Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kriptorkismus merupakan kelainan bawaan genitalia yang paling sering
ditemukan pada anak laki-laki (Kolon, 2004). Sepertiga kasus anak-anak
dengan kriptorkismus adalah bilateral sedangkan dua-pertiganya adalah
unilateral. Insiden kriptorkismus terkait erat dengan umur kehamilan, dan
maturasi bayi. Insiden meningkat pada bayi yang lahir prematur dan menurun
pada bayi-bayi yang dilahirkan cukup bulan. Peningkatan umur bayi akan
diikuti dengan penurunan insiden kriptorkismus. Prevalensinya menjadi
sekitar 0,8% pada umur 1 tahun dan bertahan pada kisaran angka tersebut
pada usia dewasa (Docimo, 2003).
Insiden keganasan testis sebesar 1-6 pada setiap 500 laki-laki kriptorkismus
di Amerika. Risiko terjadinya keganasan testis yang tidak turun pada anak
dengan kriptorkismus dilaporkan berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak
dengan testis normal (Kolon, 2004). Walaupun pembedahan kriptokismus
pada usia muda mengurangi insiden tumor testis sedikit, risiko terjadinya
tumor tetap tinggi. Rupanya kriptokismus merupakan suatu ekspresi
disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas (Dogra,
2003). Gambaran khas seminoma sama seperti tumor testis lainnya yaitu
adanya benjolan dalam skrotum yang tidak nyeri. Gejala lain seperti nyeri
pinggang, perut kembung, dispnea atau batuk dan ginekomastia, gejala-gejala
ini menunjukkan metastase yang luas. Diagnosis dini diperlukan pada kasuskasus UDT mengingat terjadinya peningkatan risiko keganasan dan infertilitas
(Price, 2009).

2. Rumusan Masalah

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |1

1. Bagaimana pengertian kriptorkismus ?


2. Bagaimana etiologi kriptorkismus ?
3. Bagaimana patofisiologi dan pathogenesis kriptorkismus ?
4. Bagaimana gambaran klinis kriptorkismus ?
5. Bagaimana klasifikasi kriptorkismus ?
6. Bagaimana diagnosis kriptorkismus ?
7. Bagaimana diagnosis banding kriptorkismus ?
8. Bagaimana komplikasi kriptorkismus ?
9. Bagaimana terapi kriptorkismus ?
10. Bagaimana pengobatan kriptorkismus ?
11. Bagaimana pencegahan kriptorkismus ?
3. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang testis maldesensus atau
kriptorkismus
b. Tujuan khusus:
1. Untuk mengetahui pengertian kriptorkismus
2. Untuk mengetahui etiologi kriptorkismus
3. Untuk mengetahui patofisiologi dan pathogenesis kriptorkismus
4. Untuk mengetahui gambaran klinis kriptorkismus
5. Untuk mengetahui klasifikasi kriptorkismus
6. Untuk mengetahui diagnosis kriptorkismus
7. Untuk mengetahui diagnosis banding kriptorkismus
8. Untuk mengetahui komplikasi kriptorkismus
9. Untuk mengetahui terapi kriptorkismus
10. Untuk mengetahui pengobatan kriptorkismus
11. Untuk mengetahui pencegahan kriptorkismus
4. Manfaat Penulisan
a. Bagi mahasiswa
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami
dan menerapkan tentang penyakit testis maldesensus atau kriptorkismus.
b. Bagi institusi
Dapat dijadikan sebagai referensi perpustakaan.

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |2

BAB II
TINJAUAN TEORI

1.1 Pengertian
Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu tahun1,2
satu atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum1-6, tetapi berada di
salah satu tempat sepanjang jalur desensus yang normal7-10. Kriptorkismus
berasal dari kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi dan orchis (latin)
yang berarti testis. Nama lain dari kriptorkismus adalah undescended testis, tetapi
harus dijelaskan lanjut apakah yang di maksud kriptorkismus murni, testis
ektopik, atau pseudokriptorkismus.

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |3

Kriptorkismus murni adalah suatu keadaan dimana setelah usia satu


tahun, satu atau dua testis tidak berada didalam kantong skrotum, tetapi berada di
salah satu tempat sepanjang jalur penurunan testis yang normal. Sedang bila
diluar jalur normal disebut testis ektopik, dan yang terletak di jalur normal tetapi
tidak didalam skrotum dan dapat didorong masuk ke skrotum serta naik lagi bila
dilepaskan disebut pseudokritorkismus atau testis retraktil.
Pada masa janin, testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat
sebelum bayi dilahirkan, testis mengalami desensus testikulorum atau turun ke
dalam kantung skrotum. Diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi
penurunan testis ke dalam skrotum, antara lain:
1) adanya tarikan dari gubernakulum testis dan refleks dari otot
kremaster,
2) perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan badan,
3) dorongan dari tekanan intraabdominal.
Oleh karena sesuatu hal, proses desensus testikulorum tidak berjalan
dengan baik sehingga testis tidak berada di dalam kantong skrotum
(maldesensus). Dalam hal ini mungkin testis tidak mampu mencapai skrotum
tetapi masih berada pada jalurnya yang normal, keadaan ini disebut
kriptorkismus, atau pada proses desensus, testis tersesat (keluar) dari jalurnya
yang normal, keadaan ini disebut sebagai testis ektopik.
Testis yang belum turun ke kantung skrotum dan masih berada
dijalurnya mungkin terletak di kanalis inguinalis atau di rongga abdomen yaitu
terletak di antara fossa renalis dan anulus inguinalis internus. Testis ektopik
mungkin berada di perineal, di luar kanalis inguinalis yaitu diantara aponeurosis
obligus eksternus dan jaringan subkutan, suprapubik, atau di regio femoral
1.2 Etiologi
Penyebab pasti kriptorkismus belum jelas. Beberapa hal yang berhubungan
adalah:
a. Abnormalitas gubernakulum testis
Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang
besar akan mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta
fiksasi pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong skrotum.
Ketika tesis telah berada di kantong skrotum gubernakulum akan
Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |4

diresorbsi (Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak terbentuk atau


terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus testis.
b. Defek intrinsik testis
Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini
membuat testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin. Teori ini
merupakan penjelasan terbaik pada kasus kriptorkismus unilateral. Juga
untuk menerangkan mengapa pada pasien dengan kriptorkismus bilateral
menjadi steril ketika diberikan terapi definitif pada umur yang optimum.
Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir,
tetapi testisnya menjadi atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan
jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun.
c. Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin
Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus
inkomplet. Hal ini memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi
prematur ketika perkembangan gonadotropin maternal tetap dalam kadar
rendah sampai 2 minggu terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit
diterapkan pada kriptorkismus unilateral. Tingginya kriptorkismus pada
prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG menstimulasi
pelepasan testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan
imaturnya aksis hipothalamus-hipofisis-testis. Dilaporkan suatu percobaan
menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang hipofisenya
telah diangkat.
Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis dimediasi oleh
androgen yang diatur lebih tinggi oleh gonadotropin pituitary. Proses ini
memicu kadar dihidrotestotsteron yang cukup tinggi, dengan hasil testis
mempunyai akses yang bebas ke skrotum . Toppari & Kaleva menyebut
defek dari aksis hipotalamus-pituitary-gonadal akan mempengaruhi
turunnya testis. Hormon utama yang mengatur testis adalah LH dan FSH
yang doproduksi oleh sel basofilik di pituitary anterior yang diatur oleh
LHRH. FSH akan mempengaruhi mempengaruhi sel sertoli, epitel tubulus
seminiferus. Kadar FSH naik pada kelainan testis.

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |5

Kriptorkismus yang disertai defisiensi gonadotropin dan adrenal


hipoplasia kongenital mungkin berhubungan dengan sifat herediter.
Corbus dan OConnor, Perreh dan ORourke melaporkan beberapa
generasi kriptorkismus dalam satu keluarga2. Juga ada penelitian yang
menunjukkan tak aktifnya hormon Insulin Like Factor 3 ( Insl3) sangat
mempengaruhi desensus testis . Insl3 diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi gubernakulum. Faktor lain yang diduga berperan ialah
berkurangnya stimulating substances yang diproduksi oleh nervus
genitofemoralis.
Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai resiko lebih
tinggi terjadinya tumor testis ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus
pada usia muda mengurangi insidens tumor sedikit, resiko terjadinya
tumor tetap tinggi. Kriptorkismus merupakan suatu ekspresi disgenesia
gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas. Penggunaan hormon
dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES oleh ibu pada kehamilan dini
meningkatkan resiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia
dewasa muda.
1.3 Patofisiologi dan Patogenesis
Suhu di dalam rongga abdomen 10C lebih tinggi daripada suhu di dalam
skrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi
daripada testis normal; hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel epitel germinal
testis. Pada usia 2 tahun, sebanyak 1/5 bagian dari sel-sel germinal testis telah
mengalami kerusakan, sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel-sel germinal
yang masih normal. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya
testis menjadi mengecil.
Karena sel-sel Leydig sebagai penghasil hormon androgen tidak ikut rusak,
maka potensi seksual tidak mengalami gangguan. Akibat lain yang ditimbulkan
dari letak testis yang tidak berada di skrotum adalah mudah terpluntir (torsio),
mudah terkena trauma, dan lebih mudah mengalami degenerasi maligna.

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |6

1.4 Gambaran Klinis


Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak
menjumpai testis di kantong skrotum, sedangkan pasien dewasa mengeluh karena
infertilitas yaitu belum mempunyai anak setelah kawin beberapa tahun. Kadangkadang merasa ada benjolan di perut bagian bawah yang disebabkan testis
maldesensus mengalami trauma, mengalami torsio, atau berubah menjadi tumor
testis.
Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak
pernah ditempati oleh testis. Pada palpasi, testis tidak teraba di kantung skrotum
melainkan berada di inguinal atau di tempat lain. Pada saat melakukan palpasi
untuk mencari keberadaan testis, jari tangan pemeriksa harus dalam keadaan
hangat.
Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya, harus dibedakan dengan
anorkismus bilateral (tidak mempunyai testis). Untuk itu perlu dilakukan
pemeriksaan hormonal antara lain hormon testosteron, kemudian dilakukan uji
dengan pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin).
Uji hCG untuk mengetahui keberadaan testis :
1. Periksa kadar testosteron awal Injeksi hCG 2000U/hari selama 4 hari
2. Apabila pada hari ke V: Kadar meningkat 10 kali lebih tinggi daripada
kadar semula Testis memang ada
Keberadaan testis sering kali sulit untuk ditentukan, apalagi testis yang
letaknya intraabdominal dan pada pasien yang gemuk. Untuk itu diperlukan
bantuan beberapa sarana penunjang, di antaranya adalah flebografi selektif atau
diagnostik laparoskopi.
Pemakaian ultrasonografi untuk mencari letak testis sering kali tidak banyak
manfaatnya sehingga jarang dikerjakan. Pemeriksaan flebografi selektif adalah
usaha untuk mencari keberadaan testis secara tidak langsung, yaitu dengan
mencari keberadaan pleksus Pampiniformis. Jika tidak didapatkan pleksus
pampiniformis kemungkinan testis memang tidak pernah ada.
Melalui laparoskopi dicari keberadaan testis mulai dari dari fossa renalis
hingga anulus inguinalis internus, dan tentunya laparoskopi ini lebih dianjurkan
daripada melakukan eksplorasi melalui pembedahan terbuka.
1.5 Klasifikasi
Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |7

Kriptorkismus dapat diklasifikasi berdasarkan etiopatogenesis dan lokasi.


a. Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis:
1. Mekanik/anatomik (perlekatan-perlekatan, kelainan kanalis inguinalis,
dan lain-lain)
2. Endokrin/hormonal (kelainan aksis hipotalamus-hipofise-testis)
3. Disgenetik (kelainan interseks multiple)
4. Herediter/genetic
b. Klasifikasi berdasarkan lokasi:
1. Skrotal tinggi (supra skrotal) : 40%
2. Intra kanalikular (inguinal) : 20%
3. Intra abdominal (abdominal) : 10%
4. Terobstruksi : 30%
1.6 Diagnosis
Biasanya, orang tua membawa anak ke dokter dengan keluhan skrotum
anaknya kecil, dan bila disertai dengan hernia inguinalis dijumpai adanya
pembengkakan atau nyeri yang berulang.
Anamnesa ditanyakan:
1. Pernahkah testisnya diperiksa, diraba sebelumnya di skrotum.
2. Ada/tidak adanya kelainan kongenital yang lain seperti hipospadia,
interseks, prune-belly syndrom, dan kelainan endokrin lainnya.
3. Ada/tidaknya riwayat kriptorkismus dalam keluarga.
Pemeriksaan Fisik
1. Penentuan Lokasi Testis
Pemeriksaan testis pada anak harus dilakukan dengan tangan yang
hangat pada posisi duduk dengan tungkai dilipat atau dalam keadaan rileks
pada posisi tidur. Kemudian testis diraba dari inguinal ke arah skrotum
dengan cara milking. Bisa juga dengan satu tangan berada di kantong
skrotum sedangkan tangan yang lainnya memeriksa mulai dari daerah
spina iliaka anterior superior (SIAS) menyusuri inguinal ke kantong
skrotum. Hal ini dilakukan supaya testis tidak bergerak naik/retraksi,
karena pada anak refleks kremasternya cukup aktif. Refleks ini akan
menyebabkan testis bergerak ke atas/retraktil sehingga menyulitkan
penilaian.

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |8

Penentuan posisi anatomis testis sangat penting dilakukan sebelum


terapi, karena berhubungan dengan keberhasilan terapi. Karena, sebagian
dari penderita mempunyai testis yang retraktil yang kadang-kadang tidak
memerlukan terapi. Testis yang retraktil ini sudah turun pada waktu lahir,
tetapi tidak ditemukan di dalam skrotum pada pemeriksaan, kecuali bila
anaknya dalam keadaan rileks.
1) Ditentukan apakah testisnya palpable atau impalpable
2) Bila palpable, kemungkinannya adalah: retraktil

testis;

undescended testis; ascending testis syndrom (testisnya di dalam


skrotum atau retraktil, tetapi kemudian menjadi letak tinggi
karena pendeknya spermatic cord. Biasanya baru diketahui pada
usia 810 tahun) atau ektopik testis (desensus testisnya hanya
normal

sampai

di

kanalis

inguinalis,

tetapi

kemudian

menyimpang ke perineum atau ke the femoral triangle.


3) Kalau impalpable, kemungkinannya adalah testisnya bisa berada
di intra kanalikular, di intra abdominal, testisnya lebih kecil, atau
testisnya tidak ada sama sekali. Pada testis impalpable, sering
disertai hernia, kelainan duktus, dan sering berdegenerasi menjadi
ganas. Pada bayi merupakan risiko tinggi adanya kelainan seperti
interseksual, prune belly syndrom. Ini harus segera dirujuk untuk
pemeriksaan analisis kromosom dan endokrin.
4) Pemeriksaan teliti dilakukan untuk melihat adanya sindromsindrom yang berhubungan dengan kriptorkismus, seperti sindrom
Kleinefelter, sindrom Noonan, sindrom Kallman, sindrom Prader
Willi, dan lain-lain. Dianjurkan melakukan skrining pada saat
lahir, usia 6 minggu, usia 8 bulan48, dan saat usia 5 tahun. Pada
bayi kurang bulan, dianjurkan melakukan skrining pada usia 3
bulan karena banyaknya turun testis pada usia 3 bulan
dibandingkan dengan bayi yang cukup bulan.
Pemeriksaan Penunjang

Testis Maldesensus (Kriptorkismus) |9

1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada kriptorkismus bilateral yang impalpable50, diperiksa kadar
testosteron pada usia 4 bulan, karena bila lebih dari 4 bulan diperlukan uji
stimulasi HCG untuk melihat ada tidaknya testis. Pada uji HCG, penderita
diberikan suntikan 1500 IU HCG intramuskular setiap hari selama 3 hari
berturut-turut. Sebelum dan 24 jam setelah penyuntikan HCG, diperiksa
kadar testosteron plasma. Bila didapatkan peningkatan kadar testosteron
yang bermakna, berarti terdapat testis pada penderita8,23,37. Bila tidak
ada respons serta kadar FSH dan LH meningkat, dicurigai adanya anorchia
kongenital2,22,50.
2. Pemeriksaan Radiologis
a. Ultrasonografi
Sudah digunakan untuk mendeteksi kasus Kriptorkismus oleh ahli
radiologi dan klinisi sejak 1970. Keuntungannya adalah fasilitas
pemeriksaan USG mudah didapat, bebas radioaktif, non-invasif,
praktis, dan relatif murah51. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk testis
yang berlokasi di kanalis inguinalis8 dan terhadap testis yang besar
yang terletak di Juxta vesikal30. Firman K51 meneliti dengan
memakai USG di subbagian pencitraan I. Kes. Anak FKUIRSUPNCM selama 6 bulan (Januari 1994 sampai Juni 1994) terhadap
21 pasien. Ternyata, hanya 2 (9,5%) yang berhasil ditemukan lokasi
testisnya, yaitu di daerah inguinal sedangkan pemeriksaan CT
Scanning tidak dilakukan. Angka keberhasilan ini masih jauh berbeda
dengan penelitian di luar negeri, yang antara lain dilakukan oleh
Madrazo B.L. dan Klugo R.C. (60%),52 serta Michael K., Erik H. dan
Elisabeth H. (65%)53.
b. CT scanning
Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang lebih tinggi terhadap testis
yang lokasinya di intra abdominal dan sudah dibuktikan pada saat
operasi53.

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 10

c. MRI
Dilakukan bila hasil pemeriksaan USG meragukan51. Angiografi
dilakukan terhadap kasus yang telah dilakukan eksplorasi inguinal,
tetapi tidak dijumpai testis12. Intravena urografi dikerjakan secara
selektif pada kasus yang dicurigai adanya kelainan saluran kemih
bagian atas, karena 10% kasus didapati horse shoe kidney, renal
hipoplasia, ureteral duplikasi, hidro ureter, dan hidronefrosis7.
Venografi gonadal selektif dilakukan pada testis impalpable dimana
telah dilakukan eksplorasi lokal di inguinal, retro peritoneal, dan intra
abdominal, tetapi tidak ditemukan testis atau spermatic vessel-nya
buntu serta pada kasus yang reoperasi30.
d. Laparoskopi
Dilakukan pada usia 1 tahun2 sebagai diagnostik yang paling akurat28
untuk mengetahui lokasi testis sebagai petunjuk untuk melakukan
insisi pembedahan, untuk melihat apakah testisnya normal54, apakah
vas spermatika buntu, atau adanya vassa di dalam abdomen30. Sebagai
terapeutik untuk mereposisi testis yang abnormal54. Sebagian besar
testis impalpable ditemukan pada operasi, paling tidak di anulus
inguinalis interna30.
1) Buccal smear atau analisa kromosom. Dilakukan selektif
terhadap

bayi

dengan

undescended

bilateral

yang

impalpable21,28.
2) Biopsi. Dilakukan saat pembedahan terhadap testis yang
berlokasi di intra abdominal, yang disertai dengan kelainan
genitalia eksterna atau kelainan kariotip55.
1.7 Diagnosis Banding
Seringkali dijumpai testis yang biasanya berada di kantung skrotum tiba-tiba
berada di daerah inguinal dan pada keadaan lain kembali ke tempat semula.
Keadaan ini terjadi karena reflek otot kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca
dingin, atau setelah melakukan aktifitas fisik. Hal ini disebut sebagai testis
retraktil atau kriptorkismus fisiologis dan kelainan ini tidak perlu diobati. Selain

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 11

itu maldesensus testis perlu dibedakan dengan anorkismus yaitu testis memang
tidak ada. Hal ini bisa terjadi secara kongenital memang tidak terbentuk testis atau
testis yang mengalami atrofi akibat torsio in utero atau torsio pada saat neonatus.
1.8 Komplikasi
1) Hernia. Sekitar 90% penderita kriptorkismus menderita hernia inguinalis
ipsilateral yang disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis.
2) Torsi. Terjadi karena abnormalnya jaringan yang menjangga testis yang
kriptorkismus dan tingginya mobilitas testis serta sering terjadi setelah
pubertas.
3) Trauma. Testis yang terletak di atas pubic tubercle mudah terjadi injuri
oleh trauma.
4) Neoplasma. Testis yang mengalami kriptorkismus pada dekade ke-3 atau
ke-42, mempunyai kemungkinan keganasan 2030 kali lebih besar
daripada testis yang normal. Kejadian neoplasma lebih besar terhadap
testis intra abdominal yang tidak diterapi, atau yang dikoreksi secara
bedah saat/setelah pubertas, bila dibandingkan dengan yang intra
kanalikular. Neoplasma umumnya jenis seminoma. Namun, ada laporan
bahwa biopsi testis saat orchiopexy akan meningkatkan risiko keganasan.
5) Infertilitas. Kriptorkismus bilateral yang tidak diterapi akan mengalami
infertilitas lebih dari 90% kasus, sedangkan yang unilateral 50% kasus.
Testis yang berlokasi di intra abdominal dan di dalam kanalis inguinalis,
akan mengurangi spermatogenik, merusak epitel germinal.
6) Psikologis. Perasaan rendah diri terhadap fisik atau seksual, akibat tidak
adanya testis di skrotum.
1.9 Terapi
1. Terapi non Bedah
Berupa terapi hormonal. Terapi ini dipilih untuk UDT bilateral palpabel
inguinal. Tidak diberikan pada UDT unilateral letak tinggi atau intraabdomen.
Efek terapi berupa peningkatan rugositas skrotum, ukuran testis, vas deferens,
memperbaiki suplay darah, dan diduga meningkatkan ukuran dan panjang
vasa funikulus spermatikus, serta menimbulkan efek kontraksi otot polos
gubernakulum untuk membantu turunnya testis. Dianjurkan sebelum anak

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 12

usia 2 tahun , sebaiknya bulan 10 24. Di FKUI terapi setelah usia 9 bulan
karena hampir tidak dapat lagi terjadi penurunan spontan.
2. Terapi Bedah
Tujuan pembedahan adalah memobilisasi testis, adequatnya suplay vasa
spermatika , fiksasi testis yang adequat ke skrotum, dan operasi kelainan
yang menyertainya seperti hernia.
Indikasi pembedahan
a. Terapi hormonal gagal,
b. Terjadi hernia yang potensial menimbulkan komplikasi,
c. Dicurigai torsio testis,
d. Lokasi intra abdominal atau di atas kanalis inguinalis,
e. Testis ektopik

Tahapan :satu tahap atau 2 tahap tergantung vasa spermatika apakah panjang
atau pendek.
Teknik operasi pada UDT :
1. Orchydopexy Standar.
Prinsip dari orchidopexy meliputi 3 tahap:
1. Funikulolisis
Adalah pelepasan funikulus spermatikus dari musculus kremester
dan memungkinkan dapat memperpanjang ukurannya. Vasa
testicularis di bebaskan sejauh mungkin ke retroperitoneal dan
dimobilisasi lebih ke medial yang akan meluruskan dan
memperpanjang vasa. Terdapat kesulitan ketika memobilisasi vasa
diatas vasa iliaca komunis.
Beberapa metode yang digunakan untuk menurunkan testis ke
skrotum antara lain Ombredonne, Bevas, Torek, Cobot Nesbit,
Longord, Gersung, Denis Browne. George Major menolak metode
Mauclain (menurunkan testis ke kontralateral), juga tidak setuju
UDT bilateral dikerjakan sekaligus dalam satu tahap oleh karena

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 13

ancaman infeksi dari kesulitan fiksasi pada septum skrotum


Funikulolisis dikerjakan melalui insisi inguinal tinggi dan testis
diturunkan dengan bantuan tarikan tali (benang) transcrotal ke
paha Bila pasien UDT disertai hernia inguinalis, kantung hernia
kanan dibebaskan dari ligasi seproximal mungkin, kantong
vaginalis propria pada testis dan epidedimis dipertahankan, karena
serosa yang membungkus testis itu penting bagi spermatogenesis.
Teknik funikulolisis menurut Beran (1903) memotong vasa testis
bila vasa tersebut sangat pendek dan diharapkan vaskularisasi yang
adequat dari vasa vas defferens. Tetapi teknik ini kurang bagus
dengan alasan maturasi normal memerlukan suplay vaskuler yang
optimal.
Teknik operasi orchydopexy standar
Akses : Menurut Ombredonne lebih menguntungkan dengan insisi
inguinal

tinggi

yang

memungkinkan

mobilisasi

vaskuler

retroperitoneal dan menempatkan testis pada skrotum.


Funikulolisis :
- setelah diseksi aponeurosis m.obliqus abdominis eksternus dan
membebaskan anulus inguinal eksternus dengan hati-hati untuk
-

menghindari udema testis


pisahkan (split) dinding kanalis sesuai arah seratnya sampai

dengan anulus inguinalis eksternus


bebaskan funikulus spermatikus dan testis beserta tunikanya

dari fascia dan muskulus kremaster


Pada kasus UDT dengan hernia, pemisahan tunika vaginalis
funikulus spermatikus secara hati-hati dengan menghindari
cedera vasa dan ductus deferens, dimana hal ini akan

memperpanjang rentang funikulus


sisihkan m. Oliqus Abdominis Internus dan m. Transversus
Abdominis dengan retraktor ke kraniomedial

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 14

diseksi funikulus spermatikus ke kranial sampai dengan lateral

dari vasa epigastrika inferior


bila belum cukup panjang untuk memungkinkan testis ke
skrotum tanpa tegang, vasa epigastrika inferior dipotong,
sehingga funikulus spermatikus dapat digeser lebih ke medial.
Bila

hal

ini

belum

dapat

panjang

berarti

funikulus

spermatikusnya memang pendek


sering kantong hernia kongenital atau prosesus vaginalis
persisten menghambat mobilisasi funikulus, maka lepaskan
kantong secara hati-hati dan ligasi tinggi. Bila peritoneum

terbuka jahit secara atraumatik


pembebasan diatas akan lebih mudah bila gubernakulum
dipotong lebih dulu kemudian dilanjut dengan pembebasan

testis
mobilisasi lanjut ke arah retroperitoneal dilakukan dengan
memotong m. obliqus abdominis internus dan m. transversus
abdominis ke arah kranio lateral atau melepaskan ligamentum

inguinalis
kemudian vasa spermatika interna dapat dibebaskan secara

retroperitoneal ke kranial sampai melewati vasa iliaka


setinggi promontorium vasa akan menyilang ureter. Hati-hati

dalam membebaskannya
2. Pemindahan testis ke dalam skrotum (transposisi)
Bagian skrotum yang akan ditempati testis telah kosong dan
menjadi lebih kecil dibanding ukuran normal. Regangkan dinding
skrotum dengan diseksi jari-jari sehingga menciptakan suatu
ruangan. Traksi ditempatkan pada gubernakulum Testis yang telah
bebas dan funikulus spermatikusnya cukup panjang, ditempatkan
pada skrotum, bukan ditarik ke skrotum.
3. fiksasi testis dalam skrotum
Adalah hal prinsip bahwa testis berada di skrotum bukan karena
tarikan dan testis tetap berada di habitat barunya, sehingga menjadi

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 15

kurang tepat bila keberadaan testis di skrotum itu karena tarikan


dan fiksasi testis. Fiksasi testis tetap diperlukan:
- Untuk mengikatnya tembuskan benang

pada

stumb

ligamentum hunteri pada pole bawah testis dengan benang


-

nonabsorpable dan meninggalkan ujung benang yang panjang


perlebar skrotum dengan 2 jari, dengan bantuan jarum reverdin
yang ditembuskan dari kulit skrotum sisi luar dan mengambil

ujung benang panjang tadi dan keluarkan lagi jarum .


Fiksasi kedua ujung benang pada sisi medial paha
Teknik lain yang sering di pakai adalah tehnik ombredanne
yang menempatkan testis pada skrotum kontralateral dan

mengikatnya pada septum scroti.


2. Stephen Flower Orchidopexy
Merupakan modifikasi orchidopexy standar. Ketika arteri testikulariss tak
cukup panjang mencapai skrotum, arteri testikularis diligasi. Jadi testis
hanya mengandalkan arteri vas deferens.
3. Orchydopexy bertahap
a. Bedah : Testis dibungkus dengan lembaran silastic dan difiksasi ke
pubis pada tahap I. Setelah 6-8 bulan dilakukan tahap II berupa
eksplorasi dan memasukkan testis ke skrotum
b. Laparoskopi : Menjepit arteri testikularis

dengan laparoskopi

dikerjakan pada tahap I intuk UDT tipe abdomen. Setelah 6-8 bulan
dikerjakan Stephen Flower Orchydopexy.
4. Autotransplantasi
Pembuluh darah testis dilakukan anastomosis pada vasa epigastrika
inferior dengan teknik mikrovaskuler.
5. Protesis Testis
Pemasangan implant testis silastik untuk kenyamanan, kosmetik,
dan

1.10

psikis.

Pengobatan
Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke

tempatnya, baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan


T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 16

asumsi bahwa jika dibiarkan, testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun
sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna,
maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun. Cara
penanganan Maldesensus Testis:
1. Medikamentosa
a. Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil
terutama pada kelainan bilateral, sedangkan pada kelainan unilateral
hasilnya masih belum memuaskan. Obat yang sering dipergunakan
adalah hormon hCG yang disemprotkan intranasal. Hormon yang
diberikan :
1) HCG
Hormon ini akan merangsang sel Leydig menproduksi
testosteron. Dosis : Menurut Mosier (1984) : 1000 4000 IU, 3
kali seminggu selama 3 minggu. Garagorri (1982) : 500 -1500
IU, intramuskuler, 9 kali selang sehari. Ahli lain memberikan
3300 IU, 3 kali selang sehari untuk UDT unilateral dan 500 IU
20 kali dengan 3 kali seminggu. Injeksi HCH tidak boleh
diberikan tiap hari untuk mencegah desensitisasi sel Leydig
terhadap

HCG

yang

akan

menyebabkan

steroidogenic

refractoriness.
Hindari dosis tinggi karena menyebabkan efek refrakter testis
terhadap HCG, udem interstisial testis, gangguan tubulus dan
efek toksis testis. Kadar testosteron diperiksa pre dan post
unjeksi, bila belum ada respon dapat diulang 6 bulan
berikutnya. Kontraindikasi HCG ialah UDT dengan hernia,
pasca operasi hernia, orchydopexy, dan testis ektopik. Miller
(16)

memberikan

HCG

pada

pasien

sekaligus

untuk

membedakan antara UDT dan testis retraktil. Hasilnya 20%


UDT dapat diturunkan sampai posisi normal, dan 58% retraktil
testis dapat normal.
2) LHRH
T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 17

Dosis 3 x 400 ug intranasal, selama 4 minggu. Akan


menurunkan testis secara komplet sebesar 30 64 %.
3) HCG kombinasi LHRH
Dosis : LHRH 3 x 400 ug, intranasal, 4 minggu . Dilanjutkan
HCG intramuskuler 5 kali pemberian selang sehari. Usia
kurang 2 tahun : 5 x 250 ug, 3 -5 tahun : 5 x 500 ug, di atas 5
tahun : 5 x 1000 ug. Respon terapi : penurunan testis 86,4%,
dengan follow up 2 tahun kemudian keberhasilannya bertahan
70,6%
2. Operasi
Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah:
a. mempertahankan fertilitas,
b. mencegah timbulnya degenerasi maligna,
c. mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis, melakukan koreksi
hernia, dan secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri
karena tidak mempunyai testis.
Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke
dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos. Tujuan
dari penanganan UDT adalah :
1) Meningkatkan vertilitas
2) Mencegah torsio testis
3) Mengurangi resiko cidera khususnya bila testis terletak di
tuberkulum pubik
4) Mengkoreksi kelainan lain yang menyertai, seperti hernia
5) Mencegah / deteksi awal dari keganasan testis
6) Membentuk body image
1.11

Pencegahan
Pencegahan terhadap penyakit testis dengan beberapa perubahan gaya hidup
yang sederhana.dapat secara drastis mengurangi risiko berbagai jenis penyakit
testis dan penyakit kanker lainnya. Banyak faktor yang berperan dalam
perkembangan penyakit tersebut.
a. Menghindari seks bebas
Faktor utama penyebab dari penyakit testis adalah karena seseorang
malakukan seks bebas diluar jangkauan, banyak orang tidak memakai
T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 18

pengaman dan hanya oral kesenangan. Pencegahan untuk tidak


melakukan seks bebas menganjurkan kita untuk sadar akan bahaya
dan dampaknya.
b. Hindari merokok dan Paparan terhadap Asap
Merokok adalah kanker yang paling signifikan sebagai faktor resiko
yang kita dapat mengurangi.Hal ini bertanggung jawab untuk tidak
hanya kanker paru-paru , tetapi jenis-jenis kanker lainnya. Salah satu
cara terbaik untuk mencegah kanker adalah dengan berhenti merokok
atau tidak pernah memulai. Segera setelah Anda berhenti , dan tidak
pernah terlambat, tubuh yang menuai manfaat menjadi tembakaubebas. Menghindari perokok pasif juga merupakan cara untuk
mencegah kanker.Asap rokok adalah asap dihembuskan dari seorang
perokok atau rokok pipa, menyala atau cerutu. Asap ini mengandung
lebih dari 60 dikenal karsinogen ,interupsi normal sel karsinogen ini
gangguan perkembangan Inilah yang menyatu perkembangan kanker.
c. Praktek Keselamatan dan Kenali Ketika Perubahan Kulit Terjadi
Apakah Anda tahu bahwa lebih dari satu juta orang Amerika yang
didiagnosis dengan kanker kulit setiap tahunnya?.Kanker kulit adalah
jenis yang paling umum kanker antara pria dan wanita, dan ini
menyumbang sekitar setengah dari semua diagnosis kanker. Kabar
baiknya adalah bahwa kanker kulit adalah salah satu jenis kanker
yang paling dapat dicegah. Langkah pertama dalam mencegah kanker
kulit adalah untuk menghindari paparan sinar UV. Kita dapat
melakukan ini dengan memakai tabir surya, menghindari sinar
matahari tengah hari, mengenakan pakaian pelindung saat di luar
ruangan, dan tinggal jauh dari tanning bed.
d. Anda Makan Buah dan Sayuran
Diet yang seimbang adalah menguntungkan karena berbagai alasan.
Diet `yang kaya buah-buahan dan sayuran sangat mengurangi resiko
Anda terkena kanker berkembang dan kondisi lainnya. Buah-buahan
dan sayuran mengandung antioksidan, yang membantu memperbaiki
sel-sel yang rusak . buah Hijau, jingga dan kuning dan sayuran

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 19

taruhan terbaik untuk membantu mencegah kanker. Studi juga


menunjukkan bahwa buah-buahan gelap, seperti blueberry dan
anggur, juga memiliki sifat anti-kanker. sayuran seperti brokoli dan
kembang kol tampaknya pak pukulan kuat untuk mencegah kanker,
menurut penelitian banyak.sayuran lainnya termasuk bok choy, kubis
Brussel, dan kubis.
e. Batas Merah Daging dan Hewan Lemak
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi lemak hewani
meningkatkan resiko beberapa jenis kanker, terutama kanker usus
besar. Daging merah mengandung lebih banyak lemak daripada
unggas dan ikan, sehingga mengurangi jumlah daging merah dalam
diet anda dapat membantu untuk mencegah kanker. Diet tinggi lemak
juga merupakan penyebab utama obesitas, yang merupakan faktor
risiko berbagai jenis kanker.
f. Batasi Asupan Alkohol Anda
Minum berlebihan alkohol secara rutin meningkatkan faktor risiko
Anda untuk berbagai jenis kanker. Studi menunjukkan bahwa pria
yang mengkonsumsi minuman beralkohol 2 per hari dan wanita yang
telah 1 minuman beralkohol per hari secara signifikan meningkatkan
faktor risiko untuk beberapa jenis kanker.
g. Latihan untuk Pencegahan Kanker
Tahukah Anda bahwa ketika Anda berolahraga, Anda mengurangi
resiko Anda untuk berbagai jenis kanker? merekomendasikan
berolahraga 30 atau menit, setidaknya 5 hari seminggu untuk
pencegahan kanker.Berolahraga tidak harus berarti pergi ke gym
untuk mengangkat beban. Ada banyak cara untuk mendapatkan
latihan di hari Anda.
h. Tahu Sejarah Pribadi dan Keluarga Medis Anda
Mengetahui sejarah keluarga Anda terkena kanker adalah penting
untuk benar menilai faktor risiko untuk beberapa jenis kanker.Kita
tahu bahwa kanker seperti payudara, kolon, ovarium, dan mungkin
jenis lainnya dapat keturunan. Jika Anda tahu bahwa suatu jenis
kanker tertentu berjalan dalam keluarga Anda, biarkan dokter Anda
T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 20

tahu.Bersama, Anda dapat menentukan rencana pemeriksaan yang


tepat dan menilai risiko sejati Anda. Genetic testing dan konseling
tersedia dan dapat direkomendasikan berdasarkan riwayat kesehatan
keluarga Anda.
i. Tahu Apa Kau Menjadi Terkena di Lingkungan Kerja Anda
Bahan kimia di tempat kerja dapat meningkatkan resiko terkena
berbagai jenis kanker, termasuk kanker ginjal dan kanker kandung
kemih . Jika Anda terkena asap, debu, bahan kimia, dll di tempat
kerja, Anda memiliki hak hukum untuk mengetahui apa yang sedang
terkena. Bensin, diesel knalpot, arsen, berilium, vinil klorida, Kromat
nikel, produk batubara, gas mustard, dan eter klorometil semua
karsinogen dan dapat ditemukan di beberapa lingkungan kerja.
Bicaralah dengan atasan Anda tentang membatasi eksposur.
Sayangnya, kanker testis adalah jenis kanker yang tidak dapat dengan
mudah dicegah.Tidak hanya tidak ada metode pencegahan terbukti.
Dengan kanker yang paling, metode terbaik pencegahan adalah
menghindari faktor risiko.Tidak ada cara untuk menghindari faktor
risiko untuk kanker testis karena sebagian besar berada di luar kendali
orang tersebut, seperti usia, ras, dan kondisi yang terjadi saat lahir.
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang menderita kanker
testis memiliki faktor risiko yang meningkat. Beberapa pasien kanker
testis tidak memiliki faktor risiko untuk penyakit ini, sehingga tidak
mungkin untuk mencegah.

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 21

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu tahun1,2 satu
atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum1-6, tetapi berada di salah
satu tempat sepanjang jalur desensus yang normal7-10. Testis maldesensus dapat
terjadi karena adanya kelainan pada gubernakulum testis, kelainan intrinsik testis,
atau defisiensi hormon gonadotropin yang memacu proses desensus testis. Pada
prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik
dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan asumsi bahwa jika
dibiarkan, testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun sedangkan setelah usia
2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat untuk
melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun.

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 22

Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama


pada kelainan bilateral, sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum
memuaskan. Obat yang sering dipergunakan adalah hormon hCG yang disemprotkan
intranasal.Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah: mempertahankan fertilitas,
mencegah timbulnya degenerasi maligna, mencegah kemungkinan terjadinya torsio
testis, melakukan koreksi hernia, dan secara psikologis mencegah terjadinya rasa
rendah diri karena tidak mempunyai testis.Operasi yang dikerjakan adalah
orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada
kantong sub dartos. Pencegahan terhadap penyakit testis dengan beberapa perubahan
gaya hidup yang sederhana.dapat secara drastis mengurangi risiko berbagai jenis
penyakit testis dan penyakit kanker lainnya. Banyak faktor yang berperan dalam
perkembangan penyakit tersebut.

Saran
Kami sebagai penulis mohon saran dan kritikannya guna untuk menyempunakan
tugas makalah tentang testis maldesensus atau kriptorkismus, karena kami menyadari
bahwa tugas kami kurang dari kesempuranaan.

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 23

DAFTAR PUSTAKA
http://niethapoenya-nita.blogspot.co.id/2011/11/makalah-anatomi-maldesensustestis.html
https://bedahurologi.wordpress.com/2008/06/26/testis-maldesensus/
https://dokmud.wordpress.com/2010/10/21/kriptorkismus-dan-penatalaksanaannya/
https://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/kriptorkismus-danpenatalaksanaannya/
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&cad=rja&uact=8A&ved=0CFQQFjAJ
ahUKEwjvxdquu6DIAhWNCY4KHW4fAvk&url=http%3A%2F
%2Fdownload.portalgaruda.org%2Farticle.php%3Farticle%3D122507%26val
%3D5502&usg=AFQjCNHdFUkDrZncW1jVTxNNJ5MaIHVKg&bvm=bv.104226188,d.c2E
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCEQFjABah
UKEwiq2PP51KDIAhVUB44KHZsoAWA&url=http%3A%2F
%2Fsaripediatri.idai.or.id%2Fpdfile%2F5-34.pdf&usg=AFQjCNEeI9eehzG5xa8oW2Hu4qaG3rBT_A

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 24

T e s t i s M a l d e s e n s u s ( K r i p t o r k i s m u s ) | 25