Anda di halaman 1dari 3

Aspek etika informed consent dan kraniotomi

Pemikiran etika mendasari diri pada prinsip, aturan, dan hak. Ada empat prinsipetika di
dalam informed consent:
1. Respek/menghargai terhadap otonomi (respect for autonomy)
2. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence)
3. Kemaslahatan (beneficence)
4. Keadilan (justice)

Keempat prinsip ini bersifat prima facie, suatu istilah yang diperkenalkan filosof Inggris,
W.D. Ross, yang berarti: Suatu prinsip adalah memikat, kecuali apabila prinsip tersebut
mempunyai konflik dengan prinsip lain. Apabila terdapat konflik, kita harus memilih di antara
keduanya. Selain itu, selain 4 prinsip ini, sering juga ditambahkan
5. Harga diri (dignity)
6. Kebenaran dan kejujuran (truthfulness and honesty)

Penjelasan keenam hal di atas:


1. Menghargai Otonomi (Voluntas aegroti suprema lex). Dalam semua proses pengambilan
keputusan, dianggap bahwa keputusan yang dibuat setelah mendapatkan penjelasan itu dibuat
secara sukarela dan berdasarkan pemikiran rasional. Di dalam dunia kedokteran, dokter
menghargai otonomi pasien berarti bahwa si pasien/klien mempunyai kemampuan untuk
berlaku atau bertindak secara sadar dan intensional, dengan pengertian penuh, dan tanpa
pengaruh-pengaruh yang bisa menghilangkan kebebasannya.dalam kasus ini, dokter
telah melaksanakan kewajibannya dengan memberikan informasi mengenai tindakan baik
pada keluarga maupun pasiennya.
2. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence/primum non nocere). Di dalam prinsip ini,
dokter tidak boleh secara sengaja menyebabkan perburukan atau cedera pada pasien, baik
akibat tindakan (commission) atau tidak dilakukannya tindakan (omission). Dalam bahasa
sehari-hari: akan dianggap lalai apabila seseorang memaparkan resiko atau cedera yang tidak
layak (unreasonable) kepada orang lain. Standar perawatan yang meminimalkan resiko cedera

atau perburukan merupakan hal yang diinginkan masyarakat secara common sense. Dengan
tindakan pada kasus ini, walaupun memiliki beberapa resiko namun tetap dilakukan untuk
penyelamatan nyawa dan fungsi organ pasien.
3. Beneficence. Adalah kewajiban petugas kesehatan untuk memberikan kemaslahatan, kebaikan,
kegunaan, benefit bagi pasien, dan juga untuk mengambil langkah positifmencegah dan
menghilangkan kecederaan dari pasien. Dalam hal informed consent untuk ad. 2 dan ad. 3:
adalah kewajiban dokter untuk memberi penjelasan mengenai pengobatan atau tindakan, baik
manfaat maupun kekurangannya. Terapinya dimaksudkan untuk penyembuhan dan kebaikan
diri pasien sendiri
4. Keadilan. Keadilan di dalam pelayanan dan riset kesehatan digambarkan sebagai kesamaan
hak bagi pasien-pasien dengan kondisi yang sama. Di dalam informed consent, penjelasan
bagi pasien harus diberikan sampai dengan pengobatan yang mungkin saja tidak terjangkau
atau tidak dilindungi pihak asuransinya.
5. Harga Diri. Pasien dan dokter mempunyai hak atas harga dirinya.
6. Kebenaran dan Kejujuran. Kebenaran dan kejujuran adalah suatu keharusan di dalam
hubungan dokter-pasien/subyek. Informed consent diberikan oleh pasien/subyek berdasarkan
informasi yang benar dan jujur. Dokter telah memberi informasi sejujur-jujurnya sesuai
dengan keadaan pasien.

Pada kraniotomi yang akan dilakukan pasien ini aspek etika yang terpaut adalah sebagai
dokter kita harus menghormati otonomi pasien namun juga harus melihat aspek beneficence dan
non maleficence yang melihat sesuatu berdasarkan kebaikan dan tidak menyebabkan yang buruk.
Pada etika deontologist dimana menganggap bahwa berbuat baik dan menghindari
perbuatan buruk adalah kewajiban setiap orang tanpa melihat apapun akibatnya. Hal ini
mendukung informed consent dimana tenaga medis tidak boleh memaksa pasien untuk tidak
menjalani tindakan medis yang ditetapkan sendiri olehnya. Karena kemampuan sesorang dalam
mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh penguasannya akan situasi, maka dokter harus
menjelaskan fakta-fakta yang dihadapi pasiennya, agar pasien itu mampu mengambil keputusan
sendiri. Hal ini mendukung tindakan dokter pada kasus ini. Namun pada etika teleologi dimana
menganggap bahwa baik atau buruknya suatu perbuatan sesungguhnya pada tujuan yang ingin

dicapai. Hal ini mendukung tindakan keluarga untuk melakukan tindakan medis untuk
keselamatan pasien. Namun dokter harus tetap menghormati keputusan pasien dengan
mengedukasikan kembali keadaan pasien terhadap pasien dan keluarga dengan baik, memberikan
terapi konservatif dan tetap mengobservasi hingga keadaan stabil. Jika pasien mengalami
penurunan kesadaran kembali. Dokter dapat melakukan tindakan pada pasien dengan persetujuan
tindakan dari keluarga pasien.