Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA MENJELANG AJAL

(TERMINAL)
Tugas ini disusun dalam memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik
Pengampu
Liya Novitasari,S.Kep.,Ns

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5
Alice dos Reis

010213a016

Luciana Celeste Amaral

010213a023

Fransisco Soares

010213a020

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2014

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi maha penyayang , puji
syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang atas nikmatnya maka penulis dapat
menyelesaikan penyusunan ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN
MENJELANG AJAL/ TERMINAL. Penulis makalah ini merupakan salah satu tugas
mata kuliah keperawatan gerontik. Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa
masih banyak kekurangan kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengigat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua
pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Ungaran, . September 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam merawat lanjut usia yang tidak ada harapan untuk untuk sembuh,
seorang

perawat

professional

harus

mempunyai

keterampilan

yang

multikompleks. Sesuai dengan peran yang dimiliki, perawat harus mampu


memberi pelayanan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental,
sosial, dan spiritual. Perawat juga dituntut untuk membangun anggota
keluargannya dalam memenuhi kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami
perasaan hidup dan mati.
Pemberian asuhan keperawatan pada lanjut usia yang sedang
menghadapi sakaratul maut tidak selamanya mudah. Klien lanjut usia akan
memberi reaksi yang berbeda-beda, tergantung pada kepribadian dan cara klien
lanjut usia menghadapi hidup. Bagaimanapun keadaannya, perawat harus dapat
menguasai situasi, terutama terhadap keluarga klien lanjut usia. Baiasanya
anggota keluarga yang dalam keadaan krisis ini memerlukan perhatian perawat
karena kematian seseorang dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat pula
berlangsung berhari-hari. Kadang-0kadang sebelum ajal tiba, klien lanjut usia
kehilangan kesadarannya terlebih dahulu.
Meninggal adalah suatu pengalaman yang tak ada duannya dalam hidup,
dan dimana-mana tapi jarang di teliti.
Penelitian dimasa lalu menghasilkan beberapa model kesiapan pasien.
Salah satu ialahmodel Kubler-Ross, dengan tahapan menolak, marah, menawar,
murung, menerima, mengharap. Atas dasar ini dokter dapat membantu pasien
yang mebghadapi akhir hayat, berupaya kea rah menerima dan berharap, bidang
yang sulit ini terus menerus di teliti.
Kemajuan teknologi medic seperti pernapasan buatan dan dialysis ginjal
telah berhasil memperpanjang umur pasien, yang dahulu dapat di pastikan
meninggal.
Meskipun banyak pasien dapat memanfaatkan kemajuan ini dan proses penyakit
dapat di hentikan atau di balik, mulai di pertanyakan apakah tindakan
memperpanjang umur benar sesuai dengan kepentingan pasien.

Pelayanan kesehatan sejak dulu di arahkan untuk menyembuhkan


penyakit dan mencegah kamtian, tetapi baru sekarang para dokter berhadapan
dengan keadaan menjelang ajal yang tidak dapat di elakan.
Banyak para ahli membahas segi hokum, eti, medic dan klinik tentang keputusan
di akhir hayat pasien yang tidak sepenuhnya mampu dan menghadapi kematian
segera. Salah satu pasal adalah hak pasien untuk menolak pengobatan. Untuk
Indonesia hal ini belum lazim perlu dibahas dari segiu etik dan hokum.
(Noorkasiani and S.tamber. 2009)
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Kemampuan berfikir kritis dalam memberikan asuhan keperawatan pada
lansia dengan menjelang ajal/terminal.
2. Tujuan khusus
a. Dapat memahami dan mengetahui tentang konsep dasar lanjut usia
(lansia).
b. Dapat memahami dan mengetahui dan mengetahui tentang konsep dasar
menjelang ajal/masa terminal.
c. Dapat memahami dan mengetahui tentang manifestasi klinis menjelang
ajal/terminal.
d. Dapat memahami dan mengetahui tentang tahap-tahap menjelang ajal
e. Dapat memahami dan mengetahui tentang hak-hak asasi pasien
menjelang ajal/terminal.
f. Dapat memahami dan mengetahui tentang perilaku-perilaku menjelang
ajal/terminal.
g. Dapat memahami dan mengetahui tentang asuhan keperawatan pada
pasien menjelang ajal/terminal meliputi :
Pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI LANJUT USIA (LANSIA)
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia diatas 60 tahun (uu nomor 13
tahun 1998).

Lanjut usia didefinisikan berdasarkan karakteristik sosial masyarakat yang


mengaanggap bahwa oarang telah tua jika menunjukan ciri fisik seperti rambut
beruban ,hilangnya gigi,kulit keriput,(Reimer,1999,staley and beare:2007).
WHO menggolongkan lansia berdasarkan kronologi biologis menjadi 4 kelompok
yaitu

usia pertngahan (middle age) usia antara 45-59 tahun,lanjut usia

(elderly)antara 60-74 tahun,lanju usia tua (old)berusia 75-90 tahun dan usia sangat
tua (very old) lebih dari 90 tahun.
a. Tugas perkembangan lansia (bunside, 1979)(Duval,1977) (havighurts
1953) dikutip oleh Potter dan Perry, 2005).
1) Menyesuaikan terhada penurunan kekuatan fisik dan kesehatan lansia
harus menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya penuaan
sistem tubuh,perubahan penampilan dan fungsi.Hal ini tidak dikaitkan
dengan penyakit,tetapi adalah normal.
2) Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapat lansia
umum pensiun mempunyai ketergantungan sosial ,finansial selain itu
kehilangan prestasi,kewibawaan ,peranan,sosial dan sebagainya hal itu
yang memyebabkan stress tersndiri bagi lansia.
3) Menyesuaikan terhadap kematian pasangan
Kehilangan ini sulit untuk diselesaikan,apalgi bagi lansia yang yang
menggantungkan hidupnya dari seorang yang meninggalkannya,dan
sangat berarti untuk dirinya melalui proses berdukalah lansia sedikit
terbantu menyesuaikan kehilangan ini.
4) Menermaa diri sendiri sebagai individu lansia
Beberapa lansia menemukan kesulitan untuk menerima diri sendiri
selama penuaan .mereka dapat memperlihatkan ketidak mmampuan
sebagai koping dengan menyangkal penurunan fungsi,meminta cucu
cucunya memanggil nenek atau kakek atau menolak bantuan dalam
tugas yang menempatkan keamanan mereka pada resiko yang benar.
5) Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup
Lansia dapat mengubah rencana kehidupan
6) Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak dewasa
Lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan anak
anaknya yang telah dewasa ,masala keterlibatan,peran kertelibatan
peran,ketergantungan

konflik,,perasaan

memerlukan pengenalan dan resolusi

bersalah

dan

kehilangan

7) Menentukan cara untuk memperthankan kualitas hidup lansia haarus


belajar menerima aktifitas dan minat baru untuk mempertahankan
kualitas hidupnya.seseorang yang sebelumnya aktif dalam sosial
sepanjang hidupnya mungkin merasa relatif mudah untuk bertemu orang
baru dan mendapat minat baru.
b. Tipe-tipe kepribadian lanjut usia (menurut kuntjoro 2002)
1. Tipe kepribadian konstruktif (konstrution personality)
Orang ini meiliki integritas baik ,menikati hidupnya ,toleransi tinggi
dan
mantap

fleksibel ,biasanya tipe ini tidak mengalami gejolak tenang dan


sampai sangat tua siap menghadapi pensiun dengan bijaksana

dan menghadap kematian

dengan penuh

dengan bijak sana dan

menghadapi kematian dengan penuh kesiapan mental dan fisik.


2. Tipe kepribadian mandiri (independent personality)
Pada type ini ada kecenderungan mengalami post powert sindrom,apalagi
jika pada lansia tidak di isi dengan kegiatan yang ada dapat memberikan
otonomi.
3. Type kepribadian tergantung(dependent personality)
Tipe ini biasanya sangat di pengaruhi kehidupan

keluarga

,apabila,kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak


bergejolak ,tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang di
tinggalkan akan menjadi sedih yang mendalam .tipe ini saat mengalami
pensiun,tidak inisiatif,pasif tetapi masih tahu diri dan masih dan masih
dapat diterima oleh masyarakat.
4. Type kepribadian bermusuhan (hostle Personalty)
Pada tipe ini lansia tetap merasa tidak pus dengan kehidupannya banyak
keinginan yang tidak di perhitungkan sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya

menurun,mereka

menganggap

orag

lain

yang

menganggap,selalu mengeluh curiga.menjadi tua tidak ada yang


dianggap baik takut mati dan iri hati dengan yang muda.
5. Tipe kepribadian defensive
Tipe ini selalu menolak bantuan, emosi tidak terkontrol,bersifat
compulsif aktif .mereka takut menjadi tua dan tidak menyenangi masa
pensiun.
6. Tipe kepribadian kritik diri (self hate Personality)

Pada lansia ini umumnya terlihat sengsara ,karena perilakunya sendiri


sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya .selalu
menyalakan diri,tidak memilik ambisi dan merasa korban keadaan.
3. JENIS JENIS PENYAKIT TERMINAL
Adapun yang dapat dikategorikan sebagai penyakit terminal adalah:
1. Penyakit-penyakit kanker.
2. Penyakit-penyakit infeksi.
3. Congestif Renal Falure (CRF)
4. Stroke Multiple Sklerosis.
5. Akibat kecelakaan fatal.
6. AIDS.
4. MANIFESTASI KLINIK
1. Fisik
a. Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur
dimulai dari ujung kaki dan ujung jari.
b. Aktivitas dari GI berkurang.
c. Reflek mulai menghilang.
d. Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab
e.
f.
g.
h.
i.
j.

terutama pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas.


Kulit kelihatan kebiruan dan pucat.
Denyut nadi tidak teratur dan lemah.
Nafas berbunyi, keras dan cepat ngorok.
Penglihatan mulai kabur.
Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri.
Klien dapat tidak sadarkan diri.

2. Psikososial
Sesuai dengan fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E. Kuber Ross
mempelajari respon-respon atas menerima kematian dan maut secara
mendalam dari hasil penyelidikan/penelitiannya yaitu:
1. Respon kehilangan
Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah (air
muka), ketakutan, cara tertentu untuk mengulurkan

2.

tangan.
Cemas diungkapkan dengan cara menggerakkan otot

rahang dan kemudian mengendor.


Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka

atau menanggis.
Hubungan dengan orang lain
Kecemasan timbul
mampuan untuk

akibat

ketakutan

akan

ketidak

berhubungan secara interpersonal serta akibat penolakan.

3. GRIEVING (Berduka)
Berduka merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan , biasanya
akibat perpisahan . Dimanifestasikan dalam perilaku, perasaan dan pemikiran .
Berduka juga merupakan proses mengalami reaksi psikologis, fisik, dan sosial
terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respon yang ada dalam berduka yaitu
keputusasaan, kesepian, ketidakberdayaan, kesedihan, rasa bersalah dan marah .
Berduka juga mencakup pikiran, perasaan dan perilaku
Breavement adalah respon subjektif dalam masa berduka yang dilalui
selama reaksi berduka. Biasanya berefek pada masalah psikis dan kesehatan .
Sedangkan berkabung adalah periode penirimaan terhadap kehilangan dan
berduka yang terjadi selama individu dalam masa kehilangan. Sering
dipengaruhi oleh kebudayaan dan kebiasaan.
1. Reaksi Berduka
a. Menolak dan Isolasi
Tidak percaya terhadap hal tersebut.
Tidak siap menghadapi masalah.
Memperhatikan
kegembiraan
yang

dibuat-buat

(menolak

berkepanjangan).
b. Marah (Anger)
Marah terhadap orang lain untuk hal-hal sepele: iritabel/sensitive.
c. Bargaining/tawar menawar
Mulai tawar menawar terhadap loss.
Mengekspresikan rasa bersalah , takut , putisment terhadap rasa berdosa,
baik nyata maupun imajinasi
d. Depresi
Rasa berduka terhadap apa yang terjadi.
Kadang bicara bebas atau menarik diri.
e. Acceptane/penermaan
Penurunan interest lingkungan sekitar.
Berkeinginan untuk membuat rencana rencana .
2. Konsep Teori Berduka
a. Teori Engel ( 1964)
Teori ini memiliki cirri cirri bahwa berduka terdiri dari syok , tidak
percaya, mengembalikan kesadaran , mengenali dan restitusi .
b. Teori Kubler Ross ( 1969)

Konsep berduka terdiri atqs lima tahap diantara lain mengingkari,


marah, fase tawar-menawar, fase sedih yang mendalam dan
penerimaan.
c. Teori Rando (1991)
Pada teori rando terdiri dari penghindaran, konfrontasi, dan
akomodasi. Meskipun tidak ada dua orang yang bereaski sama
terhadap kematian dan ajal, namun respon fisiologis dan psikologis
terhadap kemkatian, yang dikenal sebagi berduka telah digambarkan
dalam tahapan tahapan oleh orang orang terkenal seperti engel,
linderman, Parkes, Bolbley, dan Kubler Ross.
Berduka merupakan respo0n normal dan universal terhadap
kehilangan yang dialami melalui perasaan, perilaku, dan penderitaan
emosional. Berduka adalah proses pergeeseran melewati nyeri akibat
kehilangan. Kehilangan kesehatan, teman , kerabat, pekerjaan ,
keamanan financial merupakan sebagian dari kehilangan kumulatif
yang menyebabkann berduka pada lansia. Periode berduka adalah
waktu penyembuhan , adaptasi, dan pertumbhan.
Asuhan keperwatan untuk pasien dan pemberi perawatan yang
berduka memerlukan rasa saling memberi yang sensitive, peduli dan
empati. Berbagai pendapat, perasaan dan ketenangan merupakan
intervensi keperawatan yang paling tepat . Bimbingan adaptif dapat
membantu mereka mempersiapkan orang yang menjelang ajal untuk
mengahadapi nyeri dan perasaan alamiah mereka yang berhubungan
dengan proses berduka .
4. DYING (Sekarat/ Menjelang mati)
Sekarat adalah bagian dari kehidupan yang merupakan proses menuju kematian.
Dengan makin meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, meningkat pula jumlah
penderita penyakit kronis, yang pada suatu saat mengalami keadaan dimana tidak
ada sesuatu yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kemampuan melakukan
aktivitas sehari hari .
Bagi penderita yang keadaannya tidak sadar/koma dalam, semua fungsi
organ jelas tidak bisa membaik dengan berbagai pengobatan, keadaan yang jelas
tidak member harapan . Akan tetapi apabila penderita masih dalam kesadaran

penh , dan masih mampu bermobilisasi , dengan berbagai fungsi organ yang
masih berfungsi, mka persoalan etika hokum menjadi lebih rumit.
Dalam hal diatas yang menjadi masalah bagi praktek kedokteran di
Indonesia adalah bagaimana memberitahukan keadaan sebenarnya pada penerita
yang sering kali member beban psikologis sangat berat, sehingga keluarga
kerapkali menyembunyikan kebenaran dari klien . menurut hak azaz otonomi ,
seharusnya klien lah yang paling berhak tahu atas kondisi kesehatan nya.
Perawat berkewajiban untuk berikan pandangan yang jelas mengenai
makna kematian bagi individu , keluarga sehingga perawatan klien menjelang ajal
harus nyaman dan terhormat. (Hockey,1989;Hurtig dan Steven,1990)
Dying atau menjelan ajal adalah bagian dari kehidupan yang merupakan
proses menuju akhir (Kematian)
Kematian adalah apabila seseorang tidak lagi teraba denyut nadinya ,tidak
bernafas selamabeberapa menit dan tidak menunjukan segala reflex, serta tidak
ada kegiatan otak.
a. Teori teori dying (menjelang ajal / sekarat)
Penulis yang paling dikenal dalam bidang kematian dan menjelang ajal
adalah Elizabeth KublerRoss. Hasil kerjanya membuat peka perawat ,
professional layanan kesehatan dan konsumen terhadap proses menjelang ajal
dan kebutuhan-kebutuhan yang melekat pada orang yang menjelang ajal.
Teorinya mengatakan bahwa orang yang menjelang ajal mengalami lima
tahap, dimulai dengan penyingkapan awal terminalitas dan berakhir dengan
momeng akhir kehidupan. Tahap l, penyangkalan dan isolasi, biasanya
mewakili pertahanan temporer yang digantikan dengan penerimaan parsial.
Penyangkalan ini tidak boleh diinterpretasikansebagai adaptasi yang negative
atau merendahkan. Sebagai pertahanan awal, penyangkalan membantu
seseorang dengan melindunginya dari ansietas dan ketakutan. Pada Tahap II,
kemarahan dan penyangkalan digantikan dengan perasaan marah , gusar , iri ,
kebencian,. Hal ini dianggap sebagai salah satu tahap yang paling sulit bagi
keluarga dan pemberi perawatan karena perasaan ini sering diarahkan pada

mereka. Selama Tahap III, tawar menawar, orang sering berupa negosiasi
dengan Tuhan untuk mendapatkan tambahan waktu. Tahap IV, depresi ,
meliputi 2 jenis kehilangan : kehilangan yang terjadi di masalalu dan
kehilangan hidup yang akan terjadi. Yang disebut sebagai persiapan berduka
oleh Kubler Ross. Tahap V , penerimaan , merupakan fase akhir dari proses
menjelang ajal.
Amberton mengisolasi empat strategi koping utama yang digunakan oleh
orang yang menjelang ajal.: penyangkalan , ketergantungan , pemindahan ,
dan regresi. Teorinya menekankan pada suatu pendekatan tim dalam merawat
orang yang menjelang ajal, dengan focus pada pendekatan asuhan paliatif
daripada pendekatan kuratif. Dukungan yang konsisten oleh pemberi
perawatan diperlukan pada saat pasien yang menjelang ajal terombangambing diantara berbagai bentuk ketergantungan dan kecukupan diri. Orang
yang menjelang ajal perlu mengetahui bahwa mereka tidak akan diabaikan
atau ditinggal sendiri.
Pattison tidak menyetujui pembagian proses menjelang ajal menjadi
tahapan-tahapan kronologis yang tersusun. Ia mengindentifikasi berbagai
mekanisme koping ego yang digunakan oeh orang yang menjelang ajal pada
berbagai titik yang berbeda selama siklus hidup. Lansia menggunakan
altruism, humor , supresi, pikiran , antisipasi, dan sublimasi untuk menghadapi
kebutuhan-kebutuhan terminal. Patrison merujuk pada fase-fase proses
menjelang ajal : fase akut, fase kehidupan kronis , fase menjelang ajal, fase
akhir. Ia mengatakan bahwa persiapan reaksi psikologis muncul selama
interval hidup-mati. Pendekatan individual diperlukan untuk menghadapi
stress dan krisis yang dapat muncul kapan saja dalam proses menjelang ajal.
Wiesman mengemukakan adanya kemungkinan fase-fase pada ekspresi
respons emosional yang continue dan berubah-ubah selama proses menjelang
ajal. Ia menekankan pada individualitas seseorang daripada member label
berdasarkan urutan munculnya reaksi emosional.
b. Manifestasi Klinis Dying
a. Gerakan dan pengindraan menghilang secara beraangsur angsur ,biasanya
dimulai pada anggota badan,khusunya kaki dan ujung kaki
b. Gerakan peristaltik menurun

c.
d.
e.
f.
g.

Tubuh klien lanjut usia tampak mengembung


Badan dingin dan lembab,terutama pada kaki,tangan dan ujung hidungnya
Kulit tmpak pucat,warna kebiruan /kelabu
Denyut nadi mulai tidak teratur
Nafas mendengkur berbunya keras (stridor) yang disebabkan oleh adanya
lendir pada saluran pernapasan yang tidak dapat di keluarkan oleh klien

lanjut usia
h. Tekanan darah menurun
i. Terjdi ganguan kesadaran(ingatan menjadi kabur)tubuh klien lanjut usia
tampak mengembung.
c. Tahap menjelang Ajal
(menurut Elisabeth kubbler ross)
Tahap tahap ini tidak selamanya beruntutan secara tetap ,tetapi dapat saling
tindih, kadang kadang seorang klien lanjut usia melalui satu tahap tertentu
untuk kemudian kembali ke tahap itu. Lama setiap tahap dapat
bervariasi.mulai dari beberapa jam sampai beberapa bulan apabila tahap
tertentu berlangsung sangat singkat, biasa timbul kesan seolah olah klien
lanjut usia melompati usia tahap, kecuali jika perawat memperhatikan secara
seksama dan cermat.
a. Tahaap pertama (penolakan/denial and isolation)
Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan .Biasanya,sikap itu
ditandai dengan komentar ,saya?Tidak itu tidak mungkinSelama tahap
ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpah
semua orang kecuali dirinya.klien lanjut usia biasanya terpengaruh oleh
sikap penolakan sehingga ia tidak memperhatikan facta yang munking
sedang di jelaskan kepadanya oleh perawat ,ia bahkan menekan apa
yang telah ia dengaratau mungkin akan meminta pertolongan dari
berbagai macam sumber profesional dan non profesional dalam upaya
melarikan diri dari kenyataan bahwa maut sudah berada di ambang pintu.
b. tahap kedua (marah atau anger )
Tahap ini ditandai oleh rasa marah dan emosi yang tidak terkendali.Klien
lanjut usia itu berkata mengapa saya?sering kali klien lanjut usia akan
slalu mencela setiap orang dalam segala hal.ia mudah marah terhadap
perawat dan petugas kesehatan lainya tentang apa yang mereka
lakukan.pada tahap ini,klien lanjut usia lebih menganggap hal ini
merupakan hikmah,dari pada kutukan.kemarahan di sini merupakan
mekanisme pertahanan dari klien lanjut usia akan tetapi ,kemarahan

sesungguhnya tertujuh kepada kesehatan dan kehidupan pada saat ini


pada saat ini perawat kesehatan harus hati hati dalam memberi penilaian
sebagai reaksi yang normal terhadap kematian yang perlu diungkapkan.
c. Tahap ketiga (tawar menawar/bergaining)
Pada tahap ini,klien lanjut usia pada hahekatnya berkata, ya benar aku,
tetapi Kemarahan biasanya mereka dan klien lanjut usia dapat
menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi
dengan dirinya .Akan tetapi pada tahap tawar menawar ini banyak orang
cenderung untuk menyelsaikan urusan rumah tangga mereka sebelum
maut tiba,dan akan menyiapkan beberapa hal,misalnya membuat surat
dan mempersiapkan jaminan hidup bagi orang tercinta yang ditinggalkan.
Selama tawar menawar ,pembohongan yang dikemukakan hendaknya
dapat dipenuhi karena merupakan urussan yang belum selesai dan harus
diselesaikan sebelum mati,misalnya klien lanjut usia mempunyai
permintaan terakhir untuk melihat pertandingan olah raga ,mengunjungi
kerabat,melihat cucu terkecil,atau makan di restoran,perawat dianjurkan
memenuhi permohonan itu karan membantu klien lanjut usia memasuki
tahap berikutnya
d. Tahap keempat(sedih /depresi)
Pada tahap ini klien pada lanjut usia pada hakekatnya berkatayang benar
aku.Hal merupakan saat yang menyedihkan karena klien lanjut usia
sedang dalam suasana berkabung,dimasa lampau ,ia sudha kehilangan
orang yang yang dicintai dan sekarang ia akan kehilanaagan nyawanya
sendiri,bersamaan dengan itu,ia harus meninggalkan semua hal yang
menyenangkan yang telah dinikmatinya.selama tahap ini,klien lanjut usia
cenderung tidak banyak bicara

dan sering menangis,saatnya bagi

perawat untuk duduk dengan tenang disamping klien lanjut usia yang
sedang melalui masa sedihnya sebelum meninggal.
e. Tahap kelima(Menerima /acceptance )
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian ,menjelang saat ini,
klien lanjut usia telah membereskan segala urusan yang belum selesai
dan mungkin tidak ingin bicara lagi karena sudah menyatakan segala
sesuatu,tawar menawar sudah lewat dan tibalah saat kedamaian dan
ketenangan .Seseorang mungkin saja lama ada pada tahap menerima

tetapi bukan tahap pasrah yang berarti bukan kekalahan.dengan kata lain
pasrah pada maut tidak berarti tidak menerima maut.
d. hak asasi pasien menjelang ajal
Lanjut usia berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai ia
mati. Adapun hak hak pasien yang mengalami sakratul maut :
a. Berhak tetap untuk merasa mempunyai harapan meskipun fokusnya
dapat sajah berubah
b. Berhak dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus harapan
walaupun dapa berubah .
c. Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang
sudah mendekat dengan caranya sendiri
d. Berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai
perawatnya .
e. Berhak untuk menghaarapkan terus mendapatkan perhatian medis dan
perawatan waalaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan
f.
g.
h.
i.
j.

memberi rass nyaman.


Berhak untuk tidak mati kesepian
Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri
Berhak untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan
Berhak untuk tidak di tipu
Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalm

menerima kematian.
k. Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat
l. Berhak untuk mempertahakan individualitas dan tidak dihakimi atas
keputusan yang mungkin saj bertenntangan dengan orang lain
m. Membicarakan dan memperluas pengalaman keagamaan dan kerohanian
n. Berhak untuk mengharapkan bahwa sesudah tubuh manusia akan di
hormati sesudah mati.
e. Perilaku Mejelang Ajal
Seseorang yang menjelang ajal ada u pola perjalanan klinis yang ditunjukan
oleh prilaku klien menurut marthoccio pattem of living dying seperti :
a. Pola puncak dan lembab.
Pola ini memiliki karakteristik sehat yang tinggi (puncak) dan periode
krisis (lemah).Pada kondisi puncak klien mempunyai harapan yang tinggi
pada kondisi yang lembab sebaga kondisi yang menakutkan dan bisa
menimbulkan penurunan

depresi

pada pola ini

walaupun pad

kondisipuncak tetapi terjadi penurunan terus menerus sampai kematian

b. pola dataran yang turun karakteristik dari pola ini adalah adanya sejumlah
kemunduran yang terus bertambah dan tidak terduga dalam periode yang
tidak dapat

dipastikan .klien hampir tidak kembali pada kesehatan

semulah sebelum crisis semulah

sebelum krisis secara emosional

,pernyatan sis-sia dan kemaraha klien serta keluarga


c. Pola tebing yang menurun
Penurunan kondisi yang menetap atau stabil yang menggambarkan
semakin buruknya keada klien ,kondisi penurunan dapat di baik dalam
ukuran jam atau hari.Klien biasanya jatuh dalam kondisi yang tidak sadar
dan sedikit waktu untuk berpamitan dengan keluarga,banyak ditemui di
ICU.
d. Pola landai turun sedikit-sedikit
Karakteristik dari pola ini kehidupan yang mulai surut ,berlahan dan
hampir tidak teramati sampai akhirnya menghebat menuju kematian,
terkadang masih terpasang alat bantuan hidup.
5. DEATH (kematian)
Kematian adalah kondisi berhentinya fungsi organ tubuh secara menetap
atau terhentinya kerja otak secara menetap. Meninggal dunia adalah keadaan
insane yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak,
pernafasan dan denyut jantung seseorang telah terhenti . Kematian adalah satu
fase kehidupan yang terakhir bagi manusia. Persepsi seseorang tentang kematian
berbeda-beda. Dalam merawat lansia yang tidak ada harapan untuk sembuh,
seorang perawat profesional harus mempunyai ketrampilan yang multikompleks.
Sesuai dengan peran yang dimiliki, perawat harus mampu memberi pelayanan
keperawatan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual.
Perawat juga dituntut untuk membantu anggota keluarganya dalam memenuhi
kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan hidup dan mati.
Pemberian askep pada lansia yang sedang menghadapi sekratul maut tidak
selamanya mudah. Klien lansia akan memberi reaksi yang berbeda-beda,
bergantung pada kepribadian dan cara klien lansia menghadapi hidup.

Bagaimanapun keadaannya, perawat harus dapat menguasai situasi, terutama


anggota keluarga dalam keadaan kritis ini memerlukan perhatian perawat karna
kematian seorang dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat pula berlangsung seharihari. Kadang-kadang sebelum ajal tiba, klien lansia kehilangan kesadarannya
terlebih dahulu.
Pengertian sakit gawat adalah suatu keadaan sakit, yang klien lansia tidak dapat
lagi atau tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Pengertian kematian/mati adalah
apabila seorang tidak lagi teraba denyut nadinya, tidak bernapas selama beberapa
menit, dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otak.

Penyebab kematian diantara lain adalah sebagai berikut :


1.

Penyakit
a. Keganasan (karsinoma hati, paru, mammae)
b. Penyakit kronis, misalnya:
CVD (cerebrovaskuler disease), CRF (chronic renal failure (gagal
Ginjal), Diabetes Melitus (gangguan endokrin), MCI (myocard infark
(gangguan kardiovaskular), COPD (chronic obstruction pulmonary
disease).

2.

Kecelakaan (hematoma epidural)


Ciri/tanda klien lansia menjelang kematian:
1. Gerakan dan penginderaan menghilang secara berangsur-angsur.
2.
3.
4.

Biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki.
Gerakan peristaltik usus menurun.
Tubuh klien tampak mengembung.
Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung

5.
6.
7.

hidungnya.
Klien tampak pucat, berwarna kebiruan/kelabu.
Denyut nadi mulai tidak beraturan.
Napas mendengkur berbunyi keras (stridor) yang disebabkan oleh
adanya lendir pada saluran pernapasan yang tidak dapat dikeluarkan

8.
9.

oleh lansia.
Tekanan darah menurun.
Terjadi gangguan kessadaran (ingatan menjadi kabur)

Tanda - tanda kematian :

a. Pernapasan

terhenti,penilaian

lebih

dari

10

menit(inpeksi,

palpasi,auskultasi)
b. Terhentinya sirkulasi ,penilaian 15 menit nadi karotis tidak teraba
c. Kulit pucat ,dapat juga terjadi pada spasme agonal
d. Pembuluh darah retina bersegmentasi ,beberapa menit pasca kematian

Tanda-tanda kepastian kematian:


a. Rigor mortis
Kekakuan tubuh setelah 2-4 jam

mati karena kekurangan

ATP(adenoside triphosphat)yang tidak dapat di sintesa akibat


berkurangnya glikogen dalam tubuh.Proses rigor mortis dimulai dari
organ involunter ,kepala,leher,tubuh dan ekstremitas.maka dari itu
mayat harus diletakan terlentang ,mulut daan kelopak tertutup
sebelum rigor mortis terjadi dan akan berakhir 96 jam kematian
b. Algor moris
Penurunan suhu tubuh berlahan lahan setelah sirkulasi dan
hipotalamus tidak berfungsi .kulit kehilangan elastisitannya dan
mudah terbuka
c. Post mortem decomposition
Setelah sistem sirkulasi hilang kulit menjadi biru kehitaman karena sel
sel sudah rusak dan terjadi pelepasan Hb.untuk

memperlambat

dengan di taruh di ruang suhu rendah atau dibalsam(diawetkan).


Pemenuhan Kebutuhan Klien Menjelang Ajal
a. Kebutuhan jasmaniah.kebutuhan toleransi terhadap rasa sakit,berbeda
pada setia orang .tindakan yang memungkingkan rasa nyaman bagi
klien lanjut usia (misalnya sering mengubah posisi tidur,perawatan
fisik
b. Kebutuhan emosi .untuk menggambarkan ungkapan sikap dan
perasaan klien lanjut usia dalam menhadapi kematian

1.

Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat


(ketakutan yang timbul akibat menyadari bahwa diri nya tidak
maampu mencegah kematian )

2.

Mengkaji

hal

yang

di

inginkan

penderita

selama

mendampinginya.misalnya lanjut usia ingin memperbincangkan


tentang kehidupan di masa lalu dan kemudian hari.bila
pembicaraan tersebut berkenan,luangkan,waktu sejenak,ingat
tidak semua orang senang membicarakan kematian.
c. Peran Perawat dalam merawat pasien menjelang ajal
Memenuhi kebutuhan biologis klien
Memenuhi kebutuhan sosiologis
Memenuhi kebutuhan psikologis
Memenuhi kebutuhan spiritual
6. FASE-FASE KEHILANGAN
Masuknya klien ke dalam ancaman peran sakit pada rentang hidup-mati
mengamcam dan mengubah hemostatis. Lebih dari rasa takut yang nyata tentang
kematian dan pengaruh terhadap anggota keluarga yang dirawat dirasakan oleh
keluarga. Banyak faktor yang mempengaruhi klien dalam perawatan penyakit
terminal, apabila seseorang sudah divonis/prognosa jelek, ia tiak akan bisa
menerima begitu saja tentang apa yang ia hadapi sekarang.
Elizabeth Kubbler Ross menggambarkan 5 tahap yang akan dilalui klien dalam
menghadapi bayangan akan kematian/kehilangan yang sangat bermanfaat untuk
memahami kondisi klien pada saat ini, yaitu:
1. Tahap peningkatan atau denial
Adalah ketidakmampuan menerima, kehilangan untuk membatasi atau
mengontrol nyeri dan dystress dalam menghadapinya. Gambaran pada
tahap denial yaitu:
a) Tidak percaya diri
b) Shock
c) Mengingkari kenyataan akan kehilangan
d) Selalu membantah dengan perkataan baik
e) Diam terpaku
f) Binggung, gelisah
g) Lemah, letih, pernafasan, nadi cepat dan berdebar-debar
h) Nyeri tubuh, mual

2.

Tahap anger atau marah


Adalah kekesalan terhadap kehilangan. Gambaran pada tahap anger
yaitu:
a) Klien marah-marah
b) Nada bicara kasar
c) Suara tinggi

3.

Tahap tawar menawar atau bergaining


Adalah cara coping dengan hasil-hasil yang mungkin dari penyakit dan
menciptakan kembali tingkat kontrol. Gambaran pada tahap ini yaitu:
a)
b)
c)
d)
e)

Sering mengungkapkan kata-kata kalau, andai.


Seirng berjanji pada Tuhan.
Mempunyai kesan mengulur-ulur waktu.
Merasa bersalah terus menerus.
Kemarahan mereda.

4.

Tahap depresi
Adalah ketiada usaha apapun untuk mengungkapkan perasaan atau

5.

reaksi kehilangan. Gambaran pada tahap ini yaitu:


a) Klien tidak banyak bicara.
b) Sering menanggis.
c) Putus asa.
Tahap acceptance atau menerima
Adalah akhir klien dapat menerima kenyataan dengan kesiapan.
Gambaran pada tahap ini yaitu:
a) Tenang/damai.
b) Mulai ada perhatian terhadap suatu objek yang baru.
c) Berpartisipasi aktif.
d) Tidak mau banyak bicara.
e) Siap menerima maut.
Tidak semua orang dapat melampaui kelima tahap tersebut dengan

baik, dapat saja terjadi, ketidakmampuan menggunakan adaptasi dan


timbul bentuk-bentuk reaksi lain. Jangka waktu periode tahap tersebut
juga sangat individual. Penerimaan suatu prognosa penyakit terminal
memang berat bagi setiap individu. Ini merupakan suatu ancaman
terhadap kehidupan dan kesejahteraan pada individu tersebut. Dari
ancaman tersebut timbul suatu rentang respon cemas pada individu,

cemas dapat dipandang suatu keadaan ketidakseimbangan atau


ketegangan yang cepat mengusahakan koping.
Rentang respon seseorang terhadap penyakit terminal dapat digambarkan
dalam suatu rentang yaitu harapan ketidakpastian dan putus asa.
1. Harapan
Mempunyai respon psikologis terhadap penyakit terminal. Dengan
adanya harapan dapat mengurangi stress sehingga klien dapat
2.

menggunakan koping yang adekuat.


Ketidakpastian
Penyakit terminal dapat mengakibatkan ketidakpastian yang
disertai dengan rasa tidak aman dan putus asa, meskipun secara
medis

3.

sudah

dapat

dipastikan

akhirnya

prognosa

dapat

mempercepat klien masuk dalam maladaptif.


Putus asa
Biasanya ditandai dengan kesedihan dan seolah-olah tidak ada lagi
upaya yang dapat berhasil untuk mengobati penyakitnya. Dalam
kondisi ini dapat membawa klien merusak atau melukai diri sendiri.

7. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengkajian keadaan, kebutuhan dan masalah kesehatan/keperawatan pasien
khususnya. Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara lain apakah pasien
tabah terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari tentang keadaanya?
1. Perasaan Takut
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan denga keadaan sakit
terminal, terutama apabila keadaan itu disebabkan oleh penyakit yang
ganas. Perawat harus menggunakan pertimbangan yang sehat apabila
sedang merawat orang sakit terminal. Perawat harus mengendalikan rasa
nyeri pasien dengan cara yang tepat.
Perasaaan tankut yang muncul mungkin takut terhadap rasa nyeri,
walaupun secara teori nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat penghilang
nyeri, seperti aspirin, dehidrokodein, dan dektromoramid. Apabila orang
berbicara tentang perasaan takut mereka terhadap maut, respons mereka

secara tipikal mengcakup perasaan takut tentang hal yang tidak jelas, takut
meninggalkan orang yang dicintai, kehilangan martabat, urusan yang
belum selesai.
Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang akan
mengalami kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini, pada
umumnya orang merasa takut dan cemas. Ketakutan dan kecemasan
terhadap
kematian ini dapat membuat pasien tegang dan stress.
2. Emosi
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian, antara lain
mencela dan mudah marah.
3. Tanda vital
Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin pada suhu badan, denyut
nadi, pernafasan dan tekanan darah. Mekanisme fisiologis yang
mengaturnya berkaitan satu sama lain. Setiap perubahan yang berlainan
dengan keadaan yang normal dianggap sebagai indikasi yang penting
untuk megenali keadaan kesehatan seseorang.
4. Kesadaran
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas waspada yang
merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat, didengar, dialami, dan
perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba, getar, gerak, gerak tekan dan
sikap, bersifat adekuat, yaitu tepat dan sesuai. Berikut tingkatan kesadaran
pasien :
a. Komposmentis : sadar penuh
b. Apatis : tidak ada perasaan/kesadaran, menurun (masa bodoh)
c. Somnolen : (kelelahan, mengantuk berat)
d. Soporus : tidur lelap patologis (tidur pulas)
e. Subkoma : (keadaan tidak sadar/hampir koma)
f. Koma : keadaan pingsan lama disertai dengan penurunan daya reaksi
(keadaan tidak sadar walaupun dirangsang dengan apapun/tidak dapat
disadarkan).
5. Fungsi Tubuh
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ mempunyai
fungsi khusus.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan :
1. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan
sosial berhubungan dengan kondisi sakit terminal.

2. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan


kehilangan fungsi
3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinta dalam
keadaan terminal
4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti,
ditandai dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah
perubahan fisik, raut muka klien yang cemas.
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima
akan kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang
keadaan dirinya, meyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritannya,
menghindari kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap
orang lain maupun perawat.
6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien
dalam melaksanakan alternative ibadah dalam keadaan sakit ditandai
dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan
ibadah.
7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan.
3. RENCANA KEPERAWATAN
1. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan
sosial berhubungan dengan kondisi sakit terminal.
Tujuan :
Klien merasa tenang menghadapi sakaratul maut sehubungan dengan sakit
terminal
Intervensi :
a. Dengarkan dengan penuh empati setiap pertanyaan dan berikan respon
jika dibutuhkan klien dan gali perasaan klien.
b. Berikan klien harapan untuk dapat bertahan hidup
c. Bantu klien menerima keadaanya sehubungan dengan ajal yang kana
menjelang.
d. Usahakan klien untuk dapat berkomunikasi dan selalu ada teman
didekatnya.
e. Perhatikan kenyamanan fisik klien.
2. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan
kehilangan fungsi
Tujuan : mempertahankan rasa aman, tentram, percaya diri, harga diri dan
martabat klien
Intervensi :

a.
b.
c.
d.

Gali perasaan klien sehubungan dengan kehilangan.


Perhatikan penampilan klien saat bertemu dengan orang lain.
Bantu dan penuhi kebutuhan dasar klien antara lain hygiene, eliminasi.
Anjurkan keluarga dan teman dekat untuk saling berkunjung dan

melakukan hal-hal yang disenagi klien.


e. Beri klien support dan biarkan klien memutuskan sesuatu untuk
dirinya, misalnya dalam hal perawatan.
3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan
terminal
Tujuan :
Mengurangi rasa takut, depresi dan kesepian
Intervensi :
a Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan sedih, marah dan lain lain.
b Perhatikan empati sebagai wujud bahwa perawat turut merasakan apa
c

yang dirasakan klien.


Bantu klien untuk mengidentifikasi sumber koping, misalnya dari teman

dekat, keluarga ataupun keyakinan klien.


Berikan klien waktu dan kesempatan untuk mencerminkan arti

penderitaan, kematian dan sekarat.


Gunakan sentuhan ketika klien menunjukkan tingkah laku sedih, takut

ataupun depresi, yakinkan bahwa perawat selalu siap membantu.


Lakukan hubungan interpersonal yang baik dan berkomunikasi tentag
pengalaman pengalaman klien yang menyenangkan.

4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti,


ditandai dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah
perubahan atau tidak (fisik), raut muka klien yang cemas
Tujuan :
Klien tidak cemas lagi dan klien memiliki suatu harapan serta semangat
hidup
Intervensi :
a Kaji tingkat kecemasan klien.
b Jelaskan kepada klien tentang penyakitnya.
c Tetap mitivasi (beri dukungan) kepada klien agar tidak kehilangan
harapan hidup dengan tetap mengikuti dan mematuhi petunjuk
d
e

perawatan dan pengobatan.


Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
Datangkan seorang klien yang lain yang memiliki penyakit yang sama
dengan klien.

Ajarkan kepada klien dalam melakukan teknik distraksi, misal dengan


mendengarkan musik kesukaan klien atau dengan teknik relaksasi,

g
h

misal dengan menarik nafas dalam.


Beritahukan kepada klien mengenai perkembangan penyakitnya.
Ikut sertakan klien dalam rencana perawatan dan pengobatan.

5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima


akan kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang
keadaan dirinya, menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya,
menghindari kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap
orang lain maupun perawat
Tujuan :
Koping individu positif
Intervensi :
a Gali koping individu yang positif yang pernah dilakukan oleh klien.
b Jelaskan kepada klien bahwa setiap manusia itu pasti akan mengalami
c
d

suatu kematian dan itu telah ditentukan oleh Tuhan.


Anjurkan kepada klien untuk tetap berserah diri kepada Tuhan.
Perawat maupun keluarga haruslah tetap mendampingi klien dan

e
f
g

mendengarkan segala keluhan dengan rasa empati dan penuh perhatian.


Hindari barang barang yang mungkin dapat membahayakan klien.
Tetap memotivasi klien agar tidak kehilangan harapan untuk hidup.
Kaji keinginan klien mengenai harapa untuk hidup/keinginan sebelum

menjelang ajal.
Bantu klien dalam mengekspresikan perasaannya.

6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien


dalam melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit
ditandai dengan klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam
melakukan ibadah sholat
Tujuan :
Kebutuhan spiritual dapat terpenuhi yaitu dapat melakukan sholat dalam
keadaan sakit
Intervensi :
a Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai ibadah sholat.
b Ajarkan pada klien cara sholat dalam keadaan berbaring.
c Ajarkan tata cara tayamum.
d Ajarkan kepada klien untuk berzikir.
e Datangkan seorang ahli agama.
7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan
Tujuan :

Membantu individu menangani kesedihan secara efektif


Intervensi :
a Motivasi keluarga untuk menverbalisasikan perasaan perasaan antara
b

lain : sedih, marah dan lain lain.


Beri pengertian dan klarifikasi terhadap perasaan perasaan anggota

keluarga.
Dukung keluarga untuk tetap melakukan aktivitas sehari hari yang

dapat dilakukan.
d Bantu keluarga agar mempunyai pengaharapan yang realistis.
e Berikan rasa empati dan rasa aman dan tenteram dengan cara duduk
disamping keluarga, mendengarkan keluhan dengan tetap menghormati
f

klien serta keluarga.


Berikan kesempatan pada keluarga untuk melakukan upacara keagamaan
menjelang saat saat kematian.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Asuhan keperawatan gerontik merupakan salah satu bagian dari asuhan
keperawatan yang diberikan kepada individu lansia atau sekelompok
keluarga lansia dalam konteks peran perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan yang diberikan secara professional.
Dalam konteks keperawatan gerontik yang dilaksanakan di STIKES
Ngudi Waluyo Ungaran, mahasiswa diberikan tanggung jawab untuk
membina satu orang klien lansia yang memiliki masalah kesehatan terminal
yaitu asuhan keperawatan dengan lansia menjelang ajal (terminal) dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan dimulai dari tahap pengkajian
sampai pada tahap evaluasi guna mengetahui perkembangan kesehatan klien
lansia secara komprehensif.
WHO menggolongkan lansia berdasarkan kronologi / biologis menjadi 4
kelompok yaitu usia pertengahan (Middle age) usia antara 45-59 tahun.
Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) berusia 75-90
tahun dan usia sangat tua (very old) lebuh dari 90 tahun.
Dying / menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan yang merupakan
proses menuju akhir (kematian).

B. SARAN
1. Sebagai mahasiswa keperawatan diupayakan agar seoptimal mungkin
menerapkan konsep asuhan keperawatan secara komprenhesif dalam
melaksanakan

pasien

lansia

dengan

keadaan

terminal,

guna

meningkatkan fungsi dan peran lansia dalam menghadapi tahap-tahap


kematian dengan keadaan terhormat dan damai.
2. Bagi mahasiswa sendiri
Untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan
mengembangkan

konsep

asuhan

keperawatan

gerontik

guna
dalam

pengaplikasiannya kepada klien sebagai target.


3. Bagi pembimbing Akademik
Agar seoptimal mungkin mengupayakan kehadiran serta bimbingannya
guna membantu mahasiswa mejalani proses praktek keperawatan
gerontik dengan lebih baik sesuai target pencapaian yang ingin diraih.
4. Kritik dan saran dari pembimbing dan pembaca kami selaku penulis
membuka selebar-lebarnya guna penyempurnaan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA
Aru W sudoyo,dkk. 2006.ilmu penyakit dalam,Fd IV Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Azizah mariatul Lilik.2001.Keperawatan lanjut usia. Surabaya : Graha ilmu
Maryam,dkk2008. Mengenal usia lanjut dan perawatannya.Jakarta : Salemba Medika.
Tamher,dkk. 2009. Kesehatan usia lanjut dengan pendekatan asuhan keperawatan
Jakarta : Salemba Medika
Nugroho. 2006. Gerontik dan geriatric, Edisi 3. Jakarta : EGC