Anda di halaman 1dari 18

Bab I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang memberikan kontribusi
yang besar. Pajak digunakan sebagai sarana pendukung dan peningkatan pembangunan
nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pajak memiliki peran
yang sangat vital sebagai alat pencapaian tujuan. Sehingga, pengelolaan dan pemanfaatan
pajak harus dipertanggungjawabkan sebaik mungkin. Dalam perpajakan, negara bertugas
untuk memungut pajak dan rakyat sebagai Wajib Pajak. Dalam pemungutan pajak terdapat
teknik pemungutan yang mengatur tentang tata cara pemungutan dan penghitungan pajak
disebut juga dengan sistem perpajakan.
Di Indonesia terdapat perubahan mendasar dalam teknik pemungutan pajak. Pada tahun
1983 saat terjadi reformasi perpajakan (tax reform) mengalami perubahan teknik
pemungutan pajak dari Official Assesment menjadi Self Assesment. Perubahan ini
memberikan dampak terhadap sistem perpajakan di Indonesia. Dalam metode Self
Assesment, Wajib Pajak diberikan kepercayaan penuh dan tanggungjawab yang lebih besar
untuk melakukan penghitungan pajak mulai mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak,
menghitung besarnya pajak yang terutang, membayar pajaknya sendiri ke bank atau kantor
pos, dan melaporkannya ke Kantor Pelayanan Pajak (PKP).
Untuk dapat melakukan kewajiban perpajakannya berdasarkan Self Assessment, wajib
pajak harus bisa menghitung besarnya penghasilan kena pajak yaitu dengan melakukan
suatu pembukuan yang sistematis yang mencakup pencatatan harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya. Dalam prakteknya, perusahaan sebagai wajib pajak melakukan
pembukuan atau penyusunan laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang diselaraskan dengan Standar
Akuntansi Internasional. Laporan keuangan yang disusun berdasarkan SAK harus
disesuaikan terlebih dahulu dengan laporan keuangan yang sesuai dengan Undang-Undang
Perpajakan Pajak Penghasilan Badan. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan dalam
pengakuan laba usaha. hal ini menyebabkan perbedaan dalam menentukan besarnya pajak
pengahasilan badan menurut laba komersil dan laba fiskal.
Bab II
Pembahasan

2.1 Pengertian Laporan Keuangan


2.1.1 Menurut Standar Akuntansi Keuangan (Komersial)
Menurut PSAK nomor 1 (revisi 2009), laporan keuangan adalah suatu penyajian yang
terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan
adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam
pembuatan

keputusan

investasi.

Laporan

keuangan

juga

menunjukkan

hasil

pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada


mereka.
Menurut PSAK No. 1 (Revisi 2009) yang disahkan pada tanggal 15 Desember 2009 dan
mulai yang efektif berlaku untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1
Januari 2011, laporan keuangan yang lengkap harus meliputi komponen-komponen berikut ini :
1. laporan posisi keuangan pada akhir periode
2. laporan laba rugi komprehensif selama periode
3. laporan perubahan ekuitas selama periode
4. laporan arus kas selama periode
5. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan
informasi penjelasan lain; dan
6. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian
kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos
dalam laporan keuangannya.
2.1.2 Menurut Perpajakan (Fiskal)
Laporan keuangan fiskal adalah suatu penyajian yang terstruktur dari posisi keuangan
dan kinerja keuangan suatu entitas berdasarkan peraturan perpajakan dan digunakan untuk
keperluan penghitungan pajak. Tujuan dari laporan keuangan fiskal adalah untuk menghitung
penghasilan kena pajak dan beban pajak yang harus dibayar kepada Negara. Negara lebih
memperhatikan laporan keuangan dilampirkan dalam SPT yang meliputi unsur:
1. Laba tahun berjalan
2. Distribusi laba
3. Peredaran
2

4. Pengeluaran untuk karyawan dan pembelian jasa yang lain.


2.2 Perbedaan Laporan Keungan Fiskal dan Laporan Keungan Komersial
2.2.1 Perbedaan Prinsip Akuntansi
1. Prinsip Konservatisme
a. Akuntansi komersial bersifat konservatif terhadap sesuatu transaksi yang belum
menjadi suatu fakta, dengan cara membentuk penyisihan atas resiko kerugian yang
mungkin diderita (Penghapusan piutang dan cadangan kerugian)
b. Akuntansi Pajak kurang tertarik kepada estimasi dan perhitungan angka yang belum
terjadi secara nyata dan menganut realitas, kecuali untuk jenis perusahaan bank dan
Asuransi.
2. Prinsip Harga Perolehan
a. Akuntansi Komersial, penentuan harga perolehan untuk barang yang diproduksi
sendiri boleh memasukkan unsur biaya tenaga kerja yang berupa natura.
b. Akuntansi Fiskal, pengeluaran dalam bentuk natura tidak diakui sebagai
pengurangan atau biaya.
3. Konsisten
a. Akuntansi komersial menekankan penerapan suatu metode akuntansi secara taat
asas, kecuali terdapat alasan dan bukti yang cukup kuat untuk melakukan
penggantian metode
b. Akuntansi pajakdalam konteks konsepsional menetukan lain, misalnya pengakuan
hasil operasi mancanegara (dengan penolakan terhadap konsolidasi kerugian
berdasarkan penjelasan Pasal 4 UU PPh)

2.2.2 Perbedaan Pengakuan Penghasilan


2.2.2.1 Penghasilan Menurut Standar Akuntansi Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (2004 : 23.3)
Penghasilan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal
perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang
tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Pendapatan hanyalah merupakan komisi yang
diterima dari prinsipal. Pendapatan dapat dibebankan menjadi dua bagian yaitu pendapatan dari

usaha dan pendapatan yang berasal dari luar usaha. Pendapatan dari usaha merupakan
pendapatan yang berasal dari kegiatan usaha perusahaan.
2.2.2.2 Pennghasilan Menurut Pajak
Menurut UU Pajak No. 17 Tahun 2000, penghasilan dapat didefinisikan sebagai setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal
dari Indonesia maupun dari luar Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai
untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama
dan dalam bentuk apapun.
a. Penghasilan yang Termasuk Objek Pajak (UU PPh No. 17 Tahun 2000 dan UU PPh
No. 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (1) )
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau

diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam UndangUndang Pajak Penghasilan;
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
3. Laba usaha
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
a. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan
lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
b. Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya karena
c. pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota ;
d. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan
atau pengambilalihan usaha;
e. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan,
kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;

f. keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak


penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan.
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;
6. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
7. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi ;
8. Royalty atau imbalan atas penggunaan hak;
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
14. Premi asuransi;
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari WP
yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;
17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;
18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
19. Surplus Bank Indonesia.
5

b. Penghasilan Tidak Termasuk Objek Pajak (UU PPh No. 17 Tahun 2000 dan
UU PPh No. 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (3) )
1. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau

lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima
zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia;
2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro
dan kecil yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
3. Warisan;
4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal;
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah,
kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, wajib Pajak yang dikenakan pajak
secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed
profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh;
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi
beasiswa;
7. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP
Dalam Negeri, koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

b. bagi perseroan terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima dividen,


kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25%
(dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor;
8. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan , baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
10. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba
dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di
Indonesia dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
a. merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah atau yang menjalankan kegiatan
dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan; dan
b. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
12. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, yaitu:
a. Diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi
beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal/nonformal yang terstruktur
baik di dalam negeri maupun luar negeri;
b. Tidak mempunyai hubungan istimewa dengan pemilik, komisaris, direksi atau
pengurus dari wajib pajak pemberi beasiswa;

c. Komponen beasiswa terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah,


biaya ujian, biaya penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil,
biaya untuk pembelian buku, dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan
daerah lokasi tempat belajar;
13. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar
pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan
prasarana kegiatan bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam
jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut;
14. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Peenyelenggara jaminan Sosial
kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

c. Objek Pajak PPh Final


1. Bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya;
2. Penghasilan berupa hadiah undian;
3. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek;
4. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan, serta
5. Penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Tarif berikut ini merupakan tarif yang berlaku berdasarkan UU No.36 tahun 2008 Pajak
Penghasilan :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000,Diatas Rp. 50.000.000,- s.d. Rp. 250.000.000,Diatas Rp. 250.000.000,- s.d. Rp. 500.000.000,Diatas Rp. 500.000.000,-

Tarif Pajak
5% (Lima Persen)
15% (Lima Belas Persen)
25% (Dua Puluh Lima
Persen)
30% (Tiga Puluh Persen)

UU No. 36 tahun 2008 maka tarif pajak badan menjadi tarif tunggal yaitu :
8

Lapisan Penghasilan Kena Pajak


Tahun 2009 (mulai berlaku 1 Januari 2009)
Tahun 2010 (mulai berlaku 1 Januari 2010)

Tarif Pajak
28% (Dua Puluh Delapan
Persen)
25% (Dua Puluh Lima Persen)

1. Tarif PPh Pasal 17 ayat (2b) Bagi WP badan yang telah go public diberikan
pengurangan tarif 5% dari tarif normal dengan kriteria paling sedikit 40% saham
dimiliki oleh masyarakat.
2. Tarif PPh Pasal 31E Bagi WP UMKM yang berbentuk badan diberikan insentif
pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif normal, dengan syarat peredaran brutonya
belum melebihi Rp 4,8 miliar.
2.2.3

Perbedaan Pengakuan Biaya


2.2.3.1 Biaya Menurut Standar Akuntansi
Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam SAK,

biaya adalah penurunan manfaat ekonomis selama satu periode akuntansi dalam bentuk arus
kas keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang menyebabkan penurunan
ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.
Pengakuan atas biaya atau cost berhubungan dengan dasar atau prinsip akuntansi yang
digunakan dalam mencatat biaya tersebut yaitu accrual basis yaitu biaya diakui walaupun
belum ada pengeluaran atau pembayaran kas atas biaya yang terjadi tersebut, dan cash basis
yaitu pencatatan dan pengakuan biaya hanya akan dilakukan jika telah terjadi pembayaran atau
pengeluaran kas dan apabila belum ada pengeluaran kas maka biaya tersebut tidak diakui.
2.2.3.2 Biaya Menurut Pajak
Menurut pajak tidak semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat diakui
sebagai pengurangan, meskipun biaya tersebut berkaitan dengan kegiatan usaha perusahaan.
Biaya menurut pajak dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Biaya yang Dapat Dikurangkan (Deductable Expense)
Biaya - biaya yang dapat dikurangkan untuk menghitung penghasilan kena
pajak menurut Pasal 6 UU PPh No. 17 Tahun 2000 dan UU PPh No. 36 Tahun 2008
adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, terdiri atas :
a,

Biaya pembelian bahan, biaya yang berkenaan dengan pekerjaan atau jasa
termasuk

upah,

gaji,

honorarium,

bonus,

gratifikasi,

dan

tunjangan

yang

diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan
9

Kelompok Harta
Berwujud

yang

TadfPenyusutan
Masa Manfaat

Garis
Lurus

Saldo Menurun

I. Bukan Bangunan
4 Tahun

25%

50%

Kelompok2

8 Tahun

dapat

12,50%

25%

Kelompok 3

16 Tahun

6,25%

12,50%

premi

Kelompok4

20 Tahun

5%

10%

biaya

II. Bangunan

Permanen

20 Tahun

5%

Tidak Permanen

10 Tahun

10%

administrasi,

piutang
nyata

Kelompok I

nyata

limbah,
-

tidak
ditagih,
asuransi,

pajak kecuali pajak penghasilan dan biaya promosi. Biaya promosi

merupakan penambahan biaya dalam pasal 6 ayat (I) UU PPh No. 36 Tahun 2008
yang diatur berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK. 03/2009
tanggal10 Juni 2009.
b. Penyusustan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun. Penyusutan diatur lebih lanjut dalam pasal 11 dan 11A:

Tabel 2.1 Ketentuan Penyusutan Kelompok Harta Berwujud

Tabel2.2 Ketentuan Penyusutan Kelompok Harta Tidak Berwujud


Kelompok Tak
Berwujud

Tarif Amortisasi
Masa Manfaat

10

Garis
Lurus

Saldo Menurun

Kelompok I

4 Tahun

25%

50%

Kelompok 2

8 Tahun

12,50%

25%

Kelompok 3

16 Tahun

6,25%

12,50%

Kelompok4

20 Tahun

5%

10%

Jenis - jenis harta atau aktiva berwujud diatur lebih lanjut dalam Keputusan
Menteri Keuangan Nomor KMK.138/KMK.03/2002 tanggal 8 April 2002 yang telah
diubah kedalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK.96/PMK 03 Tahun 2009
tanggal 15 Mei 2009.
c.

luran

kepada dana pensiun yang pendiriannya

telah disahkan

oleh Menteri

Keuangan;
d.

Kerugian karena penjualan atau penagihan harta yang dimiliki dan digunakan

dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan;
e. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing;
f.

Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;


h. Piutang yang nyata- nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat :
1) Telah dibebakan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2) Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau Badan
Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang atau pembebasan utang antara kreditor dengan
debitor yang bersangkutan;
3) Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus;
4) Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Dirjen Pajak.
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional;
J

Sumbangan

dalam rangka penelitian

dan pengembangan

Indonesia;
k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial;
I. Sumbangan fasilitas pendidikan;
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga.
11

yang dilakukan di

Biaya - biaya yang dijelaskan pada huruf i sampai dengan huruf m merupakan
penambahan dalam UU PPh No. 36 Tahun 2008 yang diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2009 tanggal 9 Februari 2009.
Ketentuan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto selain diatur
dalam pasal 6 UU PPh No.17 Tahun 2000 dan UU PPh No. 36 Tahun 2008, diatur juga
dalam Keputusan Direktorat Jenderal Pajak Nomor

KEP.220/PJ/2002 tanggal 18 April

2002 yang menjelaskan biaya yang boleh dikurangkan sebesar 50% untuk menghitung
penghasilan kena pajak adalah sebagai berikut :
1. Biaya perolehan atau pembelian telepon selular yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya;
2. Biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon selular
yang dimiliki

dan dipergunakan

perusahaan

untuk pegawai

jabatan atau pekerjaannya;


3. Biaya perolehan, pembelian, dan atau perbaikan
sejenis

yang dimiliki dan dipergunakan

tertentu

karena

besar kendaraan sedan atau

perusahaan

untuk pegawai

tertentu

karena jabatan atau pekerjaannya;


4. Biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan sedan atau sejenis yang
dimiliki dan dipergunakan

perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan

atau pekerjaannya.
b. Biaya yang Tidak Dapat Dikurangkan (Non Deductable Expense)
Berdasarkan pasal 9 UU PPh No. 17 Tahun 2000 dan UU PPh No. 36 Tahun 2008
mengatur tentang biaya - biaya yang tidak boleh dikurangkan

dari penghasilan

bruto perusahaan yaitu :


a.

Pembagian

laba

dengan

nama

dan

dalam

bentuk

apapun

seperti

dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada


pemegang polis, dan pembagian sisa basil usaha koperasi;
b.

Biaya

yang

dibebankan

atau dikeluarkan

untuk

kepentingan

pribadi

pemegang saham, sekutu, atau anggota;


c.

Pembetukan

atau pemupukan

dana cadangan

kecuali cadangan

piutang

tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan
untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang
ketentuan

dan

syarat

- syaratnya

Keuangan;

12

ditetapkan

dengan

Keputusan

Menteri

d.

Premi asuransi

kesehatan, asuransi

kecelakaan, asuransi

jiwa, asuransi

dwiguna, dan asuransi beasiswa yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi,
kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai
penghasilan bagi wajib pajak yang bersangkutan;
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman
bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan
kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan;
g. Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan, kecuali zakat atas penghasilan
yang nyata - nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi pemeluk agama
Islam danlatau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk
agama Islam kepada badan ami! zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah;
h. Pajak Penghasilan (PPh);
1.

Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib

pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;


j.

Gaji yang dibayarkan

pad a anggota persekutuan

frma atau perseroan

komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;


k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan, serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan

perundang - undangan

dibidang perpajakan;
l. Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
mempunya1 masa
dibebankan

manfaat

sekaligus,

lebih

dari

melainkan

satu

tahun

dibebankan

tidak

melalui

dibolehkan untuk
penyusutan

atau

amortisasi.
Tabel Berikut menggambarkan pengelompokan harta tak berwujud, metode,
serta tarif amortisasinya
Kelompok Harta Tak

Masa Manfaat

13

Tarif Amortisasi

Berwujud
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4

Garis Lurus
25%
12,5%
6,25%
5%

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

Saldo Menurun
50%
25%
12,5%
10%

Tabel amortisasi di atas juga berlaku untuk :


1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan.
Pengeluaran ini dapat juga dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran.
2. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi kelayakan
dan biaya produksi percobaan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Pengeluaran ini dikapitalisasi kemudian di amortisasi sesuai tabel di atas. Satu hal yang
harus diperhatikan adalah bahwa biaya operasional yang bersifat rutin seperti biaya
rekening listrik dan telepon, gaji pegawai, dan biaya kantor lainnya, tidak boleh
dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

14

2.3

Koreksi Fiskal
3.
Seperti dikutip dari Resmi (2003), koreksi fiskal meliputi pengakuan
pendapatan dan biaya yang dapat berupa koreksi positif dan koreksi negatif.
4. 2.3.1 Koreksi Fiskal Positif
5. Koreksi fiscal positif adalah koreksi atau penyesuaian yang akan mengakibatkan

meningkatnya laba kena pajak yang pada akhirnya akan membuat PPh Badan Terhutangnya
juga akan meningkat. Koreksi fiscal positif diantaranya :
1. Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan.
2. Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang PKP
3. Biaya yang diakui lebih kecil, seperti penyusutan, amortisasi, dan biaya yang
ditangguhkan menurut WP lebih tinggi.
4. Biaya yang didapatkan dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak.
5. Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final.
6.
7. 2.3.2 Koreksi Fiskal Negatif
8. Koreksi fiscal negative adalah koreksi atau penyesuaian yang akan
menyebabkan menurunnya laba kena pajak yang membuat PPh badan terhutangnnya juga
akan menurun. Koreksi fiscal negative diantaranya :
1. Biaya yang diakui lebih besar, seperti penyusutan menurut WP lebih rendah, selisih
amortisasi
2. Penghasilan yang di dapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
3. Penehasilan yang di dapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final
9.
2.4 Perbedaan Koreksi Fiskal
10.
Koreksi fiskal adalah proses penyesuaian atas laba komersial yang
berbeda dengan ketentuan fiskal untuk menghasilkan penghasilan netto/ laba yang
sesuai dengan ketentuan pajak. Menurut Rusdji (2007) terdapat perbedaan dalam
perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut Undang-Undang Perpajakan
Nomor 17 Tahun 2000 dengan SAK sebagai akibat adanya beda tetap dan beda
sementara atau beda waktu. Perlakuan akuntansi terhadap perbedaan tersebut perlu
dilakukan rekonsiliasi antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiscal
dan pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan keuangan yaitu pada besarnya
jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha.
11. 2.4.1 Beda Tetap
12.
Menurut Rusdji (2007), bagi perusahaan semua pemasukan adalah
pendapatan yang akan menambah laba kena pajak dan semua pengeluaran adalah
15

beban yang akan mengurangi laba kena pajak. Bagi Ditjen Pajak, tidak semua
pemasukan adalah penambah laba kena pajak, ada beberapa pendapatan yang bukan
penambah laba kena pajak karena pendapatan tersebut sudah dikenakan pajak bersifat
final dan tidak semua pengeluaran adalah pengurang laba kena pajak karena ada
bebrapa jenis pengeluaran (misal : sumbangan tanpa daftar normatif). Perbedaan
13.

seperti ini dalam perpajakan disebut sebagai beda tetap.


2.4.2 Beda Sementara / Beda Waktu
14.
Menurut Rusdji (2007) , perbedaan lainnya adalah perbedaan yang
diakibatkan karena bedanya saat pengakuan baik terhadap pendapatan amupun beban
(pendapatan/beban tangguhan) , juga akibat perbedaan beban penyusutan dimana
Ditjen Pajak menggunakan metode garis lurus (straight line method) sementara
perusahaan menggunakan metode lain yang berakibat adanya perbedaan alokasi
beban penyusutan. Prakiraan umur ekonomis atas aktiva tetap juga berpengaruh
terhadap perbedaan tersebut. Perbedaan seperti ini disebut dengan beda sementara
atau beda waktu.

15.
16.
17.
18.
19.
20.

16

21.

Daftar Pustaka
22.

23.

Hendriyadewanti, Valentin : Koreksi Fiskal Terhadap Laporan Keuangan Komersial

Pada PT.ABC, Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata, Semarang, 2011
24.

Setiadi, B. Pompong : Analisis Perhitungan Pajak Penghasilan Badan Berdasarkan

Laba Fiskal dan Laba Komersil Pada PT.BPR.Dinar Pusaka Sidoarjo, STIE Mahardika,
Surabaya, 2012 : Media Mahardika
News Akuntansi : Pengertian Laporan Keuangan Menurut PSAK, Diperoleh 11 Januari

25.

2014

dari

http://newsakuntansi.blogspot.com/2013/05/pengertian-laporan-

keuangan-menurut-psak.html
26.Pajak.go.id : Seri PPh Objek Pajak Penghasilan, Diperoleh 11 Januari 2014 dari http:
//www.pajak.go.id/content/seri-pph-objek-pajak-penghasilan

27. Pajak Online : Biaya-Biaya Yang Dapat Dikurangkan, Diperoleh 11 Januari 2014 dari
http: //www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=248
28. Solusi Bijak : Biaya Yang Tidak Dapat Dikurangkan Dari PPh Badan (Undeductable
Expense), Diperoleh 11 Januari 2014 dari http://solusibijak.com/biaya-yang-tidakdapat-dikurangkan-dari-pph-badan
29. Perpajakan1 : Biaya-Biaya Yang Dapat Dikurangkan (Deductable Expense), Diperoleh
11 Januari 2014 dari http://perpajakan1.wordpress.com/2013/04/15/biaya-biaya-yangdapat-dikurangkan-deductible-expenses/
30. Klinik Pajak : Rekonsiliasi Fiskal, Diperoleh 11 Januari 2014 dari http:
//www.klinikpajak.com/2009/rekonsiliasi-fiskal.html
31.
32. Ilmu Ekonomi : Perbedaan Tetap dan Perbedaan Waktu, Diperoleh 11 Januari 2014

dari
waktu.html

http://www.ilmu-ekonomi.com/2012/02/perbedaan-tetap-dan-perbedaan-

17

33.

18