Anda di halaman 1dari 14

Rumah modern ini merupakan hasil eksplorasi bentuk massa , struktur , dan proporsi ,

didukung dengan desain inovatif juga teknologi canggih , semua terfokus untuk
mendapatkan penciptaan merek baru . Dengan mengeksplorasi ide kreatif , rumah ini
memiliki pembungkus estetika dan desain fungsional . Ridwan Kamil , perancang juga
pemilik telah berhasil merancang rumah modern di tanah trapesium dengan struktur dan
elemen mengambang .
Bangunan utama ini adalah surat U , sehingga membuat tata letak interior dipisahkan .
Dia kamar komposit sehingga membuka satu sama lain melalui bermain transparan dan
dominasi garis panggangan di interior . Setiap kamar menghubungkan sama lain dengan
ruang sisi berikutnya . Sebagai contoh, kamar tamu depan dihubungkan langsung
dengan ruang keluarga , tetapi dipisahkan dengan lantai perbedaan .
Untuk interior , Ridwan Kamil membuat tempat yang nyaman serta ia mungkin . Untuk
ruang tamu , ia meletakkan kursi Arne Jacobsen Telur kontras warna merah untuk
menarik ruangan ini . Sebuah kursi malas merah di halaman akan focal point di tempat
( Anda dapat melihat struktur beton yang membungkus kursi malas merah) . Mungkin
Anda mendapatkan inspirasi tentang rumah modern . Ada cat minimal yang digunakan .
Sebagai substitusi , ada bahan bertekstur seperti batu alam , wallpaper , panel kayu ,
besi pemanggang , dan beberapa bahan yang memenuhi papan interior . Saya suka ide
untuk menghias kamar mandi modern di merah . Dengan tambahan batu alam sebagai
pembungkus lantai , ubin keramik mengkilap dalam warna tempat ini menjadi lebih
menarik dan eye catching .

Arsitek akan selalu membuat kejutan baru dalam menciptakan karya-karya mereka .
Eksplorasi massa bentuk , struktur dan proporsi , didukung oleh desain inovatif dan
teknologi canggih fokus pada rumit karya . Tidak ada batas dalam eksplorasi desain
untuk mencapai gerakan kreatif . Ridwan Kamil , seorang arsitek perkotaan mengatakan
bahwa desain spontan dapat lebih unik untuk direalisasikan dari desain awal . Dalam
desain rumahnya di Bandung Utara , ia menyadari ide ekspresif dan kreatif dalam bahasa
arsitektur dengan desain estetis dan fungsional .
Emil , yaitu nama yang biasanya disebut , untuk melakukan desain seperti melakukan
ibadah ritual . Dia benar-benar tahu harus mematuhi peraturan dan yang peraturan
fleksibel . Jadi dia bisa membuat arsitektur yang unik dan bahasa interior di setiap desain

. Di sini , dalam desain rumah sendiri, ia menggabungkan kerjanya pengalaman ,


pengetahuan dan bermimpi untuk menciptakan sebuah rumah modern .

Ketika dirancang rumahnya , banyak ide ingin menjadi sadar . Dia menutupi bangunan
dengan secondary skin untuk menyembunyikan bangunan utama yang lebar kisaran
terbuka dengan material kaca sampai langit-langit . Arsitek menjelaskan bahwa
secondary skin seperti permukaan , tirai , partisi , jendela dan batu sandungan dari siang
hari matahari . Kulit ini terlihat unik namun fungsional , menggunakan bahan yang tidak
biasa . Dengan 30 ribu digunakan botol Kratingdaeng , mereka ditempeli dan diatur sama
lain . Komposisi ini menciptakan permukaan partisi semi- transparan . Mengapa ini botol
yang digunakan memilih ? Karena berukuran sedang dan warna oranye itas memberikan
pencahayaan alami nyaman ketika sinar matahari jatuh pada mereka . Itu efek
pencahayaan sesuai dengan tema warna interior , yang berwarna coklat kayu .

Berlokasi di daerah trapesium , orientasi desain rumah ini harus cocok dengan kondisi
lahan . Bentuk massa utama adalah U - surat dengan rumah depan cenderung ke jalan ,
sehingga interior lay -out dipisahkan sengaja . Tapi arsitek masih terdiri ruang terbuka
satu sama lain dengan penerapan efek transparan dan dominasi garis kisi-kisi di
pedalaman . Dia menggunakan struktur split level dengan dua komposisi lantai di massa
depan dan tiga komposisi lantai di massa kembali .

Ridwan Kamil adalah arsitek muda Indonesia dengan reputasi Internasional.


Nama besar dan karya-karyanya menjadi inspirasi bagi banyak arsitek muda
lainnya di Indonesia. Selain sibuk berprofesi sebagai arsitek, Ridwan Kamil juga
menjadi penggagas dan Direktur dari Bandung Creative City Forum. Salah satu
masterpiece arsitektur Ridwan Kamil adalah rumah tinggalnya sendiri.
Terletak di kota berhawa sejuk, Bandung, Indonesia, arsitek yang akrab disapa
dengan sebutan Emil ini membangun rumahnya dari 30,000 botol kaca bekas
minuman energi. Emil memilih botol minuman berenergi merk terkenal ini karena
menurutnya botol minuman ini tidak dikumpulkan kembali oleh si pemilik industri
untuk diisi ulang, seperti yang biasanya dilakukan oleh minuman ringan kemasan
botol yang banyak beredar di pasaran. Emil mengumpulkan puluhan ribu botol
kaca bekas itu selama 2 tahun! Ini menunjukkan komitmennya yang sangat
tinggi terhadap konsep rancangan dan idenya untuk sekaligus mengurangi
sampah di kotanya.

Rumah hasil karya Ridwan Kamil ini tidak cukup mendapat acungan jempol saja,
rumah uniknya mendapat gelar juara dalam Green Design Award 2009, yang
diselenggarakan oleh BCI Asia (Building Construction Information Asia).
Rumah tinggalnya yang memanfaatkan botol bekas minuman berenergi itu
ternyata berhasil menyisihkan karya delapan puluh peserta lain dari delapan
negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina,
Hongkong, dan Cina. Sungguh benar-benar prestasi anak bangsa yang sangat
membanggakan.
Bermula dari ide saat melihat pekerja bangunan di rumahnya yang sering minum
minuman berenergi, ide memanfaatkan botol bekas pun muncul.
Ide membuat rumah botol itu datang dari pekerja yang menggarap rumah saya.
Mereka itu sering mengonsumsi minuman berenergi itu. Botol-botolnya jadi
sampah. Dari situ mulai ada ide, apalagi warnanya cokelat, senada dengan
warna kayu, ucap pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 itu.
Ridwan Kamil menghabiskan 30.000 botol bekas untuk membangun rumahnya,
yang berdiri di atas tanah seluas 373 meter persegi, di kawasan Cigadung
Selatan. Botol-botol bekas yang ia gunakan sengaja ia pasang di tempat yang
dilalui sinar matahari, tujuannya adalah untuk menangkap dan membiarkan sinar
matahari tersebut dapat tembus ke dalam rumah.

UNIK DAN INDAH


Kalau Anda sudah sampai di kawasan Jalan Tubagus Ismail, Bandung, lalu Anda
bertanya kepada tukang ojek mana pun soal Rumah Botol, Anda dengan mudah
akan mencapainya.
"Julukan Rumah Botol memang julukan rumah saya. Dari depan pun sudah
tampak, bahwa dinding ruang tamu sepenuhnya terbuat dari susunan botol,"
kata Ridwan sambil mengusap botol-botol itu.
Selanjutnya ia menyambung, "Bayangkan, betapa ribuan cerita tersimpan di
dalam botol-botol ini. Mungkin, salah satu bekas Anda bukan? Atau bekas artis
terkenal, bekas tukang becak, atau bahkan bekas dipakai orang penting lain.
Tiap botol pasti punya kisah menarik."

PERMAINAN CAHAYA
Umumnya orang yang belum melihat rumahnya secara langsung atau
setidaknya belum melihat foto rumahnya, tentu yang terbayangkan tentang
rumah Ridwan Kamil adalah bentuk aneh dan tak wajar. Maklum, tumpukan botol
bekas umumnya menimbulkan bayangan akan sampah yang tak karuan
bentuknya.
Namun, rumah Ridwan sungguh rumah yang indah secara umum, bahkan terpuji
secara arsitektur modern. Rumah itu mendapatkan penghargaan Green Design
Award 2009 dari Building Construction Information Asia, menyisihkan delapan
puluh peserta lain dari delapan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura,
Thailand, Vietnam, Filipina, Hongkong, dan China.
Botol-botol bekas minuman energi itu ditata Ridwan dengan pembingkaian
batang besi sehingga menghasilkan sebuah jajaran merata yang brwarna coklat.
Di sisi rumah yang lain, jajaran botol itu dibagi-bagi lagi dalam kelompokkelompok yang lebih kecil. Yang mungkin membuat Anda sama sekali tak
percaya, rumah itu tak punya gambar rancangan apa pun selayaknya karya
seorang arsitek.
"Rumah ini dibangun dengan perintah lisan saja," kata Ridwan.
Bagi Ridwan, rumah pribadi harus sesuai dengan keinginan pribadi.
"Maka, saya rancang sambil jalan. Saya selesaikan satu blok demi satu blok

tergantung dana yang ada. Kalau ada dana lagi, baru bagian lain dibuat.
Rancangan bukan berdasarkan gambar, tetapi berdasarkan perasaan saja,"
katanya.
Bahkan, pemakaian 30.000 botol bekas pun datang dari ide yang mengalir saat
pembangunan berlangsung, bukan sejak awal.
"Saya perhatikan, ada tumpukan botol bekas minuman energi yang diminum
para tukang. Kena cahaya sore, timbul pendaran yang indah. Saya lalu terpikir
untuk memakai botol-botol itu sebagai elemen estetika rumah saya," katanya.
Kemudian, selama enam bulan penyelesaian rumah itu tertunda karena perlu
sekitar 30.000 botol yang dikumpulkan dari seluruh pemulung yang bisa
dijumpai Ridwan di Jawa Barat. Harga per botolnya memang hanya Rp 50, tetapi
mencari botol bekas begitu banyak memang perlu waktu tak sedikit.

RUANG BIOSKOP
Pendekatan pribadi terpenting dari Rumah Botol adalah adanya sebuah "ruang
bioskop" di dalamnya. Di ruang itu, Ridwan senang berbagi cerita atau memutar
film bersama sahabat-sahabatnya.
"Ruang bioskop" itu semata sebuah ruang terbuka yang merupakan perbatasan
antara bangunan ruang tamu dan ruang keluarga. Sebagai tempat duduk,
tangga yang ada termanfaatkan dengan baik, bahkan telah dirancang "kursi"
untuk orang gemuk dan kursi untuk orang yang ukuran tubuhnya normal.
Sisi layar adalah dinding belakang ruang tamu. Sebuah multifungsi yang cerdas.
Selain itu, Ridwan juga memakai jasa pelukis lokal, Ian Mulyana (almarhum),
untuk memberi imbangan pada elemen-elemen permanen yang ada.
"Di antara batu dan logam, lukisan-lukisan Ian Mulyana yang saya pesan khusus
memberi aksen dan penegasan pada aliran rancangan," katanya sambil
menggerakkkan tangannya mengikuti pola lantai dari batu menuju tangga, lalu
pintu, dan berakhir di lukisan Ian yang bercorak abstrak dengan tiga bulatan di
dalamnya.
Ridwan bahkan mengecat sendiri dinding kamar anaknya demi keselarasan
semua elemen desain yang dibuatnya.
"Bagi saya, rumah ini sangat mewakili segenap pikiran dan proses hidup saya,"
katanya.
Kerja kerasnya ini tidak sia-sia, pada tahun 2009 Emil dianugrahi Green Design
Award 2009 oleh BCI Asia, mengalahkan sedikitnya 80 partisipan lain dari 8
negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, Philippines,
Hong Kong dan China. Rumah yang berdiri di atas lahan berbentuk trapesium

seluas 373 meter persegi ini layak diberi label green bukan hanya karena
dibangun dari limbah botol kaca lokal, melainkan juga karena sifat kaca yang
tembus pandang memungkinkan cahaya matahari masuk pada siang hari
membuat bangunan ini mampu menghemat penggunaan cahaya lampu pada
siang hari.

alah satunya rumah karya arsitek urban, Ridwan Kamil yang banyak orang menyebutnya
Rumah Botol karena terbuat dari botol bekas. Usaha dan ide kreatif ini awalnya timbul secara
tidak sengaja ketika pria kelahiran 4 Oktober 1971 ini, selalu melihat tukang yang bekerja
pada proyek pembangunan rumahnya selalu mengkonsumsi salah satu minuman berenergi
yang botolnya selalu dibuang. Dari situ ide unik bapak dua anak ini, mengemasnya menjadi
bagian dalam desain rumahnya. Dengan begitu, mau tidak mau akhirnya niat untuk
mengumpulkan satu macam botol bekas dilakukannya.
Kolaborasi botol bekas yang menghiasi rumahnya merupakan bagian bangunan yang ramah
lingkungan. Rumah yang didesain tanpa gambar kerja ini sangat memuaskan keinginannya
mengidamkan rumah yang bernuansa resort.

Bangunan dengan luas


tanah 373 m2 hampir seluruh lapisan luarnya terbungkus botol bekas berwarna cokelat yang
tersusun rapi. Sengaja menampilkan keragaman tekstur nampak jelas pada bangunan ini.
Eksplorasi terhadap desain tanpa batas menghasilkan gaya baru terhadap fasade, kontruksi
dan proporsi ruang.

Memasuki teras rumah disambut pemandangan susunan botol yang menjadi secondary skin
tertata rapi dengan menggunakan rangka besi berpola bujur sangkar.
Selain berfungsi sebagai pembatas ruang, secondary skin difungsikan sebagai filter masuknya
sinar matahari. Dengan begitu akan mendapatkan efek cahaya yang bagus saat pagi hari.
Selain itu, Botolbotol yang disusun dan direkatkan satu sama lain tersebut, selain berguna
sebagai partisi antara ruang luar dan ruang tamu, juga nampak seperti lukisan dinding yang
permanen bila ditembus cahaya matahari dilihat dari dalam.
Tidak ada dinding pemisah antara ruang tamu dengan ruang keluarga hanya ditandai dengan
perbedaan ketinggian lantai, bahan dan warna lantai yang digunakan. Integrasi antar ruang
sengaja dibuat agar setiap ruang dapat menyatu dengan ruang yang lain.

Saat menikmati TV
diruang keluarga nampak partisi yang mempunyai celah horizontal menembus ruang
mushola. Disisi lain, tepat membelakangi sofa terdapat dinding berlapis kayu yang sengaja
didesain melayang sehingga tembus bisa memandang ke arah kolam renang. Bentuk
bangunan utama yang menyerupai tapal kuda ini, menghasilkan ruang terbuka tepat berada
ditengah bangunan. Menyadari keterbatasan lahan dan untuk memenuhi kebutuhan ruang
maka diterapkan struktur split level dimana terbagi dalam dua komposisi yaitu dua lantai
dibagian depan dan tiga lantai dibagian belakang. Kedua komposisi ini disatukan dengan
ruang terbuka yang berada tepat ditengah bangunan yang berfungsi sebagai ruang publik atau
rekreasi.

Melewati anak tangga,


kita akan menemui pantry yang minimalis sekaligus maksimalis dengan ruang makan. Warna
interior dan perabot cenderung didominasi warna putih terang, sebagai penetralisir warna
dipasang lukisan abstrak berwarna kuning yang berhadapan langsung dengan dinding
transparan bangunan. Suara musik alam dari gemericik air kolam yang dihiasi tanaman iris di
tengah courtyard menambah alami suasana ruang. Tanpa disengaja dibalik dinding dapur
akan ditemui ruang kecil yang difungsikan sebagai ruang kerja.
Permainan efek tembus pandang dengan permainan bukaan garis berupa kisi-kisi nampak
mendominasi yang menghasilkan kesatuan ruang. Penthouse pada ruang tidur utama dibentuk
proposional dengan dilengkapi kamar mandi dan ruang kerja . Furniture rak buku yang
menempel di dinding menyiasati untuk mendapatkan keleluasaan ruang. Ruang kerja yang
masih mempunyai secondary skin dengan balutan botol-botol bekas memakai pola papan
catur agar bisa mendapatkan pemandangan luar.
Proporsi aksebelitas dan kenyamanan untuk menuju setiap ruangan dituntut menyesuaikan
bagi si pengguna. Ramp yang terdapat disamping tangga dengan pemisah kisi-kisi vertical
yang tembus pandangdirancang untuk akses ke ruang tidur anak. Pada dinding koridor sisi
luar terdapat bukaan jendela yang cukup lebar.

Warna-warna yang
cerah sesuai dengan karakter anak menempel di dinding dan furniture-nya. Keunikan dalam
rancangan seorang Ridwan Kamil nampak jelas pada setiap detailnya. Minimalisasi
penggunaan cat tembok sengaja dilakukan dan sebagai pengganti dipakai material bertekstur
seperti batu alam, panel kayu, acian dinding yang dibentuk tekstur, kisi-kisi besi dan bahan
lainnya. Begitu juga pada frame beton disamping kolam renang yang struktur beton
penopangnya dibuat agak kedalam sehingga menimbulkan kesan melayang dan Chaise longe
berwarna merah terang sangat pas diletakkan didalam frame menambah keseimbangan
komposisi ruang yang dihasilkan.

Efek pencahayaan
tersembunyi yang diberikan saat malam hari menambah efek visual melayang. Rumah yang
banyak menyunting unsur alam dan keterbukaan sangat sesuai dengan keinginan perancang.
Harmonisasi setiap ruang seakan berbicara dengan si pengguna untuk melakukan aktivitas
dengan nyaman. Nilai green achitecture layak diberikan pada rumah botol karya Emil. (D