Anda di halaman 1dari 16

H A K I K AT K E I N D A H A N

Lembut menyejukkan. Uap air melayang sesaat lalu jatuh


menabrak ujung daun. Melekat menari riang dan menetes ke
permukaan batu-batu besar. Sebagian menghambur
menyergap crausse di wajah dan kulit tangan kakiku. Dingin.
Yang lainnya terbang bebas dan tidak pernah tahu ke mana ia
akan melekatkan tubuhnya. Menyerahkan diri sepenuhnya
bereaksi dengan apa saja yang ia temui.
Daun-daun suplir dan paku-pakuan lain di sekitar air terjun
melenggang kanan ke kiri bolak-balik secara periodik
mengikuti irama desir angin dan gemericik air di sela-sela
bebatuan. Sungguh indah. Sebuah area terisolasi dinding-dinding batu membentuk
huruf U jika dilihat dari atas. Dingin menyejukkan, air mengalir mencelupkan mata
kaki. Sayangnya jarang sekali orang yang mau ke tempat ini. Sebab agar sampai di
tempat ini dan merasakan nikmat suguhan keindahannya, harus berjalan kaki
selama lebih kurang tigapuluh menit. Itupun bagi mereka yang sudah terbiasa
dengan medannya. Sebab jalan yang harus dilalui adalah lumut bebatuan dan
sangat licin. Bukan hanya itu, ada sebuah jalan setapak dengan lebar setengah
meter di samping jurang yang harus ditaklukkan untuk bisa mereguk keindahan air
terjun di tempat ini. Itu adalah jalan yang menjadikan orang berpikir dua kali untuk
melewatinya meskipun ia penasaran akan keindahan di sini. Di tempat itulah uji
adrenalin dimulai. Jika aku melewati jalan itu maka jantungku berdegup kencang.
Laju aliran darah terakselerasi dalam hitungan detik. Aku juga harus memastikan
bahwa setiap pijakan langkahku tidak akan bergeser sedikitpun. Sebab jika itu
terjadi maka mungkin Malaikal Maut sudah menanti di dasar jurang. Dan itulah yang
terbayang olehku setiap kali aku melewatinya.
Lalu apa yang membuatku mau menempuh perjalanan penuh resiko ini? Ayahku.
Belilaulah yang membuatku mau untuk selalu datang ke sini setiap kali aku memiliki
waktu luang. Ayahku yang pertama kali mengajakku mereguk keindahan ini. Aku
masih ingat pelajaran pertama yang ia berikan. Ketika kami sampai di bawah air
terjun ia mengatakan: Untuk dapat menikmati keindahan diperlukan keberanian
dan kemantapan hati. Kata-kata itu selalu mengiang di telinga ketika aku hampir
menyerah menjalani pahitnya hidup. Wajar saja jika sampai hari ini aku tetap
mengingatnya. Sebab untuk mendapatkan pelajaran itu aku harus mengalami
terlebih dulu. Sungguh pembelajaran bermakna. Tidak seperti di bangku sekolah.
Guru hanya memberikan pesan moral dan kata-kata motivasi tanpa memberikan
pengalaman belajar mengesankan. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Lihatlah
mereka masih terus penasaran sampai hari ini bahkan sampai mereka mati. Itulah
yang disebut dengan mati penasaran. Ayahku menutup pelajaran hari itu.
Lamunanku telah melayang begitu jauh. Menembus dimensi waktu saat aku masih
remaja dulu. Menghadirkan dan merasakan kembali saat-saat bersama ayah dan
ketiga kakak lelakiku di tempat ini. Bermain air dan mandi di air terjun. Bercanda
dan makan minum bekal di tempat ini. Tapi semenjak ayahku pergi, hanya aku yang
masih sering ke sini. Ayahku pergi di tempat ini. Ketika kami sedang dalam
perjalanan pulang, langit mendung dan turun hujan. Saat itulah ayahku tergelincir
dan jatuh ke jurang. Aku bersama ketiga kakakku tidak bisa berbuat apa-apa selain

menangis dan berusaha agar segera tiba di rumah, memberi tahu kejadian itu pada
ibu. Itu sebab aku sering ke sini memutar ulang memori masa lalu. Mengingat-ingat
bait-bait hikmah ayahku terlisan di tempat ini. Ia hilang di tempat ia menemukan.
Aku terus tenggelam dalam lautan kenangan hingga tiba-tiba ada sentuhan lembut
di bahu kanan membuyarkan lamunanku. Terasa tidak asing dengan sentuhan
tangan yang diberikan olehnya. Aku yakin aku sangat mengenalnya. Sentuhan
tersebut menstimulus meisner di bahuku dan mentransmisikan ke otak. Dalam
hitungan sepersekian detik aku langsung mampu mengidentifikasi bahwa ini adalah
tangan ayahku. Aku tidak percaya. Apakah benar ini tangan ayahku? Apa benar
ayahku masih hidup? Aku tidak berani menoleh. Nafasku sesak. Jantungku berdegup
semakin cepat. Badanku gemetar. Tapi aku memberanikan diri menoleh ke kiri
dengan sangat perlahan, hati-hati, dan penuh perasaan takut. Ia langsung
mendekap erat tubuhku tepat saat aku mencipta wajahnya di bintik kuning mataku.
Kapan kamu ke sini? Ayah bertanya setelah terlebih dulu melepas dekapannya.
Baru saja. Jawabku sambil menatap air terjun. Aku menghela nafas dalam.
Berharap udara dingin mampu menyejukkan hati.
Aku suka dengan semua keindahan yang disuguhkan di tempat ini. Terutama air
terjun itu. Juga bebatuan. Angin yang berdesir menyelinap masuk ke rongga telinga.
Dan semuanya. Mereka bersatu padu menghipnotisku untuk menghilangkan segala
penat dan mengangkat beban hidup. Mereka juga menjadi pemicu pintu memori di
kepalaku terbuka sehingga rekaman indah dulu dapat aku rasakan. Tempat ini
sungguh benar-benar indah! Aku berusaha mengungkapkan detail keindahan
tempat ini kepada ayah.
Jadi itu yang menjadikanmu sering datang ke sini?
Ya. Jawabku pelan.
Ayah tersenyum. Ia berjalan-jalan mencelupkan kakinya ke dalam air hingga
celananya basah sampai lutut. Menghentikan langkahnya tepat di atas batu yang
menjadikannya ia berdiri dengan mata kaki segaris dengan permukaan air. Ia tidak
berucap apa-apa. Lalu kembali berjalan-jalan seperti sebelumnya dan mendekat
kepadaku.
Kamu yakin tempat ini benar-benar indah?Aku cuma mengangguk.
Benarkah air terjun itu indah? Benarkah air terjun yang membuatmu merasa
tenang? Aku terdiam. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan kirinya dan memegang
tangan kananku. Lalu menuntunku mencelupkan kaki ke dalam air dan masuk
menembus air terjun. Pakaianku basah kuyup. Aku kedinginan. Tapi ayah tidak
memperdulikanku. Ia justru mengajak dan menuntun jemariku merengkuh pakupakuan dan duduk di atas batu besar dekat air terjun. Ia mengambil dan membuka
tas di punggungnya. Lalu ia memintaku ganti baju di cekungan belakang air terjun.
Jendela kulit di seluruh permukaan tubuhku menutup diri. Menyekap panas dan
membiarkan ia menyebar ke seluruh tubuh. Mencipta kesetimbangan termis. Aku
sudah tidak kedinginan dan kembali duduk bersamanya di atas batu seperti
sebelumnya. Aku merebahkan tubuhku di dadanya. Dan ia membelai lembut gerai
rambut panjangku.
Sayang...jangan pernah tertipu dengan berkeyakinan bahwa tempat ini yang
memberikan keindahan dan mampu menenteramkan hatimu. Aku hanya diam

mendengar untaian kata-kata dari lisannya sambil terus menikmati keindahan di


depan mata.
Sejatinya kesejukan yang kamu rasakan, keindahan yang menenangkan, bukanlah
berasal dari tempat ini. Jangan pernah tertipu dengan membuat simpulan seperti
itu. Kamu tahu kenapa aku mengajakmu berdiri di bawah air terjun hingga kamu
basah kuyup kedinginan dan aku tidak peduli? Kenapa aku menuntun jemarimu
merengkuh paku-pakuan dan duduk di atas batu besar itu? Agar kamu tahu, bukan
itu yang membuatmu merasa tenang dan damai. Aku tidak mengerti kenapa ia
berkata seperti itu dan apa tujuannnya.
Kebanyakan manusia merasa bahwa tempat-tempat indah adalah sebab ia beroleh
ketenangan, ketenteraman, dan kesenangan. Hakikatnya bukan! Bukan itu yang
mencipta semua rasa itu. Aku takut jika kamu juga seperti mereka. Menjadikan
tempat ini sebagai tempat mencurahkan segala rasa dengan terus tenggelam
dalam memori silam. Larut dalam kenangan dengan menghadirkan wajah ayahmu
di sini.
Lalu? Tanyaku meminta ia melanjutkan.
Mereka sengaja meluangkan waktu pergi ke tempat-tempat wisata berharap ia
akan mendapatkan ketenangan, kedamaian, ketenteraman, kepuasan, dan semua
rasa yang merujuk pada kebahagiaan. Berharap semua penat pecah tergilas
keindahan. Tapi ketika semua mereka dapatkan apa yang mereka rasakan? Mereka
mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi sedikit, bahkan sangat sedikit.
Sisanya adalah kepenatan seperti saat sebelum mereka datang. Ayah terus
berkata-kata. Jemarinya terus membelai lembut setiap helai rambutku hingga
berujung di bahu.
Itu kenapa aku mengajakmu berdiri di bawah air terjun, menjamah tetumbuhan,
dan merasakan sentuhan permukaan bebatuan, yang kamu anggap mampu
menghipnotismu. Semua itu agar kamu merasakan bahwa sejatinya bukan mereka
yang menghipnotismu sehingga beroleh kebahagiaan. Tapi yang mampu
menyuguhkan kebahagiaan semata-mata hanyalah celupan kasih sayang Allah
kepada hamba-Nya. Dan kamu bisa melakukan itu di mana pun dan kapan pun.
Entah kenapa hatiku terenyuh mendengar bait-bait nasihatnya. Mataku pun
berkaca-kaca. Lagi aku merasa tidak percaya kalau ia bisa melantunkan hikmah
seperti itu. Aku merasa itu adalah suara ayahku. Maka air mata pun menetes
membasahi pipi disambut dengan sentuhan jemari mengusap
lembut.Sayang...pahamilah itu. Keindahan pada hakikatnya adalah celupan kasih
sayang Allah kepada setiap hambanya. Ia menghadirkan cinta dan kasih sayangnya
dengan panorama yang menenteramkan hati. Irama suara alam penyejuk jiwa. Dan
semuanya. Tidak terkecuali paras cantikmu ini. Ia mengatakan paras cantik
dengan mencubit sebilah pipiku. Aku tersipu malu. Aku bersyukur mempunyai
suami sepertinya. Aku selalu manja di depannya. Aku selalu ingin memanggilnya
"mas". Tapi kami sudah bersepakat jika dikaruniai putera maka mulai saat itu aku
harus memanggilnya ayah. Dan hari ini ia membuktikan bahwa ia bisa menjadi
ayah, seperti ayahku. Bijak dalam berucap dan sarat hikmah.
Aku mengerti. Hakikat keindahan adalah celupan kasih sayang Allah kepada setiap

hambanya. Lalu kami beranjak dari batu besar. Deru air terjun terasa semakin
menjauh. Kami berjalan mesra bergandengan menyusuri air, kerikil, dan bebatuan.
5 Comments
Senin, 15 Juni 2009

PULANG KAMPUNG

Dek dek, dek dek! Menatap langit-langit kereta. Bocor sana-sini. Sesak. Sedikit
sekali ruang gerak. Berdiri di dekat pintu toilet. Bau. Tak apa, kelak akan hilang
dengan sendirinya. Menguap dengan segala tatapan ini memandang hijau di
seberang ujung mata ke depan gerbang desa manunggal.
Selamat datang. Desa Lebeteng Kec. Tarub Kab. Tegal.
Badanmu tertumpu di kaki kanan. Bukan Kamu tidak tahu mana yang terbaik.
Bukan tidak mengerti bagaimana harusnya berdiri agar tidak cepat capek. Tapi
crowded. Terlalu. Belum lagi orang bergantian keluar masuk toilet. Menyebalkan.
Bersyukurlah. Kata mantra yang ada dan harus selalu ada di dalam hati. Agar
nikmat tetap terberi dan terus diberi. Bahkan diperbaiki.
Hari ini adalah hari pulang kampung. Lebaran tinggal satu hari lagi. Pentas
berdesakan memang pantas. Semua orang ingin merayakan lebaran di kampung
halaman mereka dilahirkan. Berkumpul bersama keluarga. Juga berkunjung ke
rumah saudara, rumah kakek-nenek, mbah buyut, om-tante. Berjalan mengitari
kampung dari ujung ke ujung. Itu mungkin kenapa orang menyebutnya ujungujung.
Mas turun dimana? tanya orang di sebelahmu.
Tegal. Kamu tidak balik bertanya. Waktunya tidak tepat pikirmu. Ngobrol di saat
berdiri dengan bertumpu pada satu kaki adalah pemborosan energi.
Aku juga di Tegal. Jawabnya tanpa ditanya. Dia ternyata memang ingin sekali
ngobrol. Padahal Kamu sudah sengaja tidak balik tanya.
Kamu sudah mulai pusing. Bau toilet, bau keringat orang-orang, bersatu
menghujam kedua lubang hidungmu. Dari dulu tidak pernah berubah. Rasanya ingin
sekali menghujat pemerintah yang belum juga memperbaiki sarana transportasi di
negeri ini khususnya kereta yang kamu tumpangi. Kotor. Rusak. Penumpang
berlebih. Meski di setiap gerbong terdapat tulisan 64 penumpang, selalu saja lebih.
Tapi untuk apa menghujat. Pasti tidak akan ada hasil. Lagian salahmu juga. Kenapa
kamu mau naik kereta yang sudah jelas penuh sesak seperti ini? Tapi tentu kamu
juga tidak mungkin menggunakan bus eksekutif mengingat kamu seorang
mahasiswa miskin. Tanpa kamu harus berpikir lebih dulu sudah tentu kamu akan
memutuskan untuk tidak melakukannya.
Terlalu lama kamu berdiri. Sesak. Panas. Keringat sudah membasuh permukaan
tubuhmu. Kamu juga sudah sangat lelah. Menyisir tempat duduk tapi penuh.
Menghela nafas dalam berkali-kali. Justru udara pengap yang merasuk paru-paruku.
Dan kamu pun terjatuh.
Dia. Duduk. Diam. Wajahnya begitu tenang. Teduh menyejukkan. Sesekali menatap
ke arahmu yang duduk tepat di depannya. Seringnya membiarkan matanya bebas
mencipta keindahan pedesaan dari balik kaca jendela kereta. Hutan juga ombak

yang pecah di pantai. Indah memang. Pantai begitu dekat bahkan seakan kamu bisa
menyentuh ombak yang menyambar rel kereta.
Tersenyum. Tulus. Kamu balas. Masih muda. Kira-kira 30-an tahun.
Masih kuliah dek? Ia membuka bicara. Senyum dengan segenap rasa sebisa.
Matanya tajam tapi sejuk. Membuat kamu tak bisa mengelak lepas tanyanya.
Masih mas. Mas kuliah juga?
Aku kerja. Pulang kampung ya? Ke mana? Tanyanya.
Tegal. Jawabmu singkat.
Pulang kampung memang menyenangkan.
Ya mas, memang menyenangkan. Kamu menguatkan.
Menyenangkan sebab kita bisa menumpahkan segenap kerinduan kepada setiap
orang yang kita cintai. Bercengkerama dengan mereka. Bercanda. Makan dan jalanjalan bersama. Bukan begitu?
Bukaan..heheghz. Kamu mengajaknya bercanda sedikit biar agak cair. Ya mas,
itulah alasannya. Mas juga begitu kan?
Ya mungkin itu alasan semua orang. Melepas dan menghempaskan kerinduan
adalah kenikmatan. Cinta selalu menumbuhkan rasa selalu ingin bertemu dan
bersama. Itu sebab pulang kampung selalu dilakukan. Meski harus berdesakan dan
berdiri karena tidak dapat tempat duduk tetap saja semua melakukannya.
Paparnya panjang. Kamu hanya diam.
Pulang adalah fitrah. Seperti kita hidup di dunia ini. Kelak akan ada saatnya kita
akan merindukan dan benar-benar menginginkan pulang kepada sang Pencipta.
Perbedaanya hanya satu. Saat akan pulang kampung kita sudah menyiapkan
semuanya. Mulai dari uang untuk transportasi, pakaian, sepatu, angpao, juga
dengan siapa dan kapan kita akan pulang. Detail. Bahkan saat di kampung kita
akan jalan-jalan ke mana, dengan siapa, beserta kendaraannya sudah kita siapkan
sedari sebelum kita pulang. Menakjubkan!
Lagi kamu hanya diam. Asyik mendengarkan bicaranya yang berbarengan dengan
suara derak roda kereta bergesekan rel di titik persambungan. Dek dek, dek dek!
Tapi apa yang sudah kita siapkan untuk perjalanan pulang kita kepada-Nya? Tidak
ada. Karena kita memang belum menginginkan pulang. Asyik terhadap nikmat
dunia. Padahal pulang kepada-Nya adalah pasti. Dan perlu banyak bekal. Mungkin
karena kita tidak mencintai-Nya. Lebih cinta dunia. Sehingga tidak ada kerinduan
sama sekali untuk bertemu dengan-Nya dan melihat wajah-Nya. Bukankah tanda
yang sudah terbukti benar kalau kita mencinta adalah kita merindukan yang kita
cintai? Rindu untuk segera berjumpa dengan-Nya?
Kamu sudah bangun? Terdengar suara wanita. Matamu belum jelas melihat.
Samar. Kamu usap matamu. Ternyata ibumu.
Emang apa yang tlah terjadi Bu? Kenapa aku di sini?
Ibumu tersenyum. Alhamdulillah kamu sudah siuman. Kamu tidak sadarkan diri
lebih dari tiga jam.
Tiga jam? Tanyamu heran.
Ya tiga jam. Tadi siang pukul dua belas ada orang yang menelepon ibu. Dia bilang
kalau kamu sedang dirawat di rumah sakit ini. Trus ibu segera ke sini. Setiba ibu di
sini ibu hanya bisa melihat kamu terdiam di atas tempat tidur. Ibu periksa seluruh
badanmu. Alhamdulilah tidak ada luka. Ibu sangat khawatir. Trus ibu tanya ke
dokter. Dia bilang kalau kamu pingsan di kereta. Trus ada orang yang membawamu

ke sini.
Trus orangnya mana Bu? Siapa namanya? Kamu
penasaran.
Ibu juga tidak tahu. Tapi ibu sudah tenang
sekarang.
Kamu masih terus teringat orang yang datang di
alam mimpimu saat kamu pingsan. Siapa dia
sebenarnya. Kamu penasaran. Semoga kamu bisa
bertemu di alam nyata suatu nanti.
Add Comment
Kamis, 15 September 2011
R U A N G H AT I

Lalu jiwa pagi basah. Tersiram pecahan kristal puisi burung penari. Terkurung
terpantul-pantul di kanal telinga. Menggetarkan selaput. Tersapu tulang ke tingkap
jorong. Meluncur meliuk-liuk di rumah siput dan tenggelam di dalam cairan.
Bermetamorfosis menjadi sinyal-sinyal elektrik. Bergerak secepat kilat menembus
ruang gelap serebrum. Mencipta persepsi. Dan aku mendengar kicau riang di
pucuk-pucuk ranting. Menggema di celah-celah rongga udara. Membangunkan
setiap jiwa culas tertidur berselimut urine setan.
Mentari pun perlahan terus menghujani bumi dengan partikel foton. Buah dari
reaksi fusi dengan panas hingga 14 juta derajat celcius. Penggabungan rasa cinta
hidrogen menjadi helium. Menyebarkan gelombang tampak. Sehingga mata mampu
menyingkap materi. Hilang sudah gelap. Gelap di bumi. Gelap di hati. Lalu aku
berjalan memanjakan raga. Menghirup udara segar. Mengucap syukur.
Meyunggingkan senyum. Mengulum sapa. Mencipta tekad untuk memulai hari
penuh semangat.
Sesuap waktu berlalu. Tak terasa surya sudah setinggi tombak. Tiba saatnya
membeli tiket istana surga yang dikelilingi peri bermata jeli. Shalat dluha.
Membangun istana setahap demi setahap. Rakaat demi rakaat. Setiap pagi setiap
hari.
Masjid yang indah! Gumamku dalam hati saat aku berdiri di depannya. Meski
bukan kali pertama aku melihat. Tapi tetap megah terkesan. Kokoh berdiri
mendekap ruang tiga lantai. Sayap kanan kiri berhiaskan ornamen gaya khas tradisi
masa silam. Tepat di depan pintu melekat ukiran kaligrafi yang setia menyambut
siapa saja yang menapakkan kaki di altar suci. Untuk memenuhi panggilan Ilahi,
mengkaji ilmu agama, atau hanya sekadar melepas lelah karena tamparan keras
terik mentari siang hari.
Wajah dan mahkota kepalaku basah terbasuh air wudlu. Lalu melangkah setenang
jiwa yang tercelup cahaya Ilahiah. Ku pijakkan kaki ke tangga setingkat-tingkat.
Membuka pintu rakhmat. Menabur sua dengan sang pencipta. Namun belum
sempat melayangkan takbir pembuka, hatiku tersedu. Rintihan jiwa sesal terdengar
jelas di kanal telinga. Suara tangis merapatkan udara ruang lantai dua.

Subhanallah pujiku.
Awal yang indah bagi siapa saja yang menyesal atas dosa. Menghiba, meratap,
meminta maaf, mengakui salah. Dan berjanji tidak akan mengulang kali kedua.
kataku dalam hati lantaran tangis dari lantai tiga tempat shalat putri, terdengar
demikian jelas. Yang memaksaku membuat kesimpulan betapa bahagia setiap jiwa
yang bertaubat.
Kulayangkan takbir pembuka. Meresapi ayat demi ayat. Tenggelam dalam magma
dingin. Membuka tabir dan memecahkan dinding penghalang. Berselancar menuju
dimensi spiritualitas tanpa batas. Alam rububiyah. Raga bergetar setiap kali otak
menangkap makna bibir berucap. Sejuk mengalir dari palung hati hingga kulit ari.
Lalu terasa seringan awan. Melayang.
Assalamualaikum warahmatullah usai shalatku.
Isak tangis kembali menggetarkan selaput telingaku. Kali ini ada yang janggal. Aku
semakin tidak yakin. Ragu dengan kesimpulan awalku. Sesekali meluap kata tolong.
Tapi aku tetap duduk. Melantunkan dzikir. Tapi tetap tidak bisa menikmati setiap
lantunan puji dari lisanku karena isak tangis kian keras menggedor-gedor telinga
bahkan jiwaku. Aku semakin penasaran. Khawatir. Bertanya-tanya apa yang terjadi
di lantai tiga? Apa yang menyebabkan seseorang yang tidak aku tahu itu terus
menangis? Lalu tanpa pikir panjang aku segera beranjak dari tempat simpuh.
Meluncur ke lantai satu. Sebab lantai tiga hanya bisa diakses dari lantai satu. Dan
hanya ada satu tangga. Aku berlari ke tangga yang menuju lantai tiga. Namun
langkahku terhenti saat mencapai setengah tangga. Seekor ular kecil sedang asyik
melilitkan badannya di bibir tangga. Menjulur-julurkan lidahnya. Terus merayap ke
atas. Sedang di ujung tangga tampak anak puteri meringkuk ketakutan menangis
terisak-isak. Aku pun kebingungan. Tapi syukurlah tepat ketika aku akan pergi dua
orang takmir masjid datang. Masing-masing membawa tongkat. Lalu mereka
melakukan apa yang mestinya mereka lakukan.
Lalu aku termenung. Kenapa ia begitu takut? Kenapa ia harus menangis? Bukankah
itu hanya seekor ular kecil? Dan saya yakin bahwa hari itu bukan kali pertama ia
melihat ular! Terlalu mengada-ada memang, kalau hal seperti itu dipikirkan. Tapi
aku berkeyakinan bahwa setiap peristiwa dalam rentang waktu pasti ada sesuatu
yang bisa dipetik hikmahnya.
Aku berhipotesa, bahwa yang menyebabkan anak puteri itu takut bukan karena ular
semata. Tapi karena ia berada di ruang yang relatif sempit dan tidak ada jalan lain
yang bisa dilalui agar terhindar dari gangguan ular. Ya, saya kira itulah penyebab
utamanya. Sebab seandainya ia berada di luar masjid pasti ia tidak akan takut.
Apalagi harus menangis. Sebab ia bisa segera menghindar dan lari.
Aku memetik hikmah. Buah dari pohon peristiwa dalam rentang waktu sesaat. Aku
basah oleh sastra kehidupan. Aku senang sebab aku menemukan analogi ruang
hati. Ya, ruang hati. Sebuah gumpalan darah yang menyimpan kedalaman jiwa.
Yang tersembunyi dan tak tersentuh panca indera. Tempat setiap urusan manusia.
Semua tersimpan di sana.
Ruang hati. Yang jika senang ia akan berhiaskan bunga-bunga, berpayung pelangi,
berlantaikan permadani, beraroma kasturi, dan berselimutkan kehangatan. Tapi jika
sedih ia dipayungi awan gelap hitam, berasa masam, beralas duri, dan berdekap
dingin. Begitulah kira-kira. Semua tergantung pada suasana hati. Seberapa
bahagiakah hati, itu yang akan menentukan seberapa bahagia raga yang
membungkusnya.
Lalu apa yang menentukan kebahagiaan hati? Banyak. Salah satunya adalah

seberapa besar volume ruang hati seseorang. Semakin besar ukuran volumenya,
maka akan semakin besar peluang ia merasakan kebahagiaan. Mengapa? Karena
ruang hati yang besar akan menjadikan setiap masalah yang tersimpan di
dalamnya relatif lebih kecil. Sedangkan hati yang sempit akan menjadikan setiap
masalah akan tampak relatif besar. Seperti kisah anak puteri tadi. Ia takut
sebenarnya bukan semata karena ular kecil yang menghadang langkah kakinya.
Tapi juga karena ruang tempat ia berada relatif kecil. Maka itu jika kita
menginginkan kebahagiaan. Kita bisa mulai dengan belajar memiliki hati yang
lapang, sehinnga masalah sebesar apapun akan menjadi kecil.
Ruang hati. Beruntunglah orang yang memiliki ruang hati yang besar. Sebab ia tidak
mempunyai rasa negatif kepada orang lain. Benci, iri, cemburu, atau dendam.
Bagaimana ia bisa membenci? Sedang ia tidak mempunyai alasan untuk membenci.
Bagaimana ia bisa iri dan cemburu? Sementara keinginan itu sangatah kecil dan
tersimpan jauh di sudut hati. Bagaimana ia punya keinginan membalas dendam?
Sebab ia tidak pernah merasa tersakiti. Begitulah ruang hati. Semakin besar, akan
semakin mudah kita bisa bahagia. Semoga.
Semarang, 7 Agustus 2008
4:09 PM

DAUN PISANG

Gelap pekat, hitam, senyap. Meski baru pukul delapan malam. Jalan setapak
terpaksa ia lalui sendiri. Agar cepat tiba di rumah. Pekerjaan seabrek sudah
menanti. Harus segera selesai malam itu juga.
Tenang ia berjalan. Menikmati panorama samar kebun pisang. Sesekali menyanyi
untuk menghilangkan rasa takut. Namun tiba-tiba mulutnya bisu. Langkah kakinya
terhenti. Matanya menyisir ilalang dan semak-semak. Kaget dan terkejut. Bayangan
hitam melambai tertangkap jelas di retina mata. Spontan badannya menggigil
ketakutan. Membalikkan badan dan kabur.
Hantuuu!!! Ia teriak berlari. Terpeleset jatuh. Bangun dan terus berlari.
Sempoyongan dan...
Brak! menabrak melekat pada sebatang pohon, pikirnya. Kepalanya merunduk.
Matanya terpejam. Perlahan-lahan ia membuka kelopak mata dan mendongakan
kepala dengan perasaan takut. Ternyata yang ada di depannya itu temannya, yang
kebetulan juga mau ke rumahnya.
Ada apa? Tanya temannya.
Ha, hantu, ada hantu di sana! Jawabnya terbata-bata.
Akhkamu ngaco! Mana ada hantu jam segini! Lagian aku sudah sering lewat sini.
Nggak pernah melihat yang namanya hantu tuh! Kamu salah lihat kalee?
Temannya menenangkan.
Bener, aku nggak bohong. Aku nggak salah lihat! Ia menyangga meyakinkan.
Udah dech! Mendingan kita buktikan. Kita jalan bareng. Kalau memang bener ada
hantu, berarti kamu nggak bohong. Oke?! Temannya membujuk dan ia pun
mengangguk.
Keduanya berjalan meniti jalan setapak tersebut. Di kanan kirinya tidak ada rumah
penduduk. Yang ada hanyalah ilalang, pepohonan, serta nyanyian binatang malam.
Jalan tersebut memang jarang dilewati orang. Kecuali petani yang kebetulan mau
mengairi sawah. Gelap. Sepi. Hanya sedikit pantulan remang rembulan awal bulan
yang tertutup awan. Yang belum sempat mencium permukaan bumi sudah tersapu
dedaunan dan reranting pohon.
Ha, han! Kembali ia mencoba teriak. Tapi.
Cep! Tiba-tiba kelima jari temannya sudah menempel tepat di mulutnya.
Sekarang, coba tunjukan padaku, mana han-tu-nya! Pinta temannya dengan nada
berbisik perlahan mengeja.
Ia membuka jari telunjuknya dan mengangkat tangan kanannya. Ia menunjuk pada
ujung sebatang pohon yang berjarak kira-kira limabelas meter dari tempat mereka
berdiri.
Haha...hahaha! Temannya tertawa sambil mencubit sebelah pipinya.
Itu kan cuma daun pisang! Dasar penakut! Katrok! Ndeso! Ndesoo! Temannya
mengejek layaknya host nge-trend yang dibayar lebih dari limapuluh juta untuk
sekali tayang.
Tapi ia juga belum percaya. Akhirnya ia diajak untuk melihat lebih dekat lagi daun
yang dikira hantu. Baru ia percaya dan malu.
Ternyata cuma daun pisang ya? ia sadar.
Cape deech!

Keduanya tersenyum, lalu terus berjalan memanjakan telinga dengan nyanyian


binatang malam diiringi musik desiran angin berbisik.
Rasa takut kian kerap kali menghinggap. Memotong berani dalam hati. Memaksa
seluruh panca indera terbebas lepas landas tanpa logika. Anggota tubuh kolega jiwa
pergi tanpa tahta. Otak pun tertutupi takut, kalut, dan sederet kata representasi
lemahnya menguasai diri. Meski ditampakkan jelas, di ujung mata hanyalah
seonggok materi namun tetap sama. Tidak berubah sedikit pun apa yang sudah
dicerna oleh persepsi. Yang tampak adalah hantu.
Seanggun hidup memang penuh warna. Tapi tidak semua bisa dihirup kecuali hanya
sekadar sesaat menghela nafas manja. Atau sebab pilihan utama tidak bisa
didapati. Lalu yang muncul adalah trauma. Takut bakalan terjadi kali kedua. Atau
bahkan justru kita yang menghidupkan hantu tersebut tanpa sengaja. Lewat
audiovisual misteri. Kertas-kertas paranoid. Ungkapan puisi lara. Lagu-lagu sendu
sayu palsu. Atau lainnya.
Hantu bisa bersumber dari apa saja. Diri dan orang lain. Jauh dan di sekeliling. Tapi
yang sering adalah diri kita sendiri. Ketidakmampuan membuat value yang tepat
tentang diri. Kacamata persepsi yang tidak begitu jelas, tegas, dan cerdas.
Melahirkan under estimate. Rasa percaya diri meredup. Potensi diri terhalang.
Praktis orang lain menjadi lebih layak menjadi pahlawan. Penerang bagi kegelapan.
Meski sebenarnya justru diri kita yang lebih berhak menyalakan pelita. Untuk
membunuh hantu tersebut. Bukan orang lain.
Kompetisi kejuaraan di gelar di mana ada. Tingkat akar rumput bahkan pohon
rindang. Sayang tapi. Semua lewat sekejap tanpa ada sedikit kontribusi. Apalagi
partisipasi. Orang lain lagi yang merasa mengecapnya. Lalu kita pun akan
tersenyum biasa saja. Sembari mencari kata pemaaf diri sebanyaknya. Atau kita
pilih cuek saja.
Tapi ada yang menarik. Andai saja kita mau sedikit membuka mata. Melebarkan
telinga. Mengkonsumsi media yang bermakna. Lebih jeli sedikit saja. Menyalakan
nyali sekuncup cuma. Karena semua manusia tercipta sama. Sama dengan
kelebihan dan kekurangannya. Maka perlahan akan tampak. Sedikit mulai
tersingkap. Siapa sebenarnya kita. Siapa sebenarnya hantu itu. Karena ternyata dia
hanya selembar daun pisang yang melambai di kegelapan pikiran dan hati. Saat itu
baru kemudian bibir menyunggingkan senyum. Malu. Merasa cupu. Saat itu juga
muncul kebebasan rasa. Bangga. Semua tanpa terpikir sebelumnya.
Hantu adalah semua kosa kata yang menjelaskan sebab perasaan takut mencakup.
Ia bisa diri kita, keinginan, rasa, atau pencapaian yang tertunda. Bisa juga ia teman
kita. Teman akrab kita. Atau dia sama sekali orang lain yang belum pernah kita
kenal sebelumnya.
Namun yang pasti kita akan tahu bahwa hantu itu hanyalah daun pisang setelah
kita berani memberikan sedikit waktu otak untuk berpikir. Memberikan jiwa
berselancar. Meluangkan hati berbicara jujur. Membebaskan keinginan untuk belajar
serta mencoba, mencoba, dan mencoba lagi. Mendekat dan menyentuhnya. Baru
kita tahu. Hantu yang kita takuti hanyalah daun. Daun pisang.[]
Semarang, 23 January 2008
9:15 PM

K A PA L I D E A L I TA

Gadis kecil tersebut tetap menangis. Sebagian penumpang kapal menghampiri


penuh kesal. Mencoba menghentikan tangisnya tapi nihil. Sia-sia. Tangisnya
mengudara beresonansi dengan kemurkaan badai, sambaran petir, dan ombak
besar yang terus-menerus menghantam badan kapal. Lalu perlahan semua orang
pun meninggalkannya.
Cuaca di angkasa semakin buruk dan menakutkan. Angin kencang yang terus
bertiup sesekali hampir membalikkan posisi kapal. Gelap malam pun mulai
menunjukkan karakternya. Udara dingin seakan meremukkan tulang para
penumpang.
Nahkoda kapal panik. Dan semakin resah saat melihat gadis kecil gaun merah
bersikukuh duduk memeluk erat kedua lututnya. Menangis.
Gadis kecil, cukupkan tangismu! pinta sang nahkoda. Tapi tak ada respon.
Hentikan tangismu gadis kecil! kembali orang tua tersebut mencoba
mendiamkannya. Kali ini dengan nada sedikit keras. Tapi tetap sama.
Langit di atas kapal gelap seram. Bahkan hujan terun sangat lebat disertai kilatan
petir yang menyambar-nyambar sisi atap kapal. Sang nahkoda mencoba membujuk
agar ia masuk kamar. Tapi ia menolak. Ia tetap duduk di kursi kecil yang dipayungi
kain biru parasit melingkar. Tiba-tiba tampak bayangan besar mengahampiri gadis
rambut acak diterpa angin.
sini, biar aku yang tangani! pinta orang aneh itu dengan nada keras membentak.
Dan nahkoda pun berlalu meninggalkannya penuh khawatir. Sebab di kedua tangan
orang tersebut ada gulungan tali besar dan potongan-potongan tali pendek. Ia
hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada gadis tersebut.
Sesaat kemudian orang tak dikenal itu mengikat kedua kaki dan tangan gadis
tersebut. Gadis itu pun berontak. Berteriak meronta-ronta. Tapi percuma karena
terlalu kuat cengkeramannya. Lalu dibawanya gadis tersebut ke tepi kapal. Gadis
tersebut berontak dan terus meronta lagi, tapi percuma.
Aaa........! terdengar jeritan histeris.
Namun tidak ada penumpang yang mendengarnya sama sekali, karena hujan
sangat lebat. Kilatan petir menerkam suara jeritan. Badai kian keras mengahantam.
Langit tak terlihat kecuali hanya pekat dan gelap. Kapal terus teromabang-ambing
tidak karuan. Ternyata jeritan itu berasal dari mulut gadis itu. Orang aneh itu telah
melemparnya jatuh dari kapal.
Selang beberapa detik orang aneh itu menariknya lagi ke kapal. Basah kuyup.
Menggigil kedinginan. Tampak pucat wajahnya. Tapi sungguh mengherankan, dibalik
wajah pucatnya tersirat musnahnya kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan.
Aku sadar, aku tahu, aku mengerti. kesah sang gadis dengan sisa-sisa suaranya
sebelum akhirnya pingsan. Lalu orang aneh itu pun membawanya ke tempat
rujukan.
***
Kita sering bersedih dan larut dalam kegelisahan lantaran permasalahan yang
memuramkan keadaan. Merasa berat dan tidak mungkin kemelut akan hanyut

bermuara pada keceriaan. Tidak ada harapan kecuali kehampaan. Kapal kehidupan
yang kita naiki seakan telah hancur berkeping-keping diterpa badai dan gelombang.
Idealitas kita pun kandas. Gagal dan gagal lagi. Kegembiraan sirna tertelan duka.
Dan entah kapan ia akan ditemukan. Rasanya ingin lari saja dari kenyataan. Terus
bersedih dan tercelup larut di dalamnya. Orang lain dirasa begitu enaknya
mengapungkan tawa. Sedangkan diri seperti dalam neraka. Bahkan tidak jarang
yang kemudian memutus nadi sebagai nada solusi dikira.
Lalu harus bagaimana? Pemahaman akan tabiat hidup memang harus dikuasi. Itu
yang akan membantu meringankan langkah. Membangkitkan semangat dalam
menapaki terjalnya hidup dan cita-cita. Hal itu juga yang senantiasa memberi
energi baru untuk tetap berrdiri dari keterpurukan dan rasa putus asa. Cuma
mungkin untuk mendapatkan pemahaman itu yang kadang menjadi masalah.
Biasanya kita hanya punya sedikit ilmu dan wawasan, sehingga picik dalam cara
berpikir. Kerdil dalam mengambil sikap dan tindakan, karena miskin pengalaman.
Atau mungkin kita mengabaikan nasihat bijak kehidupan.
Jika pemahaman tabiat hidup tidak juga didapati maka kita mungkin perlu
diperlakukan seperti gadis kecil itu. Yang terus-menerus menangis takut lantaran
terkaman badai, hantaman gelombang, dan teriakan petir. Dia sangat khawatir akan
keselamatan dirinya. Ia merasa cuma ia yang merasakan ketakutan itu, meski
seluruh penumpang pun merasakan hal yang sama. Kalut dan takut. Namun setelah
dilempar ke laut, ia diam. Berhenti dari tangisnya dan berkata: Aku sadar, aku
tahu, aku mengerti. Ia sadar dan mengerti bahwa keadaan saat ia di atas kapal
terasa lebih nyaman dan belum apa-apa jika dibandingkan dengan keadaan di
dalam lautan.
Mungkin kita perlu dihadapkan pada permasalah yang lebih berat dan sulit. Hingga
tersudut pada pengambilan sikap dan keputusan yang membingungkan. Atau
mungkin kita perlu disekap tanpa materi yang bisa dimanfaatkan. Atau mungkin
kita harus menjadi orang miskin, biar merasakan segala penderitaan yang
didekapnya setiap hari. Agar kita menjadi sadar, tahu, dan mengerti. Tapi akan lebih
baik jika semua itu tidak perlu. Karena semua itu kembali pada diri kita. Bagaimana
kita harus bersikap terhadap apa yang menimpa kita. Itulah yang perlu kita
pikirkan. Apakah kita akan bersedih dan terus menyesal? Apakah kita akan bersikap
positif karena semua itu mengandung pelajaran yang harus diambil? Tentu sikap
kedua yang harus kita pilih. Maka itu tidak pantas jika kita terus bersedih dan larut
di dalamnya. Karena begitulah tabiat kehidupan.
Begitulah tabiat hidup. Tidak selamanya keceriaan akan menemani kita dengan
candanya. Tidak selalu jalan hidup lurus, datar, dan berlantaikan permadani. Namun
tak perlu berkecil hati, karena di dunia tidak ada yang abadi. Tidak terkecuali
kegagalan dan kehancuran yang menjadi sumber kehidupan. Kapal idealita kita
harus tetap berjalan, melaju, menerjang badai dan gelombang.[]
Semarang, 28 Mei 2008
10:11 AM

K E K U ATA N T E R S E M B U N Y I

Pesawat take off dari landasan dan meluncur dengan sangat cepat 700 km/jam.
Bermanuver mematahkan sendi-sendi awan. Menabrak partikel-partikel udara dan
membuat garis lurus di wajah angkasa dengan ekor koloidnya. Lalu menukik tajam
selaksa lang menerkam mangsa. Atau selaksa cinta yang terbakar di mata jatuh ke
hati. Keanggunan desain aerodinamis yang kagum menggetarkan.
Pada ketinggian 2.000 meter sekepal materi terlepas dari perut pesawat. Jatuh
bebas tertarik cepat oleh gravitasi menuju pusat bumi.
Duarr!! ledakan keras terjadi saat kepalan materi menghantam permukaan bumi.
Uranium terfragmentasi oleh netron-netron yang membombardir tubuhnya. Netronnetron yang terlempar keluar dari inti pertama yang pecah menabrak inti lain dan
memecahnya pula. Reaksi berantai pun berlangsung dalam waktu sepersejuta detik
dan menghasilkan energi seribu milyar kilo kalori. Bom menjelma menjadi gas, dan
temperaturnya meningkat menjadi beberapa juta derajat dan tekanannya meroket
menjadi satu juta atmosfer.
Hirosima dan Nagasaki hancur dalam sekejap. Penduduk sipil pun tidak sempat
menutup mata apalagi menghela nafas mencium aroma oksigen. Binatang melata
pencegah kemurkaan Tuhan pagi itu menghentikan tugasnya. Mati. Mati dalam
hitungan sepersekian detik. Yang tersisa hanyalah radiasi initial flash yang terus
berlari pada radius puluhan kilometer dari ledakan dengan kecepatan 200.000
km/detik. Praktis mereka yang berada pada jarak itu mengalami kerusakan
permanen pada indra penglihatan.
Bumi berguncang oleh tekanan ledakan. Disusul gelombang kejut yang terus
menyebar sepanjang permukaan bumi layaknya ular ganas memburu seekor tikus
karena lapar. Menara, jembatan, dan gedung-gedung tinggi yang dibangun dari
baja-baja rusak. Lalu sekumpulan debu halus membumbung. Disertai letupan udara
yang sedang bereposisi. Kumpulan debu berkilat dan udara di sekitar membentuk
bola api. Radiasi panas yang dipancarkan masih sangat panas dan berpendar
seperti matahari. Bahkan sangat mudah membakar zat-zat yang mudah terbakar
meskipun berada pada radius 4-5 km. Lambat laun bola api mendingin dan
volumenya mengecil. Karena lebih ringan dari udara, bola api itu mulai merayap
naik perlahan. Dan menjelma seperti jamur. Sebuah pemandangan yang tidak bisa
dilupakan bagi siapa saja yang menyaksikan.
Aku tidak tahu kepada siapa aku harus meminta maaf. Aku tidak menyangka akan
seperti ini. Pilot pesawat shock. Mengalami kedukaan terdalam. Fitrah sebagai
manusia mucul seketika. Perasaan bersalah membunuh jiwa mengapung. Ketaatan
pada pemimpin dirasa telah menjebaknya menjadi manusia paling kejam di dunia.
Membunuh ribuan nyawa. Menghancurkan peradaban kota. Menjadikan dunia gelap
terlelap kebiadaban nafsu membalas dendam.
Mayat berserak hangus terbakar. Bahkan di pusat ledakkan tidak tersisa sama sekali
kecuali hanya nama. Nama yang selalu menemani sepanjang hidup. Yang terungkap
setelah kota seberang hilang. Hilang oleh sekepal materi uranium yang terganggu
entitasnya.

***
Tidak terduga sebelumnya. Melewati perkiraan orang-orang. Menghancurkan logika
orang awam. Menghempaskan tuduhan gila bagi pencetusnya. Begitulah yang
terjadi. Semua mata memandang ke titik di dunia dalam peta. Asia Timur. Setelah
peristiwa pengeboman kedua kota tersebut.
Peristiwa mencengangkan dan paling menggetarkan sepanjang peradaban
kehidupan manusia. Bagaimana tidak? Logika siapa yang bisa menerima jika
ternyata uranium yang hanya sekepal tangan bisa meluluhlantakkan dua kota
dalam sekejap?! Sangat sulit diterima oleh akal pada awalnya. Hingga layak
mendapat predikat gila bagi sang pemilik ide. Tapi sejarah telah membuktikan.
Uranium yang diusik aktivitas partikel intinya akan menyebabkan kestabilannya
terganggu. Sehingga inti akan bereaksi untuk mempertahankan keadaan awal.
Menghasilkan energi yang berlipat-lipat. Hanya dalam sepersekian detik mampu
menghasilkan energi hingga ribuan milyar kalori.
Itu adalah kekuatan tersembunyi yang dimiliki oleh sebuah atom uranium di dalam
inti. Yang hanya akan keluar manakala kestabilannya terusik. Lalu bagaimana
dengan kita? Bukankah manusia sebaik-baik makhluk ciptaan Allah? Bukankah inti
uranium hanyalah sebuah materi mati yang berukuran sangat kecil dan tak terlihat
oleh mata dengan teknologi paling maju sekalipun? Bisakah kita menemukan
kekuatan tersembunyi dalam diri kemudian meledakkannya?! Bisa. Kita semua bisa.
Tapi hanya beberapa yang mau dan telah membuktikannya. Sebagian besar
manusia enggan untuk menggali kekuatan tersembunyi dalam diri. Tidak tahu cara
menemukannya. Kadang sudah tahu tapi tidak tahu bagaimana mengembangkan
dan mengarahkan menjadi prestasi puncak dalam hidupnya. Apa penyebabnya?!
Aktivitas rutin seringkali menjadi mesin pembunuh kekuatan tersembunyi. Pagi
berangkat sekolah atau kerja. Sore istirahat. Malam bercengkerama dengan
keluarga. Akhir pekan ke luar kota. Begitu seterusnya. Tanpa terasa umur sudah
separuh baya. Kesempatan membuat prasasti dengan mengukir prestasi di
sepenggal sisa hidup dirasa terlambat. Akhirnya tanpa sadar memilih untuk menjadi
manusia biasa. Biasa seperti seperti pada umumnya. Biasa saja.
Atau waktu luang. Menyenangkan dan melenakan raga berpaling dari tujuan.
Berkata nanti. Nanti akan saya kerjakan. Setelah kisah sendu di mataku berakhir.
Ketika hati ini ceria lagi karena aku butuh hiburan. Termanja-manja di depan sinema
berkelanjutan. Terpasung pasif tanpa ada investasi sedikit pun dari waktu yang
terbuang.
Hentikan kawan! Mungkin kita butuh teman yang mengatakan itu. Mengingatkan
kita untuk berhenti dari kebiasaan harian tanpa arah dan arahan. Mengajari kita
untuk belajar mendengar dan mendengarkan. Sebab kita bisa mendengar tapi
belum tentu mampu mendengarkan. Mendengarkan adalah aktivitas menyengaja
untuk mendengar. Sedangkan mendengar kita bisa melakukan kapan saja karena
tidak perlu menyengaja melakukannya. Mendengar dan mendengarkan bisikan
kata-kata hati. Mendengar dan mendengarkan desah potensi yang mulai tumbuh
bersemi dalam diri. Lalu mengarahkannya menjadi ledakkan prestasi yang dahsyat!
Kita butuh mereka yang mau dan peduli membantu kita untuk tersadar dan
membangunkan kekuatan tersembunyi yang telah lama tertidur dalam diri kita.
Dalam kekuatan fisik yang kita punya. Kejeniusan otak yang mahal harganya.
Keanggunan akhlak penakluk keangkuhan seseorang. Dan sederet talenta yang
dengan itu orang lain akan melayangkan pujian kepada kita. Mengagumi bahkan
mengidolakan hingga terdengar jeritan histeris saat kita menyapa.
Mereka yang peduli kepada kita adalah laksana pemicu yang menjadikan atom kecil

meledak dan menghasilkan energi berlipat-lipat. Menghancurkan kesombongan


peradaban dan keangkuhan bangunan yang berdiri kokoh. Memanggil dan menyita
perhatian dunia. Tapi apa jadinya jika ternyata tidak ada yang peduli dengan talenta
yang kita punya? Sehingga kita tidak pernah tahu kalau kita sebenarnya berbakat
dalam suatu bidang dan expert?!
Jangan berkecil hati. Saat tidak ada orang yang memperhatikan kita. Saat tidak ada
yang mau membantu menemukan dan mengembangkan kekuatan tersembunyi
dalam diri. Justru saat itulah peluang terbesar yang kita miliki. Bukankah banyak
pahlawan yang lahir justru karena keadaan yang memaksanya untuk menjadi
pahlawan?! Bukankah banyak karya besar yang lahir di balik teralis besi penjara?!
Bukankah sangat banyak di antara mereka, orang-orang besar lahir dalam
keterbatasan?! Mereka mampu menjadi pahlawan dan mencipta karya besar justru
dipicu oleh keterbatasan. Keterbatasan materi, fisik, bahkan kemampuan.
Setiap kita punya kekuatan tersembunyi. Kita hanya butuh pemicu. Pemicu untuk
meledakkannya dan menyita perhatian dunia.[]
Semarang, 11 November 2008
10.08 AM