Anda di halaman 1dari 4

PERKEMBANGAN SISTEM PERKEMIHAN DARI BAYI SAMPAI LANSIA

A. Prenatal
Janin muda mengandung sekitar 90% air. Sistem urinasi mulai pada bulan pertama.
Produksi urin pada janin dimulai antara masa gestasi 9 dan 11 minggu kehidupan intrauterin.
Peranan ginjal janin dalam menjaga homeostasis tubuh sampai saat ini masih dipertanyakan,
meskipun pada percobaan binatang ditemukan adanya kemampuan ginjal fetus untuk
memekatkan dan mengencerkan urin, mengabsorbsi fosfat dan mengadakan transportasi zat
organik.
Fungsi eksresi janin dilakukan melalui plasenta. Hal ini terbukti dengan ditemukannya
hasil pemeriksaan komposisi cairan tubuh fetus yang normal, termasuk angka plasma kreatinin
dan ureum pada neonatus saat lahir, meskipun terdapat agenesis kedua ginjal.
B. Neonatus
Bayi baru lahir mengandung air sekitar 70%. Sistem urinari belum berkembang dengan
sempurna sampai akhir tahun pertama. Semua satuan ginjal adalah imatur saat lahir, sehingga
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit terjadi dengan mudah.
Sirkulasi darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus pada saat lahir masih rendah, tetapi dalam
beberapa hari makin meningkat. Pada umur satu tahun sudah sama dengan orang dewasa.
Peningkatan LFG dan SDGE pada berbagai usia disebabkan karena penurunan resistensi
arteriol ginjal dan peningkatan porsi curah jantung yang dialirkan ke ginjal. Meskipun LFG pada
neonatus masih rendah, akan tetapi dibandingkan dengan fungsi tubulus perkembangannya
masih lebih matang. Perbedaan ini disebut ketidakseimbangan glomerulus tubular. Keadaan ini
menyebabkan merendahnya fraksi reabsorbsi terhadap berbagai zat yang difiltrasi glomerulus,
sehingga ekskresi beberapa zat seperti glukosa, fosfat, dan asam amino dalam urin meningkat
dibandingkan dengan pada anak besar atau orang dewasa.
Demikian pula ambang serap bikarbonat masih rendah sampai umur 6 bulan, yaitu sebesar
19-21 mg/l. oleh karena itu pada neonatus dapat ditemukan proteinuria dan glukosuria ringan
yang kemudian menghilang dalam beberapa hari. Bila kadar protein dalam urin melebihi 30
mg/dl perlu pemeriksaan lebih lanjut. Leukosituria normal tidak ditemukan, tetapi sel epitel
banyak ditemukan pada neonatus, yang sering diinterpretasi salah sebagai leukosit. Demikian
pula sel darah merah pada keadaan normal tidak ditemukan, tetapi silinderuria biasanya dapat

dijumpai, yang kemudian menghilang dalam minggu pertama. Pemeriksaan bakteriologik urin
neonatus normal steril.
Karena daya konsentrasi ginjal yang masih rendah maka berat jenis urin pada neonatus pun
masih rendah dengan osmolalitas urin berkisar antara 60-600 mOsm/l. Derajat keasaman urin
berkisar antara pH 6,0-7,0, tetapi dalam beberapa hari ginjal neonatus dengan cepat mampu
menurunkan pH urin menjadi 5,0 atau kurang.
Pemeriksaan ureum darah pada neonatus yang baru dilahirkan berkisar antara 10-40 mg/dl
meskipun terdapat agenesis ginjal bilateral. Peningkatan kadar ureum darah sampai 60 mg/dl
dapat terjadi pada neonatus dengan fungsi ginjal yang normal apabila diberi minum formula susu
buatan dengan kadar protein tinggi. Akan tetapi bila ditemukan peningkatan kadar ureum darah
perlu dicurigai adanya kelainan ginjal antara lain ginjal polikistik dan hidronefrosis kongenital.
Kadar kreatinin darah pada saat lahir hampir sama dengan orang dewasa yaitu 0,5-1,1 mg/dl,
tetapi kemudian menurun dalam 2-4 minggu dan pada umur 1 bulan menjadi 0,1-0,2 mg/dl, yang
kemudian meningkat dengan kenaikan usia seperti dapat dilihat pada Tabel 2.
Sembilan puluh sembilan persen bayi kencing dalam waktu 48 jam pasca lahir. Oleh karena
itu bila bayi tidak kencing dalam waktu 48 jam harus dicurigai adanya gagal ginjal dan perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, antara lain plasma kreatinin dan ureum. Penyebab terjadinya
gagal ginjal pada neonatus dapat terjadi karena faktor pra-, pasca-, dan intrarenal seterti terlihat
pada Tabel 3.
Pada awalnya frekuensi miksi pada bayi sering sekali, tetapi makin lama makin berkurang
(lihat Tabel 4). Sebaliknya jumlah urin pada neonatus masih sedikit, kemudian meningkat pada
usia yang makin bertambah seperti terlihat pada Tabel 5.
Pada neonatus satu atau dua ginjal sering dapat teraba pada palpasi. Bila keduanya teraba
biasanya normal, tetapi bila hanya satu yang teraba perlu dicurigai apakah yang satu itu lebih
besar dari yang lain atau terdorong oleh massa intra- atau ekstrarenal. Pembesaran ginjal pada
neonatus dapat disebabkan oleh hidronefrosis, tetapi lebih sering disebabkan oleh embrioma atau
malformasi kistik. Ketiga hal itu dapat dibedakan dengan pemeriksaan ultrasonografi, foto polos
abdomen atau pielografi intravena (PIV). Pada pelaksanaan pemeriksaan PIV, karena daya
konsentrasi tubulus yang masih kurang pada ginjal neonatus, jumlah media kontras yang dipakai
harus lebih banyak (10-20 ml diodrast) untuk mendapatkan gambar kalises yang baik.

C. Masa Kanak-Kanak/Pubertas dan Masa Remaja


Perubahan-perubahan komposisi urin pada anak yang sehat (setelah usia 2 tahun) sangat
sedikit karena anak sudah matur, sehingga fungsi ginjal dan urinalisis dapat digunakan sebagai
monitor kesejahteraan. Pada masa remaja merupakan masa optimalnya fungsi dari organ-organ
sistem perkemihan, pada masa ini merpakan masa peralihan/ transisi fungsi dari masa kanakkanak yang masih belum optimal.
D. Masa Dewasa
Orang dewasa mengandung air sekitar 58%. Frekuensi filtrasi glomerulus menurun sekitar
47% dari usia 20 sampai usia 90 tahun. hari setelah usia 20 tahun terjadi penurunan aliran darah
ginjal kira-kira 10% per dekade, Penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada saat seseorang mulai
memasuki usia 30 tahun dan 60 tahun, fungsi ginjal menurun sampai 50% yang diakibatkan
karena berkurangnya jumlah nefron dan tidak adanya kemampuan untuk regenerasi. Beberapa
hal yang berkaitan dengan faal ginjal pada lanjut usia antara lain : (Cox, Jr dkk, 1985)
E. Lansia
Massa ginjal menurun bersamaan meningkatnya usia; aliran ginjal menurun 53%
(beberapa peneliti yakin ini adalah perubahan adaptif, sebagai kompensasi penurunan curah
jantung).
Sedangkan pada pengkajian fisik normal pada lansia didapatkan temuan-temuan perubahan pada
sistem perkemihan sebagai berikut:
1. Pada lansia ginjal berukuran lebih kecil dibanding dengan ginjal pada usia muda. Pada usia
90 tahun beratnya berkurang 20-30% atau 110-150 gram bersamaan dengan pengurangan ukuran
ginjal.
2. Terdapat beberapa perubahan pada pembuluh darah ginjal pada lansia. Pada korteks ginjal,
arteri aferen dan eferen cenderung untuk atrofi yang berarti terjadi pengurangan jumlah darah
yang terdapat di glomerulus.
3. Ginjal menerima sekitar 20% dari aliran darah jantung atau sekitar 1 liter per menit darah
dari 40% hematokrit, plasma ginjal mengalir sekitar 600 ml/menit. Normalnya 20% dari plasma
disaring di glomerulus dengan GFR 120 ml/menit atau sekitar 170 liter per usia 80 tahun hanya
menjadi sekitar 300 ml/menit. Pengurangan dari aliran darah ginjal terutama berasal dari korteks
4.

Pada lansia banyak fungsi hemostasis dari ginjal yang berkurang, sehingga merupakan

predisposisi untuk terjadinya gagal ginjal. Ginjal yang sudah tua tetap memiliki kemampuan

untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan fungsi hemostasis, kecuali bila timbul beberapa
penyakit yang dapat merusak ginjal
5.

Salah satu indeks fungsi ginjal yang paling penting adalah laju filtrasi glomerulus (GFR).

Pada usia lanjut terjadi penurunan GFR. Hal ini dapat disebabkan karena total aliran darah ginjal
dan pengurangan dari ukuran dan jumlah glomerulus.
6. Aliran plasma ginjal yang efektif (terutama tes eksresi PAH) menurun sejalan dari usia 40 ke
90-an. Umumnya filtrasi tetap ada pada usia muda, kemudian berkurang tetapi tidak terlalu
banyak pada usia 70, 80 dan 90 tahunan.
7.

Perubahan fungsi ginjal berhubungan dengan usia, dimana pada peningkatan usia maka

pengaturan metabolisme air menjadi terganggu yang sering terjadi pada lanjut usia. Jumlah total
air dalam tubuh menurun sejalan dengan peningkatan usia. Penurunan ini lebih berarti pada
perempuan daripada laki-laki, prinsipnya adalah penurunan indeks massa tubuh karena terjadi
peningkatan jumlah lemak dalam tubuh. Pada lanjut usia, untuk mensekresi sejumlah urin atau
kehilangan air dapat meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler dan menyebabkan penurunan
volume yang mengakibatkan timbulnya rasa haus subjektif. Pusat-pusat yang mengatur perasaan
haus timbul terletak pada daerah yang menghasilkan ADH di hypothalamus.