Anda di halaman 1dari 26

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III

MRA-MMJ Pipeline Project


BAB II
LATAR BELAKANG PROYEK
II.1.

URAIAN UMUM
Langkah pertama dalam menyusun Konsep Perencanaan sebuah

proyek adalah untuk mengetahui segala aspek dari proyek tersebut yang
nantinya dibutuhkan dalam proses perencanaan. Dan untuk menjabarkan
apa saja aspek yang diperlukan dalam perencanaan proyek ini, penulis
menggunakan sistem 4W = 1W + 1H , yaitu sebagai berikut :
1. What /Apa
Apa proyek yang akan direncanakan ?
Apa saja dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar
dari pelaksanaan proyek tersebut ?
Apa saja jenis Perizinan yang perlu diurus dalam proyek
tersebut ?
2. When /Kapan
Kapan Proyek tersebut dimulai ?
Kapan Proyek tersebut selesai ?
3. Where /Dimana
Dimana Proyek tersebut akan dilaksanakan ?
4. Who /Siapa
Siapa saja pihak yang terkait dalam Proyek tersebut ?
Dari

4W

diatas

maka

penulis

sebagai

Konseptor

Perencana

mendapatkan 1W + 1H, yaitu :


5. Why /Kenapa
Kenapa proyek tersebut layak untuk dilaksanakan ?
6. How /Bagaimana
Bagaimana caranya agar proyek tersebut dapat terlaksana
dengan se-efisien mungkin ?
Dalam hal ini, 4W merupakan gambaran besar dari apa yang akan
dibahas dalam bab 2 (dua). Penulisan bab 2 (dua) adalah sebagai usaha

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
dari penyusun untuk mengerti dan mengetahui tentang MRA-MMJ Pipeline
Project secara keseluruhan dan dalam konteks yang diperlukan untuk
proses perencanaan.

II.2.

GAMBARAN UMUM PROYEK


Nama proyek yang menjadi studi kasus laporan kerja praktek ini adalah MRA-MMJ

Pipeline Project. PT PHE ONWJ berencana memasang pipa baru berupa Main Oil Line
untuk memastikan kontinuitas proses produksi. Terdapat pipa 8 inchi yang telah terpasang
diantara Platform MRA dan Platform MMJ yang akan beralih fungsi menjadi penyalur gas
dari Production Separator 6.6 MMSCFD dan pipa crude oil baru yang akan mentransfer
crude oil dari 5500 BFPD Production Separator dengan 10% water cut menuju
Atmospheric Separator pada MMF. Saat ini, produksi fluid berada dalam angka 2700
BOPD dan 140 MMSCFD yang berasal dari pipa 8 inchi MRA-MMJ dengan panjang 6.8
km. Produksi di masa depan direncanakan akan mencapai angka 4500 BOPD (5000 BFPD
dengan pengurangan air sebesar 10%) dengan menambah sumur baru dan mengembangkan
oil residu di reservoir menuju gas lift field wide implementation. Untuk menyesuaikan
dengan strategi penaikan produksi, PHE ONWJ akan melakukan pemasangan production
separator pada platform MRA untuk memisahkan gas dan liquid untuk disalurkan ke pipa
masing-masing.

II.3.

LINGKUNGAN PROYEK
Dengan mengetahui lingkungan dimana Offshore Pipeline akan

diletakkan maka konseptor perencana dapat mengumpulkan informasi


mengenai letak geografis, keadaan perairan, iklim & cuaca, keadaan
lalu lintas, serta keadaan sosial ekonomi lingkungan tersebut. Informasi
tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
merencanakan berbagai jenis prosedur pelaksanaan, yaitu diantaranya
adalah :
1. Prosedur pelaksanaan transportasi kapal tongkang (barge)
2. Prosedur pelaksanaan instalasi Offshore Pipeline
3. Prosedur AMDAL

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
4. Prosedur Pengurusan Izin Lingkungan
5. Perencanaan Keuangan (Cash Flow)
II.3.1. Lingkungan Fisik
1. Letak Geografis
Area kerja dari PHE-ONWJ terbentang dari cirebon di sebelah timur dan
membentang hingga kepulauan seribu di sebelah barat, sekitar 50 mil dari
pantai. Lokasi MRA berada di bagian barat dari lokasi Lepas Pantai Utara Jawa
Barat/Offshore North West Java (ONWJ) Lapangan ini telah berproduksi dari 1984, memiliki 6
sumur dengan 5 sumur yang berproduksi secara aktif. Platform jenis MRA adalah
instalasi tanpa awak (unmanned installation) dengan struktur tripod.
Infrastruktur ini terdiri dari kepala sumur dan manifold, sump tank, sump
pump, pig launcher gas lift system (in situ) dan fasilitas terkait seperti
sistem pengeringan, sistem instrumen gas dan sebagainya. Fluida berbagai
fase dari produser secara kontinu bercampur di production header dan
dikirim ke platform MMJ untuk pemisahan berlanjut antara gas dengan
liquid.

Gambar 2.1. Lokasi Area Mike-Mike, Lepas Pantai


Utara Jawa Barat
2. Kondisi Hidro-Oseanografi

a. Bathimetri

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Kedalaman perairan di sekitar lokasi rencana kegiatan adalah 20 m dicapai pada jarak
kurang lebih 100 m hingga 250 m dari garis pantai. Topografi garis pantai
sepanjang lokasi studi secara umum landai.

Tabel 2.1. Kedalaman dan Koordinat Area


Platform
b. Pasang surut
Pasang surut di perairan pantai calon lokasi kilang memiliki beda tinggi air
pasang dan air surut berkisar antara 100 sampai 120 cm. Tipe pasang surut
daerah tersebut adalah semidiurnal dengan dua kali pasang dan dua kali
surut dalam satu hari.
c. Gelombang
Kondisi gelombang di lokasi studi relatif kecil dan sangat tenang.
Gelombang terlihat antara 0,1 m sampai 0,5 m terjadi di sekitar sore hari.
Gelombang maksimum mencapai ketinggian >1,7 m. Gelombang tersebut
terjadi pada saat angin musim Timur dan Tenggara atau terjadi pada bulan
April sampai bulan Agustus (Atlas Wilayah Pesisir Jawa Barat Utara, 2014).
d. Arus
Secara umum arus di daerah studi relatif kecil berkisar antara 0,1 sampai
0,9 m/detik.
e. Kualitas air laut
Kualtias air laut di beberapa lokasi sekitar rencana kegiatan mempunyai
kualitas yang relatif baik, namun beberapa parameter melebihi ambang
batas baku mutu yaitu sulfide, cadmium, tembaga dan timbal.
f.

Sedimentasi melayang dan sedimentasi pantai

Kondisi sedimen melayang di lokasi studi secara umum terlihat sangat


jernih yang berarti tidak mengandung sedimen.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

3. Biota Air Laut

a. Ikan
Pemanfaatan sumber daya alam utama di wilayah lepas pantai utara jawa barat adalah bidang
perikanan laut, meliputi perikanan tangkap maupun budidaya laut dan air payau (tambak).
Jenis-jenis yang dimanfaatkan tidak hanya ikan saja tetapi juga biota laut berkulit keras seperti
udang-udangan, biota laut berkulit lunak seperti cumi, dan rumput laut.

b. Terumbu Karang
Sebaran dan luas ekosistem terumbu karang di pesisir utara Jawa Barat hanya terbatas pada
beberapa tempat di Kabupaten Karawang, Subang dan Indramayu (Tabel 7.1). Di Indramayu
terumbu karang ditemukan di daerah Majakerta dan Pantai di Kecamatan Indramayu serta
pulau-pulau yang terdapat di sebelah utara Kota Indramayu seperti Pulau Biawak (Pulau
Rakit), P. Gosong, dan Candikia (Rakit Utara) dengan luas 1.235 Ha. Terumbu karang di
Kabupaten Karawang terdapat di gugus karang Sedulang dan Sedari yang tersebar berupa
gosong karang (patch reefs) dengan kedalam antara 4-12 meter di perairan pesisir sekitar
Cilamaya. Sedangkan di Kabupaten Subang terumbu karang tersisa terdapat di daerah Brobos.

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Ciamis 2008;SLHD Kabupaten


Karawang, Indramayu 2007; Laporan Profil Pulau-Pulau Kecil : Pulau
Biawak, Pulau Rakit Utara, dan Pulau Gosong, Indramayu 2004; Atlas
Pesisir Selatan Jawa Barat 2007
Tabel 2.2. Sebaran Terumbu Karang, Lepas Pantai
Utara Jawa Barat
Kondisi terumbu karang di pesisir utara Jawa Barat secara umum telah rusak, hanya
sekitar 5% dalam kondisi sangat baik (BPLHD, 2007). Terumbu karang di Karawang misalnya,

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
sebagian besar telah mati akibat tingginya sedimentasi dan pengambilan karang oleh penduduk
setempat sebagai sumber kapur, dan hiasan akuarium. Sementara kerusakan karang di Pulau
Biawak dan sekitarnya terjadi akibat penangkapan ikan dengan cara tidak ramah lingkungan
yaitu mengunakan bom dan alat tangkap bubu. Dari terumbu karang yang tersisa di pesisir
utara, baru ada satu lokasi yang ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah, yaitu
Pulau Biawak dan sekitarnya di Kabupaten Indramayu (lihat kotak 1). Berdasarkan UU no. 27
tahun 2007 mengenai Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan UU no. 22
tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah dimungkinan untuk menetapkan
kawasan konservasi laut untuk melindungi sumber daya ikan, tempat persinggahan atau alur
migrasi biota laut, wilayah yang diatur adat tertentu dan ekosistem pesisir yang unik atau
rentan terhadap perubahan.
4. Iklim dan Cuaca
Jawa Barat beriklim tropis dengan curah hujan tinggi, rata-rata curah hujan dalam sebulan
adalah 161 milimeter dan 7 hari hujan.Iklim demikian menunjang adanya lahan subur yang
berasal dari endapan vulkanis serta banyaknya aliran sungai menyebabkan sebagian besar dari
luas tanah yang ada dipergunakan sebagai lahan pertanian. Suhu 90 C di Puncak Gunung
Pangrango dan 340 C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di
beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun
5. Kegempaan dan Kemungkinan Tsunami
Lokasi Mike Mike Field

terdapat di Zona Gempa Wilayah 2 dengan

kegempangan rendah. Seperti di wilayah Indonesia yang lain dan dari peta
kegempaan (seismicity) sejak tahun 1900, wilayah jawa terdapat jalur
kegempaan yang cukup padat. Di daerah tersebut pernah terjadi gempa
bumi dengan magnitudo 3 - 7 skala Richter mengingat di daerah tersebut
dijumpai sesar-sesar minor. Tsunami bisa terjadi jika terdapat gempa bumi
dangkal (pada kedalaman antara 0-33 km) di dasar laut dengan magnitudo
> 6,5 skala Richter. Mengingat gempabumi yang terjadi bermagnitudo 7
skala Richter, maka kemungkinan terjadi tsunami kecil, walaupun daerah
tersebut termasuk daerah rawan tsunami (Badan Geologi, 2007).

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

Gambar 2.2. Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan
perioda ulang 500 tahun.
II.3.2. Lingkungan Non Fisik
1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Kegiatan usaha migas antara lain pemboran sumur, pengembangan
lapangan, pembangunan fasilitas produksi/transmisi dan pengoperasiannya,
perawatan sumur dan eksploitasi migas serta pengolahan minyak dan gas
yang merupakan kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap
lingkungan. Evaluasi kinerja lingkungan untuk kegiatan usaha migas
dilakukan dengan mengevaluasi volume tumpuhan minyak yang terjadi,
kualitas limbah cair, kualitas udara dan kebisingan serta perkembangan
produk domestik regional bruto (PDRB), perkembangan pendidikan dan
kesehatan masyarakat di daerah operasi kegiatan usaha migas. Mengingat
hal di atas, maka perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
seperti yang dirumuskan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan
(RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL).

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Pemantauan dilakukan terhadap tumpuhan minyak, kualitas limbah cair
meliputi: kandungan minyak dan lemak, konsentrasi H 2S, konsentrasi COD,
dan kandungan amoniak bebas dalam air. Parameter kualitas udara dan
kebisingan meliputi: kandungan SO2, kandungan H2S, kandungan NOx , dan
tingkat kebisingan yang ditimbulkan dari aktivitas migas tersebut.

a. Tumpahan Minyak
Pelaksanaan kegiatan usaha migas, pada hakekatnya merupakan
kegiatan yang memiliki standar operasional prosedur (SOP), dimana setiap
rangkaian kegiatan memiliki prosedur yang baku, mulai tahap persiapan
hingga pasca operasi, begitu juga kondisi emergency.
Pelaksanaan kegiatan migas terdiri dari empat tahapan baik di darat maupun
di laut yakni: 1) tahap pra konstruksi, 2) tahap konstruksi, 3) tahap operasi
dan 4) tahap pasca operasi. Pada beberapa tahapan kegiatan, berpotensi
menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti dari limbah hasil proses
produksi yang dihasilkan maupun dari kejadian emergency. Bahan-bahan
yang menjadi limbah dari sisa hasil produksi dan emergency tersebut dapat
menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan hidup dan sumberdaya alam.
Pada tahap operasi potensi tumpahan minyak dapat terjadi melalui
kebocoran pipa dan semburan liar sewaktu pengeboran sumur produksi.
Sedangkan pada tahap pasca operasi, tumpuhan minyak dapat terjadi
sewaktu pengapalan dan pengangkutan. Tumpahan minyak tersebut dapat
berdampak secara langsung terhadap ekosistem dan lingkungan hidup serta
manusia yang ada disekitarnya. Besaran dampak akibat tumpahan minyak
sangat ditentukan oleh volume dan frekuensi tumpahan yang terjadi.
Potensi tumpahan minyak juga dapat terjadi pada operasi hilir atau
pemasaran/niaga, baik dari transportasi melalui pipa maupun kapal.
Sesungguhnya tumpuhan minyak yang terjadi, umumnya merupakan
kejadian emergency, yang terjadi karena kebocoran atau pecahnya tanker.
Tumpahan minyak dapat menimbulkan dampak pencemaran bahkan
kerusakan lingkungan hidup bila tidak ditanggulangi dengan segera, karena
lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat menyebabkan
kurangnya cahaya yang masuk kedalam perairan, sehingga fotosintensis

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
tidak terjadi dan berdampak terhadap matinya berbagai biota perairan,
termasuk matinya terumbu karang. Jika tumpuhan minyak menutupi akar
mangrove serta tumbuhan hijau di daratan. Tumpahan minyak tersebut
menutupi akar nafas dari mangrove, sehingga mangrove mengalami
kekurangan oksigen dan akhirnya mengalami kematian (Dahuri et al.,1996).

b. Kualitas Limbah Cair


Salah satu hasil sampingan dari kegiatan industri migas adalah limbah cair
dengan kadar minyak yang tinggi, limbah cair ini dapat mencemari terhadap
perairan di sekitarnya, dapat menurunkan kualitas lingkungan dan
menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas air apabila dibuang secara
langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk mengurangi kadar minyak
yang tinggi tersebut maka diperlukan suatu sistem pengolahan (Effendi,
2003).
Kualitas air digunakan baku mutu kualitas air limbah untuk kegiatan usaha
migas yang ditetapkan berdasarkan surat keputusan menteri negara
lingkungan hidup No. 42 tahun 1996 tentang baku mutu limbah bagi usaha
dan/atau kegiatan minyak dan gas serta panas bumi. Parameter kualitas
limbah cair yang dianalisis yakni minyak dan lemak, COD, sulfida dan
amoniak

Minyak dan Lemak


Kandungan minyak dan lemak dalam perairan dapat berasal dari
berbagai sumber, antara lain: pembersihan dan pencucian kapal tangker
(water blase), pengeboran minyak di dekat perairan, kebocoran kapal
pengangkut minyak serta sumber-sumber lainnya seperti buangan
pabrik. Hal tersebut, disebabkan karena minyak tidak larut dalam air,
sehingga apabila terjadi tumpahan minyak di perairan maka, minyak
akan mengapung dan dalam beberapa hari akan mengalami penguapan
dan mengalami emulsifikasi yang akhirnya air dan minyak dapat
bercampur.

Hidrogen Sulfida

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Senyawa hidrogen sulfida (H2S) merupakan senyawa yang terbentuk
dari

penguraian anaerobik terhadap senyawa yang mengandung

belerang. Senyawa ini akan menimbulkan bau dan warna terhadap


badan air dimana H2S ini bersifat racun terhadap biota perairan. Baku
mutu lingkungan berdasarkan Kepmen LH No. 42 tahun 1996 untuk
bahan pencemar adalah 1,0 mg/l.

Kebutuhan Oksigen Kimiawi


Kebutuhan

oksigen

kimiawi/chemical

oxygen

demand

(COD)

menunjukkan kandungan bahan organik dan anorganik yang dapat


didegradasi dan dinyatakan dengan jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk proses degradasinya. Makin tinggi nilai COD pada badan air (air
permukaan) dan air limbah maka kualitas air tersebut makin buruk.
COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan organik secara kimiawi,

baik yang dapat

didegradasi secara biologi (biodegradable) maupun yang sukar


didegradasi secara non biologi (non biodegradable) menjadi CO2 dan
H2O (Effendi, 2003).

Amoniak Bebas
Amoniak dalam air permukaan (badan air) dapat berasal dari hasil
degradasi

baik secara aerobik maupun anaerobik, bahan yang

mengandung unsur nitrogen misalnya protein. Adanya amoniak dalam


air permukaan dapat menimbulkan bau. Batas maksimum amoniak
yang diperbolehkan berdasarkan Kepmen LH No. 42 tahun 1996
adalah 10 mg/l.

c. Kualitas Udara dan Kebisingan


Udara adalah media pencampur untuk limbah gas. Limbah gas atau
asap yang diproduksi dari sisa pembakaran dan kendaraan bermotor,
gas buangan keluar menempati ruang atmosfir yang selanjutnya
bercampur dengan asap hasil pembakaran dan udara. Secara alamiah

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
udara mengandung unsur kimia seperti O 2, N2, NO2, CO2, H2 dan lainlain. Penambahan gas kedalam udara melampaui kandungan alami
akibat kegiatan manusia khususnya

dalam pembukaan lahan,

pertambangan dan kegiatan migas dapat menimbulkan polusi yang


akan menurunkan kualitas udara.
Zat pencemar melalui udara diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu
partikel dan gas. Partikel adalah butiran halus yang masih mungkin
terlibat dengan mata telanjang seperti uap air, debu, asap, kabut dan
fume, namun yang dikaji dalam penelitian ini hanya partikel debu.
Sedangkan pencemaran berbentuk gas hanya dapat dirasakan melalui
penciuman (untuk gas tertentu) atau akibat langsung antara lain SO 2,
Nox, CO, CO2, hidrogen dan lain-lain.

Kandungan SO2
Kandungan SO2 di udara diduga berasal dari bocoran gas alam pada
SKG, bocoran dari separator minyak pada stasiun pengumpul, sisa
pembakaran pada flare dan genset.

Kandungan H2S
Kandungan SO2 di udara diduga berasal dari bocoran gas alam pada
SKG, bocoran dari separator minyak pada stasiun pengumpul, sisa
pembakaran pada flare dan genset. Kandungan H2S dapat berasal dari
sisa pembakaran pada

flare atau pada genset dan sisa tumpahan

minyak mentah yang tercecer maupun pada oil catcher yang menguap
akibat dari penguapan oleh panas matahari.

Kandungan NOX
Sumber pembentuk NOx dari kegiatan penambangan minyak dapat
berasal dari flare pada gas buangan di daerah pengeboran maupun pada
stasiun pengumpul dan dapat berasal dari aktivitas kendaraan
operasional dari dan menuju lokasi.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

Kebisingan
Pengukuran kualitas udara dan kebisingan dilakukan pada lokasi
lapangan minyak dan gas yang sudah beroperasi. Analisis terhadap data
kualitas lingkungan yang diperoleh dari lapangan akan selalu
didasarkan pada baku mutu lingkungan (BML) yang telah ditetapkan.
Sumber bising pada lokasi pemantauan berasal dari kompresor gas
pada booster dan SKG, selain dari genset dan pompa. Pemantauan
dilakukan hanya untuk kawasan industri (pusat) dengan baku mutu
bising (>70 dBA) berdasarkan keputusan menteri LH No. 48 tahun
1996 untuk kawasan industri.

d. Aspek Sosial Ekonomi


Aspek sosial ekonomi di dalam penyusunan dokumen AMDAL
didasarkan

pada keputusan menteri No. 229 tahun 1996 tentang

pedoman kajian aspek sosial ekonomi. Di dalam keputusan menteri


tersebut, salah satu parameter untuk mengukur aspek sosial adalah
pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Perkembangan PDRB
merupakan salah satu kriteria penilaian keberhasilan pembangunan
daerah.
Keadaan ekonomi makro regional suatu daerah dapat dilihat dari
perkembangan PDRB, baik dari besaran nilainya maupun perkapita.
Distribusi PDRB suatu daerah sangat ditentukan oleh besarnya
sumbangan yang diberikan oleh tiap-tiap sektor yang terbagi dalam
beberapa sub sektor. Indikator lain yang digunakan untuk mengukur
aspek sosial ekonomi pada enam kegiatan usaha migas adalah aspek
pendidikan dan kesehatan. Kedua aspek tersebut merupakan aspek
sosial masyarakat yang umumnya banyak digunakan sebagai indikator
pertumbuhan ekonomi dari sisi sosial masyarakat. Aspek pendidikan
dapat diidentifikasi berdasarkan perkembangan jumlah gedung sekolah
maupun taraf pendidikan (lamanya sekolah), sedang aspek kesehatan
diidentifikasi berdasarkan perkembangan jumlah gedung kesehatan dan
tingkat kesehatan masyarakat.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

Daerah operasi kegiatan migas oleh PT. PHE ONWJ ; Area Mike-Mike
Field berlokasi di Jawa Barat. Maka dari itu perlu dilakukan studi
mengenai PDRB, Pendidikan dan kesehatan di Provinsi Jawa Barat.
Provinsi Jawa Barat terdiri atas 18 kabupaten dan 9 kota.
Ibu kotanya adalah Bandung. Pada tanggal 17 Oktober
2000, sebagian wilayah Jawa Barat dibentuk sebuah
provinsi tersendiri, yaitu Provinsi Banten.

Gambar 2.3. Wilayah Kabupaten dan Kota di Jawa Barat


Pendapatan domestik regional bruto (PDRB)
Perekonomian Jawa Barat pada triwulan I - 2015 yang diukur
berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga
berlaku

mencapai

Rp

364,53

triliun.

Sementara

pengukuran

berdasarkan harga konstan Rp 292,13 triliun. Ekonomi Jawa Barat


triwulan I - 201 5 terhadap triwulan I - 2014 tumbuh 4,93 persen (y-ony) meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar
4,55 persen. Badan Pusat Statistik mencatatkan laju pertumbuhan
ekonomi di Jawa Barat pada Triwulan I 2015 melampaui nasional.
Nasional 4,71 persen sedangkan Jawa Barat 4,93 persen.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Aspek pendidikan
Pendidikan di daerah Provinsi Jawa Barat cukup maju diukur oleh
banyaknya jumlah Fasilitas Pendidikan yang tersedia, dari mulai
Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan tinggi negeri maupun
swasta. Telah terdapat 19 (sembilan belas) Perguruan tinggi negeri dan
52 (lima puluh dua) Perguruan tinggi swasta yang telah terakreditasi.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pemerintah Provinsi Jawa
Barat terhadap kondisi SMA di Jawa Barat, pada awal tahun 2015,
diketahui ada sekitar 159 kecamatan yang belum memiliki SMA negeri.
Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat

melaksanakan

pembangunan sekolah SMA baru pada lokasi-lokasi tersebut.


Pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Barat
merupakan hal yang sangat diprioritaskan oleh pemerintahan saat ini,
terdapat 10 commond gold yang disusun oleh pemerintah jawa barat
dan salah satunya adalah untuk memperluas dan mempermudah akses
dan kualitas pendidikan.
Aspek kesehatan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau lebih tepatnya Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat terus berupaya setiap tahunnya agar anggaran
kesehatan sejumlah 10 persen dari APBD dapat dimanfaatkan sebaikbaiknya dalam memperbaiki kondisi kesehatan di jawa barat. Dalam
rangka mensinergikan program kerja antara Dinas Kesehatan Provinsi
dengan Kabupaten/Kota, serta seluruh stakeholder di bidang kesehatan
di seluruh Jabar, Dinkes Jabar menggelar Rapat Kerja Kesehatan
Daerah (Rakerkesda) 2015. Kegiatan ini hakekatnya sebagai media
untuk evaluasi kebijakan dan program, koordinasi, sinkronisasi, serta
mensinerjikan pembangunan di bidang kesehatan untuk perumusan
perencanaan pembangunan bidang kesehatan di Jawa Barat yang
berkualitas dan akuntabel, yang pada akhirnya Masyarakat Jawa Barat
Sehat Untuk Semua.
2. Hubungan Instansi Terkait

A. Perusahaan Pemilik Proyek

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

Nama Perusahaan

: PT. Pertamina Hulu Energi Offshore North


West Java (PHE ONWJ)

Alamat Perusahaan

: PHE Tower, Lantai 10


Jl. TB Simatupang Kav. 99, Jakarta-12520

Perwakilan Perusahaan :
Untuk Urusan Teknis

Edim Toto Sinulingga/ Ato Suyanto


Project Lead/ Project Manager
PHE Tower, Lantai 7
Nomor Telepon (+62-21) 7854-3817/3916
Faksimili (+62-21) 7854-3175

Untuk Urusan Kontrak

Rudhi Fuadi
Procurement Supply Chain Management
PHE Tower, Lantai 5
Nomor Telepon (+62-21) 7854-3432
Faksimili (+62-21) 7854-3094

B. Satuan

Kerja

Khusus

Pelaksana

Kegiatan

Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKKMIGAS)

Alamat Institusi

: Kantor Pusat SKK Migas


Gedung Wisma Mulia Lantai 35
Jl. Gatot Subroto No. 42, Jakarta 12710
PO BOX 4775

Telepon/Fax

: (021) 29241607 / (021) 29249999

Email Humas
Peranan Institusi

Memberikan

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

: hupmas@skkmigas.go.id
:
pertimbangan

kepada

Menteri

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Energi

dan

Sumber

kebijaksanaannya

Daya

Mineral

atas

hal

penyiapan

dan

dalam

penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja


Sama.

Melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja


Sama

Memberikan

persetujuan

rencana

pengembangan

Memberikan

persetujuan

rencana

kerja

dan

anggaran

Melaksanakan

monitoring

dan

melaporkan

kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral


mengenai pelaksanaan Kontrak Kerja Sama
Dokumen yang harus disiapkan untuk diajukan kepada SKKMIGAS :

Dokumen berkaitan jumlah anggaran yang diajukan

AFE (Approved for Expenditure)

C. PT. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)

Alamat Perusahaan
Priok,
Telepon

: Jl. Yos Sudarso No. 38-40, Tanjung


Jakarta Utara, DKI Jakarta 14320

: (021) 4301017 / (021) 4301703

Peranan Perusahaan :
Biro Kiasifikasi secara umum penyediaan jasa untuk kepentingan pihakpihak yang terkait (pemilik, pemerintah, asuransi, bank, dll) didunia
kemaritiman/kelautan dengan penilaian tenting kondisi teknis bangunan
maritim (kapal, offshore) untuk tercapainya tingkat keselamatan di laut,
baik manusia, barang dan pencemaran Iingkungan. Untuk itu, sertifikat
kelas yang dikeluarkan oleh biro klasifikasi berperan penting dalam

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
menentukan kelayakan bangunan maritim.

D. Kementrian

Energi

Sumber

Daya

Mineral

Provinsi Jawa Barat

Alamat Institusi

: Jl. Soekarno-Hatta No. 576 Bandung


Jawa Barat 40286, Indonesia

Telepon

: +62-22-756-2049

Fax

: +62-22-750-696

Email

: admin.esdm@jabarprov.go.id

E. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah


(BPLHD) Provinsi Jawa Barat

Alamat Institusi

: Jl. Naripan No. 25, Sumur Bandung,


Kota Bandung, Jawa Barat 40111

Telepon

: (022) 4204871

Email

: www.bplhdjabar.go.id

F. Kementerian Keuangan Wilayah Jawa Barat


Alamat Institusi

GKN Bandung
Jl. Asia Afrika No. 144, Bandung.
Telepon / Fax

(022) 4230161
Email
lpse@kemenkeu.go.id

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project

G. Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan


RI
Alamat Institusi :
Gedung Manggala Wanabakti
Blok I lt. 3 Jl. Gatot Subroto,
Senayan, Jakarta 10207
Telepon

021-5704501-04 / 021-5730191
Email

pusdata@dephut.go.id

H. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut R I

Alamat Institusi

: Jalan Medan Merdeka Barat No.


Jakarta Pusat, 10110

I.

Telepon

: 021-3811876

Fax

: 021-3811308

Kementerian Perindustrian

Alamat Institusi

: Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 52-53,


Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12950

Telepon

: 021-5255509 ext 2737

Fax

J.

: 021-5255609

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I


Alamat Institusi

Jalan Jendral Gatot Subroto Kav. 51


Jakarta Selatan

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Website

Naker.go.id

K. Kementerian Komunikasi dan Informatika

Alamat Institusi

: Jl. Medan Merdeka Barat No. 9,


Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Telepon

: (021) 34833507

L. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia


Alamat Institusi

Jl.Medan Merdeka Barat No. 13-14


Jakarta Pusat 10020
Email

ppid@kemhan.go.id

M. Kementerian

Hukum

&

HAM

Republik

Indonesia
(Kantor Wilayah Jawa Barat)
Alamat Institusi :
Jalan Jakarta No. 27, Bandung 40272
Telepon

(022) 7272185 / (022) 7273898


Website

http://jabar.kemenkumham.go.id/

N. TNI Angkatan Laut


Alamat Institusi :
Jl. Pantai Kuta V No.1 Ancol Timur
Jakarta Utara Indonesia
Telp / Fax

(021) 64714810 / (021) 64714819

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Email

admin@dishidros.go id

O. Polri
Alamat Institusi :
Jl. Soekarno-Hatta, 40613,
Indonesia
Telepon

+62 22 7806392

P. Kantor Wilayah Badan Pertahanan Nasional


Prov. Jawa Barat
Alamat Institusi

Jl. Sojabar@bpn.go.idarno-Hatta No. 586


Telepon

(022) 7562056
Email

jabar@bpn.go.id

Q. Badan Koordinasi Penanaman Modal


Alamat Institusi

Jl. Jend. Gatot Subroto No. 44,


Jakarta 12190, P.O. Box 3186, Indonesia
Telepon

0807 100 2576 (Contact Center)


Fax
+62 21 5252 008

3. Regulasi dan Perizinan Proyek

A. REGULASI
Peraturan Pemerintah

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Adapun Peraturan Pemerintah yang terkait dengan usaha minyak dan
gas bumi adalah:
1) Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang analisis
2)

mengenai dampak lingkungan.


Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2002 tentang badan

3)

pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.


Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2003 tentang pajak
penghasilan atas penghasilan yang diterima oleh pekerja
sampai dengan sebesar upah minimum provinsi atau upah

4)

minimum kabupaten/kota.
Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 kegiatan usaha hulu

5)

minyak dan gas bumi.


Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2010 tentang biaya
operasi yang dapat dikembalikan dan perlakuan pajak
penghasilan di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi.

Peraturan Menteri
Adapun Peraturan Menteri yang terkait dengan usaha minyak dan gas
bumi adalah :
1) Peraturan Menteri Keuangan No. 177/PMK.011/2007 tentang
pembebasan bea masuk atas impor barang untuk kegiatan
2)

usaha hulu minyak dan gas bumi serta panas bumi.


Peraturan Menteri Keuangan No. 179/PMK.011/2007 tentang
penetapan tarif bea masuk atas impor platform pengeboran

3)

atau produksi terapung atau di bawah air.


Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.
0008 Tahun 2005 tentang insentif pengembangan lapangan

4)

minyak bumi marginal.


Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 20
Tahun 2008 tentang pemberlakuan standar kompetensi kerja
nasional Indonesia di bidang kegiatan usaha minyak dan gas

5)

bumi secara wajib.


Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 6
Tahun 2010 tentang pedoman kebijakan peningkatan produksi

6)

minyak dan gas bumi.


Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 9
Tahun 2013 tentang organisasi dan tata kerja satuan kerja
khusus pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.

Keputusan Presiden

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Adapun Keputusan Presiden yang terkait dengan usaha minyak dan gas
bumi adalah :
1) Keputusan Presiden RI No. 75 Tahun 1995 tentang
2)

pengikutsertaan tenaga kerja asing di Indonesia.


Keputusan Presiden RI No. 46 Tahun 2000 tentang badan
koordinasi penempatan tenaga kerja Indonesia.

Peraturan Presiden
Adapun Peraturan Presiden yang terkait dengan usaha minyak dan gas bumi adalah:
1) Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2012 tentang pengalihan
pelaksanaan tugas dan fungsi kegiatan usaha hulu minyak
2)

dan gas bumi.


Peraturan
Presiden

No.

Tahun

2013 tentang

penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak


dan gas bumi.

Undang-Undang
Adapun Undang-Undang yang terkait dengan usaha minyak dan gas
bumi adalah:
1) Undang-undang RI No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan
2)

konsumen.
Undang-undang

RI

No.

28

Tahun

1999

tentang

penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi,


3)

kolusi, dan nepotisme.


Undang-undang RI No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat

4)

Pekerja/Serikat Buruh.
Undang-undang RI No. 22 Tahun 2001 tentang minyak dan

5)

gas bumi.
Undang-undang

6)

ketenagakerjaan.
Undang-undang RI No. 21 Tahun 2003 tentang pengesahan

RI

No.

13

Tahun

2003

tentang

ILO Convetion No. 81 Concerning Labour Inspection In


Industry and Commerce.

Keputusan Menteri
Adapun Keputusan Menteri yang terkait dengan usaha minyak dan gas
bumi adalah :
1) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.
3135 K/08/MEM/2012 tentang pengalihan tugas, fungsi, dan
organisasi dalam pelaksanaan kegiatan usaha hulu minyak
dan gas bumi.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
2)

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.


3136 K/73/MEM/2012.

SKK MIGAS : Pedoman Tata Kerja (PTK)


PTK ini memiliki empat tujuan utama, yaitu meningkatkan fungsi
pengawasan dan pengendalian SKK Migas terhadap rencana kerja
pelaksanaan proyek migas; menerapkan tata cara pengajuan usulan
proyek migas yang jelas dan terperinci; menerapkan proses evaluasi
dokumen usulan pelaksanaan proyek migas yang lebih efektif dan
efisien; dan membekali seluruh fungsi di SKK Migas dan Kontraktor
KKS dengan prosedur yang diperlukan untuk melaksanakan proyek
migas. Berikut beberapa PTK yang diperlukan dalam proyek
konstruksi pengembangan MRA-MMJ Pipeline Project :
1) PTK 059/SKKO0000/2015/S0 Kebijakan Akuntansi
Kontrak Kerja Sama
2) PTK 007 Revisi Tahun 2015
3) PTK 060 Persetujuan Penyelesaian Pekerjaan
4) PTK-0043/BP00000/2011/S0

tentang

Prosedur

Perizinan dan Sertifikasi Kegiatan Kebandaran


dan Kemaritiman
5) PTK

045_2011_Environmental

Baseline

Assessment (EBA)
6) PTK 044_2012_ Pengelolaan Asuransi BPMIGAS
dan K3S

B. PERIZINAN
Izin

Surat

Keterangan

Terdaftar

(SKT)

MIGAS
SKT MIGAS adalah Surat Keterangan Terdaftar Minyak dan Gas Bumi
yang dikeluarkan oleh Ditjen Migas kepada badan usaha yang telah
mendaftarkan bidang usahanya sebagai Penunjang Migas di Ditjen
Migas. SKT Migas dipersyaratkan kepada badan usaha yang akan
mengikuti lelang / tender pemerintah maupun swasta sebagai badan
usaha penunjang Migas. Dasar hukum bahwa badan usaha agar

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
terdaftar / mendaftar ulang sebagai Penunjang Migas di Ditjen Migas
adalah mengacu pada Peraturan Menteri Sumber Daya Mineral No. 27
Tanggal 22 Agustus Tahun 2008 Tentang Kegiatan Usaha Penunjang
Minyak dan Gas Bumi.

Izin AMDAL
Proses AMDAL kemudian bersifat wajib (mandatory) untuk dilakukan bagi
setiap rencana usaha dan atau kegiatan yang diperkirakan dapat
menimbulkan dampak penting. AMDAL terdiri atas 4 dokumen , yaitu :
1)

Kerangka acuan (KA), KA adalah dokumen pertama yang


berisi pedoman penyusunan ANDAL.

2)

Analisis dampak lingkungan (ANDAL), ANDAL adalah


kajian utama tentang dampak besar dan penting dari suatu
usaha atau kegiatan.

3)

Rencana pengelolaan lingkungan (RKL), RKL adalah


dokumen alternatif solusi yang dibuat dalam pengelolaan
dampak lingkungan dari suatu kegiatan.

4)

Rencana pemantuan lingkungan (RPL), RPL adalah dokumen


yang berisikan alternatif pemantauan dampak dari suatu
kegiatan.

Untuk menghasilkan keempat dokumen tersebut, dilakukan prosedur pelaksanan AMDAL


yakni :
1)

Penapisan (screening),

2)

Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat,

3)

Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL, dan penyusunan dan


penilaian ANDAL, RKL dan RPL (Hendartomo, 2001).

Secara lebih rinci prosedur teknis penyusunan dokumen AMDAL di Indonesia sebagaimana
termaksud dalam PP No. 27 tahun 1999 terdiri atas :
1)

Pemrakarsa kegiatan menyampaikan ke instansi yang


bertanggung jawab terhadap rencana kegiatan.

2)

Instansi yang bertanggung jawab berdasarkan Keputusan


Menteri Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 yang telah
direvisi menjadi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 11
tahun 2006 tentang kegiatan-kegiatan yang wajib AMDAL.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
3)

Pemrakarsa diwajibkan melakukan pengumuman masyarakat


dalam waktu 30 hari kerja dan selanjutnya menunggu
tanggapan dari masyarakat.

4)

Pemrakarsa menyusun kerangka acuan (KA-ANDAL).

5)

Kerangka acuan dinilai oleh tim teknis, pakar pada sidang


komisi.

6)

Komisi AMDAL menerbitkan surat keputusan kelayakan


dalam waktu 75 hari kerja.

7)

Pemrakarsa menyusun AMDAL bersama dengan pihak ketiga


yang ditunjuk oleh pemrakarsa.

8)

Dokumen AMDAL dinilai oleh tim teknis dan para pakar


pada sidang komisi (sidang komisi 1 dan sidang komisi 2).

9)

AMDAL disetujui dalam jangka 75 hari kerja.

Izin Ditjen Perhubungan Laut


Berikut beberapa kegiatan dalam proyek konstruksi fasilitas migas offshore yang
membutuhkan izin dari Ditjen Perhubungan Laut :
1)

Pengangkatan/salvage

2)

Penyelaman/diving

3)

Pengerukan/dredging

4)

Penggelaran pipa, kabel

5)

Anchor Handling

Izin Khusus Offshore Pipeline


1) Izin lokasi instalasi dan Izin penggelaran pipa lepas pantai,
Perusahaan mengirimkan surat kepada DIRJEN MIGAS cq.
SUSMAR MIGAS ( Staff Khusus Urusan MARITIM )
dengan melampirkan data lokasi ( bathymetri, latitude, dll ).
SUSMAR MIGAS akan melakukan koordinasi dengan
HUBLA dan DISHIDROS TNI AL. DIRJEN MIGAS
kemudian mengeluarkan izin lokasi platform dan izin
penggelaran pipa lepas pantai.SKKP ( Sertifikat Kelayakan
Konstruksi PLATFORM ),
2) SKPP ( Sertifikat Kelayakan Penggunaan Peralatan ) dan
SKPI ( Sertifikat Kelayakan Penggunaan Instalasi ),

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012

PELAKSANAAN KONSTRUKSI III


MRA-MMJ Pipeline Project
Perusahaan

mengirimkan

surat

permohonan

untuk

mendapatkan SKPP dan/ kepada DIRJEN MIGAS cq.


DIREKTUR TEKNIK MIGAS.

ISTN / FTSP / ANGKATAN 2012