Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

PADA PASIEN DENGAN


PALATOSKISIS
MAKALAH
Makalah Ini Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dalam Mata Kuliah
Keperawatan Anak 2

DI SUSUN OLEH:
M.ALI FAUZI
2013.03.018

AKADEMI KEPERAWATAN WILLIAM BOOTH


SURABAYA
SEPTEMBER, 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui rahmat dan
hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Asuhan
Keperawatan Anak pada Pasien dengan PALATOSKISIS yang dibuat sebagai
tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik
Dalam penulisan makalah ini, kami tidak terlepas dari bimbingan dan
bantuan dari segala pihak oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada
ibu Ethyca Sari Laua S.Kep, Ns, M.Kes selaku dosen.
Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada staf dan karyawan
di Akademi Keperawatan William Booth Surabaya. Para staf perpustakaan yang
secara tidak langsung telah membantu kami dalam penyediaan sarana yang kami
butuhkan.
Akhirnya, kami mengharapkan kritik dan saran pada makalah ini. Hal itu
tentunya sangat berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat.

Surabaya , 09 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman judul....................................................................................

Kata pengantar....................................................................................

ii

Daftar isi.............................................................................................
iii
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar belakang..............................................................................

1.2 Rumusan masalah........................................................................

1.3 Tujuan..........................................................................................

Bab 2 Tinjauan Teori


2.1 Pengertian palatoskiziz............

2.2 Etiologi palatoskiziz..................

2.3 Patofisiologi palatoskiziz............................

2.4 Manifestasi Klinis palatoskiziz .......

2.5 Komplikasi palatoskiziz ..........

2.6 Pemeriksaan penunjang palatoskiziz ......

2.7 Penatalaksanaan palatoskiziz ..............

2.8 Asuhan keperawatan secara teori.....

Bab 3 Tinjauan Kasus


3.1 Pengkajian................

14

3.2 Analisa..........

24

3.3 Diagnosa keperawatan.....

26

3.3 Inervensi............................................................................

27

Bab 4 Penutup
4.1 Kesimpulan......

34

4.2 Saran................

34

Daftar pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kasus bibir sumbing dan celah langit-langit merupakan cacat bawaan yang
masihmenjadi masalah di tengah masyarakat. Antara Februari - Mei 1992, IKABI
cabangPadang mengadakan pengabdian masyarakat di dua Kabupaten 50 Kota
dan Solok berbentuk operasi bibir sumbing secara gratis. Dilakukan penelitian
pada 126 penderitayang dilakukan operasi.Hardjowasito dengan kawan-kawan di
propinsi Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987
melakukan operasi pada 1004 kasus bibir sumbing atau celah langit-langit pada
bayi, anak maupun dewasa diantara 3 juta penduduk.
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa
disebut labiopalatoskisis. Kelainan ini diduga terjadi akibat infeksi virus yang
diderita ibu padakehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi
tidak akan mengalami banyak gangguan karena masih dapat diberi minum dengan
dot biasa. Bayi dapatmengisap dot dengan baik asal dotnya diletakan dibagian
bibir yang tidak sumbing.
Kelainan bibir ini dapat segera diperbaiki dengan pembedahan. Bila
sumbing mencakup pula palatum mole atau palatum durum, bayi akan mengalami
kesukaran minum,walaupun bayi dapat menghisap naun bahaya terdesak
mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan
pertumbuhan karena sering menderita infeksisaluran pernafasan akibat aspirasi.
keadaan umur yang kurang baik juga akan menundatindakan untuk meperbaiki
kelainan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Apa Pengertian dari Palatoskisis?

1.2.2

Apa Etiologi dari Palatoskisis?

1.2.3

Apa Patofisiologi dari Palatoskisis?

1.2.4

Bagaimana Manifestasi Klinis dari Palatoskisis?

1.3 Tujuan
1.3.1

Untuk Mengetahui Pengertian dari Palatoskisis

1.3.2

Untuk Mengetahui Etiologi dari Palatoskisis

1.3.3

Untuk Mengetahui Patofisiologi dari Palatoskisis

1.3.4

Untuk Mengetahui Manifestasi Klinis dari Palatoskisis

BAB 2
PENDAHULUAN
2.1 Defenisi
Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena
kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L.
2003).
2.2 Etiologi
1. Faktor herediter
2. Kegagalan fase embrio yang penyebabnya belum diketahui
3. Akibat gagalnya prosessus maksilaris dan prosessus medialis menyatu
4. Dapat dikaitkan abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen (agen/faktor
yang menimbulkan cacat pada embrio).
5. Beberapa obat (korison, anti konsulfan, klorsiklizin).
6. Mutasi genetic atau teratogen.
2.3 Patofisiologi
1. Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama
fase embrio pada trimester I.
2. Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan
maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
3. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh
kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
4. penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa
kehamilan.
2.4 Manifestasi klinis
1. Deformitas pada bibir
2. Kesukaran dalam menghisap/makan
3. Kelainan susunan archumdentis.
4. Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
5. Gangguan komunikasi verbal
6. Regurgitasi makanan.
7. Pada Labio skisis
a. Distorsi pada hidung
3

b. Tampak sebagian atau keduanya


c. Adanya celah pada bibir
8. Pada Palati skisis
a. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive.
b. Ada rongga pada hidung.
c. Distorsi hidung
d. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadn jari
e. Kesukaran dalam menghisap/makan.
2.5 Komplikasi
1. Gangguan bicara
2. Terjadinya atitis media
3. Aspirasi
4. Distress pernafasan
5. Resiko infeksi saluran nafas
6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
7. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder
akibat disfungsi tuba eustachius.
8. Masalah gigi
9. Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan
jaringan paruh.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan prabedan rutin (misalnya hitung darah lengkap
2. Pemeriksaan Diagnosis
a. Foto Rontgen
b. Pemeriksaan fisik
c. MRI untuk evaluasi abnormal
2.7 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan bibir sumbing adalah tindakan bedah efektif yang
melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Adanya
kemajuan teknik bedah, orbodantis,dokter anak, dokter THT, serta hasil akhir

tindakan koreksi kosmetik dan fungsional menjadi lebih baik. Tergantung dari
berat ringan yang ada, maka tindakan bedah maupun ortidentik dilakukan secara
bertahap.Biasanya penutupan celah bibir melalui pembedahan dilakukan bila bayi
tersebut telah berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan penambahan berat
badan yang memuaskan dan bebas dari infeksi induk, saluran nafas atau sistemis.
Perbedaan asal ini dapat diperbaiki kembali pada usia 4-5 tahun. Pada kebanyakan
kasus, pembedahan pada hidung hendaknya ditunda hingga mencapi usia
pubertas. Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk
danderajat cerat yang cukup besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan harus
disesuaikan

bagi

masing-masing

penderita.

Waktu optimal untuk melakukan pembedahan langit-langit bervariasi dari 6 bulan


5 tahun. Jika perbaikan pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun, maka
sebuah balon bicara dapat dilekatkan pada bagian belakang geligi maksila
sehingga kontraksi otot-otot faring dan velfaring dapat menyebabkan jaringanjaringan bersentuhan dengan balon tadi untuk menghasilkan penutup nasoporing.
2. Penta laksanaan Keperawatan
a. Perawatan Pra-Operasi:
1) Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi.
a) Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka
b) Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
c) Diskusikan tentang pembedahan
d) Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif
terhadap bayi.
e) Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
2) Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan
pengobatan bayi.
a) Tahap-tahap intervensi bedah
b) Teknik pemberian makan
c) Penyebab devitasi
3) Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.
a) Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang
cocok.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap.
5

b) Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding
mulut.
c) Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah.
d) Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan
e) Kaji respon bayi terhadap pemberian susu.
f) Akhiri pemberian susu dengan air.
4) Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas
a) Pantau status pernafasan
b) Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan
c) Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi
b. Perawatan Pasca-Operasi
1) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate
a) Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok.
b) Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
c) Lanjutkan dengan diet lunak
d) Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
2) Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak.
a) Bersihkan garis sutura dengan hati-hati
b) Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis)
c) Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan.
d) Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan
untuk mencegah terjadinya aspirasi.
e) Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
f) Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
g) Perhatikan pendarahan, cdema, drainage.
h) Monitor keutuhan jaringan kulit
i) Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril,
missal alat tensi
2.7 Asuhan Kepaerawatan Secara Teori
2.7.1 Pengkajian

1. Riwayat Kesehatan
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga,
berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan berat
badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik
sumbing.
b. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
c. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
d. Kaji tanda-tanda infeksi
e. Palpasi dengan menggunakan jari
f. Kaji tingkat nyeri pada bayi
3. Pengkajia Keluarga
a. Observasi infeksi bayi dan keluarga
b. Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
c. Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d. Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan mengatur
perawatan di rumah.
e. Kaji tingkat pengetahuan keluarga.
2.7.2 Diagnosa keperawatan
1. Kuping Keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis
perkembangan /keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
2. Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh
bagian atas.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
2.7.3 Intervensi
1. DX.1 : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain dan krisis
perkembangan / keadaan dari orang lain terdekat mungkin muncul ke permukaan.
7

NOC.: Family kuping


KH :
a. Mengatur masalah
b. Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
c. Menggunakan startegi pengurangan stress
d. Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Family Support
a. Dengarkan apa yang diungkapkan
b. Bangun hubungan kepercayaan dalam keluarga
c. Ajarkan pengobatan dan rencana keperawatan untuk keluarga
d. Gunakan mekanisme kopoing adaptif
e. Mengkonsultasikan dengan anggota keluarga utnk menambahkan kopoing yang
efektif.
2. DX.II: Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi
tubuh bagian atas.
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor lingkungan faktor resiko
b. Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
c. Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
d. Monitor perubahan status kesehatan
e. Monitor faktor resiko individu
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan

3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Aspiration Precaution
a. Monitor status hormonal
b. Hindari penggunaan cairan / penggunaan agen amat tebal
c. Tawarkan makanan / cairan yang dapat dibentuk menjadi bolu sebelum ditelan.
d. Sarankan untuk berkonsultasi ke Patologi
e. Posisikan 900 atau lebih jika memungkinkan.
f. Cek NGT sebelum memberi makan
3. DX. III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak
seimbangan
NOC :
a. Menggunakan pesan tertulis
b. Menggunakan bahasa percakapan vokal
c. Menggunakan percakapan yang jelas
d. Menggunakan gambar/lukisan
e. Menggunakan bahasa non verbal
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Perbaikan Komunikasi
a. Membantu keluarga dalam memahami pembicaraan pasien
b. Berbicara kepada pasien dengan lambat dan dengan suara yang jelas.
c. Menggunakan kata dan kalimat yang singkat
d. Mendengarkan pasien dengan baik
e. Memberikan reinforcement/pujian positif pada keluarga
f. Anjurkan pasien mengulangi pembicaraannya jika belum jelas

4. DX. IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor
biologis.
NOC : Status Nutrisi
KH :
a. Stamina
b. Tenaga
c. Penyembuhan jaringan
d. Daya tahan tubuh
e. Pertumbuhan (untuk anak)
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Nutrition Monitoring
a. BB dalam batas normal
b. Monitor type dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
c. Monitor interaksi anak/orangtua selama makan
d. Monitor lingkungan selama makan
e. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
f. Monitor turgor kulit
g. Monitor rambut kusam, kering dan mudah patah
h. Monitor pertumbuhan danperkembangan

5. DX. V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik


NOC : Tingkat Kenyamanan
KH :
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.

10

b. Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.


c. TTV dalam batas normal
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Pain Management
a. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meiputi : Lokasi, karkteristik, durasi,
frekwensi, kualitas dan intensitas nyeri.
b. Observasi isarat-isarat non verbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan komunikasi teraupeutik agar pasien dapat nyaman mengekspresikan
nyeri.berikan dukungan kepada pasien dan keluarga.
6. DX. VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor gejala kemunduran penglihatan
b. Hindari tauma mata
c. Hindarkan gejal penyakit mata
d. Gunakan alat melindungi mata
e. Gunakan resep obat mata yang benar
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Identifikasi Resiko
a. Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan rencana berkelanjutan
b. Menentukan sumber yang finansial

11

c. Identifikasi sumber agen penyakit untuk mengurangi faktor resiko


d. Menentukan pelaksanaan dengan treatment medis dan perawatan.
2.7.4 Evaluasi
1. Diagnosa I : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau
krisis perkembangan keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
Mengatur masalah
Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
Menggunakan startegi pengurangan stress
Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
2. Diagnosa II : Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat
elevasi tubuh bagian atas.
Monitor lingkungan faktor resiko
Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
Monitor perubahan status kesehatan
3. Diagnosa III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
ketidakseimbangan.
Menggunakan pesan tertulis
Menggunakan bahasa percakapan vokal
Menggunakan percakapan yang jelas
Menggunakan gambar/lukisan
Menggunakan bahasa non verbal
4. Diagnosa IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidak mampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis.
Stamina
Tenaga
Penyembuhan jaringan
Daya tahan tubuh

12

Pertumbuhan (untuk anak)


5. Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
TTV dalam batas normal
6. Diagnosa VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
Monitor gejala kemunduran penglihatan
Hindari tauma mata
Hindarkan gejal penyakit mata
Gunakan alat melindungi mata
Gunakan resep obat mata yang benar.

13

BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN
A.

Identitas Klien

1. Nama

: By. DWM

2. Tempat/Tanggal lahir

: Klaten/27 Agustus 2004 Jam 01.25 WIB

3. Nama ayah/Ibu

: Tn. Radimo/Ny. Agus Rejeki

4. Pekerjaan ayah

: Guru SMK

5. Pendidikan ayah

: S1

6. Pekerjaan ibu

: Karyawan asuransi

7. Pendidikan ibu

: SMA

8. Alamat

: Bener, Wonosari, Klaten

9. Agama

: Islam

10. Kultur

: Jawa

11. No. RM

: 1151478

12. Tanggal masuk RS

: 11 September 2004

B.

Keluhan Utama

Observasi takipnea dan kardiomegali kiriman dari RS Dr. Oen Solo. Bayi wanita
lahir dari ibu P2 A0 dengan umur kehamilan 9 bulan (mundur 2 minggu dari
perkiraan). Lahir spontan ditolong oleh dokter kandungan, bayi langsung
menangis. Apgar score 6-8-9, air ketuban hijau keruh, tidak terjadi KPD, BBL
3650 gram. Mekonium keluar < 24 jam, dengan palatoskisis. Bayi dirawat di
kamar bayi fisiologis selama observasi nafas cepat (> 100 kali/menit), jika bayi
menangis tampak biru, akhirnya dirawat di ruang patologis selama 2 hari. Suhu
bayi stabil, menangis kuat, refleks hisap baik, minum ditetesi dan melalui NGT.
Rontgent thorak dengan hasil kardiomegali, terapi yang diberikan amcillin 2x500
mg, sagestam salep mata 3xgtt I. Karena tidak ada perubahan kondisi bayi dirujuk
ke RS Dr. Sardjito.
C. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

14

1. Prenatal
a. Jumlah kunjungan
1). Trimester I

: Tiap 2 minggu sekali

2). Trimester II

: Tiap 2 minggu sekali

3). Trimester III

: Tiap minggu sekali.

b. Periksa
Ibu menyatakan selama hamil periksa di dokter spesialis kandungan.
c. Pendidikan kesehatan yang didapat
Mengenai gizi pada ibu hamil.
d. HPHT
20 Desember 2003
e. Kenaikan BB selama hamil
Ibu menyatakan selama hamil berat badan naik 14 Kg dari 59 menjadi 73 Kg.
f. Komplikasi kehamilan
Ibu menyatakan tidak mengalami komplikasi selama hamil.
g. Komplikasi obat
Tidak ada.
h. Obat-obatan yang didapat
Seingat ibu dia mendapatkan obat emineton dan elkana, yang lainnya tidak tahu
namanya.
i. Riwayat hospitalisasi
Ibu belum pernah dirawat di RS baik sebelumnya maupun selama hamil.
j. Golongan darah ibu
Ibu mengatakan golongan darahnya B.
k. Pemeriksaan kehamilan/Maternal Screening
Ibu menyatakan tidak melakukan tes skrining khusus untuk mengetahui adanya
penyakit.
2.

Natal

a.

Awal persalinan

Ibu menyatakan mulai merasa kenceng-kenceng sekitar pukul 17.00 WIB, ketika
dibawa ke RB pukul 18.00 WIB sudah pembukaaan 2.
b. Lama persalinan

15

Mulai pukul 18.00 s/d 01.25 WI (7 jam 25 menit).


c. Komplikasi
Tidak mengalami komplikasi persalinan.
d. Terapi yang diberikan
Tidak diketahui, ibu mengatakan tidak tahu.
e. Cara melahirkan
Bayi dilahirkan pervaginam, spontan.
f. Tempat melahirkan
Bayi dilahirkan di rumah bersalin ditolong oleh dokter kandungan.
3. Postnatal
a. Usaha nafas
Bayi bernafas tanpa bantuan, langsung menangis spontan.
b. Kebutuhan resusitasi
1). Jenis dan lamanya
Bayi tidak mendapatkan resusitasi.
2). Apgar skor
Menit 1 apgar skor 6 (asfiksia ringan-sedang).
Menit 5 apgar skor 8 (normal).
Menit 10 apgar skor 9 (normal).
c. Obat-obatan yang diberikan pada neonatus
Bayi mendapatkan amcillin 2 x 500 mg dan sagestam salep mata 3 x gtt I.
d. Interaksi orang tua dan bayi
1). Kualitas
Selama dirawat di RS interaksi baik, kedua orang tua secara rutin menemui
bayinya terutama ibu untuk memberikan ASI, bayi dipegang, dimasasse, kadangkadang digendong, dibersihkan, diajak bicara. Tetapi ekspresi wajah ibu tampak
tegang ketika menemui anaknya dan gelisah ketika diminta mencoba memberikan
minum pada anaknya. Juga tampak gugup ketika menggendong anaknya.
2). Lamanya
Bayi sering ditemui terutama setiap pemberian ASI (pagi, siang, sore, malam) dan
juga waktu lain diluar jam pemberian ASI.
e. Trauma lahir

16

Tidak terdapat tanda-tanda trauma lahir.


f. Narkosis
Bayi tidak mengalami narkosis
g. Keluarnya urin/bab
Mekonium keluar < 24 jam, disertai bak.
h. Respon fisiologis atau perilaku yang bermakna
Bayi mengalami palatoskisis sehingga harus dirawat terpisah dengan ibunya, bayi
tidak diteteki tapi pemberian minum melalui ditetesi pada mulut dan pemasangan
NGT. Selama observasi bayi mengalami takipnea dan gambaran kardiomegali.
Refleks menghisap lemah.
D. Riwayat Keluarga
Menurut ibu tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa baik dari
pihak ibu maupun dari pihak ayah, juga tidak ada riwayat penyakit keturunan atau
penyakit kronis.
E. Riwayat Sosial
1. Sistem pendukung/keluarga yang dapat dihubungi
Jika ada masalah dalam keluarga, selalu minta bantuan dan dukungan dari orang
tua dan saudaranya baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selama anak
dirawat di RS ibu mertua membantu merawat anak pertamanya di rumah.
2. Hubungan orang tua dan bayi
Tindakan
Menyentuh
Memeluk
Berbicara
Berkunjung
Kontak mata
3. Anak yang lain
Jenis Kelamin
Perempuan

Ibu
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Riwayat Persalinan
Spontan

Ayah
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Riwayat Imunisasi
Lengkap

4. Lingkungan rumah
Ibu menyatakan rumah milik sendiri, bangunan sudah permanen, hanya ditempati
oleh keluarganya (keluarga inti). Memiliki WC sendiri di dalam rumah dengan
17

sumber air PAM, sumber penerangan malam hari listrik, ventilasi cukup, sinar
matahari dapat masuk rumah, kondisi rumah terang, dan setiap hari dibersihkan.
Rumah berada di tepi jalan raya dan berdekatan dengan tetangga lainnya, di dekat
rumah terdapat rumah sakit bersalin.
5. Masalah sosial yang penting
Ibu merasa tidak ada masalah sosial yang cukup mengganggu, hanya merasa
heran kenapa anak pertamanya baik-baik saja tapi anak kedua ini mengalami
palatoskisis. Ibu juga tampak sering bingung dan mengatakan kecemasannya akan
kondisi anaknya dan bagaimana nanti di rumah. Kedua orang tua berharap ingin
segera membawa anaknya pulang ke rumah.
F. Keadaan Kesehatan Saat Ini
1. Diagnosa medis
BBLC, CB, SMK
Bronkopneumonia
Palatoskisis.
2. Tindakan operasi
Bayi belum pernah dilakukan tindakan operasi, masih dalam rencana sampai bayi
berumur cukup, saat ini masih dalam perawatan untuk memperbaiki keadaan
umum.
3. Status nutrisi
BB lahir 3650 gr, BB sekarang 3700 gr, status gizi baik.
Ibu mengatakan belum berani memberikan minum melalui mulut, kata dokter
nanti dapat tersedak. Ibu juga menanyakan tentang bagaimana nanti perawatan di
rumah, terutama memberikan minum pada bayinya, tempat membeli dot khusus,
kapan diperbolehkan pulang.

4. Status cairan
Turgor kulit baik, mukosa mulut kemerahan dan basah, elastisitas kulit baik, bayi
tidak terpasang infus. Kebutuhan cairan 160 cc/KgBB/hari (592 cc/hari).

18

Kebutuhan kalori 107 kkal/KgBB/hari ( 395 kkal/hari). Komposisi makanan


ASI/Vitalac 8 x 70-75 cc.
5. Obat-obatan
Nebulizer ventolin 1 amp + NaCl 3 cc 4 x/hr
Ceftazidime 3 x 100 mg
Amikazin 2 x 25 mg.
6. Aktivitas
Bayi tampak aktif menggerakkan kaki dan tangan, tampak tidak mau digedong,
ekstremitas kemerahan. Skala maturitas Dubowitz 48 (usia gestasi 38 minggu).
7. Tindakan keperawatan yang telah dilakukan
Monitor tanda-tanda vital dan intake output, pengaturan suhu tubuh dan ruangan,
fisioterapi dada, penghisapan sekret, pengaturan posisi tidur, nebulizer, pemberian
nutrisi, perawatan diri, terapi oksigen jika bayi cyanosis.
8. Hasil laboratorium
Tanggal 11-09-2004
CRP

5 mg/L (N)

Na

135 mmol/L (N 135-146)

TP

5.83 g/dl ( 6.4-8.3)

5.5 mmol/L (N 2.4-5.4)

Alb

2.82 g/dl ( 3.5-5)

Cl

100 mmol/L (N 95-108)

Ca

2.32 mmol/L (N 2.10-2.54)

Tanggal 19-09-2004
CRP

< 5 mg/L (N < 6 mg/L)

MCV 87.9 ( 96-116)

WBC

14.07 (N 10-26)

MCH 27.6 (N 24-34)

Neut

6.30 (N 5-13)

MCHC 31.4 (N 30-35)

Lym

5.81 (N 3.5-8.5)

PLT

Mono

1.49 (N 0.5-1.5)

PDW 12.4 (N 11.5-17.5)

Eo

0.47 (N 0.1-2.5)

MPV 10.5 ( 5.3-8.7)

RBC

6.27 ( 4-6)

HCT

Hb

17.3 (N 13.5-19.5)

375 (N 150-450)

55.1 (N 44-64)

Tanggal 22-09-2004
Sensitivitas sputum: Jenis kuman
1. Pseudomonas aeroginosa

19

2. Klebsiella pneumonia
3. Stapilokokkus saprophyticus
Kuman I
Ceftazidime 2mg
Tobramycin 10 mg
Ciprofloxacin 5 mg
Polymyxin B 300 U
Imipenem 10 mg
Cefepime 30 mg
Cefpirom 30 mcg

Kuman II
Polymyxin B 300 U
Imipenem 10 mg
Amikasin 30 mg
Cefepime 30 mg
Cefpirom 30 mcg

Kuman III
Novobiocin 30 mcg

Tanggal 27-09-2004
WBC

12.77 (N 10-26)

MCV

86.2 ( 96-116)

Neut

3.95 ( 5-13)

MCH

26.7 (N 24-34)

Lym

7.46 (N 3.5-8.5)

MCHC

30.9 (N 30-35)

Mono

0.82 (N 0.5-1.5)

PLT

283 (N 150-450)

Eo

0.50 (N 0.1-2.5)

PDW

13.3 (N 11.5-17.5)

RBC

5.66 (N 4-6)

MPV

10.6 ( 5.3-8.7)

Hb

15.1 (N 13.5-19.5)

HCT

48.8 (N 44-64)

Sediaan apus darah tepi: Eritrosit: normositik hipokromik; lekosit: jumlah cukup,
granula toksik netrofil, limfosit atipik; trombosit: jumlah cukup, merata, trombosit
besar. Kesan: Gambaran proses inflamasi.
9. Pemeriksaan penunjang
Tanggal 11-09-2004
EKG: Sinus takikardia
Foto thorak: Kardiomegali, corakan bronkovaskuler normal.
Tanggal 04-10-2004
Foto thoraks: Bronkopneumonia dekstra membaik.
10. Lain-lain
Bayi mendapatkan program fisioterapi dada sejak 17-09-2004 (sampai sekarang
sudah 12 kali).
G. Pemeriksaan Fisik

20

1. Keadaan umum
a). Kesadaran
PCS E4 M6 A5 (compos mentis)
b). Tanda-tanda vital
Nadi: 144 kali/menit, Suhu; 36,6 oC, RR: 60 kali/menit, TD: Berat badan
Panjang badan
Lingkar kepala
Lingkar dada
Lingkar perut
Lingkar lengan atas

Saat Lahir
3650 gr
49 cm
35 cm
34 cm
13 cm

Saat Ini
3700 gr
54 cm
36 cm
37 cm
38 cm
16 cm

2. Refleks
Refleks moro baik, menggenggam baik, menghisap lemah.
3. Tonus/aktivitas
Bayi tampak aktif, dapat menangis keras.
4. Kepala/leher
a). Fontanel anterior: datar.
b). Sutura sagitalis: tepat menyambung.
c). Gambaran wajah: simetris
d). Molding: tidak terdapat caput succedaneum atau chepalohematoma.
5. Mata
Tampak bersih
6. THT
a). Telinga: normal
b). Hidung: bilateral, tidak tampak penggunaan cuping hidung selama bernafas.
Ibu mengatakan sejak masuk RS suara nafas anaknya nggrok-nggrok.
c). Palatum: abnormal palatoskisis, tampak lubang/celah pada bagian palatum
medial, diameter 2 cm.
d). Terpasang NGT, Ibu mengatakan anaknya terpasang sonde sejak masuk RS
dan mendapatkan suntikan terus.
7. Abdomen
a). Teraba lunak.

21

b). Lingkar perut 38 cm.


c). Liver: kurang dari 2 cm.
8. Toraks
a). Tampak simetris antara kanan dan kiri.
b). Penggunaan pernafasan diafragma dengan retraksi dinding dada minimal.
c). Klavikula: normal.
9. Paru-paru
a). Suara nafas: terdengar suara stridor saat inspirasi, pada paru kanan terdengar
suara rales, tampak adanya penumpukan sekret.
b). Respirasi: spontan, frekwensi 60 kali/menit, irama cepat, dalam.
10. Jantung
a). Bunyi normal (NSR), frekwensi 144 kali/menit, tidak terdengar bunyi
tambahan.
b). Nadi perifer
Brakhial kanan
Brakhial kiri
Femoral kanan
Femoral kiri

Berat
Ya
Ya
Ya
Ya

Lemah
-

Tidak Ada
-

11. Ekstremitas
a). Semua ekstremitas gerak, ROM maksimal.
b). Ekstremitas atas dan bawah simetris, pada tangan kanan terpasang jalur iv
unutk injeksi.
12. Umbilikus
Normal, tidak terdapat inflamasi dan tidaka ada pengeluaran cairan.
13. Genital
Perempuan normal.
14. Anus
Paten.
15. Spina
Normal.
16. Kulit
a). Warna kemerahan (pink).

22

b). Tidak tampak adanya iritasi atau perlukaan.


c). Tidak ada tanda lahir.
17. Suhu
a). Lingkungan: bayi diletakkan bersama bayi yang lain di dalam boks terbuka,
dalam ruangan terpasang pendingin sehingga dilakukan pengaturan suhu.
b). Suhu kulit: 36.6 oC pengukura aksilla.
18. Komentar
Bayi mengalami palatoskisis dan didiagnosa menderita bronkopneumonia
dengan tanda dan
gejala penumpukan sekresi pada jalan nafas. Selain hal tersebut bayi dalam
keadaan baik dan normal.
H.

Pemeriksaan Tingkat Perkembangan

1. Kemandirian dan bergaul


Mampu melihat muka orang lain, berespon terhadap rangsang yang diberikan
(tersenyum), mengamati tangannya.
2. Motorik halus
Bayi mampu melihat sekitarnya, mengikuti objek, melihat seseorang yang
mendekatinya.
3. Kognitif dan bahasa
Mengeluarkan suara oo/aah, mampu memperhatikan suara orang lain.
4. Motorik kasar
Tangan mampu mengepal.
5. Kesimpulan perkembangan
Bayi menangis jika tidak nyaman, membuat suara tenggorok pelan, memandang
wajah dengan sungguh-sungguh, berespon secara berbeda terhadap objek yang
berbeda, dapat tersenyum, menggerakkan kedua lengan dan tungkai sama
mudahnya ketika terlentang, memberikan reaksi dengan melihat ke arah sumber
cahaya, memberikan reaksi terhadap suara.
3.2 ANALISA DATA
DATA
DS:

MASALAH
Risiko aspirasi

PENYEBAB
Abnormalitas palatum
23

Ibu mengatakan belum berani


memberikan minum melalui
mulut, kata dokter nanti dapat
tersedak.
DO:
Palatum: abnormal palatoskisis,
tampak lubang/celah pada bagian
palatum medial, diameter 2 cm.

DS:

Bersihan

Ibu mengatakan sejak masuk RS

jalan

nafas Penumpukan sekresi

tidak efektif

suara nafas anaknya nggroknggrok.


DO:
1. Pernafasan diafragma dengan
retraksi dinding dada minimal.
2. Terdengar suara stridor saat
inspirasi,

pada

paru

kanan

terdengar suara krakles, tampak


adanya penumpukan sekret.
3. Respirasi: spontan, frekwensi 60
kali/menit, irama cepat, dalam.

DS:
1. Ibu mengatakan anaknya

Risiko infeksi

Prosedur invasif, sistem


imun belum matur

terpasang sonde sejak masuk RS


dan mendapatkan suntikan terus.
DO:
1. Terpasang selang NGT.
2. Terpasang jalur iv untuk
injeksi.

24

3. Bayi CB, SMK, usia 1 bulan 7


hari.
4. Neut

3.95 ( 5-13) (tgl

27-09-2004).
5. Sediaan apus darah tepi: Kesan;
Gambaran proses inflamasi (tgl
27-09-2004).
DS:

Kurang
Ibu

menanyakan

tentang penyakit,

pengetahuan: Kurangnya informasi


prosedur

bagaimana nanti perawatan di perawatan


rumah,

terutama

minum

pada

bayinya,

tempat

dot

khusus,

kapan

membeli

memberikan

diperbolehkan pulang.
DO:
Tampak sering bingung.
Menyampaikan pertanyaan.

DS:

Kecemasan (orang tua)

Krisis situasional

Ibu mengatakan kecemasannya


akan

kondisi

anaknya

dan

bagaimana nanti di rumah.


Orang tua mengatakan ingin
segera membawa anaknya pulang
ke rumah.
Ibu menyatakan belum berani
memberikan minum pada anaknya.
DO:
1. Ekspresi wajah tampak tegang
ketika menemui anaknya.
2. Tampak gelisah ketika diminta
mencoba memberikan minum

25

pada anaknya.
3. Tampak
gugup

ketika

menggendong anaknya.
DS:

Pola makan bayi tidak Abnormalitas anatomik

Ibu mengatakan belum berani

efektif

menyusui apalagi kata dokter


anaknya mengalami palatoskisis
dimana dapat tersedak dan masuk
paru-paru.
DO:
1. Bayi dengan palatoskisis.
2. Refleks menghisap masih
lemah.
3. Terdengar stridor dan sekret di
saluran nafas.
4. Saat dicoba diteteki bayi
tersedak.
3.3 Diagnosa keperawatan
1. Kuping Keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis
perkembangan /keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
2. Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh
bagian atas.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
3.4 Intervensi
1. DX.1 : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain dan krisis
perkembangan / keadaan dari orang lain terdekat mungkin muncul ke permukaan.
NOC.: Family kuping
KH :

26

a. Mengatur masalah
b. Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
c. Menggunakan startegi pengurangan stress
d. Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Family Support
a. Dengarkan apa yang diungkapkan
b. Bangun hubungan kepercayaan dalam keluarga
c. Ajarkan pengobatan dan rencana keperawatan untuk keluarga
d. Gunakan mekanisme kopoing adaptif
e. Mengkonsultasikan dengan anggota keluarga utnk menambahkan kopoing yang
efektif.
2. DX.II: Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi
tubuh bagian atas.
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor lingkungan faktor resiko
b. Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
c. Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
d. Monitor perubahan status kesehatan
e. Monitor faktor resiko individu
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan

27

5. Selalu dilakukan
NIC : Aspiration Precaution
a. Monitor status hormonal
b. Hindari penggunaan cairan / penggunaan agen amat tebal
c. Tawarkan makanan / cairan yang dapat dibentuk menjadi bolu sebelum ditelan.
d. Sarankan untuk berkonsultasi ke Patologi
e. Posisikan 900 atau lebih jika memungkinkan.
f. Cek NGT sebelum memberi makan
3. DX. III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak
seimbangan
NOC :
a. Menggunakan pesan tertulis
b. Menggunakan bahasa percakapan vokal
c. Menggunakan percakapan yang jelas
d. Menggunakan gambar/lukisan
e. Menggunakan bahasa non verbal
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Perbaikan Komunikasi
a. Membantu keluarga dalam memahami pembicaraan pasien
b. Berbicara kepada pasien dengan lambat dan dengan suara yang jelas.
c. Menggunakan kata dan kalimat yang singkat
d. Mendengarkan pasien dengan baik
e. Memberikan reinforcement/pujian positif pada keluarga
f. Anjurkan pasien mengulangi pembicaraannya jika belum jelas
4. DX. IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

28

dengan ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor


biologis.
NOC : Status Nutrisi
KH :
a. Stamina
b. Tenaga
c. Penyembuhan jaringan
d. Daya tahan tubuh
e. Pertumbuhan (untuk anak)
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Nutrition Monitoring
a. BB dalam batas normal
b. Monitor type dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
c. Monitor interaksi anak/orangtua selama makan
d. Monitor lingkungan selama makan
e. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
f. Monitor turgor kulit
g. Monitor rambut kusam, kering dan mudah patah
h. Monitor pertumbuhan danperkembangan

5. DX. V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik


NOC : Tingkat Kenyamanan
KH :
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
b. Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
c. TTV dalam batas normal

29

Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Pain Management
a. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meiputi : Lokasi, karkteristik, durasi,
frekwensi, kualitas dan intensitas nyeri.
b. Observasi isarat-isarat non verbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan komunikasi teraupeutik agar pasien dapat nyaman mengekspresikan
nyeri.berikan dukungan kepada pasien dan keluarga.
6. DX. VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor gejala kemunduran penglihatan
b. Hindari tauma mata
c. Hindarkan gejal penyakit mata
d. Gunakan alat melindungi mata
e. Gunakan resep obat mata yang benar
Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Identifikasi Resiko
a. Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan rencana berkelanjutan
b. Menentukan sumber yang finansial
c. Identifikasi sumber agen penyakit untuk mengurangi faktor resiko
d. Menentukan pelaksanaan dengan treatment medis dan perawatan.
2.7.4 Evaluasi
30

1. Diagnosa I : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau


krisis perkembangan keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
Mengatur masalah
Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
Menggunakan startegi pengurangan stress
Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
2. Diagnosa II : Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat
elevasi tubuh bagian atas.
Monitor lingkungan faktor resiko
Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
Monitor perubahan status kesehatan
3. Diagnosa III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
ketidakseimbangan.
Menggunakan pesan tertulis
Menggunakan bahasa percakapan vokal
Menggunakan percakapan yang jelas
Menggunakan gambar/lukisan
Menggunakan bahasa non verbal
4. Diagnosa IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidak mampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis.
Stamina
Tenaga
Penyembuhan jaringan
Daya tahan tubuh
Pertumbuhan (untuk anak)
5. Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

31

Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.


Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
TTV dalam batas normal
6. Diagnosa VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
Monitor gejala kemunduran penglihatan
Hindari tauma mata
Hindarkan gejal penyakit mata
Gunakan alat melindungi mata
Gunakan resep obat mata yang benar.

32

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena
kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L.
2003).
Etiologi dari palatoskisis adalah faktor herediter, kegagalan fase embrio
yang penyebabnya belum diketahui, akibat gagalnya prosessus maksilaris dan
prosessus medialis menyatu, dapat dikaitkan abnormal kromosom, mutasi gen dan
teratogen (agen/faktor yang menimbulkan cacat pada embrio), beberapa obat
(korison, anti konsulfan, klorsiklizin), mutasi genetic atau teratogen.
Patofisiologi dari palatoskisis adalah kegagalan penyatuan

atau

perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase embrio pada trimester I,
terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan
maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu, palatoskisis
adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan
penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu, penggabungan
komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.
Manifestasi klinis dari palatoskisis adalah deformitas pada bibir, kesukaran
dalam menghisap/makan, kelainan susunan archumdentis, distersi nasal sehingga
bisa menyebabkan gangguan pernafasan, gangguan komunikasi verbal.
4.2 Saran
4.2.1 Mengevaluasi perawat dalam melakukan tindakan
4.2.2 Dapat diterapkan pada pasien palastokisis

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.
2. Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :
Salemba Medika.
3. Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.
4. Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
5. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
6. http://mvzpry.blogspot.com/2009/05/bab-i-pendahuluan.html
7. http://appinet.blogspot.com/2010/03/labioskisispalatoskisis.html
https://www.scribd.com/doc/77766620/MAKALAH-LABIO-PALATOSKISIS
(diunduh pada tanggal 14 September 2015 pukul 20.55 WIB)
http://ilmu-kesehatan-masyarakat2.blogspot.com/2014/11/contoh-askep-anak-denganpalatoskisis.html (diunduh pada tanggal 14 September 2015 pukul 21.00 WIB)

34