Anda di halaman 1dari 27

RENCANA PELAKSANAAN PENGISIAN AWAL

WADUK

I. KEGIATAN INSPEKSI PENGISIAN AWAL WADUK (PERBAIKAN)


I.1. Pendahuluan
Bendungan disamping memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, juga
menyimpan potensi bahaya yang sangat besar, dimana apabila bendungan tersebut runtuh
akan menimbulkan banjir bandang yang dahsyat, yang akan mengakibatkan timbulnya
korban jiwa, harta benda dan kerusakan lingkungan yang sangat parah di daerah hilirnya.

Sampai saat ini di Indonesia sudah dibangun lebih dari 221 bendungan dari ukuran yang
kecil, sedang, sampai dengan yang besar dan sebagian diantaranya telah dibangun sejak
zaman awal sebelum kemerdekaan. Bendungan-bendungan tersebut didesain oleh berbagai
konsultan nasional ataupun internasional, yang masing-masing memakai standar yang
berbeda satu sama lain, dan pada umumnya para konsultan asing yang mendapat tugas
menyiapkan desain telah menggunakan standar yang berlaku di negara mereka masing-
masing.

Untuk mencegah atau sekurang-kurangnya mengurangi risiko kegagalan bendungan,


pemerintah telah melakukan pengaturan secara khusus mengenai keamanan bendungan.
Bendungan dianggap tetap aman, apabila pembangunan dan pengelolaannya telah
dilaksanakan sesuai dengan konsepsi dan kaidah-kaidah keamanan bendungan yang
tertuang dalam berbagai norma/peraturan peraturan perundang-undangan, standar,
pedoman dan manual (NSPM); khususnya Peraturan Pemerintah nomor 37 tahun
2010, dalam hal ini Pasal 60 sampai dengan Pasal 64 tentang Pengisian Awal Waduk
Bendungan Rajui.

II. BENDUNGAN RAJUI


II.1. Umum

Pembangunan Bendungan Rajui telah dilaksanakan sejak dari tahun 2010 sampai dengan
tahun 2012 (multi years contract). Inspeksi keamanan bendungan pada waktu masa
pelaksanaan konstruksi bendungan Rajui pernah dilakukan pada tahun 2011 oleh Tim
Balai Keamanan Bendungan, dan baru bulan ........tahun 2013 ini dilakukan permohonan
izin pengisian awal waduk, kepada Menteri dan tembusannya yang disampaikan kepada
Instansi Teknis, Keamanan Bendungan; untuk mendapatkan sertifikat operasi bendungan
Rajui.

Dalam kurun waktu lebih dari 2 tahun selama masa pelaksanaan konstruksi tersebut,
kondisi bendungan mungkin telah mengalami peristiwa-peristiwa dan perubahan-
perubahan yang kemungkinan besar berpengaruh terhadap keamanan bendungan. Sehingga
dengan kondisi ini maka perlu adanya evaluasi terhadap pengisian awal waduk, oleh tim
teknis keamanan Bendungan yaitu dengan melakukan studi, evaluasi dan analisa terhadap
seluruh data dan informasi terkumpul mengenai; desain, pelaksanaan, dan pemantauan
terhadap semua aspek disiplin ilmu terkait.

1
Ketelitian pada tahap perencanaan serta sewaktu dalam tahap pelaksanaan dan kesesuaian
dalam penerapan pola operasi, diharapkan waduk/embung mampu menyediakan air
irigasi/air baku yang sangat dibutuhkan sepanjang tahun.

II.2. Lokasi Bendungan Rajui

Lokasi pekerjaan terletak didesa Mesjid Tanjong, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten
Pidie, yang berjarak 95 Km dari kota Banda Aceh melewati jalan beraspal; atau berjarak
15 Km kearah utara dari Sigli, ibukota Kabupaten Pidie.

Ditinjau dari posisi Geografis, Waduk Rajui terletak pada koordinat 954848 BT dan
052425 LU.

II.3. Hidroklimatologi

Berdasarkan data yang tersedia dari Badan Meteorologi dan Geofisika pada stasiun Blang
Bintang; curah hujan bulanan rerata dilokasi pekerjaan adalah sebesar 113 mm, rerata
curah hujan tahunan adalah 1732 mm, serta kawasan termasuk dalam tipe iklim C menurut
Schemidt Ferguson dengan nilai Q = 0,5429.

Debit air dari sumber yang ada adalah:


Krueng Rajui : maksimum Q = 2,726 m3/detik
Minimum Q = 0,127 m3/detik
Alue Tanjung : Maksimum Q = 0,160 m3/detik
Minimum Q = 0,005 m3/ detik
Kelembaban udara rerata = 60 % s/d 86 %
Penyinaran matahari berkisar = 42 % s/d 72 %
Dengan lama penyinaran matahari = 3,4 s/d 6.0 jam /hari

II.4. Manfaat

Manfaat dari Pembangunan Waduk Rajui di Kecamatan Padang Tiji yaitu:


Direncanakan untuk mengairi areal sawah seluas 1000 Ha, dengan pola tanam padi
padi-palawija
Meningkatkan produksi pertanian dan menciptakan lapangan pekerjaan di kawasan
Padang Tijie, Kabupaten Pidie
Disamping untuk air Irigasi, Waduk Rajui direncanakan dapat meningkatkan
penyediaan air baku untuk kebutuhan mendatang (musim kemarau)
Mendukung program swasembada pangan khususnya beras di Kabupaten Sigli

II.5. Geologi Daerah Telitian

Berdasarkan tinjauan regional, tatanan batuan penyusun (keadaan geologi) yang mengacu
kepada sandi stratigrafi bersistem Peta Geologi Lembar Banda Aceh, Sumatera, Skala 1 :
250.000, Lembar 0421 dan 0521 dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
Bandung 1981, pada lokasi pekerjaan terdapat 2 (dua) satuan batuan yaitu satuan batuan
batupasir gampingan dan endapan alluvial. Satuan batuan batupasir gampingan terdiri dari
beberapa litologi yaitu batupasir gampingan, batugamping pasiran dan batupasir serta
batulempung. Kesemua litologi tersebut secara susunan dari formasi batuan sedimen yang
2
berumur tua ke muda terdiri dari Anggota Padang Tiji (Tuktp), Formasi Seulimeum
(QTps), dan Endapan Aluvial (Qh)

III.5.1. Fisiografi dan Morfologi

Daerah telitian terbagi atas dua bentuklahan asal yaitu, bentuklahan asal denudasional (D)
dan bentuklahan asal fluvial (F). Bentuklahan asal denudasional diturunkan menjadi
bentuklahan perbukitan terkikis (D1), sedangkan bentuklahan asal fluvial diturunkan
menjadi bentuklahan dasar sungai (F2) dan bentuklahan ledok fluvial (F9). Lokasi Waduk
Rajui sendiri berada pada satuan bentuklahan dasar sungai dan ledok fluvial.

Bentuklahan Perbukitan Terkikis (D1)

Bentuklahan Perbukitan Terkikis menunjukkan suatu bentuklahan yang tidak teratur dan
mempunyai ketinggian 75 - 300 mdpl. Lereng memiliki kemiringan yang miring sampai
curam (4 - 35), didominasi oleh kenampakan erosi ringan sampai berat. Jenis batuan
bervariasi, material permukaan memiliki ukuran lempung sampai kerikil. Setempat-
setempat dijumpai singkapan batuan induk. Lapisan tanah pucuk (top soil) merupakan
asosiasi dari latosol, posolik dan litosol.

Bentuklahan ini sebagian besar merupakan semak belukar dan hutan. Hanya sedikit lahan
yang digunakan oleh masyarakat sebagai ladang atau kebun. Ladang dan kebun yang
sebelumnya telah dimanfaatkan sebagian besar telah ditinggalkan dan menjadi lahan yang
tak terurus dan liar.

Bentuklahan Dasar Sungai (F2)

Bentuklahan ini merupakan bagian dari tubuh Krueng Rajui. Bentuklahan Dasar Sungai
dibatasi oleh permukaan air maksimal yang menggenangi tubuh sungai. Kemiringan
berkisar antara 2-16.

Bentuklahan ini dipenuhi oleh material hasil rombakan batuan induk yang tertransport
oleh air sungai. Material tersebut memiliki ukuran butir berkisar antara pasir halus
bongkah. Batuan induk yang terombak dari daerah yang jauh dapat diketahui dari bentuk
butir yang relatif membulat. Batuan tersebut umumnya merupakan batuan metamorf dan
batuan beku. Batuan sedimen yang berasal dari sekitar aliran Krueng Rajui juga
mengalami rombakan dan transportasi oleh air. Batuan sedimen ini umumnya memiliki
bentuk butir yang relatif masih menyudut dan berada tidak jauh dari batuan induknya.

Bentuklahan Ledok Fluvial (F9)

Ledok Fluvial merupakan suatu bentuk lahan dataran aluvial, tetapi mempunyai
kemungkinan untuk tergenang besar, karena merupakan daerah cekungan. Lereng datar
sampai agak miring (2 - 8), dan terbentuk sebagai hasil proses sedimentasi. Jenis batuan
yang tersingkap merupakan sedimen yang umumnya belum terkonsolidasi dengan baik
dan masih bersifat lepas. Material permukaan merupakan material yang memiliki ukuran
butir lempung sampai bongkah. Jenis tanah merupakan alluvial dan gleosol.

Bentuk lahan ini merupakan lahan yang tidak termanfaatkan karena berada pada daerah
dengan morfologi yang sering tergenangi oleh air dan masih mengalami perubahan
dinamik dalam waktu yang relatif pendek. Unsur hara yang terbentuk juga terus tergerus

3
oleh genangan air yang dapat terjadi sewaktu-waktu bila volume Krueng Rajui meningkat.
Selain itu material penyusun yang berupa material lepas berukuran sangat beragam
(lempung bongkah) merupakan susunan yang tidak ideal untuk pemanfaatan sebagai
tegalan atau kebun.

III.5.2. Geologi Struktur

Zona Sistem Sesar Sumatera atau Sumatran Fault System Zone yang selalu dikhawatirkan
orang merupakan zona lemah dan labil, dimana banyak terjadi sesar/patahan besar baik
yang horizontal maupun sesar turun naik dengan arah dan orientasi yang beragam. Daerah
telitian berada di sebelah timur Sistem Sesar Sumatera tersebut dan merupakan daerah
yang relatif stabil. Dari peta geologi Lembar Banda Aceh dan pengamatan lapangan tidak
dijumpai adanya struktur geologi berupa sesar yang cukup berarti baik secara regional
maupun disekitar lokasi bendung pengarah. Sesar atau patahan terdekat berada jauh di sisi
barat daerah telitian dengan arah umum timurlaut baratdaya dan merupakan sesar orde
lanjut dari Sistem Sesar Sumatera.

Disamping tidak adanya sesar yang signifikan juga tidak adanya gejala geologi struktur
yang lain seperti perlipatan atau folding dan pengangkatan atau lifting.

II.6. Data Teknis Waduk

1. Waduk
Luas genangan air waduk : 3360 Ha
Volume Tampungan Total : 2673450 m3
Volume Tampungan Efektif : 2643468 m3
Volume Tampungan Mati : 29983 m3

2. Bendungan
Type Bendungan : Bendungan Urugan tanah Random, dengan core
trench tanah inti tegak tanah liat ditengah; serta
blangket tanah liat kearah hulu
Tinggi Bendungan : 41,20 m
Elevasi dasar bendungan : Elevasi + 30,20 msl
Elevasi Puncak Bendungan : Elevasi + 30,20 msl
Lebar Puncak Bendungan : 10,00m

3. Bangunan Pelimpah
Type Bangunan Pelimpah : Type Ogee
Panjang Saluran Pelimpah : 100 m
Lebar Total Saluran Pelimpah : 10,00 m
Tinggi Saluran Pelimpah : 2,50 m

4. Bangunan Sadap.
Type Bangunan Sadap : Type Menara dengan type pintu pengambilan
miring
Elevasi dasar pondasi Intake : + 30,00 msl
Elevasi Lantai Menara Sadap : + 60,00 msl
Panjang Terowongan : 278,00 m
Tinggi Menara Sadap : 29,00 m

4
Macam Serta Jenis Intrumentasi Terpasang Pada Bendungan Rajui.

Berdasarkan fungsinya Instrumentasi keselamatan bendungan di Bendungan Rajui dapat


dikelompokkan sebagai berikut :
1. Pemantau Deformasi/Pergerakan

1.1. Deformasi Eksternal/Permukaan

1.2. Deformasi Internal

2. Pemantau Tekanan

3. Pemantau Rembesan/Bocoran

4. Pemantau Hidrologi & Klimatologi

Secara umum jumlah dan jenis instrumentasi keselamatan bendungan yang terpasang di
Bendungan Rajui sudah cukup memadai, namun beberapa instrumen perlu perbaikan (
bilamana perlu karena permasalahan sewaktu pemasangan ), penggantian dan peningkatan
untuk menjamin akurasi dan kesinambungan data.

. PEMANTAU DEFORMASI/PERGERAKAN
Deformasi Permukaan
. Peralatan Ukur Tanah / Geodesi / Survey
Titik acuan / Bench Mark / Reference Monument

Titik Pantau / Patok Geser

Alat Baca (Theodolit, Waterpas, EDM, dll.)


. Deformasi Internal
a). Inclinometer deformasi horisontal
Titik Pantau

Alat Baca (Inclino Data Logger)

b). Settlement Point deformasi vertikal


Titik Pantau (Ring/plat Magnet)

Alat Baca (Reed Switch Probe)

. PEMANTAU TEKANAN
Tekanan Air Pori
a). Piezometer Elektrik (Vibrating Wire)

5
b). Piezometer Pipa Tegak (Open Stand Pipe)
c). Alat Baca (Manometer, Dip Meter, Data Logger)
. Tekanan Tanah Total
a). Earth Pressure Cell
b). Alat Baca (Data Logger)
Muka Air Tanah
a). Sumur Observasi (Observation Well)
b). Alat Baca (Dip Meter)

. PEMANTAU REMBESAN / BOCORAN


. V-notch
. Saluran Pengumpul
. Alat Baca
Papan Duga / Peil Schaal

Gelas Ukur / Penakar

Stop Watch

PEMANTAU HIDROLOGI / KLIMATOLOGI


. Penguapan
Panci Penguapan

Metode Pennman
Elevasi Muka Air
Muka Air Waduk

Muka Air Tailrace


. Penakar Curah Hujan

Tata letak instrumen di Bendungan Rajui diperlihatkan pada Error!


Reference source not found......... dan table dibawah;

Jenis dan Jumlah Instrumen Yang Dipasang di Bendungan Rajui:

No Jenis Instrumnen Simbol Jumlah Keterangan

1 Surface monumen point

2 Reference monument

6
3 Embankment Type Piezometre

4 Foundation type piezometre

5 Seepage measuring device

6 Terminal panel box

Pemantauan instrumentasi yang efektif dapat membantu pencapaian keselamatan


bendungan dan pemenuhan jaminan tersebut di atas. Data pemantauan tersebut melengkapi
data pengamatan dan inspeksi untuk mengetahui perilaku suatu bendungan dan mengetahui
gejala-gejala kegagalan bendungan secara dini.
Disamping instrumentasi yang memadai, yang tidak kalah penting adalah perlunya disusun
suatu organisasi dan sumber daya manusia yang mapan dan berkualitas sesuai dengan
kebutuhannya.
Kegiatan identifikasi instrumentasi keselamatan bendungan di Rajui adalah dengan
melakukan pengamatan, wawancara dengan petugas lapangan / pelaksana instalasi
instrumen, pengumpulan data dan pemeriksaan peralatan. Data yang diperoleh selanjutnya
dievaluasi dan dari kondisi terkini yang ada disimpulkan dan disarankan untuk adanya
perbaikan, penggantian dan peningkatan instrumentasi maupun organisasi maupun sumber
daya manusianya.

Kondisi serta mutu dari tubuh urugan.

Kondisi serta mutu dari pelaksanaan pembetonan.

Pembetonan Spillway;.

Pembetonan Terowongan.

7
Pembetonan Inclline Intake Tower

INSPEKSI LAPANGAN

PENDAHULUAN

Untuk mendapatkan Sertifikat Operasi Bendungan Rajui diperlukan evaluasi


terhadap kondisi visual masing-masing struktur bangunan, sewaktu pengisian awal
waduk dan kemudian dilaksanakan tinjauan keamanan untuk masing-masing
struktur seperti; bendungan, spillway dan bangunan-bangunan lainnya, sesuai
dengan data terakhir yang didapatkan saat inspeksi dilapangan. Data ini didapatkan
dengan cara pengamatan secara visual dan diskusi serta laporan kegiatan
pelaksanaan dilapangan.
Pelaksanaan inspeksi yang efektif membutuhkan pemahaman maksud, tujuan dan
sasaran. Oleh karena itu persiapan pelaksanaan harus diatur sedemikian rupa
sehingga segala sesuatu yang dilaksanakan dilapangan dapat mengenai sasaran
secara lengkap serta dibuat daftar simak yang dipakai sebagai check list.

. MAKSUD DAN TUJUAN INSPEKSI LAPANGAN

I.2. Maksud dan Tujuan


Maksud
Pelaksanaan pengisian awal waduk dimaksudkan untuk mewujudkan tertib
pemanfaatan serta aman dalam pengelolaan bendungan selanjutnya, sehingga dapat
mencegah atau mengurangi resiko kegagalan bendungan.
Sesuai dengan Pedoman Inspeksi Pengisian Awal Waduk dan Evaluasi Keamanan
Bendungan, pelaksanaan Inspeksi tersebut secara umum harus dilaksanakan dalam dua
(2) tahap sebagaimana bagan alir yang ditunjukkan pada tabel dibawah (tabel 1.1.).

Dalam Inspeksi Pengisian Awal Waduk ini terdapat dua tahapan pekerjaan inspeksi,
yaitu tahap awal dan tahap lanjutan.

Pekerjaan ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37


Tahun 2010, Pasal 60 sampai dengan Pasal 64, seperti telah diterangkan diatas
sehingga dengan demikian kegiatan ini akan memberikan jaminan keamanan
bendungan. Keamanan bendungan ini berdampak pada perlindungan daerah kawasan
di hilirnya yaitu Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, yang berada dihilir
bendungan Rajui, serta kepada masyarakat secara berkelanjutan terhadap
kemungkinan kehilangan harta benda serta kerusakan lahan pertanian serta
perkebunan, dan infra struktur akibat kegagalan bendungan. Dan yang penting lagi
adalah memberikan rasa aman bagi penduduk dihilir bendungan.

Sebelum evaluasi keamanan bendungan dilaksanakan, perlu diperhatikan hal-hal


sebagai berikut:
a) Apakah terdapat penyimpangan ataupun kekurangan pada masing-masing struktur
selama kurun waktu pengisian awal waduk ataupun terjadi masalah mengenai;
bendungan, bangunan-bangunan utama dan bagian-bagian lain yang terkait
8
b) Apakah terdapat masalah, penyimpangan ataupun kekurangan yang menyebabkan
timbulnya potensi bahaya terhadap keamanan bendungan atau bahaya lainnya
yang dapat mengakibatkan kegagalan/ keruntuhan bendungan
c) Potensi bahaya pada masing-masing struktur utama, secara langsung ataupun
tidak langsung yang dapat menjadi potensi bahaya pada bendungan, baik itu
struktural ataupun gangguan operasional
d) Cara pemecahan masalah, penyimpangan, ataupun kekurangan agar potensi
bahaya dapat dicegah
e) Selanjutnya perlu dipahami secara benar status Keamanan Bendungan, apakah
kondisinya layak atau tidak layak. Apabila tidak layak, perlu pula dipahami
tindakan yang harus dilakukan agar Keamanan Bendungan tetap terjamin.

Maksud Inspeksi Lapangan


Inspeksi lapangan sewaktu pengisian awal waduk; dimaksudkan untuk
mendapatkan data dan informasi kondisi bendungan dan bangunan
pelengkapnya, termasuk peralatan penunjangnya, mulai dari kondisi visual,
hasil laporan akhir pelaksanaan konstruksi bendungan, dan pemeliharaan
instrumentasi selama kurun waktu pelaksanaan. Dengan demikian maka
dapat dilakukan evaluasi dan analisa terhadap keamanan bendungan.

Tujuan Inspeksi Lapangan


a. Untuk mengetahui apakah ada kondisi fisik teknis permukaan yang
merupakan indikasi potensi bahaya terhadap keamanan dan serta untuk
mengetahui lokasi dan perkiraan penyebabnya. Salah satu indikasi
bahaya keamanan bendungan ini adalah evaluasi hasil bacaan
instrumentasi yang terpasang dibendungan. Hasil studi desain dan
pelaksanaan akan memperjelas macam dan penyebab potensi bahaya
serta tingkat bahayanya.
b. Pelaksanaan selama pekerjaan konstruksi, serta pemeliharaan
pemasangan instrumen dan pemantauan phisik tubuh bendungan.
Data pelaksanaan, pemeliharaan pemasangan instrumen dan
pemantauan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pelaksanaan ini
telah memadai. Temuan kondisi ini merupakan bahan evaluasi pula dan
harus diikutkan dalam evaluasi sebagaimanan butir 1) diatas.

I.3. Lingkup Kegiatan


Garis besar dan lingkup pekerjaan jasa konsultansi untuk penyiapan kegiatan dan dokumen
yang berhubungan dengan pelaksanaan pengisian awal waduk Rajui, yang terdiri dari:
1. Pemeriksaan/pengecekan di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bendungan dan
waduk beserta seluruh fasilitasnya, pada saat pengisian awal tersebut. Dari laporan
hasil studi dan data dasar yang diperoleh dari pekerjaan terdahulu serta dari hasil
pemeriksaan/pengecekan di lapangan, konsultan menyusun dan menyiapkan desain
rinci pekerjaan perbaikan ringan (minor remedial works) dari bagian bendungan dan
fasilitasnya (elektrikal, hidromekanikal, dan stop log) yang mengalami kerusakan.
2. Pemeriksaan terhadap bagian-bagian waduk yang mengalami sedimentasi dan
berpotensi mengganggu pengoperasian pintu-pintu outlet dan pintu-pintu lainnya, dan
menyampaikan usulan penanganan (indikatif) untuk mengatasi timbulnya gangguan
pengoperasian pintu-pintu tersebut pada saat kegiatan O&P dilakukan.

9
3. Pelaksanaaan diskusi atas konsep (draft) desain rinci untuk pekerjaan perbaikan yang
telah disusun, termasuk usulan penanganan (indikatif) tersebut pada butir 3 guna
mendapatkan masukan dan persetujuan Direksi Pekerjaan, dan selanjutnya membuat
desain rinci final termasuk estimasi biaya pekerjaan perbaikan yang telah disepakati
bersama oleh kedua belah pihak.
4. Melakukan inventarisasi dan evaluasi terhadap jenis, jumlah dan kondisi instrumentasi
bendungan yang ada.
5. Melakukan kajian tentang instrumentasi/fasilitas dasar keamanan bendungan yang
dibutuhkan, guna mendukung terselenggaranya kegiatan monitoring bendungan yang
lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Melakukan persiapan terhadap manual O&P dan menyiapkan perbaikannya sesuai
dengan kondisi terkini. Apabila belum tersedia manual O&P, perlu disusun
draft/konsep manual O&P bendungan/waduk termasuk kebutuhan biaya O&P tahunan
(termasuk peralatan dan SDM) yang mencukupi.
7. Mengidentifikasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak dan komponen-
komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak serta
merumuskan dan menyusun dokumen Environmental And Social Management Frame
Work (ESMF) berupa Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dan Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan fisik yang telah
disiapkan desain rincinya.
8. Jaminan keselamatan bendungan yang berkesinambungan diperlukan mulai dari tahap
pembangunan, pengisian air waduk pertama kali sampai sepanjang pengoperasian
waduk. Untuk menghindari potensi korban jiwa, kerusakan bangunan dan kerugian
lainnya akibat bobolnya bendungan, diperlukan data yang cukup.
9. Pemantauan instrumentasi yang efektif dapat membantu pencapaian keselamatan
bendungan dan pemenuhan jaminan tersebut di atas. Data pemantauan tersebut
melengkapi data pengamatan dan inspeksi untuk mengetahui perilaku suatu
bendungan dan mengetahui gejala-gejala kegagalan bendungan secara dini.
10. Secara umum jumlah dan jenis instrumentasi keselamatan bendungan yang terpasang
di Bendungan Rajui sudah cukup memadai. Disamping instrumentasi yang memadai,
yang tidak kalah penting adalah perlunya disusun suatu organisasi dan sumber daya
manusia yang mapan dan berkualitas sesuai dengan kebutuhannya.
11. Kegiatan identifikasi instrumentasi keselamatan bendungan di Rajui adalah dengan
melakukan pengamatan lapangan maupun operator, pengumpulan data dan
pemeriksaan peralatan. Data yang diperoleh selanjutnya dievaluasi, dan dari kondisi
setelah pelaksanaan timbunan selesai, hasil yang ada disimpulkan dan disarankan
bilamana ditemukan instrumentasi yang tidak bekerja, perlu untuk perbaikan,
penggantian dan peningkatan instrumentasi tersebut.

Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan Inspeksi pengisian tahap awal bendungan Rajui yang dilaksanakan saat ini
merupakan Pekerjaan Inspeksi pengisian Tahap Awal. Tujuan pekerjaan ini sebagaimana
yang diuraikan diatas dalam sub bab .......

Pekerjaan ini dapat dicapai dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana


diuraikan sebagai berikut:
a) Persiapan dan Pelengkapan Inspeksi
b) Pengamatan visual tubuh bendungan; (Inspeksi lapangan)
c) Pengamatan visual pada peralatan Hydro Mechanical,(Inspeksi lapangan)

10
d) Pengamatan visual pada peralatan Instrumentasi.
e) Pengamatan visual pada bangunan pelengkap / Spillway dsb.
f) Pengukuran dan Pengujian (test) dan analisa
g) Perhitungan, analisa dan evaluasi
h) Diskusi
i) Presentasi
j) Kesimpulan Status Keamanan Bendungan dan Rekomendasi Tindak Lanjut
k) Pelaporan.

PERSIAPAN TIM UNTUK PELAKSANAAN INSPEKSI

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai persiapan pelaksanaan adalah sebagai


berikut:
- Penyiapan daftar simak
- Penyiapan peralatan dan perlengkapan
- Penyusunan jadwal pelaksanaan
- Koordinasi antara Tim Direksi dan petugas dari PT. Waskita selaku pelaksana
pekerjaan.
- Jadwal sebelum atau sesudah pelaksanaan kegiatan lapangan antara Tim Ahli (
dari Balai Keamanan Bendungan) dengan Petugas dari Tim Inspeksi terdiri dari
Tenaga Ahli Konsultan, yang didampingi dengan personil dari PT. Waskita
Karya yang memiliki tanggung jawab terkait dengan sasaran inspeksi.

3.4. PELAKSANAAN INSPEKSI LAPANGAN

Inspeksi Lapangan dilaksanakan dengan berjalan kaki menyusuri bagian-bagian


sasaran Inspeksi sesuai dengan daftar simak. Kondisi fisik-teknis sasaran diinspeksi
dengan melakukan pengamatan, mempertimbangkan kemungkinan penyebab,
kemudian diskusi terutama dengan petugas, pengukuran akan dilaksanakan apabila
diperlukan.
Rekaman kondisi fisik-teknis dilakukan dengan pencatatan dan pengambilan foto.
Waktu pelaksanaan Inspeksi sesuai dengan jadwal yang telah disepakati antara tim
inspektor dengan staff yang ditugasi oleh Pemilik Bendungan.
Inspeksi diluar jadwal dilakukan dengan maksud hanya sebagai konfirmasi
bilamana diperlukan untuk kejelasan atau pemantapan evaluasi dan analisis
keamanan. Sebelum penyusunan laporan Inspeksi diadakan diskusi dan koordinasi
untuk koleksi dan pembahasan dari temuan-temuan dilapangan.

III.1. Macam Kegiatan Inspeksi


Kegiatan Inspeksi dikelompokkan dalam kegiatan pokok antara lain:

1) Koleksi Data dan Informasi


Data dan informasi yang dikumpulkan dari dokumen pekerjaan yang ada serta catatan-
catatan, termasuk laporan-laporan monitoring dan catatan kejadian penting. Data ini
11
diperoleh dengan melakukan kegiatan visual dilapangan, mengenai kondisi fisik-
teknis, sistem dan kinerja, operasi peralatan, pengukuran dan pengujian beserta
analisisnya. Dalam kegiatan ini juga dilakukan wawancara dengan rekanan
pelaksanaan konstruksi.

2) Bahan Evaluasi dan Analisis


Setelah dilakukan studi untuk memahami, dilakukan seleksi dan pengumpulan data
dan informasi sebagaimana butir Nomor 1.
Pengumpulan data disini termasuk pembuatan ringkasan/data pengetesan mutu
pelaksanaan. Pengumpulan data dan informasi ini merupakan bahan untuk evaluasi
dan analisis.

3) Kegiatan Evaluasi dan Analisis


Kegiatan ini terdiri atas komponen-komponen kegiatan sebagaimana item-item
berikut:
a) Evaluasi dan analisis data dan informasi yang diperlukan untuk memungkinkan
dilakukan perbaikan-perbaikan dan analisis keamanan waduk
b) Evaluasi dan analisis keamanan partial atas masing-masing bendungan, bangunan
utama, dan bagian-bagian penting lain yang terkait, termasuk elektrikal dan
mekanikal, instrumentasi, monitoring hidrologi dan perilaku hidrolikanya
c) Evaluasi dan analisis keamanan bendungan. Status Keamanan Partial dievaluasi
yang terpengaruh secara langsung atau berantai terhadap Keamanan Tubuh
Bendungan. Sehingga diketahui status keamanan bendungan pada saat
pelaksanaan pengisian tahap awal tersebut.

3.5.SASARAN INSPEKSI LAPANGAN

Sesuai dengan daftar Simak Inspeksi yang telah dibuat, Inspeksi dilaksanakan
dengan cara pengamatan visual, wawancara dengan para pelaksana pekerjaan dan
diskusi terhadap hal-hal sebagai berikut:
- Kondisi fisik-teknis: bendungan, bangunan-bangunan pelengkap, jaringan
Irigasi, pintu outlet irigasi, jalan masuk, Instrumentasi, tebing-tebing, daerah
longsor, daerah rim waduk dan peralatan hidromekanikal dan elektromekanikal
- Telemetring dan warning system
- Pelaksanaan pengoperasian, pemeliharaan dan pemantauan.

3.6. WAKTU DAN JADUAL PELAKSANAAN

Waktu pelaksanaan Inspeksi Keamanan Bendungan Rajui ini ditetapkan selama 12


bulan, yaitu mulai tanggal ...........bulan...........tahun.2013 sampai dengan
bulan.......tahun 2014, atau sampai sertifikat operasi bendungan Rajui diterbitkan.

Pelaksanaan pekerjaan terbagi menjadi 4 tahap perkerjaan yaitu :


- Pekerjaan Persiapan
- Pekerjaan Inspeksi Keamanan Bendungan sewaktu pengisian awal waduk.
- Pekerjaan Evaluasi dan Analisa Teknik

12
- Pekerjaan Proses Sertifikasi
Jadual pelaksanaan pekerjaan dan jadual Penugasan Personil ditunjukkan pada
gambar ........ dan tabel..........
Organisasi personil pelaksana pekerjaan ditunjukkan pada gambar .............

3.7. PENCAPAIAN SASARAN INSPEKSI LAPANGAN

Periode pelaksana inspeksi lapangan disesuaikan dengan waktu pelaksanaan


pemeriksaan dan pemeliharaan, yaitu saat total shutdown dan partial shutdown.
Sesuai dengan kerangka acuan kerja yang ditetapkan dan akibat dari kendala-
kendala yang ada dilapangan, maka ada bagian yang tidak bisa dilakukan pada
pelaksanaan inspeksi besar ini, yaitu pemeriksaan kondisi visual main spillway dan
bulk head gate belum dapat dilakukan, karena dalam kondisi
rehabilitasi/pengecatan, tetapi uji coba pintu telah dilakukan.

Tabel.......... Pencapaian Sasaran Inspeksi Lapangan Bendungan Rajui.

diinspeksi
No. Bangunan/Sistim Komponen Keterangan
tidak

1. Bendungan - Tumpuan Kanan & Kiri


- Puncak Bendungan
- Parapet Visual check, tes kekuatan beton
dan test laboratorium
- Lereng Hilir Bagian hulu yang dibawah
- Lereng Hulu permukaan air waduk, diinspeksi dg.
visual check
Visual check dan pemeruman dasar
waduk

- Daerah Hilir
- Daerah Waduk

2 Spillway - Bangunan Visual check, tes kekuatan beton


bendung. dan test laboratorium
- Kolam olak atas.
- Swaluran
peluncur.
- Kolam olak
bawah

3. Main - Bangunan Incline


tunnel/terowongan Tower
- Pintu No.1,2, dan 3 Kondisi visual perlu dilihat.
Uji coba bukaan pintu no. 1, 2, & 3
apakah berjalan dengan lancar dari
posisi tertutup sampai terbuka
secara bertahap dari 25%, 50% dan
100%, bukaan 75% tidak boleh
dilakukan karena terjadi vibrasi yang
sangat besar, disebabkan besarnya
desakan tenaga dorong air dan tidak
diimbangi dengan posisi gate yang
baik. Prosedur bukaan pintu diatur
pada SOP : ...............

13
Sketsa matrik Tahapan Inspeksi Pengisian Awal Waduk

EVALUASI TAHAP PERTAMA :


No. Kegiatan dan Pelaksanaan Sumber Data
1. Pengumpulan dan telaah/mempelajari semua Dokumen pekerjaan; antara
data/informasi yang ada terkait dengan desain, lain Desain note, Komplesion
pelaksanaan konstruksi. Sehingga Tim report pelaksanaan bendungan
inspeksi benar-benar memahami kondisi dll
bendungan; beserta riwayat selama masa
pelaksanaan konstruksi
2. Pemeriksaan/Inspeksi lapangan : Pemeruman, data sounding.
- Pemeriksaan visual pada obyek inspeksi
yang berada diatas permukaan tanah dan
dibawah elevasi air waduk
- Pemeriksaan dibawah permukaan air
waduk

3. Pemeriksaan serta Uji Operasi pembukaan


Pintu serta penutupan pintu Irigasi, yang harus
dilakukan dengan petugas OP :
Harus dilakukan terhadap peralatan yang
terkait dengan keamanan bendungan seperti ;
Peralatan hidromekanik, tenaga listrik utama
dan cadangan/generator, sebagai tenaga untuk
operasi pintu dan katup, sistem prosedur
peringatan dini banjir, termasuk kehandalan
peralatan yang digunakan, flood warning
system, dll.
4. Instrumentasi : Dokumen pekerjaan; antara
Pemeriksaaan kondisi dan fungsi dari lain Desain note, Komplesion
instrumentasi dengan melaksanakan dan report pelaksanaan bendungan;
melakukan ; serta dilakukan pengkajian
- Pembacaan instrumen secara langsung dengan pembacaan intrumen
- Melakukan kajian terhadap data tersebut dan pengamatan visual tubuh
- Mengevaluasi terhadap seri bendungan dll
data/pemantauan yang ada
Pemeriksaan dan memastikan peralatan
Hidrologi, sistem pemantauan jarak jauh, serta
peralatan komunikasi; apakah semua berfungsi
dengan baik atau tidak

EVALUASI TAHAP KEDUA :


No. Kegiatan dan Pelaksanaan Sumber Data
1. Melakukan analisa teknik untuk mengetahui Dokumen dari Proyek; antara
serta menilai status/tingkat keamanan lain Desain note, Kompesion
bendungan ditinjau dari : report pelaksanaan bendungan
- Aspek struktur; Pemeriksaan stabilitas dll.
14
tubuh bendungan, termasuk stabilitas
terhadap gempa pada kondisi normal dan
luar biasa, minimal pada potongan: bagian
tertinggi, bagian yang perilakunya
menyimpang dan bagian yang
geometrinya berubah cukup besar dan
bagian kritis lainnya.
- Aspek hidrolis, (cek; banjir desain
berdasarkan data hidrologi mutakhir,
kemampuan/kecukupan kapasitas
pelimpah, tinggi jagaan, erosi eksternal,
dll.).
- Aspek rembesan (cek; erosi internal,
piping, boiling, uplift, pelarutan material
tubuh bendungan atau material pondasi,
dll) berdasarkan data yang tersedia, setelah
hal tersebut diatas, kemudian membuat
kesimpulan dan saran.
2. Membuat laporan, termasuk kesimpulan status
keamanan bendungan serta membuat
rekomendasi dan saran tindak lanjut yang
diperlukan.

15
Bagan Alir Evaluasi Pengisian awal waduk,serta Keamanan Bendungan

Mulai Mulai

Pembentukan Tim Inspeksi Oleh


Pemilik Bendungan
Inspeksi Berkala,
Luar Biasa, Khusus

Inspeksi pengisian awal dan Keamanan


Bendungan Oleh Pemilik/Pengelola Evaluasi Tahap Pertama
Bendungan

Penyiapan Laporan Inspeksi


Pengiriman Laporan Inspeksi
Berkala Oleh Para
Pemilik/Pengelola Bendungan
Kepada Balai
Pengiriman Laporan
Inspeksi ke BKB

Laporan
Inspeksi/Evaluasi
Keamanan Pemilik

Pembentukan Tim
Inspeksi Oleh Balai

Tidak
Kajian Awal Tim Inspeksi Balai:
Pelajari Informasi Desain, Input Data
Konstruksi, O&P, Lap. Inspeksi Kajian

Inspeksi Lapangan Oleh Tim


Balai Didampingi Wakil Pemilik
dan Pendesain

Kajian Detil Tim Balai Berdasarkan:


Inspeksi Lapangan, Data Kajian Awal,
Data Instrumentasi & Interpretasi

Data Cukup?

Ya
Pembuatan Laporan Inspeksi

16
a

Laporan Inspeksi Balai


Kepada Komisi

Sidang Komisi:
Evaluasi Laporan
Evaluasi Tahap Lanjut

Data Parameter
Desain,
Penuhi Analisis Detail Oleh Pelaksanaan
Kaidah Tidak/ Pemilik Berdasarkan Konstruksi,
Keamanan meragukan Data yang ada Pemantauan
Bendungan

Laporan
Analisis Detail

Ya

Penuhi Kaidah Pemilik Lakukan Survai


Persetujuan
Keamanan & Investigasi, Evaluasi
Komisi Bendungan
Tidak

Penuhi Kaidah
Keamanan Desain
Bendungan
Ya Tidak

Ya

Pemilik Melapor Kepada Pelaksanaan Sidang


Selesai Komisi Perbaikan Komisi

17
Lingkup Pekerjaan pada peralatan hidro mechanical

Pengamatan visual pada peralatan Hydro Mechanical,(Inspeksi lapangan)

INTAKE GATE
Gate leaf 3.350 x Tidak teridentifikasi karena
4.550 mm terendam dalam air.
Gate Freame & Bagian yang terendam dalam air
Guide tidak teridentifikasi.
Bagian di atas permukaan air
perlu Re-painting.
Hydrolic Cylinder Secara visual kondisi ..
Horst
Belum pernah dilakukan
Running.
Perlu dilakukan test Opening
secara manual atau elektrik.
Perlu cek / ganti oil Hydrolic.
Stem / Spindle Semua segmen stem / spindle
terpasang penuh.
Posisi pintu kondisi buka tidak di
dogging, kunci penahan pada
stem / spindle tidak dipasang.
Carries Roller pada masing
masing segmen stem / spindle
perlu di Grease.
Pintu air posisi buka, harus di
dogging pada posisi di atas
permukaan air waduk, dengan
cara per segmen Stem / Spindle
dilepas.

Segmen Stem / Spindle tidak ad


yang tersimpan pada Stem /
Spindle Storage yang telah
disediakan.

Stem / Spindle, Carries Roller


Stem, Kopling perlu diamati, Re-
painting dan Grease
Secara visual kondisi baik
Perlu dilakukan pengecekan dan
perbaikan :
Control Unit & Oil Oil Hydrolic
Pipes
Filter Hydrolic

18
Test Operasi
Control Unit dengan manual dan
electrik
Pressure gauge
Electric Control For Secara visual kondisi baik/rusak
Control
25 Ton Electric Over Kondisi baik/rusak
Head Travelling
Crone (EOT)
Rails Di atas permukaan air waduk
perlu dilakukan Re-painting/tidak
Electric Items For Kondisi baik/rusak
Control Crone

INTAKE TRASH
RACK
40 Trash Rack Panels Tidak teridentifikasi karena
terendam air waduk.
Horizontal Grating Tidak teridentifikasi karena
terendam air waduk.
Seats and Frames Tidak teridentifikasi karena
terendam air waduk.

ONE STEEL LINER


Steel Liner Pastikan kondisinya

Striffeners Pastikan kondisinya

Cut off Collans Pastikan kondisinya

Grout Holes and ..


Plugs
OUTLET GUARD
VALVES
Two Floor Through Kondisi baik/apakah bermasalah
Butterfly Valves
Operation System Kondisi baik/apakah bermasalah
Control Unit and Kondisi baik/apakah rusak.
Pressure oil System
Oil Piping Kondisi baik/perlu ditambah
Accessories Kondisi baik/rusak
Electric Items Kondisi baik/rusak

OUTLET FIXED
CONE VALVES
Two Fixed Cone 1.1 Cone valve No. 1& No. 2
Valves Kondisi Bocor/apa tidak.

19
Hydrolic Operating 2.1 Kondisi baik/ rusak
System

Control Unit and 3.1 Kondisi baik/rusak


Pressure oil System

Oil Piping 4.1 Kondisi baik/rusak

Accessories 5.1 Kondisi baik/rusak

Electric Items 6.1 Kondisi baik/rusak

DRAFT TUBE
GATES
Four sets of Draft Posisi Pintu Air dogging
Tube Gate leaves
2,640 x 1,743 mm
Informasi dari petugas
lapangan pada saat pintu air di
tutup penuh,apakah masih terjadi
kebocoran, posisi bawah tidak
rapat, perlu pengecekan..

Perlu re-painting
Apakah diperlukan ganti
rubber seal
Perlu dilakukan analisa
terhadap berat pintu pada saat
pintu tutup penuh untuk melawan
gaya uplift.

Four sets of frame 2.1 Perlu re-painting


and guides

Semi automatic 3.1 Perlu re-painting/apakah


lifting beam tidak.
Accessotire 4.1 Perlu re-painting/ apakah
tidak

Electric items 5.1 Kondisi rusak/baik

20
MONORAILS
HOIST
10 Ton Monorails 1.1 Apakh perlu Perbaikan pada
Hoist Motor Listrik/apa tidak.

Support 2.1 Kondisi baik/rusak

Structure 3.1 Perlu pengecekan secara


detail pada saat perbaikan motor
listrik terutama pada komponen2
misalnya limit switch, over load,
dll

Accessories Electric 4.1 Kondisi baik/rusak


items

AUXILIARY
MECHANICAL
EQUIPMENT
Compressed air 1.1 Kondisi baik/rusak
desilting system :

1.1 Two 1.2 Kondisi baik/rusak


Compressor after
coolers

1.2 Piping 1.3 Kondisi baik/masalah

1.3 Valve 1.4 Kondisi Rusak/Baik


flushing Nozzles
2.1 Kondisi baik/Rusak

1.4 Reservoir
Water Level
Instruments

Electric items Kondisi baik/Rusak

ULTRASONIC Kondisi baik/rusak tidak


FLOW METER berfungsi

Wiring Kondisi baik/ Rusak

Flow meter Kondisi Baik/rusak tidak


Equipment berfungsi

Indicator Box

21
Kondisi baik
Transmitter

Other Accessories

Kondisi baik
EMERGENCY
DIESEL
GENERATOR
Perlu Battery/Accu 120
AH 2 (dua) buah
Emergency Diesel
Generator
3.1 Filter oli, udara, solar
Electric / wiring

Spare parts

ELECTRICAL Kondisi baik


DISTRIBUTION
SYSTEM Perlu dilakukan
Pengecekan secara detail, ada
kabel yang putus di beberapa
tempat
Perbaikan pada electric
raceway di down stream tubuh
bendung
Main Distribution
Board
Electric Wiring and
Cabling

Hal-hal Penting yang Perlu Dipahami

Untuk dapat mencapai target sasaran yaitu didapatkannya bendungan yang aman secara
berkelanjutan, maka perlu dipahami item-item sebagaimana uraian berikut:

1) Peristiwa dan Perubahan dalam 2 Tahun selama masa konstruksi.


Peristiwa dan Perubahan yang dialami selama periode dua (2) tahun setelah
Pelaksanaan pembangunan bendungan selesai, adalah:
a) Proses pelapukan bahan dan batuan yang telah digunakan seiring pertambahan
umur bendungan

22
b) Perubahan kondisi hidrologi serta hidrolika dan geologi serta lingkungan
c) Perkembangan masalah/penyimpangan yang terdeteksi sebelumnya
d) Kesalahan operasional dan pelaksanaan pembangunan yang mungkin dilakukan
e) Terjadinya peristiwa pembebanan air penuh, gempa bumi, vandalisme/sabotase,
perusakan oleh binatang
f) Fluktuasi kondisi basah dan kering

2) Kegiatan Evaluasi dan Analisis


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan studi, evaluasi dan
analisis:
a) Koleksi dan studi untuk mempelajari guna memahami semua data dan informasi
b) Seleksi data dan informasi penyiapan bahan evaluasi dan analisis
c) Pengolahan data dan informasi yang perlu
d) Pemutakhiran atau reanalisis apabila diperlukan
e) Mempelajari dan membandingkan untuk mengetahui konsistensi, kesesuaian,
kebenaran dan kewajaran data

3) Macam Data dan Informasi


Data dan informasi yang lalu dan yang mutakhir mengenai hal-hal antara lain:
a) Desain, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan, yang meliputi aspek-
aspek; hidrologi, geologi, geo-teknik, struktur dan hidrolika
b) Data pemantauan perilaku bendungan dan bangunan-bangunan utama (data
bacaan instrumentasi bendungan)
c) Kondisi fisik-teknis
d) Uji coba fungsi peralatan hidromekanikal dan elektrikal
e) Pengukuran patok geser
f) Pengukuran sedimentasi/rembesan
g) Tes kualitas air dan beton struktur
h) Kondisi lingkungan
i) Manajemen pengoperasian dan pemeliharaan
j) Rencana Tindak Darurat.

4) Masalah/Penyimpangan
Evaluasi dan analisis data dan informasi sehingga ditemukan ada atau tidak adanya
masalah/penyimpangan/kekurangan terhadap parameter desain, ketentuan, kriteria,
pedoman, manual yang dapat dipertanggungjawabkan, diantaranya adalah sebagai
berikut:
a) Kondisi fisik teknis dan perilaku masing-masing bendungan, bangunan-bangunan
utama dan bagian-bagian lain yang terkait pada saat sekarang yang mungkin
merupakan perkembangan dari kondisi masa lalu/sebelumnya
b) Kemampuan pelimpahan banjir maksimum yang mungkin akan terjadi dengan
kondisi hidrologi mutakhir
c) Penjaminan sistim pelimpahan banjir sebagaimana butir Nomer 2) diatas dalam
kondisi darurat/emergency
d) Desain, pelaksanaan termasuk revisi desain dalam pelaksanaan
e) Pelaksanaan pengoperasian, pemeliharaan, pemantauan dan inspeksi
f) Penyiapan Rencana Tindak Darurat.

23
5) Lokasi dan Macam Potensi Bahaya
Dalam hal potensi bahaya yang mungkin timbul akibat adanya masalah/penyimpangan
sebagaimana butir No. 4) diatas, maka yang perlu dipahami adalah sebagaimana item-
item berikut:
b) Lokasi potensi bahaya antara lain:
- Bendungan, bangunan-bangunan utama
- Pondasi, tumpuan , tebing
- Waduk dan rim waduk
- Daerah sekitar bendungan
- Sistim pengeluaran air
- Pengeluaran normal; operasi, pelimpahan banjir
- Pengeluaran darurat (emergency)
c) Macam potensi bahaya antara lain:
- Longsor
- Pergerakan, vertikal dan horisontal
- Rembesan, bocoran, erosi buluh
- Erosi permukaan
- Kerusakan bangunan, peralatan
- Ketidakmampuan pelimpahan banjir
- Ketidakbenaran sistem pengoperasian
- Tidak dipelihara
- Tidak ada pemantauan
- Pencurian, pengerusakan, sabotase
- Tidak ada pemutakhiran Rencana Tindak darurat

6) Tindakan/Usaha Lanjut
Cara pemecahan/solusi tergantung macam masalah/penyimpangan dan potensi bahaya
yang ditimbulkan. Kejelasan harus diperoleh untuk menentukan tindakan. Bila belum
diperoleh, perlu usaha untuk secepatnya diperoleh kejelasan sehingga dapat diambil
tindakan pengamanan. Sebagai contoh sebagai berikut:
- Pemantauan lebih lanjut
- Studi, investigasi dan desain detail
- Reanalisis desain yang ada

Tindakan/usaha lanjut pengamatan:


- Perbaikan
- Penggantian peralatan
- Rehabilitasi
- Penghapusan fungsi

7) Status Keamanan Bendungan


Sesuai dengan Pedoman Inspeksi dan Evaluasi Keamanan Bendungan, pengertian
aman adalah aman dari kegagalan hidrolik, kegagalan rembesan dari kegagalan
struktur, khusus untuk bendungan dengan PLTA, kegagalan produksi listrik sesuai
dengan desain juga merupakan kegagalan bendungan.

24
KLASIFIKASI KONDISI KEAMANAN BENDUNGAN

NO Kategori Indikator
Klasifikasi

Klasifikasi kondisi keamanan bendungan dinyatakan baik, cukup, kurang atau buruk
dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kondisi keamanan bendungan dengan klasifikasi baik termasuk siap melakukan
tindakan darurat bila terjadi keadaan darurat guna melindungi manusia dan harta
benda diwilayah pengaruh bendungan. Sebaliknya bila kondisi keamanan belum baik
(cukup, kurang atau buruk), tindak lanjut sebagaimana butir Nomor 6) harus
dilakukan sampai dapat dinyatakan menjadi baik.

III.2. Macam Kegiatan Inspeksi

Kegiatan Inspeksi dikelompokkan dalam kegiatan pokok antara lain:

1) Penyampaian Saran/Rekomendasi untuk Tindak Lanjut


Penyampaian saran ini harus dinyatakan dengan baik agar dapat dijamin keamanan
bendungan

2) Penyusunan Laporan Inspeksi


Dalam penyusunan laporan Inspeksi pengisian tahap awal, mencakup pula kesimpulan
status keamanan bendungan dan rekomendasi tindak lanjut.

III. ORGANISASI PERSONIL

Pemilik bendungan Rajui adalah; Balai Wilayah Sungai Sumatera I dengan alamat Kantor
......... Telepon nomor,..... Facsimile nomor ..... ;Mewakili Pemilik bendungan sebagai
penanda tangan Kontrak adalah Contract

Administratif Representative adalah ............, yang juga beralamatkan sama dengan alamat
Pemilik bendungan. Untuk pengawasan pekerjaan pelaksanaan O&P dilaksanakan oleh
................. sebagai Project Manager yang ditunjuk yaitu .............. Pelaksana pekerjaan
Inspeksi pengisian tahap awal Kemanan Bendungan Rajui, Evaluasi adalah PT.Global
Parasindo, dengan para Tenaga Ahli dan satu orang Tenaga Ahli Tambahan yaitu Tenaga
Ahli Instrumentasi, empat orang tenaga Asisten dan lima orang Supporting staff.

Organisasi personil pelaksana pekerjaan ditunjukkan dalam Gambar 2.2.

IV. WAKTU DAN JADWAL PELAKSANAAN

Berdasarkan kontrak, waktu pelaksanaan Inspeksi pengisian Tahap Awal ini ditetapkan
selama 6 (tujuh) bulan mulai bulan........ sampai dengan bulan........ tahun 2013. Waktu
inspeksi ini termasuk diskusi dengan Balai Keamanan Bendungan selama kunjungan
lapangan bersama dan proses sertifikasi harus terselesaikan secara keseluruhan sampai

25
dengan tanggal ..........Desember 2013. Jadual pelaksanaan pekerjaan dan jadual penugasan
personil tenaga ahli ditunjukkan dalam Gambar 2.3 dan 2.4.

V. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN

Kegiatan-kegiatan yang memerlukan peralatan dan perlengkapan adalah sebagai berikut:


1) Kegiatan Kantor
2) Kegiatan lapangan, yaitu pengukuran topografi, pengukuran bathimetri, pengukuran
rembesan, pengetesan mutu beton struktur dan inspeksi lapangan serta inspeksi
dibawah air dengan melakukan pemeruman sepanjang waduk, dan lereng hulu.

Berikut adalah peralatan dan perlengkapan yang dipakai dalam pelaksanaan


pekerjaan.

No. Jenis Peralatan Jenis Merk Jumlah Keterangan


1. PERALATAN
KANTOR
1. Komputer PC Desktop Intel Dual Core 3 Unit
2. Laptop Toshiba Intel Core 2 Duo 7 Unit
3. Printer A3 Ink Jet HP, Epson 2 Unit
4. Printer A4 Ink Jet Epson 1 Unit
5. Plotter Ink Jet HP Desk Jet 750 1 Unit
6. Alat Tulis Kantor - Lokal LS
7. Meja Tulis Biro Lokal 11 Unit

2. PERALATAN
LAPANGAN
1. Total Station TS 3 Topcon 1 Unit
2. Water Pass Nak 1 Wild 1 Unit
3. GPS Etrik Garmin 1 Unit
4. Staff Gauge Tripod Wild 1 Unit
5. Gelas Ukur 1000 cc Lokal 1 Unit
6. Schmid Hammer Manual Alpha 550 1 Unit
7. Compass Brunton Tamaya 1 Unit
8. Tangga akses - Lokal 1 Unit
9. Pompa air Submersible Honda 1 Unit
10. Lampu senter - Butterfly 1 Unit
11. Stop watch - - 1 Unit
12. Mistar Ukur - Lokal 1 Unit
13. Camera Digital Biasa Nikon, Canon 5 Unit
14. Camera digital Under water Canon 1 Unit
15. Video Camera Handycam Sony 1 Unit
16. Pita Ukur 2,50 m - 1 Unit
17. Helmet - GSA 8 Buah
18. Safety shoes Water resistant Lokal 8 Psg

26
VI. INSPEKSI

III.3. Tujuan Inspeksi Pengisian Tahap Awal

(Pekerjaan yang saat ini dilaksanakan)


Memahami benar status keamanan bendungan, apakah baik atau belum, sesuai ketentuan
yang berlaku. Dan bilamana belum baik, perlu dipahami benar tindak lanjut yang harus
dilakukan.

III.4. Tujuan Akhir Inspeksi Pengisian Tahap Awal

(Diluar pekerjaan yang saat ini dikerjakan)


Setelah rekomendasi tindak lanjut hasil tahap awal dipenuhi, maka dapat diketahui bahwa
status Keamanan Bendungan yang telah ditindak lanjuti adalah baik, sesuai ketentuan yang
berlaku.

27