Anda di halaman 1dari 12

Teknik Material

Analisis Pengaruh Kadar Karbon Terhadap Mampu Keras Baja


dengan Metode Jominy Test
Ahmad Seng

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Khairun


Jl. Raya Pertamina Kel Gambesi Ternate
Email : ahmadseng@yahoo.com
Abstrak
Perkembangan Teknologi yang begitu pesat dalam dekade belakangan ini memberikan
dampak positif dan negatif bagi manusia, salah satu dampak positif adalah muncul pirantipiranti lunak dan piranti-piranti keras yang canggih sehingga memudahkan para teknolog untuk
membuat inovasi-inovasi khususnya dibidang material. Salah satu cara sifat mekanik dari logam
adalah proses perlakuan panas.
Dalam penelitian ini dilakukan suatu perlakuan panas terhadap baja karbon, salah satu
prosedur pengujian standar yang digunakan untuk memperkirakan kekerasan pada penggunaan
tertentu dan membandingkan distribusi kekerasan antara baja karbon St 42, St 60, dan St 70,
pengujian ini adalah pengujian jominy. Pada pengujian ini berupa batang bulat berdiameter 25
mm dan panjang 100 mm, yang dipanaskan pada temperatur 7500 C, 8000 C, 8500 C, 9000 C,
dan 9500 C.
Setelah mencapai temperatur tersebut, kemudian disemprotkan pakai air pada bagian bawah
atau ujungnya tanpa membasahi sisinya sampai mencapai suhu kamar, kemudian spesimen
tersebut diukur kekerasannya pada selang 2 mm dari ujung yang disemprot, kekerasan diukur
dengan pengukuran kekerasan Rockwell dan hasil nilai kekerasannya yang telah dirata-ratakan
dapat digambarkan dalam bentuk grafik hubungan antara kekerasan dengan jarak.
Dengan demikian kita dapat membandingkan distribusi kekerasan dari spesimen baja
karbon St 42, St 60 dan St 70 yang telah mengalami perlakuan panas pada temperatur yang
bervariasi serta mengalami laju pendinginan dengan menggunakan Metode Jominy Test.
Kata Kunci. Jominy Test, Mampu Keras Baja.

PENDAHULUAN
Perkembangan industri dewasa ini, seperti industri konstruksi dan rekayasa, maka
peranan bahan-bahan logam, baik fero maupun non fero sangat dibutuhkan dan seluruh produksi
industri logam didunia. Baja adalah yang terbanyak karena merupakan logam yang banyak
dipergunakan dalam bidang teknik. Bahan yang dibutukan menurut kualitas yang sesuai dengan
penggunaannya yang menyangkut sifat-sifat yang di inginkan. Hal inilah yang mendorong
semakin berkembangnya penelitian yang berhubungan dengan logam. Salah satu jalan yang
ditempuh untuk memenuhi logam dalam industri konstruksi dan rekayasa adalah dengan
memberikan proses perlakuan panas (heat treatmen) yaitu proses perlakuan logam dengan jalan
memanaskan logam sampai temperatur tertentu kemudian di dinginkan. Logam yang mengalami
proses ini dimaksudkan untuk mendapatkan sifat-sifat mekanik yang diinginkan seperti kekuatan,

kekerasan, dan keuletan. Sifat-sifat logam terutama sifat mekanik dan teknologi sangat
dipengaruhi oleh struktur mikro dari komposisi tersebut.
Komposisi dari logam tersebut akan mempunyai sifat yang berbeda, bila susunan struktur
mikronya dari baja yang telah mengalami perlakuan panas sangat tergantung pada kecepatan
pendinginan dan temperatur austenit ke temperatur kamar. Karena perubahan struktur ini maka
dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki oleh bahan yang mengalami perlakuan panas
tersebut akan berubah.
Salah satu sifat dari suatu logam yang penting untuk diketahui adalah sifat kekerasannya,
karena banyak sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kekerasan. Kekerasan sangat
berhubungan erat dengan kekuatan oleh karena itu dalam membicarakan kekerasan pada suatu
bahan dengan angka-angka sudah tercerminkan kekuatan-kekuatan bahan tersebut dengan proses
perlakuan panas yang telah dilakukan pada bahan tesebut sehingga bahan menjadi lebih kuat dan
keras.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sifat mampu keras baja karbon St
42, St 60, dan St 70 dengan jarak penyemprotan air dari nossel ( laju pendinginan ) pada
temperatur 7500 C, 8000 C, 8500 C, 9000 C dan 9500 C.
Penelitian ini dilakukan dengan menganggunakan baja karbon yakni St 42, St 60 dan St
70 yang merupakan jenis baja yang banyak digunakan pada industry manufaktur.
Media pendingin yang digunakan adalah air dengan perlakuan panas pada temperatur
yang diberikan antara lain 750 C, 800 C, 850 C, 900 C dan 950 C. Dalam pendinginan
dilakukan dengan cepat dan menyemprot spesimen dari bawah tanpa membasahi sisi-sisinya,
kemudian dilakukan pengujian kekerasan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada masyarakat pemakai,
mengenai sifat mampu keras pada baja St 42, St 60 dan St 70 dengan perlakuan panas pada
temperatur 750C, 800C, 850C, 900C, dan 950C dengan pengujian kuens ujung jominy.
TINJAUAN PUSTAKA
Logam adalah unsur-unsur yang mempunyai sifat-sifat yang kuat, liat, keras, getas dan
penghantar listrik atau panas. Karena sifat-sifat tersebut maka logam dipergunakan untuk
berbagai macam keperluan sehingga kehidupan manusia kini tidak bisa lepas dari logam. Dalam
berbagai bidang teknik, logam murni jarang dipergunakan, yang banyak dipakai adalah paduanpaduannya yaitu campuran antara dua unsur atau lebih logam dengan logam atau dengan
metaloid.
Sifat Mekanik
Sifat-sifat mekanik dari logam adalah kelakuan dan ketahanan logam terhadap beban-beban
terikat, puntiran, gesekan, tekanan, goresan, baik beban-beban statis atau dinamis pada
temperatur biasa, temperatur tinggi atau temperatur di bawah nol. Setiap sifat mekanik dapat
diuji dengan menggunakan peralatan mekanik dan dievaluasi untuk menentukan kegunaan logam
atau perlakuan panas yang tepat untuk terapan tertentu. Sifat mekanik suatu logam meliputi
kegetasan, keliatan, elestisitas, kekerasan, plastisitas, ketangguhan takik dan kekuatan.
Kekerasan dapat didefenisikan sebagai ketahanan bahan (logam) terhadap penetrasi penekan.
untuk mengetahui nilai kekerasan, Metode yang sering digunakan adalah metode Vickers,
Brinnell den metode Rockwell.
Kekuatan yaitu kemampuan untuk menahan perubahan bentuk atau ukuran apabila dikenakan
gaya-gaya luar. Ada tiga jenis dasar tegangan yaitu Tegangan tarik, tegangan tekan ( bending test
) dan tegangan geser.

Kekuatan tarik merupakan salah satu sifat bahan yang dipergunakan untuk memperkirakan
karakteristik bahan dalam perencanaan suatu konstruksi. Kekuatan tarik dapat ditentukan dengan
pengujian tarik yang berbanding terbalik dengan luas penampang mula-mula.
Elastisitas adalah kemampuan suatu logam untuk meregang pada bahan tertentu, kemudian
kembali kebentuk dan ukuran semula pada waktu beban lepas. Batas elastisitas adalah beban
terbesar yang dapat ditahan oleh material agar material dapat kembali kebentuk dan ukurannya
semula. apabila beban dilepas. Batas elastisitas dapat dengan mudah ditentukan pada diagram
tegangan regangan yaitu batas garis lurus grafik tegangan regangan seperti tampak pada
gambar 1.

( Gambar 1) Diagram hubungan tegangan - regangan


Dimana titik A adalah batas elastis yaitu daerah yang masih berlakunya Hukum Hook, titik B
adalah tegangan tertinggi yang belum memberikan regangan plastis. Tegangan tersebut sering
disebut tegangan Yielding (y). Titik D adalah tegangan tertinggi yang dapat diberikan sebagai
tahanan atau reaksi terhadap beban dan titik E adalah titik patah.
Sifat plastisitas suatu bahan untuk menunjukan suatu keadaan di mana material tersebut
jika dibebankan terjadi deformasi yang tetap (permanen). Awal terjadinya deformasi di tandai
dengan terjadinya pergeseran atom- atom atau molekul-molekul dalam material tersebut. Logam
yang mengalami deformasi plastis mempunyai kekuatan yang tinggi akibat distorsi yang terjadi,
sehingga atom-atom atau molekul-molekul semakin rapat.
Kekuatan suatu material dinyatakan oleh modulus elastisitas yang disebut Modulus
Young. Modulus Young menyatakan hubungan antara tegangan dan regangan yang terjadi setiap
titik pada daerah elastis.
Tegangan ( )
Modulus elastisitas (E) =

(kg/mm )
Regangan ( )
Ketangguhan takik (kekuatan benturan) adalah kemampuan suatu logam untuk tidak
pecah atau retak karena gaya benturan apabila terdapat takik atau pengganda tegangan pada 1
logam tersebut. Takik atau tekukan pada suatu komponen akan menurunkan ketahanan kejutan
logam komponen tersebut karena takik akan mengkonsentrasikan tegangan pada daerah yang
sempit.
Sifat Fisik
Sifat fisik suatu bahan pada umumnya menyangkut karasteristik thermal, menyangkut daya
hantar panas, muai panas, panas jenis. Dengan naiknya temperatur maka terjadi pergerakan
elektron dalam atom yang dapat menimbulkan pemuaian.

Sifat Teknologi
Sifat teknologi suatu bahan didefenisikan sebagai kemampuan bahan tersebut untuk dibentuk.
Sifat teknologi ini mencakup sifat mampu las, mampu tempa, mampu mesin dan sifat pengerjaan
panas atau dingin.
Menurut baja standar AISI, maka baja dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Baja karbon rendah sekali ( Mild Steel ).
2. Baja karbon rendah ( Low Carbon Steel )
3. Baja karbon menengah ( Midle Carbon Steel ).
4. Baja karbon tinggi ( High Carbon Steel ).
Diagram fasa Fe C sangat bermanfaat untuk memahami dan menerangkan sifat dari logam.
Diagram ini merupakan landasan untuk proses perlakuan panas pada kebanyakan jenis baja yang
kita kenal.
Pada diagram ini dapat dibedakan menjadi dua macam material teknik berdasarkan
kandungan karbonnya. Untuk kadar karbon antara 0.008 2,0 persen disebut baja, sedangkan
untuk tingkat kandungan karbonnya antara 2,0 6,67 persen disebut besi cor. Bila diperinci lagi
maka baja dapat diklasifikasikan menjadi baja hypoeutectoid dengan kandungan karbon antara
0,008 0,83 persen, baja eutectoid dengan kandungan karbon adalah 0,83 2,0 persen.

(Gambar 2). Diagram Fasa Fe - C


Mampu Keras Baja
Mampu keras merujuk pada sifat baja, yang ditentukan dalam pengerasan akibat proses quench
dari temperatur austenisasinya. Mampu keras tidak dikaitkan dengan kekerasan maksimum yang
dapat dicapai oleh beberapa jenis baja. Kekerasan permukaan dari suatu komponen yang terbuat
dari baja tergantung pada kadar karbon dan laju pendinginan, dalam hal pengerasan untuk
memberikan harga kekerasan yang sama hasilnya dari suatu proses quench merupakan fungsi
dari kemampu kerasan. Kemampu kerasan semata mata tergantung pada presentase unsur
unsur paduan, besar butir austenit, temperatur austenisasi, lama pengerasan dan struktur mikro
baja yang bersangkutan sebelum dikeraskan.
Faktor seperti ukuran komponen, bentuk dan kondisi pengoperasiannya. Untuk
komponen-komponen, mampu keras dari suatu komponen jaga tergantung pada beberapa
komponen yang mengalami tegangan yang tinggi, terutama tegangan tarik, diperlukan kombinasi
antara kekuatan dan ketangguhan yang baik, kondisi tersebut dapat dicapai melalui pengerasan
martensit kemudian diikuti dengan proses temperatur yang sesuai.

Mengquench komponen seperti itu sehingga diperoleh martensit sekitar 80 persen yang
dinilai memadai. Baja karbon digunakan untuk membuat produk yang memiliki penampang
tingkat, dan juga diperlukan suatu baja yang memiliki mampu keras yang lebih baik, jika
komponen yang terbuat dari baja hanya dibebani dengan bahan moderat (sedang) maka
komponen tersebut cukup diquench sehingga menghasilkan martensit sekitar 50 persen.
Perlu dibedakan antara pengertian kekerasan dan mampu keras (hardenability).
Kekerasan adalah ukuran daripada daya tahan terhadap deformasi plastis, mampu keras adalah
kemampuan bahan untuk dikeraskan
Hubungan antara kekerasan dengan meningkatnya kadar karbon dalam baja. Kekerasan
maksimum hanya dapat dicapai bila terbentuk martensit 100%. Baja yang dengan cepat
bertransformasi dari austenit menjadi ferit dan kardiba mempunyai kemampu kerasan yang
rendah karena dengan terjadinya transformasi pada suhu tinggi, martensit tidak terbentuk.
Sebaliknya, baja dengan transformsi yang lambat dari austenit keferit dan kardiba mempunyai
kemampukerasan yang lebih besar. Kekerasan mendekati maksimum dapat dicapai pada baja
dengan kemampu kerasan yang tinggi dengan pencelupan sedang dan dibagian tengah baja dapat
dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat. Hal ini dapat dilihat pada
gambar adalah tampak kekerasan maksimum akibat martensit dibandingkan dengan kekerasan
yang ditimbulkan struktur mikro perlit. Untuk dapat mencapai kekerasan maksimum, harus
dicegah terjadinya reaksi + kardiba selama pencelupan
70

Kekerasan Rc

60

Martensit

50

Kekerasan
Maksimum

40
30

Ferit + Perlit
20

10

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

Komposisi, % C

(Gambar 3). Hubungan antara kekerasan maksimum dan kadar karbon dalam baja karbon.
Kurva mampu keras Bagi setiap jenis baja terdapat hubungan langsung dan konsisten
antara kekerasan dan laju pendinginan. Selain itu landasan teori untuk analisa kuantitatif cukup
rumit. Untunglah bahwa ada cara pengujian standar yang singkat, memungkinkan ahli teknik
memperkirakan kekerasan penggunaan tertentu dan membandingkan kekerasan antara berbagai
jenis baja.
Pengujian Kekerasan
Pada prinsipnya cara pengujian kekerasan Rockwell sama dengan cara pengujian kekerasan
Brinell dan Vickers, tetapi ada perbedaan pada pengukuran jejak dan pembebanannya. Pada
pengujian kekerasan Rockwell pengukuran langsung dilakukan oleh mesin, dan mesin langsung
menunjukan angka kekerasan dari bahan yang diuji, cara ini lebih cepat dan akurat.
Pada cara pengujian kekerasan Rockwell yang normal, mula mula permukaan logam yang
diuji ditekan oleh indikator dengan gaya tekan 10 kg, beban awal ( Minor load Po ) sehingga
ujung indikator menembus permukaan sedalam h ( lihat gambar 11 ) setelah itu penekanan
diteruskan dengan memberikan beban utama ( Major load P ) setelah beberapa saat, kemudian

beban utama dilepas, hanya tinggal beban awal pada saat ini kedalaman penetrasi ujung indentor
adalah h

Gambar 4). Indentor pengujian Rockwell


Keterangan Gambar :
0 0 Posisi sebelum Indensasi
1 1 Penetrasi pada saat beban awal P
2 2 Penetrasi pada saat beban penuh
3 3 Penetrasi pada saat beban utama dilepas
METODE PENELITIAN
Langkah - langkah yang diambil dalam proses penelitian mampu keras baja St 42, St 60 dan St
70, dengan maksud untuk menganalisa sifat mampu keras baja tersebut terhadap laju pendinginan
dengan suhu temperatur yang bervariasi pada pengujian Jominy.
Adapun langkah langkahnya yaitu ;
1. Penyiapan spesimen
Penyiapan spesimen untuk masing masing pengujian adalah :
A. Spesiman uji tarik
Spesimen uji tarik dibuat dari spesimen yang belum mengalami perlakuan
panas ( masih
normal ). Ukuran spesimen yang dibuat berdasarkan Standar AISI seperti yang terlihat pada
gambar 12.

( Gambar 5 ). Spesimen Pengujian Tarik

B. Spesimen uji kekerasan


Spesimen uji kekerasan ini, pada kedua sisi akan digerinda sampai rata, agar kedua sisi
tersebut dapat digunakan untuk mempermudah didalam pengujian kekerasan setelah spesimen
tersebut mengalami perlakuan panas.
2. Pengujian tarik.
Pengujian tarik ini, dapat dilakukan sebelum perlakuan panas, tujuan dari pada pengujian
tarik yaitu untuk mengetahui apakah baja yang digunakan dalam penelitian ini telah termasuk
baja St 42, St 60 dan St 70
3. Pemanasan spesimen uji kekerasan.
Spesimen yang akan diuji kekerasannya, dipanaskan dalam tungku dengan
temperatur
7500 C, 8000 C, 8500 C, 9000 C. dan 9500 C
Tujuan dari pada pemanasan tersebut adalah untuk menghasilkan austenisasi yang sempurna.
4. Pendinginan Spesimen dengan Jominy Test.
Spesimen setelah dipanaskan, dipindahkan dengan cepat dan ditempatkan pada tengah
lingkaran jominy, dan disemprotkan dengan air dari bagian bawah spesimen tanpa membasahi
sisi sisinya. Air yang ada dalam drum disemprotkan terus menerus sampai seluruh bagian
spesimen itu dingin atau mencapai suhu kamar. Setelah spesimen itu dingin, permukaan yang
datar diuji kekerasannya dikikir untuk menghilangkan dekaburasi pada spesimen. Hal ini
dapat dilihat pada gambar 13.
Keterangan Gambar :
1. Penyangga Spesimen
2. Spesimen
3. Nossel
4. Katup
5. Pipa
6. Sambungan Pipa
Gambar. 6. Spesimen dan Peralatan Jominy Test
5. Pengujian Kekerasan dengan Rockwell
Pengujian kekerasan dilakukan setelah spesimen mengalami perlakuan panas.
Metode pengujian yang digunakan adalah Metode pengujian kekerasan Rockwell, dengan
skala pada pengujian ini adalah skala C.

Gambar. 7. Diagram Alir Proses Penelitian

BAHAN

PEMBUATAN SAMPEL
UJI TARIK

UJI TARIK
PEMBUATAN SAMPEL
JOMINY TEST

SAMPEL I
St 42
St 60
St 70

SAMPEL II
St 42
St 60
St 70

SAMPEL III
St 42
St 60
St 70

SAMPEL IV
St 42
St 60
St 70

SAMPEL V
St 42
St 60
St 70

PERLAKUAN PANAS

TEMPERATUR
750 0C

TEMPERATUR
800 0C

TEMPERATUR
850 0C

PROSES PENDINGINAN
SECARA JOMINY

PENGUJIAN KEKERASAN
ROCKWELL SKALA C

DATA HASIL DAN


PEMBAHASAN
KESIMPULAN

HASIL PENELITIAN

TEMPERATUR
900 0C

TEMPERATUR
950 0C

90

80

80

70

70

60

KEKERASAN HRC

KEKERASAN HRC

90

60

ST 42

50

ST 60
40

ST 70

50

ST 42
ST 60

40

ST 70

30
30

20

20

10

10
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

10

20

Jarak dari ujung yang disemprot, (mm)


( Jarak Jominy )

Temp Pemanasan 750 0C

40

50

60

70

80

90

Temp Pemanasan 800 0C

90

90

80

80
70

60

50

ST 42
ST 60

40

ST 70

KEKERASAN HRC

70

KEKERASAN HRC

30

Jarak dari ujung yang disemprot, ( mm )


( Jarak Jominy )

60
50

ST 42
ST 60

40

ST 70

30

30

20

20

10
10

0
0

0
0

10

20

30

40

50

60

70

Jarak dari ujung yang disemprot, ( mm )


( Jarak Jominy )

Temp Pemanasan 850 0C

80

90

10

20

30

40

50

60

70

Jarak dari ujung yang disemprot, ( mm)


( Jarak Jominy )

Temp Pemanasan 900 0C

80

90

90
80

KEKERASAN HRC

70
60
50

ST 42
ST 60

40

ST 70

30
20
10
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

Jarak dari ujung yang disemprot, ( mm )


( Jarak Jominy )

Temp Pemanasan 950 0C

PEMBAHASAN
Setelah melakukan pemanasan, pendinginan dengan metode jominy test dan juga telah diuji
mampuan kerasannya pada baja St 42, baja St 60 dan baja St 70 maka dapat digambarkan bahwa
setiap spesimen baja St 42, baja St 60 dan baja St 70 memperoleh hasil nilai kekerasan yang
berbeda beda Adapun pengujian kekerasan yang dilakukan pada setiap spesimen baja St 42,
baja St 60 dan baja St 70 yang telah mengalami perlakuan panas dengan temperatur yang berbeda
- bada antara lain pada temperatur 7500C, 8000C, 8500C, 9000C, dan 9500C.
Hal ini dapat dilihat pada grafik hasil Pengujian Kekerasan yang pembahasannya
sebagai berikut :
Untuk temperatur 750 C.
Pada baja St 42, diperoleh hasil nilai kekerasan tertingginya adalah 41,7 Rockwell (HRC),
pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai kekerasan terendah adalah 15,8 Rockwell (HRC),pada jarak 98
(mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
: 41,7 (HRC), 38,8 (HRC),35,2 (HRC), 32,2 (HRC), 28,2 (HRC), 24,2 (HRC), 21,9 (HRC), 20,1
(HRC), 18,7 (HRC), 16,9 (HRC). Perlu diperhatikan bahwa kecenderungan terjadi penurunan
nilai kekerasan pada setia titik pengukuran mulai dari jatak 0 s/d 90 mm, terjadi pada 3(tiga) jenis
baja maupun pada variasi temperature.
Untuk Pada baja St 60, temperatur 750C yang telah diuji mampu kerasannya dapat
diperoleh hasil nilai tertingginya adalah 54,9 Rockwell (HRC), pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai
kekerasan terendah adalah 27,7 Rockwell (HRC), pada jarak 98 (mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
= 54,9 (HRC), 51,8 (HRC), 49,9 (HRC), 47,9 (HRC), 45,5 (HRC), 43,5 (HRC), 40,0 (HRC ),
36,9 (HRC), 33,1 (HRC), dan 29,5 (HRC).

Demikian pula Pada baja St 70, diperoleh hasil nilai kekerasan tertingginya adalah 67,1
Rockwell (HRC), pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai kekerasan terendah adalah 40,0 Rockwell
(HRC), pada jarak 98 (mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
= 67,1 (HRC), 63,2 (HRC), 61,0 (HRC), 58,1 (HRC), 56,1 (HRC), 54,1 (HRC), 51,4 (HRC ,
48,6 (HRC), 45,8 (HRC),
42,0 (HRC).
Hal yang sama terjadi pada temperatur 800 s/d 950 C dimana distribusi temperature juga
mengalami penurunan nilai kekerasan mulai dari jarak 10 s/d 90 mm.sebagai contoh
Untuk temperatur 950 C.
Pada baja St 42 , temperatur 950 C yang telah diuji mampu kerasannya dapat diperoleh
hasil nilai kekerasan tertingginya adalah 59,3 Rockwell (HRC), pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai
kekerasan terendah adalah 39,6 Rockwell (HRC), pada jarak 98 (mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
= 59,3 (HRC), 57,8 (HRC), 55,2 (HRC), 52,0 (HRC), 50,5 (HRC), 48,3 (HRC), 46,0 (HRC),
44,9 (HRC), 43,1 (HRC), 40,1 (HRC).
Pada baja St 60, temperatur 950 C yang telah diuji mampu kerasannya dapat diperoleh
hasil nilai kekerasan tertingginya adalah 75,1 Rockwell (HRC), pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai
kekerasan terendah adalah 53,1 Rockwell (HRC), pada jarak 98 (mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
= 75,1 (HRC), 74,7 (HRC), 72,7 (HRC), 69,5 (HRC), 66,1 (HRC), 63,0 (HRC), 60,0 (HRC),
56,9 (HRC), 54,9 (HRC), 53,8 (HRC).
Pada baja St 70, temperatur 950 C yang telah diuji mampu kerasannya dapat diperoleh
hasil nilai kekerasan tertingginya adalah 80,5 Rockwell (HRC), pada jarak 0 (mm) dan hasil nilai
kekerasan terendah adalah 60,0 Rockwell (HRC), pada jarak 98 (mm).
Sedangkankan distribusi kekerasannya pada jarak 0 ,10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 90 mm adalah
= 80,5 (HRC),79,5 (HRC), 77,5 (HRC),
74,5 (HRC), 72,7 (HRC), 70,5 (HRC), 68,2
(HRC), 66,1 (HRC), 64,4 (HRC), 62,5 (HRC).
Analisa hasil pengujian kekerasan secara umum.
Dari grafik hubungan antara kekerasan dengan jarak dari ujung yang disemprot secara
umum dapat di analisa bahwa semakin dekat dengan ujung spesimen yang disemprot maka
kekerasannya semakin tinggi, hal ini terjadi karena proses pendinginannya yang cepat.
Distribusi kekerasan pada grafik hubungan antara kekerasan dengan jarak dari ujung yang
disemprot pada temperatur 9000C yaitu dari hasil pengujian kekerasan baja karbon St 70 dari titik
0 60 distribusi kekerasannya merata kemudian pada titik 60 98 menurun lebih besar.Hal ini
menunjukkan bahwa St 70 mempunyai sifat mampu keras yang lebih baik dibanding St 60 dan St
42.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada semua spesimen uji di ambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Pada pengujian kekerasan menunjukkan bahwa material dengan pemanasan pada temperatur
yang bervariasi menghasilkan nilai kekerasan yang berbeda pula.
2. Kekerasan yang paling dekat dengan ujung spesimen yang disemprot akan menghasilkan
nilai kekerasan tertinggi, karena pendinginannya paling cepat.
3. Dari tiga jenis baja yang diuji, maka baja st 70 mempunyai sifat mampu keras yang lebih
baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Amstead, B. H, 1985. TEKNOLOGI MEKANIK,Diterjemahkan oleh Djaories S,edisi ke
tujuh, Erlangga, Jakarta.
2. Avner, S. H, 1984. INTRODUCTION TO PHYSICAL METALLURGY. Mc Graww Hill,
Kogakusha L. D. Tokyo.
3. Callister JR, Willian D, 1985. MATERIAL SCIENCE AND ENGINEERING, John Willey
dan Sone, New York.
4. Davis, H. E; Trosell, G. E; Houck, F. W. THE TESTING OF ENGINEERING
MATERIALS, Fourth Edition, Mc. Graww Hill, book company.
5. Pollack, W. H, MATERIAL SCINCE AND METALLURGY, Third Edition, New York.
6. Schonmetz, Alois, 1985. PENGETAHUAN BAHAN DALAM PENGERJAAN LOGAM,
Diterjemahkan oleh Hardjpamekas, Angkasa, Bandung.
7. Smith, William, 1985. PRINCIPLES OF MATERIALS SCIENCE AND ENGINEERING,
Mc. Graww Hill, International Edition.
8. Speich, G. R, 1984. FORMATION OF AUSTENITE DURING ICA, Metallurgycal
Transaction.
9. Suardi, Amin; Adnyana, D. N, 1989. PENGETAHUAN LOGAM UPT LUK, BPPT,
Serpong.
10. Suardi, Tata, 1985. PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK, PT. Pradnya paramita, Jakarta.
11. Tehlning, K E, 1975. STEEL AND HEAT THREATMENT, Bofors Hand Book,
Butterworths.
12. Vlack, L. V, 1984. ILMU DAN TEKNOLOGI BAHAN, Diterjemahkan oleh Djaprie S,
Erlangga, Jakarta.