Anda di halaman 1dari 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Table 1. Hasil Penghitungan Leukosit
Hewan Mencit
Jantan
Betina

1
10.175
10.600

2
9.752,5
8.050

3
9.963,75
9.025

Rata-rata
9.963,75
9.225

Tabel 2. Hasil Perhitungan Eritrosit


Hewan Mencit
Jantan
Betina

1
5.585.000
5.415.000

2
3.010.000
4.880.000

3
5.575.000
5.321.000

Rata-rata
4.723.333
5.205.000

B. Pembahasan
Pada saat hendak melakukan penghitungan jumlah leukosit, darah terlebih
dahulu diberi larutan Turk yang berfungsi untuk mengencerkan darah dan melisiskan
sel darah selain leukosit, sehingga memudahkan perhitungan.. Leukosit dalam darah
memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan eritrosit dengan rasio 1 : 700
(Frandson, 1992). Jumlah leukosit bergantung pada jenis hewan. Dalam darah
mamalia yang normal, jumlah leukosit yang larut sekitar 4000-11000 sel/mm3. Jika
jumlah leukosit kurang dari 4000 sel/mm3 maka kondisi ini disebut Leucopenia,
sedangkan apabila jumlah leukosit melebihi 11000 sel/mm3 keadaan ini disebut
Leukositosis. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan humoral
organisme terhadap benda-benda asing. Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika
kondisi tubuh sedang sakit, apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukosit lebih sedikit
dibandingkan dengan eritrosit (Pearce, 1989).
Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena
leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Penurunan jumlah leukosit dapat
terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus.
Menurut Soetrisno (1987), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress,
kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies dan kondisi pakan, selain
itu juga bahan organik yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, dan

lainnya. Umur, kondisi lingkungan dan musim juga sangat mempengaruhi jumlah
eritrosit dan leukosit (Pearce, 1989)
Pada praktikum ini, digunakan 3 ekor sampel mencit jantan. Jumlah leukosit
dalam darah pada ketiga sampel tersebut secara berturut-turut adalah 10.175 sel/mm3,
9.752, 5 sel/mm3 dan 9.963,75 sel/mm3. Nilai rata-rata ketiga sampel tersebut adalah
9.963,75 sel/mm3. Apabila ketiga sampel dibandingkan dengan toeri, maka dapat
dinyatakan bahwa ketiga sampel mencit jantan memiliki jumlah eritrosit normal.
Jumlah eritrosit berada dalam rentang normal, yaitu 4.000-10.000 sel/mm3.
Pada praktikum kali ini, juga digunakan 3 ekor sampel mencit betina.
Ketiganya memiliki jumlah leukosit dalam darah secara berurutan yaitu 10.600
sel/mm3, 8.050 sel/mm3 dan 9.025 sel/mm3. Dari ketiga sampel tersebut apabila
dibandingkan dengan teori maka ketiga ekor sampel mencit betina dinyatakan
memiliki jumlah leukosit yang normal dalam darahnya karena jumlahnya berkisar
antara 4.000-11.000 sel/mm3. Sementara itu, rata-rata ketiga sampel mencit betina
adalah 9.225 sel/mm3 yang mengindikasikan bahwa dari rata-rata yang didapat, ketiga
ekor sampel mencit betina memiliki leukosit yang normal.
Berdasarkan pengamatan terhadap darah mencit jantan sebanyak tiga kali,
diperoleh data eritrosit sebesar 5.585.000 sel/mm3 oleh pengamat pertama, 3.010.000
sel/mm3 oleh pengamat kedua, dan 5.575.000 sel/mm3 oleh pengamat ketiga. Rata-rata
dari ketiga data tersebut sebesar 4.723.333 sel/mm3 eritrosit.
Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi
harian, dan keadaan stress (Schmidt, 1990). Jumlah eritrosit pada mencit yang banyak
ini meunjukkan bahwa mencit termasuk salah satu hewan yang aktif bergerak. Hewan
yang aktif bergerak akan membutuhkan lebih banyak oksigen. Eritrosit berfungsi
sebagai transport oksigen dalam darah. Jadi, semakin banyak jumlah oksigen yang
dibutuhkan maka semakin banyak jumlah eritrosit dalam darah.
Pada praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data jumlah eritrosit pada
mencit betina lebih besar dari eritrosit pada mencit jantan. Padahal seharusnya jumlah
eritrosit pada jantan lebih besar dibandingkan betina. Kisaran normal eritrosit jantan
4.500.000-5.500.000 sel/mm3 dan untuk betina 4.000.000-6.000.000 sel/mm3 (Guyton,
1997). Hal tersebut disebabkan pada saat peniupan pertama kali tetesan eritrosit jantan

dari spuit terlalu banyak, sehingga volume eritrosit yang ditiupkan pada
hemositometer terlalu sedikit.
Kisaran normal eritrosit betina 4.000.000-6.000.000 sel/mm3 (Guyton, 1997).
Berdasarkan kisaran normal eritrosit pada mencit, jumlah eritrosit mencit amatan
termasuk dalam kisaran normal. Adapun kisaran normal eritrosit pada tikus putih
(mencit) yaitu 4-6 juta/mm3 (Triana, 2006). Menurut Campbell (2004), setiap mm 3
darah manusia mengandung 5 sampai 6 juta sel darah merah, dan terapat sekitar 25
triliun jenis sel darah merah dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh.
Pada mencit betina didapatkan hasil penghitungan jumlah eritrosit sebesar
5.415.000 sel/mm3, 4.880.000 sel/mm3, dan 5.321.000 sel/mm3. Rata-rata eritrosit
mencit betina yaitu 5.205.000 sel/mm3. Pada umumnya jumlah eritrosit jantan lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah eritrosit betina. Namun, pada hasil praktikum ini
tidak sesuai dengan teori. Data menunjukkan bahwa eritrosit betina lebih banyak
daripada eritrosit jantan. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa hal diantaranya
kesalahan perhitungan, kesalahan dalam menghisap larutan dalam mikrometer yang
tidak tepat pada skala 11, terdapat gelembung udara saat meniupkan larutan dari
mikrometer ke atas hemositometer atau hewan tersebut dalam keadaan kurang
sehat. Menurut Pearce (1989) Darah sangat penting bagi organisme, jika kekurangan
atau kelebihan sel darah mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu
organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit. Sebagaimana menurut Guyton
(1997) kondisi fisik seseorang dapat mempengaruhi volume sel darah merahnya.

Campbell NA, Reece JB, and Mitchell LG. 2004. Biologi. Alih bahasa: Wasmen Manalu.
Erlangga: Jakarta.
Guyton dan Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran.EGC Penerbit Buku kedokteran: Jakarta
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press. Yogyakarta
Pearce, Evelyn C. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT.Gramedia.
Schmidt, W. and Nelson, B. 1990. Animal Physiology. New Yorkk: Harper Collins Publisher.
Triana, E. 2006. Pengaruh Pemberian Beras Yang Difermentasi Oleh Monascus Purpureus
Jmba Terhadap Darah Tikus Putih (Rattus sp.) Hiperkolesterolemia. Jurnal
Biodiversitas.
[Online].
Vol
7
No.
4,
5
halaman.
Tersedia:
http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0704/D070404.pdf