Anda di halaman 1dari 31

SUBAK

TANTANGAN-TANTANGAN YANG DIHADAPI SUBAK


Dewasa ini subak mengalami tantangan yang sulit, dan apabila tidak segera diatasi maka akan
mengancam kebudayaan subak tersebut.Tantangan yang dialami oleh subak di Bali diantaranya :
– Persaingan dalam Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian yang Semakin Tajam
– Ketersediaan Air Semakin Terbatas
– Kerusakan Lingkungan khususnya Pencemaran Sumberdaya Air
– Penyerahan Kembali Tanggung Jawab Pengelolaan Jaringan Irigasi kepada Petani
– Berkurangnya Minat Pemuda untuk Bekerja Sebagai Petani
Hal tersebut didukung dengan beberapa kekurangan subak yaitu:
– Belum dimilikinya status badan hukum oleh sebagian besar subak di Bali.
– Sempitnya luas garapan petani anggota subak dan banyak yang berstatus sebagai
penyakap.
– Kurangnya pemilikan modal dan terbatasnya akses perkreditan yang dimiliki petani /
subak.
– Lemahnya posisi tawar petani karena bertindak sendiri-sendiri secara individual dalam
pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil-hasil pertanian.
– Terbatasnya kemampuan petani di bidang teknologi budidaya non padi mulai dari proses
produksi sampai pengolahan pasca panen.
– Terbatasnya kemampuan managerial dan wirausaha di kalangan petani.
– Lemahnya penguasaan petani atas informasi pasar terutama yang berkaitan dengan
jumlah kebutuhan, harga, waktu, kualitas, sistem pembayaran, dll.
– Kurangnya pengetahuan dan penguasaan teknologi dalam bidang pelestarian sumberdaya
alam khususnya sumberdaya air.
– Masih terdapatnya beberapa DI (Daerah Irigasi) yang merupakan penggabungan fisik
sistem irigasi namun belum memiliki wadah koordinasi antar subak dalam lingkungan DI
yang bersangkutan.

UPAYA-UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN


SUBAK
Dalam mengatasi permasalahan ini maka upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk
memperkokoh kelembagaan subak agar tetap eksis dalam menghadapi berbagai tantangan masa
depan adalah antara lain sebagai berikut.
– Mendorong dan memfasilitasi pembentukan wadah koordinasi antar subak dalam
lingkungan suatu DI (subak-gede) 1) , untuk tujuan-tujuan antara lain: (a) mencegah atau
mengurangi timbulnya konflik dalam pemanfaatan air antar subak pada bendung yang
sama; (b) mengkoordinasikan pengalokasian air secara lebih adil, pengaturan pola tanam
dan jadwal tanam antar subak yang terkait; (c) mengkoordinasikan pembayaran IPAI dan
menerima aset jaringan irigasi dari pemerintah jika DI yang bersangkutan akan
diserahkan tanggung jawab pengelolaannya kepada para petani/ subak.
– Mendorong dan memfasilitasi pembentukan wadah koordinasi antar sistem irigasi/DI
pada aliran sungai (subak-agung) guna mengkoordinasikan pengalokasian air antar DI,
dan pengaturan pola tanam serta jadwal tanam dari subak-subak pada aliran sungai yang
bersangkutan.
– Mengadakan program pemberian status badan hukum bagi subak/subak-
gede/subakagung supaya dapat lebih berkembang menjadi lembaga yang berorientasi
ekonomi/ agribisnis.

Pencemaran Udara Ambien

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau
biologi ke dalam udara ambien di atmosfer dalam jumlah yang dapat
membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika
dan kenyamanan, atau merusak properti. Udara ambien adalah udara bebas
dipermukaan bumi pada lapisan troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi
kesehatan manusia, mahluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya.

Adapun beberapa penyebab yang mempengaruhi tercemarnya udara ambien,


antara lain: Particulate Matter (PM10), Ozone (O3), Carbon Monoxide (CO), Carbon
Dioxide (CO2), Nitrogen Oxide (NOx), Sulfur Dioxide (SO2), Timbal (Pb).

Penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan
alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. Pemeriksaan
emisi dan perawatan kendaraan, pengawasan pembuangan cerobong pada industri-industri.
Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur, bahan
baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan. Pencegahan
pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan ventilasi yang sesuai, memasang
filter, Pembersihan udara secara elektronik.

UNTUK POWER POINT.

Pencemaran udara  substansi fisik, kimia, atau biologi ke dalam udara


ambien.

Penyebab tercemarnya udara ambien  Particulate Matter (PM10), Ozone


(O3), Carbon Monoxide (CO), Carbon Dioxide (CO2), Nitrogen Oxide (NOx),
Sulfur Dioxide (SO2), Timbal (Pb).

Penanggulangan  mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah


polutan, mendispersikan polutan, pemeriksaan emisi dan perawatan
kendaraan, pengawasan pembuangan cerobong pada industri, memasang
ventilasi yang sesuai, memasang filter, dan pembersihan udara secara
elektronik.

Nama : I Gusti Ayu Made Dewi P.

NIM : 0820025057

Mata Kuliah : Kesehatan Lingkungan

Krisis Lingkungan Ekonomi yang Dialami Pedagang


1. Latar Belakang
Sektor informal merupakan salah satu andalan pemerintah dalam penyerapan tenaga
kerja dan menambah pendapatan masyarakat bawah. Salah satu bidang yang termasuk dalam
sektor ini adalah pedagang. Berdagang merupakan salah satu mata pencaharian sebagian
besar masyarakat Indonesia. Namun, dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia,
membuat para pedagang semakin kesulitan. Selain itu, krisis ekonomi pedagang didukung
oleh adanya persaingan antar pedagang dan pendapatan penduduk sekitar yang rendah serta
tidak konsekuennya pemerintah dalam melaksanakan kebijakan. Sehingga menguntungkan
salah satu pihak saja.

2. Penyebab Masalah
Krisis lingkungan ekonomi pedagang di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor
sebagai berikut :
a. Krisis ekonomi.
Krisis lingkungan ekonomi yang dialami oleh masyarakat Indonesia menyebabkan
kesulitan bagi para pedagang di Indonesia. Hal ini dikarenakan dengan adanya krisis
ekonomi, harga pokok barang yang akan ditawarkan pedagang tinggi, sehingga mau tidak
mau, pedagang harus menjualnya dengan harga yang mahal. Tentu saja, meyebabkan
konsumen menjadi enggan untuk membeli atau mengurangi jumlah pembelian. Sehingga
hal ini sangat merugikan pedagang.
b. Persaingan antar pedagang.
Persaingan antar pedagang dapat terjadi pada pedagang yang menjual barang dengan jenis
yang relatif sama. Dengan barang-barang yang jenisnya sama, maka siapa yang menjual
paling murah sudah tentu mendesak lainnya ke luar dari lapangan dan menjamin penjualan
terbesar bagi dirinya sendiri. Jadi, para penjual saling memperebut satu sama lain,
penjualan, pasar. Mereka masing-masing ingin menjual, menjual sebanyak-banyaknya
dan, kalau dapat, menjual sendirian, dengan mengucilkan penjual-penjual lainnya.
Karenanya, yang satu menjual lebih murah dari yang lain. Selain itu, persaingan dapat
terjadi pada pedangang dengan modal kuat dengan kelompok pedangang kecil.
c. Tingkat pendapatan penduduk sekitar.
Apabila tingkat pendapatan masyarakat sekitar rendah, maka akan menurunkan tingkat
keuntungan pedagang, karena masyarakat sekitar tidak mampu membeli barang yang
ditawarkan oleh pedagang.
d. Pelaksanaan kebijakan kurang maksimal.
Pemerintah seringkali tidak konsekuen dalam mengeluarkan kebijakan. Hal ini sangat
merugikan para pedagang. Karena hanya menguntungkan salah satu pihak saja.
1. Solusi
Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi krisis ekoomi yang dialami
pedagang di Indonesia, antara lain :
a. Regulasi
Dapat dilakukan dengan membuat undang – undang atau peraturan yang melindungi para
pedagang dan bidang perdagangan itu sendiri. Dimana regulasi yang dibuat harus adil,
jelas, dan berpihak kepada para pedagang. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan
usaha untuk menanggulangi krisis ekonomi yang sedang terjadi.
b. Meningkatkan mutu dan kualitas.
Untuk menghindari adanya kerugian akibat persaingan antar pedagang, dapat dilakukan
dengan meningkatkan mutu dan kualitas barang dan tentu saja dengan harga yang
terjangkau. Selain itu, untuk menghindari adanya monopoli oleh salah satu pedagang,
pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang mengatur mekanisme pasar para
pedagang. Salah satu contoh kebijakannya adalah Peraturan Presiden (Perpres) No. 112
tahun 2007 tentang penataan pasar modern dan pasar tradisional. Dalam pasal 3 ayat 1
dijelaskan, lokasi berdirinya pasar modern wajib mengacu pada rencana tata ruang
wilayah (RTRW).
c. Mengatur harga barang yang ditawarkan.
Pedagang yang berlokasi di daerah dengan tingkat pendapatan rendah dapat melakukan
usaha menurunkan harga barangnya. Selain itu, pedagang juga dapat menawarkan “paket
hemat” ataupun diskon kepada masyarakat agar menarik perhatian. Alternatif lainnya
yaitu, pedagang dapat mencari lokasi yang tingkat pendapatan masyarakatnya tinggi.
d. Pemerintah harus konsekuen dalam melaksanakan kebijakan yang telah dikeluarkan.
Adanya krisis yang dialami oleh pedagang disebabkan oleh krisis ekonomi, persaingan antar
pedagang, tingkat pendapatan penduduk sekitar, dan sikap pemerintah yang tidak konsekuen
terhadap kebijakan yang telah dibuat. Krisis ekonomi membuat pedagang kesulitan untuk
mementukan harga barang yang akan ditawarkan. Persaingan antar pedagang menyebabkan
adanya monopoli, sehingga pedagang lainnya terkucilkan. Selain itu, tingkat pendapatan
masyarakat sekitar yang rendah membuat para pedagang kesulitan dalam menawarkan
barangnya. Krisis diperkuat dengan tidak konsekuennya pemerintah dalam melaksanakan
kebijakan. Sehingga, ditanggulangi dengan cara menetapkan peraturan pemerintah yang
dijalankan dengan tegas, meningkatkan mutu dan kualitas barang yang ditawarkan, serta
mengatur harga barang yang ditawarkan. Dengan tegasnya peraturan mengenai pasar, diharapkan
krisis lingkungan ekonomi para pedagang dapat ditanggulangi.

PENGELOLAAN KRISIS LINGKUNGAN AKIBAT PENCEMARAN TANAH


(Kesehatan Lingkungan)
Nama : Kdk. Diah P. Kepakisan
Nim : 0820025062
PS. Ilmu Kesehatan Masyarakat/Fak. Kedokteran
Universitas Udayana

Salah satu krisis lingkungan yang terjadi saat ini adalah krisis lingkungan akibat
pencemaran tanah. Gangguan dan kerusakan yang paling besar terhadap tanah disebabkan oleh
manusia. Ini bukan fenomena baru karena kerusakan tanah telah terjadi sejak zaman peradaban
awal di Lembah Tigris and Eufrat. Ancaman paling besar adalah erosi tanah yang dapat
berakibat tanah hilang tererosi meninggalkan batuan yang belum lapuk. Erosi tanah terjadi akibat
pengelolaan lahan yang buruk, misalnya mengolah tanah di lahan yang curam. Tanah merupakan
suatu sistem yang tangguh karena mampu mengurai bahan pencemar sehingga menjadi kurang
berbahaya. Kemampuan menetralkan bahan-bahan ini membuat tanah sebagai tempat
penampungan limbah (organik dan anorganik). Jika bahan yang diberikan melebihi kapasitas
penguraian tanah, tanah tersebut akan rusak, dan akibatnya aktivitas biologi juga berkurang.
Gangguan paling serius bagi tanah adalah penutupan oleh bangunan dan infrastruktur. Ini sangat
lazim dijumpai di berbagai negara industri. Sekali tanah ditutup oleh aspal atau bangunan, tanah
tersebut sudah hilang dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pencemaran tanah adalah
keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami.
Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau
fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam
lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air
limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah
secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat
menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam
tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat
berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan
udara di atasnya.

DAMPAK

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk
ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan
herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada
anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh
populasi.

Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat


meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat
menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait
pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf
otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti
sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di
atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan


kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan
pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme
dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya
bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika
efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan
dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-
makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti
konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat
kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya
dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan
pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi.
Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-
bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

PENANGANAN

Remediasi

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada
dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-
site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari
pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.

Off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang
aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu,
tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke
bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah
dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan


mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Nama : Ni Putu Emi Yuliastari

NIM : 0820025060

Mata Kuliah : Kesehatan Lingkungan

Krisis Ekonomi yang Dialami Petani

1. Latar Belakang

Indonesia terkenal sebagai Negara agraris karena sebagian besar penduduknya


bermatapencaharian sebagai petani atau bergerak di bidang pertanian. Namun seiring
berjalannya waktu, pembangunan di berbagai bidang di Indonensia membuat lahan
pertanian di Indonesia semakin berkurang. Selain itu anggaran pemerintah untuk bidang
pertanian semakin sedikit pula dan membuat perhatian terhadap bidang pertanian
semakin menurun. Begitu pula perhatian terhadap nasib para petaninya sendiri hampir
tidak ada. Bidang pertanian yang kurang mendapat perhatian, baik dari pemerintah
maupun masyarakatnya sendiri dapat dilihat dari banyaknya tanggul yang rusak, irigasi
yang tidak berfungsi maksimal, dan lain – lain. Selain itu, arah kebijakan pemerintah
yang kurang berpihak kepada para petani juga membuat pertanian semakin terpuruk.

2. Penyebab Masalah

Nasib para petani di Indonesia sangat memprihatinkan dimana disebabkan oleh


beberapa hal, antara lain :

a. Kebiasaan Pemerintah mengimpor beras

Ketika harga beras naik pemerintah sering kali mengambil kebijakan untuk
mengimpor beras sehingga merugikan para petani dimana mereka tidak dapat
menikmati kenaikan harga beras.

b. Perusahaan pupuk melakukan kegiatan ekspor

Sejumlah perusahaan pupuk lebih suka mengeskspor produksinya ke luar negeri


untuk memperoleh keuntungan yang besar, sedangkan di pihak lain stok pupuk di
tingkat petani semakin berkurang sehingga membuat nasib petani makin terpuruk.

c. Lahan – lahan subur dikonversi untuk kawasan industri


Saat ini banyak lahan-lahan subur dikonversi untuk kawasan industri dimana
pemerintah melakukannya karena melihat bidang industri akan mengalami kemajuan
dan dianggap sebagai jalan keluar dari krisis perekonomian.

1. Solusi

Melihat nasib para petani yang semakin terpuruk, diharapkan pemerintah dapat
menemukan solusi terbaik agar ekonomi para petani dapat pulih kembali (tidak
memprihatinkan lagi) setidaknya sama seperti saat Indonesia berjalan sebagai negara
agraris. Beberapa solusi yang dapat dilakukan, antara lain :

a. Regulasi

Dapat dilakukan dengan membuat undang – undang atau peraturan yang


melindungi para petani dan bidang pertanian itu sendiri. Dimana regulasi yang dibuat
harus adil, jelas, dan berpihak kepada para petani sehingga nantinya masyarakat di
pedesaan akan tertarik kembali untuk mengembangkan lahan pertanian sekaligus akan
mengurangu urbanisasi.

b. Mengurangi kebiasaan mengimpor beras

Pemerintah yang mempunyai pemikiran bahwa saat beras mengalami kenaikan


harga, tindakan yang harus mereka lakukan adalah dengan mengimpor beras karena
akan menetapkan inflasi negara sebaiknya diubah karena jika dilihat dari pihak petani,
nasib mereka sangat berbanding terbalik dengan pemikiran pemerintah tersebut.

c. Pemerintah harus mengontrol pembangunan yang menggunakan lahan – lahan pertanian

Ketersediaan lahan pertanian yang berkurang akibat adanya pembangunan


yang pesat di bidang lain, terutama industri juga mengakibatkan nasib para petani
semakin terpuruk. Dengan melihat nasib petani saat ini yang terus menerus hidup
dalam garis kemiskinan, pemerintah harus melakukan tindakan yang menjamin
ketersediaan lahan pertanian.

d. Diperlukannya partisipasi pihak – pihak yang bergerak di bidang pertanian

Kita dapat melihat bahwa masih banyak masyarakat kita yang tertarik oleh bidang
pertanian sehingga mereka mendalaminya melalui pendidikan, seperti mahasiswa
Pertanian dan profesi lainnya yang berkaitan. Namun ilmu yang mereka miliki
terkadang tidak dimanfaatkan sesuai bidangnya. Diharapkan kedepannya, pihak –
pihak yang berkecimpung dibidang pertanian dapat memberikan kontribusi mereka
terhadap bidang pertanian agar pertanian kedepannya dapat pulih kembali dan
ekonomi para petani akan semakin membaik.

TUGAS KESEHATAN LINGKUNGAN


“ Krisis Energi, Solusi serta Pencegahannya di
Indonesia”
Oleh :

LUH PUTU ESTALITA

0820025056

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2009
“ Krisis Energi, Solusi serta Pencegahannya di Indonesia”

Indonesia merupakan salah satu jajaran negara yang kaya raya didunia.
Beragam kekayaan alam dimilikinya termasuk juga pertambangan fosil sebagai
sumber energi. Oleh karena itu, Indonesia merupakan salah satu negara pemasok
energi tertinggi di dunia. Namun sayangnya kekayaan indonesia ini tidak dapat
dinikmati oleh masyarakatnya sendiri. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah
mengenai penerapan UU no 22 tahun 2001 mengenai minyak dan gas bumi yang
sangat liberal. Dalam Undang-undang ini pemerintah secara tidak langsung
memberikan wewenang kepada perusahaan asing maupun domestik untuk
mengeksplorasi minyak dan menentukan harganya sendiri. Hal ini tentu saja
memberatkan masyarakat indonesia karena pihak swasta mayoritas hanya
mementingkan profit bukanlah kesejahteraan masyarakat Indonesia. Selain itu,
beban masyarakat juga bertambah dengan diadakannya pemadaman lampu bergilir
yang bertujuan untuk penghematan listrik oleh sebab sumber energi di Indonesia
mulai mengalami penurunan yang sangat drastis atau dikenal juga dengan istilah
krisis energi. Krisis energi adalah kekurangan (atau peningkatan harga) dalam
persediaan sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya menunjuk ke
kekurangan minyak bumi, listrik, atau sumber daya alam lainnya. Krisis ini memiliki
akibat pada ekonomi, dengan banyak resesi disebabkan oleh krisis energi dalam
beberapa bentuk. Terutama, kenaikan biaya produksi listrik, yang menyebabkan
naiknya biaya produksi. Bagi para konsumen, harga BBM untuk mobil dan
kendaraan lainnya meningkat, menyebabkan pengurangan keyakinan dan
pengeluaran konsumen. Krisis energi yang dialami oleh Indonesia tidak saja
menjadi masalah di Indonesia semata namun juga telah menjadi masalah dunia.
Salah satu penyebab krisis energi di Indonesia dikarenakan pemerintah mayoritas
hanya menggunakan energi listrik yang berasal dari fosil, sedangkan disisi lain,
Indonesia juga memiliki sumber energi listrik alternatif yang dapat membantu
pasokan energi cukup banyak namun belum diberdayakan dengan baik..

Indonesia sebagai negara yang berkembang memiliki begitu banyak


permasalahan. Salah satunya adalah permasalahan krisis minyak tanah, elpiji, dan
premium di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia hanya menggunakan sumber
energi fosil yang kini persediaanya sudah mulai mengalami penurunan secara
drastis dikarenakan banyaknya pengeksploitasian besar-besaran. Masalah ini
berdampak kepada masyarakat indonesia dimana harga BBM meningkat dengan
pesat sehingga masyarakat sulit menjangkau harga BBM. Selain itu permasalahan
masyarakat tidak hanya berbatas pada hal ini saja melainkan juga pada
pemadaman listrik bergilir yang tidak tentu dan tanpa pemberitahuan. Ini menjadi
masalah besar bagi masyarakat khususnya industri dikarenakan dengan
diadakannya pemadaman listrik maka dapat menghambat produksi mereka dan
menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Faktanya akar dari permasalahan ini
bersumber dari terbatasnya sumber energi yang terdapat di Indonesia yaitu sumber
energi fosil. Oleh karena begitu banyaknya permasalahan krisis energi yang terjadi
di Indonesia, maka sudah sepantasnya untuk diatasi sesegera mungkin.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menangani krisis energi ini salah satunya
adalah dengan memberikan subsidi kepada pengembangan energi alternatif. Dengan adanya
subsidi ini maka akan dapat menarik investor dalam mengembangkan energi alternatif sehingga
Indonesia dapat lebih mandiri dalam hal energi dan tidak hanya bergantung dengan energi yang
berasal dari bahan fosil. Ketersediaan energi alternatif di Indonesia sangat banyak dan ini dapat
dimanfaatkan secara luas oleh pemerintah. Adapun beberapa contoh sumber energi alternatif di
Indonesia yang masih belum diberdayakan dengan baik diantaranya adalah:
1. Energi angin
2. Energi panas bumi dengan kapasitas mencapai 27000 megawatt
3. Energi sinar matahari
4. Energi gelombang pasang surut laut
5. Energi air
6. Energi hujan
7. Energi biogas
8. Energi nuklir
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu solusi terbaik untuk
mengatasi krisis energi yang dihadapi di Indonesia. Dunia internasional pun sangat mendukung
Indonesia untuk memanfaatkan teknologi nuklir, namun dalam pelaksanaannya harus tetap
melalui prosedur terpenting dalam pembangunan PLTN yaitu harus ada regulasi dan sumber
daya manusia yang kompeten serta terpenting diharapkan secepatnya dapat direalisasikan.
9. Energi minyak tumbuhan / biodiesel, dan lain sebagainya
Semua contoh energi alternatif di atas apabila dikelola dengan baik, maka
akan dapat memenenuhi kebutuhan energi di Indonesia dan menghapus
ketergantungan akan tenaga energi fosil.

Selain dalam hal penanganan krisis energi, dibutuhkan pula upaya pencegahan yang
bertujuan untuk mengurangi atau mencegah masalah krisis energi yang dapat memperumit
keadaan energi di Indonesia saat ini. Adapun upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah
dengan upaya penghematan energi dan penanaman kesadaran masyarakat. Dalam usaha
penghematan energi, negara Jepang dapat menjadi prototipe dan contoh bagi negara-negara di
dunia termasuk Indonesia. Masyarakat Jepang tidak saja mencerminkan kepedulian mereka
terhadap krisis energi melalui prilaku mereka melainkan diikuti dengan penanaman pola pikir
mengenai pentingnya menjaga lingkungan termasuk juga sumber energi. Mereka sangat concern
terhadap pemasalahan energi ini. Di Jepang, gerakan hemat listrik, hemat air, serta hemat bahan
baku tidak hanya terdapat dalam teori mereka saja melainkan sudah mampu dicerna dan diserap
oleh masyarakat yang kemudian menjadi dasar mereka untuk bertindak.
Program penanaman kesadaran menjadi salah satu titik berat kurikulum pendidikan dari
tingkat yang paling bawah karena program ini mengajarkan mengenai bagaimana siswa
ditanamkan dan dicontohkan cara berhemat listrik, cinta kebersihan, menyayangi lingkungan dan
lain lain. Usaha edukasi ini cukup berhasil meresap dan dijiwai oleh anak-anak bahkan setelah
menjadi dewasa dan beranjak tua mereka masih menanamkan pola fikir ini dibenak mereka.
Sehingga, pendidikan sejak dini dan penanaman kesadaran sangat penting untuk memulai
pencegahan masalah krisis energi di Indonesia.
Selain pencegahan dengan tahap edukasi, pencegahan juga dapat dilakukan dengan
penggunaan teknologi ramah lingkungan. Salah satu bahan bakar pengganti ramah lingkungan
yang dapat direkomendasikkan untuk mencegah krisis energi di Indonesia salah satunya adalah
dengan menggunakan tenaga sumber daya Hidrogen. Hidrogen adalah suatu elemen yang paling
sering dijumpai di alam semesta, dapat digunakan sebagai bahan bakar dari sebuah mesin
pembakaran atau digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, dan merupakan bentuk
emisi yang sangat bersih dibanding bensin. Hidrogen tersedia sangat banyak dikarenakan
hidrogen merupakan elemen alam semesta yang paling umum. Cadangan hidrogen dan bahan
baku baterai sangat banyak dan beragam, dan lithium, teknologi baterai yang menonjol saat ini,
sangat berlimpah. Dua teknologi ini (penggunaannya) secara relatif imbang.
Selain hal yang diuraikan sebelumnya, pencegahan juga dapat dilakukan dari pihak
pemerintah. Pemerintah hendaknya dapat lebih tegas dan bijaksana dalam membuat perundang-
undangan mengenai sumber energi di Indonesia yang dalam pelaksanaannya diikuti dengan
pengawasan yang maksimal. Dengan dilaksanakannya tahap penanganan dan pencegahan krisis
energi ini diharapkan di masa yang akan datang tidak akan ditemui lagi masalah krisis energi.

Daftar Pustaka:
Anonim. tt. Crisis Energi. Tersedia : www.wiki.com. Akses : 6 Desember 2009
Anonim.2008. Hidrogen. Tersedia : www.google.com. Akses : 6 Desember 2009
Anonim.2009.PLTN Solusi Terbaik Mengatasi Krisis Energi Indonesia.Tersedia :
www.google.com . Akses : 6 Desember 2009
Ika. tt. Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Atasi Krisis Energi. Tersedia:
www.google.com. Akses : 6 Desember 2009
Indrawan, bayu.2009.Solusi Krisis Energi Dunia.Tersedia : www.lampungpost.com. Akses : 6
Desember 2009
Istadi. tt.Energi terbarukan,Solusi Krisis Energi Indonesia.Tersedia : www.google.com. Akses :
6 Desember 2009
Jup’s. 2009. Krisis Energi di Indonesia. Tersedia: www.google.com. Akses: 6 Desember 2009
Sarjiyati,Sri. 2009. Menyoal Krisis Energi Indonesia. Tersedia : http://m.detik.com. Akses: 6
Desember 2009
Syufyan. Hidayatus. 2009. Solusi Krisis Listrik Indonesia. Tersedia : www.inilah.com. Akses : 6
Desember 2009

Nama : Putu Ika Farmani

NIM : 0820025059

Subtopic : Manajemen Krisis Lingkungan

Perkembangan zaman yang semakin maju membuat kebutuhan hidup manusia meningkat
dengan tajam. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang
diharapkan. Meningkatnya permintaan akan alat pemenuh kebutuhan berarti meningkat pula
sumber daya alam yang dipergunakan dalam memproduksi alat tersebut. Salah satu dampak dari
eksploitasi sumber daya alam ini ialah krisis ingkungan. Krisis lingkungan ini terjadi tidak hanya
karena aktivitas manusia semisal polusi dan perubahan iklim karena efek rumah kaca, tapi juga
ketidakmampuan manusia mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam. Salah satu jenis
krisis lingkungan yang sangat butuh perhatian kita ialah krisis air permukaan yang terjadi di
dunia akhir-akhir ini.

Forum air dunia II (World Water Forum) di Den Haag pada Maret 2000 sudah
memprediksikan Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami krisis air pada
2025. Penyebab krisis air ini ialah kelemahan dalam pengelolaan air. Salah satu di antaranya
permukaan air yang tidak efisien. Laju kebutuhan akan sumber daya air dan potensi
ketersediaannya yang sangat pincang dan semakin menekan kemampuan alam dalam menyuplai
air. Derajat kelangkaan air semakin meningkat, sementara pertumbuhan penduduk yang pesat
dan disertai dengan pola hidup yang menuntut penggunaan ait yang meningkat menambah
tekanan terhadap kuantitas air. Indonesia menduduki urutan ke-5 di antara negara-negara yang
kaya air setelah Brazil , Rusia, Cina, dan Kanada. Hal ini terlihat juga pada potensi ketersediaan
air permukaan, terutama dari sungai yang menurut catatan Departemen Pekerjaan Umum rata-
rata dunia yang hanya 600 meter kubik per kapita per tahun.

Daerah aliran sungai (DAS) sebagai fungsi penyangga atau resapan makin jauh dengan angan-
angan karena sebagaian besar rusak. Ini disebabkan terjadinya alih fungsi lahan di daerah
penyangga, makin meluasnya lahan kritis , makin luasnya penyebaran DAS kritis , dan
penebangan liar pada areal penyangga. Berubahnya fungsi DAS adalah awal dari hilangya
volume besar air melalui aliran permukaan yang seharusnya dapat dikonversi. Faktanya makin
meningkat deficit air di wilayah kekurangan air atau menurutnya ketersediaan, air di daerah
surplus. Mengeringnya kantong-kantong air di daerah cekungan di kawasan DAS adalah indikasi
nyata dari makin hilangnya fungsi hidrologis DAS.

Sumber daya air mengalami berbagai tekanan yang berakibat pada makin buruknya kualitas.
Salah satu penyebabnya adalah pencermaran pada air permukaan yang meliputi sungai, danau ,
waduk, dan air bawah permukaan. Intrusi air laut ke daratan menyebabkan salinitas air sumur-
sumur penduduk meningkat. Kebocoran-kebocoran limbah industry ke sungai dan lahan-lahan
pertanian makin memberikan tekanan pada lingkungan. Sangat tepat jika krisis air dunisa saat ini
didefinisikan dalam kaitannya dengan keterbatasan pada akses terhadap air minum yang sehat
bagi lebih dari satu miliar manusia, dan keterbatasan “sanitasi bagi setengah penduduk dunia”.

Beberapa saran yang diajukan untuk penanggulangannya ialah dalam pemanfaatan air hars
diimbangi dengan upaya konservasi air yang memadai. Paradigma pemberdayaan sumber daya
air perlu diubah , dari eksploitasi berkepanjangan kepada budaya konservasi dan pemanfaatan air
yang efisien. Pemanfaatan air secara efisien harus menjadi target dalam pengelolaan air.

Dalam konteks irigasi, pemberian air yang efisien tidak selalu dengan jumlah yang sedikit, tetapi
pada nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan air. Namun, pemberian air sesedikit
mungkin menjadi target untuk memperoleh hasil ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu dalam
berbagia upaya atau usaha pemanfaatan air dapat menggunakan konsep Water Use Efficiency.
Dalam budi daya tanaman, konteks ini diartika sebagai produksi tanaman yang dapat dihasilkan
per unit pemanfaatan air. Sebagai hasil dari pemanfaatan air hendaknya diinvestasikan kepada
upaya konservasi air secara rutin berkelanjutan.

Krisis Energi di Indonesia

Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah


termasuk juga sumber energi fosil yang luas kini mengalami krisis energi. Krisis
energi ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi dunia. Permasalahan yang dihadapi
Indonesia mengenai krisis energi adalah krisis minyak tanah, LPJ, bensin, serta
pemadaman listrik bergilir yang tidak tentu dan tanpa pemberitahuan. Namun
secara garis besar penyebab utama dari permasalahan krisis energi ini adalah
pasokan sumber energi fosil di Indonesia menurun drastis diakibatkan oleh
ekploitasi listrik yang tidak terkontrol. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya
Undang undang no 22 tahun 2001 mengenai minyak bumi dan gas bumi sangat
liberal. Adapun beberapa penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
permasalahan ini diantaranya adalah dengan memberikan subsidi kepada
pengembangan energi alternatif sehingga dapat mengembangkan investor untuk
mengembangkan energi alternatif. Adapun beberapa contoh energi alternatif yang
masih belum diberdayakan adalah energi, panas bumi, angin, air, gelombang
pasang surut laut, biogas, biodesel dan nuklir. Pengembangan energi alternatif
nuklir merupakan salah satu solusi terbaik untuk menangani masalah krisis energi,
namun dalam pelaksanaannya membutuhkan regulasi dan sumber daya yang
kompeten. Sedangkan upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi
dan mencegah krisis energi di masa yang akan datang adalah dengan melakukan
penghematan energi dan penanaman kesadaran. Penanaman kesadaran dapat
dilakukan dengan melakukan edukasi sejak dini yaitu usia sekolah dasar sehingga
pola pikir mereka berorientasi ke penghematan energi dan kepedulian terhadap
lingkungan. Selain itu juga penghematan energi dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan ramah lingkungan seperti halnya baterai dari hidrogen
maupun lithium.

Nama : Ni Nyoman Metri Astuti.

NIM : 0820025058

UDARA AMBIEN

Latar Belakang.

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi ke
dalam udara ambien di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia,
hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara merupakan salah satu dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh daerah
perkotaan. Laju urbanisasi yang tinggi, motorisasi dan industrialisasi telah menyebabkan
permasalahan pencemaran udara yang serius di kota-kota besar, sehingga menyebabkan
pencemaran udara menjadi salah satu ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat,
masyarakat miskin perkotaan, dan produktivitas nasional.
Udara ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan troposfir yang
dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahluk hidup dan unsur lingkungan hidup
lainnya. Dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang terjadi tergantung pada besarnya
konsentrasi pencemar di udara ambien. Perkiraan besarnya dampak yang terjadi diprediksi
dengan melihat hubungan statistik antara konsentrasi di udara ambien dengan respons gangguan
kesehatan berdasarkan studi-studi dosis-respons. Oleh sebab itu, pemantauan pencemar di udara
ambien sangat penting untuk mengevaluasi tingkat konsentrasi yang terpajan pada reseptor.

Penyebab Masalah.

Beberapa penyebab yang mempengaruhi pencemaran pada udara ambien:

1. Particulate Matter (PM10)


Partikulat adalah padatan atau likuid di udara dalam bentuk asap, debu dan
uap, yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama. Di samping
mengganggu estetika, partikel berukuran kecil di udara dapat terhisap ke ke
dalam sistem pernafasan dan menyebabkan penyakit gangguan pernafasan dan
kerusakan paru-paru. Partikulat juga merupakan sumber utama haze (kabut
asap) yang menurunkan visibilitas.

2. Ozone (O3)
Ozon termasuk kedalam pencemar sekunder yang terbentuk di atmosfer dari
reaksi fotokimia NOx dan HC. Ozon bersifat oksidator kuat, karena itu
pencemaran oleh ozon troposferik dapat menyebabkan dampak yang merugikan
bagi kesehatan manusia, seperti: serangan janttung, gangguan sistem
pernafasan, gangguan fungsi paru-paru akut, dan bahkan dapat menyebabkan
kematian.

3. Carbon Monoxide (CO)


Gas karbon monoksida (CO) adalah gas yang dihasilkan dari proses oksidasi
bahan bakar yang tidak sempurna. Gas ini bersifat tidak berwarna, tidak berbau,
tidak menyebabkan iritasi. Secara langsung kompetisi ini akan menyebabkan
pasokan O2 ke seluruh tubuh menurun tajam, sehingga melemahkan kontraksi
jantung dan menurunkan volume darah yang didistribusikan. Konsentrasi rendah
(<400 ppmv ambient) dapat menyebabkan pusing-pusing dan keletihan,
sedangkan konsentrasi tinggi (>2000 ppmv) dapat menyebabkan kematian.

4. Carbon Dioxide (CO2)


Karbon dioksida (CO2) adalah gas yang diemisikan dari sumber-sumber alamiah
danantropogenik. Karbon dioksida adalah gas yang secara alamiah berada di atmosfer Bumi,
berasal dari emisi gunung berapi dan aktivitas mikroba di tanah dan lautan.
Karbon dioksida akan larut di dalam air hujan dan membentuk asam karbonat, menyebabkan
air hujan bersifat lebih asam bila dibandingkan dengan air tawar.
5. Nitrogen Oxide (NOx)
Oksida nitrogen (NOx) adalah kontributor utama smog dan deposisi asam. Nitrogen
oksida bereaksi dengan senyawa organic volatile membentuk ozon dan oksidan lainnya
seperti peroksiasetilnitrat (PAN) di dalam smog fotokimia dan dengan air hujan
menghasilkan asam nitrat dan menyebabkan hujan asam. Smog fotokimia berbahaya bagi
kesehatan manusia karena menyebabkan kesulitan bernafas pada penderita asma, batuk-batuk
pada anak-anak dan orang tua, dan berbagai gangguan sistem pernafasan, serta menurunkan
visibilitas. Deposisi asam basah (hujan asam) dan kering (bila gas NOx membentuk partikel
aerosol nitrat dan terdeposisi ke permukaan Bumi) dapat membahayakan tanam-tanaman,
pertanian, ekosistem perairan dan hutan.
6. Sulfur Dioxide (SO2)
Gas sulfur dioksida (SO2) adalah kontributor utama hujan asam. Di dalam awan dan air
hujan SO2 mengalami konversi menjadi asam sulfur dan aerosol sulfat di atmosfer. Bila
aerosol asam tersebut memasuki sistem pernafasan dapat terjadi berbagai penyakit
pernafasan seperti gangguan pernafasan hingga kerusakan permanent pada paru-paru.
7. Timbal (Pb)
Timbal adalah logam yang sangat toksik dan menyebabkan berbagai dampak kesehatan
terutama pada anak-anak kecil. Timbal dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan
masalah pencernaan, sedangkan berbagai bahan kimia yang mengandung timbale dapat
menyebabkan kanker.

Solusi.

PENANGGULANGAN PEN-CEMARAN UDARA


Penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan
alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. Pemeriksaan
emisi dan perawatan kendaraan, pengawasan pembuangan cerobong pada industri-industri.
Penanggulangan Polusi udara dari ruangan
Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur, bahan
baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan. Pencegahan pen-
cemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan :
Ventilasi yang sesuai, yaitu :
• Usahakan polutan yang masuk ruangan seminimum mungkin.
• Tempatkan alat pengeluaran udara dekat dengan sumber pencemaran.
• Usahakan menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk ke-
ruangan sesuai dengan kebutuhan.
Filtrasi. Memasang filter dipergunakan dalam ruangan dimaksudkan untuk menangkap polutan
dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan.
Pembersihan udara secara elektronik. Udara yang mengandung polutan dilewatkan melalui
alat ini sehingga udara dalam ruangan sudah berkurang polutan-nya atau disebut bebas polutan.

KRISIS LINGKUNGAN

NAMA KELOMPOK :

1. I Ketut Didit Nugraha 0820025055

2. Luh Putu Estalita 0820025056


3. I Gusti Ayu Made Dewi P 0820025057

4. Ni Nyoman Metri Astuti 0820025058

5. Putu Ika Farmani 0820025059

6. Ni Putu Emi Yuliastari 0820025060

7. Kadek Ridoi Rahayu 0820025061

8. Kadek Diah P. Kepakisan 0820025062

9. I Dw Agung Basma Kusala W 0820025063

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2009

1. Krisis Ekonomi Petani


Seiring dengan berjalannya waktu, Negara Indonesia yang dikenal sebagai Negara
agraris karena sebagian besar pendudunya bermatapencaharian sebagai petani, kini
kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah bahkan bidang pertanian kini bukan lagi
mata pencaharian pokok dari masyarakat Indonesia. Nasib ekonomi para petani saat ini
sangat terpuruk. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : arah kebijakan
pemerintah yang tidak berpihak pada petani dimana sering kali pemerintah membuat
kebijakan untuk mengimpor beras disaat harga beras sedang mengalami kenaikan,
perusahaan pupuk yang lebih banyak melakukan kegiatan ekspor pupuknya ke luar negeri
karena dianggap lebih menguntungkan sedangkan pupuk di tingkat petani semakin
berkurang, banyaknya lahan – lahan subur yang dikonversi untuk bidang industri, dan
lain – lain. Solusi untuk dapat mengatasi masalah yang menyebabkan krisis ekonomi
petani, yaitu : membuat regulasi (undang – undang yang melindungi para petani dan
bidang pertanian) dimana regulasi yang dibuat harus jelas, adil dan berpihak pada petani,
mengontrol lahan – lahan subur agar tetap dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian,
dan melibatkan partisipasi dari pihak – pihak profesional (seperti Sarjana Pertanian) yang
terkait dengan bidang pertanian sendiri agar pertanian kembali mendapat ketertarikan di
masyarakat.

2. Krisis air permukaan

Air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia terutama untuk pemenuhan
kebutuhan pokok (untuk minum, mandi, memasak, dan lainnya) dan keperluan industry.
Krisis air permukaan terjadi pada air sungai, danau, waduk, dan laut. Penyebab krisis air
ini ialah kelemahan dalam pengelolaan air. Salah satu di antaranya pemanfaatan
permukaan air yang tidak efisien. Laju kebutuhan akan sumber daya air dan potensi
ketersediaannya yang sangat pincang dan semakin menekan kemampuan alam dalam
menyuplai air. Derajat kelangkaan air semakin meningkat, sementara pertumbuhan
penduduk yang pesat dan disertai dengan pola hidup yang menuntut penggunaan air yang
meningkat menambah tekanan terhadap kuantitas air. Selain itu secara khusus
pembuangan limbah-limbah ke tempat-tempat air permukaan menjadi salah satu
penyebab krisis air. Dampak yang ditimbulkan dari krisis air ialah menurunnya kualitas
serta jumlah air yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, menurunnya kualitas kesehatan
atas konsumsi air yang telah tercemar , dan menurunnya kualitas biota air permukaan
beserta lingkungan sekitarnya

Beberapa saran yang diajukan untuk penanggulangannya ialah dalam


pemanfaatan air harus diimbangi dengan upaya konservasi air yang memadai. Paradigma
pemberdayaan sumber daya air perlu diubah , dari eksploitasi berkepanjangan kepada
budaya konservasi dan pemanfaatan air yang efisien. Pemanfaatan air secara efisien harus
menjadi target dalam pengelolaan air. Pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan
khususnya dalam pembuangan limbah-limbah ke sumber-sumber air permukaan.

Rangkuman Krisis Lingkungan Akibat Pencemaran Tanah


Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair
atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut
minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk
ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Contoh, timbal sangat berbahaya pada
anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh
populasi. Dampak terhadap ekosistem. Dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai
makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai
makanan tersebut dimana bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing
yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat
menyebabkan penurunan hasil pertanian.

Penanganan

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada
dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan
on-site adalah pembersihan di lokasi terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan
bioremediasi. Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan
kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan
dari zat pencemar.

Nama : I Dw Agung Basma Kusala W


Nim : 0820025063

SUBAK
TANTANGAN-TANTANGAN YANG DIHADAPI SUBAK
Subak sedang menghadapi bermacam tantangan, lebih-lebih dalam menyongsong era
globalisasi yang jika tidak teratasi maka kelangsungan hidup subak bisa terancam.
Tantangantantangan tersebut antara lain dapat diuraikan di bawah ini:
Persaingan dalam Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian yang Semakin Tajam
Akan tiba saatnya bahwa Indonesia harus terbuka terhadap masuknya komoditi pertanian yang
diproduksi di luar negari. Sektor pertanian pun mau tidak mau harus terbuka untuk investasi
asing dan dituntut agar mampu bertahan pada kondisi persaingan bebas tanpa subsidi dari
pemerintah. Malahan sekarang saja pasar-pasar swalayan di beberapa kota besar termasuk
Denpasar sudah mulai kebanjiran produk-produk pertanian seperti buah-buahan, sayur-sayuran
dan daging yang dihasilkan petani negara asing yang dapat menggeser kedudukan produksi
pertanian yang dihasilkan oleh petani-petani negeri kita sendiri. Untuk mampu bersaing dalam
pasar ekonomi global maka mutu hasil –hasil pertanian kita perlu ditingkatkan. Ini berarti bahwa
mutu sumberdaya manusia termasuk para petani produsen perlu terus ditingkatkan agar menjadi
lebih profesional, efisien dan mampu menguasai serta memanfaatkan teknologi. Para petani
anggota subak selama ini masih bertindak sendiri-sendiri secara individual dalam berusahatani.
Padahal, mereka tergolong petani gurem dengan luas garapan yang sempit, permodalan yang
terbatas dan posisi tawar yang sangat lemah. Mereka belum memanfaatkan kelembagaan subak
sebagai wadah bersama untuk melakukan kegiatan usahatani yang lebih berorientasi agribisnis.
Dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam maka seharusnya para petani bersatu melalui
suatu wadah yang sudah ada yaitu subak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang lebih
berorientasi agribisnis bukan sekedar menggunakan wadah subak itu hanya untuk tujuan operasi
dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi.
Menciutnya Areal Persawahan Beririgasi Akibat Alih Fungsi Salah satu tantangan yang
dihadapi subak adalah menciutnya lahan sawah beririgasi sebagai akibat adanya alih fungsi
untuk kegiatan non-pertanian. Di Bali dalam beberapa tahun belakangan ini areal persawahan
yang telah beralih fungsi diduga mencapai 1000 ha per tahun. Penciutan areal sawah ini sungguh
pesat, lebih-lebih di lokasi yang dekat kota karena dipicu oleh harga yang cenderung
membubung tinggi. Nampaknya petani pemilik sawah di daerah sekeliling kota cenderung
tergoda oleh tawaran harga tanah yang tinggi. Sebab, jika dibandingkan dengan mengusahakan
sendiri untuk usahatani hasilnya sungguh tidak seimbang. Petani mungkin lebih memilih
mendepositokan uang hasil penjualan tanahnya itu di bank dan tinggal menerima bunganya tiap
bulan yang bisa jadi jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil usahataninya. Andaikata
penyusutan areal persawahan di Bali berlanjut terus separti sekarang ini dikhawatirkan organisasi
subak akan terancam punah. Jika subak hilang apakah kebudayaan Bali dapat bertahan karena
diyakini bahwa subak bersama lembaga sosial tradisional lainnya seperti banjar dan desa adat
merupakan tulang punggung kebudayaan Bali. Dalam kaitan ini para petani anggota subak perlu
dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pengalih fungsian
lahan sawah yang berada dalam wilayah subak mereka.
Ketersediaan Air Semakin Terbatas
Meningkatnya pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk serta pembangunan di segala
bidang terutama pemukiman dan industri pariwisata di Bali menuntut terpenuhinya kebutuhan air
yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Ini mengisyaratkan bahwa air
menjadi sumberdaya yang semakin langka. Persaingan yang menjurus ke arah konflik
kepentingan dalam pemanfaatannya antara berbagai sektor terutama sektor pertanian dan non
pertanian cenderung meningkat di masa-masa mendatang. Belum adanya hak penguasaan air
yang dimiliki oleh para pengguna merupakan salah satu sebab pemicu konflik pemanfaatan air.
Hal ini dapat dimengerti karena air yang selama ini dimanfaatkan lebih banyak untuk pertanian,
sekarang dan di masa depan harus dialokasikan juga ke sektor non pertanian. Mengingat air
menjadi semakin langka maka para petani anggota subak dituntut untuk mampu mengelola air
secara lebih efisien dan demikian pula para pemakai air lainnya agar mampu mengembangkan
budaya hemat air.
Kerusakan Lingkungan khususnya Pencemaran Sumberdaya Air
Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluhan dari masyarakat petani tentang adanya
pencemaran lingkungan khususnya sumberdaya air pada sungai dan saluran irigasi akibat adanya
limbah industri dan limbah dari hotel serta pemukiman. Kecenderungan menurunnya kualitas air
ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industri yang mengeluarkan limbah
beracun yang disalurkan melalui sungai maupun saluran irigasi. Dalam kaitan ini subak dituntut
untuk mampu berperan aktif dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Penyerahan Kembali Tanggung Jawab Pengelolaan Jaringan Irigasi kepada Petani
Karena semakin terbatasnya kemampuan pemerintah baik dari segi personil maupun pendanaan
untuk melakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi, maka pemerintah
telah mengambil seperangkat kebijaksanaan yang pada dasarnya memberikan tanggung jawab
pengelolaan jaringan irigasi kepada para petani yang tergabung dalam P3A/subak. Untuk
jaringan irigasi di atas 500 ha para petani diwajibkan membayar Iuran Pelayanan Irigasi (IPAIR).
Sedangkan untuk yang di bawah 500 ha diserahkan sepenuhnya kepada P3A/subak melalui
program Penyerahan Irigasi Kecil (PIK). Adanya tuntutan finansial akibat tanggung jawab
memikul beban OP jaringan irigasi maka subak seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan
anggotanya melalui berbagai kegiatan pengumpulan dana bersama. Misalnya, dengan
memanfaatkan lembaga subak sebagai wahana untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
berorientasi ekonomi/ agribisnis.
Berkurangnya Minat Pemuda untuk Bekerja Sebagai Petani
Ada kecenderungan bahwa berusahatani di sawah dianggap tidak lagi dapat mendukung
peningkatan kesejahteraan petani dibandingkan dengan bekerja di sektor industry dan jasa
khususnya yang berkaitan dengan pariwisata. Hal ini disebabkan karena sempitnya luas tanah
garapan dan rendahnya nilai tukar petani. Bekerja di luar sektor pertanian cenderung lebih
menarik dibandingkan jadi petani yang serba bergelimang lumpur dan penuh resiko akibat
kegagalan panen dan fluktuasi harga. Dapat dimengerti kalau pemuda-pemuda desa dari keluarga
petani cenderung meninggalkan orang tua mereka dan pergi ke kota mencoba mencari pekerjaan
yang lebih bergengsi. Dapat diduga pula bahwa dalam beberapa tahun mendatang yang tinggal di
daerah pedesaan bekerja sebagai petani adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut yang
tentunya kurang produktif lagi. Kecenderungan ini kiranya dapat berimplikasi negatif terhadap
kehidupan subak itu sendiri. Subak sebagai organisasi petani dituntut untuk mampu menciptakan
kondisi yang dapat menarik kaum muda untuk bekerja sebagai petani modern dan profesional.
KEMAMPUAN SUBAK MEMPERTAHANKAN EKSISTENSINYA DALAM
MENGHADAPI BERBAGAI TANTANGAN
Apakah subak memiliki kemampuan atau potensi dalam menghadapi berbagai tantangan yang
dihadapi seperti telah terurai di atas? Kalau dilihat dari kenyataan bahwa subak masih tetap eksis
sampai kini sejak awal berdirinya yaitu hampir seribu tahun yang lampau, maka kiranya perlu
optimis bahwa subak akan mampu menghadapi tantangantantangan tersebut. Namun perlu
digaris bawahi bahwa masih diperlukan upaya-upaya pemberdayaan terhadap lembaga irigasi
tradisional ini guna meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi berbagai tantangan yang
menghadang. Subak rupanya memang memiliki potensi yang cukup memadai untuk menjadi
lembaga yang tangguh (viable) seperti terlihat dari hal-hal berikut: Organisasi yang relatif
mantap seperti adanya struktur yang jelas, kepengurusan yang jelas wewenang dan tanggung
jawabnya, dilengkapi dengan awig-awig (peraturan-peraturan) dengan berbagai sanksinya. Setiap
anggota subak berhak melakukan pengawasan dan monitoring terhadap siapa saja termasuk
pengurusnya dalam menerapkan peraturan yang telah disepakati bersama. Semangat gotong-
royong yang tinggi dalam melakukan kegiatan-kegiatan persubakan terutama dalam
pemeliharaan jaringan fisik dan kegiatan ritual subak. Ritual subak merupakan unsur pemersatu
para anggotanya sehingga subak menjadi organisasi yang kuat dan tangguh. Subak memiliki
batas wilayah yang jelas dan berdasarkan prinsip hidrologis bukan atas dasar kesatuan
administratif. Subak mempunyai landasan filosofis Tri Hita Karana yang menekankan pada
keseimbangan dan keharmonisan yakni keseimbangan dam keharmonisan antara manusia dengan
sesamanya, dengan alam lingkungannya dan dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta
segala yang ada di alam semesta ini. Ini berarti bahwa subak memiliki potensi yang sangat besar
untuk berperanan sebagai pengelola sumberdaya alam guna mendukung pembangunan
berkelanjutan. Subak memiliki mekanisme penanganan konflik yang timbul di kalangan
anggotanya maupun antara anggota subak yang bersangkutan dengan anggota dari subak lain.
Awig-awig dapat diubah dan disesuaikan menurut keadaan yang selalu berubah berdasarkan
kesepakatan seluruh anggota subak. Penggalian dana sebagai salah satu fungsi penting dari subak
untuk membiayai perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi serta untuk keperluan
penyelenggaraan ritual. Banyak subak telah menunjukkan kemampuannya menggali dana dengan
berbagai cara seperti melalui usaha simpan pinjam, pengumpulan denda, pemungutan iuran dari
anggota, menyewakan areal persawahan subak untuk pengembalaan itik, Selain potensi ataupun
kekuatan-kekuatan yang terdapat pada subak, ternyata subak tidak luput dari kelemahan-
kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah:
– Belum dimilikinya status badan hukum oleh sebagian besar subak di Bali.
– Sempitnya luas garapan petani anggota subak dan banyak yang berstatus sebagai
penyakap.
– Kurangnya pemilikan modal dan terbatasnya akses perkreditan yang dimiliki petani /
subak.
– Lemahnya posisi tawar petani karena bertindak sendiri-sendiri secara individual dalam
pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil-hasil pertanian.
– Terbatasnya kemampuan petani di bidang teknologi budidaya non padi mulai dari proses
produksi sampai pengolahan pasca panen.
– Terbatasnya kemampuan managerial dan wirausaha di kalangan petani.
– Lemahnya penguasaan petani atas informasi pasar terutama yang berkaitan dengan
jumlah kebutuhan, harga, waktu, kualitas, sistem pembayaran, dll.
– Kurangnya pengetahuan dan penguasaan teknologi dalam bidang pelestarian sumberdaya
alam khususnya sumberdaya air.
– Masih terdapatnya beberapa DI (Daerah Irigasi) yang merupakan penggabungan fisik
sistem irigasi namun belum memiliki wadah koordinasi antar subak dalam lingkungan DI
yang bersangkutan.
Tantangan-tantangan yang dihadapi itu diharapkan dapat dijadikan sebagai peluang oleh subak
itu sendiri untuk memotivasi para anggotanya supaya mau dan mampu memanfaatkan subak
sebagai wadah bersama dalam melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan
para petani. Diharapkan pula agar suatu saat subak dapat berkembang sebagai lembaga yang
mampu memainkan berbagai peran sesuai dengan tuntutan tuntutan masa depan. Pemerintah juga
telah memberikan peluang kepada P3A untuk berkembang menjadi organisasi yang berorientasi
agribisnis seperti terbukti dari adanya seperangkat keputusan /peraturan yakni:
– INMENDAGRI No. 42 / 1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan PERMENDAGRI No. 12 /
1992 tentang Pembentukan dan Pembinaan P3A, yang memberikan kesempatan kepada
P3A / subak untuk melakukan usaha ekonomi; dan
– UU No. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang salah satu pasalnya
menyebutkan bahwa petani diberikan kewenangan menentukan jenis tanaman yang
diusahakan.

UPAYA-UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN


SUBAK
Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memperkokoh kelembagaan subak agar tetap eksis
dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan adalah antara lain sebagai berikut.
– Mendorong dan memfasilitasi pembentukan wadah koordinasi antar subak dalam
lingkungan suatu DI (subak-gede) 1) , untuk tujuan-tujuan antara lain: (a) mencegah atau
mengurangi timbulnya konflik dalam pemanfaatan air antar subak pada bendung yang
sama; (b) mengkoordinasikan pengalokasian air secara lebih adil, pengaturan pola tanam
dan jadwal tanam antar subak yang terkait; (c) mengkoordinasikan pembayaran IPAI dan
menerima aset jaringan irigasi dari pemerintah jika DI yang bersangkutan akan
diserahkan tanggung jawab pengelolaannya kepada para petani/ subak.
– Mendorong dan memfasilitasi pembentukan wadah koordinasi antar sistem irigasi/DI
pada aliran sungai (subak-agung) guna mengkoordinasikan pengalokasian air antar DI,
dan pengaturan pola tanam serta jadwal tanam dari subak-subak pada aliran sungai yang
bersangkutan.
– Mengadakan program pemberian status badan hukum bagi subak/subak-
gede/subakagung supaya dapat lebih berkembang menjadi lembaga yang berorientasi
ekonomi/ agribisnis.