Anda di halaman 1dari 25

Teori Mengenai Casting

Pengertian tentang casting


Menurut Jablowsy, S., 1982, yang dimaksud dengan casting adalah suatu
proses untuk membuat / membentuk restorasi atau rehabilitasi gigi dengan bahan
logam. Casting juga merupakan suatu teknik yang sering dilakukan di kedokteran
gigi dalam pembuatan tempatan gigi, mahkota gigi tiruan, jembatan rangka gigi tiruan
dan lain-lain dengan bahan logam.
Proses casting ini menggunakan metode yang disebut lost wax process. Pada
prinsipnya pola malam dan bentuk restorasi atau rehabilitasi gigi ditanam dalam
adonan bahan investmen gigi (dental invesment) yang ada di dalam casting ring.
Kemudian poia malam ini dihilangkan dengan jalan dipanaskan pada suhu tertentu,
sampai pola malam hilang sama sekali, sehingga meninggalkan ruang cetak (mould
space) di dalam aclonan invesmen.
Selanjutnya logam dilelehkan / dicairkan dengan pemanasan dan lelehan
logam tersebut dituangkan kedalam ruang cetak dengan tekanan sentri fugal / tekanan
udara, sehingga ruang cetak tersebut terisi oleh lelehan dengan bentuk sesuai dengan
pola malamnya.
Kegunaan dan tujuan casting dibidang kedokteran gigi dan pengertiannya :
a.

Kegunaan casting dibidang kedokteran gigi adalah untuk pembuatan resforasi,


rehabilitasi atau rekonstruksi pada gigi dengan

bahan logam yang dilakkan

dengan proses casting. Misalnya untuk pembuatan inlay crown and bridge atau
gigi tiruan rangka logam, dll.
b. Tujuannya adalah untuk mengganti bahan restorasi atau rehabilitasi yang tidak
mungkin dilakukan dengan bahan selain logam dan untuk mendapatkan kekuatan
/ daya tahan yang lebih besar dan bahan yang lain. Misalnya acrylic resin atau
amalgam.

Tahap-tahap pada proses casting


Proses casting melalui beberapa tahap sebagal berikut:
a. Tahap I, waxing adalah pembuatan pola dan malam (wax pattern).
b. Tahap II, spruing adalah pembuatan sprue pin atau sprue tormer dan casting wax
(malam cor).
c.

Tahap III,

investing

adalah

penanaman pola malam dalam adonan bahan

invesmen (yang ada di dalam casting ring).


d. Taflap IV, pre-heating adalah pemanasan permulaan pada casting ring agar
adonan bahan tanam lebih kering.
e. Tahap V, wax elimination adalah penghilangan malam dart pola malam yang
tertanam dalam adonan bahan invesmen (yang ada di dalam casting ring).
f. Tahap VI, heating adalah pemanasan casting ring (yang berisi adonan bahan
invesmen) sampai suhu tertentu.
g. Tahap VI, melting adalah pelelehan logam yang dtlakukan pada sprue - hold atau
fire clay.
h. Tahap VIII, casting adalah pengecoran lelehan logarn ke dalam ruang cetak
(mould space).
Apabila proses casting telah dilakukan maka akan terbentuk bangunan
restorasi atau rehabihtasi gigi dan bahan logam. Bangunan mi belum begitu baik
untuk dipasang di dalam mulut maka dilakukan finishing dan polishing.
Finishing adalah penyelesaian hasil casting dengan menghiIangkan eksesekses dan bangunan hasil casting yang tidak perlu, sehingga terbentuk hasil casting
yang baik sesuai dengan restorasi atau rehabilitasi yang diinginkan. Setelah finishing
kemudian diIakukan polishing, yaitu meratakan, menghaluskan dan mengkilapkan
bangunan, sehingga menjadi baik sekali.

Macam-macam komponen yang menunjang proses casting dan pengertiannya :


a. Die adalah model cetakan dari gigi pilar (abutment) yang terbuat dan gips keras
(stone gyps) dan berguna untuk pembuatan pola malam.
b. Wax pattern adalah pola / model yang dibuat dan malam, yang akan diganti
dengan logam, sehingga terbentuk suatu restorasi atau rehabilitasi gigi yang
dikehendaki.
c. Srue pin adalah pin / pasak yang terbuat dan bahan tertentu yang berguna untuk
pegangan pola malam pada waktu investing dan pembentuk sprue.
d. Sprue adalah rongga / saluran yang terjadi setelah dilakukan wax elimination
terhadap pola malam, yang menghubuhgkan crucible dengan mould space.
e. Crucible Jormer / sprue base adalah bangunan yang terbentuk dan malam atau
kayu atau karet sebagai pembentuk cruscible.
f. Crucible adalah bangunan seperti corong / kawah dari adonan invesmen, yang
terdapat disalah satu ujung casting ring berguna untuk tempat melelehkan logam.
g. Mould space / mold space adalah ruang cetak bekas pola malam setelah dilakukan
wax elimination dan pola malam (wax pattern).
h. Reservoir modul / reservoir former adalah bangunan dan malam yang berbentuk
bulat atau oval yang diletakkan pada sprue pin yang berguna untuk pembuatan
reservoir.
Reservoir adalah rongga / ruangan yang berbentuk bulat atau bulat bekas reservoir
modul, setelah dilakukan wax elimination.

Pengertian mengenai tahap tahap casting.


1. WAXING
Waxing adalah cara pembuatan pola malam (wax pattern)
Pola malam dibuat dengan tujuan untuk :
a. Mendapatkan suatu restorasi atau rehabilitasi gigi sesuai dengan ukuran dan
bentuk gigi yang direstorasi atau direhabilitasi.
b. Mendapatkan adaptasi yang baik dengan gigi yang direstorasi atau direhabilitasi.
c.

Mendapatkan hubungan yang baik dengan gigi tetangganya maupun gigi


antagonisnya.

d. Mendapatkan bentuk anatomi yang baik sesuai dengan bentuk restorasi gigi atau
rehabilitasi gigi.
Wax pattern berguna untuk membentuk ruang cetak (mould space) di dalam
bahan invesmen setelah malam dan pola malam (di dalam invesn) dihilangkan (wax
elimination).
Cara pembuatan pola malam ada 3 cara :
1. Cara langsung (direct).
Cara langsung ini dibuat seluruhnya di dalam mulut pasien, sehingga tidak
memerlukan die.
2. Cara tidak langsung.
Cara tidak langsung ini pola malam dibuat seluruhnya pada die, sehingga
pembuatannya diluar mulut pasien.

3. Cara langsung tidak langsung.


Pada cara ini mula-mula sebagian pola malam dibuat di mulut pasien untuk
mendapatkan oklusi yang baik, kemudian ditransfer ke die, dan dibuat pola malam
sampai selesai, sehingga cara ini dibutuhkan die.
Contoh :
a. cara langsung, misalnya pembuatan tumpatan inlai kelas I dan kelas V. (menurut
klasifikasi Black)
b. cara tidak langsung, misalnya pembuatan tumpatan inlai klas II, klas Ill, klas IV
(menurut klasifikasi Black), onlay, mahkota penuh (full crown) dan jembatan
gigi (crown and bridge).
Malam yang digunakan untuk pembuatan pola malam adalah casting wax atau
inlay wax yang berwarna biru atau hijau.
Jenis malam pola ada 2 tipe yaitu :
1. Tipe - I (tipe B) berguna untuk pembuatan pola malam secara langsung.
2. Tipe - II (tipe A) berguna untuk pembuatan pola malam secara tidak langsung
atau cara langsung tidak langsung.
Perbedaan kedua malam tersebut adalah mengenai setting time dan flow-nya.
Komposisi malam cor untuk inlay ini terdiri dari :
1. Malam paratin (paratin wax)
2. Gum dammar (dammar gum)
3. Malam karnauba (carnauba wax)
4. Beberapa bahan pewarna

Semua substansi ini merupakan bahan alamiah asli dan derivat dan mineral
atau tumbuhan tertentu. Malam parafin umumnya merupakan substansi utama,
biasanya konsentrasinya antara 40 % sampal 60 %. Gum damar atau resin damar
adalah resin alamiah derivat varitas pohon cemara. Ia dibutuhkan malam paralin
untuk mempertahankan kehalusan dinding ruang cetak (mould space) dan untuk
mengembalikan resistensi yang Iebih besar terhadap kerapuhan dan penggumpalan.
Malam karnauba bentuknya seperti serbuk yang halus dan veritas pohon palm
tropis. Mala mini cukuo kuat dan mempunyai titik cair relatif tinggi.
Syarat-syarat casting wax untuk pola malam
Menurut American Dental Association Specincation (ADAS) No. 4 (cit.Peyton and
Craig, 1971) menyatakan bahwa casting wax atau inlay casting wax yang digunakan
untuk pola malam harus mempunya syarat - syarat sebagai berikut :
a. warnanya berbeda dengan warna jaringan disekitar gigi.
b. pada waktu dilunakan harus bersifat kohesit.
c. tidak mudah patah atau rapuh pada waktu dipotong atau diukir untukmembentuk
anatomi gigi sesual.
d. pada waktu dibakar atau dipanasi pada suhu tertentu harus habis tak tersisa
atau menguap semuanya tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
2. SPRUING
Spruing adalah cara pembuatan sprue pin
a. Kegunaan sprue pin untuk :
1) Pembentukan Sprue di dalam invesmen.
2) Pegangan pola malam pada waktu investing.

b. Pembuatan sprue pin dapat dibuat dan bahan :


1) Logam
Sprue pin yang terbuat dan logam, maka sebelum dilakukan preheating sprue pin
diambil lebih dahulu. Untuk memudahkan pengambilan, sprue pin logam dilapisi
dengan malam.
Keuntungan :Sprue pin yang terbuat dan logam apabila dilekatkan pada pola malam,
maka pegangannya lebih erat dan kuat.
Kerugiannya :
Sprue pin dan logam apabila tidak dilapisi malam, maka akan sukar dikeluarkan
atau dilepaskan dan pola malam sesudah investing.
2) Inlay casting wax seluruhnya
Sprue pin yang terbuat seluruhnya dan malam inlal (inlay casting wax) maka pada
wax elimination tidak perlu diambil karena sprue pin akan hilang bersama - sama
dengan pola malamnya.
Keuntungannya
1. Pada wax elimination sprue pin akan menguap bersama sama dengan pola
malamnya, sehingga tidak meninggalkan malam sedikitpun dalam mould space.
2. Perlekatannya dengan pola malam kuat dan tidak mudah lepas.
Kerugiannya : Mudah patah, karena malam inlai apabila sudah keras bersitat getas.
3) Plastik / resin
Sprue pin yang terbuat seluruhnya dan malam inlai (inlay casting wax) maka pada
wax elimination tidak perlu diambil karena sprue pin akan hilang bersama - sama
dengan pola malamnya.

Kerugiannya:
1. Sukar dilepaskan dan pola malam sesudah investing dan dibiarkan tidak diambil
pada waktu wax elimination.
2. bahan plastik / resin apabila dipanasi akan memuat lebih besar, sehingga akan
merusak dinding invesmennya.
3. Suhu cair plastik Iebih besar daripada malam, sehingga pada waktu wax
elimination malam pola sudah mencair dan menguap, tetapi plastik / resin belum cair
atau menguap, akibatnya ada sisa plastik di dalam sprue dan ini akan menyumbat
aliran logam cair.
c. Diameter sprue pin
Diameter sprue pin tidak ada ketentuan yang pasti, tergantung dan; pertama,
besarnya pola malam yang dibuat dan yang kedua, jenis casting machine yang
digunakan untuk casting. Sebagai standar diameter sprue pin sebagai berikut :
a. untuk inlai yang kecil 1,3 mm
b. untuk inlai yang besar I ,b mm
c. untuk mahkota penuh 1,6 mm
d. untuk inlai yang paling besar 2,6 mm
Menurut Skinner (1960) dan Peyton and Craig Menurut Skinner (1960) dan Feyton
and Craig. (1971) menyatakan bahwa diameter sprue pin, menurut Brown adalah
gauge no. 10 atau 0,259 cm, sedangkan menurut Sharpe adalah gauge no. 16 atau
0,129 cm.

d. Pemasangan sprue pin


Pemasangan Sprue pin pada pola malam hendaknya pada daerah yang tebal
dan jauh dan pinggiran pola malam. Sedangkan posisinya pada pola malam dapat
tegak (90%) atau miring (45 ) terhadap permukaan pola malam.
Penempatan sprue pin pada pola malam dengan posisi tegak lurus apabila
daerah yang ditempati cukup ketebalannya. Penempatan sprue pin pada pola malam
dengan posisi miring, apabila daerah yang ditempati sprue pin pada pola malam tidak
cukup ketebalannya atau tipis. Hal ini ada hubungannya dengan gerakan turbolensi
yang diakibatkan adanya back presser / tekanan baik.
e.

Pembuatan Sprue pin

yang berhubungan dengan casting machine yang

digunakan.Apabila menggunakan chorizontal casting macnine pada casting, maka


sprue pin diameternya harus besar dan pendek, sebab pelelehan logam dilakukan pada
fire clay. Apabila menggunakan hand casting sistem (slinger aparat) yang gerakannya
vertikal maka diameter sprue pin
former

kecil dan panjang serta ditambah reservoir

/ reservoir former karena pelelehan logam dilakukan pada sprue hold

(crucible). Pada sprue pin tidak harus ditambah / dibuat reservoir modul. Untuk sprue
pin yang diameternya besar tidak perlu ditambah reservoir modul, tetapi sprue pin
yang diameternya kecil perlu ditambah reservoir modul. Ukuran panjang sprue pin
juga tidak ada ketentuan yang pasti, karena tergantung dan besar kecilnya dan
bentuknya pola malam.
3. INVESTTNG
Investing adalah cara untuk menanam pola malam dalam bahan invesmen
Yang perlu diperhatikan pada investing :
a. Letak pola malam di dalam casting ring.

Pola malam letaknya harus ditengah tengah agar jarak antar pola malam dan
dinding dinding casting ring sama.
b. Jarak pola malam dan dasar casting ring terletak antara (6 - 8 mm)Perbandingan
antara air dan puder (w/p ratio) harus tepat. W/p ratio suatu bahan invesmen
tergantung dan petunjuk pabrik yang memproduksinya sebagai contoh invesmen
merek Duroterm w/p ratio-nya adalah 10 : 29, dan invesmen merek Durotreem wf p
ratio-nya adalah 1 : 3.
4. PRE HEATING, WAX ELIMINATION DAN HEATING
Di Fakultas Kedokteran Gigi pada semester - 4 hanya menggunakan invesmen jenis
gypsum bonded invesmen materials. Sebelum wax elimination, dilakukandahulu
preheating pada temperatur kamar sampai 150 C dalam waktu 15 menit di dalamalat
pemanas yang disebut furnace, yang dapat distel mengenam temperatur dan
waktunya. Pre heating dilakukan dengan tujuan agar adonan invesmen betul-betul
kering. Masih di dalam

furnace, lalu dilakukan wax elimination

dari 150 C

dinaikkan sampai 350 C dengan perlahan lahann dalam waktu 30 menit. Pada
temperature 350 C diperkirakan seluruh malam yang ada di dalam adonan invesmen
sudah hilang tak bersisa. Setelah wax elimination yang menghasilkan mould space di
dalam invesmen, kemudian dilakukan heating yaitu temperatur dinaikkan dan 350
C sampai 700 C dalam waktu 30 menit. Heating ini bertujuan agar terjadi baik
pemuaian invesmen maupun pemuaian mould space dapat maksimal. Pemanasan
hanya sampai 700 C, karena stabilitas bahan invesmen jenis gypsum bonded
invesmen materials diperkirakan dalam keadaan stabil. Selanjutnya pada temperatur
700 C C didiamkan selama 30 menit, kemudian casting ring diambil dari casting
machine.
5. MELTING DAN CASTING
Setelah didiamkan selama 30 menit pada 700 C dengan cepat dipindah ke alat
casting macnine dan selanjutnya dilakukan melting.

a. Macam macam casting machine


1) Centri fugal casting machine
Casting machine macamnya ada 2 jenis ;
a) Horizontal centri fugal casting machine.
Casting machine ini gerakan memutarnya secara horizontal / mendatar.
b) Vertical centrifugal casting machine.
Casting machine ini gerakan memutarnya secara vertical / tegak lurus.
2) Air pressure casting machine
Alat casting yang menggunakan tekanan

udara.

Bekerjanya

alat

ini

prinsipnya sama dengan bekerjanya alat casting vertikal (vertical centri fugal casting
machine) hanya bedanya vertical casting machine menggunakan gaya sentri tugal,
tetapi air pressure casting machine menggunakan tenaga / tekanan udara. Pada
melting (pelelehan) terhadap logam yang akan dicor, dilakukan dengan alat
penyemprot api yang disebut blow pipe atau blow torch.
b. Macam macam blow torch
Berdasarkan bahan pembakarnya blow torch ada 4 macam yaitu :
1) Blow torch dengan menggunakan bahan pembakar bensin dan tenaga
angin.
2) Blow torch dengan gas elpiji
3) Blow torcfl dengan gas elpiji dan O2

4) Blow torch dengan gas acetilen (gas karbit = C2H2) dan O2


Biasanya O2 digunakan untuk melelehkan logam yang akan dicor dengan titik
cairnya lebih besar dari 1000 C
Untuk logam yang titik lelehnya kurang dan 1000 C cukup menggunakan bensin dan
udara. Api yang disemprotkan oleh blow torch ada 4 zone, yaitu :
1. Zone I, disebut air dan gas zane transparan.
2. Zone II, disebut combution zone warnanya kering.
3. Zone IIl, disebut reduction zone.
Zone ini warnanya biru yang dapat mereduksi logam menjadi meleleh.
4. Zone IV, disebut oxidising zone.
Zone ini warnanya merah yang mengoksidasi dari logam, tetapi tidak meleleh.
Pada proses casting yang menggunakan horizontal casting machine, pelelehan logam
dilakukan pada fire clay, yang terbuat dari bahan ceramic yang tahan panas. Apabila
pada proses casting yang menggunakan vertical casting machine (slinger apparate)
pelelehan dilakukan pada crucible, tepatnya pada sprue hold. Casting / pengecoran
logam ke dalam mould space dilakukan apabila lelehan logam baik pada fire clay,
maupun pada crucible sudah bergerak-gerak seperti gerakan air raksa, karena
tiupan dari blow torch.
Setelah

casting dilakukan, kemudian casting ring diambil dan casting

machine dan didiamkan sampai dingin sekali dengan sendirinya. Selanjutnya hasil
cor cliambil dengan merusakkan invesmennya.
Hasil casting yang terjadi ada 2 bentuk :
1. Bentuknya bersih seperti warna logam sebelum dicor. Hal ini terjadi apabila
logam yang dicor non precius, artinya logam tersebut tidak mengandung logam mulia
sebagai dasar dan logam campur / aloy. Pada bentuk ini tidak perlu dilakukan

pickling. Bentuknya berubah menjadi warna hitam dan tidak sama dengan warna
sebelum dicor. Hal ini terjadi apabila logam campur / aloy yang dicor mengandung
bahan dasar logam mulia, misalnya emas atau perak. Keadaan ini terjadi karena
adanya peristiwa oksidasi pada permukaan

logam

cor tersebut. Untuk

mengembalikan warna seperti warna semula dilakukan pickling.


6. PICKLING
Pengertian pickling adalah suatu cara penghilangan / pembersihan oksidasi
yang terjadi pada permukaan logam cur yang mengandung logam mulia dengan
larutan pickling.
Larutan pickling ada 2 jenis :
1. larutan asam hidro chlorida (HCl)
2. larutan asam sulfat (H2SO4)
Cara pickling :
Hasil casting logam aloy yang mengandung dasar logam mulia warnanya hitam
diikat dengan benang dan dipanasi dahulu. Sebelumnya sudah dipersiapkan dahulu
salah satu larutan pickling yang sudah diencerkan. Sesudah panas, hasil cor
dimasukkan ke dalam larutan pickling sebentar sarnpai warna hilang dan warna
semula muncul.

Oleh

karena larutan pickling

ini sangat toksis, maka untuk

menetralisir, hasil cur dimasukkan ke dalam larutan sodium bicarbonat.


7. FINISHING DAN POLISHING
1) Pengertian finishing
Finishing adalah suatu cara untuk membentuk hasil casting menjadi suatu
bangunan yang diinginkan dengan jalan menghilangkan / membuang ekses-ekses
pada permukaan hasil casting dan logam yang tidak berguna. Setelah dilakukan

finishing maka bentuk bangunan, misalnya yang berbentuk inlay, full crown atau
bridge work, menjadi baik tetapi masih kasar. Kemudian dilakukan polishing.
2) Pengertian polishing
Polishing

adalah

suatu cara untuk membuat suatu bangunan, setelah

dilakukan finishing, menjadi rata, halus dan mengkilap, sehingga bentuk bangunan
tersebut menjadi amat bagus dan indah.Dan inilah merupakan syarat utama

di

bidang kedokteran gigi bahwa polishing selalu dilakukan pada alat-alat yang dipasang
dalam mulut pasien.
8. KEGAGALAN KEGAGALAN PADA PROSES CASTING
1. Macam macam kegagalan dan penyebabnya
a. Distrsion (distorsi atau pengoletan)
Distorsi ini dapat terjadi pada waktu pembuatan pola malam atau pada waktu
pengambilan hasil casting dan dalam invesmen.Menurut Phillips, (1982), penyebab
terjadinya distorsi adalah sebagai berikut :
1) terjadinya perubahan temperatur yang besar.
2) manipulasi bahan tidak benar.
3) teknik pembuatan malam tidak benar.
Penyebab

ini

terjadi pada pembuatan pola malam. Adapun penyebab

terjadinya distorsi pada hasil cor, karena pengambilan hasil casting dan dalam
invesmen. Misalnya masih dalam keadaan panas Iangsung diambil, sehingga pada
waktu logam dingin akan mengkerut dan pengkerutan ini tidak ada yang menahan,
akibatnya terjadi distorsi.
b. Surface roughness (permukaan kasar)
1) Air bubbler gelembung - gelembung udara).

Hal ini

terjadi akibat pada waktu investing masih terdapat gelembung-

gelembung udara yang terperangkap di dalam adonan invesmen dan menempel pada
permukaan pola malam. Pada waktu casting, maka bekas-bekas gelembung udara ini
akan diisi oleh lelehan logam.
2) Too rapid heating (pemasanan yang terlalu cepat)
3) W / p ratio (perbandingan antara air dan bahan invesmen) W / p ratio ini adalah
sangat penting. Apabila w/p ratio tidak tepat misalnya terlalu kecil atau terlalu besar
dapat menimbulkan permukaan kasar dan flash casting.
4) Prolonged healing (pemanasan yang terlalu lama)
5) Casting pressure (tekanan pada waktu casting yang kurang benar)
6) Composition of the invesment (komposisi bahan invesmen)
Misalnya bahan invesmen yang sudah lama atau sudah kadaluwarsa, sehingga terjadi
kerusakan dan salah satu komponen bahan invesmennya.
7) Foreign body (benda-benda asing) Adanya benda- benda asing yang masuk ke
dalam mould space, misalnya pasir atau debu, dapat menimbulkan surface roughness
pada permukaan hasil casting.
c. Porosity (poros)Penyebab porositas pada hasil casting, karena adanya pengaruh
dari faktor faktor teknis. Ada 3 macam porositas, yaitu :
1) Localized shrinkage porosity
Porositas ini akibat adanya pengerutan setempat / lokal.
2) Sub surface porosity
Porositas yang terjadi pada permukaan dalam dari hasil casting.
3) Micro-porosity. Penyebabnya antara lain :

1. Besar kecilnya sprue


2. Panjang pendeknya sprue
3. Temperature melting yang terlalu besar
Temperatur pada waktu pemanasan mould space terlalu besar.
d. Incomplete casting (hasil casting yang tidak lengkap)
Penyebabnya antara lain :
1) Wax elimination yang tidak sempurna sehingga masih terdapat sisa malam di
dalam mould space. Hal ini terjadi apabila waktu wax elimination tergesa-gesa atau
terlalu cepat.
2) Benda asing yang menyumbat sprue, misalnya sprue kemasukkan debu atau pasir
atau terjadi kerontokan dan bahan invesmen yang membatasi mould space.
3) Pemutaran casting machine yang lambat, sehingga gaya centri fugal kecil, lelehan
logam tidak dapat memasuki seluruh permukaan mould space.

MACAM ALLOY DI KEDOKTERAN GIGI


A. Gold dan Gold Alloy
Emas murni adalah logam gigi yang paling murni, jarang berubah warna atau
berkarat di rongga mulut. Secara kimiawi tidak aktif dan tidak terpengaruh oleh
udara, panas, kelembaban, dan sebagian besar bahan pelarut. Emas adalah logam
yang yang paling bisa ditarik memanjang (duktilitas tinggi), dan juga paling bisa
dibentuk.
Emas murni sangat lunak, tetapi setelah didinginkan kekerasannya setara dan
bahkan melebihi logam campur emas konvensional Tipe I (dalam bentuk lunak yaitu
50 VHN), dan setelah pengerasan, kekerasannya mencapai kekerasan logam campur
emas Tipe II (90 VHN). Meskipun persentasi kepanjangannya (duktilitas) meningkat
selama pendinginan, emas murni mempunyai nilai yang cukup tingi selama
kondensasi untuk memungkinkan perubahan ke arah lateral sehingga dihasilkan baji
yang diperlukan untuk menambah retensi. Karena sifat-sifat ini dan nilai positif
lainnya, emas murni merupakan bahan restorasi gigi yang hampir ideal untuk
mempertahankan struktur gigi secara permanen diarea-area yang tidak membutuhkan
estetika dan mendapat tekanan rendah. kerugian utamanya adalah warnanya, sifat
pengantar panasnya yang tinggi, dan kesulitan teknis didalam membentuk tambalan
yang padat. Emas murni memiliki kepadatan yang tertinggi dari semua unsur lain
(19,3 g/cm3). Dan ini merupakan hambatan dari sudut pandang ekonomis karena
dibutuhkan massa emas yang lebih banyak untuk menambal sebuah lubang gigi
dibandingkan logam-logam lain yang memiliki kepadatan yang lebih rendah.
Angka kekerasan yang rendah dari emas murni bisa menyebabkan logam ini
dipandang sebagai kontraindikasi bila digunakan sebagai bahan restorasi.

Bagaimanaun juga, kemampuan tempanya dan kurangnya permukaan oksida setelah


degassing memungkinkan restorasi dipadatkan langsung ke dalam kavitas. Selama
proses pemadatan, kekuatan emas akan ditingkatkan melalui pendinginan atau
pengerasan. Tidak adanya permukaan oksida pada emas dan beberapa logam lain
memungkinkan dilakukan cold welding, yaitu welding tambahan lapisan secara
bersamaan dibawah tekanan pada suhu mulut dan bukan dengan melelehkannya,
seperti yang terjadi pada pengelasan sebagian besar logam lain.
Potongan-potongan emas ditempatkan pada kavitas yang sudah dipreparasi
dan dilas menjadi satu dengan tekanan dari alat penekan (kondensor) yang sesuai.
Proses ini dikenal sebagai pemadatan atau kondensasi, dan tambalan emas dibangun
menjadi sebuah massa yang koheren melalui teknik cold-welding. Kohesi terjadi dari
pengikatan logam antara lapisan-lapisan tambahan emas dibawah tekanan pemadatan.
Proses ini menekan atom-atom emas sehingga berkontak erat dengan atom-atom
dilapisan emas berikutnya dan jelas mensyaratkan bahwa atom-atom permukaan yang
tidak bersih, lapisan gas, sisa minyak, atau kontaminasi lainnya dihindari atau
dihilangkan sebelum digunakan.
Komposisi Dental Casting Gold Alloy
Emas murni tidak pernah dipakai dalam pengerjaan crown dan bridge, tetapi
selalu dalam bentuk alloy atau logam campur. Pencampuran logam-logam lain pada
emas ini berdasarkan teori substitusionil, dimana atom-atom logam yang
ditambahkan akan mengganti tempat atom-atom emas didalam space latticenya. Teori
ini memerlukan beberapa syarat antara lain :
1. Atom-atom kedua logam harus sama besar atau hampir sama
2. Space latticenya / kisi kristal sama atau mirip
3. Parameter kisi tidak banyak berbeda. Parameter kisi adalah jarak antara kedua
atom yang berdekatan dalam unit cell.

Dengan teori substitusionil, maka atom tersebut baik dalam keadaan cair
maupun dalam keadaan padat dapat larut dalam semua perbandingan dan akan larut
membentuk solid solution. Dalam Kedokteran Gigi yang penting adalah alloy emas
dengan logam Ag, Cu dan sering dengan tambahan salah satu atau lebih dari logam
Pt, Pd, Ni, Ir, Zn yang disesuaikan dengan keperluan tertentu.
Klasifikasi Gold Alloy
Ada beberapa jenis logam campur untuk dipergunakan di kedokteran gigi yang
sekarang ini tersedia dipasaran dunia. Sebagian logam campur ini dirancang untuk
keperluan mahkota logam penuh, jembatan, onlay dan inlay.
Menurut American Dental Association (ADA) Specification No. 5 logam emas
diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan kandungan emasnya ke dalam 4 tipe,
yaitu:
Tipe I (Lunak)
Dental casting logam emas tipe I ini merupakan logam campur emas dengan 79-92.5
% emas. Komposisi dari logam ini terbatas dari emas, perak, tembaga, dan seng
ditambah platinum. Titik cair logam emas tipe I ini relatif tinggi berkisar 940 0C
(12250 F). Logam emas tipe I memiliki kekerasan antara 40-75 Brinell Hard Number
(BHN). Logam ini pada umumnya sedikit sedikit ductil, menunjukan proportional
limit yang rendah, dengan nilai elongasi yang berkisar 25% 30%. Yield strength dari
logam emas ini berkisar antara 100-110 Mpa, yang menunjukan bahwa aloi tipe ini
dapat langsung dibentuk dengan tekanan dari instrument kedokteran gigi.
Tipe II (Sedang)
Dental casting logam tipe II merupakan logam campur emas dengan kandungan emas
75-78% emas. Pada aloi ini mempunyai komposisi tembaga lebih banyak dari tipe I
dengan titik cair yang berkisar antara 9000 C (16500F). Logam emas tipe II memiliki

kekerasan berkisar antara 90 -140 BHN. Logam ini memiliki nilai elongasi hampir
sama
dengan alloy tipe I, yang menunjukan bahwa logam ini mempunyai ductility yang
cukup baik. Logam emas ini mempunyai yield strength yang lebih tinggi dari logam
emas tipe I. Kemampuan dari aloi tipe II ini untuk dibentuk dan dimanipulasikan
langsung dengan instrument kedokteran gigi tidak semudah tipe I.
Tipe III (Keras)
Dental casting logam emas tipe III merupakan logam campur emas dengan
kandungan 62-78% emas. Komposisi dari logam emas ini memiliki persentasi yang
tinggi dari elemen pengeras seperti platinum dan palladium, karena logam ini
memerlukan kekuatan yang besar. Logam emas tipe III ini lebih keras dari kedua tipe
di atas, sehingga dapat menggantikan penggunaan logam emas tipe I dan tipe II.
Logam emas tipe III memiliki kekerasan 90-140 BHN. Logam emas ini memiliki titik
lebur sama dengan tipe II yaitu berkisar antara 900 0C (16500F). Dengan proportional
limit sebesar 290 Mpa.
Tipe IV
Dental casting logam emas tipe IV ini merupakan logam campur emas dengan
kandungan 60 -71.5%. emas. Komposisi dari tipe IV ini mengandung jumlah logam
murni sedikit sekali. Logam campur emas ini mempunyai sifat yang sangat keras
sekali dengan kekerasan diatas 130 BHN. Titik cair dari tipe IV ini dibawah dari tipe
tipe lainnya 8700 C (16500F).
Porositas Gold Alloy
Dalam prakteknya tidak mungkin untuk menahan terjadinya porosity tetapi
dapat dikurangi dengan beberapa prosedure (cara). Porosity mengurangi kekurangan
dan kekerasan hasil casting tersebut. Bila terdapat pada permukaan, porosity tersebut

merupakan tempat melekatnya foot debris (sisa makanan) dan tarnishing agent.
Apabila meluas dari permukaan restorasi kedinding gigi yang merupakan suatu celah
akan menyebabkan terjadinya karies sekunder. Hal ini dapat terjadi oleh karena
hambatan logam yang mencair sepenuhnya sewaktu solidification (pengerasan).
Contoh: apabila saluran (canal) tertutup sebelum mold terisi penuh, akan terjadi
porositi dengan porositi yang khas berbentuk irregular.
Tipe II dari porositi disebabkan oleh karena masuknya gas. Copper, silver, Pt dan Pd
dapat menyerap oksigen selama mereka mencair. Setelah mengeras gas-gas ini akan
menyebabkan porositi dengan bentuk spherical (bulat). Juga udara dapat tertahan
dalam metal yang mencair tersebut sewaktu mereka ditekan ke dalam mold dan
porositi dengan tipe yang sama terjadi.

B. Steel dan Stainless Steel


Steel dan stainless steel merupakan bagian dari dental material yang banyak
digunakan pada sebagian besar alat-alat kedokteran gigi. Steel didefinisikan sebagai
alloy yang terbentuk dari besi dan karbon dengan konsentrasi antara 0.5 % 2.0 %.
Stainless steel adalah suatu steel yang mengandung lebih dari 11 % chromium,
biasanya antara 11.5 % 27 %, dan bisa juga mengandung nikel, panadium,
molybdenum, dan niobium dalam jumlah yang terbatas. Pertama sekali stainless steel
ditemukan oleh Brearly of shefield pada tahun 1913 secara kebetulan ketika ditambah
chromium pada steel sehingga diperoleh suatu steel yang lebih resisten terhadap
tarnish dan korosi. Dan pertama kali digunakan sebagai basis protesa pada tahun
1921.
Klasifikasi dan Komposisi
Berdasarkan sifat dan konsentrasi karbonnya maka steel dapat dibagi atas :

Eutectoid steel mengandung 0.8% karbon

Hypoeutectoid steel mengandung kurang dari 0.8%

Hypoeutectoid steel mengandung 0.8-2.0 % karbon

Sedangkan stainless steel berdasarkan sifat dan konsentrasi chromiumnya dibagi atas

Ferritic stainless steel (11.5 27 % chromium)

Martensitic stainless steel (11.5 17 % chromium)

Austenitic stainless steel (16 26 % chromium)

Pada Austenitic stainless steel dikenal bentuk 18 8 stainless steel dengan komposisi
18% chromium, 8% nikel dan 0.15% karbon. Tipe inilah yang paling banyak
digunakan di Kedokteran Gigi, karena sangat resisten terhadap tarnish dan korosi.
Disamping itu berdasarkan komposisinya, AISI (American Iron & Steel Institute)
membagi pula stainless steel atas Austenititc, martensitic, ferrisitic dan non standard
stainless steel yang dibedakan atas beberapa seri, yaitu antara seri 201-446.
Sedangkan non standard adalah tipe stainless steel yang tidak diberi seri tetapi juga
banyak digunakan.
Sifat Steel dan Stainless Steel
Steel tidak begitu resisten terhadap korosi tetapi dengan penambahan chromium,
resistensi terhadap korosi dapat meningkat. Steel mempunyai kekerasan 400-700
BHN. Faktor yang mempengaruhi kekerasan dari steel adalah:

Kadar karbon

Banyaknya austenite berubah menjadi mastensit selama proses pendiginan.

Dengan penambahan logam lain seperti cobalt, molybdenum, manganes dan


silicon.

Sifat mekanis dari steel dapat berubah oleh heat treatment yaitu annealing, hardening
dan tempering. Stainless steel yang banyak digunakan di Kedokteran Gigi adalah 188 stainless steel. Sifat mekanis dari stainless steel ini :

Hardness

100-200 BHN

Mod. Elasticity

200 GN/m2

Tensile strength

1700 MN/m2

Yield strength

1500 MN/m2

Ductility

5%

18-8 stainless steel merupakan tipe stainless steel yang paling resisten terhadap
korosi, ini merupakan efek passivity dari chromium yang membentuk suatu oxyda
layer (oxide film) yang sangat tipis dan transparan tetapi kuat dan kedap air. Lapisan
ini bisa terbentuk Cr2O3 atau FeCr2O3 yang mencegah terjadinya tarnish dan korosi.
Faktor yang mempengaruhi resisten terhadap korosi yaitu :

Adanya sifat passivity dari chromium

Resistensi makin tinggi dengan makin banyaknya kadar chromium pada


stainless steel tersebut

Nikel dapat menambah resistensi terhadap korosi

Molybdenum dapat menambah efek passivity

Larutan hypoclorite/ion chlorine dapat menyebabkan terjadinya tarnish dan


korosi.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi Sifat Stainless Steel


Pemanasan diatas 9000C cenderung terjadinya prasipitas chromium dari solid solution
didekat permukaan. Dengan berkurangnya chromium maka akan menyebabkan pula
berkurangnya resistensi stainless steel terhadap tarnish dan korosi. Efek pemanasan
yang menyebabkan berkurangnya resistensi korosi ini disebut Weld-decay.
Weld-decay dapat dikurangi dengan 2 cara, yaitu :
1. Mengurangi kadar karbon pada stainless steel
2. Menambah logam lain, misalnya Titanium dan Miobium.
Penggunaan Steel dan Stainless Steel di Kedokteran Gigi
Steel antara lain digunakan untuk pembuatan bberapa jenis dental instrument,
misalnya forceps, chisel, burnisher excavator, steel bur, cutting instrument, amalgam
condenser dan lain-lain. Stainless Steel banyak digunakan pada alat-alat kedokteran
gigi terutama yang memerlukan resistensi terhadap tarnish dan korosi. Disamping itu
dapat pula digunakan untuk basis protesa dan keperluan ortodonthi.
C. Cobalt Chromium Alloy
Bahan ini dipakai terutama untuk pembuatan metal patrial denture. Hampir 70%
cobalt dan 30% chromium. Perubahan daripada ratio ini, seperti penambahan nikel
menghasilkan sifat fisis dan resistensi terhadap tarnish yang lebih rendah. Cobalt
berguna untuk memperbesar strength, rigidity, dan hardness.

Sifat Fisis
Alloy-alloy ini mempunyai density yang lebih kecil daripada dental gold alloy.
Juga bahan ini lebih ringan. Cobalt Chrom Alloy lebih keras daripada gold alloy,
kekerasan alloy ini yang lebih besar daripada enamel gigi sering enyebabkan abrasi
pada struktur gigi. Modulus of Elasticity daripada alloy ini lebih besar daripada gold
alloy. Oleh karena itu pesawat dapat dibuat tipis sehingga lebih ringan. Pada
umumnya persentase pemanjangan daripada lloy ini sebanding dengan tipe IV gold
alloy.
DAFTAR PUSTAKA
1. Phillips. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi 10th ed, Jakarta. EGC, 2003:
27-39
2. Syafiar L, Rusfian, Sumadhi S, Yudhit A, Harahap KI, Adiana ID. Bahan Ajar
Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran gigi. 1 st ed, Medan. USU Press,
2011: 223-38
3.

Ratnakrishanan SS. Peranan Emas dalam Logam Campur Emas Kedokteran


Gigi. < http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24158/6/Cover.pdf>.
(22 Desember 2011)
1. Anonymous. Pengertian dan Klasifikasi Logam Campur Emas. <
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24158/3/Chapter
%20II.pdf>. (22 Desember 2011)