Anda di halaman 1dari 24

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di


dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal
adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi
kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan
berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan,
pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah
komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih
kepada anggotanya secara individual.
Organisasi dan komunikasi
Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti
paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli
ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.
Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan
organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas.
Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan
organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan
sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang
terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu.
Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam
organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai,
bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya.
Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk
selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu
berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan
memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.

(1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:


Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan
informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang
didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya
secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk
membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di
dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk
melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan,
jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.
Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam
suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu: a.
Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang
memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga
memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana
semestinya. b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi
pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang
boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak
akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka
banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi
perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan
menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering
memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
Fungsi integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang
memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua
saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran komunikasi
formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan
laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar
pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan
darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk
berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi
organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada
daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management

klasikal adalah sebagai berikut:


kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan
rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke
bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando,
harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.
divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat
spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien.
tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi
order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan
otoritas harus dicapai.
disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut
kebiasaan dan aturan disetujui.
mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh
peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.
Selanjutnya, Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi.
Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan sistem. Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi) menganggap
struktur hirarkhi, garis rantai komando komunikasi, prosedur operasi standar merupakan
mungsuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus
menerus beradaptasi kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk
mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang
samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick
meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya
mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu,
ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada
komunikasi dari pada aturan-aturan.
Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi
karena ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian manusia dan
memberikan dasar logika untuk memahami bagaimana orang berorganisasi. Menurutnya,
kegiatan-kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan ketidakpastian dari
informasi yang diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah
ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan
kurangnya predictability. Semua informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak

jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi


ketidakpastian atau ketidakjelasan.
Weick memandang pengorganisasian sebagai proses evolusioner yang bersandar pada
sebuah rangkaian tiga proses:
penentuan (enachment) seleksi (selection) penyimpanan (retention)
Penentuan adalah pendefinisian situasi, atau mengumpulkan informasi yang tidak jelas
dari luar. Ini merupakan perhatian pada rangsangan dan pengakuan bahwa ada
ketidakjelasan. Seleksi, proses ini memungkinkan kelompok untuk menerima aspekaspek tertentu dan menolak aspek-aspek lainnya dari informasi. Ini mempersempit
bidang, dengan menghilangkan alternatif-alternatif yang tidak ingin dihadapi oleh
organisasi. Proses ini akan menghilangkan lebih banyak ketidakjelasan dari informasi
awal. Penyimpanan yaitu proses menyimpan aspek-aspek tertentu yang akan digunakan
pada masa mendatang. Informasi yang dipertahankan diintegrasikan ke dalam kumpulan
informasi yang sudah ada yang menjadi dasar bagi beroperasinya organisasinya.
Setelah dilakukan penyimpanan, para anggota organisasi menghadapi sebuah masalah
pemilihan. Yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan kebijakan
organisasi. Misal, haruskah kami mengambil tindakan berbeda dari apa yang telah kami
lakukan sebelumnya?
Sedemikian jauh, rangkuman ini mungkin membuat anda mempercayai bahwa organisasi
bergerak dari proses pengorganisasian ke proses lain dengan cara yang sudah tertentu:
penentuan; seleksi; penyimpanan; dan pemilihan. Bukan begitu halnya. Subsubkelompok individual dalam organisasi terus menerus melakukan kegiatan di dalam
proses-proses ini untuk menemukan aspek-aspek lainnya dari lingkungan. Meskipun
segmen-segmen tertentu dari organisasi mungkin mengkhususkan pada satu atau lebih
dari proses-proses organisasi, hampir semua orang terlibat dalam setiap bagian setiap
saat. Pendek kata di dalam organisasi terdapat siklus perilaku.
Siklus perilaku adalah kumpulan-kumpulan perilaku yang saling bersambungan yang
memungkinkan kelompok untuk mencapai pemahaman tentang pengertian-pengertian
apa yang harus dimasukkan dan apa yang ditolak. Di dalam siklus perilaku, tindakantindakan anggota dikendalikan oleh aturan-aturan berkumpul yang memandu pilihan-

pilihan rutinitas yang digunakan untuk menyelesaikan proses yang tengah dilaksanakan
(penentuan, seleksi, atau penyimpanan).
Demikianlah pembahasan tentang konsep-konsep dasar dari teori Weick, yaitu:
lingkungan; ketidakjelasan; penentuan; seleksi; penyimpanan; masalah pemilihan; siklus
perilaku; dan aturan-aturan berkumpul, yang semuanya memberi kontribusi pada
pengurangan ketidakjelasan.
2. Pendekatan budaya. Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia bertindak
tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki tentang sesuatu itu.
Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz, ahli teori dan ethnografi,
peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik adalah ditentukan organisasi.
Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi merupakan sebuah cara hidup
(way of live) bagi para anggotanya, membentuk sebuah realita bersama yang
membedakannya dari budaya-budaya lainnya.
Pacanowsky dan para teoris interpretatif lainnya menganggap bahwa budaya bukan
sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu suatu
organisasi. budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya.
Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka
pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku
tugas resmi dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling
membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut.
Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita-cerita, ritual,
simbol-simbol, dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi
seperangkat pemahaman.
3. Pendekatan kritik. Stan Deetz, salah seorang penganut pendekatan ini, menganggap
bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan sudah mendominasi hampir semua aspek
lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan kita banyak ditentukan oleh keputusankeputusan yang dibuat atas kepentingan pengaturan organisasi-organisasi perusahaan,
atau manajerialisme.
Bahasa adalah medium utama dimana realitas sosial diproduksi dan direproduksi.

Manajer dapat menciptakan kesehatan organisasi dan nilai-nilai demokrasi dengan


mengkoordinasikan partisipasi stakeholder dalam keputusan-keputusan korporat.
Persepsi mengenai komunikasi organisasi perlu diketahui sebagai dasar untuk memahami
apa yang dimaksud dengan komunikasi organisasi.
1. Persepsi Redding dan Sanborn Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan
penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk bidang ini
adalah :
komunikasi internal
hubungan manusia
hubungan persatuan pengelola
komunikasi downward (komunikasi dari atasan kepada bawahan
komunikasi upward (komunikasi dari bawahan kepada atasan
komunikasi horizontal (komunikasi dari orang-orang yang sama tingkatnya dalam
organisasi
keterampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan evaluasi
program.
2. Persepsi Katz dan Kahn Komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran
informasi dan pemindahan arti di dalam organisasi.
3. Persepsi Zelko dan Dance Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang saling
tergantung yang mencakup komunikasi internal dan komunikasi eksternal.
4. Persepsi Thayer Dia memperkenalkan tiga sistem komunikasi dalam organisasi yaitu :
berkenaan dengan kerja organisasi seperti data mengenai tugas-tugas atau
beroperasinya organisasi;
berkenaan dengan pengaturan organisasi seperti perintah, aturan dan petunjuk;
berkenaan dengan pemeliharaan dan pengembangan organisasi (hubungan dengan
personal dan masyarakat, pembuat iklan
dan latihan)
5. Persepsi Greenbaunm Bidang komunikasi organisasi termasuk arus komunikasi formal
dan informal dalam organisasi. Dia membedakan komunikasi internal dengan eksternal
dan memandang peranan komunikasi terutama sebagai koordinasi pribadi dan tujuan
organisasi serta masalah menggiatkan aktivitas.

Meskipun bermacam-macam persepsi dari para ahli mengenai komunikasi organisasi,


tapi ada beberapa hal yang dapat disimpulkan :
Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang
dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal
maupun eksternal.
Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media.
Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan
keterampilannya.
Definisi dan konsep kunci komunikasi organisasi
Dari definisi tersebut terdapat tujuh konsep kunci yaitu :
Proses Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan
saling menukar pesan diantara anggotanya. Karena gejala menciptakan dan menukar
informasi ini berjalan terus menerus tanpa henti maka dikatakan sebagai suatu proses.
Pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang orang, obyek, kejadian yang
dihasilkan oleh interaksi dengan orang lain. Dalam komunikasi organisasi kita
mempelajari pertukaran pesan dalam seluruh organisasi. Pesan dalam organisasi ini dapat
dilihat menurut beberapa klasifikasi yang berhubungan dengan :
bahasa (verbal dan non-verbal
penerima (internal dan eksternal
metode difusi (bagaimana pesan disebarluaskan
arus tujuan dari pesan (berkenaan dengan tugas-tugas dalam organisasi, pemeliharaan
organisasi dan kemanusiaan dan inovasi/Redding dalam Goldhaber, 1986). Menurut
Thayer arus tujuan dari pesan adalah untuk memberi informasi, mengatur, membujuk dan
mengintegrasikan
Jaringan Organisasi terdiri dari satu seri orang yang masing-masing menduduki posisi
atau peranan tertentu dalam organisasi. Pertukaran pesan dari orang-orang tersebut
melewati suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi.
Hakikat dan luas jaringan ini dipengaruhi oleh faktor yang masing-masing mempengaruhi
jaringan komunikasi yaitu :
hubungan peranan formal dan informal
arah dan arus pesan (komunikasi kepada atasan, komunikasi kepada bawahan dan
komunikasi horizontal
isi dari pesan
Keadaan saling tergantung Keadaan saling tergantung antara satu bagaian dengan bagian
lainnya telah menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka.

Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh pada
bagaian lainnya dan mungkin juga pada seluruh sistem organisasi.
Hubungan Karena organisasi merupakan sistem kehidupan sosial, maka untuk
berfungsinya bagian-bagian itu terletak pada tangan manusia. Oleh karena itu hubungan
manusia dalam organisasi yang menfokuskan kepada tingkahlaku komunikasi dari orang
yang terlibat dalam satu hubungan perlu dipelajari.
Lingkungan Yang dimaksud dengan lingkungan adalah semua totalitas secara fisik dan
faktor sosial yang diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam
suatu sistem. Lingkungan ini dapat dibedakan :
Lingkungan internal (karyawan, golongan fungsional dari organisasi,q komponen
organisasi lainnya seperti tujuan, produk/jasa dsb)
Lingkungan eksternal ( pelanggan, kompetitor, teknologi, dsb)q
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Untuk mengurangi ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar
pesan di antara anggota, penelitian, pengembangan organisasi dan menghadapi tugastugas yang kompleks dengan integritas yang tinggi.
Pendekatan komunikasi organisasi
Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan tiga
pendekatan, yaitu :
Pendekatan Makro Dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai suatu struktur
global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, organisasi
melakukan aktivitas tertentu seperti :
Memproses informasi dan lingkunganq
Mengadakan identifikasiq
Melakukan intergrasi dengan organisasi lainq
Menentukan tujuan organisasiq
Pendekatan Mikro Pendekatan ini terutama menfokuskan kepada komunikasi dalam unit
dan sub-unit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah
komunikasi antara anggota kelompok seperti :
Komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihanq
Komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompokq
Komunikasi untuk menjaga iklim organisasiq
Komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaanq
Komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasiq

Pendekatan individual berpusat pada tingkahlaku komunikasi individual dalam


organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua pendekatan sebelumnya
diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Ada beberapa bentuk
komunikasi individual :
Berbicara pada kelompok kerjaq
Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapatq
Menulis dan mengonsep suratq
Berdebat untuk suatu usulanq
KOMUNIKASI dalam ORGANISASI
manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain
dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini
merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil
integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam
kelompok/organisasi itu selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah
penting untuk kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan
bawahan/karyawan. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications
atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya
kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun
kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari
berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial/kebudayaan. Hubungan yang terjadi
merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk
memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan
yang berkelanjutan.
Hubungan yang dilakukan oleh unsur pimpinan antara lain kelangsungan hidup
berorganisasi untuk mencapai perkembangan ke arah yang lebih baik dengan
menciptakan hubungan kerja sama dengan bawahannya. Hubungan yang dilakukan oleh
bawahan sudah tentu mengandung maksud untuk mendapatkan simpati dari pimpinan
yang merupakan motivasi untuk meningkatkan prestasi kerja ke arah yang lebih baik. Hal
ini tergantung dari kebutuhan dan cara masing-masing individu, karena satu sama lain
erat hubungannya dengan keahlian dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi
pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran

yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk
mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut.
Berdasarkan sifat komunikasi dan jumlah komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi,
dalam bukunya Dimensi-Dimensi Komunikasi hal. 50, komunikasi dapat digolongkan
ke dalam tiga kategori:
1. Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan
informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan
demikian dapat tercapai keinginan bersama.
2. Komunikasi kelompok
Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor
kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan
informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak
dan elektronik
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dan Kepuasan Kerja dalam Organisasi
Abstract:
Communication is one of the important factors in an organization, creating effective or
ineffective problems. When the relationship between executives and staffs are not in
harmony, interpersonal communication may not work effectively, the coordination in the
organization will be in trouble, and consequently there will be no satisfactory
performance. Goldhabers finding showed that the quality of relationship between
executive and the staffs contributes to the satisfaction in work.
Key words:

Komunikasi, interpersonal, organisasi, manajemen, karyawan, atasan, bawahan, kepuasan


kerja
I. Latar Belakang
Karyawan memiliki kebutuhan dan keinginan informasi untuk mengetahui tugas
tugasnya dan mengerti seluruh tujuan dan strategi perusahaan. Keterbukaan dan kejujuran
kebijakan komunikasi harus dibangun oleh pimpinan dan harus diterima oleh setiap
bawahan. Komunikasi dari manajemenkaryawan, karyawan ke pihak manajemen harus
jujur dan dibangun berdasar kepercayaan jika digunakan untuk membangun semangat
kerja, produktivitas dan kemajuan perusahaan.
Organisasi harus selalu memberikan informasi kepada karyawan tentang program
program perusahaan, masalah yang dihadapi perusahaan, perubahan-perubahan yang
dilakukan beserta alasannya atau segala hal yang menarik minat karyawan. Perlu
ditumbuhkan kebebasan untuk berdiskusi antara pimpinan dan karyawan. Bila karyawan
selalu diberi informasi, maka karyawan akan lebih merasa dihargai, dipercaya dan akan
lebih koperatif mencurahkan usaha pada tujuantujuan organisasi. (Treece, 1994: 38).
Mediasi yang digunakan untuk melakukan semua itu adalah komunikasi.
Komunikasi yang efektif akan menghasilkan kepuasan dan produktivitas karyawan,
perbaikan pencapaian hasil karya dan tujuan perusahaan. Komunikasi karyawan yang
efektif tergantung dari hubungan karyawan yang memuaskan yang dibangun berdasarkan
iklm dan kepercayaan atau suasana perusahaan yang positif. Komunikasi karyawan
termasuk dalam komunikasi organisasi, dilakukan perusahaan kepada karyawan.
Komunikasi karyawan memiliki tiga wujud. Pertama, komunikasi ke bawah (downward
communication) yaitu komunikasi dari pimpinan perusahaan kepada karyawan. Kedua,
komunikasi ke atas (up ward communication) yaitu komunikasi dari pihak karyawan ke
pihak manajemen. Ketiga, komunikasi sejajar (sideways communication), komunikasi
yang berlangsung antara sesama karyawan di dalam suatu organisasi (Jefkins, 1995;172).
Komunikasi karyawan meliputi komunikasi interpersonal. Proses komunikasi yang
terjadi di dalam perusahaan khususnya yang menyangkut komunikasi antara pimpinan
dan karyawan merupakan faktor penting dalam menciptakan suatu organisasi yang
efektif. Komunikasi efektif tergantung dari hubungan karyawan yang memuaskan yang
dibangun berdasarkan iklim dan kepercayaan atau suasana organisasi yang positif.
Hubungan atasan dan bawahan merupakan jantung pengelolaan yang efektif. Agar

hubungan ini berhasil, harus ada kepercayaan dan keterbukaan antara atasan dan
bawahan. (Muhammad, 2001: 172). Rasa percaya, keyakinan, keterbukaan, kejujuran,
dukungan keamanan, kepuasan, keterlibatan, tingginya harapan merupakan gambaran
iklim perusahaan yang ideal. Tujuan utama dari komunikasi dengan karyawan adalah
mengidentifikasi, menciptakan dan menjalin hubungan timbal balik yang menguntungkan
antara pimpinan dengan karyawan.
Komunikasi yang efektif ditentukan oleh pihakpihak yang terlibat di dalamnya, yaitu
pimpinan dan karyawan. Pimpinan harus dapat memfasilitasi kondisi komunikasi
interpersonal yang efektif yang meliputi: a. keterbukaan (openness), b. empati (empathy),
c. kepositifan (positiveness), d. dukungan (supportiveness), dan e. kesetaraan (equality).
Selain itu komunikasi efektif antara pimpanan dan karyawan juga harus dibangun
berdasarkan hubungan interpersonal yang efektif. Menurut Roger, hubungan
interpersonal akan terjadi secara efektif apabila kedua belah pihak memenuhi kondisi
sebagai berikut : (a) bertemu satu sama lain secara personal, (b) empati secara tepat
terhadap pribadi yang lain dan berkomunikasi yang dapat dipahami satu sama lain secara
berarti, (c) menghargai satu sama lain, bersifat positif dan wajar tanpa menilai atau
keberatan, (d) menghayati pengalaman satu sama lain dengan bersungguhsungguh,
bersikap menerima dan empati satu sama lain, (e) merasa bahwa saling menjaga
keterbukaan dan iklim yang mendukung dan mengurangi kecenderungan gangguan arti,
(f) memperlihatkan tingkah laku yang percaya penuh dan memperkuat persamaan aman
terhadap yang lain.
Perlu dipahami oleh perusahaan bahwa hubungan antara sesama karyawan di sebuah
organisasi lebih berfokus pada aspekaspek manusiawi, sehingga hal tersebut tidak
sepenuhnya sama dengan hubungan industrial (industrial relations). Hubungan industri
lebih menekankan pada besar kecilnya upah dan berbagai kondisi atau fasilitas kerja.
Akan tetapi, di antara keduanya terdapat hubungan yang erat, mengingant hubungan
industri juga sangat dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi di kalangan karyawan
maupun antara karyawan dengan pihak manajemen.
Seperti disebutkan di atas bahwa komunikasi merupakan faktor penting bagi organisasi,
karena tanpa adanya komunikasi kegiatan organisasi tidak akan berjalan dengan baik.
Reon Ladlow dan Ferguson Parton (1992,1996) berasumsi bahwa melalui komunikasi

diharapkan dapat membawa hasil pertukaran informasi dan saling pengertian di antara
orangorang yang terlibat dalam kegiatan tersebut
Ukuran manajemen komunikasi interpersonal yang efektif tergantung pada informasi
yang disampaikan serta kualitas hubungan yang dibangun. Keberhasilan dalam
mencapai ketepatan penyampaian informasi ditentukan oleh sifat, mutu informasi yang
disampaikan di mana hal ini selanjutnya juga ditentukan oleh pengertian, keterangan,
pengaruh sikap, hubungan yang makin baik serta tindakan. (Tubbs dan Moss, 1994).
Komunikasi karyawan yang efektif akan memberikan kontribusi terhadap produktivitas
kerja karyawan, perbaikan pencapaian hasil karya dan tujuan perusahaan. Selain itu
sejumlah keuntungankeuntungan penting dapat dicapai di mana karyawan akan
berpengetahuan luas. Banyaknya informasi akan dapat memuaskan karyawan. Karyawan
akan menjadi lebih baik dan produktif di mana mereka memberikan waktu lebih banyak
untuk pekerjaan mereka dan melakukan pekerjaan dengan lebih baik untuk perusahaan.
Bila saluran komunikasi terbuka maka keinginankeinginan perusahaan akan lebih
mudah diketahui.
II. Kerangka Teori
Komunikasi merupakan bagian penting dalam organisasi. Organisasi terdiri atas sejumlah
orang dan melibatkan keadaan saling bergantung; kebergantungan memerlukan
koordinasi; koordinasi mensyaratkan adanya komunikasi. Komunikasi tak terhindarkan
dan merupakan pusat proses kegiatan. Komunikasi yang dimaksud adala komunikasi
interpersonal.
2.1 Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal menurut Joseph De Vito, dapat diartikan is the
communication that takes place between two person who have an established
relationships; (De Vito, 2004: 4). Sementara menurut Verdeber (1986) mengemukakan
bahwa komunikasi interpersonal merupakan suatu proses interaksi dan pembagian makna
yang terkandung dalam gagasangagasan dan perasaan (Alo Liliweri, 1994: 9).
Komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan di antara
dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan berbagai efek dan umpan balik.
(Sendjaya; 1994: 115). Dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan
proses pengiriman pesan antara dua orang atau lebih, dengan efek dan feedback langsung.

Komunikasi interpersonal juga merupakan suatu pertukaran, yaitu tindakan


menyampaikan dan menerima pesan secara timbal balik. Makna, sesuatu yang
dipertukarkan dalam proses tersebut. Makna adalah kesamaan pemahaman di antara
orang orang yang berkomunikasi terhadap pesan- pesan yang digunakan dalam proses
komunikasi. Komunikasi interpersonal memiliki sifatsifat (1) bersifat dua arah yang
berarti melibatkan dua orang dalam situasi interaksi, ada unsur dialogis dan ( 2) ditujukan
kepada sasaran terbatas dan dikenal.
Komunikasi Interpersonal memiliki karakteristik tertentu, seperti apa yang dikemukakan
oleh Judy C. Person (1983). Komunikasi interpersonal bersifat transaksional; tindakan
pihakpihak yang berkomunikasi secara serempak dalam menyampaikan dan menerima
pesan. Komunikasi interpersonal merupakan rangkaian tindakan, kejadian dan kegiatan
yang terjadi secara terusmenerus. Komunikasi interpersonal bukan sesuatu yang statis
tetapi bersifat dinamis. Artinya, segala yang tercakup dalam komunikasi interpersonal
selalu dalam keadaan berubah baik pelaku komunikasi, pesan, situasi, maupun
lingkungannya. Komunikasi Interpersonal juga menyangkut aspekaspek isi pesan dan
hubungan antar pribadi, melibatkan dengan siapa kita berkomunikasi dan bagaimana
hubungan dengan partner.
Dalam komunikasi interpersonal dilakukan pemahaman komunikasi dan hubungan
interpersonal dari sudut individu, yang selanjutnya disebut dengan proses psikologis.
Proses psikologis merupakan bagian penting dalam komunikasi interpersonal, karena
dalam komunikasi interpersonal individu mencoba menginterpretasikan makna yang
menyangkut diri sendiri, diri orang lain dan hubungan yang terjadi. Proses psikologis
dapat berpengaruh pada komunikasi dan hubungan interpersonal, karena individu
individu menggunakan sebagai pedoman untuk bertindak dan berperilaku.
Dalam komunikasi interpersonal, terjadi komunikasi konvergen. Komunikasi konvergen
merupakan proses mencipta dan saling berbagi informasi mengenai realita di antara dua
partisipan komunikasi atau lebih agar dapat dicapai saling pengertian dan kesepakatan
makna (meaning) antara satu dengan yang lain. Komunikasi melibatkan realitas fisik
maupun psikologis dalam menanggapi sebuah informasi. Masingmasing pihak akan
melakukan perceiving (pencerapan), lalu menginterpretasikan informasi tersebut
sehingga terjadi understanding (pemahaman) dan selanjutnya timbul believing
(keyakinan) yang menimbulkan action atau tindakan. Adanya kesamaan tindakan A & B
akan menghasilkan tindakan kolektif.

Menurut Kincaids Convergence Model, komunikasi didefinisikan sebagai Process in


which participants create and share information with one another in order to reach a
mutual understanding. Tujuan utama komunikasi yang bersifat konvergen adalah
mendekatkan pengertian masingmasing ke dalam suatu pengertian yang relatif sama
antara patisipan yang satu dengan yang lain. Konvergen adalah kecenderungan dua atau
lebih individu untuk bergerak menuju satu tujuan.
Konvergensi juga ditentukan oleh intensitas komunikasi di antara pimpinan dan
karyawan atau antara atasan dan bawahan. Semakin sering terjadi komunikasi
interpersonal akan semakin kuat ke arah kecenderungan konvergensi. Komunikasi yang
berakhir dengan konvergensi akan memiliki pengaruh terhadap perilaku bawahan
khususnya perilaku karyawan dalam bekerja. Semakin tinggi terjadinya intensitas
konvergensi di mana pimpinan dan karyawan membentuk ke arah saling pengertian maka
persetujuan dan kerja sama akan semakin baik.
2.2. Model Komunikasi Interpersonal
De Vito mengemukakan bahwa komunikasi tidak terjadi secara linier atau satu arah
melainkan berkesinambungan. Akan terjadi pergantian peran dan fungsi antara sumber
dan penerima. Setelah pesan sampai ke penerima, maka penerima akan memberi
tanggapan atau umpan balik. Umpan balik yang telah disampaikan kepada pihak yang
semula menjadi sumber pesan, menempatkan pihak yang semula pada posisi penerima
pesan menjadi sumber.
SumberPenerima : sumberpenerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk
menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber dan
sekaligus penerima. Komunikasi ini melibatkan dua orang atau lebih dalam situasi
interaksi. Situasi komunikasi interpersonal menuntut kedua belah pihak yang dalam hal
ini adalah pimpinan dan karyawan untuk samasama aktif dalam proses komunikasi
Dalam Komunikasi interpersonal, dikenal istilah kompetensi. Kompetensi mengacu pada
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach,1989).
Kompetensi mencakup halhal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks)
dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi. Istilah
kompetensi juga berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan kemampuan mengenai
peraturanperaturan untuk interaksi komunikasi. Proses komunikasi antara pimpinan
dengan karyawan di dalam organisasi menyangkut kemampuan komunikasi baik verbal

maupun non verbal. Selain itu, kompetensi juga berkaitan dengan kemampuan individu
untuk menumbuhkan kondisi adanya keterbukaan, empati, kepositifan, dukungan dan
kesamaan.
Encoding dan Decoding: Mengacu pada tindakan memproduksi pesan. Dalam
komunikasi interpersonal, fungsi encoding dan decoding terjadi pada kedua belah pihak
yang berkomunikasi. Komunikasi bersifat dialogis.
Bidang pengalaman (field of experience). Asumsinya, komunikasi akan berhasil apa bila
pesan yang disampaikan oleh sumber cocok dengan kerangka acuan, yakni paduan
pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh
penerima. Bidang pengalaman merupakan faktor penting dalam komunikasi. Jika bidang
pengalaman sumber sama dengan pengalaman receiver, komunikasi akan berlangsung
efektif.
Feedback (umpan balik), umpan balik memainkan peranan penting dalam komunikasi
sebab ia menentukan berlanjutnya atau berhentinya komunikasi. Umpan balik dapat
bersifat positif, dapat pula bersifat negatif. Feedback adalah informasi yang dikirimkan
balik ke sumbernya (Clement dan Frandsen, 1976). Keefektifan komunikasi interpersonal
sangat tergantung pada kemampuan masingmasing memahami secara individual.
Pimpinan harus mengerti benar caracara berkomunikasi karyawan dan sebaliknya
karyawan harus mengerti benar bagaimana kebiasaan pimpinan dalam berkomunikasi.
Dengan demikian, kemungkinan salah interpretasi terhadap feedback yang dimainkan
pihak lain dapat diminimalkan.
Pesan dan saluran. Pesan dapat berupa verbal maupun nonverbal, disengaja (intentional)
atau tak disengaja (unintentional). Pesan verbal adalah semua jenis komunikasi lisan yang
menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara (communicative
stimuli) yang disadari, masuk kedalam kategori pesan verbal yang disengaja; yaitu usaha
usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan.
Sedangkan pesan verbal tak disengaja adalah sesuatu yang dikatakan tanpa bermaksud
mengatakan hal tersebut. Pesan nonverbal meliputi semua pesan yang disampaikan tanpa
katakata (Tubbs, Moss, 2000:10). Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan.
Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran. Dua, tiga atau empat
saluran yang berbeda biasanya digunakan secara simultan.

Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Noise
dikatakan ada dalam sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan
berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan dapat berupa ganggusn fisik atau
interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan. Gangguan psikologis dapat
diartikan interferensi kognitif atau mmental, dan termasuk prasangka, bisa pada sumber
penerima yang mengakibatkan gangguan dalam memproses dan menerima informasi.
Gangguan semantik terjadi bilamana sumber dan penerima memberi arti yang berlainan.
Gangguan bisa terjadi dalam berbagai situasi komunikasi, termasuk komunikasi yang
terjadi antara pimpinan dan karyawan dalam sebuah organisasi. Tetapi gangguan yang
paling mungkin dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda atau kesalahpahaman
adalah gangguan psikologis yang disebabkan adanya prasangka.
2.3 Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal yang efektif adalah penting bagi anggota organisasi. Pimpinan
dan karyawan diharapkan dapat membawa hasil pertukaran informasi dan saling
pengertian (mutual understanding). Pimpinan harus dapat memfasilitasi komunikasi
interpersonal yang efektif. Komunikasi Interpersonal yang efektif adalah adanya
kesepakatan informasi serta kualitas hubungan yang dibangun. Dalam lingkup organisasi
diperlukan komunikasi interpersonal yang efektif antara pimpinan dan karyawan. Kedua
belah pihak perlu membangun hubungan yang lebih baik, karena ketepatan penyampaian
informasi ditentukan oleh pengertian, pengaruh sikap, hubungan yang makin baik serta
tindakan.
Mengacu pada konsep De Vito tentang Komunikasi Interpersonal yang efktif dari sudut
pandang humanistik. Dalam pandangan ini untuk menghasilkan komunikasi yang efektif
diperlukan adanya keterbukaan, sikap empati, sikap mendukung, sikap positif serta
kesetaraan dari pihakpihak yang berkomunikasi.
Efektivitas komunikasi interpersonal dalam pandangan humanistik menurut De Vito,
mengandung unsurunsur sebagai berikut.
2.3.1 Keterbukaan
Sikap terbuka (openmindedness) sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan
komunikasi interpersonal yang efektif. Pimpinan organisasi seyogyanya dapat
memfasilitasi kondisi munculnya keterbukaan. Kondisi keterbukaan dapat diwujudkan

bila pimpinan maupun karyawan dapat berinteraksi secara jujur terhadap stimulus yang
datang. Terjadi komunikasi secara tatap muka antara pimpinan dan karyawan.
Komunikasi tatap muka penting karena pimpinan dapat mengetahui tanggapan dari
karyawan secara langsung. Komunikasi tatap muka penting untuk mengubah sikap,
pendapat dan perilaku seseorang. Pimpinan perlu bersikap tanggap terhadap apa yang
disampaikan karyawan agar komunikasi dapat berhasil. Perlu diciptakan suasana dialogis.
Keterbukaan mengisyaratkan pimpinan bersedia menerima kritikkritik dan saran yang
disampaikan karyawan. Dengan sikap bersdia menerima kritik dan saran, berarti
pimpinan dapat mengakui perasaan dan pikiran yang dilontarkan oleh individu, dalam hal
ini karyawan. Pimpinan juga bersdia menyebarkan informasi baru yang menyangkut
kegiatan kegiatan organisasi.
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal.
Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang
diajaknya berinteraksi. Ini tidak berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan
semua riwayat hidupnya. Harus ada kesediaan membuka diri- mengungkapkan informasi
yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut. Aspek keterbukaan
yang kedua mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap
stimulus yang datang. Aspek ketiga menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran.
Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang
dilontarkan adalah milik anda dan anda bertanggung jawab atasnya.
2.3.2 Empati
Komunikasi interpersonal yang efektif perlu didukung oleh sikap empati dari pihak
pihak yang berkomunikasi. Dalam komunikasi antara pimpinan dan karyawan perlu
ditumbuhkan sikap empati. Kondisi empati dapat terwujud bila pimpinan bersedia
memberikan perhatian kepada karyawan dan dapat mengetahui apa yang sedang dialami
karyawan berkaitan dengan pekerjaannya. Pimpinan dapat mengenal karyawan, baik
keinginan, kemampuan dan pengalamannya sehingga pimpinan dapat mengetahui apa
yang dirasakan oleh karyawan tersebut. Selain itu, pimpinan dapat menghindari evaluasi,
kritik atau menilai karyawan menurut pandangan dan pendapatnya sendiri serta dapat
menyelesaikan konflikkonflik secara damai.
Empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami
orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain melalui kaca mata

orang lain. Berempati adalah merasakan sesuatu sesuatu seperti orang yang
mengalaminya. (De Vito, 1997: 260). Empati dianggap sebagai memahami orang lain
yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita (Freud, 1921). Orang yang empatik
mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lai, perasaan dan sikap mereka serta
harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang. Empati yang akurat melibatkan
kepekaan baik kepekaan terhadap perasaan yang ada maupun fasilitas verbal untuk
mengkomunikasikan pengertian ini.
2.3. 3 Sikap Mendukung ( Supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan di mana terdapat sikap mendukung
(supportiveness). Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam
suasana yang tidak mendukung. Sikap suportif merupakan sikap yang mengurangi sikap
defensif. Sikap ini muncul bila individu tidak dapat menerima, tidak jujur dan tidak
empatik. Sikap defensif mengakibatkan komunikasi interpersonal menjadi tidak efektif,
karena orang yang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang
ditanggapinya dalam situasi komunikasi daripada memahami komunikasi. Komunikasi
defensif dapat terjadi karena faktorfaktor personal (ketakutan, kecemasan, harga diri
yang rendah) atau faktorfaktor situasional yang berupa perilaku komunikasi orang lain.
Dalam komunikasi interpersonal antara pimpinan dan karyawan, sikap mendukung
berperan dalam menumbuhkan motivasi dan kegairahan kerja karyawan. Sikap
mendukung dapat terwujud dalam organisasi, bila pimpinan bersedia menghargai ideide
atau pendapat karyawan dan memberikan perhatian yang sungguhsungguh ketika
berkomunikasi dengan karyawan. Sikap mendukung dapat diperlihatkan bersikap
deskriptif bukan evaluatif.
2.3.4 Sikap Positif
Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek komunikasi interpersonal. Pertama,
komunikasi interpersonal terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka
sendiri. Orang yang merasa positif terhadap diri sendiri mengisyaratkan perasaan tersebut
kepada orang lain dan merefleksikannya. Kedua, perasaan positif untuk situasi
komunikasi sangat penting untuk interaksi yang efektif.
Sikap positif dapat dijelaskan lebih jauh dengan istilah strokong (dorongan). Dorongan
merupakan istilah yang berasal dari kosakata umum yang dipandang penting dalam

analisis transaksional dan interaksi antara manusia. Dorongan positif dapat berbentuk
pujian atau penghargaan. Dorongan positif akan mendukung citra pribadi dan membuat
merasa lebih baik.
Sikap positif dalam menunjang komunikasi interpersonal yang efektif antara pimnpinan
dan karyawan dapat terwujud bila pimpinan dapat berpandangan positif terhadap dirinya
sendiri. Pimpinan dapat menunjukkan perasaan senang ketika berkomunikasi dengan
karyawan dan dapat memberikan penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan karyawan.
2.3.5 Kesetaraan (Equality)
Kesetaraan adalah suatu keinginan yang secara eksplisit diungkapkan untuk bekerja sama
memecahkan masalah tertentu. Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila
suasananya setara di mana adanya pengakuan secara diamdiam bahwa kedua belah
samasama bernilai, berharga. Masingmasing memiliki sesuatu yang penting untuk
disumbangkan. Kesetaraan juga menyiratkan adanya sikap memperlakukan orang lain
secara demokratis dan horizontal. Dengan adanya persamaan pihakpihak yang terlibat
dalam komunikasi, maka mereka dapat saling menghargai dan menghormati perbedaan
pandangan.
Kesetaraan dapat terwujud bila didukung oleh adanya kerja sama antara pimpinan dan
karyawan dalam memecahkan persoalanpersoalan yang terjadi dalam pekerjaan mereka.
Pimpinan bersedia meminta tanggapan atau saran dari karyawan dan menyedari bahwa
mereka samasama berharga dan bernilai.
2.4 Komunikasi Karyawan
Komunikasi karyawan merupakan langkah yang menentukan bagi kesuksesan organisasi.
Pimpinan yang baik didukung oleh bawahan dan ditentukan oleh orangorang yang
bekerja dibawahnya serta ditentukan oleh keahlian dalam menciptakan suasana kerja
yang dibutuhkan oleh karyawan. Koordinasi dan mediasi untuk melakukan semua itu
adalah komunikasi
Keterbukaan dan kejujuran harus dibangun oleh manajemen puncak dan harus diterima
oleh setiap karyawan. Komunikasi dari manajemen ke karyawan maupun antar sesama
karyawan harus jujur dan dibangun berdasar kepercayaan serta digunakan untuk
membangun semangat kerja, produktivitas dan kemajuan perusahaan. Kebijakan

komunikasi terbuka yang membentuk kepercayaan tidak hanya membangun semangat


kerja tetapi juga menumbuhkan aliran komunikasi yang vital. Komunikasi ke bawah yang
jujur dan tindakan terbuka akan menumbuhkan aliran komunikasi ke atas. Untuk itu,
tidak hanya dibutuhkan niat baik tetapi juga kemampuan dan teknik komunikasi yang
memadai.
Komunikasi karyawan adalah komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan kepada
karyawan. Komunikasi karyawan memiliki tiga wujud, yaitu komunikasi ke bawah
(downward communication), yakni komunikasi dari pimpinan kepada karyawan.
Komunikasi ke atas (up ward communication), yakni komunikasi dari karyawan kepihak
manajemen dan komunikasi sejajar (sideways communication), yakni komunikasi yang
berlangsung antara sesama karyawan dalam suatu organisasi. (Jefkins,1995: 172).
Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi dapat diartikan informasi yang mengalir
dari jabatan yang berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih rendah.
Komunikasi ke bawah akan menentukan iklim komunikasi apakah negatif atau positif.
Komunikasi ke bawah biasanya digagas oleh manajemen organisasi tingkat atas dan
kemudian ke bawah melewati rantai perintah. Seperti apa yang dikemukakan oleh Katz &
Kahn, 1966,p.239 dalam Cherly Hamilton, Communicating For Results. Idealnya
komunikasi dari pimpinan mencakup: instruksi kerja/ job instructions) dan job rationale
(mengapa tugastugas yang spesifik penting dan bagaimana hal ini berhubungan dengan
tugas lain di dalam organisasi), kebijakan, prosedur, penilaian performa karyawan, dan
motivasi.
Ada lima jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan, yaitu:
(1) informasi bagaimana melakukan pekerjaan; (2) informasi mengenai dasar pemikiran
untuk melakukan pekerjaan; (3) informasi mengenai kebijakan dan praktikpraktik
organisasi; (4) informasi mengenai kinerja kerja karyawan; (5) informasi untuk
mengembangkan rasa memiliki tugas. ( Pace dan Faulies 2000:185).
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi adalah informasi yang mengalir dari tingkat
yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi. Komunikasi ke atas dapat juga
dikatakan proses penyampaian gagasan, perasaan dan karyawan kepada atasannya dalam
organisasi.
Menurut Pace dan Faulies ( 2000:190), komunikasi ke atas merupakan hal yang sangat
penting, karena (a) aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan

keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan karyawan
lainnya. (b) komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan karyawan siap
menerima informasi dan seberapa baik karyawan menerima apa yang dikatakan kepada
mereka. (c) komunikasi ke atas memungkinkan dan mendorong penyempaian keluhan
sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
(d) komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan
memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengajukan pertanyaan dan
menyumbang gagasan serta saran saran mengenai organisasi. (e) komunikasi ke atas
mengijinkan penyelia untuk menentukan apakah karyawan memahami apa yang
diharapkan. (f) komunikasi ke atas membantu karyawan mengatasi masalah pekerjaan
mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan organisasi
tersebut.
Menurut Dr. John White dalam bukunya How to Understand and Manage Public
Relations, program komunikasi karyawan meliputi dua hal, yaitu: (1) research among
internal group to establish the need for communication and approaches to be taken and to
monitor the effectiveness of communication (2) specific communication techniques, that
aim at producing desired effects in the pursuit of identified objectives.
Definisi di atas dapat diartikan bahwa program komunikasi internal meliputi riset
mengenai kelompokkelompok internal untuk menetapkan kebutuhan bagi komunikasi
dalam organisasi dan menentukan pendekatan yang akan diambil untuk memonitor
keefektifan komunikasi. Teknik komunikasi yang spesifik mengarah pada efek dihasilkan
yang memberikan pengaruh tentang pencapaian tujuan yang diidentifikasikan.
Komunikasi interpersonal antarpimpinan dan karyawan yang sukses adalah adanya suatu
program yang jujur, terbuka, komunikasi dua arah yang dilakukan secara teratur. Program
komunikasi karyawan harus dibentuk secara hati- hati dan lebih bersifat timbal balik agar
karyawan dapat merasa sebagai mitra perusahaan, sehingga karyawan tidak hanya
menuntut agar perusahaan memenuhi keinginankeinginan mereka. Karyawan juga
diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar. Komunikasi
karyawan tidak hanya menjadi tanggung jawab karyawan tetapi juga manajemen puncak .
2.5 Kepuasan Kerja
Bila karyawan tidak merasa senang dengan situasi kerjanya biasanya mereka mengatakan
bahwa tidak puas dengan pekerjaannya. Ada dua hal yang mungkin menyebabkan orang

tidak puas dengan pekerjaannya. Pertama, apabila orang tersebut tidak mendapatkan
informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya. Kedua, apabila hubungan
sesama teman sekerja kurang baik. Ketidak puasan kerja berhubungan dengan
komunikasi (Muhammad;2001: 79). Sumber kepuasan kerja adalah bila karyawan
memasuki oganisasi, ia membawa seperangkat keinginan, kebutuhan, hasrat dan
pengalaman masa lalu yang membentuk harapan kerja
Komponenkomponen yang dapat menunjukkan kepuasan kerja dan dapat diteliti dengan
mengadakan wawancara terhadap karyawan (Cunningham; 1997;463 464) adalah
sebagai berikut; (1) perhatian atasan terhadap bawahan; (2) semangat, kerjasama dan
loyalitas terhadap pekerjaan; (3) saling percaya dan komunikasi antara pimpinan dan
karyawan; (4) desentralisasi dalam pengambilan keputusan; (5) kelancaran komunikasi
vertical dan horizontaldalam organisasi ; (6) usaha setiap individu maupun keseluruhan
organisasi untuk mencapai tujuan yang direncanakan; (7) system imbalan yang
merangsang pimpinan untuk mengusahakan terciptanya elompok kerja yang efektif ,
performansi dan pengembangan karyawan; (8) organisasi dan bagian bagiannya bekerja
sama secara baik dan konflik yang terjadi selalu diselesaika dengan acuan kepentingan
organisasi. Jadi, kepentingan terhadap kepuasan kerja dapat dilihat dari kesesuaian antara
harapan dan keinginan dengan kenyataan yang didapat dilingkungan kerja.
Pendapat Goldhaber (1993) dalam Cheryl Hamilton, Communicating for Results,
mengemukakan bahwa informasi yang berkaitan dengan masalahmasalah seperti
(bagaimana melakukan pekerjaan, gaji, keuntungan yang didapat) dibutuhkan untuk
mencegah adanya ketidak puasan, tetapi hal tersebut tidak akan menciptakan kepuasan.
Informasi mengenai organisasi, seperti kebijakan, perencanaan, pembuatan keputusan, dll
dibutuhkan untuk menciptakan kepuasan pekerjaan. Selain itu, hubungan dengan atasan
merupakan faktor penting terpenuhinya tingkat kepuasan kerja. Pimpinan organisasi
memiliki tangung jawab dalam memberikan kontribusi untuk membangkitkan iklim
komunikasi yang baik dalam organisasi dan hal ini secara tidak langsung ikut membantu
karywan dalam mencapai kepuasan kerja.
III. Kesimpulan
Pimpinan di dalam organisasi harus dapat memfasilitasi tumbuhnya suasana keterbukaan
dalam komunikasi dengan karyawan, dapat berempati, memiliki sikap yang dapat
memberikan dukungan kepada karyawan, dapat bersikap positif baik terhadap diri sendiri

maupun karyawan serta mampu menciptakan suasana setara, dalam arti ada pengakuan
bahwa kedua belah pihak dalam hal ini pimpinan dan karyawan samasama bernilai dan
berharga.
Komunikasi karyawan yang efektif akan menghasilkan kepuasan dan produktivitas
karyawan, perbaikan pencapaian hasil karya dan tujuan perusahaan. Tidak hanya itu,
hubungan antar karyawan yang dibangun berdasarkan iklim dan kepercayaan atau
suasana perusahaan yang positif turut memberi andil dalam menciptakan iklim
komunikasi efektif. Rasa percaya, keyakinan, keterbukaan, dukungan keamanan,
kepuasan, keterlibatan dan tingginya harapan merupakan cermin iklim komunikasi
organisasi yang ideal. Jika organisasi/ perusahaan memiliki dan melakukan komitmen
untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan karyawan maka sejumlah keuntungan
keuntungan penting dapat dicapai. Karyawan akan memiliki pengetahuan yang luas dan
banyaknya informasi akan memuaskan karyawan. Selain itu, karyawan akan menjadi
lebih baik dan produktif di mana mereka akan memberi waktu lebih banyak untuk
pekerjaan mereka dan melakukan pekerjaan dengan lebih baik untuk perusahaan,
sehingga apa yang diharapkan oleh perusahaan dapat terwujud.