Anda di halaman 1dari 20

ANTRAKNOSA PADA CABAI

( Laporan Praktikum Pengendalian Penyakit Tanaman )

Oleh
Rizki Novia Nissa
1214121193

LABORATORIUM HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai (Capsicum annum L) merupakan tanaman semusim yang tergolong ke


dalam famili Solanaceae, buahnya sangat digemari, karena memiliki rasa pedas
dan merupakan perangsang bagi selera makan. Selain itu buah cabai memiliki
kandungan vitamin-vitamin, protein dan gula fruktosa. Di Indonesia tanaman ini
mempunyai arti ekonomi penting dan menduduki tempat kedua setelah sayuran
kacang-kacangan.
Cabai merah dapat ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi,
tergantung dari varietasnya. Tanah yang cocok untuk tanaman cabai merah
adalah tanah yang gembur dan subur. Cabai juga memiliki beberapa manfaat
kesehatan salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan
penyakit kanker. Cabai juga memiliki kandungan antioksidan yang berfungsi
untuk mencegah tubuh dari radikal bebas. Cabai memiliki potensi yang baik
dalam pengembangannya.
Tanaman cabai merupakan tanaman yang paling rawan terhadap penyakit
tanaman. Tanaman cabai merah akan mudah sekali terserang hama dan penyebab
penyakit jika tempat penanamannya kurang cocok. Salah satu penyakit yang
sangat merugikan adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur
Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporiedes. Antraknosa pada cabai
besar tersebar luas di semua daerah penanaman cabai di seluruh dunia
(Semangun,2000).
Penyakit antraknosa sangat ditakuti karena dapat menghancurkan seluruh

pertanaman. Pada cabai yang terserang penyakit antraknosa dapat memperlihatkan


gejala serangan penyebab penyakit ini karena antraknosa dapat terbawa, tumbuh,
dan bertahan di dalam biji selama 9 bulan. Penyakit ini berkembang pada
lingkungan pertanaman yang kurang bersih serta banyak terdapat genangan air
(Pracaya, 1994).
Pada praktikum kali ini, penyakit yang diamati dan dipelajari merupakan
penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum capsici dan
Colletotrichum gloeosporiedes.

1.2

Tujuan Percobaan

Tujuan dari dilakukannya percobaan ini antara lain


1.

Untuk mengetahui gejala penyakit antraknosa pada tanaman cabai

2.

Untuk mengetahui penyebab penyakit antraknosa yang menyerang tanaman


cabai

3,

Untuk mengetahui cara pengendalian penyakit antraknosa pada cabai

II.

2.1

METODOLOGI PERCOBAAN

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pulpen, buku, mikroskop,
jarum pentul, kamera, dan cawan petri. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
media PDA, tanaman cabai yang terserang penyakit, prerapat Colletotrichum
capsici dan preparat Colletotrichum gloeosporiedes.

2.2

Prosedur Kerja

Pengamatan Colletotrihum capsici dan Colletotrichum geosporiedes


Cara kerja yang dilakukan dalam pratikum kali ini yaitu yang pertama disiapkan
semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum, diambil bagian
tanaman yang terserang penyakit Antraknosa serta yang sehat dengan bantuan
jarum pentul, lalu diletakkan bagian tanaman yang terserang penyakit diatas kaca
preparat, sebelumnya kaca preparat dibersihkan dengan air dan diberikan satu
tetes air diatas kaca preparat. Diletakkan kaca preparat diatas meja mikroskop,
lalu diamati bentuk patogen di mikroskop, digambar patogen yang terlihat pada
mikroskop dikertas, lalu difoto patogen yang terlihat di mikroskop menggunakan
kamera.
Isolasi penyakit Antraknosa
Diambil bagian tanaman yang terserang penyakit menggunakan jarum,
dimasukkan kedalam cawan petri yang sudah berisi media PDA yang sudah steril.
Kemudian cawan petri direkatkan dengan plastik wrap, dan diberi label. Lalu

diisolasi selama 1 minggu, setelah 1 minggu dilakukan pengamatan lagi di


mikroskop.

III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :


No

Foto

1.

Gambar

Katerangan
Dari gambar disamping
terlihat jamur
Colletotrichum capsici

2.

Dari gambar disamping


terlihat jamur
Colletotrichum
gloeosporiedes

3.

Terlihat pada gambar


biji cabai yang sehat
berwarna putih, serta
bentuknya yang
beraturan
gambar disamping

4.

terlihat biji cabai


terserang antraknosa
terdapat bercak coklat
A.

Pengamatan Kelompok 2

No
1.

Hari/Tanggal
Kamis, 3 April

Depan

Foto
Belakang

2014

Keterangan
Biji Sakit
Miselium berwarna
putih, tumbuh
membentuk
lingkaran menutupi
biji

Depan

Belakang

Biji Sehat
Miselium
menunjukkan
gejala yang sama
seperti pada biji
yang sakit, tumbuh
membentuk
lingkiaran putih
disetiap lokasi yang

5.

Jumat, 4 April

Sakit (Depan)

ditumbuhi biji
Biji Sakit

2014
Miselium semakin
melebar berwarna
putih yang tumbuh
membentuk
Belakang

lingkaran menutupi
biji cabai yang
sakit

7.

Jumat, 4 April
2014

Sehat

Biji Sehat
Miselium mulai

melebar
membentuk
lingkaran putih
disetiap lokasi yang
ditumbuhi biji

8.

Selasa, 8 April

Sakit (Depan)

Belakang

2014

Miselium semakin
melebar
mendominasi PDA,
terdapat bintik
hitam diantara
miselium yang
tumbuh
membentuk
lingkaran menutupi
biji cabai yang
sakit

10.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

Belakang

2014

Seperti pada cawan


yang sakit,
miselium sudah
mendonimasi PDA,
terlihat juga
terdapat bintik
kitam disekitar
miselium

B.
No

Data Kelas
Hari/Tanggal

Foto

Keterangan

1.

Selasa, 8 April

Kelompok 1 (Depan) Belakang

2014

Biji Sakit
Miselium semakin
melebar berwarna
putih yang tumbuh
membentuk
lingkaran menutupi
biji cabai yang

3.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

Belakang

2014

sakit
Biji Sehat
Miselium mulai
melebar
membentuk
lingkaran putih
disetiap lokasi yang

5.

Selasa, 8 April

Kelompok 2

2014

Sakit (Depan)

ditumbuhi biji
Miselium sudah
Belakang

mendominasi
pertumbuhan pada
media PDA,
nampak berwarna
hitam kecoklatan
dan nampak bintik
hitam membentuk

7.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

2014

Belakang

lingkaran atau elips


Sama seperti pada
cawan yang sakit
sudah terlihat
miselium yang
mendominasi PDA,
terlihat bintik hitam
yang melingkar

9.

Selasa, 8 April

Kelompok 3

disekitar miselium
Pada cawan petri,

2014

Sakit (Depan)

Belakang

biji yang sakit


sudah
terkontaminasi
terlihat terdapat
hifa berwarna hijau
biji yang sakit tidak

11.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

Belakang

2014

terlihat jelas
Pada cawan petri
yang sehat juga
sedikit
terkontaminasi
namun tidak
separah pada

13.

Selasa, 8 April

Kelompok 4

2014

Sakit (Depan)

cawan yang sakit


terlihat miselium
Belakang

mendominasi
pertumbuhan
media PDA,
disekitar miselium
nampak bintik
hitam membentuk

15.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

Belakang

2014

lingkaran atau elips


Pada cawan petri
yang sehat sedikit
terkontaminasi
terlihat ada hifa
berwarna hijau
mengelilingi

17.

Selasa, 8 April

Kelompok 5

2014

Sakit (Depan)

miselium
terlihat sekali
Belakang

media sudah
terkontaminasi.
Terlihat seluruh

bagian cawan
sudah didominasi
dengan warna hijau
dan miselium tidak
terlihat jelas
19.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

Belakang

2014

cawan yang sehat


tidak
terkontaminasi
terlalu parah,
terlihat pada cawan
hanya bagian
sedikit yang
berwarna hijau
yang berada
disekitar

21.

Selasa, 8 April

Kelompok 6

2014

Sakit (Depan)

miselium
terlihat miselium
Belakang

sudah
mendominasi
pertumbuhan pada
media PDA, namun
cawan sudah
terkontaminasi
terlihat bercak
coklat serta hifa
berwarna hijau
mendominasi

23.

Selasa, 8 April
2014

Sehat (Depan)

Belakang

miselium
Pada cawan petri
disamping
pertumbuhan
miselium tidak

terlalu terlihat
namun miselium
udah melebar pada
pengamatan hari
terakhir
25.

Selasa, 8 April

Kelompok 7

2014

Sakit (Depan)

Pada cawan petri


Belakang

yang sakit terlihat


sekali media sudah
terkontaminasi.
Terlihat seluruh
bagian cawan
sudah didominasi
dengan warna hijau
dan miselium tidak

27.

Selasa, 8 April

Sehat (Depan)

2014

Belakang

terlihat jelas
Pada cawan yang
sehat terlihat
miselium sudah
mendominasi
pertumbuhan pada
media PDA,
nampak berwarna
hitam kecoklatan
dan nampak bintik
hitam membentuk
lingkaran atau elips

3.2

Pembahasan

1.

Jamur Colletotrichum capsici

Klasifikasi jamur Colletotrichum capsici adalah :


Divisio

: Ascomycotina

Sub-divisio

: Eumycota

Kelas

: Pyrenomycetes

Ordo

: Sphaeriales

Famili

: Polystigmataceae

Genus

: Colletotrichum

Spesies

: Colletotrichum capsici

Patogen
Pertumbuhan awal jamur Colletotrichum capsici membentuk koloni miselium
yang berwarna putih dengan miselium yang timbul di permukaan. Kemudian
secara perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan akhirnya berbentuk aservulus.
Aservulus ditutupi oleh warna merah muda sampai coklat muda yang sebetulnya
adalah massa konidia.
Miselium
Miselium terdiri dari beberapa septa, inter dan intraseluler hifa. Aservulus dan
stroma pada batang berbentuk hemispirakel dan ukuran 70-120 m. Seta
menyebar, berwarna coklat gelap sampai coklat muda, seta terdiri dari beberapa
septa dan ukuran +150m. Pada area miselium berwarna dari terang menjadi abuabu gelap pada seluruh permukaan koloni, dengan aservulus yang runcing untuk
seta gelapnya. Titik-titik spora berwarna pucat kekuning-kuningan seperti salmon
(ikan)
Bentuk Konidia
Konidiofor tidak bercabang, massa konidia nampak berwarna kemerah-merahan.
Konidia berada pada ujung konidiofor. Konidia berbentuk hialin, uniseluler,
ukuran 17-18 x 3-4 m. Konidia dapat berkecambah pada permukaan buah yang
hijau atau merah tua. Tabung kecambah akan segera membentuk apresorium
(Singh, 1998).

2.

Jamur Colletotrichum gloeosporioides

Klasifikasi penyakit Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) Sacc menurut


Dwidjoseputro (1978) sebagai berikut:
Divisio

: Mycota

Sub divisi

: Eumycotyna

Kelas

: Deuteromycetes

Ordo

: Melanconiales

Family

: Melanconiaceae

Genus

: Colletotrichum

Species

: Colletotrichum gloeosporioides (Penz)

Patogen
Patogen menyebabkan penyakit pada tumbuhan dengan cara melemahkan inang
dengan cara menyerap makanan secara terus menerus dari sel inang untuk
kebutuhannya, menghentikan atau mengganggu metabolisme sel inang dengan
toxin, enzim atau zat pengatur tumbuh yang disekresikannya, menghambat
transportasi makanan, hara mineral, dan air melalui jaringan pengangkut dan
mengkonsumsi kandungan sel inang setelah terjadi kontak (Agrios,1996).
Dalam kombinasi inang patogen, patogen (biasanya jamur) dapat memproduksi
toksin spesifik - inang yaitu toksin yang bertanggung jawab terjadinya gejala, dan
diduga bereaksi terhadap reseptor spesifik atau sisi sensitif dalam sel inang.
Hanya tanaman yang mempunyai reseptor sensitif atau sisi sensitif semacam ini
yang akan menjadi sakit. Spesies atau verietas tanaman yang tidak mempunyai
reseptor ini atau tidak mempunyai sisi sensitif semacam ini akan tetap tahan
terhadap toksin dan tidak akan terjadi gejala (Abadi, 2003).
Miselium

Colletotrichum gloeoeosporioides termasuk parasit fakultatif, termasuk ke dalam


ordo Melanconiales, jamur ini memproduksi hialin, konidia bersel satu, berbentuk
oval memanjang, bergaris ramping, panjang 10 - 15 m dan lebar 5 - 7 m. Massa
spora berwarna merah jambu atau warna salmon. Aservuli dapat menyerang kulit
dan jaringan tanaman, konidiofornya tegak, pendek dan tidak bersekat.
Koloni jamur pada medium Agar Dexstrose kentang berwarna kelabu sampai
merah jingga. Miselium bersekat dan konidia berbentuk lonjong, bening dan
terdiri dari satu atau dua sel (Pawirosoemardjo dkk., 1998).
Colletotrichum gloeosporioides umumnya mempunyai konidium hialin berbentuk
silinder dengan ujung-ujung tumpul, kadang-kadang berbentuk agak jorong
dengan ujung agak membulat dengan pangkal yang agak sempit terpancung, tidak
bersekat, berinti satu, panjang 9 24 x 3 - 6 m, terbentuk pada konidiofor seperti
fialid berbentuk silinder, hialin berwarna agak kecoklatan (Semangun, 2000).
Bentuk Konidia
Konidia dibentuk dalam aservulus. Konidia terbentuk tunggal pada ujung-ujung
konidiofor, konidiofor pendek, tidak berwarna, tidak bercabang, tidak bersekat.
Sering ditemukan pada aservuli dari jamur Colletotrichum, tetapi tidak tetap
tergantung kondisi tempat tumbuhnya (Alexopolus and Mims, 1979).
Gejala cabai yang terserang penyakit Antraknosa
Jamur Colletotrichum dapat menginfeksi cabang, ranting, daun dan buah. Infeksi
pada buah terjadi biasanya pada buah menjelang tua dan sesudah tua. Gejala
tanaman cabai yang terserang jamur ini adalah sebagai berikut :
1.

Mula-mula pada buah yang sudah masak kelihatan bercak kecil cekungkebasahan yang berkembang sangat cepat, garis tengah bisa mencapai 3-4 cm
pada buah yang besar.

2.

Bercak cekung itu berwarna merah-tua sampai coklat-muda dan kelihatan ada
jaringan jamur yang berwarna hitam.

3.

Buah berubah menjadi busuk-lunak, mula-mula berwarna merah kemudian


menjadi coklat-muda seperti jerami.

4.

Pada serangan jamur C. capsici mula-mula membentuk becak coklat


kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak.

5.

Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari
kelompok seta dan konidium jamur.

6.

Dengan rabaan, akan terasa titik-titik hitam kecil, di bawah mikroskop akan
tampak rambut-rambut halus berwarna hitam.

7.

Spora terbentuk cepat dan berlebihan dan memencar secara cepat pada hasil
cabai, mengakibatkan kehilangan sampai 100%.

6.

Jika cuaca kering jamur hanya membentuk becak kecil yang tidak meluas.

7.

Ketika buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan
dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat (Semangun, 2000).

Pengendalian Penyakit Antraknosa


Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mencegah serta mengendalikan
penyakit Antraknosa pada tanaman cabai diantaranya :
1.

Gunakan bibit cabai yang sehat, jika melakukan pembibitan cabai dari
tanaman sendiri jangan menggunakan dari tanaman cabai yang terserang
patek.

2.

Penanaman sebaiknya dilakukan bukan dari bekas tanaman cabai, terong,


tomat atau tanaman yang sefamily Solanaceae.

3.

Gunakan pupuk dasar atau pemupukan dengan pupuk yang memiliki unsur N
(nitrogen) rendah, pemberian unsur N yang berlebihan menjadikan tanaman
cabai menjadi rentan (mudah terserang) penyakit patek.

4.

Gunakan jarak tanam yang ideal sesuai kebutuhan tanaman, usahakan jangan
terlalu rapat agar tidak terlalu lembab dan dapat mengurangi penyebaran
penyakit.

5.

Gunakan mulsa plastik agar terhindar dari penyebaran spora jamur melalui
percikan air hujan atau penyiraman.

6.

Gunakan peralatan yang berbeda untuk menghindari penularan melalui alat


pertanian yang kita gunakan.

7.

Lakukan pencegahan dengan menggunakan penyemprotan fungisida kontak


berbahan aktif mankozeb atau tembaga hidroksida jika serangan penyakit
telah berada diambang batas.

8.

serangan patek yang sudah parah dapat dilakukan eradikasi dengan segera
membuang tanaman yang sakit atau membakarnya.

9.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah menyemprot dengan fungisida kontak


(Dithane, Nordox, Kocide, Antracol, Dakonil, Frevicur-N, atau yang lain)
bersamaan dengan sistemik (Derosal, Bion M, Amistartop, atau yang lain).

IV.

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai


berikut :
1.

Konidia pada jamur Colletotrichum capsici berbentuk hialin, uniseluler,


ukuran 17-18 x 3-4 m. Konidia dapat berkecambah pada permukaan buah
yang hijau atau merah tua. Tabung kecambah akan segera membentuk
apresorium.

2.

Konidia pada jamur Colletotrichum gloeosporiedes dibentuk dalam


aservulus. Konidia terbentuk tunggal pada ujung-ujung konidiofor,
konidiofor pendek, tidak berwarna, tidak bercabang, tidak bersekat.

3.

Jamur Colletotrichum capsici dapat menginfeksi cabang, ranting, daun dan


buah. Infeksi pada buah terjadi biasanya pada buah menjelang tua dan
sesudah tua.

4.

Jika serangan penyakit antraknosa sudah parah, dapat dilakukan eradikasi


dengan segera membuang tanaman yang sakit atau membakarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G.H. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Skpkarimun. 2013. http://skpkarimun.or.id/index.php/2013-05-03-03-03-30/146penyakit-antraknosa-pada-tanaman-cabai. Diakses pada hari Minggu,
tanggal 13 April 2014 pukul 11.37 WIB
Respository.2013.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24710/4/
Chapter %20II.pdf. Diakses pada hari Minggu, tanggal 13 April 2014
pukul 11.37 WIB
Pracaya. 2007. Hama Dan Penyakit Tanaman. Penebar Swaadaya. Jakarta
Semangun, Haryono. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di
Indonesia. Edisi Kedua. Gadjah Mada University. Yogyakarta

LAMPIRAN