Anda di halaman 1dari 21

PENGGANTUNGAN

1.

PENDAHULUAN
Penggantungan adalah penyebab kematian akibat asfiksia yang paling sering

ditemukan. Bagaimanapun, penggantungan juga merupakan penyebab kematian yang


paling sering menimbulkan persoalan karena rawan terjadi salah interpretasi baik oleh
ahli forensik, polisi, dan dokter non-forensik.1 Selain itu, penggantungan merupakan
metode bunuh diri yang sering ditemukan di banyak negara. Di Inggris, terdapat lebih
dari

2000

kasus

bunuh

diri

dengan

penggantungan

dilaporkan

setiap

tahun..Penggantungan baik akibat bunuh diri atau pembunuhan lebih sering


ditemukan di kota. Di Amerika Serikat, pada tahun 2001 dilaporkan sebanyak 279
kematian yang dikibatkan oleh penggantungan yang tidak disengajakan dan
strangulasi, dan 131 kematian karena penggantungan, strangulasi, dan lemas. Pada
balita, biasanya terjadi accidental hanging yaitu penggantungan yang tidak
disengajakan misalnya akibat dijerat ayunan.2
Di India, dari tahun 1997-2000, didapatkan kematian akibat penggantungan
sebesar 3,4%. Penggantungan yang diakibatkan oleh bunuh diri lebih sering
ditemukan pada jenis kelamin laki-laki (2:1), tetapi kematian yang disebabkan oleh
kekerasan strangulasi lebih dominan ditemukan pada wanita.2 Di Istanbul, Turki, 537
dari semua kasus gantung diri adalah laki-laki (70,56%) dan 224 adalah wanita
(29,44%).3 Jika dilihat dari faktor umur, insidens penggantung lebih sering terjadi
pada dewasa muda. Di India misalnya, kematian akibat penggantungan paling sering
ditemukan pada kelompok umur 21-25 tahun4, manakala penelitian Davidson &
Marshall (1986), melaporkan bahwa insidens penggantungan yang paling tinggi
adalah pada kelompok umur 20-39 tahun.5
Tindakan bunuh diri dengan cara penggantungan sering dilakukan karena
dapat dilakukan dimana dan kapan saja dengan seutas tali, kain, dasi, atau bahan apa
saja yang dapat melilit leher. Demikian pula pada pembunuhan atau hukuman mati
dengan cara penggantungan yang sudah digunakan sejak zaman dahulu. Kasus
1

gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terletak pada asal tenaga
yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan tenaga tersebut
datang dari luar, sedangkan pada kasus penggantungan, tenaga tersebut berasal dari
berat badan korban sendiri, meskipun tidak seluruh berat badan digunakan. 6 Dalam
rutinitas medikolegal, perbedaan keduanya penting karena kasus penggantungan
dianggap bunuh diri sehingga dibuktikan sebaliknya, manakala kasus penjeratan
dianggap pembunuhan.7
2.

DEFENISI
Penggantungan (Hanging) adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari

leher oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh atau sebagian. Alat
penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi
konstriksi pada leher.8 Umumnya penggantungan melibatkan tali, tapi hal ini tidaklah
perlu. Penggantungan yang terjadi akibat kecelakaan bisa saja tidak terdapat tali.
Pada beberapa kasus konstriksi dari leher terjadi akibat eratnya jeratan tali bukan oleh
berat badan yang tergantung. Pada beberapa kasus yang jarang, jeratan tali dipererat
oleh berat tubuh yang tergantung oleh individu dalam keadaan tegak lurus. Kekuatan
tambahan juga kadang dibutuhkan untuk mengeratkan tali.9,10
3.

TIPE-TIPE PENGGANTUNGAN

1.) Berdasarkan cara kematian:8,11


a. Suicidal Hanging (Gantung Diri)
Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai pada
penggantungan, yaitu sekitar 90% dari seluruh kasus. Walaupun demikian,
pemeriksaan yang teliti harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan lain
terutamanya pembunuhan.
b. Accidental Hanging
Kejadian penggantungan akibat kecelakaan lebih banyak ditemukan pada anakanak utamanya pada umur antara 6-12 tahun. Tidak ditemukan alasan untuk
2

bunuh diri karena pada usia itu belum ada tilikan dari anak untuk bunuh diri. Hal
ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dari orang tua. Meskipun tidak menutup
kemungkinan hal ini dapat terjadi pada orang dewasa yaitu ketika melampiaskan
nafsu seksual yang menyimpang (Autoerotic Hanging).
c. Homicidal Hanging (Pembunuhan)
Pembunuhan yang dilakukan dengan metode menggantung korban. Biasanya
dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah
baik oleh karena penyakit atau dibawah pengaruh obat, alcohol, atau korban
sedang tidur. Sering ditemukan kejadian penggantungan tetapi bukan kasus bunuh
diri, namun kejadian diatur sedemikian rupa hingga menyerupai kasus
penggantungan bunuh diri. Banyak alasan yang menyebabkan pembunuhan
terjadi mulai dari masalah sosial, masalah ekonomi, hingga masalah hubungan
sosial.
2.) Berdasarkan posisi korban6,9
a. Penggantungan lengkap (complete hanging)
Dikatakan penggantungan lengkap apabila tubuh korban tergantung di atas lantai,
kedua kaki tidak menyentuh lantai.
b. Penggantungan parsial (Partial Hanging)
Yaitu apabila sebagian dari tubuh masih menyentuh lantai. Sisa berat badan 10 15 kg pada orang dewasa sudah dapat menyebabkan tersumbat saluran nafas dan
hanya diperlukan sisa berat badan 5 kg untuk menyumbat arteri karotis. Partial
hanging ini hampir selamanya karena bunuh diri.
3.) Berdasarkan letak jeratan, dikelompokkan atas :6,9
a. Typical hanging
Yaitu bila titik penggantungan ditemukan di daerah oksipital dan tekanan pada
arteri karotis paling besar.

b. Atypical hanging
Jika titik penggantungan terletak di samping, sehingga leher sangat miring (fleksi
lateral), yang mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis.
Saat arteri terhambat, korban segera tidak sadar.
4.

PATOMEKANISME
Penggantungan menyebabkan kematian dengan beberapa mekanisme yang

bisa berlansung bersamaan. Pada setiap kasus penggantungan beberapa kondisi di


bawah akan terjadi.6,9,10
1.

Arteri karotis tersumbat

2.

Vena jugularis tersumbat

3.

Memicu refleks karotis

4.

Fraktur vertebra servikal

5.

Menutupnya jalan nafas


Daripada kondisi di atas, dapat disimpulkan kematian pada korban

penggantungan yang terdiri dari empat penyebab yaitu:6,10


1.

Asfiksia

2.

Iskemik otak

3.

Refleks vagus

4.

Kerusakan pada batang otak dan medulla spinalis

Asfiksia
Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan
pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia)
disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea). Dengan demikian organ
tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian.
Secara klinis keadaan asfiksia sering disebut anoksia atau hipoksia.10

Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut: 6,10
1. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti
laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis
paru.
2. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang
mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral;
sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya.
3. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan, misalnya
barbiturat dan narkotika.
Penyebab tersering asfiksia dalam konteks forensik adalah jenis asfiksia
mekanik, dibandingkan dengan penyebab yang lain seperti penyebab alamiah ataupun
keracunan.
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam 2
golongan, yaitu: 6,10
1.

Primer (akibat langsung dari asfiksia)


Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe

dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Bagian-bagian
otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen, dengan demikian bagian tersebut
lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada
sel-sel serebrum, serebellum, dan basal ganglia. Disini sel-sel otak yang mati akan
digantikan oleh jaringan glial, sedangkan pada organ tubuh yang lain yakni jantung,
paru-paru, hati, ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan oksigen
langsung atau primer tidak jelas.
2.

Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh)


Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah

dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena
oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung, maka

terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini didapati
pada:
- Penutupan mulut dan hidung (pembekapan).
- Obstruksi jalan napas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan
korpus alienum dalam saluran napas atau pada tenggelam karena cairan
menghalangi udara masuk ke paru-paru.
- Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (Traumatic
asphyxia).
- Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan,
misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan
dalam 4 fase, yaitu: 6,10
1. Fase Dispnea
Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma
akan merangsang pusat pernapasan di medulla oblongata, sehingga amplitude dan
frekuensi pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi, dan mulai
tampak tanda-tanda sianosis terutama muka dan tangan.
2. Fase Konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan
saraf pusat sehingga terjadi konvulsi (kejang), yang mula-mula berupa kejang klonik
tetapi kemudian menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik. Pupil
mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini
berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak, akibat kekurangan O2.
3. Fase Apnea
Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan dapat
berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran
cairan sperma, urin dan tinja.

4. Fase Akhir
Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernapasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut
beberapa saat setelah pernapasan berhenti.
Mekanisme Kematian pada Penggantungan
Kematian segera akibat dari penggantungan dapat muncul akibat dari
beberapa mekanisme. Penekanan pada ganglion saraf arteri karotis oleh tali yang
melingkar pada leher korban dapat menyebabkan carotid body reflex (refleks vagus)
sehingga memicu perlambatan denyut jantung. Perlahan-perlahan terjadi aritmia
jantung sehingga terakhir korban mati dengan cardiac arrest. Namun mekanisme
kematian ini jarang didapatkan karena untuk menimbulkan refleks karotis, tekanan
lansung yang kuat harus diberikan pada area khusus di mana carotid body berada. Hal
ini sukar dipastikan. Sebagai tambahan refleks karotis juga dapat dimunculkan biar
pun tanpa penggantungan.13,14
Tekanan pada vena jugularis juga bisa menyebabkan kematian korban
penggantungan dengan mekanisme asfiksia. Kebanyakan kasus penggantungan bunuh
diri mempunyai mekanisme kematian seperti ini. Seperti yang diketahui, vena
jugularis membawa darah dari otak ke jantung untuk sirkulasi. Pada penggantungan
sering terjadi penekanan pada vena jugularis oleh tali yang menggantung korban.
Tekanan ini seolah-olah membuat jalan yang dilewati darah untuk kembali ke jantung
dari otak tersumbat. Obstruksi total maupun parsial secara perlahan-lahan dapat
menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak. Darah tetap mengalir dari jantung
ke otak tetapi darah dari otak tidak bisa mengalir keluar. Akhirnya, terjadilah
penumpukan darah di pembuluh darah otak. Keadaan ini menyebabkan suplai
oksigen ke otak berkurang dan korban seterusnya tidak sadarkan diri. Kemudian,
terjadilah depresi pusat nafas dan korban mati akibat asfiksia. Tekanan yang
diperlukan untuk terjadinya mekanisme ini tidak penting tetapi durasi lamanya
tekanan diberikan pada leher oleh tali yang menggantung korban yang menyebabkan
7

mekanisme tersebut. Ketidaksadaran korban mengambil waktu yang lama sebelum


terjadinya depresi pusat nafas. Secara keseluruhan, mekanisme ini tidak menyakitkan
sehingga disalahgunakan oleh pria untuk memuaskan nafsu seksual mereka
(autoerotic sexual asphyxia). Pada mekanisme ini, korban akan menunjukkan gejala
sianosis. Wajahnya membiru dan sedikit membengkak. Muncul peteki di wajah dan
mata akibat dari pecahnya kapiler darah karena tekanan yang lama. Didapatkan lidah
yang menjulur keluar pada pemeriksan luar.9,13,14
Obstruksi arteri karotis terjadi akibat dari penekanan yang lebih besar. Hal ini
karena secara anatomis, arteri karotis berada lebih dalam dari vena jugularis. Oleh hal
yang demikian, obstruksi arteri karotis jarang ditemukan pada kasus bunuh diri
dengan penggantungan. Biasanya korban mati karena tekanan yang lebih besar,
misalnya dicekik atau pada penjeratan. Pada pemeriksaan dalam turut ditemukan jejas
pada jaringan lunak sekitar arteri karotis akibat tekanan yang besar ini. Tekanan ini
menyebabkan aliran darah ke otak tersumbat. Kurangnya suplai darah ke otak
menyebabkan korban tidak sadar diri dan depresi pusat nafas sehingga kematian
terjadi. Pada mekanisme ini, hanya ditemukan wajah yang sianosis tetapi tidak ada
peteki.2,13,14
Fraktur vertebra servikal dapat menimbulkan kematian pada penggantungan
dengan mekanisme asfiksia atau dekapitasi. Kejadian ini biasa terjadi pada hukuman
gantung atau korban penggantungan yang dilepaskan dari tempat tinggi. Sering
terjadi fraktur atau cedera pada vertebra servikal 1 dan servikal 2 (aksis dan atlas)
atau lebih dikenali sebagai hangman fracture. Fraktur atau dislokasi vertebra
servikal akan menekan medulla oblongata sehingga terjadi depresi pusat nafas dan
korban meninggal karena henti nafas.13
Asfiksia bisa juga terjadi akibat dari tertutupnya jalan nafas. Kondisi ini
terjadi setelah korban tidak sadar dan tidak ada usaha untuk bernafas. Akhirnya,
korban mati.

Gambaran klasik asfiksia termasuk:6,10,14


a. Tardieus spot (Petechial hemorrages)
Tardieus spot terjadi karena peningkatan tekanan vena secara akut yang
menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding perifer vena, terutama pada
jaringan longgar, seperti kelopak mata, dibawah kulit dahi, kulit dibagian belakang
telinga, circumoral skin, konjungtiva dan sklera mata. Selain itu juga bisa terdapat
dipermukaan jantung, paru dan otak. Bisa juga terdapat pada lapisan viseral dari
pleura, perikardium, peritoneum, timus, mukosa laring dan faring, jarang pada
mesentrium dan intestinum.
b. Kongesti dan Edema
Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik dibandingkan dengan ptekie.
Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah, sehingga terjadi akumulasi darah
dalam organ yang diakibatkan adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. Pada
kondisi vena yang terbendung, terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular
(tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskular oleh kerja pompa
jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. Cairan
plasma ini akan mengisi pada sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan
(terjadi edema).
c. Sianosis
Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput lendir
yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tidak berikatan
dengan O2). Ini tidak dapat dinyatakan sebagai anemia, harus ada minimal 5 gram
hemoglobin per 100 ml darah yang berkurang sebelum sianosis menjadi bukti,
terlepas dari jumlah total hemoglobin. Pada kebanyakan kasus forensik dengan
konstriksi leher, sianosis hampir selalu diikuti dengan kongesti pada wajah, seperti
darah vena yang kandungan hemoglobinnya berkurang setelah perfusi kepala dan
leher dibendung kembali dan menjadi lebih biru karena akumulasi darah.

d. Tetap cairnya darah


Terjadi karena peningkatan fibrinolisin paska kematian. Gambaran tentang
tetap cairnya darah yang dapat terlihat pada saat autopsi pada kematian akibat asfiksia
adalah bagian dari mitologi forensik. Pembekuan yang terdapat pada jantung dan
sistem vena setelah kematian adalah sebuah proses yang tidak pasti, seperti akhirnya
pencairan bekuan tersebut diakibatkan oleh enzim fibrinolitik. Hal ini tidak relevan
dalam diagnosis asfiksia.
Tanda khusus asfiksia yang dapat ditemukan pada kasus penggantungan yaitu
kematian terjadi akibat tekanan di leher oleh pengaruh berat badan sendiri. Kesannya
leher sedikit memanjang, dengan bekas jeratan di leher. Ada garis ludah di pinggir
salah satu sudut mulut. Bila korban cukup lama tergantung, maka lebam mayat
didapati di kedua kaki dan tangan. Namun bila segera diturunkan, maka lebam mayat
akan didapati pada bagian terendah tubuh. Muka korban lebih sering pucat, karena
peristiwa kematian berlangsung cepat, tidak sempat terjadi proses pembendungan.
Pada pembukaan kulit di daerah leher, didapati resapan darah setentang jeratan,
demikian juga di pangkal tenggorokan dan oesophagus. Tanda-tanda pembendungan
seperti pada keadaan asfiksia yang lain juga didapati. Yang khas disini adalah adanya
perdarahan berupa garis yang letaknya melintang pada tunika intima dari arteri
karotis interna, setentang dengan tekanan tali pada leher. Tanda-tanda diatas tidak
didapati pada korban yang digantung setelah mati, kecuali bila dibunuh dengan cara
asfiksia. Namun tanda-tanda di leher tetap menjadi petunjuk yang baik.6,8,15
5.

PEMERIKSAAN
Pemeriksaan post-mortal pada kasus gantung diri atau penggantungan

dipengaruhi oleh mekanisme kematiannya; mekanisme kematian yang berbeda akan


memberikan gambaran post-mortal yang berbeda.
A. Pemeriksaan tempat kejadian. 8
1. Periksa apakah masih hidup atau sudah meninggal
10

2. Keadaan di TKP (tempat kejadian perkara) : Pada kasus gantung diri,


keadaanya tenang, di ruang atau tempat tersembunyi atau pada tempat yang
sudah tidak digunakan.
3. Pakaian korban : Pada kasus gantung diri biasa ditemukan pakaian korban
cukup rapih, sering didapatkan suratpeninggalan dan tidak jarang diberikan
alas sapu tangan sebelum alat jerat dikalungkan ke leher.
4. Adakah alat penumpu seperti bangku dan sebagainya
5. Jumlah lilitan : Semakin banyak jumlah lilitan, dugaan bunuh diri makin besar
6. Arah serabut tali penggantung:
-

Bunuh diri : arah serabut tali menuju korban

Dibunuh terlebih dulu : arah serabut sebaliknya

7. Distribusi lebam mayat. Diperiksa apakah sesuai dengan posisi korban yang
tergantung atau tidak.
8. Macam simpul pada jerat di leher
-

Simpul hidup : Umumnya pada kasus bunuh diri.

Simpul mati

Pemeriksaan : Bila dilonggarkan maksimal, apakah dapat melewati kepala.


Bila dapat biasanya bunuh diri,. Bila tidak, curiga pembunuhan.
9. Jarak ujung jari kaki dengan lantai.
Pada kasus bunuh diri, posisi korban yang tergantung lebih mendekati lantai,
berbeda dengan pembunuhan dimana jarak antara kaki dan lantai cukup lebar.
10. Letak korban di tempat kejadian
Cara menurunkan korban:
Potong bahan penggantung di luar simpul. Awalnya buat ikatan pada 2 tempat
untuk mencegah serabut terurai lalu potong diantara kedua ikatan secara
miring untuk memudahkan rekonstruksi.
11. Bekas serabut tali pada tempat menggantung dan pada leher diamankan untuk
pemeriksaan lebih lanjut.

11

12. Bahan penggantung; makin kecil/keras bahan makin jelas alur jerat yang
timbul di leher.
-

Tali, kawat, selendang, ikat pinggang

Seprei yang disambung

B. Pemeriksaan Otopsi.
1. Pemeriksaan luar.
Kepala:
1. Muka sianotik (vena terjepit) atau muka pucat (vena dan arteri terjepit)
2. Tanda penjeratan pada leher. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh dokter,
dan keadaannya bergantung kepada beberapa kondisi :
a.

Tanda penjeratannya jelas dan dalam jika tali yang digunakan kecil
dibandingkan jika menggunakan tali yang besar. Bila alat penjerat
mempunyai permukaan yang luas, yang berarti tekanan yang ditimbulkan
tidak terlalu besar tetapi cukup menekan pembuluh balik, maka muka
korban tampak sembab, mata menonjol, wajah berwarna merah kebiruan
dan lidah atau air liur dapat keluar tergantung dari letak alat penjerat. Jika
permukaan alat penjerat kecil, yang berarti tekanan yang ditimbulkan
besar dan dapat menekan baik pembuluh balik maupun pembuluh nadi;
maka korban tampak pucat dan tidak ada penonjolan dari mata.

b.

Alur jerat : bentuk penjeratannya berjalan miring (oblik atau berbentuk


V) pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian atas di antara
kartilago tiroid dengan dagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis
rahang bawah menuju belakang telinga. Tanda ini semakin tidak jelas pada
bagian belakang.

c.

Tanda penjeratan atau jejas jerat yang sebenarnya luka lecet akibat
tekanan alat jerat yang berwarna merah kecoklatan atau coklat gelap dan
kulit tampak kering, keras dan berkilat. Pada perabaan, kulit terasa seperti
perabaan kertas perkamen, disebut tanda parchmentisasi, dan sering
12

ditemukan adanya vesikel pada tepi jejas jerat tersebut dan tidak jarang
jejas jerat membentuk cetakan sesuai bentuk permukaan dari alat jerat.
d.

Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit dibagian
bawah telinga, tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga.

e.

Pinggiran berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasi


disekitarnya.

f.

Jumlah tanda penjeratan. Kadang-kadang pada leher terlihat 2 buah


atau lebih bekas penjeratan. Hal ini menunjukkan bahwa tali dijeratkan ke
leher sebanyak 2 kali.

3. Tanda-tanda asfiksia.
a

Mata menonjol keluar; oleh karena pecahnya oleh bendungan kepala,


dimana vena-vena terhambat sedang arteri tidak.

Perdarahan berupa peteki tampak pada wajah dan subkonjungtiva;


pecahnya vena oleh bendungan dan meningkatnya permeabilitas
pembuluh darah akibat asfiksia.

Lidah menjulur; tergantung dari letak jerat. Bila tepat di kartilago tiroid
lidah akan terjulur sedang jika di atasnya lidah tidak akan terjulur.

Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan
simpul tali. Keadaan ini menunjukkan tanda pasti penggantungan antemortem.

Kedalaman dari bekas penjeratan menunjukkan lamanya tubuh tergantung.

Jika korban lama tergantung, ukuran leher menjadi semakin panjang.

Anggota gerak
7. Lebam mayat dan bintik-bintik perdarahan terutama pada bagian akral dari
ekstremitas, sangat tergantung dari lamanya korban dalam posisi
tergantung.
8. Posisi tangan biasanya dalam keadaan tergenggam.

13

Dubur dan kelamin


9. Keluarnya mani, darah (sisa haid), urin dan feses akibat kontraksi otot
polos pada saat stadium konvulsi pada puncak asfiksia.
Hai ini bukan merupakan tanda khas dari penggantungan dan keadaan ini tidak
selalu menyertai penggantungan.
2. Pemeriksaan dalam.
Kepala
1. Tanda bendungan pembuluh darah otak
Leher
2. Jaringan yang berada dibawah jeratan berwarna putih, berkilat dan perabaan
seperti perkamen karena kekurangan darah, terutama jika mayat tergantung
cukup lama. Pada jaringan dibawahnya mungkin tidak terdapat cedera
lainnya.
3. Platisma atau otot lain disekitarnya mungkin memar atau ruptur pada
beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih banyak terjadi pada kasus
penggantungan yang disertai dengan tindak kekerasan.
4. Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun
ruptur. Resapan darah hanya terjadi didalam dinding pembuluh darah.
5. Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur ini biasanya terdapat pada
penggantungan yang korbannya dijatuhkan dengan tali penggantung yang
panjang dimana tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang vertebra.
Adanya efusi darah disekitar fraktur menunjukkan bahwa penggantungannya
ante-mortem.
6. Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi. Pada korban diatas 40 tahun, patah
tulang ini darap terjadi bukan karena tekanan alat penjerat tetapi karena
terjadinya traksi pada penggantungan.
7. Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas. Fraktur ini sering terjadi
pada korban hukuman gantung
14

Dada dan perut


8. Perdarahan pada pleura, pericard atau peritoneum
9. Organ-organ dapat mengalami kongesti atau bendungan
Darah
10. Darah dalam jantung gelap dan lebih cair.
C. Perbedaan antara penggantungan antemortem dan postmortem 8,14
Tanda-tanda antemortem sebelum kematian dan tanda-tanda postmortem harus
diketahui dan dapat dibedakan dengan jelas oleh seorang dokter supaya penyebab
kematian

dapat

detentukan

dengan

pasti.

Perbedaan

antara

tanda-tanda

penggantungan antemortem dan postmortem adalah seperti pada tabel di bawah ini.
No

Penggantungan antemortem

Tanda-tanda

penggantungan

Penggantungan postmortem
ante- Tanda-tanda

post-mortem

mortem bervariasi. Tergantung dari menunjukkan kematian yang bukan


cara kematian korban
2

disebabkan penggantungan

Tanda jejas jeratan miring, berupa Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk
lingkaran terputus (non-continuous) lingkaran utuh (continuous), agak
dan letaknya pada leher bagian atas

sirkuler dan letaknya pada bagian


leher tidak begitu tinggi

Simpul tali biasanya tunggal, terdapat Simpul tali biasanya lebih dari satu,
pada sisi leher

diikatkan dengan kuat dan diletakkan


pada bagian depan leher

Ekimosis tampak jelas pada salah Ekimosis pada salah satu sisi jejas
satu sisi dari jejas penjeratan. Lebam penjeratan tidak ada atau tidak jelas.
mayat tampak di atas jejas jerat dan Lebam mayat terdapat pada bagian
pada tungkai bawah

tubuh

yang

dengan

menggantung

posisi

mayat

sesuai
setelah

meninggal
5

Pada kulit di tempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau

15

teraba

seperti

perabaan

kertas tidak begitu jelas

perkamen, yaitu tanda parchmentisasi


6

Sianosis pada wajah, bibir, telinga, Sianosis pada bagian wajah, bibir,
dan lain-lain sangat jelas terlihat telinga dan lain-lain tergantung dari
terutama

jika

kematian

karena penyebab kematian

asfiksia
7

Wajah

membengkak

mengalami

kongesti

dan

mata Tanda-tanda pada wajah dan mata

dan

agak tidak terdapat, kecuali jika penyebab

menonjol, disertai dengan gambaran kematian

adalah

pencekikan

pembuluh dara vena yang jelas pada (strangulasi) atau sufokasi


bagian kening dan dahi
8

Lidah bisa terjulur atau tidak sama Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
sekali

kematian akibat pencekikan

Penis. Ereksi penis disertai dengan Penis. Ereksi penis dan cairan sperma
keluarnya

cairan

sperma

sering tidak ada.Pengeluaran feses juga tidak

terjadi pada korban pria. Demikian ada


juga sering ditemukan keluarnya
feses

10

Air liur. Ditemukan menetes dari Air liur tidak ditemukan yang menetes
sudut mulut, dengan arah yang pada
vertikal

menuju

merupakan

dada.

pertanda

Hal

kasus

selain

kasus

ini penggantungan.
pasti

penggantungan ante-mortem

16

D. Perbedaan penggantungan pada bunuh diri dan pada pembunuhan 8,10,14


Selain itu juga, terdapat beberapa perbedaan yang jelas antara penggantungan
akibat bunuh diri dan pembunuhan. Hal tersebut adalah :
No

Penggantungan pada bunuh diri

Penggantungan pada pembunuhan

Usia. Gantung diri lebih sering Tidak mengenal batas usia, karena
terjadi pada remaja dan orang tindakan pembunuhan dilakukan oleh
dewasa. Anak-anak di bawah usia 10 musuh atau lawan dari korban dan
tahun atau orang dewasa di atas usia tidak bergantung pada usia
50 tahun jarang melakukan gantung
diri

Tanda

jejas

jeratan,

bentuknya Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran

miring, berupa lingkaran terputus tidak

terputus,

mendatar,

dan

(non-continuous) dan terletak pada letaknya di bagian tengah leher,


bagian atas leher

karena usaha pelaku pembunuhan


untuk membuat simpul tali

Simpul tali, biasanya hanya satu Simpul tali biasanya lebih dari satu
simpul yang letaknya pada bagian pada bagian depan leher dan simpul
samping leher

tali tersebut terikat kuat

Riwayat korban. Biasanya korban Sebelumnya korban tidak mempunyai


mempunyai riwayat untuk mencoba riwayat untuk bunuh diri
bunuh diri dengan cara lain

Cedera.

Luka-luka

pada

tubuh Cedera berupa luka-luka pada tubuh

korban yang bisa menyebabkan korban biasanya mengarah kepada


kematian mendadak tidak ditemukan pembunuhan
pada kasus bunuh diri
6

Racun. Ditemukannya racun dalam Terdapatnya


lambung korban, misalnya arsen, opium

racun

hidrosianat

berupa
atau

asam
kalium

sublimat korosif dan lain-lain tidak sianida tidak sesuai pada kasus
bertentangan dengan kasus gantung pembunuhan, karena untuk hal ini
diri. Rasa nyeri yang disebabkan perlu waktu dan kemauan dari korban
racun tersebut mungkin mendorong itu sendiri. Dengan demikian maka

17

korban untuk melakukan gantung kasus penggantungan tersebut adalah


diri
7

karena bunuh diri

Tangan tidak dalam keadaan terikat, Tangan yang dalam keadaan terikat
karena sulit untuk gantung diri mengarahkan dugaan pada kasus
dalam keadaan tangan terikat

pembunuhan

Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, Pada


mayat

biasanya

kasus

pembunuhan,

mayat

ditemukan ditemukan tergantung pada tempat

tergantung pada tempat yang mudah yang sulit dicapai oleh korban dan
dicapai

oleh

sekitarnya

korban

ditemukan

atau
alat

di alat yang digunakan untuk mencapai


yang tempat tersebut tidak ditemukan

digunakan untuk mencapai tempat


tersebut
9

Tempat

kejadian.

Jika

kejadian Tempat kejadian. Bila sebaliknya

berlangsung di dalam kamar, dimana pada ruangan ditemukan terkunci dari


pintu, jendela ditemukan dalam luar, maka penggantungan adalah
keadaan tertutup dan terkunci dari kasus pembunuhan
dalam,

maka

kasusnya

pasti

merupakan bunuh diri


10

Tanda-tanda

perlawanan,

tidak Tanda-tanda

ditemukan pada kasus gantung diri

perlawanan

hampir

selalu ada kecuali jika korban sedang


tidur, tidak sadar atau masih anakanak.

6.

ASPEK MEDIKOLEGAL PADA KASUS PENGGANTUNGAN


Prosedur mediko-legal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan

berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.


Secara

garis

besar

prosedur

mediko-legal

mengacu

kepada

peraturan

18

perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga


mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.
Ruang lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang berikut 15
a. pengadaan visum et repertum,
b. tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.
c. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan,
d. kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran,
e. tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik ,
f. tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik,
Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958
yang isinya menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia,
maka suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada, sesuai dengan ketentuan Pasal 1 KUHP.6
Penggantungan lebih sering terjadi pada kasus bunuh diri. Tetapi tidak
menolak kemungkinan korban penggantungan mati akibat penganiayaan. Di sini lah
dapat dilihat fungsinya dari satu perundangan yang ditetapkan. Pada buku kedua
KUHP Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa. Berikut merupakan pasal-pasal
yang terkandung dalam Bab XIX KUHP.15
1.

Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam
karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lamalima belas tahun.

2.

Pasal 339
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan
pidana,

yang

dilakukan

dengan

maksud

untuk

mempersiapkan

atau

mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun


peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk
memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum,
19

diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,
paling lama dua puluh tahun.
3.

Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu
merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana,
dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu
tertentu, paling lama dua puluh tahun.

4.

Pasal 345
Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi
bunuh diri.
Pada kasus penggantungan, dokter forensik dipanggil untuk membuat

pemeriksaan lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP yang menyatakan dalam hal
penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Pada pasal 133 KUHAP
(ayat 2 dan 3) menyatakan permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat;
dan mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Pernyataan
ini menjadi dasar pembuatan visum et repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak
pidana.16

20

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada korban mati akibat


penggantungan adalah otopsi. Hal ini dapat membantu dokter forensik untuk
mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu penyidik mengetahui
cara kematian korban. Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang menyatakan barang
siapa

dengan

sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan

pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.16
Pada persidangan kasus pidana, dokter forensik akan dipanggil sebagai saksi
ahli. Sesuai dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang
diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.16

21