Anda di halaman 1dari 124

GALIAN DAN PERBAIKAN PONDASI BENDUNGAN URUGAN

MODUL PELATIHAN GALIAN DAN PERBAIKAN PONDASI


Modul ini dibagi menjadi 5 (lima) bab; BAB I. PENDAHULUAN BAB II. GALIAN PONDASI DAN PERBAIKAN PONDASI PERMUKAAN BAB III. PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN BAB IV. PERBAIKAN PONDASI BAWAH PERMUKAAN BAB V. PENGENALAN GROUTING

DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN 1.1 Umum 1.2 Deskripsi Singkat 1.3 Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) 1.4 Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) 1.5 Pokok Bahasan 1.6 Petunjuk Belajar II. GALIAN PONDASI DAN PERBAIKAN PONDASI PERMUKAAN 2.1 Umum 2.2 Pengeringan ( Dewatering ) 2.2.1 Dasar Pertimbangan 2.2.2 Debit Pemompaan 2.2.3 Metode Pengeringan 2.2.4 Pemilihan Metoda Dewatering 2.3 Penggalian Pondasi Bendungan 2.3.1 Peledakan 2.3.2 Penggalian Menggunakan Alat Berat 2.4 Perbaikan Pondasi Permukaan 2.4.1 Umum 2.4.2 Pondasi Batuan 2.4.3 Pondasi Pasir Dan Kerikil 2.4.4 Pondasi Tanah 2.5 Penggalian Terowongan 2.5.1 Penggalian Exploratory Adit 2.5.2 Teknik Penggalian dan Cara Penerowongan

III. PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN 3.1 Peta Dasar Yang Digunakan 3.1.1 Peta topografi untuk perencanaan umum 3.1.2 Peta topografi untuk perencanaan dasar dan perencanaan rinci 3.1.3 Peta topografi untuk supervisi dan pelaksanaan konstruksi 3.2 Cara Pemetaan 3.2.1 Lingkup Pekerjaan 3.2.2 Perlengkapan 3.2.3 Prosedur Pelaksanaan Pemetaan 3.2.4 Catatan Lain 3.3 Parameter Tanah 3.4 Hasil Pemetaan IV. PERBAIKAN PONDASI BAWAH PERMUKAAN 4.1 Umum 4.2 Perbaikan Pondasi Bawah Permukaan 4.2.1 Pondasi Batuan 4.2.2 Pondasi Pasir dan Kerikil 4.2.3 Pondasi Tanah 4.3 Pengeringan Sumber Air Pada Permukaan Pondasi 4.3.1 Sumber Airnya Kecil Sekali 4.3.2 Sumber Airnya Agak Besar 4.3.3 Sumber Air Besar Sekali 4.3.4 Pelaksanaan Urugan

V. PENGENALAN GROUTING 5.1 Umum 5.2 Campuran Grouting 5.3 Grouting Semen 5.4 Grouting Kimia 5.5 Teknik Grouting 5.5.1 Peralatan Grouting 5.5.2 Tekanan Grouting 5.5.3 Percobaan Permeabilitas (Lugeon Test) 5.5.4 Percobaan Grouting (Grouting Test) 5.5.5 Urutan Kerja Grouting 5.5.6 Pelaksanaan Grouting Semen 5.5.7 Tahapan Pelaksanaan Grouting 5.5.8 Pemeriksaan Hasil Grouting 5.6 Aplikasi Grouting Di Bendungan 5.7 Spesifikasi Teknis 5.7.1 Bahan Grout 5.7.2 Peralatan 5.8 Pengukuran Dan Pembayaran

I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini di bahas mengenai latar belakang Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi Bendungan yang di dasarkan pada Undang Undang Republik Indonesia, No. 7, ayat 1, tahun 2004, tentang Sumber Daya Air, sebagai berikut : Pelaksanaan konstruksi bendungan urugan dilakukan berdasarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya lokal serta mengutamakan keselamatan, keamanan kerja dan berkelanjutan fungsi ekologis, sesuai dengan peraturan perundang-undangan . Selain itu diuraikan juga mengenai deskripsi singkat, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus, dan pokok bahasan serta petunjuk belajar mengenai galian dan perbaikan pondasi.

II. GALIAN PONDASI DAN PERBAIKAN PONDASI PERMUKAAN Umum Pekerjaan galian untuk pondasi bendungan pada prinsipnya adalah menggali lapisan tanah/batuan guna membuat bidang dasar pondasi bendungan sehingga penimbunan bendungan dapat dilakukan diatasnya dengan baik. Galian dilakukan dengan mengikuti garis rencana galian dan didasarkan pada kondisi geologi batuan dasar. Persyaratan umum pondasi bendungan urugan adalah harus memiliki kuat geser dan tingkat kedap air yang cukup sesuai persyaratan desain. Lempung dan pasir halus yang kuat gesernya rendah, material kompresif (compressible), mudah tererosi, porus, pada prinsipnya harus dibuang pula. Namun apabila membuang lapisan tanah jelek tersebut secara ekonomis terlalu mahal misal karena penyebarannya yang luas, harus dilakukan upaya perbaikan pondasi. Upaya perbaikan pondasi bendungan akan tergantung pada jenis pondasi bendungan dan bentuk permukaan pondasi. Berdasarkan jenis batuan yang membentuk lapisan pondasi, pondasi bendungan dapat dibedakan kedalam 3 (tiga) jenis yaitu: - pondasi batuan, - pondasi pasir dan kerikil, - pondasi tanah.

Pengeringan (Dewatering) Dalam pelaksanaan pengeringan dasar pondasi hasil penggalian perlu beberapa pertimbangan antara lain : Dasar Pertimbangan Setelah selesai pekerjaan pengelakan sungai, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan pengeringan terutama pada galian pondasi bendungan di alur sungai lama. Air yang harus dikuras dapat berasal dari : 1. Dasar galian, berupa rembesan atau sumber air tanah, genangan air hujan dan air limbah operasi pekerjaan. 2. Rembesan dari arah hulu sungai, dibalik bendungan pengelak depan (hulu). 3. Rembesan dari arah hilir sungai, dibalik bendungan pengelak hilir. 4. Rembesan dari arah kedua tebing sungai. Dalam menyiapkan rencana sistem pengeringan harus mempertimbangkan : debit pengeringan, penurunan muka air yang diinginkan, jenis dan jumlah serta penempatan pompa harus direncanakan sebelum penggalian dimulai. Debit rembesan dapat dihitung dengan rumus Darcy untuk formasi batuan yang berpori, untuk rongga-rongga tabular (tabular void) atau rekahan dihitung dengan rumus pengaliran pipa.

Pemilihan Metoda Dewatering Metoda dewatering yang cukup memadai dan berhasil tidak hanya didasarkan pada luas dan kedalaman pekerjaan galian, penurunan muka air tanah dan lamanya pengontrolan muka air tanah, tetapi tergantung pula pada sifat dan data lapisan tanah di sekitar kegiatan dewatering. Secara umum, pemilihan metoda dewatering dapat didasarkan kepada jenis lapisan tanah, namun metoda ini tidak dapat menyelesaikan setiap permasalahan di lokasi masing-masing kegiatan, karena setiap kegiatan dewatering memiliki data yang spesifik secara individu yang akan berlainan dengan lokasi lainnya.

Metode Pengeringan

Beberapa macam metode pengeringan yang banyak dipakai dalam pelaksanaan galian pada bendungan tipe urugan, adalah : a) b) c) d) e) f) g) Pematusan permukaan (surface drainage Pematusan gravitatif (gravity drainage) Pemompaan sumuran (sump pumping) Pemompaan sumur titik (wellpoint pumping) Pemompaan sumur dalam (deepwell pumping) Pengeringan elektro osmosis Metoda lain

a. Pematusan Permukaan

Papan Kayu Besi Beton

Mortar

Drain

Muka Galian

(a) Saluran terbuka dan saluran tempel

(b) Detil saluran tempel

Saluran pematus permukaan dapat berupa saluran terbuka di berm galian dan saluran tempel. Untuk menahan air hujan atau limpasan dari galian lain, pembuatan saluran pematus permukaan lebih sederhana dan efisie. Pada galian yang lebih dalam dan dijumpai rembesan ditebing galian dapat dipatus dengan saluran tempel menuju ke saluran atau sumuran pembuang.

b. Pematusan Gravitasi

Pematusan gravitasi lewat sumuran menuju lapisan lolos dibawah permukaan galian Pada kondisi tertentu, dimana galian pondasitidak terlalu dalam dan galian berada pada tanah yang kedap seperti lempung dan lanau, air mengalir melalui kemiringan galian menuju ke arah hilir secara gravitatif. Apabila di bawah permukaan galian terdapat lapisan lulus air yang kering, maka di bawahnya dapat dilakukan pematusan secara gravitatif berupa resapan ke bawah.

c. Pemompaan Sumuran (Sump Pumping) dan Paritan (Ditches)

Metode pengeringan dengan paritan terbuka.

Metode pengeringan pemompaan langsung (sump pit) Perlu diperhatikan pada lapisan pasir diatas, apabila beda tekanan (head) cukup tinggi, dapat terjadi sand boiling yang dapat membahayakan pada lantai kerja, sehingga perlu digunakan cara pengeringan yang lain (misalnya dengan well point)

Pemompaan langsung Cara pemompaan langsung tersebut adalah metode pengeringan dengan pemompaan yang sederhana dan efektif pada lapisan kerakal bersih serta pasir kasar dan tidak cocok untuk material yang halus karena akan terjadi erosi di sekitar sumuran. Lokasi sumuran umumnya pada pojok galian dan berada di bawah rencana muka galian. Kedalaman galian efektif untuk sumuran adalah 5 hingga 6 m dan apabila galian lebih dalam perlu penurunan elevasi pompa atau pompa perlu digantung.

d. Pemompaan Sumur Titik (Wellpoint Pumping) Cara ini adalah merupakan cara yang tidak langsung untuk menurunkan muka air tanah (MAT) di luar rencana galian (daerah kerja) Metode pompa titik (wellpoint) ini cocok digunakan pada galian berupa lapisan pembawa air dangkal dan efektif untuk lapisan pasir berlapis. Konstruksi sumur/pipa terdiri pipa saringan, diameter 5 cm hingga 7,5 cm dan panjang 30 cm hingga 105 cm.

Denah sistem Pengeringan pompa titik (atas) dan potongan melintang (bawah) Kedalaman efektif penurunan muka air (draw down) terbatas 5 m sampai 6 m tergantung struktur tanah dan koefisien kelulusan air (permeabilitas). Metode ini dapat mencegah terjadinya sand boiling didasar lantai kerja.

e. Pemompaan Sumur Dalam (Deep Well Pumping) Cara ini juga merupakan cara tak langsung untuk menurunkan muka air tanah seperti halnya pompa titik.

Kombinasi Pompa Sumur Dalam dan Pompa Titik Kalau digabung dengan pompa titik, cara ini merupakan kombinasi sumur dan pompa titik.

Metode sumur dalam ini cocok untuk menurunkan muka air tanah (MAT) yang bersifat lulus airnya meningkat sesuai kedalamannya (bertambah dalam bertambah lulus air). Pemompaan dapat dilakukan dengan pompa hisap rendam (submersible pump) atau sistem pipa pengeluar (ejector).

f. Pengeringan Elektro Osmosis

Pengeringan elektro osmosis Prinsip elektro osmosis adalah memasukkan aliran arus searah (DC) pada media tanah dengan permeabilitas rendah sehingga meningkatkan kecepatan pematusan, karena migrasi air tanah dari elektroda positif (katoda) ke elektroda negatif (anoda). Umumnya diterapkan untuk pengeringan pada tanah lanau, lempung lunak dan gambut, dimana pemompaan biasa tidak dapat diterapkan. Katoda berupa sumur titik dan anoda terdiri batang logam anti karat. Voltage yang dipakai 30 V hingga 100 V, kuat arus 15 hingga 30 ampere dan daya yang diperlukan 0,4 KW hingga 2,5 KW setiap sumur titik. Energi listrik bervariasi dari 1 KW/m3 untuk galian luas dan 10 KW/m3 untuk galian sempit.

g. Metode Lain Selain metode pengeringan dengan sistem pemompaan diatas, dalam pelaksanaan galian pondasibendungan perlu didukung dengan metode penghadangan air tanah (groundwater exclusion) tanpa melalui proses penurunan muka air tanah. Adapun metode yang sering dilaksanakan adalah parit halang (cut off trench) dibawah bendungan pengelak, dinding diafragma, pancang lebar (sheet piling) dan grouting penahan air (water stop grouting). Pemilihan metode pengurasan perlu didasari pada informasi yang rinci mengenai lokasi, tujuan pengurasan, gambar desain, iklim dan cuaca, kondisi tanah/geologi, perincian galian dan kondisi medan.

Penggalian Pondasi Bendungan Penggalian pada pondasi bendungan dilakukan pada bagian pondasi dari bendungan dan pengupasan pada bagian tebing kiri dan kanan dari tubuh bendungan.

Peledakan Penggalian dengan menggunakan alat peledak biasanya digunakan dinamit yang dilakukan oleh blaster man yang ahli dan bersertifikat. Penggalian dengan peledak ini dilakukan pada pondasi batuan keras seperti batuan beku, batuan metamorf atau batuan sedimen yang keras. Dalam melaksanakan penggalian menggunakan bahan peledak perlu diperhatikan agar pada saat peledakan jangan sampai mempengaruhi kondisi batuan pondasinya sendiri.

Tahapan kerja dari peledakan ini secara umum dapat dibedakan seperti dibawah ini : A. Pemisahan (Loosening) Pemisahan (loosening) adalah serangkaian pekerjaan dalam aktifitas peledakan yang dilakukan untuk memisahkan batuan dari batuan induknya yang massive. Alat - alat yang biasa digunakan dalam loosening ini adalah : 1. Untuk pembongkaran batuan / tanah biasanya dipakai excavator berupa : power shovel, dragline, back hoe, shovel dozer , bulldozer, bucket wheel excavator, power scraper, clam shell, grab bucket, dan hand shovel. 2. Untuk pembongkaran batuan yang keras digunakan : kabel pemotong, alat bor dan bahan peledak.

B. Loading (Pemuatan) Loading adalah suatu pekerjaan atau aktivitas pemuatan material hasil peledakan ( brocken rock ) yang dipindahkan dari tempat peledakan oleh alat muat ke alat angkut. Macam alat muat : 1). power shovel 2). Dragline 3). Backh hoe 4). Clam shell 5) Shovel dozer 6. bucket wheel excavator. 7. overhead shovel loader 8. contiuous loader 9.bulldozer (untuk kondisi tertentu)

C. Hauling (Pengangkutan) Hauling adalah suatu pekerjaan atau aktivitas peminda-han material hasil ledakan (broken rock) dari tempat penambangan ke tempat penimbunan (stock pile, borrow pit, stok yard, dsb ) dengan menggunakan alat angkut. Macam - macam alat angkut : 1) Truck. 3). lori dan lokomotip 2). Pipe transportation 4). power scraper belt

Penggalian Menggunakan Alat Berat Penggalian dengan alat berat ini biasanya dilakukan pada pondasi yang berupa pondasi pasir dan kerikil atau pondasi tanah. Alat berat yang digunakan untuk penggalian dan pengangkutannya seperti pada sub pasal 2.3.1.

Perbaikan Pondasi Permukaan Umum Tujuan utama perbaikan pondasi permukaan antara lain adalah : Menciptakan ikatan yang erat (tight bond) antara material zona inti dengan pondasi. Mencegah tererosinya material zona inti terbawa masuk ke pondasi lewat retakan. Menghindari adanya material pondasi yang buruk (mudah tererosi, lemah, tidak stabil, lepas/mudah mampat, porus) tanpa dibuang atau diperbaiki (treatment). Mencegah terjadinya retakan (crack) pada timbunan zona inti karena perbedaan penurunan yang besar akibat ketidak beraturan permukaan pondasi, seperti: permukaan yang berundak, terlalu terjal, berubah kemiringan secara mendadak. Bagi pondasi diluar zona inti: merapikan bentuk (reshaping) permukaan pondasi agar timbunan dan pemadatan dapat dilakukan dengan baik, membuang material yang buruk, dll.

Pondasi Batuan
Hal-hal yang perlu dilakukan, antara lain : a) b) Setelah galian pondasi - pondasi selesai dikerjakan, perlu dilakukan inspeksi bersama untuk menilai kecukupan galian dan perlakuan galian pondasi. Perlu observasi geologi rinci untuk menginventarisir cacat batuan (rock defects) dan bidang diskontinuitas seperti : lipatan (fold), sesar (fault), kekar (joint), ketidakselarasan (unconformity) dan zona lemah (weak zone) lainnya. Hasil informasi galian akhir perlu dipetakan secara topografi dan geologi rinci (skala 1 : 100 ~ 1 : 200) dan dibuat penampang-penampang melintang yang mewakili untuk direncanakan perapihan bentuk penampang (reshaping) dan perbaikan pondasi (foundation treatment) Berdasarkan pengamatan langsung pada singkapan batuan hasil galian perlu verifikasi terhadap asumsi desain terutama garis batas galian (excavation line), kemiringan galian (slope) dan tebing asli (batter). Rembesan air tanah, baik yang menyebar (seepage) maupun terkonsentrasi sebagai sumber air (spring) perlu dipetakan dengan teliti antara lain : elevasi sumber air, penyebaran atau luas, asal dan arah, kuantitas / debit dan kualitas pengalirannya. Sebelum dimulai pekerjaan timbunan, Tim Kajian Balai Bendungan perlu diundang untuk memverikasi hasil perbaikan pondasi dan kesiapan pelaksanaan timbunan.

c)

d)

e)

f)

TIPIKAL PERBAIKAN PONDASI BATUAN

Galian lapisan penutup dan perapihan permukaan galian

Tipikal perbaikan pondasi permukaan setelah dilakukan penggalian tanah penutup diatasnya

3. Pembersihan Galian Pondasi Setelah dilakukan pekerjaan galian atau pengupasan pondasi, langkah selanjutnya adalah pembersihan pondasi (foundation cleanup), setelah itu baru dilakukan perbaikan pondasi. Semua sisa galian, lapukan, serpihan dan kotoran-kotoran harus dibersihkan secara manual atau dengan bantuan peralatan. Pembersihan dilakukan dengan pencukilan (chipping), penyapuan (brooming), penyemprotan dengan air bertekanan tinggi (water jetting) maupun peniupan dengan udara bertekanan tinggi (air jetting). Air bekas penyemprotan harus dialirkan keluar. Apabila permukaan batuan dapat melunak karena penyemprotan air, pembersihan harus dilakukan dengan peniupan udara bertekanan tinggi. Material lepas atau material yang tidak memenuhi syarat yang mengisi: rongga-rongga, zona geseran, retakan, seam, harus dibuang.

Macam - macam perbaikan pondasi permukaan


1). Slush Grouting Slush grouting adalah acian semen atau mortar semen yang diisikan kedalam retakan kecil pondasi, bukan untuk menutup permukaan pondasi. Untuk mencegah material inti tidak masuk kedalam pondasi bersamaan dengan aliran rembesan. 2). Penambalan dengan beton Tujuan penambalan dengan beton (dental concrete) adalah untuk meratakan bentuk ketidakteraturan setempat, sehingga diperoleh bidang kontak yang baik saat penimbunan,. 3). Shotcrete Shotecrete adalah beton atau mortar yang disemprotkan dengan tekan udara dan kecepatan yang tinggi, hingga tekanan pancarannya mampu memadatkan beton atau mortar pada bidang permukaan batuan pondasi. 4). Perbaikan Bidang Sesar (Patahan) Zona geseran atau zona hancuran pada pondasi batuan adalah sangat berbahaya karena dapat menimbulkan terjadinya perbedaan penurunan dan sufosi. Karakteristik sesar yang mencakup: lokasi, arah, lebar, kedalaman dan bahan pengisi akan menentukan cara perbaikannya.

Pondasi pasir dan kerikil (Sand & Gravel Foundation) Umum Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : a) Lakukan pemeriksaan pondasi secar teliti untuk mengetahui kondisi massa pasir dan kerikil terutama distribusi ukuran butirannya dan karakteristik perlapisannya. b) Mengingat debit rembesan lapisan pasir dan kerikil yang besar, selama pelaksanaan perlu dilakukan pengujian kelulusan air langsung di lapangan dengan cara uji pemompaan (pumping test) agar diperoleh data permeabilitas lapangan yang akurat. c) Secara umum pondasi pasir dan kerikil memiliki daya dukung yang baik untuk bendungan urugan dengan tinggi antara 40 m hingga 50 m. Namun pada pondasi pasir berbutir halus dengan koefisien keseragaman < 10 % dan kepadatan relatif < 70% serta mudah luluh bila dipadatkan secara berlebihan dengan getaran, maka pondasi tersebut harus diperbaiki. d) Pondasi pasir bergradasi seragam yang berada di daerah rawan gempa, angka kepadatan relatif-nya harus > 70% ; bila kurang harus diperbaiki secara khusus karena rawan terhadap likuifaksi. e) Pondasi pasir kerikil umumnya sangat porus, selama pelaksanaan pekerjaan, perlu pengeringan (dewatering) secara terus menerus dengan pemompaan dan untuk menjaga kehandalan sistem pengeringan harus ada unit cadangan pompa.

2. Perbaikan pondasi permukaan : a) Galian: semua bentuk tidak beraturan pada permukaan, alur-alur dan material yang mudah terhanyut (washout) harus dihilangkan. Lereng galian harus cukup landai untuk mencegah terjadinya kelongsoran, minimal dengan kemiringan 1:1. b) Pondasi dibawah zona inti: perlu dipadatkan hingga memiliki kekuatan yang cukup, sesuai dengan karakteristik material timbunan diatasnya. c) Pemadatan pondasi: upaya pemadatan pondasi pasir kerikil dapat dilakukan dengan mesin gilas ban karet (rubber tire roller) atau mesin gilas roda baja getar (vibratory roller) dengan memperhatikan angka frekwensi alami (natural frequency) dari jenis pasir dan alat pemadat. Mesin gilas roda baja getar, lebih sering menjadi pilihan karena dapat menghasilkan permukaan yang lebih baik untuk penimbunan urugan tanah lapis pertama. d) Pencegahan terjadinya aliran buluh: untuk mencegah ter-erosinya material timbunan tanah masuk kedalam pondasi, material timbunan tanah perlu diberi perlindungan dengan filter atau dengan menggunakan bahan timbunan yang tidak erosif (non erodible) yang berplastisitas tinggi, ditempatkan pada bidang pertemuan dengan pondasi. Zona filter ditempatkan dihilir paritan halang (cutoff trench) dan dibawah timbunan shell hilir seperti pada gambar 2.23.

Contoh penempatan zona filter pada pondasi pasir kerikil

Pondasi Tanah (Soil Foundation) 1. Umum Dalam pelaksanaan galian pondasi, sering dijumpai pondasi tanah yang bersifat burai (slaking) yang dapat terjadi karena terekspose ke udara atau sinar matahari (air slaking), atau karena air (water slaking). Ada beberapa cara untuk mengatasinya, antara lain : 1) Bila tanah pondasi bersifat burai oleh air adalah dengan membebaskan dari genangan air atau kondisi basah, sedang bagi pondasi yang burai oleh udara serta sinar matahari adalah dengan dengan peneduhan atau operasi penggalian pada malam hari. 2) Dengan metode gali-timbun, dimana galian pondasi yang terbuka segera diikuti pekerjaan penimbunan sehingga tidak sempat burai. Biasanya penggalian dilakukan dalam 2 tahap, tahap I: penggalian dihentikan sampai sekitar 30~50 cm sebelum rencana batas galian, tahap II: penggalian dilakukan sampai rencana batas galian setelah penimbunan siap dilaksanakan, setelah itu langsung dilakukan penimbunan. 3) Galian yang terbuka segera ditutup dengan shotcrete atau gunite blanket dengan mortar halus setebal 2 cm hingga 5 cm.

2. Perbaikan pondasi permukaan 1) Galian : semua bentuk tidak beraturan pada permukaan, alur-alur dan material yang mudah terhanyut (washout) harus dihilangkan. Lereng galian kemiringannya harus 1:1. 2) Pondasi dibawah zona inti: perlu dipadatkan hingga memiliki kekuatan yang cukup, sesuai dengan karakteristik material timbunan diatasnya. 3) Pemadatan pondasi tanah: dilakukan dengan mesin gilas kaki domba (sheepfoot roller ) sebanyak 12 lintasan. Bila pondasi cukup teguh untuk penetrasi kaki-kaki mesin gilas, lapisan atas pondasi dapat di cacah dengan alat bajak (disk) sedalam 15 cm kemudian dibasahi dengan air dan dipadatkan. 4) Permukaan yang halus yang diakibatkan oleh lintasan peralatan konstruksi (truck, dll) pada kegiatan pemadatan sebelumnya, harus di cacah lebih dulu sebelum dilakukan penghamparan timbunan berikutnya. 5) Untuk pondasi tanah yang tergrouting dengan baik dan tanah dengan tingkat over-konsolidasi yang tinggi yang dapat pecah menjadi bongkah-bongkah keras, tidak harus dicacah dan dicampur dengan material inti, tetapi diperlakukan seperti penimbunan tanah pada pondasi batuan.

Penggalian Terowongan Dalam pelaksanaan penggalian terowongan, pertama kali yang dilakukan adalah membuat terowongan uji di bagian hulu dan hilir terowongan tersebut untuk selanjutnya terowongan uji ini dapat dibuat untuk pembuatan portal terowongan (tunnel portal). Penggalian "Exploratory Adit 1). Cakupan : Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk membuat "exploratory adit" atau terowongan uji, yaitu terowongan berukuran kecil (kurang lebih 2 m x 2 m) untuk tujuan : Mengetahui keadaan geologi bawah permukaan di tempat lintasan rencana terowongan. Pengujian lapangan ("insitu test), antara lain: "loading test", "shear test", "flat jack test" dan lain sebagainya.

2). Peralatan dan Perlengkapan : Peralatan penggalian untuk tanah, batuan lapuk, dan batuan lunak. Peralatan peledakan untuk penggalian batu segar yang bersifat keras. Peralatan untuk membuang material galian. Balok kayu atau besi untuk penyangga. Generator, pompa air, dan lain-lain perlengkapan yang biasa dipakai untuk penggalian "exploratory adit".

3). Prosedur :
a) Di tempat pintu masuk biasanya dijumpai tanah pelapukan tebal, sehingga perlu dibuat galian terbuka terlebih dahulu. Pintu masuk "exploratory adit" perlu dipasang penyangga secara seksama dan pengaman lain untuk menghindari runtuhan. b) Penyangga yang menerus perlu dipasang pada tempat dengan tanah atau batuan yang mudah runtuh. c) Penggalian dengan bahan peledak pada tempat dengan batuan keras perlu dilakukan oleh ahli yang berpengalaman. d) Perlu dipasang lampu penerangan, tanda-tanda ukuran jarak dan juga peralatan untuk ventilasi. e) Bocoran air tanah perlu segera didrainasi. f) Dinding dan atap "exploratory adit" perlu dibersihkan, misal disemprot dengan air, untuk memudahkan deskripsi geologi. g) Pada tempat-tempat yang telah ditentukan agar dilakukan pengujian lapangan sesuai instruksi pihak perencana, misal: "loading test", "shear test" dan lain sebagainya. h) Bila perlu, beberapa contoh batuan diambil untuk pengujian lebih lanjut di laboratorium.

4). Perolehan Data : Data yang diperoleh adalah log "exploratory adit", yaitu deskripsi geologi dinding kiri, kanan, dan atap "exploratory adit", yang antara lain memuat: litologi berikut sifat fisiknya, diskontinuitas, rembesan air tanah, hasil-hasil pengujian yang dilakukan dan lain sebagainya.

5). Catatan : a. Mengingat pekerjaan ini berbahaya, maka faktor keselamatan perlu diprioritaskan. b. Bentuk "exploratory adit" yang umum adalah trapesium dengan ukuran lantai dasar 1,8 m, sisi tegak masing masing 1,8 m, dan lebar atap 1,4 m. Untuk keperluan khusus, ukurannya dapat dibuat lebih besar. Panjang "exploratory adit" bisa puluhan sampai ratusan meter tergantung dari keperluan. c. Pekerjaan galian yang lain adalah sumuran uji dan paritan uji. Pekerjaan ini tidak banyak berfungsi untuk perencanaan terowongan, sebab paling-paling hanya untuk mengetahui ketebalan lapisan tanah, terutama di daerah rencana pintu terowongan (portal).

Teknik Penggalian dan Cara Penerowongan Penggalian untuk terowongan ini hampir sama dengan penggalian untuk pondasi bendungan yaitu bisa dengan cara penggalian secara konvensional, dengan menggunakan bahan peledak atau menggunakan alat mekanik. Macam - macam teknik penggalian untuk terowongan bisa dilihat pada tabel di bawah :

Berbagai Jenis Teknik Penerowongan

Tabel Cara Penggalian Terowongan

III. PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN Pemetaan geologi dilakukan setelah penggalian pondasi dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran kondisi geologi termasuk struktur geologi, apakah sudah sesuai dengan desain, disamping merupakan salah satu dokumen penting untuk as built drawing nanti. Apabila ternyata ditemui suatu kondisi geologi yang tidak sesuai dengan desain yang dapat mempengaruhi keamanan bendungan yang akan dibangun, maka harus dilakukan penelitian/kajian yang lebih mendalam, apabila perlu dengan melakukan investigasi tambahan; berdasarkan hasil investigasi tambahan kemungkinan desain tubuh dan pondasi bendungan dapat berubah.

Peta Geologi Teknik Sepanjang Terowongan

Peta Geologi Teknik Sepanjang Terowongan Dan Penampangnya

IV PERBAIKAN PONDASI BAWAH PERMUKAAN


Umum Perbaikan pondasi bawah permukaan biasanya dilakukan setelah pengupasan atau penggalian pondasi serta perbaikan pondasi permukaan telah selesai dilaksanakan. Secara umum perbaikan pondasi bawah permukaan ini biasanya dilakukan pada jenis pondasi yang berupa batuan dan bersifat keras tetapi banyak mengandung kekar, retakan, perlapisan. Perbaikan pondasi ini dari satu tempat ke tempat lain berfariasi tergantung dari jenis pondasi dan kondisi geologi secara menyeluruh. Dibawah ini dijelaskan mengenai perbaikan pondasi bawah permukaan pada jenis pondasi yang berupa pondasi batuan, podasi pasir dan kerikil serta pondasi tanah. Berdasarkan jenis tanah / batuan pondasinya maka dalam hal perbaikan pondasinya berlainan dari satu lokasi ke lokasi lain walaupun tipe bendungannya sama.

Perbaikan Pondasi Bawah Permukaan Berdasarkan kondisi geologi pondasi bendungan dapat di bedakan kedalam tiga jenis, yaitu : Pondasi batuan, Pondasi pasir dan kerikil, serta pondasi tanah. Pondasi Batuan (Rock Foundation) Dalam perbaikan pondasi bawah permukaan pada pondasi batuan, biasanya dilakukan dengan cara grouting semen (grouting). Hal - hal yang perlu diperhatikan pada perbaikan pondasi dengan cara ini, antara lain : 1) Pondasi batuan sesuai dengan kondisi geologinya, baik dari jenis batuan penyusun maupun struktur bawah permukaan sangat variatif dari satu lokasi ke lokasi lain. 2) Perlu mencermati penampang geologi dan penampang permeabilitas melintang dan memanjang tapak bendungan untuk mempersiapkan pekerjaan pondasi bawah permukaan. 3) Metode grouting (grouting semen) dinilai cocok untuk memperbaiki pondasi bawah permukaan yang lebih dalam 10 m hingga 100 m tanpa melakukan penggalian dan cukup dengan pengeboran dari permukaan pondasi. 4) Adapun tujuan utama perbaikan pondasi dengan grouting adalah : a) Mengurangi intensitas aliran filtrasi (kebocoran - kebocoran) dari waduk yang mengalir keluar melalui rekahan yang terdapat pada pondasi bendungan. b) Mengurangi gaya ke atas (uplift) pada dasar calon bendungan yang disebabkan oleh tekanan air tanah yang terdapat dalam lapisan pondasi. c) Meningkatkan daya dukung batuan yang membentuk lapisan pondasi calon bendungan.

Pondasi Pasir dan Kerikil (Sand & Gravel Foundation) Maksud dari perbaikan pondasi pasir dan kerikil dibawah permukaan ini dapat di uraikan sebagai berikut : 1) Upaya mengurangi rembesan atau mereduksi sekecil mungkin dengan membuat penahan (barrier = cut off) secara vertikal menyeluruh atau dikenal sebagai positive cut off

Penahanan Kedap Secara Vertical Menyeluruh (Positive Cut Off)

2. Mereduksi rembesan baik dengan vertical cut off sebagian (partial) atau selimut kedap di bagian hulu untuk mengontrol rembesan atau kombinasi keduanya.

Penahanan Kedap Partilan Kombinasi Dengan Penahanan Kedap Semi Lulus Air (Partial Cut Off).

3. Mengendalikan rembesan di bagian hilir dengan sistem relief dan merupakan negative cut off
.

Mengendalikan Rembesan Dibagian Hilir Tanpa Penahan Kedap Vertical (Negative Cut Off).

Perbaikan pondasi dalam rangka mengurangi kelulusan air tergantung ketebalan dari lapisan pasir atau kerikil, terhadap lapisan yang kedap (impervious layer) di bawahnya, sehingga dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1) Lapisan pasir / kerikil tipis (< 10 m) Pembuatan parit halang (cut off trench) lebih efektif bila komponen pasir dominan dan sedikit kerikil dan tanpa bongkah batu, sheet pile dari baja atau beton dapat digunakan. 2) Lapisan pasir / kerikil tebal (> 10 m) Masalah rembesan dapat diatasi dengan grouting tirai (curtain grouting) dengan bahan portland cement, lempung atau bahan kimia. Sebagai alternatif dapat dipakai dinding diafragma (diaphragma wall) dari bahan beton / lempung dan semen. Apabila tinggi bendungan (H) rendah yakni < 15 M, dapat diterapkan pemasangan selimut karpet di kaki hulu dengan bahan urugan lempung atau bahan sintetis seperti geomembran. 3) Perlapisan yang mengandung banyak partiker halus dan rawan piping oleh rembesan di kaki hilir bendungan perlu dilengkapi dengan drain untuk mereduksi tekanan pori. Didaerah artesis perlu dipasang sumur pelepas (relief well), sedangkan untuk mencegah longsoran lereng hilir oleh quick sand perlu dipasang urugan pemberat (counter weight). Penurunan muka air tanah pondasi selama pelaksanaan (dewatering) perlu direncanakan secara teliti, karena menentukann kesuksesan pekerjaan. Cara pengeringan dapat dengan sumuran pompa (sump pit), sumur dalam (deep well) atau sumur titik (well point).

Cara perbaikan pondasi bawah permukaan untuk pondasi pasir dan kerikil dapat dilakukan dengan cara : 1. Perbaikan Dengan Dinding Diafragma Berdasarkan bahan pengisinya (filling material) dinding diagfragma atau cut-off wall dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Diafragma beton bertulang (reinforced concrete diaphragm wall) ; bersifat kaku impervious dan tahan terhadap tegangan tanah aktif maupun pasif. 2) Diafragma tanah dan semen (soil dan cement diaphragm wall) ; cara ini digunakan sebagai cut off pada pondasi kerikil, tipe ini lebih murah dibanding beton. Pasir dari galian dipilah kemudian dicampur semen menjadi adukan dan dipompakan kembali kedalam paritan (trench). 3) Diafragma tanah dan bentonit (S - B slurry diaphragm wall) ; soil bentonit slurry (S - B Slurry) dikenal sebagai diagfragma tipe Amerika, merupakan diafragma yang paling ekonomis, namun kualitasnya kurang memadai. 4) Diafragma semen dan bentonit (C - B slurry diaphragm wall) ; adukan terdiri bekas lumpur penggalian kemudian diproses kembali dan ditambah semen kemudian dipompa kedalam paritan. Hasilnya dikenal dengan plastic cut-off wall yang banyak diterapkan untuk perbaikan pondasi bendungan. Pelaksanaan dinding diafragma diawali dengan penggalian paritan (trench) mempergunakan excavator khusus atau mesin bor khusus (long wall drill). Tebal dinding umumnya 60 cm - 80 cm.

2. Perbaikan Pondasi Bawah Permukaan Dengan Grouting 1) Grouting tirai dapat dilakukan dengan menggunakan bahan portland cement atau kombinasi antara portland cement dengan bahan kimia. 2) Metode grouting dapat dilakukan dengan grouting ganda mempergunakan pipa manset (tube a manchette) atau menggunakan packer berupa mekanikal packer atau rubber packer. 3) Grouting kimia dapat dilakukan seperti terlihat dalam skema gambar 4.7, sebagai berikut : i. 1,0 shot, bahan komponen A dan B dicampur langsung sebelum digroutingkan, waktu pembekuan (gel time) diatur > 10 merit dan jenis material adalah waterglass (silicate). 1,5 shot, bahan komponen A dan komponen B dicampur melalui manifold sebelum digroutingkan dan gel time diatur sesuai kedalaman grouting, biasanya 3 merit. Material : acrylamide 2,0 shot, bahan komponen A dan komponen B melalui inner dan outer injection pipe bercampur pada titik grout length dengan gel time < 3 merit. Material : poly - uretane.

ii.

iii.

3. Sumur Pelepas (Relief Wells) Sumur pelepas berfungsi untuk mengurangi tekanan air pori yang berlebihan dari lapisan pondasi. Apabila dijumpai gejala artesis dari bawah pondasi, tekanan pisometrik, tekanan angka dan erosi buluh dapat direduksi. Kelemahan sumur pelepas diantaranya adalah : 1) Memerlukan perawatan dan inspeksi sepanjang umur waduk, kelebihan debit air dari sistem sumur pelepas dapat dimanfaatkaa sebagai utilitas air bersih. 2) Memerlukan perencanaan, pelaksanaan dan perawatan yang teliti terutama berkaitan efisiensi pelepasan (relief efficiency), karena penurunan lintasan rembesan rata-rata dan cenderung menjadi rembesan bawah (under seepage).

Sumur Pelepas (Relief Wells)

Pondasi Tanah (Soil Foundation) Hal - hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Keputusan membangun waduk pada pondasi tanah, terutama tanah lunak yang tidak berlapis - lapis akan menghadapi masalah penurunan dan longsoran selama pelaksanaan. 2) Masalah penurunan (settlement) berkaitan dengan proses konsolidasi tanah pondasi yang menyangkut hubungan antara waktu konsolidasi dan tambahan ketinggian timbunan (camber) yang mengkompensasi penurunan. 3) Pengujian di tempat insitu seperti pcate bearing test disertai creeping test diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil pengujian sebelumnya, baik pengujian lapangan maupun laboratorium. 4) Berkaitan perbaikan pondasi untuk tanah lempung lunak terdapat 3 (tiga) tahap konsolidasi, yaitu : a) Penurunan awal (initial settlement) ; yaitu pengurangan tiba-tiba dari volume tanah akibat beban timbunan, karena pelepasan udara pada rougga tanah. b) Konsolidasi primer (primary consolidation) ; yaitu pengurangan volume massa tanah oleh pembebanan timbunan yang menerus akibat berkurangaya kandungan air dari massa tanah (disipasi). c) Penurunan sekunder (secondary compression); yaitu pengurangan volume massa tanah oleh pembebanan timbunan, akibat penyesuaian butir butir didalam struktur tanah.

5) Instrumentasi untuk memantau penurunan (settlement), disipasi tekanan air pori selama penimbunan sangat diperlukan untuk mengendalikan laju penimbunan. 6) Program pelaksanaan penimbunan perlu keterpaduan dengan pihak berkaitan mengenai jadwal harian penimbunan dengan pemantauan konsolidasi lapisan tanah pondasi. Laju penimbunan (embankment rate) yang melebihi laju konsolidasi (consolidation rate) mengakibatkan keruntuhan (failure), penggelembungan horisontal (squeezing) dan penyembulan (upheaving) pada kaki bendungan.

Beberapa metode perbaikan untuk pondasi tanah lunak dapat dipilih sesuai karakteristik : arah pondasi sebagai berikut :
Pondasi Lunak Dangkal Metode Konstruksi Replacement Method Ilustrasi Uraian Semua atau sebagian pondasi digali dan diganti dengan yang aman Untuk mendukung konsolidasi pondasi atau perlu dipasang sand drain vertical dan horisontal Untuk mencegah longsoran melalui pondasi perlu dipasang di kaki hilir

Menengah

Rapid Consolidation Method Sand Drain Well Point Paper Drain Counterweight Fill

Dalam

Metode Perbaikan Pondasi Lunak

Perbaikan tanah lunak dengan vertikal drain dan instrumentasinya, bendungan Manggar, Kalimantan Timur

Contoh pemasangan drain vertikal

Pengeringan pondasi

sumber

air

pada

permukaan

Bila terdapat mata air pada dasar pondasi, untuk mencegah berkurangnya gaya geser material timbunan, atau untuk mencegah rembesan dikarenakan adanya mata air pada dasar bendungan, maka sangat perlu untuk mengalirkan air ke zona lolos air atau membuangnya keluar bendungan yang biasanya dilakukan menggunakan drainase dengan menggunakan batu kerikil. Bila debit aliran besar, dipasang pipa perforasi yang kuat dan tahan karat. Di bagian hilir drainase dibungkus dengan material filter untuk menurunkan garis freatik.

Penanganan mata air di dasar pondasi zona kedap air

Sumber airnya kecil sekali 1) Apabila luas daerah sumbernya kecil ( < 50 cm2 ) ditanggulangi dengan cara langsung ditimbun dengan material yang baik. 2) Apabila titik-titik sumber banyak (luasnya lebih besar 50 cm2), maka sumber-sumber tersebut dikumpulkan dan dipusatkan ke satu tempat dengan membuat sumuran pipa beton * 20 cm, kemudian timbunan dilaksanakan di sekeliling pipa tersebut. 3) Apabila permukaan air sudah berhenti pada elevasi tertentu s (0,5 sampai 1,00) m, pipa beton tersebut diisi kerikil dan di atasnya di tutup dengan beton.

Penanganan mata air kecil

Sumber airnya agak besar Apabila titik-titik sumber air banyak dan agar besar, maka titik-titik sumber tersebut dialirkan ke satu tempat yang telah disiapkan melalui sumuran dari pipa beton J 40 cm, pipa-pipa sumuran tersebut dapat disambung ke atas sampai mencapai tinggi muka air sumber sudah konstan (tidak naik lagi). Sumuran diisi dengan kerikil dan sekeliling pipa sumuran ditimbun dengan material timbunan dan di padatkan dengan pemadat kecil/ tamper. Setelah tinggi air konstan (tidak naik lagi) air dalam sumuran di pompa keluar dan bagian atasnya ditutup dengan beton.

Pelaksanaan penimbunan pada mata air yang berkapasitas besar

Sumber Air Besar Sekali Seperti telah dijelaskan, pemompaan dilakukan dengan pompa rendam dan pipa beton diganti dengan drum, dengan alasan : 1) Drum mudah disambung keatas dengan las (welding) sehingga tidak bocor baik selama menimbun maupun selama grouting, sehingga daerah timbunan sekitar drum dalam kondisi kering. 2) Cara perbaikan lebih mudah apabila rusak akibat gangguan alat-alat besar (buldoser/ truk) dibandingkan pipa beton.

Pelaksanaan Urugan Alur-alur pengumpul sumber menuju sumuran diberi kerikil termasuk di bawah sumuran tersebut. Sekeliling sumuran ditimbun dengan tanah material timbunan dan dipadatkan dengan pemadat kecil dan ringan (air tamper). Walaupun drum dapat disambung ke atas tetapi bila air meluap perlu dipompa sedemikian rupa, sehingga muka air minimal 2,00 m di bawah muka drum. Setelah muka air stabil (tidak naik lagi) air dipompa keluar semua, kemudian pipa grouting dan pipa udara (* 11/4 - * 11/2 inchi) dimasukkan, drum kemudian diisi dengan kerikil (* 40 - 50 mm) setinggi permukaan bagian atas ditutup beton. Pelaksanaan grouting dilakukan melalui lobang-lobang pipa yang telah disiapkan dengan cara dan waktu yang ditentukan oleh ahlinya.

Lokasi pompa air dengan saluran, untuk membuang air di daerah timbunan bendungan

Pipa beton J80 cm sebagai sarana pembuangan air sumber. Bus beton ini akan ditutup dengan kerikil dan beton diatasnya manakala permukaan air di dalamnya sudah berada di bawah permukaan timbunan minimal 2 m.

Pemompaan air tanah dan air hujan di sekitar timbunan

Bus beton J80 cm untuk tempat pemompaan air tanah dan hujan di sekitar timbunan

V. PENGENALAN GROUTING Umum Pekerjaan grouting merupakan bagian pekerjaan konstruksi, yaitu sebagai salah satu cara dalam perbaikan pondasi (foundation - treatment) pada bangunan air terutama bendungan. Perbaikan pon-dasi dengan cara grouting ini diperlukan pada semua tipe bendungan baik tipe urugan maupun beton. Grouting adalah suatu proses, dimana suatu cairan campuran antara semen dan air diinjeksikan dengan tekanan kedalam rongga, pori, rekahan dan retakan batuan yang selanjutnya cairan tersebut dalam waktu tertentu akan men-jadi padat secara fisika maupun kimiawi. Grouting pondasi adalah proses grouting bubur semen atau bubur grouting yang terdiri dari campuran semen plus aditif dan lempung yang dimasukkan kedalam batuan pondasi bawah permukaan melaui lubang bor untuk menyumbat atau mengisi kekar, retakan, rekahan atau lubang lubang bawah tanah (goa) atau void. Tata cara pelaksanaan grouting semen pada batuan busur semen (PC) atau Portland Cement Grouting telah dibakukan di dalam SNI 03 - 2393 1991.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perbaikan pondasi ini, antara lain :
1) Pondasi batuan sesuai dengan kondisi geologinya, baik dari jenis batuan

penyusun maupun struktur bawah permukaan sangat variatif dari satu lokasi ke lokasi lain. 2) Perlu mencermati penampang geologi dan penampang permeabilitas melintang dan memanjang tapak bendungan untuk mempersiapkan pekerjaan pondasi bawah Permukaan3) Metode grouting (grouting) dinilai cocok untuk memperbaiki pondasi bawah permukaan yang lebih dalam 10 m hingga 100 m tanpa melakukan penggalian dan cukup dengan pengeboran dari permukaan pondasi. 4) Adapun tujuan utama perbaikan pondasi dengan grouting (grouting) adalah : (a).Mengurangi intensitas aliran filtrasi (kebocoran-kebocoran) dari waduk yang mengalir keluar melalui rekahan yang terdapat pada pondasi bendungan. (b) Mengurangi gaya ke atas (uplift) pada dasar calon bendungan yang disebabkan oleh tekanan air tanah yang terdapat dalam lapisan pondasi. (c) Meningkatkan daya dukung batuan yang membentuk lapisan Pondasi calon bendungan.

Campuran Grouting (Bahan Grout) Bahan grouting yang digunakan dalam pekerjaan grouting dapat berupa material suspense dan atau kimiawi. Material suspensi yang umum dipakai adalah semen dan bila perlu dipakai bahan tambahan berupa bentonit atau bahan sejenis. Air sebagai bahan cairan yang dipakai sebagai pencampur semen, harus bebas dari kandungan lumpur, bahan organik dan unsur lain yang dapat mengakibatkan penurunan kwalitas campuran. Sedangkan bahan semen yang digunakan adalah Portland Cement (PC), tipe I yang tidak mengandung bahan lain dan memenuhi syarat yang ditentukan dalam SII - 3 - 1981. Perbandingan bahan grout untuk cement milk, ditentukan berdasarkan tujuan dari grouting tersebut dan kondisi batuan yang juga akan berubah menurut besarnya penyerapan grouting. Perbandingan campuran semen yang sering dipakai untuk pekerjaan grouting ini adalah C : W = 1 : 10 sampai 1 : 1. Untuk retakan yang relatif besar dipakai C : B = 1 : 0,5, dan bahkan kadang - kadang dipakai mortar (campuran semen dan pasir). Pada umumnya proporsi campuran dimulai dari C : W = 1 : 10 atau 1 : 8. Apabila grouting memperlihatkan penyerapan grout yang lebih besar dari 30 liter per menit dan berlangsung selama 20 menit maka campuran dikentalkan secara berangsur. Namun sebaliknya apabila tekanan ijneksi naik tiba - tiba atau jumlah volume grout masuk turun sangat banyak maka campuran diubah menjadi lebih encer.

Grouting Semen Grouting semen adalah grouting semen yang merupakan campuran antara air dan semen dengan perbandingan C : W = 1 : 10 sampai 1 : 1. Perubahan dari campuran semen dan air ini sangat tergantung kepada permeabilitas batuan dan kondisi batuannya sendiri. Pada grouting semen ini kadang kala dilakukan tambahan bahan grout berupa tanah lempung atau pasir halus yang dilakukan sesuai dengan kondisi batuan yang menempati lokasi rencana bendungan. Informasi sifat fisik dan teknik dari tanah / batuan mempunyai arti yang sangat penting yang perlu diketahui terutama bila grouting akan dipertimbangkan sebagai bagian dari perbaikan pondasi bendungan atau dari pengalian terowongan. Penentuan permeabilitas dan porositas tanah akan dapat membantu dimana permeabilitas akan mengontrol kemampuan grouting dan jenis bahan grout yang akan digunakan. Sedangkan porositas tanah menentukan jumlah bahan grout yang diperlukan dan hal ini akan berkaitan dengan besarnya biaya pekerjaan.

Grouting Kimia Secara umum grouting semen tidak dapat dilakukan pada tanah dengan koefisien permeabilitas lebih kecil dari 10-1 cm/detik dan grouting lempung tidak bisa dilakukan pada tanah dengan k < 10-2 cm/detik dan bahan groutnya berupa campuran semen dan air. Grouting kimia adalah grouting yang dilakukan dengan campuran bahan kimia dan air atau cairan bahan kimia dengan bahan kimia lainnya. Grouting kimia ini umumnya digunakan untuk mengisi retakan yang halus atau butiran batuan yang halus yang dimaksudkan untuk memperkecil koefisien permeabilitas dan meningkatkan kuat tekan dari batuan atau bagian bangunan yang di grout. Pada tanah dengan k > 10-2 cm/detik cairan grout harus mempunyai viskositas sebesar 10 centipois atau lebih tanpa kesulitan, kecuali grouting ini dilakukan dekat permukaan dengan tekanan grout yang digunakan rendah. Grouting kimia dapat dilakukan pada tanah dengan k sampai 10-5 cm/detik dan hasilnya cukup memuaskan (Federal Highway Administration, 1976).

Secara umum grouting kimia ini dikenal beberapa sistem yaitu : 1) Sistem silikat, sistem ini menggrouting lapisan pasir dengan larutan natrium silikat yang mempunyai koefisien permeabilitasnya lebih kurang 5 x 10-4 cm/detik atau lebih besar. Grouting dengan bahan grout dari silikat ini dapat melakukan penetrasi pada tanah pasir halus dengan ukuran butirnya berkisar antara 100 - 70 mikron dan pasir yang mempunyai permeabilitas lebih kecil dari 10-4 cm/detik. 2) Sistem acrylamide, sistem ini dapat dilakukan pada tanah dengan koefisien permeabilitas dari 10-5 cm/detik atau lebih besar. Acrylamide ini viskositasnya berkisar antara 1,50 centipois atau sama dengan viskositas air sehingga acrylamide ini mudah di penetrasikan ke dalam lapisan pasir halus. Untuk lebih baiknya dalam memanfaatkan acrylamide ini sebaiknya larutan acrylamide ini mempunyai pH antara 7 - 11. Cairan acrylamide ini beracun dan dapat menembus kulit. 3) Bahan grout kimia lainnya adalah berupa Lignochromes, Resin, Foams dan Isosyanate tetapi cairan ini sangat beracun.

Perbandingan Metoda Stabilisasi Tanah Dengan Grouting Dan Kemampuan Penetrasi Relatif Bahan Kimia

Teknik Grouting
Peralatan Grouting Peralatan dasar yang diperlukan untuk melaksanakan grouting pon-dasi adalah :
1) : Dipakai untuk pembuatan lubang grout, dengan diameter antara 46 mm (AX) sampai 76 mm (NX). Mesin bor yang dipakai untuk keperluan grouting sebaiknya jenis bor putar (rotary type drill) Peralatan grouting : Meliputi 'packer', stang grouting, 'by pass', manometer, kran pengatur tekanan, pipa pemasukan dan pengembali serta pengukur debit. Grout mixer dan : Untuk mencampur bahan grout sesuai dengan agitator perbandingan yang ditentukan, kemudian dialirkan kedalam 'agitator' sebagai tempat grout siap untuk diambil oleh pompa. Pompa grout : Untuk memompakan grout yang tersimpan di 'agitator' ke lubang grout melalui unit peralatan grouting. Pompa grout yang baik adalah yang memiliki debit dan tekanan konstan. Karena itu umumnya dipakai pompa jenis 'duplex double acting type'. Mesin bor

2)

3)

4)

Peralatan grouting

Tekanan Grouting Faktor yang penting pada saat dilakukan grouting adalah tekanan grouting dan pencampuran grout. Tekanan grouting yang tinggi akan membuat lebih mudahnya grout untuk menyebar mengisi celah retakan, kekar dan pori batuan se-cara efektif, namun sebaliknya hal ini akan dapat merusak batu-an dasarnya. Oleh karena itu diperlukan pemilihan besar tekanan dengan hati-hati. Disamping itu perlu diketahui bahwa bila grout yang digroutingkan memiliki campuran yang kental, maka diperlukan tekanan grouting yang lebih tinggi dari pada campuran yang encer. Jelaslah bahwa tekanan maksimum grouting ditentukan berdasarkan percobaan-percobaan dengan mengingat kestabilan batuan pondasi, kekentalan grout, dan kedalaman daerah yang akan digrouting. Meskipun demikian US. Development Authority telah memberikan ba-tasan yang aman untuk tekanan maksimum dan dapat dipakai sebagai petunjuk, yaitu : Pada kedalaman batuan dasar = d meter, tekanan grouting P(kg/cm2) adalah sebanding dengan 0,23 x d.

Perbandingan campuran grout untuk 'cement milk', ditentukan ber-dasarkan tujuan dari grouting dan kondisi batuan dan juga akan berubah menurut besarnya penyerapan grouting. Perbandingan campuran semen yang sering dipakai untuk pekerjaan grouting ini adalah C : W = 1 : 10 sampai 1 : 1. Untuk retakan yang relatif besar dipakai C/W = 1 : 0,5 dan bahkan dipakai mortar (campuran semen pasir). Pada umumnya proporsi campuran mula dimulai dari C/W = 1 : 10 atau 1 : 8. Apabila grouting memperlihatkan penyerapan grout yang lebih besar dari 30 liter/menit dan berlangsung selama 20 menit maka campuran dikentalkan secara berangsur. Namun sebaliknya a-pabila tekanan grouting naik tiba-tiba atau jumlah volume grout yang masuk turun sangat banyak, maka campuran dirubah menjadi le-bih encer.

Grouting dapat dinyatakan selesai apabila carnpuran grout relatif tidak dapat masuk lagi. Ada beberapa patokan terhadap selesainya grouting yaitu : (Standard selesainya grouting menurut USBR) 1) Pada tekanan grouting sebesar 3,5 kg/cm2, jumlah grout yang digroutingkan harus lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 20 menit. 2) Untuk tekanan grouting antara 3,5 7,0 kg/cm2, jumlah grout yang digroutingkan harus lebih rendah dari 20 liter dalam waktu 5 menit. 3) Untuk tekanan grouting antara 7,0 - 14,0 kg/cm2, maka jumlah grout yang digroutingkan harus lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 10 menit. 4) Untuk tekanan grouting yang lebih besar dari 14 kg/cm2, maka jumlah grout yang digroutingkan harus lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 5 menit. Pada pekerjaan grouting ini tekanan yang digunakan sangat menentukan kapan grouting dinyatakan selesai, peralatan pencampuran diatur sesuai kecepatan grouting.

Untuk tekanan yang digunakan dalam grouting ini perlu direncanakan sebelum pelaksanaan grouting dilakukan dan besar kecilnya tekanan dapat mengacu pada grafik di bawah ini :

Grafik petunjuk tekanan untuk grouting Salah satu rumus praktis (rule of thumb), tekanan grouting untuk batuan keras = 0,25 kg/cm2/m kedalaman.

Grafik Tekanan Grouting Maksimum Yang Diijinkan

Percobaan Permeabilitas (Lugeon Test) Permeabilitas batuan pondasi merupakan faktor yang sangat pen-ting untuk diketahui secara terperinci dalam merencanakan pekerjaan grouting. Adapun daerah cakupan dari percobaan permea-bilitas pada suatu rencana bendungan untuk kepentingan ini ada-lah sampai pada kedalaman setengah dari ketinggian bendungan yang direncanakan (gambar 2). Bahkan bila kondisi geologinya kurang baik, maka kedalaman penelitiannya adalah setinggi ren-cana bendungannya.

Daerah cakupan percobaan Lugeon

Pada batuan keras dengan sedikit rekah/rongga, dipakai tekan dan maksimum sebesar 0,21 kglcm2 setiap kemajuan 1 m. Pada batuan keras dengan banyak rekah/rogga, di pakai tekanan maksimum 0,11 kg/cm 2(lebih besar sedikit dari tekanan air, yaitu 1 m = 0,1 kg / cm , agar struktur batuan tidak / jebol). Setiap tahap pengujian dilakukan lima kali pengamatan dengan variasi tekanan yang bebeda, yaitu 33% P maksimum, 66% P maksimum, 100% P maksimum, 66% P maksimum dan 33% P maksimum.

Uji coba permeability dengan menggunakan packer

Bila harga lugeon tiap 'stage' (pada umumnya panjang tiap 'stage, adalah 5 meter) dari lubang-lubang bor penyalidikan telah diper-oleh, maka dapat dibuat peta penampang permeabilitas sepanjang rencana bendungan, seperti pada contoh gambar 5.7.

Contoh penampang Permeabilitas

Berdasarkan hasil percobaan lugeon tersebut dapat di-peroleh gambaran kondisi permeabilitas, yang nantinya dipakai sebagai data penting dalam perencanaan grouting, yaitu : Luas daerah cakupan grouting menjadi jelas. Persentase lapisan yang lulus air dibeberapa daerah menjadi lebih kelihatan. Elevasi batuan dasar dapat ditentukan dengan tepat sebagai ba-tuan pondasi berdasarkan pertimbangan dari angka permeabilitas-nya. Selain itu berdasarkan hasil lugeon test yang dapat membuat diagram hubungan antara tekanan yang yang digunakan pada waktu uji kelulusan air dan pola lugeon yang dihasilkan yang dapat diambil sebagai dasar untuk menentukan harga permeabilitas dalam perencanaan grouting, lihat gambar :

Pola hubungan lugeon dan tekanan selama pengujian

Percobaan Grouting (Grouting Test) Percobaan grouting ini biasanya diperlukan sebelum grouting yang sebenarnya dilaksanakan, untuk dapat menentukan pola dan jarak lubang paling efektif, tekanan grouting, cara pelaksanaan, perkiraan jumlah bahan campuran dan mengetahui efektifitas hasil grouting. Harga lugeon yang akan dicapai dalam perbaikan pondasi dengan grouting adalah 1 - 2 lugeon untuk bendungan beton, dan 2 - 5 lugeon pada bendungan urugan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam uji grouting ini adalah : 1. Pola grouting yang biasa digunakan dalam percobaan adalah gambar seperti di bawah. 2. Pelaksanaan percobaaan grouting semen sama seperti pada butir 5.5.6. 3. Setelah percobaaan gouting diselesaikan, dibuat lobang pemeriksaan (Cek) untuk mengambil contoh inti yang diikuti percobaan kelulusan air pada lobang tersebut.

Beberapa pola grouting yang umum dilaksanakan

Beberapa pola grouting yang umum dilaksanakan

Urutan Kerja Grouting Secara umum urutan kerja grouting pondasi yang dilakukan adalah sbb :
Mesin bor putra (rotary drilling machine) atau mesin bor perkusi (percussion drilling machine) Pengeboran (Drilling) Sirkulasi air pompa tekanan ~ 1 kg/cm 2 hingga bebas kotoran bor (slime) dan air bilas bersih Panjang grouting 3 ~ 5 m, tergantung kondisi batuan. Dapat dipakai packer, karet, screw expansion packer atau packer udara Tekanan terhadap 1 ~ 10 kg/cm 2 atau Lugeon test langsung tekanan 10 kg/cm 2 selama 15 menit. Bila nilai K < 10-5 cm/det atau 1 lugeon tidak perlu digrout Campuran disesuaikan ukuran rekahan batuan. Untuk Portland cement, campuran berkisar 1 : 10 hingga 1 : 1. Tekanan maksimum rata-rata 0,23 d kg/cm 2/m Setelah selesai, bekas lubang grout harus diisi dengan mortar PC : pasir = 1 : 2 dan air secukupnya.

Pencucian Lubang Bor (Washing)

Pemasangan (Packer Setting)

Penyekat

Pengujian Air Pressure Test)

(Water

Penyuntikan (Grouting)

Semen

Penyumbatan Lubang Grout (Grout Hole Plugging)

Tata cara pelaksanaan grouting semen pada batuan dengan menggunakan bubur semen (PC) atau Portland Cement Grouting telah dibakukan di dalam SNI 03-2393-1991.

Perubahan Campuran Antara Semen : Air


Nilai Lugeon Campuran awal injeksi 1:6 1:4 1:2 Perubahan campuran berikutnya (1 : 4), (1 : 2), (1 : 1) (1 : 2 ), (1 : 1) (1:1)

Lu < 5 5 < Lu < 10 Lu > 10

Tahapan Pelaksanaan Grouting Pada pelaksanaannya grouting dapat dibagi menjadi 4 macam tahapan grouting yaitu : 1) Grouting tahap tunggal (single stage grouting) Tahapan ini digunakan untuk grouting dangkal (< 10 m) dan berbatuan baik seperti dalam grouting konsolidasi dan grouting selimut. Pelaksanaan dilakukan satu kali grouting pemboran dari kedalaman rencana selesai. setelah

2) Grouting naik (ascending grouting, upstage grouting) Lubang grouting dibor langsung sampai kedaiaman rencana, kemudian dipasang packer tunggal dari bawah ke atas. Apabila batuan (retak-retak/crack) dapat dipakai packer ganda. Cara ini diterapkan terutama pada batuan kompak dan tidak runtuh, pelaksanaan lebih cepat namun boros material grouting.

Proses dan Tahapan Grouting Naik

3) Grouting turun (step grouting, descending grouting) Pengeboran dilakukan secara bertahap (step by step) dengan interval 3 m - 5 m tergantung kondisi batuan. Metode ini digunakan untuk mengatasi kondisi batuan yang urug dan dilakukan secara bertahap dalam pemasangan packer untuk mencegah runtuh batuan diatasnya. Tahapan pelaksanaan : Bor - cuci - test air - langkah I - bor ulang langkah II - cuci - test - langkah III, dan seterusnya.

Prosedur dan tahapan grouting turun

4) Grouting ganda (multiple grouting)


Pelaksanaan grouting ganda diterapkan pada kondisi batuan yang banyak mengandung rekahan dan kekar serta bocoran yang berlebihan. Grouting dilakukan dengan membuat lubang pengeboran diameter besar ( 66 76 mm.) kemudian digrout dengan yang kental (1 : 1 ~ 1 : 0,5) untuk menutup retakan. Selanjutnya dibor lagi dengan diameter lebih kecil ( 56 ~ 46 mm) kemudian diisi dengan campuran encer atau berbahan dasar kimia. Khusus untuk pelaksanaan grouting pada batuan yang mudah runtuh sehingga tidak memungkinkan untuk membuat panjang stage yang diinginkan dan pemasangan packer pada batuan, maka dipa-kai cara sleeve pipe method.

Untuk mengefektifkan hasil grouting pada bagian atas atau langkah I perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 1. Lakukan pekerjaan grouting tirai sebelum galian mencapai elevasi dari garis galian dengan sisa galian penutup setebal 1 m untuk pemasangan packer. 2. Buat landasan (grout cap) dari beton kurus sepanjang jalur grouting tirai dengan lebar sesuai jarak baris titik grouting, selebar 3 m dan tebal 0,5 m hingga 1,0 m. Penggalian alur untuk landasan perlu dilakukan secara manual dengan bantuan pick hammer agar tidak merusak batuan di sekitarnya. 3. Memasang pipa ekstra (grout pipe) sepanjang 0,5 m hingga 1.0 m terutama untuk lubang grouting dengan inklinasi menyudut dan berarah azimut tertentu. 4. Pada pelaksanaan grouting konsolidasi biasanya dilaksanakan setelah lapisan pembetonan mencapai ketebalan 0,5 m - 1,0 m untuk penempatan packer pada langkah I.

Pada pelaksanaan grouting tirai perlu dibuat urutan kerja dari titik ke titik dimulai dari pembagian blok sesuai penampang galian pondasi. Kemudian setiap blok perlu dimulai dengan pilot hole, primary hole, secondary hole, tertiary hole seterusnya. Pemindahan antar titik dilakukan dengan memperhatikan : 1) Pola melompat I titik atau split spacing 2) Pola gigi belalang antar 2 langkah grouting yang berdekatan 3) Pola menyilang (ziz-zag) pada titik antar bans grouting (grout row)

Rencana grouting tirai pada pondasi bendungan dan urut- urutan grouting-nya

Pemeriksaan Hasil Grouting 1. Pemeriksaan hasil grouting dilakukan dengan membuat check hole pada titik yang dipilih dan biasanya di bor miring agar mewakili zona grouting. 2. Pengambilan contoh inti (core sampling) untuk melihat secara visual efektivitas penetrasi grouting dan dapat diperiksa dengan membubuhkan phenolptalein 0.1 n. Warna merah muda adalah tanda penetrasi semen. 3. Pengujian permeabilitas setelah grouting dengan water pressure test atau lugeon test. Tekanan diatur seperti uji permeabilitas secara naik dan turun, yaitu bervariasi 1-35-7-10-7-5-3-1 kg/cm2, tergantung kondisi batuan. 4. Setelah selesai check hole diisi dengan campuran bahan grouting yang kental 1:1 atau 1:0.5 hingga jenuh.

Aplikasi Grouting Di Bendungan Grouting semen sekarang ini sering digunakan untuk memperbaiki kondisi batuan pondasi dari bendungan atau pondasi bangunan pelimpah. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perbaikan pondasi ini, antara lain : 1) Pondasi batuan sesuai dengan kondisi geologinya, baik dari jenis batuan penyusun maupun struktur bawah permukaan sangat variatif dari satu lokasi ke lokasi lain. 2) Perlu mencermati penampang geologi dan penampang permeabilitas melintang dan memanjang tapak bendungan untuk mempersiapkan pekerjaan pondasi bawah Permukaan3) Metode grouting (grouting) dinilai cocok untuk memperbaiki pondasi bawah permukaan yang lebih dalam 10 m hingga 100 m tanpa melakukan penggalian dan cukup dengan pengeboran dari permukaan pondasi. 4) Adapun tujuan utama perbaikan pondasi dengan grouting (grouting) adalah : a) Mengurangi intensitas aliran filtrasi (kebocoran-kebocoran) dari waduk yang mengalir keluar melalui rekahan yang terdapat pada pondasi bendungan. b) Mengurangi gaya ke atas (uplift) pada dasar calon bendungan yang disebabkan oleh tekanan air tanah yang terdapat dalam lapisan pondasi. c) Meningkatkan daya dukung batuan yang membentuk lapisan Pondasi calon bendungan.

Posisi standar grouting tirai untuk berbagai tipe bendungan secara umum

Perbaikan atau perkuatan pondasi bendungan dengan cara grouting berdasarkan maksud dan manfaatnya dapat dikelompokan menjadi : 1) Grouting Tirai (Curtain Grouting) Berfungsi membuat tirai.sekat kedap air yang dapat menahan rembesan yang besar dengan memperpanjang filtrasi sehingga berfungsi pula mengurangi uplift dan kemungkinan piping. Menurut kaidah hidrolik, rumus umum pola grouting untuk bendungan dengan ketinggian (H) adalah : Tabel Rumus Umum Kedalaman Dan Jarak Titik Grouting
Kedalaman Lubang Rumus I II III Grouting (m) 1/3H + 10 ~ 20 1/2 H 0.7H ~ 0.8H Jarak antar lubang (m) 3 atau kurang 1.5 bervariasi

Keterangan dihitung dari dasar sungai _ tergantung kekar batuan

2) Grouting Konsolidasi (Consolidation Grouting) Berfungsi merekondisi struktur batuan pondasi yang mengalami kerusakan waktu digali, baik dengan alat besar ataupun dengan peledakan. Meningkatkan kekuatan geser batuan yang jelek, hancur dan berkekar. Kedalaman bervariasi dari 5 m hingga 10 m dan spasi dari 5 m hingga 2,5 m dalam sistim grid. 3) Grouting Selimut (Blanket Grouting) Berfungsi menahan rembesan air pada lapisan permukaan pondasi yang melalui retakan-retakan, umumnya berdampingan dengan grouting tirai pada dasar zona inti kedap air, kedalaman umumnya 5 m dan jarak 2,5 m5 m. 4) Grouting Pengisian (Filling Grouting) Berfungsi mengisi rongga (cavities), rongga antara lining beton dan batuan pada terowong yang dikenal sebagai backfill grouting. 5) Grouting Sambungan (Contact Grouting, Joint Grouting) Berfungsi mengisi sambungan antara beton lama dan baru, mengisi rongga susutan beton dan rongga susutan antara steel liner dan beton.

Aplikasi Grouting Pada Terowongan Dibawah ini akan diuraikan mengenai cara melaksanakan grouting pada terowongan secara bertahap dimulai dari : Grouting Untuk Terowongan Berbeda dengan grouting pada sumbu bendungan dan lainnya, pada pelaksanaan grouting untuk terowongan ini dapat dilakukan baik dari dalam terowongan maupun dari atas permukaan.

Umum Hampir semua jenis injeksi semen (grouting) diterapkan dalam pekerjaan terowongan, namun bila hal tersebut kita batasi pada injeksi semen, maka secara garis besar grouting dalam terowongan sering dilakukan untuk berbagai maksud seperti dijelaskan berikut ini :  Grouting batuan melalui lubang bor dari dalam terowongan. Prinsip dan metoda grouting untuk keperluan ini adalah sama seperti grouting pada batuan dari permukaan tanah. Grouting rongga 'overbreak' yang ada di atas beton 'lining' terowongan, suatu hal yang hampir tidak mungkin untuk meletakkan beton secara penuh sampai atap batuan terowongan. Karena itu beton 'lining' terowongan akan selalu mempunyai jarak tertentu terhadap batuan di atap terowongan, yang berupa rongga 'overbreak".

Penanggulangan untuk masalah ini biasanya dilakukan grouting untuk mengisi rongga-rongga tersebut. Pekerjaan injeksi semen untuk maksud tersebut diatas dikenal dengan beberapa istilah antara lain overbreak grouting, backpack grouting dan backfill grouting.

Penyelidikan Geoteknik Hasil penyelidikan geoteknik merupakan informasi penting yang dipakai sebagal dasar dalam menilai kemampuan grouting (groutability) suatu lokasi, pemakaian bahan inieksi dan penyusunan program pelaksanaan grouting. Informasi paling minimal dari hasil studi geoteknik untuk keperluan grouting suatu lokasi proyek dilakukan untuk mengetahui mengenai : 1. Kondisi permukaan 2. Kondisi Geologi dan Geohidrologi 3. Sifat-sifat fisik dan teknik dari batuan/tanah.

Kondisi Permukaan Dalam survey geoteknik yang secara lengkap memberikan data fisik permukaan, akan dapat mengetahui gambaran situasi di daerah lokasi secara terinci dan mampu memberikan informasi yang diperlukan antara lain : 1. Dapatkah grouting dilakukan dari permukaan tanah ? 2. Mana lokasi yang paling baik untuk peralatan pencampur dan sistem pemompaan serta peletakan gudang bahan grout ? Apakah lokasi - lokasi yang memenuhi syarat tersebut mempunyai ruang yang cukup untuk kegiatan operasi grouting dan sebagainya ?

Kondisi Geologi dan Geohidrologi Keadaan geologi terinci daerah lokasi harus diketahui dengan berbagai cara antara lain dengan pemboran, sehingga informasi dapat diberikan selengkap mungkin antara lain : 1) Stratigrafi, struktur serta jenis batuan, tanah dsb. 2) Permeabilitas dan porositas dari tanah 3) Kedalaman air tanah dan sifat kimianya Peta dan profil geologi harus dibuat pada beberapa tempat terutama profil sepanjang terowongan, sehingga dapat diperoleh gambaran tentang jenis batuan/tanah yang akan ditembus oleh terowongan tersebut.

Sifat Fisik dan Teknik Tanah/Batuan Sifat fisik dan teknik tanah mempunyai arti yang penting terutama bila grouting akan di pertimbangkan sebagai bagian dari penggalian terowongan. Sifat teknik dari tanah / batuan dalam kaitannya dengan penerowongan adalah untuk mengetahui : 1) Sejauh manakah operasi grouting memiliki nilai dalam konstruksi untuk dipertimbangkan ? 2) Apakah grouting akan fisible untuk dilakukan ? 3) Jika grouting memungkinkan, bahan grout apakah yang paling tepat untuk dipakai ? 4) Berapa biaya grouting yang akan dilaksanakan ? Penentuan permeabilitas dan porositas tanah akan dapat membantu menjawab keempat pertanyaan tersebut, dimana permeabilitas akan mengontrol kemampuan injeksi (groutability) dan jenis bahan grout yang akan digunakan, sedangkan porositas tanah menentukan jumlah grout yang diperlukan dan hal ini akan berkaitan dengan besarnya biaya pekerjaan.

Grouting Batuan Terowongan

Melalui

Lubang

Bor

Dalam

Dalam pekerjaan penerowongan sering timbul masalah yang cukup mengganggu oleh karena besarnya jumlah air mengalir kedalam terowongan. Besarnya jumlah air ini dapat dipakai sebagai salah satu indikasi adanya beberapa bentuk 'discontinuity' seperti sesar, kekar, lapisan pembawa air dan struktur geologi yang lainnya yang merupakan jalur perlemahan. Untuk mencegah gangguan ini perlu dilakukan upaya mengurangi jumlah air dan meningkatkan kekuatan di daerah jalur perlemahan dengan cara injeksi semen (grouting) pada batuannya sampai panjang dan kedalaman tertentu.

Grouting Rongga Overbreak Terowongan Umum Rongga yang terdapat di atas 'lining' beton terowongan biasanya sangat panjang dan sangat mudah dimasuki oleh grout melalui lubanglubang grout yang dibuat pada atap terowongan. Seringkali grout dapat terpompa dari satu lubang dan keluar melalui lubang yang lainnya. Disamping itu ada beberapa rongga yang pendek-pendek dan hal ini tidak perlu menjadi masalah karena posisi dan dimensi rongga telah dapat diketahui sebelumnya, sehingga prose-durnya adalah dilengkapi dengan lubang grout pada jarak antaranya sekitar 1.50 meter sentris sepanjang terowongan. Percobaan menunjukkan bahwa spacing ini cukup baik dalam mencapai penginjeksian rongga. Lubang grout dapat dibuat bervariasi dalam posisinya pada bagian puncak terowongan. Dalam terowongan yang diameternya lebih besar dari 30 kaki (9 meter), harus ada 2 atau 3 lubang grout pada setiap jarak 1.50 meter dan ini harus memotong atap dan bervaria-si pada puncak, berjarak 1.50 meter ke kiri dan ke kanan dari tempat tersebut.

Prosedur Grouting Prosedur pelaksanaan grouting rongga secara garis besar adalah : 1. Water Pressure Test pada setiap lubang dengan tekanan rendah, yaitu sekitar 1 p.s.i. (1 bar). Usahakan menghemat air yang diinjeksikan. Hanya menggunakan air yang cukup banyak untuk mencari lubang mana yang saling berhubungan. 2) Pasanglah fitting seperti pada gambar 5.15. pada pipa, untuk lubang yang akan digrouting dan juga pada seluruh lubang yang diduga saling berhubungan melalui rongga overbreak. 3) Injeksikan grout kental misalnya 0.8 : 1 pada tekanan maksimum kira-kira 30 psi (2 Bar). Tutup setiap lubang penghubung jika grout kental keluar melalui lubang yang lain, dan kemudian alirkan keluar sesering mungkin untuk mengeluarkan penimbunan air atau grout yang encer. 4) Pertahankan tekanan maksimum yang diijinkan selama 30 menit, kemudian matikan dan biarkan lubang injeksi dan lubang yang saling berhubungan dengannya ditutup untuk jangka waktu 4 jam. 5) Sangat dianjurkan pengerjaan secara sistematik sepanjang terowongan dari satu ujung ke ujung yang lainnya. 6) Beton lining terowongan harus berusia paling sedikit 3 minggu sebelum grouting ini dilakukan.

Grouting Pada Sumbat Blok Beton Dalam Terowongan Grouting dilakukan disekeliling sumbat yang ditempatkan pada "lining" beton terowongan. Situasi ini sering dilakukan pada terowongan pengelak (diversion tunnel) suatu bendungan dimana pekerjaan bendungan telah sampai pada tingkat di mana terowongan pengelak tidak diperlukan lagi. Terowongan tersebut secara permanen ditutup dengan sumbat beton besar. Jika sumbat ini ditempatkan pada terowongan tanpa 'lining", diperlukan "over-break grouting". Tetapi meskipun sumbat tersebut ditempatkan di antara 'lining' beton dan diameternya lebih dari 6 meter, konstruksi beton di dalamnya akan menimbulkan retakan di sekelilingnya yang cukup besar. Untuk memperkuat dan menutup retakan yang timbul tersebut perlu dilaku-kan grouting dengan teknik yang hampir mirip dengan pekerjaan injeksi untuk 'contraction joint grouting'.

Interface Grouting Umum Mengingat celah/rongga interface sepanjang liner baja biasanya hanya pendek, pada umumnya hanya dibuat satu lubang lubang grout yang berpotongan dengannya. Ini berar-ti bahwa udara dan air dalam celah tidak dapat dikeluarkan melalui lubang kedua dan karena itu harus digunakan pompa vakum untuk mengosongkan celah/rongga agar supaya grout dapat masuk kedalamnya. Hal ini mungkin agak sedikit aneh bagi yang belum pernah, bahwa grouting ke arah atas mela-lui hanya satu lubang grout saja. Pekerjaan ini merupakan suatu hal yang relatif agak sulit, namun pemompaan vakum untuk mengosongkan celah/rongga adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh hasil yang baik.

Teknik Pelaksanaan Teknik injeksi untuk satu lubang adalah sebagai berikut : 1. Peralatan vacuum dihidupkan dan valve pada lubang dibuka. 2. Di dekat lubang yang akan dipasang dibuka dan selembar kertas lunak, lembab diletakkan di atasnya. Jika kertas tersebut tersedot ke dalam, hal ini memberikan indikasi adanya hubungan dengan lubang yang divakumkan. 3. Dalam hal pemvakuman dengan intensitas 24 Hg. Beberapa menit dari pekerjaan ini cukup untuk dapat mengosongkan celah/rongga. Jika satu lubang telah kosong (vacuum), grout dengan campuran 0.8 : 1 disiapkan dan disirkulasikan melalui lengan grouting pada fittings. Kemudian bersamaandengan aliran yang cepat ini, grout dibelokkan melalui lubang grout dan vacuum ditutup. 4. Celah/rongga akan terisi grout dalam beberapa detik dan hampir tidak diperlukan tekanan. Jika tidak ada hubungan dengan lubang yang lainnya, injeksi dapat dihentikan kira-kira 15 menit, dan lubang grout dijaga tertutup paling sedikit selama 4 jam. 5. Jika ada hubungan antar lubang grout, akan terjadi bleeding dan diperlukan untuk mengeluarkan grout encer yang terjadi. Tekanan pada lubang injeksi harus dijaga secara konstan paling sedikit selama 30 menit.