Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda dalam proses kehidupannya,
mulai dari lahir hingga mencapai titik kedewasaannya. Sehingga di dalam diri setiap individu
terdapat berbagai macam cara identifikasi serta perubahan melalui proses yang berbeda pula
dan diharapkan menuju arah yang lebih baik. Di dalamnya terdapat hubungan timbal balik
antara satu individu dengan individu lainnya dan dari identifikasi tersebut didapatkan pola
tingkah laku dari hasil pemikiran yang panjang.
Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang mempengaruhi manajemen kita
terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain. Kita mulai membentuk konsep diri saat
usia muda. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika banyak hal secara kontinu
mempengaruhi konsep diri.
Konsep diri adalah citra subyektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari
perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri dikembangkan melalui
proses yang sangat kompleks yang melibatkan banyak variable. Keempat komponen konsep
diri adalah identitas, citra tubuh, harga diri dan peran.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi
orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang
pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang
berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang
bersangkutan.
Konsep diri dan persepsi tentang kesehatan sangat berkaitan erat satu sama lain. Klien
yang mempunyai keyakinan tentang kesehatan yang baik akan dapat meningkatka konsep diri.
Tetapi sebaliknya, klien yang memiliki persepsi diri yang negatif akan menimbulkan
keputusasaan.
Maka disini kami akan memaparkan tentang konsep diri dalam keperawatan yang
nantinya akan dibutuhkan oleh kita selaku askep. Didalamnya terkandung komponenkomponen konsep diri, faktor pengaruh konsep diri, dan proses keperawatan dalam konsep
diri.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari konsep diri ?
2. Apa saja dimensi dari konsep diri ?
3. Apa saja komponen dari konsep diri ?
4. Apa saja prinsip-prinsip dari konsep diri ?
5. Apa saja faktor yang mempengaruhi konsep diri ?
6. Bagaimana perkembangan dari konsep diri itu ?
7. Apa saja langkah-langkah untuk mempertahankan konsep diri ?
8. Apa saja hambatan dalam membangun konsep diri itu ?
9. Bagaimana pengaruh perawat dalam konsep diri klien ?
1.3. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian dari konsep diri.
2. Menjelaskan dimensi konsep diri.
3. Menjelaskan komponen - komponen dari konsep diri.
4. Menjelaskan prinsip prinsip konsep diri.
5. Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi konsep diri.
6. Menjelaskan perkembangan konsep diri.
7. Mengidentifikasi langkah-langkah mempertahankan konsep diri.
8. Mengidentifikasi hambatan dalam membangun konsep diri
9. Menjelaskan pengaruh perawat dalam konsep diri klien.
1.4. Manfaat
1.Mengetahui pengetian konsep diri dan praktis dalam menumbuhkan konsep diri positif bagi
anak-anak.
2. Konsep Diri merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalamkomunikasi
antar pribadi.
3.Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu.
4. Sebagai literatur untuk mengetahui apa yang dimaksud konsep diri.
5. Sebagai referensi bagi pembaca agar mengetahui pengaruh konsep diri dalam keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Konsep Diri
Secara umum, Konsep diri berasal dari bahasa inggris yaitu self concept merupakan
suatu konsep mengenai diri individu itu sendiri yang meliputi bagaimana seseorang
memandang, memikirkan dan menilai dirinya sehingga tindakan-tindakannya sesuai dengan
konsep tentang dirinya tersebut.
Konsep diri mempunyai banyak pengertian dari beberapa ahli.Berikut merupakan konsep
diri menurut para ahli yang lain:
1. Seifert dan Hoffnung (1994), misalnya, mendefinisikan konsep diri sebagai suatu
pemahaman mengenai diri atau ide tentang konsep diri..
2. Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu
3.

dari konsep diri.


Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang
meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang

berhubungan dengan dirinya.


4. Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang
diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefisikan konsep diri
sebagai sistem yang dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang tentang
dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari
5.

individu tersebut.
Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu
akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya

6.

atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.


Stuart dan Sudeen (1998), konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam

berhubungan dengan orang lain.


7. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara seseorang untuk
melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang
diketahui individu dalam berhubungan dengan orang lain.

2.2. Dimensi Konsep Diri


1. Pengetahuan tentang diri anda adalah informasi yang anda miliki tentang diri
anda,misalnya jenis kelamin, penampilan.
3

2. Pengharapan bagi anda adalah gagasan anda tentang kemungkinan menjadi apa diri
anda kelak.
3. Penilaian terhadap diri anda,adalah pengukuran anda tentang keadaan anda
dibandingkan dengan apa yang seharusnya terjadi pada diri anda, hasil pengukuran
tersebut adalah rasa harga diri.
Konsep diri memiliki dua kecondongan, yaitu:
a. Konsep Diri Negatif
Konsep diri negatif adalah penilaian negatif terhadap diri sendiri dan merasa tidak
mampu mencapai sesuatu yang berharga, sehingga menuntun diri ke arah kelemahan dan
emosional yang dapat menimbulkan keangkuhan serta keegoisan yang menciptakan suatu
penghancuran diri.
b. Konsep Diri Positif
Merupakan penilaian positif serta mengenali diri sendiri secara baik, mengarah ke
kerendahan hati dan kedermawanan sehingga ia mampu menyimpan informasi tentang diri
sendiri, baik informasi positif maupun negatif. Konsep diri positif menganggap hidup adalah
suatu proses penemuan yang membuat diri kita mampu menerima berbagai macam kejutankejutan, konsekuensi, imbalan serta hasil. Dengan demikian diri kita mampu menerima semua
keadaan orang lain.
Langkah langkah yang perlu di ambil untuk memiliki konsep diri yang positif:
1. Bersikap objektif dalam mengenai diri sendiri
Tidak mengabaikan pengalaman poisitif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang
pernah di capai, carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkan talenta, jangan terlalu
beraharap bahawa diri kita dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu
secara sekaligus.
2. Hargailah diri sendiri
Hargailah diri sendiri dengan melihat kebaikan yang ada dalam diri, sehingga kita
mampu melihat hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif.

3. Jangan memusuhi diri sendiri


Memerangi diri sendiri adalah sesuatu hal yang melelahkan karena merupakan
pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri
4

yang sejati,akibatnya akan timbul kelelahan mental dan rasa prustasi yang dalam, yang
mengakibatkan makin lemahnya konsep diri positif.
4. Berpikir positif dan rasional
Kendalikan pikiran kita ketika mulai menyesatkan jiwa dan raga.

2.3. Komponen Konsep Diri


Konsep diri terdiri dari 5 komponen :
a.Identitas diri
Menurut Stuart dan Sundeen (1991), identitas adalah kesadaran akan diri yang bersumber
dari obsesi dan penilaian yang merupakan sistesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu
kesatuan yang utuh
Identitas juga bercermin pada yang lain (the other), yang tidak bisa terlepas dari
pengakuan/pengukuhan orang lain. Identitas manusia selama hidupnya di cerminkan oleh
seperangkat opini orang lain.
Keunikan setiap individu sekaligus adalah kekuatan diri dan kelemahannya, kekuatan
karena dengan memahami keunikan itu kita tidak tergoyahkan oleh penafsiran yang lain,
kelemahannya adalah ketika kita berupaya untuk mengukuhkan identitas tersebut.
Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak, yang di pengaruhi oleh pandangan dan
perlakuan lingkungan.
Ciri-ciri individu dengan perasaan yang identitas positif dan kuat:
a. Memandang diri berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada duanya.
b. Memiliki kemandirian, mengerti dan percaya diri, yang timbul dari perasaan berharga,
berkemampuani suatu kesela dan dapat menguasai diri.
c. Mengenal diri sebagai organisme yang utuh dan terpisah dari orang lain .
d. Mengakui jenis kelamin sendiri.
e. Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan.

b.Gambaran diri
Pandangan atau persepsi tentang diri kita sendiri, bukan penilaian orang lain terhadap
dirinya. Sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar (Stuart dan Sundeen,
1991)
5

a) Sikap tersebut mencakup: persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi,
penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu.setiap perubahan tubuh akan berpengaruh
terhadap kehidupan individu.
b) Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya,menerima reaksi diri tubuhnya dan
menerima stimulus dari orang lain, semakin sadar dirinya terpisah dari lingkungan usia
remaja, fokus individu terhadap fisik lebih menonjol.
c) Gambaran diri berhubungan erat dengan kepribadian,cara individu memandang diri
berdampak penting pada apek pisikologinya,individu yang berpandangan realistic terhadap
diri,menerima,menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman,terhindar dari rasa cemas,dan
meningkatkan harga diri individu yang stabil,realistis dan konsisten terhadap gambaran diri
akan memiliki kemampuan yang mantap terhadap realisasi sehingga memacu sukses dalam
hidup.
d. Harga diri
Berupa penilaian atau evaluasi dirinya terhadap hasil yang didapat baik internal maupun
eksternal yang merupakan proses pencapaian ideal diri. Harga diri terkait dengan berbagai hal
yang berperan vital, di antaranya:
a. Kualitas emosi
b. Aktualisasi diri
c. Kepercayaan diri
e. Ideal diri
Suatu yang kita harapkan atau harapan individu terhadap dirinya yang akan dinilai oleh
personal lain. Persepsi individu tentang bagaimana ia harus berprilaku sesuai dengan standart
pribadi.Stuart dan Sundeen, (1991) yaitu :
1. Standart tersebut berhubungan dengan tipe orang, tentang yang di inginkan, sejumlah
aspirasi, cita-cita,nilai yang ingin di capai.
2. Ideal diri berpengaruh terhadap perwujudan dan cita-cita,harapan pribadi berdasarkan
norma sosial (keluarga, budaya) dan kepada siapa ia ingin lakukan.
3. Mulai berkembang pada masa kanak-kanak dan di pengaruhi oleh orang penting pada
dirinya yang memberikan tuntutan dan harapan.Pada usia remaja ideal diri terbentuk melaui
proses identifikasi/memperhatikan.
4. Kejadian yang terjadi dalam dirinya, serta dapat memilih dan menyesuaikan diri.
6

5. Faktor yang berpengaruh terhadap ideal diri :


a) Kecenderungan individu menetapkan ideal diri pada batas kemampuannya.
b) Budaya, standar ini dibandingkan dengan standar kelompok teman.
c) Ambisi dan keinginan untuk lebih dan berhasil, kebutuhan yang realistic, keinginan untuk
menghindari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.
d) Ideal diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi tetapi masih lebih tinggi dari
kemampuan sehingga tetap menjadi pendorong dan masih dapat di capai serta tidak frustasi.
f. Peran
Merupakan pola sikap, prilaku, posisi dimasyarakat atau fungsi dirinya baik di
lingkungan masyarakat, keluarga, atau komunitas. Peran merupakan pola sikap, perilaku, nilai
dan tujuan yang di harapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
Peran dalam kehidupan dijalani dengan kadar dan konsekuensinyan, peran yang baik
adalah peran yang tak menyalahi aturan yang benar, memenuhi kebutuhan dan sinkron dengan
ideal diri. Peran sosial, merupakan hubungan antara satu individu dengan individu lainnya,
terkait dengan etnik, budaya dan agama, karena pada dasarnya masing-masing diri memiliki
berbagai identitas diri yang berbeda (multiple selfes).

2.4. Prinsip-Prinsip Dasar Yang Mempengaruhi Konsep Diri


Prinsip dasar yang mempengaruhi konsep diri ada 5 hal yaitu :
1. Bila anak hidup dalam suasana penuh dengan kritik, dia belajar untuk menyalahkan orang
lain.
2. Bila anak hidup dalam suasana penuh kekerasan, di belajar untuk berkelahi.
3. Bila anak hidup dalam suasana penuh olok-olok, dia belajar untuk menjadi seorang pemalu.
4. Bila anak hidup dalam suasana memalukan, dia belajar untuk selalu merasa bersalah.
5. Bila anak hidup di dalam suasana yang penuh dengan toleransi,dia belajar untuk menjadi
seorang penyabar.
6. Bila anak hidup dalam suasana penuh dukungan, dia belajar untuk menjadi seorang yang
percaya diri.
7. Bila anak hidup dalam suasana penuh pujian dan penghargaan, dia belajar untuk
menghargai orang lain.
8. Bila anak hidup dalam suasana kejujuran, dia belajar untuk menghargai orang lain.

2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah sebagai
berikut :
1. Tingkat perkembangan dan kematangan
Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak akan
mempengaruhi konsep dirinya.
2. Budaya
Dimana pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya
dan lingkungannya. Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih dekat pada
lingkungannya.
3. Sumber eksternal dan internal
Dimana kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap
konsep diri.
4. Pengalaman sukses dan gagal
Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri demikian
pula sebaliknya.
5. Stresor
Stresor menantang kapasitas adaptif seseorang. Selye (1956) menyatakan bahwa stres
adalah kehilangan dan kerusakan normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan
seseorang atau respon khas terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan
perkembangan itu sendiri adalah stresor.
2.6. Perkembangan Konsep Diri
Menurut Hurlock ( 1968 ), individu belum mampu membedakan antara diri dengan
yang bukan diri ketika masih bayi. Individu baru sampai tahap yang bisa membedakan antara
dunia luar dengan dirinya sendiri ketika berusia 6-8 bulan, dan ketika berusia 3-5 tahun ia
mulai mempu mengidentifiasikan dirinya dalam berbagai dimensi kategori, seperti umur,
ukuran tubuh, jenis kelamin, kepemilikan benda, warna kulit, dan sebagainya. Tahap ini
disebut oleh Allport ( Sarason, 1972 ) dengan istilah early self. Kemudian individu mulai
punya kemampuan untuk memandang ke dunia di luar dirinya dan mulai belajar merespon
orangtlain. Bisa dikatakan bahwa konsep diri fisik muncul lebih dahulu dibandingkan konsep
diri psikologis.

Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan
mempunyai aktivitas spesifik yang membantu seseorang dalam mengembangkan konsep diri
yang positif. Tahap- tahap perkembangan konsep diri :
1. Bayi
Apa yang pertama kali dibutuhkan seorang bayi adalah pemberi perawatan primer dan
hubungan dengan pemberi perawatan tersebut. Bayi menumbuhkan rasa percaya dari
konsistensi dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau
orang lain. Penyapihan, kontak dengan orang lain, dan penggalian lingkungan memperkuat
kewaspadaan diri. Tanpa stimulasi yang adekuat dari kemampuan motorik dan penginderaan,
perkembangan citra tubuh dan konsep diri mengalami kerusakan. Pengalaman pertama bayi
dengan tubuh mereka yang sangat ditentukan oleh kasih sayang dan sikap ibu adalah dasar
untuk perkembangan citra tubuh.
2. Todler
Tugas psikososial utama mereka adalah mengembangkan otonomi. Anak-anak beralih
dari ketergantungan total kepada rasa kemandirian dan keterpisahan diri mereka dari orang
lain. Mereka mencapai keterampilan dengan makan sendiri dan melakukan tugas higien dasar.
Anak usia bermain belajar untuk mengoordinasi gerakan dan meniru orang lain.
Mereka belajar mengontrol tubuh mereka melalui keterampilan locomotion, toilet training,
berbicara dan sosialisasi.
3. Usia prasekolah
Pada masa ini seorang anak memiliki inisiatif, mengenali jenis kelamin, meningkatkan
kesadaran diri, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan sensitive terhadap umpan balik
keluarga.
Anak-anak belajar menghargai apa yang orang tua mereka hargai. Penghargaan dari anggota
keluarga menjadi penghargaan diri. Kaluarga sangat penting untuk pembentukan konsep diri
anak dan masukan negatif pada masa ini akan menciptakan penurunan harga diri dimana
orang tersebut sebagai orang dewasa akan bekerja keras untuk mengatasinya.

4. Anak usia sekolah

Menurut Bee ( 1981 ) mengungkapkan bahwa pada masa ini seorang anak
menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan lingkungan sosial selain keluarga mulai
mempengaruhi pandangan dan juga penilaian individu terhadap dirinya. Tahap ini oleh Allport
( Sarason, 1972 ) disebut dengan tahapperkembangan diri sebagai pelaku. Individu mulai
belajar untuk bisa mengatasi berbagai macam masalah secara rasional.
Dengan anak memasuki usia sekolah, pertumbuhan menjadi cepat dan lebih banyak
didapatkan keterampilan motorik, sosial dan intelektual. Tubuh anak berubah, dan identitas
seksual menguat, rentan perhatian meningkat dan aktivitas membaca memungkinkan ekspansi
konsep diri melalui imajinasi ke dalam peran, perilaku dan tempat lain. Konsep diri dan citra
tubuh dapat berubah pada saat ini karena anak terus berubah secara fisik, emosional, mental
dan sosial.
5. Masa remaja
Menurut Hollingworth ( dalam Jersild, 1965 ) masa remaja merupakan masa
terpenting bagi seseorang untuk menemukan dirinya. Mereka harus menemukan nilai-nilai
yang berlaku dan yang akan mereka capai di dalamya. Individu harus belajar untuk mengatasi
masalah-masalah, merencanakan masa depan dan khususnya mulai memilih pekerjaan yang
akan digeluti seara rasioanal ( Allport dalam Sarason, 1972 : 39 ).
Masa remaja membawa pergolakan fisik, emosional, dan sosial. Sepanjang maturasi
seksual, perasaan, peran, dan nilai baru harus diintegrasikan ke dalam diri.
Pertumbuhan yang cepat yang diperhatikan oleh remaja dan orang lain adalah faktor
penting dalam penerimaan dan perbaikan citra tubuh.
Perkembangan konsep diri dan citra tubuh sangat berkaitan erat dengan pembentukan
identitas. Pengamanan dini mempunyai efek penting. Pengalaman yang positif pada masa
kanan-kanak memberdayakan remaja untuk merasa baik tentang diri mereka. Pengalaman
negatif sebagai anak dapat mengakibatkan konsep diri yang buruk. Mereka mengumpulkan
berbagai peran perilaku sejalan dengan mereka menetapkan rasa identitas.
6. Masa dewasa muda
Pada masa dewasa muda perubahan kognitif, sosial dan perilaku terus terjadi
sepanjang hidup. Dewasa muda adalah periode untuk memilih. Adalah periode untuk
menetapakan tanggung jawab, mencapai kestabilan dalam pekerjaan dan mulai melakukan
hubungan erat. Dalam masa ini konsep diri dan citra tubuh menjadi relatif stabil.
Konsep diri dan citra tubuh adalah kreasi sosial, penghargaan dan penerimaan
diberikan untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial.

10

Konsep diri secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasi dalam nilai, sikap, dan
perasaan tentang diri.
7. Usia dewasa tengah
Usia dewasa tengah terjadi perubahan fisik seperti penumpukan lemak, kebotakan,
rambut memutih dan varises. Tahap perkembangan ini terjadi sebagai akibat perubahan dalam
produksi hormonal dan sering penurunan dalam aktivitas mempengarui citra tubuh yang
selanjutnya dapat mengganggu konsep diri.
Tahun usia tengah sering merupakan waktu untuk mengevaluasi kembali pengalaman
hidup dan mendefinisikan kembali tentang diri dalam peran dan nilai hidup. Orang usia
dewasa tengah yang manerima usia mereka dan tidak mempunyai keinginan untuk kembali
pada masa-masa muda menunjukkan konsep diri yang sehat.
8. Lansia
Parubahan pada lansia tampak sebagai penurunan bertahap struktur dan fungsi. Terjadi
penurunan kekuatan otot dan tonus otot.
Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh pengalaman sepanjang hidup. Masa
lansia adalah waktu dimana orang bercermin pada hidup mereka, meninjau kembali
keberhasilan dan
kekecewaan dan dengan demikian menciptakan rasa kesatuan dari makna tentang diri
makna tentang diri mereka dan dunia membentu generasi yang lebih muda dalam cara yang
positif sering lansia mengembangkan perasaan telah meninggalkan warisan.
Perjalanan untuk pencarian identitas diri bukan merupakan proses langsung jadi,
melainkan sebuah proses yang berkesinambungan. Konsep diri yang berupa totalitas persepsi,
pengharapan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri terbentuk berdasarkan proses
belajar tentang nilai, sikap, peran, dan identitas yang berlangsung seiring tugas perkembangan
yang dikembangkan dalam konsep diri.

11

2.7. Langkah-langkah Mempertahankan Konsep Diri


1. Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah
dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk
mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua
orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus.
2. Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri.
Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada dir
i sendiri, tidakmampu memandang hal baik dan positif terhadap diri,
bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal baik yang ada dalam diri orang lai
n secara positif. Jikakita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghar
gai diri kit?
3. Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri
sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada
permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self).
Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan
negatif konsep dirinya.
4. Berpikir positif dan rasional
semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoa
lan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai
menyesatkan jiwa dan raga.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa langkah membangun konsep diri
adalah :
1. Belajar menyukai diri sendiri atau cinta diri sendiri
2. Kembangkan pikiran positive thinking
3. Hubungan interpersonal harus dibina dengan baik
4. Pro-aktif atau sikap yang aktif menuju yang positive
5. Menjaga keseimbangan hidup

12

2.8. Hambatan dalam membangun konsep diri


Potensi yang dimiliki seseorang bisa berkembang atau tidak, itu tergantung pada pribadi
yang bersangkutan dan lingkungan dia berada. Beberapa hambatan yang sering terjadi dalam
pengembangan potensi diri adalah sebagai berikut:
1. Hambatan yang berasal dari lingkungan; Lingkungan merupakan salah satu faktor
penghambat dalam pengembangan potensi diri. Hambatan ini antara lain disebabkan sistem
pendidikan yang dianut, lingkungan kerja yang tidak mendukung semangat pengembangan
potensi diri, dan tanggapan atau kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan.
2. Hambatan yang berasal dari individu sendiri; Penghambat yang cukup besar adalah pada
diri sendiri,misalnya sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan yang jelas, keengganan
mengenal diri sendiri, ketidak mampuan mengatur diri, pribadi yang kerdil, kemampuan yang
tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan
pemahaman manajerial lemah, kemampuan latih rendah dan kemampuan membina tim yang
rendah.
2.9. Pengaruh perawat dalam konsep diri klien
Penerimaan perawat terhadap klien dengan perubahan konsep diri membantu
menstimulasi rehabilitasi yang positif. Klien yang penampilan fisiknya telah mengalami
perubahan dan yang harus beradaptasi terhadap citra tubuh yang baru, hampir pasti baik klien
maupun keluarganya akan melihat pada perawat dan mengamati respons dan reaksi mereka
terhadap situasi yang baru. Dalam hal ini perawat mempunyai dampak yang signifikan.
Rencana keperawatan yang dirumuskan untuk membantu klien dengan perubahan konsep diri
dapat ditingkatkan atau digagalkan oleh nilai dan perasaan bawah sadar perawat.
Penting artinya bagi perawat untuk mengkaji dan mengklarifikasi hal-hal berikut
mengenai diri mereka :
1.

Perasaan perawat sendiri mengenai kesehatan dan penyakit

2.

Bagaimana perawat bereaksi terhadap stres

3.

Kekuatan komunikasi nonverbal dengan klien dan keluarganya dan bagaimana hal

tersebut ditunjukkan.
4.

Nilai dan harapan pribadi apa yang ditunjukkan dan mempengaruhi klien

5.

Bagaimana pendekatan tidak menghakimi dapat bermanfaat bagi klien


Untuk menciptakan hubungan antara perawat dan pasien diperlukan komunikasi yang

akan mempermudah dalam mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan
serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hubungan perawat dan klien yang
terapeutik akan memepermudah proses komunikasi tersebut.
13

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan


dan kegiatannya dipusatkan untuk untuk kesembuhan pasien.
Tujuan komunikasi terapeutik itu sendiri adalah :
a.

Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta

dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal
yang diperlukan.
b.

Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan

mempertahankan kekuatan egonya.


c. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

14

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide,
pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan
orang lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat untuk memahami konsep diri terlebih
dahulu harus menanamkan dalam dirinya sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang
dialami klien bisa saja mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain
memenuhi kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan kembali konsep
dirinya.
Ada beberapa komponen konsep diri yaitu identitas diri yang merupakan intenal idividual,
citra diri sebagai pandangan atau presepsi, harga diri yang menjadi suatu tujuan, ideal diri
menjadi suatu harapan, dan peran atau posisi di dalam masyarakat.Untuk membangun konsep
diri kita harus belajar menyukai diri sendiri, mengembangkan pikiran positif, memperbaiki
hubungan interpersonal ke yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga
keseimbangan hidup.
Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam memahami konsep diri,
kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri penuh, dapat beradaptasi dengan
lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan dalam hidup.
3.2 SARAN
Disarankan setelah membaca makalah ini dan memahaminya agardiaplikasikan
ilmunya dalam kehidupan sehingga, sikap saling mengertidan menghargai sesama manusia
lebih baik

15

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. Aziz Alimul.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.Surabaya: Salemba
Medika
Potter, Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan . EGC : Jakarta.
Wong L. Donna, Hockenberry-Eaton Marilyn, dkk. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediartik
Vol.1. EGC : Jakarta
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta
Brooks, W.D., Emmert, P. Interpersonal Community. Iowa. Brow Company Publisher. 1976

16