Anda di halaman 1dari 13

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pengertian
Stakeholder dapat diartikan sebagai segenap pihak yang terkait dengan isu dan
permasalahan yang sedang diangkat. Misalnya bilamana isu perikanan, maka stakeholder
dalam hal ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan isu perikanan, seperti nelayan,
masyarakat pesisir, pemilik kapal, anak buah kapal, pedagang ikan, pengolah ikan,
pembudidaya ikan, pemerintah, pihak swasta di bidang perikanan, dan sebagainya.
Stakeholder dalam hal ini dapat juga dinamakan pemangku kepentingan.
Pengertian stakeholder Istilah stakeholder sudah sangat populer. Kata ini telah dipakai
oleh banyak pihak dan hubungannnya dengan berbagi ilmu atau konteks, misalnya
manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi, dan lain-lain.
Lembaga-lembaga publik telah menggunakan istilah stakeholder ini secara luas ke dalam
proses-proses pengambilan dan implementasi keputusan. Secara sederhana, stakeholder
sering dinyatakan sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan
suatu issu atau suatu rencana. Dalam buku Cultivating Peace, Ramizes mengidentifikasi
berbagai pendapat mengenai stakekholder ini. Beberapa defenisi yang penting dikemukakan
seperti Freeman (1984) yang mendefenisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu
yang dapat memengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.
Sedangkan Biset (1998) secara singkat mendefenisikan stekeholder merupakan orang dengan
suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan. Stakeholder ini sering diidentifikasi
dengan suatu dasar tertentu sebagimana dikemukakan Freeman (1984), yaitu dari segi
kekuatan dan kepentingan relatif stakeholder terhadap issu, Grimble and Wellard (1996), dari
segi posisi penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.
Pandangan-pandangan di atas menunjukkan bahwa pengenalan stakeholder tidak
sekedar menjawab pertanyaan siapa stekholder suatu issu tapi juga sifat hubungan
stakeholder dengan issu, sikap, pandangan, dan pengaruh stakeholder itu. Aspek-aspek ini
sangat penting dianalisis untuk mengenal stakeholder.
1.2 Kategori Stakeholder
Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issu
stakeholder dapat diketegorikan kedalam beberapa kelompok ODA (1995) mengelompkkan
stakeholder kedalam yaitu stakeholder primer, sekunder dan stakeholder kunci . Sebagai
1

gambaran pengelompokan tersebut pada berbagai kebijakan, program, dan proyek pemerintah
(publik) dapat kemukakan kelompok stakeholder seperti berikut :
Stakeholder Utama (primer)
Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung
dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai penentu
utama dalam proses pengambilan keputusan.
1. Masyarakat dan tokoh masyarakat : Masyarakat yang terkait dengan proyek, yakni
masyarakat yang di identifkasi akan memperoleh manfaat dan yang akan terkena dampak
(kehilangan tanah dan kemungkinan kehilangan mata pencaharian) dari proyek ini. Tokoh
masyarakat : Anggota masyarakat yang oleh masyarakat ditokohkan di wilayah itu
sekaligus dianggap dapat mewakili aspirasi masyarakat
2. Pihak Manajer publik : lembaga/badan publik yang bertanggung jawab dalam pengambilan
dan implementasi suatu keputusan.
Stakeholder Pendukung (sekunder)
Stakeholder pendukung (sekunder) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan
kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki
kepedulian (consern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh
terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah.
1. lembaga(Aparat) pemerintah dalam suatu wilayah tetapi tidak memiliki tanggung jawab
langsung.
2. lembaga pemerintah yang terkait dengan issu tetapi tidak memiliki kewenangan secara
langsung dalam pengambilan keputusan.
3. Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) setempat : LSM yang bergerak di bidang yang
bersesuai dengan rencana, manfaat, dampak yang muncul yang memiliki concern
(termasuk organisasi massa yang terkait).
4. Perguruan Tinggi: Kelompok akademisi ini memiliki pengaruh penting dalam pengambilan
keputusan pemerintah.
5. Pengusaha(Badan usaha) yang terkait.

Stakeholder Kunci
Stakeholder kunci merupakan stakeholder yang memiliki kewenangan secara legal
dalam hal pengambilan keputusan. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif
sesuai levelnya, legisltif, dan instansi. Misalnya, stekholder kunci untuk suatu keputusan
untuk suatu proyek level daerah kabupaten.
1. Pemerintah Kabupaten
2. DPR Kabupaten
3.Dinas yang membawahi langsung proyek yang bersangkutan
1.3 Analisa Stekholder
Analisa stake holder hendaknya dilakukan sedini mungkin pada awal program untuk
mengidentifikasikan berbagai kelompok yang tertarik, berkait dan berminat dengan issue
tertentu seperti kesehatan reproduksi, lingkungan dll.
Identifikasi pandangan dan karakteristik dari setiap stake holder ini sangat penting,
yang merupakan dasar untuk pelaksanaan tahap berikutnya dalam prakarsa advokasi.
Identifikasi yang spesifik ini dapat menghasilkan suatu propil stakeholder.
Semakin spesifik informasi pada setiap stakeholder, maka semakin mudah untuk
memastikan ketetapan informasi, pesan, dan investasi yang akan dilakukan.
Dalam advokasi sesuatu program dapat dibagi dalam empat katagori yaitu
- Penerima advokasi
- Mitra
- Pembuat keputusan
- Musuh atau lawan
Penerima advokasi (beneficiaries) Atau stakeholder primer
Adalah individu atau kelompok yang memperoleh manfaat secara langsung dari hasil
suatu kegiatan advokasi. Jika dimobilisasi secara tepat maka penerima advokasi merupakan
pendukung yang paling terpercaya dan meyakinkan. Namun sayang memobilisasi penerima
advokasi ini susah dilaksanakan bahkan tidak mungkin
Mitra dan sekutu atau stakeholder sekunder
Adalah individu, kelompok maupun organisasi yang mempunyai pandangan atau
posisi yang sama dan siap bergabung didalam suatu koalisi untuk mendukung isue tertentu.
3

Membangun kemitraan adalah penting, untuk itu perlu dilakukan identifikasi dan
kontribusinya dalam usaha advokasi. Mitra perlu keyakinan dan dorongan terus menerus.
Untuk mempererat kemitraan perlu adanya tujuan yang jelas, Pembagian indformasi dan
pengalaman belajar, komunikasi yang terbuka dan jujur, serta adanya pertemuan rutin.
Membuat keputusan atau stakeholder kunci
Adalah mereka yang berkepentingan dengan kekuasaan atau otoritas untuk bertindak
mempengaruhi perubahan atau kebijakan yang diharapkan.
Yang termasuk di dalam kelompok ini adalah para pembuat undang-undang, anggota
parlemen, anggota kabinet, pemuka masyarakat, pemimpin agama, pemimpin tradisional dsb.
Tidak dapat diragukan bahwa keputusan adalah merupakan target yang bermakna dalam
suatu program advokasi. Untuk itu kelompok ini mendapat perhatian yang lebih dalam upaya
advokasi dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Musuh atau penentang
Adalah individu atau kelompok yang memiliki sikap yang bertentangan atau berbeda
dalam suatu masalah tertentu dengan sikap dimana advokasi itu dilakukan. Musuh, jangan
dilihat sebagai lawan yang harus ditentang, melainkan sebagai seseorang yang memiliki
kayakinan dan sikap yang berbeda terhadap issue tertentu. Pentingnya identifikasi musuh ini
guna menentukan posisi mereka tentang suatu masalah dan menentukan dasar untuk dialog.
Untuk melihat semuanya itu perlu adanya usaha untuk melakukan identifikasi dan
analisis terhadap stakeholder kita, dapat dilihat pada tabel berikut ini. (lihat tabel 1).
Tabel 1.1 Mengidentifikasi dan menganalisa stakeholder
Katagori
sub/
stakeholder group

Besaran/Ukuran/
lokasi
Peng.dan

kelompok kelompok

1
2
Pengambil
Keputusan
Rekan
Kerja/mitra
Kelompok

sikap
thd
masalah/
isu
4

Pengaruh
potensial Hambatan
thd upaya
advokasi dan cara

mengatasi
6

penentang

Dari tabel diatas kita dapat mengumpulkan nama kelompok atau organisasi bahkan
individu yang menjadi pengambil keputusan, yang dapat menjadi mitra kita maupun yang
berpotensi untuk menghambat advokasi yang direncanakan. Disamping itu kita perlu
mengetahui sejauh mana kelompok ini berada atau skalanya, biasa nasional, propinsi maupun
lokal.
Identifikasi pula tingkat pengetahuan dan sikap dari setiap stakeholder terhadap issue
atau masalah yang kita advokasikan. Apabila terdapat kelompok yang dikapnya mendukung
akan tetapi pengetahuannya masih relatif rendah, maka tugas kita adalah menyediakan
informasi terkini yang dapat mendukung sikap yang dimilikinya. Juga sebaliknya apabila
pengetahuannya mengenal issue atau masalah tersebut telah banyak namun sikapnya masih
belum positif benar, maka lobi atau pendekatan untuk menambah keyakinan yang
bersangkutan harus lebih banyak dilakukan.
Disamping itu kita perlu melakukan identifikasi terhadap pengaruh potensial dari
setiap stakeholder terhadap upaya advokasi yang kita rencanakan, termasuk hal-hal yang
menjadi sandungan dalam upaya tersebut serta kemungkinan cara mengatasi. Setelah semua
informasi ini terkumpul, maka dilakukan analisis terhadap hasil identifikasi yang telah kita
lakukan. Analisis dilakukan secara teliti dan hati-hati akan diperoleh suatu informasi
mengenai stakeholder yang tepat bagi upaya advokasi kita. Informasi atau pesan apa yang
tepat dan peran yang tepat dapat kita identifikasikan terlebih dahulu.
1.4 Mensinergikan kepentingan shareholder & Stakeholder
Tren pengurusan korporasi saat ini mengarah pada upaya mensinergikan kepentingan
shareholder dengan kepentingan stakeholder lainnya. Sebelum kita masuk lebih jauh dalam
pembahasan topik ini, perlu kita samakan dulu pemahaman tentang stakeholder dan
shareholder.
Argumen bahwa perusahaan menempatkan kepentingan stakeholder diatas kepentingan
shareholder bisa jadi benar, asalkan definisi dari stakeholder juga jelas. Sebenarnya
pemegang saham adalah bagian dari stakeholder, bukan sesuatu yang terpisah. Namun
shareholder adalah pemangku kepentingan utama. Karena apa? Karena pemegang saham
menanamkan modalnya dalam perusahaan dimana sekaligus juga menanggung risiko

kehilangan modalnya. Sedangkan pemangku kepentingan lainnya, tidak secara langsung


memiliki keterkaitan dalam penyertaan modal perusahaan.
Apakah memang penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kepentingan berbagai
stakeholder? Tentu saja, karena perusahaan dapat menghasilkan keuntungan maksimal secara
langgeng jika mendapatkan dukungan penuh dari seluruh stakeholder. Yang diperlukan adalah
bagaimana mensinergikan kepentingan shareholder dengan kepentingan stakeholder lainnya,
sehingga memberikan manfaat optimal bagi semua pihak. Namun tentu saja tidak berarti
bahwa perusahaan harus memikirkan kepentingan stakeholder lainnya diatas kepentingan
pemegang saham.
Bagaimana kalau kepentingan stakeholder lainnya yang diutamakan diatas
kepentingan shareholder? Coba bayangkan misalnya rumah dikelola dengan teori stakeholder
yang mengutamakan kepentingan stakeholder lainnya diatas kepentingan pemilik rumah.
Maka, halaman anda akan menjadi taman publik, juga garasi anda mungkin akan menjadi
ruang serbaguna untuk karang taruna. Yang pasti kita akan kehilangan privacy. Itu sebabnya
mengapa perusahaan harus dikelola sesuai tujuan didirikannya perusahaan sebagai
perwujudan kepentingan pemegang saham.
Namun mengutamakan kepentingan pemegang saham tanpa mempertimbangkan
kepentingan stakeholder yang mempunyai risiko (stake) dalam kelangsungan hidup
perusahaan juga tidak sepenuhnya benar. Perusahaan umumnya sudah bukan dimiliki oleh
individu, apalagi dengan model peningkatan modal melalui pasar modal. Perusahaan kini
dimiliki oleh banyak pemegang saham, dan manajemennya diserahkan kepada profesional.
Ditambah lagi ada saja pemegang saham yang menyertakan modalnya untuk tujuan spekulasi
pasar. Pemegang saham jenis ini dipastikan tidak terlalu peduli dengan kebijakan perusahaan,
karena belum tentu memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga kelangsungan
perusahaan. Keterlibatan stakeholder dalam pengoperasian perusahaan juga bisa
menimbulkan banyak gangguan terhadap proses manajemen, itu sebabnya perlu ada batasan
keikutsertaan stakeholder dalam operasional perusahaan.
Jika pendekatan stakeholder diterapkan, maka model yang baik seharusnya dapat
membantu mengatasi kompleksitas persoalan yang ada. Dalam pengelolaan perusahaan,
pemegang saham perlu diberikan porsi perhatian yang cukup. Namun, menjadikan
perusahaan warga negara yang baik juga merupakan hal penting bagi perusahaan maupun
komunitas. Umumnya dalam jangka panjang akan membantu meningkatkan nilai tambah
bagi pemegang saham.

Bagaimana kita mensinergikan kepentingan berbagai pihak? Tentu saja model tersebut
perlu disesuaikan dengan sistem hukum, perbedaan kepentingan, karakter bisnis, kondisi
lingkungan, serta kultur bangsa. Model tersebut harus tetap menjaga keberadaan
pengendalian risiko dalam setiap proses bisnis juga mampu menangkap peluang bisnis. Kita
perlu mendefinisikan apa sebenarnya kepentingan stakeholder, komponen didalamnya, serta
bobot yang wajar dari setiap komponen. Dengan demikian kepentingan stakeholder bisa
dipastikan dapat bersinergi dengan kepentingan pemegang saham.
Dalam melakukan sinergi, kepentingan berbagai pihak diselaraskan dengan tujuan
perusahaan. Salah satu cara adalah dengan menerapkan Corporate Social Responsibility
(CSR) menjadi bagian integral strategi perusahaan. CSR disini memasukan berbagai
komponen tanggungjawab perusahaan terhadap stakeholder dan juga tanggung jawab
perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Sebagai contoh, salah satu produsen sabun
memiliki misi untuk membuat 5 miliar orang di Asia dan Afrika dapat memenuhi kebutuhan
higienis. Misi ini dilandasi oleh fakta bahwa 2,2 juta anak dibawah usia 5 tahun meninggal
karena diare dan 1,9 juta anak dibawah usia 5 tahun meninggal karena infeksi pernapasan
serius. Berdasarkan studi yang dilakukan, dengan menjaga kebersihan tangan, risiko terkena
diare dapat dikurangi sebesar 40% serta risiko terkena infeksi pernapasan dapat dikurangi
sebesar 30%. Selaras dengan misi tersebut, disusun strategi untuk meningkatkan kesadaran
dan pola hidup sehat. Implementasi strategi ini antara lain dengan program Berbagi Sehat
yang diluncurkan sejak tahun 2004 untuk mengkampanyekan hidup bersih mulai dari cuci
tangan. Bentuk pelaksanaannya , disatu sisi perusahaan mengeluarkan biaya untuk
mempromosikan pola hidup sehat kepada masyarakat. Sedang dari sisi bisnis terlihat ada
kenaikan penjualan produk sabun antiseptik. Dengan demikian kepentingan pemegang saham
juga terpenuhi, buktinya dividen final yang diberikan meningkat setiap tahun dari Rp 80 per
lembar saham di tahun 2003 hingga Rp 167 per lembar saham di tahun 2007.
Contoh lain adalah produsen mobil yang berusaha mengefisiensikan penggunaan
bahan bakar, menjadikan ramah lingkungan, mengurangi efek pemanasan global, sekaligus
menguntungkan bagi konsumen. Ditengah krisis keuangan, masyarakat semakin sadar akan
efisiensi dan ramah lingkungan, sekaligus sebagai pemicu penjualan dan keuntungan.
Profitabilitas yang tinggi pada giliran berikutnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi
karyawan perusahaan.

1.5 Teori Stakeholder


Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat
baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan
terhadap perusahaan. Individu, kelompok, maupun komunitas dan masyarakat dapat
dikatakan sebagai stakeholder jika memiliki karakteristik seperti yang diungkapkan oleh
Budimanta dkk, 2008 yaitu mempunyai kekuasaan, legitimasi, dan kepentingan terhadap
perusahaan.
Jika diperhatikan secara seksama dari definisi diatas maka telah terjadi perubahan
mengenai siapa saja yang termasuk dalam pengertian stakeholder perusahaan. Sekarang ini
perusahaan sudah tidak memandang bahwa stakeholder mereka hanya investor dan kreditor
saja. Konsep yang mendasari mengenai siapa saja yang termasuk dalam stakeholder
perusahaan sekarang ini telah berkembang mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan
kompleksnya aktivitas bisnis perusahaan. Dengan menggunakan definisi diatas, pemerintah
bisa saja dikatakan sebagai stakeholder bagi perusahaan karena pemerintah mempunyai
kepentingan atas aktivitas perusahaan dan keberadaan perusahaan sebagai salah satu elemen
sistem sosial dalam sebuah negara oleh kerena itu, perusahaan tidak bisa mengabaikan
eksistensi pemerintah dalam melakukan operasinya. Terdapatnya birokrasi yang mengatur
jalanya perusahaan dalam sebuah negara yang harus ditaati oleh perusahaan melaui
kepatuhan terhadap peraturan pemerintah menjadikan terciptanya sebuah hubungan antara
perusahaan dengan pemerintah.
Hal tersebut berlaku sama bagi komunitas lokal, karyawan, pemasok, pelanggan,
investor dan kreditor yang masing-masing elemen stakeholder tersebut memiliki kekuasaan,
legitimasi, dan kepentingan sehinga masing-masing elemen tersebut membuat sebuah
hubungan fungsional dengan perusahaan untuk bisa memenuhi kebutuhannya masingmasing.
Perusahaan merupakan bagian dari sistem sosial yang ada dalam sebuah wilayah baik yang
bersifat lokal, nasional, maupun internasional berarti perusahaan merupakan bagian dari
masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat sendiri menurut definisinya bisa dijelaskan
sebagai kumpulan peran yang diwujudkan oleh elemen-elemen (individu dan kelompok) pada
suatu kedudukan tertentu yang peran-peran tersebut diatur melalui pranata sosial yang
bersumber dari kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat (Budimanta dkk, 2008).

Gambar 1.1 Stakeholder


Perusahaan dalam hal ini merupakan bagian dari beberapa elemen yang membentuk
masyarakat dalam sistem sosial yang berlaku. Keadaan tersebut kemudian menciptakan
sebuah hubungan timbal balik antara perusahaan dan para stakeholder yang berarti
perusahaan harus melaksanakan peranannya secara dua arah untuk memenuhi kebutuhan
perushaan sendiri maupun stakeholder lainya dalam sebuah sistem sosial. Oleh karena itu,
segala sesuatu yang dihasilkan dan dilakukan oleh masing-masing bagian dari stakeholder
akan saling mempengaruhi satu dengan yang lainya sehingga tidaklah tepat jika perusahaan
menyempitkan pengertian mengenai stakeholder hanya dari sisi ekonominya saja.
Perkembangan teori stakeholder diawali dengan berubahnya bentuk pendekatan
perusahaan dalam melakukan aktifitas usaha. Ada dua bentuk dalam pendekatan stakehoder
menurut Budimanta dkk, 2008 yaitu old-corporate relation dan new-corporate relation. Old
corporate relation menekankan pada bentuk pelaksanaan aktifitas perusahaan secara terpisah
dimana setiap fungsi dalam sebuah perusahaan melakukan pekerjaannya tanpa adanya
kesatuan diantara fungsi-fungsi tersebut. Bagian produksi hanya berkutat bagaimana
memproduksi barang sesuai dengan target yang dikehendaki oleh manajemen perusahaan,
bagian pemasaran hanya bekerja berkaitan dengan konsumenya tanpa mengadakan
koordinasi satu dengan yang lainya. Hubungan antara pemimpin dengan karyawan dan
pemasok pun berjalan satu arah, kaku dan berorientasi jangka pendek. Hal itu menyebabkan
setiap bagian perusahaan mempunyai kepentingan, nilai dan tujuan yang berbeda-beda

bergantung pada pimpinan masing-masing fungsi tersebut yang terkadang berbeda dengan
visi, misi, dan capaian yang ditargetkan oleh perusahaan.
Hubungan dengan pihak di luar perusahaan bersifat jangka pendek dan hanya sebatas
hubungan transaksional saja tanpa ada kerjasama untuk menciptakan kebermanfaatan
bersama. Pendekatan tipe ini akan banyak menimbulkan konflik karena perusahaan
memisahkan diri dengan para stakeholder baik yang berasal dari dalam perusahaan dan dari
luar perusahaan. Konflik yang mungkin terjadi di dalam perusahaan adalah tekanan dari
karyawan yang menuntut perbaikan kesejahteraan. Tekanan tersebut bisa berupa upaya
pemogokan menuntut perbaikan sistem pengupahan dan sebagainya. Jika pemogokan tersebut
terjadi dalam jangka waktu yang lama maka hal itu bisa mengganggu aktifitas operasi
perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Sedangkan konflik yang mungkin
terjadi dari luar perusahaan adalah munculnya tuntutan dari masyarakat karena dampak
pembuangan limbah perusahaan yang berpotensi menimbulkan kerugian signifikan bagi
perusahaan apabila diperkarakan secara hukum.
New-corporate relation menekankan kolaborasi antara perusahaan dengan seluruh
stakeholder-nya sehingga perusahaan bukan hanya menempatkan dirinya sebagai bagian yang
bekerja secara sendiri dalam sistem sosial masyarakat karena profesionalitas telah menjadi
hal utama dalam pola hubungan ini. Hubungan perusahaan dengan internal stakeholders
dibangun berdasarkan konsep kebermanfaatan yang membangun kerjasama untuk bisa
menciptakan kesinambungan usaha perusahaan sedangkan hubungan dengan stakeholder di
luar perusahaan bukan hanya bersifat transaksional dan jangka pendek namun lebih kepada
hubungan yang bersifat fungsional yang bertumpu pada kemitraan selain usaha untuk
menghimpun kekayaan yang dilakukan oleh perusahaan, perusahaan juga berusaha untuk
bersama-sama membangun kualitas kehidupan external stakholders.
Pendekatan new-corporate relation mengeliminasi penjenjangan status diantara para
stakeholder perusahaan seperti yang ada pada old-corporate relation. Perusahaan tidak lagi
menempatkan dirinya diposisis paling atas sehingga perusahaa mengeksklusifkan dirinya dari
para stakeholder sehingga dengan pola hubungan semacam ini arah dan tujuan perusahaan
bukan lagi pada bagaimana menghimpun kekayaan sebesar-besarnya namun lebih kepada
pencapaian pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development).
Penjelasan diatas kemudian memunculkan sebuah pertanyaan siapa sajakah sebenarnya
stakeholder perusahaan. Menurut the Clarkson Centre for Business Ethics (1999) dalam
Magness (2008) stakeholder perusahaan dibagi kedalam dua bentuk besar yaitu primary
stakeholders dan secondary stakeholders. Primary stakeholders merupakan pihak-pihak yang
10

mempunyai kepentingan secara ekonomi terhadap perusahaan dan menanggung risiko seperti
misalnya investor, kreditor,karyawan, komunitas lokal namun disisi lain pemerintah juga
termasuk kedalam golongan primary stakeholders walaupun tidak secara langsung
mempunyai hubungan secara ekonomi namun hubungan diantara keduanya lebih bersifat
non-kontraktual. Bentuk yang kedua adalah secondary stakeholders dimana sifat hubungan
keduanya saling mempengaruhi namun kelangsungan hidup perusahaan secara ekonomi tidak
ditentukan oleh stakeholder jenis ini. Contoh secondary stakeholders adalah media dan
kelompok kepentingan seperti lembaga sosial masyarakat, serikat buruh, dan sebagainya.
Perkembangan teori stakeholders membawa perubahan terhadap indikator kesusuksesan
perusahaan. Hal tersebut tercermin dengan munculnya paradigma Triple Bottom Line.
Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya
beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi
stakeholdernya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat,
analis dan pihak lain). Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi
oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut. Gray, Kouhy dan
Adams (1994, p. 53) mengatakan bahwa kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada
dukungan stakeholder dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan
adalah untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful stakeholder, makin besar usaha
perusahaan untuk beradaptasi. Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog
antara perusahaan dengan stakeholdernya.
Definisi stakeholder telah berubah secara substansial selama empat dekade terakhir.
Pada awalnya, pemegang saham dipandang sebagai satu-satunya stakeholder perusahaan.
Pandangan ini didasarkan pada argumen yang disampaikan Friedman (1962) yang
mengatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimumkan kemakmuran
pemiliknya. Namun demikian, Freeman (1983) tidak setuju dengan pandangan ini dan
memperluas definisi stakeholder dengan memasukkan konstituen yang lebih banyak,
termasuk kelompok yang dianggap tidak menguntungkan (adversarial group)-seperti pihak
yang memiliki kepentingan tertentu dan regulator (Roberts 1992).
Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Oleh karena
itu power stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya power yang mereka miliki atas sumber
tersebut. Power tersebut dapat berupa kemampuan untuk membatasi pemakaian sumber
ekonomi yang terbatas (modal dan tenaga kerja), akses terhadap media yang berpengaruh,
kemampuan untuk mengatur perusahaan, atau kemampuan untuk mempengaruhi konsumsi
11

atas barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan (Deegan 2000). Oleh karena itu, ketika
stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan
akan bereaksi dengan cara-cara yang memuaskan keinginan stakeholder (Ullman 1985, p.
552). Lebih lanjut Ullman (1985) mengatakan bahwa organisasi akan memilih stakeholder
yang dipandang penting, dan mengambil tindakan yang dapat menghasilkan hubungan
harmonis antara perusahaan dengan stakeholdernya.
Atas dasar argumen di atas, stakeholder theory umumnya berkaitan dengan cara-cara
yang digunakan perusahaan untuk memanage stakeholdernya (Gray et al 1997). Ullman
(1985) berpendapat bahwa power stakeholder berhubungan dengan postur strategis
(strategic posture) yang diadopsi oleh perusahaan. Menurutnya, strategic posture
menggambarkan model reaksi yang ditunjukkan oleh pengambil keputusan kunci perusahaan
terhadap tuntutan sosial. Oleh karena itu stakeholder theory pada dasarnya melihat dunia luar
dari perspektif manajemen (Gray, Kouhy dan Lavers 1995b).
Cara-cara yang dilakukan perusahaan untuk memanage stakeholdernya tergantung
pada postur strategi yang diadopsi perusahaan (Ullman 1985). Organisasi mungkin
mengadopsi postur strategis yang aktif atau pasif. Perusahaan yang mengadopsi postur
strategis aktif akan berusaha mempengaruhi hubungan organisasinya dengan stakeholder
yang dipandang berpengaruh/penting (Ullman 1985). Hal ini menunjukkan bahwa active
posture tidak hanya mengidentifikasi stakeholder tetapi juga menentukan stakeholder mana
yang memiliki kemampuan terbesar dalam mempengaruhi alokasi sumber ekonomi ke
perusahaan. Sebaliknya, perusahaan dengan pasive posture cenderung tidak terus menerus
memonitor aktivitas stakeholder dan secara sengaja tidak mencari strategi optimal untuk
menarik perhatian stakeholder. Kurangnya perhatian terhadap stakeholder ( dalam pendekatan
pasive posture) akan mengakibatkan rendahnya tingkat pengungkapan informasi sosial dan
rendahnya kinerja sosial perusahaan (Ullman 1985).
Meskipun stakeholder theory mampu memperluas perspektif pengelolaan perusahaan
dan mengenalkan hubungan antara power perusahaan dan power stakeholder, teori ini
memiliki kelemahan. Gray et al (1997) mengatakan bahwa kelemahan stakeholder theory
terletak pada fokus teori tersebut yang hanya tertuju pada cara-cara yang digunakan
perusahaan untuk memanage stakeholdernnya. Perusahaan diarahkan untuk mengidentifikasi
stakeholder yang dianggap penting dan berpengaruh dan perhatian perusahaan akan
diarahkan pada stakeholder yang dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Gray et al (1997)
berpendapat bahwa stakeholder theory pada dasarnya merupakan pendekatan berbasis
tekanan pasar (market forces approach)-dimana penyediaan atau penarikan atas sumber
12

ekonomi akan menentukan tipe PSL pada titik waktu tertentu. Mereka yakin bahwa
stakeholder theory mengabaikan pengaruh masyarakat luas (society as a whole) terhadap
penyediaan informasi dalam pelaporan keuangan-termasuk keberadaan hukum dan regulasi
yang menghendaki adanya pengungkapan informasi tertentu.

13