Anda di halaman 1dari 74

BIOTEKNOLOGI

DEKOMPOSISI BAHAN
ORGANIK
Bahan Organik

 Limbah pertanian (tanaman atau hewan),


 Hasil samping industri manufaktur,
 Sisa kebun,
 Limbah lain-lain (misalnya makanan, kayu,
perca, lumpur, dll.),
 Segala sesuatu yang dapat dibiodegradasi
Bahan Organik dari Dapur
 Kulit buah,
 Cangkang telur,
 Kertas bungkus (hindari yang dilapis plastik),
 Sisa sayuran,
 Tea bags,
 Bubuk kopi
Bahan Organik dari Kebun/Halaman
Rumah
 Potongan rumput,
 Ranting kecil-
 Terutama ranting muda dan lunak,
 Gulma
 Hati-hati terhadap gulma ganas,
 Bunga-bunga mati,
 Dedaunan,
 Tanaman tua
Sumber Bahan Organik Lainnya
 Jerami,
 Sisa kandang,
 Rambut,
 Bulu

 Semua bahan dipotong-potong kecil


Bahan yang Tidak Disarankan untuk
Dikomposkan:
 Kotoran hewan peliharaan,
 Sisa hewan (daging, ikan, tulang, lemak, telur,
susu),
 Potongan kayu besar,
 Gulma yang ganas,
 Bahan bukan organik
Mengapa Dikomposkan?

■ Limbah organik berpotensi sebagai sumber


pencemaran nutrien.
■ Kompos menguntungkan bagi tanah – 11 kg N,
5,9 kg P (sebagai P2O5), dan 3,2 kg K (sebagai
K2O) per ton kompos.
■ Berkelanjutan dari sudut pandang lingkungan.
Dekomposisi Bahan Organik (1)
 Campuran bahan organik dengan komposisi
yang kompleks mulai dari gula sederhana dan
pati hingga molekul kompleks seperti selulosa
dan lignin merupakan bahan kompos.
 Mikroba pengompos mula-mula mengkonsumsi
senyawa yang mudah didegradasi.
 Dekomposisi bahan organik dalam proses
pengomposan terjadi bertahap.
Dekomposisi Bahan Organik (2)
 Bahan kompos yang mengandung bahan sulit
terdekomposisi seperti lignin membutuhkan
waktu pengomposan lebih lama (dekomposisi
lignin terjadi lebih cepat pada fase
pendinginan).
 Senyawa yang beracun terhadap tanaman
hilang pada fase pematangan.
Dekomposisi Bahan Organik (3)
Pengomposan

 Proses dekomposisi bahan organik oleh


organisme termasuk bakteri, fungi,
aktinomisetes, cacing, dan serangga.
 Proses pengomposan
 aerobik (ada oksigen bebas, dikehendaki karena
lebih cepat)
 anaerobik (tanpa oksigen bebas, kurang
dikehendaki karena lambat dan bau).
Mikroba Pengompos
 Bacillus sp. termofil merupakan
bakteri berbentuk batang yang
sering ditemukan dalam
kompos Bacillus sp. Sering
ditemukan pula alam bentuk
rangkaian. Perhatikan bahwa
bakteri ini menghasilkan spora
yang menyebabkannya mampu
bertahan pada suhu tinggi (di
atas 65°C).
Apakah kompos?
 Produk yang dihasilkan dari dekomposisi
terkendali bahan organik secara biologis dalam
keadaan aerobik
 Stabil dalam bentuk yang menguntungkan bagi
pertumbuhan tanaman
 Keamanan biologisnya terjaga oleh panas yang
dihasilkan selama proses pembentukannya
 Menyediakan humus, nutrien, dan unsur mikro
bagi tanah
Keuntungan Pemberian Kompos ke
Dalam Tanah
 Memperbaiki struktur tanah, mengurangi BV
tanah, meningkatkan permeabilitas
(mengurangi potensi erosi)
 Mengurangi pemadatan, meningkatkan
kemampuan tanah menahan air
 Mengubah dan menstabilkan pH
 Meningkatkan kapasitas pertukaran kation
(memungkinkan tanah menahan nutrien lebih
lama, mengurangi pencucian nutrien)
 Menghidupi biota tanah – tanah lebih sehat
 Menekan pertumbuhan penyakit tanaman
Keuntungan Lain Pemberian Kompos
■ Mengikat logam berat dan pencemar lainnya,
mengurangi kemungkinannya tercuci dan terserap
mahluk hidup
■ Mendegradasi pencemar berbasis minyak bumi
dalam tanah
■ Memacu restorasi lahan basah (wetland) dengan
menstimulasi karakter lahan basah
■ Kompos yang lebih kasar digunakan sebagai mulsa
untuk mengendalikan erosi
■ Berfungsi sebagai penyaring dan mengurangi
pencemar dalam air permukaan
Proses Pengomposan (1)
 Kondisi lingkungan yang mendukung proses
pengomposan:
 Kecukupan air
 Kecukupan oksigen
 Kecukupan nutrien untuk mikroba
 Kesesuaian suhu (hangat)
Proses Pengomposan (4)

 Output
 Panas
 Uap air
 Karbon Dioksida
 Nutrien dan mineral (kompos)
 Proses terjadi secara alami, tetapi dapat
dipercepat dengan mengendalikan elemen-
elemen esensial
Diagram Proses Pengomposan
Pelaksanaan Pengomposan (1)
 Di bagian dasar pengomposan ditebarkan (15-25
Cm) bahan pengembang (bulking material).
 Bahan dengan kandungan karbon tinggi seperti
dedaunan kering dan dahan.
 Ditambahkan pupuk kandang, sisa makanan,
dan potongan rumput (berat sama).
 Ditebarkan lagi (15-25 Cm) bahan pengembang
(bulking material).
 Bahan-bahan dicampur merata
Pelaksanaan Pengomposan (2)
 Beri sungkup bila pengomposan skala kecil.
 Balikkan kompos 1-2 kali seminggu.
 Untuk menjamin kecukupan udara.
 Mencegah kekeringan di bagian luar dan atas
kompos.
 Monitor kelembaban dan tambahkan air bila
diperlukan.
Waktu
 Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah bahan
baku kompos menjadi kompos matang
tergantung pada:
 Bahan baku yang digunakan
 Campuran bahan baku

 Suhu

 Kelembaban, dan

 Frekuensi penghawaan.

 Untuk memperoleh waktu pengomposan


terpendek, perlu diperhatikan kecukupan air,
kecukupan nitrogen dan kecukupan udara.
Pematangan (1)
 Pematangan terjadi pada suhu mesofilik dalam
waktu bisa sampai 6 bulan, tergantung bahan
yang dikomposkan.
 Pada fase ini tingkat konsumsi oksigen,
penghasilan panas, dan evaporasi berlangsung
melambat. 80
in te ns ive de com p os ition cur ing
70

60
Temperature (ºC)

50 the rm o ph ilic s tage

40 m e s ophilic s tage

30
pas te ur is e d or s table
20 fr e s h com pos t & m atur e
com pos t
10
T im e
 Pematangan merupakan
proses aerobik sehingga Pematangan (2)
perlu kecukupan hawa.
 Ukuran tumpukan harus
kecil (tinggi ~1 m) dan
kelembaban tidak boleh
berlebih (>70%) bila tidak
menggunakan
pemompaan.
 Tumpukan besar
memerlukan pemompaan
untuk menjaga suasana
aerobik.
Sistem Pengomposan Komersial
 Setidaknya ada 8 sistem pengomposan
komersial.
 Semua sistem mengatur suhu, oksigen, dan
kelembaban.
 Paling umum: Sistem turned windrow
Turned windrows

Turned windrow

M ost common system for waste of low odour generating potent

Low capital costs unless concrete pads are installed

High operating costs

Very flexible system - a range of organic materials can be comp
and adjustments can be made within a composting cycle

Aeration by turning with front-end loader or specialised machin

Slow rate of decomposition due to varying conditions in pile

Stable compost in 3-12 months

W indrows can be outdoors or formed under a roof (no sides)

Great care needed for effective odour and leachate control
Passively aerated windrow

Passively aerated windrow



Cheapest system; no turning

Windrows must be covered with finished compost to reduce odou

May be more space efficient than turned windrows

Reduced flexibility - careful preparation of starting materials
essential

Little control of temperature and aeration during composting

Compost in 10-12 weeks; further curing usually required
Aerated static pile

Aerated static pile



Medium capital costs

Medium operating costs

Forced aeration

Reduced flexibility - careful preparation of feedstock is essential

Space efficient

Piles usually must be coverede.g.( with compost) to reduce odours

Some control of temperature and aeration resulting in faster
composting (6-12 weeks); further curing usually required
Aerated covered windrow

Aerated covered windrow



M edium capital costs

M edium operating costs

Cover for windrows reusable

Forced aeration; computer control of composting possible

Reduced flexibility - careful preparation of feedstock essential

Space efficient

Improved control of temperature and aeration resulting in faster
composting (3-6 weeks); further curing usually required
Rotating drums
Rotating drum

High capital cost

Medium operating costs

Less preparation of starting materials required due to constant
mixing and size reduction

Rapid initial decomposition in drum (up to seven days)

Further decomposition required in windrows or aerated static pile

Provides mixing and aeration by means of drum rotation and forc
aeration
Agitated bed or channel
Agitated bed or channel

High capital cost

M edium operating costs

Flexible system – both forced aeration and mechanical mixing u

Space efficient

Beds are covered in a fully enclosed building or roof

Good capacity for odour and leachate control

Rapid composting: 2-4 weeks; further curing usually required
In-vessel (horizontal configuration)
In-vessel (horizontal configuration)

High capital cost

Automated system

Uniform temperature and oxygen profile throughout contents of
vessel

Composting vessels can be housed in a building or outdoors

Excellent control of odours and leachate

Can be located with minimal buffer distances

Very fast composting (7-14 days)

Further curing in windrows or in-vessel usually required
In-vessel (vertical configuration)

In-vessel (vertical configuration)



High capital cost

Automated system

Uniform temperature and oxygen profile throughout contents of
vessel

Composting vessels can be housed in a building or outdoors

Excellent control of odours and leachate

Can be located with minimal buffer distances

Very fast composting (7-14 days)

Further curing in windrows or in-vessel usually required
Waktu yang Dibutuhkan oleh Berbagai
Sistem Pengomposan
Active composting
time
Method Materials Range Typical Curing
(weeks
(weeks) (weeks)
)

Windrow – Garden organics 26 – 52 36 16


infrequent turning Manure + 12 – 32 24 4–8
a
amendments
Windrow – Garden organics + 4 – 16 8 4–8
b
frequent turning manure
Passively aerated Manure + bedding or 10 – 12 – 4–8
windrow Food organics + 8 – 10 – 4–8
garden organics
Aerated static pile Biosolids + 3–5 4 4–8
woodchips
Rectangular Biosolids + garden 2–4 3 4–8
agitated bay organics or manure +
sawdust
c
Rotating drums Biosolids / food 0.5 – 2 – 8
organics + garden
organics
c
In-vessel (vertical Biosolids / food 1–2 – 8
configuration) organics + garden
organics
Masalah yang Sering Muncul dalam
Pengomposan
Masalah Penyebab/Pemecahan
Bau busuk Terlalu basah/ tambahkan
bahan pengembang
Bau tidak busuk, tidak N terlalu sedikit/
ada dekomposisi tambahkan sumber N
Ukuran terlalu besar/
perkecil ukuran
Tumpukan kering Kurang bahan hijauan atau
kelembaban/ tambahkan
bahan hijauan dan air
HIPERLINK TINGKAT 1 (AIR)
Kandungan air (1)
 Air dibutuhkan pada semua reaksi enzimatik,
oleh karenanya kecukupan air harus terjaga
agar pengomposan berlangsung cepat.
 Terjadi kehilangan air melalui penguapan
selama proses pengomposan.
 Penguapan berfungsi mengendalikan over
hetaed pada proses pengomposan.
Kandungan air (2)
 Kandungan air optimum – 50% sampai 60%
(basah)
 < 30% - proses pengomposan berhenti
 < 50% - proses pengomposan lambat karena
mikroba kekeringan
 >60% - pemadatan, terbentuk kondisi anaerobik,
pembusukan/fermentasi (bau)
 Penyiraman selama proses pengomposan
 Satu meter kubik sampah kebun membutuhkan –
200 sampai 300 liter air
Kandungan air (3)
 Pengomposan dalam skala kecil pada musim
kering perlu diberi sungkup plastik untuk
mempertahankan kelembaban.
 Hindari penambahan air yang terlalu banyak.
 Terlalu banyak air melindi nutrien terlarut (misalnya,
nitrogen)
 Terlalu banyak air mengurangi ketersediaan
oksigen, membentuk zona anaerob, memperlambat
proses pengomposan, dan terbentuk bau busuk.
Kandungan air (4)
 Kelembaban
 Sisa makanan 70%
 Pupuk kandang dan lumpur 72% - 84%
 Gergajian kayu 19% - 65%
 Cardboard rusak 8%
 Kertas cetakan 3% - 8%
HIPERLINK TINGKAT 1 (OKSIGEN)
Pentingnya Oksigen
 Konsumsi karbon untuk mendapatkan energi
memerlukan oksigen sebagai elektron akseptor.
 Konsentrasi oksigen di udara 21%, tetapi
aktifitas mikroba aerob memerlukan konsentrasi
oksigen di atas 5%.
 Konsentrasi oksigen optimum untuk
pengomposan adalah 10-14%.
 Mikroba anaerobik (tumbuh tanpa oksigen
bebas) menyebabkan bau busuk pada kompos
Porositas dan Penghawaan
 Porositas optimum 35% - 50%
 > 50% - kehilangan energi lebih besar daripada
panas yang dihasilkan suhu pengomposan lebih
rendah
 < 35% - suasana anaerobik (bau)
 Penghawaan – mengendalikan suhu,
mengurangi kelembaban dan CO2, dan
mencukupkan oksigen
 Aliran udara yang dibutuhkan sebanding dengan
aktivitas biologisl
 Konsentrasi O2 < 5% - suasana anaerobik
Sifat Fisik Campuran Bahan Kompos
 Sifat fisik bahan (porositas dan struktur)
dipengaruhi oleh ukuran partikel dan bentuk.
 Sifat fisik mempengaruhi proses pengomposan
melalui pengaruhnya pada aerasi.
 Sifat fisik campuran kompos dapat disesuaikan
melalui pemilihan bahan yang akan
dikomposkan dan pengecilan ukuran.
 Bahan yang ditambahkan untuk menyesuaikan
sifat fisik disebut bahan pengembang (bulking
agents).
Ukuran & Distribusi Partikel (1)

 Keseimbangan:
 Luas permukaan untuk pertumbuhan mikroba
(biofilm)
 Porositas yang cukup untuk penghawaan (35% -
50%)
 Ukuran optimum tergantung jenis bahan
Ukuran & Distribusi Partikel (2)
 Partikel yang lebih besar (> 1”)
 Luas permukaan kecil
 Bagian dalam partikel tidak terkomposkan karena
kekurangan oksigen
 Partikel yang lebih kecil (< 1/8”)
■ Cenderung memadat
■ Menghambat masuknya udara ke dalam tumpukan
Mekanisme aerasi – turned windrows
 Dalam sistem pengomposan turned windrows,
aerasi terjadi melalui mekanisme konveksi dan
difusi.
 Perlu porositas tinggi (>20% v/v).

Convective
air flow in
a turned
windrow
HOT!
Profil Oksigen
 Dengan naiknya suhu konsentrasi oksigen
menjadi tidak merata.
 Pembalikan atau pemompaan udara diperlukan
untuk menjamin ketersediaan udara.
 Aerasi diperlukan agar kecepatan dekomposisi
tetap tinggi dan tidak terbentuk bau busuk.
Profil Oksigen - turned windrow

22 20
20
Oxygen concentrations three days

18
16 15
after turning (%, v/v)

14
12
10
10
8
6
5 T
4 T
T
Oxygen concentration
at centre of pile (%, v/v)
2
0
0
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6
0 2 4 6 8 10 12 14
Distance from exterior surface of pile (m )
Time (days)
Mekanisme aerasi – aerated static
piles
 Pada sistem
pengomposan aerated
static pile atau in-vessel
digunakan pemompaan.
 Kadang diperlukan
penyungkupan agar
terbentuk panas merata.
HIPERLINK TINGKAT 1 (NUTRIEN)
Nutrien Penting dalam Pengomposan
 Karbon (C) dalam bahan organik adalah sumber
energi dan dasar building block sel mikroba.
 Nitrogen (N) bersama C merupakan unsur paling
penting, sering merupakan faktor pembatas.
 Mikroba membutuhkan 25-30 bagian karbon untuk
setiap bagian nitrogen untuk membentuk protein
(C:N 25-30:1).
 Bahan dengan nisbah C:N optimum menghasilkan
kecepatan dekomposisi yang tinggi.
Nisbah C:N ratio dan nutrien lainnya
 Nisbah C:N 20-40:1 sesuai untuk pengomposan.
Setelah proses pengomposan nisbah C:N secara
bertahap turun menjadi 10-20:1.
 Bahan dengan nisbah C:N rendah (<15:1) cepat
terdekomposisi, tetapi mudah menghasilkan bau
busuk karena cepatnya konsumsi oksigen yang
mengakibatkan suasana anaerob.
 Mikroba juga memerlukan fosfor, sulfur, dan unsur
mikro tetapi pengaruhnya langsung belum banyak
diteliti.
Proses Pengomposan (2)
 Nutrien yang sering ditambahkan adalah
nitrogen, fosfat, dan kapur.
 Nisbah C:P optimum 75-150:1
 Pupuk kandang merupakan sumber nitrogen.
 Abu kayu (bukan arang) merupakan sumber
fosfor dan kalium.
 Kapur merupakan sumber kalsium untuk
mengendalikan keasaman
Keseimbangan Nutrien dalam
Pengomposan (2)
 Nisbah C/N – target 20-40:1
 > 40:1 – tidak cukup makanan bagi populasi mikroba
 < 20:1 – kehilangan nitrogen dalam bentuk amonia
(bau menyengat)
Nisbah C:N Berbagai Bahan Kompos

Sisa makanan Serutan kayu


C:N ~ 15:1 C:N ~ 200 - 300:1

Sisa kebun Pupuk kandang


C:N ~ 50 - 80:1 C:N ~ 5 -
10:1
Nisbah C:N Berbagai Bahan Kompos
Feedstock Moisture Structure C:N %N
Mixed tree and shrub prunings dry to moist good 70-90 0.5-1
Eucalyptus bark dry good 250 0.2
Eucalyptus sawdust dry average 500 0.1
Pinus radiata bark dry good 500 0.1
Pinus radiata sawdust dry average 550 0.09
Grass clippings moist to wet poor 9-25 2-6
Food organics moist to wet average 14-16 1.9-2.9
Vegetable produce wet poor 19 2.7
Fruit wet poor 20-49 0.9-2.6
Fish moist to wet poor 2.6-5 6.5-14.2
Mixed solid waste - average 34-80 0.6-1.3
Biosolids moist to wet poor 5-16 2-6.9
Wool scour waste:
(1) raw decanter sludge moist poor 13.8 0.81
(2) raw flocculated sludge moist poor 19 1.61
Tannery waste (hair) dry to moist average 3.1-4.3 11.7-14.8
Mixed abattoir wastes moist to wet poor 2-4 7-10
Chicken manure (layers) dry to moist poor 3-10 4-10
Chicken manure (broiler) dry to moist poor 12-15 1.6-3.9
Newsprint dry poor 398-852 0.06-0.14
Paper dry poor 127-178 0.2-0.25
Wheaten straw dry good 100-150 0.3-0.5
Seaweed (kelp) dry to moist average 25 1.5
Sawdust dry poor 200-750 0.06-0.8
HIPERLINK TINGKAT 1 (SUHU)
Suhu Pengomposan
 Suhu merupakan pengendali proses yang
penting – perlu dimonitor dengan seksama
 Suhu optimum: 55o C. – 65o C.
 Suhu di atas 55o C akan membunuh patogen,
fecal coliform & parasit
 Suhu di pengomposan terbuka mencapai 55o C
selama 15 hari
 Suhu optimum dicapai dengan mengatur aliran
udara melalui pembalikan dan ukuran tumpukan
Pengelolaan Suhu
 Mengapa suhu selama pengomposan meningkat ?
 Panas dihasilkan dari metabolisme senyawa organik,
misalnya glukosa:
C6H12 O6 + 6O2 -----> 6CO2 + 6H2O + KALOR
 Akumulasi kalor mengakibatkan peningkatan suhu.
 Pengomposan skala kecil (<1-2 m3) mungkin tidak
menghasilkan panas karena hilang melalui konveksi.
Perubahan Suhu selama
Pengomposan (1)
Perubahan Suhu selama
Pengomposan (2)
 Suhu membatasi aktifitas mikroba sehinga
juga membatasi kecepatan degradasi bahan
organik.
 Kecepatan dekomposisi bahan organik
tertinggi terjadi pada suhu 35-55 ºC.
 Kondisi termofilik terjadi sejak suhu
mencapai 45ºC.
Perubahan Suhu selama
Pengomposan (3)
 Saat pembentukan kompos yang stabil dan
matang juga tercermin dari suhu .
 Suhu di atas 55ºC dibutuhkan untuk
mendeaktifasi benih gulma, patogen
tanaman, hewan, dan manusia.
Profil Suhu
 Suhu dalam sistem pengomposan tidak
seragam.
 Perbedaan antara bagian permukaan dan
bagian tengah sistem pengomposan windrow
dapat mencapai 20-45°C.
 Pada sistem pengomposan in-vessel perbedaan
hanya 2-5°C.
 Diperlukan pemaparan sekurangnya 3 hari pada
suhu 55°C guna membunuh benih gulma,
mikroba patogen dan parasit.
 Pemaparan ini merupakan kunci dari upaya
minimalisasi resiko dalam proses
pengomposan.
Perubahan Suhu selama
Pengomposan (4)
Turned windrow In-vessel
80 80

70 70

60 60
centre

Temperature (°C)
Temperature (°C)

centre
50 50

40 40

30 30

outer surface (10 cm deep) outer surface (10 cm deep)


20 20

10 10
0 2 4 6 8 10 12 14 0 2 4 6 8 10 12 14

Time (w eeks) Time (w eeks)


Perubahan Suhu dan Suksesi Mikroba
(1)
 Suhu mempengaruhi komposisi dalam populasi
mikroba.
 Periode awal proses pengomposan dicirikan oleh
aktifitas mikroba (terutama bakteri) mesofilik
yang meningkat pesat dan ditunjukkan oleh
peningkatan suhu.
 Setelah suhu meningkat, mikroba mesofilik akan
mati dan mikroba termofilik mulai mendominasi.
Perubahan Suhu dan Suksesi Mikroba
(2)
 Ketika suhu mencapai 65-70ºC, aktifitas
mikroba termofilik juga menjadi terhambat,
kecuali bakteri pembentuk spora.
 Kecepatan dekomposisi menjadi lambat.
 Selama masa penurunan suhu, jamur dan
aktinomisetes mulai mengkolonisasi dan
mendekomposisi bahan yang lebih sulit
terombak seperti selulosa dan lignin.
HIPERLINK TINGKAT 2
(PEMBUSUKAN)
Terbentuknya Bau Busuk selama
Pengomposan (1)
 Terbentuknya bau busuk terkait dengan
munculnya suasana anaerobik.
 Bau busuk pada pengomposan dihasilkan oleh
gas atau asap (partikel padat di fasa gas).
Terbentuknya Bau Busuk selama
Pengomposan (2)
Compound Formula Characteristic odour Threshold
(nL/L)
Ethanal

Butanoic acid
CH 3CHO

CH 3CH 2CH 2COOH


Pungent

Rancid
2

0.28
NH3 adalah
Ammonia NH 3 Pungent 37 gas paling
Trimethyl amine

3-methylindole ( skatole)
(CH 3)3N

C6H5C(CH 3)CHNH
Pungent

Faecal
4

7.5x10 -5
bermasalah
Hydrogen sulfide H2S Rotten egg 1.1

Carbon oxysulfide COS Pungent -

Dimethyl sulfide CH 3SCH 3 Foul 20

Dimethyl disulfide CH 3SSCH 3 Foul -

Diethyl sulfide CH 3CH 2SCH 2CH 3 Foul 0.25

Methanethiol CH 3SH Decaying cabbage 1.1

Ethanethiol CH 3CH 2SH Decaying cabbage 0.016

1-Propanethiol CH 3CH 2CH 2SH Unpleasant 0.075

1-Butanethiol CH 3CH 2CH 2CH 2SH Skunk like 1.4


Penanganan Bau Busuk
 Bau busuk dapat mudah diatasi pada sistem
pengomposan in-vessel atau aerated static pile.
 Gas berbau dialirkan ke biofilter (dapat
menggunakan kompos jadi).
 Bakteri dalam biofilter dapat memanfaatkan gas
berbau sebagai nutrien.
HIPERLINK TINGKAT 2 (pH)
pH
 Optimum 6.5 – 8.0
 Aktifitas bakteri merajai
 Di bawah 6.5
 Fungi lebih dominan daripada bakteri
 Proses pengomposan dapat terhambat
 Dapat dicegah dengan menjaga O2 > 5%
 Di atas 8.0
 Terbentuk gas amonia, bila bahan kompos
mengandung banyak N
 Populasi mikroba menurun
Perubahan pH selama Proses
Pengomposan
TERIMA KASIH
ATAS
PERHATIANNYA