MATA KULIAH
TAX PLANING
Identitas Mata Kuliah
Program Studi : S1-AKUNTANSI
Mata Kuliah / Kode : Tax Planing
Jumlah SKS : 3 SKS
Prasyarat : --
Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah
Capaian Pembelajaran : Setelah mempelajari mata kuliah ini,
mahasiswa diharapkan:
1. Mahasiswa mampu untuk membuat dan
menerapkan perencanaan pajak bagi
perusahaan.
2. Mahasiswa dapat melkaukan efisiensi
dan penghematan pajak dalam praktek
kerja.
3. Mahasiswa dapat membedakan dengan
jelas antara penghindaran pajak serta
penyelundupan pajak.
4. Memiliki kemampuan praktis serta
wawasan yang lebih luas untuk
menerapkan peraturan perundang-
undangan yang senantiasa berubah.
Penyusun : Sri Agustini, SE.M.Si
Ketua Program Studi Ketua Team Teaching
Endang Ruhiyat, MM
NIDN. NIDN.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
1
Kata Pengantar
Materi Tax Planing diperkenalkan kepada mahasiswa untuk memberikan
pengetahuan teoritis dan konseptual serta praktis yang mencakup teori,
kebijaksanaan, ketentuan peraturan perundang-undangan dan administrasi
perpajakan serta analisis kebijakan perpajakan di Indonesia. Metode perkuliahan
menggunakan dua yakni metode pertama penyampaian materi dengan tatap muka,
diskusi, tanya jawab dan pemberian tugas mandiri kepada mahasiswa atau
mahasiswi, latihan serta pemecahan masalah dari suatu kasus. Metode kedua
materi ini disampaikan melalui e-learning dengan mengupload materi Tax
Planing, agar mahasiswa paham akan materi yang disampaikan mahasiswa
mereview materi yang diberikan dan mengerjakan soal uji pemahaman dari
materi, serta mendiskusikan kasus pada forum diskusi yang telah disediakan pada
e-learning.
Mata kuliah Tax Planing mempelajari tentang .............................Buku Ajar
ini disusun untuk memudahkan mahasiswa dalam mempelajari materi mata kuliah
akuntansi perpajakan.
Tangerang Selatan, September 2016
Penyusun
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
2
DAFTAR ISI
Identitas Mata Kuliah ....................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................. ii
Daftar Isi...........................................................................................
Daftar Tabel .....................................................................................
Daftar Gambar .................................................................................
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
3
DAFTAR BAGAN
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
4
PERTEMUAN 1: DASAR-DASAR PERENCANAAN PAJAK-1
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami:
faktor yang memotivasi wajib pajak, konsep manajemen strategis dan
perencanaan strategis, tujuan perusahaan, perencanaan pajak, dan aspek formal
serta material perencanaan pajak.
Faktor yg Memotivasi
Wajib Pajak
Konsep Manajemen Strategis
Dan
Perencanaan Strategis
Tujuan Perusahaan
Perencanaan Pajak
Aspek Formal Dan
Material Perencanaan Pajak
B. URAIAN MATERI
Dari segi ekonomi, merupakan pemindahan sumber daya dari sektor privat
(perusahaan) ke sektor publik. Pemindahaan sumber daya tersebut akan
memengaruhi daya beli (purchasing power) atau kemampuan belanja (spending
power) atau kemampuan belanja (spending power) dari sektor privat. Agar tidak
terjadi gangguan yang serius terhadap jalannya perusahaan, maka pemenuhan
kewajiban perpajakan harus dikelola dengan baik. Bagi Negara, pajak adalah
salah salah satu sumber penerimaan penting yang akan digunakan untuk
membiayai pengeluaran Negara, baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran
pembangunan. Sebaliknya bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang akan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
5
mengurangi laba bersih. Keputusan bisnis sebagian besar dipengaruhi oleh pajak,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan bisnis yang baik jika
berhubungan dengan pajak bisa menjadi keputusan bisnis yang kurang baik,
begitu juga sebaliknya.
Minimalisasi beban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang
masih berada dalam bingkai peraturan perpajakan sampai dengan yang melanggar
peraturan perpajakan. Upaya minimalisasi pajak secara eufimisme sering disebut
dengan perencanaan pajak (tax planning) atau tax sheltering. Umumnya
perencanaan pajak merujuk pada proses merekayasa usaha dan transaksi wajib
pajak supaya utang pajak berada dalam jumlah yang minimal tetapi masih dalam
bingkai peraturan perpajakan. Namun perencanaan pajak juga dapat berkonotasi
positif sebagai perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap,
benar, dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya.
Dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan kepentingan antara WP dengan
pemerintah. WP berusaha untuk membayar pajak sekecil mungkin karena dengan
membayar pajak bearti mengurangi kemampuan ekonomis WP. Di lain pihak,
pemerintah memerlukan dana utk membiayai penyelenggaraan pemerintahan ,
yang sebagian besar berasal dari penerimaan pajak.
Adanya perbedaan kepentingan ini menyebabkan WP cenderung untuk
mengurangi jumlah pembayaran pajak, baik secara legal maupun illegal. Hal ini
dimungkinkan jika ada peluang yang dapat dimanfaatkan, baik karena kelemahan
peraturan pajak maupun sumber daya manusia (fiskus).
1. Beberapa faktor yang memotivasi WP untuk melakukan penghematan
pajak dengan illegal, adalah :
a). Jumlah pajak yang harus dibayar, besarnya jumlah pajak yang harus dibayar
oleh WP. Semakin besar pajak yang harus dibayar, semakin besar pula
kecenderungan WP untuk melakukan pelanggaran;
b). Biaya untuk menyuap fiskus. Semakin kecil biaya untuk menyuap fiskus,
semakin besar kecenderungan WP untuk melakukan pelanggaran;
c). Kemungkinan WP untuk ketahuan. Semakin kecil kemungkinan suatu
pelanggaran terdektesi semakin besar kecenderungan WP untuk melakukan
pelanggaran;
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
6
d). Besar sanksi. Semakin ringan sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran,
semakin besar kecenderungan WP untuk melakukan pelanggaran.
2. Konsep Manajemen Strategis dan Perencanaan Strategis.
Perencanaan merupakan salah satu fungsi utama dari manajemen. Secara umum
perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan
kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi
(program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program), dan operasi (tindakan)
yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh.
Perencanaan strategis dalam organisasi merupakan salah satu aspek dari materi
manajemen strategis dalam organisasi merupakan salah satu aspek dari materi
manajemen strategis yang selalu diperlukan oleh setiap organisasi. Setiap
perubahan lingkungan yang terjadi memerlukan respon strategis, baik dalam
perencanaan, pelaksanaan , maupun evaluasi. Dari sebutan semula perencanaan
perusahaan (corporate planning), berkembang menjadi strategi perusahaan
(corporate strategy), perencanaan strategis (strategic planning), kebijaksanaan
bisnis (business policy), dan akhirnya menjadi manajemen strategis (strategic
management), yang isinya tidak lain adalah bagaimana pimpinan puncak suatu
organisasi (badan usaha) menanggapi perubahan lingkungan yang sangat
kompleks dan dinamis tersebut. Agar dapat mencapai tujuan, setiap perusahaan
melakukan dua fungsi pokok :
1). Fungsi bisnis yang meliputi bidang pemasaran, produksi, keuangan, SDM,
penelitian & pengembangan, dsbnya;
2). Fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
dan pengawasan.
3. Tujuan Perusahaan
Tujuan perusahaan ialah hasil akhir yang dicari organisasi melalui eksistensi dan
operasinya. Sebagai contoh, berkesinambungan usaha/keuntungan, efisiensi,
kepuasan dan pembinaan karyawan, mutu produk atau layanan bagi konsumen
dan pelanggan, menjadi anggota asosiasi perusahaan (corporate citizenship) yang
baik dan pertanggungjawaban sosial, pemimpin di pasar (misalnya, menjadi
pelopor di pasar dengan penemuan baru), membuat keuntungan dan harga saham
menjadi maksimun untuk pemegang saham, pengendalian aktiva, penyesuaian diri
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
7
dengan mudah dan luwes dalam melayani kebutuhan masyarakat, dll. Perusahaan
seharusnya mempunyai tujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang
saham (pemilik perusahaan) dengan cara memaksimalkan nilai perusahaan.
Tujuan ini tidak hanya merupakan kepentingan bagi para pemegang saham
semata, namun juga akan memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat di
lingkungan perusahaan.
4. Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan dan penelitian tehadap peraturan perpajakan agar dapat
diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya
penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimumkan
kewajiban pajak. Jika tujuan tax planning adalah merekayasa agar beban pajak
(tax buden) dapat ditekan serendah mungkin dengan memanfaatkan peraturan
yang ada tetapi berbeda dengan tujuan pembuat UU, maka perencanaan pajak di
sini sama dengan tax avoidance karena secara hakikat ekonomis keduanya
berusaha untuk memaksimalkan penghasilan setelah pajak (after tax return)
karena pajak merupakan unsure pengurang laba yang tersedia baik untuk
dibagikan kepada pemegang saham maupun untuk diinvestasikan kembali. Untuk
meminimumkan kewajiban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik
yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang melanggar
peraturan perpajakan (unlawful). Istilah yang sering digunakan adalah tax
avoidance dan tax evasion. Penghindaran pajak adalah rekayasa “Tax Affairs”
yang masih tetap berada dlm bingkai ketentuan perpajakan. Penghindaran pajak
dapat terjadi di dalam bunyi ketentuan atau tertulis di UU dan berada dalam jiwa
dari UU atau dapat juga terjadi dalam bunyi ketentuan UU tetapi berlawanan
dengan jiwa UU. Komite urusan fiskal dari Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakter
penghindaran pajak, yaitu :
1). Adanya unsur artifisial di mana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat di
dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak;
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
8
2). Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari UU atau menerapkan
ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu yang
sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat UU;
3). Kerahasian juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para
konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak
dengan syarat WP menjaga serahasia mungkin.
Perencanaan perpajakan umumnya selalu dimulai dengan menyakinkan apakah
suatu transaksi atau fenomena terkena pajak. Kalau fenomena tersebut terkena
pajak, apakah dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah
pajaknya, selanjutnya apakah pembayaran pajak dimaksud dapat ditunda
pembayarannya, dan lain sebagainya.Oleh karena itu, setiap WP akan membuat
rencana pengenaan pajak atas setiap tindakan secara seksama. Dengan demikian,
bisa dikatakan bahwa perencanaan pajak adalah proses pengambilan faktor pajak
yang relevan dan faktor non pajak yang material untuk menentukan :
a). Apakah,
b). Kapan,
c). Bagaimana, dan
d). Dengan siapa (pihak mana).
Dilakukan transasi, operasi, dan hubungan dagang yang memungkinkan
tercapainya beban pajak pada Tax events yang serendah mungkin dan sejalan
dengan tercapainya tujuan perusahaan.
5. Aspek Formal dan Material Perencanaan Pajak
a). Aspek Formal dan Administratif Perencanaan Pajak
Kewajiban perpajakan bermula dari implementasi UU perpajakan. Oleh karena
itu, ketidakpatuhan terhadap UU dapat dikenakan sanksi, baik sanksi administrasi
maupun sanksi pidana. Sanksi administrasi maupun pidana merupakan
pemborosan sumber daya sehingga perlu dihindari melalui suatu perencanaan
pajak yang baik. Untuk dapat menyusun perencanaan pemenuhan kewajiban
perpajakan yang baik diperlukan pemahaman terhadap peraturan perpajakan.
Selanjutnya selaras dengan pengelompokan hukum pajak aspek formal
administratif maupun aspek material substantif perlu untuk dimengerti dan
dipahami untuk dapat menghindari sanksi administrasi maupun pidana.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
9
b). Aspek Material dalam Perencanaan Pajak
Pajak dikenakan terhadap objek pajak yang dapat berupa keadaan, perbuatan
maupun peristiwa. Basis penghitungan pajak adalah objek pajak. Maka untuk
mengoptimalkan alokasi sumber dana, manajemen akan merencanakan
pembayaran pajak yang tidak lebih (karena dapat mengurangi optimalisasi alokasi
sumberdaya) dan tidak kurang (supaya tidak membayar sanksi administrasi yang
merupakan pemborosan dana). Untuk itu objek pajak harus dilaporkan secara
benar dan lengkap. Pelaporan objek pajak yang benar dan lengkap harus bebas
dari berbagai rekayasa negatif.
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
1. Jelaskan dasar-dasar perencanaan pajak menurut saudara?
2. Faktor-faktor apa saja yang memotivasi Wajib Pajak untuk melakukan
penghematan pajak secara ilegal ?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Muljono Djoko. Tax Planing Menyiasati Pajak dengan Bijak. Penerbit Andi
Yogyakarta. 2009.
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Manajemen : sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran
secara efektif dan efisien.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
10
3. Manajemen Pajak : sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan
benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin
untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan.
4. Perencanaan : proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi, membuat
strategi digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi, serta
mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
5. Perencanaan Pajak: langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar
diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang dilakukan
6. Administrasi: keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih
yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya.
7. Administrasi Pajak : Cara-cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan
pajak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
11
PERTEMUAN 2: DASAR-DASAR PERENCANAAN PAJAK-2
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami:
risiko dan pengaruh pajak atas perusahaan, konsep dasar manajemen pajak,
motivasi dilakukannya perencanaan pajak, tahapan dalam membuat perencanaan
pajak dan tahap-tahap perencanaan pajak.
Penghindaran Sanksi Pajak Pelaksanaan Kewajiban Pajak,Motivasi
serta Tahapan dalam Membuat Perencanaan Pajak
Strategi Perpajakan
A. URAIAN MATERI
1. Penghindaran Sanksi Pajak, Pelaksanaan Kewajiban Pajak, Motivasi
serta Tahapan dalam Membuat Perencanaan Pajak
a). Penghindaran Sanksi Pajak
Pembayaran sanksi yang tidak seharusnya tejadi merupakan pemborosan sumber
daya perusahaan. Penghindaran pemborosan tersebut merupakan optimalisasi
alokasi sumber daya perusahaan ke arah yang lebih produktif dan efisien sehingga
dapat memaksimalkan kinerja dengan benar dan mengerjakan yang seharusnya,
selain harus bekerja keras dan bekerja secara cerdas.
b). Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan
Apabila pada tahap perencanaan pajak telah diketahui faktor-faktor yang akan
dimanfaatkan untuk melakukan penghematan pajak, maka langkah selanjutnya
adalah mengimplementasikan baik secara formal maupun material. Harus
dipastikan bahwa pelaksanaan kewajibab perpajakan telah memenuhi peraturan
perpajakan yang berlaku. Manajemen pajak tidak dimaksudkan untuk melanggar
pearaturan dan jika dalam pelaksanaanya menyimpang dari peraturan yang
berlaku, maka praktik tersebut telah menyimpang dari tujuan manajemen pajak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
12
c). Motivasi Dilakukkannya Perencanaan Pajak
Motivasi yang mendasari dilakukannya suatu perencanaan pajak umumnya
bersumber dari tiga unsur perpajakan :
1). Kebijakan perpajakan (tax policy);
2). UU Perpajakan (tax law);
3). Administrasi perpajakan (tax adminitration).
Ketiga unsur tersebut terjadi menurut proses sesuai dengan urutan waktu
penyusunan sistem perpajakan.
Tahapan Dalam Membuat Perencanaan Pajak Dalam arus globalisasi dan tingkat
persaingan yang semakin tajam seorang manajer dalam membuat suatu
perencanaan pajak sebagaimana strategi perencanaan perusahaan secara
keseluruhan juga harus memperhitungkan adanya kegiatan yang bersifat lokal
maupun internasional, maka agar Tax Planning dapat berhasil sesuai dengan yang
diharapkan, maka rencana itu seharusnya dilakukan melalui berbagai urutan
tahap-tahap berikut :
a). Menganalisis informasi yang ada;
b). Membuat satu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya pajak;
c). Mengevaluasi pelaksanaan rencana pajak;
d). Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana pajak;
e). Memutakhirkan rencana pajak.
2. Strategi Perpajakan
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan
pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua sumber
daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Perencanaan adalah salah satu unsur manajemen yang secara tidak langsung
menyatakan bahwa manajer harus terlebih dahulu memikirkan segala sesuatunya
dengan matang berkenaan dengan tujuan dan tindakkannya. Tindakan manajer
hendaknya didasarkan atas suatu metode, rencana, atau logika tertentu dan bukan
atas dasar suatu firasat. Perencanaan memberikan tujuan dan arah kepada
organisasi, menentukan apa yang akan dikerjakan, kapan akan dikerjakan,
bagaimana mengerjakannya, dan siapa yang akan mengerjakannya.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
13
a). Empat langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :
Langkah I : Tetapkan sasaran atau perangkat tujuan
Langkah II : Tentukan situasi sekarang
Langkah III : Identifikasi pendukung dan penghambat tujuan
Langkah IV : Kembangkan rencana atau perangkat tindakan untuk mencapai
tujuan. Keempat langkah pokok tersebut juga berlaku bagi penyusunan
perencanaan pajak, baik perencanaan pajak jangka panjang maupun perencanaan
pajak jangka pendek. Perlu diingatkan di sini, bahwa uraian berikut ini tidaklah
dimaksudkan untuk menjadikan seseorang ahli perencanaan pajak dibutuhkan
pengetahuan yang luas dan mendalam tentang ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan tersebut. Tujuan dari bab ini lebih ditekankan kepada
melengkapi seseorang dengan pengetahuan atau pun konsep-konsep dasar yang
berorientasi kepada teknik-teknik perencanaan pajak.
b). Strategi Dasar
Dalam mengelola perpajakan ada empat hal pokok yang harus diperhatikan, yaitu
:
Pemahaman mengenai masalah perpajakan jangan hendaknya dibatasi kepada
pemahaman UU pajak saja, tetapi juga harus meliputi Peraturan Pemerintah (PP),
Keputusan Presiden, Surat Keputusan Menteri Keuangan, SK?SE Dirjen Pajak,
agar tidak kehilangan jejak mengenai segala ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, apalagi apabila diingat bahwa fungsi SK dan SE. Dirjen
lebih
c. Langkah-Langkah Pokok
Tindakan yang harus diambil dalam rangka perencanaan pajak tersebut berupa
tindakan penstrukturan yang terkait dengan konskuensi pajak, maka langkah-
langkah yang harus mendapatkan perhatian dalam penyusunan perencanaan pajak
dan merupakan komponen-komponen system manajemen, adalah :
1). Menetapkan sasaran atau tujuan manajemen pajak, yang meliputi :
Usaha- usaha mengefisienkan beban pajak yang masih dalam ruang lingkup
pemjakan dan tidak melanggar ketentuan peraturan perpajakan perundang-
undangan perpajakan;
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
14
2). Mematuhi segala ketentuan administrative, sehingga terhindar dari pengenaan
sanksi-sanksi, baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana, seperti bunga
kenaikan, denda, dan hokum kurungan atau penjara;
3). Melaksanakan secara efektif segala ketentuan peraturan perundang-udangan
perpajakan yang terkait dengan pelaksanaan pemasaran, pembelian dan fungsi
keuangan seperti pemotongan dan pemungutan pajak (PPh pasal 21, pasal 22,
dan pasal 23).
4). Situasi sekarang dan identifikasi pendukung dan penghambat tujuan, yang
terdiri dari :
a). Identifikasi faktor lingkungan perencanaan pajak jangka panjang. Faktor ini
umumnya memiliki sifat yang permanen yang secara eksplisit terdapat dan
melekat pada ketentuaan peraturan perundang-undangan perpajakan. Faktor
tersebut merupakan parameter-parameter yang berpengaruh terhadap
perencanaan jangka panjang;
b). Etika kebijakan perusahaan dan ketentuan yang jelas mengenai fungsi dan
tanggung jawab manajemen perpajakan yang berlaku bagi seluruh personil
perusahaan;
c). Strategi perencanaan pajak yang terintegrasi dengan perencanaan perusahaan,
baik perencanaan perusahaan jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Pajak dan Pengambilan Keputusan
Bagi manajer, tugas pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan
bagian penting dari pekerjaannya. Berapa besar pajak yang harus dibayar,
bagaimana caranya agar pembayaran tersebut efisien, bagaimana cara melakukan
penghindaran pajak yang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, bagaimana hasil penghematan pajak digunakan dan untuk
keperluaan apa, merupakan masalah-masalah yang harus diputuskan oleh seorang
manajer. Keputusan manajer tersebut akan memberikan kerangka bagi anggota
lainnya dalam organisasi itu untuk bertindak.
e. Pemberian dalam Bentuk Natura dan Kenikmatan
Sebagai ilustrasi, biaya penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan
atau jasa yg diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, Kecuali penyedia
makanan dan minuman bagi seluruh pegawai, sebesar Rp. 300.000.000,- setahun,
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
15
merupakan biaya fiscal yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilannya. Aspek
pajak yang muncul akibat koreksi fiscal terhadap pemberiaan dalam bentuk natura
dan kenikmatan tersebut, harus diperhitungkan oleh perusahaan, yang dapat
terlihat pada Ekshibit 1.
Apabila pengambil keputusan tidak memperhatikan kemungkinan adanya koreksi
fiscal atas perhitungan yang dilakukan oleh wajib pajak sendiri dan hanya
memperhitungkan penghasilan kena pajak secara komersial, maka jelas terlihat
bahwa perkiraan pengambilan keputusan terhadap penghasilan setelah pajak akan
keliru (Rp. 157.500.000,-) dan pada akhirnya berpengaruh pula terhadap kegiatan
perusahaan termasuk perencanaan investasi dan/atau pembagiaan labanya
Ekshibit 1.
Uraian Perhitungan Perhitungan Koreksi
Komersial Fiskal Fiskal
(Rp) (Rp) (Rp)
Penghasilan 1.000.000.000 1.000.000.000 -
Biaya 800.000.000 500.000.000 300.000.000
(komersial termasuk biaya
natura dan kenikmatan)
Penghasilan sebelum 200.000.000 500.000.000 300.000.000
Pajak 42.500.000 132.500.000 90.000.000
Pajak Penghasilan (Badan)
Penghasilan setelah pajak 157.500.000 367.500.000
Koreksi PPh 90.000.000 -
Koreksi Biaya 67.500.000 300.000.000
Penghasilan setelah 67.500.000
Pajak setelah koreksi fiskal
Misalkan Perusahaan ABU dan NIDAL sama-sama mempertimbangkan untuk
menaikkan gaji para karyawan yang berjumlah keseluruhannya Rp. 25.000.000,- .
Bagi perusahaan ABU dan NIDAL biaya langsung atau biaya sebelum pajak (pre-
tax cost) adalah sama besarnya yaitu masing-masing Rp. 25.000.000,- yang dapat
dikurangkan dari penghasilannya, akan tetapi biaya setelah pajaknya akan
berbeda-beda tergantung kepada tarif marjinalnya. Apabila diasumsikan tariff
marjinal perusahaan ABU adalah 10%, sedang NIDAL menanggung beban pajak
atas dasar tariff marjinal 30%, maka kenaikan beban pajak kedua perusahaan
tersebut tidak akan sama. Pajak yang dapat dihemat perusahaan ABU hanyalah
10% x Rp. 25.000.000,- = Rp. 2.500.000,- sedang perusahaan NIDAL dapat
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
16
menghemat sebesar 30% x Rp. 25.000.000,- = Rp. 7.500.000,-. Dengan demikian
berarti, bagi perusahaan ABU jumlah biaya setelah pajaknya (after-tax cost)
adalah (Rp. 25.000.000,- - Rp. 7.500.000,-) = Rp. 17.500.000,- atau secara
singkat dapat terlihat pada perhitungan berikut ini.
Ekshibit 2.
Uraian ABU (Rp.) NIDAL (Rp.)
Tarif Marjinal 10% 30%
Biaya sebelum Pajak (akibat 25.000.000 25.000.000
kenaikan gaji) 2.500.000 7.500.000
Pajak yang dapat dihemat
Biaya setelah pajak 22.500.000 17.500.000
Melihat ilustrasi tersebut di atas, terlihat bahwa untuk kepentingan pengambilan
keputusan perlu adanya pembedaan antara tariff pajak rata-rata (average tax rate)
dan tarif pajak marjinal (marginal tax rate). Tarif pajak rata-rata memperlihatkan
perbandingan (rasio) antara jumlah pajak terutang dengan penghasilan kena pajak,
sedang tariff pajak marjinal merupakan tariff pajak atas rupiah terakhir dari
penghasilan yang dikenakan pajak. Apabila ingin diketahui berapa besar jumlah
tambahan pajak yang harus dibayar atau yang harus dihindarkan akibat suatu
transaksi yang spesifik, maka tariff pajak marjinallah yang ada relevansinya dan
bukan tariff pajak rata-rata. Itulah sebabnya kenapa pada contoh di atas digunakan
tariff pajak marjinal dan bukan tariff pajak rata-rata. Tarif pajak rata-rata
mewakili tariff pajak yang akan dikenakan pada setiap segmen penghasilan,
sepanjang setiap segmen tersebut dikenakan tariff seragam. Ilustrasi tersebut juga
memperlihatkan bahwa pada akhirnya pemerintahlah yang membiayai setiap sen
pengurangan yang dilakukan oleh wajib pajak, sebagai akibat ekstensinya tariff
marjinal tersebut, atau dengan perkataan lain biaya fiscal yang dapat dikurangkan
dari penghasilan menjadi semakin menurun akibat tariff pajak marjinal untuk
menghasilkan biaya setelah pajak. Jumlah neto pajak terutang dari suatu
keuntungan atau biaya ditentukan oleh jumlah bruto dikurangi bagian yang
diserap oleh pengaruh pajak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
17
e). Tambahan Modal dan Tambahan Penggantian Aset
Apabila suatu perusahaan membutuhkan tambahan modal untuk suatu jangka
waktu yang relative panjang, ada beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan
oleh perusahaan tersebut antara lain :
1). Menerbitkan saham-saham baru, atau;
2). Kredit investasi jangka panjang.
Pertimbangan factor pajak yang menjadi dasar keputusn untuk memilih cara
penambahan modal yang mana yang akan digunakan, adalah menyangkut
perbedaan perlakuan yang berbeda antara biaya fiscal yang dapat dikurangkan dan
pengeluaran yang tidak dapat dikurangkan, seperti halnya biaya bunga yang
dibayar (biaya fiscal dapat dikurangkan) dan pembagian keuntungan yang akan
dilakukan oleh perusahaan (pengeluaran yang tidak dapat dikurangkan) atau
dengan perkataan lain harus dipertimbangkan lebih dahulu antara dua
kemungkinan tersebut yang lebih menguntungkan ditinjau dari sudut pandangan
komersial maupun fiscal. Begitu pula halnya dengan keputusan manajer tentang
cara-cara memperoleh tambahan atau penggantian asset yang pada umumnya
berkisar pada masalah dan pilihan berikut ini :
a). Kemungkinan memperoleh kredit investasi
b). Alternatif penyusutan yang diperkenankan
c). Pilihan penyusutan yang diperkenankan
d). Pilihan antara pembelian dan leasing
e). Pilihan antara pembelian asset baru atau aset bekas.
Yang kesemuanya itu harus dipertimbangkan dengan kemungkinan beban pajak
yang paling efisien atau adanya ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang mengatur secara khusus berkenaan dengan hasl tersebut di atas,
seperti misalnya membandingkan antara besaran penyusutan dan besaran uang
leasing apabila ada pilihan antara pembelian dan leasing.
f). Petunjuk Pelaksanaan Perencanaan Pajak Umum
Perhitungan pajak terutang (final) merupakan fungsi dari tiga varebel, yaitu :
1). Variebel ketentuan peraturan perundang-undangan pajak (Tax Law);
2). Variebel fakta (Facts) dan;
3). Variebel proses administrasi dan kadang-kadang juga proses pengadilan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
18
Dari ketiga variebel tersebut, sedikit sekali perhatian terhadap peranan kritis dari
suatu fakta dan betapa pentingnya peranan suatu fakta dalam menentukan setiap
sen utang pajak, terbukti dari kenyataan bahwa fakta adalah salah satu variebel
yang setiap orang dapat berbuat sesuatu terhadapnya, berbeda dengan UU pajak
yang merupakan variebel yang sudah pasti yang setiap orang atau badan harus
mematuhinya sesuai dengan ketentuan yang terdapat di dalamnya. Apabila
seseorang tidak puas, baik terhadap UU pajak maupun terhadap administrasi dan
proses pengadilan, maka relative sedikit sekali yang dapat diperbuat seseorang
untuk memenuhi tuntutan ketidakpuasannya tersebut. Pada umunya fakta dapat
dimodifikasi dan apabila orang atau badan tersebut bijaksana untuk dapat
mengerti kapan dan bagaimana memodifikasi fakta, hal ini berarti bahwa orang
atau badan tersebut akan dapat mengefisienkan pembayaran pajak yang cukup
berarti, melalui beberapa alternative-alternatif penstrukturan lebih dulu fakta
tersebut.
g). Prinsip Taxable (DPT Dipajaki) dan Dedutictible (DPT Dikurangi).
Prinsip taxable dan deductible merupakan prinsip yang lazim dipakai dalam
perencanaan pajak, yang pada umumnya mengubah biaya yang tidak boleh
dikurangkan menjadi biaya yang boleh dikurangkan atau sedikitnya mengubah
penghasilan yang merupakan objek pajak menjadi penghasilan yang tidak boleh
dikurangkan atau sebaliknya mengubah penghasilan yang merupakan objek pajak
menjadi penghasilan yang tidak objek pajak, dengan konsekuensi terjadinya
perubahan pajak terutang akibat pengubahan tersebut. Dalam hal ini tentunya
harus dipertimbangkan mana yang lebih menguntungkan perusahaan, apakah
perubahan jumlah pajak terutang akibat pengubahan tersebut. Dalam hal ini
tentunya harus dipertimbangkan mana yang lebih menguntungkan perusahaan,
apakah perubahan jumlah pajak terutang akan menjadi lebih besar atau lebih kecil
atau sama dengan jumlah pajak terutang akibat koreksi fiscal, apabila tidak
dilakukan pengubahan tersebut. Sebagai ilustrasi pemberiaan dalam bentuk natura
dan kenikmatan kepada para pegawai, berdasarkan pasal 4 ayat (3) huruf d UU
Pajak Penghasilan, bukan merupakan objek pajak (penghasilan), sehingga tidak
dipajaki atas penghasilan tersebut. Sebaliknya dari sudut pandangan perusahaan
yang mengeluarkan biaya tersebut, secara komersial merupakan biaya yang dapat
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
19
dikurangkan dari penghasilan perusahaan, tetapi berdasarkan pasal 9 ayat (1)
huruf e UU Pajak Penghasilan merupakan biaya yang tidak boleh dikurangkan.
B. LATIHAN SOAL/TUGAS
1. Jelaskan strategi perencanaan pajak yang baik?
2. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah pokok strategi perencanaan pajak?
C. DAFTAR PUSTAKA
1. Muljono Djoko. Tax Planing Menyiasati Pajak dengan Bijak. Penerbit Andi
Yogyakarta. 2009.
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
D. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Manajemen : sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran
secara efektif dan efisien.
3. Manajemen Pajak : sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan
benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk
memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan.
4. Perencanaan : proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi, membuat
strategi digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi, serta
mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
5. Perencanaan Pajak: langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar
diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang dilakukan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
20
6. Administrasi: keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang
didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya.
7. Administrasi Pajak : Cara-cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan
pajak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
21
PERTEMUAN 3: LAPORAN KEUANGAN FISKAL-1
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
SAK dalam kaitannya dengan peraturan perpajakan Indonesia, rekonsiliasi
laporan keuangan akuntansi dengan laporan keuangan fiskal, dan penyebab
perbedaan akuntansi pajak dan komersial.
B. URAIAN MATERI
1. Prinsip Akuntansi Yang Diakui oleh Akuntansi Pajak
a). Cost Principle
1). Laporan Komersial, Prinsip akuntansi mengharuskan sebagian besar asset
diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga perolehan (biaya historis). Biaya
Historis ini merupakan dasar penilaian yang tepat untuk mencatat harga perolehan
barang dan jasa. Baiya historis dibedakan menjadi dua expired cost (biaya yang
sudah kadaluarsa) adalah pengeluaran – pengeluaran yang telah menjadi
bebanmelalui penerimaan manfaat dalam periode berjalan dan bebanini akan
dikurangkan atau ditandingkan langsung dengan pendapatan periode berjalan,
unexpired cost (biaya yang belum kadaluarsa) adalah pengeluaran – pengeluaran
yang belum menjadi beban pada periode berjalan.
2). Laporan Fiskal, Sesuai Pasal 10ayat (6) Undang – Undang PPh Nomor 36
tahun 2008, persediaan dan pemakaian persediaan untuk perhitungan harga pokok
dinilai berdasarkan harga perolehan, baik yang dilakukan secara rata – rataatau
dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh.
b). Revenue Principle
1). Laporan Komersial, Pengakuan Pendapatan seharusnya diakui pada saat :
aa). Telah direalisasi/ dapat direalisasi pendapatan dapat terealisasi ketika
dapat di konversi menjadi kas, telah terjadai pembayaran (telah direalisasi) atau
setidaknya janji pembayaran yang sah kepada perusahaan (dapat direlaisasi).
bb). Telah dihasilkan/ telah terjadi pendapatan dianggap telah dihasilkan/ telah
terjadi (earned) apabila perusahaan telah melakukan apa yang seharusnya
dilakukan untuk mendapatkan hak atas pendapatan tersebut. Pendapatan diakui
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
22
ketika jasa/ barang telah dikirim atau jasa telah diberikan kepada
pelanggan.Pendapatan diakui ketika sebagian besar barang atau jasa yang
dijanjikannya kepada pelanggan.
2). Laporan Fiskal, Sesuai Pasal 4 ayat (1) Undang – Undang PPh Nomor 36
tahun 2008, yang menjadi objek pajak adalah Yang menjadi objek pajak adalah
penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan
Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
c). Matching Principle
1). Laporan Komersial, Untuk mencatat besarnya jumlah pendapatan dan beban
secara tepat dalam periode yang tepat, ada dua pilihan yang tersedia yang dapat
dijadikan sebagai dasar pencatatan oleh akuntan yaitu cash basis dan accrual
basis. Apabila dasar pencatatan akuntansi yang digunakan adalah cash basis,
maka pendapatan dan beban dilaporkan dalam laporan laba rugi pada periode
dimana uang kas diterima (untuk pendapatan) atau uang kas yang dibayarkan
(untuk beban). Besarnya laba bersih yang dihasilkan dari selisih antara pendapatan
dengan beban, akan mencerminkan jumlah bersih uang kas yang dihasilkan untuk
net income (laba) atau jumlah bersih uang kas yang dikeluarkan untuk net loss
(rugi). Apabila dasar pencatatan akuntansi yang digunakan adalah accrual basis,
maka pendapatan dan beban dilaporkan dalam laporan laba rugi dalam periode
dimana pendapatan dan beban tersebut terjadi, tanpa memperhatikan arus kas
uang masuk dan arus kas uang keluar.
2). Laporan Fiskal, menurut pasal 6 ayat (1) Undang – Undang PPh Nomor 36
tahun 2008, Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
d). Objectivity Principle
1). Laporan Komersial, Manfaat laporan keuangan akan tergantung pada tingkat
kepercayaan pemakai akan prosedur pengukuran yang digunakan. Untuk
memberikan keyakinan ini, Objectivity Principle sebagai dsar pembenaran untuk
memperoleh suatu ukuran atau prosedur. Objectivity sesungguhnya merupakan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
23
realitas yang dikemukakan oleh pihak luar yang independen dari orang yang
merasakannya. Objectivity dianggap sebagai suatu ukuran yang dapat diverifikasi
kebenarannya (keabsahannya), berdasarkan pada bukti yang ada, Ukuran
Objectivity juga dianggap sebagai hasil konsensus diantara kelompok – kelompok
tertentu yang mengamatinya atau mengukurnya. Nilai perolehan suatu asset yang
bersifat objectivity mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan
perolehannya dan persiapannya sampai asset dapat digunakan.Jadi disamping
harga beli, pengeluaran – pengeluaran lain yang diperlukan untuk mendapatkan
dan mempersiapkan asset harus disertakan sebagai perolehan.
2). Laporan Fiskal, menurut penjelasan pasal 11A ayat (1) Undang – Undang
PPh Nomor 36 tahun 2008, Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta
tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna
bangunan, hak guna usaha, hak pakai, dan muhibah (goodwill) yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama
besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang
dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau
atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan
syarat dilakukan secara taat asas.
e). Constency Principle
1). Laporan Komersial, Transaksi danperistiwa ekonomi yang sejenis harus
dicatat dan dilaporkan dengan cara yang sama dari satu periode ke periode
berikutnya agar Laporan Keuangan dapat dibandingkan (memiliki daya banding).
Apabila sebuah Perusahaan menerapkan perlakuan akuntansi yang sama untuk
kejadian – kejadian yang serupa dari periode ke periode, maka perusahaan
tersebut dianggap telah konsisten dalam menerapkanstandar akuntansinya.
2). Laporan Fiskal, menurut pasal 28 ayat (5)Undang – Undang KUP Nomor28
tahun 2007, pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan
stelsel akrual atau stelsel kas. Contoh lain dalam pasal 11 ayat (2) Undang –
Undang PPh Nomor 36 tahun 2008, Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam
bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
24
menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat
nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas.
f). Disclosure Principle
1). Laporan Komersial, Seluruh informasi dalam Laporan Keuangan seharusnya
disajikan dengan cara yang tidak memihak, dapat dipahami dan tepat
waktu.Dalam memtutuskan informasi yang dilaporkan , pembuat Laporan
Keuangan harus memperhatikan kecukupaninformasi yang dapat mempengaruhi
penilaianpemakai Laporan Keuangan.
2). Laporan Fiskal, menurut penjelasan pasal 14 Undang – Undang PPh Nomor
36 tahun 2008, Informasi yang benar dan lengkap tentang penghasilan Wajib
Pajak sangat penting untuk dapat mengenakan pajak yang adil dan wajar sesuai
dengan kemampuan ekonomis Wajib Pajak. Untuk dapat menyajikan informasi
dimaksud, Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan.
g). Conservatism Principle
1). Laporan Komersial, Apabila akuntan dihadapkan untuk memilih salah satu
diantara dua atau lebih metode akuntansi yang sama – sama diterima atau berlaku
umum, maka akuntan harus mengutamakan pilihan yang akan memberikan
pengaruh keuntungan yang paling kecil pada ekuitas. Contoh metode penyisihan
yang digunakan untuk mencatat piutang tak tertagih, dimanaa piutang usaha
dilaporkan dalam neraca sebesar jumlah yang lebih realistis (dan lebih rendah)
sehingga mencerminkan dengan baik jumlah piutang sesungguhnya yang dapat
ditagih.
2). Laporan Fiskal, menurut pasal 9 ayat (1) huruf c Undang – Undang PPh
Nomor 36 tahun 2008,untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajakbangi
WP dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap tidak boleh dikurangkan dengan
pembentukan atau penumpukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak
tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa
guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan
anjak piutang;
h). Materiality Principle
1). Laporan Komersial, Dampak dari suatu item terhadap hasil operasi dan
posisi keuangan Perusahaan secara keseluruhan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
25
2). Laporan Fiskal, menurut pasal 9 ayat (2) Undang – Undang PPh Nomor 36
tahun 2008, Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak
dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui
penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal
11A.
i). Uniformitydan Comparability Principle
1). Laporan Komersial, Sesungguhnya hakekat dari Comparability adalah bahwa
informasi akan menjadi lebih berguna ketika informasi tersebut dapat dikaitkan
dengan standar. Perbandingan dapat dilakukan dengan informasi serupa dengan
perusahaan lain yang berada dalam satu industri yang sama atau dikaitkan dengan
data industri (sebagai patokan) pada periode waktu yang sama (memerluakan
keseragaman metode) dengan informasi serupa dari perusahaan yang sama tetapi
untuk periode waktu yang berbeda. Comparability data akuntansi untuk
perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda memerlukan konsistensi.
2). Laporan Fiskal, menurut penjelasan pasal 13 Undang – Undang PPh,
Kewajiban pembukuanmenggunakan cara atausistemyang dipakai di Indonesia,
yaitu SAK, kecuali Perundang- undangan perpajakan menghendaki lain. Jika ada
perbedaan antara akuntansi komersial dengan perpajakan maka undang – undang
perpajakan memiliki prioritas untuk dipenuhi agar tidak menimbulkan kerugian
yang material bagi WP.
j). Proses Penyusunan Laporan Fiskal
1). Laporan keuangan Fiskal dibuat dengan caramelakukan rekonsiliasi Fiskal
dengan cara melakukan rekonsiliasi Fiskal terhadap Laporan Keuangan
Komersial.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
26
k). Rekonsiliasi Fiskal
Rekonsiliasi Fiskal
Perusahaan harus menyajikan Laporan Keuangan kepada pemegang saham sesuai
dengan PSAK, nemun disisi lain, sebagai WP, Perusahaan harus menyajikan
Laporan Keuangan kepada Pemerintah (dalam hal ini Direktorat jendral Pajak)
sesuai dengan ketentuan Perpajakan yang berlaku. Karena SAK dan Ketentuan
Perpajakan memiliki dsar ynag berbeda, maka penentuan Laba Akuntansi (pretax
Financial Income) dan Penghasilan Kena pajak atau laba Fiskal (taxable Income)
juga menghasilkan angka yang berbeda. Perbedaan antara besarnya Laporan
Akuntansi dan Laba Fiskal ini dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu
perbedaan permanen/ perbedaan tetap (Permanent Differences) dan perbedaan
sementara (temporary/timing differences) Perbedaan PSAK dan Pengaturan
Perpajakan dibagi menjadi 2 :
a). Beda Tetap (Permanent Differences)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
27
1). Penghasilan
menurut Akuntnasi Komersial merupakan penghasilan sedang menurut
Perpajakan telah dikenakan PPh Final.
2). Biaya
menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedang menurut
Perpajakan telah dikenakan PPh Final.
3). Beda Waktu (temporary difference)
Perbedaan Pengakuan/ Penghasilan dan Biaya yang sifatnya sementara akan
mengakibatkan koreksi fiskal Positif pada saat diterima dan menyebabkan
koreksi negatif pada tahun berikutnya. Contoh :
a). Penyusutan/Amortisasi
b). Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008
Pasal 11 adalah:
a). Metode Garis Lurus (straight-line method)
b). Metode Saldo Menurun (declining-balance method)
c). Penilaian Persediaan UU PPh No. 36 Tahun 2008 pasal 10 ayat (6), yaitu :
metode rata-rata (average) atau metode FIFO.
Koreksi Positif biasanya dilakukan akibatadanya hal –hal berikut :
a). Biaya yang tidak diakui oleh Pajak sesuai Pasal 9 ayat (1) UU PPh no 36 tahun
2008
b). Penyusutan menurut Akuntansi lebih besar dibanding menurut Pajak
c). Amortisasi menurut Akuntansi lebih besar dibanding menurut Pajak
d). Pendapatan yang ditangguhkan pengakuannya(pendapatan diterima di muka
yang diperlakukansebagai utang).
e). Kerugian yang belum direalisasi atas penurunan sementara nilai sekuritas
trading.
f). Kerugian yang belum direalisasi atas penurunan sementara nilai sekuritas
persediaan.
g). Biaya garansi produk menurut Akuntansi lebih besar dibanding menurut pajak.
h). Penyesuaian Fiskal Positif lainnya.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
28
Koreksi Negatif biasanya dilakukan akibatadanya hal –hal berikut :
a). Biaya yang tidak termasuk objek pajak sesuai Pasal 4 ayat (3) UU PPh no 36
tahun 2008
b). Penghasilan yang dikenakan PPh Final sesuai Pasal 4 ayat (2) UU PPh no 36
tahun 2008
c). Amortisasi menurut Akuntansi lebih kecil dibanding menurut Pajak
d). Penyusutan menurut Akuntansi lebih kecil dibanding menurut Pajak
e). Pendapatan yang masih harus diterima (telah diakui sebagai pendapatan
meskipun belum ada realisasi penerimaan uang).
f). Kerugian yang belum direalisasi atas kenaikan sementara nilai sekuritas
trading.
g). Penjualan cicilan
h). Penyesuaian Fiskal Negatif lainnya.
Kertas Kerja Rekonsiliasi Fiskal
Deskripsi Menurut Koreksi Koreksi Menurut Keterangan
Nama Akun Akuntansi Fiskal Fiskal Pajak
Poitif Negatif
Penjualan
Harga
Pokok
Penjualan
Penghasilan
Bruto Bersih
Beban
Usaha
Laba Bersih
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
1. Jelaskan Perbedaab Prinsip dalam Akuntansi Komersial dan Akuntansi Fiskal ?
2. Jelaskan Penyusutan Laporan Fiskal ?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
29
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Koreksi Fiskal Positif : koreksi yang mengakibatkan laba kena pajak
bertambah atau rugi fiskal berkurang.
2. Koreksi Fiskal Negatif : koreksi yang mengakibatkan laba kena pajak
berkurang atau rugi fiskal bertambah.
3. Rekonsiliasi Fiskal : sebuah lampiran SPT Tahunan PPh berupa kertas kerja
yang berisi penyesuaian antara laba/rugi sebelum pajak menurut
komersial/pembukuan dengan laba/rugi menurut SPT Tahunan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
30
PERTEMUAN 4: PERENCANAAN PAJAK PPh PASAL 21 - 1
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami: perlakuan perencanaan PPh Pasal 21 agar
dapat mengefisienkan beban pajak dan perlakuan perpajakan yang baik dalam
pemberian tunjangan atau fasilitas bagi karyawan.
B. URAIAN MATERI
1. Sekilas Pajak Penghasilan Pasal 21
Sejak diberlakukannya penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tahun
2013, maka seorang perencana pajak (Tax Planner) pun sudah memiliki strategi
tersendiri menyikapi hal positif tersebut entah itu strategi tax avoidance maupun
tax evation. Dalam melakukan perhitungan dan pembayaran pajak khususnya
Pajak Penghasilan Pasal 21 wajib pajak memiliki 3 (tiga) opsi dan masing-masing
memiliki nilai plus dalam rangka mengefisienkan beban perusahaan yaitu : 1).
Gross Method dimana PPh Pasal 21 ditanggung oleh Karyawan, 2). Net Method,
PPh Pasal 21 ditanggung oleh perusahaan. dan 3). Gross Up Method merupakan
suatu metode dimana tunjangan pajak yang di gross up.
a). Gross Method (PPh Pasal 21 ditanggung sendiri oleh karyawan).
Adalah suatu metode pemotongan pajak dimana karyawan menanggung sendiri
jumlah pajak penghasilannya, pada umumnya dipotong langsung dari gaji
karyawan. Perhitungan metode ini adalah hal yang hampir sebagian besar
dilakukan perusahaan karena mungkin tidak terlalu rumit bagi perusahaan atau
mungkin memang cocok dengan keadaan perusahaan (siklus hidup perusahaan).
Contoh Perhitungan Gross Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000,-
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- ( Rp. 200.000,-)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
31
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,- (Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp. 15.225.000,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,-
Maka Busiri Asmuruf akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp. 4.000.000,-
dikurang Rp. 63.438,- yaitu sebesar Rp. 3.936.563,-.
b). Net Method (PPh Pasal 21 ditanggung Perusahaan)
Merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung pajak
karyawannya. Contoh Perhitungan Net Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak apabila PT.
ASI menggunakan Net Method dalam perhitungan perpajakannya :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000,-
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,- (Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp. 15.225.000,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,- Maka Busiri
Asmuruf tetap akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp. 4.000.000,-
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
32
sementara perusahaan menanggung pajaknya sebesar Rp. 63.438,- dan atas
tunjangan ini tidak boleh dibiayakan oleh perusahaan non deductible .Atas pajak
yang ditanggung PT. ASI sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 8 ayat (1) Per-
31/PJ./2009 tang 25 Mei 2009 tentang Pedoman teknis tatacara pemotongan,
penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi, ditegaskan bahwa Pajak
Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja, termasuk yang ditanggung
pemerintah merupakan penerimaan dalam bentuk kenikmatan. Artinya besarnya
PPh Pasal 21 yang ditanggung perusahaan tidak bisa dibiayakan (non deductible).
c). Gross Up Method (Tunjangan pajak yang digross up)
Suatu metode pemotongan pajak dimana perusahaan memberikan tunjangan pajak
yang jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak yang akan dipotong dari
karyawan. Berikut ini rumusan gross up, dimana formula gross up PPh Pasal 21
terbagi dalam 4 (empat) lapisan rentang Penghasilan Kena Pajak (PKP) sesuai
dengan tarif pasal 17 UU PPh (Tarif Progresif), yaitu :
PKP s.d Rp. 50.000.000 : PKP X 5% 0.95PKP di atas Rp. 50.000.000 s.d Rp.
250.000.000,- : (PKP x 15%) - Rp. 5 Juta 0.85PKP di atas Rp. 250.000.000 s.d
Rp. 500.000.000,- : (PKP x 25%) - Rp. 30 Juta 0.75PKP di atas Rp. 500.000.000 :
(PKP x 30%) - Rp. 55 Juta 0.70Contoh Perhitungan Gross Up Method:
Busiri Asmuruf diterima bekerja di PT. ASI dan mulai bekerja per 1 Januari 2013,
status Busiri Asmuruf adalah K/2. Gaji yang diterima adalah Rp. 4.000.000,-
Berapakah gaji yang diterima Busiri Asmuruf setelah dipotong pajak apabila PT.
ASI menggunakan Net Method dalam perhitungan perpajakannya :
Penghitungan Pajak :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000,-
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.800.000,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 45.600.000,-
PTKP Setahun
Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-
Tambahan WP Kawin = Rp. 2.025.000,-
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
33
Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,- (Rp. 30.375.000)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) Setahun Rp. 15.225.000,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun 5% x Rp. 15.225.000 Rp. 761.250,-
Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp. 761.250,- : 12 Rp. 63.438,- Maka Busiri
Asmuruf tetap akan menerima gaji bersih perbulan adalah Rp. 4.000.000,- Rumus
Gross Up (jika tarif pajak masuk Lapisan I) Tunjangan Pajak PPh Pasal 21 : PKP
X 5% = Rp. 801.316,- /tahun 0.95 maka perhitungan menjadi sebagai berikut :
Gaji Sebulan Rp. 4.000.000,-
Tunjangan PPh Pasal 21 Rp. 66.776,-
Jumlah Penghasilan Bruto Rp. 4.066.776,-.
Pengurang :
Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.000.000,- (Rp. 200.000,-)
Penghasilan Neto sebulan Rp. 3.866.776,-
Penghasilan Neto setahun (12 x Rp. 3.800.000,-) Rp. 46.401.316,-
PTKP Setahun Wajib Pajak Sendiri = Rp. 24.300.000,-Tambahan WP Kawin =
Rp. 2.025.000,- Tanggungan 2 = Rp. 4.050.000,- (Rp. 30.375.000) Penghasilan
Kena Pajak (PKP) Setahun Rp. 16.026.316,-Pajak Penghasilan Pasal 21 Setahun
5% x Rp. 16.026.316,- Rp. 801.316,- Pajak Penghasilan Pasal 21 sebulan Rp.
761.250,- : 12 Rp. 66.776,- Pada prinsipnya Gross Up adalah untuk mencari
tunjangan pajak yang jumlahnya sama dengan pajak yang terutang. Karena
besarnya tunjangan pajak yang diberikan perusahaan dimasukan sebagai
penghasilan yang dicantumkan dalam SPT PPh Pasal 21 maka atas seluruh
tunjangan pajaknya dapat dibiayakan (deductible).
2. Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan PPh Pasal 21 PT. “X”
Suatu sistem manajemen pajak yang efektif merupakan hal terpenting bagi
perusahaan untuk tetap bertahan dalam kondisi yang sekarang ini, untuk itu
diperlukan adanya suatu perencanaan pajak (tax planning) dalam rencana kerja
tanpa harus melanggar Undang-undang Perpajakan yang berlaku. Pelaksanaan
perencanaan PPh Pasal 21 oleh perusahaan diharapkan dapat meminimumkan
beban pajak terhutang karyawan, yang nantinya akan menguntungkan kedua belah
pihak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
34
Kebijakan PT.”X” terhadap karyawannya yang berhubungan dengan perpajakan
khususnya PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
a). Penghasilan setahun karyawan berasal dari gaji pokok saja ditambah dengan
Tunjangan Hari Raya itupun hanya untuk karyawan yang bekerja dengan masa
kerja satu tahun penuh.
b). Untuk lebih memotivasi kinerja karyawan dan lebih memperlancar
kegiatan operasi perusahaan maka perusahaan memberikan kepada
karyawannya fasilitas- fasilitas berupa natura seperti makan siang ditempat,
tempat tinggal atau mess bagi karyawan lelaki yang berstatus belum menikah,
bus antar jemput karyawan dan balai kesehatan.
c). Ditanggungnya seluruh PPh Pasal 21 terutang karyawan oleh perusahaan.
Berdasarkan kebijakan perusahaan diatas dan setelah dilakukan evaluasi
perhitungan SPT 1721 tahun 2004 yang dilakukan oleh PT.”X”. tadi maka
dapat dilihat beberapa masalah yang menghambat kegiatan operasi perusahan
Bahkan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Masalah-masalah tersebut akan
dibahas dibawah ini beserta jalan keluarnya yang merupakan bagian dari
perencanaan pajak khususnya untuk PPh Pasal 21, yaitu:
a). Masih ditanggungnya PPh Pasal 21 karyawan secara keseluruhan oleh
perusahaan namun perusahaan tidak dapat membebankan biaya penanggungan
PPh Pasal 21 tersebut sebagai biaya fiskal perusahaan. Berdasarkan Undang-
undang Perpajakan No.17 tahun 2000 Pasal 9 ayat 1 (h) menyebutkan
bahwa biaya atas penanggungan pempayaran PPh oleh perusahaan merupakan
biaya yang tidak dapat dijadikan biaya oleh perusahaan dalam laporan
keuangan fiskal. Sebab terjadinya kondisi diatas dikarenakan maksud awal
perusahaan agar karyawan merasa senang atas penghasilan yang diterima
setiap bulannya dapat diterima penuh tanpa potongan apapun. Apalagi
perusahaan hanya memberikan gaji pokok saja setiap bulannya tanpa
tambahan kenikmatan lainnya. Akibat hal tersebut perusahaan akan dirugikan
secara material karena biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menanggung
PPh Pasal 21 karyawan tidak dapat dijadikan biaya dalam laporan keuangan
fiskal, dengan begitu biaya yang dikeluarkan perusahaan berjumlah besar
dengan hasil akhir pajak badan yang juga berjumlah besar. Sebaiknya
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
35
perusahaan memberikan tunjangan PPh dengan cara gross up karena
dengan begitu kedua belah pihak akan diuntungkan satu sama lain. Di sisi
perusahaan tunjangan PPh dapat dijadikan biaya dalam laporan keuangan
fiskal sehingga dapat menekan beban pajak badan dan disisi karyawan
pendapatan yang diterimanya tetap seutuhnya karena perusahaan
memberikan tunjangan PPh Pasal 21nya sebesar jumlah PPh Pasal 21
terutang.
b). Adanya kebijakan yang dilakukan oleh PT. “X” dalam pemberian natura
kepada karyawannya seperti pemberian mess (tempat tinggal) dan balai
kesehatan, namun perusahaan tidak dapat membebankan biaya pemberian
natura tersebut sebagai biaya fiskal perusahaan Berdasarkan Undang-undang
Pajak No.17 tahun 2000 Pasal 6 ayat 1 (a) menyebutkan tunjangan dalam
bentuk uang dapat dijadikan biaya oleh perusahaan dalam laporan
keuangan fiskal. Akan tetapi pemberian natura selain dalam bentuk uang tidak
dibolehkan dijadikan biaya, kecuali pemberian natura berupa makan siang
ditempat dan layanan bus antar jemput karyawan, sesuai dengan Undang-
undang Pajak No. 17 tahun 2000 Pasal 9 ayat 1 (e). Perusahaan memberikan
natura seperti mess (tempat tinggal) dan balai kesehatan disebabkan karena
adanya maksud perusahaan agar karyawan dapat meningkatkan produktifitas
kerjanya dan lebih memperlancar kegiatan operasi perusahaan. Hal tersebut
memang dapat saja dilakukan perusahaan tapi sangatlah merugikan karena
akibatnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh natura tadi tidak dapat
dijadikan biaya pada saat pembuatan laporan keuangan fiskal, otomatis hal
tersebut bisa membuat pajak badan menjadi lebih besar karena biaya yang
dibebankan perusahaan terlalu kecil. Untuk itu sebaiknya perusahaan
memberikan natura atau kenikmatan kepada karyawannya berupa tunjangan
yang berbentuk uang, sebagaimana yang dimaksud point 1. Dalam kasus ini,
alangkah baik PT. “X” memberikan tunjangan berupa tunjangan rumah dan
tunjangan kesehatan.
c). Terdapat kesalahan hitung dalam SPT 1721 tahun pajak 2010 khususnya pada
perhitungan PPh Pasal 21 yang ditanggung Pemerintah. Sebagai contoh
karyawan PT. “X” yang bernama Jasuki dengan status K/3, nominal PPh
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
36
Pasal 21 yang ditanggung Pemerintahnya berjumlah lebih kecil dari yang
seharusnya (dalam SPT 1721 berjumlah Rp.126.500,- sedangkan
jumlah seharusnya Rp. 138.000). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47
tahun 2003 menyebutkan bahwa karyawan yang penghasilannya dibawah Rp.
2.000.000 maka atas penghasilannya yang Rp.1.000.000 PPh Pasal 21 nya kan
ditanggung Pemerintah, otomatis karyawan yang penghasilan
perbulannya dibawah Rp. 1.000.000 secara langsung PPh Pasal 21 nya
nihil atau karyawan tersebut tidak dibebani PPh Pasal 21 terutang.
Pemberlakuan sistem self assessment adalah sebab utama terjadinya kondisi
tadi, penyebab lainnya adalah staf perpajakan yang dimiliki PT. “X” kurang
berkualitas atau kurang paham tentang pajak. Akibatnya jumlah PPh Pasal 21
terutang karyawan bisa menjadi lebih besar. Hal tersebut selain
merugikan karyawan juga sangat merugikan perusahaan karena dapat
memperbesar biaya yang dikeluarkan perusahaan. Apalagi pada saat ini
perusahaan masih menanggung pembayaran PPh Pasal 21 karyawan yang
sebenarnya biaya tersebut tidak dapat dijadikan biaya dalam laporan keuangan
fiskal. menguntungkan (dapat mengurangi besarnya jumlah pajak terutang).
Selain itu sebaiknya perusahaan mempunyai staff perpajakan yang benar-
benar menguasai tentang perpajakan atau dengan memberikan
pelatihan/pendidikan kepadanya.
d). Tidak dilakukannya update data karyawan oleh perusahaan, dalam hal ini
adalah update status Wajib Pajak. Sebagai contoh salah seorang karyawan PT.
“X” yang bernama Hendi. Pada awal masuk bekerja tahun 2001 ia berstatus
K/2. Kemudian pada pertengahan tahun 2002 isterinya melahirkan kembali
yang hal tersebut seharusnya merubah status tanggungannya dalam
perhitungan PTKP untuk tahun 2003 karena dari statusnya K/2 menjadi K/3.
Berdasarkan Pasal 7 ayat 2 Undang-undang Pajak No.17 tahun 2000 tentang
Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa penerapan besarnya PTKP ditentukan
oleh keadaan awal tahun pajak, dalam hal ini awal tahun takwim. Sebab
terjadinya kondisi diatas karena kurangnya pengetahuan pajak yang dimiliki
oleh karyawan PT. “X” khususnya pengetahuan yang mengharuskan dirinya
melakukan pelaporan atas datanya jika mengalami perubahan. Akibatnya
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
37
adalah PTKP karyawan tersebut akan berjumlah lebih kecil dari yang
seharusnya sehingga PPh Pasal 21nya akan berjumlah lebih besar, Oleh karena
itulah hal tersebut akan merugikan bagi karyawan itu sendiri. Sebaiknya setiap
karyawan PT.”X” diberikan pendidikan/ pelatihan tentang perpajakan atau
setidak-tidaknya bagian staf perpajakan setiap awal tahun pajak menanyakan
informasi tentang ada atau tidak adanya perubahan status atau perubahan
data lainnya milik setiap karyawan, sehingga tidak terjadi lagi kerugian baik
dari sisi karyawan maupun dari sisi perusahaan. Dengan timbulnya beberapa
masalah tadi maka dapat disimpulkan bahwa PT. “X” belum melaksanakan
perencanaan pajak secara efektif khususnya untuk PPh Pasal 21 karyawan dan
hal tersebut sangatlah merugikan, baik itu bagi perusahaan sendiri maupun
bagi karyawan.
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Buat contoh kasus Perencanaan Pajak PPh Pasal 21 dengan menggunakan metode
gross up (ditanggung perusahaan)?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
38
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Penghasilan Pasal 21 : pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa
gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan
dalam bentuk apapun.
3. Gross Up Method : suatu metode pemotongan pajak dimana karyawan
menanggung sendiri jumlah pajak penghasilannya, pada umumnya dipotong
langsung dari gaji karyawan.
4. Net Method : metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung
pajak karyawannya.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
39
PERTEMUAN 5: PERENCANAAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 - 2
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami: perlakuan perencanaan PPh Pasal 21 agar
dapat mengefisienkan beban pajak dan perlakuan perpajakan yang baik dalam
pemberian tunjangan atau fasilitas bagi karyawan.
B. URAIAN MATERI
1. Analisis Perhitungan PPh Pasal 21 Dengan Perencanaan Pajak
Setelah disimpulkan bahwa PT. “X” belum melaksanakan perencanaan
pajak secara efektif khususnya untuk PPh Pasal 21, maka dibawah ini merupakan
beberapa contoh perhitungan PPh Pasal 21 dengan menggunakan tiga alternatif,
yaitu perhitungan PPh Pasal 21 tanpa pemberian tunjangan (PPh Pasal 21
ditanggung perusahaan), perhitungan PPh Pasal 21 dengan diberikan tunjangan
PPh dan perhitungan PPh Pasal 21 dengan metode gross up serta ditambah dengan
pemberian tunjangan tempat tinggal & tunjangan kesehatan dalam setiap
alternatif sebagaimana telah disebutkan dalam saran di atas tadi. Adapun
perinciannya sebagai berikut:
a). Teddy Tjahyadi merupakan Direktur PT. “X” yang berstatus K/3. Setiap
Bulan ia menerima gaji pokok sebesar Rp.7.500.000 dengan tunjangan rumah dan
kesehatan sebesar Rp. 250.000. Jadi jumlah penghasilan bruto yang diterimanya
setiap bulan sebesar Rp. 7.750.000. Oleh karena itulah PPh Pasal 21 terutangnya
nanti tidak ada yang ditanggung pemerintah. Di bawah ini merupakan perhitungan
PPh Pasal 21 Teddy setelah disetahunkan, yaitu:
Uraian Tanpa Tunjangan Tunjangan PPh Gross Up
PPh (Rp.) (Rp.)
(Rp.)
Gaji setahun 90.000.000 90.000.000 90.000.000
Tunjangan rumah dan 3.000.000 3.000.000 3.000.000
kesehatan
Tunjangan PPh - 8.710.000 10.248.000
Jumlah penghasilan bruto 93.000.000 101.710.000 103.248.000
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
40
Uraian Tanpa Tunjangan Tunjangan PPh Gross Up
PPh (Rp.) (Rp.)
(Rp.)
Pengurangan: (1.296.000) (1.296.000) (1.296.000)
Biaya jabatan
5% x penghasilan bruto
Max. 1.296.000/tahun
Penghasilan netto setahun 91.704.000 100.414.000 101.952.000
PTKP (8.640.000) (8.640.000) (8.640.000)
PKP 83.064.000 91.774.000 93.312.000
PPh Pasal 21 setahun 8.710.000 10.016.000 10.248.000
Tunjangan PPh - (8.710.000) (10.248.000)
PPh Pasal 21 yang harus 8.710.000 1.306.000 -
dipotong
Perhitungan PPh Pasal 21 setahun:
1. 5% x 25.000000 =Rp. 1.250.000
10% x 25.000.000 =Rp. 2.500.000
15% x 33.064.000 =Rp. 4.960.000
Rp. 8.710.000
2. 5% x 25.000.000 =Rp. 1.250.000
10% x 25.000.000 =Rp. 2.500.000
15% x 41.774.000 =Rp. 6.266.000
Rp.10.016.000
3. 5% x 25.000.000 =Rp. 1.250.000
10% x 25.000.000 = Rp. 2.500.000
15% x 43.312.000 = Rp. 6.498.000
Rp.10.248.000
PTKP:
Wajib Pajak pribadi Rp. 2.880.000
Wajib Pajak kawin Rp. 1.440.000
Tanggungan 3 Rp. 4.320.000
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
41
Total PTKP Rp. 8.640.000
Perhitungan Tunjangan Gross Up:
1/204 ((3 x Rp. 83.064.000) - Rp. 75.000.000) =
1/204 x (Rp. 249.192.000 - Rp. 75.000.000) =
1/204 x Rp. 174.192.000 = Rp. 854.000
Rp. 854.000 x 12 = Rp. 10.248.000
Basuki merupakan karyawan PT. “X” dengan status K/3. Setiap bulannya ia
menerima gaji pokok sebesar Rp. 1.665.000 dengan tunjangan rumah dan
kesehatan sebesar Rp. 150.000. Jadi dengan begitu jumlah penghasilan bruto yang
diterimanya setiap bulan berjumlah Rp. 1.815.000. Dikarenakan penghasilan bruto
Jasuki setiap bulannya masih dibawah Rp. 2.000.000 maka sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2003, PPh Pasal 21 Jasuki sebagian masih
ditanggung Pemerintah (atas penghasilan yang Rp. 1.000.000). Perhitungan PPh
Pasal 21 yang sebagian ditanggung pemerintah, gross up nya dilakukan dua kali
agar selisih yang ada dalam PPh Pasal 21 disetor (dalam gross up awal) bisa
sesuai dengan tunjangan PPh gross up yang diberikan perusahaan (dalam hal ini
tunjangan yang akan diberikan perusahaan sebesar tunjangan PPh yang ada dalam
tabel gross up akhir). Di bawah ini merupakan perhitungan PPh Pasal 21 Jasuki
setelah disetahunkan, yaitu:
Uraian Tanpa Tunjangan Tunjangan Gross Gross
PPh (Rp.) PPh (Rp.) Up Up
Awal Akhir
(Rp.) (Rp.)
Gaji setahun 19.980.000 19.980000 19.980.000 19.980.000
THR 1.750.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000
Tunjangan rumah dan 1.800.000 1.800.000 1.800.000 1.800.000
kesehatan
Tunjangan PPh - 548.000 582.000 575.000
Jumlah penghasilan 23.530.000 24.078.000 24.112.000 24.105.000
bruto
Pengurangan: (1.177.000) (1204.000) (1.206.000) (1.205.000)
Biaya jabatan
5% x penghasilan bruto
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
42
Penghasilan netto 22.353.000 22.874.000 22.906.000 22.900.000
setahun
Perhitungan PPh Pasal 21 setahun:
1. 5% x Rp.13.713.000 = Rp. 686.000
2. 5% x Rp.14.234.000 = Rp. 712.000
3. 5% x Rp.14.266.000 = Rp. 713.000
3. 5% x Rp.14.260.000 = Rp. 713.000
PTKP:
Wajib Pajak pribadi Rp. 2.880.000
Wajib Pajak kawin Rp. 1.440.000
Tanggungan 3 Rp. 4.320.000
Total PTKP Rp. 8.640.000
Perhitungan Tunjangan PPh dengan
Gross Up Awal:
Rp. 13.713.000 x 1/228,6 = Rp. 60.000
Rp. 60.000 x 12 = Rp. 720.000
Rp. 720.000 - Rp. 138.000 = Rp. 582.000
Perhitungan Tunjangan PPh dengan
Gross Up Akhir:
Rp. 13.713.000 x 1/228,6 = Rp. 60.000
Rp. 60.000 x 12 = Rp. 720.000
Rp. 720.000 - Rp. 138.000 - Rp. 7.000 = Rp. 575.000,-
Perhitungan PPh Pasal 21ditanggung Pemerintah:
Gaji Rp. 1.000.000 x 12 bulan Rp. 12.000.000
Biaya jabatan 5% x Rp. 12.000.000 Rp. ( 600.000)
PTKP Rp. (8.640.000)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
43
PKP Rp. 2.760.000
Tarif 5% x Rp. 2.760.000= Rp. 138.000
Dari ketiga contoh di atas dan dari beberapa alternatif yang ada, perbandingan
antara gaji dibawa pulang (take home pay), biaya komersial dan fiskal
merupakan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam rangka pemilihan
alternatif. Di bawah ini adalah suatu ringkasan dari beberapa contoh tadi dengan
beberapa alternatif yang ada, yaitu sebagai berikut:
Uraian Sesuai Kebijakan Tanpa Tunjanga Gross Up
Yang Dijalankan Tunjangan n PPh (Rp.
)
Perusahaan PPh (Rp.)
(Rp.) Dibayar (Rp.) Dibayar
Perusahaan Perusahaan
Take Home Pay
Gaji 122.565.000 122.565.000 122.565.000 122.565.000
THR 3.500.000 3.500.000 3.500.000 3.500.000
Tunjangan PPh - - 9.454.000 11.029.000
Tunjangan - 6.600.000 6.600.000 6.600.000
Rumah
& Kesehatan
Dikurangi:
PPh Pasal 21 - - (10.796.000) (11.029.000)
Jumlah 126.065.000 132.665.000 131.323.000 132.665.000
Biaya Fiskal
Penghasilan 126.065.000 132.665.000 142.119.000 143.694.000
Bruto
Ditambah:
Makan Siang & 10.800.000 10.800.000 10.800.000 10.800.000
Antar Jemput
Karyawan(natura
)
Jumlah 136.865.000 143.465.000 152.919.000 154.494.000
Biaya Komersial
Biaya Fiskal 136.865.000 143.465.000 152.919.000 154.494.000
Ditambah:
PPh Pasal 21 8.849.750 9.454.000 - -
Jumlah 145.714.750 152.919.000 152.919.000 154.494.000
Selisih B. Fiskal 8.849.750 9.454.000 - -
dan B.
Komersial
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
44
Ikhtisar dari take home pay, biaya fiskal dan biaya komersial serta selisihnya
merupakan faktor-faktor penentuan pemilihan alternatif yang dapat dilihat di
bawah ini:
Urai Take Home Biaya Fiskal Biay Selisih Biaya
an Pa (Rp a Fiskal & Biaya
y .) Komersial Komersial
(Rp. (Rp (Rp.)
) .)
Sesuai dengan 126.065.000 136.865.000 145.714.750 8.849.750
kebijakan yang
dijalankan perusahaan
(tanpa tunjangan
rumah, tunjangan
kesehatan dan
tunjangan PPh) –
dibayarkan perusahaan
Diberikan tunjangan 132.665.000 143.465.000 152.919.000 9.454.000
rumah dan tunjangan
kesehatan (tanpa
tunjangan PPh) –
dibayarkan perusahaan
Diberikan tunjangan 131.323.000 152.919.000 152.919.000 -
PPh dan tunjangan
rumah serta tunjangan
kesehatan
Diberikan tunjangan 132.665.000 154.494.000 154.494.000 -
PPh (Gross Up) dan
tunjangan rumah serta
tunjangan kesehatan
Setelah memperhatikan alternatif diatas maka pilihan dijatuhkan pada alternatif
keempat, karena dari sudut pandang karyawan gaji yang dibawa pulang mereka
merupakan jumlah yang terbesar (Rp. 132.665.000), tanpa adanya selisih biaya
fiskal dan biaya komersial yang dapat memperbesar jumlah PPh Badan dan juga
pemilihan alternatif keempat ini dapat menghemat PPh Pasal 21 karyawan sebesar
Rp. 11.029.000. Penghematan disini bukan berarti tidak ada transaksi
pembayaran PPh pasal 21
karyawan, akan tetapi penghematan atas tidak ada lagi pajak yang dipotong dari
penghasilan pokok karyawan. Dari segi komersial, biaya fiskal yang besar
tampaknya seperti suatu pemborosan, namun harus diperhatikan pula bahwa
akibat biaya fiskal yang besar akan berdampak kepada laba sebelum pajaknya
menjadi lebih kecil dan selanjutnya PPh Badan pun akan menjadi lebih kecil.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
45
Alternatif kedua memang menguntungkan dari sisi karyawan karena gaji yang
dibawa pulang mereka juga merupakan jumlah yang terbesar (Rp. 132.665.000).
Akan tetapi disisi perusahaan pemilihan alternatif ini sangat merugikan karena
adanya selisih biaya fiskal dan komersial akibat PPh 21 ditanggung perusahaan.
Hal ini dapat mengakibatkan koreksi fiskal sebesar Rp. 9.454.000 yang berarti
adanya pertambahan PPh Badan sekitar 25% x Rp. 9.454.000 = Rp. 2.364.000.
Alternatif ketiga sebaiknya tidak dilakukan oleh perusahaan karena walaupun
selisih biaya fiskal dan biaya komersial tidak ada, akan tetapi gaji yang dibawa
pulang karyawan tidaklah maksimal, hal ini sangat merugikan karyawan.
Alternatif pertama adalah alternatif yang sekarang dijalankan perusahaan. Hal ini
sebaiknya tidak lagi dilakukan perusahaan karena merugikan kedua belah pihak,
baik itu karyawan maupun perusahaan. Disisi karyawan gaji yang dibawa pulang
merupakan jumlah terkecil dari empat alternatif diatas (Rp. 126.065.000) dan
disisi perusahaan terjadi koreksi fiskal sebesar Rp. 8.849.750 yang dapat
mengakibatkan jumlah PPh Badan bertambah besar (25% x Rp. 8.849.750 = Rp.
2.212.000). Untuk lebih memudahkan dalam menilai seberapa besar keseluruhan
keuntungan karyawan dan perusahaan dalam menggunakan metode gross up,
maka di bawah ini merupakan ringkasan perhitungan PPh Pasal 21 atas seluruh
karyawan PT.”X” sesuai dengan peraturan perpajakan, yaitu sebagai berikut:
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Buat contoh kasus Perencanaan Pajak PPh Pasal 21 dengan menggunakan metode
gross up (ditanggung karyawan)?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
46
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah.
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Penghasilan Pasal 21 : pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa
gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan
dalam bentuk apapun.
3. Gross Up Method : suatu metode pemotongan pajak dimana karyawan
menanggung sendiri jumlah pajak penghasilannya, pada umumnya dipotong
langsung dari gaji karyawan.
4. Net Method : metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung
pajak karyawannya.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
47
PERTEMUAN 6: PERENCANAAN PAJAK PPh PASAL 22
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami perlakuan perencanaan PPh Pasal 22 agar dapat
mengefisiensikan beban pajak.
Sekilas Mengenai PPh
Pasal 22
Tax Saving Dalam
PPh Pasal 22 Impor
Tax Avoidance Dalam
PPh Pasal 22 Impor
Tax Evation Dalam
PPh Pasal 22 Impor
B. URAIAN MATERI
1. Sekilas Mengenai Pajak Penghasilan Pasal 22
Dalam satu diskusi perpajakan sering saya ingatkan untuk dapat melakukan
perencanaan pajak dibutuhkan pengetahuan perpajakan yang cukup dan lebih
utama lagi telah berpengalaman dalam pelaksanaan perpajakan di lapangan
(Perusahaan) karena hal itu merupakan modal yang utama. Setelah modal yang
disebutkan tadi maka perencana pajak dalam perusahaan akan paham apa yang
namanya tax avoidance (Suatu perbuatan yang sifatnya mengurangi hutang pajak
secara legal dan bukan mengurangi kesanggupan/kewajiban wajib pajak melunasi
pajak-pajaknya) dan tax saving (Suatu usaha memperkecil jumlah pajak yang
tidak termasuk dalam ruang lingkup pemajakan). Seorang perencana pajak harus
mengupayakan agar tidak terperangkap dalam prilaku yang dianggap sebagai
suatu perbuatan memperkecil pajak dengan cara melanggar ketentuan (tax
evasion). Walaupun memang bagi pendatang baru mempelajari perencanaan pajak
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
48
akan lebih baik karena telah memiliki konsep pengertian terlebih dahulu sebelum
terjun dilapangan.
Dalam memandang aktivitas bisnis khusus perpajakan prinsipnya adalah lebih
melihat kepada apakah ada objek pajak atau tidak dan apakah kewajiban
perpajakannya telah dilaksanakan secara benar sesuai ketentuan perpajakan, serta
syarat formal dan material pembukuannya terpenuhi dalam arti semua transaksi
harus mempunyai bukti pendukung yang sah dan valid dan dapat dibuktikan
legalitas transaksinya. Sebagai perencana pajak yang baik adalah tidak melanggar
ketentuan perpajakan, secara bisnis masuk akal, serta didukung oleh bukti-bukti
pendukung yang memadai.
Adapun pembahasan kali ini saya mencoba bagaimana seorang perencana pajak
melakukan suatu tax saving maupun tax avoidance dan terperangkap akan
nikmatnya melakukan tax evasion dalam jenis pajak PPh Pasal 22 Impor.
PPh Pasal 22 Impor berhubungan dengan pemungutan pajak di sektor impor, yaitu
dalam hal penyerahan dan pembayaran barang serta pemasukan barang dari luar
pabean ke dalam daerah pabean yang diharuskan membayar PPh Pasal 22 Impor
pada saat pembayaran bea masuk yang dipungut oleh Ditjen Bea Cukai atau oleh
Bank Devisa. PPh Pasal 22 Impor adalah merupakan kredit pajak yaitu sebagai
pengurang PPh terutang pada akhir tahun pajak.
2. Tax Saving Dalam PPh 22 Impor
Bagi perencana pajak tentu memahami tarif yang ada dalam unsur PPh 22 Impor,
dengan merekomendasikan impor menggunakan Angka Pengenal Impor (API)
karena bisa melakukan tax saving sebesar 5%. Dimana jika memiliki API maka
tarif hanya 2,5% dibandingkan non API yang mencapai 7,5% dari nilai impor.
Walaupun PPh 22 Impor akan menjadi kredit pajak dalam PPh Badan yang
terutang pada SPT Tahunan (Itu jika perusahaan memiliki keuntungan/laba),
namun pastinya perusahaan akan lebih membantu dalam menghemat cash flow
pada masa tertentu.
Lalu bagaimana jika suatu perusahaan tidak memiliki API namun ingin menikmati
tarif 2,5%? Tentu seorang perencana pajak dalam suatu perusahaan memahami
jenis usahanya terlebih dahulu dan jika dapat dipastikan bahwa perusahaan
bergerak dalam kegiatan impor barang maka sebaiknya mengurus izin untuk
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
49
mendapatkan API, namun jika hanya bersifat sementara umumnya meminjam
fasilitas API (hal ini biasanya dilakukan dalam lingkaran group
perusahaan/kongklomerasi) karena pemilik API bertanggung jawab penuh
terhadap pelaksanaan impor terlepas dari impor itu milik perusahaan sendiri
maupun milik pihak lain. Sehingga antara yang peminjam dan yang meminjamkan
sudah saling mengenal untuk mengurangi resiko bagi pemilik API.
Dalam dunia shipping (laut/udara) dikenal dengan adanya handling fee yaitu
jumlah fee yang harus dibayar berdasarkan perjanjian handling fee antara importir
yang mempunyai API dengan pemilik barang atas jasa yang diberikan. Atas
pengenaan hanling fee tersebut dipotong PPh Pasal 23. Cara ini pun dapat dipakai
oleh orang/perusahaan yang tidak punya API “meminjam” bendera perusahaan
yang punya API untuk mengeluarkan barang impornya dengan kompensasi
pemberian handling fee. Bila sebelumnya benefit nya (5%) lebih besar dari biaya
handling fee yang dikeluarkan (Misalnya 2%), maka sipemilik barang masih bisa
memperoleh tax saving dalam pph pasal 22 sebesar 3% dari harga barang impor
tersebut (yaitu dari cost of insurance & freight/CIF + bea masuk).
3. Tax Avoidance dalam PPh Pasal 22 Impor
Disamping tax saving yang telah diuraikan di atas, Keuntungan yang lebih besar
jika kondisi perusahaan yang masih rugi karena disamping menghemat cash flow
untuk masa tertentu kredit PPh pasal 22 tersebut hanya akan menyebabkan lebih
bayar dan untuk menghindari pemeriksaan akibat lebih bayar maka atas kredit
PPh 22 impor tersebut lebih baik dibiayakan (walaupun non deductable) namun
hal itu itu jauh lebih baik untuk menghindari pemeriksaan (cost of tax
compliancenya sangat mahal). Artinya tidak terlalu rugi jika membiayakannya
karena sebelumnya perusahaan sudah memiliki tax saving. Dan rekayasa seperti
ini masih memungkinkan dan tidak melanggar ketentuan perpajakan.
4. Tax Evation Dalam PPh 22 Impor
Dari uraian di atas dapat dipahami kenapa orang/perusahaan memilih meminjam
API dari suatu perusahaan dibandingkan harus mengurus dan memiliki API
sendiri. Dan bagi perusahaan yang meminjam dapat memanfaatkan benefit
tambahan karena mendapatkan feeatas API yang dipinjamkan. Namun yang
celaka adalah adanya keinginan dari exportir/pemilik API untuk mengkreditkan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
50
PPh 22 impor tersebut dalam SPT Tahunan Badannya. Hal ini bertentangan
dengan apa yang diatur dalam pasal 4(2) KMK-539/KMK.04/1990, yang
mengatakan “Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pajak Pertambahan Nilai yang
telah dilunasi oleh Importir yang melakukan impor atas dasar inden sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3, dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan atau
Pajak Keluaran yang terutang oleh Indentor yang bersangkutan dengan
bukti PIUD dan SSP yang telah dipenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku.” Bahkan pernah ditemukan perusahaan (Importir/pemilik API) yang
mengkreditkan PPh 22 Impor dan PPN Masukan serta mencantumkan pembelian
dalam laporan laba rugi komprehensive- nya sementara atas pembelian tersebut
adalah nyata-nyata barang si peminjam API (indentor).
Kesimpulan
Dalam hal PPh Pasal 22 impor ini, perencana pajak juga perlu memperhatikan
akan adanya Impor Barang yang Bebas Bea Masuk yang juga dikecualikan dari
PPh Impor seperti keperluan pameran atau kepentingan lain yang bersifat
sementara dan juga dapat memanfaatkan fasilitas yang ada semisal permohonan
pembebasan dari pemotongan dan atau pemungutan PPh Pasal 22. Prinsipnya
adalah selalu memanfaatkan beban pajak yang minimal. Perencana pajak yang
baik adalah memperhatikan rambu-rambu seperti tidak melanggar ketentuan
perpajakan, secara bisnis masuk akal, serta didukung oleh bukti-bukti pendukung
yang memadai.
Beberapa Contoh Dasar Hukum Berhubungan dengan Impor:
1. KMK-539/KMK.04/1990 Tanggal 14 Mei 1990 tentang PPh Pasal 22, PPN
dan atau PPnBM untuk kegiatan usaha dibidang impor atas dasar inden.
2. SE-39/PJ.32/1990 tanggal 10 Desember 1990 Tentang impor atas dasar inden
3. S-549/PJ.32/2003 tentang Q.Q Impor
4. SE-47/PJ/2008 tanggal 29 Agustus 2008 tentang Pencabutan SE DJP dan
Surat Penegasan tentang penggunaan metode Q.Q pada faktur pajak standard.
5. PMK-244/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008 Tentang jenis jasa lain
sebagaimana dimaksud Pasal 23 ayat (1) Huruf c angka 2 UU PPh.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
51
6. PMK-154/PMK.03/2010 tanggal 31 Agustus 2010 tentang pemungutan PPh
22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan di
bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
7. PER-1/PJ/2011 Tanggal 10 Januari 2011 Tentang tata cara permohonan
pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan pajak penghasilan oleh
pihak lain.
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
1. Jelaskan pengertian Tax Saving, Tax Avoidance, dan Tax Evation?
2. Buat contoh kasus untuk Tax Saving, Tax Avoidance dan Tax Evation?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Penghasilan Pasal 22 : bentuk pemotongan atau pemungutan pajak
yang dilakukan satu pihak terhadap Wajib Pajak dan berkaitan dengan
kegiatan perdagangan barang.
3. Tax Avoidance : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari pajak namun dengan cara-cara yang legal.
4. Tax Evasion : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari namun dengan cara-cara yang ilegal.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
52
5. Tax Saving : upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif
pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
6. Impor : proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke
negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan.
7. Angka Pengenal Importir (API) : tanda pengenal sebagai importir. Oleh
karenanya, setiap importir wajib untuk memiliki API, kecuali importir
tertentu tetap dapat melakukan impor tanpa memiliki API berdasarkan
ketentuan peraturan yang berlaku dengan pertimbangan menteri.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
53
PERTEMUAN 7: PERENCANAAN PAJAK
PAJAK PENGHASILAN (PPh) PASAL 23
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami : perlakuan perencanaan Pajak Penghasilan
Pasal 23, agar dapat mengefisienkan beban pajak dan perlakuan perencanaan
pajak yang dapat diterapkan dalam berbagai kondisi.
Sekilas Mengenai
PPh Pasal 22
Pemotongan, Penerima,Tarif dan
Objek, Pengecualian, Saat
Terutang dan Pelaporan
PPh Pasal 23
B. URAIAN MATERI
5. Sekilas Mengenai Pajak Penghasilan Pasal 23.
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan
dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal, penyerahan jasa,
atau penyelenggaran kegiatan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.
a). Pemotong PPh Pasal 23
1).Badan Pemerintah
2). Subjek Pajak Badan Dalam Negeri
3). Penyelenggara Kegiatan
4). Bentuk Usaha Tetap ( BUT )
5). Perwakilan Perusahaan Luar Negeri Lainnya
6). Orang Pribadi Sebagai Wajib Pajak (WP) dalam negeri tertentu, yang ditunjuk
oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Sebagai Pemotong PPh Pasal 23, Yaitu:
7). Akuntan, Arsitek, Dokter, Notaris, PPAT
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
54
8). Orang Pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan Pembukuan,
Atas Pembayaran berupa sewa.
b). Penerima Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23
1) Wajib Pajak Dalam Negeri
2) BUT
c). Tarif dan Objek PPh Pasal 23
1). 15% dari jumlah bruto atas :
2). Dividen
3). Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang
4). Royalti
5). Hadiah dan penghargaan selain yang dipotong PPh Pasal 21
6). 15% dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga simpanan yang dibayarkan
oleh koperasi
7). 15 % dari perkiraan penghasilan neto
8). Perkiraan penghasilan neto atas sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan atau bangunan yang telah dikenakan
PPh berdasarkan PP 29/1996
9). Perkiraan penghasilan neto atas penyerahan jasa :
10). 50% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN berupa jasa profesi, termasuk jasa
konsultan hukum dan jasa konsultan pajak.
11). 40% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN :
a). Jasa teknik, jasa manajemen
b). Jasa perancang/desain
c). Jasa instalasi/pemasangan
d). Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan
e). Jasa custodian/penyimpanan/penitipan/tidak termasuk sewa gudang yang telah
dikenakan PPh Final
f). Jasa dibidang perdagangan surat-surat berharga
g). Jasa pemanfaatan informasi dibidang teknologi termasuk internet
h). Jasa telekomunikasi yang bukan untuk umum
i). Jasa akuntansi dan pembukuan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
55
j). Jasa pengolahan/pembuangan limbah
k). Jasa penebangan hutan termasuk land clearing
l). Jasa pengeboran (drilling) dibidang penambangan minyak dan gas bumi kecuali
yang dilakukan oleh BUT
m). Jasa penunjang dibidang penambangan selain gas
n). Jasa perantara
o). Jasa penilai
p). Jasa aktuaris
q). Jasa pengisian sulih suara (dubbing) dan atau mixing film
r). Jasa maklon
s). Jasa rekrutmen/penyediaan tenaga kerja
t).Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan atau
pemeliharaan dan perbaikan:
1). 26,67% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN dari jasa perencanaan kontruksi
dan jasa pengawasan kontruksi 13,33% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN
dari jasa pelaksanaan kontruksi
2). 10% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN dari jasa pembersihan dan
pembasmian hama, jasa selain yang tersebut di atas yang dibebankan pada
APBN/APBD
3). 20% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN dari sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta khusus kendaraan angkutan darat
4). 40% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta kecuali yang telah dikenakan PPh final
berdasarkan PP 29 Tahun 1996 dan yang berhubungan dengan kendaraan
angkutan darat.
d. Pengecualian PPh Pasal 23
1). Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank
2). Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha
dengan hak opsi
3). Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai wajib pajak dalam negeri : koperasi, yayasan, atau organisasi sejenis
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
56
BUMD/D, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat :
4). Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan
5). Bagi perseroan terbatas, BUMN/BUMN yang menerima dividen, minimal
harus memiliki 25% saham dari jumlah modal yang disetor dan harus
mempunyai usaha aktif diluar pemilikan saham tersebut.
6). Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana selama
lima tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha
7). Bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura dari badan
pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di
Indonesia dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
a). Merupakan perusahaan kecil, menengah atau menjalankan kegiatan dalam
sektor usaha yang ditetapkan Menteri Keuangan
b). Sahamnya tidak diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia
c). Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya
d). Bunga simpanan yang tidak melebihi jumlah sebesar Rp. 240.000,- setiap
bulannya yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya. Atas bunga
simpanan yang jumlahnya diatas Rp. 240.000,- dipotong PPh sebesar 15%
dari seluruh bunga yang diterima dan bersifat final
e. Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23
1). Saat terutang, PPh Pasal 23 terutang pada bulan dilakukannya pembayaran
atau pada bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan.
2). Penyetoran, PPh Pasal 23 harus disetorkan oleh pemotong pajak selambat-
lambatnya tanggal sepuluh bulan takwim berikutnya setelah bulan saat
terutang pajak
3). Pelaporan, Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT masa ke KPP
dimana pemotong pajakk terdaftar selambat-lambatnya 20 hari setelah masa
pajak berakhir.
f.Bukti Pemotongan PPh Pasal 23
Pemotong Pajak harus memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 ( Form KP
PPh 2.6/BP/95) kepada orang pribadi atau badan yang telah dipotong PPh Pasal.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
57
Contoh Aplikasi :
1. Sendy mendapat penghasilan berupa bunga deposito Rp. 200.000,- PPh Pasal
23 = 15% X Rp. 300.000,- = Rp. 45.000,- ( Final ). Untuk memudahkan
pelaksanaan operasional harian karyawan, PT Gemerlap menyewa 3 bus milik PO
Bintang dengan pembayaran sewa Rp. 20.000.000,- / bulan. Dalam kontrak
tersebut, uang sewa termasuk biaya sopir Rp. 5.000.000,- dan biaya
pemeliharaan Rp. 5.000.000,-
Perhitungan PPh Pasal 23 :
Jumlah uang sewa Rp. 20.000.000,-
Perkiraan Penghasilan Neto 20%
Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 Rp. 4.000.000,-
PPh Pasal 23 = 15% X Rp. 4.000.000,- Rp. 600.000,-
2.PT Buana berusaha dibidang konsultan teknik. Tahun 2002 perusahaan tersebut
menerima order dari PT Angkasa untuk merancang desain gedung baru dengan
imbalan Rp. 200.000.000,-
Perhitungan PPh Pasal 23 :
Jumlah Imbalan Rp. 200.000.000,-
Perkiraan Penghasilan Neto 40%
Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 Rp. 80.000.000,-
PPh Pasal 23 = 15% X Rp. 80.000.000,- Rp. 12.000.000,-
g.Pahami ketentuan yang mengatur PPh Pasal 23 dan tarif pemotongannya (Per-
70/PJ./2007 atau Permenkeu No. 244/PMK.03/2008).
f. Pahami saat terutangnya pajak, yaitu saat mana yang lebih dulu terjadi
antara
1). Untuk transaksi sebelum 30 Desember 2010
a). Saat terutang (accrual basis) atau
b). Saat dibayarkan (cash basis), yang merujuk pada ketentuan Pasal 23 UU
PPh juncto PP No. 138/2000, atau
c). Untuk transaksi sejak 30 Desember 2010
d). pada saat dibayarkan,
e). saat disediakan untuk dibayarkan (untuk dividen), atau
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
58
f). saat jatuh tempo pembayaran yang merujuk pada ketentuan Pasal 23 UU
PPh juncto PP 94/2010.
g). Pemisahan antara tagihan material dan jasa.
Pastikan bahwa di dalam kontrak tentang pengadaan jasa, diatur mengenai
pemisahan antara tagihan material dan jasa sesuai dengan Surat Edaran Dirjen
Pajak SE-53/PJ/2009. Tujuannya adalah agar pajaknya hanya dikenakan atas
jasanya.
h.Memahami pengenaan pajak untuk jasa konstruksi.
Pastikan bahwa di dalam kontrak tentang pengadaan jasa konstruksi diatur bahwa
penyedia jasa harus menyerahkan Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang
diterbitkan oleh asosiasi pengusaha jasa konstruksi yang sah. Tujuannya agar
pengenaan pajaknya sesuai dengan tarif PPh untuk jasa konstruksi atas seluruh
tagihan tanpa ada pembedaan antara material dan jasa (PP No. 140/2000, PP No.
51/2008, PP No. 40/2009, dan PP 94/2010). Pada akhir tahun seluruh objek PPh
Pasal 23 yang tersebar di akun-akun biaya/beban menurut buku besar
dikumpulkan menjadi satu dan ditandingkan dengan objek pajak menurut SPT
Masa PPh Pasal 23. Jika masih timbul selisih, teliti :
1). Apakah pemotongan pajaknya dilakukan pada saat pengakuan prepaid
expenses di neraca (aktiva).
2). Apakah terdapat pengakuan provisi biaya atau accrued expense di dalam
neraca (kewajiban) yang belum menimbulkan kewajiban pemotongan pajak.
perencanaan pajak dibutuhkan pengetahuan perpajakan yang cukup dan lebih
utama lagi telah berpengalaman dalam pelaksanaan perpajakan di lapangan
(Perusahaan) karena hal itu merupakan modal yang utama. Setelah modal yang
disebutkan tadi maka perencana pajak dalam perusahaan akan paham apa yang
namanya tax avoidance (Suatu perbuatan yang sifatnya mengurangi hutang pajak
secara legal dan bukan mengurangi kesanggupan/kewajiban wajib pajak melunasi
pajak-pajaknya) dan tax saving (Suatu usaha memperkecil jumlah pajak yang
tidak termasuk dalam ruang lingkup pemajakan). Seorang perencana pajak harus
mengupayakan agar tidak terperangkap dalam prilaku yang dianggap sebagai
suatu perbuatan memperkecil pajak dengan cara melanggar ketentuan (tax
evasion). Walaupun memang bagi pendatang baru mempelajari perencanaan pajak
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
59
akan lebih baik karena telah memiliki konsep pengertian terlebih dahulu sebelum
terjun dilapangan.
Dalam memandang aktivitas bisnis khusus perpajakan prinsipnya adalah lebih
melihat kepada apakah ada objek pajak atau tidak dan apakah kewajiban
perpajakannya telah dilaksanakan secara benar sesuai ketentuan perpajakan, serta
syarat formal dan material pembukuannya terpenuhi dalam arti semua transaksi
harus mempunyai bukti pendukung yang sah dan valid dan dapat dibuktikan
legalitas transaksinya. Sebagai perencana pajak yang baik adalah tidak melanggar
ketentuan perpajakan, secara bisnis masuk akal, serta didukung oleh bukti-bukti
pendukung yang memadai.
Yang dimaksud dengan jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultasi
perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi,
dan layanan jasa konsultasi pengawasan konstruksi.
a). Usaha Perencanaan Konstruksi adalah pemberian layanan jasa perencanaan
dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagian-bagian
dari kegiatan mulai dari studi pengembangan sampai dengan penyusunan
dokumen kontrak kerja konstruksi, yang dapat terdiri dari :
1). survei
2). perencanaan umum, studi makro dan studi mikro
3). tudi kelayakan proyek, industri dan produksi
4). perencanaan teknik, operasi dan pemeliharaan
5). penelitian
6). Usaha Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian layanan jasa pelaksanaan
dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagian-
bagian dari kegiatan mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan
penyerahan akhir hasil pekerjaan konstruksi.
b). Usaha Pengawasan Konstruksi adalah pemberian layanan jasa pengawasan
baik keseluruhan maupun sebagian pekerjaan pelaksanaan konstruksi mulai
dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan akhir hasil konstruksi,
yang dapat terdiri dari:
1). pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi; dan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
60
2). pengawasan keyakinan mutu dan ketepatan waktu dalam proses pekerjaan
dan hasil pekerjaan konstruksi. Tidak termasuk dalam pengertian
pekerjaan konstruksi.
3). Pekerjaan perawatan berupa pembersihan dan pengecatan bangunan atau
bentuk fisik lainnya yang dilakukan oleh bukan pengusaha jasa konstruksi;
4). Pekerjaan pemasangan dan pemeliharaan/perbaikan mesin dan peralatan
mekanik atau elektrik serta komponen-komponen bangunan siap pasang
(prefabricated) sebagai pelayanan purna jual (after sales service) yang
dilakukan langsung oleh pabrikan atau pemasok mesin dan peralatan
tersebut.
5). Pekerjaan jasa teknik, desain interior dan pertamanan yang dilakukan oleh
bukan pengusaha jasa konstruksi.
i. Pajak penghasilan untuk jasa konstruksi
Besarnya Pajak Penghasilan yang terutang dan harus dipotong oleh pengguna jasa
atau disetor sendiri oleh Wajib Pajak penyedia jasa ditetapkan sebagai berikut :
a). 4% (empat persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyedia jasa
perencanaan konstruksi.
b). 2% (dua persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyedia jasa
pelaksanaan konstruksi.
c). 4% (empat persen) dari jumlah bruto, yang diterima Wajib Pajak penyedia jasa
pengawasan konstruksi.
Yang dimaksud dengan jumlah bruto disini adalah termasuk imbalan atas
pemberian jasa dan juga atas pengadaan material/barangnya.
Contoh: :
PT. ABC dikontrak oleh PT. XYZ untuk melaksanakan pembangunan mal sebesar
Rp. 200.000.000.000,- dengan perincian :
a). Fee yang akan diterima oleh PT. ABC = Rp. 75.000.000.000,-
b). Biaya pembelian bahan/material = Rp. 125.000.000.000,-
c). PPh yang harus dibayar ( 2% X Rp. 200.000.000.000,-) = Rp. 4.000.000.000,-
Saat Terutang PPh.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
61
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Tolong Anda buat Contoh Satu Kasus Perencanaan Pajak PPh Pasal 23?
D.DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Penghasilan Pasal 23 : pajak yang dikenakan pada penghasilan atas
modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah
dipotong PPh Pasal 21.
3. Tax Avoidance : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari pajak namun dengan cara-cara yang legal.
4. Tax Evasion : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari namun dengan cara-cara yang ilegal.
5. Tax Saving : upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif
pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
62
PERTEMUAN 8: PERENCANAAN PAJAK PPh PASAL 24
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami : perlakuan perencanaan Pajak Penghasilan
Pasal 24, agar dapat mengefisienkan beban pajak dan perlakuan perencanaan
pajak yang dapat diterapkan dalam berbagai kondisi.
Sekilas Mengenai
PPh Pasal 24
Permohonan Kredit Pajak
Luar Negeri
Penggabungan
Penghasilan
Penentuan Sumber
Penghasilan
Jumlah Kredit Pajak Yang
Diperbolehkan
Penghasilan Luar Negeri
Berasal
Kompesasi Kerugian di Luar
Negeri dan di Dalam Negeri
B. URAIAN MATERI
1. Sekilas Mengenai PPh Pasal 24.
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 24 adalah pajak yang terutang atau dibayarkan di
luar negeri atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang
dapat dikreditkan terhadap penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan
Wajib Pajak dalam negeri. Tujuannya adalah untuk meringankan beban pajak
ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
63
atau diperoleh dari luar negeri. Pengkreditan pajak luar negeri tersebut dilakukan
dalam Tahun Pajak digabungkan antara penghasilan luar negeri dengan
penghasilan di Indonesia.
2. Permohonan Kredit Pajak Luar Negeri
Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, Wajib Pajak wajib
menyampaikan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan
:
a). Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri
b). Foto Copy Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri
c). Dokumen pembayaran pajak di luar negeri
Permohonan kredit pajak luar negeri disampaikan bersamaan dengan
penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, namun dapat
diperpanjang waktunya oleh Dirjen Pajak berdasarkan permohonan dari Wajib
Pajak.
3. Penggabungan Penghasilan
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dengan aturan sebagai
berikut :
a). Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya
penghasilan tersebut.
b). Untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya
penghasilan tersebut
c). Untuk penghasilan berupa dividen yang diperoleh Wajib Pajak dalam negeri
atas penyertaan modal sekurang-kurangnya 50% dari jumlah saham yang
disetor, atau secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya
sekurang-kurangnya 50% dari jumlah yang disetor pada badan usaha di luar
negeri yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek, dilakukan dalam
tahun pajak pada saat diperoleh dividen tersebut.
Contoh :
a). Hasil usaha di Filipina dalam Tahun Pajak 2005 sebesar Rp. 600.000.000,-
b). Dividen atas pemilikan saham di Cicago Ltd di USA sebesar Rp.
400.000.000,- yaitu berasal dari keuntungan tahun 2004 yang ditetapkan
dalam RUPS dan dibayar tahun 2005
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
64
c). Dividen atas penyertaan saham sebanyak 75% pada Smith Corporation di
Australia yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek sebesar Rp.
80.000.000,- yaitu berasal dari keuntungan saham 2004 yang berdasarkan
Kepmenkeu ditetapkan diperoleh tahun 2005.
d). Bunga kwartal IV tahun 2004 sebesar Rp. 200.000.000,- dari Malaysia yang
baru akan diterima bulan Mei Tahun 2005.
Dari penghasilan yang bersumber dari luar negeri di atas, maka penghasilan
yang digabungkan dengan penghasilan dalam negeri untuk tahun 2004 adalah
butir a s/d c, sedangkan butir d digabungkan dengan penghasilan dalam negeri
tahun 2005.
4. Penentuan Sumber Penghasilan
Dalam menghitung batas jumlah pajak atas penghasilan yang dibayar atau
terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan, perlu diperhatikan penentuan
sumber penghasilan sebagai berikut :
a). Penghasilan dalam saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan
yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan
b). Penghasilan berupa bunga, royalti dan sewa sehubungan dengan penggunaan
harta bergerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani
bunga, royalti atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada
c). Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak
adalah negara tempat harta tersebut terletak
d). Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut
bertempat kedudukan atau berada
e). Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap
tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
5. Jumlah Kredit Pajak yang diperbolehkan
Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan hanya atas pajak yang
langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
dari luar negeri, dan setinggi tingginya sama dengan jumlah pajak yang dibayar
atau terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung
menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap penghasilan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
65
Kena Pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas penghasilan kena pajak,
atau setinggi-tingginya sama dengan pajak yang terutang atas penghasilan Kena
Pajak dalam hal penghasilan Kena Pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.
Contoh :
PT Lestari berkedukan di Semarang, mempunyai penghasilan kena paja dari
Indonesia sebesar Rp. 130.000.000,- dan penghasilan kena pajak dari Jepang
sebesar Rp. 70.000.000,-. Hitunglah kredit pajak jika tarif yang berlaku di Jepang
10%.
PPh berdasarkan tarif Pasal 17 :
10% x Rp. 50.000.000,- = 5.000.000,-
15% x Rp. 50.000.000,- = 7.500.000,-
30% x Rp. 100.000.000,- = 30.000.000,-
PPh 42.000.000,-
PPh yang dibayar di Jepang 10% x 70.000.000,- = Rp. 7.000.000,-
Bagian penghasilan di Korea :
( Rp. 70.000.000,-/Rp. 200.000.000,- ) x Rp. 42.500.000,- = Rp. 14.875.000,-
Kredit pajaknya adalah mana yang lebih kecil antara PPh dibayar di luar negeri
dengan bagian penghasilan di negara tersebut yaitu sebesar Rp. 7.000.000,-.
6. Penghasilan Luar Negeri Berasal dari Beberapa Negara
Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka jumlah
maksimum kredit pajak luar negeri dihitung sama dengan perhitungan tersebut di
atas.
Contoh :
PT Buana berkedudukan di Semarang, mempunyai Penghasilan Kena Pajak dari :
Indonesia = Rp. 200.000.000,-
Brunei Darussalam = Rp. 200.000.000,- ( tarif yang berlaku 10%)
Filipina = Rp. 100.000.000,- ( tarif yang berlaku 20%)
Singapura = Rp. 200.000.000,- ( tarif yang berlaku 30%)
Berapa kredit pajak masing-masing negara ?
Berapa PPh yang harus dibayar di Indonesia ?
Jumlah Penghasilan Rp. 700.000.000,-
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
66
PPh berdasarkan tarif Pasal 17 :
10% x Rp. 50.000.000,- Rp. 5.000.000,-
15% x Rp. 50.000.000,- Rp. 7.500.000,-
30% x Rp.600.000.000,- Rp. 180.000.000,-
Jumlah Rp. 192.500.000,-
Brunei darussalam :
PPh yang dibayar 10% x Rp. 200.000.000,- = 20.000.000,-
Bagian penghasilan :
( Rp. 200.000.000,- / 700.000.000,- ) x Rp. 192.500.000 = Rp. 55.000.000,-
Kredit Pajak = Rp. 20.000.000,-
Filipina :
PPh yang dibayar 20% x Rp. 100.000.000 = Rp. 20.000.000,-
Bagian penghasilan :
( Rp. 100.000.000,- / 700.000.000,- ) x Rp. 192.500.000 = Rp. 27.500.000,-
Kredit Pajak = Rp. 20.000.000,-
Singapura :
PPh yang dibayar 30% x Rp. 200.000.000 = Rp. 60.000.000,-
Bagian penghasilan :
( Rp. 200.000.000,- / 700.000.000,- ) x Rp. 192.500.000 = Rp. 55.000.000,-
Kredit Pajak = Rp. 55.000.000,-
PPh yang harus dibayar di Indonesia :
Rp. 192.500.000,- – Rp. 20.000.000,- – Rp. 55.000.000,- = Rp. 97.500.000,-
7. Kompensasi Kerugian di Luar Negeri dan di Dalam Negeri
Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak, kerugian yang diderita di luar negeri
tidak boleh digabungkan atau dikompensasikan dengan penghasilan yang
diterima atau diperoleh di Indonesia. Sedangkan kerugian yang diderita di dalam
negeri boleh digabungkan atau dikompensasikan dengan penghasilan yang
diterima atau diperoleh di luar negeri.
Contoh :
PT ABC mempunyai penghasilan dari :
Indonesia = Rp. 200.000.000,-
Inggris = Rp. 300.000.000,- (tarif berlaku 25%)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
67
Belanda = Rp. 200.000.000,- rugi (tarif berlaku 10%)
Swedia = Rp. 200.000.000,- (tarif berlaku 10%)
PPh pasal 17 :
10% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 5.000.000,-
15% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 7.500.000,-
30% x Rp. 600.000.000,- = Rp. 180.000.000,-
= Rp. 192.500.000,-
PT MA berkedudukan di Jakarta, mempunyai PKP dari :
Indonesia = Rp. 200.000.000,- Rugi
Singapura = Rp. 300.000.000,- ( Tarif yang berlaku 20%)
Malaysia = Rp. 200.000.000,- ( Tarif yang berlaku 10%)
Hongkong = Rp. 400.000.000,- ( Tarif yang berlaku 15%)
PPh Pasal 17 :
10% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 5.000.000,-
15% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 7.500.000,-
30% x Rp. 600.000.000,- = Rp. 180.000.000,-
= Rp. 192.500.000,-
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Tolong Anda buat Contoh Satu Kasus Perencanaan Pajak PPh Pasal 24?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
68
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Penghasilan Pasal 24 : PPh yang mengatur tentang perhitungan
besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang
dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh
penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.
3. Tax Avoidance : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari pajak namun dengan cara-cara yang legal.
4. Tax Evasion : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari namun dengan cara-cara yang ilegal.
5. Tax Saving : upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif
pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
69
PERTEMUAN 9: PERENCANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
(PPN)
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami perlakuan perencanaan pajak untuk Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) agar dapat mengatur cash flow perusahaan.
Sekilas Mengenai
Pajak Pertambahan Nilai
Prinsip-Prinsip Perencanaan
Pajak Untuk PPN
Menghindari Sanksi Administrasi Yang
Berkaitan Dengan Faktor Pajak
Unsur-Unsur Faktor Pajak Standar
Yang Lengkap
Perencanaan PPN Lainnya
B. URAIAN MATERI
1. Sekilas Mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Salah satu karakteristik dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah bahwa PPN
merupakan Pajak Tidak Langsung. Karakteristik ini memberikan suatu pengertian
bahwa antara pemikul beban pajak (Destinataris Pajak) dengan Wajib Pajak
(dalam hal ini Pengusaha Kena Pajak/PKP) adalah tidak sama. Dengan demikian,
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
70
dapat disimpulkan bahwa selama berstatus sebagai PKP, Wajib Pajak tidak akan
memikul beban PPN meskipun Wajib Pajak tersebut melakukan pembayaran
Pajak Pertambahan Nilai (ketika SPT Masanya Kurang Bayar), karena pada
dasarnya PPN yang dibayarkan tersebut merupakan jumlah yang dipungut dari
pembeli (sebagai pemikul beban pajak sesungguhnya).
Mekanisme pengkreditan Pajak Keluaran (cash inflows) dengan Pajak Masukan
(cash outflows) akan selalu menghasilkan keseimbangan, sehingga saldo akhir
PPN selalu Nihil, baik ketika SPT Masanya berstatus kurang bayar maupun lebih
bayar. Apabila aliran uang masuk atau cash inflows digambarkan dengan tanda
panah ke arah kiri ( ) sedangkan aliran uang keluar atau cash outflows
digambarkan dengan tanda panah ke arah kanan ( ), maka penjelasan mengenai
saldo PPN yang selalu Nihil setiap akhir masa pajak adalah sebagai berikut:
a). SPT Masa PPN yang menunjukkan status Kurang Bayar:
Pajak Keluaran Rp100 cash inflows
Pajak Masukan Rp 80 cash outflows
Kurang bayar Rp 20 cash outflows
Kesimpulan: Jumlah cash inflows = jumlah cash outflows = Rp 100.
b).SPT Masa PPN yang menunjukkan status Lebih Bayar:
Pajak Keluaran Rp 200 cash inflows
Pajak Masukan Rp 240 cash oufflows
Lebih bayar (Rp 40) cash inflows
Cash inflows sebesar Rp 40 diperoleh dari restitusi maupun kompensasi.
Kesimpulan: Jumlah cash inflows = jumlah cash outflow = Rp 240.
Yang harus menjadi perhatian bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah
karakteristik Faktur Pajak karena Faktur Pajak merupakan bagian paling penting
dari mekanisme PPN. Dalam kondisi tertentu terkadang PKP Penjual akan
memikul beban PPN Keluaran (yang seharusnya beban Pembeli) terlebih dahulu
karena adanya kewajiban membuat Faktur Pajak Keluaran sedangkan pada saat
yang sama pembeli belum siap memikul beban PPN yang seharusnya menjadi
beban dia. Pemahaman yang baik terhadap seluk beluk Faktur Pajak akan
menghindarkan Wajib Pajak dari masalah cash flows serta terhindar dari
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
71
pengenaan sanksi administrasi yang mungkin timbul karena pembuatan Faktur
Pajak tersebut.
2. Prinsip-Prinsip Perencanaan Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai
a). Penundaan Pembayaran PPN
Dalam hal terjadi transaksi penyerahan yang dilakukan secara kredit, Pengusaha
Kena pajak diperkenankan untuk menerbitkan Faktur Pajak sampai dengan
paling.lambat pada akhir bulan berikutnya, sehingga pembayaran pajak dapat
ditunda sampai dengan bulan berikutnya. Selain itu, terdapat transaksi-transaksi
tertentu yang terutarang PPN (Pajak Keluaran), tetapi tidak menghasilkan cash
inflows bagi Pengusaha Kena Pajak. Dengan demikian, Pengusaha Kena Pajaklah
yang akan menanggung beban pajak dan membayar PPN-nya. Transaksi-transaksi
ini adalah:
1). Pemakaian sendiri untuk keperluan konsumtif;
2). Pemberian cuma-cuma.
Terhadap transaksi yang terutang PPN Keluaran, tetapi tidak menghasilkan aliran
uang masuk (cash inflows), Pengusaha Kena Pajak dapat melakukan penundaan
pembayaran PPN sampai bulan berikutnya, yaitu dengan cara menerbitkan Faktur
Pajak standar pada akhir bulan berikutnya setelah bulan dilakukannya penyerahan.
b). Penggunaan Faktur Pajak Sederhana
Dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan transaksi dengan pihak pembeli
yang tidak memiliki NPWP, pihak penjual dapat menggunakan Faktur Pajak
sederhana untuk menimbulkan pengaruh psikologis kepada pembeli bahwa
“seolah-olah” transaksi tersebut tidak terutang PPN, karena jumlah penyerahan
yang tercantum di dalam Faktur Pajak sudah termasuk PPN (implisit). Penjelasan
bahwa di dalam harga yang dibayarkan oleh pihak pembeli telah termasuk dengan
PPN tetap dicantumkan di dalam Faktur sederhana tersebut, hanya tidak
mencolok. Unsur dari Faktur Pajak sederhana yang lengkap adalah :
1). Identitas Penjual;
2). Dasar Pengenaan pajak, yaitu harga jual (sudah termasuk PPN);
3). Tanggal pembuatan faktur;
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
72
4). PPN yang dipungut, dengan tulisan tidak menyolok: “harga di atas sudah
termasuk PPN 10%” untuk menimbulkan kesan kepada pihak pembeli bahwa
seolah-olah tidak dikenakan PPN.
Sedangkan untuk Faktur Pajak standar yang lengkap, masih ditambah dengan 3
(tiga) unsur yang berupa: nomor seri Faktur Pajak, identitas pembeli, dan
ditandatangani.
3. Menghindari Sanksi Administrasi yang Berkaitan Dengan Faktur Pajak
Dalam menerbitkan Faktur Pajak Pengusaha Kena Pajak perlu memahami
persyaratan formal maupun persyaratan material Faktur Pajak, sehingga terhindar
dari :
a). pengenaan sanksi administrasi perpajakan, karena:
1). Tidak lengkap dalam mengisi Faktur Pajak.
2). Tidak atau terlambat menerbitkan Faktur Pajak.
3). Tidak diakuinya Faktur Pajak masukan oleh fiskus, karena.
4). Tidak memenuhi persyaratan material, misalnya Fakur Pajak atas perolehan
Barang kena pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak berhubungan langsung dengan
usaha. Pengertian berhubungan langsung dengan usaha adalah berhubungan
langsung dengan kegiatan produksi, kegiatan manajemen, kegiatan distribusi, dan
kegiatan pemasaran.
5).Tidak memenuhi persyaratan formal, misalnya Faktur Pajak yang tidak
lengkap.
4. Unsur-unsur Faktur Pajak standar yang lengkap, terdiri dari 7 (tujuh)
unsur yaitu:
a). Nomor Seri Faktur, yang terdiri dari kombinasi lima huruf dan tujuh angka;
b). Identitas penjual;
c). Identitas pembeli;
d). Dasar Pengenaan Pajak;
e). PPN yang dipungut;
f). Tanggal Pembuatan Faktur;
g). Tandatangan dan stempel/cap perusahaan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
73
Selanjutnya Wajib Pajak dapat memberi tambahan aksesoris yang lain, misalnya
berupa logo perusahaan, pernyataan visi dan misi perusahaan, dan lain
sebagainya.
5.Perencanaan PPN Lainnya
Terdapat beberapa perencanaan lainnya, antara lain :
a). Dalam hal pengadaan aktiva berupa bangunan, lebih baik menghindari
melakukan kegiatan membangun sendiri. Hal ini disebabkan karena atas
pembayaran PPN Membangun Sendiri akan berpotensi tidak dapat dikapitalisasi
terhadap harga perolehan dari aktiva tetap berupa bangunan tersebut yang menjadi
dasar perhitungan biaya penyusutan di PPh Badan.
b). Bagi para eksportir disarankan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai pengusaha Kena Pajak meskipun tidak melakukan penyerahan BKP.di
dalam Daerah Pabean. Hal ini terkait dengan kesempatan untuk mengkreditkan
Pajak Masukan atas perolehan BKP/JKP dalam langka menyiapkan barang yang
akan diekspor.
c). Bagi para pengusaha yang memenuhi kriteria Pengusaha Entreport Produksi
Untuk Tujuan Ekspor (EPTE) lebih baik memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP
EPTE.
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Tolong Anda buat Contoh Satu Kasus Perencanaan Pajak Pertambahan Nilai?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
74
E. GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) : pajak yang dikenakan atas setiap
pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke
konsumen.
3. Pajak Keluaran : orang/badan yang membeli barang/jasa kena pajak
sekaligus membayar pajak kepada pengusaha kena pajak.
4. Pajak Masukan : penerimaan pajak dari orang/badan yang membayar pajak
akibat dari pembelian barang kena pajak dari pengusaha kena pajak.
5. Tax Avoidance : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari pajak namun dengan cara-cara yang legal.
6. Tax Evasion : langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk
menghindari namun dengan cara-cara yang ilegal.
7. Tax Saving : upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif
pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
75
PERTEMUAN 10: PERENCANAAN PAJAK PPh SEKTOR-SEKTOR
TERTENTU
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan pengecualian subjek pajak yang tidak termasuk subjek pajak,
kewajiban pajak subjektif, pengecualian objek pajak, Pajak penghasilan jenis-jenis
penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak, biaya-biaya yang boleh
dikurangkan dari penghasilan bruto, pembedaan dan pembagian jenis-jenis pajak,
dan perbandingan jenis pajak yang dikelola pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota.
Pengecualian Subjek Pajak yang Tidak Termamsuk
Subjek Pajak
Kewajiban Pajak Subjektif
Pengecualian Objek Pajak
Jenis Penghasilan yang Dikecualikan Sebagai
Objek Pajak
Biaya-biaya yang Boleh Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto
Pembedaan dan Pembagian Jenis-Jenis Pajak
Perbandingan Jenis Pajak yang Dikelola Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota
B. URAIAN MATERI
Sejak tahun 1994 Pajak Penghasilan dipungut berdasarkan undang-undang nomor
7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Pembahasan Pajak Penghasilan berikut
ini didasarkan pada Undang-undang nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
76
diubah terakhir dengan Undang-undang nomor 36 tahun 2008 tentang perubahan
keempat atas Undang-undang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan,
Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak.
1. Subjek Pajak PPh dan pengecualianya yang dimaksud Subkel Pajak adalah
segala suatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan
menjadi sasarn untuk dikenakan pajak penghasilan. Pembagian Subjek Pajak
menurut Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 subjek pajak
dibagi menjadi menurut Pasal 2 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2008 subjek pajak
dibagi menjadi Subjek Pajak Orang Pribadi, Subjek Pajak Warisan Belum
Dibagi, Subjek Pajak Badan dan Subjek Pajak Bentuk Usaha Tetap.
2. Subyek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia,
orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang
dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia.
3. Subyek pajak harta warisan belum dibagi yaitu warisan dari seseorang yang
sudah meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan, maka
pendapatan itu dikenakan pajak.
4. Subyek pajak badan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
a. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
a. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau
Pemerintah Daerah, dan pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan
fungsional Negara.
5. Bentuk usaha tetap yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi yang
tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan yang tidak didirikan
dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan kegiatan di Indonesia.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
77
Badan Usaha Tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya
dipersamakan dengan subjek pajak badan. Dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-
Undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa Badan Usaha Tetap adalah :
Bentuk Usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal
di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari jangka waktu 12
Bulan atau Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia berupa
:
1. Tempat kedudukan manajemen.
2. Cabang perusahaan.
3. Kantor perwakilan.
4. Gedung kantor.
5. Pabrik.
6. Bengkel.
8. Gudang
9. Ruang promosi dan Penjualan.
10. Pertambangan dan penggalian sumber alam.
11. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi.
12. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, dan perhutanan.
13. Proyek konstruksi, Instalasi atau proyek perakitan.
14. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas
15. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung resiko di Indonesia
16. Komputer, agen elektronik atau peralatan otomotais yang dimiliki, disewa atau
digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan
kegiatan usaha melalui internet.
17. Agen yang bekerjasama dengan pihak Luar Negeri.
Yang menjadi objek BUT adalah :
a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta
yang dimiliki atau dikuasai.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
78
b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, Penjualan barang, atau
pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau
diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk
usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
dimaksud. Biaya-biaya yang berkenaan dengan upaya memperoleh penghasilan
boleh dikurangkan dari penghasilan BUT.
Dalam menentukan besarnya laba suatu BUT, maka biaya administrasi kantor
pusat yang tidak diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan
dengan usaha atau kegiatan BUT yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Pajak, dan pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan
sebagai biaya adalah : royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan
penggunaan harga, paten, atau hak-hak lainnya; imbalan sehubungan dengan jasa
manajemen dan jasa lainnya; dan bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan
usaha perbankan. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) UU No. 36 Th. 2008, Subjek Pajak
penghasilan dibagi menjadi dua, yakni : Subjek Pajak Dalam Negeri
Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada
di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau orang pribadi
yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan
di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria
tertentu, dan Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan
yang berhak. Subjek Pajak Luar Negeri Yang dimaksud dengan Subjek Pajak luar
negeri adalah : Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia; dan
Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Perbedaan Subyek Pajak Dalam Negeri dengan Subyek Pajak Luar Negeri
Terletak dalam pemenuhan kewajiban perpajaknnya, antara lain :
Subjek Pajak Dalam Negeri dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
79
atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia, sedangkan Subjek Pajak
Luar Negeri dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber
penghasilan di Indonesia.
Subjek Pajak Dalam Negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto
dengan tarif umum (Tariff UU PPh Pasal 17), sedangkan Subjek Pajak Luar
Negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan
(UU PPh Pasal 26).
Subjek Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan
sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak,
sedangkan Subjek Pajak Luar Negeri tidak wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan, karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui
pemotongan pajak yang bersifat final.
1. Pengecualian Subjek Pajak Yang tidak termasuk subjek pajak, yaitu :
Kantor perwakilan negara asing; Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik, dan
konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang
diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-
sama mereka, dengan syarat; bukan WNI dan di Indonesia tidak memperoleh
penghasilan di luar pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik; Organisasi-organisasi international dengan syarat
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut, dan tidak menjalankan kegiatan
utuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada
pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota; Pejabat-pejabat
perwakilan organisasi international, dengan syarat bukan WNI dan tidak
menjalankan kegiatan untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
2.Kewajiban Pajak Subjektif.
a.Subjek Pajak Dalam Negeri, kewajiban subjek pajak orang pribadi dimulai
saat orang tersebut dilahirkan atau berada atau berniat tinggal di Indonesia, dan
berakhir saat meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya, sedangkan
Kewajiban Subjek Pajak BUT dimulai saat didirikan atau berkedudukan di
Indonesia, dan berakhir saat dibubarkan atau tidak lagi berkedudukan di
Indonesia.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
80
b.Subjek pajak Luar Negeri, Kewajiban Subjek Pajak Non BUT dimulai saat
mempunyai penghasilan di Indonesia, dan Subjek pajak BUT dimulai saat
melakukan usaha melalui BUT di Indonesia.
c.Warisan Belum Terbagi, Kewajiban Pajak atas Warisan belum terbagi dimulai
saat timbulnya warisan dan berakhir saat warisan sudah terbagi.
Objek Pajak Penghasilan pengertian penghasilan Menurut Undang-undang
Perpajakan, penghasilan adalah setiap tambahan yang diterima atau diperoleh WP
(Wajib Pajak), baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan WP yang bersangkutan
dan dalam bentuk apapun.
Objek pajak penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Objek pajak penghasilan.
Menurut pasal 4 ayat (1) UU No. 36 tahun 2008, objek pajak penghasilan adalah
seperti berikut ini :Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau
jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,
komisi, bonus, gratifikasi, uang pension, atau imbalan dalam bentuk lainnya,
kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini:
a.Hadiah dari undian, pekerjaan, atau kegiatan dan penghargaan.
b.Laba usaha.
c.Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta, termasuk:
1. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
dan pembayaran tambahan pengembalian pajak.
2. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang.
3. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi.
4. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
81
5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
6. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
7. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu
yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
8. Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
9. Premi asuransi.
10. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggota yang terdiri dari
WP yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
11.Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenai
pajak
d.Pengecualian Objek Pajak PPh Jenis-jenis penghasilan yang dikecualikan
sebagai objek pajak adalah:
1. Bantuan atau Sumbangan dan Hibah.
2. Warisan.
3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau pengganti penyertaan modal.
4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
ditperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau
Pemerintah.
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa.
6. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, bumn, atau bumd, dari penyertaan
modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia.
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pension yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun
pegawa.
8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pension sebagaimana
dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
82
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi
kolektif.
10. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia dengan syarat badan pasangan usaha tersebut;
Merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan
dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan, dan Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek Indonesia.
11.Surplus Bank Indonesia selama jangka waktu 5 tahun sejak berlakunya
ketentuan ini.
12. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur
dengan Keputusan Menteri Keuangan.
13. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh yayasan atau badan nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan formal, yang ditanamkan kembali paling
lama dalam jangka waktu 4 tahun yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan Ketentuan Menteri Keuangan.
e. Biaya-biaya yang Boleh Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Pasal 6 ayat
(1):
1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usaha, antara lain:pembelian bahan,biaya yang berkenaan dengan pekerjaan
atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan
yang diberikan dalam bentuk; Bunga, sewa, royalti, biaya
perjalanan;pengolahan limbah;premi asuransi;baiay promosi dan penjualan
yang diatur dengan atau berdasarkan berdasarkan PMK; biaya adm dan pajak,
kecuali pajak penghasilan.
2. Biaya Penyusutan dan amortisasi.
3. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan
dalam perusahaan atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan.
4. Kerugian selisih Kurs mata uang Aasing.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
83
5. Biaya Litbang perusahaan yang dilakukan di Indonesia.
6. Biaya Beasiswa, magang dan pelatihan.
7. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat-syarat tertentu dan
pelaksanaanya diatur lebih lanjut dengan Per Menkeu.
8. Sumbangan dalam rangka penangulangan bencana nasional yang ditetapkan
dengan peraturan pemerintah.
9. Sumbangan dalam rangka Penelitian dan Pengembangan yang dilakukan di
Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peratura Pemerintah.
10. Pembangunan Infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
11. Sumbangan Fasilitas Pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
12 Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dalam
Pearaturan Pemerintah.
f). Pembedaan dan Pembagian Jenis-Jenis Pajak.
Manfaat pembedaan pajak ke dalam Pajak langsung dan Pajak tidak langsung
adalah:
1.Untuk keperluan sistematik dalam ilmu pengetahuan, misalnya untuk
menentukan:saat timbulnya hutang pajak, kadaluarsa, dan tagihan susulan.
2.Untuk menentukan cara mengadakan prosesperadilan karena perselisihan Pajak
Langsung diselesaikan melalui pengadilan administrasi, sedangkan Pajak Tidak
Langsungdiselesaikan di muka hakim biasa.
3.Untuk menghindari kekebalan perwakilan asing. Mereka hanya dikecualikan
dari pengenaan pajak langsung sedangkan terhadap pajak tidak langsung tidak
dikecualikan.
g). Jenis-jenis Pajak.
Pada umumnya Pajak dapat dikelompokkan menjadi:
1. Menurut Golongannya:
a). Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan
tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contohnya: Pajak
Penghasilan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
84
b). Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau
dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan nilai, bea materai,
bea balik nama. Tiga unsur dalam menentukan apakah sesuatu termasuk pajak
langsung ataupun pajak tidak langsung menurut Jhon Stuart Mill (dalam R.
Santoso Brotodhardjo, 1993) adalah:
1). Penanggung jawab pajak (Wajib Pajak) yakni orang yang secara formal yuridis
diharuskan melunasi pajak, yaitu bila padanya terdapat faktor-faktor atau
kejadian-kejadian yang menimbulkan sebab (menurut Undang- undang) untuk
dikenakan pajak.
2). Penanggung pajak adalah orang yang dalam faktanya (dalam arti ekonomis)
memikul dulu beban pajaknya.
3). Yang ditunjuk oleh pembuat Undang-undang, juga dinamakan pemikul pajak,
yaitu orang yang menurut maksud pembuat Undang- undang harus dibebani
pajak.
c). Menurut Sifatnya:
1. Pajak subjektif, yaitu Pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya,
dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Pajak yang memperhatikan
pertama-tama keadaan pribadi wajib pajak. Untuk menetapkan pajaknya harus
ditemukan alasan-alasan yang obyektif yang berhubungan erat dengan keadaan
materialnya, yaitu yang disebut gaya pikul (kekuatan wajib pajak). Contoh:
Pajak Penghasilan.
2. Pajak Objektif, yaitu pajak yang melihat kepada obyeknya baik itu berupa
benda, dapat pula berupa keadaan, perbuatan atau peristiwa yang
mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar; kemudian barulah dicari
subjeknya (orang atau badan hukum) yang bersangkutan langsung, dengan
tidak mempersoalkan apakah subjek pajak ini berkediaman di Indonesia
ataupun tidak Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
barang mewah.
c). Menurut Lembaga Pemungutnya :
1.Pajak Pusat, yaitu Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat yang
penyelenggaraannya dilaksanakan oleh departemen keuangan dan hasilnya akan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Pajak yang dipungut oleh
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
85
dirjen pajak, misal: pajak penghasilan, PPN, PBB, bea materai dan bea lelang.
Pajak yang dipungut bea cukai (dirjen bea cukai)
Penerimaan yang masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
antara lain:
a). Pajak Penghasilan
b). Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM).
c).Pajak Bumi dan Bangunan
d). Pajak/Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
e). Bea Meterai
f). Sebagian dari pajak pusat tersebut hasil penerimaannya dibagikan kepada
pemerintah daerah yakni:
g). Hasil penerimaan PPh Orang Pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21 dibagi
dengan imbangan 80% untuk pemerintah pusat dan 20% untuk pemerintah
daerah.
h). Hasil penerimaan PBB dibagi dengan imbangan 10% untuk pemerintah pusat
dan 90% untuk pemerintah daerah.
i). Hasil Penerimaan BPHTB dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah
pusat dan 80% untuk pemerintah daerah.
Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh: Pajak kendaraan dan Bea
balik nama kendaraan bermotor, pajak hotel dan restoran (pengganti pajak
pembangunan), pajak hiburan, dan pajak penerangan jalan.
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah pengertian Pajak Daerah, yang selanjutnya
disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan
demikian pajak daerah adalah iuran wajib pajak kepada daerah untuk
membiayai pembangunan daerah. Pajak Daerah ditetapkan dengan undang-
undang yang pelaksanaannya untuk di daerah diatur lebih lanjut dengan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
86
peraturan daerah. Pemerintah daerah dilarang melakukan pungutan selain
pajak yang telah ditetapkan undang-undang (Pasal 2 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009).Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terdapat 5 (lima) jenis pajak
provinsi dan 11 (sebelas) jenis pajak kabupaten/kota. Secara rinci dapat dilihat
dalam tabel berikut.
Tabel 1. Perbandingan Jenis Pajak yang Dikelola Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota Pajak Provinsi Pajak Kabupaten/Kota:
1. Pajak Kendaraan Bermotor.
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor.
3. Pajak Air Permukaan.
4. Pajak Rokok.
5. Pajak Hotel.
6. Pajak Restoran.
7. Pajak Hiburan.
8. Pajak Reklame.
9. Pajak Penerangan Jalan.
10. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
11. Pajak Parkir.
12. Pajak Air Tanah.
13. Pajak Sarang Burung Walet.10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan.
14. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
Pajak provinsi ada lima jenis pajak yang dikelola oleh provinsi yaitu :
1. Pajak Kendaraan Bermotor.
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
4. Pajak Air Permukaan dan.
5. Pajak Rokok.
6. Pajak Kendaraan Bermotor.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
87
Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau
penguasaan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua
kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan
darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan
lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu
menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-
alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan
motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang
dioperasikan di air (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi menurut Pasal 6 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ditetapkan
sebagai berikut :
a) untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama paling rendah sebesar 1%
(satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen).
b) untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat
ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen) dan
paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).Sedangkan tarif Pajak
Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam kebakaran,
sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan,
Pemerintah/TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, dan kendaraan lain yang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah, ditetapkan paling rendah sebesar
0,5% (nol koma lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu persen).
Kemudian Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat
besar ditetapkan paling rendah sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dan
paling tinggi sebesar 0,2% (nol koma dua persen).
7. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat
perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena
jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan
usaha (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009). Menurut Pasal 12
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
88
Daerah tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi
masing-masing sebagai berikut :
a).Penyerahan pertama sebesar 20% (dua puluh persen) dan
b).Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1% (satu persen).
Khusus untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang tidak
menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi masing-masing
sebagai berikut :
a. penyerahan pertama sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen); dan
b.penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075% (nol koma nol tujuh puluh
lima persen).
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor.
Bahan bakar kendaraan bermotor adalah semua jenis bahan bakar cair atau
gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor (Pasal 1 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009). Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Khusus tarif Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk bahan bakar kendaraan umum
dapat ditetapkan paling sedikit 50% (lima puluh persen) lebih rendah dari
tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk kendaraan pribadi
(Pasal 19 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
8. Pajak Air Permukaan Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Air Permukaan adalah
pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan. Air permukaan
adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, tidak termasuk air laut,
baik yang berada di laut maupun di darat. Tarif Pajak Air Permukaan
ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 24 Undang-Undang nomor 28
Tahun 2009).
9. Pajak Rokok menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok
yang dipungut oleh Pemerintah. Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10%
(sepuluh persen) dari cukai rokok. Pajak Rokok dikenakan atas cukai rokok
yang ditetapkan oleh Pemerintah (Pasal 29 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
89
2009). Penerimaan pajak rokok, baik bagian Provinsi maupun bagian
Kabupaten/kota, dialokasikan paling sedikit 50% untuk mendanai pelayanan
kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang (
Pasal 31 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
a.Pajak yang Dikelola Kabupaten/Kota ada 11 jenis pajak yang dikelola oleh
Kabupaten/Kota, pajak yang termasuk pajak yang dikelola Kabupaten/Kota
adalah sebagai berikut :
10. Pajak Hotel Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan retribusi Daerah, Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang
disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa
penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut
bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma
pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos
dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). Tarif Pajak Hotel ditetapkan
paling tinggi sebesar 10% (Pasal 35 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
11.Pajak Restoran Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Restoran adalah pajak atas
pelayanan yang disediakan oleh restoran. Restoran adalah fasilitas penyedia
makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga
rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa
boga/katering. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10%
(Pasal 40 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
12. Pajak Hiburan Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang
Pajak dan Retribusi Daerah, Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan
hiburan. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan,
dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. Tarif Pajak
Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen).
Khusus untuk hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik,
karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa,
tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh
lima persen). Khusus hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
90
Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 45 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009).
13. Pajak Reklame menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Reklame adalah pajak atas
penyelenggaraan reklame. Reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media
yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial
memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik
perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat,
dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum. Tarif Pajak
Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (Pasal 50 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009).
14. Pajak Penerangan Jalan Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Penerangan Jalan adalah
pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun
diperoleh dari sumber lain. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling
tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Penggunaan tenaga listrik dari sumber
lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak
Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen).
Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif Pajak Penerangan
Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 1,5% (Pasal 55 Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009).
15. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan menurut Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Mineral
Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral
bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan
bumi untuk dimanfaatkan. Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral
bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan
perundang-undangan di bidang mineral dan batubara. Tarif Pajak Mineral
Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (Pasal 60
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
16. Pajak ParkirMenurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
91
tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan
pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.Parkir adalah keadaan tidak
bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. Tarif Pajak Parkir
ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (Pasal 65 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009).
17. Pajak Air Tanah menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Air Tanah adalah pajak atas
pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah. Air Tanah adalah air yang
terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Tarif
Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (Pasal 70 Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009).
18. Pajak Sarang Burung Walet menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Sarang Burung Walet
adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung
walet. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu
collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta,dan collocalia
linchi. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10%
(Pasal 75 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
19. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Menurut Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak
Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau
bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi
atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. Bumi adalah permukaan bumi
yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah
kabupaten/kota. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut.
Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling
tinggi sebesar 0,3% (Pasal 80 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).
20. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
92
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa
hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan
oleh orang pribadi atau Badan. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (Pasal 88 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009).
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Tolong Saudara buat perencanaan pajak PPh sektor-sektor tertentu?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Subjek Pajak : adalah segala suatu yang mempunyai potensi untuk
memperoleh penghasilan dan menjadi sasarn untuk dikenakan pajak
penghasilan.
2. Subjek Pajak Pribadi : orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia,
orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang
dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia.
3. Subjek Pajak Warisan Belum Terbagi : warisan dari seseorang yang sudah
meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan, maka
pendapatan itu dikenakan pajak.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
93
4. Subjek Pajak Badan : badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
a. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
c. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau
Pemerintah Daerah, dan pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan
fungsional Negara.
5. Badan Usaha Tetap (BUT) : bentuk usaha yang digunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan
yang tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan
kegiatan di Indonesia.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
94
PERTEMUAN 11: PERENCANAAN PAJAK INTERNASIONAL UNTUK
BADAN USAHA TETAP (BUT)
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami pemilihan bentuk saha dan dampaknya
terhadap Pajak Penghasilan (PPh).
Badan Usaha Tetap (BUT)
Pengertian BUT
Kewajiban Pajak BUT
B. URAIAN MATERI
Bentuk Usaha Tetap (disingkat BUT) adalah salah satu Wajib Pajak yang
menempati kedudukan khusus dalam sistem perpajakan di Indonesia. BUT adalah
termasuk Wajib Pajak Luar Negeri. Oleh karenanya pengertian BUT akan
bersinggungan dengan sistem perpajakan dari negara lain sehingga BUT juga
merupakan salah satu hal yang menjadi bahasan dalam perjanjian perpajakan
dengan negara lain.
1. Pengertian BUT
Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan, yang dimaksud dengan bentuk usaha
tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa
tempat kedudukan manjemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
95
kantor, pabrik, bengkel, dan lain-lain. Dengan kata lain BUT adalah bentuk
kegiatan usaha di Indonesia yang dimiliki oleh orang atau badan luar negeri.
Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha
(place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk
juga mesin-mesin dan peralatan.
Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku
agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang
pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan
di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap
mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan
dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan
agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan agen atau
perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka
menjalankan perusahaannya sendiri.
Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia
dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila perusahaan asuransi
tersebut menerima pembayaran premi asuransi di Indonesia atau menanggung
risiko di Indonesia melalui pegawai, perwakilan atau agennya di Indonesia.
Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang
mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada atau bertempat
kedudukan di Indonesia.
2. Kewajiban Pajak BUT
Walaupun BUT termasuk Wajib Pajak Luar Negeri, namun kewajiban perpajakan
BUT hampir sama dengan Wajib Pajak Badan Dalam Negeri. Suatu BUT
berkewajiban untuk ber NPWP. Apabila memenuhi ketentuan di Undang-undang
PPN, BUT juga wajib untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
96
Setelah berNPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP, BUT berkewajiban
menjalankan hak dan kewajiban perpajakan yang sama dengan Wajib Pajak
Dalam Negeri. BUT Wajib menyampaikan SPT PPh Badan, SPT PPh Pasal 21/26,
PPh Pasal 23/26, PPh Pasal 22, PPh Pasal 4 ayat (2) dan/atau PPN sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Perbedaan mendasar dalam perlakuian PPh antara Wajib Pajak Badan Dalam
Negeri dan BUT terletak pada :
1. Sumber penghasilan BUT yang dikenakan PPh adalah penghasilan dari
Indonesia saja karena BUT termasuk Wajib Pajak Luar Negeri.
2. Adanya perlakuan khusus tentang penghasilan yang menjadi objek pajak BUT
dan biaya yang boleh dikurangkan bagi BUT yang diatur dalam Pasal 5 UU
PPh.
3. Adanya kewajiban khusus pemotongan PPh Pasal 26 atas Penghasilan Kena
Pajak setelah dikurang pajak di Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 26
ayat (4) UU PPh.
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Buatlah Satu Contoh Kasus Perencanaan Pajak Untuk BUT?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
97
E. GLOSARIUM
1. Badan : sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha.
2. Badan Usaha Tetap: bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi
yang tidak bertempat tinggal di Indoensia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
98
PERTEMUAN 12: PERENCANAAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) BADAN
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Agar mahasiswa dapat memahami: perlakuan PPh Badan agar dapat
mengefisiensikan beban pajak dan menghindari pemeriksaan pajak.
Perencanaan PPh Badan
Akhir Tahun
Menunda Transaksi Yang Akan
Menghasilkan Laba
Mempercepat Pengakuan Pajak
Pada Akhir Tahun
B. URAIAN MATERI
1. Perencanaan PPh Badan Akhir Tahun
a). Strategi perencanaan PPh Badan akhir tahun hanya relevan untuk perusahaan
yang penghasilannya dikenakan dengan tarif umum, bukan yang terkena PPh
Final seperti perusahaan real estate, perusahaan properti dan perusahaan jasa
konstruksi yang PPhnya dikenakan dari penghasilan bruto dengan tarif khusus.
b). Membuat estimasi jumlah PPh Badan Terutang serta mengetahui posisi
Kurang/Lebih bayar adalah merupakan langkah pertama dalam perencanaan
pajak akhir tahun. Semakin dekat dengan akhir tahun maka semakin akurat
estimasi dapat dibuat.
c). Namun di sisi lain waktu untuk mengimplementasikan strategi perencanaan
pajak akhir tahun akan semakin sempit. Oleh karena itu idealnya perencanaan
pajak akhir tahun dilakukan setidaknya sejak tiga bulan sebelum tutup buku
akhir Desember. Hasil estimasi akan menentukan strategi berikutnya.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
99
d). Dalam hal estimasi berdasarkan proyeksi menunjukkan posisi PPh Badan
Kurang Bayar dalam jumlah cukup besar dan dipandang akan menguras kas
perusahaan, maka perusahaan dapat melakukan langkah-langkah antara lain
sebagai berikut:
2. Menunda transaksi yang akan menghasilkan laba.
Penundaan transaksi perusahaan yang akan menghasilkan laba di Desember 2012
ke 2013 dimaksudkan untuk mencegah pertambahan jumlah penghasilan kena
pajak 2012 yang dengan sendirinya akan menambah jumlah PPh Badan Terutang.
Contoh:
a). Menunda realisasi penjualan aktiva tetap yang menghasilkan laba ke awal
2013 dimana sebelumnya di rencanakan akan dilakukan di Desember 2012.
b). Menunda realisasi penerimaan piutang atau pembayaran utang yang
menimbulkan keuntungan selisih kurs di Desember 2012 ke awal 2013.
Secara konvensional, penggeseran laba perusahaan ke tahun 2013 juga dapat
dilakukan dengan melakukan penundaan atau pergeseran pengakuan penjualan
akhir 2012 ke awal 2013. Namun ini cocok dilakukan apabila ketentuan
perpajakan memperkenankan perusahaan menganut stelsel kas murni (pure cash
basis), sehingga perusahaan dapat menunda pengakuan penjualan hingga pada
saat menerima pembayaran dari pelanggan pada awal 2013 meskipun penyerahan
barang/jasa dilakukan di Desember 2012.
Sayangnya, ketentuan perpajakan Indonesia menganut stelsel kas campuran
(modified cash basis), di mana penjualan dalam suatu periode harus meliputi
seluruh penjualan, baik yang tunai maupun yang bukan, sehingga langkah ini
tidak dapat dilakukan.
3. Mempercepat pengakuan biaya/rugi pada akhir tahun.
Dengan melakukan percepatan pengakuan biaya/rugi pada akhir 2012, maka
penghasilan kena pajak akan berkurang dan dengan sendirinya akan mengurangi
jumlah PPh Badan Terutang.
Contoh:
1). Menjual aktiva tetap perusahaan yang tidak produktif dan nilai bukunya jauh
diatas harga pasar pada Desember 2012 sehingga menimbulkan kerugian yang
segera dapat diakui.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
100
2). Mempercepat biaya iklan dan promosi pada Desember 2012 yang sedianya
merupakan budget awal 2013.
3). Membayar bonus 2012 kepada Direksi dan karyawan pada Desember 2012
yang sedianya dibayarkan pada 2013.
4). Mempercepat realisasi pelunasan utang dalam valuta asing yang menimbulkan
kerugian selisih kurs pada Desember 2012.
5). Mempercepat realisasi atas rencana pembelian aktiva tetap baru di Desember
2012 yang sedianya dilakukan pada awal 2013. Dalam hal ini, perusahaan
dapat mengakui biaya penyusutan untuk Desember 2012 meskipun aktiva
tetap tersebut baru digunakan mulai Januari 2013.
6). Merealisasi program training karyawan (local & overseas training) pada
Desember 2012 yang sedianya dilaksanakan pada awal 2013.
7). Melakukan repair and maintenance aktiva tetap produktif perusahaan di
Desember 2012 yang sedianya akan dilakukan pada awal 2013.
8). Langkah-langkah yang dikemukakan di atas hanya merupakan beberapa
contoh yang tentu saja perlu disesuaikan dengan kegiatan masing-masing
perusahaan.
9). Selanjutnya dalam hal estimasi menunjukkan PPh Badan Lebih Bayar, dan
dengan alasan tertentu perusahaan bermaksud menghindari pemeriksaan,
maka strateginya adalah kebalikan dari langkah-langkah di atas. Sesuai
ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia, PPh Badan Lebih Bayar
akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum diberikan pengembalian
kelebihan tersebut ke perusahaan.
10). Dari perspektif perusahaan sebagai Wajib Pajak, kecuali dalam keadaan
terpaksa, perusahaan pada umumnya menghindari PPh Badan Lebih Bayar
yang akan mengundang pemeriksaan yang cukup menyita waktu, tenaga dan
biaya. Perencanaan PPh Badan akhir tahun yang menghasilkan pajak terutang
lebih kecil di 2012 juga menguntungkan dari sisi time value of money karena
terdapat penundaan pembayaran pajak secara riil.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
101
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
1. Jelaskan bagaimana perencanaan PPh Badan pada akhir tahun?
2. Jelaskan bagaimana menuda transaksi yang akan menghasilkan laba?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E.GLOSARIUM
1. Badan : sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha.
2. Pajak Penghasilan: Pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.
3. Pajak Penghasilan Badan: pajak yang dikenakan atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh oleh Badan seperti yang dimaksud dalam UU KUP.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
102
PERTEMUAN 13: PERENCANAAN AUDIT PAJAK
F. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan program audit penilaian resiko, resiko inheren, resiko
pengendalian, resiko pedektesian, perencanaan audit, dan isi perencanaan audit.
URAIAN MATERI
Program Audit Penilaian Resiko
Resiko Inheren
Resiko Pengendalian
Resiko Pedektesian
Perencanaan Audit
Isi Perencanaan Audit
Metode Dalam Perencanaan Audit
Kegiatan Dalam Perencanaan Audit
1. Penilaian Resiko
Perencanaan audit harus disusun dengan mempertimbangkan resiko yang dihadapi
organisasi yang akan diauditnya. Dalam hal ini, auditor internal harus
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
103
memanfaatkan output dari hasil penilaian resiko dalam perancangan program
audit. Oleh karena itu, auditor perlu memahami proses berikut alat yang
digunakan dalam penilaian resiko tersebut. Yang dimaksud dengan penilaian
resiko adalah kegiatan identifikasi dan analisis terhadap resiko yang relevan
dalam upaya pencapaian tujuan organisasi sebagai dasar untuk menentukan cara
pengelolaan resiko tersebut. Penilaian resiko tersebut penting untuk dilakukan
sebab kondisi perekonomian, industri, regulasi, dan operasional organisasi terus
berubah, perubahan tersebut meliputi:
a). Adanya regulasi yang baru pada bidang perpajakan, ketenaga-kerjaan, ekspor-
import,
b). Masuknya kompetitor baru ke industri dimana perusahaan berada,
c). Kompetitor mengenalkan produk baru, dan
d). Penggunaan teknologi baru.
Dalam kerangka pengendalian internal, manajemen harus melakukan penilaian
risiko yang dihadapi organisasinya, sehingga dapat menerapkan bentuk/ prosedur
pengendalian yang tepat. Auditor internal berkepentingan untuk menilai
pengendalian yang ada pada aktivitas/ operasional organisasi, sehingga bila resiko
teridentifikasi, maka auditor dapat menentukan prosedur pengendalian yang
seharusnya ada untuk memastikan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai, dan
bila resiko tersebut tidak tertangani dengan baik, maka auditor dapat menentukan
rekomendasi yang tepat bagi manajemen untuk memperbaiki pengendalian/
operasionalnya.
Lebih spesifik, dalam konteks audit keuangan, penilaian risiko berguna untuk
menentukan resiko audit. Resiko audit diartikan sebagai tingkat ketidakpastian
tertentu yang dapat diterima auditor dalam pelaksanaan auditnya, seperti
ketidakpastian validitas dan reliabilitas bukti audit dan ketidakpastian mengenai
efektivitas pengendalian internal. Umumnya resiko tersebut sulit diukur, sehingga
perlu ketelitian dan kehati-hatian. Resiko audit terdiri atas resiko inheren/ bawaan,
resiko pengendalian, dan pendeteksian.
2. Resiko Inheren
Resiko inheren berkenaan dengan kemungkinan adanya kekeliruan dalam segmen
audit yang melampaui batas toleransi sebelum memper-hitungkan faktor
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
104
efektivitas pengendalian internal. Resiko inheren adalah faktor kerentanan laporan
keuangan terhadap kekeliruan yang material dengan asumsi tidak adanya
pengendalian internal. Oleh karena itu bila risiko inheren tinggi, maka auditor
harus mengumpulkan bukti audit yang lebih banyak. Faktor-faktor yang perlu
ditelaah auditor dalam menetapkan risiko inheren adalah sifat bidang usaha
organisasi, integritas manajemen, motivasi manajemen, hasil audit sebelumnya,
hubungan istimewa, transaksi non rutin, dan kerentanan terhadap fraud.
3. Resiko Pengendalian
Risiko pengendalian berkenaan dengan kemungkinan adanya kekeliruan dalam
segmen audit yang melampaui batas toleransi yang tidak terdeteksi atau tidak
dapat dicegah oleh pengendalian internal. Resiko pengendalian dipengaruhi oleh
faktor efektivitas pengendalian internal, dan keandalan penetapan risiko yang
direncanakan (penetapan di bawah 100%), oleh karena itu bila resiko
pengendalian ditetapkan tinggi, maka auditor harus mengumpulkan bukti audit
yang lebih banyak.
4. Resiko Pendeteksian
Resiko pendeteksian berkenaan dengan kemungkinan terjadinya kekeliruan dalam
segmen audit yang melampaui batas toleransi yang tidak terdeteksi karena
pengujian menggunakan uji petik, prosedur audit yang tidak tepat/ salah aplikasi,
kekeliruan interpretasi atas hasil implementasi prosedur audit. Guna
meminimalkan risiko pendeteksian, auditor harus mengembangkan perencanaan
audit secara tepat, dan melakukan supervisi atas pelaksanaan audit.
Konsep audit berbasis risiko menempatkan kegiatan observasi dan analisis
terhadap pengendalian sebagai starting point, kemudian mengembangkan
auditnya pada bidang/ area yang memerlukan pengujian dan evaluasi lebih lanjut.
Bila pengendalian internal lemah (artinya risiko pengendalian tinggi), maka
auditor cenderung untuk memperluas ruang lingkup auditnya, sehingga dia
memperoleh kayakinan bahwa tanggungjawab auditnya dapat dilaksanakan sesuai
dengan standar profesional yang berlaku.
5. Perencanaan Audit
a). Fungsi Perencana Audit
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
105
Sebelum melaksanakan pekerjaan audit, terlebih dahulu auditor internal harus
menyusun rencana audit secara sistematis. Rencana audit tersebut berfungsi
sebagai:
1). Pedoman pelaksanaan audit,
2). Dasar untuk menyusun anggaran,
3). Alat untuk memperoleh partisipasi manajemen,
4). Alat untuk menetapkan standar,
5). Alat pengendalian, dan
6).Bahan pertimbangan bagi akuntan publik yang diberi penugasan oleh
perusahaan.
b). Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan
Hal yang harus dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan audit adalah:
1). Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industri
dimana satuan usaha tsb beroperasi didalamnya,
2). Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut,
3). Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut dalam mengolah informasi
akuntansi,
4). Penetapan tingkta resiko pengendalian yang direncanakan,
5). Pertimbangan awal tentang materialitas untuk tujuan audit,
6). Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian.
7). kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian
audit, dan
8). Sifat audit yang dilaporkan akan diserahkan kepada pemberi tugas.
6. Isi Perencanaan Audit
Isi audit plan (perencanaan audit) meliputi tiga hal pokok yang terdidi dari:
a). Hal-hal mengenai client,
b). Hal-hal yang mempengaruhi client, dan
c). Rencana kerja Auditor.
7. Metode Dalam Perencanaan Audit
Secara umum, rencana audit disusun setelah auditee ditetapkan. Yang dimaksud
dengan auditee adalah entitas organisasi, atau bagian/ unit organisasi, atau operasi
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
106
dan program termasuk proses, aktivitas dan kondisi tertentu yang diaudit.
Penyeleksian auditee dapat dilakukan dengan 3 (tiga) metode, yaitu:
a). Systematic selection
Bagian audit internal menyusun suatu jadwal audit tahunan yang berkenaan
dengan audit yang diperkirakan akan dilaksanakan. Secara tipikal jadwal tersebut
dikembangkan dengan mempertimbangkan risiko. Auditee potensial yang
menunjukkan tingkat risiko yang tinggi mendapat prioritas untuk dipilih.
b). Ad Hoc Audits
Metode ini digunakan dengan mempertimbangkan bahwa operasi tidak selalu
berjalan tepat seperti yang direncanakan. Manajemen dan dewan komisaris sering
menugaskan auditor internal untuk mengaudit bidang/ area fungsional tertentu
yang dipandang bermasalah. Dengan demikian manajemen dan dewan komisaris
memilih auditee bagi auditor internal.
c). Auditee Requests
Beberapa manajer merasa bahwa mereka memerlukan input dari auditor internal
untuk mengevaluasi kelayakan dan keefektifan pengendalian internal serta
pengaruhnya terhadap operasi yang berada di bawah supervisinya. Oleh karena
itu, mereka mengajukan permintaan untuk diaudit. Tetapi dalam hal ini auditor
internal tetap harus mempertimbangkan risiko dan prioritasnya.
8. Kegiatan Dalam Perencanaan Audit
Rencana audit harus disusun dan didokumentasikan dengan baik dan meliputi
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a). Penetapan tujuan dan ruang lingkup audit
Secara umum tujuan fungsi audit internal adalah untuk membantu manajemen
dalam mencapai akuntabilitasnya dan memberikan solusi alternatif utnuk
memperbaiki pengendalian manajemen. Secara individual, tujuan audit internal
dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 (tiga) kategori aktivitas audit.
b). Review atas file audit
Review ini dilakukan dengan cara mempelajari kembali laporan-laporan dan
informasi dari file audit yang telah dilakaukan sebelumnya. Review ini
bermanfaat untuk mengenal sifat operasi sebagai bahan untuk melaksanakan
survai pendahuluan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
107
c). Menyeleksi tim audit
Kegiatan ini dilakukan dengan mepertimbangkan beban tanggung-jawab yang
akan dipikul oleh masing-masing staf auditor, dan keahlian yang diperlukan untuk
mengaudit bidang-bidang tertentu.
d). Komunikasi pendahuluan dengan auditee dan pihak lain yang
berkepentingan
Kegiatan ini dilakukan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkenaan dengan
pekerjaan yang akan dilakukan. Mengakomodasikan akses terhadap fasilitas,
catatan dan personal, serta untuk memperoleh informasi dari auditee atau pihak
lain yang terkait.
e). Mempersiapkan program audit pendahuluan
Program audit pendahuluan ini memuat informasi seperti sasaran dan tujuan, serta
ruang lingkup audit, pertanyaan-pertanyaan khusus yang harus terjawab selama
audit dilaksanakan, prosedur audit yang akan digunakan, dan bukti-bukti yang
akan diuji.
f). Merencanakan laporan audit
Laporan audit merupakan media untuk mengkomunikasikan hasil audit kepada
pihak-pihak yang berkepentingan dlam organisasi. Konsekuensinya, auditor harus
mulai berfikir mengenai bagaimana laporan akan disusun, kapan akan diberikan/
dikirimkan, dan siapa yang akan menerima laporan tersebut. Tujuannya adalah
untuk mengantisipasi detail (rincian) yang akan disajikan dalam laporan dan untuk
mengembangkan beberapa parameter dasar.
g). Persetujuan atas program audit dari kepala bagian audit internal
Hal ini dilakukan untuk membantu memastikan bahwa prosedur kerja mendukung
tujuan, sasaran, dan ruang lingkup audit.
9. Program Audit
a). Pengertian Program Audit
Program audit adalah rangkaian yang sistematis dari prosedur-prosedur audit
untuk mencapai tujuan audit. Dengan demikian program audit merupakan rencana
langkah kerja yang harus dilaksanakan berdasarkan sasaran dan tujuan yang telah
ditetapkan. Pada dasarnya program audit merupakan rencana tertulis untuk
mengarahkan audit, dan oleh karena itu merupakan salah satu alat pengendalian
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
108
audit. Secara singkat program audit digunakan untuk menjawab: what is to be
done, when it is to be done, how it is to be done, who will do it, dan how long it
will take
b). Pendekatan Dalam Program Audit
Penyusunan program audit harus disesuaikan dengan kondisi organisasi/ bidang/
area fungsional yang akan diaudit. Pendekatan yang dapat digunakan dalam
mengembangkan program audit adalah:
1). Menyusun program audit selama tahap persiapan audit,
2). Menyusun program audit setelah melaksanakan survai pendahuluan, dan
3). Menggunakan program audit standar untuk operasi yang spesifik.
c). Jenis Program Audit
Berdasarkan kepada sifat operasi yang akan diaudit, program audit dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu :
d). Program audit individual (tailored/ individual audit program)
Program audit individual yaitu program audit yang disusun tersendiri untuk
masing-masing audit, dan tidak menggunakan bentuk standar, serta disusun
setelah melaksanakan survai pendahuluan.
e). Program audit proforma
Program audit proforma yaitu program audit yang dikembangkan untuk berbagai
tujuan dan disiapkan guna mengumpulkan informasi yang sama dari beberapa
periode untuk melihat kecenderungan/trend dan perubahan-perubahannya.
Program audit proforma disiapkan sebelum survai pendahuluan dilaksanakan, dan
dapat direvisi bila hasil survai pendahuluan menunjukkan adanya perubahan-
perubahan dari kegiatan-kegiatan yang diaudit.
f). Informasi Dalam Program Audit
Program audit disiapkan oleh Ketua Tim Audit Internal dan disetujui oleh Kepala
Bagian Audit Internal. Program audit yang baik harus memuat informasi
mengenai:
1). Tujuan audit
Tujuan audit yang dimaksud dalam program audit adalah tujuan yang bersifat
khusus bukan tujuan umum seperti yang terdapat pada batasan dan ruang lingkup
audit internal. Tujuan audit yang bersifat khusus tersebut dikaitkan dengan tujuan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
109
operasi yang akan diauditnya, dimana tujuan audit ditetapkan untuk menentukan
apakah sistem operasi yang dirancang dan diimplementasikan dapat mencapai
tujuannya atau tidak.
2). Daftar Pengendalian yang ada atau yang diperlukan
Daftar pengendalian yang ada/diperlukan/semestinya ada pada operasi yang
diaudit digunakan sebagai kriteria untuk menguji/ mengevaluasi bidang/ area yang
diaudit. Dalam hal ini prosedur audit dikembangkan berdasarkan kriteria tersebut.
3). Prosedur audit.
Prosedur audit merupakan suatu teknik yang digunakan auditor untuk
memperoleh bukti audit yang akan digunakan untuk menentukan apakah tujuan
operasi yang diaudit dapat tercapai atau tidak.
4). Staf pelaksana.
5). Komentar atas hasil pengujian.
6). Efektifitas Program Audit
Agar efektif, program audit harus terfokus kepada apa yang esensial (terpenting)
dari suatu operasi yang diaudit guna mencapai tujuannya, dan bukan terfokus
kepada apa yang menarik dari suatu operasi yang diaudit. Sebagai contoh: Pada
aktivitas pembelian bahan baku, salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah
memperoleh barang dengan harga yang benar, oleh karena itu yang terpenting dari
aktivitas pembelian untuk mencapai tujuan tersebut adalah apakah ada mekanisme
penawaran yang terbuka dan kompetitif atau tidak?, dan bila ada apakah
mekanisme tersebut dilaksanakan?. itulah yang harus menjadi fokus dalam
program audit, dan bukan kondisi yang mungkin menarik misalnya bahwa salah
satu dari supliernya memiliki hubungan keluarga dengan manajer logistik.
g).Aktifitas yang Harus Ada Dalam Penyusunan Program Audit
Beberapa aktifitas/ kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka penyusunan
program audit antara lain:
1). Review atas laporan audit, program audit, dan kertas kerja audit periode
sebelumnya, serta dokumen lain dari audit sebelumnya termasuk hal-hal yang
masih memerlukan tindak lanjut audit. Hal tersebut bermanfaat sebagai dasar
untuk menentukan ruang lingkup audit yang akan dilaksanakan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
110
2). Melaksanakan survey pendahuluan untuk mengetahui tujuan dan pelaksanaan
dari operasi/ kegiatan, tingkat risiko (aktual dan atau potensi), serta
pengendaliannya.
3). Review atas kebijakan dan prosedur dari fungsi yang diaudit guna menentukan
area/ bidang yang memungkinkan dapat diukur dan dinilai, dan menentukan
apakah fungsi tersebut berjalan/ beroperasi sesuai dengan yang diharapkan oleh
manajemen.
4). Review atas literatur audit internal yang berkenaan dengan area yang diaudit.
Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi terbaru mengenai teknik
pengujian yang dapat diterapkan pada aktivitas yang diaudit.
5). Menyusun bagan arus dari operasi/ aktivitas yang diaudit untuk
mengidentifikasi kelemahan sistem, dan untuk melakukan analisis visual atas
proses transaksi.
6). Review atas standar kinerja (internal atau eksternal/ industri bila ada) untuk
memperoleh tolok ukur guna menguji dan mengevaluasi efisiensi dan efektivitas
operasi yang diaudit dan menentukan apakah operasi yang dimaksud mengacu
kepada standar yang telah ditetapkan.
7). Melakukan interview dengan auditee dan menyampaikan tujuan dan ruang
lingkup audit untuk memperoleh kesepahaman (menghindari kesalahpahaman)
dengan auditee.
8). Menyusun anggaran yang merinci sumber daya yang diperlukan, guna
menggambarkan estimasi mengenai jumlah staf dan waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan audit.
9). Melakukan interview dengan pihak-pihak tertentu yang berhubungan dengan
fungsi yang diaudit untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai
operasi dan mengidentifikasi masalah yang mungkin ada, serta untuk menjalin
koordinasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan fungsi yang diaudit.
10). Membuat daftar mengenai risiko yang material yang harus dipertimbangkan
untuk memastikan bahwa bidang/ area yang paling rentan terhadap ancaman
(terjadinya kesalahan/penyimpangan) mendapat perhatian yang tepat/ khusus.
11). Untuk setiap resiko yang teridentifikasi, ditetapkan pengendaliannya dan
dipastikan apakah pengendalian yang dimaksud memadai. Hal tersebut dilakukan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
111
untuk mengetahui apakah pengendalian yang ada dapat mengurangi/ menekan
risiko yang teridentifikasi tersebut atau tidak.
12). Menentukan substansi dari masalah untuk mengidentifikasi tingkat kesulitan
dalam pelaksanaan audit.
h). Kriteria Program Audit
Program audit perlu memperhatikan kriteria tertentu agar tujuan audit yang
ditetapkan dapat tercapai. Kriteria yang dimaksud antara lain:
1). Tujuan dari suatu operasi yang diaudit harus dinyatakan secara hati-hati dan
disetujui oleh auditee, sehingga tujuan audit atas operasi yang dimaksud dapat
ditetapkan dengan tepat.
2). Program audit harus disesuaikan dengan penugasan auditnya, dan tidak
bersifat memaksakan/ mendikte.
3). Setiap langkah kerja yang diprogram harus memperlihatkan alasan yang kuat,
yaitu berdasarkan tujuan operasi yang diaudit dan pengendalian yang diuji.
4). Langkah kerja diungkapkan dalam bentuk instruksi bukan dalam bentuk
pertanyaan “ya” atau “tidak” atau dangkal serta bias.
5). Program audit harus mengindikasikan skala prioritas dari langkah kerja (upaya
untuk memperoleh bukti audit utama harus didahulukan).
7). Program Audit harus fleksibel.
8). Program audit harus fisibel untuk dilaksanakan, baik dari aspek anggaran, staf
pelaksana, maupun (rentang) waktunya.
9). Program audit hanya memuat informasi yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan audit (ringkas, jelas, dan fokus).
10). Program audit harus memuat bukti persetujuan Pimpinan Bagian Auidt
Internal sebelum dilaksanakan, termasuk perubahannya.
C.LATIHAN SOAL/TUGAS
Tolong Saudara buat perencanaan audit pajak?
D.DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
112
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
a. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E.GLOSARIUM
1. Audit: suatu proses sistematis yang secara objektif memperoleh serta
mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang aktivitas ekonomi untuk lebih
meyakinkan tingkat keterkaitan hubungan antara asersi atau pernyataan
dengan kenyataan kriteria yang sudah ditetapkan dan menyampaikann
hasilnya kepada pihak yang memiliki.
2. Audit Pajak: serangkaian kegiatan mencari, mengumpulkan,mengolah data
dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dan tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undang perpajakan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
113
PERTEMUAN 14: PERENCANAAN PAJAK INTERNASIONAL
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan rencana pengurangan pajak asing, insentif pajak lokal,
pembiayaan hutang, prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam perpajakan
internasional, masalah-masalah dalam pajak internasional, cakupan tax treaty,
alasan terjadinya perpajakan berganda internasional, perusahaan manufaktur
domestik pertimbangan awal,persyaratan untuk menjadi perwakilan luar negeri,
dan formasi anak perusahaan penjualan luar negeri.
Rencana Pengurangan Pajak Asing
Insentif Pajak Lokal
Pembiayaan Hutang
Prinsip-Prinsip Yang Harus Dipahami Dalam
Perpajakan Internnasional
Masalah-Masalah Dalam Pajak Internasional
Cakupan Tax Treaty
Alasan Terjadinya Perpajakan Berganda
Internasional
Perusahaan Manufaktur Domestik
Pertimbangan Awal
Persyaratan Untuk Menjadi Perwakilan
Luar Negeri
Formasi Anak Perusahaan Penjualan Luar
Negeri
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
114
4. URAIAN MATERI
Isu bisnis internasional saat ini telah memegang peranan penting. Dengan
demikian perencanaan pajak secara internasional juga menjadi semakin penting.
Transakasi internasional – termasuk di dalamnya transaksi pajak internasional –
akan menjadi bagian bisnis yang tidak efisien apabila tidak direncanakan dengan
baik. Di satu sisi perencanaan pajak internasional memiliki cakupan yang lebih
luas dari pada perencanaan pajak domestik. Di sisi lain, karena sangat terlibat
dengan undang-undang dan peraturan dari dua negara atau lebih, maka
perencanaan pajak internasional menjadi salah satu area yang kompleks.
Sasaran utama dari perusahaan domestik dalam kaitannya dengan pajak adalah
mengurangi pajak nasional/domestik dan pajak asing atas pendapatan yang berasal
dari luar negeri. Pajak asing akan meningkatkan biaya pajak perusahaan domestik
secara total dan pajak tersebut tidak seluruhnya dapat dikreditkan dari pajak
domestik.Pembayar pajak dapat meningkatkan efisiensi biaya pajak asing ini
melalui rencana pengurangan pajak asing atau melalui rencana peningkatan porsi
pajak asing yang dapat dikreditkan.
Perpajakan Internasional merupakan alat untuk mengetahui perbedaan pajak
dalam negeri dan memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi
di masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang
menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Ada beberapa prinsip-prinsip
yang harus dipahami dalam Perpajakan Internasional menurut Doernberg (1989)
menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan perpajakan
internasional yaitu Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik), Capital
Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional) dan National Neutrality.
b. Rencana Pengurangan Pajak Asing
Ada banyak teknik pengurangan pajak asing yang dapat dipakai oleh pembayar
pajak. Secara umum teknik-teknik ini sama dengan yang digunakan untuk
pengurangan pajak domestik. Beberapa di antaranya termasuk merealisir
pendapatan dalam bentuk yang memungkinkan pengenaan tarif pajak rendah,
penundaan pengakuan pendapatan kotor, dan mempercepat pengakuan biaya.
Teknik lain dapat bersifat unik seperti memanfaatkan keuntungan dari insenif
pajak lokal, pembiayaan hutang, transfer pricing, dan pemanfaatan tax treaty.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
115
c. Insentif Pajak Lokal
Salah satu metode pengurangan beban pajak asing adalah dengan memanfaatkan
pengecualian pajak dan tax holiday dari berbagai negara. Sebagai contoh, Irlandia
memberikan pengurangan tarif dalam memajakai keuntungan perusahaan
manufaktur yang didirikan di sana, Singapura menawarkan tax holiday bagi
perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang teknologi maju, Puerto Rico
memberikan pengecualian pajak untuk perusahaan tertentu yang mendirikan
pabrik di sana, Belgia menawarkan potongan pajak bagi pusat distribusi yang
didirikan di sana, dan Swiss menawarkan tarif pajak rendah untuk kantor pusat
perusahaan yang didirikan di sana.
d. Pembiayaan Hutang
Pembiayaan cabang perusahaan yang pendapatannya menjadi obyek pajak bertarif
tinggi dapat usahakan agar mendorong terciptanya pengurangan biaya bunga dan
pembayaran dividen semaksimal mungkin.
e. Prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam perpajakan internasional
Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam
kebijakan perpajakan internasional:
a). Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik): Kemanapun kita
berinvestasi, beban pajak yang dibayar haruslah sama. Sehingga tidak ada
bedanya bila kita berinvestasi di dalam atau luar negeri. Maka jangan sampai bila
berinvestasi di luar negeri, beban pajaknya lebih besar karena menanggung pajak
dari dua negara. Hal ini akan melandasi UU PPh Psl 24 yang mengatur kredit
pajak luar negeri.
b). Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional): Darimanapun
investasi berasal, dikenakan pajak yang sama. Sehingga baik investor dari dalam
negeri atau luar negeri akan dikenakan tarif pajak yang sama bila berinvestasi di
suatu negara. Hal ini melandasi hak pemajakan yang sama denagn Wajib Pajak
Dalam Negeri (WPDN) terhadap permanent establishment (PE) atau Badan Uasah
Tetap (BUT) yang dapat berupa cabang perusahaan ataupun kegiatan jasa yang
melewati time-test dari peraturan yang berlaku.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
116
c). National Neutrality: Setiap negara, mempunyai bagian pajak atas penghasilan
yang sama. Sehingga bila ada pajak luar negeri yang tidak bisa dikreditkan boleh
dikurangkan sebagai biaya pengurang laba.
5.Masalah-masalah dalam perpajakan internasional
a). Transfer Pricing: Kegiatan ini adalah mentransfer laba dari dalam negeri ke
perusahaan dengan hubungan istimewa di negara lain yang tarif pajaknya lebih
rendah. Hal ini dapat dilakukan dengan membayar harga penjualan yang lebih
rendah dari harga pasar, membiayakan biaya-biaya lebih besar daripada harga
yang wajar, thin capitalization (memperbesar utang dengan beban bunga untuk
mengurangi laba). Misalnya: tarif pajak di Indonesia 28%, di Singapura 25%. PT
A punya anak perusahaan B Ltd di Singapura, maka laba di PT A dapat digeser ke
B Ltd yang tarifnya lbh kecil dengan cara B LTd meminjamkan uang dengan
bunga yang besar, sehingga laba PT A berkurang, memang pendapatan B Ltd
bertambah namun tarif pajaknya lebih kecil. Hal bisa juga dilakukan dengan PT A
menjual rugi (mark down) barang dan jasa (harga jual di bawah ongkos
produksinya) ke B Ltd. Di Indonesia, transfer pricing dicegah dalam UU PPh
pasal 18 dimana pihak fiskus berhak mengkoreksi harga transaksi, penghitungan
utang sebagai modal dan DER (Debt Equity Ratio).
b). Treaty Shopping: Fasilitas di tax treaty justru bukannya menghindarkan pajak
berganda namun malah memberi kesempatan bagi subjek pajak untuk tidak
dikenakan pajak dimana-mana. Misalnya: Investasi SBI di bursa singapura
dibebaskan pajak. Treaty Shopping diredam dengan ketentuan beneficial owner
(penerima manfaat) dalam tax treaty (P3B) baik yang memakai model OECD
maupun PBB sehingga tax treaty hanya berlaku bila penerima manfaat yang
sebenarnya adalah residen di negara yang menandatangani tax treaty. Tax treaty
adalah perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka
meminimalisir pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran pajak.
Perjanjian ini digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek
perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka. Penentuan aspek
perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam
tax treaty yang bersangkutan sesuai jenis transaksi yang sedang dihadapi.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
117
Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama,
sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat
dalam suatu tax treaty menyusun treaty-nya masing-masing berdasarkan model-
model perjanjian yang diakui secara internasional. Di dunia ini, ada dua model
treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model
OECD dan model PBB.
Memahami treaty yang berlaku antara suatu negara dengan negara lainnya, bisa
dimulai dengan memahami prinsip-prinsip dasar tersebut. Dalam kenyataannya,
memahami suatu tax treaty tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Bahasa yang digunakan, jumlah klausul yang cukup banyak, pemahaman
seseorang tentang dasar-dasar perpajakan dan berbagai sebab lainnya merupakan
hal yang dapat mempengaruhi kesulitan tersebut. Dengan memahami prinsip-
prinsip dasar dan prinsip umum yang berlaku dalam suatu treaty, seseorang akan
menjadi lebih mudah memahami suatu treaty yang secara spesifik berlaku untuk
negara tertentu.
Sebagai suatu perjanjian, sebuah treaty adalah kontrak yang mengikat suatu
negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Oleh sebab itu, di
dalamnya selalu berisi klausul-klausul, pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan
dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu tertentu. Pasal-pasal atau ayat-
ayat (article atau artikel) yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya
dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang
mengungkapkan cakupan tax treaty, bagian yang mengatur minimalisasi
pengenaan pajak berganda, bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan
bagian yang mencakup hal-hal lainnya.
Semua bagian itu cenderung lebih mudah dipahami dari pada berbagai definisi,
istilah dan pengertian yang sering disebutkan dalam suatu tax treaty. Berbagai
definisi, istilah dan pengertian inilah yang menjadi lebih penting untuk dipahami
setiap pihak khususnya berkaitan dengan kepentingan dalam praktek bisnis sehari-
hari.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
118
6.Cakupan Tax Treaty
a). Personal Scope
Pasal dan ayat ini mengatur tentang kepada siapa sajakah ketentuan dalam treaty
yang bersangkutan bisa diterapkan. Di sini diatur ketentuan tentang siapa saja
yang merupakan orang pribadi, badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan
treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat
perjanjian termasuk di dalamnya orang pribadi, badan atau entitas lainnya yang
dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double
residence).
Biasanya, di sini tidak diartikan lebih lanjut definisi mengenai penduduk maupun
perihal kependudukan ganda. Kedua hal tersebut diatur dalam klausul lain yaitu
dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. Oleh karena itu,
pengertian personal scope berkaitan erat dengan pengertian-pengertian dalam dua
klausul tersebut.
b).Taxes Covered
Di sini diatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan
dalam tax treaty yang bersangkutan. Jenis pajak yang diatur di sini akan mengikuti
ketentuan sesuai tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di
masing-masing negara. Dalam beberapa hal, ketentuan suatu tax treaty memiliki
kekuatan yang berada di atas sistem perundang-undangan yang berlaku secara
internal di dalam suatu negara.
Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti
Pajak Penghasilan (PPh). Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan
Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax
treaty. Dalam ketentuan umumnya (general definitions), diatur tentang definisi
istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan),
national (negara atau kearganegaraan), international traffic (lalu lintas
internasional), enterprise (badan usaha) dan lain-lain.
c). Residence
Di sini diatur tentang dua hal yaitu definisi penduduk (berkaitan dengan personal
scope) serta tie breaker rule yaitu ketentuan yang menentukan tidak berlakunya
status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Definisi penduduk
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
119
sebagaimana diatur dalam paragraf pertama klausul ini adalah setiap orang pribadi
atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan,
domisili, tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain yang mempunyai
karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. Dengan kata
lain, penduduk adalah Subjek Pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku di negara
tersebut.
Klausul ini juga menegaskan bahwa orang pribadi atau badan tidak dapat
langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan
penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Dalam prakteknya, orang
pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan
azas world wide income yang dianut. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara
pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-
masing.
Diperlakukan sebagai penduduk dari dua negara sekaligus – dalam konteks
pemajakan berganda – sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Pasalnya,
orang pribadi atau perseroan yang bersangkutan dapat dikenai pajak sesuai
ketentuan pajak yang masing-masing berlaku di kedua negara tersebut. Jika kedua
negara sama-sama menganut prinsip world wide income, dapat dibayangkan
betapa berat beban pajak yang harus ditanggung oleh pihak yang bersangkutan.
Apabila kondisi seperti ini tetap dibiarkan, tentunya akan membawa dampak
negatif terhadap kelancaran investasi salah satu negara karena pihak tersebut
cenderung tidak berinvestasi guna menghindari beban pajak yang terlalu besar.
Menyadari efek-efek negatif tersebut, artikel residence selanjutnya mengatur
langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda
yang sering disebut dengan tie breaker rule.
Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi
dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. Tie breaker rule untuk orang
pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap), center of
economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan sosial), habitual
abode (tempat kebiasaan untuk tinggal), national (kewarganegaraan) serta mutual
agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan).
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
120
Langkah-langkah tersebut di atas secra berurutan bersifat prioritas. Artinya,
apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda
telah bisa dipecahkan, maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan
lagi.
Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu
ketentuan yaitu tempat di mana manajemennya efektif berada.
d). Permanent Establishment
Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam
mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut.
Pada zaman sekarang, suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. Di
negara lain pun suatu pihak melakukan usaha. Apabila usaha di negara lain itu –
sebut saja negara X – ternyata berhasil, adalah hal yang logis jika otoritas pajak di
negara X ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima.
Namun berkaitan dengan keinginan tersebut, tentu harus ada batas-batas atau
aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan – yang sekaligus merupakan
investasi di negara X – tetap dapat berjalan dengan baik. Cerminan dari batas atau
aturan tersebut adalah ketentuan tentan permanent establishment atau bentuk
usaha tetap (BUT). Contoh-contoh dari BUT dapat dikategorikan menjadi empat
macam yaitu:
1). BUT Fasilitas Fisik
BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. BUT
timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung, kantor perwakilan, pabrik,
bengkel dan lain-lain;
2). BUT Aktivitas
Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas
waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Aktivitas tersebut bisa
berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi atau jasa-jasa
lainnya). Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda-beda antara satu tax
treaty dan tax treaty yang lain. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari
kedua negara;
3). BUT Asuransi
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
121
Timbulnya BUT asuransi ditandai dengan keadaan di mana suatu perusahaan
asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain;.
4). BUT Keagenan
BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki
wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di
negara lain. Di dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi di mana BUT
dianggap tidak muncul seperti dalam hal suatu tempat yang hanya berfungsi untuk
memajang barang-barang dagangan, tempat yang hanya digunakan untuk
pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya.
5). Entry Into Force
Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. Saat
berlakunya tax treaty sangat tergantung dari selesainya tahap-tahap
pembentukannya. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dari
penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan
ratifikasi di kedua negara. Setelah kedua negara selesai meratifikasi, selanjutnya
dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen
ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan.
6). Termination
Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Tax treaty
dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara.
Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan
pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu
sesuai dengan yang telah disepakati.
7). Tax Heaven Countries:
Negara-negara yang memberikan keringanan pajak secara agresif seperti tarif
pajak rendah, pengawasan pajak longgar telah membuat penerimaan pajak dari
negara-negara berkembang merosot tajam. Negara tax heaven yang termasuk
dalam KMK No.650/KMK04/1994 antara lain Argentina, Bahrain, Saudi Arabia,
Mauritius, Hongkong, Caymand Island, dll. Saat ini negara tax heaven sedang
dimusuhi dunia internasional, pengawasan tax avoidance (penghindaran pajak) di
negara-negara tersebut sedang gencar-gencarnya. Berinvestasi di negara tax
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
122
heaven beresiko besar terkena koreksi UU PPh Pasal 18. Lebih baik berinvestasi
pada negara dengan tax treaty.
7. Alasan terjadi perpajakan berganda internasional
Perpajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim perpajakan. Hal ini
karena adanya prinsip perpajakan global untuk wajib pajak dalam negeri (global
principle) dimana penghasilan dari dalam luar negeri dan dalam negeri dikenakan
pajak oleh negara residen (negara domisili wajib pajak). Selain itu, terdapat
pemajakan teritorial (source principle) bagi wajib pajak luar negeri (WPLN) oleh
negara sumber penghasilan dimana penghasilan yang bersumber dari negara
tersebut dikenakan pajak oleh negara sumber.
8.Perusahaan Manufaktur Domestik Pertimbangan Awal
Tuan s.Holmes memulai polycon Lens Company bertahun-tahun yang lalu untuk
memproduksilensa kritik sebagai bahan utama untuk memproduksi kaca
pembesar,seiring berkembangnya perusahaan dengan baik dan penasehat pajak
domestik Tuan S. Holmes membantuperusahaan mengurangi jumlah pajak
tahunan dengan bermacam-macam matode.
9.Persyaratan Untuk Menjadi Perwakilan Luar Negeri
Penjualan sesungguhnya akan akan di mpengaruhi penjualan perwakilan,
keuntungan dari adanya perwakilan perusahaan adalah sbb:
a). Menyediakan tempat yang tetap untuk memasarkan persediaan lensa dann
memberikan contoh penggunaannya untuk teleskop dengan model yang dikirim
dari negara A.
1). Memutar slide untuk menarik konsumen potensial.
2). Menghindari informasi lain yang mungkin memengaruhi penjualan.
Perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) berisi ketentuan yang dibentuk saat
perusahaan mendirikan cabang di suatu tempat dan memiliki bentuk usaha tetap
(BUT) dan saat peresmian kantor atau agen untuk tujuan yang digambarkan diatas
menimbulkan kewajiban pajak disana.
10.Formasi Anak Perusahaan Penjualan Luar Negeri
Polycon mencapaikesuksesan melalui penjualan ekspor setelah beberapa tahun
sehingga diambil kesimpulan bahwa perusahaan tidak akan dapat mencapai
potensi penuh tanpa memiliki perwakilan penjualan luar negeri. Polycon dapat
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
123
mencoba untuk melindungi pengurangan ganda atas kerugian awal yang
ditimbulkan dari operasi penjualan di Luna Technic Company seperti mengalami
kerugian. Tuan Holmes harus menyadari bahwa transper dari cabang ke anak
perusahaan mungkin akan melibatkan Polycon dalam kewajiban pajak.
11.Pendirian Pabrik Manufaktur Luar Negeri
Penjualan lensa optik berkualitas tinggi mendekati batas kapasitas produktif dan
meningkatnyabiaya peralatan berat yang terlibat dalam peningkatan kapasitas dan
pasar penjualan terbatas ,Tuan Holmes memutuskan lebih berkonsentrasi untuk
membangun kaca pembesar berkualitas rendah dan bervolume tinggi untuk pasar
konsumen massal. Dengan kas yang dihasilkan dari penjualan lensa optik
berkualitas tinggi, Tuan Holmes memutuskan untuk mendirikan pabrik
manufaktur luar negeri. Pertama, untuk meningkatkan kemampuan kelompok
dalam membeli bahan plastik khusus dengan harga lebih rendah dari pada pasar
dalam negeri. Kedua, untuk menghemat biaya transportasi bahan mentah . ketiga,
untuk mendapatkan biaya tenaga kerja produksi lebih rendah . keempat, untuk
mendapatkan keuntungan atas kelonggaran pajak yang memungkinkan.
12.Mendirikan Anak Perusahaan Penjualan
Ada beberapa faktor pertimbangan dalam menentukan lokasi yang tepat untuk
anak perusahaan;
a). Pertimbangan pajak
b). Kelonggaran pajak yang memungkinkan perusahaan untuk mengambil
keuntungan atas pelabuhan bebas sehingga beberapa kewajiban pajak atas
barang –barang yang di import untuk tujuan ekspor dapat dihindari.Walaupun
kebijakan penentuan harga antar perusahaan dibawah pengawasan yang
cermat, tambahan laba mungkin saja diperoleh dengan mengenakan bunga
atas kontrak penjualan yang terbayar dari anak perusahaan .
C.LATIHAN SOAL/TUGAS
Tolong Saudara buat contoh kasus perencanaan pajak internasional!
D.DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
124
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E.GLOSARIUM
1. Pajak: pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Rakyat yang membayar
pajak tidak akan merasakan manfaat dari pajak secara langsung, karena pajak
digunakan untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi.
2. Pajak Internasional: hukum pajak nasional yang terdiri atas kaedah, baik
berupa kaedah-kaedah nasioal maupun kaedah yang berasal dari traktat
antarnegara dan dari prinsip yang telah diterima baik oleh Negara-negara di
dunia, untuk mengatur soal-soal perpajakan dan dapat ditunjukkan adanya
unsur-unsur asing.
3. Badan Usaha Tetap (BUT): bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12
(dua belas) bulan.
4. Tax Treaty /P3B: perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam
rangka meminimalisir pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran
pajak. Perjanjian ini digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan
aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
125
PERTEMUAN 15: MENYIASATI TERJADINYA RESTITUSI PAJAK
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan tentang penyebab terjadinya lebih bayar, kelebihan pajak pada
PPN, Kelebihan PPN dapat diadakan, kelebihan PPN akibat ketentuan perpajakan,
tarif PPN pada ekspor 0%, dan pemungutan PPN oleh Bendaharawan Pemerintah.
Penyebab Terjadi Lebih
Bayar
Kelebihan Pajak Pada
PPN
Kelebihan PPN
Dapat Diadakan
Kelebihan PPN Akibat
Ketentuan Perpajakan
Tarif PPN Pada Ekspor
0%
Pemungutan PPN Oleh
Bendaharawan Pemerintah
B. URAIAN MATERI
Pada dasarnya Wajib Pajak yang benar tidak menginginkan terjadinya restitusi
pajak, kecuali restitusi tersebut memang tidak dapat dihindari. Wajib Pajak
menginginkan besar pajak yang telah dibayar sudah sesuai dengan yang
seharusnya terutang, tidak perlu lebih dan tidak perlu kurang. Kelebihan pajak
dapat terjadi pada semua jenis pajak, baik PPh, PPN, PPn BM, BPHTB maupun
PBB. Kelebihan pajak yang dialami oleh wajib pajak, baik dikarenakan kelebihan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
126
pembayaran atau kesalahan pemotongan maupun pemungutan, pada dasarnya
dapat diminta kembali (restitusi), terkecuali untuk jenis-jenis pajak tertentu yang
tidak dapat direstitusi, tetapi dikembalikan melalui kompensasi dengan pemindah-
bukuan dengan jenis pajak lainnya atau masa pajak lain.
Penyelesaian restitusi pajak dapat dilakukan melalui proses pemeriksaan pajak,
penelitian atau juga dapat melalui proses keberatan. Restitusi pajak yang
penyelesaianya melalui keberatan terjadi karena adanya kesalahan pemotongan
atau pemungutan dari pihak ketiga yang berkaitan dengan transaksi yang
dilakukan oleh wajib pajak. Sedangkan penyelesaian restusi lainnya dilakukan
melalui proses pemeriksaan atau penlitian. Kelebihan pembayaran atau
pemotongan serta pemungutan pajak sebenarnya tidak perlu terjadi dan juga tidak
dikehendaki wajib pajak. Namun ada ketentuan dalam perpajakan yang dapat
menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak.
1. Penyebab Terjadinya Lebih Bayar.
Berdasar penyebab terjadinya lebih bayar, pemotongan atau pemungutan pajak
dapat dibedakan sesuai jenis pajaknya, yaitu sebagai berikut:
a). Kelebihan pajak pada PPN.
b). Kelebihan pajak pada PPh.
c). Kelebihan pajak pada salah potong salah pungut
d). Kelebihan pajak pada hasil keberatan, banding atau peninjauan kembali.
e). Kelebihan pajak pada hasil pengurangan, penghapusan atau pembatalan sanksi
administrasi.
2. Kelebihan pajak pada PPN
Kelebihan PPN hanya dapat terjadi pada pengusaha kena pajak yang dalam
menghitung besarnya PPh harus dibayar setiap bulan dengan mempergunakan
mekanisme pengkreditan antara pajak keluaran dengan pajak masukan, bukan
yang mempergunakan cara norma. Kelebihan pembayaran atau pemungutan PPN
pada dasarnya terjadi karena besarnya pajak masukan yang dikreditkan terhadap
pajak keluaran lebih besar. Sedangkan bagi pengusaha kena pajak yang dalam
menghitung PPN harus dibayar setiap bulan mempergunakan norma, besarnya
pajak masukan tidak dapat diperlakukan sebagai kredit pajak, tetapi diperlakukan
sebagai biaya pada laporan keuangan, atau bahkan pajak masukan tersebut tidak
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
127
dapat dibayarkan dan tidak dapat dikreditkan. Pajak masukan yang
mengakibatkan lebih bayar dan dapat diminta kembali harus memenuhi syarat
sebagai berikut:
1). Perolehan pajak masukan berkaitan dengan kegiatan usaha atau produk yang
akan diekspor atau dijual.
2). Tidak dipelakukan sebagai biaya.
3). Tidak dikreditkan melebihi tiga bulan dari masa diperolehnya masukan.
3. Kelebihan PPN dapat dibedakan oleh sebab terjadinya menjadi seperti
berikut:
a). Kelebihan PPN akibat ketentuan perpajakan.
b). Kelebihan PPN akibat fluktuasi penjualan dan pembelian
c). Kelebihan PPN akibat penekanan Harga Pokok Penjualan (HPP)
d). Kelebihan PPN karena pengaturan pajak masukan
e). Kelebihan PPN karena pengaturan pajak keluaran.
4. Kelebihan PPN Akbat Ketentuan Perpajakan
Kelebihan PPN dapat terjadi karena adanya berbagai ketentuan perpajakan, antara
lain yang berkaitan dengan :
a). Tarif PPN pada eskpor 0%
b). Pemungutan PPN oleh Bendaharawan Pemerintah
c). PPN ditanggung pemerintah.
5. Tarif PPN pada Ekspor 0%
Adanya tarif PPN pada ekspor sebesar 0% akan menyebabkan terjadinya
kelebihan pembayaran PPN pada wajib pajak, karena pada saat membeli barang
kena pajak maupun jasa kena pajak yang berkaitan dengan kegiatan usaha atau
industri atas produk yang akan diekspor, wajib pajak telah dipungut PPN yang
merupakan pajak masukan. Berapapun besarnya perolehan pajak masukan yang
memenuhi persyaratan untuk dapat dikreditkan, semuanya akan mengakibatkan
PPN lebih bayar apabila seluruh produk yang berkaitan dengan pajak masukan
tersebut diekspor. Namun apabila sebagian dari produk tersebut tidak diekspor,
tetapi dijual di dalam negeri, maka tidak semua pajak masukan itu akan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
128
menyebabkan lebih bayar. Besarnya lebih bayar yang terjadi akan berkurang
sebesar pajak keluaran atas penjualan produk itu di dalam negeri.
Walaupun lebih bayar dapat dimnta kembali, namun berdasar perhitungan PKP
eksportir sebetulnya tidak menghendaki mekanisme restitusi ini. Akan lebih
mudah bagi PKP kalau berkaitan dengan ekspor diberikan fasilitas seperti
pengadaan BKP/JKP yang tidak dipungut PPN. Namun demikian ketentuan tidak
dipungut PPN itu hanya diperlakukan pada kegiatan tertentu seperti pada kawasan
berikat, EPTE, sehingga PKP eksportir yang lain mau tidak mau harus melalui
mekanisme permohonan restitusi untuk mendapatkan PPN yang telah dipungut
akibat kebijakan tarif PPN untuk ekspor sebesar 0%.
Lebih bayar PPN pada eksportir ini dimungkinkan akan terjadi setiap bulan,
karena pengadaan BKP/JKP berkaitan ekspor dengan kegiatan ekspor sendiri
berjalan setiap bulan, maka kemungkinan adanya restitusi pada perusahaan
eksportir juga dapat terjadi setiap bulan.
6.Pemungutan PPN oleh Bendaharawan Pemerintah
Wajib pajak yang akan melakukan transaksi dengan Bendaharawan Pemerintah
baik pusat maupun daerah, besarnya pajak keluaran yang seharusnya dibayar
setiap bulan adalah setelah diperhitungkan dengan pajak masukan. Tetapi oleh
Bendaharawan Pemerintah, pajak keluaran tersebut telah dipungut terlebih dahulu
sehingga apabila wajib pajak mempunyai pajak masukan, maka pajak masukan
yang dikreditkan tersebut akan menjadi lebih bayar.
Berapapun besar keseluruhan pajak masukan yang diperoleh yang memenuhi
persyaratan untuk dapat dikreditkan, hal itu akan mengakibatkan PPN lebih bayar,
apabila seluruh penjualan PKP tersebut kepada Bendaharawan Pemerintah.
Namun apabila sebagian dari produk tersebut tidak dijual kepada Bendaharan
Pemerintah, tetapi juga kepada selain bendaharawan pemerintah, maka tidak
seluruh pajak masukan tersebut akan menyebabkan lebih bayar. Besarnya lebih
bayar yang terjadi akan berkurang sebesar pajak keluaran atas penjualan kepada
selain Bendaharawan Pemerintah.
Walaupun lebih bayar tersebut dapat diminta kembali, namun berdasar
perhitungan PKP eksportir sebetulnya tidak menghendaki mekanisme restitusi ini.
Akan lebih mudah bagi PKP kalau berkaitan dengan penjualan kepada
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
129
Bendaharan Pemerintah tidak dipungut PPN. Namun demkian ketentuan tidak
dipungut PPN itu hanya diberlakukan pada penjualan kepada Bendaharawan
Pemerintah sampai dengan Rp. 1.000.000,-. Lebih bayar PPN pada rekanan
Bendaharawan Pemerintah ini dimungkinkan akan terjadi setiap bulan apabila
setiap bulan rekanan tersebut akan melakukan transaksi dengan Bendaharawan
Pemerintah. Namun dengan ketatnya transaksi kepada Bendaharawan Pemerintah
maka sangat dimungkinkan PKP dalam satu tahun hanya melakukan transaksi
beberapa kali kepada Bendaharawan Pemerintah.
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Bagaimana menurut Saudara cara menyiasati perencanaan pajak sesuai dengan
peraturan per Undang-undangan yang berlaku?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
E. GLOSARIUM
1. Pajak: pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Rakyat yang membayar
pajak tidak akan merasakan manfaat dari pajak secara langsung, karena pajak
digunakan untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi.
2. Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak: Pengembalian kelebihan
pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak atau jumlah
pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau telah
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
130
dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan
WP tidak punya hutang pajak lain.
3. Ekspor: penjualan barang ke luar negeri dengan menggunakan sistem
pembayaran, kualitas, kuantitas dan syarat penjualan lainnya yang telah
disetujui oleh pihak eksportir dan importir.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
131
PERTEMUAN 16: PERENCANAAN PAJAK
PAJAK BERGANDA INTERNASIONAL
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan pengertian pajak berganda, penyebab pajak berganda,
penghindaran pajak berganda internasional, dan implikasi penghindaran pajak
berganda.
B. URAIAN MATERI
Bagan 1. Materi Pajak Berganda Internasional
1. Pengertian Pajak Berganda
a). Pengertian Umum
Sehubungan dengan pengertian pajak berganda (double taxation), Knechtle dalam
bukunya yang berjudul “Basic Problems in International Fiscal Law” (1979)
memberikan pembahasan secara rinci. Knechtle membedakan pajak berganda
secara luas (wider sense) dengan secara sempit (narraower sense). Dalam
pengertian luas, pajak berganda meliputi setiap bentuk pembebanan pajak dan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
132
pungutan lainnya lebih dari satu kali, yang dapat berganda (double taxation) atau
lebih (multiple taxation) atas suatu fakta fiskal (subjek dan/atau objek pajak).
Dalam pengertian itu, tidak dipertimbangkan penyebab dari pembebanan ganda
atau beberapa kali tersebut apakah berasal dari kombinasi antara pajak dengan
pungutan lainnya (bea, cukai, retribusi, dan sebagainya) atau karena kombinasi
dari berbagai jenis pajak atau disebabkan oleh pembebanan pajak secara
bersamaan oleh administrasi pajak yang sama atau berbeda.
Di pihak lain, dalam sempit, pajak berganda dianggap dapat terjadi pada semua
kasus pemajakan beberapa kali terhadap suatu subjek dan/atau objek pajak dalam
suatu administrasi pajak yang sama. Pengertian tersebut mengesampingkan
pembebanan pajak oleh pemerintah daerah dan bagian administratifnya yang
diperoleh berdasarkan pelimpahan wewenang dari pemrintah pusat. Pajak
berganda tersebut dapat disebabkan oleh pemajakan oleh penguasa tunggal
(singular power) atau oleh berbagai (lapisan) administrasi (plural power).
Pemajakan ganda oleh administrator tunggal, misalnya dapat terjadi pemajakan
terhadap bangunan atas nilai jualnya (Pajak Bumi dan Bangunan) dan
penghasilannya (Pajak Penghasilan atas sewa atau keuntungan transfernya). Pajak
berganda tersebut sering disebut pajak berganda ekonomis (economic double
taxation). Pemajakan ganda oleh berbagai administrator dapat terjadi secara
vertikal (pemerintah pusat dan daerah), horizontal (antarpemerintah daerah), atau
diagonal (pemerintah kota atau kabupaten dengan provinsi A, atau provinsi B).
b). Beberapa Unsur Pajak Berganda Internasional
Apabila pajak berganda (double atau multiple taxation) dilakukan oleh beberapa
administrasi pajak (berdasarkan ketentuan pemajakan domestik dari tiap negara)
maka terdapat pajak berganda internasional (international double taxation). Baik
model konvensi OECD (1963, 1977, 1992, dan 2003) maupun UN memberikan
pengertian tentang pajak berganda internasional sebagai pengenaan beberapa
pajak yang sama atau suatu objek (hal) yang sama dan untuk masa yang identik.
Secara teoritis dan normatif, istilah Pajak Berganda Internasional (PBI) meliputi
beberapa unsur (1) pengenaan pajak oleh beberapa otoritas pemajakan atas
beberapa kriteria identitas, (2) identitas subjek pajak (Wajib Pajak yang sama), (3)
indentitas objek pajak (objek yang sama), (4) indentitas masa pajak, dan (5)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
133
identitas (atau kesamaan) pajak, dapat terjadi apabila beberapa negara
mengenakan pajak yang sama (sejenis atau setara) terhadap satu wajib pajak atas
objek pajak yang sama.
Bagan 2. Pajak Berganda Internasional
c). Beberapa Tipe Pajak Berganda Internasional
Knechtle, dalam buka Basic Problems Internasional Fiscal Law, menyebut
beberapa tipe PBI (1) faktual dan potensial, (2) yuridis dan ekonomis, dan (3)
langsung dan tidak langsung. Sebagaimana diketahui bahwa PBI timbul karena
adanya benturan (over lapping) klaim pemajakan oleh beberapa administrasi pajak
sesuai dengan yurisdiksi pemajakan yang mereka miliki. Apabila klaim
pemajakan tersebut benar-benar dilaksanakan oleh beberapa negara pemegang
yurisdiksi maka akan terjadi PBI faktual. PBI tersebut menyebabkan
membesarnya beban pajak yang ditanggung oleh seorang Wajib Pajak (apabila
dibandingka dengan beban yang harus ditanggung seandainya pemajakan hanya
dilaksanakan oleh satu negara saja). Namun apabila dari kedua (atau lebih) negara
pemegang klaim pajak, hanya satu negara saja yang melaksanakan klaim
pemajakan tersebut maka akan terjadi apa yang disebut PBI potensial. Berbeda
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
134
dengan PBI faktual, PBI ini tidak akan menimbulkan membesarnya beban pajak
karena pemajakan yang sebenarnya dilaksanakan oleh satu negara saja.
d). Dampak Pajak Berganda
Secara ekonomis pajak merupakan pengorbanan sumberdaya (kemampuan
ekonomis) yang harus ditanggung oleh pengusaha (dan masyarakat). Pajak
berganda sebagai akibat dari pemajakan oleh dua ketentuaan pemajakan (dari dua
negara) memberikan tambahan beban ekonomi terhadap pengusaha. Sementara,
perluasan usaha ke mancanegara sudah mengundang tambahan risiko dibanding
dengan usaha dalam negeri, pemajakan berganda telah ikut memperbesar risiko
tersebut. Kalau tidak ada upaya mencegah atau meringankan beban pajak
berganda tersebut, PBI dapat ikut memicu ekonomi global dengan biaya tinggi
dan menghambat mobilitas global sumberdaya ekonimis. Oleh karena itu, tampak
bahwa sudah merupakan kebutuhan internasional antarnegara untuk
mengupayakan agar kebijakan perpajakannya bersifat netral terhadap kompetisi
internasional. Netralitas tersebut dicapai dengan penyediaan keringanan atau
eliminasi atas PBI.
2. Penyebab Pajak Berganda
PBI muncul apabila terdapat benturan yurisdiksi pemajakan, baik yang melekat
pada pemerintah pusat (negara) maupun pemerintah daerah (provinsi, kota, dan
kabupaten). Dengan demikian, benturan yurisdiksi pemajakan dalam format
internasional (overlapping of tax jurisdiction in the international sphere)
menyebabkan PBI. Sementara orang akan mempertanyakan kenapa benturan
tersebut terjadi? Dalam hak pemajakan, kita menyadari bahwa setiap negara
berdaulat akan melaksanakan pemajakan terhadap subjek dan/atau objek yang
mempunyai pertalian fiskal (fiscal allegiance) dengan negara pemungut pajak dan
berada berada dalam wilayah kedaulatannya berdasarkan ketentuaan domestik.
Kalau seandainya dalam ketentuan domestik dari negara-negara pemungut pajak
tersebut terdapat pengecualian atau pembebasan dari pajak terhadap subjek atau
objek yang bertempat kedudukan atau berada dalam wilayah kedaulatannya
berdasarkan ketentuaan domestik. Kalau seandainya dalam ketentuan domestik
dari negara-negara pemungut pajak tersebut terdapat pengecualian atau
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
135
pembebasan dari pajak terhadap subjek atau objek yang bertempat kedudukan
atau berada di luar wilayah kedaulatannya maka tidak akan terjadi PIB karena
mungkin tidak terjadi benturan hak pemajakan dengan negara lain atau apabila
tarif pajak di negara tempat sumber penghasilan dikenakan pajak dan domisili
cukup rendah, beban pajak berganda yang dikenakan di negara sumber sebagai
pemegang hak pemajakan utama (primary taxing rights) dan yang dikenakan di
negara domisili sebagai pemegang hak pemajakan sekunder (secondary taxing
rights) secara wajar masih dalam jumlah yang terjangkau oleh pembayar pajak.
3. Penghindaran Pajak Berganda Internasional
Untuk menghindari pemajakan ganda atas penghasilan dari berbagai negara, perlu
diatur mengenai hak pemajakan di negara-negara tersebut berdasarkan azas
pengenaan pajak. Bila tidak diatur maka akan membebani dunia usaha, karena
harus menanggung beban pajak yang besar dan tidak seimbang dengan laba atau
penghasilan yang ia peroleh, bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka menjadi
rugi karena persentase pajak lebih besar persentase keuntungan akibat terjadi
double taxation. Metode hak pemajakan di berbagai negara, untuk penghindaran
pajak berganda internasional, antara lain:
a). Metode Pemajakan Unilateral
Metode ini mengatur bahwa Negara Republik Indonesia mempunyai kekuatan
hukum di dalamnya yang mengatur masyarakat atau badan internasional, dan
ditetapkan sepihak oleh Negara Indonesia sendiri, dengan kata lain tidak ada yang
bisa mengatur negara kita karena hal itu merupakan kewibawaan dan kedaulatan
negara kita. Penerapan metode ini adalah dengan diberlakukannya PPh Pasal 26
dalam UU Pajak Penghasilan (PPh). Apabila tidak ada perjanjian tax treaty atau
konvensi internasional, maka Negara Indonesia memiliki hak atau kewenangan
untuk menentapkan jumlah pajak terutang dalam Pasal 24 UU PPh.
b). Metode Pemajakan Bilateral
Metode ini dalam perhitungan pemajakannya harus mempertimbangkan perjanjian
ke dua negara (tax treaty). Indonesia tidak dapat sesuka hati menerapkan jumlah
pajak terutang penduduk asing atau badan internasional dua negara yang telah
mengadakan perjanjian. Justru peraturan perpajakan Indonesia tidak berlaku
bilaman terdapat tax treaty. Penerapan metode ini adalah pemajakan atas
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
136
penduduk Jepang yang memperoleh penghasilan di Negara Indonesia, negara kita
harus melihat ketentuan yang telah disepakati kedua negara apabila mau
melakukan pemajakan tersebut. Pengenaan pajak ganda diberlakukan dengan
mengurangi jumlah pajak yang terutang, misalnya untuk PPh Pasal 23 atas
deviden yang semula 15%, dapat dikurangkan menjadi 10%, karena deviden
tersebut tentu akan dikenakan pajak lagi di negara di mana mereka berkedudukan.
c). Metode Pemajakan Multilateral
Metode ini berdasarkan pada konvensi internasional yang ketentuan atau
ketetapan atau keputusan yang dihasilkan untuk kepentingan banyak negara yang
ditandatangani oleh berbagai negara, misalnya Konvensi Wina. Penerapan metode
ini adalah dengan diberlakukannya Pasal 3 UU PPh, dimana setiap kedutaan
asing, organisasi internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), dan penduduk asing yang bekerja di tempat tersebut, bukan subjek pajak
di Indonesia, artinya pemajakan tetap berada di negara mana mereka berdomisili.
Metode Perjanjian P3B
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Tolong Saudara buat perencanaan pajak berganda internasional?
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
137
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Gunadi.2007. Pajak Internasional (Edisi Revisi 2007.Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia)
2. Hutagaol, John.2000. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda Indonesia
Dengan Negara-Negara Di Kawasan Asia Pasifik, Amerika dan Afrika
Pemahaman Praktis. Jakarta: Salemba Empat.
3. Arnold, Brian J dan Michael J. McIntyre.2002. International Tax Primer
Second Edition. New York: Kluwer Law International.
E.GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan digunakan
untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Internasional : hokum pajak nasional yang terdiri atas kaedah, baik
berupa kaedah-kaedah nasional maupun kaedah yang berasal dari traktat
antarnegara dan dari prinsip yang telah diterima baik oleh Negara-negara di
dunia, untuk mengatur soal-soal perpajakan dan dapat ditunjukkan adanya
unsure-unsur asing, baik mengenai subjek maupun mengenai objeknya.
3. Pajak Berganda : bentuk pembebanan pajak dan pungutan lainnya lebih dari
satu kali, yang dapat berganda atau lebih atas suatu fakta fiskal.
4. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda : perjanjian internasional di
bidang perpajakan antar kedua negara guna menghindari pemajakan ganda agar
tidak menghambat perekonomian kedua Negara dengan prinsip saling
menguntungkan antar kedua Negara dan dilaksanakan oleh penduduk antar
kedua Negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
5. Hubungan Bilateral : suatu jenis hubungan yang melibatkan dua pihak.
6. Hubungan Multilateral : hubungan internasional dengan kerja sama antar
beberapa negara.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
138
PERTEMUAN 17: PERENCANAAN PAJAK
HUBUNGAN ISTIMEWA DAN TRANSFER PRICING
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan pengertian dan motivasi, kategori transfer antar perusahaan,
penentuan harga, hubungan istimewa, pedoman transfer pricing OECD,
penghitungan kembali penghasilan dan pengurangan serta utang sebagai modal
menurut ketentuan domestik, aspek perjanjian penghindaran pajak berganda,
aspek akuntansi, perspektif ke depan tranfer pricing.
Pengertian &
Motivasi
Kategori Transfer Antar
Perusahaan
Penentuan Harga
Hubungan Istimewa
Pedoman Transfer Pricing OECD
Aspek Perjanjian Penghindaran
Pajak
Berganda
Aspek Akuntansi, Perspektif
kedepan transfer princing
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
139
B. URAIAN MATERI
Beberapa perusahaan yang berada dalam suatu grup apakah karena
kepemilikan/penguasaan, baik yang berskala nasional, regional maupun global,
pada umunya bekerja berdasarkan suatu rencana strategis, taktis dan operasional
yang telah dikaji dan dipertimbangkan secara seksama. Kebijakan harga atau
imbalan yang diputuskan tentunya telah dipertimbangkan berdasarkan suatu
penalaran yang rasional dan akan menguntungkan grup perusahaan secara
keseluruhan. Kebijakan harga transfer pada umumnya diarahkan pada
maksimisasi efisiensi grup secara totalitas dan oleh karena itu menguntungkan
bisnis (investasi) global mereka. Karena pajak, secara ekonomis, merupakan
beban usaha yang mengurangi laba setelah pajak dan sekaligus daya beli
perusahaan secara keseluruhan, kebijakan transfer pricing akan mengarah pada
pertimbangan minimalisasi total beban pajak global perusahaan. Pendekatan
minimalisasi pajak adalah jumlah global yang merupakan gabungan antara
pengurangan basis pajak di beberapa negara dengan sedikit melibatkan pajak
(kalau perlu) di negara tax haven.
1. Hubungan Istimewa
Sehubungan dengan kewajaran harga atas transfer barang (baik berwujud maupun
tidak berwujud) atau imbalan atas transfer jasa, dalam ketentuan perpajakan
kebanyakan negara tertentu terdapat ketentuan yang mengatur kewenangan
administrasi pajak untuk meneliti kewajaran harga dan imbalan tersebut. Pada
sebagain negara, mungkin terdapat ketentuan yang memperkenankan administrasi
pajak untuk melakukan penghitungan kembali harga atau imbalan berdasarkan
fakta (faktual bahwa telah terjadi penyimpangan atau perbedaan harga dan
imbalan yang dibebankan oleh suatu perusahaan dari harga dan imbalan yang
dibebankan oleh suatu perusahaan dari harga yang secara wajar dapat diterima
pasar tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang saling bertransaksi. Sementara itu
di beberapa negara lain (termasuk Indonesia) untuk melakukan penghitungan
kembali kewajaran harga atau imbalan, harus diperhatikan terlebih dahulu pihak-
pihak yang bertransaksi (pendekatan kausalitas). Berdasarkan pendekatan
kausalitas tersebut, apabila pihak-pihak yang bertransaksi adalah pihak yang
independen tanpa terdapat suatu hubungan signifikan yang dapat mempengaruhi
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
140
kebijakan besarnya harga atau imbalan untuk menyimpang dari harga yang dapat
diterima di pasaran bebas, maka berapapun besarnya harga atau imbalan akan
diterima (oleh adminsitrasi pajak) dan dipertimbangkan sebagai harga pasar wajar.
Namun, apabila antara para pihak yang bertransaksi terdapat hubungan yang dapat
mempengaruhi atau menggangu kewajaran harga tersebut maka administrasi pajak
dapat menghitung kembali jumlah harga yang diperhitungkan atas transfer jasa
tersebut. Dalam ketentuan perpajakan Indonesia hubungan demikian disebut
hubungan istimewa.
2. Aspek Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
Setiap perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) yang ditutup oleh Indonesia
dengan negara mitra rundingnya, pada umumnya, senantiasa melindungi WPDN
masing-masing negara dari beban pajak berganda, pemajakan tanpa dasar hukum
yang kuat, kesewenangan pemajakan dan pemajakan ekstra teritorialitas suatu
administrasi pajak. Koreksi harga transfer atas barang dan imbalan atas jasa oleh
Indonesia secara potensial dapat menimbulkan pajak berganda internasional.
Bayangkan suatu barang oleh perusahaan negara A ditrasnfer kepada perusahaan
Indonesia dengan harga US$100.000 kemudian dikoreksi oleh Indonesia menjadi
US$ 80.000. Keuntungan dari selisih sebesar $20.000 tersebut tetap dikenakan
pajak oleh negara A, sedangkan Indonesia juga akan dikenakan pajak melalui
mekanisme non-tax deductible. Akibatnya ialah bahwa penghasilan dari selisih
tersebut terkena beban pajak ganda (negara A dan Indonesia). Karena hal tersebut
kurang selaras dengan tujuan P3B maka setiap perjanjian umumnya
mencantumkan ketentuan yang serupa dengan ketentuan dalam Pasal 9 (2) OECD
model.
Sehubungan dengan koreksi transfer pricing oleh Indonesia, ketentuan tersebut
meminta agar negara mitra runding melakukan penyesuaian (correponding
adjustment) atau melakukan prosedur kesepakatan bersama (mutual agrement
procedures) terhadap kasus transfer pricing. Apabila penyesuaian atau prosedur
kesepakatan tersebut berjalan lancar maka hampir dapat diminimalisasikan.
3. Aspek Akuntansi
Sehubungan dengan laporan keuangan dari para pihak yang mempunyai hubungan
istimewa, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 7 menyatakan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
141
keharusan pengungkapan (disclosure) atas posisi keuangan dan hasil usaha. Istilah
hubungan istimewa, dalam pengertian PSAK, dimaksudkan untuk
menggambarkan keadaan dua perusahaan yang salah satunya mempunyai
kemampuan untuk mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh
signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan keuangan dan operasional.
Dalam mengungkapkan akibat ekonomis hubungan istimewa terhadap posisi
keuangan dan hasil usaha perusahaan, PSAK. Juga memakai pendekatan yang
sama dengan ketentuan perpajakan, seperti harga pasar sebanding, resale price
dan cost plus. Namun, karena dalam akuntansi dikenal konsep konsolidasi dari
laporan keuangan untuk kepemilikan lebih dari 50% maka apabila beberapa
perusahaan dimaksud laporan keuangannya dikonsolidasikan tidak diperlukan
pengungkapan (disclosure) lagi. Sebaliknya, dalam sistem perpajakan Indonnesia
tidak dikenal konsep konsolidasi (tax consolidation). Sehingga, untuk keperluan
perpajakan, penelitian terhadap kewajaran harga tranfer untuk beberapa
perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasi menjadi lebih agak kompleks
karena harus dilakukan disagregasi kembali kelaporan semula. Pengungkapan
kewajaran harga transfer dalam laporan keuangan komersial tentu akan sangat
membantu administrasi pajak. Namun, perbedaan kriteria hubungan istimewa
antara ketentuan perpajakan dengan akuntansi komersial dapat menimbulkan
masalah tersendiri dalam praktik di lapangan apabila tidak direkonsiliasikan
dengan seksama. Namun permintaan konsolidasi laporan keuangan antara
perusahaan induk dan anak yang lebih dari 50% sahamnya, baik langsung maupun
tidak langsung, sebagaimana diatur dalam PSAK Nomor 4 mengeliminasi upaya
penghitungan kembali harga atas laba dari transaksi antar perusahaan yang
laporan keuangannya dikonsolidasikan. Namun demikian, pengenalan akun selisih
transaksi antar perusahaan sepengendali (STRES) dalam PSAK 38 sedikit banyak
memberikan petunjuk pengetesan harga transfer antarperusahaan asosiasi.
4. Perspektif ke Depan Transfer Pricing.
Dalam tahun 2002, menurut Choit et all (dalam International Accounting;2002),
diperkirakan sekitar minimal 60% perdagangan global merupakan transaksi antar
perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Walaupun transfer pricing
dapat disebabkan oleh motivasi selain pajak, namun pemanfaat pajak sebagai
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
142
unsur daya saing untuk menarik investor asing dan semakin meningkatnya
jejaring P3B Indonesia dengan beberapa negara mitra runding membuka
kesempatan praktik transfer pricing oleh perusahaan multinasional. Indonesia dan
administrasi pajak dikebanyakan negara, mengikuti prinsip harga wajar dalam
upaya meraih bagian penerimaan pajak yang adil dari transaksi antarperusahaan
multinasional dimaksud sesuai dengan yurisdiksi pajak masing-masing negara.
C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Tolong Saudara buat perencanaan pajak tentang transfer princing?
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Gunadi.2007. Pajak Internasional (Edisi Revisi 2007.Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia).
2. Hutagaol, John.2000. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda Indonesia
Dengan Negara-Negara Di Kawasan Asia Pasifik, Amerika dan Afrika
Pemahaman Praktis. Jakarta: Salemba Empat.
3. Arnold, Brian J dan Michael J. McIntyre.2002. International Tax Primer
Second Edition. New York: Kluwer Law International.
E. GLOSARIUM
1. Transfer Pricing : kebijakan suatu perusahaan dalam menentukan harga
transfer suatu transaksi.
2. Hubungan Istimewa : istilah yang digunakan untuk menggambarkan
hubungan politik, diplomatic, budaya, ekonomi, militer, dan sejarah yang
sangat erat antara Britania Raya dan Amerika Serikat.
3. Metode OECD : sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh Negara
yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
143
PERTEMUAN 18: PERENCANAAN PAJAK DAERAH
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan
menjelaskan tentang Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah, Ketentuan Pungutan
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Peningkatan Penerimaan Pajak
Daerah,Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Mendukung
Pembiayaan Daerah, serta Optimalisasi Pungutan Pajak dan Retribusi Daerah
dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah.
PETA MATERI PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
144
B. URAIAN MATERI
1. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas
daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan
kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut,
Daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat. Berdasarkan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan
perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa
penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa diatur dengan Undang-Undang. Dengan demikian, pemungutan Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah harus didasarkan pada Undang-Undang.
Selama ini pungutan Daerah yang berupa Pajak dan Retribusi diatur dengan
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2000. Sesuai dengan Undang-Undang tersebut, Daerah diberi kewenangan untuk
memungut 11 (sebelas) jenis Pajak, yaitu 4 (empat) jenis Pajak provinsi dan 7
(tujuh) jenis Pajak kabupaten/kota. Selain itu, kabupaten/kota juga masih diberi
kewenangan untuk menetapkan jenis Pajak lain sepanjang memenuhi kriteria yang
ditetapkan dalam Undang-Undang. Undang-Undang tersebut juga mengatur tarif
pajak maksimum untuk kesebelas jenis Pajak tersebut. Terkait dengan Retribusi,
Undang-Undang tersebut hanya mengatur prinsip-prinsip dalam menetapkan jenis
Retribusi yang dapat dipungut Daerah. Baik provinsi maupun kabupaten/kota
diberi kewenangan untuk menetapkan jenis Retribusi selain yang ditetapkan
dalam peraturan pemerintah. Selanjutnya, peraturan pemerintah menetapkan lebih
rinci ketentuan mengenai objek, subjek, dan dasar pengenaan dari 11 (sebelas)
jenis Pajak tersebut dan menetapkan 27 (dua puluh tujuh) jenis Retribusi yang
dapat dipungut oleh Daerah serta menetapkan tarif Pajak yang seragam terhadap
seluruh jenis Pajak provinsi.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
145
Hasil penerimaan Pajak dan Retribusi diakui belum memadai dan memiliki
peranan yang relatif kecil terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) khususnya bagi daerah kabupaten dan kota. Sebagian besar pengeluaran
APBD dibiayai dana alokasi dari pusat. Dalam banyak hal, dana alokasi dari pusat
tidak sepenuhnya dapat diharapkan menutup seluruh kebutuhan pengeluaran
Daerah. Oleh karena itu, pemberian peluang untuk mengenakan pungutan baru
yang semula diharapkan dapat meningkatkan penerimaan Daerah, dalam
kenyataannya tidak banyak diharapkan dapat menutupi kekurangan kebutuhan
pengeluaran tersebut. Dengan kriteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang
hampir tidak ada jenis pungutan Pajak dan Retribusi baru yang dapat dipungut
oleh Daerah.Oleh karena itu, hampir semua pungutan baru yang ditetapkan oleh
Daerah memberikan dampak yang kurang baik terhadap iklim investasi. Banyak
pungutan Daerah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi karena tumpang
tindih dengan pungutan pusat dan merintangi arus barang danjasa antardaerah.
Untuk daerah provinsi, jenis Pajak yang ditetapkan dalam Undang-Undang
tersebut telah memberikan sumbangan yang besar terhadap APBD. Namun,
karena tidak adanya kewenangan provinsi dalam penetapan tarif Pajak, provinsi
tidak dapat menyesuaikan penerimaan pajaknya. Dengan demikian,
ketergantungan provinsi terhadap dana alokasi dari pusat masih tetap tinggi.
Keadaan tersebut juga mendorong provinsi untuk mengenakan pungutan Retribusi
baru yang bertentangan dengan kriteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang.
Pada dasarnya kecenderungan Daerah untuk menciptakan berbagai pungutan yang
tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan bertentangan
dengan kepentingan umum dapat diatasi oleh Pemerintah dengan melakukan
pengawasan terhadap setiap PeraturanDaerah yang mengatur Pajak dan Retribusi
tersebut. Undangundang memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk
membatalkan setiap Peraturan Daerah yang bertentangan dengan Undang-Undang
dan kepentingan umum. Peraturan Daerah yang mengatur Pajak dan Retribusi
dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkan harus disampaikan
kepada Pemerintah. Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja Pemerintah
dapat membatalkan Peraturan Daerah yang mengatur pajak dan retribusi. Dalam
kenyataannya, pengawasan terhadap Peraturan Daerah tersebut tidak dapat
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
146
berjalan secara efektif. Banyak Daerah yang tidakmenyampaikan Peraturan
Daerah kepada Pemerintah dan beberapa Daerah masih tetap memberlakukan
Peraturan Daerah yang telah dibatalkan oleh Pemerintah. Tidak efektifnya
pengawasan tersebut karena Undang-Undang yang ada tidak mengatur sanksi
terhadap Daerah yang melanggar ketentuan tersebut dan sistem pengawasan yang
bersifat represif. Peraturan Daerah dapat langsung dilaksanakan oleh Daerah tanpa
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah.
Pengaturan kewenangan perpajakan dan retribusi yang ada saat ini kurang
mendukung pelaksanaan otonomi Daerah. Pemberian kewenangan yang semakin
besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada
masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula
dalam perpajakan dan retribusi. Basis pajak kabupaten dan kota yang sangat
terbatas dan tidak adanya kewenangan provinsi dalam penetapan tarif pajaknya
mengakibatkan Daerah selalu mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan
pengeluarannya.Ketergantungan Daerah yang sangat besar terhadap dana
perimbangan dari pusat dalam banyak hal kurang mencerminkan akuntabilitas
Daerah. Pemerintah Daerah tidak terdorong untuk mengalokasikan anggaran
secara efisien dan masyarakat setempat tidak ingin mengontrol anggaran Daerah
karena merasa tidak dibebani dengan Pajak dan Retribusi.
Untuk meningkatkan akuntabilitas penyelenggaraan otonomi daerah, Pemerintah
daerah seharusnya diberi kewenangan yang lebih besar dalam perpajakan dan
retribusi. Berkaitan dengan pemberian kewenangan tersebut sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, perluasan kewenangan perpajakan
dan retribusi tersebut dilakukan dengan memperluas basis pajak Daerah dan
memberikan kewenangan kepada Daerah dalam penetapan tarif. Perluasan
basis pajak tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip pajak yang baik. Pajak dan
Retribusi tidak menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan/atau menghambat
mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah dan kegiatan ekspor-
impor. Pungutan seperti Retribusi atas izin masuk kota, Retribusi atas
pengeluaran/pengiriman barang dari suatu daerah ke daerah lain dan pungutan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
147
atas kegiatan ekspor-impor tidak dapat dijadikan sebagai objek Pajak atau
Retribusi. Berdasarkan pertimbangan tersebut perluasan basis pajak daerah
dilakukan dengan memperluas basis pajak yang sudah ada, mendaerahkan pajak
pusat dan menambah jenis pajak baru. Perluasan basis pajak yang sudah ada
dilakukan untuk Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan pemerintah, Pajak Hotel
diperluas hingga mencakup seluruh persewaan di hotel, Pajak Restoran diperluas
hingga mencakup pelayanan catering. Ada 4(empat) jenis pajak baru bagi daerah,
yaitu Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkantoran dan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan yang sebelumnya merupakan pajak pusat dan Pajak
Sarang Burung Walet sebagai Pajak kabupaten/kota serta Pajak Rokok yang
merupakan Pajak baru bagi provinsi.
Selain perluasan pajak, dalam Undang-Undang ini juga dilakukan perluasan
terhadap beberapa objek Retribusi dan penambahan jenis Retribusi. Retribusi Izin
Gangguan diperluas hingga mencakup pengawasan dan pengendalian kegiatan
usaha secara terus-menerus untuk mencegah terjadinya gangguan ketertiban,
keselamatan, atau kesehatan umum, memelhara ketertiban lingkungan dan
memenuhi norma keselamatan dan kesehatan kerja. Terdapat 4(empat) jenis
Retribusi baru bagi daerah, yaitu Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang, Retribusi
Pelayanan Pendidikan, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dan
Retribusi Izin Usaha Perikanan.
Berkaitan dengan pemberiaan kewenangan dalam penetapan tarif untuk
menghindari penetapan tariff pajak yang tinggi yang dapat menambah beban bagi
masyarakat secara berlebihan, Daerah hanya diberi kewenangan untuk
mennetapkan tariff pajak dalam batas maksimum yang ditetapkan dalam Undang-
Undang ini. Selain itu, untuk menghindari perang tariff pajak antardaerah untuk
objek pajak yang mudah bergerak, seperti kendaraan bermotor, dalam Undang-
Undang ini ditetapkan juga tariff minimum untuk Pajak Kendaraan Bermotor.
Pengaturan tariff demikian diperkirakan juga masih memberikan peluang bagi
masyarakat untuk memindahkan kendaraannya ke daerah lain yang beban
pajaknya lebih rendah. Oleh karena itu, dalam Undang-Undang ini Nilai Jual
Kendaraan Bermotor masih ditetapkan seragam secara nasional. Namun, sejalan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
148
dengan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik sesuai dengan
beban pajak yang ditanggungnya dan pertimbangan tertentu, Menteri Dalam
Negeri dapat menyerahkan kewenangan penetapan Nilai Jual Kendaraan
Bermotor kepada Daerah. Selain itu, kebijakan tarif Pajak Kendaraan Bermotor
juga diarahkan untuk mengurangi tingkat kemacetan di daerah perkotaan dengan
memberikan kewenangan daerah untuk menetapkan tarif Pajak Rokok, dasar
pengenaannya adalah cukai rokok. Tarif Pajak Rokok ditetapkan secara definitif
di dalam Undang-Undang ini, agar Pemerintah dapat menjaga keseimbangan
antara beban cukai yang harus dipikul oleh industri rokok dengan kebutuhan
fiskal nasional dan daerah melalui penetapan tarif cukai nasional.
Untuk meningkatkan akuntabilitas pengenaan pungutan, dalam Undang-Undang
ini sebagian hasil penerimaan Pajak dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang
berkaitan dengan Pajak tersebut. Pajak Penerangan Jalan sebagian dialokasikan
untuk membiayai penerangan jalan, Pajak Kendaraan Bermotor sebagian
dialokasikan untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan
moda dan sarana transportasi umum, dan Pajak Rokok sebagian dialokasikan
untuk membiayai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum.
Dengan perluasan basis pajak dan retribusi yang disertai dengan pemberian
kewenangan dalam penetapan tarif tersebut, jenis pajak yang dapat dipungut oleh
Daerah hanya yang ditetapkan dalam Undang-Undang. Untuk Retribusi, dengan
peraturan pemerintah masih dibuka peluang untuk dapat menambah jenis
Retribusi selain yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang ini sepanjang
memenuhi kriteria yang juga ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Adanya
peluang untuk menambah jenis Retribusi dengan peraturan pemerintah juga
dimaksudkan untuk mengantisipasi penyerahan fungsi pelayanan dan perizinan
dari Pemerintah kepada Daerah yang juga diatur dengan peraturan pemerintah.
Selanjutnya, untuk meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan Daerah,
mekanisme pengawasan diubah dari represif menjadi preventif. Setiap Peraturan
Daerah tentang Pajak dan Retribusi sebelum dilaksanakan harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Pemerintah. Selain itu, terhadap Daerah yang
menetapkan kebijakan di bidang pajak daerah dan retribusi daerah yang
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi akan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
149
dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum
dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. Dengan diberlakukannya Undang-Undang
ini, kemampuan Daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya semakin
besar karena Daerah dapat dengan mudah menyesuaikan pendapatannya sejalan
dengan adanya peningkatan basis pajak daerah dan diskresi dalam penetapan tarif.
Di pihak lain, dengan tidak memberikan kewenangan kepada Daerah untuk
menetapkan jenis pajak dan retribusi baru akan memberikan kepastian bagi
masyarakat dan dunia usaha yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
2. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah
Kebijakan pungutan pajak daerah berdasarkan Peraturan Daerah diupayakan tidak
berbenturan dengan pungutan pusat (pajak maupun bea dan cukai) karena hal
tersebut akan menimbulkan duplikasi pungutan yang pada akhirnya akan
mendistorsi kegiatan perekonomian. Hal tersebut sebetulnya sudah diantisipasi
dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi
daerah sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 pasal
2 ayat (4) yang antara lain menyatakan bahwa objek pajak daerah bukan
merupakan objek pajak pusat:
Prinsip-prinsip umum perpajakan daerah yang memnuhi criteria umum tentang
perpajakan daerah sebagai berikut:
a. Prinsip memberikan pendapatan yang cukup dan elastik, artinya dapat mudah
naik turun mengikuti naik/turunnya tingkat pendapatan masyarakat;
b. Adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkatan kelompok
masyarakat dan secara horizontal, artinya berlaku sama bagi setiap anggota
kelompok masyarakat sehingga tidak ada yang kebal pajak;
c. Administrasi yang fleksibel artinya sederhana, mudah dihitung, memuaskan
bagi wajib pajak;
d. Secara politis dapat diterima oleh masyarakat sehingga timbul motivasi dan
kesadaran pribadi untuk membayar pajak;
e. Nondistorsi terhadap perekonomian: implikasi pajak atau pungutan yang
hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Pada
dasarnya, setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban, baik
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
150
bagi konsumen maupun produsen. Jangan samapi suatu pajak atau pungutan
menimbulkan beban tambahan yang berlebihan sehingga merugikan
masyarakat secara menyeluruh.
Untuk mempertahankan prinsip-prinsip tersebut, perpajakan daerah harus
memiliki cirri-ciri tertentu, yaitu sebagai berikut:
a. Pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut, berarti perbandingan antara
penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya;
b. Relatif stabil, artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar,
kadang-kadang meningkat secara dratis dan ada kalanya merun secara tajam;
c. Tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan dan
kemampuan untuk membayar.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemberian kewenangan
untuk mengadakan pemungutan pajak, selain mempertimbangkan kriteria-kriteria
perpajakan yang berlaku secara umum, seyogianya juga harus memprtimbangkan
ketetapan suatu pajak sebagai pajak daerah. Pajak daerah yang baik merupakan
pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka
pembiayaan desentralisasi. Untuk itu, pemerintah daerah dalam melakukan
pungungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. Adapun
fungsi pajak di kelompokan menjadi dua yaitu: fungsi budgeter dan fungsi
regulator. Funsi budgeter, yaitu apabila pajak sebagai alat untuk mengisi kas
negara digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan.
Fungsi regulator yaitu apabila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk
mencapai tujuan, misalnya pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat
menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras, pajak ekspor komoditas
tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut dalam negeri.
Menurut Teresa Ter-Minassian (1997), beberapa kriteria dan pertimbangan yang
diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan pada tingkat pemerintahan
pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yaitu sebagai berikut:
a. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk
tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
151
b. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu mobile.
Pajak daerah yang sangat mobile akan mendorong pembayar pajak merelokasi
usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban
pajaknya rendah. Sebaliknya, basis pajak yang tidak terlalu mobile akan
mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai
cerminan dari kemampuan masyarakat. Untuk alasan ini, pajak konsumsi di
banyak negara diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah
daerah yang cukup luas (seperti provinsi di canada). Dengan demikian, basis
pajak mobile merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat
pemerintahan yang lebih tinggi. (pusat/provinsi),
c. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antardaerah, seharusnya
diserahkan kepada pemerintahan pusat.
d. Pajak daerah seharusnya visible dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi
pembayar pajak daerah, objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang
dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah.
e. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain
karena akan memperlemah hubungan antara pembayar pajak dan pelayanan
yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan).
f. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai
untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. Hasil penerimaan,
idealnya, harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu
berfluktuasi.
g. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah di
administrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara
ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data, seperti identifikasi jumlah
pembayar pajak, penegakan hukum dan komputerisasi.
h. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya
pada semua tingkat pemerintahan, tetapi penyerahan kewenangan
pemungutannya kepada daerah akan tetap sepanjang manfaatnya dapat
dilokasikan bagi pembayar pajak lokal.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
152
3. Ketentuan Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Di negara-negara yang menganut paham hukum, segala sesuatu yang menyangkut
pajak harus ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Dengan demikian,
pemungutan pajak kepada rakyat tentunya harus diseratai dengan perangkat
peraturan perundang-undangan yang di sebut dengan hukum pajak. Di Indonesia,
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23A mengatur dasar hukum pemungutan pajak
oleh negara. Pasal ini menyatakan bahwa pajak dan pungutan lain bersifat
memaksa untuk keperluan negara di atur dengan Undang-Undang. Pengaturan
kewenangan pengenaan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah dalam
Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 yang mulai berlaku pada tahun 1998
dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan
pungutan baru. Walaupun memberikan kewenangan kepada daerah, undang-
undang tersebut harus ditetapkan dengan peraturan pemerintahan ssehingga saat
Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 berlaku, belum ada satupun daerah yang
mengusulkan pungutan baru kerana menganggap hal tersebut sulit dilakukan.
Selain itu, pengaturan agar Perda tentang pajak daerah dan retribusi daerah harus
mendapat pengesahan dari pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah.
Dengan di ubahnya Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 menjadi Undang-
Undang Nomor 34 tahun 2000, diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan
menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan dan
pembangunan daerah. Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 dan peraturan
pemerintah pendukungnya yaitu PP Nomor 65 tahun 2001 tentang pajak daerah
dan PP Nomor 66 tahun 2001 tentang retribusi daerah menjelaskan perbedaan
antara jenis pajak daerah yang di pungut oleh provinsi dan jenis pajak yang
dipungut oleh kabupaten/kota. Pajak provinsi ditetapkan sebanyak empat jenis,
yaitu:
a. Pajak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air (PKB dan KAA)
b. Bea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air (BBNKB dan
KAA)
c. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB)
d. Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan permukaan (P3ABT
dan AP)
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
153
Jenis pajak provinsi bersifat limitatif yang berarti provinsi tidak dapat memungut
pajak lain, selain yang telah di tetapkan, dan hanya dapat menambah jenis
retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan undang-undang. Adanya
pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh provinsi sebagai daerah otonom
yang terbatas, yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang
bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan kewenangan yang tidak atau belum
dapat dilaksanakan oleh daerah kabupaten/kota, serta kewenangan bidang
pemerintahan tertentu. Sekalipun demikian, dalam pelaksanaannya provinsi dapat
memutuskan untuk tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika
dipandang hasilnya kurang memadai. Berkaitan dengan besarnya tarif, berlaku
definitif untuk pajak provinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh indonesia
dan diatur dalam PP Nomor 65 tahun 2001.
Sementara itu, pemerintah daerah kabupaten/kota diberi kewenangan untuk
memungut tujuh jenis pajak, yaitu:
a. pajak hotel;
b. pajak restauran;
c. pajak hiburan;
d. pajak reklame;
e. pajak penerangan jalan;
f. pajak pengambilan bahan galian golongan C;
g. pajak parkir.
Jenis pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif, artinya kabupaten/kota diberi
peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya, selain yang
ditetapkan secara eksplisit dalam Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000, dengan
menetapkan sendiri pajak yang bersifat spesifik dengan memerhatikan kriteria
yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut, kriteria yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
a. Bersifat pajak dan bukan retribusi;
b. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan
dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat
diwilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan;
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
154
c. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan
umum;
d. Objek pajak bukan merupakan objek pajak provinsi dan/atau objek pajak pusat;
e. Potensinya memadai;
f. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
g. Memerhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat;dan
h. Menjaga kelestarian lingkungan.
Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk pajak kabupaten/kota ditetapkan
dengan peraturan daerah, tetap tiddak boleh lebih tinggi daripada tarif maksimum
yang telah di tentukan dalam Undang-Undang tersebut. Dengan adanya
pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh provinsi dan yang dipungut oleh
kabupaten/kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Dalam
rangka pengawasan, perda tentang pajak dan retribusi yang di terbitkan oleh
pemerintahan daerah harus disampaikan kepada pemerintah pusat paling lambat
lima belas hari sejak ditetapkan. Dalam hal Perda tersebut bertentangan dengan
kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
pemerintah pusat melalui mentri dalam negeri dengan pertimbangan mentri
keuangan dapat membatalkan perda tersebut dalam kurun waktu satu bulan sejak
diterimanya peraturan tersebut. Ketentuan-ketentuan tersebut di atur dalam pasal
5A dan pasal 25A Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 juncto pasal 80 ayat (2)
PP Nomor 65 tahun 2001 dan pasal 17 ayat (2) PP Nomor 66 tahun 2001.
Sekalipun demikian, walaupun perda-perda tersebut sudah dibatalkan oleh
pemerintah pusat, pemerintah daerah dapat mengajukan keberatan kepada
Mahkamah Agung (MA) segera setelah mengajukannya kepada pemerintah
berdasarkan PP Nomor 20 tahun 2001 tentang pembinaan dan pengawasan atas
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
C. LATIHAN SOAL/TUGAS
Tolong Saudara buat salah satu perencanaan pajak daerah (pajak Provinsi atau
pajak Kabupaten) ?
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
155
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan
Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
3. Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak. Perpajakan. Edisi Revisi 2013. Yogyakarta.
Penerbit Andi. 2014.
4. Siti Resmi. Perpajakan. Teori dan Kasus. Edisi 8 Buku 1. Jakarta. Penerbit
Salemba Empat. 2014.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah.
E.GLOSARIUM
1. Pajak : pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk Negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.
2. Pajak Daerah : iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan
kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat
dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah Daerah dan
Pembangunan Daerah
3. Pajak Provinsi : salah satu pajak yang dikelola oleh Pemerintah Daerah
adalah pajak Provinsi. Pendapatan Pajak Provinsi berlaku untuk Pajak
Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor, Pajak Rokok, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.
4. Pajak Kabupaten/Kota : jenis pajak pajak kabupaten/kota yang dikelola
Pemerintah Kabupaten/Kota. Ada beberapa jenis seperti Pajak Reklame, Pajak
Parkir, Pajak Hiburan, Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Penerangan Jalan,
Pajak Air Tanah, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Sarung
Burung Walet, dan Pajak Bumi dan Bangunan.
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
156
5. Retribusi Daerah: pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
157
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
158
S1- Modul Tax Planing Universitas Pamulang
159