Anda di halaman 1dari 7

BAB 4 : LAPORAN AKUNTAN

Dalam suatu pemeriksaan umum, KAP akan memberikan suatu laporan akuntan
yang terdiri dari:
1. Lembaran opini yang berisi tentang pendapat akuntan publik terkait
kewajaran laporan keuanganyang disusun oleh manajemen dan merupakan
tanggung jawab manajemen.
2. Laporan keuangan yang

terdiri

dari

Neraca,

Lap.Laba

Rugi,

Lap.Perubahan Ekuitas, Lap.Arus Kas, dan Catatan atas Laporan


Keuangan.
Tanggal dalam pelaporan akuntan haruslah sama dengan tanggal penyelesaian
pekerjaan lapangan dan tanggal surat pernyataan langganan, karena menunjukkan
sampai tanggal berapa akuntan bertanggung jawab untuk menjelaskan hal-hal
penting yang terjadi.
A. Jenis Jenis Pendapat Akuntan
Menurut Standar Profesional Akuntan Publik per 31 Maret 2011(PSA 29 SA Seksi
508), ada 5 jenis pendapat akuntan:
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion)
Auditor telah melaksanakan pemeriksan sesuai dengan standar auditing
yang ditentukan oleh IAI, seperti pengumpulan bukti bukti serta tidak
menemukan kesalahan material atas penyimpangan dari SAK/ETAP/IFRS,
maka auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian.
Dengan pendapat auditor tersebut menyatakan bahwa laporan keuangan
telah sesuai dengan SAK/ETAP/IFRS.
2. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan yang
Ditambahkan dalam Laporan Audit Bentuk Baku (unqualified opinion
with explanatory language)
Pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan
auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit. Keadaan
tersebut meliputi:
a. Pendapat wajar sebagian didasarkan atas laporan auditor independen
lain.

b. Untuk mencegah agar laporan keuangan tidak menyesatkan karena


keadaan keadaan yang luar biasa (lap.keuangan disajikan
menyimpang dari standar IAI).
c. Jika terdapat kondisi dan peristiwa yang semula menyebabkan auditor
yakin tentang adanya kesangsian mengenai kelangsungan hidup
entitas. Namun setelah mempertimbangkan rencana manajemen
auditor berkesimpulan bahwa rencana manajemen tersebut efektif
dilaksanakan.
d. Di antara 2 periode akuntansi terdapat perubahan material dalam
penggunaan standar akuntansi atau metode penerapannya.
e. Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan audit atas laporan
keuangan komparatif.
f. Data keuangan kuartal tertentu yang diharuskan oleh Badan Pengawas
Pasar Modal namun tidak disajikan.
g. Informasi tambahan yang diharuskan

oleh

IAI-DSAK

telah

dihilangkan sehingga penyajiannya menyimpang jauh dari pedoman


yang dikeluarkan dewan tersebut.
h. Informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan
yang diaudit secara material tidak konsisten dengan informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan.
3. Pendapat Wajar dengan Pengecualian (qualified opinion)
Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar,dalam semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas yang sesuai dengan
SAK/ETAP/IFRS, kecuali untuk dampak yang dikecualikan
a. Ketidaan bukti yang kompeten
b. Auditor yakinatsa dasar auditnya bahwa laporan keuangan yang berisi
penyimpangan dari SAK/ETAP/IFRS.
c. Auditor harus menjelaskan semua alasan yang menguatkan dalam satu
atau lebih paragraf terpisah yang dicantumkan sebelum paragraf
pendapat.
4. Pendapat Tidak Wajar
Suatu pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak
disajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan
arus kas sesuai dengan SAK/ETAP/IFRS. Auditor harus menjelaskan
semua alasan yang mendukung pendapat yang tidak dan dampak utama
yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajar.

5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat


Suatu pernyataan yang menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan
pendapat atas laporan keuangan. Auditor boleh tidak menyatakan pendapat
dengan tidak merumuskan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan,
tetapi harus menyertakaan alasan substantif yang mendukung pernyataan
tersebut.
Pernyataan tidak menyatakan pendapat sangat cocok jika auditor tidak
melaksanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memungkinkannya
memberikan pendapat atas laporan keuangan. Selain itu, pernyataan tidak
memberikan pendapat disebabkan terdapat penyimpangan materi dari
SAK/ETAP/IFRS. Dalam hal ini, auditor harus menjelaskan keberatan lain
yang berkaitan dengan kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan
SAK/ETAP/IFRS.
B. Jenis Jenis Laporan Akuntan
1. Laporan Auditor Bentuk Baku
Dalam laporan ini harus menyebutkan laporan keuangan yang diaudit
dalam paragraf pengantar, menggambarkan sifat audit dalam paragraf
lingkungan audit, dan menyatakan pendapat auditor dalam paragraf
pendapat. Adapun unsur pokok yang terdapat dalam laporan baku adalah:
a. Judul yang memuat kata independen
b. Pernyataan bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam laporan
auditor telah diaudit oleh auditor lain.
c. Pernyataan bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen perusahaan dan tanggung jawab auditor terletak pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan atas auditnya.
d. Pernyataan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan standar
auditing/PABK yang ditetapkan oleh IAI.
e. Pernyataan bahwa standar auditing terseut mengharuskan auditor
merencanakan

dan

melaksanakan

auditnya

agar

memperoleh

keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji


material.
f. Pernyataan bahwa audit meliputi:
Pemeriksaan (examination), atas dasar pengujian, bukti bukti
yang mendukung jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan.
Penentuan standar akuntansi yang digunakan dan estimasi
estimasi signifikanyang dibuat manajemen

Penilaian penyajian laporan keuangan secara keseluruhan


g. Pernyataan bahwa auditor yakin bahwa audit yang dilaksanakan
memberikan dasar yang memadai untuk memberikan pendapat.
h. Pendapat mengenai apakah laporan keuangan menyajikan secara wajar
dalam semua hal material.
i. Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin
usaha kantor akuntan publik.
j. Tanggal laporan auditor.
2. Beberapa Contoh Laporan Auditor Independen
3. Laporan Auditor Independen Tentang Dampak Memburuknya Kondisi
Ekonomi Indonesia Terhadap Kelangsungan Hidup Entitas.
Memburuknya kondisi ekonomi Indonesia dan wilayah regional Asia Pasifikpada
umumnya yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 sebagai akibat depresiasi
mata uang di negara negara tersebut, sehingga berdampak pada laporan
keuangan dan kelangsungan hidupnya.
Dalam hal ini auditor perlu mempertimbangkan 3 hal:
1. Kewajiban auditor untuk memberikan saran pada kliennya dalam
mengungkapkan kondisi ekonomi
2. Pengungkapan peristiwa kemudian yang mungkin timbul sebagai akibat
dari kondisi ekonomi tersebut.
3. Modifikasi laporan auditor bentuk baku jika memburuknya kondisi
ekonomi tersebut berdampak terhadap kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Adapun informasi yang perlu diungkapkan terdiri dari 4 komponen
1. Gambaran umum memburuknya kondisi ekonomi indonesia dan wilayah
regional di sekitarnya
2. Uraian tentang respon manajemen
3. Uraian tentang rencana manajemen yang belum terealisasi
4. Pernyataan manajemen seputar keputusan ekonomi dan moneter yang akan
di ambil oleh pemerintah. Berikut adalah contoh penjelasan di laporan
audit independen.

C. Pertimbangan Auditor atas Kemampuan Entitas dalam Mempertahankan


Kelangsungan Hidupnya
Dalam PSA No.30 (IAPI,2011 : 341.1 342-7) antara lain dinyatakan :
1. Auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat
kesangsia besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan
kelangsungan kehidupannya dalamperiode waktu pantas, tidak lebih
dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit
2. Auditor harus mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar
mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan
hidupnya dalam waktu pantas
3. Auditor tidak bertanggung jawab untuk memprediksi kondisi atau
peristiwa yang akan datang.
4. Auditor tidak perlu merancang prosedur audit dengan tujuan tunggal
untuk

mengidentifikasi

kondisi

dan

peristiwa

yang,

jika

dipertimbangkan secara keseluruhan, menunjukkan bahwa terdapat


kesangsian

besar

mengenai

kemampuan

entitas

dalam

mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas.


5. Jika setelah mempertimbangkan kondisi yang telah diidentifikasi
secara keseluruhan, auditor yakin bahwa terdapat kelangsungan
hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus mempertimbangkan

rencana manajemen dalam menhadapi dampak merugikan dari kondisi


tersebut.
6. Apabila setelah memepertimbangkan dampak kondisi tertentu auditor
tidak menyangsikan kemampuan satuan usaha mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas maka auditor
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian.
7. Apabila setelah memepertimbangkan dampak kondisi tertentu auditor
menyangsikan

kemampuan

satuan

usaha

mempertahankan

kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas maka auditor wajib


mengevaluasi rencana manajemen. Contih laporan auditor independen
yang berisi pernyataan wajar tanpa pengecualian

Lampiran PSA No.30 disajikan panduan untuk mempertimbangkan pernyataan


pendapat atau pernyataan tidak menyatakan pendapat