Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN
Metode kempa atau cetak langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa
langsung campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih
dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat
pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi dimana zat aktif maupun
untuk eksipiennya memiliki aliran yang bagus, zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat
aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal
seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat
aktif tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung
dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan
tubuh). Secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah:
1.
2.
3.
4.

Alirannya baik
Kompresibilitasnya baik
Bentuknya Kristal
Mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet

Kekurangan metode kempa langsung atau cetak langsung :


a.

Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan pengisi dapat
menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya dapat menyebabkan
kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam tablet.

b.

Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung karena itu
biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses pengempaan
sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak dan mahal.

c.

Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat mudah
mengalir, kompresibilitas yang baik, serta kohesifitas dan adhesifitas yang baik.

Keuntungan metode kempa langsung atau cetak langsung yaitu :


a.

Lebih singkat prosesnya, karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu
yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang
dipergunakan juga lebih sedikit.

b.

Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab

c.

Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul, tetapi
langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi partikel halus, sehingga tidak
melalui proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu.

Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
Komponen-komponen dalam formulasi tablet kempa terdiri atas zat aktif, bahan
pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan. Selain itu, tablet dapat juga
mengandung bahan pewarna dan lak (bahan warna yang diabsorpsikan pada alumunium
hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis
(Syamsuni, 2006).
Syarat tablet kecuali dinyatakan lain, tablet harus memenuhi syarat berikut:
1. Kemampuan alir dan sudut istirahat
Sifat aliran serbuk yang baik merupakan hal penting untuk pengisian yang seragam ke
dalam lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan bahan di sekitar
fasilitas produksi. Sifat aliran dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel, partikel
yang lebih besar dan bulat menunjukkan aliran yang lebih baik. Metode untuk
mengevaluasi sifat aliran granul yang sering digunakan adalah metode corong
(langsung).
Kecepatan alir diketahui melalui metode corong. Metode ini paling sederhana untuk
menetapkan kemampuan alir granul secara langsung, yakni kecepatan alir granul
dengan bobot tertentu melalui corong diukur dalam detik. Suatu penutup sederhana
ditempatkan pada lubang keluar corong lalu diisi dengan granul yang telah ditimbang
terlebih dahulu. Ketika penutup dibuka, waktu yang dibutuhkan granul untuk keluar
dicatat. Dengan membagi massa serbuk dengan waktu keluar tersebut, kecepatan alir
diperoleh sehingga dapat digunakan untuk perbandingan kuantitatif granul yang
berbeda.

Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk mengalir dalam
suatu alat. Sifat alir ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas bahan pelicin,
mudah tidaknya granul mengalir dan sifat permukaan granul (Voigt, 1995).
Metode sudut istirahat telah digunakan sebagai metode tidak langsung untuk
mengukur mampu alir granul karena hubungannya dengan kohesi antar partikel.
Banyak metode yang berbeda untuk menetapkan sudut istirahat dan salah satunya
yang digunakan adalah metode corong (Sari, 2010).
2. Kerapatan curah dan kerapatan mampat
Tap density atau densitas ketuk adalah densitas yang ditentukan dengan membagi
berat dengan volume setelah dilakukan pengetukan. Pada pengetukan ini proses yang
terjadi adalah pemampatan. Alat Tap density terdiri dari tiga bagian yaitu holder,
mesin pengetuk dan penghitung ketukan. Holder digunakan untuk menyimpan tabung
berukuran. Tabung berukuran ini biasanya menggunakan gelas ukur, alat ini fungsinya
untuk wadah sampel yang diuji, mesin pengetuk berfungsi untuk mengangkat gelas
ukur yang tersimpan dalam holder kemudian membiarkan jatuh demikian seterusnya
hingga sampel terketuk-ketuk, dan penghitung ketukan akan menghitung jumlah
ketukan sesuai dengan angka yang ditentukan.
3. Uji Susut Pengeringan (LOD)
Granul dibuat dengan maksud untuk memperbaiki sifat alir massa serbuk yang akan
dibuat menjadi sediaan tablet, kapsul, puyer, ataupun suspensi kering. Salah satu
cairan pembasah yang dapat digunakan adalah air sehingga setelah melalui proses
pengeringan, kadar air granul harus dievaluasi untuk mengetahui kadar air yang
tertinggal di granul. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kadar
air adalah metode gravimetri dengan cara membandingkan bobot granul setelah
dipanaskan dengan bobot granul sebelum dipanaskan. Pada saat pemanasan
berlangsung, air yang masih tertinggal dalam granul akan menguap (Lachman dkk,
1989).
Salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengukur kadar air dengan prinsip
gravimetri adalah moisture analyzer. Dilihat dari katanya moisture analyzer artinya
penganalisa kelembaban. Jadi yang diukur oleh alat ini adalah kandungan lembab
yang terkandung dalam zat uji yang kemudian menguap akibat panas yang
dikeluarkan oleh alat ini. Temperatur moisture balance bisa di set sesuai dengan yang
diinginkan. Untuk mengukur kadar air granul, moisture balance cukup diset pada
temperatur 70oC untuk mencegah ikut menguapnya air kristal yang terkandung dalam
bahan yang digunakan dalam pembuatan granul (Ansel, 1999).
3

Penentuan kadar air dapat ditentukan dengan menggunakan timbangan dengan cara
menentukan nilai bobot akhir dan bobot awal dari granul. Uji kadar air dengan
menggunakan metode LOD (Loss on Drying) yaitu suatu pernyataan kadar
kelembaban berdasarkan bobot basah.
Timbangan yang digunakan dalam melakukan uji susut pengeringan dikenal
timbangan Moisture Balance. Timbangan tersebut sangatlah unik karena bisa
mengeluarkan panas. Kegunaan timbangan ini adalah untuk mengetahui seberapa
banyak kadar air yang tersembunyi dalam setiap barang yang diuji (Lachman dkk,
1989).
4. Uji Keseragaman bobot
Timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat. Dibandingkan dengan neraca
jaman dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual, neraca digital
memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur, diantaranya neraca digital lebih akurat,
presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil dari setiap penimbangan). Neraca analitik
digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini
mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g (Robbins, 2011).
Neraca atau timbangan baik yang digital ataupun manual harus diletakkan pada
bidang datar, dimana tiap sudut harus benar-benar setimbang. Kesetimbangan ini
mutlak perlu untuk mendapatkan hasil penimbangan yang akurat, jadi kesetimbangan
ini untuk menempatkan titik berat berada pada poros timbangan bukannya pada salah
satu sisi. Kesetimbangan dapat dilihat pada indikator kesetimbangan yang terdapat
pada setiap timbangan. Neraca digital ditunjukkan dengan water pass yang berupa
bulatan besar yang didalamnya terdapat bulatan kecil (Hamdani, 2012).
5. Uji Keseragaman Ukuran
Jangka sorong adalah instrumen presisi yang dapat digunakan untuk mengukur
dimensi benda bagian dalam dan luar. Ditinjau dari cara pembacaannya, jangka
sorong dapat dibagi dua yaitu jangka sorong manual dan digital. Penggunaan jangka
sorong manual lebih sulit bila dibandingkan dengan yang digital, karena hasil
pengukuran diinterpretasi dari skala oleh pengguna, sedangkan hasil pengukuran
menggunakan yang digital dapat dibaca langsung pada layar LCD. Versi manual
memilki dua skala imperial (skala dalam inci) dan metrik (skala dalam milimeter).
Fungsi jangka sorong antara lain mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian
sampai 0,1 mm, rahang tetap dan rahang geser atas bisa digunakan untuk mengukur
diameter benda yang cukup kecil seperti cincin, pipa, dll, dan tangkai ukur di bagian
4

bawah berfungsi untuk mengukur kedalaman seperti kedalaman tabung, lubang kecil,
atau perbedaan tinggi yang kecil (Admin, 2013).
Jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur panjang, diameter luar, diameter
dalam, dan kedalaman benda. Bagian-bagian utamanya adalah rahang tetap yang
memiliki skala utama dengan lebar skala terkecil 1 mm dan rahang geser yang
memiliki skala nonius/vernier. Lebar skala nonius masing-masing 0,9 mm. hal ini
dimungkinkan karena panjang seluruh skala nonius adalah 9 mm tetapi dibagi menjadi
10 buah skala. Jadi, selisih satu skala pada rahang tetap dan rahang geser adalah (10,9)mm atau 0,1 mm (Tim Fisika, 2007).
6. Uji Waktu Hancur
Waktu hancur adalah waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi
yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan berukuran mesh-10.
Uji ini tidak memberi jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat
dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya (Lachman, dkk., 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur dari tablet adalah sifat kimia dan
fisis dari granulat, kekerasan dan porositasnya. Tablet biasanya diformulasi dengan
bahan pengembang atau bahan penghancur yang menyebabkan tablet hancur di dalam
air atau cairan lambung. Hancurnya tablet tidak berarti sempurna larutnya bahan obat
dalam tablet. Kebanyakan bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang
berlebihan akan memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang
besar akan mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat dari pada tablet yang
keras dengan rongga-rongga yang kecil (Soekemi, dkk., 1987).
7. Uji Friabilitas
Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan
pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator. Prinsipnya adalah menetapkan
bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama waktu
tertentu. Pada proses pengukuran kerapuhan, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran
per menit dan waktu yang digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran (Andayana,
2009). Kerapuhan dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator (contoh nya
Rosche friabilator) (Sulaiman, 2007).
Tablet yang akan diuji memiliki berat antara rentang 6 6,5 gram, terlebih dahulu
dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet tersebut selanjutnya
dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran selama 4 menit,
jadi kecepatan putarannya 25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet dari
5

alat, bersihkan dari debu dan timbang dengan seksama. Kemudian dihitung persentase
kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila
kerapuhan tidak lebih dari 1% (Andayana, 2009). Uji kerapuhan berhubungan dengan
kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar
harga persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang. Kerapuhan
yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat pada
tablet. Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil),
adanya kehilangan massa akibat rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih
terdapat dalam tablet (Sulaiman, 2007).
Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam proses
pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut tidak
diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan (bobot yang
hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua kali. Selanjutnya
tentukan nilai rata-rata dari ketiga uji yang telah dilakukan (Andayana, 2009)..
8. Uji Kekerasan
Uji kekerasan tablet dapat didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang
mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberi
tekanan terhadap diameter tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan
tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan,
pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa digunakan adalah Hardness Tester.
Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan
tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan tablet selama
pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran
dari tekanan pengempaan (Parrott, 1971).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan kompresi dan sifat
bahan yang dikempa. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan.
Semakin besar tekanan yang diberikan saat penabletan akan meningkatkan kekerasan
tablet. Pada umumnya tablet yang keras memiliki waktu hancur yang lama (lebih
sukar hancur) dan disolusi yang rendah, namun tidak selamanya demikian. Pada
umumnya tablet yang baik dinyatakan mempunyai kekerasan antara 4-10 kg. Namun
hal ini tidak mutlak, artinya kekerasan tablet dapat lebih kecil dari 4 atau lebih tinggi
dari 8 kg. Kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih dapat diterima dengan syarat
kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi biasanya tablet yang tidak
keras akan memiliki kerapuhan yang tinggi dan lebih sulit penanganannya pada saat
pengemasan, dan transportasi. Kekerasan tablet lebih besar dari 10 kg masih dapat
6

diterima, jika masih memenuhi persyaratan waktu hancur/disintegrasi dan disolusi


yang dipersyaratkan (Sulaiman, 2007). Prinsip pengukurannya adalah memberikan
tekanan pada tablet sampai tablet retak atau pecah.

Salah satu eksipien yang banyak digunakan dalam proses cetak langsung adalah
mikokristalin selulosa, karena mempunyai daya ikat tablet yang sangat baik dan waktu
hancur tablet relative singkat. Mikrokristalin selulosa yang beredar dipasaran adalah
produk impor yang mahal, sehingga berakibat pada mahalnya produk tablet yang
dihasilkan. Mikrokristalin selulosa adalah hasil olahan dari selulosa alami yang dapat
diperoleh dari berbagai sumber baik dari tumbuhan atau hasil fermentasi. Nata de Coco
merupakan sumber selulosa yang diproduksi sebagai hasil fermentasi Acetobacter
xylinum dalam subtrat air kelapa. Selulosa bakteri identik dengan selulosa yang berasal
dari tumbuhan. Kelebihan selulosa yang berasal dari nata de coco dibandingkan sumber
selulosa lain, karena tidak bercampur dengan lignin dan hemiselulosa. Untuk
menghasilkan Mikrokristalin selulosa dengan harga murah, maka dilakukan pemanfaatan
selulosa nata de coco menjadi Mikrokristalin selulosa.
Isolasi dengan metode ekstraksi menggunakan natrium hidroksida 18% menghasilkan
selulosa dengan rendemen sebesar 93,48%, kemudian hidrolisa selulosa menggunakan
Asam Klorida 2,5 N menghasilkan Mikrokristalin selulosa dibanding dengan Avicel pH
102 mempunyai spectrum inframerah dan sinar x yang mirip serta rumus kimia yang
sama yaitu C6H10O5.
Disarankan untuk membuat uji coba dalam skala produk untuk mengetahui
konsistensi dan efisiensi proses produksi agar bisa diterapkan untuk skala industri kecil
atau menengah.
Preformulasi Kempa Langsung
1. Digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab dan dosisnya kecil.
Formulasi KL dibatasi oleh jumlah fine (serbuk yang tidak mempunyai sifat aliran
(seperti talk, mg stearat, dan zat aktif). Jumlah maksimal dari fine adalah 30%.
Umumnya dosis zat aktif yang digunakan adalah dibawah 50% agar keseragaman
kandungan produk akhir bagus. Jika terlalu besar sebaiknya disluging. Syarat-syarat
zat aktif untuk cetak langsung adalah : mempunyai sifat aliran yang bagus, kohesif,
kompresibilitas.
Zat aktif A
Laktosa spray dried
Mg stearat
Talk
Amilum kering

Sesuai dosis
q.s
1%
2%
5%

2. Digunakan kombinasi avicel dan eksplotab. Avicel memiliki kompresibilitas yang


baik, tetapi alirannya kurang baik. Untuk memperbaik alirannya maka diguanakan
eksplotab. Selain itu eksplotab berfungsi pula sebagai penghancur.
Zat aktif A
Avicel : Eksplotab (3:7)
Mg stearat
Talk

Sesuai dosis
q.s
1%
2%

3. Digunakan kombinasi starch 1500 dan avicel (3:1) yang dikenal pula sebagai running
powder. Running powder ini memiliki sifat aliran dan kompresibilitas yang baik.
Tapi daya hancur running powder tidak bagus, sehingga dapat ditambahkan
penghancur luar seperti amilum kering, eksplotab, atau ac-di-sol.
Zat aktif A
Avicel : Starch 1500 (3:1)
Mg stearat
Talk
Amilum kering
Eksplotab
Ac-di-sol

Sesuai dosis
q.s
1%
2%
5% atau
5% atau
3%

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System. 7th
edition.Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 96, 175-178
Chaerunissa, A.Y., dkk. 2009. Farmasetika Dasar. Bandung: Widya Padjadjaran
Lachman L,1986. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed 2.Gadjah Mada University
: Yogyakarta
9

Parrot,

E.

L.

1971.Pharmaceutical

Technology

Fundamental

pharmaceuticsThird

Edition.USA: Burges Publishing Company


Voigt,Rudolf.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Industri.UI Press : Jakarta
Wade,A & Weller,P.J.1995. Handbook of Pharmacetuical Excipient. Pharmaceutical Press :
London

10