Anda di halaman 1dari 5

Rangkuman Mata Kuliah

Auditing II Kelas C
Bab 16 Menyelesaikan Pengujian dalam Siklus Penjualan
dan Penagihan: Piutang Usaha
Pertemuan 3
untuk
Drs. Wartono, Msi., Akt., CPA, CA

Oleh
Dany Adi Saputra

F0312038

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Sebelas Maret
Semester Ganjil 2014/2015

Metodologi untuk Merancang Pengujian atas Rincian Saldo


Dalam merancang pengujian atas rincian saldo untuk piutang usaha, auditor harus memenuhi
masing-masing tujuan audit yang berkaitan dengan saldo piutang. Tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo piutang usaha :
1. Detail tie-in. Piutang usaha dalam neraca saldo sama dengan jumlah file induk
terkait,dan totalnya telah ditambahkan dengan benar serta sama dengan buku besar
umum.
2. Keberadaan. Piutang usaha dicatat ada.
3. Kelengkapan. Piutang usaha yang ada telah dicantumkan.
4. Keakuratan. Piutang usaha sudah akurat.
5. Klasifikasi. Piutang usaha sudah diklasifikasikan dengan benar.
6. Pisah Batas. Pisah batas piutang sudah benar.
7. Nilai Realisasi. Piutang usaha dinyatakan pada nilai realisasi.
8. Hak. Klien memiliki hak atas piutang usaha.
Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang Usaha (Tahap I)
Auditor mempelajari industri dan lingkungan eksternal klien serta mengevaluasi tujuan
manajemen dan proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang signifikan yang
dapat memengaruhi laporan keuangan, termasuk piutang usaha. Untuk mendapatkan
pemahaman tersebut, auditor juga melaksanakan prosedur analitis pendahuluan yang dapat
menunjukkan kenaikan risiko salah saji piutang usaha.
Menetapkan Salah Saji yang Dapat Ditoleransi dan Menilai Risiko Inheren (Tahap I)
Dalam melakukan tugasnya, auditor pertama-tama akan memutuskan pertimbangan
pendahuluan mengenai materialitas laporan keuangan secara keseluruhan, dan kemudian
mengalokasikan jumlah pertimbangan pendahuluan ke setiap akun neraca yang signifikan,
termasuk piutang usaha. Alokasi ini disebut sebagai penetapan salah saji yang dapat
ditoleransi.
Menilai Risiko Pengendalian untuk Siklus Penjualan dan Penagihan (Tahap I)
Aspek utama yang harus diperhatikan oleh auditor dalam pengendalian internal :
1. Pengendalian yang mencegah atau mendeteksi penggelapan.
2. Pengendalian terhadap pisah batas.
3. Pengendalian yang terkait dengan penyisihan piutang tak tertagih.
Merancang dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas
Transaksi (Tahap II)
Hasil pengujian pengendalian akan menentukan apakah penilaian risiko pengendalian untuk
penjualan dan penerimaan kas harus direvisi. Sedangkan, auditor menggunakan hasil
pengujian substantif atas transaksi untuk menentukan sejauh mana risiko deteksi yang

direncanakan akan dipenuhi bagi setiap tujuan audit yang berkaitan dengan saldo piutang
usaha.
Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis (Tahap III)
Sebagian prosedur analitis yang dilaksanakan selama tahap pengujian yang terinci dilakukan
setelah tanggal neraca tetapi sebelum pengujian atas rincian saldo. Auditor melaksanakan
prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penagihan secara keseluruhan, bukan hanya pada
piutang usaha. Hal ini memang harus demikian karena hubungan yang erat antara akun-akun
laporan laba-rugi dan neraca. Jika auditor mengidentifikasi salah saji yang mungkin terjadi
dalam retur dan pengurangan penjualan dengan menggunakan prosedur analitis, piutang
usaha mungkin akan mengoffset salah saji itu.

Merancang Pengujian atas Rincian Saldo


Sebagian besar pengujian piutang usaha dan penyisihan piutang tak tertagih didasarkan pada
aged trial balanced. Aged trial balance menyajikan daftar saldo-saldo dalam file induk
piutang usaha pada tanggal necara, termasuk saldo pelanggan individual yang beredar dan
rincian setiap saldo pada waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.
o Piutang usaha ditambahkan dengan benar dan sama dengan file induk serta buku besar
umum.
o Piutang usaha yang dicatat memang ada.
o Piutang usaha yang ada telah dicantumkan.
o Piutang usaha sudah akurat.
o Piutang usaha diklasifikasikan dengan benar.
o Pisah batas piutang sudah benar.
o Piutang usaha dinyatakan pada nilai realisasi.
o Klien memiliki hak atas piutang usaha.
o Penyajian dan pengungkapan piutang usaha.

Konfirmasi Piutang Usaha


Konfirmasi piutang usaha adalah konsep yang terus berulang dalam pembahasan kita
mengenai perancangan pengujian atas rincian saldo piutang usaha.Tujuan utama konfirmasi
piutang usaha adalah untuk memenuhi tujuan eksistensi, keakuratan dan pisah batas.
Standar auditing mengharuskan konfirmasi piutang usaha dalam situasi yang normal. SAS 67
(AU 330) menyediakan tiga pengeculian terhadap keharusan menggunakan konfirmasi:
1. Piutang usaha tidak material.
2. Auditor mempertimbangkan konfirmasi bukti yang tidak efektif karena tingkat
responnya kemungkinan tidak akan memadai atau tidak dapat diandalkan.
3. Gabungan tingkat risiko inheren dan risiko pengendalian rendah dan bukti substantif
lainnya dapat diakumulasi untuk menyediakan bukti yang mencukupi.

Jenis Konfirmasi
1. Konfirmasi positif. Komunikasi dengan debitor yang meminta pihak yang menerima
untuk mengkonfirmasi secara langsung apakah saldo yang dinyatakan padapermintaan
konfirmasi itu benar atau salah.
2. Formulir konfirmasi yang kosong. Jenis konfirmasi positif yang tidak menyatakan
jumlah pada konfirmasi tetapi meminta penerimanya untuk mengisi saldo atau
melengkapi informasi lainnya.
3. Konfirmasi faktur. Jenis konfirmasi positif lainnya di mana setiap faktur akan
dikonfirmasi, dan bukan saldo piutang usaha pelanggan secara keseluruhan.
4. Konfirmasi negatif. Ditujukan kepada debitor tetapi hanya akan meminta respons jika
debitor tidak setuju dengan jumlah yang dinyatakan.
Penetapan Waktu
Bukti yang paling dapat diandalkan dari konfirmasi baru akan diperoleh jika konfirmasi itu
dikirim sedekat mungkin dengan tanggal neraca. Jika keputusan untuk megkonfirmasi
piutang usaha dibuat sebelum akhir tahun, biasanya auditor akan membuat sebuah skedul di
muka yang merekonsiliasi saldo piutang usaha pada tanggal konfirmasi dengan piutang usaha
pada tanggal neraca.
Keputusan Sampling
Faktor utama yang mempengaruhi ukuran sampel untuk mengkonfirmasi piutang usaha
berada dalam beberapa kategori dan mencakup hal-hal berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Salah saji yang dapat ditoleransi


Risiko inheren
Risiko pengendalian
Risiko deteksi yang dicapai dari pengujian substantif lainnya
Jenis konfirmasi

Menyelenggarakan Pengendalian
Setelah item yang akan dikonfirmasi dipilih, auditor harus menyelenggarakan pengendalian
atas konfirmasi itu hingga dikembalikan dari pelanggan. Jika klien membantu dengan
menyiapkan konfirmasi, memasukkannya ke dalam amplop, atau menempelkan perangko di
amplop, auditor harus mengawasinya dengan ketat.
Menindaklanjuti Nonrespons
Konfirmasi yang dikirim tetapi tidak dikembalikan oleh pelanggan tidak boleh dianggap
sebagai bukti audit yang signifikan. Jika konfirmasi positif digunakan, SAS 67 mensyaratkan
prosedur tindak lanjut untuk konfirmasi yang tidak dikembalikan oleh pelanggan. Jika
sebanyak 3 konfirmasi yang dikirim ke pelanggan tidak ada satupun yang dikembalikan,
maka perlu dilakukan tindak lanjut dengan prosedur alternatif. Tujuan dari prosedur alternatif

adalah untuk menentukan dengan cara selain konfirmasi apakah piutang yang tidak
dikonfirmasi itu memang ada dan telah dinyatakan dengan benar pada tanggal konfirmasi.
Penerimaan Kas Selanjutnya. Bukti penerimaan kas selanjutnya pada taggal konfirmasi
meliputi pemeriksaan remittance advice, ayat jurnal dalam catatan penerimaan kas, atau
mungkin kredit selanjutnya dalam file induk piutang usaha.
Salian Faktur Penjualan. Hal ini bermanfaat dalam memverifikasi penerbitan faktur penjualan
aktual dan tanggal penagihan aktual.
Dokumen Pengiriman. Hal ini penting dalam menentukan apakah pengiriman telah benarbenar dilakukan dan sebagai pengujian pisah batas.
Korespondensi dengan klien.
Analisis Perbedaan
Jika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor harus menentukan
penyebab setiap perbedaan yang dilaporkan. Dalam banyak kasus, perbedaan itu disebabkan
oleh perbedaan waktu antara catatan klien dan pelanggan.
o
o
o
o

Pembayaran telah dilakukan.


Barang belum diterima
Barang telah dikembalikan
Kesalahan klerikal dan jumlah yang diperdepatkan

Menarik Kesimpulan
Jika semua perbedaan telah diselesaikan, termasuk yang ditemukan dalam melakukan
prosedur alternatif, auditor harus mengevaluasi ulang pengendalian internal. Setiap salah saji
klien harus dianalisis untuk menentukan apakah hal tersebut konsisten atau tidak konsisten
dengan tingkat risiko pengendalian yang dinilai pada awal audit. Jika sejumlah besar salah
saji yang terjadi itu tidak konsisten dengan penilaian risiko pengendalian, auditor harus
merevisi penilaian itu dan mempertimbangkan pengaruh revisi tersebut kepada audit. Auditor
perusahaan publik juga harus mempertimbangkan implikasinya bagi audit pengendalian
internal terhadap pelaporan keuangan.