sisir perontok, rak perontok
pondok pengerik, dan lain-lain, bergantung pada kebiasaan di daerah masingmasing.
Mesin perontok yang digerakkan dengan motor biasanya dilengkapi
dengan alat (blower) pengembus kotoran-kotoran yang tidak diinginkan.
Berdasarkan jumlah drumnya, ada mesin perontok dengan drum tunggal dan drum
ganda. Butir-butir gabah yang masih menempel pada malai akan dihantam gigigigi perontok hingga rontok dari bulirnya. Gabah hendaknya sudah betul-betul tua
dengan kadar air 20-22% (maksimum). Gabah akan hancur/pecah jika kadar
airnya lebih besar. Cara pengoperasian alat ini berbeda-beda. Ada yang dipegangi
pangkal malai/batang padi dan ada pula yang dilemparkan langsung ke dalam
ruangan perontok.
Pada sistem yang terakhir ini, malai padi dipotong sependek mungkin agar
perontokan sempurna. Pada alat perontok tersebut terdapat saringan gabah yang
terletak di bawah drum perontok yang berfungsi sebagai saringan kotoran. Gabah
turun ke bawah dan melewati saringan itu. Kotorannya, yang tidak dapat melewati
saringan, akan dihembuskan ke luar oleh kipas pengembus. Dengan sebuah screw
conveyor (pendorong berbentuk uliran/sekrup), gabah yang turun ke bawah ini
didorong ke samping, ke luar dari badan perontok, dan ditampung dalam karung.
Cara pembersihan gabah oleh alat pengembus dapat berlangsung dengan
pemisahan tunggal, pemisahan ganda, maupun pemisahan 3 tingkat.
Mesin pengupas gabah (huller)
Penggilingan gabah menjadi beras sosoh, dimulai dengan pengupasan kulit
gabah. Syarat utama proses pengupasan gabah adalah kadar keringnya gabah yang
akan digiling. Gabah kering giling berarti gabah yang sudah kering dan siap untuk
digiling. Ada beberapa model dan tipe mesin pengupas gabah. Besarnya kapasitas
penggunaannya sangat bervariasi; ada yang kecil, sedang, dan besar. Mesin ini
sering disebut huller atau husker. Beras yang dihasilkan dari alat ini dinamakan
beras pecah kulit. Beras ini berwarna kelabu putih, karena masih dilapisi lapisan
dedak halus. Untuk menyosohnya menjadi beras sosoh, dibutuhkan alat lain yang
akan memproses lebih lanjut.
Mesin Penyosoh Beras
Beras pecah kulit yang dihasilkan alat pengupas kulit, berwarna gelap
kotor dan tidak bercahaya, karena bagian luarnya masih dilapisi lapisan kulit ari.
Kulit ari atau lapisan bekatul (dedak halus) dapat dilepaskan dari beras pecah kulit
ini, sehingga berasnya nampak lebih putih, lebih bersih, dan bercahaya. Proses
perubahan beras pecah kulit dengan cara menghasilkan bekatul menjadi beras
sosoh disebut proses penyosohan (atau proses pemutihan beras). Hasil akhir

proses ini adalah beras sosoh dengan hasil samping (ikutan) berupa bekatul atau
dedak halus.
Dewasa ini, berbagai macam model dan tipe mesin penyosoh beras yang
sudah banyak digunakan di Indonesia, baik yang diimpor maupun yang telah
dibuat di dalam negeri. Alat ini dapat berdiri sendiri dan terpisah dari alat
pengupas gabah, atau dapat pula merupakan suatu kesatuan (unit) mesin pengupas
gabah dan penyosoh beras yang digabungkan sekaligus. Masing-masing model
mempunyai diri dan spesifikasi tertentu, yang harus diperhitungkan oleh pemilik
dan operatornya. Keterampilan operator ikut menentukan tingginya efisiensi kerja
mesin yang digunakan.
e) Pupuk
Petani memerlukan pupuk untuk merawat tanamannya. Sebelum
ditemukannya pupuk anorganik, para petani menggunakan pupuk alami (pupuk
kandang dan pupuk hijau). Tetapi setelah ditemukannya pupuk anorganik yang
dipercaya bisa memaksimalkan hasil produksi tanamannya, sebagian besar petani
pindah menggunakan pupuk kimia. Pupuk jenis ini selain bisa memaksimalkan
hasil produksi juga bisa membuat kerusakan lingkungan. Berikut adalah bagan
jenis-jenis pupuk baik organik maupun anorganik (Redaksi Agromedia, 2007).
Jenis jenis pupuk:

Kandang[3]
Urea
Kompos[5]
KCL
Humus[7]
TSP
Pupuk Hijau[9]
NPK
Kascing[11]
Pupuk Guano[13]

Agro King 2000[4]

Pupuk Nitrogen

Bio Fertilizer Pro[6]

Pupuk Fosfat

Biopro[8]

Pupuk Kalium

Biosa[10]

Pupuk Magnesium

Green Asri[12]
Mitra Flora[14]
Nutrifarm AG[15]
Organik Mineral[16]
Organik Cair Sin Ye[17]
Super Bionik[18]

f) Pestisida
Secara harafiah, pestisida berarti pembunuh hama (pest: hama, cide:
membunuh).
Berdasarkan
SK
Menteri
Pertanian
RI

Nomor.434.1/Kpts/TP.270/7/2001, tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran


Pestisida, yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain
serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk beberapa tujuan: memberantas
atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman, atau
hasil-hasil pertanian; memberantas rerumputan; mematikan daun dan mencegah
pertumbuhan yang tidak diinginkan; mengatur pertumbuhan tanaman atau bagianbagian tanaman (tetapi tidak termasuk dalam golongan pupuk); memberantas atau
mencegah hama-hama luar pada hewan piaraan atau ternak; memberantas hamahama air; memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik
dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan; serta
memberantas atau mencegah binatang-binatang yang bisa menyebabkan penyakit
pada manusia.
Penggunaan pestisida pertanian menimbulkan dampak yang negatif bagi
pengguna, konsumen, dan juga lingkungan.Penggunaan pestisida bisa
mengontaminasi pengguna secara langsung sehingga mengakibatkan keracunan.
Dalam hal ini, keracunan bisa dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu
keracunan ringan, akut berat, dan kronis. Dampak bagi konsumen umumnya
berbentuk keracunan kronis yang tidak segera terasa. Namun, dalam jangka waktu
lama mungkin bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Dampak penggunaan
pestisida bagi lingkungan bisa dikelompokkan menjadi dua kategori.
Bagi lingkungan umum
Pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara).
Terbunuhnya organisme nontarget karena terpapar secara langsung.
Terbunuhnya organisme nontarget karena pestisida memasuki rantai makanan.
Menumpuknya pestisida dalam jaringan tubuh organisme melalui rantai makanan
(biokumulasi).
Pada kasus pestisida yang persisten (bertahan lama), konsentrasi pestisida dalam
tingkat trofik rantai makanan semakin ke atas akan semakin tinggi
(biomagnifikasi).
Penyederhanaan rantai makanan alami.
Penyederhanaan keragaman hayati.
Menimbulkan efek negatif terhadap manusia secara tidak langsung melalui rantai
makanan.
Bagi lingkungan pertanian (agro-ekosistem)
OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) menjadi kebal terhadap suatu pestisida
(timbul resestensi OPT terhadap pestisida).
Meningkatnya populasi hama setelah penggunaan pestisida.

Timbulnya hama baru , bisa hama yang selama ini dianggap tidak penting maupun
hama yang sama sekali baru.
Terbunuhnya musuh alami hama.
Perubahan flora, khusus pada penggunaan herbisida.
Fitotoksik (meracuni tanaman)
( Djojosumarto, 2008:6-8)
Kemudian dampak yang terakhir dari penggunaan pestisida dalam pertanian
adalah dampak sosial ekonomi. Penggunaan pestisida yang tidak terkendali
menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi; timbulnya hambatan perdagangan,
misalnya tidak bisa ekspor karena residu pestisida tinggi; timbulnya biaya sosial,
misalnya biaya pengobatan dan hilangnya hari kerja jika terjadi keracunan; serta
publikasi negatif di media massa.
B. Dampak Perkembangan Teknologi Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
a. Kehidupan sosial masyarakat pertanian sebelum dipergunakannya sistem
pertanian modern (tradisional)
Pekerjaan petanian dilakukan oleh wanita, baik penanaman, pemeliharaan
maupun pemanenan. Panen selalu dikerjakan oleh wanita dengan menggunakan
pisau kecil yang disebut ani-ani untuk memotong tangkai-tangkai padi itu satu
demi satu. Oleh karena itu cara panen semacam itu sangat banyak membutuhkan
tenaga tambahan, yang diperoleh dengan menyewanya dengan upah berupa
bagian dari padi yang dipotong. Sementara menunggu penanaman padi tiga
sampai empat bulan, petani penanam palawija. Cara untuk mengerahkan tenaga
tambahan untuk pekerjaan mengolah lahan pertanian dilakukan secara gotong
royong. Tenaga kerja diberi upah secara adat ataupun berupa uang. Sistem upah
buruh tani di Jawa disebut sistem bawon. Sistem pembayaran buruh tani secara
adat bisa mempunyai akibat baik, karena buruh tani berusaha bekerja segiatgiatnya untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya, sehingga upahnya pun dapat
bertambah banyak.
Upah berupa uang adalah suatu cara membayar buruh tani yang sudah
lazim juga di seluruh Indonesia. Walaupun cara ini merupakan suatu sistem yang
relatif baru di Indonesia. Para petani sering memiliki bantuan tenaga buruh yang
tetap, yang memberikan bantuan dalam pertanian pada waktu-waktu sibuk, dan
yang juga membantu dalam rumah tangga di waktu senggang. Tujuh puluh hingga
sembilan puluh tahun yang lalu pemotong padi beramai-ramai datang untuk
membantu menuai padi yang menurut adat boleh membawa pulang sebagian padi
yang telah dipotong. Sistem ini disebut sistem bawon. Hubungan kekerabatan
menjadi sangat erat di kalangan tetanggga yang memunculkan hubungan patronklien. Secara sangat radikal, sekitar empat puluh tabuh yang lalu di Jawa timbul

sistem pengerahan tenaga panen yang baru dengan cepat menghapus adat
sistem bawon dengan sistem tebasan. Seorang pemilik usaha tani menjual
sebagian besar padinya yang sudah menguning kepada pedagang dari luar desa
untuk mengusahakan pemotongan padinya. Penebas membawa buruh potong padi
jauh lebih sedikit orang, sekitar empat-lima orang saja. Mereka membabat sawah
secara efisien dengan menggunakan sabit (Koentjaraningrat, 1984:105-110).
b. Kehidupan sosial masyarakat pertanian setelah dipergunakannya sistem pertanian
modern
Kira-kira sekitar empat puluh tahun yang lalu seorang petani meminta
tolong kepada isteri tetangga atau kenalannya untuk menumbuk padinya. Mereka
akan menerima sebagian dari padi yang mereka tumbuk sebagai kompensasi atas
bantuannya. Kemudian masyarakat desa di Indonesia mengenal mesin huller,
yaitu mesin kecil penggiling padi yang dapat dibeli oleh petani-petani kaya.
Mereka tidak memakai mesin itu untuk dirinya sendiri, sering juga
menyewakannya kepada petani lain. Dengan menggunakan mesin huller itu padi
dapat digiling secara efisien tetapi sebaliknya wanita penumbuk padi akan
kehilangan mata pencaharian tambahannya. Proses pergeseran cara pengerahan
tenaga tani dari gotong royong menjadi sistem sewa menyebabkan tenaga buruh
tani menjadi sangat murah.
Petani-petani di Jawa masa kini biasanya memang banyak mempunyai
sumber-sumber mata pencaharian lain di luar pertanian. Kecuali berdagang atau
berjualan di desa, mereka juga berdagang atau berjualan di kota-kota yang dekat
maupun yang jauh dari desa tempat tinggal mereka. Di samping itu mereka sering
bekerja sebagai buruh musiman pada waktu-waktu mereka tidak sibuk dalam
sektor pertanian atau bilaman pekerjaan dapat diserahkan kepada isteri atau buruh
tani. Untuk menjadi buruh musiman mereka pergi ke kota-kota yang letaknya
seringkali cukup jauh dari desa mereka, dan bekerja sebagai kuli atau buruh kasar
di berbagai macam proyek pembangunan yang akhir-akhir ini ada di hampir
semua kota di Jawa. Kecuali itu kita juga mengetahui bahwa banyak petani pergi
ke kota-kota secara musiman untuk bekerja sebagai tukang becak, dan yang tidak
dapat dilupakan tetapi tidak cukup mendapat perhatian dari Geertz, ialah bahwa
rumah tangga petani di Jawa juga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari
berbagai macam kegiatan usaha yang dilakukan para isteri dan angota wanita
dalam rumah tangga, serta dari aktivitas-aktivitas anaknya.
Seorang petani yang tidak memiliki tanah mungkin juga memiliki sebuah
warung yang diusahakan oleh isterinya, sedangkan ia sendiri pada awal musim
bercocok tanam sibuk bekerja sebagai buruh tani pada petani-petani lain yang

biasanya berasal dari desa lain. Sering juga petani yang tidak memiliki tanah itu
menjadi buruh pekerja jalan atau pekerja bangunan dalam suatu jangka waktu
yang pendek, yaitu misalnya selama tiga bulan, berdasarkan suatu kontrak.
Mungkin juga ia pergi ke kota untuk bekerja sebagai tukang becak. Jadi walaupun
ia masih cukup aktif dalam sektor pertanian, seorang petani yang tidak memiliki
tanah itu tidak menyebut dirinya seorang petani. Ia juga tidak mau atau jarang
menyebut dirinya buruh pekerja jalan atau buruh bangunan, tetapi lebih seirng
menamakan dirinya pemilik warung, walaupun penghasilannya dari sektor ini
tidak banyak. Menjadi tukang warung dirasakannya lebih menaikkan gengsinya
daripada menjadi buruh tani, pekerja jalan, buruh pabrik, ataupun tukang becak.
Menurut James C. Scott (1984:54) hirarki status yang konvensional di
kalangan orang miskin di pedesaan biasanya adalah petani-petani tanah kecil,
petani penyewa, dan buruh. Dalam musim tertentu penghasilannya mungkin tidak
sebaik penghasilan petani-penyewa yang menggarap lahan besar, namun hak atas
tanah miliknya jauh lebih kuat dan oleh karena itu subsistensinya pada umumnya
lebih terjamin. Pemilik tanah dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada
penyewa tanah, dan penyewa tanah dianggap lebih tinggi daripada buruh lepas,
karena meskipun dari segi penghasilan mungkin tidak. Ketidakstabilan pasar
sangat menentukan harga padi petani. Hasil panen bisa lebih besar akan tetapi
kemerosotan harga akan menurunkan nilai riilnya. Sejauh pasar menentukan hasil
panen petani, maka sejauh itu pula rawan terhadap ketidakpastian dari mekanisme
harga. Untuk membayar pajak, sewa, dan bunga dengan uang tunai, bisa terjadi
petani harus melepas padi yang banyaknya dua kali lipat dibandingkan dengan
tahun sebelumnya, meskipun jumlah uang tunai yang harus dibayar itu dan hasil
panen tidak berubah.
Komersialisasi Pertanian dan Hubungan Kelas Agraris
Sifat Perubahan

Efek terhadap hubungan Kelas

1. Ketidakmerataan yang semakin Penguasaan atas tanah menjadi landasan utama


besar dalam pemilikan tanah
bai kekuasaaan kedudukan pemilik tanah
menjadi lebih kuat dalam menghadapi orangorang yang ingin menyewa tanah yang sudah
dimiliki oleh segelintir orang
2. Petambahan penduduk

Kedudukan pemilik tanah dalam menghadapi


penyewa dan buruh tani menjadi lebih kuat

3. Fluktuasi harga produsen dan Kedudukan pemilik tanah menjadi lebih kuat
konsumen serta penetapan harga oleh karena penyewa semakin membutuhkan

pasar

kredit untuk produksi dan konsumsi

4. Hilangnya sumber-sumber mata Hilangnya alternatif-alternatif memperlemah


pencaharian di waktu senggang kedudukan penyewa dalam menghadapi pemilik
(tanah yang belum digarap, tanah tanah
umum untuk menggembalakan
ternak, kayu bakar cuma-cuma,
dan sebagainya)
5. Memburuknya
redistributif desa

mekanisme Hilangnya alternatif-alternatif memperlemah


kedudukan penyewa dalam menghadapi pemilik
tanah

6. Negara kolonial yang melindungi Pemilik tanah kurang membutuhkan klien-klien


hak milik pemilik tanah.
setempat yang setia, karena ia bebas untuk
mengutamakan keuntungan ekonomis
Dalam hampir semua komunitas desa, semua anggota pamong desa dan
para guru desa, pasti memiliki tanah sawah dan tegalan. Sebagian dari tanah itu
mereka sewakan, mereka bagi-hasilkan atau mereka gadaikan kepada petani lain
yang tidak atau hanya memiliki tanah yang terbatas besarnya, tetapi sebagian lagi
selalu mereka kerjakan sendiri. Dengan demikian mereka lebih sering berada di
sawah atau tegalan mereka daripada berada di belakang meja tulis atau di ruang
kelas. Meskipun demikian mereka lebih senang mengidentifikasikan dirinya
sebagai pegawai pamong praja atau sebagai guru, karena dalam kebudayaan
Indonesia pada umumnya, dan kebudayaan petani Jawa pada khususnya, menjadi
pegawai membuatnya lebih gengsi daripada menjadi petani (Koentjaraningrat,
1984:116-118).
Menurut Tjondronegoro (1999:83) revolusi hijau bukan saja memusatkan
penguasaan tanah tetapi menyebarkan efisiensi dan turut mengikis pranata; gotong
royong, hubungan tolong menolong, sistem pemerataan, dan sebagainya.
Kerenggangan antar golongan di masyarakat pedesaan atas tenaga kerja semakin
terpusat pada golongan-golongan yang berada di kota dan di desa kota. Lembaga
simpan pinjam di tingkat desa yang didukung oleh petani kecil praktis tidak dapat
berkembang karena modal bersama tidak cukup besar, organisasinya tidak dapat
memberi jaminan yang cukup berharga untuk menarik kredit dari bank. Masingmasing anggota tidak cukup bermodal tanah untuk memperoleh jaminan dari
manapun juga guna mendapatkan pinjaman.
Dalam banyak kasus hancurnya hubungan patron-klien yang menambah
resiko petani kecil karena terombang-ambing oleh kekuatan pasar bebas yang sulit
dilawannya. Juga di pasaran tenaga kerja daerah pedesaan mengalami kesulitan

karena kesempatan di luar sektor pertanian belum cukup banyak bertambah.


Akhirnya sebagai buruh tani kedudukan semakin lemah karena tenaga kerja
semakin menjadi satu-satunya modal yang dapat ditawarkan. Penguasaan tanah
mempekerjakan buruh tani dengan persyaratan yang semakin berat bagi buruh
tani.
Salah satu dari banyak dampak perkembangan teknologi terhadap
kehidupan sosial masyarakat adalah urbanisasi.Pada umumnya urbanisasi
diartikan sebagai suatu proses berpindahnya bagian yang semakin besar penduduk
di suatu negara untuk bermukim di pusat-pusat perkotaan. Faktor pendorong
terjadinya urbanisasi adalah salah satunya kemiskinan di daerah pedesaan yang
disebabkan oleh cepatnya pertambahan penduduk di desa sehingga menimbulkan
ketimpangan dalam perimbangan antara jumlah penduduk dan luasnya lahan
pertanian; terdesaknya pengolahan lahan pertanian secara manual oleh alat-alat
mekanikal; dan terdesaknya kerajinan rumah tangga oleh produk industri modern.
Dan faktor penariknya yaitu daya tarik ekonomi kota berupa kesempatan kerja,
fasilitas-fasilitas pendidikan dan pengembangan bakat, rekreasi serta besarnya
kesempatan untuk beremansipasi, karena renggangnya atau longgarnya kontrol
masyarakat dan adat istiadat atas individu (S. Menno, 1992:70).

DAFTAR PUSTAKA

A.J. Atmaja, I Ketut., Sudarja, I Nyoman., Theresia, Indrawati., dkk.


2007. Pertanian. Surabaya: SIC.
Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Hardjosentono, Mulyoto., Wijanto., Elon Rachlan dkk. 2002. Mesin-mesin
Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.
Koentjaraningrat. 1984. Masalah-masalah Pembangunan: Bunga Rampai
Antropologi Terapan. Jakarta. LP3ES
Menno, S., Mustamin Alwi. Antropologi Perkotaan. 1992. Jakarta: Rajawali
Press.
Scott, James C. 1983. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia
Tenggara. Jakarta: LP3ES.
Soetriono., Anik Suwandari., Rijanto. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Malang:
Bayumedia.
Yuliati, Yayuk. & Mangku Poernomo. 2003. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta:
Lappera Pustaka Utama.
Redaksi Agromedia. 2007. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis: Petunjuk
Pemupukan. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Tjondronegoro, Soediono M. P. 1999. Keping-keping Sosiologi dari
Pedesaan. Tanpa kota terbit: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.