Simulasi ANSYS
Simulasi ANSYS
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Sambungan pipa model T merupakan salah satu komponen untuk menyalurkan fluida, y
ang merupakan subjek dari atau perubahan harga tekanan. Pipa itu sendiri harus d
iperhitungkan bersama perubahan fluktuasi gaya yang terjadi pada sistem dari flu
ida, gas atau efek luar seperti tiupan angin dan gangguan gempa bumi.
Perencanaan sistem pemipaan harus memperhatikan sistem pipa atau pemipaan sepert
i :
Jumlah kebutuhan fluida atau gas dengan tekanan yang dapat diterima oleh
material.
Memiliki fleksibilitas penurunan tegangan agar semua kondisi operasi dar
i gaya-gaya momen di pipa berada dalam batas yang diijinkan.
Tegangan merupakan salah satu besaran yang harus menjadikan perhatian utama dala
m perancangan. Banyak metode yang dapat digunakan untuk manganalisi tegangan. Di
antaranya metode analitik dan numerik. Penyelesaian masalah dengan mengguakan me
tode analitik merupakan metode penyelesaian yang paling baik, namun ada kalanya
metode tersebut tidak dapat digunakan apabila menyangkut masalah sistem geometri
kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat material yang bervariasi. Oleh kare
na itu, digunakan metode numerik sebagai pendekatannya. Beberapa metode numerik
yang lazim digunakan diantaranya metode elemen hingga (Finite Element Method).
Metode elemen hingga merupakan metode yang paling popular digunakan. Untuk mener
apkan metoda elemen hingga tersebut, diperlukan seperangkat komputer digital bes
erta perangkat lunaknya, dan saat ini sudah banyak tersedia paket-paket perangka
t lunak metode elemen hingga yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah
teknik. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 14.0 yang merupakan suatu per
angkat lunak metode elemen hingga yang digunakan sebagai pengganti keterbatasan
solusi analitik.
1.2.
IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah yang dianalisa pada tugas akhir ini adalah untuk pemodelan siste
m yang melibatkan geometri dan kondisi-kondisi batas yang rumit, serta sifat-sif
at material yang bervasiasi, penyelesaian analitik sangat sulit untuk digunakan.
Karena keterbatasan solusi analitik tersebut, maka dilakukanlah berbagai cara u
ntuk mengatasinya, diantaranya : membuat perangkat lunak sendiri dan menggunakan
perangkat lunak tersebut, diperlukan waktu yang cukup lama. Sehingga cara ini p
un belum efektif untuk dilakukan.
Dengan kondisi - kondisi tersebut, maka cara yang paling efisien yaitu menggunak
an perangkat lunak yang telah ada. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 1
4.0 yang merupakan perangkat lunak metode elemen hingga yang telah popular.
Dalam tugas akhir ini, identifikasi masalah menitik beratkan pada cara penggunaa
n masalah gaya yang terjadi dalam proses pembebanan dengan menggunakan perangkat
lunak ANSYS 14.0 untuk menyelesaikan masalah gaya.
1.3.
TUJUAN
Tujuan tugas akhir ini menganalisa tegangan pada komponen sambungan pipa
model T dengan menggunakan perhitungan secara analitik pada pipa utama, empiris
pada pipa bercabang, maupun numerik (software ANSYS 14.0).
1.4.
LINGKUP MASALAH
Untuk memperjelas batasan masalah dari penyelesaian suatu kasus, maka pe
nulis memberikan lingkup pembahasan sebagai berikut:
PEMODELAN AWAL
Yaitu membuat pernyataan masalah pada suatu kasus yang akan dianalisa se
belum menggunakan perangkat lunak ANSYS 14.0. Dalam membuat pernyataan masalah t
ersebut, adalah beberapa asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu : gaya yang terjadi
pada saat pembebanan.
Pelaksanaan motode elemen hingga dengan menggunakan perangkat lunak ANSY
S 14.0 yaitu memodelkan suatu kasus nyata kedalam perangkat lunak ANSYS 14.0.
INTERPRESTASI HASIL
Yaitu menafsirkan hasil yang didapatkan dari penyelesaian kasus tersebut.
1.5.
SISTEMATIKA PENULISAN
Agar lebih mempermudah penyusunan laporan ini maka perlu penyusunan dala
m beberapa bab yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, pembatasan
masalah dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Membahas teori-teori yang berhubungan dengan metode elemen hingga
dan program ANSYS 14.0.
BAB III PEMODELAN STRUKTUR SAMBUNGAN PIPA MODEL T
Terdiri dari pegumpulan data, pemodelan dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 dan pemilihan ukuran dari variable-variabel.
BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA
Bab ini berisikan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan yang
diran
gkum secara keseluruhan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
matriks. Penyelesaian MEH memerlukan perhitungan yang sangat banyak dan berulang
-ulang dari persaamaan yang sama, sehingga diperlukan sarana komputer dan bahasa
pemrogramannya. Penyelesaian dari seluruh sistem umumnya merupakan penyelesaian
persamaan serentak yang dinyatakan dalam bentuk matriks dan diselesaian menggun
akan penyelesaian persamaan serentak (Cholesky, Eliminasi Gauss, Iterasi Gauss-S
eidel).
2.1.1. SEJARAH METODE ELEMEN HINGGA
Elemen satu dimensi dikembangkan oleh Hrennikoff (1941) dan McHenry (1943) sebag
ai elemen rangka (truss) dan balok (beam). Courant (1943) mengembangkan definisi
tegangan dalam bentuk fungsi (variational form), shg. Sebagai awal penggunaan f
ungsi bentuk (shape function) yang diterapkan dalam elemen segitiga (elemen dua
dimensi).
Levy (1947) mengembangkan metode fleksibilitas (flexibility method) atau metode
gaya (force method). Pada tahun 1953, dia mengembangkan metode deformasi (displa
cement method) atau metode kekakuan (stiffness method). Pada masa itu usulannya
sangat susah diterima oleh umum karena memerlukan banyak perhitungan sehingga di
perlukan komputer sebagai sarana pendukung.
Argyris dan Kelsey (1954) mengembangkan analisa struktur metode matriks mengguna
kan metode energi. Pengembangan ini menunjukkan pentingnya pendekatan prinsip en
ergi dalam penyelesaian persamaan-persamaan metode elemen hingga. Awal penggunaa
n elemen dua dimensi dilakukan oleh Turner, Clough, Martin, dan Top (1956) denga
n menurunkan persamaan untuk elemen rangka, balok, elemen segitiga dan persegi,
pada pengembangan direct stiffness method untuk mendapatkan kekakuan sistem.
Istilah finite element (elemen hingga) diperkenalkan oleh Clough pada th. 1960
saat menggunakan elemen segitiga dan segi empat dalam analisa tegangan bidang (p
lane stress analysis). Melosh (1961) mengembangkan elemen pelat lentur (plate be
nding). Grafton dan Strome (1963) mengembangkan elemen shell dan axisymmetric sh
ell untuk pemodelan pressure vessel. Martin (1961), Gallagher, Padlog, dan Bijla
ard (1962), Melosh (1963), dan Argyris (1964) mengembangkan elemen tiga dimensi
tetrahedral. Clough, Rashid, dan Wilson (1965) mengembangkan element axisymmetr
ic solid.
Kebanyakan pendekatan regangan dan tegangan kecil dipakai dalam penyelesaian MEH
ditahun 60-an. Turner, Dill, Martin, dan Melosh (1960) mengembangkan penyelesai
an dari Large deformation and thermal analysis. Gallagher, Padlog, dan Bijlaard
(1962) mengembangkan penyelesaian kasus material tidak linier (non-linear materi
al). Gallagher dan Padlog (1963) mengembangkan penyelesaian dari masalah tekuk (
buckling). Zienkiewicz, Watson, dan King (1968) mengembangkan penyelesaian dari
kasus visco-elasticity.
Archer (1965) mengembangkan penyelesaian dari kasus analisa dinamis dalam pengem
bangan consistent mass matriks pada rangka dan balok. Melosh (1963) mengembangka
n pendekatan persamaan variational (vaiational formulation) dalam permulaan dari
penyelesaian masalah bukan struktur. Zienkiewicz, dan Cheung (1965), Martin (19
68), dan Wilson dan Nickel (1966) mengembangkan penyelesaian dari masalah torsi
dari poros, aliran fluida, dan konduksi panas.
Penyelesaian menggunakan weighing residual method dikembangkan oleh Szabo dan Le
e (1969), dan diterapkan dalam penyelesaian masalah transient field problems ole
h Zienkiewicz dan Parekh (1970). Studi tersebut memberikan alternatif penyelesai
an bila kasus-kasus yang tidak bisa diselesaiakan dengan pendekatan direct formu
lation dan variational formulation.
Belytscho (1976) mengembangkan penyelesaian yang efisien dari perilaku large dis
placement non-linear dynamic dengan memperbaiki penyelesaian numerisnya. Penerap
an dari metode elemen hingga telah digunakan dalam bidang bioengineering. Kasuskasus dalam bidang ini masih banyak masalah dimaterial pada non-linear material,
non-linear geometry, dan banyak hal lain yang masih menunggu penyelesaian.
2.1.2. PERAN KOMPUTER DALAM METODE ELEMEN HINGGA
Hingga tahun.1950-an, metode matriks dan metode elemen hingga tidak siap
ut:
{F} = [K] {d}
Dimana:
{F} = adalah vektor gaya global pada titik baik yang diketahui maupun yang tidak
diketahui.
[K] = adalah matrik kekakuan global dari sistem struktur; sifatnya singular atau
det [K] = 0.
{d} = adalah vektor deformasi yang diketahui dan yang tidak diketahui.
2.1.3.6. Langkah 6
Penyelesaian dari DOF yang tak diketahui, setelah syarat batas diberikan. Persam
aan dari sistem menjadi: Dimana: n = jumlah DOF yang tak diketahui. Matrik [K] b
ersifat non-singular (det [K] ? 0). Penyelesaiannya umumnya menggunakan antara l
ain: metode eliminasi Gauss Iterasi Gauss, Gaussseidel, dst.
2.1.3.7. Langkah 7
Penyelesaian Regangan dan Tegangan Elemen. Hasil regangan dan tegangan adalah o
utput yang umum digunakan untuk menentukan kualitas dari desain struktur yang di
lakukan.
2.1.3.8. Langkah 8
Interpretasi Hasil Output yang berupa: deformasi, tegangan, dan regangan adalah
sebagai acuan dalam menilai desain yang dimodelkan. Dari analisis yang dilakukan
, maka dapat ditentukan perubahan-perubahan untuk perbaikan desain maupun kualit
as model.
2.1.4. APLIKASI PADA METODE ELEMEN HINGGA
2.1.4.1. PADA MASALAH STRUKTUR:
Analisa Tegangan: pada struktur rangka, balok dan frame; pada struktur pelat
berlubang, dst.
Kejadian Tekuk (Buckling): pada kolom dan shell.
Analisa Getaran.
2.1.4.2. PADA MASALAH NON-STRUKTUR:
Kejadian Transfer panas (Heat Transfer).
Aliran Fluida (Fluid Flow), termasuk aliran dalam media berpori (tanah).
Distribusi dari potensi magnetik atau elektrik.
2.1.4.3. APLIKASI PADA BIOENGINEERING.
2.1.5. KEUNTUNGAN DARI METODE ELEMEN HINGGA
Memodelkan bentuk yang kompleks.
Menyelesaikan kondisi pembebanan umum.
Memodelkan objek / struktur dengan jenis material yang banyak (karena
Persamaan Pada tingkat elemen).
Memodelkan banyak macam syarat batas.
Dengan mudah menggunakan bermacam ukuran elemen dalam meshing.
Menyelesaikan model dengan mudah dan murah.
Dapat memodelkan efek dinamis.
Menyelesaikan kelakuan tidak linier dari geometri dan material.
2.1.6. SOFTWARE DARI METODE ELEMEN HINGGA
GT STRUDL.
CATIA.
STRUCAD.
SAP2000.
ABAQUS.
FLUENT.
ALGOR.
IDEAS.
CFX.
ANSYS.
FEMAP.
ADINA.
MSC NASTRAN.
MSC PATRAN.
ROBOT (AUTODESK).
MSC DYTRAN.
MSC MARC.
SACS.
MICRO SAS.
2.1.7. TEORI PEMROGRAMAN
Algoritma perhitungan dari suatu proses analisis sederhana dapat ditulis
kan dalam satu program tunggal, khususnya jika ternyata program tersebut berukur
an kecil katakanlah dalam orde ratusan baris. Penyusunan, modifikasi dan kompila
si program tunggal dengan demikian masih bisa dilakukan dengan mudah. Namun jika
program sudah besar dengan ribuan bahkan puluhan ribu baris maka praktek penuli
san algoritma dalam suatu program tunggal sebaiknya dihindari atas dasar beberap
a alasan, antara lain :
Semakin besar ukuran program, semakin lama waktu kompilasi yang dibutuhk
an. Program yang berukuran 2 kali membutuhkan waktu kompilasi lebih dari 2 kali
lipat. Hal ini diperlukan demi alasan penghematan waktu kompilasi.
Alasan yang menyangkut kompilasi ulang. Modifikasi beberapa baris saja m
embutuhkan kompilasi ulang program keseluruhan, yang jika terdiri-dari ribuan ba
ris tentu akan menyita waktu yang lama.
Alasan yang menyangkut proses penelusuran kesalahan ( debugging ). Kebut
uhan akan menemukan kesalahan kecil atau beberapa baris saja membutuhkan pemerik
saan kesalahan pada semua baris yang ada, sehingga sering dihadapi kasus dalam p
raktek pemrograman dimana baris yang sebenarnya betul malah dimodifikasi sementa
ra kesalahan yang dicari masih belum diketemukan dan tidak diperbaiki.
Untuk mengatasi hal-hal diatas, maka program akan ditulis dalam satu program ind
uk ( main programe ) yang memiliki beberapa subprograme yang dalam hal ini digun
akan subroutine. Program induk hanya berfungsi untuk menugasi subroutine ( membe
ri perintah keja dengan perintah call ). Suatu subroutine bertugas untuk melakuk
an satu macam proses operasi yang dalam keseluruhan analisis dilakukan berulang.
Secara garis besar, suatu paket program analisis struktur dapat dibagi atas bebe
rapa blok proses, yaitu :
Mulai
Pembacaan data masukan
Membuat program struktur
Menjalankan program struktur
Mencetak data keluaran
Analisa data
Selesai
Garis besar pemrograman analisis struktur diatas dapat dibuat program seperti di
bawah ini :
Gambar 2.3 Diagram Blok Program Analisis Struktur
2.2.
TEORI ELASTISITAS
2.2.1. TEGANGAN
Tegangan yang bekerja pada penampang bahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
s= P/A
Dimana :
s
= tegangan atau gaya per-satuan luas (N/m^2 )
P
= beban (N)
A
= luas penampang (m2)
Dalam menentukan bahan untuk perancangan suatu struktur atau komponen, maka hal
yang paling utama yang harus ditentukan adalah tegangan yang mampu diberikan pad
a struktur tersebut. Tegangan yang harus ditentukan pada bahan sebelum proses pe
rancangan adalah :
Tegangan Batas didefinisikan sebagai tegangan satuan terbesar suatu bah
oad) pada kondisi batas (boundary condition) yang diberikan. Dari elemen-elemen
tersebut dapat disusun persamaan-persamaan matrik yang bias diselesaikan secara
numerik dan hasilnya menjadi jawaban dari kondisi beban pada benda kerja tersebu
t. Dari penyelesaian matematis dengan menghitung inverse matrik akan diperoleh p
ersamaan dalam bentuk matrik untuk sat elemen dan bentuk matrik total yang merup
akan penggabungan ( assemblage ) matrik elemen.
Secara garis besar bentuk persamaan dalam penyelesaian tegangan dan regangan unt
uk struktur dan pemipaan didasarkan pada rumus dasar perhitungan kekuatan dalam
konstruksi mekanik untuk daerah elastis sebagai berikut.
F = ((A . E)/I) ?l
Dimana :
F = gaya atau beban (N)
A = luas penampang (m2)
E = modulus elastisitas (Pa)
?l = pertambahan panjang (m)
Dari rumus dasar yang menunjukkan hubungan antara beban, sifat bahan, ge
ometri, dan pergeseran yang ditimbulkan dapat disusun bentuk umum persamaan dala
m elemen dengan persamaan matrik. Untuk problem pemipaan perhitungan tegangan ak
ibat beban mekanik dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan matrik serta m
emberikan syarat batas dan pembebanan dengan persamaan berikut:
[K] {u}= {F}
Dimana :
[K] = matrik kekakuan
{u} = matrik pengerasan
{F} = matrik beban
Untuk pembebanan termal rumus tegangan didasarkan pada besarnya perbedaa
n regangan pada setiap titik dan elemen akibat terjadinya distribusi temperatur
yang tidak merata. Secara umum bentuk rumusan tegangan termal dapat disusun dala
m persamaan matrik sebagai berikut:
s=D e=D [a ?T] T
Dimana :
D = matriks konstanta yang bergantung pada jenis bahan dan
dinyatakan dalam besaran modulus young (E) dan angka
poison (v).
e = regangan
a = koefisien muai panas dari bahan
?T = beda suhu
Dengan menyelesaikan inverse matrik yang terbentuk dalam persamaan dapat
diperoleh hasil berupa distribusi tegangan pada sistem. Berdasarkan bentuk pers
amaan matrik untuk tiap elemen dapat disusun bentuk persamaan matrik untuk gabun
gan yang kemudian memberikan hasil tegangan pada setiap titik dan elemen. Penyel
esaian akibat beban mekanik dan termal dapat juga diselesaikan dengan mmenggabun
gkan dua jenis pembebanan dan memberikan syarat batas dan menyelesaikan persamaa
n matriknya. Penyelesaian metode elemen hingga dapat diselesaikan dengan perhitu
ngan menggunakan program ANSYS untuk memperoleh hasil akhir berupa nilai dan dis
tribusi tegangan pada seluruh titik elemen pada komponen dengan mengikuti langka
h perhitungan yang diatur pada penggunaan program tersebut. Program ANSYS telah
menyusun penyelesaian persamaan dari gabungan dengan berbagai macam pembebanan
yang disusun dari penyelesaian dengan menghitung inverse matrik menggunakan tek
nik iterasi.
2.2.2. REGANGAN
Regangan digunakan untuk mempelajari deformasi yang terjadi pada suatu benda. Un
tuk memperoleh regangan, maka dilakukan dengan membagi perpanjangan (d) dengan p
anjang (L) yang telah diukur, dengan demikian diperoleh :
e= d/L
Dimana :
e = regangan
d = perubahan bentuk aksial total (mm)
2.3.4.1.1. ISOTROPIC
Isotropic material merupakan tipe material yang luas penggunaannya. Tipe
ini dapat digunakan untuk semua tipe elemen. Material yang memiliki tipe ini me
mpunyai sifat-sifat yang konstan pada semua arah. Oleh karena itu semua sifat di
tetapkan dengan satu nilai tanpa perlu pertimbangan arah.
2.3.4.1.2. ORTHOTROPIC 2D
Orthotropic 2D didefinisikan ada perbedaan, dalam bidang, karakteristik
material dalam arah utama. Material ini digunakan untuk axisymmetric elemen.
2.3.4.1.3. ORTHOTROPIC 3D
Tipe ini didefinisikan bahwa karakteristik material yang dimiliki variasi dalam
tiga arah (sumbu) utama, digunakan untuk elemen solid.
2.3.4.1.4. ANISOTROPIC 2D
Tipe ini adalah bentuk umum dari 2D orthotropic material, hanya saja parameter y
ang ditetapkan sebagai matrik umum 3x3.
2.3.4.1.5. ANISOTROPIC 3D
Tipe ini adalah bentuk yang lebih umum dari 3D orthotropic material, untuk kasus
ini dapat didefinisikan sebagai tipe matrik 6x6 dan untuk memperlihatkan parame
ter termal.
2.3.4.2. TIPE ELEMENT
Simulasi yang tergantung pada pemilihan tipe dan property element. Ada beberapa
tipe elemen yang dimiliki program ANSYS 14.0, secara luas diklasifikasikan sebag
ai berikut:
2.3.4.2.1. ELEMENT 3D
Memiliki volume, menghubungkan nodal yang terletak tidak pada bidang yang sama d
igunakan ketika tegangan yang terjadi pada seluruh bidang tiga dimensi.
2.3.4.2.2. ELEMENT 2D
Memiliki luas, menghubungkan nodal yang terletak pada suatu bidang digunakan ket
ika variasi tegangan terjadi hanya pada dua dimensi dan pada dimensi yang ketiga
konstan.
2.3.4.2.3. ELEMENT 1D
Memiliki panjang, menghubungkan dua nodal, disebut juga elemen garis.
2.3.4.3. PROPERTI ELEMENT
Untuk memilih properti yang digunakan untuk menganalisa elemen mesin. Program AN
SYS 14.0 memiliki daftar properti yang bias dipakai dalam bidang mekanika. Pemil
ihan ini disesuaikan dengan keadaan sebenarnya dari benda kerja yang akan dianal
isa. Properti yang dapat digunakan anatara lain.
2.3.4.3.1. ELEMEN GARIS (LINE ELEMENT)
Seluruh elemen yang termasuk kedalam tipe ini adalah menghubungkan dua nodal per
bedaan tipe yang dipilih memperlihatkan perbedaan kondisi struktural.
Merupakan tipe tube element yang lain. Elemen ini adalah kurva, sumbu netralnya
merupakan lengkungan bukan garis. Sering kali beberapa tube element disusun seb
uah lengkungan.
Digunakan untuk pemodelan belokan dan siku pada sistem pemipaan. Properti yang d
imiliki seperti halnya tube lain: diameter luar dan diameter dalam.
2.3.4.3.1.4. BAR ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional dan bending bent
uk beam yang lebih umum sering menggunakan elemen ini.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara l
ain : luas, momen inersia, konstanta torsional dan area geser.
2.3.4.3.1.5. BEAM ELEMENT
Uniaxial element yang memiliki kekakuan tekan, tarik, torsional, dan bending. E
lemen ini pada ujungnya dapat meruncing dan dapat diberikan properti yang berbed
a pada masing-masing ujungnya.
Digunakan untuk pemodelan beam / frame struktur. Properti yang memiliki antara l
ain: luas, momen inersia, konstanta torsional, dan area geser.
2.3.4.3.1.6. SPRING ELEMENT
Merupakan kombinasi pegas dan damper elemen, dapat berupa beban aksial m
aupun torsional. Properti yang dimiliki antara lain : kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.7. DOF SPRING ELEMENT
Dof spring element adalah kombinasi pegas dan damper element. Elemen ini meghubu
ngkan enam nodal derajat kebebasan pada nodal pertama, kepada nodal yang lain no
dal kedua.
Digunakan untuk menghubungkan dua derajat kebebasan dengan kekakuan tertentu. Pr
operti yang dimiliki : derajat kebebasan, kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.8. GAP ELEMENT
Gap element termaksud kedalam elemen nonlinear yang mempunyai kekakuan tarik, te
kan, dan geser yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan permukaan atau titik yang dapat terpisah, tertutu
p, atau bergeser dari satu terhadap yang lain. Properti yang dimiliki antara lai
n: kekuatan tarik, kekakuan melintang, dan koefisien gesek sumbu Y dan Z.
2.3.4.3.2. PLANE ELEMENT
Plane element dapat digunakan untuk memeperlihatkan membran, shell, dan pelat.
2.3.4.3.2.1. SHEAR PANEL ELEMENT
Elemen bidang hanya melawan gaya geser, gaya tangensial yang bekerja pada ujung
elemen. Elemen ini juga dapat melawan gaya normal.
Digunakan untuk memperlihatkan struktur yang berisikan lembaran yang sangat tipi
s, ditahan dengan kekakuan yang khusus. Properti yang dimiliki: ketebalan.
2.3.4.3.2.2. MEMBRAN ELEMENT
Elemen bidang yang hanya menahan gaya normal digunakan untuk membuat lembaran ya
ng sangat tipis. Properti: ketebalan.
2.3.4.3.2.3. BENDING ELEMENT
Elemen bidang yang hanya dapat menahan gaya bending digunakan untuk membuat mode
l pelat yang hanya digunakan menahan gaya bending. Properti: ketebalan dan kekua
tan bending.
2.3.4.3.2.4. PLATE ELEMENT
Elemen ini dapat menahan gaya geser, dan gaya bending. Digunakan untuk struktur
pelat tipis. Properti: ketebalan, kekakuan bending, dan gaya geser.
2.3.4.3.2.5. LAMINATE ELEMENT
Seperti plate element, kecuali bahwa elemen ini merupakan gabungan dari satu at
au lebih layer. Setiap layer dapat memperlihatkan material yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan shell. Properti: material, sudut orientasi, keteb
alan, dan gaya geser.
2.3.4.3.3. VOLUME ELEMENT
Elemen ini digunakan seluruh untuk pemodelan tiga dimensi solid struktur. Dengan
elemen ini akan didapatkan hasil analisa yang lengkap.
analisa. Istilah linear mengandung arti bahwa perhitungan perpindahan atau tega
ngan adalah linear terhadap gaya yang diberikan, dan istilah static mengandung a
rti bahwa tidak terpengaruh oleh waktu ( stady state ).
2.3.8.1.2. BUCKLING
Dalam linear statik struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ket
ika beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeform
asi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ket
ika beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeform
asi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur terus menerus terdeformasi, tanpa penambahan
yang besar. Dalam kasus seperti ini struktur menjadi tidak stabil, struktur men
galami buckling, untuk elastik atau linear, buckling analisis diasumsikan bahwa
yielding dari struktur dan arah gaya yang diberikan tidak berubah.
2.3.8.1.3. NORMAL MODEL
Normal model analisis menghitung frekuensi natural dari struktur frekuen
si natural adalah frekuensi yang erjadi bila struktur diberikan beban pengganggu
kestabilan.
2.3.8.2. HEAD TRANSFER ANALYSIC
ANSYS 14.0 untuk windows mempunyai kemampuan dalam menganalisa termal. Kemampuan
yang dimiliki antara lain, untuk kondisi dalam satu dimensi, dua dimensi, tiga
dimensi, konveksi bebas, konveksi paksa, radiasi, pembebanan panas permukaan, vo
lumetric, dan sistem kontrol termal elemen.
2.3.8.3. NONLINEAR ANALYSIC
Salah satu pertimbangan dalam penentuan tipe analisa adalah bahwa strukt
ur yang mengalami sifat nonlinear pada saat pembebanan. Berdasarkan hal itu, sif
at struktur dan material dapat dibuat nonlinear, banyak tipe dari sifat nonlinea
r yang mungkin terjadi. Jadi struktur mengalami perpindahan yang cukup besar, da
n material struktur mengalami pembebanan perpindahan yang cukup besar, dan mater
ial struktur mengalami pembebanan diatas yielding point, struktur akan cenderung
kurang kaku dan deformasi permanen akan terjadi. Program ANSYS 14.0 memberikan
pemilihan tipe-tipe tersebut, yaitu:
Geometri nonlinear
Material
Contact
2.3.8.4. DYNAMIC ANALYSIC
Piihan dynamic response yang dapat digunakan dari program ANSYS 14.0 ber
isikan kemampuan untuk:
Frekuensi response, yang menghitung stady-state response kedalam bentuk
sinusoidal aksitasi.
Transient response, yang menghitung response kedalam bentuk umum, dan fu
ngsi waktu terhadap eksitasi.
2.3.8.5. VISUALISASI ANALYSIC
Program ANSYS 14.0 memiliki kemampuan memperlihatan hasil analisa dalam
berbagai grafik dan tabel. Metode ini memberikan fasilitas agar data mengevaluas
i dengan cepat dan akurat walaupun elemen yang dianalisa sangat kompleks. Grafik
memberikan ketepatan dalam mengidentifikasi kecendrungan dan performa menyeluru
h dari model dan struktur yang dianalisa. Tabel juga memberikan kemudahan untuk
mengidentifikasikan keakuratan analisa dan informasi yang lebih detail mengenai
kondisi kritis yang terjadi.
2.3.8.5.1. XY STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan bagian hasil analisa berbentuk plo
t kurva dua dimensi dalam sumbu XY.
2.3.8.5.2. MODEL STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan model yang ada. Dengan fasilitas i
ni dapat dipilih beberapa tampilan dari bentuk model.
BAB III
PEMODELAN KOMPONEN SAMBUNGAN PIPA MODEL T
3.1. MODEL SAMBUNGAN PIPA - T
Pada kesempatan ini pemodelan dilakukan untuk sambungan pipa model T den
gan menggunakan program ANSYS 14.0. ANSYS adalah merupakan salah satu program ko
mputer untuk metode elemen hingga. Dengan ANSYS 14.0 semua tahap dalam analisis
struktur bisa dilakukan, yaitu mulai dari pembuatan geometri, meshing, pemiliha
n material, jenis elemen, penentuan syarat batas dan beban.
Dalam menganalisa suatu konstruksi melalui software terlebih dulu dibuat
bentuk tiga dimensi agar dapat mendekati bentuk aslinya. Dengan kesepakatan seb
agai berikut:
Sistem sumbu yang digunakan :
X = sumbu lateral.
Y = sumbu vertical.
Z = sumbu longitudinal.
Data dimensi komponen sambungan pipa model T
Diameter luar (Do)
= 4,5 (inchi)
Tebal dinding (t)
= 0,237 (inchi)
Diameter dalam (Di)
= 4,026 (inchi)
Dalam proses ini langkah-langkah yang dilakukan adalah :
3.2. PEMODELAN ELEMEN HINGGA
3.2.1. PEMODELAN GEOMETRI (CAD )
Pemodelan elemen hingga (finite element modelling) dilakukan den
gan tujuan untuk mendapatkan nilai tegangan pada komponen yang dimodelkan. Pemod
elan elemen hingga untuk komponen sambungan pipa model T dilakukan dengan menggu
nakan perintah Geometry pada Workbench ANSYS 14.0 tahun 2012. Awalnya membuat ga
mbar pipa utama pada bidang XY dengan ukuran seperti pada data dimensi komponen
sambungan pipa model T, kemudian membuat pipa percabangan pada bidang XZ dengan
ukuran dimensi yang sama dengan gambar pipa utama. Maka hasil gambar komponen sa
mbungan pipa model T dapat dilihat pada gambar 3.1.
Selanjutnya komponen sambungan pipa T diberi support (tumpuan) pada kedua sisi
ujung pipa utama komponen sambungan pipa T yang mewakili kondisi pipa. Jenis sup
port (tumpuan) yang diberikan ialah fixed support (tumpuan jepit) dimana yang di
bebaskannya adalah dalam arah rotasi X dan Y. Pemodelan dapat dilihat pada gamba
r 3.4.
Gambar 3.4 Hasil Pemodelan Support Pada Ansys 14.0
3.2.4. SOLUTION
Pada tahap solution disini dapat melihat hasil analisa tegangan-tegangan yang te
rjadi setelah diberikan pembebanan dan tumpuan. Tegangan yang terjadi pada kompo
nen sambungan pipa T pada software ANSYS 14.0 yaitu maximum principal stress dan
minimum principal stress. Hasil analisa tegangan maximum principal stress dan m
inimum principal stress dapat dilihat pada gambar 3.5 dan gambar 3.6.
Gambar 3.5 Hasil Solution Maximum Principal Stress Pada Ansys 14.0
Gambar 3.6 Hasil Solution Minimum Principal Stress Pada Ansys 14.0
3.3.
BAB IV
PERHITUNGAN DAN ANALISA
4.1. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T
SECARA MANUAL
Perhitungan sambungan pipa model T secara numerik dengan menggunakan pro
gram ANSYS 14.0 akan dibandingkan dengan perhitungan secara manual. Maka perhitu
ngan tegangan pada komponen sambungan pipa model T sebagai berikut:
Dimensi komponen sambungan pipa model T yang diperlukan dalam perhitunga
n:
Diameter luar (Do)
Diameter dalam (Di)
Jari-jari pipa (r)
Tebal pipa (t)
Tekanan internal (P)
=
=
=
=
=
4,5 (in) .
4,026 (in) .
2,25 (in) .
0,237 (in).
14,5 (Psi) .
Pada perhitungan analitik menentukan hoop stress pada pipa utama ( tanpa sambung
an ) seperti pada gambar 4.1 dengan menggunakan persamaan rumus:
= tekanan (Psi)
D
= diameter luar pipa (in)
t
= tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik hoop stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
? s?_(H = (P . D)/(2 . t) )
s_(H = (14,5 Psi . 4,5 in)/(2 . 0,237 in) )
s_(H = ( 65,25 Psi .in)/(0,474 in) )
s_(H = 137,65 Psi )
Pada perhitungan analitik menentukan axial stress pada pipa utama ( tanpa sambun
gan ) seperti pada gambar 4.2 dengan menggunakan persamaan rumus:
358
for (t/T) = 1.
K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D) 0,00736 (t/T)0,0126
for (t/T) < 1.
C1M
= Modified secondary stress index due to internal pressure
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,018
5
for (t/T) = 1.
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,00829
for (t/T) < 1.
P
= Internal Pressure (tekanan dalam pipa).
D
= Outside diameter of run pipe (diameter pipa utama).
d
= Outside diameter of trunnion pipe support (diameter pipa cab
ang)
T
= Thickness of run pipe (tebal dinding pipa utama).
t
= Thickness of trunnion pipe support (tebal dinding pipa cabang)
Jadi asumsi nilai hoop stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_H = K1M . C1M (PD/2T)
s_H = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi
.4,5 in)/(2 . 0,237 in))
s_H = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,474 in))
s_H = 162,13 Psi
Jadi asumsi nilai axial stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_A = K1M . C1M (PD/4T)
s_A = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,
5 Psi .4,5 in)/(4 . 0,237 in))
s_A = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,948 in))
s_A = 81,07 Psi
Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Princip
al
Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kiri Komponen Sambungan Pipa Mo
del T
Posisi
-41
-40
-39
-38
-37
-36
-35
-34
-33
-32
-31
-30
-29
-28
-27
-26
-25
-24
-23
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Maximum
16.483
17.021
17.315
17.356
17.436
17.507
18.299
18.384
26.455
59.609
94.802
139.58
184.41
236.29
288.18
346.81
405.48
471.39
537.39
611.4
685.57
768.73
852.15
945.99
1040.2
1147
1254.4
1378.2
1502.9
1649.9
1798.2
1987.6
2179
2442.2
2706.8
3205.7
3707.5
4800.8
6073.5
7858.5
8382.5
11338
6322.8
5898.6
6176.2
6752.2
7180.8
7213.2
8434
8446.3
9357.5
8932
8845.9
12
13
14
8542.2 -681.98
8558.7 -3865.7
10412 -2832.1
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Princip
al
Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kanan Komponen Sambungan Pipa M
odel T
Posisi
-41
-40
-39
-38
-37
-36
-35
-34
-33
-32
-31
-30
-29
-28
-27
-26
-25
-24
-23
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
Maximum
16.463
16.99
17.305
17.357
17.447
17.683
18.341
18.35
26.224
58.984
93.971
138.56
183.21
234.92
286.63
345.08
403.55
469.26
535.05
608.84
682.77
765.66
848.8
942.29
1036.2
1142.6
1249.6
1372.8
1496.9
1644.1
1792.6
1980.5
2170.3
2442.7
2716.9
3196.2
3676.4
4834.6
5993
8352.7
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
9349
7381.7
6082.4
6190.7
6357.8
6769.6
7856.7
8087.6
8420.4
8539.2
10207
8834.7
8886.1
8926.2
10372
7212.3
-1782.4
-4162.4
-2895
-2830.9
-2623.8
-2568.4
-2448.3
-2372.4
-2106.5
-1832.5
-1802.4
-1944.1
-1265.2
-841.99
-684.4
-3883.7
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Princip
al
Stress Pada Daerah Sambungan Pipa Utama dan Cabang Komponen Sam
bungan
Pipa Model T.
Posisi
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Maximum
12588
14763
17240
15074
12437
11284
11021
8588.9
7409.6
6421.2
6276.8
5447.3
2902.3
2688.6
128.69
81.822
67.821
65.663
26.872
23.223
0.41004
-25.95
-1088.4
-836.12
-717.28
-685.42
-335.4
-262.83
-207.15
-131.95
-45.706
1338.8
1474.2
4028.7
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
4063.4
5272.1
7296.4
7404
10043
11168
11281
13690
13778
9967.1
8636.3
-3885.5
-1724
-1484.6
-1300.4
-1199.2
716.01
722.61
831.37
844.62
1219.9
-115.62
Gambar 4.4 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal St
ress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kiri Komponen Sambungan Pipa Model T
Gambar 4.5 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal St
ress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kanan Komponen Sambungan Pipa Model T.
Gambar 4.6 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal S
tress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang daerah sambungan pipa
utama dan pipa cabang Komponen Sambungan Pipa Model T
4.4. ANALISA PERBANDINGAN ANTARA PERHITUNGAN MANUAL
DENGAN PERHITUNGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Dari hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 dapat diperoleh distri
busi tegangan yaitu maximum principal stress untuk menunjukkan tegangan hoop str
ess pada sisi luar dan dalam dari komponen pipa T dan minimum principal stress m
enunjukkan tegangan axial stress pada sisi luar dan dalam komponen pipa T terseb
ut.
Perbandingan hasil perhitungan antara metode elemen hingga menggunakan p
rogram ANSYS 14.0 dengan perhitungan manual berdasarkan persamaan empiris yang t
elah diperoleh hasilnya setelah melakukan proses penurunan persamaan.
Tabel 4.5 Hasil Analisa Tegangan Minimum Principal Stress (Numerik) dengan Axial
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK
PERHITUNGAN EMPIRIS
KEGAGALAN
(%)
MINIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) AXIAL STRESS
(Psi)
81.286 (Psi)
81.07 (Psi)
2.66 x 10-3
Tabel 4.6 Hasil Analisa Tegangan Maximum Principal Stress (Numerik) dengan Hoop
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK
PERHITUNGAN EMPIRIS
(%)
MAXIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) HOOP STRESS
(Psi)
KEGAGALAN
162.27 (Psi)
162.13 (Psi)
8.63 x 10-4
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 maupun perhitungan empiris
memperoleh harga tegangan yang berbeda. Secara umum perhitungan ANSYS diperoleh
berbagai macam harga tegangan yang berbeda dalam komponen akibat pengaruh bentuk
geometri, seperti juga dalam hasil perhitungan untuk beberapa bengkokan pipa da
n sistem pemipaan lainnya. Hasil perhitungan ANSYS 14.0 lebih konservatif diband
ingkan hasil perhitungan empiris, dari hasil perhitungan ini bisa dikatakan bahw
a perhitungan ANSYS 14.0 lebih teliti dengan memberikan hasil pada setiap titik
nodesnya dan bisa menghasilkan desain lebih teliti dan efisien. Perhitungan deng
an ANSYS ini mudah dikembangkan untuk analisis desain, yaitu dengan mengubah inp
ut file, ketelitian dari hasil perhitungan ditentukan oleh visualisasi atau mode
lling yang diambil, baik dalam pemilihan tipe elemen ataupun penentuan siarat ba
tas dalam pembebanan.
5.2. SARAN
Untuk mendapatkan hasil analisa komponen sambungan pipa T secara numerik
yang lebih teliti diperlukan melakukan pemodelan komponen dengan menggunakan so
ftware yang lain selain ANSYS 14.0 sehingga perhitungan numerik mendekati hasil
perhitungan empiris dan analitik.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Sambungan pipa model T merupakan salah satu komponen untuk menyalurkan fluida, y
ang merupakan subjek dari atau perubahan harga tekanan. Pipa itu sendiri harus d
iperhitungkan bersama perubahan fluktuasi gaya yang terjadi pada sistem dari flu
ida, gas atau efek luar seperti tiupan angin dan gangguan gempa bumi.
Perencanaan sistem pemipaan harus memperhatikan sistem pipa atau pemipaan sepert
i :
Jumlah kebutuhan fluida atau gas dengan tekanan yang dapat diterima oleh
material.
Memiliki fleksibilitas penurunan tegangan agar semua kondisi operasi dar
i gaya-gaya momen di pipa berada dalam batas yang diijinkan.
Tegangan merupakan salah satu besaran yang harus menjadikan perhatian utama dala
m perancangan. Banyak metode yang dapat digunakan untuk manganalisi tegangan. Di
antaranya metode analitik dan numerik. Penyelesaian masalah dengan mengguakan me
tode analitik merupakan metode penyelesaian yang paling baik, namun ada kalanya
metode tersebut tidak dapat digunakan apabila menyangkut masalah sistem geometri
kondisi batas yang rumit, serta sifat-sifat material yang bervariasi. Oleh kare
na itu, digunakan metode numerik sebagai pendekatannya. Beberapa metode numerik
yang lazim digunakan diantaranya metode elemen hingga (Finite Element Method).
Metode elemen hingga merupakan metode yang paling popular digunakan. Untuk mener
apkan metoda elemen hingga tersebut, diperlukan seperangkat komputer digital bes
erta perangkat lunaknya, dan saat ini sudah banyak tersedia paket-paket perangka
t lunak metode elemen hingga yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah
teknik. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 14.0 yang merupakan suatu per
angkat lunak metode elemen hingga yang digunakan sebagai pengganti keterbatasan
solusi analitik.
1.2.
IDENTIFIKASI MASALAH
Masalah yang dianalisa pada tugas akhir ini adalah untuk pemodelan siste
m yang melibatkan geometri dan kondisi-kondisi batas yang rumit, serta sifat-sif
at material yang bervasiasi, penyelesaian analitik sangat sulit untuk digunakan.
Karena keterbatasan solusi analitik tersebut, maka dilakukanlah berbagai cara u
ntuk mengatasinya, diantaranya : membuat perangkat lunak sendiri dan menggunakan
perangkat lunak tersebut, diperlukan waktu yang cukup lama. Sehingga cara ini p
un belum efektif untuk dilakukan.
Dengan kondisi - kondisi tersebut, maka cara yang paling efisien yaitu menggunak
an perangkat lunak yang telah ada. Salah satunya adalah perangkat lunak ANSYS 1
4.0 yang merupakan perangkat lunak metode elemen hingga yang telah popular.
Dalam tugas akhir ini, identifikasi masalah menitik beratkan pada cara penggunaa
n masalah gaya yang terjadi dalam proses pembebanan dengan menggunakan perangkat
lunak ANSYS 14.0 untuk menyelesaikan masalah gaya.
1.3.
TUJUAN
Tujuan tugas akhir ini menganalisa tegangan pada komponen sambungan pipa
model T dengan menggunakan perhitungan secara analitik pada pipa utama, empiris
pada pipa bercabang, maupun numerik (software ANSYS 14.0).
1.4.
LINGKUP MASALAH
Untuk memperjelas batasan masalah dari penyelesaian suatu kasus, maka pe
nulis memberikan lingkup pembahasan sebagai berikut:
PEMODELAN AWAL
Yaitu membuat pernyataan masalah pada suatu kasus yang akan dianalisa se
belum menggunakan perangkat lunak ANSYS 14.0. Dalam membuat pernyataan masalah t
ersebut, adalah beberapa asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu : gaya yang terjadi
pada saat pembebanan.
Pelaksanaan motode elemen hingga dengan menggunakan perangkat lunak ANSY
S 14.0 yaitu memodelkan suatu kasus nyata kedalam perangkat lunak ANSYS 14.0.
INTERPRESTASI HASIL
Yaitu menafsirkan hasil yang didapatkan dari penyelesaian kasus tersebut.
1.5.
SISTEMATIKA PENULISAN
Agar lebih mempermudah penyusunan laporan ini maka perlu penyusunan dala
m beberapa bab yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, pembatasan
masalah dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Membahas teori-teori yang berhubungan dengan metode elemen hingga
dan program ANSYS 14.0.
BAB III PEMODELAN STRUKTUR SAMBUNGAN PIPA MODEL T
Terdiri dari pegumpulan data, pemodelan dengan menggunakan program
ANSYS 14.0 dan pemilihan ukuran dari variable-variabel.
BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA
Bab ini berisikan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan yang
diran
gkum secara keseluruhan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
sebagai acuan dalam menilai desain yang dimodelkan. Dari analisis yang dilakukan
, maka dapat ditentukan perubahan-perubahan untuk perbaikan desain maupun kualit
as model.
2.1.4. APLIKASI PADA METODE ELEMEN HINGGA
2.1.4.1. PADA MASALAH STRUKTUR:
Analisa Tegangan: pada struktur rangka, balok dan frame; pada struktur pelat
berlubang, dst.
Kejadian Tekuk (Buckling): pada kolom dan shell.
Analisa Getaran.
2.1.4.2. PADA MASALAH NON-STRUKTUR:
Kejadian Transfer panas (Heat Transfer).
Aliran Fluida (Fluid Flow), termasuk aliran dalam media berpori (tanah).
Distribusi dari potensi magnetik atau elektrik.
2.1.4.3. APLIKASI PADA BIOENGINEERING.
2.1.5. KEUNTUNGAN DARI METODE ELEMEN HINGGA
Memodelkan bentuk yang kompleks.
Menyelesaikan kondisi pembebanan umum.
Memodelkan objek / struktur dengan jenis material yang banyak (karena
Persamaan Pada tingkat elemen).
Memodelkan banyak macam syarat batas.
Dengan mudah menggunakan bermacam ukuran elemen dalam meshing.
Menyelesaikan model dengan mudah dan murah.
Dapat memodelkan efek dinamis.
Menyelesaikan kelakuan tidak linier dari geometri dan material.
2.1.6. SOFTWARE DARI METODE ELEMEN HINGGA
GT STRUDL.
CATIA.
STRUCAD.
SAP2000.
ABAQUS.
FLUENT.
ALGOR.
IDEAS.
CFX.
ANSYS.
FEMAP.
ADINA.
MSC NASTRAN.
MSC PATRAN.
ROBOT (AUTODESK).
MSC DYTRAN.
MSC MARC.
SACS.
MICRO SAS.
2.1.7. TEORI PEMROGRAMAN
Algoritma perhitungan dari suatu proses analisis sederhana dapat ditulis
kan dalam satu program tunggal, khususnya jika ternyata program tersebut berukur
an kecil katakanlah dalam orde ratusan baris. Penyusunan, modifikasi dan kompila
si program tunggal dengan demikian masih bisa dilakukan dengan mudah. Namun jika
program sudah besar dengan ribuan bahkan puluhan ribu baris maka praktek penuli
san algoritma dalam suatu program tunggal sebaiknya dihindari atas dasar beberap
a alasan, antara lain :
Semakin besar ukuran program, semakin lama waktu kompilasi yang dibutuhk
an. Program yang berukuran 2 kali membutuhkan waktu kompilasi lebih dari 2 kali
lipat. Hal ini diperlukan demi alasan penghematan waktu kompilasi.
Alasan yang menyangkut kompilasi ulang. Modifikasi beberapa baris saja m
embutuhkan kompilasi ulang program keseluruhan, yang jika terdiri-dari ribuan ba
g rumit.
Analisa tegangan untuk bentuk-bentuk elemen mesin yang rumit lebih efekt
if bila menggunakan komputer dengan software yang sesuai, dengan demikian akan m
emperoleh hasil yang lebih sederhana dan dapat mempercepat proses analisis, meni
ngkatkan ketelitian perhitungan serta mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi.
ANSYS 14.0 adalah program metode elemen hingga yang dapat digunakan untu
k menganalisa tegangan, getaran dan perpindahan panas untuk struktur dan elemen
mesin. Perangkat lunak ANSYS 14.0 memberikan kemudahan untuk menganalisa bentukbentuk elemen mesin yang rumit dengan hasil yang dapat diterima.
2.3.2. PEMBUATAN MODEL
Hal pertama yang dilakukan untuk menganalisa struktur dengan menggunakan
ANSYS 14.0 adalah peembuatan pemodelan bagi elemen mesin yang akan dianalisa te
rsebut. Pemodelan adalah proses untuk memperlihatkan sifat-sifat fisik elemen ya
ng akan dianalisa dengan dengan lengkap.
Dengan menggunakan program ANSYS 14.0 pemodelan dapat dilakukan dengan i
mport geometri dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0. Untuk pemod
elan elemen hingga ang akan dibuat dan akan dianalisa pada program ANSYS 14.0 da
pat menghasilkan pemodelan yang lengkap. Pembuatan jarring-jaring nodal ( meshin
g ) dapat dilakukan dengan manual ataupun dengan automatis. Pemilihan material y
ang tepat serta sifat-sifat material dapat diambil dari program ANSYS 14.0 libra
ries bermacam-macam bentuk tumpuan dan kondisi pembebanan dapat diterapkan pada
model untuk memodelkan keadaan model sebenarnya.
2.3.3. PEMBUATAN GEOMETRI
Untuk membuat suatu pemodelan diperluakan geometri dari elemen mesin yan
g akan dianalisa pemodelan dapat dilakukan dengan memindahkan ( import ) geometr
i dari CAD atau dengan membuat model dengan ANSYS 14.0, bila pembuatan model geo
metri dilakukan dengan menggunakan program ANSYS 14.0, maka dapat menggunakan pe
rintah-perintah menu create, dengan perintah-perintah yang ada pada menu tersebu
t dapat dibuat geometri dari model yang akan dianalisa.
2.3.4. PENENTUAN MATERIAL DAN PROPERTI ELEMENT
Setelah geometri elemen dibuat langkah selanjutnya adalah menentukan mat
erial dan tipe material dari elemen tersebut. Sifat-sifat dari material yang aka
n digunakan seperti modulus young dan mass density, tergantung pada tipe materia
l tersebut.
2.3.4.1. TIPE MATERIAL
ANSYS 14.0 memiliki tipe-tipe material yang dapat digunakan dibawah ini:
2.3.4.1.1. ISOTROPIC
Isotropic material merupakan tipe material yang luas penggunaannya. Tipe
ini dapat digunakan untuk semua tipe elemen. Material yang memiliki tipe ini me
mpunyai sifat-sifat yang konstan pada semua arah. Oleh karena itu semua sifat di
tetapkan dengan satu nilai tanpa perlu pertimbangan arah.
2.3.4.1.2. ORTHOTROPIC 2D
Orthotropic 2D didefinisikan ada perbedaan, dalam bidang, karakteristik
material dalam arah utama. Material ini digunakan untuk axisymmetric elemen.
2.3.4.1.3. ORTHOTROPIC 3D
Tipe ini didefinisikan bahwa karakteristik material yang dimiliki variasi dalam
tiga arah (sumbu) utama, digunakan untuk elemen solid.
2.3.4.1.4. ANISOTROPIC 2D
Tipe ini adalah bentuk umum dari 2D orthotropic material, hanya saja parameter y
ang ditetapkan sebagai matrik umum 3x3.
2.3.4.1.5. ANISOTROPIC 3D
Tipe ini adalah bentuk yang lebih umum dari 3D orthotropic material, untuk kasus
ini dapat didefinisikan sebagai tipe matrik 6x6 dan untuk memperlihatkan parame
ter termal.
2.3.4.2. TIPE ELEMENT
Simulasi yang tergantung pada pemilihan tipe dan property element. Ada beberapa
tipe elemen yang dimiliki program ANSYS 14.0, secara luas diklasifikasikan sebag
ai berikut:
2.3.4.2.1. ELEMENT 3D
Memiliki volume, menghubungkan nodal yang terletak tidak pada bidang yang sama d
igunakan ketika tegangan yang terjadi pada seluruh bidang tiga dimensi.
2.3.4.2.2. ELEMENT 2D
Memiliki luas, menghubungkan nodal yang terletak pada suatu bidang digunakan ket
ika variasi tegangan terjadi hanya pada dua dimensi dan pada dimensi yang ketiga
konstan.
2.3.4.2.3. ELEMENT 1D
Memiliki panjang, menghubungkan dua nodal, disebut juga elemen garis.
2.3.4.3. PROPERTI ELEMENT
Untuk memilih properti yang digunakan untuk menganalisa elemen mesin. Program AN
SYS 14.0 memiliki daftar properti yang bias dipakai dalam bidang mekanika. Pemil
ihan ini disesuaikan dengan keadaan sebenarnya dari benda kerja yang akan dianal
isa. Properti yang dapat digunakan anatara lain.
2.3.4.3.1. ELEMEN GARIS (LINE ELEMENT)
Seluruh elemen yang termasuk kedalam tipe ini adalah menghubungkan dua nodal per
bedaan tipe yang dipilih memperlihatkan perbedaan kondisi struktural.
ngkan enam nodal derajat kebebasan pada nodal pertama, kepada nodal yang lain no
dal kedua.
Digunakan untuk menghubungkan dua derajat kebebasan dengan kekakuan tertentu. Pr
operti yang dimiliki : derajat kebebasan, kekakuan dan damping.
2.3.4.3.1.8. GAP ELEMENT
Gap element termaksud kedalam elemen nonlinear yang mempunyai kekakuan tarik, te
kan, dan geser yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan permukaan atau titik yang dapat terpisah, tertutu
p, atau bergeser dari satu terhadap yang lain. Properti yang dimiliki antara lai
n: kekuatan tarik, kekakuan melintang, dan koefisien gesek sumbu Y dan Z.
2.3.4.3.2. PLANE ELEMENT
Plane element dapat digunakan untuk memeperlihatkan membran, shell, dan pelat.
2.3.4.3.2.1. SHEAR PANEL ELEMENT
Elemen bidang hanya melawan gaya geser, gaya tangensial yang bekerja pada ujung
elemen. Elemen ini juga dapat melawan gaya normal.
Digunakan untuk memperlihatkan struktur yang berisikan lembaran yang sangat tipi
s, ditahan dengan kekakuan yang khusus. Properti yang dimiliki: ketebalan.
2.3.4.3.2.2. MEMBRAN ELEMENT
Elemen bidang yang hanya menahan gaya normal digunakan untuk membuat lembaran ya
ng sangat tipis. Properti: ketebalan.
2.3.4.3.2.3. BENDING ELEMENT
Elemen bidang yang hanya dapat menahan gaya bending digunakan untuk membuat mode
l pelat yang hanya digunakan menahan gaya bending. Properti: ketebalan dan kekua
tan bending.
2.3.4.3.2.4. PLATE ELEMENT
Elemen ini dapat menahan gaya geser, dan gaya bending. Digunakan untuk struktur
pelat tipis. Properti: ketebalan, kekakuan bending, dan gaya geser.
2.3.4.3.2.5. LAMINATE ELEMENT
Seperti plate element, kecuali bahwa elemen ini merupakan gabungan dari satu at
au lebih layer. Setiap layer dapat memperlihatkan material yang berbeda.
Digunakan untuk memperlihatkan shell. Properti: material, sudut orientasi, keteb
alan, dan gaya geser.
2.3.4.3.3. VOLUME ELEMENT
Elemen ini digunakan seluruh untuk pemodelan tiga dimensi solid struktur. Dengan
elemen ini akan didapatkan hasil analisa yang lengkap.
2.3.4.3.3.1. AXISYMETRIC ELEMENT
Tipe ini adalah elemen dua dimensi digunakan untuk memperlihatkan volume hasil r
evolusi. Aplikasi adalah untuk pemodelan axisymetric solid struktur dengan axisy
metric tumpuan dan axisymetric beban.
2.3.4.3.3.2. SOLID ELEMENT
Tipe ini adalah solid tiga dimensi. Aplikasinya untuk struktur atau elemen mesin
tiga dimensi. Dengan menggunakan elemen solid ini maka output yang didapatkan l
ebih lengkap.
Program ANSYS 14.0 memberikan fasilitas untuk membuat tumpuan dalam setiap struk
tur / elemen mesin yang dianalisa.
2.3.7. PEMBERIAN BEBAN
Beban yang diberikan terhadap subjek yang akan dianalisa dapat berupa body load,
load nodal, dan elemental load. Pemilihan tipe ini disesuaikan dengan keadaan s
ebenarnya dari elemen mesin yang akan dianalisa.
2.3.7.1. BODY LOAD
Body load bekerja pada seluruh elemen pada pemodelan dan berguna untuk m
emperhatikan:
Percepatan.
Kecepatan.
Termal.
2.3.7.2. BEBAN NODAL
Beban nodal yang dapat diberikan adalah:
Gaya dan momen.
Perpindahan.
Percepatan.
Temperatur.
2.3.7.3. BEBAN ELEMENTAL
Beban elemental memiliki enam tipe pembebanan, yaitu:
Tekanan.
Temperatur.
Konveksi.
Radiasi.
2.3.8. ANALISA
Analisa terhadap struktur aatau elemen mesin yang daapat dilakukan oleh program
ANSYS 14.0 meliputi:
Basic struktur analysic
Heat transfer analysic
Nonlinear analysic
Dynamic analysic
Visualisasi analysic
2.3.8.1. BASIC STRUKTUR ANALYSIC
2.3.8.1.1. LINEAR STATIC
Linear static analysic merupakan tipe yang paling sering digunakan dalam
analisa. Istilah linear mengandung arti bahwa perhitungan perpindahan atau tega
ngan adalah linear terhadap gaya yang diberikan, dan istilah static mengandung a
rti bahwa tidak terpengaruh oleh waktu ( stady state ).
2.3.8.1.2. BUCKLING
Dalam linear statik struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ket
ika beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeform
asi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur diasumsikan berada dalam kesetimbangan. Ket
ika beban ditiadakan, struktur akan kembali kebentuk semula atau tidak terdeform
asi.
Pada kombinasi pembebanan, struktur terus menerus terdeformasi, tanpa penambahan
yang besar. Dalam kasus seperti ini struktur menjadi tidak stabil, struktur men
galami buckling, untuk elastik atau linear, buckling analisis diasumsikan bahwa
yielding dari struktur dan arah gaya yang diberikan tidak berubah.
2.3.8.1.3. NORMAL MODEL
Normal model analisis menghitung frekuensi natural dari struktur frekuen
si natural adalah frekuensi yang erjadi bila struktur diberikan beban pengganggu
kestabilan.
2.3.8.2. HEAD TRANSFER ANALYSIC
ANSYS 14.0 untuk windows mempunyai kemampuan dalam menganalisa termal. Kemampuan
yang dimiliki antara lain, untuk kondisi dalam satu dimensi, dua dimensi, tiga
dimensi, konveksi bebas, konveksi paksa, radiasi, pembebanan panas permukaan, vo
lumetric, dan sistem kontrol termal elemen.
2.3.8.3. NONLINEAR ANALYSIC
Salah satu pertimbangan dalam penentuan tipe analisa adalah bahwa strukt
ur yang mengalami sifat nonlinear pada saat pembebanan. Berdasarkan hal itu, sif
at struktur dan material dapat dibuat nonlinear, banyak tipe dari sifat nonlinea
r yang mungkin terjadi. Jadi struktur mengalami perpindahan yang cukup besar, da
n material struktur mengalami pembebanan perpindahan yang cukup besar, dan mater
ial struktur mengalami pembebanan diatas yielding point, struktur akan cenderung
kurang kaku dan deformasi permanen akan terjadi. Program ANSYS 14.0 memberikan
pemilihan tipe-tipe tersebut, yaitu:
Geometri nonlinear
Material
Contact
2.3.8.4. DYNAMIC ANALYSIC
Piihan dynamic response yang dapat digunakan dari program ANSYS 14.0 ber
isikan kemampuan untuk:
Frekuensi response, yang menghitung stady-state response kedalam bentuk
sinusoidal aksitasi.
Transient response, yang menghitung response kedalam bentuk umum, dan fu
ngsi waktu terhadap eksitasi.
2.3.8.5. VISUALISASI ANALYSIC
Program ANSYS 14.0 memiliki kemampuan memperlihatan hasil analisa dalam
berbagai grafik dan tabel. Metode ini memberikan fasilitas agar data mengevaluas
i dengan cepat dan akurat walaupun elemen yang dianalisa sangat kompleks. Grafik
memberikan ketepatan dalam mengidentifikasi kecendrungan dan performa menyeluru
h dari model dan struktur yang dianalisa. Tabel juga memberikan kemudahan untuk
mengidentifikasikan keakuratan analisa dan informasi yang lebih detail mengenai
kondisi kritis yang terjadi.
2.3.8.5.1. XY STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan bagian hasil analisa berbentuk plo
t kurva dua dimensi dalam sumbu XY.
2.3.8.5.2. MODEL STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan model yang ada. Dengan fasilitas i
ni dapat dipilih beberapa tampilan dari bentuk model.
2.3.8.5.3. DEFORMED STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, deformasi,
animasi, dan vektor.
2.3.8.5.4. COUNTOUR STYLE
Merupakan fasilitas program untuk menampilkan hasil analisa seperti, con
tour, tegangan, keriteria, dan lain - lain.
BAB III
PEMODELAN KOMPONEN SAMBUNGAN PIPA MODEL T
3.1. MODEL SAMBUNGAN PIPA - T
Pada kesempatan ini pemodelan dilakukan untuk sambungan pipa model T den
gan menggunakan program ANSYS 14.0. ANSYS adalah merupakan salah satu program ko
mputer untuk metode elemen hingga. Dengan ANSYS 14.0 semua tahap dalam analisis
struktur bisa dilakukan, yaitu mulai dari pembuatan geometri, meshing, pemiliha
n material, jenis elemen, penentuan syarat batas dan beban.
Dalam menganalisa suatu konstruksi melalui software terlebih dulu dibuat
bentuk tiga dimensi agar dapat mendekati bentuk aslinya. Dengan kesepakatan seb
agai berikut:
Sistem sumbu yang digunakan :
X = sumbu lateral.
Y = sumbu vertical.
Z = sumbu longitudinal.
Data dimensi komponen sambungan pipa model T
Diameter luar (Do)
= 4,5 (inchi)
Tebal dinding (t)
= 0,237 (inchi)
Diameter dalam (Di)
= 4,026 (inchi)
Dalam proses ini langkah-langkah yang dilakukan adalah :
3.2. PEMODELAN ELEMEN HINGGA
3.2.1. PEMODELAN GEOMETRI (CAD )
Pemodelan elemen hingga (finite element modelling) dilakukan den
gan tujuan untuk mendapatkan nilai tegangan pada komponen yang dimodelkan. Pemod
elan elemen hingga untuk komponen sambungan pipa model T dilakukan dengan menggu
nakan perintah Geometry pada Workbench ANSYS 14.0 tahun 2012. Awalnya membuat ga
mbar pipa utama pada bidang XY dengan ukuran seperti pada data dimensi komponen
sambungan pipa model T, kemudian membuat pipa percabangan pada bidang XZ dengan
ukuran dimensi yang sama dengan gambar pipa utama. Maka hasil gambar komponen sa
mbungan pipa model T dapat dilihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Geometry Komponen Sambungan Pipa Model T
3.2.2. JARING-JARING NODAL (MESHING MODEL)
Sebelum proses analisis dilakukan, maka setelah pemodelan geometri yaitu
melakukan proses meshing pada komponen sambungan pipa model T sesuai dengan tah
apan analisis pada software ANSYS 14.0. Hasil meshing dapat dilihat pada gambar
3.2.
Selanjutnya komponen sambungan pipa T diberi support (tumpuan) pada kedua sisi
ujung pipa utama komponen sambungan pipa T yang mewakili kondisi pipa. Jenis sup
port (tumpuan) yang diberikan ialah fixed support (tumpuan jepit) dimana yang di
bebaskannya adalah dalam arah rotasi X dan Y. Pemodelan dapat dilihat pada gamba
r 3.4.
Gambar 3.4 Hasil Pemodelan Support Pada Ansys 14.0
3.2.4. SOLUTION
Pada tahap solution disini dapat melihat hasil analisa tegangan-tegangan yang te
rjadi setelah diberikan pembebanan dan tumpuan. Tegangan yang terjadi pada kompo
nen sambungan pipa T pada software ANSYS 14.0 yaitu maximum principal stress dan
minimum principal stress. Hasil analisa tegangan maximum principal stress dan m
inimum principal stress dapat dilihat pada gambar 3.5 dan gambar 3.6.
Gambar 3.5 Hasil Solution Maximum Principal Stress Pada Ansys 14.0
Gambar 3.6 Hasil Solution Minimum Principal Stress Pada Ansys 14.0
3.3.
BAB IV
PERHITUNGAN DAN ANALISA
4.1. PERHITUNGAN TEGANGAN PADA SAMBUNGAN PIPA MODEL T
SECARA MANUAL
Perhitungan sambungan pipa model T secara numerik dengan menggunakan pro
gram ANSYS 14.0 akan dibandingkan dengan perhitungan secara manual. Maka perhitu
ngan tegangan pada komponen sambungan pipa model T sebagai berikut:
Dimensi komponen sambungan pipa model T yang diperlukan dalam perhitunga
n:
Diameter luar (Do)
Diameter dalam (Di)
Jari-jari pipa (r)
Tebal pipa (t)
Tekanan internal (P)
=
=
=
=
=
4,5 (in) .
4,026 (in) .
2,25 (in) .
0,237 (in).
14,5 (Psi) .
Pada perhitungan analitik menentukan hoop stress pada pipa utama ( tanpa sambung
an ) seperti pada gambar 4.1 dengan menggunakan persamaan rumus:
= tekanan (Psi)
= diameter luar pipa (in)
t
= tebal pipa (in)
Maka perhitungan analitik axial stress pada pipa utama ( tanpa sambungan ):
s_(A = (P . D)/( 4 . t) )
s_(A = (14,5 Psi . 4,5 in)/(4 . 0,237 in) )
?
s?_(A = (65,25 Psi .in)/(0,948 in) )
s_(A = 68,23 Psi )
Pada komponen sambungan pipa model T, perhitungan analitik hanya bisa me
nghitung untuk pipa utama ( tanpa sambungan ) saja, maka tidak bisa diuraikan se
cara analitik akan tetapi bisa dengan menggunakan cara empiris.
Berdasarkan persamaan empiris dari persamaan (19) journal of the Korean
nuclear society volume 29, number 4 dengan judul Stress Index Development for pi
ping with trunnion Attachment Under Pressure and Moment Loadings , halaman 310 - 3
19 maka perhitungan sambungan pipa model T dapat diselesaikan dengan persamaan r
umus sebagai berikut:
s_H
= K1M . C1M (PD/2T) ( untuk hoop stress).
s_A
= K1M . C1M (PD/4T) ( untuk axial stress).
dimana:
K1M
358
for (t/T) = 1.
K1M = 1,085 (D/T)-0,0208(d/D) 0,00736 (t/T)0,0126
for (t/T) < 1.
C1M
= Modified secondary stress index due to internal pressure
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,018
5
for (t/T) = 1.
C1M = 0,829 (D/T)0,111(d/D)-0,0445(t/T)0,00829
for (t/T) < 1.
P
= Internal Pressure (tekanan dalam pipa).
D
= Outside diameter of run pipe (diameter pipa utama).
d
= Outside diameter of trunnion pipe support (diameter pipa cab
ang)
T
= Thickness of run pipe (tebal dinding pipa utama).
t
= Thickness of trunnion pipe support (tebal dinding pipa cabang)
Jadi asumsi nilai hoop stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_H = K1M . C1M (PD/2T)
s_H = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,5 Psi
.4,5 in)/(2 . 0,237 in))
s_H = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,474 in))
s_H = 162,13 Psi
Jadi asumsi nilai axial stress pada sambungan pipa model T adalah:
s_A = K1M . C1M (PD/4T)
s_A = 1,019722 in . 1,155088 in . ((14,
5 Psi .4,5 in)/(4 . 0,237 in))
s_A = 1,1778 in . ((65,25 Psi .in )/(0,948 in))
s_A = 81,07 Psi
Maximum
16.483
17.021
17.315
17.356
17.436
17.507
18.299
18.384
26.455
59.609
94.802
139.58
184.41
236.29
-27
-26
-25
-24
-23
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
288.18
346.81
405.48
471.39
537.39
611.4
685.57
768.73
852.15
945.99
1040.2
1147
1254.4
1378.2
1502.9
1649.9
1798.2
1987.6
2179
2442.2
2706.8
3205.7
3707.5
4800.8
6073.5
7858.5
8382.5
11338
6322.8
5898.6
6176.2
6752.2
7180.8
7213.2
8434
8446.3
9357.5
8932
8845.9
8542.2
8558.7
10412
-6.895
-7.3128
-9.8539
-12.74
-17.736
-19.413
-20.363
-21.35
-23.261
-32.069
-41.438
-55.786
-70.805
-93.071
-116.29
-152.1
-189.21
-241.36
-295.59
-392.92
-491.93
-582.36
-677.91
-940.56
-1231.4
-1423.5
-3940
-2809.8
-2620.9
-2609.9
-2492.4
-2442.6
-2098
-1936.2
-1823.2
-1791.6
-1692.3
-1259.6
-835.6
-681.98
-3865.7
-2832.1
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Princip
al
Stress Pada Bidang (YZ) Sebelah Kanan Komponen Sambungan Pipa M
odel T
Posisi Maximum Principal Stress (psi) Minimum Principal Stress (psi)
-41
16.463 -2.382
-40
-39
-38
-37
-36
-35
-34
-33
-32
-31
-30
-29
-28
-27
-26
-25
-24
-23
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
16.99
17.305
17.357
17.447
17.683
18.341
18.35
26.224
58.984
93.971
138.56
183.21
234.92
286.63
345.08
403.55
469.26
535.05
608.84
682.77
765.66
848.8
942.29
1036.2
1142.6
1249.6
1372.8
1496.9
1644.1
1792.6
1980.5
2170.3
2442.7
2716.9
3196.2
3676.4
4834.6
5993
8352.7
9349
7381.7
6082.4
6190.7
6357.8
6769.6
7856.7
8087.6
8420.4
8539.2
10207
8834.7
8886.1
8926.2
10372
7212.3
-2.6593
-2.9285
-2.9357
-2.9392
-3.1881
-3.1889
-3.359
-3.4394
-3.9809
-4.048
-4.6895
-5.3959
-5.9412
-7.289
-7.3182
-9.8383
-12.696
-17.644
-19.48
-20.578
-21.713
-23.115
-31.866
-41.177
-55.39
-70.274
-92.518
-115.7
-150.77
-187.17
-239.96
-294.58
-386.24
-479.82
-570.19
-661.58
-941.34
-1227.6
-1489.4
-1782.4
-4162.4
-2895
-2830.9
-2623.8
-2568.4
-2448.3
-2372.4
-2106.5
-1832.5
-1802.4
-1944.1
-1265.2
-841.99
-684.4
-3883.7
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Numerik Maximum Principal Stress Dan Minimum Princip
al
Stress Pada Daerah Sambungan Pipa Utama dan Cabang Komponen Sam
bungan
Pipa Model T.
Posisi
-22
-21
-20
-19
-18
-17
-16
-15
-14
-13
-12
-11
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Maximum
12588
14763
17240
15074
12437
11284
11021
8588.9
7409.6
6421.2
6276.8
5447.3
2902.3
2688.6
128.69
81.822
67.821
65.663
26.872
23.223
0.41004
-25.95
-1088.4
-836.12
-717.28
-685.42
-335.4
-262.83
-207.15
-131.95
-45.706
1338.8
1474.2
4028.7
4063.4
5272.1
7296.4
7404
10043
11168
11281
13690
13778
9967.1
8636.3
Gambar 4.4 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal St
ress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kiri Komponen Sambungan Pipa Model T
Gambar 4.5 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal St
ress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang Daerah bidang YZ Sebelah
Kanan Komponen Sambungan Pipa Model T.
Gambar 4.6 Rekapitulasi Grafik Maximum Principal Stress dan Minimum Principal S
tress Pada Pipa Utama dan Pipa Cabang daerah sambungan pipa
utama dan pipa cabang Komponen Sambungan Pipa Model T
4.4. ANALISA PERBANDINGAN ANTARA PERHITUNGAN MANUAL
DENGAN PERHITUNGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS
Dari hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 dapat diperoleh distri
busi tegangan yaitu maximum principal stress untuk menunjukkan tegangan hoop str
ess pada sisi luar dan dalam dari komponen pipa T dan minimum principal stress m
enunjukkan tegangan axial stress pada sisi luar dan dalam komponen pipa T terseb
ut.
Perbandingan hasil perhitungan antara metode elemen hingga menggunakan p
rogram ANSYS 14.0 dengan perhitungan manual berdasarkan persamaan empiris yang t
elah diperoleh hasilnya setelah melakukan proses penurunan persamaan.
Tabel 4.5 Hasil Analisa Tegangan Minimum Principal Stress (Numerik) dengan Axial
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK
PERHITUNGAN EMPIRIS
KEGAGALAN
(%)
MINIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) AXIAL STRESS
(Psi)
81.286 (Psi)
81.07 (Psi)
2.66 x 10-3
Tabel 4.6 Hasil Analisa Tegangan Maximum Principal Stress (Numerik) dengan Hoop
Stress
(Empiris).
PERHITUNGAN NUMERIK
PERHITUNGAN EMPIRIS
(%)
MAXIMUM PRINCIPAL STRESS (Psi) HOOP STRESS
(Psi)
KEGAGALAN
162.27 (Psi)
162.13 (Psi)
8.63 x 10-4
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Hasil perhitungan dengan program ANSYS 14.0 maupun perhitungan empiris
memperoleh harga tegangan yang berbeda. Secara umum perhitungan ANSYS diperoleh
berbagai macam harga tegangan yang berbeda dalam komponen akibat pengaruh bentuk
geometri, seperti juga dalam hasil perhitungan untuk beberapa bengkokan pipa da
n sistem pemipaan lainnya. Hasil perhitungan ANSYS 14.0 lebih konservatif diband
ingkan hasil perhitungan empiris, dari hasil perhitungan ini bisa dikatakan bahw
a perhitungan ANSYS 14.0 lebih teliti dengan memberikan hasil pada setiap titik
nodesnya dan bisa menghasilkan desain lebih teliti dan efisien. Perhitungan deng
an ANSYS ini mudah dikembangkan untuk analisis desain, yaitu dengan mengubah inp
ut file, ketelitian dari hasil perhitungan ditentukan oleh visualisasi atau mode
lling yang diambil, baik dalam pemilihan tipe elemen ataupun penentuan siarat ba
tas dalam pembebanan.
5.2. SARAN
Untuk mendapatkan hasil analisa komponen sambungan pipa T secara numerik
yang lebih teliti diperlukan melakukan pemodelan komponen dengan menggunakan so
ftware yang lain selain ANSYS 14.0 sehingga perhitungan numerik mendekati hasil
perhitungan empiris dan analitik.
Maximum and minimum principal stresses provide critical insights into the structural performance of a model in FEM analysis by indicating the points of maximum tensile and compressive stresses within a structure. Maximum principal stress helps identify potential failure points due to tensile stress, especially in brittle materials, while minimum principal stress indicates the regions likely to fail under compression. Analyzing these stresses allows engineers to predict failure modes such as cracking or buckling, assess safety margins, and ensure that design remains within allowable material limits. These analyses are crucial in optimizing the structure for reliability and efficiency without over-designing, thus balancing performance with material costs .
ANSYS 14.0 software is used for structural analysis by employing the finite element method to model complex engineering problems. It allows engineers to input geometric models of the structure, define material properties, apply loads and boundary conditions, and then perform discretization or meshing of the model. The software computes the response by solving the system of equations resulting from the FEM model, providing output data on displacements, strains, stresses, and other critical metrics. This capability is particularly useful in analyzing complex geometries and loading conditions where traditional analytical methods are inadequate, helping to predict the performance and failure points of structures, thus aiding in the design process by optimizing material usage and ensuring structural integrity .
The finite element method (FEM) significantly contributes to solving engineering challenges in bioengineering fields by providing a versatile numerical tool that can address the complexities inherent in biological systems. These systems often involve nonlinear materials and geometries, making traditional analytic methods impractical. FEM enables detailed modeling and analysis of biological structures and processes under different physical conditions, facilitating the understanding of biomechanical behavior, enhancement of design capabilities for medical devices, and improvement in simulation of physiological responses to various treatments. By accurately predicting the mechanical behavior of biological tissues and systems, FEM aids in the innovation and optimization in the field of bioengineering .
The finite element method (FEM) handles the complexity of real-world engineering problems by discretizing continuous systems into smaller, simpler parts called finite elements. These elements are connected at points called nodes, allowing complex geometry, material properties, and boundary conditions to be represented in a manageable way. Mathematical equations describing the system are applied to each small element, and then assembled into a larger system of equations that represents the entire problem. This discrete approach allows FEM to provide approximate but acceptable solutions to complex physical phenomena such as structural analysis, heat transfer, fluid flow, and more .
In the finite element method, thermal stress is calculated based on the difference in strain caused by uneven temperature distribution throughout the structure or element. The thermal stress formula is given by the equation σ = D(ε) = D[a ΔT], where D is a matrix of material constants depending on Young's modulus (E) and Poisson's ratio (v), ε is the strain, a is the coefficient of thermal expansion, and ΔT represents the temperature difference. The calculation involves finding the inverse of the matrix formed in the equations to determine the stress distribution throughout the system. Factors affecting thermal stress include material properties such as the coefficient of thermal expansion and mechanical properties like modulus of elasticity and Poisson’s ratio, as well as the magnitude of temperature difference across the element .
The key steps involved in applying the finite element method include: 1) Discretization/meshing, where the system is divided into a finite number of elements, selecting the element type and size based on geometric and deformation characteristics. 2) Choosing a displacement function, which relates the deformation of the nodes. 3) Establishing relationships between strain and deformation, and stress and strain. 4) Determining the stiffness matrix for each element using methods such as direct equilibrium, energy, or weighted residuals. 5) Assembling the global system of equations that model the entire structure, which are then solved to find node displacements and other quantities of interest .
The choice of element type in the finite element method is critical because it directly affects the accuracy and computational efficiency of the simulation. Some considerations for this choice include the geometry of the structure being modeled, the expected deformations, and the boundary conditions. Elements can be one-dimensional, two-dimensional, or three-dimensional, each suitable for different kinds of applications. One must also take into account the complexity and the number of nodes in the element, which impacts the computational resources required and the degree of local deformation that can be accurately simulated. Furthermore, the degree of freedom associated with each node in the element must match the physical nature of the problem, such as translational and rotational movement in mechanical structures, to ensure that the simulation accurately represents real-world behavior .
Using ANSYS 14.0 for stress analysis of pipe connections proves highly effective in comparing empirical and numerical methods. The software facilitates detailed modeling and analysis of complex stress distributions which are difficult to achieve through empirical methods alone. ANSYS provides numerical results that can be directly compared with analytical calculations, offering a visual and quantitative assessment of stresses through features like maximum and minimum principal stress plots. While empirical methods rely on simplifications and assumptions that can limit accuracy, ANSYS enables the consideration of non-linearities and complex boundary conditions, providing a comprehensive validation tool for empirical models and enhancing understanding of structural behavior under different loading scenarios .
The method of weighted residuals offers several advantages in determining the stiffness matrix in FEM, such as flexibility in directly adapting differential equations and being applicable to a wide range of complex boundary conditions and material behaviors. It can yield solutions consistent with energy-based methods like the Galerkin method, providing accuracy in situations where other methods may be impractical. However, the limitations include the mathematical complexity involved in the formulation, which can be computationally intensive and challenging to implement for problems with highly irregular geometries or those requiring high-order polynomial approximations. Additionally, it requires a thorough understanding of functional spaces and approximation theory, which can make it less accessible for inexperienced analysts .
The role of computers in the development and application of the finite element method (FEM) has been crucial, particularly since the 1950s when computational power allowed for practical solutions to complex mathematical problems associated with FEM. Initially, the large number of simultaneous equations in FEM was not feasible to solve without computer assistance. Computers facilitate the rapid computation of numerical methods which are essential in solving these equations in a reasonable timeframe. This advancement has also led to the development of numerical software programs for both structural and non-structural problems, greatly enhancing the effectiveness and scope of FEM in practical applications .