Anda di halaman 1dari 5

1.

Kaida-kaida ekosistem
1. Suatu Ekosistem diatur dan dikendalikan secara ilmiah
2. Suatu Ekosistem mempunyai daya kemampuan yang optimal dalam keadaan
berimbang. Di atas kemampuan tersebut ekosistem tidak lagi terkendali, dengan
akibat menimbulkan perubahan perubahan lingkungan atau krisis lingkungan dan
tidak lagi dalam keadaan lestari.
3. Terdapat interaksi antara seluruh unsur-unsur lingkungan yang saling
mempengaruhi dan bersifat timbal balik.
4. Interaksi terjadi antara : Komponen biotis dengan komponen abiotis, Sesama
komponen biotis, Sesama komponen-komponen abiotis.
5. Interaksi itu senantiasa terkendali menurut suatu dinamika yang stabil, untuk
suatu optimum mengikuti setiap perubahan yang dapat ditimbulkan terhadapnya
dalam ukuran batas-batas kesanggupannya.
6. Setiap ekosistem memiliki sifat yang khas disamping yang umum dan secara
bersama-sama dengan ekosistem lainnya mempunyai peranan terhadap ekosistem
keseluruhannya .
7. Setiap ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat,
waktu dan masing-masing membentuk basis-basis perbedaan di antara ekosistem
itu sendiri sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas.
8. Antara satu dengan yang lainnya, masing-masing ekosistem juga melibatkan diri
untuk memilih interaksinya pula secara tertentu.
2. Komponen ekosistem
Ekosistem adalah sistem ekologi yang didalamnya terdapat komponen abiotik (zat tak
hidup) dan komponen biotik (unsur hayati/mahluk hidup/biota/organisme), serta diantara
kedua unsur tersebut terjadi hubungan timbal balik atau berinteraksi dengan rumit dan
kompleks. (Yayat Dhahiyat,2013:9)
jadi kita tahu bahwa ada komponen biotik (hidup) dan juga komponen abiotik(tidak
hidup) yang terlibat dalam suatu ekosistem ini, kedua komponen ini tentunya saling
mempengaruhi, contohnya saja hubungan hewan dengan air. Interaksi antara makhluk
hidup dan tidak hidup ini akan membentuk suatu kesatuan dan keteraturan. Setiap
komponen yang terlibat memiliki fungsinya masing-masing, dan selama tidak ada fungsi
yang terngganggu maka keseimbangan dari ekosistem ini akan terus terjaga.
Berdasarkan fungsi dan aspek penyusunannya, ekosistem dapat di bedakan menjadi
dua komponen, yaitu sebagai berikut:
1. Komponen Abiotik, yaitu komponen yang terdiri atas bahan-bahan tidak hidup
(nonhayati), yang meliputi komponen fisik dan kimia, seperti tanah, air, matahari, udara,

dan energi. Ada 2 pembagian komponen biotik dalam suatu ekosistem, yaitu Organisme
Autotrof dan Organisme Heterotrof.
a. Organisme Autotrof adalah semua organisme yang mampu membuat atau mensintesis
makanannya sendiri, berupa bahan organik dan bahan-bahanan organik dengan
bantuan energi matahari melalui proses fotosintesis. Semuaorganisme yang
mengandung klorofil terutama tumbuhan hijau daun disebut organisme autotrof. Ada
dua pembagian atas Organisme autotrof ini yaitu :
Fotoautotrof yang merupakan organisme pemanfaat energi cahaya untuk

mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik.


Kemoautotrof yang merupakan organisme pemanfaat energi dari reaksi
kimia untuk membuat bahan makanan sendiri dari bahan organik.
Contohnya adalah bakteri besi, dalam menjalankan proses ini mereka
membutuhkan oksigen.

b. Organisme Heterotrof adalah semua organisme yang tidak dapat membuat


makanannya sendiri, akan tetapi memanfaatkan bahan-bahan organik dari organisme
lainnya sebagai bahan makanannya. Organisme ini terdiri atas 3 tingkatan yaitu :
Konsumen yang secara langsung memakan organisme lain
Pengurai yang mendapatkan makanan dari penguraian bahan organik dari

bangkai
Detritivor yang merupakanpemakanpartikelorganikataujaringan yang telah
membusuk, contohnya adalah lintah dan cacing

3. Karakteristik ekosistem menggenang (lentik), mengalir (lontik), dan lahan basah


a) Ekosistem menggenang (lentik).
Perairan menggenang disebut juga perairan tenang yaitu perairan dimana
aliran air lambat atau bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam periode
waktu yang lama. Arus tidak menjadi faktor pembatas utama bagi biota yang
hidup didalamnya. Contohnya danau. Ciri Perairan Menggenang (lentik) yaitu :
Air menetap atau tertahan pada suatu tempat hingga beberapa

hari, bulan, bahkan tahun.


Sumber dan pengikatan energi didominasi pada airnya saja.
Banyak oragnisme hidup yang tersuspensi (larut/campur) dalam air
Contoh perairan lentik antara lain: Waduk, danau, kolam, telaga, situ, belik,

dan lain-lain.
b) Ekosistem mengalir (lontik).
Perairan mengalir merupakan perairan terbuka yang dicirikan dengan adanya
arus, perbedaan gradien lingkungan dan interaksi antara komponen biotik dan

abiotik yang ada di dalamnya. Perairan mengalir memiliki ciri-ciri, yaitu


mengalir searah, debit air yang fluktuasi, bentuk yang memanjang, dasar dan
tepian yang tidak stabil, dan kedalamannya relatif dangkal. Pada ekosistem ini,
dasar perairan merupakan hal yang penting sekaligus menentukan sifat komunitas
serta kerapatan populasi dari komunitas. Dasar perairan yang keras terutama yang
terdiri dari batu merupakan habitat yang baik bagi organisme untuk menempel
atau melekat (Odum, 1998). Air mengalir (habitat lotik), contohnya mata air,
aliran air atau sungai selokan dan sebagainya
c) Ekosistem Lahan basah.
Ekosistem Lahan basah merupakan suatu daerah yang di genangi air
sehingga

kondisinya

menyokong

kehidupan

berbagai

jenis

organis

meakuatik. Wilayah rawa yang luas terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi,


dan Papua (Irian Jaya). Lahan basah dibedakan menjadi : rawa (marsh), rawa
lumpur (swamp), tanah gambut (bog).
4. Klasifikais biota air (berdasarkan niche, modus hidup, mintakan/zone)

Berdasarkan niche
Niche atau relung adalah profesi organisme atau pekerjaan atau posisi
organisme dalam suatu habitat, mimsalnya, niche lele adalah sebagai karnivora
atau predator, demikian juga pengasius/cat fish. (Yayat Dhahiyat 2013:3)
Jadi dalam habitat yang sama dapat saja terjadi beberapa organisme
mempunyai relung yang sama, sehingga akan terjadi kompetisi di antara mereka.
Pengetahuan mengenai habitat dan niche ini penting dalam hal misalnya, akan
mengintroduksi suatu ikan ke dalam suatu habitat tertentu, sehingga ikan asli
(indigenous) yang telah hidup pada habitat tersebut akan kalah dalam
kompetisinya dengan ikan pendatang karena mempunyai relung yang sama.
Klasifikasi ekologi organisme air dapat di klasifikasikan berdasarkan niche
utama pada pososonya dalam rantai makanan, yakni autotroph, phagotrof, dan
saprotrof.

Berdasarkan modus hidup


Berdasarkan modus dan taksonomi ikan, analisis dan parameter tidak
berdimensi dengan data kinerja ikan berenang memakai metode katopodis (1992)
dan Katopodis & Gervais (2012) yang menunjukan kesamaan kinerja kelompok

spesies.
Berdasarkan zona mintakat
Berdasarkan zona mintakat biota air diklasifikasikan menjadi dua wilayah
yaitu ada yang melalui lingkungan pelagic dan lingkungan bentik.
a. Lingkungan pelagic

Semua biota yang hidup di lingkungan laut (seperti ikan, cumi-cumi dan
yang lainnya) tetapi tidak hidup di dasar laut dinamakan biota pelagik.
Lingkungan ini mencakup kolom air mulai dari permukaan dasar laut
sampai paras laut. Lingkungan pelagik ini mempunyai batas wilayah atau
mintakat yang meluas mulai dari garis pantai sampai wilayah laut jeluk.
Secara hohizontal lingkungan pelagik dibagi menjadi neritik (laut yang
teretak pada kedlaman 0-200 meter) dan oseanik (wilayah ekosistem laut
lepas yang kedalamannya tidak dapat di tembus cahaya matahari sampai ke
dasar, sehingga bagian dasarnya paling gelap). Sedangkan secara vertical
lingkungan ini dibagi menjadi epipelagik/fotik (bagian kolom air paling
atas), mesopelagik (dengan kedaamannya 200-1000 meter), batipelagik
(dengan kedalamannya 1001-4000), dan abisopelagik (meuas ke bagianbagian terjeluk dari samudera atau disebut mintakat palung).
b. Lingkungan bentik
Lingkungan laut juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dasar
perairan atau bentiknya. Pada zona bentos ini hidup biota air seperti
bivavia, arthropodha, echinodermata, hewan-hewan karang, coelenterate,
da spon. Dominasi biota penghuninya adalah filter feeder yang berarti biota
mendapatkan makanan dengan cara menyaring air atau sedimen melalui
organ makanannya.

Daftar Pustaka

http://www.geocities.ws/fmipa_uim/jurusan/ekosist.html
Dhahiyat Yayat. 2013. Ekologi Perairan. UNPAD PRESS : Bandung
Odum. E. P, 1998. Dasar-Dasar Ekologi, Edisi tiga. Gadjah Mada University Press:
Jakarta