Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di setiap Negara tidak dapat lepas dari tindakan-tindakan melanggar hukum baik secara
pidana maupun perdata. Namun yang menjadi keresahan masyarakat adalah maraknya tindakan
pidana.Tindakan yang dapat mengganggu kepentingan orang lain ini dapat terjadi kapan saja dan
dimana saja. Bahkan tindakan ini dapat menghilangkan nyawa orang lain dan mengancam
stabilitas Negara.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan maraknya kasus bom yang terjadi
di restoran, hotel, bahkan kedutaan besar pun tak luput dari serangan bom. Hal ini dikategorikan
sebagai kasus pidana terorisme dan mulai menjadi trademark bagi Indonesia sebagai Negara
teroris. Dengan dalih menjalankan syariat Islam, terror demi terror dilakukan.

Tragedi bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di kecamatan Kuta, Bali. Telah
menewaskan 220 orang dan mencederakan 209 orang lainnya yang kebanyakan merupakan
orang asing. Peristiwa ini dianggap sebagai kasus pidana terorisme terbesar yang pernah terjadi
di Indonesia. Beberapa warganegara asing yang tengah berlibur di Bali menjadi korban dari aksi
ini, antara lain Australia,Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda, Perancis,
Denmark, Selandia Baru,Swiss, Brasil, Kanada, serta beberapa Negara lainnya.

Tindakan cepat segera diambil oleh kepolisian guna mengungkap sindikat yang ada di
balik tragedi berdarah ini. Ditetapkan 3 pelaku utama, yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Ali
Gufron diikuti oleh anak buah mereka.

Dengan adanya kejadian ini, Indonesia dirundung masalah yang berat terkait dengan
masalah keamanan. Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara- negara lainnya
dengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya untuk datang ke
Indonesia.

1
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dianalisa mengenai Tragedi Bom Bali secara
menyeluruh, dengan menitikberatkan pada pelaku bom Bali yakni Trio Bom Bali, dengan
keputusan-keputusan akhir yang membawa mereka pada hukuman mati. Namun setelah divonis
hukuman mati masih terdapat permintaan terdakwa trio bom Bali untuk peninjauan kembali
terhadap eksekusi hukuman mati yang akan dijalankan terpidana.

1.2 Rumusan Masalah

Mengapa MK menerima PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan tim kuasa hukum Trio
Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu eksekusi mati yang harus dilaksanakan dan
bagaimana pula keputusan akhirnya?

1.3 Tujuan Penelitian

Seperti yang telah dibahas pada latar belakang , bahwa tindakan pemboman yang terjadi
di Indonesia khususnya di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang telah menewaskan
masyarakat pribumi maupun wisatawan asing merupakan salah satu tindakan pidana , yang para
terpidana terdiri dari : Imam Samudera , Amrozi , dan Ali Gufron yang telah dijatuhkan
hukuman mati. Kemudian timbul fenomena baru mengenai PK (Peninjauan Kembali ) yang
diajukan tim kuasa hukum terpidana Trio Bom Bali karena dianggap eksekusi mati yang berlaku
di Indonesia bertentangan dengan UU pasal 28 I ayat 1 UUD 1945.

Adapun tujuan dari kami dalam memilih topik ini , karena :

- Untuk meninjau lebih lanjut apa alasan MK menerima peninjauan kembali (PK) yang
diajukan oleh tim kuasa hukum trio Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu
eksekusi yang harus dilaksanakan?

- Untuk mengetahui keputusan akhir dari MK mengenai PK yang diajukan oleh tim kuasa
trio Bom Bali.

2
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Akademik

Untuk memperkaya pengetahuan mengenai kasus hukum dalam hal ini mengenai
kasus pidana Bom Bali I dimana menitikberatkan pada peninjauan kembali (PK)
oleh MK mengenai tata cara eksekusi mati terpidana.

1.4.2 Praktis

Untuk memberitahukan kepada masyarakat mengenai prosesi peninjauan kembali


oleh MK mengenai tata cara eksekusi terpidana mati.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini, tim penulis akan membahas latar belakang
dari kasus pidana Bom Bali I dengan sudut pandang “Peninjauan Kembali
Mahkamah Konstitusi terhadap Eksekusi Mati Bom Bali I ”. Selain itu dijelaskan
pula alasan dari tim penulis memilih topik ini dan manfaat serta sistematika
penulisan dari makalah ini,

BAB II KERANGKA TEORITIS

Dalam Bab II ini akan dijabarkan teori hukum pidana beserta UU yang
berkaitan dengan kasus pidana Bom Bali ini dengan teori-teori terkait lainnya.

BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam Bab III ini akan dianalisa dan dibahas secara mendalam mengenai
hal-hal berkaitan yang dapat menjawab daripada rumusan masalah yang telah
dibentuk oleh tim penulis berdasarkan teori hukum pidana dan teori terkait
lainnya.

3
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Pada Bab ke- IV ini akan diulas kesimpulan dan saran di mana diharapkan
dapat memberikan informasi dan manfaat bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

4
BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 HUKUM PIDANA

2.1.1 Pengertian Hukum Pidana

Hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan


kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan
hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan (keistimewaan dan unsur
yang terpenting dalam hukum pidana).

Adapun yang termasuk dalam pengertian kepentingan umum ialah :

1. Badan dan peraturan perundangan Negara, seperti Negara, lembaga-lembaga


Negara,pejabat Negara, pegawai negeri, UU peraturan pemerintah dan sebagainya.

2. Kepentingan hukum tiap manusia yaitu : jiwa, raga/tubuh, kemerdekaan, kehormatan


dan hak milik/harta benda.

Perbedaan antara pelanggaran dan kejahatan :

- Pelanggaran adalah mengenai hal-hal kecil atau ringan yang diancam hukuman
denda

- Kejahatan ialah mengenai soal-soal yang besar

Menurut KUHP pasal 10 hukuman atau pidana terdiri atas :


5
1. Pidana pokok (utama) :

a. Pidana mati

b. Pidana penjara

 Pidana seumur hidup

 Pidana penjara selama waktu tertentu(setinggi-tingginya 20


tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun )

c. Pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 hari dan setinggi-tingginya


1 tahun.

d. Pidana denda

e. Pidana tutupan

2. Pidana tambahan

a. Pencabutan hak-hak tertentu

b. Perampasan (penyitaan barang-barang tertentu)

c. Pengumuman keputusan hakim.

2.1.2 Pembagian Hukum Pidana

Hukum pidana dapat dibagi sebagai berikut :

1. Hukum Pidana Obyektif (Jus Punale ), yang dapat dibagi ke dalam :

a. Hukum Pidana Material

Adalah peraturan-peraturan yang menegaskan :

Perbuatan-perbuatan apa yang dapat dihukum

Siapa yang dapat dihukum


6
Dengan hukuman apa menghukum seseorang.

Hukum Pidana Material membedakan adanya :

(a) Hukum Pidana Umum

(b) Hukum Pidana Khusus

b. Hukum Pidana Formal ( Hukum Acara Pidana)

Adalah hukum yang mengatur cara-cara menghukum seseorang yang melanggar


peraturan pidana merupakan pelaksanaan dari Hukum Pidana Material.

2. Hukum pidana subyektif (Jus Puniendi)

Adalah hak Negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan Hukum Pidana Obyektif

3. Hukum pidana umum

Adalah Hukum Pidana yang berlaku terhadap setiap penduduk(berlaku terhadap siapa
pun juga di seluruh Indonesia) kecuali anggota ketentaraan.

4. Hukum pidana khusus,

Adalah Hukum Pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu.

Hukum Pidana dibagi ke dalam :

a. Hukum pidana militer

b. Hukum pidana pajak (fiscal)

2.2 MAHKAMAH KONSTITUSI

7
Setelah reformasi, Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki satu lembaga
tinggi Negara, yaitu Mahkamah Konstitusi, tetapi disisi lain menghapuskan Dewan
pertimbangan Agung yang dianggap tidak efektif.

Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga pemegang kekuasaan


kehakiman disamping Mahkamah Agung beserta badan peradilan yang berada di
bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan Tata Usaha Negara.

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir


yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap konstitusi,
memutuskan sengketa kewenangan lembaga Negara, yang kewenangannya diberikan
UUD, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan perselisihan tentang
hasil pemilihan umum.

Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai


dugaan pelanggaran oleh presiden dan wakil presiden menurut UUD.

Mahkamah Konstitusi mempunyai 9 orang anggota hakim konstitusi yang


ditetapkan oleh presiden yang diajukan masing-masing 3 orang yang masing-masing
diajukan Mahkamah Agung, 3 orang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, 3 orang
diusulkan Presiden.

2.3 PROSEDUR DAN PROSES PENYELESAIAN PERKARA PENINJAUAN KEMBALI


(PK)

8
2.3.1 PROSEDUR
Langkah langkah yang harus dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (PK):
1. Mengajukan permohonan PK kepada Mahkamah Agung secara tertulis atau lisan
melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah.
2. Pengajuan PK dalam tenggang waktu 180 hari sesudah penetapan atau putusan
pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak di ketemukan bukti adanya
kebohongan atau bukti baru, dan bila alasan pemohon PK berdasarkan bukti baru
(Novum) maka bukti baru tersebut di nyatakan di bawah sumpah dan di sahkan oleh
pejabat yang berwenang (Pasal 69 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah
dengan UU No. 5 tahun 2004).
3. Membayar biaya perkara PK (Pasal 70 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah
dengan UU No. 45 tahun 2004, pasal 89 dan 90 UU No. 7 tahun 1989).
4. Panitera Pengadilan tinggi tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan
salinan memori PK kepada pihak lawan dalam tenggang waktu selambat-lambatnya
14 (Empat Belas) hari.
5. Pihak lawan berhak mengajukan surat jawaban terhadap memori PK dalam
tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari setelah tanggal di terima salinan permohonan
PK.
6. Panitera Pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas PK ke Mahkamah Agung
selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari.
7. Panitera Mahkamah Agung menyampaikan salinan putusan PK kepada pengadilan
Agama/Mahkamah Syar’iyah.
8. Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah menyampaikan salinan putusan PK
kepada para pihak selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari.
9. Setelah putusan di sampaikan kepada para pihak maka panitera :
a. Untuk perkara cerai talak :
1. Memberitahukan tentang penetapan hari sidang penyaksian ikrar talak
dengan memanggil Pemohon dan Termohon
2. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam
waktu 7 (Tujuh) hari
b. untuk perkara cerai gugat :

9
1. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam
waktu 7 (Tujuh) hari.

2.3.2 PROSES PENYELESAIAN PERKARA :

1. Permohonan PK di teliti kelengkapan berkasnya oleh Mahkamah Agung, kemudian


dicatat dan di beri nomor register PK.
2. Mahkamah Agung memberitahukan kepada Pemohon dan Termohon PK bahwa
perkaranya telah di registerasi.
3. Ketua Mahkamah Agung menetapkan tim dan selanjutnya Ketua tim menetapkan
Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa perkara PK.
4. Menyerahkan berkas perkara oleh asisten koordinator (Askor) kepada Penitera
Pengganti yang membantu menangani perkara tersebut.
5. Panitera Pengganti mendistribusikan berkas perkara ke Majelis Hakim Agung
masing-masing (Pembaca 1,2 dan 3) untuk di beri pendapat.
6. Majelis Hakim Agung memutus perkara.
7. Mahkamah Agung mengirimkan salinan putusan kepada para pihak melalui
Pengadilan tingkat pertama yang menerima permohonan PK.

10
BAB III

PEMBAHASAN DAN ANALISA

3.1 PEMBAHASAN

Tragedi Bom Bali terjadi tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian, Kuta, Bali
telah menewaskan 202 orang dan mencederai 209 jiwa lainnya yang kebanyakan adalah
turis asing yang tengah berlibur di Bali. Aksi ini dikecam oleh banyak pihak sebagai aksi
teroris terparah dalam sejarah Indonesia.

Kewarganegaraan para korban antara lain adalah:

• Australia (88) • Brasil (2)


• Indonesia (38) kebanyakan • Kanada( 2)
Bali • Jepang (2)
• Britania Raya (26) • Afrika Selatan (2
• Amerika Serikat (7) • Korea Selatan (2)
• Jerman (6) • Ekuador (1)
• Swedia (5) • Yunani (1)
• Belanda(4) • Italia (1)
• Perancis (4) • Polandia (1)
• Denmark( 3) • Portugal (1)
• Selandia Baru (3) • Taiwan (1)
• Swiss (3)

Ditetapkan 3 tersangka utama dalam kasus ini, yaitu Imam Samudra, Amrozi, dan Ali
Gufron beserta sekelompok anak buah yang mengatasnamakan Syariat Islam dalam aksi
Bom ini.

11
3.1.1 Amrozi bin Nurhasyim

Amrozi bin Nurhasyim ditangkap kepolisian pada tanggal 7 November 2002 karena
diduga terlibat dalam merencanakan aksi pemboman Bali dan berperan sebagai
pengangkut bom. Sidang perdana Amrozi berlangsung pada 12 Mei 2003 di Gedung
Nari Graha, Denpasar yang dipimpin oleh ketua majelis hakim PN Denpasar, I Made
Karna. Jaksa penuntut umum dalam dakwaan dibacakan Urip Tri Gunawan
mendakwa Amrozi melanggar pasal 14 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal
1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16
Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Ia juga
dipersalahkan melanggar pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP, karena dengan sengaja
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana
teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau menimbulkan korban secara
massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda
orang lain.

Dalam sidang yang dihadiri Menkeh dan HAM Yusril Ihza Menhendra ini, Amrozi
didampingi enam penasihat hukumnya, yakni Mahendradata, Made Rahman
Marasabessi, Qadar Faisal, Ahmad Mihdan, Fahmi, dan Wirawan Adnan.

Jaksa Urip Tri Gunawan, dalam dakwaannya merinci secara detail bagaimana peran
Amrozi dalam kasus bom Bali. Pada Februari 2002, telah mengikuti pertemuan di
Bangkok Thailand bersama Ali Gufron, Sulkifli, Marzuki, Wan Min Muhamad, dan
Dr Ashari.

Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang operasi pengeboman terhadap kepentingan


Amerika Serikat. Ali Gufron alias Muklas dalam pertemuan itu bertindak sebagai
orang yang dituakan. Selanjutnya terdakwa Amrozi ikut pertemuan di Surakarta.

Dalam dakwaannya, JPU juga menyebutkan bahwa Amrozi ikut pertemuan di Masjid
Agung Surakarta, yang membahas rencana mengeboman Konsulat AS di Denpasar
12
dan pembagian tugas. Amrozi, lanjut Urip mendapat tugas menyiapkan bahan
peledak, sedangkan Idris mempersiapkan transportasi dan Imam Samudra
menyiapkan dana dan menentukan sasaran.

Pada tanggal 7 Agustus 2003, hakim menyatakan Amrozi terbukti bersalah karena
turut merencanakan dan berperan sebagai pengangkut bom dalam aksi bom Bali I
dan ia dijatuhi hukuman mati.

3.1.2 Imam Samudra alias Abdul Aziz

Abdul Aziz alias Imam Samudra ditangkap pada tanggal 21 November 2002 ketika
hendak menyebrang ke Sumatera melalui kapal feri. Polisi meyakini Imam Samudra
berperan sebagai “komandan lapangan” bom Bali I. Dalam persidangan pada tanggal
2 Juni 2003, Imam Samudra juga dijerat pasal berlapis. Pasal-pasal tersebut yakni
primer pasal 14 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun
2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 yo
pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Sedangkan dakwaan subsider, jaksa menggunakan yakni pasal 6 Perpu No 1 Tahun


2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002, jo
pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Dakwaan lebih subsidair yakni pasal 15 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002, jo


pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU
No 16 Tahun 2003. Sedangkan dakwaan lebih subsidair yakni pasal 9 Perpu No 1
Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 20022
jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman
hukuman mati.

Selain itu, Imam Samudra juga dijerat pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 tahun
1951 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan pasal 187 ke 1 dan 2 jo pasal 55 ayat (1)
ke 1 jo pasal 63 KUHP.

13
Pada tanggal 10 September 2003, Imam Samudra dinyatakan bersalah mengatur
pemboman dan dijatuhi hukuman mati.

3.1.3 Ali Gufron alias Muklas

3 Desember 2002 Ali Gufron alias Muklas alias Huda bin Abdul Haq alias Sofwan
ditangkap di Klaten, Jawa Tengah. Muklas mulai diperiksa tim penyidik di Polda
Bali, bersama-sama Abdul Azis alias Imam Samudra dan Amrozi.Tim penyidik
melimpahkan dua berkas atas tersangka Muklas ke Kejaksaan Tinggi Bali. Muklas
diduga sebagai perencana dan pelaku, termasuk koordinator pelaksana di lapangan.
Dia dituntut pasal 6, 11, 13 huruf a, 14 dan 15 Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak, juncto Pasal 1 Perpu No 2/2002 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali dengan ancaman
hukuman mati

Pada 16 Juni 2003, Persidangan kasus Muklas mulai digelar di Aula Gedung Wanita
Nari Graha Renon, Denpasar. Jaksa Penuntut Umum Putu Indriati menuntut dengan
dakwaan berlapis dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak
pidana terorisme, yaitu sebagai perencana peledakan bom dan dengan sengaja
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror
dan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. Terdakwa juga terlibat pemufakatan
jahat dan menyediakan dana untuk tindak pidana terorisme. Muklas juga didakwa
melanggar Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat No 12/1951 tentang senjata api dan bahan
peledak karena terdakwa memiliki dan menyimpan senjata api tanpa izin, yaitu pistol
jenis FN US Army dan delapan butir peluru.

Mukhlas dituntut hukuman mati. Jaksa Penuntut Umum Indriyati menyatakan


terdakwa telah secara sah dan meyakinkan terlibat dalam peledakan bom 12 Oktober
2002. Dia juga dinilai terlibat jaringan internasional Jamaah Islamiyah kawasan Asia
Tenggara dan melanggar Pasal 6, 14, dan 15 Perpu Antiterorisme.
14
Undang-Undang No. 2/PNPS/1964

Berdasarkan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan


Pidana Mati yang dijatuhkan oleh Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum dan
Militer pidana mati dilaksanakan dengan cara ditembak sampai mati.
Dalam kondisi ini, tim Kuasa hukum mengajukan kepada Mahkamah Agung
untuk mengadakan peninjauan kembali terhadap Undang-undang No. 2/PNPS/1964
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati. Hal ini dianggap melanggar UUD 1945
Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 1 KUHP yakni siksaan yang menimbulkan rasa sakit bagi
terpidana.
Di dalam Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Pidana Mati menyatakan bahwa hukuman yang berlaku di Indonesia adalah Hukuman
Tembak. Dengan dalih menjalankan Hukum Islam, terpidana mati meminta dihukum
secara pancung.Atas dasar itulah Tim Pembela Muslim (TPM) selaku kuasa hukum
ketiga terpidana mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Namun
untuk PK pertama ditolak. TPM tetap bertahan dengan keputusannya mengajukan upaya
PK ke dua kepada Mahkamah Konstitusi (MK) dengan dasar yang sama mengajukan
peninjauan terhadap Undang-undang No. 2/PNPS/1964.Dengan upaya ini TPM juga
berusaha melakukan penundaan terhadap waktu pelaksanaan eksekusi mati ketiga
terpidana.

3.2 ANALISA
Habis sudah upaya hukum yang dilakukan ketiga terpidana mati Bom Bali untuk
dieksekusi secara pancung. Pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak PK yang
diajukan oleh tim kuasa hukum terpidana. Atas putusan tersebut, terpidana mati bom
Bali itu tetap akan dieksekusi dengan cara ditembak. Dalam sidang putusan yang
dipimpin Mahfud M.D. tersebut, MK menilai hal-hal yang diajukan pemohon mengenai

15
pengujian tidak beralasan, sehingga harus ditolak. Rasa sakit yang dialami terpidana mati
merupakan konsekuensi logis yang melekat dalam pidana mati sebagai akibat
pelaksanaan pidana mati terhadap terpidana sesuai tata cara yang berlaku.
Karena itu, eksekusi dengan ditembak tidak termasuk kategori penyiksaan terhadap diri
terpidana mati,dengan dasar tersebut, seluruh permohonan pemohon, ditolak. Selain itu,
penggunaan hak untuk tidak disiksa dalam pasal 28 I UUD 1945 dinilai tidak tepat.

Tidak ada satu pun cara yang menjamin tiadanya rasa sakit dalam eksekusi,
bahkan semua mengandung risiko terjadinya ketidaktepatan dalam pelaksanaan yang
menimbulkan rasa sakit. Namun, hal itu bukan penyiksaan sebagaimana dimaksud pasal
28 I UUD 1945, sehingga UU Nomor 2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana
Mati yang dijatuhkan pengadilan di lingkungan peradilan umum dan militer tidak
bertentangan dengan UUD 1945.

Pasal 1 angka 4 UU HAM mengartikan, penyiksaan adalah setiap perbuatan yang


dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat,
baik jasmani maupun rohani, pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau
keterangan dari seseorang atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu
perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh seseorang atau pihak
ketiga, atau mengancam atau memaksa seseorang atau orang ketiga, atau untuk suatu
alasan yang didasarkan pada setiap bentuk diskriminasi, apabila rasa sakit atau
penderitaan tersebut ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau
sepengetahuan siapa pun dan/atau pejabat publik.

Oleh karena itu, PK yang diajukan ditolak karena dianggap tidak mempunyai
dasar hukum yang jelas serta dianggap tidak melanggar pasal 28 ayat 1 UUD 1945.
Selain itu, Eksekusi dengan tembak tetap dijalankan sesuai Undang-undang No. 2/
PNPS/1964 tentang Tata Cara Pidana Mati.

Hasilnya pada tanggal 9 November 2009 ketiga terpidana dieksekusi di


Nusakambangan.

16
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

17
Berdasarkan analisis dari kasus ini kami dapat mengambil kesimpulan bahwa :
1. Hukum yang berlaku di Indonesia bersifat Universal yakni berlaku bagi semua
kalangan tanpa memandang SARA
2. Hukum yang berlaku luas di Indonesia adalah Hukum Negara Indonesia dan
bukan Hukum Syariat Islam.
3. Kedudukan Mahkamah Konstitusi di lembaga hukum Indonesia memiliki
pengaruh yang kuat terhadap segala keputusan Hukum sehingga apapun yang
menjadi keputusan MK tidak dapat diganggu gugat. Hal tersebut dialami oleh
Amrozi Cs beserta kuasa Hukumnya. Mereka menghormati semua keputusan MK
walaupun tidak sepaham.
4. Tindakan pengajuan PK dianggap sebagai usaha TPM untuk mengulur waktu
eksekusi walaupun mereka menyatakan tidak demikian.
5. Faktor yang melatarbelakangi penundaan eksekusi pidana mati terhadap kasus
bom Bali Imam Samudra dipicu dari proses upaya-upaya hukum Terpidana.
Penundaan eksekusi pidana mati terhadap Terpidana Imam Samudra alias Abdul
Aziz tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia karena seorang
Terpidana mati yang akan melaksanakan eksekusi, melalui proses upaya-upaya
hukum sebagai penundaan pelaksanaan putusan pengadilan yang merupakan hak
terpidana pada kasus yang mengakibatkan banyak korban ataupun kejahatan
terhadap kemanusiaan,
6. Eksekusi mati tetap berjalan sesuai dengan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964
yakni dengan tembak.
7. Pada waktu itu, pengajuan PK masih diterima dan diproses oleh MK karena TPM
mengajukan sesuai prosedur tata cara pengajuan PK yang disusun oleh MK.

4.2 SARAN

1. Mengingat kasus Bom Bali ini telah menewaskan ratusan orang, terlebih banyak orang asing
yang menjadi sasaran utama dari peristiwa naas ini. Tak luput kita sebagai makhluk sosial yang
saling membutuhkan dan bisa merasakan kehilangan anggota keluarga yang dicintai untuk
memberikan simpati terhadap keluarga korban dari peristiwa itu. Salah satu bentuk simpati

18
terhadap keluarga yang ditinggal akibat tragedi 12 Oktober 2002 tersebut, tidak lain dalam wujud
konkret dengan perlu dibuatnya peraturan tentang penetapan waktu yang tegas dalam hal waktu
menanti saatnya eksekusi mati terhadap terpidana. Walaupun tidak ada jaminan bahwa dengan
tereksekusinya para terpidana kasus bom bali ini dapat mengembalikan korban, setidaknya
dengan ketepatan waktu dalam melaksanakan eksekusi mati ini dapat meringankan beban atau
mengurangi perih dan duka bagi keluarga korban.
2. Perlu adanya transparansi dan konsistensi penegak hukum di kalangan Hukum Indonesia.

LAMPIRAN

Amrozi Imam Samudra Ali Gufron

19
 UU yang terkait dengan kasus terorisme

Hukuman Mati Pasal Tindak Pidana Keterangan


Dalam RUU KUHP

1 242 Terorisme Menggunakan kekerasan atau


ancaman kekerasan menimbulkan
suasana teror atau rasa takut
terhadap orang secara meluas
atau menimbulkan korban yang
bersifat massal, dengan cara
merampas kemerdekaan atau
hilangnya nyawa dan harta benda
orang lain, atau mengakibatkan
kerusakan atau kehancuran
terhadap objek-objek vital yang
strategis atau lingkungan hidup
atau fasilitas umum atau fasilitas
internasional.
2 244 Terorisme Menggunakan bahan-bahan
menggunakan bahan- kimia, senjata biologis, radiologi,
bahan kimia mikro-organisme, radioaktif atau
komponennya untuk melakukan
terorisme.
3 247 Penggerakan, Merencanakan dan/atau
Pemberian Bantuan dan menggerakkan orang lain untuk
kemudahan untuk melakukan tindak pidana
Terorisme terorisme sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 242 sampai dengan
Pasal 244, Pasal 245, dan Pasal
246.
4 249 Terorisme Setiap orang di luar wilayah
Negara Republik Indonesia yang
memberikan bantuan,

20
244, Pasal 245, dan Pasal 246.

5 250 Perluasan tindak pidana Dipidana karena terorisme setiap


Terorisme orang yang melaku-kan tindak
pidana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 258 dengan pidana
mati. Pasal 258 adalah pasal ten-
tang Perusakan Pesawat Udara
yang Mengakibatkan Matinya
Orang atau Hancurnya Pesawat.
6 251 Terorisme Permufakatan jahat, persiapan,
atau percobaan dan pembantuan
melakukan terorisme sebagai
dimaksud Pasal 242, Pasal 243
dan Pasal 244 dan Pasal 250
dipidana sesuai dengan ketentuan
pasal-pasal tersebut.

 Pasal 28 Ayat 1 huruf I berbunyi “Hak untuk hidup,hak untuk tidak disiksa, hak
kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui
sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang
berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun”

DAFTAR PUSTAKA

 2007,Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Yogyakarta : Pustaka Yustisia


 Tomasow, M.A. 2005, Indonesian Legal System. Jakarta : London School Of
Public Relations
 Syafii, Inu Kencana dan Azhari. 2005, Sistem Politik Indonesia. Bandung : Rafika
Aditama

21
 Kansil, dan Christin Kansil, 1971 cetakan 22. Pancasila dan Udang-Undang Dasar
1945. Jakarta : Pradnya Paramita
 http://batampos.co.id/Utama/Utama/MK_Tolak_Pancung_Amrozi_Cs.html

 hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_2pnps_1964.pdf

22