Anda di halaman 1dari 24

Jumat, 15 Mei 2015

MAKALAH MATA KULIAH EKONOMI PERTANIAN (sumber daya lahan)

MAKALAH
MATA KULIAH EKONOMI PERTANIAN
SUMBER DAYA LAHAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan
pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan
manusia. Dalam arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang
lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Dalam pertanian juga harus
menimbangkan unsur lokasi. Hal ini berguna untuk memudahkan para petani dalam menjual
hasil produksinya.
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan
dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit,
metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk,
dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan
efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive
farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis.
Program yang dikeluarkan oleh menteri pertanian pada saat ini adalah menjaga ketahanan
pangan. Untuk hal ini perlu peran pemerintah pula agar kebijakan ini terlaksana dan dijalankan

dengan baik oleh para petani, diantaranya memberikan fasilitas pendukung, ketersedian pupuk
yang stabil, serta adanya sosialisasi.

1.
2.
3.
4.
5.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
Sumberdaya Lahan
Teori Lokasi Pertanian
Ketersedian Pupuk
Tenaga Kerja
Kemampuan Manajerial

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.

Untuk memperluas pengetahuan serta sebagai wawasan baru dalam pembelajaran di bidang

pertanian
2. Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan sumberdaya lahan, lokasi, ketersediaan pupuk,
tenaga kerja dan kemampuan manajerial dalam peningkatan di bidang pertanian.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SUMBER DAYA ALAM (LAHAN)
2.1.1 Pengertian Sumberdaya Lahan
Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan
hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah
industri, daerah pemukiman, jalan untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang
dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan
(land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta
benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Oleh karena
itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis
antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather, 1986).
Pertanian adalah pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati terutama
tanaman produktif yang menghasilkan dan dapat di pergunakan sebagai kehidupan manusia.
(Idianto, 2005 : 54). Sedangkan pengertian pertanian dalam arti sempit adalah suatu proses
becocok tanam di suatu lahan yang telah di siapkan sebelumnya dalam skala kecil pola
perdagangan lokal, serta mengunakan cara manual tanpa terlalu banyak memakai manajemen.
Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Indonesia adalah sebagai petani dan
perkebunan, sehingga sektor - sektor ini sangat penting untuk dikembangkan di negara kita.
Secara umum, sistem pertanian yang diterapkan oleh penduduk Indonesia dapat kita golongkan
menjadi 4 macam yakni pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, pertanian ladang dan
sistem perkebunan.

1)

Sistem Pertanian Lahan Basah


Sistem pertanian lahan basah lebih dikenal dengan istilah pertanian sawah. Pertanian
sawah kaya akan air. Di Indonesia, pertanian jenis ini banyak dijumpai terutama di daerah Jawa,
Sumatera dan beberapa di Kalimantan. Hasil utama dari pertanian ini adalah padi. Padi memiliki

kualitas sangat baik jika ditanam di dataran rendah dimana kurang dari 300 m dari permukaan
laut.
Beberapa jenis sawah yang umumnya diupayakan penduduk antara lain sebagai berikut.
a) Sawah irigasi
Sawah irigasi yaitu sawah yang memperoleh pengairan dari irigasi yang airnya berasal
dari danau buatan. Sawah irigasi disuplai dengan air yang cukup (dengan sistem irigasi) dan area
sawahnya sangat subur sehingga mampu panen 3 kali dalam 1 tahun. Sawah ini terletak di daerah
Jawa.
b) Sawah tadah hujan
Sawah tadah hujan merupakan sawah yang kebutuhan airnya hanya bisa mengandalkan
dari air hujan. Sawah jenis ini akan dikelola pada saat musim hujan saja.
c) Sawah pasang surut atau sawah bencah
Sawah pasang surut atau sawah bencah yaitu sawah yang letaknya berdekatan dengan
rawa atau muara dan pengairannya tergantung dari pasang surut air laut. Biasanya panen 1 kali
dalam setahun dimana suplai airnya masih tergantung pada pasang-surut air sungai.
d) Sawah kambang
Padi kambang adalah jenis tanaman padi yang panjang batangnya dapat disesuaikan
dengan tinggi muka air pada lahan sawah. Tipe persawahan yang seperti ini menuntut
pengetahuan petaninya dalam mengetahui karakteristik air di daerahnya.
e) Sawah padi gogo
Sawah padi gogo akan ditanami padi seperti pada umumnya hanya pada saat musim
2)

hujan. Tapi pada saat musim kemarau, penanaman padi dilakukan dengan cara huma (padi gogo)
Sistem Pertanian Lahan Kering atau Tegal Pekarangan
Pertanian tegalan adalah usaha pertanian yang mengolah lahan-lahan
kering menjadi lebih produktif. Sistem ini cocok untuk lahan yang jauh dari sumber air. Hasil
dari sistem pertanian ini biasanya berupa tanaman palawija.

3)

Sistem pertanian ladang


Sistem pertanian jenis ini merupakan sistem pertanian primitif dimana hanya memerlukan
lahan yang sempit, hasilnya pun tergantung pada kondisi kesuburan tanah. Tanaman yang
dihasilkan dari sistem ini adalah jangung, dan umbi-umbian.

4)

Sistem perkebunan

Sistem pertanian model ini sering kali dianggap sebagai pertanian industri karena hasil
dari pertanian ini biasanya digunakan sebagai bahan baku industri. Sistem pertanian ini
memerlukan lahan yang sangat luas disertai managemen yang profesional. Adapun tanaman yang
dihasilkan antara lain: kopi, sawit, getah karet, teh, tembakau, coklat dll.

2.1.2

Upaya Peningkatan Produksi Pertanian


Upaya peningkatan produksi pertanian dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

a)

Intensifikasi pertanian
Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaikbaiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi
pertanian banyak dilakukan di pulau Jawa dan bali yang memiliki lahan pertanian sempit. Pada
awalnya intensifikasi pertanian ditempuh dengan program panca usaha tani, yang kemudian

dilanjutkan dengan program sapta usaha tani.


Adapun sapta usaha tani dalam bidang pertanian meliputi kegiatan sebagai berikut.
Pengolahan tanah yang baik
Pengairan yang teratur
Pemilihan bibit unggul
Pemupukan
Pemberantasan hama dan penyakit tanaman
Pengolahan pasca panen
b)

Ekstensifikasi pertanian
Ekstensifikasi pertanian adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara
memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar
rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga
dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut.
Ekstensifikasi pertanian banyak dilakukan di daerah jarang penduduk seperti di luar
pulau Jawa, khususnya di beberapa daerah tujuan transmigrasi, seperti Sumatera, Kalimantan dan
irian jaya.

c)

Diversifikasi pertanian

Diversifikasi pertanian adalah usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman


pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Diversifikasi
pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
Memperbanyak jenis kegiatan pertanian, misalnya seorang petani selain bertani juga beternak
ayam dan beternak ikan.
Memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, misalnya pada suatu lahan selain ditanam jagung
juga ditanam padi ladang.

d)

Mekanisasi pertanian
Usaha meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian
modern. Mekanisasi pertanian banyak dilakukan di luar pulau Jawa yang memiliki lahan
pertanian luas. Pada program mekanisasi pertanian, tenaga manusia dan hewan bukan menjadi
tenaga utama melainkan mesin yang menjadi tenaga utama,karena hal ini akan sangat membantu
kinerja petani.

e)

Rehabilitasi pertanian
Usaha memperbaiki lahan pertanian yang semula tidak produktif atau sudah tidak
berproduksi menjadi lahan produktif atau mengganti tanaman yang sudah tidak produktif
menjadi tanaman yang lebih produktif. Sebagai tindak lanjut dari program-program tersebut,

pemerintah menempuh langkah-langkah sebagai berikut.


Memperluas,memperbaiki dan memelihara jaringan irigasi yang meluas di seluruh wilayah
Indonesia
Menyempurnakan sistem produksi pertanian pangan melalui penerapan berbagai paket program
yang diawali dengan program bimbingan masal (bimas) pada tahun 1970. Kemudian disusul
dengan program intensifikasi masal (inmas), intensifikasi khusus (insus) dan supra insus yang
bertujuan meningkatkan produksi pangan secara berkesinambungan.
Membangun pabrik pupuk serta pabrik insektisida dan pestisida yang dilaksanakan untuk
menunjang proses produksi pertanian.

2.2

LOKASI

2.2.1

Teori Lokasi Pertanian oleh Von Thunen

Johan Heinrich Von Thunen (1783-1850) adalah seorang warga negara Jerman uang
merupakan ahli ekonomi pertanian yang mengeluarkan teorinya dalam buku Der Isolirte
Staat. Von Thunen mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatan di sekitar tempat
tinggalnya. Menurutnya pertanian merupakan komoditi yang cukup besar di perkotaan. Dalam
teori ini ia memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut termasuk
variabel keawetan, berat, dan harga dari berbagai komoditas pertanian. Ia menggambarkan
bahwa jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah dipengaruhi perbedaan ongkos
transportasi tiap komoditas ke pasar terdekat.
Melalui teorinya, Von Thunen menciptakan bagaimana cara berfikir efektif yang
didasarkan atas penelitian dengan menambahkan unsur-unsur baru sehingga didapatkan hasil
yang mendekati konkret. Von Thunen berpendapat bahwa suatu pola produksi pertanian
berhubungan dengan pola tata guna lahan di wilayah sekitar pusat pasar atau kota. Ia
mengeluarkan asumsi-asumsi sebagai berikut:
a) Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah pedalamanya
yang merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi
b)

pertanian (Isolated Stated).


Daerah perkotaan hanya menjual kelebihan produksi daerah pedalaman, tidak menerima

c)

penjualan hasil pertanian dari daerah lain (Single Market).


Daerah pedalaman hanya menjual kelebihan produksinya ke perkotaan, tidak ke daerah lain

(Single Destination).
d) Daerah pedalaman atau kota mempunyai ciri yang sama (homogen) dengan kondisi geografis
kota itu sendiri dan cocok untuk tanaman dan peternakan dataran menengah.
e) Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum
dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang
f)

terdapat di daerah perkotaan (Maximum Oriented).


Pada waktu itu hanya ada angkutan berupa gerobak yang dihela oleh kuda (One Moda

Transportation).
g) Biaya transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh. Semua biaya transportasi
ditanggung oleh petani. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar. (Equidistant).
Setiap keuntungan yang ingin dicapai petani dapat dirumuskan sebagai berikut:
K = N - ( P+ A)
Keterangan:

K = Keuntungan
N = Imbalan yang diterima petani dan dihitung berdasarkan satuan hitung, misalnya hektar.
P = Biaya produksi yang dihitung atas dasar sama dengan N
A = Biaya angkutan
Dari rumus tersebut dapat dikatakan petani yang berdiam diri di daerah dekat perkotaan
mempunyai alternative komoditas pertanian yang lebih banyak untuk diusahakan. Sedangkan
petani yang jauh dari perkotaan mempunyai pilihan yang lebih terbatas. Jumlah pilihan yang
menguntungkan menurun sejalan dengan jarak dari daerah perkotaan.
Teori Von Thunnen dapat dimodifikasi dengan unsur yang mengalir melalui daerah
perkotaan. Sungai ini memungkinkan pengangkutan dengan biaya yang lebih rendah.
Dari asumsi diatas mendesak para petani berani menyewa lahan yang dekat pusat pasar
atau kota, sehingga keuntungan yang di peroleh dari hasil pertaniannya maksimal. Tentunya
mereka juga harus mengorbankan nominal yang cukup besar untuk menyewa lahan. Karena
semakin dekat suatu lahan dengan pusat pasar atau kota, semakin besar harga sewa lahannya.
Petani yang berperan sebagai pelaku produksi memiliki kemampuan yang berbeda-beda
untuk menyewa sewa lahan. Makin tinggi kemampuan pelaku produksi untuk membayar sewa
lahan, maka makin besar peluang untuk melakukan kegiatan di lokasi dekat pusat pasar atau
kota. Hal ini menunjunjukkan bahwa perbedaan lokasi mempengaruhi nilai harga lokasi tersebut
sesuai dengan tata guna lahannya. Hingga saat ini teori Von Thunen masih dianggap cukup
relevan. Contohnya persediaan lahan di daerah perkotaan memicu berlakunya hukum ekonomi,
semakin langka barang, permintaan meningkat maka harga akan semakin mahal. Sama halnya
seperti lahan di daerah perkotaan, semakin dekat dengan pusat kota akan semakin mahal nilai
sewa atau beli lahannya. Harga lahan di perkotaan akan semakin bertambah dari tahun ketahun
mengikuti dengan perkembangan zaman. Penggunaan teknologi modern yang berkembang saat
ini menjadikan teori Von Thunen menjadi kurang relevan.
2.2.2

Kelebihan dan Kekurangan Teori Lokasi Von Thunen


Pada dasarnya teori pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Demikian dengan teori lokasi juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

a) Kelebihan Teori Lokasi Von Thunen

Menjadi acuan penting dalam pengembangan Wilayah terutama dalam menentukan berbagai
kegiatan perekonomian.
Dapat menentukan berbagai Kawasan ( Zoning )
b) Kekurangan Teori Lokasi Von Thunen
Kemajuan transportasi dapat menghemat banyak waktu dan biaya.
Ada beberapa daerah yang tidak hanya memiliki 1 merket center saja, tetapi juga 2 market center.
Adanya berbagai bentuk pengawetan, sehingga mencegah resiko busuk pada pengiriman jarak
jauh.
Kondisi topografis setiap daerah berbeda-beda, sehingga hasil pertanian yang akan dihasilkanpun
akan berbeda.
Negara industri mampu membentuk kelompok produksi sehingga tidak terpengaruh pada kota.
Antara produksi dan konsumsi telah terbentuk usaha bersama menyangkut pemasarannya.

2.3 KETERSEDIAAN PUPUK


Pupuk merupakan faktor produksi yang sangat penting bagi sektor pertanian. Pupuk
menyumbang 20 persen terhadap keberhasilan peningkatan produksi pertanian, khususnya beras
antara tahun 1965-1980 dan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras di tahun 1984.
Pupuk pun berkontribusi 15-30 persen untuk biaya usaha tani padi. Dengan demikian sangat
penting untuk menjamin kestabilan harga dan kelancaran distribusi pupuk.
Kersediaan pupuk di Indonesia sangat berfluktuasi. Hal ini dapat kita lihat dimana
disuatu daerah seorang petani terkadang mendapatkan pupuk dengan mudah namun juga
terkadang sulit mendapatkanya. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia kekurangan
ketersediaan pupuk. Kekurangan pupuk dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang tidak
normal sehingga menurunkan hasil panen petani atau bahkan terjadi gagal panen. Gagal panen
inilah yang selanjutnya menjadi ancaman dalam menciptakan ketahanan pangan. Jika situasi
kelangkaan pupuk dibiarkan berlangsung lama dan tidak segera diambil tindakan yang tepat oleh
instansi terkait, akan mengakibatkan timbul rasa kurang adil kepada petani, menurunkan tingkat
kesejahteraan petani, mengganggu ketahanan pangan dan keberlangsungan produksi pertanian
nasional, serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Permasalahan Pupuk di Indonesia


Kondisi perpupukan di Indonesia memiliki berbagai masalah yang serius.
a)

Permasalahan pabrik pupuk yang sudah berusia tua sehingga efisiensi produksinya makin
menurun.

b) Pasokan gas bumi untuk produksi pupuk sangat terbatas. Dengan demikian pabrik tidak dapat
beroperasi optimal. Padahal 60 persen bahan bakunya untuk pupuk urea adalah gas alam.
Keterbatasan supply gas alam dikarenakan mayoritas perusahaan gas alam dimiliki oleh swasta
yang memiliki orientasi yang besar pada keuntungan. Hal itu seiring dengan diresmikannya
liberalisasi sektor migas di Indonesia yang diatur dalam UU 22 Tahun 2001 tentang Migas.
c)

Kebutuhan pupuk yang semakin meningkat, sementara produksinya terbatas, sehingga terjadi
kelangkaan pupuk. Kelangkaan pupuk juga melanda Indonesia pada tahun 2008 kemarin. Di
sinyalir permasalahan kelangkaan pupuk tersebut dikarenakan : (a) Rayonisasi yang tidak
fleksibel, sehingga tidak mudah melakukan penyesuaian supply antar wilayah. (b) Pengawasan
yang lemah dari Pemda di dalam pengelolaan pupuk bersubsidi juga menyebabkan permasalahan
pupuk terjadi. (c) Rendahnya margin (fee) yang diterima distributor dan penyalur di Lini IV yang
berkisar Rp 30-40/ kg. (d) Tingginya disparitas harga terjadi pada pupuk bersubsidi dengan
pupuk non subsidi, sehingga memicu terjadinya penyelewengan pupuk bersubsidi dan pada
akhirnya menyebabkan kelangkaan pupuk.

d)

Harga pupuk yang cenderung semakin mahal karena pupuk kimia yang beredar di pasar
Indonesia sangat begantung pada bahan baku impor yang harganya terus merangkak naik
mengikuti kurs dollar di pasar mata uang internasional.

e) Jumlah distributor daerah dan kios penyalur di Lini IV cenderung masih terkonsentrasi di Ibu
Kota Kecamatan/ Kabupaten/ Kota.
f)

Penggunaan pupuk anorganik meningkat drastis akibat fanatisme petani dan bertambahnya luas
areal tanam, sementara penggunaan pupuk organik belum berkembang.
Langkah-langkah Penanganannya
Permasalahan tersebut telah mendorong instansi terkait untuk membuat kebijakankebijakan sebagai solusi. Adapun kebijakan-kebijakan yang dibuat terdiri dari kebijakan jangka
pendek dan kebijakan jangka panjang.

a) Kebijakan Jangka Pendek


Kebijakan jangka pendek yang ditempuh adalah dengan meningkatkan penyediaan pupuk
urea mencapai 7 juta ton dengan mengupayakan penyediaan gas bumi sebanyak 9 kargo.
Penyediaan gas bumi sebanyak 9 kargo dikarenakan defisit yang terjadi pada PT Pupuk Iskandar
Muda (PIM). Namun sampai saat ini yang baru disetujui 1 kargo sementara sisanya masih dalam
proses. Disamping itu, peningkatan jumlah ketersediaan pupuk ini juga ditempuh dengan
mengimpor pupuk urea dari beberapa negara.
b) Kebijakan Jangka Panjang
Sedangkan kebijakan jangka panjangnya adalah dengan merevitalisasi industri pupuk
yaitu mengganti 5 pabrik pupuk urea yang sudah tua dan tidak efisien lagi, serta membangun
satu pabrik pupuk urea baru, melakukan program gasifikasi batubara untuk mengganti bahan
baku gas bumi dengan batubara, mengembangkan pabrik pupuk urea di lokasi sumber gas bumi,
dan

mengembangkan

pabrik

pupuk

melalui

kerjasama

dengan

negara

lain.

Selain kebijakan diatas, Instansi terkait juga telah dan akan melakukan beberapa langkah
untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk.
a) Menambah alokasi pupuk urea bersubsidi tahun 2008 dari 4,3 juta ton menjadi 4,8 juta ton, dan
tahun 2009 ditingkatkan lagi menjadi 5,5 juta ton.
b)

Pemerintah juga melakukan kelonggaran atau fleksibilitas penyaluran pupuk bersubsidi yang
diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 05/Permentan/OT.140/1/2009, pasal 9, ayat (2)
dimana disebutkan perlu dilakukan fleksibilitas penyaluran yang dilaksanakan melalui
koordinasi dengan Dinas Pertanian setempat.

c) Mengusulkan revisi Peraturan Menteri Perdagangan No 21/2008 yang mencakup ketentuan stok
pupuk pada puncak musim tanam, penyaluran maksimal 20 persen diatas alokasi, dan pengaturan
lebih lanjut mengenai pemanfaatan cadangan pupuk nasional.
d) Melakukan operasi pasar langsung kepada petani.
e) Mengubah pembayaran gas dan transaksi untuk produk hilir pabrik pupuk dalam negeri menjadi
rupiah yang pada mulanya dengan dollar Amerika.

Perlu diyakini bahwa permasalahan pupuk bukanlah permasalahan teknis semata. Dengan
demikian produksi dan distribusi pupuk tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme
pasar. Diharapkan langkah-langkah tersebut dapat memberikan fondasi yang kuat terhadap
perpupukan di Indonesia sehingga selanjutnya akan mendorong ketahanan pangan yang kuat dan
dapat memberikan kesejahteraan pada petani.
2.4 TENAGA KERJA
Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang tergantung
pada musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehigga berpengaruh
pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.
Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga (family farms),
khususnya tenaga kerja petani bersama anggota keluarganya. Rumah tangga tani yag umumnya
sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja keluarga sangat
menentukan. Jika masih dapat diselesaikan oleh tenaga kerja keluarga sediri maka tidak perlu
mengupah tenaga luar, yang berarti menghemat biaya.
Baik dalam usahatani keluarga maupun perusahaan pertanian peranan tenaga kerja belum
belum sepenuhnya diatasi dengan tekologi yang menghemat tenaga (teknologi mekanis). Hal ini
dikarenakan selain mahal juga ada hal-hal tertentu yang memang tenaga kerja manusia tidak
dapat digantikan.

2.4.1

Karakteristik Tenaga Kerja dalam Usahatani


Tenaga kerja dalam usahatani memiliki karekteristik yang sangat berbeda dengan tenaga

kerja di bidag usaha lain yng selain pertanian. Karakterisik menurut Tohir (1983) adalah sebagai
berikut:
1. Keperluan akan tenaga kerja dalam ushatani tidak kontinyu dan tidak merata.
2. Penyerapan tenaga kerja dalam usaha tani sangat terbatas.

3. Tidak mudah distandarkan, dirasioalkan, dan dispesialisasikan.


4. Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Karakteristik diatas akan memerlukan sistem-sistem menejerial tertentu yang harus
dipahami sebagai usaha peningkatan usahatani itu sendiri. Selama ini khususnya di Indoesia
sistem menejerial bisanya masih sangat sederhana.
2.4.2

Fungsi Petani sebagai Tenaga Kerja


Dalam jangka pendek faktor tenaga kerja dianggap sebagai faktor produksi variabel yang

penggunaannya berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi.


Yang dimaksudkan disini adalah kedudukan petani dalam usahatani, yakni tidak hanya sebagai
penyumbang tenaga kerja (labour) melainkan menjadi seorang manajer pula. Kedudukan si
petani sangat menentukan dalam usahatani. Dalam usahatani yang semakin besar, maka petani
makin tidak mampu merangkap kedua fungsi itu. Fungsi sebagai tenaga kerja harus dilepaskan,
dan memusatkan diri pada fungsi sebagai pemimpin usahatani (manajer)..
2.4.3

Tenaga Kerja sebagai Faktor Produksi


Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu
diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari
tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah:

a)

Tersedianya tenaga kerja


Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja
yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya
optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan
dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.

b)

Kualitas tenaga kerja


Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan,
selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga
kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah

yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi
kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan
karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat
tersebut.
c)

Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi
pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti
mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.

d)

Tenaga kerja musiman


Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan
pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka
konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003). Dalam
usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga
ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu
dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam
penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga
besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya
lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak
umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia (Mubyarto, 1995). Soekartawi (2003),
Umur tenaga kerja di pedesaan juga sering menjadi penentu besar kecilnya upah. Mereka yang
tergolong dibawah usia dewasa akan menerima upah yang juga lebih rendah bila dibandingkan
dengan tenaga kerja yang dewasa. Oleh karena itu penilaian terhadap upah perlu distandarisasi
menjadi hari kerja orang (HKO) atau hari kerja setara pria (HKSP). Lama waktu bekerja juga
menentukan besar kecilnya tenaga kerja makin lama jam kerja, makin tinggi upah yang mereka
terima dan begitu pula sebaliknya. Tenaga kerja bukan manusia seperti mesin dan ternak juga
menentukan basar kecilnya upah tenaga kerja. Nilai tenaga kerja traktor mini akan lebih tinggi
bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja orang, karena kemampuan traktor tersebut dalam
mengolah tanah yang relatif lebih tinggi. Begitu pula halnya tenaga kerja ternak, nilainya lebih
tinggi bila dibandingkan dengan nilai tenaga kerja traktor karena kemampuan yang lebih tinggi
daripada tenaga kerja tersebut (Soekartawi, 2003).

Sebagai salah satu dari faktor produksi, dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas,
SDM sangat dipengaruhi oleh pasar tenaga kerja, pertemuan antara penawaran tenaga kerja dan
permintaan tenaga kerja. Berhasilnya usaha peningkatan produksi maupun faktor-faktor produksi
menjadi salah satu ukuran bagi kemajuan pembangunan ekonomi. Pembinaan terhadap petani
diarahkan sehingga menghasilkan peningkatan pendapatan petani. Kebijaksanaan dasar
pembangunan pertanian mencakup aspek produksi, pemasaran, dan kelembagaannya dan
memungkinkan dukungan yang kuat terhadap pembangunan industri.
2.4.4

Produktivitas Tenaga Kerja


Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan

keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu.


Peningkatan produktivitas faktor manusia merupakan sasaran strategis karena peningkatan
produktivitas faktor-faktor lain sangat tergantung pada kemajuan tenaga manusia yang
memanfaatkannya.
Produktivitas rendah karena;

2.4.5

a)

Teknologi yang dipakai masih didominasi oleh teknologi tradisional.


Rendahnya laju pertumbuhan daya serap tenaga kerja
Rendahnya kualitas sumber daya pertanian dan rendahnya curahan jam kerja
Upah yang rendah
Tingkat pendidikan dan tingkat keterampilan yang rendah.
Efisiensi Tenaga Kerja
Efisiensi tenaga kerja atau produktivitas tenaga kerja dapat diukur dengan
memperhatikan jumlah produksi, penerimaan per hari, dan luas lahan atau luas usaha.
Memperhitungkan produksi
Produktivitas yang berhubungan dengan tenaga kerja dapat dihitung melalui jumlah
produksi per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan per hektar. Perhitungan
produktivitas akan membandingkan antara usaha yang dibantu dengan mesin traktor dengan
usaha yang tanpa menggunakan bantuan mesin traktor. Jika tidak menggunakan traktor maka
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak, sehingga pembaginya akan menjadi
semakin besar dan nilai produktivitas akan semakin kecil. Tetapi jika memanfaatkan bantuan
mesin traktor maka tenaga kerja yang dibutuhkan akan semakin sedikit sehingga pembagi jumlah

produksi per hektar akan semakin kecil sehingga memperoleh nilai produktivitas yang lebih
besar. Hal ini justru akan semakin meningkatkan efisiensi tenaga kerja.

b)

Memperhatikan penerimaan per hari kerja


Penerimaan per hari kerja dapat dihitung dengan formula, jumlah produksi fisik dikali
harga per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan per hektar.

c)

Memperhatikan luas usaha per lahan


Efisiensi tenaga kerja dapat juga dihitung melalui luas usahatani dibagi dengan jumlah
tenaga kerja yang dicurahkan perhari.

2.4.6

Curahan Tenaga Kerja


Curahan tenaga kerja pada usahatani sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni:
1. Faktor alam yang meliputi curah hujan, iklim, kesuburan tanah, dan topografi;
2. Faktor jenis lahan yang meliputi sawah, tegal, dan pekarangan;
3. Luas, petak, dan penyebaran.
Faktor-faktor tersebut menyebabkan adanya perbedaan kesibukan tenaga kerja, misalnya
yang terjadi pada usaha tani lahan kering yang benar-benar hanya mengandalakan air hujan maka
petani akan sangat sibuk hanya pada saat musim penghujan. Sebaliknya, pada musim kemarau
akan mempunyai waktu luang sangat banyak karena lahannya tidak dapat ditanami (bero). Pada
lahan sawah beririgasi, petani akan sibuk sepanjang tahun karena air bukan merupakan kendala
bagi usahataninya.

2.4.7

Intensif dan Ekstensif


Usahatani dikatakan intensif jika banyak menggunakan tenaga kerja dan atau modal per
satuan luas lahan. Contoh usahatani intensif adalah jika seorang petani menggarap tanah sesuai

dengan kebutuhan sampai siap untuk ditanami jagung, menggunakan pupuk awal, bibit unggul,
melakukan penyiangan dan pemupukan periodik. Tiga setengah bulan kemudian petani akan
memperoleh hasil panen sekitar 12 kg per satuan luas lahan.
Sedangkan suatu usahatani dikatakan ekstensif jika usahatani tersebut tidak banyak
menggunakan tenaga kerja dan atau modal per satuan luas lahan. Sebagai contoh adalah, jika
seseorang menggarap tanah ala kadarnya, lalu menebar bibit, biji (untuk serealia). Setelah itu
lahan dibiarkan aja. Tetapi tiga setengah bulan, petani juga sambil menunggu mendapat seluruh
hasil panen dan diperoleh 2 kg per satuan luas lahan.
2.5 KEMAMPUAN MANAJERIAL
Petani adalah pelaku usahatani.

Menurut A.T.Mosher (1966) dua peranan penting

seorang petani yaitu sebagai juru tani (cultivator) dan sebagai pengelola (manajer). Dalam hal ini
petani berfungsi sebagai pengelola atau seorang manajer bagi usahatani yang mereka kerjakan.
Berhasil dan tidaknya usahatani yang mereka kerjakan pada dasarnya sangat tergantung pada
kemampuan mereka dalam mengatur dan mengelola faktor-faktor produksi yang mereka kuasai.
Jika seorang petani piawai dalam mengelola usahatani yang mereka kerjakan maka usahatani
mereka akan berhasil. Sedangkan jika seorang petani tidak mampu mengelola usahataninya
dengan baik maka usahatani yang mereka akan besar kemungkinannya mengalami kegagalan.
Artinya, petani sebagai seorang manajer usahatani harus mampu mengorganisakian alam, kerja
dan modal agar produksi dan produktivitas usahatanianya dapat bernilai optimal.
Kemampuan manajerial dan style manajerial oleh petani akan diwarnai oleh beberapa hal.
Salah satunya adalah tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan ini akan berafilasi dengan pola
pikir dan kualitas SDM. Pendidikan yang tinggi tentunya akan membentuk pola pikir dengan
wawasan yang luas dan memiliki tingkat kualitas SDM yang baik.

Sedangkan tingkat

pendidikan yang rendah akan mencetak petani-petani yang sulit menerima inovasi baru bahkan
cenderung laggard (menolak dan menghalangi) serta rendah dalam penguasaan teknologi yang
berujung pada rendahnya kualitas SDM-nya.
Petani memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengelola usahataninya tergantung pada
faktor-faktor produksi yang mereka kuasai. Petani yang memiliki lahan yang luas membutuhkan
sarana produksi pertanian yang lebih banyak dibandingkan petani dengan lahan sempit. Petani
berlahan luas akan menggunakan alat dan mesin pertanian yang dapat memudahkan mereka

dalam pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman, pemanenan serta pengolahan hasil. Mereka
membutuhkan tenaga kerja dan modal yang lebih besar untuk menjalankan kegiatan usahatani
yang mereka usahakan.
2.5.1
a)

Kelemahan Petani di Indonesia untuk Sebuah Manajemen


Skala Usaha Kecil
Petani di Indonesia mayoritas adalah petani gurem atau petani kecil, yaitu petani yang
hanya memiliki luas lahan usaha tani kurang lebih 0,25 ha.

Pada luasan lahan itu petani

melakukan kegiatan usahatani mereka. Ada yang menanami lahannya dengan jenis tanaman
pangan

semisal

padi,

jagung,

atau

ubi

kayu.

Sebagian

mengusahakan

tanaman

hortikultura/sayuran misalnya terong, cabai, kacang panjang, buncis, kol dan tanaman sayuran
yang lain. Beberapa petani menanam tanaman-tanaman perkebunan seperti kakao, kopi, lada
dan lain-lain. Lahan yang memiliki asupan air cukup melimpah dimanfaatkan oleh petani untuk
membudidayakan ikan.

Beternak juga menjadi salah satu pilihan dalam usahatani yang tidak

sedikit dipilih sebagai usaha di bidang pertanian. Tetapi apapun usahatani yang dijalankan, pada
lahan seluas itulah mayoritas petani Indonesia berusahatani.
b)

Usahatani adalah way of life


Usahatani di Indonesia telah menjadi semacam cara hidup mengingat nilai-nilai subsiten
masih melekat pada kegiatan usahatani petani Indonesia. Meski sedikit demi sedikit, sesuai
kemajuan teknologi dan hadirnya inovasi-inovasi baru, petani Indonesia telah bermigrasi kea rah
pertanian komersial namun jika diamati maka sebenarnya yang dilakukan adalah usahatani
campuran, yaitu antara subsisten dan campuran. Sebenarnya sudah tidak ada lagi petani-petani
Indonesia yang murni subsisten, kecuali daerah-daerah pedalaman, namun karena karakter
budaya yang didukung oleh kondisi alam dan lingkungan membuat usahatani sebagai sebuah
way of life ini sulit dilepaskan dari petani di Indonesia.

c)

SDM berkualitas Rendah


Tidak bisa kita pungkiri bahwa petani di Indonesia memiliki kualitas SDM yang masih
rendah. Rendahnya kualitas SDM ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang rendah. Ratarata petani kita adalah petani yang tidak pernah sekolah, tidak lulus SD, atau lulusan SD. Hanya
sedikit yang lulus sekolah menengah atau perguruan tinggi.

Kondisi ini semakin diperparah dengan rendahnya minat generasi muda yang notabene memiliki
pendidikan yang relatif lebih tinggi untuk berprofesi sebagai petani.

Mereka banyak

berbondong-bondong untuk bekerja di sektor lain sebagai buruh. Agaknya memang pendidikan
yang bersifat link and match banyak diarahkan ke arah dunia industry sehingga support dan
motivasi lulusan ke sektor pertanian relatif rendah.
Sementara itu, akses petani terhadap informasi dan teknologi baru masih sangat terbatas. Hal ini
diakibatkan karena mayoritas petani tersebar di daerah perdesaan yang relatif terbatas sarana dan
prasarana transportasi dan komunikasinya. Akibatnya tingkat serapan petani terhadap inovasi
dan teknologi baru masih rendah.

d)

Posisi Tawar Lemah


Diakui atau tidak, petani di Indonesia memiliki posisi tawar yang rendah. Posisi petani
berada pada posisi yang tidak menguntungkan dalam hal pemasaran dan permodalan. Petani
belum mampu mengontrol harga pasar dan sangat sulit untuk memperoleh modal. Akibatnya
tidak sedikit petani yang merugi besar ketika hasil panennya ternyata dibeli pedagang dengan
nilai tukar yang sangat rendak. Tidak jarang pula petani jatuh di tangan pengijon dan tengkulak
yang menjerat dengan hutang dalam bunga tinggi. Petani selalu sebagai pihak yang dirugikan.

2.5.2

Manajemen dalam Usahatani


Berbicara tentang sebuah system manajemen tentunya akan akan selalu terkait dengan 5
hal pokok, yaitu :

1)

Planning / Perencanaan
Selayaknya sebuah usaha, usahatani juga sangat membutuhkan perencanaan yang
matang. Mulai dari jenis tanaman yang akan ditanam, pola budidaya yang akan dijalankan,
tenaga kerja yang dibutuhkan, sampai kepada kegiatan-kigiatan panen dan pasca panen. Semua
rencana seharusnya tersusun rapi tercatat.
Biasanya, petani yang telah tergabung dalam kelompok tani menuangkan perencanaan
mereka dalam wujud RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Namun sayangnya
RDKK yang dibuat, oleh petani belum diartikan sebagai sebuah perencanaan dalam usaha tani.
RDKK hanya digunakan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah saja.

Secara teoritis, untuk mewujudkan sebuah perencanaan yang mantap, kita bisa menggunakan
pertanyaan 5W 1H, yaitu :
What/apa?
Why/mengapa.?
Who/siapa.?
When/kapan..?
Where/dimana ?, dan
How/Bagaimana?

2)

Organizing / Pengorganisasian
Setelah segala sesuatu yang terkait dengan usahatani direncanakan dengan baik, maka
tahapan berikutnya adalah pengorganisasian. Pada saat ini, petani harus mengorganisasikan
setiap masalah dan faktor produksi yang dimilikinya.

Persiapan alat dan mesin pertanian,

sarana-sarana produksi yang dibutuhkan juga termasuk tenaga kerja yang akan digunakan.
Pengorganisasian yang baik akan memudahkan pelaksanaan agar sesuai dengan rencana yang
dibuat dan tujuan yangh ditetapkan.
3)

Actuating/Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah hal yang paling menentukan pada suatu kegiatan usaha tani jika ingin
usahatani yang dijalankan berhasil.

Dalam pelaksanaan segala sesuatu yang dikerjakan

diusahakan sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Sebab apabila tidak maka hasil tidak akan
sesuai dengan yang diharapkan oleh pelaku usahatani.
4)

Controlling/Pengawasan
Semua pelaksanaan kegiatan usahatani harus diawasi agar sesuai dengan perencanaan
yang dibuat. Jika ada masalah dan kekurangan, sebagai seorang manajer, petani harus segera
mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Caranya adalah dengan melihat sumber daya yang
ada dan menyelaraskan dengan tujuan pelaksanaan usahatani.

5)

Evaluating/Penilaian
Tahap ini hanya akan optimal jika semua hal yang dilakukan oleh petani terdokumentasi
dalam sebuah catatan.

Evaluasi yang dilakukan tanpa informasi yang jelas hanya akan

menghasilkan penilaian yang keliru terhadap obyek evaluasi. Akibatnya tentu tidak aka nada
perbaikan untuk kegiatan usaha tani berikutnya sebab fungsi dari evaluasi yang utama adalah
sebagai bahan untuk perencanaan usahatani.
Hal-hal yang perlu dievaluasi disesuaikan dengan tujuan awal dilaksanakannya usahatani,
misalnya :
1.
2.
3.
4.

Apakah produksi total telah mencapai hasil sesuai yang diinginkan?


Apakah biaya produksi yang dikeluarkan telah sesuai dengan rencana awal?
Bagaimanakah produktivitas ekonomis dari usahatani yang dilaksanakan?
Apakah masalah-masalah yang dihadapi pada pelaksanaan usahatani?
Hasil evaluasi yang dilakukan tersebut akan lebih memudahkan bagi petani untuk
membuat perencanaan usahatani berikutnya dengan lebih baik. Lambat laun maka usahatani
yang dilaksanakan menjadi lebih maju dengan pencapaian hasil yang optimal.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pertanian merupakan salah satu sektor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi bangsa
Indonesia. Hal ini dikarenakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat
potensial yang dimana banyak masyarakat dan pihak pengusaha baik swasta mapun pemerintah
yang menjadikan sektor pertanian sebagai pendapatannya. Untuk meningkatkan kemakmuran
dalam pelaku usaha tani dan untuk menjaga ketahanan pangan, maka hal yang dilakukan adalah
dengan memanfaatkan lahan pertanian dengan lebih baik lagi serta memperluas lahan pertanian
yang ada.
Lahan dalam pertanian sangat berkaitan dengan lokasi. Hal ini dilakukan agar para usaha
tani dapat menjual hasil pertaniannya ke lokasi yang terdekat dengan harga yang memuaskan
karena biaya transportasi akan lebih murah dan dekat dengan para konsumen yang
memubutuhkan hasil pertanian tersebut.
Selain itu, hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan produktivitas pertanian
adalah kemampuan pelaku usaha tani (manajerial) dalam melaksanakan kegiatan pertaniannya
dengan cara melakukan sistem manajemen yaitu; perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan serta penilaian. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, maka resiko akibat dari
kegagalan panen (gagal panen) dapat diminimalisirkan atau bahkan dihilangkan. Karena akan
menghemat tenaga kerja dan memperkerjakan tenaga kerja yang profesional sehingga hasilnya
akan mensejahterakan petani itu sendiri.
Adapun peran pemerintah yang perlu dan yang terus dilakukan adalah dengan menjaga
ketersediaan pupuk dengan baik dan tentunya dengan harga yang terjangkau. Hal ini akan sangat
membantu para petani dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya terutama petani kecil karena
tersedianya pupuk bersubsidi.
Apabila semua hal ini dilakukan dengan baik, maka bangsa Indonesia tidak perlu lagi
mengimpor hasil pertanian, serta akan membuat para petani semakin sejahtera dan tentunya akan
berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi.

3.2 Saran
Untuk membantu para petani dalam meningkatkan kualitas pertaniannya maka
pemerintah perlu melakukan perbaikan, meningkatkan fasilitas yang terkait dalam membangun
pertanian, serta memberikan penyuluhan sosial secara terdidik kepada petani kecil terutama di
daerah pedalaman atau perkampungan agar lebih memanfatkan lahan yang dimiliki agar
meningkatkan hasil produksi serta nilai guna hasil pertanian tersebut.
Kepada masyarakat untuk lebih menerima sosialisasi dari pemerintah dan turut membantu
pemerintah dalam kebijakan yang dapat membantu para petani untuk menjadi pelaku mikro yang
lebih sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA
http://funstudyclub.blogspot.com/2014/09/makalah-pemanfaatan-sumber-daya-alam.html
Tarmedi, Eded Dkk. 2007. Sumber Daya Dan Kesejahteraan Masyarakat. Bandung : UPI Press
http://latahzanovi.blogspot.com/2013/06/teori-lokasi.html
http://pinterdw.blogspot.com/2012/01/teori-lokasi.html
Fadholi Hernanto. 1991. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Tjeppy d. Soedjana. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai Respons Petani Terhadap
Faktor Risiko. Jurnal Perrtanian. Bogor.
Nur Ainun Jariyah dkk. 2003. Kajian Finansial Usahatani Hutan Rakyat Pada Beberapa Strata Luas
Kepemilikan Lahan (Studi Kasus di Desa Sumberejo, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten
Wonogiri). Jurnal Pengelolaan DAS Kajian Finansial Usaha Tani Surakarta
http://contoh-materi-pelajaran.blogspot.com/2014/01/makalah-pertanian-di-indonesia.html
http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3369

http://sahatsijabat22.blogspot.co.id/2015/05/makalah-mata-kuliah-ekonomipertanian_89.html