Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena atas berkat
dan hidayah-Nya, kami Tim Penyusun RPJMDES (Tim 11) Desa
Bojonggedang
telah
dapat
menyelesaikan
penyusunan
Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES) Tahun 2014 2019, yang
merupakan dokumen perencanaan strategis jangka menengah desa 6
tahun ke depan.
Tahap penyusunan RPJMDES Desa Bojonggedang Tahun 2014 2019
berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri No. 66 Tahun
2007) tentang Perencanaan Pembangunan Desa, yakni Musyawarah Dusun
(Musdus), Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Sedangkan
tahapan penetapan Rencana adalah Musyawarah BPD dan Perdes RPJMDES.
Dalam rangka pelaksanaan Permendagri No. 66 Tahun 2007 tentang
Perencanaan Pembangunan Desa yang memuat petunjuk teknis tentang
penyelenggaraan Musrenbang untuk menyusun RPJMDES 5 Tahunan dan
RKPDES 1 Tahunan.
Latar belakang penysusnan RPJMDES Tahun 2014 2019 ini merupakan
acuan bagi penentuan arah kebijakan Pemerintah Desa dalam
melaksanakan tugas dan kewajiban dalam rangka pelaksanaan kegiatan
untuk mewujudkan Visi Desa Bojonggedang:
MEMBANGUN JALAN MENUJU BOJONGGEDANG HIJAU
(HIJAU = HIDUP PENUH INISIATIF MENUJU KESEJAHTERAAN
YANG BERKUALITAS)
Kami menyadari bahwa RPJMDES Tahun 2014 2019 ini masih jauh dari
sempurna, banyak kekurangan, sehingga perlu perbaikan di beberapa
bagian di tahun-tahun mendatang. Namun demikian semoga RPJMDES ini
dapat dijadikan acuan pada saat implementasinya.
Dengan selesainya RPJMDES ini, penyusun tidak lupa mengucapkan
terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Semoga Allah SWT
memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua.
Bojonggedang, Februari 2014.
Kepala Desa Bojonggedang

ENA RUSYANA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 72
Tahun 2005 tentang desa. Pemerintah Desa wajib menyusun Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES) untuk kurun 5 (lima)
tahun, dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP-Des) untuk kurun
perencanaan 1 (satu) tahun.
Dalam upaya standardisasi maka diterbitkanlah Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 66 Tahun 2007, tentang Perencanaan Pembangunan Desa,
yang ditujukan untuk memberikan pedoman bagi pemerintahan desa dalam
menyusun RPJMDES dan RKP-Des.
RPJMDES ini merupakan penjabaran Visi, Misi dan Program Kepala Desa
terpilih hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) secara langsung ke dalam
strategi pembangunan desa, kebijakan umum, program prioritas kepala
desa dan arah kebijakan keuangan desa.
Dalam upaya mewujudkan visi dan misi Kepala Desa tersebut, maka
diperlukan langkah-langkah strategis dan sistematis guna tercapainya
sasaran dan tujuan yang telah menjadi komitmen dan kesepakatan dari
semua
komponen
masyarakat
untuk
mengantisipasi
kebutuhan
pembangunan desa, khususnya dalam jangka waktu 5 tahun, sehingga
penyusunannya harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan
seluruh unsur masyarakat desa.
Dengan penyusunan RPJMDES ini, diharapkan kinerja aparatur
Pemerintahan Desa dapat terukur sesuai dengan sasaran yang telah
ditetapkan, dimana RPJMDES akan digunakan sebagai rujukan dalam
penyususnan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP-Des), APBDes,
penyusunan LKPJ (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban) Kepala Desa,
dan tolak ukur kinerja Kepala Desa. Oleh karena itu RPJMDES ini akan
memuat arah kebijakan, program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di
Desa Bojonggedang, di mana program-program yang diusulkan diharapkan
dapat dibiayai oleh APBDes Bojonggedang dan sumber-sumber dana
lainnya yang dapat diperoleh.
Secara umum kondisi Desa Bojonggedang memiliki potensi yang sangat
strategis dalam jalur mobilisasi dan sumber alam yang cukup potensial,
sehingga diperlukan upaya yang signifikan dari pemerintah maupun
stakeholders lainnya untuk membangun Desa Bojonggedang menjadi lebih

baik, dengan kepemimpinan Kepala Desa dan komitmen yang kuat dari
seluruh lapisan masyarakat.
Dokumen RPJMDES ini selain dapat menjadi pedoman penyusunan RKP-Des
dan penyusunan RAB-Des juga merupakan dasar penilaian kinerja Kepala
Desa terpilih dalam melaksanakan pemerintahan desa, pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat selama masa jabatannya, dan menjadi tolok
ukur keberhasilan kepala desa dalam laporan pertanggungjawaban kepala
desa yang diserahkan kepada BPD Bojonggedang.
Rencana Pembangunan Desa ini disusun untuk menjamin keterkaitan dan
konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan
pengawasan.

1.2. Landasan Hukum


Landasan hukum penyusunan RPJMDES Desa Bojonggedang tahun 2014
2019, antara lain:
1) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421).
2) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4437); sebagimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3
Tahun 2005, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah
Daerah menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4548).
3) Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembar Negara Republik
Indonesia Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4438).
4) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagau Daerah Otonom.
5) Peraturan Pemerintah
Perimbangan.

Nomor

104

Tahun

2000

tentang

Dana

6) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah.
7) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4587).
8) Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4593).
9) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembar Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4664).
10) Permendagri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Penyerahan Urusan
Pemerintah Daerah ke Desa.
11) Permendagri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Administrasi
Desa.
12)

Permendagri Nomor 04 Tahun 2007 tentang Kekayaan Desa.

1.3. Pengertian
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES) Desa
Bojonggedang Tahun 2014-2019 adalah dokumen perencanaan desa untuk
periode 5 tahun, ditetapkan dengan maksud memberikan arah kebijakan
keuangan desa, strategi pembangunan desa, kebijakan umum, program
pembangunan desa serta sasaran-sasaran strategis yang ingin dicapai
selama 5 tahun ke depan.
Dengan demikian RPJMDES Desa Bojonggedang menjadi landasan bagi
semua dokumen perencanaan, baik rencana pembangunan tahunan
pemerintah desa maupun dokumen perencanaan lainnya.
Dalam kaitan dengan sistem Perencanaan Pembangunan sebagaimana
yang telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 dan
Undang-undangNomor 32 Tahun 2004, serta Permendagri Nomor 66 Tahun
2007, maka keberadaan RPJMDES Desa Bojonggedang Tahun 2014-2019
merupakan satu bagian utuh dan merupakan kerangka acuan mewujudkan

kinerja pemerintahan desa, khususnya dalam menjalankan agenda


pembangunan sesuai dengan rencana pembangunan yang telah dan atau
ditetapkan serta keberadaannya akan dijadikan pedoman seluruh lembaga
dan masyarakat yang ada di desa untuk menyusun RKPDes, dll.
Langkah selanjutnya RPJMDES Desa Bojonggedang yang ditetapkan dalam
periode 5 tahunan akan dijabarkan kembali ke dalam bentuk Rencana Kerja
Pembangunan Desa (RKPDes) yang selanjutnya hal tersebut akan dijadikan
pedoman bagi setiap pemangku kepentingan di lingkungan Pemerintah
Desa Bojonggedang.
Dalam kaitannya dengan Sistem Keuangan Negara sebagaimana yang telah
diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003, maka
penjabaran RPJMDES Desa Bojonggedang untuk setiap tahunnya akan
dijadikan pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa (RAPBDes) Desa Bojonggedang.

1.4. Maksud dan Tujuan


RPJMDES mempunyai maksud dan tujuan yang sangat penting, menentukan
tingkat keberhasilan, sasaran pembangunan dalam prioritas-prioritas
tertentu yang menjadi program Kepala Desa.
1.4.1.

Maksud

Maksud penyusunan RPJMDES ini adalah tersedianya dokumen RPJMDES


Desa Bojonggedang, yang isinya memuat:
1) Penjabaran Visi, Misi dan Program Kerja Kepala Desa.
2) Pedoman Penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan Desa yang
tertuang dalam RKPDes.
3) Pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan pembangunan dalam
penyelenggaraan pemerintah Desa.
1.4.2.

Tujuan

Tujuan penyusunan RPJMDESa adalah:


1) Mewujudkan perencanaan pembangunan desa
kebutuhan masyarakat dan keadaan setempat.

sesuai

dengan

2) Menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap


pembangunan desa.
3) Memelihara dan mengembangkan hasil-hasil pembangunan di desa.
4) Menumbuhkembangkan dan mendorong peran serta masyarakat dalam
pembangunan di desa.

1.5. Proses Penyusunan


Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES)
disusun berdasarkan pendekatan sebagai berikut:
1) Pemberdayaan, yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan dan
kemandirian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
2) Partisipatif, yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara
aktif dalam proses pembangunan.
3) Berpihak pada masyarakat, yaitu seluruh proses pembangunan di desa
secara serius memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi
masyarakat khususnya masyarakat miskin.
4) Terbuka; yaitu setiap proses perencanaan pembangunan dapat dilihat
dan diketahui secara langsung oleh seluruh masyarakat desa.
5) Akuntabel; yaitu setiap proses dan tahapan-tahapan kegiatan
pembangunan dapat dipertanggungjawabkan dengan benar, baik pada
pemerintah di desa maupun di masyarakat.
6) Selektif; yaitu semua masalah terseleksi dengan baik untuk mencapai
hasil yang optimal.
7) Efisien dan efektif; yaitu pelaksanaan perencanaan kegiatan sesuai
dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
tersedia.
8) Berkelanjutan; yaitu setiap proses dan tahapan kegiatan harus berjalan
secara berkelanjutan.
9) Cermat; yaitu data yang diperoleh cukup objektif, teliti, dapat
dipercaya dan menampung aspirasi masyarakat.

10) Proses berulang; yaitu pengkajian terhadap suatu masalah/hal


dilakukan secara berulang sehingga mendapatkan hasil yang terbaik.
11) Penggalian informasi; yaitu di dalam menemukan masalah dilakukan
penggalian informasi, yaitu melalui alat kaji keadaan desa dengan
sumber informasi dari peserta musyawarah perencanaan dalam
Musrenbang Desa.

1.5.1.

Tahapan Penyusunan RPJMDES

Tahapan Penyusunan RPJMDES melalui:


A. Tahap Perencanaan

Musyawarah Dusun (Musdus)


Musrenbangdes

B. Tahap Penetapan Rencana

Musyawarah dengan BPD


Pengesahan Perdes RPJMDES.

1.6. Sistematika Penyusunan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa
Bojonggedang ini disusun dengan sistematika sbb:
BAB I

(RPJMDES)

Desa

PENDAHULUAN

Pada bagian ini memuat latar belakang, maksud dan tujuan, landasan hukum,
proses penyusunan dan sistematika penyusunan.

BAB II

PROFIL DESA

Bagian ini memuat data dan informasi mengenai kondisi desa, sejarah desa,
demografi, keadaan sosial, keadaan ekonomi, kondisi pemerintahan desa,
pembagian wilayah desa, dan struktur pemerintahan desa, selama kurun
waktu 5 tahun yang akan dijadikan dasar dalam pembuatan RPJMDES Desa
Bojonggedang tahun 2014-2019.
BAB III

POTENSI DAN MASALAH

Berisikan berbagai potensi yang dimiliki oleh Desa Bojonggedang, serta


permasalahan yang ada pada situasi dan kondisi saat ini, yang diharapkan
pada 5 tahun ayang akan datang sesuai dengan yang sesungguhnya.

BAB IV

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA (RPJMDES)

Memuat Visi dan Misi Desa Bojonggedang untuk 5 Tahun yang akan datang,
kebijakan pembangunan, menjelaskan arah dan kebijakan pembangunan
desa, potensi dan masalah desa, program pembangunan desa, serta strategi
pencapaiannya.

BAB V

PENUTUP

LAMPIRAN-LAMPIRAN

***

BAB II
PROFIL DESA

2.1. Kondisi Desa


Kondisi Desa Bojonggedang terbentuk dalam proses yang panjang sejak
jaman Kolonial Belanda dahulu, jaman perang kemerdekaan, serta jaman
kemerdekaan sekarang, sehingga terbentuk sebuah komunitas dengan
karakter sosial, budaya, dan ekonomi yang membumi dalam wilayah yang
sekarang secara administratif disebut Desa Bojonggedang.

2.1.1. Sejarah Desa Bojonggedang


Desa Bojonggedang merupakan Desa pemekaran dari Desa Cisontrol.
Pemekaran itu sendiri terjadi di tahun 1982. Yang menjadi wilayah Desa
Bojonggedang adalah 2 Dusun, yakni Dusun Cikuda dan Dusun
Bojonggedang. Ke-2 Dusun ini setelah terbentuk Desa Bojonggedang
dimekarkan menjadi 8 Dusun.
Tokoh-tokoh yang tercatat sebagai pelopor pemekaran Desa Bojonggedang
adalah H. Sumirdja (Rurah Bojonggedang), Madsuhni (Rurah Cikuda), Dodo
Wasdiwijaya (Cikuda Stap Desa Cisontrol), Ijo Sutedjo (Tokoh
Masyarakat)dan Suparto (Tokoh Masyarakat).
Setelah terbentuk Desa Bojonggedang, Plh Kepala Desa Bojonggedang
pertama adalah H. Santawa, Sekretaris Desa Dodo Wasdiwijaya. Kantor
Desa Bojonggedang pertama kali di bale Dusun Kadujungkung, di Ciborok,

kemudian pindah ke tempat yang sekarang menjadi Kantor Kepala Desa


Bojonggedang.

2.1.1.1. Pemekaran Dusun


Pemekaran Dusun yang tadinya 2 Dusun menjadi 8 Dusun sendiri tercatat
sebagai berikut:

Dusun Cikuda dimekarkan menjadi 3 Dusun, yaitu:

1. Dusun Sindanghayu (Kemudian berubah menjadi Dusun Cikuda) dengan


Kepala Dusun pertamanya Dawidi.
2. Dusun Sidamulya dengan Kepala Dusun Pertamanya Suharna.

3. Dusun Panyemprongan dengan Kepala Dusun pertamanya Ahmad.

Dusun Bojonggedang dimekarkan menjadi menjadi 5 Dusun,


yaitu:

1. Dusun Desa dengan Kepala Dusun pertamanya Sukarna.


2. Dusun Pangbuangirang dengan Kepala Dusun pertamanya Sutarya.
3. Dusun Kadujungkung dengan Kepala Dusun pertamanya
4. Dusun Bojonggedang dengan Kepala Dusun pertamanya
5. Dusun Mulyasari dengan Kepala Dusun pertamanya

2.1.1.2. Pemilihan Kepala Desa


Pemilihan Kepala Desa pertama di Desa Bojonggedang sampai dengan
tahun 2014 ini telah melaksanakan sebanyak 5 kali, yaitu:
1. Tahun 1983 dengan 2 orang calon Kepala Desa yaitu Surya S. dan
Suparto dimenangkan oleh Surya S. Tercatat, Surya S menjadi Kepala
Desa pertama Desa Bojonggedang hasil pemilihan.
2. Delapan tahun kemudian, tepatnya tahun 1989, untuk kedua kalinya
Desa Bojonggedang melakukan Pilkades dengan calon tunggal, yakni

Surya S. Dan untuk kedua kalinya Surya S terpilih menjadi Kepala Desa
Bojonggedang.
3. Tahun 2000 merupakan Pilkades ketiga dengan calon tunggal, yaitu H.
Taryo S. Dan Taryo S terpilih sebagai Kepala Desa yang ketiga.
4. Tahun 2006 Pilkades keempat dengan calon tunggal kembali, H.Taryo S
dan kembali terpilih menjadi Kepala Desa Bojonggedang keempat.
5. Tahun 2013 Pilkades kelima dengan calon Ena Rusyana dan Oman
Hendarman. Terpilih Ena Rusyana sebagai Kepala Desa Bojonggedang
kelima dengan masa jabatan dari tahun 2014 2019.
2.1.1.3. Pergantian Sekretaris Desa
Sekretaris Desa pertama Desa Bojonggedang adalah Dodo Wasdiwijaya
yang bertugas sampai dengan tahun 2005. Dodo Wasdiwijaya digantikan
oleh Yoyo Sutaryo yang awalnya Kasi Pemerintahan. Dengan adanya
Undang-undang tentang Sekdes PNS, tahun 2007, Yoyo Sutaryo diangkat
menjadi Sekdes yang berstatus PNS.
Tahun 2010 Yoyo Sutaryo dimutasi ke Kantor Kecamatan Rancah.
Sementara itu, untuk melaksanakan tugas-tugas Sekretaris Desa
Bojonggedang dilaksanakan oleh Kamaludin sebagai Pelaksana Harian (Plh)
sampai dengan saat ini.
Dengan adanya Undang-undang Desa yang baru, terbuka kemungkinan
Pemerintah Desa untuk mengangkat Sekretaris Desa sendiri, tidak harus
dari PNS. Hal ini tentunya merupakan angin segar dimana sebenarnya
Sekdes PNS banyak menimbulkan konflik dengan Kepala Desa karena
perbedaan status kepegawaian. Di satu sisi Sekdes adalah bawahan Kepala
Desa, tapi di sisi lain Sekdes PNS tidak berafiliasi dengan kepala Desa
karena status PNS-nya. Dengan UU Desa yang baru hal itu bisa dihindari.

2.2. Sasakala Desa


Di Jaman Kolonial Belanda sebenarnya telah berdiri sebuah desa yang
bernama Desa Cikuda, yang termasuk ke dalam wilayah Kedemangan
Rancah. Konon, Pusat Desanya berada di sekitar blok Astana Dusun
Sidamulya sekarang. Tanah bekas Bale Desanya sekarang menjadi Tanah
Hak Milik Dusun Sidamulya.
Yang termasuk wilayah Desa Cikuda adalah Kampung Cikuda sendiri dan
Kampung Bojonggedang. Dulu sebelum dipecah menjadi 8 Dusun, Kampung
Bojonggedang termasuk luas. Kuwu (Kepala Desa) Cikuda yang terkenal

adalah Kuwu Buyut Sawati. Makamnya sekarang ada di pemakaman Cibogo


Dusun Cikuda, dan dianggap keramat oleh warga sekitar.
Konon kabarnya menurut cerita orang tua di Cikuda, Kuwu Sawati ini
terkenal karena memiliki kesaktian. Mampu membuka hutan ratusan are
dalam satu hari hanya seorang diri. Atau juga diceritakan beliau mampu
menundukan harimau hanya dengan tatapan matanya.
Selain disenggani oleh warganya, Kuwu Sawati juga disegani oleh
Pemerintah Kolonial Belanda. Apalagi dulu di sekitar Desa Cikuda ada
perkebunan milik orang Belanda. Kini perkebunan itu masih ada di wilayah
Tambaksari yang berbatasan dengan Dusun Sidamulya.
Nama Cikuda sendiri berasal dari banyaknya kuda milik para pembesar
perkebunan di sekitar daerah ini. Konon ada satu sungai yang sering
dijadikan untuk tempat minum kuda-kuda itu karena airnya yang sangat
jernih. Lahirlah lambat laun nama Cikuda. Ci artinya air. Kuda artinya hewan
Kuda. Secara harpiah diartinya air tempat minum kuda. Sungai tempat
minum kuda itu sekarang bernama sungai Cibuyut, ada di Dusun Sidamulya
sekaligus sebagai batas Desa Bojonggedang.
Nama Bojonggedang yang sekarang dipakai sebagai nama desa, berasal
dari dua kata; bojong dan gedang. Bojong atau bobojong artinya tempat.
Gedang artinya pepaya. Dulu, tanaman pepaya belum sebanyak seperti
sekarang ini. Masih langka. Di daerah ini konon hanya di bojong yang
adanya gedang (pepaya). Lambat laun tempat itu disebut Bojonggedang.
Yang berarti Tempat yang ada tumbuh pepaya (gedang).
Desa Cikuda yang mencakup dua wilayah yang dipisahkan sungai Ciliung,
pada jaman kemerdekaan, setelah Kuwu Sawati meninggal, akhirnya
disatukan dengan Desa Cisontrol. Berakhirlah riwayat Desa Cikuda. Namun
demikian, secara historis orang-orang Cikuda dan Bojonggedang selalu
mendambakan mereka bisa mempunyai desa tersendiri, terpisah dari
Cisontrol.
Di tahun 1986, keinginan itu terwujud. Kampung Cikuda dan Bojonggedang
berpisah dari Desa Cisontrol, membentuk desa sendiri yang sekarang
bernama Desa Bojonggedang. Saat itu Kepala Desa Cisontrol-nya adalah
Eba Wiradinata, seorang Kepala Desa yang terkenal dan menjabat
beberapa kali.

2.3. Pembagian Wilayah dan Kepala Dusun

Seperti yang telah disinggung di atas, Desa Bojonggedang terdiri dari 8


Dusun, hasil pemekaran dari 2 Dusun ketika Desa Bojonggedang didirikan.
3 Dusun terletak di sebelah timur, dipisahkan oleh sungai Ciliung. 8 Dusun
terletak di sebelah timur. Pembagian wilayah Dusun di Desa Bojonggedang,
sebagai berikut:
1. Dusun Desa
Luas wilayah:

Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

2. Dusun Pangbuangirang
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

3. Dusun Kadujungkung
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

4. Dusun Bojonggedang
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

5. Dusun Mulyasari
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

6. Dusun Cikuda
Luas wilayah

Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

7. Dusun Sidamulya,
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

8. Dusun Panyemprongan
Luas wilayah
Ha. (Darat :

Ha, Sawah:

Ha)

Peran Kepala Dusun tidak bisa dipisahkan dari sejarah Desa Bojonggedang.
Sebab, mereka sebagai pemegang kepala kewilayahan dalam lingkup desa,
sangat
menentukan
maju
mundurnya
pembangunan
di
Desa
Bojonggedang.
Kepala Dusun selama perjalanan lebih dari 30 tahun Desa Bojonggedang,
datang dan pergi silih berganti. Di bawah ini tercatat para Kepala Dusun
yang pernah dan sedang menjabat di dusunnya masing-masing:
1.

Dusun Desa

: 1
.
2
.
3
.

Narwa Sukarna
Hadi
Nedi Hernandi (2009 sekarang)

2.

3.

4.

5.

6.

Dusun Pangbuangirang

Dusun Kadujungkung

Dusun Bojonggedang

Dusun Mulyasari

Dusun Cikuda

: 1
.
2
.
3
.

Sutarya

: 1
.
2
.
3
.
4
.

Sudarno

: 1
.
2
.
3
.
4
.
5
.
6
.

Parno

: 1
.
2
.
3
.
4
.

Wikarja

: 1
.
2
.
3
.
4
.
5
.

Dawidi

Wastapraja
Sartam Hendrajaya (2003 sekarang)

Sumarya
Momon
Nandar Sukmara (2009 sekarang)

Udi
Yoyo Sutaryo
Karto
Oman Hendarman (2005 2012)
Wasim (2012 sekarang)

Adang Sujani
Rantiwa
Wawan Sumargono, SP. (2011 - 2014)

Sanwapi
Darjo
Opon
Warso Adi Permana (2012 sekarang)

7.

8.

Dusun Sidamulya

Dusun Panyemprongan

: 1
.
2
.
3
.
4
.

Suharna

: 1
.
2
.
3
.

Ahmad

Raswa
Ena Rusyana (2010 2013)
Juju Julaeha (2013 sekarang)

Enceng Ranta
Suhandi

2.4. Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW)


Di Desa Bojonggedang terdapat 16 Rukun Warga (RW) dan 40 Rukun
Tetangga (RT) sebagai berikut:
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Dusun
Dusun
Dusun
Dusun
Dusun
Dusun
Dusun
Dusun

Dusun
Desa
Pangbuangirang
Kadujungkung
Bojonggedang
Mulyasari
Cikuda
Sidamulya
Panyemprongan

JUMLAH

RW
RW
RW
RW
RW
RW
RW
RW

RW
01, RW
03, RW
05, RW
07, RW
09, RW
11, RW
13, RW
15, RW

02
04
06
08
10
12
14
16

16 RW

RT
5 RT
5 RT
4 RT
4 RT
5 RT
5 RT
6 RT
6 RT
40 RT

2.5. Visi Misi


Visi Misi Desa Bojonggedang tergantung pada Kepala Desa yang sedang
memerintah karena hal tersebut merupakan dasar dari Kepala Desa
tersebut menggarap pembangunan selama pemerintahannya.
Tercatat Visi Misi Desa Bojonggedang yang pernah dibuat:
1. Dengan Iman dan Takwa Desa Bojonggedang Terdepan Dalam Budidaya
Kakao dan Agribisnis di Wilayah Kecamatan Rancah Tahun 2009. (Visi
Misi Kepala Desa H. Taryo S.)
2. Dengan Iman dan Takwa Desa Bojonggedang Menjadi Desa Mandiri
Pangan Tahun 2014. (Visi Misi Kepala Desa H. Taryo S.)

3. Membangun Jalan Menuju Bojonggedang Hijau. (Hijau : Hidup Penuh


Inovasi Untuk Menjangkau Kesejahteraan yang Berkualitas). (Visi Misi
Kepala Desa Ena Rusyana).
Demikian sekelumit sejarah Desa Bojonggedang. Kami menyadari, di
beberapa bagian hanya mengandalkan cerita dari mulut ke mulut, agak
susah ditelusuri secara historis yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun
demikian, pendekatan historis terhadap lahirnya Desa Bojonggedang ini,
sedikit tidaknya membuka identitas desa yang bisa menimbulkan rasa
bangga dan cinta pada desa ini, yang dari hari ke hari terus bebenah
menjangkau kemajuan.

2.6. Keadaan Ekonomi


Keadaan ekonomi di Desa Bojonggedang pada umumnya dapat
digambarkan dari mayoritas mata pencaharian masyarakat, yaitu sebagai
petani. Sebanyak 70 persen masyarakat Desa Bojonggedang hidup dari
bertani. Sisanya sebagai PNS (3 persen), buruh (10 persen), pengusaha (4
persen), tukang (5 persen) dan sisanya lain-lain (1 persen).
Dari data tersebut bisa dilihat pula bahwa masyarakat mayoritasnya
termasuk golongan ekonomi rendah yang rentan daya belinya. Apalagi
profesi penduduk sebagai petani mengandalkan budidaya padi dengan pola
tradisional sehingga produksinya tidak maksimal. Sebagai topangan hidup
lainnya masyarakat mengandalkan hasil kebun seperti pisang, kapol, pala,
kelapa, kayu albasiah, karet, dll.
Sementara kalangan pengusaha yang menonjol adalah yang bidang
usahanya bergerak di bidang kayu (penggergajian dan bandar) sehingga
bisa menyerap tenaga kerja meskipun jumlahnya tidak banyak. Usaha kecil
seperti warung, bengkel, konfeksi, warung makan, hanya ditekuni oleh
sebagian kecil masyarakat, itu pun tidak terlalu menonjol.
Namun demikian geliat ekonomi masyarakat mulai terlihat bergerak ke arah
yang lebih maju. Banyak kalangan petani yang mulai memanpaatkan
lahannya
untuk
budidaya
holtikultura
secara
intensif sehingga
mendatangkan penghasilan yang cukup lumayan. Di samping budidaya
kayu albasiah yang memang sudah sejak lama dilakoni oleh masyarakat
dan bisa membantu menopang ekonomi masyarakat.
Perkembangan ekonomi di masyarakat saat ini juga didukung oleh
kemudahan mendapatkan modal dari bank, melalui BPR, BKPD, BRI, Bank

Jabar, juga Bank Mandiri Syariah yang telah memunyai kantor cabang di
kota Kecamatan Rancah. Hal ini tentu sangat positif mana kala masyarakat
menggunakannya untuk usaha-usaha produktif, bisa memperkuat usaha
yang telah ada, juga bisa membuka usaha-usaha baru di masyarakat.
Khusus program PNPM yang menyasar pada pembangunan pisik dan
pemberdayaan perempuan, sangat membantu meringankan beban desa
dalam menjalankan pembangunan infrastruktur jalan yang diharapkan
mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi masyarakat. Di bidang
pemberdayaan perempuan dengan bantuan modal bagi kelompok yang di
dalamnya terdapat Rumah Tangga Mampu (RTM) melalui program Simpan
Pinjam Kelompok Perempuan (SPP), yang diharapkan bisa meningkatkan
produktifitas kalangan perempuan dan mengurangi kemiskinan RTM.

2.7. Keadaan Sosial


Keadaan sosial masyarakat Desa Bojonggedang sebenarnya sedang
mengalami sebuah transisisi dari keadaan tradisional ke arah yang lebih
maju. Meskipun yang berlatar tradisi belum hilang sepenuhnya, namun
pergerakan sosial masyarakat menjadi masyarakat yang berubah jelas
sangat terlihat.
Ciri-ciri Masyarakat Bojonggedang merupakan masyarakat transisi:
1
.

Adanya pergeseran dalam bidang pertanian (sebagai mata pencaharian


mayoritas penduduk) yang mulai market oriented. Penerapan teknologi
pertanian juga sudah lama berjalan.

2
.

Adanya pergeseran pada tingkat pendidikan. Di mana sebelumnya


tingkat pendidikan rendah, tetapi menjadi sekarang mempunyai tingkat
pendidikan yang meningkat.

3
.

Mengalami perubahan ke arah kemajuan.

4
.

Masyarakat sudah mulai terbuka dengan perubahan dan kemajuan


jaman.

5
.

Tingkat mobilitas masyarakat tinggi. Hampir 60 persen masyarakat


mempunyai kendaraan terutama motor, menyebabkan mobilitas
masyarakat dalam kehidupannya begitu tinggi

6
.

Memiliki akses jalan raya menuju pusat-pusat ekonomi dan


pemerintahan. Bojonggedang dilewati oleh jalan raya menuju rancah
dan banjar yang telah dihotmix.

BAB III
POTENSI DAN MASALAH

3.1. Potensi
Potensi, sebagai mana kita tahu, adalah sumber daya yang bisa kita
kembangkan sebagai modal dasar untuk pembangunan. Potensi yang
tersebar di Desa Bojonggedang merupakan aset yang tak ternilai harganya,
karena bisa menjadi kekuatan yang sangat menentukan bila mana digali
dengan benar dan terarah untuk tujuan atau target-target pembangunan.
Potensi di Desa Bojonggedang tentu saja merupakan hal yang dinamis,
namun perlu arah dalam penggaliannya. Potensi desa seharusnya
merupakan sebuah sumber daya penggerak, dan bukannya sebagai beban
bagi pemerintah desa. Untuk itu diperlukan pemetaan dan identifikasi
potensi yang ada supaya dapat ditentukan langkah atau tindakan Yang
tepat, terukur, dan terarah dalam menggali potensi-potensi yang ada
tersebut.
3.1.1.

Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)

Penduduk Desa Bojonggedang merupakan potensi Sumberdaya manusia


sebagai subyek pembangunan, di mana setiap aspek yang terdapat di
dalamnya adalah garapan yang harus dimaksimalkan agar menjadi
sumberdaya penggerak pembangunan. Sumberdaya Manusia ini meliputi
jumlah penduduk, pendidikan, profesi, dll.
3.1.1.1.

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk sebenarnya selalu dinamis, berubah-ubah setiap bulan,


tahun, bahkan hari, dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan kepindahan
serta kedatangan. Pada saat RPJMDES ini ditulis, jumlah penduduk Desa
Bojonggedang orang. Dengan rincian sbb:
Jumlah
Penduduk

Laki-laki

3.678
*) Data per-tanggal 15 Februari 2014.

Perempuan

Keterangan

Sumberdaya manusia sendiri dari segi produktifitas bisa dibagi menjadi


3, yakni:

1. Sumberdaya manusia belum produktif (usia 0 17): 25 persen dari


penduduk Desa Bojonggedang.
2. Sumberdaya manusia produktif (usia 18 50): 60 persen dari penduduk
Desa Bojonggedang.
3. Sumberdaya manusia sudah tidak produktif (lansia, 50 thn ke atas): 15
persen dari penduduk Desa Bojonggedang.

3.2. Masalah
Masalah adalah perbedaan antara yang seharusnya dengan yang
ssesungguhnya sehingga menimbulkan kondisi yang tidak ideal. Setelah
dilakukan kajian melalui pengumpulan data, identifikasi serta verifikasi ke
wilayah Desa Bojonggedang, sketsa desa, kalender musim dan diagram
kelembagaan, masalah yang ada di desa Bojonggedang ternyata sangat
komplek.
Berikut daptar masalah yang ada di Desa Bojonggedang:
3.2.1.

Bidang Pendidikan

3.2.1.1.
3.2.1.2.
3.2.1.3.
3.2.1.4.
3.2.1.5.
3.2.1.6.
3.2.1.7.
3.2.1.8.
3.2.1.9.
3.2.1.1
0.
3.2.1.1
1.

Madrasah Al-Muslih Dusun Desa kekurangan sarana belajar.


SDN 3 Bojonggedang kekurangan lahan sehingga kesulitan
memperluas sarana pendidikan.
Honor tenaga pengajar Madrasah Al-Muslih Dusun Desa kurang
dari UMR
Bangunan Madrasah Al-Ikhlas Dusun Pangbuangirang perlu
perbaikan.
Honor tenaga pengajar Madrasah Al-Ikhlas Dusun Pangbuangirang
kurang dari UMR.
Bangunan Madrasah Toriqul Huda Dusun Kadujungkung perlu
perbaikan dan penambahan sarana belajar.
Honor tenaga pengajar Madrasah Toriqul Huda Dusun
Kadujungkung kurang dari UMR.
Madrasah Diniyah Al-Falah Dusun Mulyasari perlu penambahan
sarana belajar.
Honor tenaga pengajar Al-Falah Dusun Mulyasari kurang dari UMR.
Madrasah Torikul Huda Dusun Bojonggedang perlu penambahan
sarana belajar.
Honor tenaga pengajar Madrasah Torikul Huda Dusun
Bojonggedang kurang dari UMR.

3.2.1.1
2.
3.2.1.1
3.
3.2.1.1
4.
3.2.1.1
5.
3.2.1.1
6
3.2.1.1
7
3.2.1.1
8
3.2.1.1
9
3.2.2.

Madrasah Nurul Patonah Dusun Cikuda kekurangan sarana belajar.


Madrasah Nurul Yaqin II kekurangan sarana belajar.
Honor tenaga pengajar Madrasah Nurul Yaqin II kurang dari UMR.
SDN 1 Bojonggedang kekurangan sarana meubeler
SDN 1 Bojonggedang belum memiliki ruang perpustakaan dan
perlu penambahan buku bacaan
SDN 2 Bojonggedang belum memiliki mesjid/mushola
SDN 3 Bojonggedang belum memiliki mushola.

Bidang Kesehatan

3.2.2.1
.
3.2.2.2
.
3.2.2.3
.
3.2.2.4
.
3.2.2.5
.
3.2.2.6
.
3.2.3.

Bangunan Madrasah Nurul Patonah Dusun Cikuda perlu perbaikan.

Bangunan Pos Yandu di 7 Dusun masih menumpang di Bale Dusun


masing-masing.
Masih terdapat rumah tidak layak huni.
Masyarakat kesulitan air bersih di musim kemarau.
Masih sekitar 25 persen rumah yang tidak memiliki MCK.
Desa belum memiliki Ambulan Desa.
Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan sanitasi
lingkungan masih kurang.

Bidang Infrastruktur Jalan dan Irigasi

DUSUN DESA
3.2.3.1
.

Jalan Tembong Raja sepanjang 1.500 m rusak perlu diperbaiki dan


kirmir jalan perlu dilengkapi dengan gravel

3.2.3.2
.
3.2.3.

Jalan Cisorok sepanjang 1.700 meter perlu peningkatan kualitas


jalan.
Jalan Cipetir sepanjang 1.000 meter perlu peningkatan kualitas
jalan.
Jalan Ciparigi sepanjang 300 meter perlu peningkatan kualitas
jalan.
Saluran irigasi Jonggol dan Cikujang perlu peningkatan kualitas.
Jalan Kiyai Achmad Ngabei sepanjang 1.300 meter rusak perlu
perbaikan/peningkatan.

3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

DUSUN PANGBUANGIRANG
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

Jalan K. Suratman perlu peningkatan kualitas jalan.


Jalan Suharna sepanjang 1.500 m perlu peningkatan kualitas jalan.
Jalan Pasir Sereh perlu peningkatan kualitas jalan.
Jalan Astawi perlu TPT dan peningkatan kualitas jalan.
Irigasi blok Cisela perlu peningkatan.
Irigasi blok Cipinang perlu peningkatan.
Krib irigasi blok Cisela sepanjang 700 m sering longsor.

DUSUN SIDAMULYA
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

Jalan
Banuwangsa
sepanjang
2.000
m
rusak
perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalan Beber sepanjang 400 m rusak perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan
Banuraga
sepanjang
1.500
m
rusak
perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalan Astana perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan
Cikamalayan
sepanjang
1.000
m
perlu
perbaikan/peningkatan.
Irigasi Beber perlu perbaikan dan peningkatan.
Jalan Cikadongdong-Cibuyut sempit perlu pelebaran.
Irigasi Leuwi buleud perlu peningkatan.
Saluran irigasi Cipeundeuy perlu perbaikan

DUSUN CIKUDA
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

Jalan
Sawati
sepanjang
1.000
meter
rusak
perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalan Cibeurih rusak parah perlu TPT, kirmir, dan peningkatan
jalan.
Jalan Campalung rusak perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan Ciparigi sepanjang 1.000 m perlu perbaikan/peningkatan.
Lapang Ciparigi perlu perluasan dan penambahan sarana.
Jalan Leuwi Lisung rusak perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan baru ke Mulyasari perlu peningkatan.
Jembatan gantung leuwi lisung rusak/hilang perlu pembangunan
baru.
Irigasi Kalungguhan mengalami pendangkalan perlu perbaikan dan
peningkatan.

DUSUN MULYASARI
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

Jalan Antawi rusak perlu perbaikan dan peningkatan.


Jalan baru Ciketug perlu peningkatan jalan.
Jalan ke Ciborok perlu perbaikan dan peningkatan.
Irigasi Kalungguhan perlu peningkatan.

DUSUN KADUJUNGKUNG

3.2.3.

3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

Jalan Coborok Mulyasari sepanjang 150 m rusak perlu perbaikan


dan peningkatan jalan, jembatan perlu perbaikan, kirmir jalan pelu
peningkatan.
Jalan
ke
Lebak
Kadu
sepanjang
700
m
perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalan ke Pasagi 300 m perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan Panglayungan sepanjang 1.500 m rusak perlu perbaikan dan
peningkatan, kirmir perlu peningkatan.
Irigasi Ciraja sepanjang 1.000 m kurang memadai perlu perbaikan
dan peningkatan.
Irigasi pabrik sepanjang 1.000 m kurang memadai perlu perbaikan
dan peningkatan.

DUSUN BOJONGGEDANG
3.2.3.
3.2.3.

Jalan
Cibinuang
sepanjang
1.000
perbaikan/peningkatan jalan.
Jalan
Cipeuteuy
seanjang
1.000
m
perbaikan/peningkatan

m
rusak

rusak
dan

perlu
perlu

DUSUN PANYEMPRONGAN
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.
3.2.3.

3.2.4.

Jalan Makam Tulang sepanjang 2.000 m rusak parah perlu


perbaikan/peningkatan.
Jalan ke Bangong rusak perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan Cilimus sepanjang 800 m rusak perlu perbaikan/peningkatan.
Jalan
ke
obyek
wisata
lokal
Cigawir
rusak
perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalan Banuwangsa sepanjang 900 m rusak parah perlu
perbaikan/peningkatan.
Jalur
Angdes
sepanjang
1.400
m
rusak
parah
perlu
perbaikan/peningkatan.

Bidang Lingkungan Hidup

3.2.4.1.
3.2.4.2.
3.2.4.3.
3.2.4.4.
3.2.4.5.
3.2.4.6.
3.2.4.7.
3.2.4.8.
3.2.4.9.

DAS (Daerah Aliran Sungai) Ciliung tidak terpelihara karena


kurang kesadaran masyarakat tentang pentingnya DAS.
Masih banyak yang melakukan penyetruman ikan dan peracunan
ikan di sungai.
Berkurangnya sumber mata air.
Semakin tidak seimbangnya ekosistem karena banyak yang
memburu burung dan kakarangge, ular, katak, dll, secara liar.
Sering terjadi longsor di beberapa titik karena rusaknya
pepohonan penyangga tanah.
Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah anorganik.
Penggunaan pestisida yang berlebihan.
Kurangnya bidang resapan air hujan yang memadai.
Semakin berkurangnya pepohonan yang dikenal sebagai sumber
mata air.

3.2.4.1
0.
3.2.5.

Bidang Sosial Budaya

3.2.5.
1.
3.2.5.
2.
3.2.5.
3.
3.2.5.
4.
3.2.6.

Di beberapa Dusun semangat gotong royong semakin berkurang.


Tidak ada grup kesenian baik modern atau pun tradisional yang
berkembang dan menjadi ikon Desa Bojonggedang.
Situs Budaya Gunung Sorandil belum memiliki pasilitas yang
lengkap.
Sistem kekerabatan mulai memudar.

Bidang Koperasi dan UKM

3.2.6.1
.
3.2.6.2
.
3.2.6.3
.
3.2.6.4
.
3.2.6.5
.
3.2.6.6
.
3.2.7.

Koperasi Raksa Banda kurang berkembang.


Bidang Agrobisnis Perikanan, Pertanian, dan Peternakan kurang
berkembang.
Permodalan pelaku UKM yang minim.
Management UKM yang sederhana.
Pembinaaan terhadap pelaku UKM hampir tidak ada.
Belum memiliki BUMDES.

Bidang Pemuda dan Olah Raga

3.2.7.1
.
3.2.7.2
.
3.2.7.3
.
3.2.7.4
.
3.2.7.5
.
3.2.7.6
.
3.2.8.

Semakin homogennya tanaman kebun rakyat.

Belum memiliki Gedung Olah Raga (GOR).


Karang Taruna tidak berjalan.
Lapangan Ciparigi tidak memadai.
Lapangan Ciborok kurang memadai.
Organisasi Olah Raga tingkat Desa tidak aktip.
Pembinaan olah raga hampir tidak ada.

Bidang Pemerintahan dan Kelembagaan

3.2.8.1.
3.2.8.2.

Kantor Desa perlu perbaikan dan penambahan ruangan.


Bale Desa belum representatif.

3.2.8.3.
3.2.8.4.
3.2.8.5.
3.2.8.6.
3.2.8.7.
3.2.8.8.
3.2.8.9.
3.2.8.1
0.
3.2.8.1
1.
3.2.8.1
2.
3.2.8.1
3.
3.2.8.1
4.
3.2.8.1
5.
3.2.9.

Belum memiliki in focus.


Laptop dan printer masih kurang.
Belum semua perangkat Desa dapat mengoperasikan komputer.
Bangunan balai Dusun Kadujungkung perlu paerbaikan.
Bangunan balai Dusun Bojonggedang perlu perbaikan dan
peningkatan.
Bangunan balai Dusun Cikuda perlu perbaikan dan peningkatan.
Banguan balai Dusun Sidamulya perlu perbaikan.
Dusun Panyemprongan tidak mempunyai balai dusun.
Desa tidak memiliki sound system yang memadai.
Meubeler kantor dan bale desa masih kurang.
Tidak memiliki generator.
Belum memiliki jaringan internet wifi.
Desa perlu dimekarkan

Bidang Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Perikanan

3.2.9.1
.
3.2.9.2
.
3.2.9.3
.
3.2.9.4
.
3.2.9.5
.
3.2.9.6
.
3.2.9.7
.
3.2.9.8

Eksistensi kelompok tani hanya aktif ketika ada bantuan dari


pemerintahan sehingga tidak menjadi inovator terhadap kemajuan
pertanian.
Pertanian organik tidak berkembang.
Petani tidak mempunyai daya tawar dalam menjual hasil
pertanian.
Pola pertanian padi yang susah diubah sehingga sulit untuk
ditingkatkan produktifitasnya.
Kelompok tadi yang ada belum memiliki alsintan yang lengkap.
Usaha peternakan masih tradisional dan tidak berkembang.
Usaha perikanan masih tradisional dan tidak berkembang.
Kelompok Tani belum mempunyai AD/ART

3.2.10. Bidang Pariwisata


3.2.10.
1.
3.2.10.
2.
3.2.10.

Obyek wisata Cigawir tidak memiliki sarana dan prasarana yang


lengkap.
Situs Budaya Sorandil tidak dikembangkan ke arah pariwisata.
Grup Kesenian Rengkong Dusun Kadujungkung tidak berkembang.

3.
3.2.10.
4.

Grup Kesenian Pitaloka perlu pembinaan dan pengembangan.

***

BAB IV
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJMDES)
TAHUN 2014 - 2019

Tahapan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa


(RPJMDES) Bojonggedang diawali dengan penjaringan masalah yang
dilakukan oleh Tim 11 dari tingkat RT, RW, dan Dusun. Dari kegiatan ini
dihasilkan data dari tingkat komunitas, selanjutnya Tim 11 mengadakan
musyawarah dan penyusunan Rancangan RPJMDES.
Beberapa isu yang sangat menonjol terkait pembangunan di Desa
Bojonggedang adalah:
1)
.

Kondisi infrastruktur jalan sepanjang 80 persen dari total 58 km jalan


lingkungan Desa Bojonggedang dalam keadaan rusak dan perlu
perbaikan serta peningkatan jalan dengan cara rabat beton.

2)
.

Kemampuhan keuangan Desa yang memerlukan Kas Cadangan.

3)
.

Keperluan dana pembangunan yang sangat besar perlu dicarikan solusi


yang tidak memberatkan masyarakat.

Isu-isu tersebut merupakan masalah yang sangat dirasakan oleh segenap


masyarakat dan Pemerintah Desa Bojonggedang. Maka, RPJMDES ini
bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut tanpa harus
terlalu membebani masyarakat. Meski dirasakan berat namun harus
ditempuh dengan penuh keyakinan sebagai tantangan yang akan menguji
seberapa besar kemampuhan Pemerintah Desa memenuhi harapan
masyarakat mewujudkan kondisi Desa Bojonggedang yang lebih baik.

4.1. Visi dan Misi


Visi dan Misi Desa sangat tergantung pada program yang hendak dijalankan
oleh Kepala Desa dengan mempertimbangkan kondisi yang paling
diperlukan melalui program-program prioritas yang ditetapkan bersama
BPD dan LPMD. Visi dan Misi menjadi gagasan awal yang berpijak pada
keperluan pembangunan yang paling harus menjadi prioritas utama.

4.1.1. Visi
Berdasarkan kondisi saat ini dan tatangan yang dihadapi dalam kurun 5
tahun ke depan serta dengan mempertimbangkan modal dasar yang
dimiliki, maka Visi Pembangunan Desa Bojonggedang Tahun 2014 2014
adalah:

MEMBANGUN JALAN MENUJU BOJONGGEDANG HIJAU


(HIJAU : HIDUP PENUH INOVASI UNTUK MENJANGKAU
KESEJAHTERAAN YANG BERKUALITAS)

Artinya: Pembangunan jalan yang dimaksud di dalam Visi tersebut terbagi


dua, yaitu:
1)
.

Pembangunan Jalan sebagai sebuah infrastruktur yang sangat


mempengaruhi terhadap aspek-aspek ekonomi, budaya, sosial,
pendidikan, kesehatan, keagamaan, dll. Bila infrastruktur jalan
kondisinya baik, maka baik pula perkembangan ekonomi, budaya,
sosial, pendidikan, keagaamaan, kesehatan,dll, di Desa Bojonggedang.
Mobilitas masyarakat dalam kegiatan ekonomi, budaya, sosial dan
keagamaan akan lancar bila ditunjang dengan ifrastruktur yang baik.
Sebaliknya, bila kondisi jalannya rusak, maka perkembangan ekonomi,
budaya, sosial, pendidikan,keagamaannya, kesehatan,dll, juga akan
tersendat.
Itulah mengapa pembangunan infrastruktur jalan menjadi prioritas
pembangunan Desa Bojonggedang dalam waktu 5 tahun ke depan.
Pembangunan Jalan di Desa Bojonggedang yang sekarang 70 persen
kondisinya rusak, akan diusahakan selesai dalam kurun waktu tersebut
tadi. Insya Allah, bila kondisi jalan di Desa Bojonggedang sudah baik,
desa ini akan bergerak ke arah kemajuan yang terasa oleh segenap
lapisan masyarakat.

2)
.

Pembangunan jalan sebagai sebuah cara, teknik, atau politik untuk


mendorong atau merekayasa terciptanya situasi dimana masalahmasalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, keagamaan,
dll, ditemukan solusinya untuk pengembangan ke arah yang lebih ideal
seperti yang diharapkan.

Secara khusus Visi itu dimaksudkan bahwa Pemerintah Desa akan


membangun berbagai sarana untuk mewujudkan masyarakat yang selalu
berinovasi agar bisa berusaha menjangkau kehidupan sejahtera dengan
berkualitas. Barometer berkualitas di sini adalah pisik dan psikis, kehidupan
dunia dan juga untuk bekal akhirat. Segala perkembangan akan diarahkan
tidak hanya baik untuk kehidupan di dunia, tapi juga baik untuk kehidupan
di akherat kelak. Dunia dan akhirat sesuatu yang tidak dipisahkan. Segala
hasil pembangunan yang dicapai dimaksudkan agar masyarakat semakin
dekat dengan Sang pencipta. Semakin makmur, semakin sejahtera,
seharusnya semakin bersyukur dan beriman, bukan sebaliknya.
4.1.2. Misi

Misi adalah strategi berupa program-program yang dimaksudkan untuk


mencapai terwujudnya Visi yang telah ditentukan di atas. Misi yang
diemban dijabarkan sebagai berikut:
1)
.

Membangun Infrastruktur Jalan yang Berkualitas.

Misi ini diwujudkan dalam program PRIORITAS UTAMA dengan


memperbaiki dan meningkatkan kualitas jalan di lingkungan Desa
Bojonggedang. Yang termasuk Prioritas Utama ini adalah:

Perbaikan dan peningkatan Jalan Poros Desa I (Dusun Mulyasari,


Dusun Desa, dan Dusun Pangbuangirang) sepanjang 4.000 m
dengan rabat beton.
Perbaikan dan Peningkatan Jalan Poros Desa II (Dusun
Panyemprongan, Dusun Sidamulya dan Dusun Desa) sepanjang
3.500 m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan Jalan Cikuda Sukahurip sepanjang


1.000 meter dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan Jalan Cibeurih Dusun Cikuda sepanjang


800 m dengan rabat beton, TPT, dan kirmir yang memadai.

Perbaikan dan peningkatan jalan Ciborok Dusun Kadujungkung


sepanjang 1.000 m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Cisorok Dusun Desa sepanjang


1.300 m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Cipetir Dusun Desa sepanjang 900


m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Ciparigi Dusun Cikuda sepanjang


1.300 m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Ciparigi Dusun Desa sepanjang 300


m dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Ciborok Dusun Desa sepanjang


900 m dengan rabat beton.

Perbaikan jalan Tembong Raja Dusun Desa sepanjang 1.300 m.

Perbaikan dan peningkatan jalan Astana Tegal sepanjang 800 m


dengan rabat beton.

Perbaikan dan peningkatan jalan Lebak


sepanjang 800 m dengan rabat beton.

Kadu

Kadujungkung

2)
.

Meningkatkan pengembangan sektor Usaha Kecil di bidang


indutri kecil, kerajinan, perdagangan, pertukangan, pertanian,
peternakan, perkebunan dan perikanan serta potensi lainnya
yang didasari oleh kreatifitas dan keuletan sehingga terlahir
pelaku-pelaku usaha baru serta meningkatknya peran serta
perempuan dalam sektor ekonomi.
Misi ini dijabarkan dalam program-program yang menyasar dunia
usaha kecil yang sudah ada maupun mendorong lahirnya usaha kecil
baru di masyarakat. Beberapa program prioritas di bidang ini adalah:

3)
.

Membantu kelancaran administrasi yang menyangkut pinjaman


permodalan dari perbankan.

Mengadakan pelatihan-pelatihan keterampilan yang diperlukan oleh


masyarakat.

Mendorong kelompok tani untuk aktip dan mandiri, mempunyai


peranan penting dalam usaha pertanian, peternakan, perikanan dan
perkebunan, tidak semata-mata tergantung pada bantuan dari
pemerintah saja.

Mendirikan BUMDes yang kuat sehingga menjadi sebuah lembaga


yang bisa memberikan contoh, motivator, dan membantu usaha
kecil di masyarakat, serta memberikan kesejahteraan bagi
perangkat desa dan masyarakat pada umumnya.

Memajukan pertanian organik.

Memajukan peternakan menjadi sebuah usaha intensif, tidak hanya


sebagai sampingan.

Memajukan perikanan menjadi sebuah usaha intensif, tidak hanya


sebagai usaha sampingan.

Mendorong kegiatan PKK sebagai wadah yang bisa menciptakan


kegiatan yang produktif.

Menciptakan kualitas hidup masyarakat yang agamis, sehat,


rukun, aman dan damai serta memiliki motivasi untuk
memajukan dan mencintai daerah (Desa Bojonggedang).
Misi ke-tiga ini dijabarkan dalam program-program yang menyangkut

bidang kehidupan beragama, kesehatan, kerukunan sosial dan


keamanan di wilayah Desa Bojonggedang. Yang menjadi prioritas dari
program-program ini adalah:

4)
.

Terus mengadakan pengajian sentral setiap hari Jumat paing serta


menata pelaksanaannya secara transfaran, komunikatif dan
bermanpaat meningkatkan kesadaran juga ketaatan beragama,
sebagai kegiatan penyebaran informasi pemerintah desa.

Mendukung pengajian keliling yang dipelopori oleh IPHI Desa


Bojonggedang dan mendorong organisasi IPHI menjabarkan
perannya secara keagamaan dan juga sosial.

Peringatan hari-hari besar agama Islam yang dilaksanakan di


lingkungan kantor Desa Bojonggedang sebagai kegiatan yang
bermanpaat
dan
sebagai
wadah
peningkatan
silaturahmi
pemerintah desa dan masyarakat.

Membenahi MUI menjadi organisasi yang aktif dan mandiri.

Memiliki ambulan desa.

Memiliki bank data tentang bidang kesehatan yang lengkap.

Membangun sarana air bersih di beberapa titik yang rawan air


bersih di musim kemarau

Peningkatan sarana Pos Yandu dan pelayanannya dan peningkatan


pengetahuan dan keterampilan kader Pos Yandu.

Mengaktipkan secara maksimal peranan Linmas dan memberikan


penghargaan kepada Linmas.

Penataan sarana keamanan masyarakat dan sistem keamanan


lingkungan yang aktif dan kontinou.

Meningkatkan kehidupan demokrasi yang sehat dan dewasa.

Misi yang menyangkut kehidupan demokrasi dimaksudkan agar


masyarakat berperan aktif dalam membuat kebijakan terhadap aspekaspek yang menyangkut pembangunan. Detil programnya adalah:

Penataan sistem / aturan-aturan musyawarah di masyarakat


sehingga
bisa
menghasilkan
sebuah
kesepakatan
yang
mengakomodasi berbagai aspirasi yang berbeda menjadi sebuah
motivasi kebersamaan dalam pembangunan.

5)
.

Menyosialisasikan secara jelas Perdes, Perda, dan Undang-undang


sehingga masyarakat benar-benar memahami dalam satu tafsiran.

Mengurangi golput dan mendorong aktif masyarakat terlibat dalam


pemilihan Kepala Desa, Bupati, Gubernur, Anggota Legislatif dan
Presiden.

Menghasilkan
peraturan-peraturan
desa
yang
benar-benar
mengubah segala aspek kehidupan pemerintahan desa dan
masyarakat melalui musyawarah yang sesuai aturan.

Menggali dan membina potensi olah raga dan kepemudaan.

Misi ini ditujukan kepada kalangan pemuda yang diharapkan bisa


membentuk kepribadian kalangan pemuda yang mempunyai jiwa
kompetensi, kreatifitas dan tanggung jawab moral dan agama.
Penjabaran misi ini melalui program:

Menghidupkan dan membenahi organisasi Karang Taruna Dusun.

Menghidupkan dan membenahi organisasi Karang Taruna Desa.

Mendorong dan mempasilitasi terbentuknya organisasi-organisasi


yang berdasarkan kesamaan hoby/minat di kalangan pemuda.

Mengadakan kegiatan-kegiatan yang membina kepribadian pemuda.

Meningkatkan dan melengkapi sarana olah raga yang memadai.

Mendirikan organisasi olah raga di tingkat desa

6)
.

Mengembangkan pariwisata lokal, seni dan budaya daerah.

7)
.

Menata dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan


dengan dasar kearifan lokal.

8.

Meningkatkan tata kelola dan sarana pemerintahan desa yang


berkualitas dan mengangkat nama Desa Bojonggedang sebagai
desa yang berprestasi di tingkat Kabupaten, Provinsi maupun
Nasional.
Misi ke-delapan ini menargetkan garapan-garapan seputar kinerja
Pemerintah Desa Bojonggedang yang menjadi motor penggerak utama
dalam pembangunan desa. Diharapkan dengan misi ini kinerja
Pemerintah Desa Bojonggedang diharapkan terus berinovasi
meningkatkan pelayanan agar prioritas pembangunan dapat

terlaksana dengan tepat sasaran.

Rehab bale desa menjadi ruang serba guna.

Memperluas dan
refresentatif.

Mendorong lembaga-lembaga yang ada di desa untuk aktif dan


mandiri sehingga membantu kelancaran tugas pemerintah desa.

Membuat website
informasi.

Prodeskel yang selalu update.

Membangun jaringan internet (wifi) desa.

membuat

Desa

kantor

yang

selalu

desa

lebih

update

yang

sebagai

lebih

sarana