Anda di halaman 1dari 66

ASFIKSIA

DiMaio VJ, DiMaio D. FORENSIC PATHOLOGY


Second Edition
Oleh:
Ulfa Camelia Indiasari (C111 01 077)
Marissa Afifudin (C111 01 100)
Stella Fitrianty Attu (C111 01 128)
Agus Sulistyawati (C111 01 194)
Herlina Tolandak (C111 01 221)
Herniaty H. Alimadong (110.2001.034)
Yunianingsih Selano (110.2000.116)
Hasanuddin (110.2001.016)
A. Asriani (110.2000.126

Kematian asfiksia kegagalan


sel-sel untuk memperoleh atau
memanfaatkan oksigen
Tanda klasik asfiksia (tidak
spesifik):
Kongesti visera
Petechiae
Sianosis
Pengenceran darah

Kematian asfiksia tiga


kategori:
1. Mati lemas
2. Strangulasi
3. Asfiksia kimia

Mati Lemas
Mati lemas kegagalan oksigen
mencapai darah
Enam bentuk umum:
1. Entrapment / mati lemas karena faktor
lingkungan
2. Pembekapan
3. Tersedak
4. Asfiksia mekanik
5. Asfiksia mekanik yang dikombinasi
dengan pembekapan
6. Mati lemas karena gas

Entrapment / Mati Lemas


karena Lingkungan
Asfiksia tidak adekuatnya
oksigen di lingkungan
Entrapment terperangkap
dalam ruang tertutup udara
terbatas
Mati Lemas karena Lingkungan
memasuki daerah dengan
defisiensi oksigen yang besar

Persentase normal vol oksigen


20,946%
Konsentrasi oksigen 10 15%
gangguan penilaian dan
koordinasi
Konsentrasi oksigen 8 10%
kehilangan kesadaran
Konsentrasi oksigen < 8%
kematian

Pembekapan
Asfiksia obstruksi mekanik / oklusi
saluran nafas eksternal hidung dan
mulut
Biasanya akibat pembunuhan atau
bunuh diri, jarang kecelakaan
Bunuh diri umumnya kantong
plastik pada kepala pada autopsi
tidak ditemukan kelainan

Gambar 8.1 (A) Bunuh diri dari wanita tua yang merapatkan kantong
plastik pada kepalanya dengan tali di sekeliling lehernya. (B)
Kecelakaan pembekapan pada pria berusia 43 tahun yang mengalami
retardasi mental yang membungkus wajahnya dengan tape perekat.
Korban telah melakukan tindakan ini sebelumnya.

Kecelakaan bayi terperangkap


antara kasur dan kerangka
tempat tidur bayi tidak dapat
bergerak terbekap
Kecelakaan penyumbat
obstruksi hidung dan mulut.
Pembunuhan bila kematian
terjadi saat kejahatan
berlangsung

Gambar 8.2 Anak berusia 9


bulan yang terjepit diantara
rangka dan kasur dari
tempat tidur yang rusak.
Wajah menghadap ke arah
kasur.

Gambar 8.3 Wanita 75


tahun, korban perampokan.
Mengalami asfiksia akibat
handuk yang dibelitkan pada
mulut dan hidung.

Pembunuhan bantal, selimut, dan


tangan
Korban sangat muda, sangat tua,
debil atau tidak berdaya akibat
kekangan, penyakit atau obat-obatan
Urutan kejadian fisiologis pada
pembekapan:
Bradikardia
respirasi diikuti depresi pernafasan
Perlambatan dan pendataran EEG

Gambar 8.4 Bayi berusia 2 bulan


yang dibekap oleh orang tuanya.
Tidak ada petechiae pada sklera,
konjungtiva atau wajah.

Gambar 8.5 Wanita tua yang


dibekap dengan tangan. Bekas
kuku pada hidung.

Tersedak
Asfiksia obstruksi dalam
saluran pernafasan
Cara kematian Alami,
pembunuhan, atau kecelakan
Alami epiglotitis akut fulminan
obstruksi oleh epiglotis dan
jaringan lunak sekitarnya
Pembunuhan relatif tidak biasa

Gambar 8.6 Edema


laringeal masif yang
disebabkan oleh uap.

Gambar 8.7 (A) Dot


yang dimasukkan ke
dalam mulut oleh
ayah (bersambung).

Gambar 8.7
(sambungan) (B)
Tersedak oleh
penyumbat yang
dirapatkan
dengan bandana.

Tersedak kebanyakan karena


kecelakaan, terutama inhalasi
makanan dewasa, objek kecil
(bola karet a/ balon) anak
kecil
Tersedak caf coronary
Diagnosis autopsi oklusi
saluran pernafasan

Gambar 8.8 Anak


usia 2 tahun yang
tersedak hingga
mati oleh gabus
anggur.
Gambar 8.9 Pria 39 tahun yang tersedak oleh ham sandwich.

Asfiksia Mekanik
Tekanan pada bagian luar tubuh
menghambat respirasi
Hampir selalu akibat kecelakaan
Tiga tipe:
Asfiksia traumatik
Asfiksia posisional
Riot-crush atau human-pile

Asfiksia traumatik beban berat


yg menekan dada atau perut atas
Autopsi kongesti kepala, leher
dan tubuh bagian atas, petechiae
pd sklera, konjungtiva, dan
periorbita. Pemeriksaan dalam
tidak ada bukti trauma
Asfiksia traumatik jarang
pembunuhan

Gambar 8.10
Asfiksia traumatik.
(A) Korban tertindih
di bawah kendaraan.
(B) Kongesti yang
jelas pada wajah
dengan petechiae.

Gambar 8.11 Bayi berusia 5


bulan yang terbunuh oleh
phyton. Tidak ada petechiae,
perdarahan, atau memar pada
tubuh. Bekas tusukan pada wajah
dengan konfigurasi semi sirkular
dan disebabkan oleh gigi phyton
yang seperti jarum.

Asfiksia posisional kecelakaan


berhubungan dengan alkohol
a/ intoksikasi obat
Individu terperangkap pd daerah
yang terbatas tidak dapat
bebas restriksi kemampuan
bernafas kematian. Cth:
individu terjatuh dlm sumur dan
terjepit antara dinding sumur.

Riot-Crush keramaian dada


tertekan oleh orang yang
bertumpukan. Gerakan
pernafasan terhambat.

Asfiksia Traumatik yang


Dikombinasi dengan
Pembekapan
Kecelakaan atau pembunuhan
Kecelakaan overlay pd bayi yg
tidur bersama orang dewasa;
terkubur dalam tanah galian,
gabah atau pasir
Burking kombinasi mati lemas
dan asfiksia traumatik
resurrectionist Burke dan Hare
(awal abad 19)

Gambar 8.12 Asfiksia posisional pada individu yang


mengalami intoksikasi akut.

Mati Lemas karena Gas


Kematian penggantian oksigen
di atmosfer
Karbon dioksida dan metan
sering ditemui menyebabkan mati
lemas
Keduanya tdk beracun dan tdk
berbau
Toksikologi tdk membantu pd
kasus karbon dioksida n dlm
darah

Strangulasi
Asfiksia yg ditandai penutupan
pembuluh darah dan saluran
pernafasan pd leher akibat
tekanan eksternal pd leher
Tiga bentuk strangulasi:
1. Penggantungan
2. Penjeratan
3. Pencekikan

Penyebab kematian hipoksia


serebral akibat kompresi dan
oklusi pembuluh darah suplai
ke otak
Arteri penyuplai darah ke otak:
A. karotid interna
A. vertebralis
Arteri kecil spinal
Koneksi anastomosis cabang a.
karotid eksternal dan a. subklavia

Drainase utama v. jugularis


dan v. servikalis profunda
Tekanan oklusi a. karotid 11
lb; a. vertebralis 66 lb; oklusi v.
jugularis 4,4 lb; trakea 33 lb.
Petechiae efek lokal kongesti
vena

Penggantungan
Asfiksia sekunder o.k kompresi
a/ konstriksi struktur leher
akibat jeratan a/ tali konstriktor
yg dirapatkan oleh berat tubuh
Semua penggantungan pd
dasarnya adalah bunuh diri,
kecelakaan tidak lazim terjadi,
dan pembunuhan sangat
jarang

Kematian kompresi pembuluh


darah di leher darah
teroksigenasi ke otak tidak
mencukupi
Beratnya kepala (10 12 lb)
dapat mengoklusi a. karotid
kematian
Penggantungan biasanya tali
dgn satu simpul sederhana

Gambar 8.13 (A)


Penggantungan dengan
suspensi sempurna
(bersambung)

Gambar 8.13 (sambungan) (B


dan C) Penggantungan dengan
(B) tangan diborgol di
belakang (C) pengantungan
inkomplit.

Penjerat umumnya tambang,


kabel listrik, dan ikat pinggang.
Di penjara seprei, T-shirts,
celana pendek, celana panjang,
bahkan kaus kaki.
Bentuk penjerat terlihat sbg
alur tergantung pada material
penjerat.
Sebagian besar 1 lilitan, 2
lilitan jarang terjadi

Gambar 8.14
Penggantungan dengan
titik penggantungan pada
(A) sisi leher dan (B)
bagian depan leher.

Gambar 8.15 Alur dari


penjerat yang terdorong
ke atas ke arah titik
penggantungan

Gambar 8.17 Bunuh diri


dengan dua lilitan yang
menjepit kulit

Gambar 8.16 (A) Tanda jeratan dengan dasar kuning pucat


dan pinggir yang kongesti. (B) Alur pucat yang lebar akibat
penjerat yang lembut.

Gambar 8.18 Bunuh diri dengan


ikat pinggang.

Gambar 8.19 Penggantungan bunuh


diri dengan protrusi dan pengeringan
lidah.

Penggantungan darah berkumpul


biasanya pada lengan bawah, tangan
dan kaki bagian bawah gravitasi.
Beberapa waktu kemudian terlihat
perdarahan pungtat dan tardieus
spot.

Gambar 8.20
Tardieu spot.

Sebelum jeratan dilepas bahan,


komposisi, alur, cara aplikasi, lokasi
dan tipe simpul dideskripsikan.
Setelah dilepaskan bekas jeratan
segera dideskripsikan.
Juga harus dideskripsikan arah alur
(oblik, ke atas, horizontal, dll.),
kontinyu a/ terputus, warna, dimensi
(dalam & lebar), perbedaan pd pola
jeratan, area leher yg terlibat dan
hubungan dgn bekas daerah jeratan.

Insidens fraktur pada organ


leher rendah
Fraktur tdk diasosiasikan dgn
ketinggian penggantungan, jenis
kelamin, atau lebar jeratan.
Fraktur kartilago tiroid, kartilago
krikoid atau tulang hyoid
dianggap ante mortem darah
pada lokasi fraktur.

Pembunuhan dgn
penggantungan sangat jarang
terjadi. Tdk mungkin dua orang
dewasa sehat, sebanding fisik u/
menggantung yg lain, kecuali
korban dibuat pingsan atau tdk
berdaya dgn alkohol atau obat
obatan.

Penggantungan kecelakaan anakanak yg bermain terjebak dlm tali


temali. Orang dewasa asfiksia
seksual. Bayi dot yg tergantung pd
leher.
Penelitian Casper tanda jeratan
leher ante mortem dapat dihasilkan
oleh penjeratan yang dilakukan pd
leher dlm waktu 2 jam a/ setidaknya
segera setelah kematian.

Pada hukuman gantung kematian


disebabkan oleh fraktur-dislokasi
vertebra servikal atas dgn putusnya
corda.
Idealnya, terdapat fraktur hangman
klasik fraktur pd pedikel C2 dgn
arkus posterior tetap terfiksasi pd C3.
C1, prosessus odontoid dan arkus
anterior C2 tetap berartikulasio dgn
dasar dari tengkorak.

Gambar 2.6 Marbling.

Gambar 4.9 Laserasi


dengan jembatan
jaringan.

Gambar 3.13 Meningococcemia. Rash


bintik eritematous dengan petechiae
dan purpura.

Gambar 4.6
Pola kontusi
yang
disebabkan
oleh ujung
senter.

Gambar 5.7 Luka


avulsif pada paha kiri
dengan putusnya arteri
femoral.

Gambar 6.8 Fraktur pada


tengkorak pada fossa posterior kiri
dengan kontusi coup pada
hemisfer serebellar kiri dan
kontusi kontracoup pada kutup
temporal kanan. Selamat selama
delapan hari.

Gambar 7.15 Luka


tikam karena golok
dengan tepi yang
bergerigi.

Gambar 6.11 (A) Fraktur


tulang temporal
skuamosa dengan laserasi
pada arteri meningeal
media dan (B) dan (C)
hematoma epidural.

Gambar 8.11 Infant


berusia 5 bulan yang
terbunuh oleh phython.
Tidak ada petechiae,
perdarahan, atau memar
pada tubuh. Bekas tusukan
kecil pada wajah dengan
konfigurasi semisirkular dan
disebabkan oleh gigi
phython yang seperti jarum

Gambar 8.24 Pencekikan


dengan bekas kuku dan
goresan pada sisi leher

Gambar 9.11 Luka bakar asam


pada wajah akibat bateri yang
ruptur.

Gambar 9.19 Anak


berusia 3 tahun yang
terlindas truck, dengan
jejak ban pada punggung

Gambar 13.6
Hematoma
epidural termal
postmortem.

Gambar 13.7 Luka


bakar postmortem
dengan pinggiran
eritematous

Gambar 16.1 Luka bakar listrik


pada tangan yang
memperlihatkan titik entry.

Gambar 19.2 Gelembung


udara pada vena epicardial
jantung pada kematian
karena emboli udara.

Penjeratan
Tekanan pd leher kekuatan
lain selain berat badan
Semua penjeratan pd dasarnya
pembunuhan. Bunuh diri dan
kecelakaan jarang terjadi.
wajah dan leher kongesti,
perdarahan skleral konfluen,
petechiae pd konjungtiva.

Penjerat kabel listrik, dasi,


tambang, kabel telefon, seprei
dan selang. Tanda bekas jeratan
pd leher bervariasi tergantung
bahan penjerat, besarnya
resistensi korban, dan besarnya
kekuatan penyerangnya.
Tanda bekas jeratan biasanya
mengelilingi leher secara
horizontal.

Gambar 8.21 (A)


Penjeratan
menggunakan tali dari
kain. Tanda jeratan
padaaspek anterior
dan lateral leher. (B)
Close up yang
memperlihatkan pola
kain yang berorientasi
vertikal. (C) Tanda
jeratan yang sulit
dikenali pada seorang
gadis yang dijerat
denan T-shirt.
(bersambung).

Gambar 8.21 (sambungan)


(D dan E) Pria tua yang
dijerat dengan handuk

Gambar 8.22 Korban dijerat dengan (A)


kabel telefon dan (B) tali sepatu boot.
Kongesti wajah dengan beberapa petechiae.
Tanda jeratan berorientasi horizontal pada laring,
mengelilingi leher.
Gambar 8.23 (A) Penjeratan bunuh diri
menggunakan stoking. Usaha bunuh
diri ke enam. (B) Penjeratan bunuh diri
menggunakan tali plastik berkunci.

Bunuh diri dan kecelakaan dgn


penjeratan sangat jarang
Meski terjadi dekomposisi
tanda jeratan cenderung terjaga
dan tetap dapat dikenali.

Pencekikan
Pencekikan tekanan dari
tangan, lengan bawah, atau
anggota gerak lain thd leher,
menekan struktur internal leher.
Kematian oklusi pembuluh
darah yg menyuplai darah ke
otak.
Pencekikan pd dasarnya
pembunuhan

Terkadang diklaim kematian akibat


pencekikan diakibatkan oleh reaksi
vasovagal (reflex cardiak death)
akibat sentuhan, pegangan, a/
serangan pd leher.
Penekanan a/ stimulasi sinus karotid
tekanan darah pd sinus-sinus ini
dgn hasil berupa perlambatan heart
rate (bradikardia), dilatasi pembuluh
darah (vasodilatasi), dan tekanan
darah.

Tanda khas dari asfiksia


sianosis dan petechiae multipel.
Petechiae tidak patognomonis
untuk asfiksia.
Insidens fraktur pd pencekikan
tinggi bila dilakukan diseksi
leher yg hati-hati.
Biasanya terdapat trauma pd
baik aspek eksternal maupun
internal dari leher.

Gambar 8.24 (A & B)


Pencekikan dengan bekas
kuku dan goresan pada sisi
leher.

Gambar 8.25 Wanita berusia


38 tahun. Fraktur bilateral
dari cornu superior kartilago
thyroid dan fraktur kartilago
krikoid. Tidak ada bukti
eksternal pencekikan. Tanda
horizontal pada leher adalah
bekas operasi.

Bekas kuku diklasifikasikan


menjadi tiga tipe (Harm dan
Rajs) tanda impresi, bekas
cakar, dan tanda goresan.
Inkontinensia sfingter sering
pd strangulasi tetapi bukanlah
penemuan yg absolut.

Cedera pada Faring dan Laring


yang Disebabkan oleh Intubasi
Resusitatif
Cedera resusitasi pd faring &
laring sekunder akibat intubasi
menyerupai cedera yg
diakibatkan strangulasi &
penekanan leher kontusi,
laserasi, abrasi dan petechiae.

Cedera pada Pelaku


Strangulasi
Bekas kuku (impresi, bekas
cakaran, & goresan)
menyumbangkan 82% dari luka
yg timbul pd penyerang. Sisanya
18% tidak spesifik.

Asfiksia Kimia
Asfiksia kimia inhalasi dari
komponen gas mencegah
penggunaan oksigen pd level
seluler.
Hidrogen sianida dan garamnya
racun poten yg bekerja cepat.
Dosis letal minimum 200 mg
u/ baik natrium a/ kalium
sianida.

Hidrogen sulfida (H2S)


fermentasi bahan organik. H2S yg
berkonjugasi dgn CO2 dan metan
yg terbentuk di selokan gas
selokan.
Pada konsentrasi 1000 2000
ppm (0,1 0,2%), dapat
mengakibatkan kematian yang
hampir seketika.
Level mematikan dari sulfida
dalam darah bervariasi dari 0,9
sampai 3,8 mg/L

Asfiksia Seksual (Asfiksia


Autoerotik, kematian
Autoerotik)
Jarang terjadi korban pd dasarnya pria
ditemukan pd daerah pribadi, telanjang a/
setengah telanjang; terkadang mengenakan
pakaian wanita.
Selalu terdapat alat u/ menyelamatkan diri
individu dapat melepaskan tekanan
sebelum kehilangan kesadaran.
Sayangnya, karena kegagalan alat, cacat pd
desain a/ konstruksi peralatan, a/
kehilangan kontrol individu, menyebabkan
terjadinya kematian yg tidak disengaja.

Penyaliban
Korban dipaku ke salib dgn
paku yg menembus pergelangan
tangan hingga ke papan salib dan
kaki pd bagian salib yg tegak.
Kematian shock, baik
hipovolemik & sekunder karena
nyeri akibat pemakuan, ditambah
dehidrasi dan asfiksia.

Kematian Akibat
Penggantungan Terbalik
Mekanisme kematian akibat
kardiak akut a/ kegagalan pernafasan
a/ kombinasi keduanya
Lamanya waktu yang diperlukan
untuk terjadinya suatu kematian
tergantung pd kesehatan individu itu
sendiri beberapa jam hingga hari,
mungkin lebih lama.

Kematian akibat Tercekik


atau Penekanan Karotis
Jarang terjadi seseorang
mengalami kematian yg
dinyatakan akibat aplikasi dari
pencekikan a/ penekanan
karotis.
Penekanan dari arteri karotid
mekanisme utama kehilangan
kesadaran dalam 10 15 dtk.

Penekanan karotis menghambat


aliran darah a. karotid melalui
tekanan pd kedua sisi leher efek
penjepit lengan atas & lengan bawah
Mempertahankan tekanan pd
penekanan karotid, setelah
kehilangan kesadaran pencekikan
dipertahankan lebih lama
kematian.

Penekanan pd a. Karotid aliran


darah serebral secara teori
mempresipitasi stroke pd individu dgn
penyakit aterosklerotik pd karotid a/
vaskularisasi serebral
Pencekikan maupun penekanan arteri
karotid aman dilakukan dengan
benar, meskipun yang terakhir lebih
aman diantara keduanya