Anda di halaman 1dari 14

PROSES GERAKAN TANAH DI DAERAH DESA MARGAMUKTI,

KECAMATAN PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI


JAWA BARAT

Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geologi Lingkungan

Disusun oleh:
Fazri M S

11051319

Rony Setiawan

11051352

Ilham P

11051328

Iqbal Dwi S

11051332

Maulana A P

11051337

Ahmad Fauzan

11051302

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI TERAPAN


POLITEKNIK GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN AGP BANDUNG
Jl. Sulaksana II No. 21 telp: (022) 727638
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Gerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar,

atau miring dari kedudukannya semula, yang terjadi bila ada gangguan kesetimbangan pada
saat itu. Gerakan tanah merupakan suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk
mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara
alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada
keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis,
mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan
selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi longsor
merupakan pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi
akibat terganggunya kestabilan lereng. Apabila massa yang bergerak pada lereng ini
didominasi oleh tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang
miring maupun lengkung, maka proses pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran tanah.
Bencana gerakan tanah di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan,
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada tanggal 5 Mei 2015.

1.2.

Maksud dan Tujuan


Dengan memahami dari pengertian gerakan tanah itu sendiri dapat diketahui mengapa

terjadi

gerakan

tanah

di

DAERAH

DESA

MARGAMUKTI,

KECAMATAN

PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT, sehingga dapat


ditarik kesimpulan bahwa wilayah yang dimaksud merupakan wilayah yang rawan terjadinya
gerakan tanah. Tujuannya untuk mengetahui lapisan batuan, morfologi daerah tersebut dan
sebagainya.
1.3.

Lokasi Gerakan Tanah


Lokasi gerakan tanah terletak di RT 01, RW 15, Kampung Cibitung, Desa

Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara


geografis lokasi gerakan tanah terletak pada koordinat 10737'54,3" BT dan 0711'24,0" LS.

1.4.

Waktu Kejadian
Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa Tanggal 5 Mei 2015 pukul 14.15 WIB.

Sebelumnya diawali hujan lebat pada hari Sabtu dan Minggu. Berdasarkan pengamatan
lapangan Tanggal 2 Mei 2015 terlihat adanya mahkota gerakan tanah dengan panjang sekitar
150 m, lebar 253 m, dan lebar rongga retakan berkisar 20 30 cm. Retakan ini kemudian
berkembang menjadi gerakan tanah pada tanggal 5 Mei 2015 dan merupakan gawir utama
gerakan tanah.
1.5.

Dampak Gerakan Tanah

Dampak kejadian gerakan tanah pada tanggal 5 Mei 2015 (data dari BPBD Kabupaten
Bandung sampai dengan tanggal 9 Mei 2015) adalah :

Mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 4 orang terkubur, 7 orang luka berat, 7


orang luka ringan dan 10 rumah tertimbun material longsoran. (informasi dari BPBD
Kabupaten Bandung). Sebanyak 52 KK yang terdiri-dari 203 jiwa mengungsi di Balai
Desa Margamukti.

Kerusakan pada pipa PLTP PT. Star Energy yang terpotong sekitar 250 m dan
menimbulkan ledakan. Ledakan tersebut diakibatkan oleh gerakan tanah yang
mendorong pipa tersebut sehingga putus dan menimbulkan ledakan.

Terputusnya jalan sekitar 250 m.

BAB II
GEOLOGI
Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan
rombakan dengan arah N 257 E. Hasil pengukuran secara langsung di lapangan
menggunakan peralatan distomat/ dekstometer panjang gerakan tanah sekitar 1002 m, dan
lebar bervariasi antara 183 s/d 207 m, dan terdapat material longsoran yang masih
menggantung di atas. Tinggi gawir utama pada bagian bawah mahkota gerakan diukur dari
jalan disamping pipa PLTP PT. Star Energy adalah 59 m.
Pengamatan lapangan memperlihatkan adanya retakan di sebelah selatan zona gerakan tanah
yang berarah N 260 oE dengan panjang sekitar 210 m dan panjang lebarnya sekitar 50 m.
Retakan ini diperkirakan masih berpotensi untuk menjadi gerakan tanah.
a. Morfologi
Secara umum lokasi bencana gerakan tanah merupakan daerah kaki lereng G. Bedil
dengan ketinggian antara 1.710 1.760 m di atas permukaan air laut, kemiringan lereng
sekitar 12 - 15 dan pada bagian atas lebih terjal dengan kemiringan lereng sekitar 45 - 50.
b. Susunan batuan / stratigrafi
Berdasarkan pengamatan lapangan dan Peta Geologi Lembar Garut-Pameungpeuk
(Alzwar M, dkk, 1992), batuan dasar penyusun daerah gerakan tanah berupa endapan
rombakan Gunungapi lebih tua tak teruraikan (Qopu) yaitu tuff hablur halus-kasar dasitan,
breksi tuffan mengandung batuapung dan endapan lahar tua bersifat andesitan-basalan, aliran
lahar dengan susunan komponen andesit dan basal. Batuan rombakan gunungapi tersebut
telah mengalami pelapukan sedang hingga sempurna dengan ketebalan sekitar 5 - 6 m.
c. Struktur geologi
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut - Pameungpeuk (Alzwar M, dkk, 1992),
terlihat adanya sesar normal dijumpai di daerah tersebut yang berarah Utara Selatan,
sehingga daerah tersebut merupakan zona lemah.

d. Tata guna lahan


Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa hutan. Lereng bagian tengah dan
bawah berupa hutan pinus yang sudah banyak berubah menjadi tanaman rumput gajah.
e. Keairan
Menurut informasi dari masyarakat setempat, pada bagian atas G. Bedil terdapat
telaga dengan luas sekitar 1 Ha. Setelah terjadinya retakan dan nendatan tanah muncul
adanya air dari dalam retakan yang diperkirakan akibat dari muka air tanah yang terpotong
oleh gerakan tanah.

BAB III
KEMUNGKINAN GERAKAN TANAH
Berdasarkan atlas peta zona kerentanan gerakan tanah Kabupaten Bandung
(PVMBG, 2014), lokasi bencana gerakan tanah termasuk zona kerentanan gerakan tanah
menengah hingga tinggi, artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah hingga tinggi
untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas
normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi gerakan Tanah Bulan Mei 2015 memperlihatkan bahwa
Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung termasuk dalam potensi menengah untuk
terjadi gerakan tanah dan potensi aliran banjir bandang.
Faktor penyebab gerakan tanah

Adanya curah hujan yang deras dan berlangsung lama.

Bagian atas merupakan batuan vulkanik berupa breksi tuffan dengan tanah pelapukan
bersifat gembur, sedangkan di bagian bawah berupa tuff yang bersifat kedap air. Pada
kondisi tanah yang jenuh air dan kemiringan lereng yang terjal maka tanah diatasnya
akan cenderung untuk bergerak

Adanya bidang lemah yang terdiri dari batuan tuff dan batuan vulkanik yang telah
mengalami pelapukan, berwarna hitam bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi
sebagai bidang gelincir gerakan tanah.

Adanya air yang meresap dari lereng atas yang masuk ke dalam retakan yang sudah
terbentuk sehingga meningkatkan bobot massa tanah.

Adanya perubahan tata guna lahan yaitu dari pepohonan yang berakar kuat dan dalam
menjadi tanaman rumput gajah.

Adanya erosi pada daerah kaki lereng bawah serta pemotongan lereng untuk
penempatan pipa, sehingga lereng kehilangan tahanan.

Mekanisme terjadinya gerakan tanah


Setelah terjadinya hujan deras dari Tanggal 2 s/d 4 Mei 2015 yang berlangsung lama
di daerah gerakan tanah dan sekitarnya, maka air banyak meresap ke dalam tanah sehingga
bobot massa tanah menjadi meningkat. Kondisi ini diperburuk dengan adanya longsoran lama
yang pernah terjadi sebelumnya. Tata guna lahan yang didominasi oleh tanaman rumput
gajah, dan adanya erosi pada daerah kaki lereng, serta pemotongan pada lereng bagian bawah
untuk penempatan pipa, akan mengakibatkan berkurangnya tahanan lereng.Sementara itu
adanya zona lemah di daerah tersebut karena batuan dasar berupa breksi tuffan dan tuff yang
bersifat kedap air dengan tanah pelapukan yang tebal dan gembur, maka kontak antara tanah
pelapukan dengan batuan dasarnya dapat menjadi bidang gelincir gerakan tanah. Dengan
kejadian gerakan tanah Tanggal 5 Mei 2015, maka gerakan tanah berkembang menjadi
longsoran bahan rombakan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan dan Saran:

Kampung Cibitung, Desa Margarmukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten


Bandung, Provinsi Jawa Barat agar direlokasi ke tempat yang lebih aman.

Jika pada lereng bagian atas gerakan tanah masih terdapat retakan maka retakan
tersebut agar segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan. Apabila retakan tetap
berkembang, maka masyarakat agar tidak beraktivitas di daerah tersebut terutama pada
saat dan setelah terjadi hujan yang berlangsung lama.

Adanya retakan tanah di sebelah selatan zona gerakan tanah yang berarah N 260 oE
dengan panjang sekitar 210 m dan panjang lebarnya sekitar 50 m, maka diperkirakan
retakan ini diperkirakan masih berpotensi untuk menjadi gerakan tanah.

Melakukan penanaman kembali pepohonan yang berakar kuat dan dalam agar sistem
perakarannya dapat mengikat tanah.

Agar memantau retakan tanah yang terdapat pada bagian atas lereng dan disamping
zona gerakan tanah untuk mewaspadai berkembang menjadi gerakan tanah. Hal ini perlu
diperhatikan terutama selama proses pencarian korban yang masih tertimbun.

Tidak membuat kolam-kolam atau lahan basah pada bagian atas mahkota dan pada
daerah sekitar gerakan tanah.

Mengeringkan kolam yang terdapat di bagian atas lereng dengan cara menyalurkan air
menggunakan pipa agar air tidak masuk ke dalam zona deplesi gerakan tanah.

Jalur pipa PLTP PT. Star Energy yang sudah rusak akibat gerakan tanah dan jalan agar
direlokasi dengan menjauhi daerah gerakan tanah.

Sehubungan adanya genangan air pada akses jalan menuju lokasi bencana gerakan
tanah (posisi koordinat 107,61223 oBT dan 7,18426 oLS) agar segera dikeringkan untuk
menghindari gerakan tanah pada jalan tersebut.

Jangka panjang : agar lokasi gerakan tanah tidak dijadikan permukiman dan tata
guna lahannya ditanami pepohonan yang berakar kuat dan dalam agar sistem
perakarannya dapat mengikat tanah.

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah Tanggal 5 Mei 2015.

Gambar 2. Peta geologi lokasi gerakan tanah Tanggal 5 Mei 2015 (Alzwar M, dkk, 1992).

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Gambar 4. Kenampakan pipa PLTP PT. Star Energy pada Tanggal 2 Mei 2015.

Gambar 5. Kenampakan pipa PLTP PT. Star Energy setalah terjadi gerakan tanah pada
Tanggal 5 Mei 2015.

Gambar 6. Gerakan tanah jenis longsoran bahan rombakan terjadi pada lereng atas jalur pipa
PLTP PT. Star Energy. Terlihat pipa tersebut putus dan terseret dari tempat asal.

Gambar 7. Tanah hitam merupakan material hasil ledakan pipa PLTP PT. Star Energy.

Gambar 8. Retakan tanah pada bagian selatan zona gerakan tanah berarah N 260 oE, panjang
sekitar 210 m yang masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah.

Gambar 9. Permukiman Kampung Cibitung yang tertimpa material longsoran bahan


rombakan.

REFERENSI
http://www.google.gerakantanah
http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/kejadian-gerakan-tanah/838-laporansingkat-kejadian-gerakan-tanah-di-desa-margamukti-kecamatan-pangalengan-kabupatenbandung-provinsi-jawa-barat-tanggal-5-mei-2015