Anda di halaman 1dari 21

Berikut ini sdalah fungsi al-Hadits sebagi sumber hukum yang kedua setelah alQuran, diantaranya adalah :

1. Bayan Taqrir
Bayan taqrir adalah posisi al-Hadits sebagai penguat (taqrir) hukum yang telah ditetapkan di
dalam al-Quran. Seperti larangan berdusta, Allah SWT. Berfirman :

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan
dusta (QS Al-Hajj : 30)
Kemudian Rosulullah SAW dalam sabdanya menguatkan ketetapan hukum yang termaktub
dalam firman Allah tersebut. Beliau bersabda :
: :
( ) ,
Dari Abdurrohman Bin Abi Bakroh dari ayahnya ra. Dia berkata : Nabi SAW Bersabda :
maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar? (Rosulullah
mengulanginya sampai tiga kali). Para sahabat menjawab : mau wahai Rosulullah.
Rosulullah SAW bersabda :menyekutukan Allah dan durhaka kepada dua orang tuanya,
saat itu Rosulullah sedang bersandar lalu beliau bersabda : awas, jauhilah perkataan
dusta (HR. al-Bukhori)

2.

Bayan Tafsir
Bayan tafsir adalah posisi al-Hadits sebagai penjelas terhadap ayat al-Quran yang masih
bersifat global. Pada umumnya, fungsi inilah yang banyak dipakai dalam menjelaskan
kandungan ayat al-Quran. Ada tiga macam dalam memberikan penjelasan terhadap alQuran, yaitu sebagai berikut :
a. Tafsir al-Mujmal
Dalam posisinya, yaitu hadits memberi penjelasan secara terperinci pada ayat-ayat alQuran yang masih bersifat global (tafsir al-Mujmal = memperinci yang global), baik
menyengkut masalah ibadah maupun hukum. Jadi, disini al-Hadits berfungsi sebagai
penjelas ulang ayat-ayat al-Quran yang masih bersifat umum. Misalnya perintah sholat
dalam al-Quran yang tanpa disertai petunjuk bagaimana cara untuk mendirikan sholat,
berapa rakaat dalam sehari, kapan harus dilaksanakan, rukun dan syaratnya dan lain
sebagainya. Dalam hal ini, bisa dicontohkan dengan salah satu al-Hadits Nabi, misalnya saja
yang disebutkan dalam sabdanya :


Sholatlah sebagaimana engkau melihat aku sholat (HR. Al-Bukhori)

b.

Takhshihsh al-Amm
Disini al-Hadits berfungsi sebagai mengkhusukan ayat-ayat al-Quran yang umum.
Misalanya saja ayat yang menerangkan tentang waris :

Allah mensyariatkan bagimu tentang (bagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian
seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan (QS. An-Nisa : 11)
Kandungan ayat di atas menjelaskan pembagian harta terhadap para ahli waris, baik anak
lelaki, perempuan dan lain sebagainya. Ayat di atas masih bersifat umum, kemudian
dikhusukan dengan hadits Nabi yang melarang mewarisi harta peningglan para Nabi,
berlainan agama, dan pembunuh. Yaitu sebagaimana dalam sabda-Nya :

Pembunuh tidak dapat mewarisi harta pusaka. (HR. At-Tirmidzi)
c.

Taqyid al-Muthlaq
Yaitu fungsi hadits yang membatasi kemutlakan ayat-ayat al-Quran. Dalam artian
bahwa keterangan yang ada dalam al-Quran yang bersifat mutlak, kemudian ditakhsish
dengan keterangan al-Hadits yang khusus. Misalnya saja yang tercantum dalam firman Allah
dalam surah al-Maidah (5):38

Artinya: laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat di atas menjelaskan tentang hukum kishas, yaitu pemotongan tangan bagi pencuri
tanpa adanya penjelasan yang lebih lanjut batas tangan yang harus dipotong. Kemudian
pembatasan itu baru diketahui dan dijelaskan ketika ada seorang pencuri yang datang ke
hadapan Nabi, kemudian diputuskan hukuman dengan memotong tangan yaitu dipotong
bagian pergelangan tangan.
3.

Bayan Naskhi
Yaitu fungsi al-Hadits untuk menghapus (nasakh) hukum yang diterangkan dalam alQuran. Misalnya kewajiban wasiat yang diterangkan dalam surah al-Baqarah (2): 180

Artinya: diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya
secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.
4.

Bayan Tasyri

Yaitu fungsi hadits sebagai penetapan hukum yang baru yang belum ada dalam alQuran. Contoh tentang larangan memadu istri dengan saudaranya. Firman Allah SWT dalam
surah al-An Nisa ayat 23, dalam ayat tersebut hanya dijelaskan larangan terhadap suami
untuk memadu istrinya dengan saudara perempuan si istri. Sedangkan dalam hadits Nabi
juga dijelaskan yaitu larangan seorang seorang suami memadu istrinya dengan bibinya, baik
dari pihak ibu maupun dari pihak ayah. Sebagaimana dalam sabda Rosulullah :

Seorang wanita tidak boleh dikawini bersamaan (dimadu) dengan bibinya atau bersamaan
dengan putrid saudara perempuan atau putri saudara laki-laki istri (keponakan istri). (HR.
Muslim)
Semua ulama sepakat dan mengakui adanya hubungan bayan sunnah terhadap alQuran. Lebih jelasnya bahwa antara al-Quran dan as-Sunnah tidak dapat dipisahkan antara
satu dengan yang lain. Hal itu dikarenakan keduanya sama-sama wahyu yang datang dari
Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang bertujuan untuk disampaikan kepada
ummatnya. Hanya psoses penyampaian dan periwayatannya yang berbeda.

Oleh karena itu, fungsi hadits Rosul sebagai penjelas (bayan) Al-Quran itu bermacammacam . Berikut pembahasannya satu-persatu
1. Bayan at-Taqrir
Di sebut juga dengan bayan at-takid dan bayan al-itsbat Yang dimaksud dengan bayan ini , ialah
menetapkan dan memperkuat apa yang telah di terangkan di dalam Al-Quran.Fungsi hadits
dalam hal ini hanya memperkokoh isi kandungan Al-Quran.
Suatu contoh hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar, yang berbunyi;

( )
Apabila kalian melihat (ruyah) bulan, mka berpuasalah , juga apabila melihat (ruyah) itu
maka berbukalah . (HR.Muslim)
Hadits ini men taqrir ayat Al-Quran di bawah ini;

Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa...(QS.
AL-Baqarah(2): 185)[16]
2. Bayan al-Tafsir
Adalah kehadiran hadits yang berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayatayat Al-qur-an yang masih bersifat global (mujmal) , memberikan persyaratan /batasan ayat-ayat
Al-quran yang bersifat mutlak , dan mengkhususkan terhadap ayat-ayat Al-quran yang masih
bersifat umum.
Ayat-ayat Al-quran tentang masalah ini masih bersifat mujmal, baik mengenai cara
mengerjakan, syarat-syarat, sebb-sebabnya, atau halangan-halangannya. Oleh karena itu,
Rasululloh SAW, melalui haditsnya menafsirkan dan menjelaskan masalah-masalah
tersebut. berikut contoh haditsnya;
( )
Sholatlah sebagaimana engkau melihat aku sholat . ( HR. Bukhori)
Hadits menjelaskan bagaimana mendirikan sholat . Sebab dalam Al-quran tidak menjelaskan
secara rinci. salah satu ayat yang memerintahkan sholat adalah:
Dan kerjakanlah sholat, tunaikan zakat, dan

rukulah beserta orang-orang yang ruku. ( QS.Al-Baqarah (2): 43)

:Sedangkan contoh hadits yang membatasi ayat-ayat Al-quran yang bersifat mutlak seperti

Rasululloh SAW. di datangi seseorang dengan membawa pencuri , maka beliau


memotong tangan pencuri dari pergelangan tangan
Hadits tersebut men-taqyid/ membatasi QS. Al-Maidah (5) : 38 yang berbunyi:


Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagian)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan siksa dari Alloh........[17]
3. Bayan Tasyri
Yang di maksud dengan bayan tasyri adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran
yang tidak di dapati dalam Al-Quran hanya terdapat pokok-pokoknya saja. Hadits-hadits
Rasululloh yang termasuk dalam kelompok ini di antaranya hadits tentang penetapan haramnya
mengumpulkan dua orang wanita bersaudara , hukum merajam pezina wanita yang masih
perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang anak.[18]

FUNGSI HADITS TERHADAP


AL-QUR`AN
Posted on 26 September 2012 by saifuddin

E. Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`an


Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`an yang paling pokok adalah sebagai bayn,
sebagaimana ditandaskan dalam ayat:

keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan


kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang
telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,. (Qs.16:44)

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul SAW bertugas memberikan penjelasan


tentang kitab Allah. Penjelasan Rasul itulah yang dikategorikan kepada al-hadts.
Umat manusia tidak akan bisa memahami al-Qur`n tanpa melalui al-hadts
tersebut. Al-Qur`n bersifat kullydan am, maka yang juziy dan rinci adalah alhadts.
Imam Ahmad menandaskan bahwa seseorang tidak mungkin bisa memahami alQur`n secara keseluruhan tanpa melalui al-hadts. Imam Al-Syatibi
berpendapat bahwa kita tidak akan bisa mengistinbath atau mengambil
kesimpulan dari hukum al-Qur`n tanpa melalui al-hadts. Dengan demikian
jelaslah bahwa fungsi al-hadts terhadap al-Qur`n itu cukup penting, yaitu
sebagai bayn atau penjelas.
Contoh-contoh di bawah ini memberikan gambaran tentang bagaimana al-hadts
menjelaskan isi al-Qur`n:

1. Al-Qur`n telah menghalalkan makanan yang baik-baik (Qs.5:1), dan


megharamkan yang kotor-kotor (Qs.7:156); tetapi di antara keduanya (di antara

yang baik-baik dan yang kotor-kotor) itu ada terdapat beberapa hal yang tidak
jelas atau syuhbat, yang samar-samar (tidak nyata baik dan tidak nyata
buruknya). Ukuran baik dan buruk pun menurut pandangan manusia akan
berbeda. Oleh sebab itu, Rasul SAW yang menetapkan mana yang baik dan
mana yang buruk itu, dengan istilah halal dan haramnya. Beliau mengharamkan
segala hewan-hewan (binatang-binatang) buas, yang mempunyai taring, dan
burung-burung yang mempunyai kuku yang mencakar dan yang menyambar,
demikian juga beliau mengharamkan keledai jinak (bukan keledai hutan), karena
semua itu termasuk binatang yang kotor-kotor dan yang keji-keji.[1].

2. Al-Qur`n telah menghalalkan segala minuman yang tidak memabukan, dan


mengharamkan segala mi-numan yang memabukkan. Di antara yang tidak
memabukkan dan yang memabukkan ada beberapa macam minuman, yang
sebenarnya tidak memabukkan, tetapi dikuatirkan kalau-kalau memabukkan
juga, seperti tuak dari ubi, tuak kedelai, tuak labu, atau tuak yang ditaruh dalam
bejana yang dicat dengan ter dari dalamnya (Al- Muzaffat), juga yang ditaruh di
dalam batang kayu yang dilobangi (Al- Naqir), dan yang serupa dengan
minuman yang memabukkan dan membawa kebinasaan.[2] Kemudian
Rasulullah SAW kembali menghalalkan segala sesuatu yang tidak memabukan.
[3]

3. Al Quran telah membolehkan daging hewan-hewan yang ditangkap oleh


hewan-hewan pemburu yang sudah diajar dengan patuh dan mengerti. Jelas,
apabila hewan pemburu itu belum terlatih, maka haramlah memakan hewan
dari hasil buruan (yang ditangkapnya), karena dikuatirtkan bahwa hewan yang
ditangkapnya itu buat dirinya sendiri. Kemudian timbul pertanyaan yang
beredar antara dua masalah yaitu: apabila hewan pemburu itu sudah terlatih,
tetapi buruan itu ditangkapnya untuk dirinya sendiri, tidak untuk tuan yang
menyuruh-nya, denga tanda-tanda bahwa buruannya itu telah dimakannya
sendiri sekalipun sedikit, maka bagaimanakah hukumnya?.

Sunnah Rasulullah SAW, menjelaskan bahwa jika buruan itu dimakan oleh anjing
pemburu, maka kaum muslimin dilarang memakannya, karena dikuatirkan
hewan yang ditangkapnya itu untuk dirinya sendiri. [4]

4. Al-Qur`n melarang orang yang sedang ihram mem-buru buruan dengan


muthlaq, artinya tidak me-makai syarat, apabila larangan itu diabaikannya,
maka diwajibkan jaza (balasan) atas orang yang melanggarnya
(membunuhnya). Tetapi larangan memburu itu dikecualikan bagi orang yang
halal, artinya bagi yang tidak mengerjakan ihram. Pengecualian itu dengan
muthlaq juga. Kemudian timbul pertanyaan: Bagaimana hukumnya orang yang
sedang ihram itu memburu dengan tidak disengaja?, Oleh Rasul SAW dijelaskan
bahwa memburu buruan bagi orang yang sedang ihram itu, sama saja,
hukumnya antara yang sengaja dengan yang tidak disengaja, dalam
kewajibannya menunaikan denda atau dam.
Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`n sebagai bayn itu difahami oleh ulama
dengan berbagai pemahaman, antara lain sebagai berikut:
Kelompok pertama berpendirian bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`n itu
adalah sebagai:

a. Bayn Taqrir
Bayn taqrir ialah al-Hadits yang berfungsi menetapkan, memantapkan, dan
mengokohkan apa yang telah ditetapkan al-Qur`n, sehingga maknanya tidak
perlu dipertanyakan lagi. Ayat yang ditaqrir oleh al-Hadits tentu saja yang sudah
jelas maknanya hanya memerlukan penegasan supaya jangan sampai kaum
muslimin salah menyim-pulkan. Contoh: Firman Allah SWT:

Barangsiapa yang menyaksikan bulan ramadlan maka hendaklah


shaum. (Qs.2:185)
Ditegaskan oleh Rasulullah SAW:


*
Shaumlah kalian karena melihat tanda awal bulan ramadlan dan berbukalah
kalian karena melihat tanda awal bulan syawal. Hr. Muslim.[5]
Hadits di atas dikatakan bayn taqrr terhadap ayat al-Qur`n, karena
maknanya sama dengan al-Qur`n, hanya lebih tegas ditinjau dari bahasanya
maupun hukumnya.

b. Bayn Tafsr
Bayn tafsir berarti menjelaskan yang maknanya samar, merinci ayat yang
maknanya global atau mengkhususkan ayat yang maknanya umum. Sunnah
yang berfungsi bayn tafsir tersebut terdiri dari (1) tafshl- al-mujmal, (2) tabyn
al-musytarak, (3) takhshish al-m.
1. tafshl- al-mujmal,
Hadits yang berfungsi tafshl- al-mujmal, ialah yang merinci ayat al-Qur`n yang
maknanya masih global.
Contoh:
a) Tidak kurang enam puluh tujuh ayat al-Qur`n yang langsung memerintah
shalat, tapi tidak dirinci bagaimana operasionalnya, berapa rakaat yang harus
dilakukan, serta apa yang harus dibaca pada setiap gerakan. Rasulullah SAW
dengan sunnahnya memperagakan shalat secara rinci, hingga beliau bersabda:

Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku sedang shalat. Hr. Jamaah[6]

b) Ayat-ayat tentang zakat, shaum, haji pun demikian memerlukan rincian


pelaksanaannya.

Ayat haji umpamanya menandaskan:


Sempurnakanlah ibadah haji dan ibadah umrahmu karena Allah. (Qs.2:196)
Rinciannya ialah pelaksanaan Rasulullah dalam ibadah haji wada dan beliau
bersabda:

.
Ambilah dariku manasik hajimu. Hr. Ahmad, al-Nasa`I, dan al-Bayhaqi.[7]
2. Tabyn al-Musytarak
Tabyn al-Musytarak ialah menjelaskan ayat al-Qur`n yang mengandung kata
bermakna ganda.
Contoh: Firman Allah SWT:




Wanita yang dicerai hendaklah menunggu masa iddah selama tiga quru.
(Qs.2:228)
Perkataan Quru adalah bentuk jama dari Qarin. Dalam bahasa Arab
antara satu suku bangsa dengan yang lain ada perbedaan
pengertian Qarin. Ada yang mengartikan suci ada pula yang mengarti-kan
masa haidl. Mana yang paling tepat perlu ada penjelasan. Rasul SAW bersabda:

Thalaq hamba sahaya ada dua dan iddahnya dua kali haidl. Hr. Abu dawud, alTurmudzi, dan al-Daruquthni.[8]
Dalam ketentuan hukum, hamba sahaya itu berlaku setengah dari orang
merdeka. Jika hadits ini menetap-kan dua kali haidl, maka menurut sebagian
pendapat, perkataan haidlatni itu merupakan penjelas

dari Qar`in yang musytarak, sehingga kesimpulannya bahwa wanita yang


dicerai itu iddahnya tiga kali haidl.

c. Takhshsh al-m
Takhshsh al-m ialah sunnah yang mengkhususkan atau mengecualikan ayat
yang bermakna umum.
Contoh:
1) Firman Allah SWT:


Diharamkan atasmu bangkai, darah dan daging babi. (Qs.5:3)

Dalam ayat ini tidak ada kecuali, semua bangkai dan darah diharamkan untuk
dimakan. Sunnah Rasulullah SAW mentakhshish atau mengecualikan darah dan
bangkai tertentu. Sabda Rasululah saw:


.
Telah dihalalkan kepada kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Yang
dimaksud dua macam bangkai adalah bangkai ikan dan bangkai belalang.
sedangkan yang dimaksud dua macam darah adalah ati dan limpa. (Hadits
Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Bayhaqi.[9]
2) Firman Allah SWT:

Allah mewasiatkan bahwa hak anakmu laki-laki adalah dua kali hak anakmu
yang perempuan. Qs.4:11
Dalam ayat ini tanpa kecuali atau berlaku umum bahwa semua anak mendapat
warisan. Sedangkan keberlakuan hukum tersebut hanya untuk anak yang
agamanya sama muslim. Sunnah Rasul memberikan takhshish atau pengcualian
dengan sabdanya:

Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir dan yang kafir tidak mewarisi
seorang muslim.Hr. al-Bukhari dan Muslim[10]
c. Bayn Tabdl
Bayn Tabdl ialah mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.
Dalam istilah lain dikenal dengan nama nsih wa al- mansh. Banyak ulama
yang berbeda pendapat tentang keberadaan hadits atau sunnah men-tabdil alQur`n. Namun pada dasarnya bukan berbeda dalam menyimpulkan hukum,
melainkan hanya terletak pada penetapan istilahnya saja.
Contoh sunnah yang dianggap Bayn Tabdl oleh pendapat yang mengakuinya
ialah dalam bab zakat pertanian. Dalam ayat al-Qur`n tidak diterangkan
batasan nisab zakat melainkan segala penghasilan wajib dikeluarkan zakatnya.
Sedangkan dalam sunnah Rasul ditandaskan:

Tidak ada kewajiban zakat dari hasil pertanian yang kurang dari lima wasak .Hr.
al-Bukhari dan Muslim[11]

Imam Malik berpendirian bahwa fungsi sunnah terhadap alquran adalah


sebagai (1) bayn taqrir, (2) bayn tawdlh, (3) bayn tafshl, (4) bayn tabsth,
(5) bayn tasyr.
Bayn taqrr telah dijelaskan pada uraian di atas. Bayn taudlh, bayn
tafshl telah tercakup pembahasannya pada bayn tafsr. Yang perlu dijelskan
adalah bayn tabsthdan bayn tasyr.
Sunnah yang berfungsi sebagai bayn tabsith ter-hadap al-Qur`n adalah
sunnah yang menguraikan ayat al-Qur`n yang ringkas yang memerlukan penjelasan secara terurai. Contohnya kisah-kisah dalam al-Qur`n yang ringkas
diuraikan oleh sunnah rasul secara gamblang dan terurai seperti isra miraj.
Imam Syafii berpendirian bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`n itu
adalah sebagai (1) bayn tafshil atau perinci ayat yang mujmal, (2) bayn
takhshish atau pengkhusus yang yang bersifat umum, (3) bayn tayien yaitu
menetapkan makna yang dimaksud dari suatu ayat yang memungkinkan
memiliki beberapa makna seperti menjelaskan yangmusytarak, (4) bayn
tasyri yaitu sunnah yang berfungsi tambahan hukum yang tidak tercantum
dalam al-Qur`n. Contohnya: dalam al-Qur`n telah ditetapkan bahwa yang
haram dimakan itu hanyalah bangkai, darah, daging babi dan yang disembelih
bukan karena Allah (Qs.6:145). Sedangkan dalam beberapa riwayat sunnah
diterangkan bahwa Rasul melarang memakan binatang buas, yang berbelalai,
burung menyambar, dan yang hidup di air dan di darat, (5) bayn nasakh, yaitu
mengganti hukum yang tidak berlaku lagi seperti diuraikan pada bayn tabdil.
Ibnul-Qayim berpendapat bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`n adalah
sebagai (1)bayn takid atau penguat seperti bayn taqrir yang telah dijelaskan
di atas (2) bayn tafsir, (3) bayn tasyri, (4) bayn takhshish, dan (5) bayn
taqyied, yaitu menentukan sesuatu yang dalam ayat bisa bermakna mutlak,
seperti seruan Allah tentang kewajiban shalat secara mutlak berlaku pada siapa
pun. Sedangkan sunnah mentaqyid wanita yang sedang haidl dari yang mutlak
tersebut. Wanita yang haidl tidak diwajibkan shalat dan tidak diwajibkan
mengganti.
Dengan memperhatikan beberapa pendapat di atas, tampaklah betapa
pentingnya sunnah terhadap al-Qur`n, terutama memberikan kemudahan bagi
kaum muslimin untuk memahami isi al-Qur`n. Jika Rasulullah SAW tidak
memberikan penjelasan tentang ayat al-Qur`n, tentu saja akan menimbulkan
berbagai kendala dan kesulitan dalam melaksanakan al-Qur`n. Itulah mungkin

salah satu makna dari fungsi Rasul sebagai rahmat bagi muminin bahkan bagi
alam semesta.
Oleh karena itu, bukan Allah yang membutuhkan Rasul, tapi justru manusialah
yang membutuhkannya. Setiap mumin harus berkeyakinan bahwa Rasulullah
SAW yang paling mengetahui makna al-Qur`n, karena beliaulah yang
menerima langsung dari Allah SWT. Tak sepatutnya seorang mumin menyalahi
apa yang dijelaskan dalam as-Sunnah tentang makna dan maksud ayat alQur`n.
Contoh lainnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

UNGSI HADIS TERHADAP AL - QUR' AN


Al - Quran dan hadis sebagai pedoman hidup, sumber hukum dan ajaran islam, antara satu
dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan. Keduanya merupakan satu - kesatuan, Al - sebagai
sumber utama dan utama banyak memuat ajaran - ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh
karena itu kehadiran hadis, sebagai sumber ajaran kedua untuk tampil menjelaskan
( bayan ) keumuman isi Al - qur'an tersebut.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Artinya :
Dan kami menurunkan kepadamu Al - Qur'an agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang di turunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir.
( Qs. Al - Nahl ( 16 ) : ( 44 ).
Allah SWT menurunkan Al - Qur'an bagi umat manusia, agar Al - qur'an ini dapat di pahami oleh
manusia, Maka rasul Muhammad SAW di perintahkan untuk menjelaskan kandungan dan cara -

cara melaksanakan ajaranya kepada mereka melalui hadis - hadisnya.


Oleh karena itu, fungsi hadis Rasul Muhammad SAW sebagai penjelasan ( bayan ) Al - Qur'an itu
bermacam - macam.
Iman Ahmad bin Hanbal menyebutkan empat fungsi yaitu, bayan at taqrir, bayan Al- tafsir,
bayan Al - tasyri' dan bayan Al- nasakh. Agar masalah ini lebih jelas , maka di bawah ini akan di
uraikan satu persatu.
1. Bayan At- Taqrir
Bayan at - Taqrir di sebut juga sebagai bayan al - ta' kid dan bayan Al - itsbat. yang di maksud
dengan bayan ini, adalah menetapkan dan memperkuat apa yang telah di terangkan dalam Al Qur'an . Fungsi hadis ini hanya memperkokoh isi kandungan Al - Qur'an. Suatu contoh hadis yang
di riwayatkan Muslim dan Ibnu Umar, yang berbunyi sbb :

"Apabila kalian melihat ( ru'yah ) maka perpuasala ,juga apabila melihat ( ru'yah ) itu maka
berbukalah". ( HR. Muslim )
Hadis imi datang mentaqrir ayat Al - Qur,an di bawah ini :

Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendklah ia perpuasa....
( Os. Al- Baqarah ( 2 ) : ( 185 )
2. Bayan al - Tafsir
Memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat - ayat Al - quran yang masih bersifat global
( mujmal ) memberikan persyaratan / batasan ( Taqyid ) ayat - ayat Al - Qur'an yang bersifat
mutlak, dan mengkhususkan ( taksish ) terhadap ayat - ayat Al - Qur'an yang masih mujmal adalah
perintah mengerjakan shalat, zakat, puasa, di syariatkan jual belih, nikah, qhisas, hudud dan
sebagainya. ayat - ayat al -qur'an tentang masalah ini yang bersifat mujmal, baik yang mengenai cara
mengerjakan, sebab - sebabnya, syarat - syaratnya atau halangan - halanganya. Oleh karena itu
rasullulah SAW melalui hadisnya menafsirkan dan menjelaskan masalah - masalah tersebut .
sebagai contoh di bawah ini akan di kemukakan hadis yang berfungsi sebagai bayan al -tafsir.

" Shalatlah sebagai mana engkau melihat aku shalat". ( HR. Bukhari )

Hadis ini menjelaskan sebagai mana mendirikan shalat. sebab dalam al - qur'an tidak
menjelaskan secara rinci. salah satu ayat yang memerintahkan shalat dalah :

"Dan kerjakanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah beserta orang - orang yang ruku".
( Qs. Al - Baqarah ( 2 ) : ( 43 ).
3. Bayan at - Tasyri
Yang di maksud dengan bayan al - tasyri adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran ajaran yang tidak di dapati dalam al - qur'an atau dalam al - qur'an hanya terdapat pokok - pokoknya
( ashl ) saja. Abbas Mutawali juga menyebut bayan ini dengan ;
Za'id'ala al - Karim". Hadis rasullulah SAW dalam segala bentuknya ( baik yang quail,
fi,li maupun taqriri ) Berusaha untuk menunjuk kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang
muncul, yang tidak terdapat dalam Al - Qur'an.
Hadis - hadis rasul SAW yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya hadis yang
menetapkan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara ( antara istri dan bibinya ) , hukum
syf'ah hukum merajam pezina wanita yang masih perawan, hukum tentang hak waris bagi seorang
anak. suatu contoh, hadis tentang zakat fitrah, sebagai berikut :

" Bahwasanya Rasul SAW telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat islam pada bulan ramadan
satu sukat ( sha ) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba laki - laki atau
perempuan Muslim". ( HR. Muslim )
4. Bayan al - Nasakh
Ketiga bayan yang pertama yang telah di uraikan di atas telah di sepakati para ulama meskipun
untuk bayan yang ketiga adalah sedikit perbedaan terutama yang menyangkut devisi ( pengertiannya
) saja.
Untuk bayan yang keempat ini, terjadi perbedaan yang sangat tajam, ada yang mengakui dan
menerima funsi hadis sebagai nasakh terhadap sebagian hukum al - qur'an ada juga yang menolak.
Kata nasakh secara bahasa berarti ibthal
( membatalkan ), izalah ( menghilangkan ) tahwil ( memindahkan ) dan taghyir ( mengubah ).

para ulama memberikan pengertian bayan al - nasakh ini banyak melalui pendekatan bahasa,
sehingga di antara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam menta' rifkanya.
Jadi, intinya ketentuan yang datang kemudian tersebut menghapus ketentuan yang terdahulu,
karena yang terakhir di pandang lebih lu as dan lebih cocok nuansanya.
Ibnu Hazm memandang bahwa nasakh termasuk bagian dari bayan al - quran

" tidak ada wasiat bagi ahli waris "


hadis ini mereka menasakh isi firman Allah SWT :

Di wajibkan atas kamu, apabila di antara kamu kedatangan ( tanda - tanda ) maut, jika ia ia
meninggalkan harta yang banyak berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara maruf ( ini
adalah ) kewajiban orang - orang yang bertakwa. ( Qs. Baqarah ( 2 ) : ( 180 )
Sementara yang menolak nasakh ini adalah imam Syafei dan sebagian pengikutnya, meskipun
nasakh tersebut dengan hadis mutawatir. kelompok lain yang menolak adalah sebagian besar
pengikut madzhap Zhahiriyah dan kelompok Khawarij.

A.

Fungsi Hadits Dalam Ajaran Islam


Mentaati Rasulullah SAW. merupakan suatu kewajiban bagi setiap kaum muslimin. Mereka
diwajibkan menerima sunnah nabi sebagaimana wajibnya menerima Al quran. Hal ini
disebabkan karena Rasulullah mempunyai kedudukan yang sangat penting, yaitu sebagai orang
yang menyampaikan risalah Tuhan dengan dan sekaligus sebagai penjelas terhadap risalah
tersebut baik yang berkaitan dengan hukum maupun yang lainnya.
Al quran dan hadits sebagai sumber hukum dan ajaran dalam islam tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya. Al quran sebagai sumber hukum yang utama dan hanya
memuat dasar-dasar yang bersifat umum bagi syariat islam, tanpa perincian secara detail,

kecuali yang sesuai dengan pokok-pokok yang bersifat umum itu, yang tidak pernah berubah
karena adanya perubahan zaman dan tidak pula berkembang karena keragaman pengetahuan dan
lingkungan. Al quran akan tetap kekal dan kebatilan tidak akan pernah masuk didalamnya. Ia
akan tetap menjadi penuntun bagi kebaikan masyarakat, meski bagaimanapun keadaan ligkungan
dan tradisinya. Di sisi lain, di dalamnya kita juga dapat menemukan ajaran-ajaran baik yang
terkait dengan akidah, ibadah, syariat, adab, sejarah umat terdahulu, etika umum dan akhlak.
Karena keadaan Al quran yang demikian itu, maka hadits sebagai sumber hukum yang kedua
setelah Al quran, tampil sebagai penjelas (bayan) terhadap ayat-ayat Al quran yang bersifat
global, menafsirkan yang masih mubham, menjelaskan yang masih mujmal, membatasi yang
masih mutlak (muqayyad), menghususkan yang umum (amm), dan menjelaskan hukum-hukum
serta tujuan-tujuannya, demikian juga membawa hukum-hukum yang secara eksplisit tidak
dijelaskan oleh Al quran. Hal ini sejalan denga firman Allah :

. Dan Kami turunkan kepadamu Al quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir. (Q.S. al Nahl/16:44).
Atas dari inilah, maka Allah SWT. menjadian ketaatan kepada Rasulullah, sebagai ketaatan
kepada Allah SWT.[2] dan mewajibkan bagi kaum muslimin untuk mengikuti apa yang di
perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW..[3] Karena Rasulullah ketika
menjelaskan ayat-ayat Al quran kepada para umatnya tidak mendasarkan diri pada kehendak
hawa nafsunya, melainkan beliau mengikuti kehendak wahyu yang telah dianugrahkan Allah
kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah :
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku,
dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (Q.S. al
Anam/6:50).[4]
B.

Fungsi-fungsi Hadits dan Contoh-contoh Kasus serta Dalil Pendukungnya


Adapun fungsi hadits sebagai penjelas (bayan) terhadap Al Quran itu bermacam-macam.
1. Bayan Taqrir
Bayan al Taqrir sering disebut juga dengan bayan al Taqid atau bayan al Ishbat, yaitu
apabila sunnah sesuai dengan dan atau menetapkan dan memperkuat apa yang telah di terangkan
dalam Al quran. Artinya, sunnah dalam hal ini lebih berfungsi sebagai pengokoh dan
memperkuat isi kandungan Al quran yang telah ada. Sebagai contoh adalah firman Allah SWT.
Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua
mata kaki. (Q.s Al maidah/5:6)
Ayat diatas menjelaskan bahwa barang siapa yang berhadas kecil kemudian hendak melakukan
sholat, maka janganlah ia sholat sebelum ia membasuh anggota wudlu, yaitu membasuh muka,
tangan, sampai dengan siku, mengusap kepala dan juga membasuh kedua kaki. Hal ini juga
disinyalir dalam sunnah Nabi SAW sebagaimana hadits riwayat Al Bukhari dengan sanadnya
sendiri dari Ibn Munabbih, sebagai berikut :
Tidak ada diterima sholat orang yang berhadas, sehingga ia berwudlu. (HR. Bukhori dari
Abu Hurairoh.)

Hadits diatas sesuai dan sekaligus menguatkan apa yang terdapat dalam ayat-ayat Al quran,
seperti Q.S. Al Baqoroh/2:83, dan 183; Q.S Al Imron/3:97, dan yang senada dengannya.
2. Bayan Al Tafsir
Yang dimaksud dengan bayan al tafsir adalah menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat
yang terdapat dalam Al quran. Tipe ini adalah yang paling umum dan paling banyak jumlahnya.
Diantara bentuk penjelasan sunnah tehadap Al quran itu adalah :
Pertama: Bayan Mujamal, yaitu menjelaskan dan memerinci ayat-ayat Al quran yang masih
belum jelas pengertiannya. Bentuk ini menyajikan kemujmalan dari nash, kemudian
penjelasannya dikemukakan oleh sunnah. sebagaimana beberapa hadits Nabi SAW yang
menjelaskan tentang masalah ibadah dan tata cara pelaksanaanya. Seperti ayat yang menjelaskan
tentang wudlu sebagaimana yang telah disinggung dalam bayan taqrir diatas. Ayat ini juga bisa
dijadikan contoh tipe yang kedua ini. Kemujmalan ayat itu terjadi karena adanya dua arti bagi
kataila dalam firman Allah wa aidiyakum ila al marofiqi dan wa arjulikum ilalkabain. dimana
ila dalam bahasa arab, disamping memiliki arti ghoyah(sampai/mengikuti), juga mempunyai arti
maa (beserta).
Suatu kata yang memiliki dua arti tidak bisa ditarik kepada salah satu artinya, kecuali ada
dalil yang melakukannya bekaitan dengan masalah ini, sunnah mengemukakan dalil yang
menjelaskan maksud Allah tersebut, bahwa yang dimaksud adalah membasuh kedua
tangan beserta sikutnya, dan kedua kakibeserta mata kakinya.
Hal diatas ditunjukan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab
shohihnya dari Abu Hurairoh, bahwa ia membasuh tangan kanannya, kemudian membasuh
lengannya dan kemudian membasuh tangan kirinya, seperti tangan kanannya. Kemudian ia
membasuh kaki kanannya sampai betis, lalu membasuh kaki kirinya seperti kaki kanannya.
Kemudian ia berkata Begitulah saya melihat Rasulullah SAW. berwudlu.
Penjelasan sunnah terhadap ayat-ayat Al quran yang mujmal ini dapat juga dijumpai pada
masalah-masalah yang terkait dengan kewajiban sholat, zakat, puasa, haji, dan juga ibadahibadah lainnya.[5]
Kedua
: Bayan Taqyid yaitu menjelaskan ayat-ayat Al quran yang bersifat mutlak.
Sedangkan contoh hadits yang membatasi (Taqyid) ayat-ayat Al quran yang bersifat mutlak,
antara lain seperti sabda Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW di datangi seseorang dengan membawa pencuri, maka beliau memotong
tangan pencuri dari pergelangan tangan .
Hadits ini men-taqyid Q.S Al Maidah :38 yang berbunyi :



Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan
keduanya (sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai
siksaan dari Allah
Ketiga: Bayan Takhsish yaitu hadits yang menghususkan terhadap ayat-ayat Al
.quran yang masih bersifat umum
Sedangkan contoh hadits yang berfungsi untuk men-takhsish keumuman ayat: ayat Al quran adalah

Kami para Nabi tidak meninggalkan harta warisan

Nabi SAW bersabda : Tidaklah orang muslim mewarisi dari oaring kafir, begitu juga, kafir
tidak mewarisi orang muslim. (H.R. Bukhori)
Kedua hadits diatas men-takhsishkan keumuman ayat :

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembgian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian
anak laki-laki sama dengan bagian anak perempuan. ( An Nisa : 11)
3. Bayan Al Tasyri
Yang dimaksud dengan bayan al tasyri, adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaranajaran yang tidak didapati dalam Al quran, atau dalam Al quran hanya terdapat pokokpokoknya saja. Abbas Mutawalli Hammadah juga menyebutkan bayan ini dengan : Zaid ala al
kitab al karim[6] hadits Rasulullah SAW. dalam segala bentuknya (baik yang qauli, fili, maupun
taqriri) berusaha menunjukan suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang muncul,
yang tidak tedapat dalam Al quran. Ia berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh para sahabat atau yang tidak diketahuinya, dengan menunjukan bimbingan dan menjelaskan
persoalannya.
Hadits Rasulullah yang termasuk dalam kelompok ini, diantaranya hadits tentang
penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara istri dengan bibinya) hukum
shufah, hukum pezina wanita yang masih perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang
anak.[7]

)
(

Bahwasannya Rasulullah SAW. telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat islam kepada bulan
ramadhan satu sukat (sha) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba,
laki-laki atau perempuan muslim. (HR. Muslim).
Hadits Rasulullah SAW. yang termasuk bayan al tasyri ini wajib diamalkan, sebagaimana
kewajiban mengamalkan hadits-hadits yang lainnya. Ibnu Al qoyyim berkata, bahwa haditshadits Rasulullah SAW. yang berupa tambahan terhadap Al Quran merupakan kewajiban atau
aturan yang harus ditaati, tidak boleh menolak atau menyinggung karirnya, dan ini bukanlah
sikap Rasulullah mendahului Al quran melainkan semata-mata karena perintahNya.[8]
4. Bayan Al Nasakh
Ketiga bayan yang pertama yang telah diuraikan diatas disepakati oleh para ulama,
meskipun untuk bayan yang ketiga ada sedikit perbedaan definisinya saja. Untuk bayan jenis
keempat ini terdapat perbedaan yang sangat tajam. Ada yang mengakui dan menerima fungsi
hadits sebagai nasikh terhadap berbagai hukum Al quran dan ada juga yang menolaknya.
Kata nasakh secara
bahasa
berarti ibthal (membatalkan), izalah(menghilangkan), tahwil (memindahkan),
dan taghyir (mengubah). Banyak yang mengatakan bayan al nasakh ini banyak melalui
pendekatan bahasa, sehingga diantara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam
mentarifkannya. Salah satu contoh yang biasa diajukan oleh ulama ialah hadits yang berbunyi :

Tidak ada wasiat bagi ahli waris


Hadits diatas menurut mereka menasakh isi firman Allah STW:

Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika
ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara
maruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqoroh/2:180)
Sementara yang menolak nasakh ini adalah Imam Syafii dan sebagian besar pengikutnya,
meskipun nasakh tersebut dengan hadits yang mutawatir. Kelompok lain yang menolak adalah
sebagian besar pengikut madzhab zahiliyah dan kelompok khawarij.