Anda di halaman 1dari 30

KODE ETIK BIMBINGAN

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Bimbingan dan Konseling

Disusun Oleh
Roudhotul Jannah
NIM: 210910020
Wahid Amiruddin Muhlish
NIM: 210910021
Dosen Pengampu
Dr. Heriyaman, Mpd
PROGRAM TUDI PENDIDIIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO
April 2012

A.
B.
C.
A.
B.
A.

DARTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................... ii
Bab I: Pendahuluan
Latar Belakang.............................................................................................. 1
Rumusan Masalah......................................................................................... 1
Tujuan........................................................................................................... 1
Bab II: Pembahasan
Pengertian Singkat Bimbingan dan Konseling.............................................. 2
Kode Etik Bimbingan dan Konseling............................................................ 3
Bab III: Penutup
Kesimpulan.................................................................................................... 7
Daftar Pustaka........................................................................................................... 8
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti layaknya sebuah pembelajaran bimbingan dan konseling juga membutuhkan apa
yang dinamakan setrategi dalam pelaksanaanya. Dalam hal untuk mengetahui strategi apa yang
tepat untuk digunakan kepada seorang yang hendak dibimbing (konseli) itulah seorang yang
hendak membimbing (konselor) membutuhkan kode etik untuk menjalankan profesinya tersebut.
Dalam masalah bimbingan dan konseling kode etik sangat dibutuhkan. kode etik
dibutuhkan ketika seseorang (konselor) hendak membimbing seorang atau individu (konseli)
kearah pengembangan pribadinya. peran kode etik yaitu sebagai acuan dan tuntunan dalam
memberikan masukan-masukan kepada konseli agar masukan yang diberikan oleh konselor tidak
menyelewwng atau keluar dari aturan-aturan, norma-norma yang berlaku dimasyarakat maupun
di
kalangan
konselor
sendiri.
B. Rumusan masalah
a. Uaraian singkat tentang pengertian bimbingan dan konseling.
b. Beberapa kode etik dalam bimbingan dan konseling.
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian bimbingan dan konseling.
b. Untuk mengetahui kode etik dalam bimbingan dan konseling.

Bab II
PEMBAHASAN
A. Pengertian singkat bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan merupakan
terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone [1]menemukakan
bahwa guidanceberasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer(menunjukkan,
menentukan, mengatur, atau mengemudikan).
Prayitno dan Erman Amti mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan
oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar
orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan
kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.[2]
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian
bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami
diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan
menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu
masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.[3]
Sejalan dengan itu, Winkel mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan
dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab
sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.[4]
Berdasarkan pengertian konseling di atas dapat dipahami bahwa konseling adalah usaha membantu
konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap
berbagai persoalan atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.

[5]

B. Kode Etik bimbingan dan Konseling


Berdasarkan keputusan pengurus besar asosiasi bimbingan dan konselingIndonesia
(PBABKIN) nomor 010 tahun 20006 tentang penetapan kode etikprofesi bimbingan dan
konsseling, maka sebaian dari kode etik itu adalah sebagai berikut:
1. Kualifikasi konselor dalam nilai, sikap,keterampilan, pengetahuan dan wawasan.
a. Konselor wajib terus menerus mengembangkan dan menguasai dirinya. Ia wajib mengerti
kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri, yang dapat mempengarui
hubunganya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu pelayanan profesional serta
merugikan klien.
b. Konselor wajib memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati jajni, dapat
dipercaya, jujur,tertib dan hormat.
c. Konselor wajib memiliki rasa tangggung jawab terhadap saran maupun peringatan yang
diberikan kepadanya, khususnya dari rekan rekan seprofesi dalam hubunyanga dengan
pelaksanaan ketentuan-keteentuaan tingkah laku profesional sebagaimana di atur dalam Kode
Etik ini.
d. Konselor wajib mengutamakan mutu kerja setinggi mungkin dan tidak mengutamakan
kepentingan pribadi, termasuk keuntungan material, finansial, dan popularitas.
e. Konselor wajib memiiki keterampilan menggunakan tekhnik dan prosedur khusus yang
dikembangkan ataas dasar wawasan yang luas dan kaidah-kaidah ilmiah.
2. Penyimpanan dan Penggunann Informasi.
a. Catatan tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat menyurat,
perekaman dan data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh
digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data/ informasi untuk keperlian riiset atau
pendidikan calon konselor dimungkinkan, sepanjang identitas kien di rahasiakan.
b. Penyampaian informasi klien kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain membutuhka
persetujuan klien.
c. Penggunaan informasi tentang klien dengan anggota profesi yang sama atau yang lain dapat
dibenarkan, asalkan untuk kepentingan klien dan tidak meruikan klien.
d. Keterangan mengenai informasi profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang
berwenang menafsirkan dan menggunakanya.
3. Hubungan dengan Penberian pada Pelayanan.
a. Konselor wajib menangani klien selama ada kesempatan dalam hubungan antara klien dengan
konselor.
b. Klien sepenuhnya berhk mengakhiri hubungsn dengan konselor, meskipun proses konseling
belum mencapai suatu hasil yang kongkrit. Sebaliknya konselor tidak akan melanjutkan hubugan
apabila klien ternyata tidak memperoleh manfaat dari hubungan itu.
4. Hubungan dengan Klien.
a. Konselor wajib menghormati harkat, martabat, integritas dan keyakinan klien.
b. Konselor wajib menempatkan kepetingan klienya di atas kepentingan pribadinya.
c. Dalam melakukan tugasnya konselor tidak mengadakan pembedaan klien atas dasar suku,
bangsa, warna kulit, agama atau status sosial ekonomi.
d. Konselor tidak akan memaksa untuk memberikan bantuan kepada seseorang tanpa izin dari
orang yang bersangkutan.
e. Konselor wajib memberikan bantuan kkepada siapapun lebih-lebih dalam keadaan darurat atau
banyak orang yang menghendaki.
f. Konselor wajib memberikan pelayanan hingga tuntas sepanjang dikehendaki oleh klien.

g. Konselor wajib menjelaskan kepasa klien sifat hubungan yang sedang dibinadan batas-batas
tanggung jawab masig-masing dalam hubungan profesional.
h. Kon selor wajib mengutamakan perhatian kepada klien, apabila timbul masalah dalam kesitiaan
ini, maka wajib diperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dan juga tuntutan profesinya
sebagai konselor.
i. Konselor tidak bisa memberikan bantuan kepada sanak keluarga, teman-teman karibnya,
sepanjang hubunganya profesional.
5. Konsultasi dengan Rekan Sejawat.
Dalam rangka pemberian pelayanan kepada seorang klien, kalau konselor merasa raguragu tentang suatu hal, maka ia wajib berkonsultasi dengan sejawat selingkungan profesi. Untuk
hal itu ia harus mendapat izin terlebih dahulu dari kliennya.
6. Alih Tangan Kasus
Yaitu kode etik yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu
permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih
ahli.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian singkat mengenai bimbingan dan konseling yaitu adalah proses pemberian
bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada konseli/klien secara tatap muka dengan
tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau
masalah khusus, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan,
memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan
lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku. usaha membantu. Dengan kata lain,
teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.
Kode etik bagi pembimbing yaitu:
a. Kualifikasi konselor dalam nilai, sikap,keterampilan, pengetahuan dan wawasan.

b.
c.
d.
e.
f.

Penyimpanan dan Penggunann Informasi.


Hubungan dengan Penberian pada Pelayanan.
Hubungan dengan Klien.
Konsultasi dengan Rekan Sejawat.
Alih Tangan Kasus

http://makalah07.blogspot.co.id/2012/04/kode-etik-bimbingan-dan-konseling.html
minggu, 4 oktober 2015, 18.50

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Pengantar

Pelayanan bimbingan dan konseling secara profesional di Indonesia sampai


saat ini masih terfokus pada generasi muda yang masih duduk dibangku pendidikan
formal atau di sekolah. itupun nampaknya yang paling terrealisasi hanyalah pada
jenjang pendidikan sekolah menegah dan perguruan tinggi saja. Hampir semua
tenaga bimbingan konseling profesional yang telah mendapat pendidikan formal di
bidang bimbingan dan konseling, bertugas dilembaga-lembaga pendidikan di atas
jenjang pendidikan dasar.
Diantara tenaga-tenaga bimbingan dan konseling itu sebagian terbesar
terlibat didalam jenjang pendidikan menegah. Kegiatan-kegiatan bimbingan dan
konseling yang diwujudkan dalam suatu program bimbingan dan konseling yang
terorganisasi dan terencana, sampai saat ini lebih banyak dikembangkan untuk
jenjang pendidikan ditingkat menengah. sehingga seakan-akan ia menjadi urutan
yang pertama. Kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan
oleh tenaga-tenaga profesional dijenjang pendidikan tinggi menempati urutan ke
dua dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan di jenjang pendidikan
dasar menempati urutan ketiga. Kenyataan ini hendaknya tidak harus berarti
bahwa, urutan prioritas yang terdapat dilapangan, sebagaimana dijelaskan di atas,
tidak dapat diubah menjadi urutan prioritas yang berbeda.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian

Kode etik merupakan etika profesi yang harus dipegang kuat oleh setiap
konselor. Kode etik juga merupakan moralitas para konselor dalam menjalankan
profesinya. Bagaimana kode etik profesi bimbingan dan konseling sesungguhnya,
dan berjkaitan dengan apa saja yang menyangkut etrika profesi yang terkait
dengan bimbingan konseliong dilingkungan dunia pendidikan. Hal ini karena dunia
pendiodikan lebih memrlukan penjelasan kode etik ini dibanding dengan bimbingan
dan konseling dilingkungan lainnnya.[1]

Etika adalah suatu sistem prinsip moral, etika suatu budaya. Aturan tentang
tindakan yang dianut berkenaan dengan perilaku suatu kelas manusia, kelompok,
atau budaya tertentu.
Etika Profesi Bimbingan dan Konseling adalah kaidah-kaidah perilaku yang
menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya
memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Kaidah-kaidah
perilaku yang dimaksud adalah:
1.
Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sebagai manusia:
dan mendapatkan layanan konseling tanpa tanpa melihat suku bangsa, agama,
atau budaya.
2.
Setiap orang/individu memiliki hak untuk mengembangkan dan mengarahkan
diri.
3.
Setriap orang memiliki hak untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap
keputusan yang diambilnya.
4.
Setiap konselor membantu perkembangan setiap konseli, melalui layanan
bimbingan dan koseling secara profesional.
5.
Hubungan konselor-konseli sebagai hubungan yang membantu yang
didasarkan kepada kode etik (etika profesi).[2]
Kode Etika adalah seperangkat standar, peraturan, pedoman, dan
nilai yang mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu nilai yang
mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu perusahaan, profesi,
atau organisasi bagin para pekerja atau anggotanya, dan interaksi antara para
pekerja tau anggota dengan masyarakat.
Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia merupakan landasan
moral dan pedoman tingkah laku profesioanl yang dijunjung tinggi, diamalkan, dan
diamankan oleh setiap anggota profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Kode
Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia wajib dipatuhi dan diamalkan oleh
pengurus dan anggota organisasi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota
(Anggaran Rumah Tangga ABKIN, Babb II, Pasal 2).
Pada saat ini konselor sedunia menggunakan KEK dari lembaga yang
bernama American Consuler Association (ACA). Akan tetapi banyak negara yang
mengadopsi KEK dari amerika serikat tersebut lalu mengadakan penyesuaian
dengan kondisi negaranya, terutama dalam hal aspek-aspek Agama, Budaya, dan
kondisi masyarakatnya. Hal itu juuga terjadi di Indonesia dimana KEK dari ACA
tersebut kitra saring dan kita sesuaikan dengan kondisi negara kita namun
demikian masyarakat konseling harus mempelajari KEK dari ACA tersebut karena
mengandung dasar-dasar penting didalam konseling.

B.

Dasar Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling

a.
Pancasila, mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha
pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara
Indonesia yang bertanggung jawab
b.
Tuntutan profesi, yang mengacu pada kebutuhan dan kebahagiaan klien
sesuai denagn norma-norma yang berlaku

C.

Pelanggaran Terhadap Kode Etik

Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuataannya


bahwa ia mentaati kode ettik. Konselor wajib senantiasa mengingat bahwasetiap
pelanggaran terhadap kode etik akan merugikan diri sendiri, konseli, lembaga, dan
pihak lain yang terkait. Pelanggaran terhadap kode etik akan mendapatkan sanksi
yang mekanismenya menjadi tanggung jawab Dewan Pertimbangan Kode Etik
ABKIN sebagaaimana diatur daalam Anggaran Rumah Tangga ABKIN, Bab X, Pasal
26 ayat 1 dan 2 sebagai berikut.
1.
Pada organisasi tingkat nasional dan tingkat provinsi dibentuk Dewan
Pertimbangan Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia.
2.
Dewan Pertimbangan Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia
sebagaimana yang dimaksud oleh ayat (1) mempunyai fungsi pokok:
a.
Menegakkan penghayatan dan pengalaman Kode Etik Bimbingan dan
Konseling Indonesia.
b.
Memberikan pertimbangan kepada Pengurus Besar atau Pengurus Daerah
ABKIN atau adanya perbuatan melanggar Kode Etik Bimbingan dan Konseling oleh
Anggota setelah mengadakan penyelidikan yang seksama dan bertanggung jawab.
c.
Bertindak sebagai saksi di pengadilan dalam perkara berkaitan dengan
profesi bimbingan dan konseling.

D.
1.

Bentuk Pelanggaran
Terhadap Konsil

a.
Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait
dengan kepentingan konseli.
b.
c.

Melakukan perbuatan asusila (pelecehan seksual, penistaan agama, rasialis).


Melakukan tindakan kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli.

d.
Kesalahan dalam melakukan praktik profesioanal (prosedur, teknik, evaluasi,
dan tindak lanjut)
2.

Terhadap Organisasi Profesi

a.
Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi
profesi.
b.
Mencemarkan nama baik profesi (menggunakan organisasi profesi untuk
kepentingan pribadi dan/atau kelompok).

3.

Terhadap Rekan sejawat dan Profesi Lain yang Terkait

a.
Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik (penghinaan, menolak untuk
bekerja sama, sikap arogan).
b.
Melakukan referal kepada pihak yang tidak memiliki keahlian sesuai denagn
masalah konseli.[3]

E.

Sanksi Pelanggaran

Konselor wajib mematuhi kode etik profesi Bimbingan dan Konseling. Apabila
terjadi pelanggaran terhadap kode etik Profesi Bimbingan dan Konseling maka
kepadanya diberikan sanksi sebagai berikut:
1.

Memberikan teguran secara lisan dan tertulis

2.

Memberikan peringatan keras secara tertulis

3.

Pencabutan keanggotaan ABKIN

4.

Pencabutan lisensi

5.
Apabila terkait dengan permasalahan hukum/kriminal maka akan diserahkan
pada pihak yang berwenang.

F.

Mekanisme Penerapan Sanksi

Apabila terjadi pelanggaran seperti tercantum diatas mekanisme penerapan sanksi


yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.

Mendapatkan penggaduan dan infoormasi dari konseli dan/atau masyarakat.

2.

Pengaduan disampaikan kepada dewan kode etik ditingkatt daerah.

3.
Apabila pelanggaran yang dilakukan masih relatif ringan, maka
penyelesainnya dilakukan oleh dewan kode etik ditingkat daerah.
4.
Pemanggilan konselor yang bersangkutan untuk verifikasi data yang
disampaikan oleh konseli dan/atau masyarakat.
5.
Apabila berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh dewan kode etikdaerah terbukti kebenarannya, maka diterapkan sanksi sesuai dengan masalahnya.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan

1)
Kode etik konselor adalah serangkaian aturan-aturan susila, atau sikap akhlak
yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para konselor atau serangkaian
ketentuan dan peraturan yang disepakati bersama guna mengatur tingkah laku
para konselor saat proses wawancara maupun kehidupan sehari-hari sehingga
mampu memberikan sumbangan yang berguna dalam pengabdiannya di
masyarakat.
2)
Kode Etik konselor dibuat untuk mengatur perilaku konselor dalam
pelaksanaan tugas dan kewajibannya serta mengatur secara moral peranan
konselor di dalam masyarakat.
3)
Implementasi Kode Etik konselor masih belum optimal, karena masih banyak
konselor yang belum melaksanakan Kode Etik konselor itu secara baik.
4)
konselor di dalam masyarakat masih menempatkan diri sebagai orang biasa
yang tidak memiliki kewajiban khusus secara moral untuk membangun kesadaran
berpendidikan bagi masyarakat.

B.

Saran

1)
Kode Etik konselor adalah sesuatu yang hendaknya dipahami dan diamalkan
oleh setiap konselor.
2)
Dalam memainkan peran di dalam masyakat, konselor hendaknya senantiasa
mengedepankan nilai-nilai pendidikan.
3)
Konselor hendaknya senantiasa membangun kesadaran berpendidikan di
tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
4)
Perilaku konselor di dalam kehidupan sehari-hari merupakan contoh cerminan
seorang yang berpendidikan.

http://pbi-satu-iainsu.blogspot.co.id/2013/04/makalah-bimbingan-konseling-kodeetik.html

minggu, 4 oktober 2015, 18.54

FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MULAWARMAN
KOTA SAMARINDA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pelayanan bimbingan dan konseling secara profesional di Indonesia sampai saat ini
masih terfokus pada generasi muda yang masih duduk dibangku pendidikan formal
atau di sekolah. itupun nampaknya yang paling terrealisasi hanyalah pada jenjang
pendidikan sekolah menegah dan perguruan tinggi saja. Hampir semua tenaga
bimbingan konseling profesional yang telah mendapat pendidikan formal di bidang
bimbingan dan konseling, bertugas dilembaga-lembaga pendidikan di atas jenjang
pendidikan dasar. Diantara tenaga-tenaga bimbingan dan konseling itu sebagian
terbesar terlibat didalam jenjang pendidikan menegah. Kegiatan-kegiatan
bimbingan dan konseling yang diwujudkan dalam suatu program bimbingan dan
konseling yang terorganisasi dan terencana, sampai saat ini lebih banyak
dikembangkan untuk jenjang pendidikan ditingkat menengah. sehingga seakanakan ia menjadi urutan yang pertama. Kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling
yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga profesional dijenjang pendidikan tinggi
menempati urutan ke dua dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan di
jenjang pendidikan dasar menempati urutan ketiga. Kenyataan ini hendaknya tidak
harus berarti bahwa, urutan prioritas yang terdapat dilapangan, sebagaimana
dijelaskan di atas, tidak dapat diubah menjadi urutan prioritas yang berbeda.

B.

Rumusan Masalah

a.

Apakah yang dimaksud dengan Kode Etik ?

b.

Bagaimanakah realita implementasi Kode Etik?

c.

Apa sajakah bentuk pelanggaran Kode Etik?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia;Merupakan landasan moral dan
pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan
oleh setiap profesional Bimbingan dan Konseling Indonesia
Kode Etik merupakan aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan
bersama dan ditaati bersama oleh para anggota, yang tergabung dalam suatu
kumpulan atau organisasi (organisasi profesi). Oleh karena itu, kode etik merupakan
suatu bentuk persetujuan bersama, yang timbul secara murni dari diri pribada para
anggota. Kode etik merupakan serangkaian ketentuan dan peraturan yang
disepakati bersama guna mengatur tingkah laku para anggota organisasi. Kode etik
lebih meningkatkan pembinaan anggota sehingga mampu memberikan sumbangan
yagn berguna dalam pengabdiannya di masyarakat (Drs. lg. Wursanto: 2003).
Secara etimologi, pendidik adalah orang yang melakukan bimbingan. Pengertian ini
memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam
pendidikan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kode etik guru adalah
serangkaian aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan bersama dan
ditaati bersama oleh para guru atau serangkaian ketentuan dan peraturan yang
disepakati bersama guna mengatur tingkah laku para guru saat proses

pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari sehingga mampu memberikan


sumbangan yagn berguna dalam pengabdiannya di masyarakat.
Kode etik bimbingan dan konseling adalah ketentuan-ketentuan atau peraturanperaturan yang harus di taati oleh siapa saja yang ingin berkecimpung dalam
bidang bimbingan dan konseling demi untuk kebaikan.
Kode etik didalam bidang bimbingan dan konseling dimaksudkan agar bimbingan
dan konseling tetap dalam keadaan baik, serta di harapkan akan menjadi semakin
baik. Kode etik mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau
diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan.
Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia Merupakan landasan moral dan
pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan
oleh setiap profesional Bimbingan dan Konseling Indonesia.
DASAR KODE ETIK PROFESI B-K
a.
Pancasila, mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha
pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara
Indonesia yang bertanggung jawab
b.
Tuntutan profesi, yang mengacu pada kebutuhan dan kebahagiaan klien
sesuai denagn norma-norma yang berlaku

KUALIFIKASI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELORA.


A.

KUALIFIKASI

1. Memiliki nilai, sikap. Ketrampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang


profesi bimbingan dan konseling
2. Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai konselor.
Pengertiannya :
1. Nilai, sikap, ketrampilan, pengetahuan dan wawasan yang harus dimiliki
konselor :
a.
Konselor wajib terus-menerus berusaha mengembangkan dan menguasai
dirinya.
b.
Konselor wajib memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar,
menepati janji,
dapat dipercaya, jujur, tertib dan hormat
c.
Konselor wajib memeiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun
peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan seprofesi yang
berhubungan dgn pelaksanaan ketentuan tingkah laku profesional
d.
Konselor wajib mengusahakan mutu kerja yang tinggi dan tidak
mengutamakan kepentingan pribadi termasuk material, finansial dan popularitas

e.
Konselor wajib trampil dlm menggunakan tekhnik dan prosedur khusus dgn
wawasan luas dan kaidah-kaidah ilmiah
2. Pengakuan Kewenangan
a.

Pengakuan Keahlian

b.
Kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yg diberikan
kepadanya.

B. INFORMASI, TESTING DAN RISET


1. Penyimpanan dan penggunaan Informasi
a.
Catatan tentang diri klien spt; wawancara, testing, surat-menyurat, rekaman
dan data lain merupakan informasi yg bersifat rahasia dan hanya boleh
dipergunakan untuk kepentingan klien.
b.
Penggunaan data/informasi dimungkinkan untuk keperluan riset atau
pendidikan calon konselor sepanjang identitas klien dirahasiakan
c.
Penyampaian informasi ttg klien kepada keluarganya atau anggota profesi
lain membutuhkan persetujuan klien
d.
Penggunaan informasi ttg Klien dalam rangka konsultasi dgn anggota profesi
yang sama atau yang lain dpt dibenarkan asalkan kepentingan klien dan tidak
merugikan klien.
e.
Keterangan mengenai informasi profesional hanya boleh diberikan kepada
orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.
2. Testing
Suatu jenis tes hanya diberikan oleh konselor yang berwenang menggunakan dan
menafsirkan hasilnya.
a) Testing dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas ttg sifat, atau ciri
kepribadian subyek untuk kepentingan pelayanan
b). Konselor wajib mmebrikan orientasi yg tepat pada klien dan orang tua mengenai
alasan digunakannya tes, arti dan kegunaannya.
c). Penggunaan satu jenis tes wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yg berlaku bg
tes tsb.
d). Data hasil testing wajib diintegrasikan dgn informasi lain baik dari klien maupun
sumber lain
e). Hasil testing hanya dapat diberitahukan pada pihak lain sejauh ada
hubungannya dgn usaha bantuan kepada klien.
3. Riset

a.
Dalam mempergunakan riset thdp manusia, wajib dihindari hal yang
merugikan subyek
b.
Dalam melaporkan hasil riset, identitas klien sebagai subyek wajib dijaga
kerahasiannya.

C. PROSES PELAYANAN
1. Hubungan dalam Pemberian Pelayanan
a.
Konselor wajib menangani klien selama ada kesempatan dlm hubungan
antara klien dgn konselor.
b.
Klien sepenuhnya berhak mengakhiri hubungan dengan konselor, meskipun
proses konseling belum mencapai hasil konkrit
c.
Sebaliknya Konselor tidak akan melanjutkan hubungan bila klien tidak
memperoleh manfaat dari hubungan tsb.
2. Hubungan dengan Klien
a.

Konselor wajib menghormati harkat, martabat, integritas dan keyakinan klien.

b.
Konselor wajib menempatkan kepentingan kliennya diatas kepentingan
pribadinya.
c.
Konselor tidak diperkenankan melakukan diskriminasi atas dasar suku,
bangsa, warna kulit, agama, atau status sosial tertentu.
d.
Konselor tidak akan memaksa seseorang untuk memberi bantuan pada
seseorang tanpa izin dari orang yang bersangkutan.
e.
Konselor wajib memebri pelayanan kepada siapapun terlebih dalam keadaan
darurat atau banyak orang menghendakinya
f.
Konselor wajib memberikan pelayan hingga tuntas sepanjang dikehendaki
klien
g.
Konselor wajib menjelaskan kepada klien sifat hubungan yg sedang dibina dan
batas-batas tanggung jawab masing-masing dalam hubungan profesional
h.

Konselor wajib mengutamakan perhatian terhadap klien

i.
Konselor tidak dapat memberikan bantuan profesional kepada sanak saudara,
teman-teman karibnya sepanjang hubunganya profesional.

D. KONSULTASI DAN HUBUNGAN DENGAN REKAN SEJAWAT


1. Konsultasi dengan Rekan Sejawat

Jikalau Konselor merasa ragu dalam pemberian pelayanan konseling, maka Ia wajib
berkonsultasi dengan rekan sejawat selingkungan profesi dengan seijin kliennya.
2. Alih Tangan kasus
a.
Konselor wajib mengakhiri hubungan konseling dengan klien bila dia
menyadari tidak dapat memberikan bantuan pada klien
b.
Bila pengiriman ke ahli disetujui klien, maka menjadi tanggung jawab konselor
menyarankan kepada klien dengan bantuan konselor untuk berkonsultasi kepada
orang atau badan yang punya keahlian yg relevan.
c.
Bila Konselor berpendapat bahwa klien perlu dikirm ke ahli lain, namun klien
menolak pergi melakukannya, maka konselor mempertimbangkan apa baik dan
buruknya.

HUBUNGAN KELEMBAGAAN
A.

Prinsip Umum

a.
Prinsip Umum dalam pelayanan individual, khususnya mengenai
penyimpanan serta penyebaran informasi klien dan hubungan kerahasiaan antara
konselor dengan klien berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan
kelembagaan
b.
Jika konselor bertindak sebagai konsultan di suatu lembaga,Sebagai konsultan,
konselor wajib tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi Bimbingan dan Konselor
tidak bekerja atas dasar komersial.
B.

Keterikatan Kelambagaan

a.
Setiap konselor yang bekerja dalam siuatu lembaga, selama pelayanan
konseling tetap menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya.
b.
Konselor wajib memepertanggungjawabkan pekerjaannya kpd atasannya,
namun berhak atas perlindungan dari lembaga tsb dalam menjalankan profesinya.
c.
Konselor yang bekerja dalam suatu lembaga wajib mengetahu program
kegiatan lembaga tsb, dan pekrjaan konselor dianggap sebagai sumbangankhas
dalam mencapai tujuan lembaga tsb.
d.
Jika Konselor tidak menemukan kecocokan mengenai ketentuan dan
kebijaksanaan lembaga tsb, maka konselor wajib mengundurkan diri dari lembaga
tersebut.

PRAKTEK MANDIRI DAN LAPORAN KEPADA PIHAK LAIN

A.

Konselor Praktik Mandiri

1.
Konselor yang praktek mandiri (privat) dan tidak bekerja dalam hubungan
kelembagaan tertentu, tetap mentaati kode etik jabatan sebagai konselor dan
berhak mendapat perlindungan dari rekan seprofesi.
2.
Konselor Privat wajib memperoleh izin praktik dari organisasi profesi yakni
ABKIN
B. Laporan pada Pihak Lain
Jika Konselor perlu melaporkan sesuatu hal ttg klien pada pihak lain (spt: pimpinan
tempat dai bekerja), atau diminta oleh petugas suatu badan diluar profesinya, dan
ia wajib memberikan informasi tsb, maka dalam memberikan informasi itu ia wajib
bijaksana dgn berpedoman pada suatu pegangan bhw dgn berbuat begitu klien
tetap dilindungi dan tidak dirugikan.
KETAATAN PADA PROFESI
A. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban
1.
Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya Konselor wajib mengaitkannya
dengan
tugas dan kewajibannya terhadap klien dan profesi sesuai kode etik
untuk kepentingan dan kebahagiaan klien
2.
Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor
untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud lain yang merugikan klien,
atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yg tidak wajar
2.1 Realisasi Implementasi kode etik
1. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik:
a. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan
Orangtua/Wali siswa dalam melaksannakan proses pedidikan.
b. Guru memberikan informasi kepada Orangtua/wali secara jujur dan objektif
mengenai perkembangan peserta didik.
c. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang
bukan orangtua/walinya.
d. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpatisipasi
dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
e. Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi
dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.
f.
Guru menjunjunng tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi
dengannya berkaitan dengan kesejahteraan kemajuan, dan cita-cita anak atau
anak-anak akan pendidikan.

g. Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan


orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungna-keuntungan pribadi.
2. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun
masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan:
a. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif dan efisien
dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
b. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembnagkan dan
meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.
c.

Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat

d. Guru berkerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise


dan martabat profesinya.
e. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat
berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya
f.
Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama,
hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.
g. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada
masyarakat.
h. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupam
masyarakat.
3. Guru secara sendiri sendiri dan atau bersama sama berusaha
mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya:
a.

Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi

b. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan


bidang studi yang diajarkan
c.

Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya

d. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan


tugas-tugas profesionalnya dan bertanggungjawab atas konsekuensiinya.
e. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindkan-tindakan profesional lainnya.
f.
Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan
merendahkan martabat profesionalnya.
g. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian dan pujian yang dapat
mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan proesionalny
h. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari tugastugas dan tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan
dan pembelajaran.

Hal yang menjadi kenyataan sekarang :


1. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua murid sebaik baiknya bagi kepentingan anak didik:
a. Guru tidak pernah mengkomunikasikan perkembangan anak kepada
orangtuanya, sehingga orangtua tidak mengetahui kemajuan belajar anaknya.
b. Guru tidak pernah mengajak orangtua untuk membicarakan bersama yang
menyangkut kepentingan anak dan sekolah, melainkan memutuskan secara
sepihak, misalnya: pembelian buku anak, seragam sekolah, kegiatan anak di luar
kurikuler, dan sebagainya
c. Guru sering kali mengatakan perilaku buruk siswanya kepada orang lain yang
bukan orang tuanya.
2. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun
masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan:
a. Guru kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar akan kegiatan dan
kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran.
b. Guru di dalam kehidupan/tatanan masyarakat jarang membahas kehidupan
berpendidikan dengan masyarakat
3. Guru secara sendiri sendiri dan atau bersama sama berusaha
mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya:
a. Mutu guru merosot karena guru tidak mau mengembangkan diri berupa
peningkatan bidang keilmuan dan kompetensi profesi guru misalnya melalui: studi
lanjutan, pelatihan, penataran, dan lain-lain
b. Martabat guru jatuh, misalnya: bekerja tidak disiplin, melakukan perbuatan tak
senonoh, menggelapkan uang sekolah, membocorkan soal, memanipulasi data nilai,
dan sebagainya.

2.3.Pelanggaran terhadap Kode Etik


1.
Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuatannya bahwa
ia mentaati kode etik
2.
Konselor wajib senantiasa mengingat bahwa setiap pelanggaran terhadap
kode etik akan merugikan diri sendiri, klien, lembaga dan pihak lain yg terkait.
3.
Pelanggaran terhadap kode etik akan mendapatkan sangsi berdasarkan
ketentuan yang ditetapkan oleh ABKIN

BENTUK PELANGGARAN YANG SERING TERJADI


1.

Terhadap Konseli

a. Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait


dengan kepentingan
b.

konseli

c.

Melakukan perbuatan asusila (pelecehan seksual, penistaan agama, rasialis).

d.

Melakukan tindak kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli.

e.
Kesalahan dalam melakukan pratik profesional (prosedur, teknik, evaluasi, dan
tindak lanjut).
2.

Terhadap Organisasi Profesi

a. Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi
profesi.
b. Mencemarkan nama baik profesi (menggunakan organisasi profesi untuk
kepentingan pribadi dan atau kelompok).
3.

Terhadap Rekan Sejawat dan Profesi Lain Yang Terkait

a. Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik (penghinaan, menolak untuk


bekerja sama, sikap arogan)
b. Melakukan referal kepada pihak yang tidak memiliki keahlian sesuai dengan
masalah konseli.

4. Sangsi Pelanggaran
Konselor wajib mematuhi kode etik profesi Bimbingan dan Konseling. Apabila terjadi
pelanggaran terhadap kode etik Profesi Bimbingan dan Konseling maka kepadanya
diberikan sangsi sebagai berikut.
a.

Memberikan teguran secara lisan dan tertulis

b.

Memberikan peringatan keras secara tertulis

c.

Pencabutan keanggotan ABKIN

d.

Pencabutan lisensi

e.
Apabila terkait dengan permasalahan hukum/ kriminal maka akan diserahkan
pada pihak yang berwenang.

Mekanisme Penerapan Sangsi


Apabila terjadi pelanggaran seperti tercantum diatas maka mekanisme penerapan
sangsi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mendapatkan pengaduan dan informasi dari konseli dan atau masyarakat
b. Pengaduan disampaikan kepada dewan kode etik di tingkat daerah
c. Apabila pelanggaran yang dilakukan masih relatif ringan makapenyelesaiannya
dilakukan oleh dewan kode etik di tingkat daerah.
d. Pemanggilan konselor yang bersangkutan untuk verifikasi data yang
disampaikan oleh konseli dan atau masyarakat.
e.

Apabila berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh dewan kode etik

daerah terbukti kebenarannya maka diterapkan sangsi sesuai dengan masalahnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kode etik konselor adalah serangkaian aturan-aturan susila, atau sikap akhlak
yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para konselor atau serangkaian
ketentuan dan peraturan yang disepakati bersama guna mengatur tingkah laku
para konselor saat proses wawancara maupun kehidupan sehari-hari sehingga
mampu memberikan sumbangan yang berguna dalam pengabdiannya di
masyarakat.
2. Kode Etik konselor dibuat untuk mengatur perilaku konselor dalam pelaksanaan
tugas dan kewajibannya serta mengatur secara moral peranan konselor di dalam
masyarakat.
3. Implementasi Kode Etik konselor masih belum optimal, karena masih banyak
konselor yang belum melaksanakan Kode Etik konselor itu secara baik.
4. konselor di dalam masyarakat masih menempatkan diri sebagai orang biasa
yang tidak memiliki kewajiban khusus secara moral untuk membangun kesadaran
berpendidikan bagi masyarakat.

B. Saran
1. Kode Etik konselor adalah sesuatu yang hendaknya dipahami dan diamalkan
oleh setiap konselor.
2. Dalam memainkan peran di dalam masyakat, konselor hendaknya senantiasa
mengedepankan nilai-nilai pendidikan.
3. konselor hendaknya senantiasa membangun kesadaran berpendidikan di
tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
4. Perilaku konselor di dalam kehidupan sehari-hari merupakan contoh cerminan
seorang yang berpendidikan.

http://bayyah88.blogspot.co.id/2012/10/makalah-kode-etik-konseling-bk-2011.html

minggu, 4 oktober 2015, 18.58

Kode Etik Bimbingan Konseling Di Indonesia A Latar Belakang Pelayanan bimbingan


dan konseling secara profesional di Indonesia sampai saat ini masih terfokus pada
generasi muda yang masih duduk dibangku pendidikan formal atau di sekolah.
itupun nampaknya yang paling terrealisasi hanyalah pada jenjang pendidikan

sekolah menegah dan perguruan tinggi saja. Hampir semua tenaga bimbingan
konseling profesional yang telah mendapat pendidikan formal di bidang bimbingan
dan konseling, bertugas dilembaga-lembaga pendidikan di atas jenjang pendidikan
dasar. Diantara tenaga-tenaga bimbingan dan konseling itu sebagian terbesar
terlibat didalam jenjang pendidikan menegah. Kegiatan-kegiatan bimbingan dan
konseling yang diwujudkan dalam suatu program bimbingan dan konseling yang
terorganisasi dan terencana, sampai saat ini lebih banyak dikembangkan untuk
jenjang pendidikan ditingkat menengah. sehingga seakan-akan ia menjadi urutan
yang pertama. Kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan
oleh tenaga-tenaga profesional dijenjang pendidikan tinggi menempati urutan ke
dua dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan di jenjang pendidikan
dasar menempati urutan ketiga. Kenyataan ini hendaknya tidak harus berarti
bahwa, urutan prioritas yang terdapat dilapangan, sebagaimana dijelaskan di atas,
tidak dapat diubah menjadi urutan prioritas yang berbeda. Berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan di atas, maka dalam
penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang berada di
sekolah menengah maupun mahasiswa yang sedang menimba bebagai macam ilmu
di perguruan tinggi perlu kira mendapatkan perhatian yang memadai. Dengan
berlandaskan pada proses pelaksanaan kegiatan dan definisi ataupun pengertian
bimbingan dan konseling, dapat di identifikasi 4 (empat) masalah yang mempunyai
relevansi terkait dengan ruang lingkup kehidupan siswa dan mahasiswa saat ini,
yaitu; (1). Dunia nasional maupun internasional serta ruang gerak kehidupan
mereka, (2). Alam pikiran dan perasaan mereka pada saat ini; (3). Bidang
pendidikan sekolah yang mengisi sebagian besar dari waktu mereka setiap harinya
dan (4). Kode etik profesi Bimbingan dan konseling, agar para pelaksana bimbingan
dan konseling dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, serta
bertanggung jawa atas segala tindakannya. BAB II PEMBAHASAN A. Dasar Landasan
atau dasar Kode Etik Profesi Konselor di Indonesia adalah (a) Pancasila, mengingat
bahwa profesi konselor merupakan usaha pelayanan terhadap sesama manusia
yang bersifat ilmiah dan essensial dalam rangka ikut membina warga negara yang
efektif dan bertanggung jawab, dan (b)tuntutan profesi mengacu kepada kebutuhan
dan kebahagiaan klien esuai dengan norma-norma yang berlaku. B. Ciri-Ciri Suatu
Profesi Suatu profesi ialah pekerjaan yang dipegang oleh orang-orang yang
mempunyai dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap khusus tertentu dan
pekerjaan itu diakui oleh masyarakat sebagai suatu keahlian. Keahlian tersebut
menuntut dipenuhinya standar persiapan profesi melalui pendidikan khusus di
perguruan tinggi dan pengalaman kerja dalam bidang tersebut. Selanjutnya,
keanggotaan dalam profesi menuntut keikutsertaan secara aktif dalam ikatan
kegiatan profesi melalui berbagai penelitian dan percobaan, serta usaha-usaha lain
untuk pertumbuhan diri dalam profesi selama hidup tanpa mencari keuntungan
pribadi. C. Pengertian Kode Etik Profesi Kode etik profesi adalah pola atau ketentuan
atau aturan atau tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan
aktivitas suatu profesi. Pola ketentuan/aturan/tata cara tersebut seharusnya diikuti
oleh setiap orang yang berkeinginan untuk ikut serta menjalankan profesi tersebut.
D. Perlunya Kode Etik Profesi Kode etik profesi diperlukan agar anggota profesi atau
konselor dapat tetap menjaga standar mutu dan status profesinya dalam batasbatas yang jelas dengan anggota profesi dan profesi-profesi lainnya, sehingga dapat

dihindarkan kemungkinan penyimpangan-penyimpangan tugas oleh mereka yang


tidak langsung terjun dalam bidang bimbingan dan konseling. Kode etik konselor ini
diperuntukkan bagi para pembimbing atau konselor yang memberikan layanan
bimbingan dan konseling , dengan pengertian bahwa layanan bimbingan konseling
dapat dibedakan dari bentuk-bentuk layanan profesional lainnya, karena sifat-sifat
khas dari layanan profesional bimbingan dan konseling. Profesional lain, yang bukan
konselor, mungkin dapat mengambil ilham dari keyakinan-keyakinan yang menjiwai
kode etik ini. BAB III KUALIFIKASI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR A.
Kualifikasi Konselor yang tergabung dalam Asosiasi Bimbingan dan Konseling
Indonesia harus memiliki (1) nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan
dalam bidang profesi konseling, dan (2) Pengakuan atas kemampuan, dan
kewenangan sebagai konselor. 1. Nilai, Sikap, Pengetahuan, Wawasan,
Keterampilan. a. Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya,
konselor harus terus-menerus berusaha mengembangkan dan menguasai dirinya. Ia
harus mengerti kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri, yang
dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan
rendahnya layanan mutu professional serta merugikan orang lain. b. Dalam
melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat
sederhananya, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercaya, jujur, tertib, dan
hormat. c. Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran dan
peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam
hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional
sebagaimana diatur dalam kode etik ini. d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya,
konselor harus mengusahakan mutu kerja yang setinggi mungkin, kepentingan
pribadi, termasuk keuntungan finansial dan material tidak diutamakan. e. Konselor
harus terampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedur khusus yang
dikembangkan tas dasar wawasan yang luas dan kaidah-kaidah ilmiah. 2.
Pengakuan Wewenang Untuk dapat bekerja sebagai konselor atau guru
pembimbing, diperlukan pengakuan keahlian dan kewenangan oleh badan khusus
yang dibentuk oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepada
organisasi profesi tersebut oleh pemerintah. B. Informasi, Testing, dan Riset 1.
Penyimpanan dan penggunaan informasi a.
Catatan tentang klien yang meliputi
data hasil wawancara, testing, surat-menyurat, perekaman, dan data lainnya,
semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan
untuk kepentingan klien. Penggunaan data/informasi untuk keperluan riset atau
pendidikan calon konselor dimungkinkan, sepanjang identitas klien dirahasiakan. b.
Penyampaian informasi mengenai klien kepada keluarga atau kepada anggota
profesi yang lain, membutuhkan persetujuan klien. c.
Penggunaan informasi
tentang klien dalam rangka konsultasi dengan anggota profesi yang sama atau
yang lain dapat dibenarkan, asalkan untuk kepentingan klien dan tidak merugikan
klien. d.
Keterangan mengenai bahan profesional hanya boleh diberikan kepada
orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya. 2. Testing a. Suatu jenis
tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan
menafsirkan hasilnya. Konselor harus selalu memeriksa dirinya apakah ia
mempunyai kewenangan yang dimaksud. b. Testing diperlukan apabila proses
pemberian layanan memerlukan data tentang sifat atau ciri kepribadian yang
menuntut adanya perbandingan dengan sampel yang lebih luas, misalnya taraf

intelegensi, minat, bakat khusus dan kecendrungan pribadi seseorang . c. Data


yang diperoleh dari hasil testing itu harus diintegrasikan dengan informasi lain yang
telah diperoleh baik melalui klien sendiri ataupun dari sunber lain. d. Data hasil
testing harus diperlakukan setaraf dengan data dan informasi lain tentang klien. e.
Konselor harus memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan
digunakannya tes dan apa hubungannya dengan masalahnya. Hasilnya harus
disampaikan kepada klien dengan disertai penjelasan tentang arti dan
kegunaannya. f. Penggunaan suatu jenis tes harus mengikuti pedoman atau
petunjuk yang berlaku bagi tes yang bersangkutan. g. Data hasil testing hanya
dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh pihak lain yang diberitahu itu ada
hubungannya dengan usaha bantuan atau layanan kepada klien dan tidak
merugikan klien. 3. Riset a. Dalam melakukan riset, dimana tersangkut manusia
dengan masalahnya sebagai subjek, harus dihindari hal-hal yang dapat merugikan
subjek yang bersangkutan. b. Dalam melaporkan hasil riset di mana tersangkut
klien sebagai subjek, harus dijaga agar identitas subjek dirahasiakan. C. Proses
Layanan 1.
Hubungan dalam pemberian layanan a.
Kewajiban konselor haru
menangani klien berlangsung selama ada kesempatan dalam hubungan antara
klien dengan konselor. Kewajiban itu berakhir jika hubungan konseling berakhir
dalam arti, klien mengakhiri hubungan kerja dengan konselor tidak lagi bertugas
sebagai konselor . b.
Klien sepenuhnya berhak untuk mengakhiri hubungan
dengan konselor, meskipun proses konseling belum mencapai hasil yang kongkret.
Sebaliknya konselor tidak akan melanjutkan hubungan apabila klien ternyata tidak
memperoleh manfaat dari hubungan itu 2. Hubungan dan klien a. Konselor harus
menghormati harkat pribadi, integritas, dan keyakinan klien. b. Konselor harus
menempatkan kepentingan, kliennya diatas kepentingan pribadinya. Demikian pun
dia tidak boleh memberikan layanan bantuan di luar bidang pendidikan,
pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya. c. Dalam menjalankan tugasnya,
konselor harus tidak mengadakan perbedaan klien tas dasar suku, bangsa, warna
kulit, agama, atau status sosial ekonomi. d. Konselor tidak akan memaksa untuk
memberikan bantuan kepada seseorang dan tidak akan mencampuri urusan pribadi
orang lain tanpa izin diri orang yang bersangkutan. e. Konselor bebas memilih siapa
yang akan diberi bantuan kepada seseorang, akan tetapi ia harus memperhatikan
setiap permintaan bantuan, lebih-lebih dalam keadaan darurat atau apabila banyak
orang yang menghendaki. Kalau konselor sudah turun tangan membantu
seseorang, maka dia tidak akan melalaikan klien tersebut, walinya tau orang yang
bertanggung jawab kepadanya. f. Konselor wajib memberikan pelayanan hingga
tuntas sepanjang dikehendaki klien g. Konselor harus menjelaskan kepada klien
sifat hubungan yang sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab terhadap klien.
h. Hubungan konselor mengandung kesetiaan ganda kepada klien, masyarakat,
atasan dan rekan-rekan sejawat. 1) Apabila timbul masalah dalam soal kesetiaan
ini, maka harus diperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dan juga
tuntutan profesinya sebagai konselor. Dalam hal ini terutama sekali harus
diperhatikan adalah kepentingan klien. 2) Apabila timbul masalah antara kesetiaan
antara klien dan lembaga tempat konselor bekerja, maka konselor harus
menyampaikan situasinya kepada klien dan atasannya. Dalam hal ini klien harus
diminta untuk mengambil keputusan apakah ia ingin meneruskan hubungan
konseling dengannya. i. Konselor tidak akan memberikan hubungan profesional

kepada sanak keluarga, teman-teman karibnya, apabila hubungan profesional


dengan orang-orang tersebut mungkin dapat terancam oleh kaburnya peranan
masing-masing. D. Konsultasi dan Hubungan dengan Rekan Sejawat atau ahli lain.
1. Konsultasi dengan Rekan Sejawat Dalam rangka pemberian layanan kepada
seorang klien, kalau konselor merasa ragu-ragu tentang suatu hal maka ia harus
berkonsultasi dengan rekan-rekan sejawat se lingkungan seprofesi. Untuk itu ia
harus mendapat izin terlebih dahulu dari klien. 2.
Alih tangan tugas a.
Konselor harus mengakhiri hubungan konseling dengan seseorang klien apabila
pada akhirnya dia menyadari tidak dapat memberikan pertolongan kepada klien
tersebut, baik karena kurangnya kemampuan keahlian maupun keterbatasan
pribadinya. b.
Dalam hal ini konselor mengizinkan klien untuk berkonsultasi
dengan petugas atau badan lain yang lebih ahli, atau ia akan mengirimkan kepada
orang atau badan ahli tersebut, tetapi harus dasar persetujuan klien. Bila
pengiriman ke ahli lain disetujui klien, maka menjadi tanggung jawab konselor
untuk menyarankan kepada klien orang atau badan yang mempunyai keahlian
khusus. c.
Bila konselor berpendapat klien perlu dikirim ke ahli lain, akan tetapi
klien menolak pergi kepada ahli yang disarankan oleh konselor, maka
mempertimbangkan apa baik buruknya kalau hubungan yang sudah ada mau
diteruskan lagi. BAB IV HUBUNGAN KELEMBAGAAN A. Prinsip Umum 1.
Prinsipprinsip yang berlaku dalam layanan individual, khususnya tentang penyimpanan
serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial antara
konselor dengan klien, berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan
kelembagaan. 2.
Apabila konselor bertindak sebagai konsultan pada suatu
lembaga, maka harus ada pengertian dan kesepakatan yang jelas antara konselor
dan pihak lembaga dan dengan klien yang menghubungi konselor di tempat
lembaga itu. Sebagai seorang konsultan, konselor harus tetap mengikuti dasardasar pokok profesi dan tidak bekerja atas dasar komersial. B. Keterkaitan
Kelembagaan 1. Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan turut
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerjasama dengan pihak
atasan atau bawahannya, terutama dalam rangka layanan konseling dengan
menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya. 2. Peraturan-peraturan
kelembagaan yang diikuti oleh semua petugas dalam lembaga haru dianggap
mencerminkan kebijaksanaan lembaga itu dan bukan pertimbangan pribadi.
Konselor haru mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada atasannya.
Sebaliknya ia berhak pula mendapat perlindungan dari lembga itu dalam
menjalankan profesinya. 3. Setiap konselor yang menjadi anggota staf suatu
lembaga berorientasi kepada kegiatan-kegiatan dari lembaga itu dari pihak lain,
pekerjaan konselor harus dianggap sebagai sumbangan khas dalam mencapai
tujuan lembaga itu. 4. jika dalam rangka pekerjaan dalam suatu lembaga, konselor
tidak cocok dengan ketentuan-ketentuan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang
berlaku di lembaga tersebut, maka ia wajib mengundurkan diri dari lembaga
tersebut. BAB V PRAKTIK MANDIRI DAN LAPORAN KEPADA PIHAK LAIN A. Konselor
Praktik mandiri ( Privat ) 1. Konselor yang berpraktik mandiri ( privat ) dan tidak
bekerja dalam hubungan kelembagaan tertentu, tetap menaati segenap kode etik
jabatannya sebagai konselor, dan berhak untuk mendapat dukungan serta
perlindungan diri dari rekan-rekan seprofesi. 2. Konselor yang berpraktik mandiri
wajib memperoleh izin terlebih dahulu dari organisasi profesi ( ABKIN ). B. Laporan

Kepada Pihak Sekolah Apabila konselor perlu melaporkan suatu hal tentang klien
kepada pihak lain ( misalnya : pimpinan lembaga tempat ia bekerja ) ,atau kalau ia
diminta keterangan tentang klien oleh petugas suatu badan diluar profesinya dan ia
harus juga memberikan informasi itu ia harus sebijaksana mungkin dengan
berpedoman pada pegangan bahwa dengan berbuat begitu klien tetap dilindungi
dan tidak dirugikan BAB VI KETAATAN PROFESI A. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban 1.
Dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya sebagai konselor, konselor harus selalu
mengaitkannya dengan tugas dan kewajibannya terhadap klien dan profesi
sebagaimana dicantumkan dalam kode etik ini dan semuanya itu sebesar-besarnya
untuk kepentingan dan kebahagiaan klien. 2.
Konselor tidak dibenarkan
menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor untuk maksud untuk mencari
keuntungan pribadi atau maksud-maksud lain yang dapat merugikan klien ataupun
menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yang tidak wajar. B. Pelanggaran
kode etik 1. Konselor harus selalu mengkaji tingkah laku dan perbuatannya tidak
melanggar kode etik ini. 2. Konselor harus senantiasa mengingat bahwa
pelanggaran terhadap kode etik ini akan merugikan mutu proses dan hasil layanan
yang diberikan, merugikan klien, lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait, serta
merugikan diri konselor sendiri dan profesinya. 3. Pelanggaran terhadap kode etik
ini akan mendapatkan sanksi berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh ABKIN.
BAB VII FENOMENA PELAKSANAAN KODE ETIK PROFESI KONSELOR DI LAPANGAN
Kode etik konselor Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku
profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota
profesi bimbingan dan konseling Indonesia. Kode etik konselor diperlukan untuk
melindungi anggota profesi sendiri dan kepentingan publik.Sebagai penjamin mutu
layanan yang diberikan oleh konselor, kode etik berperan sebagai pedoman tingkah
laku konselor dalam menjalankan aktifitas profesionalnya dan setiap konselor harus
melaksanakan kode etik profesi dengan sebaik-baiknya. Beberapa fenomena di
lapangan yang diberitakan dalam media cetak dan fenomena selama mengikuti
kegiatan PPL II ketika menempuh S1 Bimbingan Konseling, di salah satu sekolah di
kota Malang mengindikasikan masih adanya penyimpangan kode etik yang
dilakukan konselor. Secara umum tujuan diadakannya bimbingan dan konseling
yaitu untuk membantu peserta didik atau siswa dalam memahami diri dan
lingkungan, mengarahkan diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
mengembangkan potensi dan kemandirian diri secara optimal pada setiap tahap
perkembangannya. Artinya dalam malaksanakannya guru pembimbing dituntut
untuk dekat, akrab dan bersahabat dengan segala pola tingkah laku dan
kepribadian siswa dalam batasan tertentu sehingga diharapkan dapat mengatasi
masalah yang dihadapi siswa. Namun kenyataannya yang terjadi di lapangan
cenderung berbeda dengan tujuan umum diatas. Yang terjadi adalah jarak pemisah
yang cukup jauh antara guru BK dan siswa. Siswa merasa enggan untuk secara
suka rela mendatangi konselor dalam mengatasi masalahnya. Berikut ini adalah
beberapa fenomena yang terjadi dalam pelaksanaan BK di sekolah : 1)
Guru BK
sebagai polisi sekolah Pada beberapa sekolah, guru BK adalah sosok yang
ditakuti. Hal ini wajar karena dalam mendisiplinkan siswa. terkadang dilakukan
dengan interogasi, razia, dan punishment (hukuman). Sehingga jika ditanyakan
kepada siswa mengenai guru BK, banyak siswa yang merasa benci, tidak
bersahabat dan cenderung memilih lebih baik menghindar saat bertemu guru BK,

terutama saat mereka sedang dalam posisi melakukan kesalahan. 2)


Pelaksanaannya masih menggunakan pola tidak jelas. Yang dimaksud dengan pola
tidak jelas disini adalah tidak adanya aturan baku atau pola-pola tertentu yang
ditetapkan sebagai acuan dalam menyelesaikan masalah. Dalam penerapannya
guru cenderung melakukan cara-cara yang kasar dan justru tidak mendidik.
Misalnya ketika seorang siswa ketahuan merokok, siswa tersebut malah disuruh
menghisap sepuluh batang rokok sekaligus. Hal ini tidaklah tepat. Memang tindakan
ini akan dapat memberikan efek jera, namun disisi lain menghisap rokok dalam
jumlah banyak dan dalam waktu yang bersaan, justru akan membahayakan
kesehatan siswa. 3)
Pendekatan yang dilakukan pada siswa bermasalah / klien
masih menggunakan pendekatan klinik klasik. Dalam hal ini fokus penanganan BK
dilakukan hanya kepada siswa yang berkeadaan dan mengalami hal-hal negatif,
seperti nakal, membolos, malas membuat PR, dan lain sebagainya. Hubungan
antara siswa dan guru pembimbing pun adalah sebagai atasan dan bawahan.
Sehingga terdapat jarak yang sangat jauh antara keduanya. Fenomena diatas jauh
sekali dengan harapan bimbingan konseling sebagai profesi yang professional.
Masih adanya praktek bimbingan konseling yang tidak sesuai dengan tujuan dan
kode etik bimibingan konseling yang sudah di rumuskan oleh ABKIN. Namun hal ini
tidak bisa kita generalisasi atau berfikir secara umum jika kode etik bimbingan
konseling tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya, karena Puspitasari(2010)
dalam penelitiannya tentang pelaksanaan kode etik konselor SMA/SMK se kota
Malang menunjukkan bahwa 1) 55% konselor berada pada taraf tinggi, 45%
konselor berada pada taraf cukup, 0% konselor berada pada taraf rendah dalam
pelaksanaan kode etik, 2) Pada aspek kualifikasi dan kegiatan profesional konselor
42,5% konselor berada pada taraf tinggi, 57,5% cukup, dan 0% rendah, 3) pada
aspek hubungan kelembagaan dan laporan kepada pihak lain 20% konselor berada
pada taraf tinggi, 80% cukup, dan 0% rendah, 4) pada aspek ketaatan kepada
profesi 95% konselor berada pada taraf tinggi, 5% cukup, dan 0% rendah. Jika kita
menelaah hasil penelitian diatas, maka bisa kita simpulkan bahwa pelaksanaan
kode etik konselor di SMA/SMK se kota malang sebenarnya cukup tinggi. Untuk
praktek professional konselor yang masing kurang dri harapan kita ada beberapa
saran yang bisa dipertimbangkan yaitu: Ada dua prinsip yang harus dijalankan
dalam pelaksanaan konseling. Yaitu KTPS (Klien Tidak Pernah Salah) dan KTPM
(Konselor Tidak Pernah Memihak). a.
KTPS (Klien Tidak Pernah Salah) Posisi klien
dalam konseling di sekolah seringkali dikonotasikan negatif. Artinya setiap siswa
yang masuk ke ruang BK (siswa yang diberikan bimbingan dan konseling), maka
akan diartikan sebagai anak yang bermasalah. Bahwa siswa yang bersangkutan
adalah memiliki kesalahan, itu memang benar, tetapi dalam hal ini konselor tidak
boleh memposisikan siswa / klien sebagai seorang sakit (bersalah). Kesalahan
tersebut mungkin saja terjadi dikarenakan ketidak tahuan siswa bahwa pada saat ini
dia dalam kondisi bersalah. Misalnya dalam sebuah kasus, siswa membawa
perhiasan berharga di sekolah. Jika dilihat dari kepemilikan barang tersebut, siswa
tidaklah salah. Karena perhiasan tersbut adalah miliknya, yang didapat dengan hasil
uang miliknya juga, maka siswa merasa berhak menggunakannya. Namun disisi lain
ada peraturan sekolah yang melarang. Pihak sekolah mengkhawatirkan, jika siswa
menggunakan perhiasan berharga, maka bisa jadi keselamatannya dapat terancam,
selain itu perhiasan itu akan mengakibatkan kecemburuan sosial tehadap siswa

lainnya. Dalam hal ini posisi konselor adalah mengarahkan siswa kepada
pemahaman bahwa peraturan sekolah dilaksanakan semata-mata untuk
kepentingan siswa yang bersangkutan. b.
KTPM (Konselor Tidak Pernah Memihak)
Seorang konselor tidak boleh memihak kepada salah seorang klien atau kelompok
tertentu dalam menangani maslah. Meskipun kelompok atau klien yang
bersangkutan benar. Karena keberpihakan tersebut akan menimbulkan penyalahan
kepada pihak / kelompok yang lain. Dan itu tentu saja bertentangan dengan prinsip
KTPS. Posisi konselor adalah penengah, menawarkan solusi, memberikan
pemahaman, yang keputusan akhirnya diberikan kepada keduabelah pihak. Mau
tetap mempertahankan argumennya, atau memilih solusi yang ditawarkan konselor.
Misalnya seorang siswa mempunyai masalah dengan teman sebangkunya. Dimana
temannya itu selalu menjelek-jelekkan dirinya kepada teman lainnya. Konselor tidak
dapat memihak ataupun menyalahkan satu diantara keduanya. Yang dapat
dilakukan adalah memberikan pengertian kepada keduanya bahwa kerukunan
disekolah sangat penting. Memberikan pemahaman bagaimana sebaiknya
bertingkah laku terhadap orang lain. Saling menghormati, dan menghargai.
Membimbing bagaimana memecahkan masalah tanpa harus menyakiti. Konselor
dapat juga memberikan contoh akibat yang ditimbulkan jika tidak ada toleransi dan
saling menghargai antar sesama. Dan lain sebagainya. Secara singkat ada 3 hal
yang ditanamkan kepada siswa dalam menyelesaikan masalah : 1) Menyadari
kesalahan 2) Menganalisa masalah 3) Meminta maaf Dengan demikian siswa
diharapkan dapat menilai sendiri apakah perbuatannya baik atau buruk. Keputusan
diberikan sepenuhnya kepada siswa yang bersangkutan BAB VIII PENUTUP A.
Kesimpulan 1.
Landasan kode etik profesi konselor di Indonesia adalah pancasila
danntuntutan profesi yang mengacu pada kebahagiaan klien 2.
Konselor yang
tergabung dalam Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia harus memiliki (1)
nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang profesi
konseling, dan (2) Pengakuan atas kemampuan, dan kewenangan sebagai konselor
3.
Prinsip-prinsip yang berlaku dalam layanan individual, khususnya tentang
penyimpanan serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial
antara konselor dengan klien, berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan
kelembagaan 4.
Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan
turut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerjasama dengan pihak
atasan atau bawahannya, terutama dalam rangka layanan konseling dengan
menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya. 5.
Konselor yang
berpraktik mandiri ( privat ) dan tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan
tertentu, tetap menaati segenap kode etik jabatannya sebagai konselor, dan berhak
untuk mendapat dukungan serta perlindungan diri dari rekan-rekan seprofes dan
wajib mendapatkan izin dari ABKIN. 6.
Konselor harus senantiasa mengingat
bahwa pelanggaran terhadap kode etik ini akan merugikan mutu proses dan hasil
layanan yang diberikan, merugikan klien, lembaga dan pihak-pihak lain yang
terkait, serta merugikan diri konselor sendiri dan akan mendapatkan sangsi dari
ABKIN

http://ophiiciiduduth.blogspot.co.id/2013/05/kode-etik-bimbingan-konseling-di.html