Anda di halaman 1dari 13

PEMBAHASAN

Pada kesempatan praktikum kali ini, akan dibuat tablet berisi zat aktif Asetosal 100 mg /
tablet dengan menggunakan metode kempa langsung. Suatu sediaan dibuat dalam bentuk tablet
dengan tujuan untuk memberikan obat melalui mulut dalam bentuk yang memadai, dalam jumlah
yang tepat atau melalui waktu yang tepat. Sementara pemilihan metode kempa langsung
dikarenakan serbuk Asetosal merupakan zat yang bisa dicetak menggunakan metode kempa
langsung daripada granulasi basah maupun granulasi kering. Asetosal mempunyai daya alir yang
baik, kompresibilitas yang tinggi dan mempunyai sifat di dalam udara lembab yang secara
bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat maka pada proses pembuatan tablet
dibuat dengan metode cetak langsung sehingga diperoleh bobot tablet yang seragam dan
kompak. Pembuatan tablet dengan kecepatan tinggi memerlukan eksipien yang memungkinkan
campuran zat aktif dan eksipien kering dapat dikempa langsung tanpa melalui perlakuan awal
terlebih dahulu seperti granulasi. Eksipien ini terdiri dari zat berbentuk fisik khusus yang
mempunyai sifat aliran dan kempa yang diinginkan. Sedikit perubahan pada sifat fisik dapat
mengubah sifat alir dan sifat kempa sehingga menjadi tidak sesuai untuk dikempa langsung.
Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya. Namun,
hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya dan zat aktif yang tidak tahan
terhadap panas dan lembab. Selain itu juga untuk bahan-bahan yang memiliki sifat mudah
mengalir sebagaimana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung
dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering.
Asetosal juga berbentuk kristal dan dapat mengalami peristiwa defomasi plastis pasa saat
pencetakan sehingga tablet Asetosal bisa dibuat dengan metode kempa langsung. Metode kempa
langsung juga tidak menggunakan bahan cairan dalam proses pembuatan sehingga dapat
digunakan untuk membuat tablet asetosal yang bersifat sensitif terhadap kelembaban dan mudah
rusak saat basah. Biasanya tablet yang dicetak dengan metode kempa langsung akan mempunyai
waktu hancur tablet yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan metode lainnya.
Asetosal atau dikenal juga dengan nama aspirin, digunakan sebagai zat analgesik dan zat
antipiretik. Maka dari itu penggunaan asetosal biasanya untuk pengobatan sakit kepala, sakit
gigi, dan demam.

Massa tablet yang dibuat dalam praktikum ini adalah 250 mg (dalam 500 tablet) dengan
mempertimbangkan alat pencetak tablet yang tersedia dengan komposisi zat aktif (Asetosal) 100
mg, zat pengisi-pengikat (Avicel PH 102) 140 mg, desintegrator (Na-starch Glycolat) 5 mg,
lubrikan (Mg Stearat) 2.5 mg dan glidant (Talkum) 2.5 mg sehingga memenuhi massa 250 mg.

Beberapa bahan pembantu (eksipien) digunakan dalam formulasi tablet Asetosal


memiliki fungsi dan tujuan masing-masing, diantaranya: Avicel PH 102 berfungsi sebagai bahan
pengisi-pengikat. Dalam penggunaan sebagai pengisi-pengikat konsentrasi yang biasa digunakan
sebanyak 20-90%. Penggunaan Avicel PH 102 dalam bentuk kering sebagai pengisi cetak
langsung memberikan hasil yang baik karena partikel mikrokristalnya yang berasal dari alam
disatukan oleh ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen antara hidrogen pada molekul selulosa yang
berdekatan membuat padatan partikelnya lebih kuat dan lebih kohesif. Ketika dicetak Avicel
akan membentuk lapisan seperti plastik sehingga menghasilkan tablet yang kompak. Kerapatan
curah Avicel PH 102 rendah sehingga kemampuannya sebagai zat pengisi sangat baik. Luas
permukaannya besar sehingga kemampuan untuk menutupi bahan lain atau sebagai pengikat
dalam sediaan tinggi. Avicel PH 102 menghasilkan kerapatan mampat yang optimal sehingga
pencetakan dapat menghasilkan tablet yang memenuhi standar yang diharapkan. Penggunaan
Avicel PH 102 memberikan banyak keuntungan karena selain fungsinya sebagai pengisi pada
cetak langsung, juga dapat berfungsi sebagai self-lubrikan, adsorben, antiadheren dan mampu
memberikan daya integrasi yang lebih tinggi sehingga memungkinkan produksi skala besar
dengan metode kempa langsung dalam industri farmasi. Bahan ini memiliki tingkat efisiensi
yang lebih baik dalam pembuatan tablet secara komersial. Pada praktikum dipakai Avicel PH 102
sebanyak 72 % (sebanyak 140 mg/tablet dalam bobot total 50 g/500 tablet), sehingga memenuhi
syarat sebagai pengisi. Pemilihan Avicel PH 102 mampu memberikan daya adhesi pada massa
serbuk pada tablet kempa serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi. Bila bahan pengikat
yang ditambahkan terlalu sedikit, dapat menyebabkan tablet terlalu rapuh. Namun bila bahan
pengikat terlalu banyak akan membentuk tablet yang keras dan sulit untuk hancur.
Selanjutnya Na-Starch Glycolat atau biasa dikenal juga dengan Amprotab berfungsi
sebagai desintegrator. Dalam penggunaan sebagai disintegrator konsentrasi yang biasa digunakan
sebanyak 2-8%, dengan konsentrasi optimum 4%. Na-Starch Glycolat merupakan turunan
Amylum Solani, digunakan sebagai disintegrator tablet terutama dalam pembuatan tablet dengan
metode kempa langsung. Pada praktikum dipakai Na-Starch Glycolat sebanyak 7,54 %
(sebanyak 40 mg/tablet dalam bobot total 2.5 g/500 tablet), sehingga memenuhi syarat sebagai
disintegrator. Bila bahan desintegran yang ditambahkan terlalu sedikit, dapat menyebabkan tablet
sulit untuk hancur. Namun bila bahan desintegran terlalu banyak akan menyebabkan tablet
terlalu cepat untuk hancur

Selanjutnya, Mg Stearat berfungsi sebagai bahan lubrikan. Dalam penggunaan sebagai


pengisi-pengikat konsentrasi yang biasa digunakan sebanyak 0.25-5%, lubrikan ditambahkan
guna mempercepat aliran bahan dalam corong ke dalam rongga cetakan sehingga mengurangi
gesekan selama proses pengempaan tablet, selain itu juga berguna untuk mencegah melekatnya
massa tablet pada punch dan cetakan. Pada praktikum dipakai Mg Stearat sebanyak 7,54 %
(sebanyak 40 mg/tablet dalam bobot total 2.5 g/500 tablet). Namun, penambahan lubrikan tidak
diperbolehkan terlalu banyak karena dapat menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi
tablet.

Selanjutnya, Talk berfungsi sebagai bahan glidant guna meningkatkan aliran serbuk.
Dalam penggunaan sebagai glidant konsentrasi yang biasa digunakan sebanyak 1-10%. Namun
Talk juga berfungsi sebagai adsorben, disintegran, dan zat untuk meningkatkan viskositas. Talk
memiliki ukuran partikel yang kecil dengan luas permukaan spesifik yang besar sehingga
memberikan karakteristik sifat alir yang baik dari serbuk kering untuk dicetak langsung. Pada
praktikum dipakai Talk sebanyak 0.7 % (sebanyak 2.5 mg/tablet dalam bobot total 1.25 g/500
tablet), sehingga memenuhi syarat sebagai glidant.

Sebelum ditimbang bahan-bahan diayak terlebih dahulu untuk menyeragamkan ukuran


partikel karena selama penyimpanan ada kemungkinan terjadinya penggumpalan. Distribusi
ukuran partikel berpengaruh pada sifat fisika dan kimia serbuk, sehingga mempengaruhi
homogenitas tablet akhir dan kestabilan produk. Avicel PH 102, Amprotab, Talkum, dan Mg
Stearat diayak dengan mesh 40, sedangkan Asetosal diayak dengan mesh 60. Mesh 40 dapat
mengayak bahan yang ukuran partikelnya lebih kecil dari 425 m sedangkan mesh 60 dapat
mengayak bahan yang ukuran partikelnya lebih kecil dari 250 m. Fungsi dilakukannya
pengayakan juga untuk memisahkan setiap partikel bahan sehingga bahan-bahan yang akan
dicampurkan terpisah sempurna dan tidak menggumpal. Bahan yang partikelnya terpisah
sempurna juga bisa membantu pencampuran agar lebih homogen.
Setelah diayak, bahan-bahan yang akan digunakan selanjutnya dilakukan penimbangan
dan pencampuran. Asetosal yang digunakan untuk membuat tablet Asetosal sebanyak 50,4 gram,
Avicel PH 102 sebanyak 70,2 gram, Amprotab sebanyak 2,52 gram, Talkum sebanyak 1,25 gram,
dan Mg Stearat sebanyak 1,25 gram. Pencampuran harus berlangsung secara diffusive mixing,
yaitu perpindahan yang terjadi bukan perpindahan secara kelompok tetapi perpindahan masingmasing partikel secara difusi. Jika yang terjadi perpindahan secara berkelompok, campuran akan
sulit menjadi homogen. Sifat fisik masing-masing bahan dalam obat tersebut merupakan hal
yang sangat kritis, adanya perubahan sedikit atau kesalahan perbandingan komposisi dapat
mengubah sifat alir dan kegagalan proses pengempaan.
Asetosal dan Avicel PH 102 dimasukkan ke dalam baskom yang bersih dan kering
kemudian dihomogenkan. Kemudian setelah homogen, ditambahkan dengan Amprotab dan
dihomogenkan kembali. Campuran yang homogen tersebut kemudian ditambahkan dengan
Talkum dan Mg Stearat yang telah kemudian dihomogenkan kembali. Setelah semua bahan
dimasukkan ke dalam baskom dan telah homogen, bahan dipindahkan ke dalam plastik dan
dibawa ke dalam ruang pencetakan untuk dicetak menjadi tablet asetosal.
Sebelum bahan yang telah tercampur homogen dicetak, dilakukan persiapan mesin cetak
tablet terlebih dahulu. Mesin cetak tablet yang akan digunakan diganti terlebih dahulu punch and
die-nya sesuai dengan masa tablet dan bentuk tablet yang diingikan. Tablet yang diinginkan

berbentuk cembung dan bermasa tablet 250 mg sehingga digunakan punch and die berukuran 8.
Untuk mendapatkan tablet yang sesuai mulai dari massa dan tingkat kekerasan, dilakukan uji
coba pencetakan tablet terlebih dahulu. Bahan yang telah tercampur merata dimasukkan ke
dalam mesin cetak tablet dan pencetakan dilakukan untuk beberapa tablet saja. Tablet dihasilkan
dari pencetakan awal kemudian ditimbang, hasil penimbangan menunjukkan bahwa masa tablet
hanya 221,45 mg yang menandakan tablet masih kurang massanya sehingga punch and die diatur
kembali. Setelah punch and die diatur, tablet dicetak kembali dan kemudian ditimbang, hasil
penimbangan yang kedua menunjukkan bahwa masa tablet 248,5 mg yang berarti tablet sudah
masuk dalam range bobot tablet yang diinginkan. Setelah itu, tablet yang dicetak kedua dihitung
kekerasannya dengan hardness tester, dari hasil pengujian didapat kekerasan tablet hanya 15 N.
Kekerasan tablet yang hanya 15 N tidak masuk kedalam kriteria tablet yang baik sehingga
tekanan punch and die diatur kembali sehingga pada saat pencetakan tekanan yang diberikan
lebih besar. Setelah tekanan punch and die diatur, tablet kemudian dicetak kembali. Tablet hasil
cetakan yang ketiga kemudian diuji kekerasannya dengan menggunakan hardness tester. Tablet
hasil cetakan yang ketiga memiliki kekerasan 47 N yang sudah sesuai dengan kriteria yang
menyebutkan kekerasan tablet yang baik sekitar 40 N- 70 N. Pencetakan kemudian dilanjutkan
hingga bahan habis dengan menggunakan settingan punch and die dengan cetakan yang ketiga.
Tablet hasil pencetakan yang pertama dan kedua dipisahkan dan dianggap sebagai tablet reject
karena tidak memenuhi syarat bobot dan kekerasan tablet sehingga tablet tersebut tidak
digunakan untuk pengujian tablet.
Pengujian serbuk
Serbuk yang telah homogen dan siap untuk dicetak, dilakukan pengujian terlebih dahulu,
diantaranya; LOD, namun serbuk ini tidak perlu dilakukan uji LOD karena pada metode kempa
langsung, pemilihan bahan sudah disesuaikan dengan bahan baku yang memiliki kadar air yang
rendah. Jika bahan baku yang ada memiliki kadar air yang tinggi, maka bahan tersebut tidak bisa
digunakan untuk metode kempa langsung karena serbuk akan menempel pada alat pencetak dan
menghasilkan laju alir yang buruk.
Selanjutnya dilakukan pengujian kompresibilitas untuk mengetahui daya kompresibilitas
dari serbuk tablet yang dihasilkan. Pengujian kompresibilitas dilakukan sebelum dilakukan
pencetakan tablet, sehingga dapat diketahui apakah serbuk tersebut mungkin untuk dilakukan

pencetakan atau tidak. Pengujian kompresibilitas dilakukan dengan menggunakan alat Tap
Density Tester. Sebanyak 25 gram massa cetak tablet dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml,
kemudian volume awal dicatat. Selanjutnya, gelas ukur diletakkan pada alat tapping, kemudian
diketuk-ketukan hingga volume konstan, kemudian volume akhir dicatat. Volume awal sebelum
dilakukan pengetukkan adalah 48 ml dan volume akhir setelah dilakukan pengetukkan adalah 39
ml. Setelah mendapatkan data, dilakukan perhitungan kompresibilitas dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :

Kompresibilitas=

Kerapatan longgar=

Berat
25 g
=
=0,52 g/ml
volume awal 48 ml

Kerapatan mampat=

Berat
25 g
=
=0,64 g /ml
Volume awal 39 ml

Kerapatan mampat Kerapatanlonggar


x 100
Kerapatan mampat

0,640,52
x 100 =18,75
0,64

Menurut Aulton, hubungan indeks Carr dengan sifat aliran serbuk diklasifikasikan dalam
tabel berikut ini :

Maka, kompresibilitas dari massa cetak tablet yang diuji, yaitu 18,75 %, termasuk dalam
kategori cukup.

Selanjutnya dilakukan pengujian laju alir serbuk atau sifat alir sebuk dihitung dengan
mengukur secara langsung kecepatan alir sejumlah serbuk yang mengalir dari hopper. Serbuk
yang siap untuk dicetak ditimbang sebanyak 25 g lalu dimasukkan ke dalam hopper, katup
bagian bawah hopper telah dipastikan tertutup. hopper digoyang-goyangkan perlahan untuk
mengisi ruang kosong dan meratakan permukaan serbuk. Kemudian hopper ditutup untuk
menghindari adanya pengaruh dari tekanan udara. Katup bagain bawah hopper dibuka sambil
dimulai penghitungan waktu menggunakan stopwatch. Serbuk akan turun atau jatuh ke kertas
perkamen yang telah disiapkan di bawah hopper. Setelah serbuk tidak ada yang jatuh lagi,
hentikan stopwatch dan buka tutup hopper untuk memastikan semua serbuk telah jatuh.
Waktu (t) yang diperoleh selama serbuk mengalir ialah 3,1 detik. Serbuk akan menumpuk
di atas atas kertas perkamen, tinggi (h) dan diameter (d) nya diperoleh masing-masing 2 cm dan
10 cm. Pengukuran diameter dilakukan mula-mula dengan menggambar lingkaran batas luar
timbunan serbuk. Jari-jari(r) timbunan sebesar 5 cm. Dari data-data tersebut dapat diperoleh
sudaut istirahat dan laju alir.
Perhitungan sudut istirahat ( )
h 2
tan = = =0, 4
r 5
=22

Perhitungan laju alir


Laju Alir

m 25
g
=
=8,062
t 3,1
s

Syarat sudut istirahat :


Besar sudut istirahat
<25
25-30
30-40
>40

Keterangan
Sangat baik
Baik
Cukup
Sangat sukar

Sifat aliran :
Besar laju alir
>10
4-10
1,6-4
<1,6

Keterangan
Sangat baik
Baik
Cukup
Sangat sukar

Serbuk yang siap untuk dicetak memiliki besar laju alir yang sangat baik sebesar 8,062
g/s dan sudut istrahat yang juga sangat baik sebesar 22 o mengacu pada syarat dalam tabel. Bentuk
partikel, ukuran partikel, dan kerapatan serta porositas partikel mempengaruhi besar sudut
istirahat dan laju alir serbuk. Serbuk yang siap untuk dicetak mengandung Avicel ph 102 sebagai
pengisi dan Asetosal sebagai zat aktif. Avicel dan Asetosal memiliki bentuk partikel yang hampir
bulat meski tidak beraturan serta ukuran partikel avicel yang cukup cukup besar. Partikel dengan
bentuk yang lebih beraturan (hampir bulat) memberikan sudut istirahat yang lebih rendah, maka
serbuk memiliki sifat aliran granul yang lebih baik. Sementara partikel yang relative kecil akan
menyebabkan gaya lekat antar partikel yang besar, maka dengan ukuran yang lebih besar akan
meningkatkan aliran partikel menjadi lebih mudah mengalir. Hal ini menyebabkan campuran
serbuk memiliki sifat alir dan sudut istirahat yang sangat baik.
Pengujian tablet
Tablet yang telah dicetak kemudian dilakukan beberapa pengujian untuk mengetahui
apakah tablet yang dihasilkan sudah memenuhi syarat tablet yang baik. Pengujian yang
dilakukan diantaranya, keseragaman bobot. Keseragaman bobot dilakukan dengan menggunakan
neraca digital sebagai alat ukur untuk satuan berat (mg). Dibandingkan dengan neraca jaman
dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual, neraca digital memiliki fungsi lebih
sebagai alat ukur, diantaranya neraca digital lebih akurat. Neraca digital merupakan salah satu
neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau benda
sampai batas 0,0001 g. Neraca baik yang digital ataupun manual harus diletakkan pada bidang
datar, dimana tiap sudut harus benar-benar setimbang.
Sebanyak 20 tablet dilakukan penimbangan dengan menggunakan neraca analitik satu per
satu, kemudian dicatat bobotnya; 255, 249, 245, 251, 255, 161.5, 252.9, 250, 245, 252.5, 258.2,

247.9, 255.2, 255, 244.7, 253.6, 245.7, 257.4, 245.7.dan 252.3. Setelah perhitungan dilakukan,
didapatkan rata-rata keseragaman bobot senilai 251.63. Dari data yang telah didapatkan,
keseragaman bobot sesuai dengan persyaratan uji keseragaman bobot yakni tidak boleh lebih dari
dua tablet yang masing-masing beratnya menyimpang dari berat rata-ratanya lebih besar dari
harga yang ditetapkan pada kolom A (7.5%) dan tidak boleh satu tabletpun yang beratnya
menyimpang dari berat rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan pada kolom B (15%)

Selanjutnya dilakukan pengujian keseragaman ukuran yang dilakukan dengan cara


mengukur diameter dan tinggi tablet yang diukur dengan menggunakan mikrometer sekrup dan
jangka sorong dengan ukuran milimeter (mm). Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur
tinggi atau tebal dari tablet tersebut sedangkan jangka sorong digunakan untuk mengukur
diameter tablet. Dalam pengukuran keseragaman ukuran ini diambil sampel tablet sebanyak 20
butir yang kemudian diukur tinggi dan diameter tablet tersebut. Setelah diukur didapatkan ratarata diameter dari tablet sebesar 8,66 dan rata-rata tinggi atau tebal tablet sebesar 4,26. Dalam
Farmakope Indonesia edisi ke 3 disebutkan bahwa keseragaman ukuran. Kecuali dinyatakan lain,
diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Pada percobaan
yang praktikan lakukan dan dibandingkan dengan literatur yang menyatakan bahwa diameter
tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet bahwa tablet yang telah
dibuat oleh praktikan telah sesuai dengan ketentuan tersebut. Pengujian ini dilakukan agar
ukuran dari tablet tersebut tetap stabil karena bila ada ukuran yang tidak sesuai maka
dikhawatirkan akan terjadi perbedaan dosis yang terkandung didalam tablet tersebut yang dapat
membahayakan orang yang mengkonsumsi obat tersebut.

Selanjutnya dilakukan uji kekerasan tablet dengan menggunakan hardness tester


sehingga tablet yang dibuat tidak terlalu keras dan tidak terlalu rapuh. Kekerasan tablet juga akan
mempengaruhi proses hancur dari tablet tersebut. Semakin kerasa tablet semakin sulit tablet
tersebut hancur. Pengujian kekerasan tablet dilakukan dengan mengambil 10 tablet secara acak
dari tablet yang telah dicetak untuk diujikan kekerasannya menggunakan hardness tester. Dari
hasil pengujian didapatkan kekerasan setiap tabletnya 37,5 N; 45 N; 40 N; 47,5 N; 42,5 N; 37,5
N; 40 N; 45 N; 42,5 N; 37,5 N dengan rata-rata kekerasan tablet asetosal yang dibuat sebesar
41,5 N. Nilai rata-rata kekerasan tablet asetosal yang didapat sudah masuk pada range ketentuan
kekerasan tablet dimana nilai kekerasan tablet sebesar 40 N- 80 N. Dengan nilai kekerasan tablet
asetosal yang telah memenuhi ketentuan, tablet asetosal yang dibuat akan memiliki daya hancur
yang baik dan tidak terlalu keras dan rapuh
Selanjutnya dilakukan Friability test atau uji kerapuhan tablet dilakukan dengan
menggunakan alat bernama friabilator. Pr nsip dari pengujian ini adalah menetapkan bobot yang
hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu tertentu. Tablet-tablet
dan friabilator dibersihkan terlebih dahulu menggunakan kuas, tujuannya adalah untuk
membebaskan pengotor dan sisa-sisa serbuk yang mungkin masih melekat pada tablet. Setelah
dibersihkan, tablet ditimbang hingga beratnya mencapai 6,026 gram. Setelah penimbangan
selesai, tablet dimasukkan kedalam friabilator dan alat ama 4 menit dalam keceepatan dijalankan
sekemudian friabilator akan berputar selama 4 menit dengan kecepatan 25 putaran permenit
(25rpm). Setelah selesai, debu-debu dibersihkan dari permukaan tablet dan ditimbang kembali.
Hasil penimbangan didapatkan sebesar 6,007 gram. Hasil penimbangan pertama dan kedua
dimasukkan kedalam rumus dan didapatkaan presentase kehilangan bobot sebesar 0,3153 %. Uji
kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot akibat gesekan yang terjadi pada permukaan
tablet. Semakin besar nilai persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang.
Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat pada tablet.
Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil) seperti tablet sampel
pada praktikum ini. Adanya kehilangan massa akibat rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif
yang masih terdapat dalam tablet. Salah satu syarat tablet yang baik adalah jika presentase
kerapuhannya tidak lebih dari 1%. Karena presentase kerapuhan yang diperoleh sebesar 0,3153
%, makak bisa dikatakan bahwa tablet yang dijadikan sampel sudah memenuhi syarat.

Selanjutnya dilakukan pengujian waktu hancur tablet dalam tubuh dengan menggunakan
alat disintegrator yang menghasilkan waktu hancur hanya 11 detik. Seharusnya jika dilihat pada
Farmakope Indonesia waktu meluruh yang baik untuk tablet yang tidak tersalut adalah 5 menit,
dapat dikatakan tablet asetosal yang dibuat ini tidak memenuhi kriteria. Penyebab dari waktu
hancur 11 detik ini kemungkinan dari interaksi antar zat yang digunakan pada tablet atau
memang komposisi Na Starch Glycolat yang digunakan kurang tepat.