Anda di halaman 1dari 8

Kegiatan Impor

1) Pengertian Impor
Dalam perdagangan internasional terdapat dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan impor
dan kegiatan ekspor. Impor adalah kegiatan membeli barang atau jasa dari luar negeri.
Orang atau pihak yang mengimpor barang atau jasa tersebut disebut importir.
Kegiatan impor terjadi karena faktor-faktor berikut.
a) Negara pengimpor kekurangan pasokan beberapa barang tertentu, misalnya karena
produksi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Contoh Indonesia
mengimpor beras dari Thailand karena produksi beras dalam negeri tidak mencukupi
kebutuhan.
b) Teknologi yang modern. Misalnya suatu negara belum mampu memproduksi barang
elektronik dengan kualitas yang baik, maka negara itu perlu mengimpor barang
elektronik dari negara yang teknologinya lebih maju. Negara maju yang lebih
menguasai teknologi dapat menghasilkan barang-barang yang berkualitas bagus
sehingga produk-produk itu dapat laku di pasaran.
c) Harga yang lebih murah. Pada era globalisasi seperti saat ini harga barang sangat
kompetitif. Konsumen yang jeli tentu lebih menginginkan produk dengan harga yang
lebih murah bila kualitas barang akan dibeli sama. Hal inilah yang menyebabkan orang
atau pihak dalam negeri mengimpor barang dari luar negeri.
d) Permintaan pasar atau selera konsumen yang berbeda-beda juga merupakan
penyebab importir mendatangkan barang dari luar negeri.

2) Kebijakan Impor
Kegiatan impor di satu pihak sangat dibutuhkan oleh suatu negara untuk memenuhi
kebutuhannya, tetapi di lain pihak dapat merugikan perkembangan industri dalam
negeri.
Agar tidak merugikan produk dalam negeri diperlukan adanya kebijakan impor untuk
melindungi produk dalam negeri (proteksi) dengan cara berikut.
a) Pengenaan Bea Masuk
Barang impor yang masuk ke dalam negeri dikenakan bea masuk yang tinggi sehingga
harga jual barang impor menjadi mahal. Hal ini dapat mengurangi hasrat masyarakat
membeli barang impor dan produk dalam negeri dapat bersaing dengan produk impor.
b) Kuota Impor
Kuota impor merupakan suatu kebijakan untuk membatasi jumlah barang impor yang
masuk ke dalam negeri. Dengan dibatasinya jumlah produk impor mengakibatkan
harga barang impor tetap mahal dan produk dalam negeri dapat bersaing dan laku di
pasaran.
c) Pengendalian Devisa
Dalam pengendalian devisa, jumlah devisa yang disediakan untuk membayar barang
impor dijatah dan dibatasi sehingga importir mau tidak mau juga membatasi jumlah
barang impor yang akan dibeli.
d) Substitusi Impor

Kebijakan mengadakan substitusi impor ditujukan untuk mengurangi ketergantungan


terhadap luar negeri dengan mendorong produsen dalam negeri agar dapat membuat
sendiri barang-barang yang diimpor dari luar negeri.
e) Devaluasi
Kebijakan berupa devaluasi merupakan kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai
mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Misalnya: 1US$ = Rp8.000,00
menjadi 1USS$ = Rp 10.000,00. Dengan devaluasi dapat menyebabkan harga barang
impor menjadi lebih mahal, dihitung dengan mata uang dalam negeri, sehingga akan
mengurangi pembelian barang impor.

Kegiatan Ekspor

1) Pengertian Ekspor
Ekspor adalah kegiatan menjual barang atau jasa ke luar negeri. Orang atau pihak
yangmelakukan kegiatan ekspor disebut eksportir.
Kegiatan ekspor yang meningkat akan memberikan keuntungan bagi negara, yaitu
negara memperoleh peningkatan pendapatan yaitu dari pajak barang yang dikespor.
Selain itu ada pula pihak-pihak dalam negeri yang juga mendapat keuntungan, seperti
perusahaan transportasi, perusahaan asuransi, perusahaan penghasil barang yang
diekspor. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia terus menggiatkan usaha-usaha yang
dapat mendorong kegiatan ekspor.

2) Kebijakan Ekspor
Ekspor suatu negara harus lebih besar daripada impor agar tidak terjadi defisit dalam
neraca pembayaran.
Oleh sebab itu pemerintah selalu berusaha mendorong ekspor melalui kebijakan ekspor
dengan cara berikut.
a) Diversifikasi Ekspor/Menambah Keragaman Barang Ekspor
Diversifikasi ekspor merupakan penganekaragaman barang ekspor dengan
memperbanyak macam dan jenis barang yang diekspor. Misalnya Indonesia awalnya
hanya mengekspor tektil dan karet, kemudian menambah komoditas ekspor seperti
kayu lapis, gas LNG, rumput laut dan sebagainya. Diversifikasi ekspor dengan
menambah macam barang yang diekspor ini dinamakan diversifikasi horizontal.
Sedangkan divesisifikasi ekspor dengan menambah variasi barang yang diekspor
seperti karet diolah dahulu menjadi berbagai macam ban mobil dan motor atau kapas
diolah dulu menjadi kain lalu diproses menjadi pakaian. Diversifikasi yang demikian ini
disebut diversifikasi vertikal.
b) Subsidi Ekspor

Subsidi ekspor diberikan dengan cara memberikan subsidi/bantuan kepada eksportir


dalam bentuk keringanan pajak, tarif angkutan yang murah, kemudahan dalam
mengurus ekspor, dan kemudahan dalam memperoleh kredit dengan bunga yang
rendah.
c) Premi Ekspor
Untuk lebih menggiatkan dan mendorong para produsen dan eksportir, pemerintah
dapat memberikan premi atau insentif, misalnya penghargaan atas kualitas barang
yang diekspor. Pemberian bantuan keuangan dari pemerintah kepada pengusaha kecil
dan menengah yang orientasi usahanya ekspor.
d) Devaluasi
Devaluasi merupakan kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang dalam
negeri (rupiah) terhadap mata uang asing. Dengan kebijakan devaluasi akan
mengakibatkan harga barang ekspor di luar negeri lebih murah bila diukur dengan mata
uang asing (dollar), sehingga dapat meningkatkan ekspor dan bisa bersaing di pasar
internasional.
e) Meningkatkan Promosi Dagang ke Luar Negeri
Pemasaran suatu produk dapat ditingkatkan dengan mempromosikan produk yang akan
dijual. Untuk meningkatkan ekposr ke luar negeri maka pemerintah dapat berusaha
dengan melakukan promosi dagang ke luar negeri, misalnya dengan dengan
mengadakan pameran dagang di luar negeri agar produk dalam negeri lebih dapat
dikenal.
f) Menjaga Kestabilan Nilai Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing
Kestabilan nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing sangat dibutuhkan oleh para
importir dan pengusaha yang menggunakan peroduk luar negeri untuk kelangsungan
usaha dan kepastian usahanya. Bila nilai kurs mata uang asing terlalu tinggi membuat
para pengusaha yang bahan baku produksinya dari luar negeri akan mengalami
kesulitan karena harus menyediakan dana yang lebih besar untuk membiayai
pembelian barang dari luar negeri. Akibatnya harga barang yang diproduksi oleh
pengusaha tersebut menjadi mahal. Hal ini dapat menurunkan omzet penjualan dan
menurunkan laba usaha, yang akhirnya akan mengganggu kelangsungan hidup
usahanya.
g) Mengadakan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Internasional
Melakukan perjanjian kerja sama ekonomi baik bilateral, regional maupun multilateral
akan dapat membuka dan memperluas pasar bagi produk dalam negeri di luar negeri.
serta dapat menghasilkan kontrak pembelian produk dalam negeri oleh negara lain.
Misalnya perjanjian kontrak pembelin LNG (Liquid Natural Gas) Indonesia yang
dilakukan oleh Jepang dan Korea Selatan

Dalam beberapa kasus, kelangkaan dan tingginya harga bahan pangan disebabkan
oleh kondisi cuaca yang mengakibatkan gagal panen, pendistribusian yang kurang
lancar hingga susahnya pupuk bagi para petani. Gagal panen bukanlah satusatunya penyebab dari susahnya mendapat bahan pangan dan harga yang tinggi,
melainkan poin pentingnya adalah lemahnya sistem ketahanan pangan di negara
kita untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Lemahnya ketahanan
pangan inilah yang mengakibatkan kita akhirnya harus mengimpor bahan pangan
dari berbagai negara.

Berikut ini manfaat dari kegiatan impor


1.

Memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri.

2.

Pendapatan negara akan bertambah karena adanya devisa.

3.

Mendorong berkembangnya kegiatan industri.

B. IMPOR
Banyak orang atau lembaga yang membeli barang dan luar negeri untuk dijual lagi di dalam negeri. Kegiatan
ini disebut dengan impor, dan orang atau lembaga yang melakukan impor disebut importir. Importir
melakukan kegiatan impor karena menginginkan laba. Kegiatan impor dilakukan jika harga barang yang
bersangkutan di luar negeri lebih murah. Harga yang lebih murah tersebut karena antara lain:
1) negara penghasil mempunyai sumber daya alam yang lebth banyak,
2). negara penghasil bisa memproduksi barang dengan biaya yang lebih murah, dan
3). negara penghasil bisa memproduksi barang dengan jumlah yang lebih banyak.
Negara yang melakukan pembatasan impor juga menerima dampak yang tidak diinginkan. Dampak
negatifnya sebagai berikut:
1) Jika terjadi aksi balas-membalas kegiatan pembatasan kuota impor, maka perdagangan internasional
menjadi lesu. Dampak selanjutnya adalah, terganggunyapertumbuhan perekonomian negara-negara yang
bersangkutan.
2) Karena produsen dalam negeri merasa tidak mempunyai pesaing, mereka cenderung kurang efisien dalam
produksinya. Bahkan tidak hanya itu, produsen juga kurang tertantang untuk meningkatkan mutu produksinya.
Kegiatan pembatasan kuota impor oleh suatu negara dapat mengakibatkan tindakan balasan bagi negara yang
merasa dirugikan.
Manfaat Kegiatan Impor
Kegiatan Impor juga Memiliki Manfaat seperti dibawah ini...
a. Memperoleh Barang dan Jasa yang Tidak Bisa Dihasilkan
Setiap negara memiliki sumber daya alam dan kemampuan sumber daya manusia yang berbeda-beda.
Misalnya, keadaan alam Indonesia tidak bisa menghasilkan gandum dan Amerika tidak bisa
menghasilkan kelapa sawit. Perdagangan antarnegara mampu mengatasi persoalan tersebut. Perdagangan
antarnegara memungkinkan Indonesia untuk memperoleh gandum dan Amerika memperoleh minyak kelapa
sawit.
Perdagangan antarnegara akan bisa mendatangkan barang-barang yang belum dapat dihasilkan di dalam
negeri. Misalnya Indonesia belum mampu memproduksi mesin-mesin berat. Oleh karena itu, Indonesia

melakukan perdagangan dengan Amerika, Jepang, Cina dan Korea Selatan dalam pengadaan alat-alat
tersebut.
b. Memperoleh Teknologi Modern
Proses produksi dapat dipermudah dengan adanya teknologi modern. Misalnya, penggunaan mesin las
pada pabrik perakitan sepeda motor. Mesin ini mempermudah proses penyambungan kerangka motor. Contoh
lainnya adalah mesin fotokopi laser. Mesin ini bisa menggandakan dokumen dengan lebih cepat dan jelas.
Tingkat teknologi di negara kita umumnya masih sederhana. Pengembangan teknologi masih lambat
karena rendahnya kualitas sumber daya manusia. Untuk mendukung kegiatan produksi, kita dapat mengimpor
teknologi dari luar negeri.
Dalam perdagangan biasanya terjadi pertukaran informasi. Dari saling bertukar informasi ini, Indonesia dapat
belajar teknik produksi baru dan pemanfaatan teknologi modern.
c. Memperoleh Bahan Baku
Setiap kegiatan usaha pasti membutuhkan bahan baku. Untuk memproduksi mobil dibutuhkan besi dan
baja. Untuk memproduksi ember, mangkuk, dan kursi plastik dibutuhkan plastik. Tidak semua bahan baku
produksi tersebut dihasilkan di dalam negeri. Mungkin ada yang diproduksi di dalam negeri, tetapi harganya
lebih mahal. Pengusaha tentu lebih menyukai bahan baku yang harganya lebih murah. Demi kelangsungan
produksi, pengusaha harus menjaga pasokan bahan bakunya. Salah satu caranya dengan mengimpor bahan
baku dari luar negeri.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impor Kegiatan impor merupakan kegiatan


konsumsi masyarakat terhadap barang dari luar negeri. Seperti halnya konsumsi,
impor juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pendapatan
nasional. Teori konsumsi menjelaskan bahwa pengeluaran konsumsi yang dilakukan
oleh rumah tangga dalam perekonomian tergantung pada pendapatan yang
diterimanya, semakin besar pendapatan mereka semakin besar pula pengeluaran
konsumsinya (Sukirno, 2002:81). Krugman, Paul R (2000:124) menjelaskan ada
beberapa faktor-faktor yang mendorong dilakukannya impor antara lain:
a. Keterbatasan kualitas sumber daya manusia dan teknologi yang dimiliki untuk
mengolah sumber daya alam yang tersedia agar tercapai efektifitas dan efisiensi
yang optimal dalam kegiatan produksi dalam negeri.
b. Adanya barang-jasa yang belum atau tidak dapat diproduksi di dalam negeri. 5
c. Adanya jumlah atau kuantitas barang di dalam negeri yang belum mencukupi.

Hampir setiap tahun Indonesia selalu saja menghadapi masalah yang sama yaitu mengimpor bahan
pangan dari negara lain. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Ada banyak faktor yang mengharuskan
Indonesia mengimpor bahan pangan dari negara luar, faktor tersebut antara lain :
1. Meskipun Indonesia memproduksi begitu banyak beras namu belum juga bisa mencukupi kebutuhan
penduduknya dikarenakan jumlah penduduk Indonesia yang begitu banyak.
Data statistik menunjukkan sekitar 230-237 juta jiwa penduduk di Indonesia membutuhkan nasi sebagai
makanan pokok. Jadi bisa dilihat, mengapa Indonesia mengimpor beras dari negara lain hanya untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Dan salah satu negara yang sering mengekspor beras
untuk Indonesia adalah Thailand.
2. Faktor lain yang mendorong adanya impor bahan pangan adalah iklim, khususnya cuaca yang tidak
mendukung keberhasilan sektor pertanian pangan, seperti yang terjadi saat ini. Pergeseran musim hujan
dan kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat untuk mengawali masa
tanam, benih besarta pupuk yang digunakan, dan sistem pertanaman yang digunakan. Sehingga
penyediaan benih dan pupuk yang semula terjadwal, permintaanya menjadi tidak menentu yang dapat
menyebabkan kelangkaan karena keterlambatan pasokan benih dan pupuk. Akhirnya hasil produksi
pangan pada waktu itu menurun.
3. Penyebab impor bahan pangan selanjutnya adalah luas lahan pertanian yang semakin sempit. Dari
tahun 1981 sampai tahun 1999 terjadi konversi lahan sawah di Jawa seluas 1 Juta Ha di Jawa dan 0,62
juta Ha di luar Jawa. Walaupun dalam periode waktu yang sama dilakukan percetakan sawah seluas 0,52
juta ha di Jawa dan sekitar 2,7 juta Ha di luar pulau Jawa, namun kenyataannya percetakan lahan sawah
tanpa diikuti dengan pengontrolan konversi, tidak mampu membendung peningkatan ketergantungan
Indonesia terhadap beras impor.
4. Faktor selanjutnya adalah mahalnya biaya transportasi di Indonesia yang mencapai 34 sen dolar AS
per kilometer. Bandingkan dengan negara lain seperti Thailand, China, dan Vietnam yang rata-rata
sebesar 22 sen dolar AS per kilometer. Sepanjang kepastian pasokan tidak kontinyu dan biaya
transportasi tetap tinggi, maka industri produk pangan akan selalu memiliki ketergantungan impor bahan
baku.
5. Berkurangnya jumlah lahan pertanian akibat adanya peralihan fungsi lahan dari yang semula untuk
pertanian menjadi untuk sektor bisnis lain dan hunian.
6. Tingginya ancaman dari alam terhadap tanaman-tanaman pertanian yang ditanam para petani di
Indonesia.
7. Kurang berpihaknya kebijakan pemerintah terhadap langkah-langkah pengembangan sektor pertanian
terutama dalam hal penerapan teknologi baru di sektor pertanian seperti rekayasa genetik bibit pangan,
membuat Indonesia kian sulit memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya

Beberapa faktor diatas sudah cukup menjelaskan mengapa Indonesia masih saja mengimpor banhan
pangan dari luar padahal Indonesia terkenal dengan sumber kekayaan alamnya.
Selain beras, Indonesia juga mengimpor beberapa bahan pangan lainnya yang dicatat oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) pada Januari hingga November 2013
Beras
Nilai impor: US$ 226,4 juta Volume impor: 432,8 juta kilogram (kg)
Negara eksportir: Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Myanmar, dan lainnya
Jagung
Nilai impor: US$ 822,35 juta Volume impor: 2,8 milyar kg
Negara eksportir: India, Brasil, Argentina, Thailand, Paraguay, dan lainnya
Kedelai
Nilai impor: US$ 1 milyar Volume impor: 1,62 milyar kg
Negara eksportir: Amerika Serikat, Argentina, Malaysia, Paraguay, Uruguay, dan lainnya
Gula pasir
Nilai impor: US$ 44,4 juta Volume impor: 75,8 juta kg
Negara eksportir: Thailand, Malaysia, Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, dan lainnya
Gula Tebu
Nilai impor: US$ 1,5 milyar Volume impor: 3,01 milyar kg
Negara eksportir: Thailand, Brasil, Australia, El Salvador, Afrika Selatan, dan lainnya
Daging Sapi
Nilai impor: US$ 185,8 juta Volume impor: 41,5 juta kg
Negara eksportir: Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Singapura
Sapi

Nilai impor: US$ 271,2 juta Volume impor: 104,4 juta kg


Negara eksportir: Australia
Garam
Nilai impor: US$ 85,6 juta Volume impor: 1,85 milyar kg
Negara eksportir: Australia, India, Selandia Baru, Jerman, Denmark, dan lainnya
.